Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Dinas Pendatan Daerah Kabupaten Kediri
Sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Kediri Nomor 7
Tahun 2011 dan Peraturan Bupati Kediri Nomor 27 Tahun 2011,

Dinas

Pendapatan Daerah Kabupaten Kediri merupakan salah satu Dinas yang


memiliki tugas dan fungsi di bidang Pendapatan. Pembentukan Dinas
Pendapatan didasarkan kepada Peraturan Daerah Kabupaten Kediri Nomor 7
Tahun 2011 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Pendapatan Daerah yang
disahkan dalam Lembaran Daerah Kabupaten Kediri tanggal 3 Agustus 2011
Nomor 7 Tahun 2011 dan ditindaklanjuti dengan Peraturan Bupati Kediri
Nomor 27 Tahun 2011 tentang Penjabaran Tugas dan Fungsi Dinas
Pendapatan Daerah yang didalamnya memuat kedudukan, tugas pokok dan
fungsi serta bagan struktur organisasi Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten
Kediri.
Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Kediri dalam rangka
menjalankan Tugas dan Fungsinya sebagaimana yang telah diamanatkan
dalam Peraturan Daerah tersebut adalah merupakan salah satu bagian dari
pelaksanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Kediri secara keseluruhan,
sehingga keterkaitan dan keterpaduan yang baik dapat segera mewujudkan
dan

meningkatkan

kesejahteraan,

mewujudkan

ekonomi

kerakyatan,

meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) serta mewujudkan


ketentraman dan ketertiban masyarakat Kabupaten Kediri.
Penyusunan Rencana Strategis (Renstra DIPENDA) pada
dasarnya merupakan perumusan kebijakan anggaran Satuan Kerja Perangkat
Daerah (SKPD) yang disusun berdasarkan Rencana Strategis serta Arah dan
Kebijakan Umum Kabupaten Kediri. Sehingga diharapkan penyusunan
Renstra ini selain dapat memberikan arah dan sasaran yang dicapai dalam
kurun waktu juga dalam rangka meningkatkan efisensi dan efektifitas dari
seluruh sumber daya yang ada.

1.2 Visi dan Misi Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Kediri


1.2.1 Visi Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Kediri
Visi adalah pendangan jauh ke depan, ke mana dan
bagaimana instansi pemerintah harus dibawa dan berkarya agar tetap
konsisten dan dapat eksis, antisipatif, inovatif, serta produktif. Visi
adalah suatu gambaran yang menantang tentang keadaan masa depan
berisikan cita dan citra yang ingin diwujudkan oleh instansi pemerintah.
agar mampu eksis dan unggul dalam persaingan yang semakin ketat
dalam lingkungan yang berubah sangat cepat dewasa ini, suatu instansi
pemerintah harus terus menerus melakukan perubahan ke arah
perbaikan. Perubahan tersebut harus disusun dalam suatu tahapan yang
konsisten dan berkelanjutan, sehingga dapat meningkatkan kinerja yang
berorientasi pada pencapaian hasil atau yang optimal.
Tahapan sebagaimana tersebut di atas, dimulai dengan
perumusan visi yang jelas dan mampu :
1.

Menarik komitmen dan menggerakkan orang,

2.

Menciptakan makna bagi kehidupan anggota organisasi,

3.

Menciptakan standar keunggulan, dan

4.

Menjembatani keadaan sekarang dan keadaan masa depan.

Dasar-dasar perumusan visi :


1.

Mencerminkan apa yang hendak dicapai oleh suatu organisasi,

2.

Memberikan arah dan fokus strategi yang jelas,

3.

Mampu menjadi perekat dan menyatukan berbagai gagasan


strategis yang terdapat dalam sebuah organisasi,

4.

Memiliki orientasi terhadap masa depan, sehingga segenap jajaran


harus berperan dalam mendefiniskan dan membentuk masa depan
organisasi,

5.

Mampu

menumbuhkan

komitmen seluruh jajaran dalam

lingkungan organisasi, dan


6.

Mampu menjamin kesinambungan kepemimpinan organisasi.

1.2.2 Misi Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Kediri


Misi adalah suatu yang harus diemban atau dilaksanakan oleh
instansi pemerintah, sesuai visi yang ditetapkan, agar tujuan organisasi
dapat terlaksana dan berhasil dengan baik. Dengan pernyataan misi
tersebut, diharapkan seluruh pegawai atau pihak yang berkepentingan
dapat mengenal instansi pemerintah, dan mengetahui peran dan
program-programnya serta hasil yang akan diperoleh di waktu-waktu
yang akan datang.
Untuk mewujudkan visi yang telah ditetapkan setiap instansi
pemerintah harus mempunyai misi yang jelas. Misi merupakan
pernyataan yang menetapkan tujuan instansi pemerintah dan sasaran
yang ingin dicapai dalam kurun waktu tertentu melalui penerapan
strategi yang telah dipilih. Proses perumusan misi instansi pemerintah
harus memperhatikan masukan pihak-pihak yang berkepentingan
(stakeholder), dan memberikan peluang untuk perubahan / penyesuaian
sesuai dengan tuntutan perkembangan strategis.
Berdasarkan uraian diatas Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran
yang ditetapkan oleh Dinas Pendapatan Daerah adalah sebagai berikut :
1. Visi
Visi Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Kediri adalah menjadi
Pengelola Pendapatan yang terpercaya dan Instrumental bagi
proses Pemerintahan otonomi daerah
2. Misi
Misi yang dirumuskan untuk mencapai visi Dinas Pendapatan
Daerah Kabupaten Kediri adalah :
1.

Meningkatnya kualitas pengelolaan pendapatan daerah;

2.

Meningkatnya pengelolaan BUMD;

3.

Meningkatnya kwalitas Sumber Daya Aparatur.

