Anda di halaman 1dari 100
KAJIAN LAJU EROSI TANAH ANDOSOL, LATOSOL DAN GRUMOSOL UNTUK BERBAGAI TINGKAT KEMIRINGAN DAN INTENSITAS HUJAN DI KABUPATEN SEMARANG TESIS Disusun Dalam Rangka Memenuhi Salah Satu Persyaratan Program Magistet Teknik Sipil Oleh Lusiyani Sri Damayanti 144000021 PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2005 KAJIAN LAJU EROSI TANAH ANDOSOL, LATOSOL DAN GRUMOSOL UNTUK BERBAGAI TINGKAT KEMIRINGAN DAN INTENSITAS.HUJAN DI KABUPATEN SEMARANG Disusun oleh : Lusiyani Sri Damayanti L4A 000 021 Dipertahankan didepan Tim Penguji pada tanggal: 8 Maret 2005, ‘Tesis ini telah diterima sebagai salah satu persyaratan untuk ‘mempefoleh gelar Magister Teknik Sipil Tim Penguji = i 1, rr. Suharyanto, MSc 2. Ir. frawan Wisnu W, MS. ‘ 3. Dr. Ir, Suripin, M.Eng 4. Ir. Pranoto SA, MT. 5. Ir, Sri Sangkawati, MS Semarang, 8 Maret 2005 Universitas Diponegoro | Program Pasca Sarjana fagister Teknik Sipil ABSTRAKSI Penelitian ini dimaksudkan untuk melihat pengaruh berbagai tingkat kemiringan lereng dan intensitas hujan terhadap erosi dari tiga jenis tanah (Andosol, Latosol dan Grumoso!) yang mempunyai sifat fisik berbeda, Selain itu untuk memperoleh gambaran dari perlakuan mana yang paling berpengaruh terhadap besamya erosi tersebut, baik secara terpisah maupun secara berhubungan antara faktor yang satu terhadap lainnya. Rancangan percobaan yang digunakan 3 x 4 x 4 faktorial dalam rancangan acak lengkap dengan 3 (tiga) kali ulangan, yaitu variasi tanah Andosol, Latosol, dan Grumosol; variasi intensitas hujan 30 mm/jam, 40 mmijam, 50 mmfjam dan 60 mmfjam; variasi kemiringan lereng 5°, 10°, 15° dan 25°. Hasil penelitian menunjukkan bahwa besarnya erosi sangat tergantung pada variasi kemiringan lereng dan intensitas hujan. Pada intensitas hujan 30 mm/jam umumnya memberikan erosi yang rendah, dapat dilihat bahwa kemiringan lereng lebih dominan dibanding intensites hujan dalam memperbesar laju erosi tanah. Besar intensitas hujan terkecil (30 mnvjam) pada kemiringan lereng tercuram (25°) tingkat kehilangan tanah lebih besar dibandingkan pada intensitas hujan terbesar (60 mmfjam) dengan kemiringan lereng terlandai (5°). Dari ketiga jenis tanah uji yang paling peka terhadap erosi adalah jenis tanah Latosol. Hal ini dikarenakan nilai kepekaan erosinya paling tinggi dibandingkan dua jenis tanah uji yang lain. Kata kunci ntensitas Hujan dan Kemiringan Lereng. ABSTRACT Land erosion in Kab. Semarang are increasing significulty in the decade. Most of soil in Kab. Semarang comprise of andosol, latosol and grumosol. ‘There are it requires research on “ Land Erosion Andosol, Latosol and Grumosol for variation of hill slope and rainfall intensity”. ‘The main objective of this research is to evaluate the effect of hill slope and rainfall intensity on erosion from three types of soil (Andosol, Latosol and Grumosol. The experimental design used was 3 x 4x 4 variation and laid out as Completely Randomized Design with three replications, each aplicated to each type of soil andosol, latosol, and grumosol with rainfall intensity use are 30 mm/hour, 40 mm/hour, 50 mm/hour and 60 mm/hour; and variation of hill slope consisting of 5°, 10°, 15°, and 25°. The result of this research indicate that the level of erosion vary depending on hill slope and rainfall intensity. At 30 mm/hour rainfall intensity erosion occurred very low, increasy the hill slope factor is more dominant ‘compared to rainfall intensity in resulting higher erosion. For intensity of rainfall 30 mm/hour and hill slope 25° gives higher erosion rate intensity of rainfall 60 mm/hour with hill slope 5° From three types of soil, most sensitive to erosion Latosol soil, because the index of erodibility of this soil is the highast compared to highest two type soil of other test. Keyword ; Rainfall intensity and land slope KATA PENGANTAR Puji syukur senantiasa saya sampaikan kehadirat Allah SWT atas rahmat, taufik dan hidayahnya serta hanya dengan petunjuk-Nya Tesi dapat saya selesaikan, Tesis dengan judul “Kajian Laju Erosi Tanah Andosol, Latosol dan Grumosol Untuk Berbagai Tingkat Kemiringan dan Intensitas Hujan di Kabupaten Semarang” disusun sebagai salah salu persyaratan dalam menyelesaikan studi pada Program Magister Teknik Sipil Universitas Diponegoro Pada kesempatan ini saya sampaikan terimakasih kepada yang terhormat, Bapak Dr. Ir. Suharyanto, Msc dan Bapak Ir. Irawan Wisnu W, MS, selaku dosen pembimbing yang penuh perhatian dan kesabaran sampai Tesis ini selesai. Begitu pula kepada Bapak Dr. Ir. Suripin. M Eng , Bapak Ir, Pranoto SA, MT dan Ibu Sri Sangkawati, MS, selaku pembahas dan penguji yang senantiasa memberikan pengarahan dan masukan ~ masukan dalam melengkapi isi Tesis ini. Ucapan terimakasih juga saya sampaikan kepada Pimpro P2KP, Bapak Ir. Ariyanto, Dipl. HE, SE, MT dan Team Leader KMP P2KP Bapak Ir. Kurniawan Zulkarnaen, SE yang telah memberikan ijin dan kesempatan guna menyelesaikan studi pada Program Magister Teknik Sipil_ Universitas Diponegoro, juga kepada Regional Manager dan seluruh Supporting Staff KMP P2KP Regional Jateng dan DIY yang memberikan dukungan prasarana selama saya menyelesaikan Tesis ini Tidak lupa saya ucapkan terimakasih kepada teman seperjuangan Bapak Drs. Martono, MT dan Bapak Drs. Risman, MT yang membantu kelacaran Tesis ini, Kepada segenap pimpinan dan karyawan Laboratorium Mekanika Tanah Universitas 17 Agustus 1945 Semarang dan Laboratorium PAU Universitas Gajah Mada Yogyakarta yang telah banyak membantu kelancaran penelitian selama dilaboratorium. Juga kepada Bapak Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Pemerintah Daerah Kabupaten Semarang dan staff yang telah banyak memberi referensi yang sangat menunjang penelitian ini Terimakasih atas dorongan dan dukungan kepada kedua orang tuaku dan suamik tercinta yang selama ini telah memberi motivasi dan penuh pengerian selama proses pendidikan. Harapan saya kiranya Allah, SWT berkenan yang telah diberikan. Akhir kata semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua, Amien ... memberikan balasan atas amal dan budi bail Semarang, Maret 2005. Penyusun vi DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL. HALAMAN PENGESAHAN... ABSTRAKS! ABSTRACT. KATA PENGANTAR. DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL.. DAFTAR GAMBAR... BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang. 1.2, Pokok Permasalahan, 1.3. Tujuan dan Sasaran Penelitian. 1.3.1. Tujuan Penelitia 1.3.2. Sasaran Penelitian., . Manfaat Penelitian.. 1,7, Sistematika Penulisan... BAB 2TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Erosi dan Kerusakan Tanah. 223, Faktor Panjang & Kemiringan Lereng 2.3. Laju Erosi Yang Diperbolehkar 2.4. Uji Statistik. BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN.. BAB 4 PELAKSANAAN PENELITIAN 4.1. Kegiatan Lapangar 4.1.1. Uji Karakteristik Tanah... 4.1.2. Pengambilan Tanah 42. Kegiatan Laborato 4.2.1. Persiapan Bahan dan Ala... 4.2.2. Pengujian dan Pengambitan Data, 2.2.1. Pengukuran Berat Isi Tanah Pengukuran Kadar Ai Pengukuran Berat Jenis Butiran Tanah Pengukuran Analisa Saringan. : Halaman vil 4.2.2.5, Pengukuran Permeabilitas. 4.2.2.6, Pengukuran Intensitas Hujan, . 4.2.2.7. Menentukan Distribusi Ukuran Butiran Hujan. 4.2.2.8. Pengukuran Laju Tanah Tererosi 4.3. Besar Nilai Parameter USLE........ 43.1. Erosi 4.3.2. Brodibilitas...s ce 4.3.3. Panjang dan Kemiringan Lereng... BAB 5 ANALISA DAN PEMBAHASAN S.1, Besar Intensitas Hujan Terhadap Energi Kinetik...... 5. Laju Kehilangan Tanah... i 5.3. Pengaruh Intensitas Hujan Terhadap Laju Eros 5.4, Pengaruh Kemiringan Lereng Terhadap Laju Erosi.... 5.5. Laju Erosi Tanah Andosol, Latosol dan Grumosol BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimputan 6.2. Saran. DAFTAR PUSTAKA... LAMPIRAN Pengaruh Intensitas Hujan dan kemiringan Lereng Tethadap 59 61 62 65 68 68 68 2 xi | I | Tabel 1-1 Tabel 1-2 Tabel 1-3 Tabel 1-4 Tabel 2-1 Tabel 2-2 Tabel 2-3 Tabel 2-4 Tabel 2-5 Tabel 4-1 Tabel 4-2 Tabel 4-3 Tabel'4-4 Tabel 4-5 Tabel 4-6 Tabel 4-7 Tabel 4-8 Tabel 4-9 Tabel 4-10 : Padanan Nama Tanah Menurut Berbagn Sistem : Karakteristik Tanah di Lokasi Penelitian. *: Nilai M Untuk Beberapa Tekstur Tanah... + Hasil Pengukuran Berat Isi Tanah (yb).. : Hasil Pengukuran Berat Jenis Butiran Tanah.... : Hasil Analise Saringan Tanah Latosol : Hasil Analisa Saringen Tanah Grumosol.. : Hasil Pengukuran Hidrometer Tanah Latosol... : Hasil Pengukuran Hidrometer Tanah Andosol.. : Hasil Evaluasi Tata Air DAS pada SPAS Sub DAS Garang Hulu Tahun 1995-2000. Perhitungan Volume Waduk Rawapening ... Klasifikasi... : Kode Struktur Tanah neu Untuk K Menghitung Nilai K.... : Kode Petmeabilitas Tanah (c) Untuk Menghitung Nilai K. Faktor Koreksi a Untuk m = 0,5 : Batas Maksimum Laju Brosi Yang Dapat Diterima Untuk Berbagai Macam Kondisi Tanah. + Hasil Pengukuran Kadar Air (Ka)... : Hasil Analisa Saringan Tanah Andosol.. +: Hasil Pengukuran Hidrometer Tanah Grumosol.s.. : Koefisien Permeabilitas (k) Tanah Latosol....erseo Halaman 23 23 24 27 30 49 50 51 52 33 53 54 55 55 60 ix Tabel 4-11 Tabel 4-12 ‘Tabel 4-13 fee Tabel 4-14 Tabel 4-15 Tabel 4-16 Tabel 4-17 Tabel 4-18 Tabel 4-19 Tabel 4-20 Tabel 4-21 Tabel 4-22 Tabel 5-1 Tabel 5-2 I Tabel 5-3, i Tabel 5-4 Tabel 5-5 i Tabel 5-6 Tabel 5-7 | Tabel 5-8 Tabel 5-9 : Koefisien Permeabilitas (k) Tanah Grumosol +: Koefisien Permeabilitas (k) Tanah Andosol.. : Hasil Pengukuran Intensitas Curah Hujan (1... + Hasil Pengukuran Jumlah Butiran Hujen. : Energi Kinetik Untuk Iso. : Energi Kinetik Untuk le. : Energi Kinetik Untuk Iso. : Bnergi Kinetik Untuk loo. + Hasil Pengukuran Laju Tanah Tererosi : Hasil Perhitungan Erosivitas (R).. : Data Erodibilitas (K)... Hasil Pengukuran Energi Kinetik (Ek).. Laju Kehilangan Tanase : : Pengaruh Intensitas Hujan ‘Terhadap Laju Erosi Pada Tanah Latosol....... - : Pengaruh Intensitas s Huan Tethadap Laju Brosi Pada Tanah Andosol... + Pengaruh Intensitas Hujan Tethadap Laju Erosi Pada ‘Tanah Grumosol. a : Pengaruh Kemiringan Lereng (Ls)Terhadap Laju Erosi Pada Tanah Latosol, : Pengaruh Kemiringan Lereng (1syTemadap Laju Erosi Pada Tanah Andosol....... = + Pengaruh Kemiringan Lereng (Ls)Terhadap Laju Erosi Pada Tanah Grumos0l, noon + Analisa Laju Erosi Tanah Latosol di Gunungpati.,... 60 61 62 63 63 64 64 64 67 68 68 Dn B B 16 16 16 1 B 9 80 Tabel 5-10 Tabel 5-11 Tabel 5-12 Tabel 5-13 Tabel 5-14 Tabel 5-15, Analisa Laju Erosi Tanah Andosol di Getasan., : Analisa Laju Erosi Tanah Grumosol di Sruwen. : Perbandingan Laju Erosi Tanah Latosol Gunungpat : Perbandingan Laju Erosi Tanah Andosol di Getasan, 7 : Perbandingan Laju Erosi Tanah Grumosol di Sruwen.. : Perbandingan Antara Uji Laboratorium Terhadap Perhitungan USLE.... 80 80 81 81 81 82 xi DAFTAR GAMBAR Gambar 1-1. : Pembagian DAS Garang dan sekitarnya.. Gambar 1-2 : Potensi Sedimentasi di Sub DAS Rawapening, Gambar 1-3 : Jenis Tanah di Kabupaten Semarang. Gambar 2-1 : Nomograf Erodibilitas Tanah...........00.0000000-0 Gambar 2-2 : Faktor Panjang Dan Kemiringan Lereng. Gambar 3-1 : Diagram Alir Pelaksanaan Penelitian. Gambar 3-2 : Skenario Pengukuran Intensitas Hujan..... Gambar 3-3 : Skenario Menentukan Distribusi Ukuran Butiran Hujan Gambar 3-4 : Grafik Hubungan antara garis tengah tetesan dan Kecepatan jatuh butir pada berbagai ketinggian jatuhnya Kenario Kegiatan Lapangan......escsssees kenario Pengukuran Jumlah Tanah Tererosi......... Gambar 4-2 : Meja Pengetesan.......... Gambar 4-3 : Kontrol Panel... Gambar 4-4 : Spray Head......sseee0 Gambar 4-5 : Grafik Analisa Saringan Tanah Latosol.. Gambar 4-6 : Grafik Analisa Saringan Tanah Grumosol. Gambar 4-7 : Grafik Analisa Saringan Tanah Andosol. Gambar 4-8 : Grafik Hubungan Erosi dengan Waktu Pada Tanah Latosol untuk I=30 mmy/jam dan kemiringan 5° Gambar 4-9 : Nomograf Erodibilitas Tanah Latosol (Gunungpati)... Gambar 4-10: Nomograf Erodibilitas Tanah Andosol (Getasan). Halaman i 3 7 12 24 25 34 36 37 38 41 2 47 47 48 48 56 37 58 66 Co) 70 Gambar 4-11; Gambar 4-12: Gambar 5-1 : Gambar 5-2 Gambar 5-3 Gambar 5-4 Gambar 5-5 Gambar 5-6 Gambar 5-7 : Grafik Pengaruh Keri Nomograf Erodibilitas Tanah Grumosol (Sruwen). Grafik Nomograf faktor Panjang-Kemiringan Lereng Grafik Pengaruh Intensitas Hujan dan Kemiringan Lereng ‘Tethadap Laju Kehilangan Tanah di Gunungpati rafik Pengaruh Intensitas Hujan dan Kemiringan Lereng ‘Terhadap Laju Kehilangan Tanah di Getasan....... : Grafik Pengaruh Intensitas Hujan dan Kemiringan Lereng Terhadap Laju Kehilangan Tanah di Sruwen.... : Grafik Pongaruh Intensitas Hujan Tethedap Laju Erosi an Lereng Terhadap Laju Erosi di Gunungpat +: Grafik Pengaruh Kemiringan Lereng Terhadap Laju Erosi di Getasan.., : : Grafik Pengaruh Kemiringan Lereng Terhadap Laju Erosi di Sruwen,... 7 2 74 4 75 15 7 8 9 xiii | Kaen tool tna Ando Late an Gnas! verge nga kenlngen dr ere di Kabupaten Semaran ae Ls BABL PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Diberbagai media lokal akhir-akhir ini, banyak diberitakan tentang banjir sungai Banjir Kanal Barat (sub DAS Garang Hilir) maupun sungai Banjir Kanal Timur (Das Kanal Timur Hilit) yang disebabkan oleh pendangkalan yang terjadi i sungai banjir kanal tersebut. Banjir bandang yang pernah menerjang kawasan Sampangan dan Simongan, disebabkan karena didaerah DAS Garang hulu terjadi hhujan 3 (tiga) hari berturut-turut dengan intensitas hujan yang cukup tinggi, sehingga kebanyakan orang menyebutnya dengan banjir kiriman. Hal ini karena berubahnya fungsi zona resapan dihulu sungai Garang menjadi pemukiman. Bentuk permukaan wilayah sub DAS Garang Hulu bervariasi dari datar, bergelombang, berbukit sampai bergunung dengan titik tertinggi mencapai 900m dari permukean air laut, berada dipuncak Gunung Ungaran, Sub DAS Garang Hulu yang memitiki kemiringan lahan cukup terjal (25%- 45%) ini menyebabkan terjadinya limpasan yang cukup tinggi, kondisi ini potensial sebagai penyebab tingginya erosi, tanah hulu .. Berdasarkan hasil penelitian Pusat Penelitian Tanah Bogor, je sub DAS Garang adalah Latosol yang mempuny: ‘ifat kemantapan agregat tinggi, struktur remah sampai gumpal, tekstur lempung sampai geluh dengan kadar SiOz fraksi lempung rendah. Jenis tanah ini banyak dimanfaatkan untuk usaha pembuatan batu bata merah dan bahan galian berupa pasir dan batu, Penambangan di dacrah hulu dan tengah sub DAS Garang yang tidak dikelola secara benar dan tidak disertai upaya pemulihan daerah bekas penambangan ini_menimbulkan peningkatan erosi lahan dan sedimentasi pada sungai-sungai di Sub DAS Garang. Selain itu berubahnya tata guna lahan yang seharusnya sebagai zona penyangga menjadi pemukiman juge sebagai salah satu penyebab tingginya erosi dihulu sub DAS Garang, Seperti daerah Gunungpati dan Mijen telah berubah fungsi dari kawasan resapan hujan berkembang menjadi daerah perumahan dan oT pum IAR UN esis: Kan lav eres tatan Andoso Lite dan Grumol untuk berbage ai Senay Kerkingan dan intents hun industri, Pesatnya pembangunan pemukiman dikewasan penyangga dan maraknya Penanaman tanaman semusim dikawasan pelindung menimbulkan dampak ‘meluasnya lapisan yang relatif lebih kedap air, memperbesar aliran permukaan, ddan menurunkan infiltras hhyjan, Karakteristi dan morfometri sub DAS Garang Hulu mempengaruhi kemampuan sub DAS Garang dalam mengelola air hujan yang jatuh menjadi air yang meresap Ketanah (infiltrasi), mengisi cekungan-cekungan lahan ataupun ‘menjadi air aliran permukaan (run off). Hujan sebagai input akan diproses oleh tanah menjadi debit aliran sungai yang mengandung butiran partikel tanah halus yang terbawa oleh air. Untuk memantau tata air wilayah sub DAS Garang digunakan Stasiun Pengamat Arus Sungai (SPAS) di Ungaran dengan catchment area 1754,26 Ha, Schingga diperoleh data pengamatan run-off pertahun, seperti pada Tabel 1-1, Tabet 1-1, Hasil Evaluasi Tata Air DAS pada SPAS Sub DAS Garang Hulu. Tahun 1995-2000 No. Parameter 1995 | 1996 | 1997 | 1998 T1999 | 2000 A. | Hujan 1. Jumlah/tahun (rum) 1788) 187] 1266] 2425] 1794] 3518 2, Jumfah hari yjan war} a7] | tar} za] 203 3. Hujan barian maks (mum) my} sz] 96} 133) a] as 4 Bulan basah 7 1 5} 0 6 6 5. Bulan kering, 2) 3 3 ° 1 1 6. Intensitas (mm/h) 14,079 | 12,769 } 17,831 | 17,199 | 14,468 | 17,330 B. | Tinggi Muka Air 1. Tertinggi (m) 17] 19s} 48s] 275] 23] a7 2. Terendah (m) a9} ot9] 019) 04] o42| oa 3. Rataerata (m) gas] 107] 102] 1,575] 1,36] 1,525 C. | Debit Sungai (a) 1. Q Maks (m3/di) 1327} 125] 1891] Ba] 1301] 138. 