Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN TUTORIAL

MODUL 3 : PENYAKIT METABOLIK ENDOKRIN


BLOK 8

DISUSUN OLEH : KELOMPOK 1


TUTOR : drg. HARFINDO NISMAL, Sp.BM

AGUNG PUTRA SAKTI

(1411412011)

HANA PUTRI FADHILAH

(1411412006)

LALA VIODITA

(1411411023)

NABILAH AULIA FITRI

(1411411019)

PRIMA ULVA

(1411411011)

REZI DIANASARI

(1411412026)

SARATHUL FITRIANI

(1411412019)

TRISNA DEWI AVRIANY

(1411412024)

UMMUL AULIA

(1411411016)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga
kami dapat menyelesaikan laporan tutorial modul 3 di Blok 8 ini dengan baik.
Laporan tutorial ini disusun dalam rangka memenuhi tugas Blok 8 yang merupakan bagian
dari sistem pembelajaran SCL di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Andalas Padang.
Saya mengucapkan terimakasih kepada Allah SWT yang telah memberikan kemudahan dalam
penyusunan laporan ini, dan kepada pembimbing kami, drg. Harfindo Nismal, Sp.BM yang telah
membimbing kami dalam proses tutorial, dan kepada teman-teman yang telah menyediakan waktu
dan pikirannya untuk menyelesaikan tugas tutorial ini dengan baik.
Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi proses pembelajaran selanjutnya dan bagi yang
membutuhkan.

Padang,

Oktober 2015
Penyusun

DAFTAR ISI
Kata pengantar.........................................................................................................................................1
Daftar isi..................................................................................................................................................2
Skenario 3 blok 8.....................................................................................................................................3
Terminlogi ..............................................................................................................................................3
Identifikasi masalah.................................................................................................................................3
Analisis masalah......................................................................................................................................4
Skema......................................................................................................................................................6
Learning objectives..................................................................................................................................7
Daftar pustaka........................................................................................................................................10

SKENARIO 3 BLOK 8
Bapak Yusuf (50th) siang itu berobat ke poliklinik gigi dan mulut RSUP Selaparang dengan
keluhan semua gigi geligi terasa goyah, gusi mudah berdarah, dan aroma nafas terasa tidak enak yang
membuat Pak Yusuf merasa kurang percaya diri.
Dokter gigi melakukan pemeriksaan sambil membaca catatan di kartu status, ternyata Pak
Yusuf telah 2 bulan ini menderita diabetes melitus tipe 2. Selain itu, Pak Yusuf juga mengeluh sering
keluar keringat malam dan jantung sering berdebar-debar. Data pada kontrol terakhir ternyata urin
reduksi (+++), gula darah puasa 210 mg/dl dan 2 jam p 380 mg/dl, tekanan darah 160/80 mmHg, nadi
100/menit, ujung kuku rapuh.
Pada pemeriksaan intra oral didapatkan gigi 18, 17, 27, 28, 38, 37, 47, dan 48 telah
diekstraksi. Gigi yang tersisa semuanya goyah derajat 2, disertai dengan adanya perodontal pocket
pada semua regio gigi, gingivitis dan yang khas aroma nafas Pak Yusuf menyebarkan bau aseton

TERMINOLOGI
1. Diabetes melitus

: biasa disebut kencing manis, merupakan suatu penyakit menahun

yang ditandai dengan kadar gula glukosa darah (gula darah) melebihi nilai normal
2. Periodontal pocket
: pendalaman yang terjadi pada jaringan periodontal yang mengarah
pada kerusakan jaringan periodontal dan kehilangan gigi
3. Metabolik endokrin
: sistem kontrol kelenjar tanpa saluran (ductless) yang menghasilkan
hormon yang tersirkulasi ke tubuh melalui aliran darah untuk mempengaruhi organ-organ tubuh
lainnya
4. Urin reduksi

: suatu tindakan pemeriksaan glukosa di dalam urin

IDENTIFIKASI MASALAH
1. Apa saja tipe-tipe dari diabetes melitus?

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Apakah penyebab dari diabetes melitus?


Bagaimanakah tanda-tanda dan gejala dari diabetes melitus?
Bagaimanakah manifestasi oral dari diabetes melitus?
Mengapa bau nafas Pak Yusuf berbau aseton?
Mengapa terjadi penurunan kesehatan gigi dan mulut pada penderita diabetes melitus?
Bagaimanakah penatalaksaan ekstraksi gigi pada penderita diabetes melitus?
Apa saja jenis-jenis penyakit metabolik endokrin? (selain DM)
Bagaimanakah manifestasi oral dari penyakit metabolik endokrin? (selain DM)
Penyakit metabolik endokrin apa yang salah satu gejalanya jantung sering berdebar dan sering
keluar keringat dimalam hari?
ANALISIS MASALAH