1.3 Struktur Organisasi serta Tugas Pokok dan Fungsi


1.3.1 Struktur Organisasi
Struktur Organisasi Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Kediri
sebagaimana yang tercantum dalam Peraturan Bupati Kediri Nomor 27
Tahun 2011 mempunyai tugas melaksanakan kewenangan otonomi daerah
dibidang Pendapatan Daerah tersebut terdiri dari :
SUB BAGIAN
SUB BAGIAN
PEMROGRAMAN
PEMROGRAMAN
PRORAM
PRORAM
SUB BAGIAN
SUB BAGIAN
UMUM
UMUM

KEPALA DINAS
KEPALA DINAS

KELOMPOK
KELOMPOK
JABATAN
JABATAN
FUNGSIONAL
FUNGSIONAL

BIDANG PENDATAAN
BIDANG
PENDATAAN
DAN PENETAPAN
DAN PENETAPAN

SEKRETARIS
SEKRETARIS

BIDANG PERENCANAAN
BIDANG
PERENCANAAN
DAN PENGENDALIAN
DAN PENGENDALIAN
LIAN
LIAN

BIDANG
BIDANGDAN
PEMBUKUAN
PEMBUKUAN
PELAPORANDAN
PELAPORAN

SUB BAGIAN
SUB BAGIAN
KEUANGAN DAN
KEUANGAN DAN
KEPEGAWAIAN
KEPEGAWAIAN

BIDANG
BIDANGDAN
PENAGIHAN
PENAGIHAN
DAN
PENYULUHAN
PENYULUHAN

SEKSI PENDATAAN &


SEKSI
PENDATAAN &
PENDAFTARAN
PENDAFTARAN

SEKSI PERENCANAAN
SEKSI PERENCANAAN

SEKSI PEMBUKUAN
SEKSI
PEMBUKUAN
DAN
PENERIMAAN
DAN PENERIMAAN

SEKSI
SEKSI
PENAGIHAN
PENAGIHAN

SEKSI PENETAPAN
SEKSI PENETAPAN

SEKSI INTENSIFIKASI
SEKSI
INTENSIFIKASI
DAN
EKSTENSIFIKASI
DAN
EKSTENSIFIKASI
PENDAPATAN
PENDAPATAN

SEKSI PEMBUKUAN
SEKSI BERHARGA
PEMBUKUAN
BENDA
BENDA BERHARGA

SEKSI
SEKSI
KEBERATAN
KEBERATAN

SEKSI DOKUMENTASI
DOKUMENTASI
DANSEKSI
PENGOLAHAN
DATA
DAN PENGOLAHAN DATA

SEKSI PEMANTAUAN
SEKSI
PEMANTAUAN
DAN
PENGENDALIAN
DAN PENGENDALIAN

SEKSI EVALUASI DAN


SEKSI
EVALUASI DAN
PELAPORAN
PELAPORAN

SEKSI
SEKSI
PENYULUHAN
PENYULUHAN

UPTD
Gambar 1.1
Struktur Organisasi DISPENDA Kabupaten Kediri

1.3.1 Tugas Pokok dan Fungsi


1. Kepala Dinas
Untuk Menjalakan tugas pokok, Kepala Dinas mempunyai fungsi
sebagai berikut :
a. Perumusan kebijakan teknis di bidang perencanaan, Pajak
Daerah, Pendapatan bukan Pajak Daerah
b. Pelaksanaan pemungutan Pajak Daerah
c. Pelaksanaan koordinasi berkaitan dengan rencana penerimaan
Pajak Daerah dan Pendapatan Bukan Pajak Daerah dengan
Instansi terkait
d. Pengawasan, pengendalian dan monitoring atas pemungutan
Pajak Daerah
e. Pelaksanaan Evaluasi Pendapatan Daera secara keseluruhan
f. Pembinaan, evaluasi dan Laporan Kegiatan dinas
g. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan Bupati sesuai tugas dan
fungsinya

2.

Sekretaris Dinas
Sekretariat yang mempunyai tugas membantu Kepala Dinas dalam
menyusun

kebijakan,

mengkoordinasikan

bidang,

membina,

melaksanakan, dan mengendalikan administrasi kesekretariatan,


kepegawaian, keuangan, rumah tangga dan sarana dan prasarana.
Untuk melaksanakan tugas tersebut Sekretaris mempunyai fungsi :
a.

Penyusunan Rancangan Kebijakan dinas ;

b.

Penyusunan

Program dan Pelaporan,Pengelolaan

sistem

informasi, pemantauan dan evaluasi kegiatan dinas ;


c.

Pelaksanaan

pembinaan,

pengelolaan

dan

pengendalian

administrasi kepegawaian, keuangan dan sarana prasarana ;


d.

Penyusunan profil dinas ;

e.

Pengkoordinasian pelaksanaan tugas bidang bidang ;

f.

Pengkoordinasian penyusunan rancangan peraturan perundangundangan bidang pendapatan;

g.

Pengelolaan urusan rumah tangga, surat menyurat, kearsipan,


hubungan masyarakat, dokumentasi dan perpustakaan ;

h.

Pelaksanaan analisa jabatan dan beban kerja ;

i.

Pelaksanaan monitoring dan evaluasi kebijakan teknis dinas ;

j.

Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas


sesuai dengan peraturan perundang-undangan ;

Dalam melaksanakan fungsinya, Sekretaris Dinas dibantu oleh :


(1) Sub Bagian Program
Mempunyai tugas melakukan penyusunan program dan
pelaporan, pengelolaan sistem informasi, pemantauan dan
evaluasi kegiatan dinas.
Untuk

melaksanakan

tugas

tersebut Kasubag Program

mempunyai fungsi:
Penyiapan bahan penyusunan rumusan kebijakan dan
pelaporan dinas
Penyusunan perencanaan program ;
Penyiapan bahan penyusunan profil dinas ;
Penyiapan bahan pengkoordinasian pelaksanaan tugas
bidang - bidang ;
Penyiapan bahan pengkoordinasian penyusunan rancangan
peraturan perundang undangan bidang pendapatan ;
Penyiapan bahan laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi
Pemerintah (LAKIP ) ;
Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan dinas ;
Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Sekretaris sesuai
dengan peraturan perundang-undangan ;.

(2) Sub Bagian Keuangan dan Kepegawaian


Mempunyai tugas melakukan administrasi Keuangan dan
Kepegawaian.
Untuk melaksanakan tugas tersebut Kasubag Keuangan dan
Kepegawaian mempunyai fungsi :
Penyusunan Rencana Kerja Anggaran (RKA) / Dokumen
Pelaksanaan Anggaran ( DPA ), belanja tidak langsung dan
belanja langsung ;
Penyiapan bahan pembayaran gaji pegawai dan tunjangan
lainya ;

Penyiapan bahan penyusunan laporan keuangan dan


capaian kinerja keuangan

Penyiapan bahan usulan kenaikan pangkat, mutasi, promosi,


pendidikan dan pelatihan serta kesejahteraan pegawai ;
Penyiapan bahan penilaian angka kredit pejabat fungsional ;
Penyiapan bahan pembinaan administrasi pegawai ;
Penyiapan bahan analisa jabatan dan analisa beban kerja ;
Penyiapan bahan

monitoring

dan evaluasi kegiatan

keuangan dan kepegawaian ;


Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Sekretaris sesuai
dengan peraturan perundang-undangan ;
(3) Sub Bagian Umum
Mempunyai tugas melakukan urusan rumah tangga, surat
menyurat, kearsipan, dokumentasi, perpustakaan, kehumasan
dan sarana prasarana.
Untuk

melaksanakan tugas tersebut Kasubag

Umum

mempunyai fungsi :

Penyiapan bahan penyusunan perencanaan kegiatan urusan


rumah tangga, surat menyurat, kearsipan, dokumentasi,
perpustakaan, kehumasan, sarana dan prasarana ;
Pengelolaan administrasi perkantoran rumah tangga, surat
menyurat,

kearsipan,

dokumentasi,

erpustakaan,

kehumasan, sarana dan prasarana ;


Pelaksanaan perforasi benda berharga ;
Penyiapan

bahan

pelaksanaan

pengadaan

dan

pendistribusian barang dilingkungan dinas ;


Pengelolaan pengamanan dan perawatan barang / peralatan
inventaris serta gedung ;
Pengelolaan inventaris barang/peralatan serta pemeriksaan
barang secara berkala ;
Penyiapan

bahan

pelaksanaan

keprotokolan,

dan

pengurusan administrasi perjalanan dinas ;


Penyiapan bahan pelaporan inventarisasi barang dan
gedung;

Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Sekretaris


sesuai dengan peraturan perundang-undangan ;

3.

Bidang Pendataan dan Penetapan


Mempunyai

tugas

melaksanakan

pendataan,

pendaftaran,

penetapan, dokumentasi dan pengolahan data pajak daerah dan


retribusi daerah.
Untuk melaksanakan tugas tersebut Kepala Bidang Pendataan dan
Penetapan mempunyai fungsi :
a.

Perumusan

kebijakan

teknis

pendataan

dan

penetapan pajak daerah dan retribusi daerah.

b.

Pelaksanaan pendataan dan pendaftaran wajib


pajak daerah dan retribusi daerah, menghimpun data obyek dan
subyek pajak daerah dan retribusi daerah.

c.

Penyusunan daftar induk wajib pajak daerah dan


retribusi daerah, menyimpan surat perpajakan dan retribusi
daerah yang berkaitan dengan pendaftaran dan pendataan serta
penetapan ;

d.

Penghitungan dan penetapan pajak daerah dan


retribusi daerah ;

e.

Pelaksanaan koordinasi dengan instansi terkait ;

f.

Pelaksanaan pembinaan dan pengawasan wajib


pajak daerah dan retribusi;

g.

Pelaksanaan monitoring, evaluasi dan pelaporan


pendataan dan pendaftaran, penetapan serta dokumentasi
pengolahan data ;

h.

Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh


Kepala Dinas sesuai dengan peraturan perundang-undangan ;

Bidang Pendataan dan Penetapan dibantu oleh :


(1) Seksi Pendataan dan Pendaftaran
Mempunyai tugas melakukan pendataan dan pendaftaran Wajib
Pajak Daerah dan Wajib Retribusi Daerah, menetapkan Nomor
Pokok Wajib Pajak

Daerah (NPWPD) dan Nomor Pokok

Wajib Retribusi Daerah (NPWRD), pencatatan data obyek dan


subyek pajak daerah dan retribusi daerah serta pemeriksaan
lokasi dan melaporkan hasilnya.
Untuk melaksanakan tugas

tersebut Kasi Pendataan dan

Pendaftaran mempunyai fungsi :


Penyiapan bahan perumusan kebijakan

Pendataan dan

Pendaftaran Wajib Pajak Daerah dan Wajib Retribusi


Daerah ;
9

Penyiapan bahan dan pelaksanaan perencanaan Pendataan


dan Pendaftaran Wajib Pajak Daerah dan Wajib Retribusi
Daerah;
Penyiapan

bahan

dan

pelaksanaan

Pendataan

dan

Pendaftaran Wajib Pajak Daerah dan Wajib Retribusi


Daerah, serta pemeriksaan lokasi lapangan;
Penetapan Nomor Pokok Wajib Pajak Daerah (NPWPD)
dan Nomor Pokok Wajib Retribusi Daerah (NPWRD);
Penyiapan bahan dan pelaksanaan penyusunan Daftar Induk
Pajak Daerah dan Daftar Induk Retribusui Daerah;
Penyiapan bahan koordinasi Pendataan dan Pendaftaran.
Penyiapan bahan dan pelaksanaan monitoring,evaluasi,dan
pelaporan Pendataan dan Pendaftaran;
Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang
Pendataan dan Pendaftaran sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.
(2) Seksi Penetapan
Mempunyai tugas melakukan penghitungan,penetapan dan
pendistribusian Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKPD), Surat
Pemberitahuan Pajak Terhutang (SPPT) Pajak Bumi dan
Bangunan dan Surat Ketetapan Retribusi Daerah (SKRD),
serta pelayanan permohonan angsuran Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah :
Untuk

melaksanakan

tugas

tersebut

Kasi

Penetapan

mempunyai fungsi:
Penyiapan bahan perumusan kebijakan dan pelaksanaan
penghitungan, penetapan Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah;

10

Penyiapan bahan dan pelaksanaan pendistribusiian Surat


Ketetapan Pajak Daerah (SKPD) dan Surat Pemberitahuan
Pajak Terhutang (SPPT) Pajak Bumi dan Bangunan dan
Surat Ketetapan Retribusi Daerah(SKRD)
Penyiapan bahan dan pelayanan permohonan angsuran;
Penyiapan bahan dan pelaksanaan monitoring, evaluasi dan
pelaporan dokumentasi dan pengolahan data;
Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang
Pendataan

dan

Penetapan

sesuai

dengan

peraturan

perundang-undangan.
(3) Seksi Dokumentasi dan Pengolahan Data
Mempunyai tugas melakukan pemeliharaan Daftar Induk
Wajib Pajak Daerah dan Daftar Induk Wajib Retribusi Daerah,
mencetak dan mendistribusikan Kartu Pengenal Nomor Pokok
Wajib Pajak Daerah (NPWPD) dan Nomor Pokok Wajib
Retribusi Daerah(NPWRD), serta pengarsipan surat yang
berkaitan dengan pendaftaran, pendataan dan penetapan.
Untuk melaksanakan tugas tersebut Kasi Dokumentasi dan
Pengolahan Data mempunyai fungsi :
Penyiapan bahan perumusan kebijakan dokumentasi dan
pengolahan data Pajak Daerah dan Retribusi Daerah;
Penghimpunan data obyek dan subyek Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah dalam Daftar Induk Wajib Pajak Daerah
dan Retribusi Daerah dan Daftar Induk Wajib Retribusi
Daerah;
Pencetakan dan Pendistribusian Kartu Pengenal Nomor
Pokok Wajib Pajak Daerah dan Nomor Pokok Wajib
Retribusi Daerah kepada Wajib Pajak dan Retribusi Daerah;

