Anda di halaman 1dari 64

PENGUKURAN KOEFISIEN VARIASI, LIMIT DETEKSI DAN

PATHLENGHT PADA PROTEIN DENGAN MICROPLATE READER


LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

IRHAM MALADI
1112096000001

PROGRAM STUDI KIMIA


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2015 M / 1436 H

IDENTITAS LEMBAGA PENELITIAN

Nama Lembaga

: Pusat Sains dan Teknologi Bahan Maju (PSTBM)


BATAN

Alamat

: Kawasan PUSPIPTEK Serpong 15314 Tangerang,


Banten, Indonesia

No. Telp/Fax

: (021)-7560929 / (021)-7560549

Pimpinan

: Drs. Gunawan, M.Sc

Pembimbing PKL

: Dra. Grace Tj Sulungbudi M.Sc

ii

IDENTITAS UNIVERSITAS

Nama Universitas

: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Alamat

: Jl. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Tangerang Selatan 15415

No.Telp./Fax

: (021) 7401925 / (021) 7402982

Rektor Universitas

: Prof. Dr. Dede rosada MA

Dekan Fakultas

: Dr. Agus Salim, S.Ag, M.Si

Ketua Program Studi : Yusraini Dian Inayati Siregar, M.Si


Pembimbing PKL

: Anna Muawanah, M.Si

iii

IDENTITAS MAHASISWA

Nama Lengkap

: Irham Maladi

Tempat dan Tanggal Lahir

: Sukabumi, 27 Mei 1994

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Alamat Rumah

: Jalan pinus 16 blok Ai 4 No 22 Reni Jaya,


Pamulang
Barat, Tangerang Selatan

No. Telp/HP

: 085711051996

NIM

: 1112096000001

Universitas

: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah


Jakarta

Fakultas

: Sains dan Teknologi

Program Studi

: Kimia

iv

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karuniaNya. Shalawat serta salam tak lupa penulis panjatkan kehadirat Nabi Muhammad
SAW. Alhamdulillah penulis dapat menyelesaikan laporan praktek kerja lapangan
dengan judul Pengukuran Koefisien Variasi, Limit Deteksi dan Pathlenght Pada
Protein Dengan Microplate Reader. Laporan ini disusun setelah penulis
menyelesaikan praktek kerja lapangan yang dilaksanakan di Laboratorium Biomedis,
PSTBM- BATAN, Serpong sejak tanggal 26 Januari 27 Februari 2014.
Laporan ini tidak mungkin selesai tanpa pihak-pihak yang terus memberikan
bimbingan serta dukungannya. Oleh sebab itu penulis mengucapkan banyak terima
kasih kepada:
1. Bapak dan Ibu yang selalu mendoakan, memberikan kasih sayang, nasihat yang
manfaat dan memantapkan hati penulis serta dukungan dari awal hingga akhir.
2. Pusat Sains dan Teknologi Bahan Maju (PSTBM) BATAN Serpong, karena telah
memberikan izin kepada penulis untuk melaksanakan praktek kerja lapangannya
selama satu bulan.
3. Pusat Pengujian Magnet dan Baterai, khususnya Laboratorium Biomedis Gedung 42
yang telah memberikan fasilitas Praktek kerja lapangan
4. Ibu Dra. Grace Tj Sulungbudi, M.Sc selaku pembimbing yang telah memberikan
banyak ilmu pengetahuan dan membimbing kepada penulis.
5. Ibu Anna Muawanah, M.Si selaku pembimbing yang telah membimbing dan
membantu penulis dalam menyelesaikan laporannya.
6. Ibu Yusraini Sinegar, M.Si selaku Ketua Program Studi Kimia Fakultas Sains dan
Teknologi

7. Ibu Dra Mujamillah, M.sc dan Ibu Wildan Zakiya yang telah memberikan
masukkan selama Praktek kerja lapangan
8. Kakak tercinta Layalia Silmi yang telah memberikan semangat setiap harinya.
9. Meitra Vidiani dan Desita Triana selaku rekan dalam praktek kerja lapangan
10. Muhammad Lutfi Maulidi dan Ahmad Furqon Syidik selaku senior yang banyak
memberikan nasihat dalam praktek kerja lapangan
11. Teman-teman Mahasiswa Program Studi Kimia Angkatan 2012 yang selalu
mendukung dan memotivasi dalam penulisan.

Penulis menyadari dalam penyusunan laporan ini tidak lepas dari kekurangan.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan.
Semoga laporan ini dapat bermanfaat.

Tangerang , 28 April 2014

Irham Maladi

vi

DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN .

IDENTITAS LEMBAGA PENELITIAN ..

ii

IDENTITAS UNIVERSITAS .

iii

IDENTITAS MAHASISWA ...

vi

KATA PENGANTAR ..

DAFTAR ISI .,

vii

DAFTAR TABEL ..

DAFTAR GAMBAR .

xi

DAFTAR LAMPIRAN .

xii

BAB I PENDAHULUAN ..

1.1 Latar Belakang

1.2 Tujuan .

1.3 Manfaat

BAB II BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL .....

2.1

Sejarah .

2.2

Visi dan Misi ..

2.2.1

Visi ....

2.2.2

Misi ....

Tugas Pokok dan Fungsi .....

2.3

vii

2.3.1

Tugas pokok .......

2.3.2

Fungsi ....

Tujuan dan Sasaran Strategis (2015-2019)..

2.4.1

Tujuan ....

2.4.2

Sasaran Strategis (2015-2019) ....

2.5

Susunan Organisasi .

2.6

Sumber Daya Manusia .....................

11

2.7

Sarana Dan Prasarana ..

12

2.4

BAB III TINJAUAN PUSTAKA ..


3.1

Protein

14

3.1.1

Struktur Protein .....

15

3.1.2

Asam Amino .....

15

3.1.3

Sifat Protein ..........

16

3.2

Bovine Serum Albumin (BSA) ...

17

3.3

Microplate Reader .

17

3.3.1

Prinsip Kerja ....

18

3.3.2

Microwell Plate ....

20

3.4

Metode Bradford ...

21

3.5

Standar Microplate Protokol .....

22

3.6

Intra Inter Microplate .....

23

3.7

Pathlenght

23

3.8

Standar Deviasi dan Koefisien Variasi (%CV) ..

24

3.3.1

Standar Deviasi .......

24

3.3.1

Koefisien Variasi (CV) ..

26

viii

13

3.9

Limit Deteksi ......

27

3.10 Hukum Lambert Beer ...

28

BAB IV METODE PENELITIAN ..

30

4.1

Lokasi Praktek Kerja Lapangan ...

30

4.2

Alat dan Bahan ....

30

4.3

Prosedur Kerja

30

4.3.1

Preparasi Standar BSA ..

30

4.3.2

Standar Microplate Protokol .....

31

4.3.3

Perbandingan Intra Inter Microplate ..

32

4.3.4

Pengukuran Pathlenght ..

33

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN ...

35

5.1. Standar Microplate Protokol ..

35

5.2. Inter dan Intra Microplate ..

39

5.3. Pengukuran Pathlenght ..

41

BAB VI PENUTUP ..

44

6.1

Kesimpulan ..

44

6.2

Saran

44

DAFTAR PUSTAKA ..

45

LAMPIRAN

48

ix

DAFTAR TABEL
Tabel 1. Tipe Microwell Plate ...

21

Tabel 2. Standar Microplate Protokol, baris 1-5 adalah 10 l


standar + 300 l Coomasie dan baris 7-11 adalah 150
l standar + 150 l Coomasie

32

Tabel 3. Intra Inter Microplate ...

33

Tabel 4. Pengukuran pathlenght Microplate, baris 1-5 (Seri C)


adalah 5 l standar + 150 l Coomasie dan baris 7-11
adalah 10 l standar + 300 l Coomasie .......

34

Tabel 5. Hasil Pengukuran Absorbansi BSA Standar Microplate


Protokol 10 l BSA dengan 300 l Coomasie blue....

38

Tabel 6. Hasil Pengukuran Absorbansi BSA Standar Microplate


Protokol 150 l BSA dengan 150 l Coomasie blue......

38

Tabel 7. Hasil Pengukuran Absorbansi Intra Microplate Reader...

39

Tabel 8. Perhitungan Hasil Intra Microplate ..

40

Table 9. Perbandingan Intra Seri A dan C .....

41

Tabel 10. Hasil Absorbansi Pengukuran Pathlenght ..

42

Tabel 11. Nilai Perbedaan Perhitungan Pahtlenght ....

43

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Bagan Struktur Organisasi .

10

Gambar 2. Microplate reader ......

18

Gambar 3. Sistem Microplate Reader .

19

Gambar 4. Microplate Well .....

20

Gambar 5. Skema reaksi analisa protein menggunakan metode


Bradford (pierce,2005) ....

22

Gambar 6. Perbedaan larutan volume cairan .

24

Gambar 7, Preparasi Standar BSA ..

31

Gambar 8. Kurva kalibrasi standar protokol

37

Gambar 9. Kurva kalibrasi menggunakan 150 l BSA dengan 150


l Coomasie blue ......

38

Gambar 10. Regresi linier pembanding ......

40

xi

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Gambar 96- Microplate well ... .

48

Lampiran 2. Gambar Alat dan Bahan. . .

