Anda di halaman 1dari 12

KASUS PPh PT.

ELEKTRINDO
1) Berikan komentar Anda terkait dengan pembagian tugas dan pekerjaan staf pajak
Perusahaan!
Jawab:
Pembagian tugas dan pekerjaan staf pajak Perusahaan sudah cukup baik dan efektif
dimana setiap staf mengerjakan jenis perpajakan yang berbeda. Ada yang mengerjakan
withholding taxes dan PPh pasal 25, PPN, dan PPh badan. Selain itu, hal tersebut juga cukup
bagus untuk perusahaan agar dapat menghindari pajak kurang bayar perusahaan yang disebabkan
oleh kesalahan dalam mengisi SPt. Dengan adanya pembagian tugas dan pekerjaan, pekerjaan
menjadi lebih ringan dan dapat lebih fokus dalam membuat SPT perpajakan sehingga tidak
terjadi keterlambatan dalam melapor. Jika tidak dibagi maka kemungkinan telat melapor akan
besar sehingga jumlah yang harus dibayar bertambah karena adanya sanksi. Hanya saja, staf PPh
badan sebaiknya berkoordinasi dengan staf PPN sehingga perbedaan yang terjadi pada peredaran
usaha menurut PPh dan PPN tidak ada perbedaan serta sesuai dengan selisih yang seharusnya.
2) Menyangkut

omset perusahaan,

mengapa terdapat

perbedaan

antara omset

Perusahaan berdasarkan PPh Badan dan SPT PPN? Jelaskan jawaban Anda!
Apa tindakan yang harus dilakukan PT ELEKTRINDO terkait dengan perbedaan
tersebut?
Jawab:
Perbedaan-perbedaan nilai peredaran usaha menurut SPT Tahunan PPh Badan dan SPT
Masa PPN, yang mungkin timbul antara lain dikarenakan oleh :
a. Penghasilan di SPT Tahunan PPh sudah diakui tetapi di SPT PPN, di mana PPNnya belum dipungut dan dilaporkan. Karena SPT Tahunan PPh mengacu pada
metode pembukuan accrual basis dan sedangkan SPT Masa PPN, Pemungutan PPN
yang ditandai dengan penerbitan faktur pajak standar dilakukan paling lambat
pada akhir bulan berikutnya setelah terjadi penyerahan BKP/JKP atau pada saat
pembayaran dilakukan.
b. Adanya penerimaan uang muka (down payment) yang sudah dikenakan PPN tetapi
belum diakui sebagai penghasilan di SPT PPh karena masih tercatat sebagai pos
utang. Misalnya pendapatan yang diterima di muka atas penyerahan BKP/JKP.
c. Adanya penghasilan/penjualan yang merupakan objek PPh tetapi bukan
merupakan objek PPN atau fasilitas PPN. Fasilitas PPN seperti dibebaskan atau