11

Pengarsipan surat-surat Perpajakan dan Retribusi Daerah


yang

berkaitan

dengan

pendaftatan,pendataan

dan

penetapan;
Penyiapan bahan dan pelaksanaan monitoring , evaluasi dan
pelaporan dokumentasi dan pengolahan data;
Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang
Pendataan

dan

Penetapan

sesuai

dengan

peraturan

perundang-undangan.

4.

Bidang Perencanaan dan Pengendalian


Mempunyai tugas melakukan penyusunan rencana dan program
pendapatan,

pembinaan

teknis

pemungutan,

pemantauan,

intensifikasi dan ekstensifikasi pendapatan.


Untuk melaksanakan tugas tersebut Kepala Bidang Perencanaan
dan Pengendalian mempunyai fungsi :
a. Perumusan kebijakan teknis perencanaan dan pengendalian
pajak daerah dan retribusi daerah ;
b. Perencanaan anggaran pendapatan daerah dan pengkoordinasian
pendapatan

daerah

kepada

Satuan

Kerja

Perangkat

Daerah(SKPD) Penghasil;
c. Pembinaan teknis operasional, bimbingan dan petunjuk kepada
Satuan Kerja Perangkat Daerah(SKPD) Penghasil ;
d. Pelaksanaan koordinasi dalam perencanaan dan pengendalian
Pajak Daerah dan Retribusi Daerah;
e. Pelaksanaan koordinasi penerimaan bagi hasil pajak dan bukan
pajak dari Pemerintah Pusat dan Pemerintah Propinsi;
f. Pengumpulan dan pengelolaan data sumber pendapatan untuk
peningkatkan pendapatan;
g. Perumusan rancangan Peraturan Daerah, Peraturan Bupati dan
Keputusan Bupati tentang Pendapatan Asli Daerah;
12

h. Pelaksanaan monitoring, evaluasi, pelaporan perencanaan dan


pengendalian;
i. Pelaksanaan tugas lain yang di berikan oleh Kepala Dinas sesuai
dengan peraturan perundang-undangan;
Bidang Perencanaan dan Pengendalian dibantu oleh :
(1) Seksi Perencanaan
Mempunyai tugas merencanakan pengumpulan bahan dalam
penyusunan perencanaan pendapatan daerah dan kegiatan yang
berkaitan dengan program intensifikasi dan ekstensifikasi
Pendapatan Daerah.
Untuk

melaksanakan tugas tersebut Kasi Perencanaan

mempunyai fungsi :
Penyiapan bahan penyusunan perencanaan pendapatan
daerah;
Penyiapan bahan pelaksanaan koordinasi dengan unit kerja
terkait dalam perencanaan Pendapatan Daerah;
Penyiapan bahan penyusunan perencanaan, pedoman dan
petunjuk teknis di bidang Pendapatan Daerah;
Penyiapan bahan dan pelaksanaan monitoring, evaluasi dan
pelaporan perencanaan dan Pendapatan Daerah;
Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang
Perencanaan dan Pengendalian sesuai dengan peraturan
perundang-undangan;
(2) Seksi Intensifikasi dan Ekstensifikasi Pendapatan
Mempunyai tugas mengumpulkan dan mengelola data sumber
Pendapatan Daerah, menyiapkan bahan perumusan naskah
Rancangan Peraturan Daerah, Peraturan Bupati dan Keputusan
Bupati tentang Pendapatan Asli Daerah.
Untuk melaksanakan tugas tersebut Kasi Intensifikasi dan
Ekstensifikasi mempunyai fungsi :
13

Penyiapan bahan perencanaan kegiatan intensifikasi dan


Ekstensifikasi pendapatan;
Penyiapan bahan pelaksanaan koordinasi dengan unit kerja
terkait dalam Intensifikasi dan Ekstensifikasi pendapatan;
Pengumpulan,

penghimpunan

dan

pengolahan

data

intensifikasi dan ekstensifikasi pendapatan ;


Penyiapan bahan perumusan Rancangan Peraturan Daerah,
Peraturan Bupati dan Keputusan Bupati tentang Pendapatan
Asli Daerah ;
Penyiapan bahan dan pelaksanaan monitoring, evaluasi dan
pelaporan

kegiatan

intensifikasi

dan

ekstensifikasi

pendapatan ;
Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang
Perencanaan dan Pengendalian sesuai dengan peraturan
perundang-undangan ;
(3) Seksi Pemantauan dan Pengendalian
Melakukan pemantauan pelaksanaan tata kerja dan tata
hubungan kerja serta pengendalian penggunaan sarana dan
prasarana Pendapatan Asli Daerah
Untuk melaksanakan tugas tersebut Kasi Pemantauan dan
Pengendalian mempunyai fungs:
Penyusunan perencanaan teknis pelaksanaan pemantauan,
pembinaan dan pengendalian;
Penyiapan bahan pelaksanaan koordinasi pemantauan dan
pengendalian

terkait

dengan

pelaksanaan

program

pendapatan daerah;
Pemantauan pelaksanaan tata kerja dan tata hubungan kerja;
Pengendalian penggunaan sarana dan prasarana Pendapatan
Asli Daerah;
14

Pemberian

petunjuk

teknis

pelaksanaan

pemungutan

Pendapatan Asli Daerah;

Penyiapan bahan dan pelaksanaan monitoring, evaluasi


dan pelaporan pemantauan dan pengendalian;

Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang


Perencanaan dan Pengendalian sesuai dengan peraturan
perundang-undangan;

5.

Bidang Penagihan dan Penyuluhan


Mempunyai tugas penagihan dan penyuluhan pendapatan daerah
serta melayani keberatan dan permohonan banding.
Untuk melaksanakan tugas tersebut Kabid Penagihan dan
Penyuluhan mempunyai fungsi :
a.

Perumusan kebijakan tentang sistem dan prosedur penagihan,


keberatan dan penyuluhan;

b.