1. Diabetes melitus dibagi menjadi 3,


a. Diabetes melitus tipe 1 (Insulin Dependent Diabetes Melitus)
b. Diabetes melitus tipe 2 (Non Insulin Dependent Diabetes Melitus)
c. Diabetes melitus gestational
2. Penyebab dari diabetes melitus antara lain:
a. Pada diabetes mlitus tipe 1, kelenjar pankreas tidak mampu memproduksi insulin, sehingga
jumlah insulin beredar dalam tubuh tidak mencukupi kebutuhan
b. Pada diabetes melitus tipe 2, biasanya disebabkan karena obesitas (kegemukan) dan gaya
hidup yang tidak sehat (pola makan tinggi lemak, dan jarang berolah raga).
3. Tanda-tanda dan gejala umum dari diabetes melitus antara lain:
a. Sering buang air kecil terutama dimalam hari (poliuria)
b. Sering merasa haus (polidipsi)
c. Sering merasa lelah dan lapar (poliphagia)
4. Manifestasi oral dari diabetes melitus antara lain :
a. Xerostomia (mulut kering)
b. Gingivitis (kelainan gusi)
c. Periodontitis ( kelainan jaringan pendukung gigi)
d. Karies dentis
e. Stomatitis apthosa (sariawan)
f. Oral thrush (oral candida)
g. Rasa mulut terbakar
5. Bau nafas Pak Yusuf berbau aseton karena meningkatnya jumlah keton di dalam darah
6. Pada Diabetes Melitus dengan kondisi kebersihan mulut yang jelek dan adanya angiopati
diabetik menyebabkan suplai oksigen berkurang sehingga bakteri anaerob mudah berkembang,
terutama di rongga mulut. Akibatnya, penderita diabetes melitus mudah terkena kelainankelainan tertentu seperti oral canadida dan karies dentis.
7. Ekstraksi gigi pada pasien dengan DM resiko rendah membutuhkaan perhatian khusus pada
kontrol diet, mengurangi stres, dan resiko infeksi pada seluruh prosedur pembedahan. Biasanya,
tidak dibutuhkan penyesuaian pada terapi insulin. Begitu juga ekstraksi gigi pada pasien DM
dengan resiko menengah, membutuhkan kontrol diet, stres, dan infeksi namun pelaksanaan
ekstraksi gigi hanya dapat dilakukan setelah konsultasi dengan dokter yang merawat pasien atau

dokter spesialis penyakit dalam. Untuk tindakan bedah yang lebih besar dan reseksi gingiva perlu
dipertimbangkan teknik sedasi tambahan dan perawatan dalam rumah sakit.
8. Jenis-jenis panyakit metabolik endokrin (selain diabetes melitus) antara lain:
a. Gangguan kelenjar paratiroid
Hiperparatiroidisme
Hipoparatiroidisme
b. Ganngua kelenjar tiroid
Hipertiroidisme
Hipotiroidisme
c. Gangguan kelenjar hipofisis (pituitary)
Gangguan hipofisis anterior
Gangguan hipofisis posterior
d. Gangguan kelenjar suprarenalis (adrenal)
Hiperplasia adrenal kongenital
Sindrom cushing
Hiper Aldosteronisme
syndrom Conns
Adreno Genital Sindrom : Hirsutisme
Hipo Adrenal : penyakit Addison
Feokromositoma
e. Gangguan kelenjar gonad
9. Manifesatasi oral dari penderita penyakit metabolik endokrin antara lain:
a. rasa terbakar di mulut
b. mudah terkena karies
c. penundaan/percepatan erupsi gigi
d. adanya penyakit periodontal
e. glossitis
f. terjadi penundaan dalam penyembuhan luka
10. Sering keluar keringat malam dan jantung sering berdebar merupakan salah satu gejala dari
penyakit metabolik endokrin yaitu hipertiroid

SKEMA

Bapak
Yusuf
Menderita Diabetes
Penyakit Metabolik
Melitus
Endokrin
Diabetes
Melitus
Jenis-Jenis

Manifestasi Klinis
dan Penyebabnya

Penyakit Metabolik
Endokrin Lainnya

Manisfestas
i Oral

Pemeriksaan
Penunjang

Pertimbanga
n
Penatalaksaa
n dibidang

LEARNING OBJECTIVES
1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang penyakit diabetes melitus
Diabetes Melitus (DM) atau penyakit kencing manis merupakan suatu penyakit menahun yang
ditandai dengan kadar gula glukosa darah (gula darah) melebihi nilai normal. Diabetes Mellitus
dapat dibagi dalam tiga tipe, yaitu:
a. Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM) disebut Diabetes Mellitus tipe 1
Diabetes mellitus tipe ini disebabkan akibat kekurangan insulin dalam darah yang terjadi
karena kerusakan dari sel beta pankreas. Gejala yang menonjol adalah terjadinya sering
buang air kecil (terutama malam hari), sering lapar dan sering haus, sebagian besar penderita
DM tipe ini berat badannya normal atau kurus. Biasanya terjadi pada usia muda dan
memerlukan insulin seumur hidup. Pada diabetes tipe 1, kelenjar pankreas tidak mampu
memproduksi insulin, sehingga jumlah insulin beredar dalam tubuh tidak mencukupi
kebutuhan.
b. Non insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM) atau Diabetes Mellitus tipe 2
Diabetes mellitus tipe II ini disebabkan insulin yang ada tidak dapat bekerja dengan baik,
kadar insulin dapat normal, rendah atau bahkan meningkat tetapi fungsi insulin untuk
metabolisme glukosa tidak ada / kurang. Akibatnya glukosa dalam darah tetap tinggi
sehingga terjadi hiperglikemia. Tujuh puluh lima persen penderita DM tipe II adalah
penderita obesitas atau sangat kegemukan dan biasanya diketahui DM setelah usia 30 tahun.
Kegemukan atau obesitas salah satu faktor penyebab penyakit DM, dalam pengobatan
penderita DM, selain obat-obatan anti diabetes, perlu ditunjang dengan terapi diit untuk
menurunkan kadar gula darah serta mencegah komplikasi-komplikasi yang lain. Pada

