Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH PERPINDAHAN MASSA TERMAL

PARAREL EVAPORASI

NAMA KELOMPOK : 4
IMAN APRILAH

NIM. 0612 3040 1017

RISKA

NIM. 0613 3040 1023

RENA

NIM. 0613 3040 1019

SITI NURJANAH

NIM. 0613 3040 1025

MEGA SILVIA

NIM. 0613 3040 1016

CANNA

NIM. 0613 3040 1009


KELAS: 5 KD

DOSEN PENGAJAR : DR. IR. M. YERIZAM, M.T

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA

JURUSAN TEKNIK KIMIA


2016
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Proses evaporasi telah dikenal sejak dahulu, salah satunya yaitu untuk membuat
garam dengan cara menguapkan air dengan bantuan energi matahari dan angin. Evaporasi itu
sendiri adalah salah satu kaedah utama dalam industri kimia yang berfungsi untuk
memekatkan larutan yang encer. Sedangkan pengertian umum dari evaporasi ini adalah
menghilangkan air dari larutan dengan mendidihkan larutan di dalam tabung yang sesuai
dan disebut dengan evaporator. Evaporasi bertujuan untuk memekatkan larutan yang
terdiri dari zat terlarut yang tidak mudah menguap dan pelarut yang mudah menguap.
Macam-macam peralatan penguapan/evaporator : evaporator kancah terbuka, evaporator
dengan tabung pendek yang melintang, evaporator dengan tabung pendek yang tegak,
evaporator yang mempunyai sirkulasi alamiah dengan kalanria bagian luar, evaporator
dengan sirkulasi yang dipaksa, evaporator bertabung panjang, evaporator piring, evaporator
sentrifugal dan evaporator pengaruh berganda.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Makalah ini kami buat dengan cara mengumpulkan data dari berbagai sumber di
internet. Lalu kami rangkum agar dapat lebih mudah untuk dipahami dan dicerna
oleh pembaca.
Makalah ini terdiri atas beberapa bab dan sub bab seperti :

Pengertian evaporasi dan evaporator


Prinsip kerja evaporator
Perbedaan destilasi dan evaporasi
Pola aliran zat cair dalam evaporator
Komponen dan Cara kerja evaporator
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses evaporator
Jenis-jenis evaporator
Tipe-tipe Evaporator
evaporator efek tunggal (single effect)

Evaporator Efek Majemuk / Efek Berganda


Pertimbangan Pemilihan Evaporator
Aplikasi Evaporasi dalam Industri
Makalah ini dilengkapi dengan gambar gambar yang semoga bisa bermanfaat dan
menambah wawasan kepada pembaca untuk dapat mengetahui dan memahami bentuk
bentuk dari alat evaporator .
1.3 TUJUAN PENULISAN
Tujuan dari penulisan tentang evaporasi yang kami dapatkan dari berbagai sumber
di internet adalah antara lain untuk memenuhi tugas yang telah diberikan dari mata kuliah
Peralatan Industri Proses II. Tidak hanya itu, makalah ini juga dapat di jadikan sebagai bahan
referensi oleh para pembaca untuk menambah wawasan dan pengetahuan khususnya pada
materi evaporasi dan jenis jenisnya yang mungkin dapat melengkapi buku buku mengenai
evaporasi ini.
1.4 MANFAAT PENULISAN
Manfaat dari penulisan dan pembuatan makalah tentang evaporasi ini adalah untuk
penulis dan pembaca antara lain :

Pembaca Tahu dan Mengerti Pengertian evaporasi dan evaporator


Pembaca Tahu dan Mengerti Prinsip kerja evaporator
Pembaca Tahu dan Mengerti Perbedaan destilasi dan evaporasi
Pembaca Tahu dan Mengerti Pola aliran zat cair dalam evaporator
Pembaca Tahu dan Mengerti Komponen dan Cara kerja evaporator
Pembaca Tahu dan Mengerti Faktor-faktor yang mempengaruhi proses evaporator
Pembaca Tahu dan Mengerti Jenis-jenis evaporator
Pembaca Tahu dan Mengerti Tipe-tipe Evaporator
Pembaca Tahu dan Mengerti evaporator efek tunggal (single effect)
Pembaca Tahu dan Mengerti Evaporator Efek Majemuk / Efek Berganda
Pembaca Tahu dan Mengerti Pertimbangan Pemilihan Evaporator
Pembaca Tahu dan Mengerti Aplikasi Evaporasi dalam Industri