49

Lampiran 3. Hasil Standar Microplate Protokol

50

Lampiran 4. Hasil Pengukuran Intra-Inter dan Pathlenght Microplate

51

xii

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Protein merupakan suatu zat makanan yang amat penting bagi tubuh.

Kebutuhan protein dalam kondisi masyarakat kita pada umumnya sangat sulit
terpenuhi khususnya masyarakat yang tinggal di pedesaan, akibatnya telah banyak
penduduk Indonesia terutama anak-anak mengalami busung lapar akibat kekurangan
protein, terutama dalam hal kebutuhan protein hewani yang sulit terpenuhi. Sebab
banyak harga makanan yang berprotein tinggi mahal harganya, seharusnya bahan
makanan seperti ikan, daging, dan banyak sumber protein lainnya dijual murah
dipasaran, karena rata-rata penduduk Indonesia berada dibawah garis kemiskinan,
walaupun Indonesia terkenal dengan sumber daya yang melimpah. Sehingga pada
kondisi krisis ekonomi saat ini, mengkomsumsi serangga merupakan salah satu
alternatif yang baik, akan tetapi persoalannya masih banyak warga masyarakat kita
belum terbiasa melakukannya, salah satunya adalah dengan mengkomsumsi Ulat kidu
(Ellya, 2010).
Masyarakat memerlukan berbagai metabolit primer seperti karbohidrat, lemak,
dan protein untuk tumbuh dan berkembang. Protein merupakan komponen penting
dalam tubuh manusia dapat diperoleh melalui makanan. Peranan protein di dalam
tubuh antara lain sebagai sumber energi, regenerasi sel, dan terlibat transfer genetika.
Molekul protein mengandung unsur-unsur C, H, O dan unsur khusus yang tidak
terdapat dalam karbohidrat dan lemak yaitu nitrogen (N). Protein mempunyai molekul
besar dengan bobot molekul bervariasi antara 500 sampai jutaan (Poedjiaji, 2006).

Protein tersusun dari beberapa asam amino melalui ikatan peptida. Non
Protein Nitrogen (NPN) terdiri dari senyawa-senyawa nitrogen seperti asam amino
bebas, urea, asam nukleat, amonia, nitrat dan lain-lain. Dalam jaringan hidup,
nitrogen terdapat sebagai sumber protein dalam jumlah relatif besar dan sebagai NPN
dalam jumlah relatif kecil, sehingga adanya NPN dalam bahan makanan yang kaya
protein perlu diketahui untuk memberi gambaran nilai gizi yang sebenarnya dalam
bahan makanan tersebut. Selama proses pengolahan bahan makanan protein terurai
menjadi NPN, oleh karena itu kandungan NPN dalam bahan makanan yang sudah
diolah lebih tinggi daripada bahan makanan yang belum diolah, sebaliknya
kandungan protein lebih tinggi pada bahan makanan yang belum diolah (Silalahi,
1994).
Terdapat berbagai metode analisis untuk mengukur kadar protein, salah satunya
adalah uji Bradford. Uji Bradford adalah suatu uji untuk mengukur konsentrasi protein

total dengan secara kolorimetri dalam suatu larutan. Dalam uji Bradford melibatkan
pewarna Coomassie Brilliant Blue (CBB) yang berikatan dengan protein dalam suatu
larutan yang bersifat asam sehingga memberikan warna (kebiruan). Karena
menghasilkan warna, sehingga secara kolorimetri dapat diukur absorbansinya dengan
menggunakan spektrofotometri (Lambert-Beer) pada panjang gelombang 465-595 nm
(cahaya tampak) (Bradford, 1976). Larutan Bovine Serum Albumin (BSA) digunakan
sebagai larutan standar dalam penentuan kadar protein dengan metode Bradford.
Pengukuran protein ini dimaksudkan untuk mengetahui perbandingan nilai
koefisien variasi dan limit deteksi pada larutan Bovine Serum Albumin (BSA) dengan
menggunakan instrumen Microplate Reader dengan menghitung kurva standar
absorbansi yang didapatkan. Menurut Labnics (2009) Microplate Reader adalah alat
instrumen yang memiliki prinsip kerja yang sama dengan spektrofotometer UV-Vis

yaitu alat untuk menganalisis nilai absorbansi dan akhirnya menghasilkan nilai atau
kondisi untuk mendeteksi sampel dalam cairan. Dengan konsentrasi yang berbeda
didapatkan nilai koefisien variasi pada perubahan yang terjadi dari reaksi protein pada
Larutan Bovine Serum Albumin (BSA) dengan pewarna Coomassie Blue (Khopkar,
2007).
Hasil analisis seperti keakuratan pada Microplate reader diperlukan pengujian
koefisien variasi dan limit deteksi. Koefisien variasi adalah perbandingan antara
standar deviasi dengan nilai rata-rata yang dinyatakan dengan persen. Koefisien
variasi berguna untuk melihat sebaran data dari rata-rata hitungnya. Diketahui bahwa
koefisien variasi meningkat seiring dengan menurunnya konsentrasi analit. Nilai
koefisien variasi yang baik adalah dibawah 3% (Irianto, A. 2010). Batas deteksi
didefinisikan sebagai konsentrasi analit terendah dalam sampel yang masih dapat
dideteksi, meskipun tidak selalu dapat dikuantifikasi. Limit deteksi merupakan batas
uji yang secara spesifik menyatakan apakah analit di atas atau di bawah nilai tertentu
(Purwanto A, 2003).
Pada Microplate reader, pathlenght sangat menentukan dalam pengukuran
absorbansi sampel. Nilai pathlenght akan sangat bervariasi, tergantung pada volume
cairan di dalam microwell bersama dengan ketinggian dan dimensinya. Oleh karena
itu, ketelitian sangat penting dalam pengukuran pathlenght.
1.2

Tujuan
Tujuan dari pengukuran ini adalah untuk mencari nilai koefisien variasi,

deteksi limit dan Pathlength pada protein dengan menggunakan Bovine Serum
Albumin (BSA) sebagai standar menggunakan Microplate Reader dengan variasi
konsentrasi.

1.3

Manfaat
1. Untuk menambah pengetahuan mengenai perbandingan nilai perbedaan
konsetrasi dalam pengukuran protein
2. Mengetahui keakuratan data yang hasilkan dalam pengukuran protein
3. Mengetahui faktor yang menyebabkan analisa data menyimpang

BAB II
BADAN TENAGA NUKLIR NASSIONAL
(BATAN)

2.1

Sejarah
BATAN adalah Lembaga pemerintah Non-Kementerian (LPNK) yang berada

dibawah dan bertanggung jawab langsung kepada presiden, yang dibentuk


berdasarkan pasal 4 Undang Undang Nomor 10 Tahun 1997. Sementara itu dalam
melaksanakan tugasnya, BATAN berada dibawah koordinasi Menteri Negara Riset
dan Teknologi, sesuai dengan keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2011 tentang
Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi, dan Tata kerja LPND,
yang terakhir kali diubah dengan Peraturan Presiden RI Nomor 64 Tahun 2005.
Selanjutnya, kedudukan BATAN sebagai pelaksana dibidang tenaga nuklir dipertegas
didalam Peraturan Presiden Nomor 46 Tahun 2013 tentang Badan Tenaga Nuklir
Nasional.
Pusat Sains dan Teknologi Bahan Maju (PSTBM) adalah satu unit kerja di
BATAN dibawah Deputi Bidang Sains dan Aplikasi Teknologi Nuklir. PSTBM
terlahir dengan nama Pusat Penelitian Sains Materi (PPSM) pada tahun 10 Desember
1986 yang kemudian berganti nama dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Ilmu
Bahan (P3IB). Dengan adanya semangat reformasi birokrasi dan dinamika organisasi
BATAN yang kian dinamis dan maju, pada tahun 2014 PTBIN berganti nama
menjadi Pusat Sains dan Teknologi Bahan Maju (PSTBM).
PSTBM di pimpin oleh seorang Kepala Pusat (Kapus) setingkat eslon (II).
Kapus yang menjabat saat ini adalah Drs. Gunawan, M.Sc. Berikut ini adalah namanama pejabat yang pernah menjadi Kapus di PSTBM :

a. Prof. Dr. Marsongkohadi


b. Dr. Wuryano
c. Drs. Gunanjar, SU
d. Dr. Ridwan
e. Ir. Iman Kuntoro
f. Drs. Gunawan, M.Sc (masih menjabat)

2.2

Visi dan Misi

2.2.1

Visi
Visi PSTBM mengacu kepada visi organisasi induknya, yaitu BATAN. Visi

BATAN disusun dengan mempertimbangkan dokumen perencanaan pembangunan


nasional dan kebijakan litbang nasional yang berada di atasnya yaitu Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005 2025. Rencana
Pembanguanan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015 2019, dan Jakstranas
Iptek 2015- 2019.
Visi RPJPN 2005 2025 mengarah pada terwujudnya Indonesia sebagai
negara mandiri, maju, adil dan makmur. Sementara itu, RPJMN 2015 2019
menekankan pada pembangunan keunggulan kompetitif perekonomian yang berbasis
SDA lokal, SDM yang berkualitas, dan kemampuan Iptek.
BATAN sebagai lembaga pemerintah yang diberi amanat untuk melaksanakan
penelitian, pengembangan dan pendayagunaan ilmu pengetahuan dan teknologi
nuklir, turut bertanggung jawab untuk menciptakaan keunggulan iptek tersebut,
terutama di tingkat regional. Oleh karena itu, visi BATAN pada tahun 2015 2019

adalah sebagai berikut BATAN Unggul di Tingkat Regional, Berperan dalam


Percepatan Kesejahteraan Menuju Kemandirian Bangsa.
Visi dari PSTBM pada tahin 2019 adalah menjadi pusat unggulan litbang
bahan maju dengan teknik berkas neutron ditingkat regional yang didukung oleh
aplikasi teknologi berkas neutron. Indikasi tercapainya visi tersebut antara lain
diperolehnya beberapa prototipe bahan maju yang unggul dengan teknologi nuklir,
khususnya teknologi berkas neutron untuk aplikasi di bidang energi, kesehatan dan
lingkungan. Indikator keberhasilan lainnya adalah termanfaatkannya fasilitas
teknologi berkas neutron untuk litbang bahan maju dalam kerangka pengembangan
sumber daya iptek nasional.
2.2.2