2.Q Min (m3/dt) 063} 058] 024] 702) 1,68 o24 3. Nilai KRS a} 2] 73] 36) is} 33 4. Rata-rata Q (m3/dt) 0,712] 0,837] 9.612 | 0,838 | 0,996 | 0,965 5. Tebal limpasan /hasil sir(mm) | 1,066 | 1,156 1] 1439} 1,038) 1,74 6. Koefisien limpasan 0,896 | 0.616 | 0,863) 0,594] 0579) 0495 D. | Sedimentast dan Debit Suspensi 1. Total sedimen (tomvth) 26173 | 24349 | 32396 | 12196 | 57905 | 30262 2. Tingkat eros! (‘on/ba/th) 1492 | 13,88] 14,76 | 69,521 | 21,611} 149 ‘Sumber: Laporan Monitoring dan Evaluasi Tata Air Sub DAS Garang 2000, Dep. Kehilancn Dixjen, Rehabilitsi Lahan Dan Perhutanan Sosial, Balai Rehabilitasi Lahan Dan Konservasi Tanah Pemali Jratun, Text: Kajan lake tanah Andooo Laoeel dan Grumcsol tuk berhaglnghatkemragan dan lenis balan aja rt bovegel oghatemiingan dan nena js Sumber; Rencana Kegiatan RHL DAS Garang Th. 2003-2007, Dep. Kehutanan Dirjen. ‘Rehabilitasi ahan Dan Pethutanan Sosial, Balai Pengetolaan DAS Pemali Jatun, Gambar 1-1. Pembagian DAS Garang dan sekitarnya Tesls: Kana rst tnah Andoto, Latoso! dan Gromosol untuk erga ight Kemlagan den intenstas ben iKebupaten Semarang —S=_”E_ eee Selain sedimentasi di hilir sub DAS Garang, Waduk Rawapening juga mengalami hal yang sama. Sedimentasi di Rawapening ini disebabkan adanya degradasi 9 (sembilan) sungai yang bermuara di Rawapening yang disertai terjadinya erosi didaerah hulu, diantaranya sub DAS Parat dan sub DAS Sraten. Sub DAS Parat berhulu dikaki G. Merbabu dan G. Gajahmungkur (Kec. Getasan dan Kec. Tuntang). Sedangkan sub DAS Sraten yang berhulu didaerah Salatiga (Kec. Sidomukti dan Kec, Tengaran). Daerah yang potensial terjadi sedimentasi dimuara Rawapening, dapat di it pada Gambar 1-2. Hulu sub DAS Parat berada dipunggung G. Merbabu dan G. Gajahmungkur berjenis tanah Andosol yang sangat gembur, struktur remeh (granuler), Permeabilitas sangat tinggi karena mengandung banyak makropori, fraksi Jempung sebagian besar alofan dengan berat jenis kurang dari 0,85 dan kandungan bahan organik umumnya tinggi, yaitu antara 8% - 30%, Berdasarkan kondisi topografinya memiliki variasi kelerengan 0% - 45%, dimana kelerengan 8% - 25% terdapat di kaki gunung Merbabu dan kelerengan terjal hingga 45% terdapat i Gunung Gajahmungkur, Kondisi sosial ekonomi penduduk berpengaruh pada pengelolaan lahan DAS, pertanian tanaman semusim (sayuran dan bunga) pada kelerengan tajam (25 %) tanpa disertai dengen teknik-teknik pengawetan (konservasi) tanah yang memadai mendukung besarnya erosi. Selain itu dacrah Kopeng yang tujuan wisata banyak dibangun tempat peristirahatan, sehingga ‘mengurangi peresapan ait dan memperbesar terjadinya lahan hidrologis kritis. Sedangkan hulu sub DAS Sraten berada di lereng Gunung Selo dan Pogangan yang memiliki jenis tanah Grumusol Kelabu dimana struktur lapisan atas granuler dan lapisan bawah gumpal (pejal), jenis lempung yang terbanyak montmorillonit sehingga tanah mempunyai daya adsorpsi tinggi, menyebabkan gerakan air dan keadaan aerasi buruk , serta sangat peka terhadap erosi. Sedimen terlarut yang terangkut air sebagai akibat dari erosi_ menumpuk dimuara sungai dan sedimen yang sangat halus sampai ke dalam waduk, sebagian ditangkap oleh akar-akar tumbuhan air dan sampah daun-daunan sehingga menimbulkan pulau terapung, sebagian lagi sampai di Kanal Tuntang yang mengakibatkan pendangkalan. Sedimen yang terhenti dimuara sungai selain ees trah Andosol Latosol dan Grumosol untuk barbaga tinghat kemiingan dan ntersitshuan ‘mengakibatkan kapasitas waduk berkurang, juga mempersempit penampang basah muara sungai. Dari proses analisis perhitungan Tabel 1-2 yang dilakukan oleh Proyek Perencanaan Tata Lingkungan DAS Rawapening sejak tahun 1976, diketahui Inas genangan maksimal 2.770 Ha, laju sedimentasi tahun 1976 sebesar 277,20 tow/th idak diperhitungkan dan pengaruh pengambilan bahan sedimen dari waduk tidak dan tahun 1986 sebesar 778.93 ton/th dengan asumsi penyebab sedimentasi iperhatikan, maka bila tidak dilakukan penanganan secara intensif di daerah hulu dan penanganan sedimentasi pada waduk Rawapening, diperkirakan pada tahun 2021 lumpur sedimentasi akan menutup volume waduk Rawapening. Tingkat erosi di Kabupaten Semarang, dalam hal ini yang mempengaruhi tingginya sedimentasi di hilir sub DAS Garang dan diwaduk Rawapening (DAS Rawapening) tidak lain dikarenakan ekploitasi sumber daya alam yang tidak disertai dengan konservasi. Tanah Latosol yang kaya dengan bahan galian dan tanah Andosol yang gembur / subur sebagai lahan pertanian, diekploitasi tanpa ‘memperhatikan aspek Kelestarian Iahan dan kaidah konservasi tanah. Sehingga lahan berproduksi diluar batas kemampuannya dan menjadi penyebab tingginya tingkat erosi dibeberapa wilayah DAS bagian hulu. Dalam melestarikan lingkungan dibeberapa wilayah DAS bagian hulu, dititik beratkan pada upaya penaggulangan erosi. Sedangkan untuk mengetahui cara yang paling efektif dalam menanggulangi erosi, perlu diadakan penelitian terhadap erosi tersebut. Penelitian erosi dapat dilakukan di laboratorium dengan menggunakan suatu alat Khusus yang dinamakan pembust hujan tiruan (rainfall simulator). Alat rainfall simulator mempunyai beberapa kegunaan, diantaranya dapat digunakan untuk melihat pengaruh berbagai intensitas dan lamanya hujan, pengaruh bermacam-macam kemiringan lereng, dan untuk mempelajari hubungan sifar-sifat tanah dengan kepekaan erosi, selain dapat menghasilkan hujan tiruan. Tose: Kajan eros taah Angee Laos dan Grunosol untuk borbagaltngatkemtngsn do tenia jon cl kabpaien Seng ‘Tabel 1-2. Perhitungan Volume Waduk Rawapening “Tahun ] PotensiSedimentest | TinggiEndapan | Volume Air | Redalaman Air Raw (con) (on) (3) ) We 727.200 Dou 5.060.000 2.250 197 327370 002 64395427 2300 wr 377.550 0035 64.017 880 2310 9 a7 051 590161 2300 1980 477380 0068 eux 2280 18 528,070 0987 62584202 2280 1982 578240 08 62005. 963 2210 1983 628,410 on3 61377550 220 1981 673.590 one 60.98.94 2,190 41985 728.760 ois 59970206 2160 1986 773,930 0210 59191.275, 240 1387 soa 0240 58362168 zn0 1988 879,280 o2n 57182890 2080 1989 929.450 0305 56553.498 200 1350 979,620 0340 55573813 2010 1991 1029,800 0377 H5H4015 970 1992 1079970 ons 5364.013 1930 1993 130.140 0437 52333899 1890 1994 180,560 050 31153581 11350 1995 1730490 Osis 49923,080 van 199 12803560 oso 38.612005 176) 1397 130,840 0629 47311588 i710 1993 13381,010 0688 45920578 1660 1999 143,180 o740 144499308 1610 2000 1431360 ore 8.018007 11550 2001 1531,530 0819 11.486 505 ism 2002 1581,700 0.906 39.904.808 vaio 2008 1631,880 0965 382720925 1380 2 682,050 1425 36590876, 130 2005 1732220 108 3858.53 1260 2005 782,400 1452 38.075257 1190 2007 1832570 vag 31.213 687 130 2008 1882740 1287 29360915 1089 209 1932920 1356 27428029 090 amo 1983.09 1428 25444940 0920 2m 033,260 150. wane oss0 am2 2033440 1577 328.22 orm 2013 233,610 164 1919163 0.690 201d 2133,780 um v7010851 610 ans 2233,960 183 14776896 0530 26 2284130 1886 12492767 050 207 2234300 1980 10188.465 0370 ang 2384470 2056 777391 0280 ang 2434650 2st 53038 0390 2020 2434820 2244 254521 200 20a 2534960 2505 219527 ooo Sumber? Laporan AKhir Prayek Pereneanaan Tata Lingkungsn DAS. Rawapening, Pemerintah Daerah Kabupaten Semarang bekerjasema dengan PT. Commarindo Mahameru Semarang “Tet jane aah Atdowo Late! don Gramcel uni ens ha embngan dn tet di Kabupaten Semarang a ee os i Ro i ‘Sab-sub Das Panjang Seaimentasi { i Pot = 2913 ton/th Subsub Das Rengas ms = 4893.24 Ha Pot = 1449 ton/th Sediments Sub-sub Das Kedungringin Pot =417510n/th } ‘Laas = 918 Ha 2 Sedimentasi Sed-sub Das Torong, A Sub-sub Das Rings Pot = 51.16¢on/th Pot =915 ton/th ‘Lane = 2687 bo ‘Sediment Sub-sub Das Seaton aa Pot=15302 ton/th Subs Das Prat pee are Pot = 16471 ton/th ses 16671 Ha i ‘Sumber’ Laporan Auhir Proyek Perencanaan ‘Tata Lingkungan DAS Rawapening, Pemerintah Daerah Kabupaten Semarang bekerjasama dengan PT. Commarindo Mahameru Semarang I ‘Gambar 1-2, Potensi Sedimentasi di Sub DAS Rawapening (ae “esis: Kaan lalueroe tanah Andosol Latoso! dan Grune! uatukertagetngketkentngan dan nei hun ol Kabopten Samara i ‘Ada berbagai macam sistem klasifikasi_alami tanah yang berdasarkan atas sifat tanah yang dimilikinya tanpa menghubungkan dengan tujuan penggunaan tanah tersebut. Klasifikasi i memberikan gambaran dasar sifat fisik, kimia, dan mineralogi tiap-tiap kelas tanah yang dapat digunakan sebagai dasar pengolahan untuk berbagai penggunaan tanah (Suripin, 2001). Di Indonesia saat ini dikenal ada 3 (tiga) sistem klasifikasi tanah yang dipakai, yaitu sistem PPTB (Pusat Penelitian Tanah Bogor), FAO/UNESCO, dan SCS-USDA (The Soil Concervation Services of the United States Departement of i Agriculture) Tabel 1-3. Padanan Nama Tanah Meanurut berbagai Sistem Klasifikasi No] Sistem Dudal- | Modifikasi_ | FAO/UNESCO | USDA 1975 Soepraptohardjo | PPTB 1982 1974 1961 Kambisol | Canbisal Thcaptso) 1. | Latosot Latosol Nitosol Utisol Lateritik Ferralsot Oxisol 2 | ance cotik | Andosol Andosol Inceptisol 3___[Grumosol Grumosal___| Ventisol Verisol ~ Sumber: Sarwono Hardjowigoeno (2003) ‘Tabel 1-4. Karakteristik Tanah di Lokasi Penelitian PARAMETER LATOSOL ‘ANDOSOL. GRUMOSOL 7. Ware nth 7" Waa nah seregan denan Ges - Ware ana ham, cofat un] ~War aah elabu un aaa Arson mur, baaberwara mera, | (eigeam molk au a8) apn bev aba cellatkemeraan, oki coat” | menyaiy’ hoon Korpick kebinan ca eungion erga euringa, eran do talon dah desc indi, ind 6. Bahan Indo Teeapat pads ban nduvltan | - Diterukon pads tan vtkanik | ~ Kandungan bake epi endoh tera Tra maupan atin beku |” yang pos ances) -Bshun Orit | - Xandunganbehanorgaikrendeh | --Kandungan baba renin = Uasur har enh 4.ScokueTamb | - Stakwrrenah swarremh Suku tna ila Kerng nk 5 Kandungan eine primer(oodeh | Banya merging tahan smo? |” reak don hrs harem mengkent, Input ‘nba dar 60% ere cr eos. fal bisa eget vera Konstess gember walter, ines eu rnengenbing Solum darn bin ai 1s0em | bahan pyres la = Tottori it kadai ei | 1 Sails agregar nest + Tebaursecag, oraz aan | PH Tarah = mias-ss = PH4s-60 Reais er samp tals dang Konkel apr ang | ‘-Didapac péLotasi | - Diketinggin +Omsté+900m | - Diketinggan +1st0m 24+2000n | - Dietingain 40m t-+200m ‘Troika bath, cura jon 2500- | ~ Cura ujon ing Tropa best atu sd wit, 7600 ro Cara hj 800-2000 ' Sumber: Sarwono Hardjowigoeno (2003) Tess: Kajan ay aes tonoh Andoso, Latsol dan Gros urtuk beep gk Kemingan dan i Kabupaten Samara 1.2. Pokok Permasalahan Penelitian ini dimaksudkan untuk melihat pengaruh berbagai tingkat kemiringan lereng dan intensitas hujan terhadap erosi dari tiga jenis tanah (Andosol, Latosol dan Grumosol) yang mempunyai sifat fisik berbeda, Selain itu untuk memperoleh gambaran dari perlakuan mana yang paling berpengaruly terhadap besarnya erosi tersebut, baik secara terpisah maupun secara berhubungan antara faktor yang satu terhadap lainnya. 1.3, Tujuan dan Sasaran Penelitian 1.3.1. Tujuan Penelitian ‘Tujuan dari penelitian ini adalah guna mengetahui laju kehilangan tanah pada ketiga jenis tanah (Latosol, Andosol dan Grumusol) dengan berbagai tingkat kemiringan dan intensitas hujan, 1.3.2. Sasaran Penelitian Sasaran pene! ii adalah : . Mengukur kehilangen tanah dari berbagai kemi a gan tanah b. Mengukur kehilangan tanah dari berbagai intensitas hujan Mencari hubungan antara kehilangan tanah dengan kemiringan tanah 4. Mencari hubungan antara kehilangan tanah dengan intensitas hujan 1.4, Batasan Masalah Obyek pene! ini adalah tanah pertanian di daerah kabupaten Semarang, yaitu tanah Andosol di Kecamatan Getasan, tanah Latosol di Kecamatan Ungaran dan tanah Grumosol di Kecamatan Tengaran, Menggunakan variasi intensitas hujan 30; 40; 50; 60 mmfjam, variasi Kemiringan tanah 5°; 10°; 15°; 25°, variasi diameter intensitas hujan 1; 2; 3; 4; 5; 6mm, ese: Kaan au ores raneea i Wing dan tests hun ‘jets! aah Anderton Gnesi eas Sgtat emings di stas Uji_-karakteristik yang dilakukan ilaboratorium guna _menyamakan kondisi dilapangan adalah kadar air tanah, Dalam hal ini permeabilitas tanah dan kadar organik tanah tidak disesuaikan. 1.5, Hipotesa Secara teoritis besarnya laju kehilangan tanah bervariasi terhadap Kemiringan lereng, panjang lereng, dan intensitas hujan. Semakin besar Kemiringan lereng, panjeng lereng, dan intensitas hujan maka semakin besar erosi yang terjadi, Demikian pula sebaliknya. 1.6, Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan perencanaan penanggulangan erosi di wilayah rawan erosi Kabupaten Semarang (wilayah hulu sub DAS Garang dan sub DAS Rawapening). 1.7, Sistematika Penulisan Secara’ singkat sistematika penulisan dalam pembuatan laporan diuraikan sebagai berikut : a, Bab 1. Pendahuluan Berisi tentang latar belakang, pokok permasalahan, tujuan dan sasaran penelitian, batasan masalah, hipotesa, manfaat penelitian dan sistematika penulisan, b. Bab 2. Tinjauan Pustaka Berisi tentang teori yang mendasari dan mendukung. kepentingan penelitian, meliputi : erosi dan kerusakan tanah, faktor-faktor yang, mempengaruhi erosi (peranan faktor iklim, peranan faktor tanah, peranan faktor topografi) dan laju erosi yang diperbolehkan serta uji statistik. 