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Evaporasi dan Evaporator

Evaporasi dapat didefinisikan dalam dua kondisi, yaitu evaporasi yang berarti proses
penguapan yang terjadi secara alami dan evaporasi yang dimaknai proses penguapan yang
timbul akibat diberikan uap panas (steam) dalam suatu peralatan.
Evaporasi dapat diartikan sebagai proses penguapan daripada liquid (cairan) dengan
penambahan panas (Robert B. Long, 1995). Panas dapat disuplai dengan berbagai cara,
diantaranya secara alami dan penambahan steam. Evaporasi diadasarkan pada proses
pendidihan secara intensif yaitu pemberian panas ke dalam cairan, pembentukan gelembunggelembung (bubbles) akibat uap, pemisahan uap dari cairan, dan mengkondensasikan uapnya.
Evaporasi atau penguapan juga dapat didefinisikan sebagai perpindahan kalor ke dalam zat
cair mendidih (Warren L. Mc Cabe, 1999).
Evaporasi merupakan suatu proses penguapan sebagian dari pelarut sehingga didapatkan
larutan zat cair pekat yang konsentrasinya lebih tinggi. Tujuan dari evaporasi itu sendiri yaitu
untuk memekatkan larutan yang terdiri dari zat terlarut yang tak mudah menguap dan pelarut
yang mudah menguap. Dalam kebanyakan proses evaporasi, pelarutnya adalah air. Evaporasi
tidak sama dengan pengeringan, dalam evaporasi sisa penguapan adalah zat cair, kadangkadang zat cair yang sangat viskos, dan bukan zat padat. Begitu pula, evaporasi berbeda
dengan distilasi, karena disini uapnya biasanya komponen tunggal, dan walaupun uap itu
merupakan campuran, dalam proses evaporasi ini tidak ada usaha untuk memisahkannya
menjadi fraksi-fraksi. Biasanya dalam evaporasi, zat cair pekat itulah yang merupakan
produk yang berharga dan uapnya biasanya dikondensasikan dan dibuang.
Evaporasi merupakan satu unit operasi yang penting dan banyak dipakai dalam industri kimia
dan mineral. Evaporasi merupakan proses pemekatan cairan dengan memberikan panas pada
cairan tersebut dengan menggunakan energi yang intensif yaitu sejumlah uap sebagai sumber
panas.Evaporator adalah alat yang banyak digunakan dalam industri kimia untuk
memekatkan suatu larutan.Terdapat banyak tipe evaporator yang dapat digunakan dalam
industri kimia.
Sedangkan evaporator adalah alat yang banyak digunakan dalam industri kimia untuk
memekatkan suatu larutan. Pada proses fisik, evaporator memerlukan energi untuk mengubah
cair menjadi uap. Evaporator menggunakan proses penguapan untuk menurunkan pelarut,
evaporator membutuhkan panas dalam pengoperasiannya. salah satu sumber panas untuk
evaporator berasal dari uap air yang terbentuk dari boiler steam atau buangan uap proses lain.

B. Prinsip-Prinsip Evaporasi
Penguapan atau evaporasi merupakan perubahan wujud zat dari cair menjadi uap

Penguapan

menghasilkan larutan yang lebih pekat


Evaporasi merupakan proses pemisahan terroal, dipakani secara luas untukk

betujuan

memisahkan

pelarut

(solvent)

dari

larutan

sehingga

merekatkan cairan dalam bentuk larutan, suspensi maupun emulsi dengan cara

menguapkan pelarutnya, umumnya air dan cairan.


Evaporasi menghasilkan cairan yang lebih pekat, tetapi masih berup cairan pekat yang
dapat dipompa sebagai hasil utama, reaksi kadang-kadang ada pula cairan volatile
sebagai hasil utama, misalnya selama pemulihan pelarut.

C. Prinsip Kerja Evaporator


Evaporator adalah alat untuk mengevaporasi larutan sehingga prinsip kerjanya merupakan
prinsip kerja atau cara kerja dari evaporasi itu sendiri. Prinsip kerjanya dengan penambahan
kalor atau panas untuk memekatkan suatu larutan yang terdiri dari zat terlarut yang memiliki
titik didih tinggi dan zat pelarut yang memiliki titik didih lebih rendah sehingga dihasilkan
larutan yang lebih pekat serta memiliki konsentrasi yang tinggi.

