Anda di halaman 1dari 20

SISTEM RESPIRASI

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN PLEURITIS

Oleh :
Subianto eka putra
Tubagus azhar basyir
Yunias mega yubavinda
Yunike rindu astuti
Yuta prilla pratiwi
Komang vinayani
Rifka septya wahyuni
Azizol firdaus
Dicky firman saputra

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BANYUWANGI
2015/2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur kita hanturkan kepada Allah swt berkat segala rahmat dan
hidayah-Nya. Sehingga kami dapat menyelesaikan makalah kami yang berjudul
Asuhan Keperawatan pada Klien Pleuritis. Dalam Penulisan makalah ini
pemakalah merasa masih banyak kekurangan - kekurangan baik pada teknis
penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki pemakalah.
Untuk itu kritik dan saran yang membangun dari semua pihak sangat penulis
harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini pemakalah menyampaikan ucapan terima
kasih yang tak terhingga kepada pihak - pihak yang membantu dalam
menyelesaikan pembuatan makalah ini. Semoga dengan adanya makalah ini dapat
menambah pengetahuan bagi pembaca.

Banyuwangi, 29 desember 2015

Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang
B. Tujuan Penulisan
C. Metode Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
H.
I.
J.

Definisi
Anatomi Fisiologi Sistem Pernapasan
Etiologi
Patofisiologi
Manifestasi Klinis
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Penunjang
Kompliaksi
Pengobatan
Penatalaksanaan
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
B. Pemeriksaan Fisik
C. Diagnosa Keperawatan
D. Tujuan dan Intervensi Keperawatan
E. Implementasi
F. Evaluasi
BAB III PENUTUP
A. Simpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pleuritis mengacu pada inflamasi kedua lapisan pleura, pleura parietalis, yang
menutupi permukaan dinding dada, mediastinum, dan permukaan atas diafragma,
dan pleura viseralis, yang menutupi seluruh permukaan kedua paru (Suzanne ,
2001).
Diketahui bahwa cairan masuk ke dalam rongga kosong antara kedua pleura
tersebut, karena biasanya di sana hanya terdapat sedikit (10-20 cc) cairan yang
merupakan lapisan tipis serosa dan selalu bergerak secara teratur. Terjadinya
infeksi pada pleura menyebabkan peradangan sehingga menimbulkan besarnya
permeabilitas pada lapisan pleura, dan menyebabkan masuknya cairan ke dalam
rongga pleura. Pada Pleuritis yang disebabkan fungi dan tuberkulosa terjadi
karena adanya reaksi hipersensitivitas.
Pleurisy seringkali dihubungkan dengan akumulasi dari cairan ekstra dalam
ruang antara dua lapisan dari pleura. Cairan ini dirujuk sebagai pleural effusion.
Pleurisy juga dirujuk sebagai pleuritis.
Cairan ini secara terus menerus diserap dan digantikan, terutama melaui
lapisan bagian luar dari pleura. Tekanan didalam pleura adalah negatif (seperti
dalam penghisapan) dan menjadi bahkan lebih negatif selama penghisapan
(bernapas masuk). Tekanan menjadi kurang negatif selama penghembusan
(bernapas keluar). Oleh karenanya, ruang diantara dua lapisan dari pleura selalu
mempunyai tekanan negatif. Introduksi dari udara (tekanan positif) kedalam ruang
(seperti dari luka pisau) akan berakibat pada mengempisnya paru.
Serat-serat nyeri dari paru berlokasi pada pleura. Ketika jaringan ini
meradang, itu berakibat pada nyeri yang tajam pada dada yang memburuk dengan
napas, atau pleurisy. Gejala-gejala lain dari pleurisy dapat termasuk batuk,
kepekaan dada, dan sesak napas.