Misi

a. Melaksanakan penelitian dan pembangunan di bidang sains bahan industry


nuklir dan bahan maju berbasis teknoligi nuklir
b. Melaksanakan penelitian dan pengembangan di bidang pemanfaatan teknologi
berkas neutron
c. Melaksanakan pemantauan keselamatan kerja, kegiatan proteksi radiasi, dan
oprasi, pemeliharaan dan pengembangan elektromekanik dan instrumentasi
fasilitas penelitian dan pengembangan teknologi bahan maju
d. Melakukan pengembangan, pemantauan pelaksanaan dan audit internal system
manajemen mutu penelitian dan pengembangan teknologi bahan maju
e. Melaksanakan urusan perencanaan, persuratan dan kearsipan, kepegawaian,
keuangan, perlengkapan dan rumah tangga, dokumentasi ilmiah dan publikasi
serta pelaporan.

2.3

Tugas pokok dan Fungsi

2.3.1

Tugas Pokok
Pusat Sains dan Teknologi Bahan Maju mempunyai tugas melaksanakan

perumusan dan pengendalian kebijakan teknis, pelaksanaan, pembinaan dan


bimbingan di bidang penelitian dan pengembangan bahan maju berbasis teknologi
nuklir, sains bahan industri nuklir dan teknologi neutron.
2.3.2

Fungsi
Dalam melaksanakan tugas tersebut, PSTBM menyelenggarakan fungsi

sebagai berikut:

1.

Pelaksanaan urusan perencanaan, persuratan dan kearsipan, kepegawaian,


keuangan, perlengkapan dan rumah tangga, dokumentasi ilmiah dan publikasi
serta pelaporan;

2.

Pelaksanaan penelitian dan pengembangan di bidang sains bahan industri nuklir


dan bahan maju berbasis teknologi nuklir;

3.

Pelaksanaan penelitian dan pengembangan pemanfaatan teknologi berkas


neutron;

4.

Pelaksanaan pemantauan keselamatan kerja dan pengelolaan keteknikan;

5.

Pelaksanaan jaminan mutu; dan

6.

Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Deputi Bidang Sains dan Aplikasi
Teknologi Nuklir.

2.4

Tujuan dan Sasaran strategis (2015 2019)

2.4.1

Tujuan
Meningkatkan kompentensi Pusat Sains dan Teknologi Bahan Maju dalam :

a. Mengembangkan Bahan Maju pada Baterai, Smart Magnet, Bahan Struktur


Reaktor dan Bahan Nano Material untuk Kesehatan
b. Meningkatkan Kinerja dan Pendayagunaan Fasilitas Berkas Neutron dan
Teknik Aktivasi Neutron serta fasilitas pendukung Litbang Bahan lainnya
c. Meningkatkan kualitas hasil Litbang Bahan Maju sesuai dengan Sistem Mutu
Terpadu
2.4.2

Sasaran Stategis (2015 2019)

a. Diperolehnya Prototipe Baterai Lithium padat dan Smart Magnet


b. Diperolehnya hasil Litbang Iptek bahan maju yang berkualitas untuk
mendukung program BATAN di bidang energi, kesehatan dan lingkungan
c. Keberhasilan sasaran strategis tersebut didukung dengan laboratorium berkas
neutron dan kegiatan administrasi yang efektif dan efesien berdasarkan system
mutu terpadu
2.5

Susunan Organisasi
Susunan organisasi dan tata kerja PSTBM adalah sebagai berikut:
a. Bagian Tata Usaha; terdiri atas
1. Subbagian Persuratan, Kepegawaian, dan Dokumentasi Ilmiah;
2. Subbagian Keuangan; dan
3. Subbagian Perlengkapan
b. Bidang Sains Bahan Maju;

c. Bidang Teknologi Berkas Neutron;


d. Bidang Keselamatan Kerja dan Keteknikan; terdiri atas
1. Subbidang Keselamatan Kerja dan Proteksi Radiasi; dan
2. Subbidang Keteknikan
e. Unit Jaminan Mutu; dan
f. Kelompok Jabatan Fungsional
Bagan struktur PSTBM BATAN seperti terlihat pada gambar berikut ini:

Gambar 1. Bagan Struktur Organisasi


Dalam kerja praktek yang dilaksanakan, Mahasiswa ditempatkan pada Bidang
Sains Bahan Maju mengerjakan proyek rancang bangun sistem pengukuran magnetik
menggunakan fluxgate magnometer.

10

2.6

Sumber Daya Manusia


Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya PSTBM didukung oleh Sumber

Daya Manusia (SDM) sebanyak 130 orang pegawai yang terdiri dari pejabat
fungsional teknis dan non teknis serta fungsional umum. 54 orang pegawai PSTBM
merupakan pejabat fungsional peneliti, 26 orang pejabat fungsional pranata nuklir, 5
orang litkayasa, 1 orang pranata humas, 2 orang pustakawan, 1 orang analis pegawai,
1 orang arsiparis dan 2 orang pengawas radiasi.
Sampai akhir Desember 2014 dapat disampaikan komposisi SDM di PSTBM
adalah sebagai berikut :

S3

: 20

Orang

S2 Teknis

: 35

Orang

S2 Non Teknis

: 1

Orang

S1 Teknis

: 22

Orang

S1 Non Teknis

: 4

Orang

S0/D4 Teknis

: 8

Orang

S0/D3 Teknis

: 16

Orang

S0/D3 Teknis

: 4

Orang

D1 &D2 Teknis

: 2

Orang

SLTA Teknis

: 13

Orang

SLTA Non Teknis

: 5

Orang

Sedangkan pegawai yang sedang tugas belajar adalah sebagai berikut :

Tugas belajar di dalam negeri 3 (tiga) orang S3, 1 (satu) orang S2, 2 (dua)
orang S1, dan tugas belajar di luar negeri: 2 (dua) orang S3.

11

2.7

Sarana dan Prasarana


Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya Pusat Sains dan Teknologi Bahan

Maju dilengkapi dengan sarana dan prasarana sebagai berikut:


1. Fasilitas Bidang Teknologi Berkas Neutron
Fasilitas Bidang Teknologi Berkas Neutron yang berada di Balai Percobaan
Hamburan Neutron (BPHN) Gedung No. 40 dan di Balai Percobaan Reaktor
(Experimental Hall Reactor = XHR). Fasilitas ini dilengkapi dengan dua buah
tabung pemandu neutron, Difraktometer Neutron untuk Pengukuran Tegangan
Sisa (DN1/RSMD), Difraktometer Empat Lingkaran/Difraktometer Tekstur
(DN2/TD), Difraktometer Neutron Serbuk Resolusi Tinggi (DN3/HRPD),
Spektrometer Neutron Tiga Sumbu (SN1/TAS), Spektrometer Hamburan Neutron
Sudut Kecil (SN2/SANS/SMARTer), Spektrometer Hamburan Neutron Sudut
Kecil Resolusi Tinggi (SN3/HRSANS) dan Fasilitas Radiografi Neutron
(RN1/NRF) serta dilengkapi pula dengan fasilitas preparasi sample dan bengkel
mekanik. Disamping itu, dilengkapi pula dengan Fasilitas pengujian dengan
Neutron Activation Analysis (NAA) yaitu spektrometer gamma yang berada di
gedung reaktor (RSG-GAS).
2. Laboratorium Litbang Bidang Sains Bahan Maju
Laboratorium Litbang Bidang Sains Bahan Maju dilengkapi dengan : X-Ray
Diffractometer (XRD), Tri Arc Melting Furnace model Centor 5TA, Vibrating
Sample Magnetometer (VSM) tipe OXFORD VSM 1.2H, Differential Scanning
Calorimeter (DSC), LCR-Meter, Pulse Magnetizer, High Energy Ball Milling, JcTc Meter dan GMR, BET, Micro Hardness Tester, PSA, FTIR dan Raman
Spektrometer, High Speed Refrigerated Centrifuge dan Glove Box, Mini MAC
Separator, Deep Frezer with Refrigarator Set, Ultrasonic Probe, Biosafety

12

Cabinet. Fasilitas Laboratorium Kimia dan Laboratorium Perlakuan Panas.


Scanning Electron Microscope (SEM)-Energy Dispersive X-Ray (EDX), Optical
Microscope,

Differential Thermal Analysis/Simultance Thermal Analysis

(DTA/STA), Uji Korosi, Sonochemistry, Polarography/Voltametry serta UTM,


Battery Charger-discharger, AFM, PLD. Fasilitas laboratorium : Sintesis Kimia,
Pelapisan, Solid

state, elektrokimia, Biomedis, Material Temperatur Tinggi,

Sintesis Kering, dan Lab. Uji Bahan.