tidak dipungut, misalnya ekspor dikenai PPN tarif 0%, penjualan makanan dan
minuman disajikan di hotel yang merupakan objek PPh akan tetapi bukan
merupakan objek PPN tetapi objek pajak daerah.
d. Adanya penghasilan yang dikenakan PPh final tetapi dipungut PPN dan dilaporkan
di SPT Masa PPN. Misalnya pendapatan sewa tanah dan atau bangunan merupakan
objek PPh Final sehingga tidak diperhitungkan dalam SPT PPh Badan. Padahal
penyerahannya adalah objek PPN.
e. Bukan penghasilan di SPT PPh tetapi objek pemungutan PPN yang bukan
merupakan penjualan, misalnya: adanya pemakaian sendiri atau pemberian cumacuma di SPT PPN. Pemakaian sendiri atau pemberian cuma-cuma dikenakan PPN
dan diperhitungkan sebagai penyerahan yang terutang PPN. Sedangkan di PPh
tidak akan ada pengakuan penghasilan.
f. Penyerahan BKP dari pusat ke cabang dan sebaliknya. Transaksi ini bukan
penjualan ditinjau dari sisi akuntansi dan PPh, tetapi merupakan penyerahan BKP
menurut Undang Undang PPN.
g. Penyerahan BKP secara konsinyasi. Dari sisi akuntansi dan PPh belum diakui
penjualan, tetapi dari sisi Undang-Undang PPN sudah merupakan penyerahan BKP
dan wajib menerbitkan faktur pajak.
h. Adanya transaksi yang tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan yang dipungut
PPN dan dilaporkan SPT Masa PPN. Sering penghasilan tersebut di luar usaha
(other income); tidak masuk dalam omzet SPT Tahunan PPh melainkan masuk other
income, tetapi di SPT Masa PPN merupakan objek PPN.
i. Adanya penyerahan kepada pemungut PPN. Penyerahan kepada pemungut PPN
menganut prinsip cash basis, PPN baru dipungut pada saat pemungut melakukan
pembayaran. Maka wajib pajak rekanan pemungut melaporkan faktur pajaknya
pada masa pajak dilakukan pembayaran, tetapi transaksi penjualan di SPT
Tahunan PPh diakui jauh hari sebelum terjadi pembayaran.
j. Terjadi di awal tahun di mana terdapat faktur pajak di SPT Masa PPN atas
penjualan BKP/JKP, tetapi penghasilan sudah diakui pada periode sebelumnya
(tahun pajak sebelumnya) di SPT Tahunan PPh.Terdapat perbedaan kurs yang
dipakai dalam mencatat Penjualan di laporan keuangan dengan pembuatan Faktur
Pajak.
Kurs valuta asing yang digunakan untuk mengakui penjualan disesuaikan dengan
Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku di Indonesia (PSAK), yang dilakukan dengan
taat asas. Berdasarkan PSAK Nomor 10 diatur bahwa setiap transaksi dalam mata uang

asing dibukukan dengan menggunakan kurs pada saat terjadinya transaksi. Namun dalam
praktek di lapangan, kurs yang dipakai tidak selalu menggunakan kurs transaksi.
Kadangkala Wajib Pajak menggunakan kurs rata-rata dalam seminggu atau sebulan,
menggunakan kurs tengah BI, dan lain-lain. Sedangkan dalam membuat Faktur Pajak,
penyerahan BKP atau JKP yang menggunakan mata uang asing, harus menggunakan kurs
Menteri Keuangan yang berlaku pada saat pembuatan Faktur Pajak.
k. Pemberian Cash Discount
Pada umumnya PKP penjual sering memberikan diskon tambahan apabila pembeli
dapat membayar lebih cepat dari tanggal jatuh tempo / syarat pembayaran yang telah
disepakati sebelumnya. Diskon tambahan ini disebut dengan Cash Discount.
Cash Discount tidak mengurangi Dasar Pengenaan Pajak yang tercantum dalam
Faktur Pajak, sehingga dapat dipastikan ketika pembeli memanfaatkan Cash Discount
tersebut maka omset yang tercantum di SPT Masa PPN akan lebih besar daripada omset
yang dilaporkan dalam SPT Tahunan PPh Badan.
l. Adanya kesalahan tulis atau hitung
Perbedaan omset menurut PPh dan PPN juga dapat timbul atas kesalahan tulis atau
kesalahan hitung (human error) dalam pembuatan Faktur Pajak atau pengisian SPT Masa
PPN.
Ada baiknya pekerjaan rekonsiliasi atau ekualisasi PPN ini dilakukan secara rutin tiap
bulannya, karena apabila timbul perbedaan akan jauh lebih mudah ditelusuri. Apabila
ternyata perbedaan timbul karena human error, maka dapat langsung diambil tindakan
antisipasi untuk memperbaiki kesalahan tersebut.

Dari penjabaran tersebut, yang membuat perbedaan antara SPT Tahunan PPh Badan dengan
SPT Masa PPN adalah
a. Pada bulan Desember 2012 Perusahaan melakukan penjualan senilai Rp 250 juta yang
sampai dengan akhir Desember 2012 belum diterima pembayarannya.
Penjualan pada bulan Desember 2012 sudah dimasukkan dalam SPT Tahunan PPh Badan
2012, tetapi belum dimasukkan dalam SPT Masa PPN 2012 karena asumsinya faktur
pajak baru dibuat setelah pembayaran pada tahun 2013 sehingga transaksi tersebut baru
dipungut PPNnya dan dimasukkan dalam SPT Masa PPN tahun 2013.
b. Pada awal Maret 2013, sebagai bentuk CSR Perusahaan, diserahkan produk senilai Rp
250 juta kepada 20 panti asuhan yang ada di Jabodetabek.