diabetes tipe 2, Hormon Insulin tetap diproduksi namun tidak dapat berfungsi dengan baik.
Diabetes tipe 2 ini bisa disebabkan karena obesitas (kegemukan) dan gaya hidup yang tidak
sehat (pola makan tinggi lemak, dan jarang berolah raga). Diabetes tipe ini secara umum
biasa dikaitkan dengan usia lanjut.
c. Diabetes Melitus Gestasional
Tipe ini timbul pada wanita hamil yang kemudian gejala menghilang setelah melahirkan bayi
biasanya dengan berat badan yang lebih besar dibanding dengan bayi lain pada umumnya.
Wanita yang telah menderita Gestasional Diabetes Mellitus meningkatkan faktor resiko
untuk terjadinya diabetes mellitus tipe II.
Gejala Umum Diabetes Melitus
Gejala umum dari diabetes melitus antara lain :
a. Sering buang air kecil terutama dimalam hari (poliuria)
Poliuria adalah volume urin yang banyak dalam periode tertentu karena, kadar glukosa darah
yang tinggi akan menyebabkan banyak kencing. Kencing yang sering dan dalam jumlah
banyak akan sangat mengganggu penderita, terutama pada waktu malam hari.
b. Sering merasa haus (polidipsi)
Rasa haus amat sering dialami oleh penderita karena banyaknya cairan yang keluar melalui
kencing. Keadaan ini justru sering disalahtafsirkan dengan menyebabkan rasa haus karena
udara yang panas atau beban kerja yang berat sehingga untuk menghilangkan rasa haus itu
penderita banyak minum.
c. Sering merasa lelah dan lapar (poliphagia)
d. Penurunan berat badan yang tidak menentu
Penurunan berat badan yang berlangsung dalam waktu relatif singkat harus menimbulkan
kecurigaan. Hal ini disebabkan glukosa dalam darah tidak dapat masuk ke dalam sel,
sehingga sel kekurangan bahan bakar untuk menghasilkan tenaga. Untuk kelangsungan
hidup, sumber tenaga terpaksa diambil dari cadangan lain yaitu sel lemak dan otot.
Akibatnya penderita kehilangan jaringan lemak dan otot sehingga menjadi kurus.
e. Gangguan sel saraf tepi / kesemutan
Penderita mengeluh rasa sakit atau kesemutan terutama pada kaki di waktu malam, sehingga
f.

menganggu tidur.
Rasa gatal yang berlebihan / bisul
Kelainan kulit berupa gatal, biasanya terjadi di daerah kemaluan atau daerah lipatan kulit
seperti ketiak dan dibawah payudarah. Sering pula dikeluhkan timbulnya bisul dan luka lama
sembuhnya. Luka ini dapat timbul akibat hal yang sepele seperti luka lecet karena sepatu
atau tertusuk peniti.

g. Gangguan penglihatan
Pada fase awal penyakit diabetes sering dijumpai gangguan penglihatan yang mendorong
penderita untuk mengganti kacamatanya berulang kali agar ia tetap dapat melihat dengan
baik.
h. Impotensi pada pria
i. Pruritis vulva pada wanita.
j. Penyembuhan luka yang lambat.
Manifestasi Oral Penyakit Diabetes Melitus
a. Xerostomia (Mulut Kering)
Diabetes yang tidak terkontrol menyebabkan penurunan aliran saliva (air liur), sehingga
mulut terasa kering. Saliva memiliki efek self-cleansing, di mana alirannya dapat berfungsi
sebagai pembilas sisa-sisa makanan dan kotoran dari dalam mulut. Jadi bila aliran saliva
menurun maka akan menyebabkan timbulnya rasa tak nyaman, lebih rentan untuk terjadinya
ulserasi (luka), lubang gigi, dan bisa menjadi ladang subur bagi bakteri untuk tumbuh dan
berkembang.
b. Gingivitis dan Periodontitis
Periodontitis ialah radang pada jaringan pendukung gigi (gusi dan tulang). Selain merusak
sel darah putih, komplikasi lain dari diabetes adalah menebalnya pembuluh darah sehingga
memperlambat aliran nutrisi dan produk sisa dari tubuh. Lambatnya aliran darah ini
menurunkan kemampuan tubuh untuk memerangi infeksi. Sedangkan periodontitis adalah
penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Dan hal ini menjadi lebih berat dikarenakan
infeksi bakteri pada penderita Diabetes lebih berat.
Ada banyak faktor yang menjadi pencetus atau yang memperberat periodontitis, diantaranya
akumulasi plak, kalkulus (karang gigi), dan faktor sistemik atau kondisi tubuh secara umum.
Rusaknya jaringan Periodontal membuat gusi tidak lagi melekat ke gigi, tulang menjadi
rusak, dan lama kelamaan gigi menjadi goyang. Angka kasus penyakit periodontal di
masyarakat cukup tinggi meski banyak yang tidak menyadarinya, dan penyakit ini
merupakan penyebab utama hilangnya gigi pada orang dewasa.
Dari seluruh komplikasi Diabetes Melitus, Periodontitis merupakan komplikasi nomor enam
terbesar di antara berbagai macam penyakit dan Diabetes Melitus adalah komplikasi nomor
satu terbesar khusus di rongga mulut. Hampir sekitar 80% pasien Diabetes Melitus gusinya
bermasalah. Tanda-tanda periodontitis antara lain pasien mengeluh gusinya mudah berdarah,
warna gusi menjadi mengkilat, tekstur kulit jeruknya (stippling) hilang, kantong gusi menjadi