D. Apa perbedaan evaporasi dengan destilasi?


Dalam proses evaporasi, uap yang dihasilkan biasanya adalah komponen tunggal dan
walaupun uap tersebut masih berupa campuran, biasanya dalam proses evaporasi ini tidak
ada usaha untuk memisahkannya menjadi fraksi-fraksi. Dalam destilasi, uap yang
dihasilkan masih memiliki komponen yang lebih dari satu.

perbedaan evaporasi dengan destilasi


E. Pola aliran zat cair dalam evaporator
Pada evaporator terdapat beberapa pola aliran atau cara pengumpanan zat cair yang masuk ke
dalam evaporator tersebut, diantaranya adalah :
a. Umpan Maju (Forward Feed)

Metode yang biasa digunakan untuk pengumpanan evaporator ialah dengan


memompakkan zat cair encer ke dalam efek pertama dan seterusnya ke dalam efek
efek berikutnya, cara ini disebut umpan maju ( forward feed ). Konsentrasi zat cair
dalam hal ini meningkat dari efek pertama sampai efek terakhir. Pola aliran zat cair
seperti ini adalah yang termudah. Cara ini memerlukan sebuah pompa untuk
mengumpulkan zar cair ke dalam efek pertama, karena efek ini biasanya berada pada
tekanan kira kira atmosfer dan sebuah lagi pompa untuk mengeluarkan cairan pekat
dari efek terakhir. Tetapi perpindahan efek berlangsung tanpa pompa, karena aliran
terjadi pada arah tekanan menurun, dan hanya diperlukan sebuah katup kendali
didalam pipa penghubung antara efek.
b. Umpan Mundur (Backward Feed)

Suatu cara lain yang umum dipakai ialah umpan mundur ( backward feed ), dimana
zat cair encer diumpankan ke efek terakhir, lalu dipompakan ke efek efek lain secara
berurutan hingga sampai ke efek pertama, seperti terlihat pada gamar. Cara ini
memerlukan sebuah pompa diantara setiap pasangan efek yang berdampingan
disamping pompa cairan pekat, karena aliran berlangsung dari tekanan rendah ke
tekanan tinggi. Umpan mundur sering menghasilkan kapasitas yang lebih besar
daripada umpan maju bila cairan pekat itu viskos, tetapi sebaliknya mungkin

menghasilkan ekonomi yang lebih rendah dari umpan maju bila cairan umpan itu
dingin.

c. Umpan Campuran (Mixed Feed)

Pola pola lain untuk mengumpan kadang kadang ada juga digunakan. Pada umpan
campuran ( mixed feed ) zat cair encer masuk ke dalam suatu efek antara, mengalir ke
ujung deret itu, lalu dipompakan kembali ke efek pertama untuk pemekatan akhir.
Dengan cara ini sebagian dari pompa pompa yang digunakan pada umpan mundur
tidak digunaka lagi, sedang di lain pihak, pelaksanaan operasi terakhir masih dapat
dilakukan pada suhu tertinggi. Dalam evaporator kristalisasi, dimana dimana
dihasilkan lumpur Kristal dan cairan induk, umpan itu mungkin dimasukkan secara
parallel.

d. Umpan Paralel (Paralel Feed)

Dalam evaporator kristalisasi, dimana dimana dihasilkan lumpur Kristal dan cairan
induk, umpan itu mungkin dimasukkan secara parallel langsung ke setiap efek, dan ini
disebut umpan parallel ( parallel feed ), seperti pada gambar. Dalam sistem umpan
parallel tidak terdapat perpindahan zat cair dari efek yang satu ke efek lain.

F. Komponen dan Cara kerja evaporator


a.

Komponen evaporator

Gambar rangkaian alat evaporator

Pada gambar diatas, akan dijelaskan beberapa nama beserta fungsinya :


1. Hot plate : berfungsi untuk mengatur suhu pada waterbath dengan temperatur yang
diinginkan (tergantung titik didih dari pelarut)
2. Waterbath : sebagai wadah air yang dipanaskan oleh hot plate untuk labu alas yang
berisi
sampel
3. Ujung rotor sampel : berfungsi sebagai tempat labu alas bulat sampel bergantung.
4. Lubang kondensor : berfungsi pintu masuk bagi air kedalam kondensor yang airnya
disedot oleh pompa vakum.
5. Kondensor : serfungsi sebagai pendingin yang mempercepat proses perubahan fasa,
dari fasa gas ke fasa cair.
6. Lubang kondensor : berfungsi pintu keluar bagi air dari dalam kondensor.
7. Labu alas bulat penampung : berfungsi sebagai wadah bagi penampung pelarut.