CSR dalam bentuk produk merupakan objek pemungutan PPN, namun transaksi tersebut
tidak dapat dimasukkan sebagai pengurang Penghasilan Kena Pajak (UU PPh pasal 9 ayat
1 huruf g)
c. Pada bulan Juli 2013, Perusahaan menggunakan produk kamera CCTV yang
diproduksinya senilai Rp 100 juta untuk digunakan di area kantor dan gudang Perusahaan.
Selain itu, Perusahaan juga menggunakan produk TV dan kulkas yang diproduksinya
untuk diletakkan di ruang customer service kantor, ruang tunggu sopir dan pantry kantor
senilai Rp 50 juta.
Penggunaan produk perusahaan untuk kepentingan pribadi tidak dapat dimasukkan
sebagai pengurang Penghasilan Kena Pajak (UU PPh pasal 9 ayat 1 huruf b), tetapi
merupakan objek pemungutan PPN.
d. Pada bulan Agustus 2013 Perusahaan berperan serta mensukseskan HUT Kemerdekaan
RI dengan menyumbangkan produk elektroniknya senilai Rp 200 juta kepada Pemda
DKI.
Sumbangan produk tidak dapat dimasukkan sebagai pengurang Penghasilan Kena Pajak
(UU PPh pasal 9 ayat 1 huruf g), tetapi merupakan objek pemungutan PPN.
e. Pada akhir bulan Desember 2013, Perusahaan melakukan penjualan ekspor senilai Rp 100
juta yang pembayarannya diterima pada minggu pertama 2014.
Penjualan ekspor merupakan objek PPh badan tetapi merupakan objek fasilitas PPN
dimana tarifnya 0%.
Atas perbedaan tersebut, perusahaan harus melakukan analisis equalisasi informasi dan
rekonsiliasi PPN. Analisis equalisasi digunakan untuk memastikan dalam satu tahun pajak apakah
omzet di SPT Tahunan PPh Badan atau Orang Pribadi sama dengan penyerahan BKP/JKP di SPT
Masa PPN. Sebelum melaporkan pajak penghasilan badan tahunan, sebaiknya perusahaan
membandingkan peredaran usaha di SPT Masa PPN selama satu tahun (mulai masa Januari
sampai dengan masa Desember) dengan peredaran usaha di laporan laba rugi akuntansi atau
Pajak. Memang peredaran usaha di SPT Tahunan dengan penyerahan BKP/JKP di SPT Masa
PPN tersebut pasti terjadi perbedaan, di mana perbedaan tersebut bisa diketahui dengan
melakukan analisis equalisasi.
Rekonsiliasi / Ekualisasi PPN adalah proses pencocokan antara data di SPM PPN dengan
SPT Tahunan Perusahaan. Rekonsiliasi yang menyangkut PPN dan/atau PPnBM (kalau ada) ini
penting karena akan berhubungan langsung dengan pengakuan pendapatan perusahaan. Setiap
bentuk Penjualan (atau istilah pajak disebut juga Penyerahan) akan menimbulkan Pajak
Pertambahan Nilai. Meskipun idealnya rekonsiliasi atas PPN ini dilakukan setiap bulan, tetapi

rekonsiliasi di akhir tahunnya menjadi perlu sekali karena terkait dengan pengakuan pendapatan
di SPT Badan 1771 nantinya. Untuk melakukan rekonsiliasi Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
caranya sangat mudah dan sederhana, yaitu dengan mengambil angka Penjualan kemudian
dikalikan 10%. Apabila sudah didapat nilai penjualan dan PPN keluarannya serta nilai pembelian
dan PPN masukannya, maka tinggal cross check dengan yang sudah dilaporkan dalam Surat
Pemberitahuan Masa (SPM) PPN setiap bulannya. Apabila masih ada yang tertinggal belum
dilaporkan, kalau itu ada pada sisi PPN keluaran maka harus segera dilakukan pembetulan SPM
dan dibayar kekurangan pajaknya. Meskipun hal ini tetap menjadi exposure (potensi kena denda).
Namun apabila ditemukan faktur pajak masukan yang belum dilaporkan sebagai PPN masukan,
maka pilihannya adalah melakukan pembetulan SPM atau membiarkannya dengan tidak
mengkreditkan dalam SPM dan pembukuan accounting akan mencatat sebagai beban tambahan.