dalam, dan ada kerusakan tulang di sekitar gigi, pasien mengeluh giginya goyah sehingga
mudah lepas.
c. Stomatitis Apthosa (Sariawan)
Meski sariawan biasa dialami oleh banyak orang, namun penyakit ini bisa menyebabkan
komplikasi parah jika dialami oleh penderita diabetes. Penderita Diabetes sangat rentan
terkena infeksi jamur dalam mulut dan lidah yang kemudian menimbulkan penyakit sejenis
sariawan. Sariawan ini disebabkan oleh jamur yang berkembang seiring naiknya tingkat gula
dalam darah dan air liur penderita diabetes.
d. Rasa mulut terbakar
Penderita diabetes biasanya mengeluh tentang terasa terbakar atau mati rasa pada mulutnya.
Biasanya, penderita diabetes juga dapat mengalami mati rasa pada bagian wajah.
e. Oral thrush
Penderita diabetes yang sering mengkonsumsi antibiotik untuk memerangi infeksi sangat
rentan mengalami infeksi jamur pada mulut dan lidah. Apalagi penderita diabetes yang
merokok, risiko terjadinya infeksi jamur jauh lebih besar.
Oral thrush atau oral candida adalah infeksi di dalam mulut yang disebabkan oleh jamur,
f.

sejumlah kecil jamur candida ada di dalam mulut.


Dental Caries (Karies Gigi)
Diabetes Mellitus bisa merupakan faktor predisposisi bagi kenaikan terjadinya dan jumlah
dari karies. Keadaan tersebut diperkirakan karena pada diabetes aliran cairan darah
mengandung banyak glukosa yang berperan sebagai substrat kariogenik. Karies gigi dapat
terjadi karena interaksi dari 4 faktor yaitu gigi, substrat , kuman dan waktu. Pada penderita
Diabetes Melitus telah diketahui bahwa jumlah air liur berkurang sehingga makanan melekat
pada permukaan gigi, dan bila yang melekat adalah makanan dari golongan karbohidrat
bercampur dengan kuman yang ada pada permukaan gigi dan tidak langsung dibersihkan
dapat mengakibatkan keasaman didalam mulut menurun, sehingga dapat mengakibatkan

terjadinya lubang atau caries gigi.


Pertimbangan Penatalaksanaan Bidang KG Pada Penderita Diabetes Melitus
Diabetes mellitus (DM) bukan merupakan kontraindikasi untuk setiap tindakan perawatan
kedokteran gigi, misalnya tindakan operatif seperti pencabutan gigi. Hal ini tidak masalah bagi
dokter gigi apabila penderita di bawah pengawasan dokter ahli sehingga keadaanya terkontrol.
Untuk setiap tindakan operatif ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan yaitu faktor sebelum
dan setelah tindakan operatif. Faktor sebelum operatif antara lain keadaan umum penderita, kadar
gula darah dan urin penderita, anastetikum yang akan digunakan serta tindakan asepsis. Tindakan
yang perlu dilakukan setelah tindakan operatif adalah pencegahan terhadap kemungkinan
terjadinya infeksi, juga keadaan umum serta kadar gula darah
dan urin.
Anastesi yang digunakan untuk tindakan operatif harus aman, tidak boleh meninggikan kadar

gula dalam darah. Pemakaian adrenalin sebagai lokal anastesi masih dapat diterima karena
kadarnya tidak terlalu besar walaupun adrenalin dapat meninggikan kadar gula dalam darah.
Procain sebagai anastesi lokal sangat dianjurkan.
Sebelum tindakan operatif sebaiknya penderita diberi suatu antibiotik untuk mencegah infeksi
(antibiotik profilaksis, juga pemberian vitamin C dan B kompleks, dapat membantu
memepercepat proses penyembuhan serta mengurangi kemungkinan terjadinya infeksi setelah
perawatan. Kultur bakteri perlu dilakukan untuk kasus-kasus infeksi oral akut. Jika terjadi respon
yang kurang baik dari pemberian antibiotik yang pertama, dokter gigi dapat memberikan lagi
antibiotik yang lebih efektif berdasarkan uji kepekaan bakteri pada pasien.
Tindakan perawatan gigi penderita tergantung pada pengetahuan dokter gigi tentang keadaan
penyakit tersebut. Jika pasien telah didiagnosis dan dikontrol dengan adekuat, maka tidak ada
masalah sepanjang dokter gigi benar-benar mempertimbangkan hal-hal yang dapat
menghilangkan komplikasi. Hal-hal yang perlu diperhatikan pada perawatan gigi pasien DM
adalah :
a. Hal-hal tentang keadaan kesehatan pasien DM harus didiskusikan dengan dokter yang
merawatnya.
b. Semua infeksi rongga mulut harus dirawat dengan segera dengan antibiotik yang tepat.
c. Kesehatan rongga mulut yang baik harus dipertahankan, sehingga iritasi lokal akan hilang
secara teratur, pembentukan kalkulus berkurang dan sangat diharapkan gingivitis dan
penyakit periodontal dapat dicegah.
Pasien dijadwalkan untuk perawatan di pagi hari dan diinstruksikan untuk mengkonsumsi makan
paginya seperti biasa. Apabila perawatan melewati waktu makan maka pasien harus diberi waktu
mengkonsumsi makanan/ minuman ringan. Apabila kesulitan mengunyah setelah perawatan,
dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan lunak. Pada setiap prosedur perawatan gigi
diinstruksikan untuk tetap mengkonsumsi obat hipoglikemik sesuai dosis yang diperuntukkan
baginya. Pada pasien dengan terapi insulin dapat dilakukan modifikasi dengan makan paginya.
Pasien diinstruksikan mengkonsumsi makan paginya disertai insulin separuh dosis pagi dan
separuh lagi sesuadah perawatan. Minimalkan stres selama perawatan gigi apabila
memungkinkan proses perawatan dibagi menjadi beberapa kunjungan yang tidak terlalu lama .
2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang penyakit paratitoid
Hiperparatiroidisme
Hiperparatiroidisme adalah berlebihnya produksi hormon paratiroid oleh kelenjar paratiroid
ditandai dengan dekalsifikasi tulang dan terbentuknya batu ginjal yang mengandung kalsium.
Hiperparatiroidisme dibagi menjadi 2, yaitu hiperparatiroidisme primer dan sekunder.
Hiperparatiroidisme primer terjadi dua atau tiga kali lebih sering pada wanita daripada lakilaki dan pada pasien-pasien yang berusia 60-70 tahun. Sedangkan hiperparatiroidisme