8. Ujung rotor penampung : berfungsi sebagai tempat labu alas bulat penampung
bergantung.
b.

Cara kerja

Dimasukkan aquadest kedalam waterbath


Dimasukkan larutan sampel yang akan diuapkan ke labu alas bulat
Dipanaskan waterbath sesuai suhu pelarut yang digunakan
Labu alas bulat yang berisi sampel di pasang pada ujung rotor
Dialiri air pendingin dan vakum dijalankan
Tombol rotor diputar dengan kecepatan tertentu (5-8 putaran)
Perlu diperhatikan, bahwa penguapan dapat terjadi karena adanya pemanasan

menggunakan hot plate yang dibantu dengan penurunan tekanan pada labu alas bulat
sampel yang dipercepat dengan pemutaran pada labu alas bulat sampel. Dengan bantuan
pompa vakum yang mengalirkan air dingin (es) dari suatu wadah kedalam kondensor dan
dikeluarkan lagi oleh kondensor kepada wadahnya lagi dan dimasukkan lagi dan seterusnya,
karena proses ini berjalan secara kontinyu. sehingga ketika uap dari pelarut mengenai
dinding-dinding kondensor, maka pelarut ini akan mengalami yang proses yg dinamakan
proses kondensasi, yaitu proses yang mengalami perubahan fasa dari fasa gas ke fasa cair.
Adapun demikian, proses penguapan ini dilakukan hingga diperoleh pelarut yang sudah tidak
menetes lagi pada labu alas bulat penampung dan juga bisa dilihat dengan semakin kentalnya
zat yang ada pada labu alas bulat sampel dan terbentuk gelembung-gelembung pecah pada
permukaan zatnya.

G. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses evaporator


Berikut ini adalah beberapa sifat penting dari zat cair yand di evaporasikan
1. Konsentrasi. Walaupun cairan encer yang diumpankan ke dalam evaporator mungkin
cukup encer sehingga beberapa sifat fisiknya sama denga air, tetapi jika
konsentrasinya meningkat, larutan itu akan makin bersifat individual. Densitas dan
viskositasnya meningkat bersamaan dengan kandungan zat padatnya, hingga larutan
itu menjadi jenuh atau jika tidak menjadi terlalu lamban sehingga tidak dapat
melakukan perpindahan kalor yang memadai. Jika zat cair jenuh didihkan terus, maka
akan terjadi pembentuka Kristal, dan Kristal Kristal ini harus dipisahkan karena bisa
menyebabkan tabung evaporator tersumbat. Titik didih larutan pun dapat meningkat
dengan sangat bila kandungan zat padatnya bertambah, sehingga suhu didih larutan
jenuh mungkin jauh lebih tinggi dari titik didih air pada tekanan yang sama.
2. Pembentukan Busa. Beberapa bahan tertentu, lebih lebih zat organic, membusa
( foam ) pada waktu diuapkan. Busa yang stabil akan ikut keluar evaporator bersama
uap, dan menyebabkan banyaknya bahan yang terbawa ikut. Dalam hal hal yang
ekstrem, keselurruhan massa zat cair itu mungkin meluap ke dalam saluran uap keluar
dan terbuang.
3. Kepekaan terhadap suhu. Beberapa bahan kimia berharga, bahan kimia farmasi, dan
bahan makanan dapat rusak bila dipanaskan pada suhu sedang selama waktu yang
singkat saja. Dalam mengkonsentrasikan bahan bahan seperti itu diperlukan teknik
khusus untuk mengurangi suhu zat cair dan menurunkan waktu pemanasan.
4. Kerak. Beberapa larutan tertentu menyebabkan pembentukan kerak pada permukaan
pemanasan. Hal ini menyebabkan koefisien menyeluruh makin lama makin
berkurang, sampai akhirnya kita terpaksa menghentikan operasi evaporator itu untuk
membersihkannya. Bila kerak itu keras dan tak dapat larut, pembersihan itu tidak
mudah dan memakan biaya.
5. Bahan konstruksi. Bilaman mungkin, evaporator itu dibuat dari baja. Akan tetapi,
banyak larutan yang merusak bahan bahan besi, atau menjadi terkontaminasi oleh
bahan itu. Karena itu digunakan juga bahan bahan konstruksi khusus, seperti
tembaga, nikel, baja tahan karat, aluminium, grafit tak tembus, dan timbale. Oleh
karena bahan bahan ini relative mahal, maka laju perpindahan kalor harus tinggi

agar dapat menurunkan biaya pokok peralatan.