3) Terkait beban karyawan:


a. Apakah perusahaan melakukan kesalahan dalam pengakuan beban karyawan
untuk menghitung laba fiskal? Jelaskan jawaban Anda!
Beban karyawan makan siang tidak boleh dibebankan dan harus dikoreksi. Hal ini
dikarenakan menurut UU PPh pasal 9 ayat (1) poin e, Penghasilan Kena Pajak (PKP) tidak dapat
dikurangkan natura kecuali penyediaan makanan dan minuman bagi seluruh pegawai. Karena
perusahaan PT ELEKTRINDO hanya memberikan makan siang kepada karyawan bagian gudang
maka itu tidak dapat dibebankan.
Seragam satpam harusnya dibebankan. Hal ini dijelaskan pada penjelasan UU PPh pasal 9
ayat (1) poin e tersebut, seragam bagi petugas keamanan (satpam) dapat dibebankan.
Biaya pengobatan tidak dapat dibebankan karena langsung dibayarkan ke rumah sakit.
Biaya pengobatan sebagai pengurang jumlah pajak penghasilan yang harus dikeluarkan oleh
perusahaan karena berdasarkan UU PPh pasal 6 ayat 1 huruf a menyatakan bahwa biaya untuk
mendapatkan, menagih,dan memelihara penghasilan, termasuk biaya pembelian bahan, biaya
berkenaandengan pekerjaan atau jasa termasuk upah, gaji, honorarium, bonus,gratifikasi, dan
tunjangan yang diberikan dalam bentuk uang, bunga, sewa, royalti, biaya perjalanan, biaya
pengolahan limbah, premi asuransi, biaya administrasi, dan pajak kecuali Pajak Penghasilan.
b. Berikan masukan Anda kepada perusahaan mengenai kewajiban perpajakan yang
terkait dengan beban karyawan!

Perusahaan dapat melakukan rekonsiliasi fiskal dengan mengurangi biaya pengobatan dan
beban makan siang karyawan (koreksi positif) serta menambahkan biaya seragam dalam
perhitungan laba fiscal (koreksi negatif).
4) Terkait beban bunga, apakah perusahaan melakukan kesalahan dalam pengakuan
beban bunga pinjaman untuk menghitung laba fiskal? Jelaskan jawaban anda!
Berdasarkan Surat Edaran Direktur Jendral Pajak Nomor SE-46/PJ.4/1995, tentang
Perlakuan Biaya Bunga yang Dibayar atau Terhutang dalam hal Wajib Pajak Menerima atau
Memperoleh Penghasilan Berupa Bunga Deposito atau Tabungan Lainnya (seri PPh Umum No. 20), menjelaskan bahwa penghitung biaya bunga yang dikoreksi adalah:
1. Apabila jumlah rata-rata pinjaman sama besarnya dengan atau lebih kecil dari jumlah
rata-rata dana yang ditempatkan sebagai deposito berjangka atau tabungan lainnya, maka
bunga yang dibayar atau terutang atas pinjaman tersebut seluruhnya tidak dapat
dibebankan sebagai biaya.
2. Apabila jumlah rata-rata pinjaman lebih besar dari jumlah rata-rata dana yang
ditempatkan dalam bentuk deposito atau tabungan lainnya, maka bunga atas pinjaman
yang boleh dibebankan sebagai biaya adalah bunga yang dibayar atau terutang atas ratarata pinjaman yang melebihi jumlah rata-rata dana yang ditempatkan sebagai deposito
berjangka atau tabungan lainnya.
Sehingga beban bunga pinjaman yang dapat menjadi pengurang laba fiskal adalah
Jumlah Rata Rata Utang Bank ABC

= Total Pinjaman : Masa Pinjaman


= Rp 2000.000.000,- : 12
= Rp 166.666.666,-

Jumlah Rata Rata Deposito

= Total Deposito : Masa Deposito


= Rp 1000.000.000,- : 12
= Rp 83.333.333,-

Biaya bunga pinjaman

= 10% x (Rp 166.666.666 - Rp 83.333.333)