B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan umum
Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman dalam melaksanakan proses asuhan
keperawatan pada klien dengan pleuritis.
2. Tujuan khusus
a. Agar mahasiswa dapat mendefinisi penyakit pleuritis.
b. Agar mahasiswa dapat menjelaskan etiologi penyakit pleuritis.

c. Agar mahasiswa dapat mengetahui patofisiologi penyakit pleuritis.


d. Agar mahasiswa dapat mengetahui manifestasi klinis penyakit pleuritis.
e. Agar mahasiswa dapat mengetahui pemeriksaan fisik penyakit pleuritis.
f. Agar mahasiswa dapat mengetahui pemeriksaan penunjang atau diagnostik
penyakit pleuritis.
g. Agar mahasiswa dapat mengetahui komplikasi penyakit pleuritis.
h. Agar mahasiswa dapat mengetahui pengobatan penyakit pleuritis.
i. Agar mahasiswa dapat mengetahui asuhan keperawatan penyakit pleuritis.
C. Metode Penulisan
Metode yang kami gunakan dalam penyusunan makalah ini yaitu dengan
pengkajian literatur baik dari buku, internet, dan berbagai sumber lainnya yang
relevan dengan topik kajian yang kami bahas, sehingga diharapkan bisa
memperkaya isi makalah ini.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Pleuritis
Pleuritis mengacu pada inflamasi kedua lapisan pleura, pleura parietalis, yang
menutupi permukaan dinding dada, mediastinum, dan permukaan atas diafragma,
dan pleura viseralis, yang menutupi seluruh permukaan kedua paru (Suzanne ,
2001).
Menurut Handrosmk dalam wordpress 2011, Pleuritis atau radang pleura
(Pleurisy/ Pleuritis/ Pleuritic chest pain) adalah suatu peradangan pada pleura
(selaput yang menyelubungi permukaan paru-paru).
Pleuritis adalah terjadinya suatu peradangan pada selaput dada/paru yang
disebabkan oleh kuman (Anita Mirwani, S.kep).
B. Anatomi Fisiologi Sistem Pernapasan

Paru - paru ada dua, merupakan alat pernapasan utama. Paru - paru mengisi
rongga dada, terletak disebelah kanan dan kiri dan disebelah tengah dipisahkan
oleh jantung. Paru - paru adalah organ yang berbentuk kerucut dengan apex
(puncak) diatas dan muncul sedikit lebih tinggi dari klafikula didalam dasar leher.
Pangkal paru - paru duduk diatas landai rongga torax, diatas diafragma. Paru paru mempunyai permukaan luar yang menyentuh iga - iga, permukaan dalam
yang memuat tampuk paru - paru, sisi belakang yang menyentuh tulang belakang
dan sisi depan yang menutupi sebagian sisi depan jantung.
Fungsi paru - paru ialah pertukaran gas oksigen dan karbon dioksida. Oksigen
dipungut melalui hidung dan mulut, pada waktu bernapas oksigen masuk melalui
trakea dan pipa bronkhial ke alveoli.
Lobus Paru - paru ( belahan paru - paru)
Paru - paru dibagi menjadi beberapa belahan atau lobus oleh fisura. Paru paru kanan mempunyai tiga lobus dan paru - paru kiri mempunyai dua lobus.
Setiap lobus tersusun atas lobula. Sebuah pipa bronkhial kecil masuk kedalam
setiap lobula.
Pleura
Setiap paru dilapisi oleh membran rangkap dua, yaitu pleura. Pleura viseralis
erat melapisi paru - paru, masuk ke dalam fisura dan dengan demikian
memisahkan lubus satu dengan yang lain. Membran ini kemudian dilipat kembali
kesebelah tampuk paru - paru dan membentuk pleura pariatalis, dan melapisi
bagian dalam dinding dada.
Di antara kedua lapisan pleura itu terdapat sedikit exsudat untuk meminyaki
permukaannya dan menghindarkan gesekan antara paru - paru dan dinding dada
yang sewaktu bernapas bergerak. Dalam keadaan sehat kedua lapisan itu satu
dengan yang lain erat bersentuhan. Ruang atau rongga pleura itu hanyalah ruang
yang tidak nyata, tetapi dalam keadaan tidak normal, udara atau cairan
memisahkan kedua pleura itu dan ruang di antaranya menjadi jelas.
C. Etiologi
Penyebab - penyebab dari timbulnya pleuritis adalah:
1. Virus dan Mikoplasma

Efusi

pleura

karena

virus

atau

mikroplasma

agak jarang.