Banyak karaktiristik zat cair juga perlu mendapat perhatian dari perancang evaporator,
antara lain ialah kalor spesifik, bahaya ledak, radioaktivitas, dan persyaratan operasi
steril ( suci hama ). Oleh karena adanya variasi dalam sifat sifat zat cair, maka
dikembangkanlah berbagai jenis rancang evaporator. Evaporator mana yang dipilih
untuk suatu masalah tertentu bergantung terutama pada karakterisrik zat cair itu.
H. Jenis-jenis evaporator
Evaporator dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

Submerged combustion evaporatoradalah evaporator yang dipanaskan oleh api yang


menyala di bawah permukaan cairan, dimana gas yang panas bergelembung melewati
cairan

Direct fired evaporatoradalah evaporator dengan pengapian langsung dimana api dan
pembakaran gas dipisahkan dari cairan mendidih lewat dinding besi atau permukaan
untuk memanaskan

Steam heated evaporatoradalah evaporator dengan pemanasan stem dimana uap atau
uap lain yang dapat dikondensasi adalah sumber panas dimana uap terkondensasi di
satu sisi dari permukaan pemanas dan panas ditranmisi lewat dinding ke cairan yang
mendidih.

I. Tipe-tipe Evaporator :
Tipe tipe utam evaporator tabung dengan pamasukan uap yang banyak dipakai sekarang ini
adalah
1. evaporator efek tunggal (single effect)
Yang dimaksud dengan efek tunggal adalah bahwa produk hanya melalui satu buah
ruang penguapan dan panas diberikan oleh satu luas pemukaan pindah panas.
Bagian bagian dari evaporator efek tunggal (single effect), adalah :
Evaporator tabung-panjang dengan aliran naik

Bagian bagian utama nya adalah :


1. Sebuah penukar kalor jenis tabung dengan uap dalam selongsong, dan zat
cair yang akan dipekatkan dalam tabung.
2. Sebuah separator ( pemisah ) atau ruang uap (vapor space ) untuk
memisahkan zat cair yang terbawa ikut dari uap.

3. Jika alat ini dioperasikan sebagai unit sirkulasi, sebuah kaki pemulang
( return leg ) untuk mengembalikan zat cair dari separator ke bagian
bawah penukar kalor
Alat ini mempunyai lubang masuk masing masing untuk zat cair umpan dan
untuk uap, lubang keluar masing masing untuk uap, cairan pekat, kondensat
uap, dan gas tak mampu kondensasi yang terkandung dalam uap.
Tabung tabungnya biasanya mempunyai diameter 1 sampai 2 in, dan
panjang 12 sampai 32 ft. Zat cair dan uap mengalir ke atas didalam tabung
sebagai akibat dari peristiwa didih yaitu zat cair yang terpisah kembali ke
dasar tabung dengan gravitasi. Umpan encer, biasanya pada suhu disekitar
suhu kamar, masuk ke dalam sistem dan bercampur denga zat cair yang
kembali dari separator. Umpan itu mengalir ke atas di dalam tabung sebagai
zat cair dalam jarak tertentu, yang tidak panjang, sambil menerima kalor dari
uap. Di dalam zat cair itu lalu terbentuk gelembung gelembung, sehingga
meningkatkan kecepatan linearnya dan meningkatkan laju perpindahan kalor.
Di dekat puncak tabung, gelembung itu bertambah besar dan cepat. Pada zone
ini gelembung uap berganti ganti dengan potongan zat cair dalam tabung
naik dengan cepat melalui tabung dan keluar dengan kecepatan tinggi dari
ujung atas tabung.
Dari tabung itu, campuran zat cair selanjtunya masuk ke dalam
separator. Diameter separator itu lebih besar daripada diameter penukar kalor,
sehingga kecepatan linear uap menjadi jauh berkurang. Untuk membantu
pemisahan tetes tetes zat cair, uap itu dibuat menumbuk seperangkat sekat,
lalu mengalir melewati sekat itu sebelum keluar dari separator.
Evaporator vertical tabung panjang sangat efektif untuk memekatkan
zat cair yang mempunyai kecenderungan membentuk busa. Busa itu akan
pecah bila campuran zat cair dan uap berkecepatan tinggi menumbuk sekat
dibagian kepala uap.