= Rp 8.333.333

Jadi, biaya bunga yang dapat dibebankan dalam perhitungan laba fiskal adalah sebesar
Rp8.333.000,Walaupun demikian, tidak semua biaya bunga yang telah dibebankan oleh perusahaan
akan dikoreksi secara fiskal. Berdasarkan Undang Undang Nomor 7 Tahun 1983 pasal 6 ayat 1
yang telah diubah dengan Undang Undang Nomor 10 tahun 1994, ada beberapa pengecualian
sehingga biaya bunga pinjaman dapat dibebankan untuk menghitung Penghasilan Kena Pajak,
diantaranya :
1. Dana pinjaman tersebut disimpan atau ditempatkan dalam bentuk rekening giro yang atas
jasanya dikenakan PPh yang bersifat final.
2. Adanya keharusan bagi Wajib Pajak untuk menempatkan dana jumlah tertentu pada suatu
bank dalam bentuk deposito berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku,
sepanjang jumlah deposito dan tabungan tersebut semata-mata untuk memenuhi
keharusan tersebut, cadangan biaya reklamasi yang harus ditempatkan dalam bentuk
deposito atau tabungan di Bank Pemerintah.
3. Dapat dibuktikan bahwa penempatan deposito atau tabungan tersebut dananya berasal
dari tambahan modal dan sissa laba setelah terkena pajak.
Selain itu perusahaan tidak dapat mengkreditkan PPh 23 atas pembayaran bunga kepada
bank ABC karena tidak ditemukan bukti potong PPh 23. Untuk pendapatan deposito selama
tahun 2013 sebesar 1 Miliyar harus dikeluarkan dari perhitungan PPh Badan karena pendapatan
deposito merupakan pajak final (PP 131 tahun 2000 jo. KMK Nomor 51/KMK.04/2001).
5) Sehubungan dengan beban konsultasi manajemen, Jelaskan apakah diperlukan koreksi
untuk beban konsultasi manajemen yang diakui perusahaan? Jelaskan jawaban anda !
Berdasarkan pada UU No.36 Tahun 2008 Pasal 4 Ayat 1(g), menjelaskan bahwa dividen
merupakan bagian laba yang diperoleh pemegang saham atau pemegang polis asuransi atau
pembagian

sisa

hasil

usaha

koperasi

yang

diperoleh

anggota

koperasi.

Termasuk dalam pengertian dividen adalah:


1.

pembagian laba baik secara langsung ataupun tidak langsung, dengan nama dan

2.

dalam bentuk apapun;


pembayaran kembali karena likuidasi yang melebihi jumlah modal yang disetor;
pemberian saham bonus yang dilakukan tanpa penyetoran termasuk saham bonus yang

3.

berasal dari kapitalisasi agio saham;

6.

pembagian laba dalam bentuk saham;


pencatatan tambahan modal yang dilakukan tanpa penyetoran;
jumlah yang melebihi jumlah setoran sahamnya yang diterima atau diperoleh pemegang

7.

saham karena pembelian kembali saham-saham oleh perseroan yang bersangkutan;


pembayaran kembali seluruhnya atau sebagian dari modal yang disetorkan, jika dalam

4.
5.

tahun-tahun yang lampau diperoleh keuntungan, kecuali jika pembayaran kembali itu
8.

9.
10.
11.
12.

adalah akibat dari pengecilan modal dasar (statuter) yang dilakukan secara sah;
pembayaran sehubungan dengan tanda-tanda laba, termasuk yang diterima sebagai
penebusan tanda-tanda laba tersebut;
bagian laba sehubungan dengan pemilikan obligasi;
bagian laba yang diterima oleh pemegang polis;
pembagian berupa sisa hasil usaha kepada anggota koperasi;
pengeluaran perusahaan untuk keperluan pribadi pemegang saham yang dibebankan
sebagai biaya perusahaan.
Dalam kasus ini, pembayaran jasa konsultasi manajemen dapat disebut sebagai