Bila

terjadi jumlahnya tidak banyak dan kejadiannya hanya selintas saja. Jenis - jenis
virusnya

adalah

echovirus,

Coxsackie

group,

chlamidia, rivkettsia,

dan

mikroplasma.
2. Bakteri Piogenik
Bakteri yang sering ditemukan adalah: aerob dan anaerob. Bakteri - bakteri
aerob meliputi Streptucocus pneumonia, Streptucocus mileri, Stafilococus aureus,
Hemofilus spp, E.koli, Klebsiela, Pseudomonas spp. Bakteri - bakteri anaerob
meliputi Bakteroides spp, Peptostreptococus, Fusobakterium.
3. Tuberkulosis
Selain komplikasi tuberkulosa, dapat juga disebabkan oleh robeknya rongga
4.

pleura atau melalui aliran getah bening.


Fungi
Pleuritis karena fungi amat jarang. Biasanya terjadi karena penjalaran infeksi
fungi dari jaringan paru. Jenis fungi penyebab pleuritis adalah Aktinomikosis,
Koksidiomikosis, Aspergillus, Kriptokokus, Histoplasmolisis, Blastomikosis, dan

5.

lain - lain.
Parasit
Parasit yang menginvasi ke dalam rongga pleura hanyalah amoeba dalam
bentuk tropozoit.
Pathway

D. Patofisiologi
Ketika kedua membran yang mengalami inflamasi atau bergesekan selama
respirasi (terutama inspirasi), akibatnya nyeri hebat, tersa tajam seperti tusukan
pisau. Nyeri dapat menjadi minimal atau tidak terasa ketika nafas ditahan atau
dapat menjalar ke bahu audomen kemudian sejalan dengan terbentuknya cairan
pleura, nyeri akan berkurang pada periode dini ketika terkumpul sedikit cairan,
esekan, fiksi pleura dapat terdengar dengan steteskop, hanya akan menghilang
kemudian bila telah berkumpul cairan dan memisahkan pleura yang mengalami
inflamasi.
Pleuritis dapat terjadi dengan pneumonia atau infeksi traktus resfiratori atas
tuberkulosis, penyakit kolagen, infrak paru atau embolisme paru, pada kanker
primer metastatik dan setela torakatomi.
E.
1.
2.
3.

Manifestasi Klinis
Nyeri pada dada yang diperburuk oleh bernapas
Sesak Napas
Perasaan ditikam
Gejala yang paling umum dari pleuritis adalah nyeri yang umumnya
diperburuk saat inspirasi (menarik napas), akibatnya adalah nyeri hebat, terasa
seperti ditusuk. Meskipun paru - paru sendiri tidak mengandung syaraf - syaraf
nyeri apa saja, pleura mengandung berlimpah - limpah ujung - ujung syaraf.
Ketika cairan ekstra berakumulasi dalam ruang antara lapisan - lapisan dari
pleura, nyeri biasanya dalam bentuk pleurisy yang kurang parah.
Gejala radang pada awalnya dimulai dengan ketidaktenangan, kemudian
diikuti dengan pernapasan yang cepat dan dangkal. Dalam keadaan akut, karena
rasa sakit waktu bernapas dengan menggunakan otot - otot dada, pernafasan lebih
bersifat abdominal. Untuk mengurangi rasa sakit di daerah dada, bahu penderita
nampak direnggangkan keluar (posisi abduksi). Dalam keadaan seperti itu
penderita jadi malas bergerak. Kebanyakan penderita mengalami demam.
Kekurangan oksigen yang disebabkan oleh toksemia dan akibat radang paru - paru
yang mengikutinya, penderita dapat mengalami kematian setiap saat. Pada radang
pleura penderita nampak lesu karena adanya penyerapan toksin (toksemia). Proses
kesembuhan dapat pula terjadi, meskipun biasanya diikuti dengan adesi pleura.