Evaporator Film Jatuh (Falling Film)

A: Product
B: Vapor
C: Concentrate
D: Heating Steam
E: Condensate
1: Head
2: Calandria
3: Calandria, Lower part
4: Mixing Channel
5: Vapor Separator

Pemekatan bahan bahan yang sangat peka terhadap panas, seperti air
jeruk, mengharuskan waktu kontak yang singkat sekali dengan permukaan
panas. Hal ini dicapai dengan menggunakan evaporator film jatuh sekali
lintas, dimana zat cair masuk dari atas, lalu mengalir kebawah di dalam

tabung panas itu dalam bentuk film, kemudian keluar dari bawah. Tabung
tabungnya biasanya agak besar, diameternya antara 2 sampai 10 in. Uap yang
keluar dari zat cair itu biasanya terbawa turun bersama zat cair, dan keluar
dari bagian bawah unit itu. Evaporator ini bentuknya menyerupai suatu
penukar kalor jenis tabung, yang panjang, vertical, dan diperlengakapi dengan
seperator zat cair uap dibawah, dan distributor ( penyebar ) zat cair di atas.
Masalah utama dengan evaporator film jatuh ialah dalam
mendistribusikan zat cair itu secara seragam menjadi film di bagian dalam
tabung. Hal ini dilakukan dengan menggunakan seperangakat plat logam
berlubang lubang ( perforasi ) yang ditempatkan lebih tinggi diatas plat
tabung yang dipasang dengan teliti agar benar benar horizontal. Tabung
tabung itu diberi sisip pada ujungnya yang memungkinkan zat cair mengalir
dengan teratur ke setiap tabung itu. Atau dapat pula dipasang distributor
kalajengking dengan lengan lengan radial untuk menyemprotkan umpan
dengan laju stedi ke dalam permukaan dalam setiap tabung. Cara lain ialah
dengan menggunakan nosel penyemprot di dalam setiap tabung.
Bila sirkulasi dapat dilakukan tanpa menimbulakan perusakan pada zat
cair, distribusi zat cair kedalam tabung itu dapat dipercepat dengan melakukan
daur ulang zat cair itu ke puncak tabung. Hal ini memungkinkan volume
aliran yang lebih besar melalui tabung dibandingkan dengan operasi pada
sekali lintas.
Untuk mendapatkan perpindahan kalor yang baik, angka Reynolds
4T/ film jatuh itu harus lebih besar dari 2000 pada setiap titik di dalam
tabung. Selama berlangsung evaporasi, kuantitas zat cair berkurang secara
kontinu selama ia mengalir dari puncak tabung ke dasarnya, sehingga jumlah
pemekatan yang dapat dilaksanakan dalam satu lewatan terbatas sekali.
Evaporator film jatuh, tanpa sirkulasi dan dengan wwaktu menetap
yang sangat singkat dapat menangani produk produk yang peka tidak dapat
ditangani dengan cara lain. Alat ini juga cocok sekali untuk memekatkan zat

cair viskos.
Evaporator Sirkulasi Paksa

Pada evaporator sirkulasi alamiah zat cair masuk ke dalam tabung


dengan kecepatan 1 sampai 4 ft/det. Kecepatan linearnya bertambah dengan
cepat dengan terbentuknya uap di dalam tabung, sehingga pada umunya laju
perpindahana kalor cukup memuaskan. Akan tetapi dengan zat cair viskos,
koefisien menyeluruh sirkulasi alamiah mungkin sangat rendah sehingga tidak
ekonomis. Koefisien yang tinggi dapat dicapai pada evaporator sirkulasi
paksa. Disini,zat cair itu didorong dengan pompa sentrifugal segingga masuk
ke dalam tabung dengan kecepatan 6 sampai 18 ft/det. Tabung itu berada
dalam tinggi tekan static pada waktu zat cair mengalir dari pemanas ke ruang
uap, dan mengkilat menjadi campuran uap dan semprotan pada pipa keluar
dari penukar kalor sebelum masuk ke dalam badan evaporator. Campuran zat
cair dan uap itu menumbuk plat deflector ( pengubah arah ) di dalam ruang
uap. Zat cair lalu kembali ke lubang masuk pompa dimana ia bercampur
dengan umpan masuk ; sedang uap keluar dari puncak badan evaporator ke
dalam kondensor atau ke dalam efek berikutnya. Sebagian dari zat cair yang
meninggalkan separator itu ditarik keluar secara kontinu sebagai konsentrat
(zat cair pekat).