pembagian atau pembayaran dividen secara terselubung. Hal ini dikarenakan PT


ELEKTRINDO memiliki hubungan istimewa dengan PT JAYA UTAMA sebagai pemegang
saham. Dalam kasus ini, pembayaran atas jasa konsultasi manajemen PT JAYA UTAMA diatas
harga wajar (pembagian dividen dimasukkan kedalam perhitungan jasa konsultasi manajemen).
Sehingga terdapat koreksi dimana beban konsultasi manajemen yang harus diakui oleh
perusahaan adalah sebesar harga wajar (mempertimbangan biaya konsultasi manajemen yang
sama dari perusahaan lain). Nilai konsultasi manajemen yang harus dibayarkan dan menjadi
beban untuk PT ELEKTRINDO adalah sebesar Rp 100 juta sehingga terdapat koreksi positif atas
beban konsultasi manajemen sebesar (Rp200 juta Rp100 juta) Rp100 juta.

6) Sehubungan dengan beban beban yang sering dikoreksi :


a. Menurut pendapat anda, apakah yang menyebabkan beban beban tersebut dikoreksi
oleh pemeriksa pajak selama ini ?
Dalam kasus menjelaskan bahwa yang selalu dikoreksi oleh pemeriksa pajak yaitu:

Beban perjalanan dinas yang diberikan secara lumpsum.


Berdasarkan Peraturan Menteri Kuangan Republik Indonesia Nomor 113/PMK.05/2012,

lumpsum adalah suatu jumlah uang yang telah dihitung terlebih dahulu (pre-calculated) dan
dibayarkan sekaligus.

Setiap perusahaan mempunyai aturan dan standar biaya masing masing dalam
menetapkan besaran biaya perjalanan dinas. Jika dibandingkan dengan unsur-unsur biaya
perjalanan dinas pada pegawai pemerintah (PMK 113/PMK.05/2012), secara umum pada
perusahaan swasta juga terdapat biaya perjalanan dinas yang dapat dibagi atas tiga komponen,
yaitu:
1. Biaya Transportasi (tiket keberangkatan dan kepulangan)
2. Biaya Akomodasi (hotel/penginapan, penyewaan kenderaan, pengepakan barang)
3. Uang Saku (uang makan harian, transport lokal, biaya komunikasi).
Tetapi untuk komponen Uang Saku, bukti biayanya sulit diperoleh dan sulit untuk
distandarisasi. Oleh karena itu, perusahaan dapat menerapkan beberapa cara, diantaranya:
1. Pengembalian uang sisa.
Jika sistem pembayaran Biaya Perjalanan Dinas dengan cara lumpsum, setiap pegawai
yang pulang dari perjalanan dinas dapat membuatkan perincian biaya yang telah dikeluarkan
secara wajar dan mengembalikan uang sisanya.
2. Sistem penggantian biaya/reimbursement.
Jika sistem pemberian uang perjalanan dinas dengan cara reimbursement/penggantian
atau dengan cara pemberian uang muka, maka setiap pegawai yang pulang dari perjalanan
dinas dapat membuatkan perincian biaya yang telah dikeluarkannya secara wajar dan
perusahaan memberikan penggantian biaya.
Berdasarkan sistem pembayaran diatas dapat diperkirakan bahwa setiap pegawai yang
melakukan

perjalanan

dinas tidak

akan

berkelebihan

uang yang

membuatnya

mempunyai kemampuan ekonomis seperti yang dinyatakan pada definisi objek pajak
penghasilan (pasal 4 Undang-Undang Pajak Penghasilan). Jika perusahaan menerapkan
cara tidak memerlukan bukti pengeluaran atas komponen Uang Saku tersebut, maka
seharusnya perusahaan sudah menghitung dengan cara yang sangat detail dan wajar semua
pengeluaran yang akan dijadikan sebagai komponen Uang Saku tersebut, sehingga Uang
Saku tersebut dianggap habis saat pegawai melakukan perjalanan dinas. Sehingga
seharusnya terhadap Biaya Perjalanan Dinas bukanlah merupakan Objek Pajak
Penghasilan Pasal 21 bagi karyawan/pegawai yang menerimanya karena menurut pasal 6
ayat 1 Undang-Undang PPh, pembayaran oleh pemberi kerja sehubungan dengan biaya