Penyiapan bahan perencanaan pelaksanaan penagihaan dan


penyuluhan;

c.

Pelaksanaan koordinasi dalam kegiatan penagihan dan


penyuluhan;

d.

Pelaksanaan penagihan dan penyuluhan ;

e.

Pelayanan keberatan dan permohonan banding;

f.

Penyiapan bahan dan pelaksanaan monitoring, evaluasi dan


pelaporan kegiatan penagihan dan penyuluhan;

g.

Pelaksanaan tugas lain yang di berikan oleh Kepala Dinas


sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Bidang Penagihan dan Penyuluhan dibantu oleh :


(1) Seksi Penagihan

15

Mempunyai tugas melakukan penagihan pendapatan daerah.


Untuk

melaksanakan

tugas

tersebut

Kasi

Penagihan

mempunyai fungsi :
Penyiapan bahan perumusan kebijakan penagihan;
Penyiapan bahan dan pelaksanaan perencanaan penagihan;
Penyiapan bahan dan koordinasi pelaksanaan penagihan;
Pelaksanaan penagihan;
Penyiapan bahan dan pelaksanaan monitoring,evaluasi dan
pelaporan penagihan ;
Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang
Penagihan dan Penyuluhan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan ;
(2) Seksi Keberatan
Mempunyai tugas melayani keberatan dan permohonan
banding

serta

melakukan

penelitian

kebenaran

atas

permohonan keberatan dan banding, menyiapkan keputusan


menerima

atau

menolak

keberatan

dan

meneruskan

penyelesaian permohonan banding.


Untuk

melaksanakan

tugas

tersebut

Kasi

Keberatan

mempunyai fungsi:
Penyiapan bahan permusuan kebijakan keberatan dan
banding;
Pelayanan

permohonan

keberatan

dan banding

atas

penetapan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah;


Penyiapan

bahan

pelaksanan

penelitian

permohonan

keberatan dan banding;


Pelaksanaan inventarisasi permasalahan yang berhubungan
dengan keberatan dan banding serta penyiapan bahan

16

pertimbangan keputusan mengenai permohonan keberatan


dan banding;
Penyiapan bahan dan pelaksanaan monitoring evaluasi dan
pelaporan yang berkaitan keberatan;
Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang
Penagihan dan Penyuluhan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan;

(3) Kepala Seksi Penyuluhan


Mempunyai tugas melakukan penyusunan bahan penyuluhan
pendapatan daerah dan melaksanakan koordinasi dengan
instasi terkait.
Untuk

melaksanakan

tugas

tersebut

Kasi

Penyuluhan

mempunyai fungsi:
Penyiapan bahan kegiatan penyuluhan ;
Penyusunan rencana kegiatan penyuluhan ;
Pelaksanaan

koordinasi

kegiatan

penyuluhan

dengan

instansi terkait;
Pelaksanaan kegiatan penyuluhan;
Penyiapan bahan dan pelaksanaan monitoring, evaluasi dan
pelaporan yang berkaitan dengan penyuluhan;
Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang
Penagihan dan Penyuluhan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.

6.

Bidang Pembukuan dan Pelaporan


17

Mempunyai tugas melakukan pembukuan, evaluasi dan pelaporan


mengenai realisasi penerimaan dan tunggakan Pendapatan Daerah
serta Pengelolaan Benda Berharga.
Untuk melaksanakan tugas tersebut Kepla Bidang Pembukuan dan
Pelaporan mempunyai fungsi :
a.

Perumusan kebijakan tentang sistem dan prosedur pembukuan


dan penerimaan Pendapatan Daerah;

b.

Pengelolaan

pengadministrasian

penerimaan

pendapatan

daerah;
c.

Penyusunan laporan pembukuan dan penerimaan pendapatan


daerah;

d.

Pelaksanaan koordinasi terkait dengan pembukuan dan


penerimaan pendapatan daerah;

e.

Pelaksanaan

fasilitasi

dan

pengawasaan

pengelolaan

administras penerimaan pendapatan daerah;


f.

Penyiapan bahan dan pelaksanaan monitoring, evaluasi dan


pelaporan pembukuan dan penerimaan pendapatan daerah;

g.

Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas


sesuai dengan peraturan perundang-undangan;

Kepala Bidang Pembukuan dan Pelaporan dibantu oleh :


(1) Seksi Pembukuan dan Penerimaan
Mempunyai tugas melakukan penerimaan dan pencataan
secara sistematis terhadap semua pemungutan Pendapatan
Daerah.
Untuk melaksanakan

tugas tersebut Kasi Pembukuan dan

Penerimaan mempunyai fungsi:


Penyiapan bahan pengumpulan dan pengolahan data serta
informasi yang berhubungan dengan pembukuan guna tertib
administrasi ;

18

Pengelolaan pengadministrasian penerimaan pendapatan


daerah, meliputi pencacatan Surat Ketetapan Pajak Daerah
(SKPD), Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang (SPPT)
Pajak Bumi dan Bangunanan (PBB), serta Surat Ketetapan
Retribusi Daerah (SKRD) dan surat-surat ketetapan
pajak/retribusi lain, yang telah dibayar lunas diantaranya
dengan menggunakan Surat Setoran Pajak Daerah (SSPD),
Surat Tanda Terima Setoran (STTS) Pajak Bumi dan
Bangunan dan Surat Setoran Retribusi Daerah (SSRD) serta
menghitung tunggakannya ;
Penyiapan bahan dan pelaksanaan monitoring, evaluasi dan
pelaporan terkait pembukuan dan penerimaan pendapatan
daerah;
Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang
Pembukuan dan Pelaporan

sesuai dengan peraturan

perundang-undangan;
(2) Seksi Pembukuan Benda Berharga
Mempunyai tugas melakukan penyelenggaraan pembukuan
dan pengeloloaan benda berharga.
Untuk melaksanakan tugas tersebut Kasi Pembukuan Benda
Berharga mempunyai fungsi :
Penyiapan bahan perumusan kebijakan pembukuan benda
berharga ;
Penyiapan bahan pelaksanaan perencanaan pembukuan
benda berharga;
Penyiapan bahan serta koordinasi terkait pelaksanaan
pembukuan benda berharga;
Pencatatan penerimaan dan pengeluaran benda berharga;
Penghitungan dan perincian sisa persediaan benda berharga;

19

Penyiapan bahan dan pelaksanaan monitoring, evaluasi


dan pelaporan pembukuan benda berharga.

Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang


Pembukuan dan Pelaporan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.
(3) Seksi Evaluasi dan Pelaporan
Mempunyai tugas membuat laporan periodikal mengenai
realisasi penerimaan dan tunggakan Pendapatan Daerah dan
laporan realisasi penerimaan, pengeluaran dan persediaan
benda berharga serta membuat evaluasi mengenai realisasi
penerimaan pendapatan daerah.
Untuk melaksanakan tugas tersebut Kasi Evaluasi dan
Pelaporan mempunyai fungsi :
Pembuatan

laporan

periodikal

mengenai

realisasi

penerimaan dan tunggakan Pendapatan Daerah serta


realisasi penerimaan pengeluaran dan persediaan benda
berharga;
Pelaksanaan evaluasi penerimaan Pendapatan Daerah dan
benda berharga;
Penyiapan

bahan

pelaksanaan

pelaporan

monitoring,

evaluasi dan pelaporan realisasi pendapatan daerah;


Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang
Pembukuan dan Pelaporan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan

20

BAB II
PEMAPARAN HASIL IDENTIFIKASI
2.1. Latar Belakang Hasil Identifikasi Kasus
Usaha untuk meningkatkan penerimaan daerah salah satunya
dengan

meningkatkan

Pendapatan

Asli

Daerah

(PAD).

Untuk

mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah beberapa pos pendapatan asli


daerah harus ditingkatkan antara lain pajak daerah retribusi daerah.
Mengingat pentingnya pajak dan retribusi daerah sebagai salah satu
sumber Penerimaan Asli Daerah (PAD) maka pemerintah daerah
Kabupaten Kediri harus berusaha mencapai target penerimaan pajak
daerah yang telah ditetapkan dan meningkatkan efisiensi pemungutan
pajak daerahnya untuk meningkatkan PAD yang digunakan untuk
membiayai urusan rumah tangganya sendiri.
Sasaran penting untuk mencapai efisiensi tersebut adalah: pertama,
usaha meningkatkan penerimaan pajak yang lebih realistis dengan
mengurangi biaya-biaya pengeluaran dan diharapkan sumber-sumber
pembiayaan tersebut didapatkan dari sumber yang bersangkutan; kedua,
meningkatkan kemampuan dan pemantauan serta pengawasan secara
efektif dan efisien terhadap anggaran biaya operasional dan pemeliharaan
yang digunakan untuk pengelolaan pajak daerah (Masykur, 2000).
Kabupaten Kediri, sebagai daerah otonom di dalam wilayah
Propinsi Jawa Timur, diberi wewenang untuk menggali sumber dana yang
21

ada sesuai dengan potensi dan keadaan daerah sehingga nantinya dapat
meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sendiri untuk membiayai
rumah tangganya sendiri. Pajak daerah yang diterapkan oleh pemerintah
daerah, baik yang ditentukan oleh undang-undang pajak daerah maupun
yang merupakan perluasan objek pajak pun juga beragam. Namun, bila
diteliti keadaannya masing-masing daerah belum mampu menunjukkan
kinerjanya sebagai sumber penerimaan daerah dalam APBD melalui PAD.
Dari peraturan pajak daerah yang ada beberapa diantaranya mempunyai
biaya administrasi yang lebih tinggi daripada hasilnya (high cost of
collection), sehingga hasilnya tidak memadai. Juga adanya beberapa jenis
pajak yang tidak memadai untuk dipungut daerah, karena tumpang tindih
dengan pajak yang lain, menghambat efisiensi alokasi sumber ekonomi,
bersifat tidak adil, atau tidak benar-benar bersifat pajak, tetapi cenderung
bersifat retribusi. Untuk itu agar pajak daerah menjadi lebih efektif dan
efisien, maka pada tahun 1997 pemerintah telah melakukan reformasi
terhadap aturan pajak daerah dan retribusi yang ada sebelumnya untuk
disesuaikan dengan perkembangan perekonomian nasional (Kurniawan
dan Kuncoro, 2004: 2).

2.2. Penjabaran Hasil Identifikasi


Dari latar belakang identifikasi kasus diatas akan diberi penjabaran
tentang beberapa hal yang menyangkut tentang pemungutan Pendapatan
Asli Daerah (PAD) termasuk dialamnya yakni penapatan pajak serta
retribusi daerah.
Pendapatan Daerah adalah semua hak daerah yang diakui sebagai
penambahan nilai kekayaan bersih dalam perioe anggaran tertentu (UU
No. 32 Tahun 2004 tentang pemerintah daerah), pendapatan daerah
berasal dari ana perimbangan pusat dan daerah, juga yang berasal dari
daerah itu sendiri yakni pendapatan asli daerah serta pendapatn lain-lain
yang sah.

22

Sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Kediri Nomor 1 Tahun 2011


pada BAB 2 pasal 2, tentang Jenis Pajak Daerah yang meliputi:
a. Pajak Hotel
b. Pajak Restoran
c. Pajak Hiburan
d. Pajak Reklame
e. Pajak Penerangan Jalan
f. Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan
b. Pajak Parkir
c. Pajak Air Tanah
d. Pajak Sarang Burung Walet
e. Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan dan
f. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.
Pemungutan pajak daerah euai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Kediri Nomor
1 Tahun 2011, untuk wilayah dan tarif meliputi:
a. Pajak Hotel
Dasar pengenaan Pajak Hotel adalah jumlah pembayaran atau yang
seharusnya dibayar kepada Hotel. Pajak Hotel yang terutang dipungut di
wilayah daerah dengan tarif sebagai berikut:
1. Hotel, dtetapkan sebesar 10% (sepuluh persen)
2. Motel, ditetapkan sebesar 10% (sepuluh persen)
3. Losmen, ditetapkan sebesar 10% (sepuluh persen)
4. Gubug Wisata, ditetapkan sebesar 10% (sepuluh persen)
5. Wisma Wisata, ditetapkan sebesar 10% (sepuluh persen)
6. Pesanggrahan, ditetapkan sebesar 10% (sepuluh persen);