10 Tosis: Kalan ju eros tanah Andoso Lateol dan Grumesol untukbertapl Unghethenlngan den nena jan _lKabagaten Sorarang c. Bab 3, Metodologi Penelitian Beri tentang prosedur dan cara pengukuran setiap kegiatan yang dilakukan, serta bagan alur pelaksanzan penelitian, Dalam metodologi penelitian ini dijelaskan tatacara yang dilakukan selama pelaksanaan, muilai dari pengambilan sampel, pengujian kadar air, berat isi tanah basah, analisa butiran tanah, permeabilitas tanah, butiran hujan, uji coba untuk mendapatkan intensitas yang ditentukan, dan pengukuran laju kehilangan tanah, d. Bab 4, Pelaksanaan Penelitian Borisi tentang kebutuhan alat dan bahan yang dipergunakan, kegiatan lapangen, Kegiatan laboratorium, analisa perhitungan, hasil terukur dan pengukuran hasil erosi tanah ¢. Bab 5. Analisa Hasil dan Pembahasan Berisi tentang analisa-analisa hesil pengujian yang telah dilakukan dan pembahasannya, meliputi : pengujian kadar air, berat isi tanah basah, tas hujan, erodibilitas hujan permeabilitas tanah, intensitas hujen, ero dan ha erosi yang diperoleh hubungennya dengan intensitas hujan dan kemiringan lereng (ditampilkan dalam tabel dan grafik). f. Bab 6. Kesimpulan dan Saran Berisi tentang kesimpulan dari hasil penelitian dan saran-saran yang, perlu diberikan untuk kesempurnaan penelitian dan bila akan dilakukan penelitian lanjutan, "os aja tah Aor atl dn Grameen wt tgs atkaikingan don nena jan srl nga dan nna ha KAB TEMANGGUNG 1g er cna Bw mun vie Het ts Um E80 BB awanuw (oe aa EE eter ein ase ow, Bad urs cos sets ES SI eg mmc nc cent KAB BOYOLALI a Gambar 1-3. Jenis Tanah di Kabupaten Semarang KAB BOYOLALI lias jon nau eo tanah Antoso Laosol dan Grumasl unlukerbage trghathemiogan ean bapa BAB2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Erosi dan Kerusakan Tanah Di daerah beriklim basah seperti di Indonesia kerusakan lahan terulama disebabken oleh hanyutnya tanah terbawa air atau yang disebut dengan erosi. Eros tanah dari suatu tempat ketempat lain oleh media alami. Di daerah tropika basah seperti di Indonesia, media alami sebagai penyebab utama erosi adalah air hujan. tahap pelepasan butiran tanah dati agregatnya yang kemudian disusul oleh tahap pengangkutan Erosi tanh merupakan gabungan dari dua proses, y butir tanah yang telah lepas tersebut untuk diendapkan ditempat lain, Pelepasan butiran tanah tetjadi terutama oleh tetesan hujan, proses ini merupakan proses yang menentukan terjadinya erosi. Bila tanah terbuka tertimpa hujan, maka akan terjadi percikan yang menjadikan sebagian permukaan tanah menjadi Iumpur. Sebagian lumpur ini terbawa ofeh aliran permukaan sebagai erosi, sebagian lagi ikut meresap kedalam tanah, Butiran yang terbawa meresap kedalam tanah akan menyumbat pori tanah schingga laju infiltrasi makin lama makin lambat yang berakibat semakin membesarnya aliran permukean. Besar dan Kecepatan aliran permukaan tergantung pada sifat hujan, kemiringan leteng, dan kapasitas infiltrasi tanah. Aliran permukaan atau air limpasan terjadi apabila hujan telah mencukupi untuk penguapan, intersepsi, infiltrasi, tersimpan dan tertahan dipermukaan tanah dan atau disaluran, Erosi disebabkan oleh kegiatan dispersi dan pengangkutan oleh air hujan yang mengalir dipermukaan tanah, Kekuatan dispersi dan pengangkutan oleh ait ditentukan oleh : (1) Tenaga penghaneur butir-butir hujan. (2) Daya tahan tanah terhadap dispersi dan pengangkutan oleh air. .dalah persistiwa pindahnya atau terangkatnya tanah atau bagian — bagian Test Kalan lalueros tanah Anoso, Latso! dan Gramaso! untukerbaps ngkatkemiiagan dan atria jan Kabupaten Serra Kecepatan erosi merupakan kerja interaksi dan atau interrelasi antara curah hhujan, aliran permukaan, angin, tanah, kemiringan lereng, tanaman penutup, serta ada atau tidaknya usaha pengawetan tanah oleh manusia, Erosi dapat terjadi Karena kesalahan penggunaan dan pengelolaan Jahan. Penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuan lehan dapat merupakan penyebab terjadinya kerusakan tanah. Di daerah berpenduduk padat banyak tanah berlereng curam digunakan- untuk bertani tanaman semusim seperti tegalen dan ladang tanpa disertai tindakan pengawetan tanah. Sedangkan didaerah yang kkurang padat penduduknya, proses kerusakan tanah dan erosi terjadi dengan cara lain, yaity dengan cara perladangan dan pembakaran. Kegiatan manusia yang menimbulkan kerusakan tanah ialah perladangan, pengrusakan hutan dan vegetasi Penutup tanah untuk mendapatkan hasil hutan dan memperoleh tanah garapan, Hal i karena kurangnya pengetahuan, pengertian, kesadaran dan keadaan sosial ekonomi petani, Tindakan pengawetan tanah perlu dilakukan agar besarnya erosi yang terjadi tidak menyebabkan kemerosotan produksivitas tanah, Bahaya erosi makin meluas dan makin meningkat dari tahun ketahun, Jumlah erosi mencapai ratusan ton/ha/tahun adalah jumlzh umum pada bagian daerah aliran sungai yang tererosi di Indonesia. Akibat erosi yang terus berjalan tanpa ada usaha pencegahan make terjadileh tanah rusckikritis, Yang dimaksud dengan tanah kritis adalah tanah yang karena tidak sesuainya antara penggunaan tanah dengan kemampuannya, telah mengalami atau dalam proses kerusakan fisik, kimia, dean biologi yang akhirnya membahayakan fungsi hidrologi, orologi, produksi tanaman, pemukiman, dan kehidupan sosial ekonomi. Kepekaan tanah terhadap erosi dipengaruhi oleh sifat-sifat tanah yang menyebabkan tanah tahan terhadap pendispersian selama turun hujan serta Kemampuan tanah untuk dilalui air ke jeluk yang lebih dalam. Menurut Arsyad (1977) kepekaan tanah terhadap erosi merupakan_fungsi interaksi sifat-sifatfisis dan kimia tanah, Morgan (1979) menambahkan bahwa kepekaan erosi bervariasi dengan tekstur, kemantapan agregat, kapasitas infiltrasi dan kandungan bahan organik tanah. 14 ‘Tess: Kajan ele orca tarah Ancosol Latosol an Gramosot untuk berga tinghat emiringen dan tensa ban (sesquioksida) fraksi lempting rendah, Di Indonesia, tanah Latosof umumnya berasal dari batuan vulkanik, terdapat dari tepi pantai sampai ketinggian + 900 m diatas permukaan faut, Tanah Grumusol mempunyai sifat struktur lapisan atas granuler dan fapisan bawah gumpal atau pejal, jenis lempung yang terbanyak montmorillonit sehingga tanah_mempunyai daya adsorpsi tinggi yang menyebabkan gerakan air dan kkeadaan aerasi buruk dan sangat peka terhadap erosi. Di Indonesia jenis tanah ini terbentuk pada tempat-tempat yang tingginya tidak lebih dari +300 m diates permukaan laut dengan topografi agak bergelombang sampai berbukit. Kemiringan lereng akan mempengaruhi kecepatan aliran permukaan (un off) dan ikut menentukan jumlah aliran permukaan, Panjang lereng menentukan percepatan aliran permukaan. Kecepatan, percepatan dan jumiah aliran permukaan menentukan energi kinetik aliran permukaan untuk mengangkut dan mengikis tanah (Dradjad dan Notohadiprawiro, 1982). Besarnya pengaruh curah hujan ditentukan oleh sifat-sifat hujan yaitu intensitas, jumlah dan ukuran butir hujan. Suatu hujan dengan intensitas tinggi tetapi dalam waktu sangat singkat kemungkinan tidak menimbulkan erosi. Hal ini dikarenakan jumlah air tidak cukup untuk menimbulkan aliran permukaan, Demikian pula suatu hujan dengan jumlah yang besar tidak akan menyebabkan erosi, jika intensitasnya sangat rendah. Suatu hujan yang besar dengan intensitas yang tinggi juga menimbulkan aliran permukaan yang besar. 15 ‘Tesi: Kajama eos! tanah Andool Latest dan Gramosol untuk beroga nghat kemingen dan tests hen Kan os Ungha kebngen danintnstas hue Secara matematis, gabungan peranan faktor-faktor diatas (erosivitas hujan, erodil tas tanah, Kemiringen lereng dan panjang lereng) dapat digambarkan sebagai kehilangan tanah (erosi) potensial disuatu lahan dengan rumus : Ap=RKLS -() Dimana:Ap = Kehilangan tanah potensial (ton/ha/th) R indeks erosivitas hujan (ki/ha) K = Indeks erodibilitas tanah (ton/kj) L = Indeks panjang lereng (m) S = Indeks kemiringan lereng (%) 2.2. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Erost Erosi (E) pada dasamya merupakan interaksi antara faktor iklim (C), topografi (T), vegetasi (V), tanah (S), dan manusia (H). Secara umum, hubungan erosi dengan faktor-faktor yang mempengeruhinya dapat dinyatakan dengan ee E=f(CT.V.S.A) v1 Q) Suwardjo (1981) mengatakan bahwa, faktor yang mempengaruhi erosi gan lereng, adalah tanamam penutup, cara bercocok tanam, panjang dan kemis faktor curah hujan, tindakan pengawetan tanah serta faktor tanah Pendugaan besarnya erosi untuk menentukan tindakan pengawetan tanah sehingga besamya erosi yang terjadi mencapai batas tertentu, Wischmeier dan Smith (1960) mengemukakan suatu persamaan yang kemudian dikenal dengan nama “Universal Soil Loss Equation” (USLE) A=RKLSCP 8 Dimana: A= Besarnya erosi (ton/ha/tahun) R= Indeks erosivitas hujan (kj/ha) K = Indeks erodibilitas tanah (ton/kj) ‘ess: Kajan alu oes trah Andoaol,Latsol dan Grumosel entukbebage Ungkat keikingen dan intenses hon Kabupaten Semarang ee ee L =Indeks panjang lereng (m) S = Indeks kemiringan lereng (%) C= Indeks peranan (pengelolaan) tanaman P = Indeks peranan usaha pengawetan tanah Faktor-faktor yang mempengaruhi erosi secara garis besamnya dibagi menjadi dua kategori, yaitu : (1) Faktor topografi seperti panjang lereng (2) Faktor yang dapat diubah manusia seperti faktor tanaman / vegetasi sebagian sifat tanah seperti Kesuburan tanah, dan kapasitasinfiltras. Untuk merencanakan tindekan yang perlu dilakukan agar eros! yang terjadi dapat ditekan sekecil mungkin, harus diusahakan mengetahui sebanyak mungkin peranan dan sifat davi Ketiga faktor yang sulit dirubah manusia, seperti faktor iKlim (hujan),tipe tanah dan kemiringan lereng. Peranan faktor tanaman (C) ialah daya perlindungan tanaman pada tanah terhadap gaya-gaya erosi. Faktor tindakan pengawetan tanah (P) ialah peranan usaha-usaha pengawetan tanah yang sudah dilakukan didalam suatu lahan usaha, baik berupa usaha pengawetan mekanis, pengelolaan lahan ataupun cara bercacok tanam, Faktor C dan P akan mempunyai peranan dalam memperkecil erosi potensial dalam suatu Iahan. Di dalam suatu lahan usaha peranan faktor © dan P sudah dapat diperhitungkan dengan persamaan (3) menghasilkan besar erosi aktual dan dapat dinyatakan dalam persamaan : ‘Aa = Ap. Cx. Py 4) Dimana: Aa = Brosi aktual (ton/ha/tahun) Ap rosi potensial ((on/ha/tahun) Cx indeks C Karena peranan macam tanaman X Py = Indeks P karena peranan macam pengawetan tanah Y 2.2.1. Faktor Erosivitas Hujan (R) Hujen merupakan faktor iklim utama dan paling menentukan terhadap aliran permukaan (air limpasan) dan sedimen yang terjadi. Selama terjadi hujan, 7 Tes: Kaan js rah Angola! dan Grote sv berg apa Keingan don nenstas hun 41 Kabupaten Semarang patentasunii : jumlah hujan merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap jumlah limpasan, sedangkan distribusi hujan menentukan luasan erosi. Jumiah, inter hhujan terhadap tanah, Bila tanah sudah jenuh air, sedangkan hujan masih terus 's dan distribusi hujan menentukan kekuatan dispersi berlangsung maka air hujan akan mengalir sebagai air limpasan, Jumlah dan kecepatan air limpasan sangat menentukan tingkat kerusakan tanah akibat erosi, Faktor hujan dinyatakan juga sebagai faktor (indeks) erosivitas hujan. Indeks daya erosi (erosivites) curah hujan (R) merupakan rata-rata daya erosi curah hujan, Menurut Suresh (1997) nilai R dinyatakan sebagaimana berikut: R = Ek Xho sresensetereneeenenS), Dimana: © R_—_= Erosivitas Hujan (Kj/ha) Ek inergi Kinetik (Kj/ha/mm) Boat ‘otal kedalaman air hujan (mm) Energi kinetik hujan merupakan fektor utama dalam erosi akibat air hujan. Energi kinetik hujan adalah nitai energi total yang terjadi akibat transformasi jatuh butiran hujan menjadi energi mekanik yang memberikan nilai pada suatu intensitas tertentu dan merupakan estimasi dari distribusi ukuran butir hujan untuk intensitas tersebut. Energi kinetik hujan dapat menyebabkan hancurnya agregat permukaan tanah hingga mempermudeh pengangkutan bila terjadi aliran permukaan, Hudson (1985), menyatakan bahwa energi kinetik dapat dihitung menggunakan ramus dasar RK =%mv reset e(6) Dimana: ” Ek — = Energi kinetik Goule/ha/mm) m = Massa butiran hyjan (kg) v= Kecepatan jatuh butiran hujan (m/detik) Bertambehnya jumiah butiran hujan akan diikuti dengan peningkatan energi kinetik hujan, Energi kinetik hujan juga dapat dihitung dengan rumus : Ek 11,87 + 8,73 log E (7) 18 "ese: aon as resi tera AndosoLstoeol dan Grose! untuk berbagltaghatkemtngen dan neni hj iksbupaten Semarang Dimana: Ek — = Energi kinetik (joule/ha/mm). I = Intensitas hujan (mm/jam) Menurut Wischmeier (1959) intensitas maksimum 30 menit mempunyai korelasi lebih baik terhadap besarnya crosi bila dibandingkan dengan intensitas 5, 15, dan 60 menit. Dan dari analisa regresi ternyata besamya erosi pada tanah tanpa tanaman berkorelasi tinggi dengan hasil kali dua macam sifat hujan, yaitu total energi kinetik (E) dan intensitas hujan maksimum selama 30 menit (139). Karena itu hasi! kedua sifat hujan tersebut diambilnya untuk menilai erosivitas hujan, yang'kemudian disebut indeks erosivitas hujan, Elo, Nilai Elso diperoleh dengan cara perhitungan berikut : E=210,2 + 89 log . (8) dan Elgy = EE (Igo x 107) -) Dimana: E = Energi kinetik hujan (ton m/ha/mm hujan) T= Intensitas hujan (mmfjam) Jgo = Intensitas hujan maksimum selama 30 menit (mm/jam) Jumlah curah hujan yang tinggi mungkin tidak menyebabkan crosi, jika intensitasnnya rendah. Demikian pula swat hujan yang intensitasnya tinggi, tetapi terjadi dalam waktu singkat, mungkin tidak akan menimbulkan erosi karena tidak cukup air untuk mengangkut tanah, Sebaliknya jika jumlah dan intensitasnya tinggi akan mengakibatkan erosi (Baver, 1961), Hudson (1976) dalam penelitiannya di Afrika menemukan bahwa terdapat batas intensitas hujan tertentu yang menimbulkan erosi, yaity Kira-kira 25 isebabkan pada intensitas hujan yang kurang dari 25 mmijam mmifjam. Hal ini jumlah tanah terpecik sedikit dan sering sekali tidak menimbulkan air limpasan ‘yang mengangkut partikel ~ partikel tanah, sehingga erosi tidak terjadi. Atas dasar ini, jumlah energi kinetik dari intensitas hujan setiap periode yang nilainnya lebih besar dari 25 mm/jam atau 1 inch/jam dapat digunakan sebagai indeks crosivitas hujan, Indeks erosivitas hujan dapat dicari dengan rumus : 19 ‘est: Kalan au eos tarah Andosol Lato! dan Gramosel untuk berbegal gh kemiingan dan hienstas buon lvabapaten Serarang —_—__ ih Dimana :R = n j 5 Ty Igo (2 ‘et (1,213 + 0,890 log I) (1; T)Hs0 EI = Indeks erosivitas hujan = Jumtah = Jumlah