perjalanan dinas dianggap bukan sebagai imbalan berkenaan dengan pekerjaan dan terhadap
biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan dapat dijadikan sebagai pengurang penghasilan
bruto (Undang-Undang Pajak Penghasilan pasal 6 ayat 1).
Dalam kasus ini, PT ELEKTRINDO dikoreksi atas biaya perjanan dinas yang dibayarkan
secara lumpsum. Hal ini mungkin dikarenakan :
1. Perusahaan tidak menerapkan sistem pengembalian uang sisa. Sehingga uang saku yang
terdapat dalam Biaya Perjalanan Dinas seharusnya diakui sebagai pendapatan bagi
karyawan karena menambah kemampuan ekonomis bagi karyawan (UU Pajak
Penghasilan Pasal 4 ayat 1). Pendapat tersebut harus dikenai PPh 21.
2. Perusahaan menerapkan cara tidak memerlukan bukti pengeluaran atas komponen Uang
Saku tersebut tetapi perusahaan tidak mampu menghitung dengan cara yang sangat detail
dan wajar atas semua pengeluaran yang akan dijadikan sebagai komponen Uang Saku
tersebut, sehingga Uang Saku tersebut dianggap tidak habis saat pegawai melakukan
perjalan. Sehingga akan menjadi pendapatkan bagi karyawan dan dikenai PPh 21.
3. Perusahaan menerapkan cara memerlukan bukti pengeluaran atas komponen uang saku
tersebut. Akan tetapi, bukti yang diberikan tidak lengkap, sehingga tidak dapat
dibebankan keseluruhan atas biaya perjalan dinas tersebut. Perlu adanya koreksi positif
karena biaya yang tidak ada bukti tidak dapat dijadikan sebagai beban perusahan.

Beban

sumbangan,

dimana

perusahaan

memberikan

sumbangan

kepada

perorangan/ institusi yang memberikan proposal/ meminta langsung ke perusahaan


maupun sumbangan kepada korban-korban bencana nasional di Indonesia.
Berdasarkan UU Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan Pasal 6 Ayat 1,
sumbangan kepada perorangan/ institusi tidak dapat dibebankan. Tetapi untuk sumbangan kepada
korban korban bencana nasional di Indonesia dapat dibebankan sesuai dengan Pasal 6 Ayat 1(i).
Berdasarkan PMK No. 76/ PMK.03/2011 pasal 1(a), sumbangan untuk korban bencana nasional
merupakan sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana nasional sehingga diperbolehkan
untuk dibebankan sebagai pengurang pendapatan perusahaan (deductible expense).
b. Jelaskan tindakan dan kebijakan apa yang harus diubah/ dilakukan PT ELEKTRINDO
untuk menjamin koreksi semacam itu tidak terjadi lagi!

Beban perjalanan dinas

Jika PT ELEKTRINDO tetap ingin menggunakan metode lupm sum untuk biaya
perjalanan dinas, seharusnya PT ELEKTRINDO juga menerapkan sistem pengembalian uang sisa
sehingga tidak ada sisa dari uang saku yang didapatkan pimpinan atau staf yang melakukan
perjalanan dinas. Hal tersebut membuat tidak adanya tambahan kemampuan ekonomis bagi
pimipinan atau staf tersebut sehingga tidak akan menjadi objek PPh 21, atau
Jika PT ELEKTRINDO tetap ingin menggunakan metode lump sum dan tidak ingin
menggunakan sistem pengembalian uang sisa, PT ELEKTRINDO harus mampu menghitung
dengan cara yang sangat detail dan wajar atas semua pengeluaran yang akan dijadikan sebagai
komponen Uang Saku tersebut, yang membuat Uang Saku tersebut dianggap habis saat pegawai
melakukan perjalanan. Sehingga tidak akan menjadi pendapatkan bagi pimpina/karyawan dan
tidak dikenai PPh 21. Selain itu, pimpinan atau staf yang melakukan perjalanan dinas juga
seharusnya memberikan bukti yang lengkap atas biaya selama perjalanan tersebut agar
keseluruhan biaya perjalanan dinas dapat dibebankan.
Namun ada alternatif lain jika perusahaan tidak ingin biaya perjalanan dinas tersebut
dikoreksi oleh pemerika pajak, yaitu dengan menerapkan sistem penggantian/ reimbursement.
Sistem penggantian/ reimbursement dengan cara penggantian biaya yang telah dikeluarkan
pegawai berdasarkan bukti-bukti yang ada. Dengan sistem ini, perusahaan hanya akan membayar
atau membebankan biaya perjalanan dinas berdasarkan bukti yang ada (deductable expense)
sehingga tidak ada yang dikoreksi atas biaya perjalanan dinas tersebut.