3. Fasilitas Bidang Keselamatan Kerja dan Keteknikan
Fasilitas Bidang Keselamatan Kerja dan Keteknikan dilengkapi dengan
peralatan/sarana alat uji kekerasan, Survey Meter/Detector Radiasi, TLD digital,
Cutting Device, Mesin Bubut, Voltage Source Precision serta Fasilitas
Laboratorium Keteknikan.

13

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1

Protein

Protein merupakan salah satu kelompok bahan makronutrien. Tidak seperti


bahan makronutrien lainnya (karbohidrat, lemak), protein ini berperan lebih penting
dalam pembentukan biomolekul daripada sumber energi. Namun demikian apabila
organisme sedang kekurangan energi, maka protein ini dapat juga di pakai sebagai
sumber energi. Keistimewaan lain dari protein adalah strukturnya yang selain
mengandung N, C, H, O, kadang mengandung S, P, dan Fe (Sudarmadji, 1989).
Protein merupakan suatu zat makanan yang sangat penting bagi tubuh, karena
zat ini disamping berfungsi sebagai zat pembangun dan pengatur, Protein adalah
sumber asam- asam amino yang mengandung unsur C, H, O dan N yang tidak
dimiliki oleh lemak atau karbohidrat. Molekul protein mengandung pula posfor,
belerang dan ada jenis protein yang mengandung unsur logam seperti besi dan
tembaga (Budianto. A.K, 2009).
Protein adalah molekul makro yang mempunyai berat molekul antara lima
ribu hingga beberapa juta. Protein terdiri atas rantai-rantai asam amino, yang terikat
satu sama lain dalam ikatan peptida. Asam amino yang terdiri atas unsur-unsur
karbon, hidrogen, oksigen dan nitrogen ; beberapa asam amino disamping itu
mengandung unsur-unsur fosfor, besi, iodium, dan cobalt. Unsur nitrogen adalah
unsur utama protein, karena terdapat di dalam semua protein akan tetapi tidak terdapat
di dalam karbohidrat dan lemak. Unsur nitrogen merupakan 16% dari berat protein.
Molekul protein lebih kompleks daripada karbohidrat dan lemak dalam hal berat

14

molekul dan keanekaragaman unit-unit asam amino yang membentuknya (Almatsier.


S, 1989).
3.1.1

Struktur Protein
Molekul protein merupakan rantai panjang yang tersusun oleh mata rantai

asam-asam amino. Dalam molekul protein, asam-asam amino saling dirangkaikan


melalui reaksi gugusan karboksil asam amino yang satu dengan gugusan amino dari
asam amino yang lain, sehingga terjadi ikatan yang disebut ikatan peptida. Ikatan
pepetida ini merupakan ikatan tingkat primer. Dua molekul asam amino yang saling
diikatkan dengan cara demikian disebut ikatan dipeptida. Bila tiga molekul asam
amino, disebut tripeptida dan bila lebih banyak lagi disebut polypeptida. Polypeptida
yang hanya terdiri dari sejumlah beberapa molekul asam amino disebut oligopeptida.
Molekul protein adalah suatu polypeptida, dimana sejumlah besar asam-asam
aminonya saling dipertautkan dengan ikatan peptida tersebut (Gaman, P.M, 1992)
3.1.2

Asam Amino
Asam amino ialah asam karboksilat yang mempunyai gugus amino. Asam

amino yang terdapat sebagai komponen, protein mempunyai gugus NH2 pada atom
karbon dari posisi gugus COOH.
Rumus umum untuk asam amino ialah
RCHCOOH NH2
Pada umumnya asam amino larut dalam air dan tidak larut dalam pelarut
organik non polar seperti eter, aseton, dan kloroform. Sifat asam amino ini berbeda
dengan asam karboksilat maupun dengan sifat amina. Asam karboksilat alifatik

15

maupun aromatik yang terdiri atas beberapa atom karbon umumnya kurang larut
dalam air tetapi larut dalam pelarut organik. Demikian amina pula umumnya tidak
larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik (Poejiadi. A, 1994).
Asam amino adalah senyawa yang memiliki satu atau lebih gugus karboksil
(COOH) dan satu atau lebih gugus amino (NH2) yang salah satunya terletak pada
atom C tepat disebelah gugus karboksil (atom C alfa). Asam-asam amino bergabung
melalui ikatan peptida yaitu ikatan antara gugus karboksil dari asam amino dengan
gugus amino dari asam amino yang disampingnya (Sudarmadji. S, 1989).
3.1.3

Sifat Protein
Protein merupakan molekul yang sangat besar, sehingga mudah sekali

mengalami perubahan bentuk fisik maupun aktivitas biologis. Banyak faktor yang
menyebabkan perubahan sifat alamiah protein misalnya : panas, asam, basa, pelarut
organik, pH, garam, logam berat, maupun sinar radiasi radioaktif. Perubahan sifat
fisik yang mudah diamati adalah terjadinya penjendalan (menjadi tidak larut) atau
pemadatan (Sudarmadji. S, 1989).
Ada protein yang larut dalam air, ada pula yang tidak larut dalam air, tetapi
semua protein tidak larut dalam pelarut lemak seperti misalnya etil eter. Daya larut
protein akan berkurang jika ditambahkan garam, akibatnya protein akan terpisah
sebagai endapan. Apabila protein dipanaskan atau ditambahkan alkohol, maka protein
akan menggumpal. Hal ini disebabkan alkohol menarik mantel air yang melingkupi
molekul-molekul protein. Adanya gugus amino dan karboksil bebas pada ujung-ujung
rantai molekul protein, menyebabkan protein mempunyai banyak muatan dan bersifat
amfoter (dapat bereaksi dengan asam maupun basa). Dalam larutan asam (pH rendah),

16

gugus amino bereaksi dengan H+, sehingga protein bermuatan positif. Bila pada
kondisi ini dilakukan elektrolisis, molekul protein akan bergerak kearah katoda. Dan
sebaliknya, dalam larutan basa (pH tinggi) molekul protein akan bereaksi sebagai
asam atau bermuatan negatif, sehingga molekul protein akan bergerak menuju anoda
(Winarno. F.G, 1992).
3.2

Bovine Serum Albumin (BSA)


Bovin serum albumin (BSA) adalah protein globular yang berukuran besar

(66.000 Dalton). BSA dapat rusak karena pemanasan. Albumin merupakan kelompok
protein yang larut dalam air. Albumin adalah protein yang paling banyak dalam
sistem sirkulasi. Albumin pada sintesis awalnya dalam bentuk preproalbumin di hati.
Serum albumin memiliki nilai viskositas intrinsik 3,7-4,2 mL/g. Peningkatan
viskositas tergantung pada peningkatan ikatan disulfida BSA. BSA digunakan dalam
komponen media sel untuk regenerasi tanaman dari kultur sel, pembentuk busa, gelasi
dan pengikat ligan.
3.3

Microplate reader
Plate reader atau juga disebut microplate reader adalah instrumen yang

digunakan untuk mendeteksi peristiwa pada sampel biologi, kimia atau peristiwa fisik
didalam microwell plate. Microplate reader merupakan instrumen laboratorium yang
didesain untuk mendeteksi absorbansi sampel pada microwell plates (Thermo, S.
2010).

17

Gambar 2. Microplate reader


Microplate reader banyak digunakan dalam penelitian, penemuan obat,
validasi bioassay, kontrol kualitas dan proses manufaktur di industri farmasi dan
bioteknologi dan organisasi akademis. Format microplate yang paling umum
digunakan di laboratorium penelitian akademis atau laboratorium diagnostik klinis
adalah 96-well (8 oleh 12 matriks) dengan volume yang khas antara 100 dan 200 uL
per well. Microplate yang lebih besar (384- 536 well microplates) biasanya digunakan
untuk aplikasi penyaringan. Deteksi yang paling umum untuk tes microplate adalah
absorbansi, intensitas fluoresensi, dan fluoresensi polarisasi (BioTek, 2006).
3.3.1

Prinsip Kerja
Instrumen ini bekerja pada prinsip "fotoelektrik kolorimetri" yaitu metode

pengukuran kadar senyawa dengan menggunakan instrument yang berdasarkan


hukum lambert-beer pada daerah panjang gelombang cahaya tampak dan intensitas
cahaya diukur secara fotoelektrik (tidak visual) . Alat ini dapat mendeteksi
absorbansi, mendeteksi konsentrasi sampel dan cairan standar. Juga dapat
menganalisis dan menghitung nilai absorbansi dan akhirnya menghasilkan nilai-nilai
atau kondisi untuk mendeteksi sampel dalam cairan (Thermo, S. 2010).