sekunder disertai manifestasi yang sama dengan pasien gagal ginjal kronis. Rakitisi ginjal
akibat retensi fosfor akan meningkatkan stimulasi pada kelenjar paratiroid dan meningkatkan
sekresi hormon paratiroid.
Etiologi
Kira-kira 85% dari kasus hiperparatiroid primer disebabkan oleh adenoma tunggal.
Sedangkan 15% lainnya melibatkan berbagai kelenjar (contoh berbagai adenoma atau
hyperplasia). Biasanya herediter dan frekuensinya berhubungan dengan kelainan

endokrin lainny
Sedikit kasus hiperparatiroidisme utama disebabkan oleh paratiroid karsinoma.

Etiologi dari adenoma dan hyperplasia pada kebanyakan kasus tidak diketahui. Kasus
keluarga dapat terjadi baik sebagai bagian dari berbagai sindrom endrokin neoplasia,
syndrome hiperparatiroid tumor atau hiperparatiroidisme turunan.

Beberapa ahli bedah dan ahli patologis melaporkan bahwa pembesaran dari kelenjar
yang multiple umumnya jenis adenoma yang ganda. Pada 15 % pasien semua
kelenjar hiperfungsi; chief cell parathyroid hyperplasia.

Patofisiologi
Hiperparatiroidisme dapat bersifat primer (yaitu yang disebabkan oleh hiperplasia atau
neoplasma paratiroid) atau sekunder, dimana kasus biasanya berhubungan dengan gagal
ginjal kronis.
Pada 80% kasus, hiperparatiroidisme primer disebabkan oleh adenoma paratiroid jinak; 18%
kasus diakibatkan oleh hiperplasia kelenjar paratiroid: dan 2% kasus disebabkan oleh
karsinoma paratiroid (damjanov,1996). Normalnya terdapat empat kelenjar paratiroid.
Adenoma atau karsinoma paratiroid ditandai oleh pembesaran satu kelenjar, dengan kelenjar
lainnya tetap normal. Pada hiperplasia paratiroid, keempat kelenjar membesar. Karena
diagnosa adenoma atau hiperplasia tidak dapat ditegakan preoperatif, jadi penting bagi ahli
bedah untuk meneliti keempat kelenjar tersebut. Jika teridentifikasi salah satu kelenjar
tersebut mengalami pembesaran adenomatosa, biasanya kelenjar tersebut diangkat dan

laninnya dibiarkan utuh. Jika ternyata keempat kelenjar tersebut mengalami pembesaran ahli
bedah akan mengangkat ketiga kelelanjar dan meninggalkan satu kelenjar saja yang
seharusnya mencukupi untuk mempertahankan homeostasis kalsium-fosfat.
Hiperplasia paratiroid sekunder dapat dibedakan dengan hiperplasia primer, karena keempat
kelenjar membesar secara simetris. Pembesaran kelanjar paratiroid dan hiperfungsinya
adalah mekanisme kompensasi yang dicetuskan oleh retensi format dan hiperkalsemia yang
berkaitan

dengan

penyakit

ginjal

kronis.

Osteomalasia

yang

disebabkan

oleh

hipovitaminosis D, seperti pada riketsia, dapat mengakibatkan dampak yang sama.


Hiperparatiroidisme ditandai oleh kelebihan PTH dalam sirkulasi. PTH terutama bekerja
pada tulang dan ginjal. Dalam tulang, PTH meningkatkan resorpsi kalsium dari limen
tubulus ginjal. Dengan demikian mengurangi eksresi kalsium dalam urine. PTH juga
meningkatkan bentuk vitamin D3 aktif dalam ginjal, yang selanjutnya memudahkan ambilan
kalsium dari makanan dalam usus. Sehingga hiperkalsemia dan hipofosatmia kompensatori
adalah abnormlitas biokimia yang dideteksi melalui analisis darah. Konsentrasi PTH serum
juga meningkat.
Produksi hormon paratiroid yang berlebih disertai dengan gagal ginjal dapat menyebabkan
berbagai macam penyakit tulang, penyakit tulng yang sering terjadi adalah osteitis fibrosa
cystica, suatu penyakit meningkatnya resorpsi tulang karena peningkatan kadar hormon
paratiroid. Penyakit tulang lainnya juga sering terjadi pada pasien, tapi tidak muncul secara
langsung.

