Anda di halaman 1dari 11

Judul: Praktik Patrimonialisme dalam Sistem Birokrasi Pemerintahan Masa Orde

Baru di Indonesia 1965-1998.


Abstrak
Democracy patronage" is one of the variants of hybrid democracy prevailing in
Indonesia. Itui concept intended to explain the basic characteristics of Indonesian democracy
is firmly rooted in the politics of patronage, the political practices which are based on a
network of social relationships between patrons and clients that make up the structures of
interest bureaucracy elite to seize power in both the central and local levels.
Historical background is very thick with a patrimonial evolved through a process of
political socialization. Democracy at this time in Indonesia is a political system formed and
evolved through a process of political socialization. Where the forces of modernity (which is
'pragmatic', 'secular', 'rational', 'and' legal) to compete with the power of representing the
remnants of ancient Javanese culture charismatic and patrimonial (Robinson, 1986, p viii)
Demokrasi patronase adalah salah satu varian dari demokrasi hibrida yang berlaku
di Indonesia. Konsep itu dimaksudkan untuk menjelaskan karakteristik pokok demokrasi
Indonesia berakar kuat pada politik patronase, yakni praktik politik yang didasarkan pada
jaringan hubungan-hubungan sosial antara patron dan klien yang membentuk strukturstruktur kepentingan elitis untuk merebut kekuasaan birokrasi baik di tingkat pusat maupun
daerah.
Latar belakang sejarah yang sangat kental dengan nuansa patrimonial berkembang
melalui proses sosialisasi politik. Demokrasi pada saat ini di Indonesia merupakan system
politik yang terbentuk dan berkembang melalui proses sosialisasi politik. Dimana kekuatankekuatan modernitas (yang bersifat pragmatis, sekuler, rasional, dan legal) bersaing
dengan kekuatan yang merepresentasikan sisa-sisa budaya Jawa Kuno yang kharismatik dan
patrimonial (Robinson, 1986, hlm viii)
Kata kunci: Praktik Patrimonialisme, Birokrasi, Orde Baru

PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Secara garis besar, sistem birokrasi pemerintahan di masa pemerintahan Orde Baru di
dominasi oleh sekelompok militer. Pada dasarnya peran kelompok militer di dalam birokrasi
telah ada sejak masa Orde Lama. Hal ini tentunya tidak lepas dari pendirian negara yang
harus melalui sutu periode Revolusi Nasional Indonesia dari tahun 1945 hingga tahun 1949.
Periode fisik ini membentuk suatu atas kebersamaan yang kuat di antara para pemimpin
militer.1 Hal ini tentunya dapat terjadi karena tentara sejak awal sudah berjuang bersama
rakyat. Kemudian Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang lahir dibawah tekanan Agresi
Militer Belanda seakan memperkuat presepsi bahwa tentara harus berjuang demi rakyat
bahkan terkadang harus mengambil alih peran sipil dalam rode pemerintahan.
Peran militer di dalam birokrasi Indonesia memiliki suatu dinamika tersendiri. Dari waktu ke
waktu dominasi pihak militer menghadapi berbagai tantangan. Tahun 1948 menandai sebuah
titik tolak dalam peran militer, dimana pada saat itu TNI mengalami Re-organisasi
Rasionalisasi yang di motori oleh pemerintah Kabinet Mohammad Hatta. Salah satu
konsekuensi kebijakan ini adalah pemberontakan Madiun 1948 dan beberapa peristiwa
lainnya.
Sejak rezim orde baru, orientasi pada penguasa masih sangat kuat dalam kehidupan
birokrasi publik. Nilai-nilai dan simbol-simbol yang digunakan dalam birorasi masih amat
kuat menunjukan bagaimana birokrasi publik dan para pejabatnya mempersepsikan dirinya
lebih sebagai penguasa daripada sebagai abdi dan pelayan masyarakat. Istilah penguasa
tunggal sebagai sebutan untuk bupati dan gubernur pada zaman Orde Baru jelas menunjukan
bagaimana birokrasi publik dan para pejabatnya pada waktu itu memerankan dirinya.
Pada masa Orde Baru inilah peran Militer dalam hal ini adalah ABRI masuk kedalam sistem
birokrasi dan tatanan pemerintahan baik di Pusat Maupun Daerah. Yang selanjutnya pun
menciptakan Konsep DWI FUNGSI ABRI yang akan memperkuat kekuatan penguasa pada
masa Orde Baru tersebut, karena terang saja yang menempati kekuasaan dalam sistem
birokrasi pemerintahan adalah para anggota militer yang mempunyai hubungan baik dengan
pemegang kekuasaan sentral pada saat itu.
1 David Jenkins. Soeharto dan Barisan Jendral Orba: Rezim Militer Indonesia
1957-1983 (Jakarta: Komunikasi Bambu, 2010), Hlm 1