dari pertambahan hujan = Pertambahan hujan tertentu = Intensitas hujan untuk pertambahan hujan tertentu (mmvjam) = Periode waktu dari pertambahan hujan tertentu (jam) == (10) = Intensitas hujan maksimum selama 30 menit untuk suatu hujan (mm/jam) Menurut Bols (1978), erosivitas hujan R [Elgg] dapat juga dihitung dari ccatatan curah hujan harian atau bulanan, yang persamaannya sebagai berikut : 2,467 (CH) Elgg harian = (0,0727 (CH) + 0,725} Elo bulanan = 6,119 CB)!" (By? (cm) Dimana : Elo CH cB cM HB = Indeks erosivitas hujan ‘urah hujan purata harian (cm) = Curah hujan purata bulanan (em) = Curah hujan maksimum selama 24 jam pada bulan yang. bersangkutan (cm) = Jumlah hari hujan bulanan 20 Test Kajanahoroe torah Andosol also! dan Grumosel untuk bebagsl ight embngan dan intenaias hen akabpatn Soong 2.2.2. Faktor Ero itas Tanah (K) Faktor terpenting yang mempengaruhi kepekean erosi tanah adalah sifat fisik tanah. Dua sifat fisik tanah yang sangat mempengaruhi besarnya erosi dan air limpasan ialah kapasitas infiltrasi dan daya tahan tanah terhadap dispersi. Sifat fisik tanah yang menentukan kapasitas infiltrasi adalah struktur, tekstur dan kandungan air tanah, Kapasitas infiltrasi ditentukan oleh kemantapan agregat tanah dan ketahanan terhadap kekuatan geser air. Tanah-tanah yang agregatnya mantap, bisa mempertahankan porositasnya sehingga kapasitas infiltrasi tetap tinggi. Daya tahan tanah terhadap dispersi merupakan sifat tanah yang sangat ‘menghambat jumtah erosi. Daya tahan ini sangat dipengarubi oleh ukuran agregat dan kemantapan agregat tanah. Pengaruh kemantapan agreget terhadap erodibilitas tanah, yaitu : a. Dalam hal kemudahan terlepasnya butir tanah dari agregat, butir/partikel yang kecil lebih mudah diangkut oleh air dari pada butir yang besar. Schingga apabila agregatnya tahan terhadap gaya perusak, maka erosi rang terjadi secara nisbi kecil. . Dalam hal pencucian partikel lempung dan debu yang kemudian menempati pori kasar, sehingga menyebabkan penurunan kapasitas infiltasi Ketahanan tanah terfadap dispersi ditentukan oleh bahan perekatnya, yaitu bahan organik, Koloid fempung, kation-kation besi dan almunium. Sebagai bahan pengikat, bahan organik berperan dalam memantapkan struktur tanah schingga menahan daya tahan tanzh terhadap pukulan butir-butir hujan Bahan organik yang cepat_ melapuk akan memberikan pengaruh maksimum selama 20-30 hari dalam pembentukan agregat. Sedangkan bahan komposisi akan memberikan pengaruh yang relatif lama organik yang lambat dit dalam pembentukan agregat (Suwarjo, 1981). Tanah-tanah dengan kandungan lempung mempunyai bandingan silika terhadap seskuioksida lebih dari 2,0 umumnya plastis dan mudah tererosi, sedangkan yang mempunyai bandingan kurang dari 2,0 umumnya kersai dan tidak 21 Test: ofan wet rah Ansa Lat! do Grell ragga tenagan dan esas jn di Kabupaten Semarang foe fae ae mudah tererosi (Arsyad, 1982). Selanjutnya dikatakan bahwa tanah lateritik yang ‘mengandung seskuioksida tinggi dan silika yang rendah membentuk agregat yang ‘mantap dan tahan terhadap erosi. Tanah grumusol dari bahan induk napal lebih peka erosi dibanding andosol dan latosol dari bahan induk vulkan. Kepekaan erosi (erodibilitas) tanah adalah mudah tidaknya tanah untuk tererosi. Perbedaan kepekaan erosi berbagai jenis tanah dapat sangat besar sehingga jenis tanah tertentu dapat digolongkan dalam tanah yang peka dan tidak peka terhadap erosi. Faktor erodibilitas tanah (K) adalah rata-rata erosi tahunan (towha) dibagi indeks erosivitas hujan pada suatu tanah terbuka atau bera (faktor P dan C masing- masing = 1) dengan panjang lereng 22 m (72,5 kaki) dan kemiringan 9% (faktor Ls = disebut keadaan baku (Hudson, 1974). Dengan demikian nilai kepekaan tanah ). Dalam hal ini tereng yang panjangnya 22 m dengan kemiringan 9% dapat dihitung dengan rumus : eae atau | scents SL BesddtansseeaseGET (C) Dimana: A = Besamya erosi yang terjadi (ton/ha) R = Indeks erosivitas hujan (ton m/ha) Salah satu cara untuk menghitung erodibilitas tanah ialah dengan menggunakan nomogtaf yang menggunakan 5 (lima) tolok ukur, dikemukakan oleh Wishmeier, Johnson dan Cross (1971) : 1a, Persen debu / silt (0,002 — 0,05 mm) dan pasir sangat halus (0,05 ~ 0,10mm / lolos saringan No. 170) b. Persen pasir / sand (0,10 - 2,00 mm / lolos saringan No. 10 ) c. Persen bahan organik d, Struktur tanah e. Permeabilitas tanah Masing-masing tolok ukur diberi angka, kemudian dimasukkan dalam nomograf erodibilitas tanah (Gambar 2-1). Nomograf erodibilitas tersebut 2 Tess: Kaan ay oes anon Andoso, Lata dan Graneco! ntukberbepl gh Kemfngan den inns len cikabupater Semara memerfukan analisa ukuran partikel tertentu, tetapi bila tidak tersedia datanya dapat pula didekati dengan persamaan : K=2,713 x 107 M™"4 (12-2) + 3,25 (b-2) Dimana : Brodibilitas tanah 2,5 (e-3) x 107 srssseseses (14) K M = Indeks tekstur tanah (lihat Tabet 2.3) a = Kadar bahan organik b= Kelas struktur (lihat Tabel 2.1) © = Kelas permeabilitas (lihat Tabel 2.2) Mitchell dan Bubenzer (1980) yang melihat faktor erodibilitas tanah berdasarkan kelas tekstur dan kandungan bahan organik tanah, menyimpulkan bahwa semakin kecil bahan organik tanah yang bersangkutan, maka makin peka terhadap erosi. Diantara kelas tekstur tanah, debu dan geluh berdebu merupakan kelas tekstur yang paling peka terhadap erosi. Sedangkan pasir merupakan kelas tekstur yang paling tahan terhadap erosi. ‘Tabel 2-1. Kode Struktur Tanah (b) untuk menghitung nilai K Kelas Struktur Tanai Diameter Butiran (@)_| Kode Granuler Sangat Halus <1 mm i Granuler Halus 1-2mm 2 Granuler Sedang sampai Kasar 2-10 mm. 3 Blocky, iat <10 mm 4 Sumber: Suripin (2001) Tabel 2.2. Kode Permeabilitas Tanah (c) untuk menghitung nilai K Kelas Permeabilitas Tanah Kecepatan (emjjam) | Kode ‘Sangat Lambat <05 6 Lamba 08-20 5 Lambat sampai Sedang 20-63 4 Sedang 6,3- 12,7 3 Sedang sampai Cepat 12,7-25,4 2 Cepat > 254 1 ‘Sumber : Suripin (2001) 23 e esis: Koon vero anah Andoso Latosot dan Grumesol untuk ertoglUngatkeingan don intensias alsn I Kobapaten Serarang Sumber : Sueipin (2001) Indeks tekstur tanah diperhitungkan dengan persamaan M=(% debu) (100 - % lempung) Gambar 2-1. Nomograf Erodibilitas Tanah seceveeeee (15) ‘Tabel 2-3. Nilai M untuk beberapa Tekstur Tanah Kelas Tekstur Tanah Nilai M Lempung Berat 210 Lempung Sedang 750 Lempung Pasiran 1213 Lempung Ringan 1685 Geluh Lempung, 2160 Posit Lempung Liatan 830 Geluh Lempungan 2830 Pasit 3035 Pesit Geluhan 1245 Geluh Lempungan 3770 Geluh Pasiran 4005 Geluh 1390 Geluh Lietan 6330 Liat 8245 Campuran Merata 4000 Sumber: Suripin (2001) 24 ‘Tess: Kain aera tarah AndosolLatoel dan Grose unt berg igh embingan dan intersitashlen aiKebupatenSonatang 2.2.3, Faktor Panjang & Kemiringan Lereng Kemiringen dan panjang lereng adalah dua unsur topografi yang paling berpengaruh terhadap air limpasan dan erosi. Diantara dua parameter lereng tersebut biasanya kemiringan lereng lebih dominant daripada panjang lereng, Kemiringan lereng dinyatakan dalam derajat (*) atau persen (%), dimana kecuraman 100% = 45° , Kemiringan lereng cenderung memperbesar kapasitas air timpasan untuk memecah dan mengangkut bahan-bahan tanah, Faktor panjang lereng (L) dan nilai faktor kemiringan lereng (S) dapat diperhitungkan dengan persamaan yang dikemukakan oleh Wischmeier dan Smith (1965) dalam Gambar 2-2 : 50% 25% 100,0 Zz 20% 2 15% g 12% & 9% M% 10,0 5% 3% 1,0 2% 1% 05% 041 1 10 100 1000 10000 Panjang lereng (meter) Gambar 2-2. Nomograf Faktor Panjang-Kemiringan Lereng 25 (ppc rasian iP ‘Andosl tos din Grumose tuk berboga gla kengan dan nts han L=(X/22,1)" sevsees (16) (0,43 + 0,30s + 0,0435") s= sesceeeees (17) 6,613, LS = (x 22,13)" (0,065 + 0,045s + 0,00655*) (18) Dimana: S = Faktor kemiringan lereng s = Kemiringan lereng (%) L = Faktor panjang lereng X = Panjang lereng dilapangan m= Eksponen, menurut Wischmeier dan Smith (1965) besarnya : m=0,5 jika kemiringan (s) 5% im =0,4 jika kemiringan (s) antara 3 % - 5% tm=0,3 _jika kemiringan (s) antara 1% - 3% m=0,2. jika kemiringan (s) kurang dari 1% Jika (3) dinyatakan dalam derajat (°), maka persamaan yang digunakan adalah : LS = (x/ 100)” (65,41 sin? s+ 4,56 Sin s+ 0,0065) sovee (19) Persamaan-persamaan diatas hanya dapat digunakan untuk lereng yang seragam dengan tipe tanah serta tanaman penutup tanah yang sama panjang dengan lerenig tersebut. Untuk daerah yang tidak seragam, yaitu bila terdapat perubahan yang nyata dalam kemiringan lereng, bentuk lereng, jenis tanah dan atau penutup tana, maka dapat dagi dalam 2 (dua) cara: a. Bila ketidakseragaman kemiringan dapat dibagi dalam segmen- segmen yang seragam. Menurut Wischmeier (1974) caranya adalah: 26 ‘Tosias Kajan a\uerosi tach Andocl Ltosl dan Gramoeo! untuk berhagaltngat emsngsn dan ines jen ikabpatn Sevag Lereng dibagi kedalam segmen dengan panjang yang sama dan ditentukan i. faktor kemiringan lereng (S) untuk tiap segmen tersebut dengan persamaan (17). Kalikan nilai (S) yang didapat dengan nilai faktor panjang lereng (L) yang didapat dengan persamaan (16) dan menggunakan panjang lereng total. Nilai LS yang didapat, dikalikan dengan faktor koreksi (a) yang besarnya dapat dibaca dari tabel 2-1 untuk lereng dengan eksponen panjang lereng 0,5 ateu dihitung dengan persamaan: a= (f -Gey Y ra (20) yang mana: a= Faktor koreksi j | =Urutan nomer segmen m = Bksponen panjang lereng n= Jumlah segmen yang sama panjang Tabel 2-4. Faktor Koreksi a untuk m= 0,5 No. ‘Jumlah segmen yang sama [Segmen panjang (dari na) |? 3 4 5 1 O71] 0,58) 0,5] 0,45) 2 1,29] 1,06 __0,91| 0,824 3 137|__1,18| 1,04 4 141,25] 5 1,42] © Nilai LS yang sudah dikoreksi dirata-rata untuk mendapatkan nilai LS efektif keseluruhan lereng. 27 Tess: allan ia eros tanah Anosot Latso! dan Grunotl unucberagalagkathonit 4 dsnintonais huan i abupaten Sea ™ b.- Bila tidak memungkinkan pembagian lereng menjadi beberapa segmen yang seragam. Menurut Foster dan Wischmeier (1974) dapat menggunakan persamaan sebagai berikut : £2" jer (Uaj- Uy) Ls= Dimana: j= Urutan nomer segmen (dari atas) Z = Jumlah n= Jumlah seluruh segmen Uy = Nilai U untuk batas atas segmen j (m) Uz) = Nilai U untuk batas bawah segmen j (m) X_ = Panjang lereng keseluruhan (m) Nilai U dapat dicari dengan persamaan : xm) vu 22,1" ++ (22) Dimana: $= Nilai faktor kemiringan lereng berdasarkan pers (17) X = panjang lereng (m) M_=Eksponen panjang lereng Jika selain adanya perubahan lereng, terjadi pula perubahan tipe tanah dan atau tanaman penutup tanah maka digunakan persamaan : {2° jo Kj. Cj. Pj (Uaj— Uy} KLSCP = Xe - (23) Dimana: Kj = Nilei faktor K untuk segmen j C= Nilai faktor C untuk segmen j Nilei faktor P untuk segmen j 28 "est: Kan acs aah AnotolLatel sar Grote ntterhgttpathentrgan danni han dl Kabupaten Semaran eee cere Baver (1961) mendapatkan hubungan antara kemiringan lereng dengan erosi seperti persamaan berikut : Xe=0,0658' Dimana: Xe = jumlah erosi dalam ton/acre S_=Kemiringan lereng dalam % Woodruf (1982) mengemukakan bahwa persamaan (24) dipakai pada Jahan dengan kemiringan lebih besar dari 8%, sedangkan lahan yang Kemiringannya kurang dari 8% dipergunakan rumus : E=atp.s'” see QS) Dimana: E —__= Besarnya erosi dalam ton/acre s Kemiringan lereng dalam % dan b= Konstanta 2.3, Laju Erosi Yang Diperbolehkan Besarnya erosi dan kemungkinan terjadinya banjir cukup beralasan, mengingat Indonesia mempunyai curah hujan yang cukup tinggi dan tanahnya peka terhadap erosi Supli Effendi Rahim (2000), menyatakan erosi yang diperbolehkan secara sedethana dapat dinyatakan sebagai suatu laju yang tidak boleh melebihi laju pembentukan tanah, Pengikisan dibagian atas akibat erosi selalu diikuti pembentukan tanah baru pada bagian bawah profil tanah, tetapi laju pembentukennya tidak mampu mengimbangi hilangnya tanah erosi.. Besarnya erosi tanah yang masih dapat dibiarkan berdasarkan keadaan tanah yang dikeluarkan oleh SCS-USDA dapat dilihat pada Tabel 2-5. 29 inka komiingan dan tenis han ‘ang Dapat Diterima ‘Untuk Berbagai Macam Kondisi Tanah KONDISITANAH TAJU EROST ‘SUMBER (keg/mtfth) ‘Skala makro (misal DAS) 02 Morgan (1980) Skala meso (misal han pertanian) ‘Tanah berlempung tebal dan subur 06-11 | Wischmeter & Smith (1978) (Mid-Wrest,USA) ‘Tanah dangkal yang mudah tererost 02-05 | Hudson (971), Smith & Stamey (1965) ‘Tanah berlempung tebal dari endapan 13-15 | Hudson (1971) vulkanik ‘Tanah yang mempunyai kedalaman : 0-25 cm 02 Amoldus (197) 25 = 50 cm 02-05 50 - 100 em 05-07 100 - 150 em 07-09 > 150m ua ‘Tanah tropika yg sangat mudah tererosi 25 ‘Morgan (1980) ‘Skala mikro (misal daerah terbangun) 25 Morgen (1980) ‘Tanah dangkal diatas batuan oz Morgan (1980) Tanah dalam diatas batuan 0.224 ‘Tanah lapisan dalam padat diatas batuan 0448 | Thomson (1957) tunak Tanah dgn permeabilitas lambat diatas 1121 | Soewardjo, dkk (1975) batuan tunak Tanah yang permeabel diatas batuan 1381 Iunak ‘Sumber : Suripin (2001) 2.4, Uji Statistik Dalam penyelesaian analisa digunakan analisis regresi yang bertujuan meneari bentuk kurva yang dapat mewakili data-data yang ada dan mengist nilai data pada titik Menurut Triatmodjo B (1992) ada 2 (dua) metode pendekatan didalam tik diantara nilai-nilai yang sudah diketahui. analisis regresi yang berdasar pada jumlah kesalehan yang terjadi pada data, yaita regrasi kuadrat kecil dan interpolasi Regresi kuadrat kecil dipakai jika data menunjukkan adanya kesalahan cukup besar, untuk itu dibuat kurva tunggal yang mewakili trend data secara umum, Dimungkinkan sebagian data kurang benar, maka kurva tidak dipaksakan untuk melewati setiap titik, kurva dibuat mengikuti pola data dari sekelompok 30 ‘Andotl Loco! dan Grunacol untuk orbagalaglatkemtngon dan tenis hy sear data. Interpolasi dipaka data diketahui yakin benar, maka pendekatan yang dilakukan adalah membuat kurva atau sejumlah kurva yang melewati seti Dalam menganalisa data, analisis regresi dipaksi pada energi kinetik, dan tanah yang tererosi (soi! Joss) dari berbagai intensitas dan kei iringan lereng, sedang metode numerik yang dipakai adalah regresi kuadran kecil. Bentuk sederhana dari regresi kuadrat terkeeil yaitu jika kurva yang mewakili titik-titik percobaan merupakan garis lurus, sebingga persamaan yang digunakan adalah ; g(x) =a-+bx (Walpole dan Myers,1995). Apabila dijumpai plot titik-titik pada sistem koordinat mempunyai trend kurva lengkung, maka persamaan diatas tidak dapat langsung dipergunakan. Untuk itu perlu dilekuken transformasi koordinat, sehingga ploting data bisa dipresentasikan dalam bentuk kurva tidak linear. Kurva tidak linear diantaranya adalah persamaan semilogaritma Y= a +b inetik Goule) dan soil toss logx dan persamaan Y = ax” , sumbu y adalah energi (gr/m2) masing-masing untuk