Manifestasi Klinik
Pasien mungkin tidak atau mengalami tanda-tanda dan gejala akibat terganggunyabeberapa
sistem organ. Gejala apatis, keluhan mudah lelah, kelemahan otot, mual, muntah, konstipasi,

hipertensi dan aritmia jantung dapat terjadi; semua ini berkaitandengan peningkatan kadar
kalsium dalam darah. Manifestasi psikologis dapatbervariasi mulai dari emosi yang mudah
tersinggung dan neurosis hingga keadaanpsikosis yang disebabkan oleh efek langsung
kalsium pada otak serta sistem saraf.
Peningkatan kadar kalsium akan menurunkan potensial eksitasi jaringan saraf dan otot.
Pembentukan batu pada salah satu atau kedua ginjal yang berkaitan dengan peningkatan
ekskresi kalsium dan fosfor merupakan salah satu komplikasi hiperparatiroidisme primer.
Kerusakan ginjal terjadi akibat presipitasi kalsium fosfat dalam pelvis da ginjal parenkim
yang mengakibatkan batu ginjal (renal calculi), obstruksi, pielonefritis serta gagal ginjal.
Gejala

muskuloskeletal

yang

menyertai

hiperparatiroidisme

dapat

terjadi

akibat

demineralisasi tulang atau tumor tulang, yang muncul berupa sel-sel raksasa benigna akibat
pertumbuhan osteoklast yang berlebihan. Pasien dapat mengalami nyeri skeletal dan nyeri
tekan, khususnya di daerah punggung dan persendian; nyeri ketika menyangga tubuh; fraktur
patologik; deformitas; dan pemendekkan badan. Kehilangan tulang yang berkaitan dengan
hiperparatiroidisme merupakan faktor risiko terjadinya fraktur. Insidens ulkus peptikum dan
prankreatis meningkat pada hiperparatiroidisme dan dapat menyebabkan terjadinya gejala
gastroitestinal.
Pemeriksaan Diagnostik
Hiperparatiroidisme didiagnosis ketika tes menunjukkan tingginya level kalsium dalam darah
disebabkan tingginya kadar hormone paratiroid. Penyakit lain dapat menyebabkan tingginya
kadar kalsium dalam darah, tapi hanya hiperparatiroidisme yang menaikkan kadar kalsium
karena terlalu banyak hormon paratiroid.
Kenaikkan kadar kalsium serum saja merupakan gambaran yang nonspesifik karena kadar
dalam serum ini dapat berubah akibat diet, obat-obatan dan perubahan pada ginjal serta
tulang. Perubahan tulang dapat dideteksi dengan pemeriksaan sinar-x atau pemindai tulang

pada kasus-kasus penyakit yang sudah lanjut. Penggambaran dengan sinar X pada abdomen
bisa mengungkapkan adanya batu ginjal dan jumlah urin selama 24 jam dapat menyediakan
informasi kerusakan ginjal dan resiko batu ginjal. Pemeriksaan antibodi ganda hormon
paratiroid digunakan untuk membedakan hiperparatiroidisme primer dengan keganasan, yang
dapat menyebabkan hiperkalsemia. Pemeriksaan USG, MRI, Pemindai thallium serta biopsi
jarum halus telah digunakan untuk mengevaluasi fungsi paratiroid dan untuk menentukan
lokasi kista, adenoma serta hiperplasia pada kelenjar paratiroid.
Tes darah mempermudah diagnosis hiperparatiroidisme karena menunjukkan penilaian yang
akurat berapa jumlah hormon paratiroid. Sekali diagnosis didirikan, tes yang lain sebaiknya
dilakukan untuk melihat adanya komplikasi. Karena tingginya kadar hormon paratiroid dapat
menyebabkan kerapuhan tulang karena kekurangan kalsium, dan pengukuran kepadatan
tulang sebaiknya dilakukan untuk memastikan keadaan tulang dan resiko fraktura.

Hipoparatirodisme

Hipoparatiroid adalah gabungan gejala dari produksi hormon paratiroid yang tidak adekuat.
Keadaan ini jarang sekali ditemukan dan umumnya sering sering disebabkan oleh kerusakan
atau pengangkatan kelenjar paratiroid pada saat operasi paratiroid atau tiroid, dan yang lebih
jarang lagi ialah tidak adanya kelenjar paratiroid (secara kongenital). Kadang-kadang
penyebab spesifik tidak dapat diketahui.
Etiologi
Jarang sekali terjadi hipoparatiroidisme primer, dan jika ada biasanya terdapat pada anakanak dibawah umur 16 tahun. Ada tiga kategori dari hipoparatiroidisme:
Defisiensi sekresi hormon paratiroid
Post operasi pengangkatan kelenjar partiroid dan total tiroidektomi.
Idiopatik, penyakit ini jarang dan dapat kongenital atau didapat (acquired).
Hipomagnesemia.
Sekresi hormon paratiroid yang tidak aktif.
Resistensi terhadap hormon paratiroid (pseudohipoparatiroidisme)
Patofisiologi

Pada hipoparatiroidisme terdapat gangguan dari metabolisme kalsium dan fosfat, yakni
kalsium serum menurun (bisa sampai 5 mgr%) dan fosfat serum meninggi (bisa sampai 9,512,5 mgr%).
Pada yang post operasi disebabkan tidak adekuat produksi hormon paratiroid karena
pengangkatan kelenjar paratiroid pada saat operasi. Operasi yang pertama adalah untuk
mengatasi keadaan hiperparatiroid dengan mengangkat kelenjar paratiroid. Tujuannya adalah
untuk mengatasi sekresi hormon paratiroid yang berlebihan, tetapi biasanya terlalu banyak
jaringan yang diangkat. Operasi kedua berhubungan dengan operasi total tiroidektomi. Hal
ini disebabkan karena letak anatomi kelenjar tiroid dan paratiroid yang dekat (diperdarahi
oleh pembuluh darah yang sama) sehingga kelenjar paratiroid dapat terkena sayatan atau
terangkat. Hal ini sangat jarang dan biasanya kurang dari 1 % pada operasi tiroid. Pada
banyak pasien tidak adekuatnya produksi sekresi hormon paratiroid bersifat sementara
sesudah operasi kelenjar tiroid atau kelenjar paratiroid, jadi diagnosis tidak dapat dibuat
segera sesudah operasi.
Pada pseudohipoparatiroidisme timbul gejala dan tanda hipoparatiroidisme tetapi kadar PTH
dalam darah normal atau meningkat. Karena jaringan tidak berespons terhadap hormon,
maka penyakit ini adalah penyakit reseptor.
Manifestasi Klinik
Hipokalsemia menyebabkan iritablitas sistem neuromuskeler dan turut menimbulkan gejala
utama hipoparatiroidisme yang berupa tetanus.
Tetanus merupakan hipertonia otot yang menyeluruh disertai tremor dan kontraksi spasmodik
atau tak terkoordinasi yang terjadi dengan atau tanpa upaya untuk melakukan gerakan
volunter. Pada keadaan tetanus laten terdapat gejala patirasa, kesemutan dan kram pada
ekstremitas dengan keluhan perasaan kaku pada kedua belah tangan serta kaki. Pada keadaan
tetanus yang nyata, tanda-tanda mencakup bronkospasme, spasme laring, spasme karpopedal
(fleksi sendi siku serta pergelangan tangan dan ekstensi sensi karpofalangeal), disfagia,
fotopobia, aritmia jantung serta kejang.
Gejala lainnya mencakup ansietas, iritabilitas, depresi dan bahkan delirium. Perubahan pada
EKG dan hipotensi dapat terjadi. (Brunner & Suddath, 2001)
Pemeriksaan Diagnostik