18

Gambar 3. Sistem microplate reader


Microplate

reader

dapat

menentukan

absorbansi,

fluoresensi

dan

luminescence pengukuran. microwell plate merupakan bagian dari microplate reader


dan memungkinkan untuk melakukan banyak percobaan. Terlepas dari jenis uji,
percobaan pada microplate reader memanfaatkan kurva standar untuk menentukan
nilai-nilai eksperimental. Kurva ini menggunakan sampel konsentrasi dikenal untuk
menghasilkan garis yang paling cocok atau kurva standar. Nilai eksperimen kemudian
diekstrapolasi ke kurva atau dihitung dengan menggunakan persamaan dari regresi
linier. Selain standar dan sampel yang dijalankan pada microwell plate, blank bersama
dengan kontrol positif dan negatif juga digunakan dalam uji untuk memastikan
microwell plate bekerja dengan benar. Beberapa microplates reader berkerja pada
panjang ultraviolet dan menganalisis pada panjang gelombang 340 700 nm. Sinar
cahaya melewati sampel dengan diameter berkisar antara 1 - 3 mm. detektor
mendeteksi cahaya yang datang melalui sampel, memperkuat sinyal dan manentukan
absorbansi sampel. Reading system pada detektor akan mengubahnya menjadi data.

19

Beberapa microplate reader menggunakan sistem double beam (Thermo, S. 2010).


3.3.2

Microplate well
Microplate well seringkali digunakan dalam kolorimetri, fluoresensi dan

luminesi tes. Aplikasi khas lainnya termasuk kultur sel, ELISA, dan pengujian
toksisitas. Bahan yang berbeda tersedia untuk aplikasi yang beragam. Polystyrene
adalah bahan Microplate well yang sering digunakan untuk kejelasan optik dan karena
kemampuannya

untuk

dimodifikasi.

Polypropylene

adalah

pilihan

untuk

kompatibilitas dengan reagen dan ketahanan terhadap bahan kimia dan suhu ekstrem
(Thermo, 2010).

Gambar 4. Microwell Plate


Menurut BioRad (2011) berbagai macam tipe Microwell Plate dibuat untuk
aplikasi yang berbeda dengan material yang berbeda pula.

20

Tabel 1. Tipe Microwell Plate


Tipe

Deskripsi

Material

Aplikasi

Solid

bentuk tunggal, satu Polypropilen


Kultursell, ELISA,
(PP),
bagian dengan bagian Polystirena(PS) florosensi, Luminensi
bawah yang solid

Bawah optik

Struktur atas hitam PS struktur atas Florosensi, Cell imaging


atau

putih

dengan dengan polimer

bagian bawah yang atau dasar kaca


jelas
Penyaring

96 Well 1 mL dengan PP

dengan Filtrasi sel dan DNA

filter atau membran Polyethylene

genom. Pemurnian

yang mengikat

plasmid DNA dan

(PET)

produk PCR

Microwell plate yang paling umum digunakan di laboratorium penelitian akademis atau
laboratorium diagnostik klinis adalah 96-well (12 matriks) dengan volume reaksi yang khas
antara 100 hingga 200 uL per well. microplate yang lebih besar (384-536 well) biasanya
digunakan untuk aplikasi penyaringan (Lorenzen, S.W. 1993).

3.4

Metode Bradford
Metode

Bradford

digunakan

untuk

menentukan

konsentrasi

protein

dalamlarutan. Prinsip metode ini berdasarkan pembentukan komplek antara


Coomassie Brillant Blue (CBB) dengan larutan protein yang diukur pada panjang

21

gelombang 595 nm (gambar 2.4). Pembentukan komplek disebabkan adanya ikatan


antara pewarna CBB dengan protein melalui interaksi ionik antara gugus asam
sulfonat dengamuatan positif protein yaitu pada gugus amina. Asam amino bebas,
peptida dan protein dengan berat molekul kecil tidak menghasilkan warna biru dengan
reagen ini. Umumnya berat molekul peptida atau protein harus lebih besar dari 3000
Da untuk menghasilkan warna biru dengan reagen ini. Banyaknya ligan yang
berikatan dengan molekul protein sebanding dengan muatan positif protein, sehingga
jumlah absorbansi sebanding dengan kadar protein dalam larutan (Thermo, S. 2010).

Gambar 5. Skema reaksi analisa protein menggunakan metode Bradford (Thermo, S.


2010)
3.5

Standar Microplate protokol


Menurut Thermo scientific (2010) pengukuran dengan konsentrasi yang

berbeda pada setiap kolom pada microplate. Protokol untuk pengukuran absorbansi
endpoint di 595 nm. Microwell plate dengan kurva standar dari 0 sampai 100 mg / ml
dengan dengan ccampuran sampel dan standar.

22

perbedaan antara 2 variasi yang sama dengan konsentrasi yang sama pula akan
terlihat pada persen nilai yang dihitung, dengan menghitung koefisien variasinya.
Perbandingan dengan blanko dengan sampel yang monsentrasinya lebih kecil dapat
dilihat dengan menghitung limit deteksi.
3.6

Intra Inter Microplate


Pengujian intra dan inter pada microplate bertujuan untuk membandingkan

nilai koefisien variasi pada dua microwell plate. Perbandingan koefisien variasi
konsentrasi yang sama pada microwell plate yang sama pula disebut inter.
Perbandingan koefisien variasi konsentrasi yang sama pada microwell plate yang
berbeda adalah intra. Factor kesalahan akan terlihat pada saat nilai varasi yang
berbeda. faktor tersebut bida karena

Ketidak akuratan dalam memipet

Kontaminasi bakteri atau jamur pada sampel atau reagen

Kontaminasi silang antar reagen

Variasi suhu yang berbeda selama inkubasi berlangsung

Beberapa Well kering ketika di inkubasi


Faktor tersebut dapat menyebabkan perbedaan nilai pada 2 microwell plate

yang berbeda walaupun memiliki konsentrasi reagen atau sampel yang sama.
3.7

Pathlength
Pathlength cairan terutama pada microwell plate bergantung pada volume

cairan, microplate well dimensi dan dari permukaan cairan. Cairan pada pathlength
tidak dapat dihitung secara langsung dari volume yang dimasukkan dengan pipet
kedalam well. Microwell plate memiliki bentuk kerucut, yang membuat Perhitungan

23

Pathlength menjadi rumit. Oleh karena itu, geometri well menyebabkan absorbansi
yang diukur memiliki ketergantungan yang sangat rumit pada volume cairan. Hal ini
sangat tergantung pada jenis microplate dan komposisi cairan. Gambar 4
menunjukkan bagaimana pathlength cairan dapat berbeda pada microplates dari
produsen yang berbeda bahkan ketika dipipetkan pada volume yang sama dari cairan
yang sama. (BioTek, 2010)

Gambar 6. Perbedaan larutan volume cairan


Menurut Thermo (2010) Komposisi Buffer yang berbeda juga mengubah
pathlengths cairan, karena karakteristik fisik (permukaan, tekanan, polaritas, dll)
mempengaruhi miniskus larutan.
3.8

Standar deviasi dan koefisien variasi (%CV)

3.8.1

Standar Deviasi
Standar deviasi merupakan ukuran penyebaran yang paling banyak digunakan.

Semua gugus data dipertimbangkan sehingga lebih stabil dibandingkan dengan


ukuran lainnya. apabila dalam gugus data tersebut terdapat nilai ekstrem, standar
deviasi menjadi tidak sensitif lagi, sama halnya seperti mean (Ledhyane, 2005).

24

Standar Deviasi (SD) memiliki beberapa karakteristik khusu. SD tidak berubah


apabila setiap unsur pada gugus datanya di tambahkan atau dikurangkan dengan nilai
konstan tertentu. SD berubah apabila setiap unsur pada gugus datanya dikali/dibagi
dengan nilai konstan tertentu. Bila dikalikan dengan nilai konstan, standar deviasi
yang dihasilkan akan setara dengan hasilkali dari nilai standar deviasi aktual dengan
konstan (Harinaldi, 2005).
Rumus Simpangan Baku untuk Data Tunggal

Untuk data sample menggunakan rumus


n

(x x )

i=1

S=

n 1

dimana
xi = nilai data
x = rata rata sampel
n = jumlah data

Untuk data populasi menggunkan rumus


n

(x )

i=1

xi = nilai data
= rata rata populasi
n = jumlah data

Rumus Simpangan Baku Untuk Data Kelompok

25

Untuk sample menggunakan rumus

f (x x )
i

i=1

S=

n 1

Untuk populasi menggunakan rumus

f (x )
i

3.8.2

i=1

Koefisien Variasi (CV)


Koefisien variasi merupakan suatu ukuran variansi yang dapat digunakan

untuk membandingkan suatu distribusi data yang mempunyai satuan yang berbeda.
Kalau kita membandingkan berbagai variansi atau dua variabel yang mempunyai
satuan yang berbeda maka tidak dapat dilakukan dengan menghitung ukuran
penyebaran yang sifatnya absolut (Ledhyane, 2005)
Koefisien variasi adalah suatu perbandingan antara simpangan baku dengan
nilai rata-rata dan dinyatakan dengan persentase.
Dengan Rumus

CV =

CV =

x100% , untuk populasi

S
__

x100% , untuk sampel

X
dimana
= varians atau ragam untuk populasi

26

S = Simpangan Baku
X = rata-rata untuk sampel
= rata-rata populasi
Besarnya koefisien variasi akan berpengaruh terhadap kualitas sebaran data. Jadi jika
koefisien variasi semakin kecil maka datanya semakin homogen dan jika koefisien
korelasi semakin besar maka datanya semakin heterogen.
3.9