regresi energi kinetik dan soil loss, sedang sumbu x sebagai intensitas hujan (mmijam) dan kemiringan lereng. Untuk mengetahui derajat Kesesuaian dari persamaan yang didapat, dihitung nilai koefisien korelasi r. Jika diperoleh nilai r = 1,0 maka suatu fungsi dinyatakan sempurna, jika r= 0 dinyatakan sebaliknya, Koefi dari beberapa alternatif yang ada, terutama didalam regresi garis tidak lurus. Dari in korelasi ini dapat digunakan untuk memilih suatu persamaan banyak alternatif tersebut dipilih persamaan yang mempunyai nilai koefisien korefasi terbesar yaitu yang mendekati kearah 31 Tes: Kafon toler tanan Andoso Latoso! dan Gruso unukbeibagel gk kemingan an ntensias hae abate Sena. BAB3 METODOLOGI PENELITIAN Seperti_ yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, penelitian ini dimaksudkan untuk m t pengaruh berbagai tingkat kemiringan lereng dan intensitas hujan tethadap erosi dari tiga jenis tanah (Andosol, Latosol dan Grumosol) yang mempunyai sifat fisik berbeda, Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah eksperimen dengan membuat berbagai variasi intensitas huyjan (30; 40; 50; 60) mm/jam dan berbagai kemiringan lereng (5°; 10%; 15°; 25°) yang dilakukan dilaboratorium dengan menggunakan alat Rainfall Simulator dan alat bantu lainnya, Dalam melakukan penelitian , kegiatan-kegiatan yang dilakukan meliputi kegiatan lapang, kegiatan laboratorium dan analisis. Kegiatan lapangan meliputi pengambilan sampel uji (contoh tanah) di daerah Kabupaten Semarang, yaitu tanah Andosol di Kecamatan Getasan, tanah Latosol di Kecamatan Ungaran dan tanah Grumosol di Kecamatan Tengaran. Sedangkan laboratorium uji_ yang digunakan adalah Laboratorium Mekanika Tanah UNTAG Semarang dan Laboratorium Hidrolika PAU Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Persamaan yang digunakan adalah persamaan Universal Soil Loss Equation (USLE), dengan parameter-parameter yang dicari dalam penelitian ini adalah Erosivitas (R), Erodibilitas (K), Panjang dan Kemiringan Lereng (LS). Rancangan yang dipakai dalam percobaan adalah rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dengan 2 perlakuan masing-masing dilakukan 3 (tiga) kali ulang. Pada penelitian ini sampel tanah tidak diberi tanaman dan tidak dilakukan pengolahan, sehingga nilai pengelolaan tanaman (C) dan pengolahan Iahan (P) dianggap ‘mempunyi nilai 1 (satu). Unsur-unsur yang terkait pada parameter tersebut adalah a. Parameter Erosivitas (R): Meliputi Energi Kinetik Hujan (EK) dan Intersitas Hujan (2). b. Parameter Erodibilitas (K): Meliputi Indeks Tekstur Tanah (M), Bahan organik yang terkandung dalam tanah (0), Kelas Struktur Tanah (S) dan Kelas Permeabilitas (P). 32 Tess: Kalan ia res tanah Andoso Lalsol dan Granesol untcbebogatinghatheniingan dan ntnatias hues i Kabupaten Samran ¢. Parameter Panjang dan Kemiringan Lereng (LS): Meliputi panjang benda yji (L) dan sudut kemiringan benda uji (S). cS ‘Menentukan Lokasi Uji Kepadatan Tanah di Lapangan t Pembuatan Kotak Tempat Tanah q Pengambilan Contoh Tanah Pada Kedalaman 20 Cm i Pengujian Laboratorium pee epee Persiapan Tanah Uji Container diletakkan diatas alat pengatur kemiringan, ‘Tepat dibawah rainfall simulator y Alat Rainfall Simulator Dihidupkan I ‘tur disc motor speed indikator dan atur tekanan untuk mencapai intensitas yang diinginkan i Ukur di butiran ujan Diameter (1,2,3,4,5,6) mm 6 ® Persiapan Alat Pengujian Kepadatan Rainfall Simulator Tanah Dalam Kotak 33 Tene: Kajon aj arce tanah Andoso| Latsol dan Grune untkbebagethgkatkembngan dan intersitss han i Kabupaten Semarang @ ——| Intensitas hujan I (30, 40, 50, 60) mnvjam Kemiringan Lereng S ( 5°; 10°; 15°; 25°) ¥ Tanah Tererosi ¥ Disaring Dioven + Ditimbang ¥ Analisa Data | Kesimpulan dan Saran Gambar 3-1. Diagram Alir Pelaksanaan Penelitian 34 Toss: Kaan lu eos tanab AndosoLalosol dan Grunosl untukerbegel ght Reagan dan inenstas hue ai Kbupatoa Semarang Pengukuran parameter yang dicari dalam percobaan ini adalah sebagai berikut : a. Parameter Erosivitas (R): Unsur yang terkait adalah energi kinetik (EK) dan intensitas hujan (1), untuk itu dilakukan pengukuran besar dan jumlah butiran hujan buatan sehingga nilai massa (m) didapat. Selanjutnya dengan mengukur volume hhyjan buatan, Iuas tangkapan dan waktu hujan buatan maka didapat nilai intensitasnya. b, Parameter Erodibilitas (1): Unsur yang terkait adalah Indeks Tekstur Tanah (M), Bahan organik yang terkandung dalam tanah (0), Kelas Struktur Tanah (S) dan Kelas Permeabilitas (P). Untuk unsur-unsur tersebut, pengukuran_dilakukan ‘melalui tes sampel tanah dilaboratorium. ingan Lereng (LS): Dilakukan pengukuran_panjang benda wi (L) dan sudut kem ui (S). ¢. Parameter Panjang dan Ker Cara-cara yang dilakukan untuk mengukur parameter dalam pen sebagai berikut : a. Pengukuran Intensitas Hujan Buatan (1) : Pengukuran ini dilakukan dengan cara coba-coba, yaitu dengan merubah besarnya debit, kecepatan putaran, dan nozle yang dipakai. Hal akan diikuti dengan besamya tekanan (bar) yang terdapat pada alat tersebut Butir-butir hujan yang jatuh ditampung pada alat container yang sudah diketahui luasnya (A) sehingge diketahui volume (V) dan waktunya (1). v — «x 600 (Axd Percobaan ini dilakukan berulang kali hingga mendapat intensitas hujan yang dicari, yaitu 30 mm/jam; 40 mnvjam; 50 mm/jam dan 60 mmjam. 35 sis: Kalan jv eet aaah Andoso Laosol dan Gramosel unukarbags rgkatemiingan danintensas hun ikabupn Soma 5 Tabung Tembaga Ditata [>| Posisi Tabung Tembaga [“*} Antara Tabung Tembaga pada Multiplek (58 x 58)cm_ fa dan Spray Head diberi Plastik i if pee Buka-Tutup : | ° t i oe T Diposisikan tepat dibawah | | i shower spray head (disc) oe ‘ Luss Permokean | | ‘Tabung Diukur (A) i t | Plastik Penutup Ditutup |. eee | Atur Juring Bukaan, Kecepatan & Tekanan i Mesin dihidupkan (coba-coba) Jreereeeeeeeaeeeeeeereeeeaeeeeet| ! I aaa Bila belum diperoleh Bila Presipitasi Telah Stabil Intensitas 30;40;50;60 mmi/jam ‘Stopwacth dihidupkan bersamaan percobaan diulang plastik penutup dibuka 2 | Setelah 10 Menit (1) Plastik penutup ditutup |} Mesin dimatikan Volume Air dalam Intensitas Hujan Tabung diukur (V) v x 600 (Axt) Gambar 3-2. Skenario Pengukuran Intensitas Hujan 36 ‘Tesi: Kaan aj eros! tanah Andosol, Latest dan Gramosol untuk begs nga hemiingan dan tenses hun i kabuoeten Semarar . Pengukuran Besar dan Jumiah Butiran Hujan: Pengukuran ini dilakukan dengan cara melewatkan kertas sating yang sudah dilapisi methyline blue , tepat dibawah alat Rainfall Simulator. Pada setiap intensitas, dilakukan pengukuran distribusi butiran hujan sebanyak dua kali dan dirata-rata, Kertas saring yang telah mendapatkan percik tersebut dikeringkan, sehingga diperoleh noda-noda percikan hujan dengan diameter bervariasi, Diameter noda percikan dihitung perkelompokan 1; 2; 3; 45 5 dan 6mm, noda perciken yang diameternya > 6mm tidak digunakan, Dengan mengalikan volume butiran hujan, jumlah dan berat Jenisnya akan didapat massa (m) hujan buatan, Kertas Saring (58 x 58)om diletakkan pada multipiek (58 x 58)om, Permukaannya diolesi methylene blue Kertas Saring dilewatkan pada hujan buatan dgn intensitas yang dikehendaki I ‘Noda percikan diukur diameter dan jumlahnya ¥ Massa percikan hujan dihitung (m) Kecepatan Hujan diketahui (V) + Energi Kinetik (Ek) ‘mV? Gambar 3-3. Skenario Menentukan Distribusi Ukuran Butiran Hujan Ey) ‘esis: Kajan aj ars tanah AndosolLatoet dan Grumotol unk berbagal nghat eogan den intense han Kabupaten Sonarang —— c. Pengukuran Besarnya Energi Kinetik Hujan (EK): Setelah nilai intensitas hujan (1) didapat, kemudian dimasukkan dalam rumus EK = 11,87 + 8,73 log 1 Sebagai pembanding digunakan ramus EK = %my* . Nilai v (Kecepatan jatuh butiran hujan buatan) didapat dengan memplotkan pada grafik Laws . Tinggi alat Rainfall simulator 265 com, sedang tinggi meja 23 om sehingga tinggi jatuhnya adalah 242 om. Kecepatan Jatuh (m/det) Ip eS Br 8: Butiran (mm) Grafik 3-4. Hubungan antara Garis tengah tetesan dan Kecepatan jatuh butir pada berbagai ketinggian jatuhnya Sumber; Instruction Manual Rainfall Simulator (1998) 38 ‘TosistKajantaj eros trah Aneel Ltosel don Grumoeol unk berbagaltngat emngen da intonsias ujan _abupaen Sonar d. Pengukuran Erodibilitas (K): Pengukuran yang dilakukan dalam mencari nilai Indeks Tekstur Tanah (M), Bahan organik yang terkandung dalam tanah (0), Kelas Struktur Tanah (S) dan Kelas Permeabilitas (P), adalah dengan cara menguji sampel tanah (benda uji) yang dilakukan di laboratorium dengan pengujian: - Kadar Air ~ Permeabilitas - Berat Isi Tahah - Hidrometer = Grain Size + Spesific Grafity - Kandungan Bahan Organik Schingga diperoleh nilai erodibilitas K=2,713 x 104M! (12-a) + 3,25 (b-2) + 2,5 (e-3) x 107 Dimana: = Erodibilitas tanah M = Indeks tekstur tanah a = Kadar bahan organik b= Kelas struktur ¢ = Kelas permeabilitas 4d. Pengukuran Panjang dan Kemiringan Lereng (LS): Panjang lereng ditetapkan | (satu) meter, sedang kemiringan lereng diatur dengan variasi kemiringan tanah 5°; 10°; 152; 25°. Schingga LS didapat dengan persamaan : LS = (x/ 22,13)" (0,065 + 0,045s + 0,00658") Dimana: — § = Faktor kemiringan lereng s = Kemiringan lereng (%) L =Faktor panjang lereng x ranjang lereng dilapangan 39 “Tosi: Kain laos tarah Andosol, Lato! dan Grumotol unk erboga ght emngan dan intenstas alan diNataaienSomang m= Eksponen, menurut Wischmeier dan Smith (1965) besarya : m=0,5 —_ jika kemiringan (s) >5% m=0,4 —_jika kemiringan (s) antara 3% - 5% m=0,3 —_jika kemiringan (s) antara 1% - 3% m=0,2 _jika kemiringan (s) kurang dari 1% Jika s dinyatakan dalam derajat (°) maka persamaan yang digunaken : LS =(x/22,13)" (65,41 Sin® s+ 4,56 Sin s + 0,065) Pengukuran Laju Kehilangan Tanah (rosi) A: Cara mengukur besarnya erosi dengan memasukkan sampel tanah kedalam kotak uji ukuran Imx im x 0,1m yang diletakkan tepat dibawah dise Rainfall Simulator. - Dengan mengatur kemiringan dan intensitas hujan buatan sesuai yang dikehendaki, erosi tanah yang larut dalam air ditampung pada gelas ukur 2 It, kemudian catat waktu yang diperlukan untuk mencapai 2 It tersebut. Percobaan ini diulang sebanyak 3 (tiga) kali Sclanjutnya hasit erosi tadi disaring dan dioven 110° selama 24 jam, kemudian ditimbang untuk mengetahui berat tanah tererosi. Digunakan persamaan USLE : A=RKLSCP Dimana: A = Besarnya erosi (ton/ha/tahun) R= Indeks erosivitas hujan (faktor hujan) K _. =Indeks erodibilitas tenah (ton/ha) LS = Indeks panjang dan kemiringan lereng (mm dan %) C = Indeks peranan (pengelolaan) tanaman P= Indeks peranan usaha pengawetan tanah Setelah data-data yang diperlukan dipeoleh dari masing-masing parameter termasuk berat erosi tanah, kemudian dilakukan analisa data dan pembahasan sehinnga diperoleh kesimpulan, Pendekatan analisa yang digunakan adalah analisis regresi yang digunakan untuk mencari bentuk-bentuk kurva guna 40 Test Kaan lou eos tanah Anos, Latosol dan Gramesol untuk i Kabapson Semarang tags ngkatheningan danietnstas hun mewakili data-data yang ada, Pendekatan lain yang digunakan adalah persamaan semi logaritma: Y=a+blogx dan Yeax’ Per ingan dilakukan dengan menggunakan program komputer microsoft excel . ‘Tabung Dimasukkan Tanah I a ‘Tabung + Tanah (W1) Kedua Ujung Tabung Ditutup Plastik || t I | Berat Tabung (W2) Pengujian di Laboratorium ; Volume Tabung (V) aN Uji Kadar Air ‘menggunekan Speedy Moister Tester Uji Kepadatan Tanah WI-W2 00 fe Bd v I Pengambilan Tanah Uji Dimasukkan dim Karung ¥ ft I Volume Kotak (Vk) (100 x 100 x 10) em “ Berat Tanah Uji Per Kotak (Wk x Bd) Gambar 3-5. Skenario Kegiatan Lapangan 4 ow o1010], oURL TEMG HEIMyNBHIg OLLEUIyS “9-¢ seqUIED, drama drag SSE ¥ wio(y-¢-¢) Joke} 0d eI0y Weep Oy URDPHNSEUNP YouE, ‘wey quaup Ueeqoaied 11 Caye wedundurey ypiarag I ‘Suyzes sepay eped Suenup ny amon sejo8 eped Sundumeyp anupjion Sued yeuey wep Jo uny, I ‘nyuszin sesudit) epee wynqip dmnuad ynsela gers wovwNg wothy YojoIOg ueSuedeyiq ay zepey = ify yeuey ary sepey, fat exwy sepa Bur, Sunzey rep seySuoqyp your], ee fay says. usp ueSeyemy eon eBeLEN MUN JosoUTUD ED YOSET YosCPL HELE OLN oe EEA C0) Tess: Kjian at eros tanah Anoso Latsot dan Grumoto untuk berba Kabupaten oka heiingan dan ten BAB4 PELAKSANAAN PENELITIAN Pelaksanaan penelitian diawali dengan Kegiatan lapangan, kegiatan laboratorium dan analisis. Kegiatan lapangan meliputi pengambilan sampel uji {contoh tanah) di daerah Kabupaten Semarang, yaitu tanah Andosol di Kecamatan Getasan, tanah Latosol di Kecamatan Ungaran dan tanah Grumosol di Kecamatan Tengaran. Sedangkan laboratorium uji yang digunakan adalah laboratorium Hidrolika PAU Universiatas Gajah Mada Yogyakarta dan laboratorium Mekanika Tanah Universitas 17 Agustus 1945 Semarang. Dan analisa regresi yang digunakan melalui program Window's Microsof Excel. 4.1. Kegiatan Lapangan Kegiatan yang dilakukan dilapangan antara lain pengambilan contoh (sampel tanah) untuk uji Karakteristik tanah ( berat isi, kadar air, berat jenis, analisa butiran, dan permeabilites) dan untuk uji tingkat erosi tanah dengan alat rainfall simulator. 4.1.1. Uji Karakteristik Tanah Dalam pengambilan sampel tanh, dipilih lokasi yang dekat dengan jalan raya guna mempermudah transportasinya. Tanah yang diambil adalah tanah pertanian bagian atas (top soil) yang masih mempunyai ketebalan solum dan tidak ditumbuhi tanaman. Pengambilan sampel guna pengetesan karakteristik tanah dilakukan dengan prosedur sebagai berikut : ‘a. Menyiapkan tabung container dari pralon diameter 2% inch, panjang 20 em, Dan alat-alat Iain seperti balok kayu, martl, plastik, parafin dan karet. b, Memasukkan tabung container sampai penuh tanzh dengan cara dipukul dengan martil yang sebelumnya antara pralon dan martil diberi balok kayu supaya pukulan merata dan mulut pralon tidak rusak. Yang. perlu 43 ‘ess Kafana ae tana i kabunaten Latoscl don Grunocol untuk brbagl ght kel an tenses hun dipethatikan sebelum memasukkan tabung, tanah harus bersih dari tanaman dan kotoran, ©. Tabung yang telah terisi tanah diambil menggunakan cetok, agar tanah tidak tumpah. Kemudian mulut pralon diolest parafin, kedua ujung tabung ditutup plastik dan diikat menggunakan karet agar tidak terjedi penguapan. d. Tabung diberi kode lokasi dan nomor pengambilan, seperti Gunungpati-1 dan seterusnya. Pengambilan tanah untuk kepentingan uji karakteristik ini diambil 5 (lima) ik disetiap lokasi pengambilan. 