Di dalam gambar, penukar kalornya mempunyai tabung horizontal dan


terdiri dari dua lintas pada sisi tabung dan dua lintas pada sisi selongsong.
Dalam rancang lain digunakan penukar kalor vertical satu lintas. Dalam kedua
jenis rancang itu, koefisien perpindahan kalornya tinggi, lebih lebih untuk
zat cair encer, tetapi keunggulannya yang utama terhadap evaporator sirkulasi
alamiah adalah dalam menangani zat cair viskos. Dengan zat cair encer,
perbaikan yang dicapai dengan sirkulasi paksa tidak cukup untuk
mengimbangi tambahan biaya pompa ; tetapi dengan zat cair viskos tambahan
biaya itu dapat dibenarkan, lebih lebih bila kita harus menggunakan logam
logam mahal. Sebagai contoh ialah pemekatann larutan soda kaustik,yang
harus dilaksanakan dengan alat yang terbuat dari nikel. Dalam evaporator efek
berganda yang menghasilkan konsentrat akhir yang viskos, efek pertama
mungkin berupa unit sirkulasi alamiah, sedang efek efek selanjutnya, yang
menangani zat cair viskos, adalah unit sirkulasi paksa. Oleh karena kecepatan
di dalam evaporator sirkulasi paksa itu tinggi, waktu menetap zat cair di
dalam tabung itu singkat saja, kira kira 1 sampai 3 det sehingga zat cair
yang agak peka terhadap panas pun dapat dipekatkan dalam alat ini. Alat ini
juga efektif untuk evaporasi zat cair penggaram atau yang cenderung
membentuk busa.

Evaporator Film Aduk

Tahanan pokok terhadap perpindahan kalor menyeluruh dari uap


kepada zat cair yang mendidih di dalam evaporator terletak pada sisi zat cair.
Oleh karena itu, setiapa cara yang dapat mengurangi tahanan itu akan
memberikan perbaikan yang berarti terhadap koefisien perpindahan kalor
menyeluruh. Dalam evaporator tabung panjang, terutama yang menggunakan
sirkulasi paksa, kecepatan zat cair didalam tabung itu tinggi. Zat cair itu
sangat turbulen, dan laju perpindahan kalornya besar. Cara lain untuk
meningkatkan keturbulenan ialah dengan pengadukan mekanik terhadap film
zat cair itu, seperti pada gambar. Evaporator ini merupakan modifikasi dari
evaporator film jatuh yang mempunyai tabung tunggal dan bermantel, dimana
didalam tabung itu terdapat sebuah pengaduk. Umpan masuk dari puncak
bagian bermantel dan disebarkan menjadi film tipis yang sangat turbulen
dengan bantuan daun daun vertical agitator ( pengaduk ) itu. Konsentrat
keluar dari bawah bagian bermantel, uap naik dari zone penguapan masuk ke
dalam bagian tak bermantel yang diamternya agak lebih besar dari tabung

evaporasi. Di dalam separator, sehingga menumbuk plat plat vertical yang


stasioner. Tetesan tetesan itu bergabung (koalesansi) pada plat ini dan
kembali ke bagian evaporasi. Uap bebas zat cair lalu keluar melalui lubang
keluar pada bagian atas unit itu.
Keunggulan utama dari evaporator film aduk ialah kemampuannya
menghasilkan laju perpindahan kalor yang tinggi pada zat cair viskos. Produk
evaporasi bisa mencapai viskositas sampai setinggi 1000 P pada suhu
evaporasi. Untuk zat cair yang agak viskos, koefisien perpindahan kalor dapat
ditaksir. Sebagaimana juga dalam evaporator jenis lain, koefisien menyeluruh
turun dengan cepat bila viskositas naik, tetapi dalam rancang ini, penurunan
itu cukup lambat. Dengan bahan bahan yang sangat viskos, koefisien itu
nyata lebih besar dari yang didaptkan pada evaporator sirkulasi paksa, dan
jauh lebih besar daripada unit sirkulasi alamiah. Evaporator film aduk sangat
efektif dengan produk viskos yang peka panas , seperti gelatin, lateks karet,
antibiotika dan sari buah. Kelemahannya ialah biayanya yang tinggi, adanya
bagian bagian dala yang bergerak, yang mungkin memerlukan perawatan
dan pemeliharaan dan kapasitan setiap unitnya kecil, jauh dibawah kapasitas
evaporator bertabung banyak.
2. Evaporator Efek Majemuk/ Efek Berganda