Penderita demikian tampak normal, tetapi bila dikerjakan sedikit saja segera
menjadi lelah karena turunnya kapasitas vital pernapasannya. Kebanyakan
penderita

radang

kronik

hanya

memperlihatkan

kenaikan

frekuensi

pernapasannya.
Nyeri bervariasi, mulai dari rasa tidak enak sampai nyeri yang tajam seperti
ditikam. Nyeri bisa dirasakan hanya pada saat bernapas dalam atau batuk, atau
bisa juga dirasakan terus menerus, tapi bertambah hebat bila bernapas dalam dan
batuk.
Nyeri merupakan akibat dari peradangan pada lapisan pleura sebelah luar dan
biasanya dirasakan di dinding dada tepat di daerah yang mengalami peradangan.
Tetapi nyeri juga bisa dirasakan atau hanya timbul di perut atau leher dan bahu
sebagai suatu penjalaran nyeri (referred pain). Nyeri dapat menjadi minimal atau
tidak terasa ketika napas ditahan.
Jika cairan tertimbun dalam jumlah yang besar, maka akan terjadi pemisahan
lapisan pleura sehingga nyerinya hilang. Cairan dalam jumlah yang besar
menyebabkan penderita mengalami kesulitan dalam mengembangkan paru parunya pada saat bernapas sehingga terjadi gawat pernafasan.
F.
a.
1.
2.
3.
4.

Pemeriksaan Fisik
Inspeksi
Pemeriksaan dada dimulai dari torax posterior, klien pada posisi duduk.
Dada diobservasi dengan membandingkan satu sisi dengan yang lain.
Tindakan dilakukan dari atas (Apeks) sampai kebawah.
Inspeksi torak posterior, meliputi warna kulit dan kondisinya, skar, lesi, massa,

dan gangguan tulang belakang, seperti kiposis, skoliosis, dan lordosis.


5. Catat jumlah, irama, kedalaman pernapasan, dan kesimetrisan pergerakan dada.
6. Observasi tipe pernapasan, seperti pernapasan hidung atau pernapasan diafragma
dan penggunaan otot bantu pernapasan.
7. Kaji konfigurasi dada dan bandingkan diameter anterioposterior dengan diameter
lateral atau transversal.
8. Kelainan pada bentuk dada.
9. Observasi kesimetrisan pergerakan dada.
10. Observasi retraksi abnormal ruang inter kostal selama inspirasi, yang dapat
mengidentifikasi obstruksi jalan nafas.
b. Palpasi
1. Dilakukan untuk mengkaji kesimetrisan pergerakan dada dan mengobservasi
abnormalitas, mengidentifikasi keadaan kulit, dan mengetahui vokal tactile
premitu.

2.

Palpasi torax untuk mengetahui abnormalitas yang terkaji saat inspeksi seperti

massa, lesi, bengkak.


3. Kaji juga kelembutan kulit terutama jika klien mengeluh nyeri.
4. Vokal premitus, yaitu getaran dinding dada yang dihasilkan ketika berbicara.
c. Perkusi
1. Perkusi langsung, yakni pemeriksa memukul torax klien dengan bagian palmar
2.

jari tengah atau keempat ujung jari tangannya yang dirapatkan.


Perkusi tak langsung, yakni pemeriksa menempelkan suatu objek padat yang

disebut pleksi meter pada dada klien.


d. Auskultasi
1. Mencakup mendengarkan bunyi nafas normal, bunyi nafas tambahan (abnormal),
dan suara.
2. Suara napas normal dihasilkan dari getaran udara ketika melalui jalan napas dari
laring ke alveoli dengan sifat bersih.
3. Suara napas normal meliputi bronkial, bronkoveskular, dan vesekular.
G. Pemeriksaan Penunjang
1. Pada sinar tembus dada didapatkan bayangan seperti kurva, dengan permukaan
daerah lateral lebih tinggi daripada bagian medial.
2. Pada torakosintesis ditemukan: Warna cairan agak kemerah-merahan, kuning
kehijauan dan agak purulen, atau merah tengguli. Warna cairan pleura normal
adalah agak kekuning-kuningan. Pemeriksaan biokimia meliputi cairan eksudat
dan transudat, kadar cairan transudat normalnya <3 g/dl dan eksudat > 3 g/dl.
3. Pemeriksaan lain adalah pH, kadar glukosa dan kadar amilase.
4. Pleuritis karena virus atau mikoplasma: Cairan efusi biasanya eksudat dan berisi
5.

leukosit 100 - 6.000 per cc.