4.1.2. Pengambilan Tanah Uji Cara pengambilan tanah guna keperluan pengujian besar erosi dengan alat rainfall simulator adalah menggunakan cangkul dengan kedalaman 20 cm, kemudian asukkan kedalam karung untuk dibawa ke laboratorium. Usahakan dalam pengambilan contoh tanah, apabila terdapat akar, rumput atau sampah, maka dihilangkan terlebih dahulu. Banyaknya tanah yang dibawa sebelumya diperhitungkan dengan mengalikan jumlah pengujian disetiap lokasi dengan ukuran kotak uji kemudian dikalikan berat jenis tanah yang telah di ujidilaboratorium sebelumnya, 4.2, Kegiatan Laboratorium Kegiatan yang dilakukan dilaboratorium antara lain persiapan bahan dan alat, melakukan pengujian dan pengambilan data. 4.2.1, Persiapan Bahan dan Alat Bahan yang dimaksud adalah bahan yang digunakan untuk pelaksanaan kegiatan pengujian di taboratorium yang habis pakai artinya bila bahan tersebut telah selesai digunakan dalam kegiatan pengujian, maka bahan tersebut tidak dipakai lagi, Sedangkan yang dimaksud dengan alat d dipakai guna menunjang terlakasananya pengujian dalam pengambilan data-data adalah peralatan yang yang diperlukan, 44 Tess: Kalan lees tanah Ancosol alos! dan Grumoset untuk borg tnghat kemiingan én intensity hen b. 4 Sema Bahan: 1) Tanah jenis andosol, grumosol dan latosol sebagai tanah yang akan diyji, 2) Air untuk bahan membuat hujan buatan yang ditampung pada bak fiberglass yang ditempatkan disamping alat rainfall simulator. 3) Papan kayu / multiplek ukuran (58 x 58) cm yang diberi pegangan, untuk meletakkan alat-alat pengukur curah hujan buatan. 4) Papan kayu / multiplek, untuk menutup bejana/container sebelum hujan buatan dijalankan. 3) Kertas saring ukuran (58 x 58) cm, digunakan untuk melihat besarya ukuran butiran tetes hujan buatan beserta jumlahnya. 6) Methylene blue sebagai bahan yang digosokkan / disapukan pada kertas saring guna memudahkan melihat ukuran butiran hujan buatan, 7 Kotak kayu ukuran (100 x 100) om, dan tinggi 10cm yang salah satu sisinya dipasang pipa pralon diameter 10cm dan sepertiga bagian pralon digergaji dengan maksud hasil erosi dapat tertampung, panjang pralon + 140 cm, Sisi bawah pada posisi miring, diberi lobang diameter 10mm dengan jarak 10 em untuk mengalirkan resapan air (infiltrasi). 8) Serbikk karbit, digusiakan untuk pengetesan kadar air sampel tanah yang akan dipadatkan pada kotak kayu, Pengujian ini menggunakan alat speedy moisture tester, yang mana kadar air tanah yang dipadatkan sama dengan kadar air tanah lapangan. Alat : 1) Alat utama terdiri dariz a) Rainfall simulator, merupakan seperangkat alat yang digunakan untuk membuat hujan buatan, yang dilengkapi dengan : - Spray head, yang terdiri dari nozzle dan disk. Nozzle digunakan untuk mengatur besarnya butiran air hujan yang jetuh, Sedangkan disk dengan-lubang berbentuk juring / cakram untuk mengatur bbesarya bukaan, sehingga dapat mengatur intensitas hujan buatan yang diinginkan. Pada alat ini juga terdapat alat penunjuk tekanan yang terletak diatas spray head. 45 ‘Tesi: Kajan tues! tanah Andosot Lalosl dan Grumotounkucberbaga tin i atupten Sema 2 b) °) 4d % p 8) hy i) Dd homiingan dan nts lan ~ Meja pengetesan yang dilengkapi dengan pengatur ‘kemiringan sebagai media untuk menempatkan tanzh yang akan divji Alat ini bisa diatur kemiri wgannya dari sudut 2,5° sampai dengan 30°. Dimensi alat : tinggi 23 cm, panjang 52 em dan lebar 50 em. ~ Kontro! panel, merupakan bagian alat untuk mengatur kecepatan percikan hujan buatan. Alat ini dilengkapi dengan penunjuk besarnya kecepatan (dise motor speed indikator), pengatur besar- keoilnya kecepatan (dise motor speed controller) dan tombol untuk menghidup-matikan pengatur kecepatan (speed controller on-off switch). = Container (tabung tembaga) diameter 7,25 cm dan tinggi 12,4 om untuk menanipung air hujan buatan, Alat ini dipakai guna mene: besar intensitas hujan dan energi kinetik hujan. Speedy moisture tester dan perlengkapannya, alat ini digunakan untuk ‘mengukur kadar air tanah yang akan dimasukkan dalam kotak uji. Permeability dan perlengkapannya, alat ini digunekan untuk mengukur harga koefisien rembesan. Piknometer, alat ini digunakan untuk mengukur berat jenis tanah. Gelas ukur dengan volume 250 cc, 500ce,1 Itr dan 2 Itr. Ayakan agregat halus. ‘Thermometer Alat uji permeabilitas Stopwatch. Meteran. Alat bantu yang digunakan adalah timbangan, skop, cetok, ember, waterpass, oven, cawan, kantong plastik, seperangkat peralatan tukang kayu/batu dan lainclain, 46 ap kathomlingan dan ietersias lon sbuton Samara 7 Geared er Beet cconeing pi ate Gambar 4-1. Rainfall Simulator ‘Accossory dts 520.2500 og — Angular adjustment for 2.5%, 5*, 10°, 18°, 20", 25° a0" Gambar 4-2, Meja Pengetesan a7 Tesln: Kaan ns rel terah Andoto Lalovel dan Grumocl unukbeibagel nghatkembngan dan intents jan Disc motor ‘speed control Disc motor potentiometer speed indicator Speed controler np mot ‘on alt sich cont sich Mein Soar” Gambar 4-3, Kontrol Panel Pee ECE ee ee ECP Pee Eee E | stat gus Inarchangeale setews none Agere stig Fanos onesie Fai ooo Gambar 4-4, Spray Head 48 Tesist Kajan au ores torah Andosol Lato! dan Grumosol untuk beg 4.2.2. Pengujian dan Pengambilan Data herkingn dan ieterstas han Pelaksanaan pengujian dan pengabilan data dilaboratorium, dilakukan dengan pengukuran berat isi tanah, kadar air, berat jenis butiran tanah, analisa butiran, permeabilites, internsitas hujan, butiran hujan (drop size) dan besar erosi tanah, 4.2.2.1.Pengukuran Barat Isi Tanah (Unit Weight of Density) - yb Pengujian berat i 24 inch, panjang 20 cm sehingga dapat diketahui volumenya (V). Wi ~ Wa) Berat Isi Dimana: W; Wi v v = Berat Tenah + Tabung = Berat Tabung Volume Tabung Tabel. 4-1. Hasil Pengukuran Berat Isi Tanah (yb) genis | yaume | Borat [Bre Tabung) si Beratisi same, | Tabung | Tabung [+ Ist vee) | weg | wien | Wien hyo (orien) [Gunngpati 1 642 929] 13557] 126.8] 1.7] [cunungpati 2 026, soe 1347.1) 1256.5] 2,00 [Gunungpati 3 636, nsf 1334 i[ 12418] 1.95 [cunungpat & 33, sie 1335.8) 12442] 1,9) [Gunung 5 33.1 sis) 1338i[ 12463] 1,99 Ratarata= 12503 [Srowen 1 Bul sig erg] 12962] 2,05 [sruwen 2 33, sis] 13604) 126861 2. fsruwen 3 362 92,3 13894 1297.11 2.04 [sruwen 4 626.) sos] 1393.7] 1303.11 2.0 sruwen s 64. ns 13998] 13069] 2.05 Ratarata= 13344 2,04 [Getasan oa a1 __1on00) 928.) 1 [Getasan 2 26, sof 1012.8) 922.2) 1,6 [cetasan 3 642. sasf_10ssal 965.5]. IGexasan 4 3.) 918] 1022.3] 930. 1a [aeiasen 5 6362) 23] 1046.3] 954 1 9402148] tanah dilakukan menggunakan tabung pralon diameter 49 Tesis: Kran as rel tanah Andcool Lalosol dan Grumesol untuk berbogeltnghatkemcingan dan tents jan aypaten Saat 2.2,Pengukuran Kadar Air (Water Content )- W. Setelah dilakukan pengujian berat isi tanah kemudian dilakukan pengujian kadar air dengan menggunakan contoh tanah yang sama, dengan cara mengambil sebagien tanah bekas uji berat isi yang diletakkan pada cawan kosong (W2) sebelumnya cawan kosong tersebut ditimbang terlebih dahulu ((W,). Selanjutnya tanah pada cawan tadi dioven 24 jam dengan temperatur 110°C lalu didinginkan dalam desicator dan ditimbang (Ws). (We~ Wi) - (W3- Wi) Kadar Air = x 100% W.-W) Dimana: Wy Berat Cawan_ Wr = Berat Cawan + Tanah asli Ws Berat Cawan + Tanah setelah dioven Tabel, 4-2. Hasil Pengukuran Kadar Air (Ka) Sens | Deval [Beret [Wan | Berat Tab We= | Kar swan [Tab asti| w2-wi | Oven ‘Wo |(WerWay100 SEEMS | caw ‘asti] wai | 0 wa-we | we:wa) wer) | ween |_@n | wyer ie)_| [Gunungpatit | 26a 127.0) soo) os.) [26 23.58 [Gunungpasi2 | 25,7] 198,21 172.5] 168, 29,417.16 [Gunungpatis | 25:5] 196.4] 170.9] 163.9] 32,5] 19,02 [Gunungpa's |—_27.8] 2289] 201.1] 193.4 355] 17.65 lounungpats | 265| 182.1] 155.6 __150a 313] 20,12 305 19.50 [Sruwen 1 2.6 138.9] 96,3] 17.1] 21, 22.64 [Sruwen 2 27M 139,3] 112,2} 115,24 244) 21,48 srawen 3 281 142.0) 139) 116 25, 22,56 [srawen 4 468) 158 Ls) 133, 23, 22.90 [seuen 5 36213802} 115, 23,3] 22,82 241 22,48 [Getasan 36a] 1343] 107] __1083 Hi] 260] 204 [cetasan 2 23,143] $86 87, 62,0) 26, 30.02 [Getasan 253) 108.3 83.3] $30 582) 25.1] 30.13 loctasan 4 zl 1078) 80.4, 37,1 23. 29.24 cctasan 5 26] 2094 964 249] 26332 Rate-rata= 25,2 27,97 50 Tess: Ka ou oos tenah Ancosol Latosol can Grumosot untuk beeuga nghat emingan dan ntnstas buon lisburn Sona 4.2.2,3,Pengukuran Berat Jenis Butiran Tanah (Specific Gravity) - Gs Tanah ering oven dari pengujian kadar air diambil 10 gr disetiap jenis tanah, Picnometer kosong ditimbang (W), tanah dimasukkan dalam Picnometer lalu ditimbang (W:). Picnometer berisi tanah diberi air suling sampai dibawah leher Picnometer kemudian dikocok dan dimasukkan dalam centrifuge ager tidak ada gelembung udara setelah itu didiamkan selama 24 jam, Setelah didiamkan 24 jam, picmometer tadi hingga penuh dan di air suling bang (W3). Temperatur aquadest dalam picnometer diukur dan dicari kalibrasinya (t2). (Wa- Wi) Berat Jenis = IAP - (W3- W2) x ta Sebelum mencari berat jenis butiran tanah, Harga Air Picnometer (HAP) dicari terfebih dahulu dengan rumus : HAP = (Wb - Wa) x ty Dimana: Wa Berst pienometer Wh = Berat picnometer + aquadest = Kalibrasi temperatur aquadest dalam picnometer Tabel. 4-3. Hasil Pengukuran Berat Jenis Butiran Tanah venis—_[ W, | Wz [W2-wi[ Ws | Ws-W2| tras) | HAP | Gs |Gunungpati 1 23,45} 33,4] 9,90] 79,1) 45,8] 1,00336] 49,5] 2,63) [Gunangpas'2 | 23,30] 33.1] 9.80] 784] 45,5] 1003ao] a0] 2,6 [Gunsngpas 3 | 23,00] —32,8| 90] 78,2] a5, 100336] 9.2] 2.57] [Gunsngpati 4 | 22,70) 32,71 9.95] 78,6] 46, 100334 264 [Gunangpa's | ~23,aql —35.2[ 9.75] 78,5] 45,4] 100334 3,59 2. rawen T Basa] Oe] _ Pal ael] 1 HS3e] 2a uwen2 | 23,30] 33,2] 9,90] ~7a,7] 45.3) 1.00334] 3 irwen3 | 23,00] 32.3] 930] 78a] 43,8] 1.00336] 2a rawend | 22,70) 32,3 9.81] ra.a] 63} 100336] 3 wens [3340] 33.49.95 79.0] 45,7) 1.00336] 28 a ean 1 | BA] 55a] 90] 7S] ABD] SG 3} izasan2 | 2320, 33,3) 9.97] 78,6] 45,3] 1.00336] 2a iacan'3 | 25,00] 32,8] 9.80] 78.4] 45,9] 1.00334 Bi tesa é | 72,70) 32.6] 993) 78,7] 46,1] 100339 205 usan's | 25.40] 33.3[ 9.87] 78,8] 45,5] 1.00334 275 a 31 ‘Teak: Kalan a erost tarah Andosol Lalsel dan Grumosol untkberoga nghathemvingan dan ntensas han iksbupaten Sena 4.2.2.4.Pengukuran Analisa Butiran Tanah Pengujian analisa butiran tanah terdiri dari analisa saring dan analisa irometer. Untuk butiran yang lebih besar dari 0,075 mm diyji dengan ayakan (sieve) sedang butiran yang lebih kecil dari 0,075 mm diuji dengan hidrometer. a. Analisa Saring (Ayak) Dilakukan dengan mengayak 100 gr (Wa) tanah yang sebelumya telah dioven 24 jam pada suhu 110°C dan didinginkan dalam desikator. Tanah Uji tersebut direndam dalam air selama 24 jam, kemudian dicuci dan wing menggunekan saringan no. 200 untuk memisahkan butiran ukuran lebih dari 0,075 mm. Butiran tanah yang tertahan pada saringan no. 200 dioven selama 24 jam dan diayak dengan ayakan yang disusun seperti i pada Tabel 4-4. Prosentase tertahan = (Wt: Wa) x 100% ——" Wt=We-Wi Dimana: We borat tertahan (gr) ‘W. = berat tanah dan saringan (gr) ‘W, = berat saringan (gr) Prosentase komulatif adalah angka komulatif dari prosentase tanah yang i tertahan, schingga prosentase lolos yaitu 100% dikurangi prosentase i amulatif tana tertahan. ‘Tabel. 4-4. Hasil Analisa Saringan Tanah Latosol di Gunungpati [Lokasi = Gunungpatt Berat Prosentase i ‘Tertahan (gr)| Tertaban [ Komulatif | Lolos 0.00 0.00 [_0,00__| 100,00 ! 0,80 ‘080 | 080 | 99.20 1,10 110 | 190 | 98,10 1,20 120 | 310 | 96,90 i ‘0,90 0.90, 4,00. 96,00 ! 0,80 ogo | aso | 95.20 i 1.20 120 600 | 94,00 ! 1.20 120 | 720 | 92,80 ' 200 0.075 130 130_| 850 | 91,50 i pan pan 0.20 20 | 8.70 | 91,30 52 Tes: Kun ic tah Asoo dan Grune nbn tnglathetzon cent ha ‘Tabel. 4-5. Hasil Anz Saringan Tanah Grumosol di Sruwen cedalaman = 02 meter [Berat Tanah = 100 gr Nomer | Diameter | Berat Prosentase Sieve _| Sieve nm) |Tertahan (gr) [Tertahan | Komulatif | Lotes 4 4750 12,60 | 1260 | 1260 | 8740 10 2,000 9.80 9.80 | 22.40 | 77.60 20 0.850 920 920 | 31,60 | 68.40 40 0425 880 380 [40.40 | 59.60 a 0.250, 7,80 7,80__| 4820 | 51.80, 80, 0,180 440 440_| 52.60 | 47.40 120 0.125 720 720__| 58,80 | 4020 170) 0,090 $20 $20__|_ 65,00__| 35.00 200 075 2.80 280 | 67.80 | 3220 pan pan ‘040 | 040 | 68,20 [31.80 Tabel. 4-6. Hasil Analisa Saringan Tanah Andosol di Getasan [Lokasi = Getasan. |Kedalaman = 0,2 meter [Berat Tanah = 100 gr Nomor | Diameter | Berat Prosentase Sieve __| Sieve (mm) | Tertahan (gr) [Tertahan| Komulatif_| Lolos 4 4750, 1,00 1,00 1,00) 99,00, 10 2,000 2,40) 2.40) 3.40 96,60 20 0,850, 3.20 3.20 6,60 93,40 40, 0425, 5,40 3.40 12,00 88,00 a 0.250, 7,10 7.10 19,10 80.90 80 0,180. 4,50 4.50 23,60 76,40 120 0,125 9.10 9,70 33,30 6.10 170 0,090 7.20 720 40,50 59,50 200 0.075 4,70 4.70) 45,20 54,80 pan pan 0.70 0,70) 45,90, 54,10 by Pengujian Hidrometer Butiran tanah yang lolos saringan no. 200 pada proses pemisahan butiran tanah, dikeringkan kemudian dicampur dengan air suling dan NaSO, 4% dan direndam selama 16 jam, agar butiran tanah saling terpisah. Rendaman tanah di mixer 1 menit yang sebelumnya ditambah dengan air suling setengahnya, kemudian dipindah pada gelas ukur dan ditambah air 53 Tess: Kanes rh don Late en Gruner! obra ege dr es fn suling sampai mencapai volume 1000 ml. Setelah itu dikocok sampai Jarutan merata, termometer dimasukkan dan hidrometer dimasukkan bersamaan dengan menghidupkan stopwatch, Pembacaan hidrometer dilakukan saat stopwatch menunjukkan waktu seperti pada ‘Tabel 4-7. Pembacaan Terkoreksi (Rc) = Ra + Zo —Ct Dimana: (Re xa) Prosen finer = Ws Dimana: Diameter butiran (D) = K V( Dimana Ra= Pembacaan aktual Ze = Zero conection (3 strip) Ct= faktor koreksi temperatur x prosentase lolos saring no. 200 a =Faktor kotreksi Gs (berat jenis) Ws = Berat tanah ering lolos saring no, 200 : L =Tinggi efektifhidrometer, berdasarkan besamya nilai R R =Ra+Me, ‘Mc= Miniscus corection (1 strip) K_ = Angka koreksi temperatur ‘T =waktu pembacaan hidrometer (menit) ‘Tabel. 4-7. Hasil Pengukuran Hidrometer Tanah Latosol di Gunungpati Lokasi =Gunungpati Gs = 2,61 Lolos Saring = 91,30% a 0946 Berat Tanah = 90 gr ct =35 Ee Waktu |Temperstor] ps] re | E> [rit lut| « | > Aovenit) sc (%) 1 28 | ee? | waa sae | 877 | 25,95 | 25,91 | 0912 | 0902 2 2g | 83.3 | 02,8] 79.5 | 82.3 | 2831 | 14.15 | 0.012 | 0046 4 2s [713] 708] 679} 703 | 26.50| 662 0.012 | 031 9 28 faut) 436] 448 | 43,1] 9.60 1,07 | 0.012 | opis 16 28 [39,7 | 392] 3761 38,7| 890] 0,56] 0,012 | 0.009 25 28 [382] 37.7 362 [37.2 [12.14 | 0.49 | 0012 | 0.009 36 2 | saa] 339) 32.8 [334 | 1324037 | 0012 | 0.007 9 28 | 263 | 25,8 248 | 25.3 [11,46 | 023 | 0.012 [006 60 2s _[isel 331761178] 711] 0.12 | 0.012 | o904 120 28 [za | is} m6 | 14.4 [10,45 {0.09 [0,012 | 0.004 240 28 97 [92 38 | 87| 7.80] 0.03 | 0.012 | 000 34 Tess: Kajan ou oot tana Andoso, Latsol dan Grumorol untuk bertoglagkatkeningan dn toi hujn _cearuaien Soran. Tabel, 4-8. Hasil Pengukuran Hidrometer Tanah Grumosol di Sruwen Lokasi_ Gs Lolos Saring a Berat Tanah ct cs = wae ee fe [Lele [el ® |e 9 28 19,3 | 18, 20,5 |_18,3 | 76,63 1 | 0,012 | 0,036. a ee St Saat eee fe Ss Ss 8 eStart estan es Tabel. 