Pada gambar dibawah ini menunjukkan tiga buah evaporator sirkulasi alamiah
tabung panjang yang dihubungkan satu sama lain sehingga didapatkan sisitem efek
tiga ( triple efek ). Hubungan itu dibuat sedemikian rupa sehingga uap dari satu efek
berfungsi sebagai medium pamanas bagi efek berikutnya. Sebuah kondensor dan
ejector udara membangkitkan vakum pada efek ketiga dalam rangkaian itu, dan

menarik keluar gas gas tak mampu kondensasi dari sistem itu. Efek pertama dalam
evaporatorefek berganda ialah efek tempat mengumpankan uap mentah, dan tekanan
ruang uap cairannya paling tinggi. Efek terakhir ialah efek dimana tekanan ruang uap
cairan minimum. Dengan demikian selisih tekanan antara uap dan kondensor, pada
sistem efek berganda, terbagi pada dua efek atau lebih. Tekanan didalam setiap efek
lebih rendah dari tekanan efek tempat ia menerima uap dan lebih tinggi dari tekanan
efek tempat ia memberikan uap. Masing masing efek, sendri sendiri ,bekerja
sebagai evaporator efek tunggal, masing masing mempunyai beda suhu yang
melintas permukaan pemanasan yang berkaitan dengan penurunan tekanan didalam
efek itu. Setiap pernyataan yang kita buat hingga ini mengenai evaporator efek
tunggal berlaku juga untuk setiap efek dalam sistem efek berganda. Penyusunan
sederetan evaporator menjadi sistem efek berganda hanyalah merupakan masalah
pemasangan pipa penghubung, dan tidak menyangkut struktur masing masing unit.
Penomeran efek tidak bergantung pada urutan pengumpanan cairan kepada efek itu.
Pada gambar, umpan encer masuk pada efek pertama, dan dipekatkan sedikit disini.
Cairan itu lalu mengalir ke efek kedua untuk dipekatkan lebih lanjut, dan lalu ke efek
ketiga untuk mendapatkan kepekatan akhir. Cairan pekat lalu dipompakan keluar dari
efek ketiga.
Dalam operasi keadaan stedi, laju aliran dan laju penguapan adalah
sedemikian rupa sehingga baik pelarut maupun zat terlarut, tidak ada yang menumpuk
atau berkurang di dalam setiap efek. Suhu, konsentrasi, dan laju aliran diantara umpan
ditentukan, tekanan uap masuk dan tekanan kondensor ditetapkan, dan tinggi
permukaan cairan di setiap efek dijaga. Dengan demikian semua konsentrasi di dalam
evaporator, laju aliran, tekanan, dan suhu secara otomatis dijaga konstan oleh operasi
itu sendiri. Konsentrasi cairan pekat dapat diubah hanya dengan mengubah laju aliran
umpan. Jika cairan pekat itu terlalu encer, laju umpan ke efek pertama dikurangi, dan
jika cairan pekat itu terlalu tinggi konsentrasinya, laju umpan pun ditambah. Akhirnya
konsentrasi pada efek terakhir pada cairan pekat yang keluar akan mencapai keadaan
stedi baru pada tingkat yang dikehendaki

J.

Pertimbangan Pemilihan Evaporator :

1.

Kontak panas harus tetap menjaga produk yang harus diuapkan

2.

Pemeriksaan permukaan cukup mudah dengan membukan rak evaporator

3.

Ekonomis dibuat bertingkat atau rekompressi termal/mekanis

4.

Ukuran disesuaikan dengan kapsitas produksinya

5.

Mudah pembersihan dan perawatannya

6.

Mudah dioperasikan, suara tidak gaduh

7.

Bahan pembuatannya cukup baik

K. Aplikasi Evaporasi dalam Industri


Pada industry kimia. Misalnya,untuk membuat garam dengan cara menguapkan air dengan
bantuan energi matahari dan angin. Kegunaan utama dari evaporator adalah menguapkan air
pada larutan sehingga larutan memiliki konsentrasi tertentu.
Pada industri makanan dan minuman, agar memiliki mutu yang sama pada jangka waktu
yang lama, dibutuhkan evaporasi. Misalnya untuk pengawetan adalah pembuatan susu kental
manis.