Beban sumbangan
Untuk sumbangan kepada korban-korban bencana nasional di Indonesia, PT

ELEKTRINDO boleh membebankan biaya tersebut sehingga tidak menjadi masalah. Namun
untuk sumbangan kepada perorangan/institusi yang memberikan proposal/ meminta langsung,
seharusnya PT ELEKTRINDO tidak membebankan biaya sumbangan tersebut dalam perhitungan
pendapatan karena sumbangan tersebut merupan non deductable expense (karena tidak tercantum
pada UU Nomor 36 Tahun 2008 Pasal 6 Ayat 1 tentang deductable expense)
7) Berikan komentar anda terkait dengan pesan Direktur Keuangan kepada Sugiri dalam
pembuatan SPT PPh Badan tahun 2013!
Menurut kami, pesan dari direktur keuangan tidak tepat karena selain beban depresiasi
dan beban karyawan masih banyak beban beban lain yang harus dikoreksi, seperti : beban
bunga pinjaman, beban jasa konsultasi manajemen, beban perjalanan dinas, dan beban

sumbangan. Selain itu, seharusnya beban seragam tidak perlu dikoreksi karena beban seragam
merupakan deductible expense (UU PPh Pasal 9 ayat 1(e)). Disamping adanya koreksi atas
beban, terdapat koreksi untuk PPh 25. Hal ini dikarenakan perusahaan belum menemukan
dokumen terkait pembayaran PPh 25. Sehinnga Sugiri sebagai manajer perpajakan harus
menelusuri dan menemukan dokumen terkait pembayaran PPh 25.

Daftar Pustaka
Produk Hukum
1. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 76/ PMK.03/2011 tentang Tata Cara Pencatatan dan
Pelaporan Sumbangan Penanggulangan Bencana Nasional, Sumbangan Penelitian dan
Pengembangan, Sumbangan Fasilitas Pendidikan, Sumbangan Pembinaan Olahraga, dan
Biaya Pembangunan Infrastruktur Sosial yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto
2. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 113/PMK.05/2012 Perjalanan Dinas Jabatan Dalam
Negeri Bagi Pejabat Negara, Pegawai Negeri, dan Pegawai Tidak Tetap
3. Peraturan Pemerintah 131 tahun 2000 jo. KMK Nomor 51/KMK.04/2001 tentang Pajak
Penghasilan atas Bunga Deposito dan Tabungan serta Diskonto Sertifikat Bank Indonesia
4. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan
Sumber Elektronik

Johannes Aritonang, S. M. (2015, April 16). Publikasi Artikel: Badan Pendidikan dan
Pelatihan Keuangan Kementerian Keuangan. Retrieved November 21, 2015,
from Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan Kementerian Keuangan
Website: http://www.bppk.kemenkeu.go.id/publikasi/artikel/167-artikelpajak/20910-biaya-perjalanan-dinas-lumpsum-atau-reimbursement-bukanobjek-pph-21
Mitra Konsultasi Indo. (2013, Januari 12). Pajak Penghasilan Badan. Retrieved
November 21, 2015, from Mitra Konsultan Indonesia Website:
http://www.mitrakonsultindo.co.id/pajak-penghasil-badan/konsultan-pajakjakarta-jasa-perlakuan-bunga-pinjaman-secara-fiskal/
Observation and Research of Taxation. (2010, Oktober 27). Forum Ortax. Retrieved
November 21, 2015, from Ortax Website: http://www.ortax.org/ortax/?
mod=forum&page=show&idtopik=16458&hlm=1#jdltopic
Observation and Research of Taxation. (2011, November 24). Forum Ortax.
Retrieved November 21, 2015, from Ortax Website:
http://www.ortax.org/ortax/?mod=forum&page=show&idtopik=27353