Dwifungsi ABRI, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya diartikan bahwa ABRI
memiliki dua fungsi, yaitu fungsi sebagai pusat kekuatan militer Indonesia dan juga
fungsinya di bidang politik. Dalam pelaksanaannya pada era Soeharto, fungsi utama ABRI
sebagai kekuatan militer Indonesia memang tidak dapat dikesampingkan, namun pada era ini,
peran ABRI dalam bidang politik terlihat lebih signifikan seiring dengan diangkatnya
Presiden Soeharto oleh MPRS pada tahun 1968. Hal ini dipandang wajar karena pada saat itu
sektor militer memiliki kekuatan yang paling besar. Sebenarnya, sejak awal milliter ikut
ambil peran dalam mengurusi urusan sipil telah muncul suatu indikasi dimana kekuatan
militer Indonesia dianggap akan memegang peran penting dalam sejarah perpolitikan
Indonesia. Indikasi ini muncul sesuai dengan teori Hunnington dan Finner yang mengatakan
bahwa penyebab paling penting dari intervensi militer dalam bidang politik adalah sistem
kebudayaan politiknya, struktur politik, serta institusinya. Oleh karena itulah, tidak heran jika
partisipasi politik dari kekuatan militer Indonesia sangat kental pada masa itu mengingat
masih rendahnya level sistem budaya politik pada masa itu serta tidak mampunya membatasi
kegiatan militer pada bidang non-politis saja.

RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang di atas maka dapat disimpulkan rumusan masalah sebgai berikut:
Apa yang melatarbelakangi praktik Patrimonialisme dalam sistem birokrasi pemerintahan
masa Orde Baru di Indonesia 1965-1998?
TUJUAN PENELITIAN
Untuk mengetahui praktik partimonialisme dalam sistem birokrasi pemerintahan masa Orde
Baru di Indonesia 1965-1998.

MANFAAT PENELITIAN
1. Manfaat Teoritik: mengembangkan pengetahuan mengenai seluk beluk praktik
patrimonialisme dalam sistem birokrasi pemerintahan masa Orde Baru di Indonesia
1965-1998.
2. Manfaat praktis:
Bagi penulis: berguna sebagai bahan penambah kajian dan pemahaman mengenai
dinamika politik yang ada di Indonesia, Khususnya mengenai praktik Patrimolialisme
dalam pemerintahan Orde Baru di Indonesia 1965-1998.