4-9, Hasil Pengukuran Hidrometer Tanah Andosol di Getasan Lokasi = Getasan, Gs Lolos Saring = 54,10% a Berat Tanah =50 gr ct Waktu | Temperstor] ps] pe | Hl |e] x lut| x | D (menit) °c (%), 1 28 M2] 437) 466) 43,2 | 26,84 | 2684 | 0072 | 0.063 2 28 39,7 | 392 | _ 418 | 38.7 | 43,35 | 21,68 | 0.012 | 0.057 4 28 33,5 330] 352 | 32,5 | 57.36 | 1434 | 0.012 | 0046 3 28 31,2 30.7 | 32,8 | 302 | 89,16 |_9.91 | 0.012 | 9038 16, 28 23,2| 22,7 | 242 | 22,2 | 32,50 | 3.28 [0.012 | e022 25, 28 15,6/ 15,1] 168 [ 14.6 | 30,61 | 1,22 [0.012 [o.o1 36, 28 1321127] 13,5 | 12.2 23,23 | 0.65 [0,012 |_001 49 28 12.0| 15] 1231 11,0 [17,07 | 0.35 | 0,012 | 0,007 | o 28 m2] 10,7 [11,4] 10.2 | 18,64 | 0,31 | 0.012 | 0,007 120 28 63] 58 62] 53 | 21,80 |_0,18 | 0,012 | 0,005 240, 28 27] 2: 23{ 17] 2328 [0.10 [0.012 | 0,004 35 9s Tae pedunung Ip oso] youEy, UUsUEES esHTEMY ANID “sp “soqUIED yesesgrineey a ewe one = wrianouaan Peary 7 ‘wf seysumu uep exBurmaeyyeyBup Began an jos ep YscHE YosopeY YEUE sD Me UME cee us UANIG Ip JOsoUMID YUE, ULsULIUS wsIELY YYEID °9-p “IEqUIED cosaeraa Tea teepre is Sails waits Gpvonvie 8s unseje5 1p Josopuy qouR], wefupreg SEY MULID “Lp seqUIED, Ta eaverspat a ty = Cvepee conse . I] [= alg 3 0 20 Auatah Tea sarngen 8) io a d2naw ewan nf seyeuo wep ueBuyunyyeyfup Begin un fosousn Uep sep Yosmpuy YEU (S08 NI UREN IL sang TTA alert Seman 4,2.2.5.Pengukuran Permeabilitas Untuk —menentukan harga_koefisien rembesan (permeabilitas) dilaboratorium dilakukan dengan menggunakan cara tinggi energi tetap (Constant head). Prosedur pengujiannya adalah contoh tanah dimasukkkan kedalam tabung sesuai dengan kepadatan dan berat isi tanah yang diharapkan. Dimana panjang sampel tanah (L) 8 cm, diameter (d) 5 cm, sehingga luas (A) 19,625 em? dan volume (V) 157 cm?. Permukaan atas dan bawah tanah dipasang kertas filter dan batu pori, tabung benda uji yang telah siap diletakkan pada permeameter yang dihubungkan dengan buret (pipa ukur). Buret diisi air dan kran air dibuka agar air mengalir melalui benda uji sampai jenuh dan dibiarkan keluar melalui lubang pengeluaran yang ada dibawah persneameter. Ketinggian muaka air pada pengisian (h,) dan pengeluaran (ha) diukur sampai didapat ketinggian yang konstant (tetap). Setelah air konstan, keluaran air dihitung waktunya (t) menggunakan stopwach dan airnya ditampung dengan gelas ukur, subu temperatur airnya diukur (T). 4 oo Axix60 Dimana : k = Koefisien Permeabilizas (m/dt) q = Debit (m*/dt) A =Luas Sampel Tanah (m?) i =Gradien Hidrolik = (hy - h2)/L 59 ‘esi: Kaan ueroa tah Anosol Lalosl don Grumoso untuk berbagal Gnglatkomingan dan teste uj | | | i “Tevet Kaan lau eos rah AndocolLatocol dan Grumosol untuk beruga ght Kemiingon dan ttn jen ‘Tabel. 4-10. Koefisien Permeabilitas (k) Tanah Latosol di Gunungpati fLokast = Gunungpati em Ibs =200 em lb =o em Les em Interval Debit Gradien Kofisien Waktu [“Terukur ]Persatuan Waktu] — Hidrolik Permeabilitas tm |g (mvimenity i k (om/detik) 48,5 0,00 25,00 42.1 0,80 25,00 1,358816-05; 46,9 0,80 25,00) 1,35881E-05, 46,2 0,70) 25,00 1, 18895E-05 454 0,80 25,00 1,358816-05 44,7 0,70 25,00) 1, 18895E-05| 44 0,30 25,00) 43 0.10 25,00 442 0.10 25,00 42 0.00 25,00 Rata-rata= 1,290876-05) Tabel. 4-11. Koefisien Permeabi tas (k) Tanah Grumosol di Sruwen fLoxasi__= Sruwen ‘A= 19,625 em* Ihy = 100 _em Gs= 2,84 = 0 em L=38 em Interval Debit Gradien Kofisien Waktu [“Terukur [Persatuan Waktu) — Iidrolik Permeabilitas coment) |_Qcap | a (ntmenity i 4c (em/detil) 1 46.0 0,00) 12,50 3 1 44.6 140 12,50 9,S1167E-05 1 48,4 1,20 12,50 8,15286E-05 1 42,2 1,20 12,50 8,15286E-05 1 40,9 1,30 12,50) 8,832078-05 1 39,8 110 12,50) 7,47346E-05 L 38,5 1330 12,50 8,832278-05, 1 37.2 130 12,50 8,832276-05 | 1 37.1 010 12,50 1 37.0 0,10 12,50 1 37.0 0,00) 12,50 8,54116-05 60 Tet: Yale ce nh dea Lt! den rumor! uhm irtionngen dnt an al ksbupaan Somarang ‘Tabel. 4-12. Koefisien Permeabilitas (k) Tanah Andosol di Getasan [Lokast = Getasan A =1905 cu I 200 em Gs= 2.73 a lho =_0 em L- 8 Interval Debit Gradien Kofisien Waktu | Terakur PPersatwan Waktu) — Hidrolik Permeabilitas tomeni) | Qc) | 9 (mV/menit) i k (em/detit) 2 42, 0,00 23,00 2 3,1 1,10 25,00 1, 868368-05 2 419. 1.20 25,00 2,038216-05 2 40.7 120 25.00 2,03821E-05 2 39,5 120 25,00 2,03821E-05 2 384 110 25,00 1,86836E-05 2 3233 110 25,00 1,86836E-05 2 321 020) 25,00 2 321 0,00 25,00 2 37.0 0,10 25.00 Ratacrata= 1,953298-05 4.2.2.6.Pengukuran Intesitas Hujan Setelah semua fungsi peralatan dikontrol dan berjalan dengan baik, serta semua bahan yang akan digunakan untuk pengujian sudah lengkap maka segera dilakukan pengukuran, Pengukuran intensitas hujan_dilakukan dengan cara : 1) Meja yang telah dilengkapi dengan pengatur kemiringan diletakkan ditengah alat rainfall simulator. 2) Lima buah container diletakkan diatas alat tersebut dengan alas papan kayu / multiplek ukuran (58 x 58) cm dalam posisi 4 (empat) container dilotakkan pada sudut dan 1 (satu) container diletakkan ditengah, Container pada kondisi tertutup agar tidak terisi 3) Apabila Alat rainfall simulator telah diatur disc motor speed indicatomya ( tekanan den kecepatan bisa diubah sesuai intensitas rang dikehendaki), tutup Kontainer dibuka, Secara bersamaan rainfall simulator dihidupkan dan perhitungan dengan stop watch dimulai. fall simulator dimatikan dan 4) Setelah 10 (sepuluh) menit berjalan, container ditutup kembali. 61 i: Maan iu ros tana Asal aoc dan Ganon! unkerapl eh amiga een ests jn 5) Air yang ada dalam container ditakar dalam gelas ukur dan dicatat volumenya. Dengan diketahui luas container (A), volume air (V) dan waktu (t), maka intensitas hujan (1) dapat dihitung. v Is x 600 (xt) Kecepatan dan tekanan alat raifall simulator dapat diubah-ubah tergantung pada intensitas yang dikehendaki dengan mengatur disc motor speed indicator dan tekanannya. Percobaan ini dilakukan berulang kali hingga mendapat intensitas hujan yang dicari, yaitu 30 mm/jam; 40 mm/jam; 50 mm/jam dan 60 mmjjam, Tabel. 4-13. Hasil Pengukuran Intensitas Curah Hujan (1) Pereobaan | Luss Container | Waktu | Volume | Intensitas | Rrersts xD (em?) | (menity | (ml) | (mmijam) | Gaara 3Ommljam (1) Fi26 10 | 20,64 | 3001 3omm/jam (2) 4126 10 | 20,80 | 30,25 30,15, 30mm/jam_G) 4126 io | 20.77 | 3020 40mm/jam (1) 41.26 10] 27,60 [40,13 40mm/jam (2) 4126 io | 2752 | 40,02 4007 40mm/jam G) 41.26 1o_|_2755 | 40,06 S0mmn/jam (1) 41.26. to [3440 | 50,02 0mmi/jam (2) 4126 io | 3390 | 49,30 49,66 50mmijam G) 41:26 1o_| 3415 _| 49,66 ‘Oxnmfjam_ (1) 4126 10] 41.20 [39,91 Ommijam (2) 4126 10 | atse | 6080 59,96 3ommfjam_(3) 4126 to_|_4095_| 5957 4.2.2.7,.Menentukan Distribusi Ukuran Butiran Hujan Pengukuran dilakukan pada intensitas hujan buatan 30, 40, 50, dan 60 mm/jam dengan cara 1) Melewatkan kertas saring yang mengandung methylene blue melalui percikan hujan buatan, Pada setiap intensites, dilakukan pengukuran distribusi butiran hujan sebanyak 3 (tiga) kali dan dirata-rata, 62 Tess: Kan ee teh deal dan mot! athe pation dn eater upatn Sama | 2) Kertas saring yang telah mendapatkan percik tersebut dikeringkan, sehingga diperoleh noda-noda percikan hujan dengan diameter bervariasi. 3) Diameter noda (D) percikan dihitung perkelompokan 1; 2; 3; 4; 5 dan 6 mm, noda pereikan yang diameternya > 6mm tidak digunakan, Dari data hasil distribusi butiran hujan i, dapat dihitung energi kinetiknya (EK) = %4 my# dengan diketahui volume butiran hujan (V) = ('/s a D?) /8 (mm?) dan massa butiran hujan (m) = volume butiran hujan (V) dikalikan berat jenis air, Kecepatan jatuh (v) menggunakan grafik Laws. Tabel. 4-14. Hasil Pengukuran Jumlah Butiran Hujan Tntensites Hujan | Diameter Butiran Hujan (mm) ‘na/jam) 1[2[3 Taste 30 mm/jam (1) | 7 | 67 | _s5_| 25 | 13 | 7 30mmijem 2) [ss [63 | 87 | 23] 9 | 9 |_30mmjem 3) [36 [65 | 86 | 26 | 11 | 8 mmjam | 65 [75 |__| 79 | 16 | 14 4ommjam @ [67 |'71 | 92 | 77 | 20 [12 40mmjam 3) | 66 | 73 | 90_| 78 | is | 13 S0mmvfjam [7s | s3 [97 | a9 | 55 [30 s0mmiam @) [73 | a1 | 95_| se | 53 | 31 30mmjam 3) [72 [a2 | 96 | 90 | 5a | 29 60 mmvjam | 79 | 96 | 105 | 97 | 90 | 54 60 mmjjam (2) | gi | 92 | 103 | 99 | 88 | 58 G0 mmjam 3) | so | 94 | 104 | 98 | 89 | 56 ‘Tabel. 4-15. Energi Kinetik Untuk [= 30 mm/jam Diameter | Jumiah | Volume | Massa | Keeepatan v7 EK Butiran | Butiran | Butiran | Butiran (m) | Jatuh (¥) % mv (om) Gun?) | (Kg) 10* | (mmidet) | (mnmé/des*) | Goule/m"/mm) 1 36] 0,523 | 29,3067 41 16,810 | _731,787467 2 65] 41867 | 272,133 5.1 | 26,010 | _6795,169333 3 86 | 14,1300 | 1215.1800 3,631,360 | 30343,044600 4 24 | 33,4933 [803.8400 6.0] 36,000 | 20071,884800 5 11 | “6s,s167 | 719,5833 62 38,440 | 17967,995833 6 8 [13,0400 [90,3200 64 | _40,960 | 22580,870400 =| 39443633 = | 98490,752433, 98490,752433 ———— = 24,97 joule/m/mm Jadi EK untuk Intensitas 30 min/jam = 3944,3633 63 Tess: Kaon lp aos ansh Andoso Latosol dan Grams untukberbage gta kemngan dan irersias hoe Tabel, 4-16. Energi Kinetik Untuk I= 40 mm/jam. Diamater | Jumlah | Volume ‘Massa | Kecepatan ¥ EK Butiran | Butiran | Butiran | Butiran(m) } Jatuh (v) % mv? (om) om’) | gy 10% | cmnvaen | com*aee) | Govtermn?imm) 1 66) 0.5233 | 34,5400 41] 16810 §94,586000 2 7a [41867 | 305,6267 3.1 26,010 | 7915,730667 3 ‘90° 14,1300 | 1271,7000 56| 31,360 | 32937,030000 4 78 | 33,4933 | 261.4800 6,0 | 36,000 | 67663,232000, 3 18 65,4167 | _1177,5000 62] 38,440 | 30497,250000 6 13. [113,0400 | — 1469.5200 64] 40,960 | ~38060,568000 =| 6871,3667 = [177968,396667 177968,396667 Jadi BK untuk Intensitas 40 mmjjam = ~~ = 25,90 joule/m’/mm. 6871,3667 ‘Tabel. 4-17. Energi Kinetik Untuk I= 50 mm/jam, Diamaier | Jumlah ] Volume | Mensa] Kecepatan] EK Butiran | Butiran | Butiran | Butiran(m) | Jatuh(v) % me (am), (um) | (Kg) 10% | cmmvidet) | (nmeidet’) | Goule/m’/mm) L 72 |_05233 | _37,6800 41] 16810] 1015,476000 2 a2 [4867 [34,3067 S| 26,010 | 9252,114657 3 96 | 14,1300 | ~1356,4800 3,6 | 31,360 | 36557,136000, 4 90 | 33,4933 | 30144000 6.0 | 36,000 | 81238,080000, 3 ‘54 [65,4167 | _3532,5000 62 | 38,440 | 95200,875000 6 29 | 113,0400 | 3278,1600 64 | 40,960 | 38346,612000 11562,5267 = [311610,093667 311610,093667 Jadi EK untuk Intensitas 50 mmfjam = —_______._ = 26,95 joule/m?/mm 11562,5267 Tabel. 4-18. Energi Kinetik Untuk I~ 60 mm/jam Diamater] Jomieh | Volume | Massa | Kecepatan | v2 EK Butian | Buran | Butran | Butian(m) | Jotun (v) mv (am) am)_| (Kg) 1046 _| (emmides) | cmmarder2 | Goulet L so] 05233) 41,8667 41] 16810 1149,240000 2 94 | 4.1867 | _393,5467 3.i| 26,010 | 10802,856000 3 104 | 14,1300 1469,5200 5,6. 31,360 |_40338,324000 4 98. | 33,4933 | 3282,3467 60| 36,000 | 90100,616000 3 39 | 65,4167 | $822,0833 62| 38,440 | 159816,187500 6 36 | 13,0800 | 6330,2400 6.4 | 40,960 | 173765,088000 T= [_17339,6033, = | 475972,111500 Jadi EK untuk Intensitas 60 mmijam = 475972,111500 17339,6033 = 27,45 joulefm?/mm 64 “Teal: Kalin au orositnah Andotol Latocl dan Grunozol untuk berbaga!nghat miagen dan toni jn a Ss 4.2.2.8,.Pengujian Laju Tanah Tererosi Sebelum tanah uji dimasukken dalam kotak uji, kadar air sampel tanah harus disesuaikan dengan kadar air tanah dilapangan. Pengujian kadar air ini menggunakan alat speedy moisture tester dengan cara memasukkan sampel tanah ke tabung speedy yang sebelumnya menetralkan alat terlebih dahulu dengan melihat garis merah (penunjuknya) harus berhimpi Kemudian bola baja (2 buah) dimasukkan ke dalam tabung speedy pelan- pelan, selanjutnya dimasukkan bubuk karbit dimasukkan (2 sendok). Setelah tabung ditutup, tabung speedy dipegang mendatar dan putar kedepan pada sumbu datar selama 10 detik, lalu diamkan 20 detik. Pemutaran ini dilakukan berulang selama 3 menit dan dibaca jarum penunjuk prosentase kadar air. Jika kadar air kurang maka sampel tanah ‘yang akan dimasukka pada kotak uji dibasahi kemudian di ukur lagi kadar aimya samapai_konsisinya mendekati kadar air di lapangen. Pengujian laju tanah tererost ini dilakukan dengan cara : 1) Alat pengukur kemiringan diletakkan ditengah-tengah alat rainfall simulator dan diatur pada. variasi kemiringan tanah 5°. 2) Kotak kayu dengan ukuran tuas Im x Im dan tinggi 10 cm diletakkan diatas alat pengukur kemiringan, kemudian diisi tanah yang telah disesuaika prosentase kadar airnya, tanah diratakan dan dipadatken memdekati kepadatan lapangen hingga penuh, 3) Pada kotak kayu bagian hilir dipasang pralon diameter 10 cm dan pade ujung pralon dipasang gelas ukur untuk menampung hasil eros. 4) Apabila semuanya telah siap, rainfall simulator dihidupkan dan diatur pada intensitas hujan buatan 30 mm/jam, 5) Pada saat tanah mulai jenuh dan limpasan air yang membawa tanah tererosi mulai meluap masuk talang pralon dan mengalir, air luapan ditampung dengan gelas ukur 2 liter bersamaan stopwatch dihidupkan, sehingga diperoleh waktu yang dibutuhkan untuk ‘mencapai 2 liter air yang mengandung butiran tanah disetiap itensitas dan kemiringan fanah, 65 “esis Kaj tau eosi tah Andosol Latowol dan Grumosol untuk berbogal gta kamiagan dan ntenst hujan Kabupaten Soma 6) Setelah mendapatkan 2 (dua) liter air yang mengandung butiran tanah, penutup uji ditutup bersamaan mematikan stopwarch dan hhujan buatan dihentikan, 7) Air yang didapat kemudian disaring menggunakan kertas saring yang telah ditimbang (Wi) schingga butiran tanah yang mengandung pasir akan tertinggal diatas kertas saring. 8) Kertas saring tersebut dioven 24 Jam dan ditimbang beratnya (W2) schinngga diketahui berat tanah yang tererosi (W2 - Wi). 9) Pengujian ini diulang 3 (tiga) kali disetiap kemiringan dan intensitas hujan. Kalau diperhatikan hubungan antara waktu dengan jumlah tanah tererosi pada intensitas hujan dan kemiringan yang sama dengan 3 (tiga) kali percobaan, secara umum mempunyai kecenderungan linier. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 4-8, berikut: erat tana Tereras (8) ‘Waktu (eit) Gambar . 4-8. Grafik hubungan erosi dengan waktu pada tanah Latosol di Gunungpati untuk 1-30 mm/jam dan kemiringan 5° 66 9 eal? ve [ue | ve [oo | or ez | a Ht | ae [em] one aso ETERS ROSE | vs] om ow or | ss om | es [os] es | cur | os | vor] om [ea] a oor or [er] eo | on | ze fen | 99 est | O09 va | oe wa [eu] @ oo | ou or aay SERIE we lalsl ml slelolsl|s[ a] | ole lle] [colo] ss] ae] ve | o | o 6 | us ws | es | oc | av | ozs | cv | oe | vs | sm | os | use | as | esr | ee | om [re [om | x |e [oe ce | 9 oe or [os | er | ae | ee [| es [oo [os | [es | es [eo fos | oo |e | ow ve 8 ze | om | ec | we | ty | oe | ce | vee 95 om oo an cam [ oor esa Tameetara_|_T OR ziaaieg TORR Ta ra SEH HEAT aml Rr Day Jsoxoua, uuEL nfo] uvanyNBueg NSEH “6T-b TAC, a uno seusuouruep ueBuyusyextupeEeqe9 ran Josourun UEp YxeHrYoRopUY WEL foLe fe Ley 84 . v Y Tele: Kony roe! tanah Ardoso, Lato dan Grunocel untuk berbagal aga! kemtfogen dan nent buen Parameter USLE ‘Untuk mencari besar nilai laju kehilangan tanabverosi (A), terlebih dahulu mengetahui besar nilai parameternya. Parameter yang terdapat pada Universal Soil Loss Equation (USLE), adalah Erosivitas (R), Erodibilitas (KX), Panjang dan Kemiringan Lereng (LS). Pada penelitian ini sampel tanah tidak diberi tanaman dan tidak dilakukan pengolahan, sehingga nilai pengelolaan tanaman (C) dan pengolahan lahan (P) dianggap mempunyi nilai 1 (satu). 