Pleuritis karena bakteri piogenik: Deteksi antibodi terhadap virus dalam cairan

6.

efusi.
Pleuritis tuberkulosa: Mula - mula yang dominan adalah sel polinuklear, tapi
kemudian sel limfosit karena reaksi hipersensitivitas terhadap tuberkuloprotein.
Pemeriksaan utama untuk menegakkan diagnosa dalam cairan efusi (kultur) atau
dengan biopsi jaringan pleura. Secara umum pemeriksaan untuk menegakkan
diagnosa adalah:
Rontgen Thorax

H. Komplikasi
Adapun komplikasi dari pleuritis ialah :

Efusi pleura/ empiema (pleuritis purulenta)

Pneumotorax (pengumpulan udara dalam rongga dada/thorax)

Piopneumotoraks

Abses paru (terkumpulnya nanah dalam rongga yang tadinya tidak ada)

Gagal nafas

I.

Pengobatan
Pengobatan pleuritis tergantung kepada penyebabnya. Jika penyebabnya
adalah infeksi bakteri, diberikan antibiotik. Jika penyebabnya adalah virus, tidak
diperlukan pengobatan. Jika penyebabnya adalah penyakit autoimun, dilakukan
pengobatan terhadap penyakit yang mendasarinya.
Apapun penyebab dari pleuritis, biasanya nyeri dada bisa diredakan dengan
memberikan obat pereda nyeri seperti asetaminofen atau ibuprofen. Kodein dan
golongan narkotik lainnya merupakan pereda nyeri yang lebih kuat tetapi
cenderung bersifat menekan batuk, sehingga bukan merupakan langkah yang baik
karena bernafas dalam dan batuk membantu mencegah terjadinya pneumonia.
Karena itu jika sudah tidak terlalu nyeri, penderita pleuritis dianjurkan dan
didorong untuk bernafas dalam dan batuk.

Batuk mungkin tidak terlalu nyeri jika penderita atau penolong menempatkan /
memeluk sebuah bantal di daerah yang sakit. Membungkus seluruh dada dengan
perban elastis yang tidak lengket, juga bisa membantu meredakan nyeri yang
hebat. Tetapi membungkus dada untuk mengurangi pengembangannya, akan
meningkatkan resiko terjadinya pneumonia.
J. Penatalaksanaan
Tujuan

pengobatan

adalah

untuk

menemukan

kondisi

dasar

yang

menyebabkan pleuritis dan untuk menghilangkan nyeri dengan diatasinya


penyakit dasar (Pnemonia, dan infeksi), imflamasi pleuritis biasanya menghilang.
Pada waktu yang sama, penting artinya untuk memantau tanda - tanda dan gejala gejala efusi pleura, seperti sesak nafas, nyeri dan penurunan ekskruksi dinding
dada.
Analgesik yang diresepkan dan aplikator topikal panas atau dingin akan
memberikan peredaan simptomatik. Indomestasin, obat anti imflamasi non
steroidal, dapat memberikan peredaan nyeri sambil memungkinkan pasien batuk
secara efektif. Jika nyeri sangat hebat, diberikan blok intercostal prokain.
Adapun obat - obat yang dapat digunakan pada penderita dengan masalah
pleuritis adalah sebagai berikut :
1. Analgesik
2. Antibiotik
3.

Antidiuretik

4. Pemasangan wsd untuk mengeluarkan cairan

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
1) Pengkajian

Biodata
nama

umur

jenis klamin

Riwayat kesehatan

Keluhan Utama dan Riwayat Kesehatan Sekarang


Keluhan utama yang sering timbul pada klien pleuritis adalah nyeri dada yang
diperburuk saat bernapas, sesak napas yang ditandai dengan pernapasan yang
cepat dan dangkal.

Riwayat Kesehatan Masa Lalu


Pleuritis sering kali timbul setelah infeksi saluran napas atas (infeksi pada hidung
dan tenggorokan). Resiko tinggi timbul pada klien dengan riwayat post - operasi,
infeksi pernapasan, dan klien dengan imunosupresi (kelemahan dalam sistem
imun).

2) Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan Kulit

Inspeksi

: kulit tidak ada ikterik / pucat / sianosis.

Palpasi

: lembab, turgor baik / elastic, tidak ada edema.

Pemeriksaan Rambut dan Kuku


Inspeksi
: bersih, bentuk normal tidak ada tanda-tanda jari tabuh (clubbing

finger), tidak ikterik / sianosis.