METODE PENELITIAN
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Menurut Nasution (Dalam
Soejono:19) metode penelitian deskriptif dalam kajian metodologi penelitian selalu
dikaitkan dengan persoalan tujuan penelitian. Dalam penelitian ini, akan
digambarkan bagaimana praktik patrimonialisme pada era orde baru 1965 hingga
1998. Pembahasan penelitian ini disajikan dalam bentuk uraian kata-kata (deskripsi).
Penelitian ini dirasa sangat tepat untuk menggambarkan perilaku karena bertujuan
untuk mengungkap fakta dan menyalurkan informasi sebagaimana yang terjadi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pelaksanaan Dwi Fungsi ABRI sebagai jalan paraktik Patrimonialisme dalam sistem
birokrasi pemerintahan masa Orde Baru
Secara umum, intervensi ABRI dalam bidang poilitik pada masa Orde Baru yang
mengatasnamakan Dwifungsi ABRI ini salah satunya adalah dengan ditempatkannya militer
di DPR, MPR, maupun DPD tingkat provinsi dan kabupaten. Perwira yang aktif, sebanyak
seperlima dari jumlahnya menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPRD), dimana
mereka bertanggung jawab kepada komandan setempat, sedangkan yang d di MPR dan DPR
tingkat nasional bertanggung jawab langsung kepada panglima ABRI. Selain itu, para ABRI
juga menempati posisi formal dan informal dalam pengendalian Golkar serta mengawasi
penduduk melalui gerakan teritorial diseluruh daerah dari mulai Jakarta sampai ke dareahdaerah terpencil, salah satunya dengan gerakan AMD (ABRI Masuk Desa).
Keikutsertaan militer dalam bidang politik secara umum bersifat antipartai. Militer percaya
bahwa mereka merupakan pihak yang setia kepada modernisasi dan pembangunan.
Sedangkan partai politik dipandang memiliki kepentingan-kepentingan golongan tersendiri.
Lebih jauh, Harold Crouch dalam bukunya Militer dan Politik di Indonesia menerangkan
bahwa pandangan pihak militer terpecah menjadi dua kelompok, namun keduanya tetap
menganut sifat antipartai. Hal ini juga disampaikan oleh A.H. Nasution. Kelompok pertama
adalah kelompok berhalauan keras yang ingin mengubah struktur politik dengan sistem
dwipartai. Berbeda dengan kelompok tersebut, kelompok kedua adalah kelompok moderat
yang cenderung tetap ingin mempertahankan sistem politik saat itu, dan menginginkan
perubahan dilaksanakan secara bertahap dan alami.
Contoh kasus yang nyata dari kelompok militan adalah pada tahun 1967, Panglima Divisi
Siliwangi HR Dharsono, didukung oleh Panglima Kostrad Kemal Idris, menyiarkan suatu
rencana menjalankan sistem dwipartai di Jawa Barat. Mereka mengusulkan pembubaran
partai-partai yang ada. Namun usulan-usulan pembubaran partai ini ditolak oleh kelompok
moderat yang berada di sekililing Soeharto pada tahun 1967 dan 1968.
Perbedaan pandangan ini kemudian dimenangkan oleh kelompok moderat. Alasannya adalah
bahwa pembubaran partai dapat menciptakan pandangan bahwa Orda Baru bersifat
diktatorisme. Soeharto lebih percaya bahwa perubahan harus dilakukan melalui jalan
demokrasi, yaitu melalui pemilu. Pandangan demikian kemudian menimbulkan korelasi
antara ABRI dan kemunculan beberapa partai politik sepanjang era Orde Baru.