4.3.1. Erosivitas (R) Dalam mencati erosivites hujan perlu diketahui intensitas hujan, energi Kinetik hujan, dan kedalaman hujan. Tabel. 4-20, Hasil Perhitungan Erosivitas (R) Tatensitas (I) | Kedalaman Hujan (i) | EK=11,87+8,73 Log! | R= Eich (mm/jam) (mm) | (J/m?/mm) (im) 30 0,50 24,77 12,38 40, 0,67 25,86 17,24 50 0,83 26,70 22,25, 60 1,00 27,39 27.39 4.3.2. Erodibilitas (K) Guna memperoteh angka erodibiliras diperlukan data prosentase debu, prosentase pasir, prosentase bahan organik, struktur dan permeabilitas tanah, Data — data tersebut diploting pada nomograf (gambar 2-1) schingga memperoleh angka erodibilitas (K) Tabel. 4-21. Data Erodibilitas (K) Jenis Unsur_ ‘Struktur Permeabilitas | Erodibilitas Lokas! | Tanah | Debu | Pasir | Organik | Tanah Tanah K T T 250875 eal cammgpai | tacsot | 846% | 77% | 12 | ramm okay | OOsee7ID2 cman | 071 these 195529603 ath Geasan | Andosot | 56% | 41g} 28 | 2-10mm(boted) | ca7031844 emjem | 046 ode 6 E341 16-05 ca savven | Gramiot | 277% | 454% | 22 | 2-t0mm(aoiea) | 000796 ema | 029 bode) 68 Tevet Kajon loool tanah Andoso Latta dan Grumceol _labugten Sama borogo inglatkemringan dan neta jan 3 5 ‘Peyeen deb pasi amgae hades (0.002-0,10 mum) Pendekatan Peseama Gambar. 4-9, Nomograf Erodibilitas Tanah Latosol di Gunungpati 69 ‘Tesi Kaan au ere tanah Andoso Latosol dan Grumeso unt betapaltngkatkemingan da nena hojon Kabupaten Genaran z 5 i da i i i : be rodibibene Tenth Gambar. 4-10. Nomograf Erodibilitas Tanah Andosol di Getasan 70 i i i i i RY Penenpan Sion (040-20 m0) 5S os Gambar, 4-11, Nomograf Erodi 4 se Snpt tanta SLantat ‘ Lambarseding SeSedang Be Sedinpeera Capa itas Tanah Grumosol di Srawen n Tels: Kaan rot tanah Andoso Lose dan Gnoecl untuk berbegaltnghatkemingan dn ites hen | 527 207 | 734 21a | 948 219 | 1167 387 Sie 695 ae | 9a 38 | 12.73 370 | 1683 3.80 | 2023 932 12.97 16.75 25° | 1846 724 | 28.70 78 | 33.18 Tor 40.84 ‘Tabel. 5-10. Analisa Laju Erosi Tanah Andosol di Getasan (gr/m”) som) Ee EET ew EET ne mmnfjam | 5 | mim [5 | mmmiam [5 oy | mm‘jom | 103 040 | 143 oa | 1.84 043 | 227 239 333 430 10 | 3 13a | 476 138| 614 ia2 | 756 2st 389 450 1° _| 392 23 | 925 2.40 | 1065 246 [13.10 8 a0 7 1085 25° | 11.96 aw] 1665 aga | 2150 a7 | 26.46 ‘Tabel. 5-11. Analisa Laju Erosi Tanah Grumosol di Srawen (gr/m’) som) ve ET wo [LT ew mm/jam | 55 an | meen | 5 | mma | 55 | maviam = | 045 025 | 0390 026 | 116 oat |_143 ial 210 271 10° | 25 ‘esa | 300, 87 | 3.87 oo |_ 477 158 220 2a ws | 325 146 | 5.20 isi | 671 155 | 826 381 330 84 as 754 296 [10:50 30s [13.55 313) 1668 Test: Kan rita Andes Ltt! don Greve nik brig tgat enngan dan estas jen di Kebupaten Semaran; et - hist 5.5. Laju Erosi Tanah Andosol, Latosol dan Grumosol Hi perhitungan laju erosi tanah dari ketiga jenis tanah uji yang mempunyai sifat fisik berbeda (Andosol, Latosol dan Grumosol) pada tingkat kemiringan dan intensitas hujan yang berbeda, dapat dilihat sebagaimana pada Tabel 5-9 sid 5-11, Pada tabel tersebut, antara laju erosi hasil uji laboratorium dengan hasil perhitungan menggunakan rumus USLE berbeda. Hal ini dikarenakan seat pengujian dilaboratorium tidak semua parameter USLE diterapkan. ‘abel, 5-12. Perbandingan Laju Erosi Tanah Latosol di Gunungpati (gr/m*) Kemiringan | 1-30 mm/jam | t=40 mm/jam | 1-80 men/jam | ¥=60 mm/jam ] Lab. | USLE| Lab. | USLE | Lab. | UsLE | Lab, | USLE | x 2,90 | 1,58 | 3,50 | 2,20 | 443 | 2.84 | 543 | 3,50 10° 3,20 | 5,27 | 403 | 7,34 | 4,90 | 9,48 | 5,90 | 11,67 | 1s* 3,90 | 9,14 | 5,00 | 12.73 [5,67 | 16,43 | 643 | 20,23 25° 5,10 | 18.46 | 6,23 | 25,70 | 7,63 | 33,18 | 9,47 | 40,84 ‘Tabel. 5-13. Perbandingan Laju Erosi Tanah Andosol di Getasan (gr/m?) Kemitt 1-30 mm/jam | 1-40 mm/jam | 1-50 mm/jam |_1=60 mm/jam emiringan Lab. | USLE| Lab. | USLE | Lab. | USLE | Lab. | USLE. s 12,87 [103 | 13,47 | 143 [1417] 184 | 15,30 | 2,27 10° 1447 | 4,76 |15,10[ 614 | 15,93 | 7.56 15° 15,53 | 8,25 | 16,30} 10,65 | 17,10 | 13,10 25° 16,67 | 16,65 | 17,47| 21,50 | 18,37 | 26.46 Tabel. 5-14. Perbandingan Laju Erosi Tanah Grumosol di Sruwen (grim?) Xemiringan [-=30:mm/jam_[ 1-40 mmzjam | 1°50 mm/jam | 1-60 mm/jam Lab. | USLE| Lab. | USLE | Lab. | USLE | Lab. | USLE s 042 | 065 | 11s | 0,90 | 165 | 116 | 207 | 143 10° 088 | 215 | 1,37 | 3,00 | 1,70 | 3,87 | 2.25 | 4,77 15° 153 | 373 | 195 | 520 | 225 | 671 | 280 | 8,26 25° 1,83 | 754 | 2,48 | 10,50 | 3,23 | 13,55 | 4,00 | 16,68 81 Tess: Kanes Ades els! dn Groot! etal brs nga engenders jen él Kabapaten Semarang tis . ae Seperti diketahui rumus USLE meliputi indeks erosivitas hujan (R), indeks erodibilitas tanah (K), Indeks panjang kemiringan lereng (LS), Indeks peranan (pengelolaan) tanaman (C), Indeks peranan usaha pengawetan tanah (P). Tabel. 5-15. Perbandingan Antara Uji Laboratorium Terhadap Perhitungan USLE Parameter Hasil Uji Laboratorium | Hasil Perhitungan USLE_ | Hiujan Menggunakan intensitas hujan | Menggunakan intensitas hujan 30, 40, 50 dan 60 mmvjam 30, 40, 50 dan 60 mmijam. Dan faktor —erosifitas _dihitung dengan rumus energi kinetic hhujan (Ek) dikalikan dengan ‘otal kedalaman air hujan (h). Tanah Tidak ‘menyamakan — antara| Semua unsur yang berpengatuh Kondisi fapangan dengan | terhadep erodibilitas _tanah sampel uji, Penyamean kondisi | diperhitungkan, seperti tekstur lapangan hanya kedar air guna | tanah, struktur tanah, prosentase menentukan berat tanah yang | debu, prosentase pasir, kadar akan’ diuji. Fektor lain seperti | bahan ——organik dan kepadatan, permeabilitas dan | permeabilitas tanah. Kelekatan —tanah tidak diperhatikan, Panjang Lereng Panjang lereng menggunakan | Merupakan nisbah besamnya panjang Kotak uji im x Im, | etosi dari suatw lereng dengan sehingga hampir semua butiran | panjang standar 22,13m dengan tanah yang telepas (tererosi) | luas standar 1,8 m. Sehingga ‘akan terangkat dan terukur. tidak semua butiran tanah tererosi. Tanaman Pengujian dilakukan pada tanah | Tidak ada tanaman (C=1) tanpa tanaman Pengelolaan Tanah | Tidak ada usaha pengelolaan | Tidak ada pengelolaan tanah tanah (P=1) 82 Tesi: Kajan alu eos ivabupaten Semarang Anse Lato! dan Gnanosel untuk bebagel nga Kemkngen don nentes haan —S BAB6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan Pada penelitian ini, lebih banyak menggunakan persamaan Universal S Loss Equation (USLE), dengan parameter-parameter Erosivitas (R), Erodibilitas (K), Panjang dan Kemiringan Lereng (LS). Unsur-unsur yang terkait pada parameter tersebut adalah : a. Parameter Erosivitas (R): Meliputi Energi Kinetik Hujan (EK) dan Inte . Parameter Erodibilitas (K): Meliputi Indeks Tekstur Tanah (M), Bahan organik yang terkandung is Hujan (1). dalam tanah (O), Kelas Strultur Tanah (S) dan Kelas Permeabilitas (P). ¢. Parameter Panjang dan Kemiringan Lereng (LS): Meliputi panjang benda yji (L) dan sudut kemiringan benda uji (S). Dari uji karakteristik yang dilakukan pada tanah pertanian di daerah Kabupaten Semarang, yaitu tanah Andosol di Kecamatan Getasan, tanah Latosol i Kecamatan Ungaran dan tanah Grumosol di Kecamatan Tengaran, diperoleh unsur parameter erod itas sebagai berikut: Basil Uji Karakteristik Tanah Latosol Andosol Grumosol Berat Isi Tanah (yb) 1,97 gr/em? 1,48 gr/em? 2.04 grfom? Kadar Air (Ka) 19,5% 21,91% 22.48% Berat Jenis Butiran Tanah (Gs) 2,61 2,73 2.84 Prosentase Lolos (Analisa Saring) 91,3% 541% 31.80% Koefisien Permeabilitas (K) 1,290 E-Semidt | 1,95 E-Senvdt | 8,541 B-5 em/dt Unsur Debu 84,6 % 46,6 % 21,7% Unsur Pasir 11% 418% 45.4% Unsur Bahan Organik 12 28 22 0,71 0,46 0,29 83, Tesis: Kaan nro anah Andoso,Laosol dan Grumorel untuk berbogh tn en dan nesta hula ‘en nts a gta Kemlagan dan ners hol Hasil penelitian dan analisa data yang dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa : 1, Semakin curam kemiringan tanah maka semakin besar laju kehilangan tanah yang terjadi. 2. 3. Semakin tinggi intensitas hujan maka semakin besar laju kehilangan tanahnya. Antara kemiringan tanah dan intensitas hujan, ternyata yang paling berperan dalam memperbesar laju kehilangan tanah adalah kemiringan tanah. Dari Penelitian dapat dilihat bahwa kemiringan lereng lebih dominan dibanding intensitas hujan dalam memperbesar laju erosi tanah. Besar intensitas hujan terkecil (Iso) pada kemiringan lereng tercuram (25°) tingkat Kehilangan tanah lebih besar dibandingkan pada intensitas hujan terbesar (lg) dengan kemiringan lereng terlandai (5°). 4. Dari ketiga jenis tanah yang uji (Latosol, Andosol dan Grumosol), ternyata disebabkan erodibititas tanahnya paling tinggi dibandingkan dua jenis tanah yji yang lain, yang paling peka terhadap eros! adalah jenis tanah Latosol. Hal i unsur bahan organik jenis tanah latosol paling rendah dan nil 5. Ada perbedaan antara hasil laju kehilangan tanah uji laboratorium dengan hasil perhitungan menggunakan rumus USLE, hal ini dikarenakan pada pengujian laju kehilangan tanah dilaboratorium, sebelumnya tidak menyamakan parameter erodibilitas (kandungan bahan organik dan permeabilitas tanah) antara Kondisi lapangan dengan sampel yang digunakan di laboratorium. Untuk mengukur kepadatan tanah dan jumlah tanah yang diuji hanya menyamakan kadar air antara kondisi lapangan dan dilaboratorium. 62. Saran Dari kajian laju erosi ini dapat dijadikan pertimbangan pada penelitian selanjutnya, bahwa perlu dilekukan penyamaan karakteristik tanah lebih mendalam antara kondisi tanah dilapangan dan tanah uji dilaboratorium, terutama parameter erodibilitasnya. Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan saran dalam rangka pengendalian ‘erosi, Pemanfaatan lahan pertanian di Kec. Getasan yang mempunyai kecuraman lereng 0% - 45% sebaiknya tidak ditanami tanaman semusim dan disertai teknik- 84 Tea oso dan Granosol untuk berhzgal Unglat kemkingan dan tetas hun teknik Konservasi tanah, supaya tidak memperbesar laju erosi. Tingginya laju kehilangan tanah yang terjadi di daerah Getasan dan Sruwen yang terbawa aliran hujan akan menumpuk dimuara sungai berupa sedimen yang sangat halus akan mengakibatkan pendangkalan dan penyempitan penampang basah muara sungai serta berkurangnya kapasitas waduk Rawapening. Kondisi sosial ekonomi masyarakat berpengaruh pada pengelolaan tanah didaerahnya. Pemekaran wilayah pemukiman baru di daerah Gunungpati dan banyaknya penambangan bahan galian yang tidak dikelola secara benar dan tidak disertaiupaya pemulihan daerah bekas penambangan ini _menimbulkan peningkatan crosi lahan dan sedimentasi pada sungai-sungai di Sub DAS Garang. Perlunya menjaga keseimbangan lingkungan dengan menetapkan Kec, Gunungpati dan Kec. Mijen sebagai zona penyangga yang berfungsi sebagai daerah resapan hujan semestinya didukung oleh semua pihak dengan tidak menebang habis tanaman keras perkebunan jati dan karet guna dipakai pengembangan perumahan-perumahan baru. Pengendalian penambangan bahan galian yang serampangan tanpa disertai keperdulian terhadap fingkungan sudeh saatnya mendapat perhatian. 85 Anonim, Arsyad S, Arsyad S. Baver L.D, DAFTAR PUSTAKA (1998). Instruction Manual Rainfall Stmutator. Arafield Ltd, Hampshire, England, (1989). Konservasi Tanah dan Air. IPB, Bogor. (1976). Pengawetan Tanah dan Air. Depat. Ilmu-ilmu ‘Tanah IPB, Bogor. (1956). Soil Phisics. John Wiley and Sons, Inc., New York. ‘Commarindo Mahameru.PT, (1999). Laporan Akhir Proyek Perencanaan Tata Dep. Kehutanan, Dep. Kehutanan, Dep. Kehutanan, Dinas Perhutanan, Lingkungan DAS Rawapening. Pemerintah Daerah Kabupaten Semarang, Ungaran. (2001), Laporan Monitoring dan Evaluasi Tata Air DAS Di Wilayah DAS Garang. Balai Rehabilitasi Lahen dan Konservasi Tanah Pemali Jratun, Semarang, (2002). Hasil Monitoring Pengelolaan DAS Pada Catchment Area SPAS Sub DAS Garang Hulu. Balai Pengelolaan DAS Pemali Jratun, Semarang, (2002), Laporan Monitoring dan Evaluasi Tata Air DAS Pada SPAS Di Wilayah Sub DAS Garang Hulu. Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pemali Jratun, ‘Semarang. (2001), Laproran Proyek Penyusunan Reneana Tanaman Penghijauan Tahun 2001/2002. Dinas Perhutanan dan Konservasi Tanah Pemerintah Daerah Kabupaten Semarang, Ungaran, Gabriels D dan M de Boodt, (1975). Rainfall Simulator for Soil Erosion Studies in the Laboratory. Pedologie XXV (2) : 80-86. Kirkby M.J dan Morgan R.P.C, (1980). Soil Erosion. John Wiley and Sons, Ltd, New York. Komarudin Nanang,(1988). Erosi Pada Tanah Regosol Dalam Berbagai ntensitas Hujan. Tuges Akhir Fakultas Pertanian UGM, Yogyakarta sili Kusumastuti Dyah, (1994). Model Fisis Pemanfaatan Bahan Sintetis Pada Lereng Tanah Pasir Untuk perlindungan Erost Hujan, ‘Tugas Akhir Fakultas Teknik UGM, Yogyakarta Martono, (2004). Pengaruh Intensitas Hujan Dan Kemiringan Lereng Terhadap Laju Kehilangan Tanah Pada tanah Regosol Kelabu Jatinom Klaten, Tesis Magister Teknik Sipil Program Pasca Sarjana UNDIP, Semarang. Mech S.J, (1965). Estimation of Simulated Rainfall as a Research Tool. Trans. of the ASAE. Vol 8 (1) : 66-67. Morgan R.P.C, (1979). Soil Erosion. Longman, London, Morgan R.P.C, (1985). Soil Erosion and Conservation, Longman Scientific & Tehnical. London. Risman, (2004). Pengaruh Pemakaian Pupuk Kandang pada ‘Tanah Regosol Kelabu Terhadap Erosi. Tesis Magister Teknik Sipil Program Pasca Sarjana UNDIP, Semarang. Santun R.P Sitorus, (1985). Bvaluasi Sumberdaya Laban. Tarsito, Bandung. Soegiman, (1982). Imu Tanah, Bratara Karya Aksara, Jakarta, Supli Effendi Rahim, (2000). Pengendalian Erosi Tanah Dalam Rangka Pelestarian Lingkungan Hidup. PT, Bumi Aksara, Jakarta. Suresh. R, (2000), Soi and Water Conservation Engineering. Lomus Offset Press, Dethi. Suripin, (2000). Konservasi Tanah dan Air. UNDIP, Semarang. Suripin, (2001), Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air, Andi, Yogyakarta, Triadmojo B, (1992). Metode Numerik. Beta Afiset, Yogyakarta, Wani Hadi Utomo, (1994). Erosi dan Konservasi Tanah. IKIP, Malang. Wigocno. S (2003), Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Akademika Pressindo, Jakarta, Wischmeier W.H dan Smith, (1958). Rainfull Energy and It's Relationship to ‘Soil Loss. Trans. AM Geophysical Union. Vol (2) : 285-291. Wischmeier W.H dan Smith, (1978). Predicting Rainfall Erosion Losses. USDA Agr. Serv. Handbook 537. xiv