Palpasi
: aliran darah kuku akan kembali < 3 detik.
Pemeriksaan kepala, wajah, mata, telinga, hidung, mulut dan leher
Kepala
Inspeksi
: simetris, bersih, tidak ada lesi, tidak menunjukkan tanda tanda kekurangan gizi (rambut jagung dan kering)
Palpasi : tidak ada penonjolan / pembengkakan, rambut lebat dan kuat / tidak
rapuh.
Wajah
Inspeksi

: warna sama dengan bagian tubuh lain, tidak pucat / ikterik,

simetris.
Palpasi : tidak ada nyeri tekan dan edema.
Mata

Inspeksi

: simetris mata kika, simetris bola mata kika, warna konjungtiva

pink, dan sclera berwarna putih.


Palpasi : tidak nyeri tekan
Telinga
Inspeksi : bentuk dan posisi simetris kika, integritas kulit bagus, warna sama
dengan kulit lain, tidak ada tanda - tanda infeksi, dan alat bantu dengar.
Palpasi : tidak ada nyeri tekan.
Pemeriksaan Hidung
Inspeksi : simetris kika, warna sama dengan warna kulit lain, tidak ada lesi, tidak
ada sumbatan, perdarahan dan tanda - tanda infeksi.
Palpasi dan perkusi : tidak ada bengkak dan nyeri tekan.
Pemeriksaan mulut dan bibir
Inspeksi dan palpasi struktur luar : warna mukosa mulut dan bibir, tekstur , lesi,
dan stomatitis.
Inspeksi dan palpasi strukur dalam : gigi lengkap, tidak ada tanda - tanda gigi
berlobang atau kerusakan gigi, tidak ada perdarahan atau radang gusi, lidah
simetris, warna pink, langit - langit utuh dan tidak ada tanda infeksi.
Pemeriksaan leher
Inspeksi
: warna sama dengan kulit lain, integritas kulit baik, bentuk
simetris, tidak ada pembesaran kelenjer gondok.
Inspeksi dan auskultasi arteri karotis: arteri karotis terdengar.
Inspeksi dan palpasi kelenjer tiroid : tidak teraba pembesaran kel.gondok, tidak
ada nyeri, tidak ada pembesaran kel.limfe, tidak ada nyeri.
Auskultasi : bising pembuluh darah.
Pemeriksaan Dada dan Paru - paru
Inspeksi
: Nampak sakit, gerak dada sisi sakit tertinggal, tidak simetris
Palpasi
: gerak dada sisi sakit tertinggal, fremitus raba sisi sakit turun
Perkusi
: Suara ketuk sisi sakit redup pada bagian bawah garis Ellis
Damoiseau
Auskultasi
: Suara nafas sisi sakit turun/hilang
Pemeriksaan Kardiovaskuler
Inspeksi
: simetris
Perkusi : dennyutan aorta teraba
Palpasi : pembesaran, nyeri tekan
Auskultasi
: bunyi jantung pertama akibat penutupan katub mitralis dan
trikuspidalis (lub), bunyi jantung kedua akibat penutupan katup aorta dan
pulmonalis (dub)
Pemeriksaan Abdomen
Inspeksi
: bentuk simetris, warna dengan warna kulit lain, tidak ikterik tidak
terdapat ostomy, distensi, tonjolan, pelebaran vena, kelainan umbilicus.
Auskultasi : suara peristaltic terdengar setiap 5-20x/dtk

Perkusi : timpani, bila hepar dan limfa membesar = redup dan apabila banyak
cairan = hipertimpani
Palpasi : tidak teraba penonjolan tidak ada nyeri tekan, tidak ada massa dan
penumpukan cairan
Pemeriksaan Anus
Inspeksi : hemoroid, tidak ada lesi, warna
Palpasi : Tidak ada nodula pada dinding rectum, massa,tidak ada rasa nyeri
Pemeriksaan Alat kelamin
Inspeksi : penyebaran dan pertumbuhan rambut pubis merata,
Palpasi : tidak nyeri tekan
3) Diagnosa Keperawatan
1.

Ketidakefektifan jalan nafas b/d menurunnya ekspansi paru sekunder terhadap


menumpuknya cairan dalam rongga pleura.