Limit Deteksi
Batas deteksi adalah jumlah terkecil analit dalam sampel yang dapat dideteksi

yang masih memberikan respon signifikan dibandingkan dengan blangko. Batas


deteksi merupakan parameter uji batas. Batas kuantitasi merupakan parameter pada
analisis renik dan diartikan sebagai kuantitas terkecil analit dalam sampel yang masih
dapat memenuhi kriteria cermat dan seksama (Harinaldi, 2005).
Penentuan batas deteksi suatu metode berbeda-beda tergantung pada metode
analisis itu menggunakan instrumen atau tidak. Pada analisis yang tidak menggunakan
instrumen batas tersebut ditentukan dengan mendeteksi analit dalam sampel pada
pengenceran bertingkat. Pada analisis instrumen batas deteksi dapat dihitung dengan
mengukur respon blangko beberapa kali lalu dihitung simpangan baku respon blangko
dan formula di bawah ini dapat digunakan untuk perhitungan (Ruseffendi, H.E.T.
1998).
Q = (k x Sb)/Sl
Dimana :
Q = LOD (batas deteksi) atau LOQ (batas kuantitasi)

27

k = 3 untuk batas deteksi atau 10 untuk batas kuantitasi


Sb = simpangan baku respon analitik dari blangko
Sl = arah garis linear (kepekaan arah) dari kurva antara respon terhadap konsentrasi =
slope (b pada persamaan garis y = a+bx)
Batas deteksi dan kuantitasi dapat dihitung secara statistik melalui garis
regresi linier dari kurva kalibrasi. Nilai pengukuran akan sama dengan nilai b pada
persamaan garis linier y = a + bx, sedangkan simpangan baku blanko sama dengan
simpangan baku residual (Sy/x.)

Batas deteksi (LoD)


Karena k = 3, Simpangan baku (Sb) = Sy/x, maka:
LoD = (3 Sy/x)/ Sl

Batas kuantitasi (LoQ)


Karena k = 10, Simpangan baku (Sb) = Sy/x, maka:
LoQ = (10 Sy/x)/Sl

3.10

Hukum Lambert - Beer


Absorbansi adalah Nilai suatu polarisasi cahaya yang terserap oleh bahan

tertentu pada panjang gelombang tertentu sehingga akan memberikan warna tertentu
terhadap bahan. (Khopkar 2007).
A= log T = log PT / PO = log PT / PO ............(1)
Ketika radiasi elektromagnetik monokromatik melewati lapisan tipis dari sampel,
ketebalan (dx) dari lapisan tersebut akan mengurangi kekuatan dari dP. Hubungan
antara pengurangan kekuatan akibat ketebalan lapisan dan konsentrasi analit C
sebagai

28

-dP/P = C dx ............................................................................................................(2)
Dimana P adalah kekuatan dari lapisan tipis sampel, adalah konstanta proporsional.
Lalu diintegralkan
p=pT

x=b
dP
=

dx ....(3)
p=po P
x=0

Menjadi
Ln(P0 / PT) = b C ...................................................................................................(4)
b adalah ketebalan sampel secara umum
Dimana adalah absorptivitas analit dengan satuan cm-1 kons-1
persamaan (1) ke (4), memberikan persamaan (5):
A = b C ...................................................................................................................(5)
konsentrasi diekspresikan dengan molaritas, maka absorptivitas diubah menjadi
absorptivitas molar, dengan satuan cm-1 M-1.
A = b C ....................................................................................................................(6)
Nilai dari dan bergantung pada panjang gelombang dari radiasi elektromagnetik.
Persamaan tersebut memiliki persamaan yang linier antara absorbansi dan
konsentrasi, dan persamaan ini kita kenal dengan hukum lambert-beer
Dimana :
= tetapan absorptivitas molar (jika konsentrasi larutan yang diukur dalam molar)
= tetapan absorptivitas (jika konsentrasi larutan yang diukur dalam ppm).

29

BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1

Lokasi Praktek Kerja Lapangan


Praktek kerja lapangan yang termaksuk kedalam ruang lingkup Biokimia ini

dilaksanakan pada tanggal 26 Januari sampai 27 Februari 2014 pada Pusat Sains dan
Teknologi Bahan Maju BATAN gedung 42, di Laboratorium biomedis, beralamat di
kompleks PUSPIPTEK Serpong, Tangerang
4.2

Alat dan Bahan


Alat yang digunkan pada penelitian ini adalah 96- microplate well , Pipet

volum, Spatula, microtube, Rak microtube, Labu ukur 5 ml. Sedangkan Bahan yang
digunakan pada penelitian adalah Bovine Serum Albumin (BSA) sebagai Standar,
Coomassie blue, dan DI Water
4.3

Prosedur Kerja

4.3.1

Preparasi Standar BSA


Siapkan 7 buah microtube dan beri label 100, 200, 400, 600, 800, 1000, 2000

g/mL . Di buat larutan stok 5000 g/mL dengan cara menimbang BSA sebanyak
0.0025 mg dalam labu ukur 5 mL. Dari larutan stok dibuat larutan standar BSA
dengan konsentrasi 100, 200, 400, 600, 800, 1000, 2000 g/mL dari larutan stok
5000 g/mL.

30

Gambar 7. Preparasi Standar BSA


Beri label pada microtube dengan 100, 200, 400, 600, 800, 1000, 2000 g/L.
4.3.2

Standar Microplate Protokol

Pipet 10 L standar BSA untuk baris 1-5 dimasukkan kedalam Microwell


Plate, kosongkan baris 6 dan 12 ditambah 300 l Coomassie blue. Pada baris 7-11
dimasukkan 150 l standar dengan 150 l Coomassie blue. Perbedaan konsentrasi
pada setiap kolom untuk mencari nilai kofisien variasi. Kolom A sebagai Blanko yaitu
DI water dengan Coomassie blue, Kolom B konsentrasi 100 g/mL, Kolom C
konsentrasi 200 g/mL, Kolom D konsentrasi 400 g/mL, Kolom E konsentrasi 600
g/mL, Kolom F konsentrasi 800 g/mL, Kolom G konsentrasi 1000 g/mL, Kolom
H konsentrasi 2000 g/mL.

31

Tabel 2. Standar Microplate Protokol, baris 1-5 adalah 10 l standar + 300 l


Coomasie dan baris 7-11 adalah 150 l standar + 150 l Coomasie
1

blanko

blanko

blanko

100

100

200

10

11

blanko blanko

blanko

blanko

blanko blanko

blanko

100

100

100

100

100

100

100

100

200

200

200

200

200

200

200

200

200

400

400

400

400

400

400

400

400

400

400

600

600

600

600

600

600

600

600

600

600

800

800

800

800

800

800

800

800

800

800

1000

1000

1000

1000

1000

1000

1000

1000

1000

1000

2000

2000

2000

2000

2000

2000

2000

2000

2000

2000

Homogenkan dengan menggunakan shaker selama 10 menit agar reaksi pewarnaan


dengan protein berlangsung. Simpan Microwell Plate pada microplate reader dan
hitung absorbasinya pada panjang gelombang 580nm
4.3.3

Perbandingan Intra - Inter Microplate


Pipet 10 L standar BSA dan 300 l Coomassie blue kedalam Microwell

Plate, kosongkan baris 4, 8 dan 12. Untuk baris 1-3 Kolom A sebagai Blanko, kolom
B konsentrasi 100 g/mL, kolom C konsentrasi 200 g/mL, kolom D konsentrasi 400
g/mL, kolom E konsentrasi 600 g/mL, kolom F konsentrasi 800 g/mL, kolom G
konsentrasi 1000 g/mL, kolom H konsentrasi 2000 g/mL. Pada baris 5-7 (Seri A)

32

12

dan 9-11 (Seri B) kolom A hingga H dimasukkan standar BSA dengan konsentrasi
sebesar 500 g/mL.
Tambel 3. Intra Inter Microplate
1

blanko

blanko

100

blanko

500

500

100

100

500

200

200

200

400

400

600

10

11

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

400

500

500

500

500

500

500

600

600

500

500

500

500

500

500

800

800

800

500

500

500

500

500

500

1000

1000

1000

500

500

500

500

500

500

2000

2000

2000

500

500

500

500

500

500

Homogenkan dengan menggunakan shaker selama 10 menit agar reaksi pewarnaan


dengan protein berlangsung. Simpan Microwell Plate pada microplate reader dan
hitung absorbasinya pada panjang gelombang 580nm.
4.3.4

Pengukuran Pathlenght
Pipet 5 L standar BSA konsentrasi 500 g/mL dan 150 l Coomassie blue

kedalam Microwell Plate baris 1-5, kosongkan baris 6 dan 12. Untuk baris 7-11 Pipet
10 L standar BSA konsentrasi 500 g/mL dan 300 l Coomassie blue. Homogenkan
dengan menggunakan shaker selama 10 menit agar reaksi pewarnaan dengan protein

33

12

berlangsung. Simpan Microwell Plate pada microplate reader dan hitung


absorbasinya pada panjang gelombang 580nm.
Tabel 4. Pengukuran pathlenght Microplate, baris 1-5 (Seri C) adalah 5 l standar +
150 l Coomasie dan baris 7-11 adalah 10 l standar + 300 l Coomasie
1

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

10

11

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

34

12

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1

Standar Microplate Protokol


Pada penelitian ini pengukuran standar Microplate protokol untuk melihat

perbedaan

absorbansi dari nilai koefisien variasi nya dengan kata lain ketika

konsentrasi yang sama dalam satu kolom memiliki nilai absorbansi yang berbeda
maka besar nilai perbedaan tersebut dapat ditentukan dalam bentuk persen koefisien
variasi (Origene, 2012).
Hasil dari pengukuran absorbansi 10 l BSA dengan 300 l Coomasie blue
sebagai pewarna pada baris 1 5 didapatkan :
Tabel 5. Hasil pengukuran Absorbansi BSA Standar Microplate Protokol 10 l BSA dengan
300 l Coomasie blue
C

A1

A2

A3

A4

A5

A
Rata

CV(%)

LOD

0.4274

A rata
blanko
-

0.443

0.432

0.431

0.419

0.412

0.012

2.83

100

0.437

0.622

0.638

0.642

0.431

0.554

0.126

0.109

19.82

0.756

200

0.463

0.625

0.708

0.695

0.507

0.5996

0.172

0.11

18.4

0.758

400

0.647

0.683

0.691

0.625

0.613

0.6518

0.224

0.034

5.29

0.53

600

0.615

0.81

0.709

0.69

0.627

0.6902

0.262

0.078

11.3

0.661

800

0.634

0.903

0.833

0.965

0.637

0.7944

0.367

0.152

19.18

0.884

1000

0.842

1.049

1.12

1.081

0.859

0.990

0.562

0.13

13.14

0.817

2000

1.232

1.272

1.229

1.227

1.236

1.239

0.811

0.018

1.504

0.483

35

Berdasarkan data diatas diketahui bahwa absorbasi pada setiap konsentrasi


berbeda beda bahkan pada konsentrasi yang sama terdapat nilai absorbansi yang
sangat jauh berbeda dari sebelumnya. Nilai CV pada pada konsentrasi 100 g/mL
adalah 19,82% dapat diartikan bahwa terjadi faktor kesalahan yang menyebabkan
nilai CV yang begitu besar. Nilai CV yang dapat diterima pada data tidak lebih dari
3% dari sampel dan 5% dari suatu kelompok (Ruseffendi, H.E.T. 1998).
Limit deteksi pada sampel hasil yang paling kecil mendekati blanko sebagai
pembanding yaitu pada konsentrasi 2000 g/mL sebesar 0.483. Berdasarkan AOAC
(2002) Limit deteksi hanya berguna untuk mengontrol ketidakmurnian yang tidak
diinginkan yang konsentrasinya harus tidak lebih dari level tertentu dan mengontrol
kontaminan dengan konsentrasi rendah, sedangkan materi yang bermanfaat harus ada
pada konsentrasi yang cukup tinggi agar dapat menjadi fungsional. Limit deteksi dan
kuantitasi seringkali bergantung pada kemampuan instrumen. Menurut Harvey
(2000), validasi limit deteksi merupakan suatu proses evaluasi kecermatan dan
keseksamaan yang dihasilkan oleh suatu prosedur dengan nilai yang dapat diterima.
Sebagai tambahan, validasi memastikan bahwa suatu prosedur tertulis memiliki detail
yang cukup jelas sehingga dapat dilaksanakan oleh analis atau laboratorium yang
berbeda dengan hasil yang sebanding.

36

0.9
0.8

y = 0.0004x + 0.0886
R = 0.96176

0.7
0.6
0.5

Series1

0.4

Linear (Series1)

0.3
0.2
0.1
0
0

500

1000 1500 2000 2500

Gambar 8. Kurva kalibrasi standar protokol


Dari data yang didapatkan kurva yang diperoleh menunjukkan regresi linier
sebesar 0.96176 yang di anggap baik dalam penelitian. Ada dua keadaan yang dapat
menyebabkan ketidak-akuratan ketika menggunakan kurva kalibrasi (underwood,
1998), yaitu:
1

Faktor-faktor yang berada didalam sample yang mengubah perbandingan


respon/konsentrasi, tetapi faktor tersebut tidak ada didalam larutan standar
(misalnya perubahan pH, kekuatan ion, kekeruhan, viskositas, gangguan
kimia dan lain lain). Faktor-faktor tersebut akan mengubah kemiringan
(slope) kurva kalibrasi.

Faktor yang tampak/kelihatan pada alat pendeteksi misalnya warna atau


kekeruhan sample yang menyerap atau menghamburkan cahaya pada
panjang gelombang pengukuran.
Pada Hasil dari pengukuran absorbansi 150 l BSA dengan 150 l Coomasie

blue didapatkan nilai absorbansi sebagai berikut :

37

Tabel 6. Hasil pengukuran Absorbansi BSA Standar Microplate Protokol 150 l BSA
dengan 150 l Coomasie blue
C

A1

A2

A3

A4

A5

A Rata

0.306

0.304

0.304

0.3

0.296

0.302

A rata -
blanko
-

100

0.744

0.814

0.811

0.759

0.766

0.778

0.476

200

1.019

0.962

0.916

0.948

1.007

0.97

0.668

400

0.974

0.989

1.013

0.96

0.962

0.979

0.677

600

1.116

1.003

1.136

1.117

1.041

1.082

0.78

800

1.14

1.058

1.09

1.244

1.11

1.128

0.826

1000

0.956

1.18

1.141

1.075

1.1

1.09

0.788

2000

1.083

1.064

1.064

1.087

1.115

1.082

0.78

Dari data tersebut nilai absorbansi dari konsetrasi 200 g/mL hingga 2000 g/mL
tidak terlalu jauh. Dapat diartikan bahwa prosedur dengan menggunakan 150 l BSA
dengan 150 l Coomasie blue adalah salah. Kesalahan dalam prosedur dapat
menyebabkan kesalahan dalam penelitian yang menyebabkan nilai menjadi
menyimpang.
1
y = 0.0001x + 0.6296
R = 0.38751

0.9
0.8
0.7
0.6
0.5

Series1

0.4

Linear (Series1)

0.3
0.2
0.1
0
0

500

1000

1500

2000

2500

Gambar 9. Kurva kalibrasi menggunakan 150 l BSA dengan 150 l


Coomasie blue

38

Dari data nilai regresi pun dapat di lihat bahwa regresi linier pada 150 l BSA
dengan 150 l Coomasie blue sebesar 0.387. Menurut Amiri (2011) Semakin kecil
standar deviasi hasil pengukuran, semakin perbedaan hasil masing-masing
pengukuran (yang diulang) , maka semakin teliti proses pengukuran tersebut. Dari
data kesalahan yang terjadi adalah Kesalahan operatif yaitu ditimbulkan oleh orang yang
melakukan analisis.
5.2

Inter dan Intra Microplate


Untuk pengukuran inter Microplate yaitu dalam microwell plate yang sama

dengan konsentrasi yang sama pula didapatkan hasil sebagai berikut :


Tabel 7. Hasil Pengukuran Absrorbansi Intra Microplate Reader
1

0.36

0.357 0.358

0.772 0.796 0.792

0.762 0.759 0.728

0.388 0.375 0.377

0.773 0.769 0.759

0.779 0.748 0.724

0.426 0.406 0.43

0.728 0.72

0.77

0.468 0.476 0.438

0.741 0.725 0.766

0.781 0.776 0.752

0.558 0.547 0.527

0.779 0.766 0.746

0.732 0.774 0.747

0.616 0.62

0.605

0.766 0.769 0.778

0.712 0.74

0.727

0.741 0.778 0.746

0.727 0.748 0.747

0.779 0.79

0.775

1.202 1.194 1.176

0.739 0.735 0.745

0.766 0.764 0.752

0.686

10

0.74

11

0.71

Data tersebut hasil dari pengukuran dengan microplate reader, warna biru pada
table menunjukkan kepekatan dan perbedaan konsentrasi pada pewarnaan oleh
coomassie blue. Hasil tersebut menunjukkan pada konsentrasi yang sama 500 g/mL
Seri A yaitu pada baris 5 7 dan seri B pada baris 9 11 tidak begitu jauh perbedaan

39

12

absorbansinya. Dari data tersebut juga dapat dilihat konsentrasi 500 g/mL tidak
diantara kolom D dan kolom E baris 1 - 3 yang konsentrasinya 400 g/mL dan 600
g/mL, tetapi diantara kolom G dan H yang memliki konsentrasi 1000 g/mL dan
2000 g/mL. Hal ini dapat disebabkan kesalahan dalam pembuatan sampel BSA pada
konsentrasi 500 g/mL tersebut. Kesalahan ini juga dapat dijelaskan dari perhitungan
regresi linier
0.9
0.8
0.7

y = 0.0004x - 0.0503
R = 0.99021

0.6
0.5

Series1

0.4

Linear (Series1)

0.3
0.2
0.1
0
-0.1

500

1000 1500 2000 2500

Gambar 10. Regresi linier pembanding


Regresi linier baris 1-3 sebesar 0.99021, persamaan regresi y = 0.0004x 0.0503 digunakan untuk menghitung konsentrasi pada Seri A dan Seri B yang
hasilnya sebagai berikut :
Tabel 8. Perhitungan hasil Intra Microplate

Seri A
0.025

Seri B
0.022

Rata-Rata
CV

0.753
3.390

Avarage
CV

0.753
3.05

2015

2016.5

40

Konsentrasi Seri A dalam perhitungan sebesar 2015 dan seri B 2016.5, kesalahan
pada pembuatan konsentrasi BSA adalah hal yang menyebabkan perbedaan hasil.
Pada microwell plate ke 2 untuk menentukkan nilai intra pada microplate
dibandingkan seri A dengan seri C. microwell plate yang digunakan pada seri C
adalah untuk pengukuran pathlenght.
Table 9. Perbandingan Intra Seri A dan C
Seri A

