Anda di halaman 1dari 1

Latar Belakang

Konsumsi baja Indonesia diperkirakan mencapai 15 juta ton hingga tahun 2015, seiring
terealisasinya sejumlah proyek-proyek Master plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan
Ekonomi Indonesia (MP3EI). Pembangunan itu tidak lepas dari butuhnya bahan baku konstruksi
khususnya besi dan baja. Menurut LIPI dan beberapa ahli, konsumsi terbesar industri baja
nasional adalah untuk infrastruktur, transportasi, dan energi. Menurut data yang ada, Indonesia
Mengalami defisit kebutuhan yang harus dipenuhi. Disadari bahwa besi baja sangat dibutuhkan
dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.
PT. Krakatau Steel sebagai satu-satunya pabrik baja terintegrasi di Indonesia sejak tahun 1989
memproduksi besi spon sebagai bahan baku pembuatan baja kasar. Kapasitas produksi besi spon
saat ini adalah 2,3 juta ton/tahun dan memerlukan sebanyak 4,5 juta ton magnetit (Fe 3O4) yang
berasal dari bijih besi primer dalam bentuk besi pelet yang seluruhnya diimport dari Swedia dan
Brasil. Sedangkan kapasitas produksi baja kasar nasional adalah 6,5 juta ton/tahun yang
memerlukan bahan baku sebanyak 8 juta ton/tahun dalam bentuk besi spon dan baja (Deperind,
2006).
Cadangan bijih besi primer yang selama ini masih menjadi bahan baku utama pembuatan baja
semakin menurun. Menurut tim neraca, PSDG 2012 menyatakan bahwa cadangan bijih besi
primer pada tahun 2010 yakni 29.884.494 ton. Jika dikaitkan antara kebutuhan bijih besi primer
untuk produksi baja dengan cadangan bijih besi primer, hal ini menjadi sangat wajar jika tahun
berikutnya Indonesia sudah mulai mengimpor baja dari luar negeri. Hal yang serupa dihadapi
oleh PT. Krakatau Steel bahwa tidak adanya pasokan bahan baku dari dalam negeri yang
menyebabkan ketergantungan pada pasokan dari luar negeri.
Indonesia harus menggunakan bahan baku alternatif pembuat baja yang bisa menggantikan
keberadaan bijih besi primer agar kebutuhan domestik tetap terpenuhi tanpa melakukan impor
dalam jumlah yang besar. Indonesia dapat memanfaatkan kadungan besi yang berada pada
lapisan limonit pada pertambangan nikel. Zona limonit awalnya dianggap tidak ekonomis dan
tidak dimanfaatkan karena kadar Ni di dalamnya yang rendah. Tetapi kadar Fe yang cukup besar
dalam zona limonit yaitu sekitar 35% - 45% memungkinkan pemanfaatan dan pengolahan lebih
lanjut endapan laterit pada zona limonit ini sebagai bahan baku besi baja yang dinamakan baja
laterit. Kandungan besi limonit dapat ditingkatkan kadarnya dengan reduksi dan mengubahnya
menjadi produk yang dinamakan Nickel Pig Iron (NPI) yang dapat dijadikan sebagai material
input pembuatan baja. Menurut data Pohon Industri Baja 2009 dari Kementerian Perindustrian
dan data dari IISIA (Indonesia Iron and Steel Industry Association) belum ada industri yang
memproduksi NPI di Indonesia.
Maka dari itu diperlukan upaya untuk memanfaatkan sumberdaya bijih nikel laterit yang
melimpah ini melalui pemanfaatan dan pengembangan teknologi yang tepat guna bagi Indonesia.
Studi kali ini dilakukan dengan tujuan mempelajari proses pemanfaatan bijih limonit Indonesia
dengan memanfaatkan teknologi blast furnace agar mampu menjadi bahan baku pembuatan baja
dan kelebihan baja yang dihasilkan dari limonit dibanding baja komersial. Makalah ini
diharapkan lalalalal..