2. Nyeri dada b/d faktor biologis (adanya infeksi )


3. Intoleransi aktivitas b/d ketidak seimbangan suplai dan kebutuhan oksigen.
4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d anoreksia
4) Intervensi dan Tujuan Keperawatan
Diagnosa I
Ketidakefektifan jalan nafas b/d menurunnya ekspansi paru sekunder terhadap
menumpuknya cairan dalam rongga pleura
Tujuan : Pola nafas efektif dengan kriteria
o Sesak nafas berkurang hingga hilang
o Batuk berkurang hingga hilang
o Auskultasi bunyi nafas vesikuler
1. Intervensi : Kaji frekuensi, kedalaman dan kualitas pernapasan.
Rasional : meningkatkan frekuensi pernapasan merupakan indikator sesak yang
dialami oleh pasien.
2. Intervensi : beri posisi semi fouler.
Rasional : posisi ini dapat memaksimalkan ekspansi paru.
3. Intervensi : observasi tanda vital tiap 4 jam.
Rasional : mengetahui keadaan umum pasien dan memberi gambaran mekanisme
jantung dan pernapasan.

4. Intervensi : beri minum air hangat.


Rasional : air hangat berfungsi sebagai pengencer dahak.
5. Intervensi : kolaborasi dengan dokter pemberian oksigen.
Rasional : memenuhi kebutuhan suplai oksigen.
6. Intervensi : kolaborasi dengan dokter pemasangan selang dada.
Rasional : tindakan lanjutan mengeluarkan cairan dalam rongga pleura.
Diagnosa II
Nyeri dada b/d faktor biologis (adanya infeksi )
Tujuan : Nyeri berkurang hingga hilang dengan kriteria
o Nyeri tidak ada
o Nadi normal, suhu normal.
1.

Intervensi : Kaji tingkat nyeri


Rasional : Mengetahui skala nyeri dan kualitas nyeri

2.

Intervensi : Observasi tanda vital


Rasional : Mengetahui keadaan umum pasien

3.

Intervensi : Ajarkan tekhnik relaksasi bila nyeri


Rasional : Mengetahui keadaan umum pasien

4.

Intervensi : Ajarkan tekhnik relaksasi bila nyeri


Rasional : Memberikan rasa nyaman dam mengurangi rasa sakit

5.

Intervensi : Kolaborasi dengan dokter pemberian analgetik dan antibiotik

Rasional : Analgetik dapat mengurangi nyeri dan antibiotik dapat menghilangkan


infeksi
Diagnosa III
Intoleransi aktivitas b/d ketidak seimbangan suplai dan kebutuhan oksigen.
Tujuan : adanya kemampuan melakukan aktivitas dengan kriteria :
o Pasien segar tidak lemah
o Pasien tidak pucat
o Tidak tacipnea
1.

Intervensi : Kaji tingkat intoleran aktivitas


Rasional : Mengetahui tingkat aktivitas pasien dan dapat menentukan
dalam menentukan intervensi

2.

Intervensi : Observasi frekuensi pernapasan dalam aktivitas


Rasional : Mengetahui frekuensi pernapasan

3.

Intervensi : Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan


Rasional : Meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai
dan kebutuhan oksigen

4.

Intervensi : Berikan oksigen sesuai indikasi, instruksi dokter


Rasional : Mengurangi sesal, terpenuhinya suplai oksigen

Diagnosa IV
Perubahan nutrisi kurang darai kebutuhan tubuh b/d anoreksia.
Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi dengan kriteria :
o Nafsu makan baik
o Porsi makan dihabiskan
o Kondisi pasien tidak lemah
1.

Kaji masukan nutrisi setiap hari dan kebiasaan diet.


Rasional : mengetahui banyaknya nutrisi yang masuk.

2.

Pantau berat badan saat masuk rumah sakit dan saat sekarang.
Rasional : untuk mengetahui masukan, diet/menentukan kebutuhan kalori.

3.

Pertahankan diet tinggi protein dan karbohidrat.


Rasional : dapat menambah energi.

4.

Anjurkan makan sering tapi sedikit.


Rasional :memenuhi kebutuhan nutrisi.

5.

Beri makanan yang bervariasi (masih dalam standar diet).


Rasional : makanan yang bervariasi dapat menambah daya tarik untuk

makan.
6. Health

education

tentang

pentingnya

nutrisi

bagi

tubuh

dalam

masa

penyembuhan.
Rasional : dengan memahami pentingnya nutrisi dapat menimbulkan motivasi
untuk makan.
5) Implementasi
Diagnosa I
1.
Mengkaji frekuensi, kedalaman dan kualitas pernapasan
2.
Memberi posisi semi fouler
3.
Mengobservasi tanda vital tiap 4 jam

4.
5.
6.

Memberi minum air hangat


Mengkolaborasi dengan dokter pemberian oksigen
Mengkolaborasi dengan dokter pemasangan selang dada

Diagnosa II
1.

Mengkaji tingkat nyeri

2.

Mengobservasi tanda vital

3.

Mengajarkan tekhnik relaksasi bila nyeri

4.

Mengkolaborasi dengan dokter pemberian analgetik dan antibiotik

Diagnosa III
1.

Mengkaji tingkat intoleran aktivitas

2.

Mengobservasi frekuensi pernapasan dalam aktivitas

3.

Membantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan

4.

Memberikan oksigen sesuai indikasi, instruksi dokter

Diagnosa IV
1.

Mengkaji masukan nutrisi setiap hari dan kebiasaan diet

2.

Memantau berat badan saat masuk rumah sakit dan saat sekarang

3.

Mempertahankan diet tinggi protein dan karbohidrat

4.

Menganjurkan makan sering tapi sedikit

5.

Memberi makanan yang bervariasi (masih dalam standar diet)

6.

Health education tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh dalam masa


penyembuhan

6) Evaluasi
Berdasarkan implementasi yang di lakukan, maka evaluasi yang di harapkan
untuk klien dengan gangguan sistem pernapasan pleuritis adalah : tanda-tanda
vital stabil, kebutuhan nutrisi terpenuhi, kebutuhan oksigen terpenuhi (tidak
sesak), klien dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari secara mandiri, klien merasa
nyaman infeksi tidak terjadi dan keluaga klien mengerti tentang penyakitnya.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pleuritis adalah terjadinya suatu peradangan pada selaput dada/paru yang
disebabkan oleh kuman (Anita Mirwani, S.kep).

Penyebab-penyebab

dari

timbulnya pleuritis adalah virus dan mikoplasma, bakteri Pogenik tuberkulosis,


fungi, parasit.
Diketahui bahwa cairan masuk ke dalam rongga kosong antara kedua pleura
tersebut, karena biasanya di sana hanya terdapat sedikit (10-20 cc) cairan yang
merupakan lapisan tipis serosa dan selalu bergerak secara teratur. Terjadinya
infeksi pada pleura menyebabkan peradangan sehingga menimbulkan besarnya
permeabilitas pada lapisan pleura, dan menyebabkan masuknya cairan ke dalam
rongga pleura. Pada Pleuritis yang disebabkan fungi dan tuberkulosa terjadi
karena adanya reaksi hipersensitivitas.
Pengobatan pleuritis tergantung kepada penyebabnya. Jika penyebabnya
adalah infeksi bakteri, diberikan antibiotik. Jika penyebabnya adalah virus, tidak
diperlukan pengobatan. Jika penyebabnya adalah penyakit autoimun, dilakukan
pengobatan terhadap penyakit yang mendasarinya.
Tujuan pengobatan adalah untuk menemukan

kondisi

dasar

yang

menyebabkan pleuritis dan untuk menghilangkan nyeri dengan diatasinya


penyakit dasar (Pnemonia, dan infeksi), imflamasi pleuritis biasanya menghilang.
Pada waktu yang sama, penting artinya untuk memantau tanda-tanda dan gejalagejala efusi pleura, seperti sesak nafas, nyeri dan penurunan ekskruksi dinding
dada.
B. Saran

Dengan adanya makalah pleuritis diharapkan mahasiswa mampu memahami


tentang pleuritis dan nenambah wawasan tentang pleuritis.
Apabila ada kesalahan pada makalah ini diharapkan kritik dan saran yang
bersifat membangun dan kita semua bisa memetik manfaat dari makalah ini.