23

7. Rumah penginapan dan sejenisnya, ditetapkan sebesar 10% (sepuluh


persen)
8. Rumah Kos dengan jumlah kamar lebih dari 10 (sepuluh) ditetapkan
sebesar 5 % (lima persen).
b. Pajak Restoran
Pajak Restoran yang terutang dipungut di wilayah daerah dengan
ditetapkan tarif 10%
c. Pajak Hiburan
Pajak Hiburan yang terutang dipungut di wilayah daerah dengan
ditetapkan tarif sebagai berikut:
1. tontonan film ditetapkan sebesar 10% (sepuluh persen);
2. pagelaran kesenian ditetapkan:
a. pagelaran kesenian tradisional, tari sebesar 10% (sepuluh
persen);
b. pagelaran musik dan busana sebesar 15% (lima belas persen);
3. kontes kecantikan, bina raga ditetapkan 20% (dua puluh persen);
4. pameran ditetapkan sebesar 15% (lima belas persen) ;
5. diskotik, karaoke, klab malam ditetapkan sebesar 35% (tiga puluh
lima persen);
6. sirkus, akrobat dan sulap ditetapkan sebesar 15% (lima belas
persen);
permainan ditetapkan:
a. permainan bilyar sebesar 15% (lima belas persen);
b. golf dan boling sebesar 25% (lima belas persen);
7. pacuan kuda, kendaraan bermotor dan permainan ketangkasan
ditetapkan sebesar15 % (lima belas persen);

24

8. panti pijat, refleksi, mandi uap/spa, dan pusat kebugaran (fitness


center) ditetapkan sebesar 35% (tiga puluh lima persen);
9. pertandingan olahraga ditetapkan sebesar 10% (sepuluh persen).
d. Pajak Reklame
Pajak Reklame yang terutang dipungut di wilayah daerah dengan
ditetapkan tarif sebagai berikut:
a. Reklame

papan/billboard/videotron/megatron

dan

sejenisnya

sebesar 25 % (dua puluh lima persen)


b. Reklame kain sebesar 20 % (dua puluh persen)
c. Reklame melekat, stiker sebesar 25 % (dua puluh lima persen)
d. Reklame selebaran sebesar 20 % (dua puluh persen)
e. Reklame berjalan termasuk pada kendaraan sebesar 15 % (lima
belas persen)
f. Reklame udara sebesar 20 % (dua puluh persen)
g. Reklame apung sebesar 10% (sepuluh persen)
h. Reklame suara sebesar 10 % (sepuluh persen)
i. Reklame film/slide sebesar 5 % (lima persen)
j. Reklame peragaan sebesar 10 % (sepuluh persen).
e. Pajak Penerangan Jalan
Pajak Penerangan Jalan dipungut di wilayah daerah dengan ditetapkan
tarif sebagai berikut:
1. Penggunaan tenaga listrik sumber lain oleh industri, pertambangan
minyak bumi dan gas alam, tarif Pajak Penerangan Jalan ditetapkan
sebesar 3% (tiga persen).
2. Tarif Pajak Penerangan Jalan ditetapkan sebesar 10% (sepuluh
persen).

25

3. Penggunaan tenaga listrik yang dihasilkan sendiri, tarif Pajak


Penerangan Jalan ditetapkan sebesar 1,5% (satu koma lima persen).
f. Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan
Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan yang terutang dipungut di
wilayah daerah dengan ditetapkan tarif sebesar 25%
g. Pajak Parkir
Pajak Parkir yang terutang dipungut di wilayah daerah dengan ditetapkan
tarif sebesar 10%
h. Pajak Air Tanah
Pajak Air Tanah yang terutang dipungut di wilayah daerah dengan
ditetapkan tarif sebesar 20%

i. Pajak Sarang Burung Walet


Pajak Sarang Burung Walet yang terutang dipungut di wilayah daerah
dengan ditetapkan tarif sebesar 10%
j. Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan
Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan yang terutang
dipungut di wilayah daerah dengan ditetapkan tarif sebagai berikut:
1. Nilai Jual Obyek Pajak sampai dengan Rp. 1.000.000.000,00 (satu
milyard) ditetapkan sebesar 0,1% (nol koma satu persen).
2. Nilai Jual Obyek Pajak lebih dari Rp. 1.000.000.000,00 (satu
milyard) ditetapkan sebesar 0,2% (nol koma dua persen).
k. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang terutang dipungut di
wilayah daerah dengan ditetapkan tarif sebesar 5%.

26

BAB III
PEMBAHASAN & KESIMPULAN

3.1. Pembahasan
3.1.1. Pendapatan Daerah
Berdasar Undang-Undang No.32 tahun 2004 pasal 1 ayat (15) yang
diperbaharui

dengan

Undang-Undang

No.12

tahun

2008,

pendapatan daerah adalah semua hak daerah yang diakui sebagai


penambah nilai kekayaan bersih dalam periode tahun anggaran
yang bersangkutan. Pendapatan Asli Daerah (PAD), adalah
pendapatan yang diperoleh daerah yang dipungut berdasarkan
peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang- undangan
yang berlaku. PAD bersumber dari: Pajak Daerah, Retribusi
Daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan
lain-lain PAD yang sah.
3.1.2. Pajak Daerah

27

Menurut Mediasmo (2005), Pajak adalah iuran wajib yang dilakukan


oleh orang pribadi dan badan kepada daerah tanpa imbalan langsung
yang seimbang, yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku, yang digunakan untuk membiayai
penyelenggaraan pemerintah daerah dan pembangunan daerah.
Menurut Halim (2004), Pajak Daerah merupakan pendapatan daerah
yang berasal dari pajak. Dengan kata lain, pajak daerah merupakan
pajak yang dikelola oleh pemerintah daerah dan hasilnya digunakan
untuk membiayai anggaran pengeluaran rutin serta pembangunan
daerah (APBD)
3.1.3. Ciri - ciri Pajak Daerah
a. Pajak daerah dapat berasal dari pajak asli daerah maupun pajak
negara yang diserahkan kepada daerah sebagai pajak daerah.
b. Pajak daerah dipungut oleh daerah terbatas di dalam wilayah
administratif yang dikuasainya.
c. Hasil pungutan pajak daerah dipergunakan untuk membiayai
urusan rumah tangga atau untuk membiayai pengeluaran
daerah sebagai badan hukum.
d. Pajak daerah dipungut oleh daerah berdasarkan kekuatan
Peraturan Daerah (PERDA), maka pemungutan pajak daerah
dapat dipaksakan kepada masyarakat yang wajib membayar
dalam pungutan administrative kekuasaanya.
3.1.4. Jenis Pajak Daerah
Jenis-jenis pajak daerah untuk kabupaten/kota sebagai berikut :
a. Pajak Hotel
Pajak hotel adalah pajak atas pelayanan hotel. Hotel adalah
fasilitas jasa penginapan/peristirahatan termasuk jasa terkait
lainnya dengan dipungut bayaran, yang mencakup motel,
losmen, gubuk pariwisata, wisma pariwisata, pasanggrahan,