Pertama yaitu Golkar. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, kelahiran Golkar tidak
lepas dari peran dan dukungan militer, yang pada saat itu merupakan bentuk reaksi terhadap
meningkatnya kampanye PKI. Embrio Golkar awalnya muncul dengan pembentukan
Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar). Namun setelah kudeta PKI tahun
1965, Sekber Golkar perlahan-lahan berubah menjadi partai politik. Selain itu, seperti kita
tahu bersama juga, Presiden Soeharto kemudian menjatuhkan pilihannya pada Golkar. Jadi,
peran ABRI bagi Golkar cukup prominen.
Kedua yaitu Partai Persatuan Pembangunan. Sejalan dengan maksud pemerintahan untuk
melakukan penyederhanaan partai-partai politik, maka dilaksanakan fusi-fusi partai politik.
Hal ini juga dipicu oleh pendapat Letjen Ali Moertopo pada bulan Mei 1971. Beliau
berpendapat bahwa strukturisasi tidak harus dilakukan melalui pembubaran partai politik.
Ternyata dorongan fusi ini justru disambut baik oleh golongan Islam. Oleh karena itu,
lahirlah PPP pada tanggal 5 Januari 1973 yang ditandatangani oleh NU, Parmusi, PSII, dan
Perti. Ketersediaan partai-partai tersebut tidak lepas dari tekanan pemerintah dan militer.
Ketiga yaitu Partai Demokrasi Indonesia (PDI). PDI juga merupakan partai yang terbentuk
pada praktik fusi oleh pemerintah. PDI terfusi atas partai-partai yang cenderung bersifat
nasionalis seperti PNI, Murba, IPKI, serta Parkindo dan Partai Katolik (yang menolak
dikategorikan dalam kategori material-spiritual). Ketiga partai yang terbentuk ini kemudian
mengindikasikan keberhasilan penyederhanaan partai pada Orde Baru (dengan bantuan ABRI
atau militer), karena sejak saat itu hingga tahun 1998/1999 hanya PPP, PDI dan Golkar yang
mengikuti pemilihan umum.
Keterlibatan ABRI di sektor eksekutif sangat nyata terutama melalui Golkar. Hubungan ABRI
dan Golkar disebut sebagai hubungan yang bersift simbiosis mutualisme. Contohnya pada
Munas I Golkar di Surabaya (4-9 September 1973), ABRI mampu menempatkan perwira
aktif ke dalam Dewan Pengurus Pusat. Selain itu, hampir di seluruh daerah tingkat I dan
daerah tingkat II jabatan ketua Golkar dipegang oleh ABRI aktif. Selain itu, terpilihnya
Sudharmono sebagai wakil militer pada pucuk pemimpin Golkar (pada Munas III) juga
menandakan bahwa Golkar masih di bawah kendali militer.
Selain dalam sektor eksekutif, ABRI dalam bidang politik juga terlibat dalam sektor
Legislatif. Meskipun militer bukan kekuatan politik yang ikut serta dalam pemilihan umum,
mereka tetap memiliki wakil dalam jumlah besar (dalam DPR dan MPR) melalui Fraksi
Karya ABRI. Namun keberadaan ABRI dalam DPR dipandang efektif oleh beberapa pihak
dalam rangka mengamankan kebijaksanaan eksekutif dan meminimalisir kekuatan kontrol
DPR terhadap eksekutif. Efektivitas ini diperoleh dari adanya sinergi antara Fraksi ABRI dan

Fraksi Karya Pembangunan dalam proses kerja DPR; serta adanya perangkat aturan kerja
DPR yang dalam batas tertentu membatasi peran satu fraksi secara otonom. Dalam MPR
sendiri, ABRI (wakil militer) mengamankan nilai dan kepentingan pemerintah dalam
formulasi kebijakan oleh MPR.

KESIMPULAN
Max Weber menyebutkan bahwa patrimonialisme hanya membuat negara menjadi
ladang perburuan bagi penguasa yang sedang mencari keuntungan. Hal ini tentunya tidak
sesuai dengan visi sebuah birokrasi yang ideal. Bentuk birokrasi yang ideal membutuhkan
setidaknya sembilan faktor, yaitu adanya partisipasi dalam pembuatan kepurusan, persamaan
dimata hukum, distribusi pendapatan secara adil, persamaan dalam memperoleh pendidikan,
adanya tipologi kebebasan, adannya keterbukaan informasi, mengindahkan tata krama dan
etika politik, menghargai kebebasan individu dan adanya hak protes.
Dari uraian diatas, kita dapat melihat bahwa pelaksaan birokrasi di masa Orde Baru
tidak dapat memenuhi bentuk birokrasi yang ideal secara umum. Hal ini terjadi karena
adanya aspek patrimonialisme dalam sistem pemerintahan. Apabila di komparasi dengan
masa Demokrasi Terpimpin memang Orde Baru memberikan solusi terhadap masalah yang
telah lama melanda pemerintahan Indonesia, yaitu stabilitas politik. Tetapi stabilitas politik
pada masa Orde Baru ini hanya dapat terjadi karena adanya perkembangan ekonomi dan
depolitisasi masa. Kedua hal tersebut menjadi tulang punggung bagi sebuah pemerintahan
yang patrimonial.
Pada akhirnya, Soeharto harus meregenerasi kaum elit politiknya dengan kelompok
yang lebih muda. Salah satu tokoh yang menonjol dalam hal ini adalah Jendral L.B Benny
Moerdani. Benny Moerdani menjadi salah satu tokoh terkuat di Indonesia pada periode tahun
1970-an melalui pengaruhnya di pucuk kepemimpinan ABRI dan komunitas masyarakat
intelejen Indonesia. Pada akhirnya berbagai perubahan lainnya juga harus dilaksanakan oleh
Soeharto, dimana perubahan ini memiliki tendensi terhadap regulasi di dalam birokrasi
Indonesia. Disisi lain, tuntutan masyarakat terhadap keterbukaan informasi serta politik
menjadi elemen penting lain yang menandai periode akhir masa kepemimpinan Soeharto.
Pada akhirnya kombinasi dari kedua hal ini dapat membuka jalan bagi kejatuhan Soeharto
dan Orde Barunya pada peristiwa reformasi tahun 1998.