Seri C

SD

0.025

0.043

Avarage

0.753

0.647

CV

3.39

6.645

2015

1752.3

Dari data pengukuran intra nilai CV seri 3 jauh dari CV seri 1. Dengan menggunakan
persamaan regresi y = 0.0004x - 0.0503 konsentrasi seri 3 sebesar 1752.3 lebih kecil
dari konsentrasi seri 1.
5.3

Pengukuran Pathlenght
Pengukuran pathlenght bertujuan untuk memberi gambaran pathlenght pada

microplate reader sangat penting karena perbedaan volume larutan akan menghasilkan
nilai absorbansi yang sangat berbeda. saat menggunakan microplate reader,
pengukuran atau penembakan cahaya dilakukan secara vertikal sehingga jarak
perjalanan cahaya melalui sampel bervariasi tergantung pada volume cairan dalam
microwell plate (promega, 2009). Hasil pengukuran pathlenght dapat dilihat sebagai
berikut :

41

Tabel 10. Hasil Absorbansi pengukuran pathlenght


1

0.385

0.478

0.425

0.463

0.362

0.336

0.357

0.388

0.388

0.34

10

11

0.368

0.638

0.613

0.646

0.633

0.59

0.303

0.349

0.59

0.619

0.594

0.682

0.6

0.318

0.281

0.311

0.688

0.688

0.676

0.649

0.611

0.304

0.345

0.324

0.263

0.688

0.723

0.7

0.693

0.627

0.277

0.338

0.341

0.375

0.328

0.643

0.674

0.671

0.65

0.571

0.511

0.501

0.446

0.452

0.372

0.629

0.628

0.654

0.567

0.583

0.368

0.379

0.455

0.338

0.3

0.714

0.714

0.685

0.669

0.575

0.411

0.433

0.349

0.418

0.316

0.648

0.643

0.666

0.699

0.687

Dengan konsentrasi yang sama 500 g/mL nilai absorbansi pada baris 1-5
berbeda dengan absorbansi 7-11. Hukum Lambert memperediksi penyerapan cahaya
atau absorbansi sebanding dengan jarak cahaya bergerak melalui sampel: semakin
lama pathlenght, semakin tinggi puncak absorbansi (molecular, 2010).
Nilai absorbansi pada baris 1-5 lebih kecil karena volume sampel lebih kecil
dari baris 7-11 dengan perbandingan 1:2 . menurut SPECTROstar (2009) pada
Microplate, Pathlenght bergantung pada volume cairan, sehingga absorbansi
sebanding dengan pathlenght sampel. Kurva standar yang sering digunakan untuk
menentukan sampel yang tidak diketahui dapat bermasalah karena pemipetan sampel
atau standar.

42

12

Tabel 11. Nilai perbedaan perhitungan pahtlenght


5 l standar + 150 l Coomasie blue

10 l standar + 300 l Coomasie

SD

0.062116433

0.043061048

Rata-rata

0.3699

0.64795

CV

16.79276379

6.645736229

Dari data diatas rata-rata terlihat jelas perbedaan nilai yang tejadi jika nilai
pathlenght berbeda. Proses pemipetan sangatlah penting, menurut Thermo Scientific
(2010) memipet membutuhkan baik presisi maupun akurasi. Sejumlah faktor dapat
mempengaruhi spesifikasi ini yaitu :

Suhu

Massa jenis

Tekanan

Yang paling penting dan dasar dari memipet agar hasil yang baik adalah ketelitian dan
kesabaran. Bagi peneliti kesabaran adalah hal yang utama jika menginginkan hasil yang
memuaskan.

43

BAB VI
PENUTUP
6.1

Kesimpulan
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa nilai koefisien variasi pada

Pengukuran Standar Protokol 10 l BSA ditambahkan 300 l Coomasie blue pada


konsentrasi 100 g/mL, 200 g/mL, 400 g/mL, 600 g/mL, 800 g/mL, 1000
g/mL dan 2000 g/mL berturut turut adalah 19.82 %, 18.4 %, 5.29 %, 11.3 %,
19.18 %, 13.14 %, 1.504 % dengan limit deteksi pada konsentrasi terkecil 100 g/mL
sebesar 0.75. Nilai Pathlenght bergantung pada proses pemipetan karena dapat
membuat hasil absorbansi yang berbeda.
6.2

Saran
Koefisien variasi yang didapatkan melebihi 3% yang artinya sangat

bermasalah. Oleh karena itu, diperlukan pengukuran ulang standar BSA dengan
microplate reader untuk mendapatkan kepastian pada nilai koefisien variasi BSA.

44

DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, S. 1989. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : Penerbit Gramedia.

Amiri, S., Zwanzig, S. (2011). Assessing the Coefficient of Variations of Chemical


Data using Bootstrap Method. Journal of Chemometrics.

AOAC, 2002. Official methods of Analysis of The Association of Analytical Chemist.


Inc.Washington

Budianto, A.K. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Gizi. Cetakan keempat. Malang : Penerbit
UMM Press.

Bradford, M. (1976). Rapid and sensitive method for the quantitation of microgram
quantities of protein utilizing the principle dye binding. Analytical of
Biochemistry. 72, 248254.

BioRad., 2011. Bio-Rad Microplate application guide. Bio-Rad Laboraties.

BioTek. 2010. Microplate Instrumentation. Technical Handbook

Ellya Sibagariang, Eva, dkk. 2010. Gizi Reproduksi Wanita. Trans Info Media,
Jakarta.

Gaman. M. 1992. Ilmu Pangan, Penghantar Ilmu Pangan, Nutrisi dan Mikrobiologi
Edisi II. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

45

Guillaume,S; Christian,S; and Plateel,G. 2013. Absorbance enhancement in


microplate wells for improved-sensitivity biosensors. .

Biotechnology and

Applied Biochemistry, 29: 129 138.

Harinaldi , 2005. Prinsip-prinsip Statistik untuk Teknik dan Sains. Erlangga: Jakarta.

Harvey, D. (2000). Modern Analytical Chemistry. McGraw-Hill, New York

Hermanto, S. 2009. Buku Ajar Biokimia I. Jakarta : UIN Syarif Hidayatullah

Irianto, Agus. 2010. Statistik : Konsep Dasar, Aplikasi, dan Pengembangannya.


Jakarta:Kencana.

Labnics. 2009. Microplate Reader: Instruction Manual. Chem, 61 (3): 357-360.

Ledhyne A. 2005. Protein assay with microplate reader. Biochem. 214: 346348.

Lorenzen, S. W. 1993. Instument Aplication. Rev. Sci. Tech. Off. Int. Epiz. 24: 201213
Molecural, D. 2011. The PathCheck Sensor: a Powerful New Tool for Microplate
Analyses. Biochem. 214: 346 348.

Origene, 2012. Elisa Development Guide. Medical Center Drive, Suite 200, 13: 125135

46

Poedjiadi, A. 1994. Dasar-dasar Biokimia. UI Press : Jakarta.

Promega, 2009. Calculating Nucleid Acid And Protein Consentration Using


Microplate Instrumen. Tehcnical note

Purwanto.2007.Metodologi Penelitian Kuantitatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ruseffendi, H.E.T . 1998. Statistika Dasar untuk Penelitian Pendidikan. IKIP


Bandung Press: Bandung

SPECTROstar . 2009. Handbook of Microplate Reader. CRC Press : USA.

Sudarmadji, S. 1989. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Yogyakarta : Liberti

Silalahi, J., dan N. Hutagalung (2004), Komponen Bioaktif Dalam Makanan dan
Pengaruhnya Bagi Kesehatan, Jurusan Farmasi Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sumatra Utara, Medan

Thermo, S. 2010. Protein Assay. Tehcnical Handbook

Day, R. A. and A. L. Underwood. (2002). Analisis Kimia Kuantitatif. Edisi Keenam.


Jakarta. Penerbit Erlangga. Hal 394, 396-404

Winarno, F. G. 1992. Kimia Pangan dan Gizi. Gramedia: Jakarta.

47

LAMPIRAN
Lampiran 1. Gambar 96- Microplate well

48

Lampiran 2. Gambar Alat dan Bahan

49

Lampiran 3. Hasil Standar Microplate Protokol


1

0.443

0.432

0.431

0.419

0.437

0.622

0.638

0.463

0.625

0.647

10

11

0.412

0.306

0.304

0.304

0.3

0.296

0.642

0.431

0.744

0.814

0.811

0.759

0.766

0.708

0.695

0.507

1.019

0.962

0.916

0.948

1.007

0.683

0.691

0.625

0.613

0.974

0.989

1.013

0.96

0.962

0.615

0.81

0.709

0.69

0.627

1.116

1.003

1.136

1.117

1.041

0.634

0.903

0.833

0.965

0.637

1.14

1.058

1.09

1.244

1.11

0.842

1.049

1.12

1.081

0.859

0.956

1.18

1.141

1.075

1.1

1.232

1.272

1.229

1.227

1.236

1.083

1.064

1.064

1.087

1.115

50

Lampiran 4. Hasil Pengukuran Intra-Inter dan Pathlenght Microplate

51