Anda di halaman 1dari 19

Oleh : Yenny Febrianty

Pailit (Munir Fuady); suatu sita umum atas seluruh


harta debitor agar dicapai perdamaian antara
debitor dan para kreditor, atau agar hartanya dapat
dibagi-bagi secara adil diantara para kreditor.
sarana hukum utk penyelesaian kepailitan ini adalah
dengan peraturan perundang-undangan.

UU No.30/2004, UU Kepailitan dan


Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
(PKPU) :
mengatur dan mewujudkan penyelesaian masalah
utang piutang secara tepat, adil, terbuka dan efektif.

Pasal 2 ayat (2) UU Kepailitan dan


PKPU, :
Kejaksaan Berwenang untuk mengajukan
Demi Kepentingan Umum.

Kepailitan

Syarat bagi Kejaksaan untuk


memailitkan tersebut :

apabila persyaratan Pasal 2 ayat (1) UU


Kepailitan dan PKPU telah terpenuhi
dan tidak ada yang mengajukan
permohonan pailit.

PP No.17/2000 tentang Permohonan Pailit


Untuk Kepentingan Umum.

artinya, bahwa Kejaksaan dapat


mengajukan permohonan tanpa melalui
jasa advokat, karena dalam hal ini
Kejaksaan bertindak sebagai Jaksa
Pengacara Negara.

1. Bagaimana Metode Penentuan Utang


Debitor kepada kreditor demi
kepentingan
umum,
sehingga
Kejaksaan dapat mewakili sebagai
Jaksa
Pengacara
Negara
dalam
mengajukan Permohonan Kepailitan ke
Pengadilan Niaga?
2. Apa Sajakah Hambatan yang bisa
timbul
bagi Kejaksaan sebagai
Pemohon
dalam mengajukan
Perkara
Kepailitan
Demi
Kepentingan Umum?

1. Untuk mengetahui Metode Penentuan


Utang Debitor kepada kreditor demi
kepentingan umum, sehingga
Kejaksaan dapat mewakili sebagai
Jaksa Pengacara Negara dalam
mengajukan Permohonan Kepailitan
ke Pengadilan Niaga.
2. Untuk mengetahui Hambatan yang
bisa
timbul bagi Kejaksaan sebagai
Pemohon
dalam mengajukan Perkara
Kepailitan Demi Kepentingan Umum.

1.

Kegunaan Teoritis :
Memberi kegunaan dan pencerahan
dalam bidang Hukum Kepailitan di
Indonesia pada umumnya, dan
khususnya memberi kegunaan
pengetahuan tentang kewenangan
permohonan pernyataan kepailitan yang
diajukan oleh Kejaksaan.
2. Kegunaan Praktis ;
Masyarakat Umum
Lembaga Kejaksaan
Pemerintah

Merujuk pada : Teori Kewenangan dari


Max Weber
Konsep kewenangan
adanya aturan aturan hukum
adanya sifat hubungan hukum
Negara dlm hal ini memberi Kewenangan kpd
Kejaksaan sbg tugas Jaksa Pengacara Negara Utk
mengajukan Kepailitan dalam terbatas pada
salah satu sektor bidang saja, yaitu sbg
pembela para pihak yang dirugikan dalam
kepailitan demi kepentingan umum.

1.

Metode Pendekatan :

Yuridis Normatif
2.

Spesifikasi Penelitian :
Deskriptif Analitis
dengan data
sekunder
dan data primer sbg data
Penunjang

3. Teknik Pengumpulan data


a. Pengumpulan data primer
b. Pengumpulan data sekunder
-. Bahan Hukum Primer
-. Bahan Hukum Sekunder
-. Bahan Hukum Tersier
4. Metode Analisa Data
Analisis Data Kualitatif.
5. Lokasi Penelitian ;
Kasus di Kejari

Wawancara pada Jaksa Jaksa


Cibadak (khususnya)
Jabar (umumnya)

6. Keaslian Penelitian

Belum pernah menemukan atau


membaca tulisan yang sama dg
penelitian ini sebelumnya.

Bab II, Lembaga Kejaksaan Sebagai Pemohon


Dalam Perkara Kepailitan
Ttg, Sejarah Kejaksaan Republik Indonesia, Tuga
Dan Wewenang Kejaksaan Sebagai Badan
Yudikatif
Dan tinjauan Tentang Kepailitan dan Penundaan
Pembayaran Utang

Bab III, Kasus Posisi Perihal Permohonan


Pernyataan
Pailit thd PT. Qurnia Subur Alam Raya
HM.Ramli Araby,SE selaku pribadi dan
selaku direktur yg diajukan oleh

Berisikan ttg, Analisa Hukum dari Putusan MA


No.308 K/Pid/2004, Kedudukan Hukum
Pemohon Sebagai Pengacara Negara
Berwenang Mengajukan Permohonan Pailit
Demi Kepentingan Umum, tentang Utang
Termohon pailit kepada masyarakat yg telah
jatuh tempo dan dapat ditagih tetapi tdk
dibayar oleh termohon pailit, dan tentang
permohonan pernyataan pailit terhadap
termohon telah sesuai dgn ketentuan UU
No.37/2004 ttg Kepailitan dan PKPU

Bab IV, Implementasi Kewenangan Kejaksaan


sebagai Pemohon Dalam
Mengajukan
Kepailitan Demi Kepentingan Umum
Berisikan, metode penentuan utang debitor
kepada kreditor demi kepentingan umum
sehingga kejaksaan dapat mewakili sebagai
jaksa pengacara negara dalam mengajukan
permohonan kepailitan ke pengadilan niaga
dan hambatan yang bisa timbul bagi
kejaksaan sebagai pemohon dalam
mengajukan perkara kepailitan demi

Bab V, Kesimpulan dan Saran

Bab penutup tentang kesimpulan dan


saran.

----Terima Kasih-----