28

rumah penginapan dan sejenisnya, serta rumah kos dengan


jumlah kamar lebih dari 10 (sepuluh). Pengusaha hotel adalah
orang pribadi atau badan dalam bentuk apapun yang dalam
lingkungan perusahaan atau pekerjaannya melakukan usaha di
bidang fasilitas jasa penginapan.
b. Pajak Restoran
Pajak Restoran adalah pajak atas pelayanan restoran Restoran/
Rumah Makan adalah fasilitas penyedia makanan dan/ atau
minuman dengan dipungut bayaran, yang mencakup juga rumah
makan kafetaria, kantin, warung, bar dan sejenisnya termasuk
jasa boga dan katering.
Obyek pajak adalah setiap pelayanan yang disediakan restoran,
meliputi pelayanan penjualan makanan dan atau minuman yang
dikonsumsi oleh pembeli, baik dikonsumsi ditempat
Subyek pajak adalah orang pribadi atau badan yang membeli
makanan dan/ atau minuman dari restoran Wajib pajak adalah
orang pribadi atau badan yang mengusahakan restoran.
c. Pajak Hiburan
Objek Pajak Hiburan adalah Jasa Penyelenggaraan Hiburan
dengan dipungut bayaran, Subjek Pajak Hiburan adalah orang
pribadi atau badan yang menikmati hibura, Hiburan adalah
semua jenis tontonan, pertunjukan, permainan dan/ atau
keramaian yang dinikmati dengan dipungut bayaran.
d. Pajak Reklame
Pajak Reklame yang selanjutnya disebut Pajak adalah pungutan
daerah atas penyelenggaraan reklame, Reklame adalah benda,
alat, perbuatan atau media yang menurut bentuk susunan dan
corak ragamnya untuk tujuan komersial, dipergunakan untuk
memperkenalkan, menganjurkan atau memujikan suatu barang,
jasa atau orang ataupun untuk menarik perhatian umum kepada
29

suatu barang ,jasa atau orang yang ditempatkan atau yang dapat
dilihat, dibaca, dan atau didengar dari suatu tempat oleh umum,
kecuali yang dilakukan oleh Pemerintah, Penyelenggara
Reklame adalah perorangan atau badan yang menyelenggarakan
reklame baik untuk dan atas namanya sendiri atau untuk dan
atas nama pihak lain yang menjadi tanggungannya
e. Pajak Penerangan Jalan
Pajak Penerangan Jalan adalah pajak atas penggunaan tenaga
listrik, baik yang dihasilkan sendiri maupun yang diperoleh dari
sumber lain
f. Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan
Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan adalah pajak atas
kegiatan pengambilaan mineral bukan logam dan batuan. Setiap
kegiatan pengambilan mineral bukan logam dan batuan dipungut
pajak dengan nama Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan
sebagaimana dimaksud didalam peraturan perundang undangan
dibidang mineral dan batubara.
g. Pajak Parkir
Pajak Parkir adalah pajak atas penyelenggaraan tempat parkir di
luar badan jalan, baik yang disediakan berkaitan dengan pokok
usaha maupun yang disediakan berkaitan dengan pokok usaha
maupun yang disediakan sebagai suatu usaha, termasuk
penyediaan tempat penitipan kendaraan bermotor
h. Pajak Air Tanah
Pajak Air Tanah adalah pajak atas pengambilan dan/atau
pemanfaatan air tanah. Air tanah adalah air yang terdapat dalam
lapisan tanah atau batuan dibawah permukaan tanah.
i. Pajak Sarang Burung Walet

30

Pajak

Sarang Burung Walet adalah pajak atas kegiatan

pengambilan dan/atau pengusahaan sarang burung walet.


j. Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan
Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2)
adalah pajak atas bumi dan/atau bangunan yang dimiliki,
dikuasai, dan/atau dimanfaatkan oleh orang pribadi atau badan,
kecuali kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha
perkebunan, perhutanan, dan pertambangan.
k. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.
Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah Pajak atas
perolehan hak atas tanah dan/atau bangunan. Perolehan hak atas
tanah dan atau bangunan adalah perbuatan atau peristiwa hukum
yang mengakibatkan diperolehnya hak atas tanah dan atau
bangunan oleh orang pribadi atau badan.
Hak atas tanah dan atau bangunan adalah hak atas tanah,
termasuk

hak

pengelolaan,

beserta

bangunan

diatasnya,

sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun


1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, Undangundang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun, dan
ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.
3.1.5. Subjek dan Wajib Pajak Daerah
1.

Subjek pajak adalah orang pribadi atau badan yang dapat


dikenakan pajak daerah. Dengan demikian, siapa saja baik
orang pribadi ataupun badan yang memenuhi syarat objeknya
itentukan dalam suatu peraturan daerah tentang pajak daerah
akan menjai subjek pajak.

2.

Wajib pajak adalah orang pribai atau badan yang menurut


peraturan perundang undaangan perpajakan daerah diwajibkan
untuk melakukan pembayaran pajak yang terutang termasuk
pemungut atau pemotong pajak tertentu
31

3.1.6. Sistem Pemungutan Pajak daerah

3.1.7. Retribusi Daerah


Sesuai dengan Undang-Undang No.34 tahun 2000 pasal 1
ayat (26) tentang Pajak daerah dan retribusi daerah bahwa retribusi
daerah adalah pungutan Daerah sebagai pembayaran atas jasa atau
pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan
oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.
Berdasarkan PP. No.66 tahun 2001 tentang retribusi daerah
sebagai peraturan pelaksanaan yang menetapkan jenis-jenis retribusi
daerah sebagai berikut: Retribusi Jasa Umum, Retribusi Jasa Usaha,
dan Retribusi Perizinan Tertentu.

3.1.8. Landasan Hukum


1. Undang Undang dasar 1945 Pasal 23 Ayat (2): "Segala Pajak
Untuk Keperluan Negara Berasarkan Undang- Undang".
2. Dasar hukum pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah
adalah : "Undang - undang No.18 Tahun 1998 Tentang Pajak
Daerah dan Retribusi Daerah sebagaimana telah diubah terakhir
dengan Undang-undang N0.34 Tahun 2000".
3.1.9. Pajak dalam Islam

3.2. Kesimpulan

32

Daftar Pustaka
( Pasal 1 UU No. 21 Tahun 1997 jo. UU No. 20 Tahun 2000) UU BPHTB

33