Tetanus laten ditunjukan oleh tanda trousseau atau tanda Chvostek yang positif. Tanda
trousseau dianggap positif apabila terjadi spasme karpopedal yang ditimbulkan akibat
penyumabtan aliran darah ke lengan selama 3 menit dengan manset tensimeter. Tanda
Chvostek menujukkan hasil positif apabila pengetukan yang dilakukan secara tiba-tiba
didaerah nervous fasialis tepat di kelenjar parotis dan disebelah anterior telinga
menyebabkan spasme atau gerakan kedutan pada mulut, hidung dan mata.
3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang penyakit kelenjar tiroid
a. Hipotiroidisme
Hipotiroidisme kongenital
Etiologi
Disgenesis tiroid (absen, hipoplastik, atau ektopik [paling sering]; tiroid atau organ akhir
tidak berespons terhadap hormon; dishormonogenesis familial; pajanan maternal terhadap
radioiodin, prophylthiouracil (PTU) atau methimazole selama kehamilan; defek pada glandula
pituitari; dan defisiensi TBG.
Manifestasi klinis
Biasanya gejala tak terlihat, kecuali bayi sakit sangat berat.
Fontanel terbuka lebar; berat badan lahir besar (>4 kg) atau gestasi lebih dari 42

n;inggu.
Hipotermia; hipotonia; letargi.
Susah makan, distensi abdomen, dan ikterus yang berlangsung lebih dari 3 hari.
Tanda akhir: kulit kering, makroglosia, rambut kasar, kelopak mata bengkak, menangis

parau, miksedema, dun konstipasi


b. Hipertiroidisme
Etiologi
jarang pada neonatus; biasanya lahir dari ibu dengan penyakit Grave atau lahir dari ibu dengan
tiroiditis Hashimoto.
Manifestasi klinis
Iritabilitas
Tremor
Hiperaktivitas
Hipertermia
Berkeringat serta kemerah-merahan
muntah dan diare
takikardia
hipertensi
hepatosplenomegali dan ikterus
melotot dan retraksi kelopak mata.
4. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang kelainan kelenjar pituitary/hipofisis
a. Gangguan hipofisis anterior
Etiologi

Malformasi (mungkin berhubungan dengan celah bibir dan palahim, atrofi nervus

optikus, displasia septooptik, ensefalokcl transfenoidal, holoprosensefali, dan anensefali)


Trauma
infeksi congenital
tumor
defisiensi hormon pituitari familial atau idiopatik tersendiri atau kombinasi
Manifestasi klinis
kecurigaan pada defek garis tengah, mungkin tidak jelas dalam periode neonatal
gejala paling sering adalah hipogltkemia, mikropenis, dan iktems kolestaisis
Pemeriksaan diagnostic
Pencitraan otak; pemeriksaan talmologis; kadar hormon (ACTH, tiroid, dan hormon
pertunnbuhan); serta stemulasi ACTH dan uji hormon pertumbuhan.
b. Gangguan hipofisis posterior
Diabetes insipidus (DI)
Etiologi
penyebab primer (autosom dominan, terkait-X, dan idiopatik); penyebab sekunder (sekuens
malformasi, trauma kelahiran, hemoragi periventrikular, dan infeksi).
Manifestasi klinis
kemungkinan memiliki riwayat polihidramnion
mungkin datang dengan gagal tumbuh
iritabilitas
demam
muntah
berat badan turun
Pemeriksaan diagmostik
elektrolit urine, berat jenis, dan osmolaritas.
Elektrolit dan osmolaritas serum.
Diagnosis: urine yang sangat encer sementara serum hiperosmolar dan haluaran urine
yang tepat setelah pemberian vasopresin.
5. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang penyakit kelenjar suprarenalis/adrenal
Glandula suprarenalis terletak di atas, belakang, dan medial terhadap ginjal. Ada dua kelenjar
tepisah: medula ad-renal mensekresi epinefrin dan norepinefrin sebagai respons stimulasi
simpatis. Gangguan ini jarang ditemukan pada periode neonatal; korteks adrenal mensekresi
glukokortikoid

(kortisol

atau

hidrokortison),

mineralokortikoid

(aldosteron

dan

desoksikortikosteron), dan hormon androgenik melalui umpan balik negatif dari aksis
hipotalamus-hipofisis.
a. Hiperplasia adrenal kongenital (congenital adrenal hyperplasia, CAH)
Etiologi
Defek diturunkan pada enzim sintesis kortisol: defisie isi 21-Hidroksilase (paling sering);
defisiensi 11--hidroksilase; defisiensi 17-hidroksilase; defisiensi 3- hidroksisteroid
dehidrogenase; dan defisiensi 20,22-desmolase.