DAFTAR PUSTAKA
Fukuyama, Francis. The Origins of Political Order. New York: FS6 Books, 2012
Crouch, Harold, Patrimonialism and Military Rule in Indonesia, World Politics, Vol
31 No. 4 (Jul, 1974)
Jenkins, David. Soeharto dan Barisan Jendral Orba: Rezim Militer Indonesia 19571983. Jakarta: Komunitas Bambu, 2010.
Roosa, John. Pretext to Mass Murder: The September 30th Movement and Suhartos
Coup detat in Indonesia Madison: The University of Wiconsin Press, 2006.
Sidel, John T. Macet Total: Logics of Circulation and Accumulation in the Demise of
Indonesias New Order. Indonesia, No. 66 (Oct. 1998)
The American Academy of Political and Social Science. Julia Adams and Liping
Wang: Bridging the Gap between China and Europe. http:// aaps.org/theannals/recent-volumes/2011/08/11/Julia-Adams-and-Lipping-Wang-Bridging-the-gapbetween China and Europe. Diakses pada 2 Juni 2013.

PERTANYAAN
Lusy Dian Putri 201210050311058
Mengapa masa pemerintahan orde baru disebut sebagai sistem pemerintahan yang
mampu menciptakan stabilitas nasional, padahal sistem birokrasi pada saat itu tidak
ideal karena kekuasaan terpusat dan kekuatan politik masa amat ditekan?
JAWAB
Pada masa Orde Baru di anggap pemerintahannya mampu menciptakan stabilitas
sosial karena mampu di anggap mempertegas sistem pemerintahan yang ada karena
akibat adannya ketidakjelasan sistem birokrasi peninggalan sistem demokrasi
terpimpin. Selain itu, pada masa Orde Baru dianggap memiliki sistem pemerintahan
yang stabil karena mampu menghilangkan pemberontakan yang berasal dari PKI.
PERTANYAAN
Desy Pratiwi Irma Suryani 201210050311031
Bukan kah pemberontakan PKI berasal dari para pendukung Presiden Soekarno yang
telah di lengserkan oleh Presiden Soeharto? Berarti penertiban pemberontakan PKI
dengan cara membunuh mereka apakah bisa disebut sebagai pencipta stabilitas
politik, padahal tujuan utama nya adalah melindungi kekuasaan presiden yang sedang
menjabat?
JAWAB
Kita sendiri juga tidak bisa memastikan apakah tindakan pemberontakan yang
dilakukan oleh PKI itu menyakiti atau melanggar hukum, karena kejadian itu telah
berlalu. Jadi, ganjaran yang dikenakan kepada para kader PKI juga tidak bisa
digolongkan terlalu kejam karena kita tidak tahu juga perbuatan apa yang meraka
lakukan sehingga para pemimpin pada saat itu memutuskan untuk membumi
hanguskan para kader PKI agar sistem politik di Indonesia tidak terpengaruh dengan
pemberontakan tersebut. Sehingga apabila sistem perpolitikan telah stabil maka
sistem pembangunan akan dapat berjalan dengan baik.

Analisa Kekuatan Sosial Politik


Praktik Patrimonialisme dalam Sistem Birokrasi Pemerintahan Masa Orde Baru di
Indonesia 1965-1998.

DISUSUN OLEH :
Diyah Eka Prasetya Rini

201210050311008

ILMU PEMERINTAHAN/ A
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK