Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dewasa ini, pendidikan semakin menjadi kebutuhan yang
sangat mendesak bagi semua orang. Pendidikan menjadi
faktor terpenting dalam mewujudkan pembangunan mental
dan spiritual manusia. Sudah menjadi perbincangan yang khas
apabila

pendidikan ditempatkan dalam barisan terdepan

sebagai pranata membangun suatu peradaban yang baik dan


tangguh. Akan tetapi, sering dilupakan bahwa membangun
iklim pendidikan yang mampu melahirkan generasi-generasi
yang demikian membutuhkan guru yang profesional.
Sudah menjadi kajian bersama dan juga pemahaman
umum bahwa pendidikan menjadi faktor terpenting dalam
membangun kepribadian manusia. Di samping itu, dengan
pendidikan pula sasaran yang ingin dicapai oleh sebuah
peradaban akan bisa direalisasikan. Apalagi jika kita mengaca
kepada dinamika yang berkembang dewasa ini, ketika semakin
besar

kerusakan

datang

menyapa,

pendidikan

menjadi

komoditi utama. Pendidikan seakan menjadi sumber primer


dan bahkan sebagai makanan pokok. Dalam perkembangan
seperti sekarang ini, pendidikan mendapatkan perhatian yang
besar. Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri, jika pendidikan yang
berkembang

saat

ini

juga

kerap

menanggalkan

dan

meninggalkan para anak didik dalam kubangan pesimisme.


Oleh karena itu, tidak jarang pula kita menyaksikan banyak
anak didik yang merasa kesepian di tengah keramaian dan
perkembangan zaman seperti yang terjadi sekarang ini.
Agenda pembangunan pendidikan suatu bangsa tidak
akan pernah berhenti dan selesai. Ibarat patah tumbuh hilang

berganti,

selesai

memecahkan

suatu

masalah,

muncul

masalah lain yang kadang tidak kalah rumitnya. Begitu pula


hasil dari sebuah strategi pemecahan masalah pendidikan
yang ada, tidak jarang justru mengundang masalah baru yang
jauh

lebih

rumit

dari

masalah

awal.

Itulah

sebabnya

pembangunan bidang pendidikan tidak akan pernah ada


batasnya. Selama manusia ada persoalan pendidikan tidak
akan pernah hilang dari wacana suatu bangsa. Oleh karena itu,
agenda pembangunan sektor pendidikan selalu ada dan
berkembang sesuai dengan dinamika kehidupan masyarakat
suatu bangsa.
Dalam upaya
dibutuhkan

mewujudkan

adanya

kelancaran

agenda

tersebut

terhadap

maka

aspekaspek

pendukung lancarnya proses pembelajaran. Adapun salah satu


aspek pendukung lancarnya proses pembelajaran adalah
aspek pemenuhan kebutuhan psikologis ( aktualisasi diri )
yaitu kebutuhan akan kasih sayang. Guru sebagai faktor utama
dalam pendidikan kurang memahami kebutuhan peserta didik
akan kasih sayang. Guru seolah-olah tidak peduli dengan
aspek psikologis siswa ketika mengajar sehingga timbul
kesenjangan

hubungan

antara

guru

dan

murid

yang

mengakibatkan terjadinya rasa bosan dan jenuh ketika guru


mengajar.

Guru

juga

dianggap

sebagai

monster

yang

menakutkan, siswa merasa takut ketika guru mulai membuka


pelajaran.
Guru adalah sebuah profesi yang sangat istimewa.
Segala perilaku dan tutur guru akan menjadi tauladan bagi
siswa.

Wawasan

dan

keahliannya

akan

membentuk

pandangan dan sikap siswa terhadap kehidupan. Tetapi banyak


guru yang merasa bahwa profesinya kalah hebat dari profesi
yang lain. Jika rasa bangga tidak ada dalam benak setiap guru

maka akan berdampak kepada kinerja dan profesinalitasnya.


Mereka akan cenderung asal bekerja dan apa adanya tanpa
kreativitas,
mengeluh

kurang

bertanggung

dan menyalahkan

sebenarnya

akan

siswa.

melahirkan

jawab

dan

selalu

Karena

rasa

bangga

rasa kecintaan terhadap

profesi, tanpa rasa cinta terhadap profesi ini maka setiap guru
tidak akan bisa bekerja dengan cinta.
Guru adalah profesi yang banyak berkomunikasi.
Komunikasi akan efektif jika dilakukan dengan sepenuh cinta.
Berbeda dengan seorang guru yang memiliki rasa kebanggaan
akan profesi yang digelutinya, hatinya akan penuh dengan
ketulusan dan kesungguhan. Hati mereka penuh
kepada semua siswanya, kreativitas

rasa cinta

akan terus mereka

gali,mereka akan terus belajar tanpa henti, dan menciptakan


inovasi-inovasi

dan

media-media

belajar

memudahkan peserta didiknya dalam belajar.


Guru harus bangga menjadi seorang
harus

melakukan

yang
guru.

dapat
Guru

tugasnya dengan cinta yang tulus, adapun

faktor-faktor lain harus dipandang sebagai akibat. Seorang


guru yang mengajar dengan cinta selalu mau tahu dan belajar
segala hal yang baru soal pendidikan,

tidak mudah patah

semangat oleh konflik, punya kehidupan lain setelah mengajar,


sabar soal kesejahteraan, mengartikan semua hal sebagai
kesempatan belajar, hormat pada senior, dan mau berbagi
dengan yunior, punya persiapan sebelum mengajar,
jurus

ampuh

menguasai

kelas,selalu

mengevaluasi

punya
hasil

mengajarnya, tidak melulu menyalahkan siswa atau guru


sebelumnya atas sebuah kegagalan yang dialaminya dan
memberikan contoh yang baik bagi anak didiknya. Pada
dasarnya, guru yang mengajar dengan cinta, menempatkan

keteladanan dan kasih sayang sebagai dasar dan pijakan


dalam mendidik.
Berbicara masalah hasil belajar, tentunya seorang guru
telah melakukan berbagai upaya untuk memperoleh kualitas
dan kuantitas pendidikan dalam rangka meningkatkan hasil
belajar peserta didik selanjutnya terwujudlah perubahanperubahan

dalam

pengorganisasian

kelas,

penggunaan

metode mengajar, strategi belajar mengajar dan bertindak


selaku

fasilitas

untuk

menciptakan

kondisi

proses

pembelajaran yang efektif. Hasil belajar pada hakekatnya


merupakan cermin dari usaha belajar. Semakin baik usaha
belajar semakin baik pula hasil belajar yang dicapai.
Tentunya hasil belajar peserta didik tergantung dari kuat
atau lemahnya peran seorang guru dalam mengajar selain
dari usaha siswa itu sendiri. Seorang guru diibaratkan seorang
manajer dalam sebuah perusahaan. Semuanya dapat berjalan
dengan baik apabila manajer tersebut berdasarkan rasa cinta
memberikan suasana kerja yang nyaman, akrab, peduli, dan
harmonis. Dengan kondisi yang seperti itu, bawahan atau
karyawan

akan

merasa

lebih

mudah

menjalankan

pekerjaannya tanpa ada paksaan ataupun tekanan. Secara tak


sadar mereka akan merasa ikhlas dan bertanggung jawab.
Demikian pula antara guru dan siswanya, cinta merupakan
faktor utama yang menjadi unsur mengajar dari seorang guru,
tanpa

ada

cinta

dalam

mengajar

efeknya

memberikan

dampak negatif pada siswa tidak hanya pada hasil belajar


namun pada mental siswa itu sendiri. Tidak heran lahirlah
karakter atau kepribadian siswa yang bermacam-macam
karena terbentuk dari suasana di bawah tekanan ataupun
ketidak pedulian seorang guru.

MAN Sampit merupakan salah satu sekolah agama yang


menerapkan kurikulum sesuai dengan standar pemerintah.
Dalam

pelaksanaan

sebagai

salah

satu

sekolah

yang

menerapkan program pemerintah. Jika dilihat dari sisi siswa


yang

sekolah

di

sekolah

ini

mayoritas

masih

memiliki

semangat belajar yang cukup baik. Hal ini dikarenakan


sekolah yang terletak dekat dari perkotaan dan lingkungan
yang masih asri. Dengan adanya motivasi belajar yang cukup
baik tersebut maka siswa akan dapat meningkatkan hasil
belajarnya.
Dalam

proses

pembelajaran

sehari-hari

di

sekolah,

peserta didik akan menjumpai guru-guru yang mempunyai


beraneka

ragam

sifat

dan

perilaku

yang

dapat

mempengaruhinya antara lain rasa takut, benci, dendam,


kecewa, malu, minder, bosan, kurang bersemangat dan lain
sebagainya. Hal itulah yang juga sering terjadi pada peserta
didik MAN Sampit. Dengan memperhatikan latar belakang
tersebut diatas, maka penyusun tertarik untuk menyusun
makalah penelitian dengan judul Teach With Love dalam
Peningkatan Hasil Belajar Siswa MAN Sampit.
B. Permasalahan
Adapun permasalahan yang ingin diketahui berdasarkan
latar

belakang

yang

telah

dipaparkan

di

atas

adalah

bagaimana seorang guru atau tenaga pendidik mengajar


dengan menumbuhkan rasa cinta dalam peningkatan hasil
belajar siswa pada MAN Sampit.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar

belakang

dan

permasalahan,

pembatasan masalah di ambil perumusan masalah sebagai


berikut:

1. Apa yang dimaksud dengan Teach With Love atau mengajar


dengan cinta ?
2. Apa hakekat dari cinta dan sayang ?
3. Apa peranan cinta dan kasih sayang dalam pendidikan ?
4. Bagaimana menciptakan rasa cinta dan kasih sayang antara
guru dan siswa ?
5. Bagaimana menjadi guru sukses melalui mengajar dengan
cinta ?
6. Bagaimana mengajar menggunakan bahasa cinta ?
7. Apa saja 8 prinsip cinta dalam mengajar ?
8. Apa saja tips mengajar dengan cinta ?
9. Apa saja 10 cara menjadi guru yang dicintai anak didik ?
10. Bagaimana realisasi cinta sang guru dalam mendidik
siswa ?
D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah, pembatasan masalah di
ambil perumusan masalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui yang dimaksud Teach With Love atau
mengajar dengan cinta.
2. Untuk mengetahui hakekat dari cinta dan saying.
3. Untuk mengetahui cinta dan kasih sayang

dalam

pendidikan.
4. Untuk mengetahui menciptakan rasa cinta dan kasih sayang
antara guru dan siswa.
5. Untuk mengetahui menjadi guru sukses melalui mengajar
6.
7.
8.
9.

dengan cinta.
Untuk mengetahui mengajar menggunakan bahasa cinta.
Untuk mengetahui 8 prinsip cinta dalam mengajar.
Untuk mengetahui tips mengajar dengan cinta.
Untuk mengetahui 10 cara menjadi guru yang dicintai anak

didik.
10. Untuk

mengetahui

mendidik siswa.

realisasi

cinta

sang

guru

dalam