Gangguan sekresi kortisol yang berakibat hipersekresi ACTH dan hiperplasia korteks adrenal
sehingga menyebabkan kelebihan produksi androgen adrenal.

Manifestasi klinis
Bergantung pada tempat dan beratnya blok enzim simple virilizing formn (kehilangan garam
ringan; insufisiensi adrenal terjadi hanya ketika stres); bentuk kehilangun garam (biasanya

mengakibatkan krisis adrenal selania periode neonatal).


Dicurigai CAH pada tiap anak dengan ambigus genitalia (termasuk kriptorkidismus bilateral
tersendiri), bayi baru lahir yang datang dengan syok dan dehidrasi, atau pria/wanita dengan

tanda maskulinisasi tak tepat.


Gejala krisis adrenal biasanya terjadi dalam 5 sampai 30 hari kehidupan dan meliputi muntah,
susah makan, dehidrasi, gagal tumbuh, hiponatremia, hiperkalemia, hipoglikemia, dan

asidosis.
Hipertensi bisa terjadi pada defisiensi 11-hidroksilase dan defek 17 a-hidroksilase

b. Insufisiensi adrenal
Etiologi
Hemoragi adrenal; insufisiepsi adrenal transien atau iatrogenik; hipoplasia adrenal kongenital;
defisiensi aldosteron saja; pseudohipoaldosteronisme; tahanan ACTH adrenal kongenital;
adrenoleukodistrofi neonatal; defisiensi kinase gliserol infantil.

Manifestasi klinis
Hipoplasia kongenital datang sebagai neonatus dengan hipoglikemia berat, sukar makan, dan

gagal tumbuh.
Insufisiensi transien bisa terlihat sebagai hiponatremia, hiperkalemia, poliuria, dehidrasi, dan
gagal tumbuh.

c.

Pemeriksaan diagnostic
Elektrolit serum; glukosa serum; kadar kortisol serum dan urine.
Kadar ACTH dan renin; uji stimulasi ACTH.
Ultrasonografi adrenal.
Hemoragi adrenal
Etiologi
Biasanya karena trauma mekanis selama proses kelahiran.
Manifestasi klinis
Bisa asimtomatik.
Biasanya datang dengan pucat, apnea, hipotermia dengan penurunan hematokrit (Hct), dan
ikterus. Bisa datang dengan syok hipovolemik bila cukup berat.

Tanda insufisiensi adrenal tidak selalu ada, kecuali terdapat perdarahan bilateral dengan

kerusakan jaringan adrenokortikal 90%


Pemeriksaan diagnostik
Ultrasonografi adrenal.
6. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang penyakit kelenjar gonad
Kelenjar kelamin disebut pula dengan gonad. Meskipun fungsi utamanya adalah memproduksi
sel-sel kelamin, namun kelenjar kelamin juga memproduksi hormon. Kelenjar kelamin laki-laki
terdapat pada testis, sementara kelenjar kelamin perempuan berada pada ovarium.
Gonad (hormon kelamin) merupakan kelenjar endokrin yang dipengaruhi oleh gonadotropin
hormon (GtH) yang disekresikan kelenjar pituitari .Hipofisis mengsilkan 2 jenis gonadotropin
yang mengatur fungsi alat reproduksi yaitu hormon pemacu folikel (FSH=folicle stimulating
hormone dan LH= lutenizing hormone). Pada setiap spesies tertentu hipofisis penting selama
kehamilan, sedangkan umumnya kehamilan dapat berjalan tanpa hipofisis.
Struktur dan Fungsi Kelenjar Gonad
Terbentuk pada minggu-minggu pertama gestasi dan tampak jelas pada minggu kelima.
Diferensiasi jelas dengan mengukur kadar testosteron fetal terlihat jelas pada minggu ke tujuh
dan ke delapan gestasi. Keaktifan kelenjar gonad terjadi pada masa prepubertas dengan
meningkatnya sekresi gonadotropin (FSH dan LH) akibat penurunan inhibisi steroid.
a. Testes
Manusia mempunyai sepasang testis yang terdapat dalam skrotum. Testis (gonad jantan)
berbentuk memanjang dan menggantung pada bagian atas rongga tubuh dengan perantaraan
mesorkium. Pada Chonduricthyes testis yang satu lebih besar dari testis yang lain. Testis
tersusun dari folikel-folikel tempat spermatozoa berkembang. Ukuran gonad dapat mencapai
12% atau lebih dari bobot tubuhnya. Kebanyakan testis berwarna dan halus pada sikuroisea
testisnya tegak.
b. Ovarium
Ovarium berbentuk memanjang, terletak dibawah atau disamping gelembung gas yang
terkadang berjumlah sepasang. Ovarium bergantung pada bagian atas rongga tubuh dengan
perantaran cheovaria. Ukuran dan perkembangannya dalam tubuh manusia bervariasi sesuai
dengan tingkat kematangannya. Warnanya pun berbeda-beda. Sebagian besar berwarna
keputih-putihan pada waktu lebih muda dan berubah menjadi kekuning-kuningan pada waktu
matang.
Kelainan pada kelenjar gonad
a. Testes

radang testis (orchitis)


kanker testis
b. Ovarium
Kista ovarium
Kanker ovarium