Anda di halaman 1dari 122

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembangunan merupakan suatu upaya untuk memenuhan kebutuhan
dasar manusia, baik secara individual maupun kelompok, dengan cara-cara
yang tidak menimbulkan kerusakan, baik terhadap kehidupan sosial maupun
lingkungan sosial. 1
Pembangunan tidak lain merupakan suatu proses perubahan yang
berlangsung secara sadar, terencana dan berkelanjutan dengan sasaran
utamanya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat suatu
bangsa. Ini berarti bahwa pembangunan senantiasa beranjak dari suatu keadaan
atau kondisi kehidupan yang lebih baik dalam rangka mencapai tujuan nasional
suatu bangsa.2
Pembangunan saat ini tidak jauh berbeda dengan pendekatan sentralistik,
kalau dulu daerah ditempatkan sebagai obyek yang pasif, saat ini wilayah
kelurahan dan kecamatan terutama rakyat yang menempati posisi pasif.
Pendekatan dan praktek-praktek pembangunan seperti ini sesungguhnya jauh
pada akhirnya menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang semu, tidak bertumpu
kepada pertumbuhan produktifitas nyata. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya
fenomena dan realitas sosial yang tidak paralel dan serba kontradiksi dengan
pertumbuhan ekonomi itu sendiri dalam kehidupan sehari-hari.3
Suatu sistem kota berarti hubungan antara beberapa kota yang terjadi
secara saling terkait, sehingga dapat mendatangkan manfaat tertentu bagi kotakota tersebut dan juga bagi lingkungan sekitarnya. Pembentukan sistem kotakota seringkali terjadi secara hirarkis. Kota-kota kecil saling berhubungan
1 Johan Galtung. Penertian Pembangunan , http://ilearn.unand.ac.id/2011/03/3 Penertian
Pembangunan/(24 Agustus 2013)

2 Mustopadidjaya, Ilmu Pembangunan Wilayah (Jakarta: Gramedia, 1988), h.


155.

3Rahmaddin. Ketimpangan Pembangunan Kelurahan dan Kota. http://ovalhanif. wordpress.com/


2009/04/22/ketimpangan-pembangunan-kelurahan-dan-kota/(24 Agustus 2013).

antara satu dengan yang lain dan hubungan itu mengait ke kota-kota yang lebih
besar. Pola demikian berlangsung secara sistematis, pada kota-kota yang lebih
besar. Hubungan antar kota sering dituntut bersifat timbal balik. Interaksi
terjadi dalam berbagai hal: komunikasi, transportasi, transfer dana, mobilitas
penduduk. Akan tetapi usaha penggambaran tingkat interaksi antara kota-kota
yang komprehensif dan cukup tepat dalam wujud sistem sulit dilakukan.
Hal yang lain juga ditunjukkan pada pembangunan infrastruktur, laju
pembangunan di kelurahan dan kota menunjukkan terjadinya ketimpangan,
dimana laju pembangunan di kota berkembang begitu pesat dibandingkan
dengan di kelurahan. Bangunan-bangunan termasuk sarana dan prasarana di
kota jauh lebih berkembang dibandingkan di kelurahan. Padahal, seharusnya
dapat sejalan karena kota dan kelurahan harus berhubungan secara harmonis
agar membawa dampak yang besar khususnya di segi politik,ekonomi, dan
sosial secara makro.
Seperti yang terjadi dibeberapa wilayah, keseimbangan interaksi ternyata
tidak terjadi sebagaimana diharapkan dari semangat pemerataan pembangunan.
Makassar semakin menonjol peranannya selaku pusat kegiatan masyarakat baik
dalam bidang ekonomi, politik, social, budaya serta tersedianya sarana dan
prasarana yang mamadai. Dengan adanya pembangunan yang tidak merata
tersebut dapat menimbulkan berbagai masalah diantaranya wilayah yang maju
akan semakin maju dan wilayah yang tertinggal akan semakin tertinggal,
disamping itu terjadi mobilitas penduduk secara besar-besaran di Makassar,
akibat pembangunan yang tidak merata tersebut dengan memusatkan pusat
kegiatan masyarakat serta penyadiaan sarana dan prasarana yang memadai
sehingga dapat menarik minat masyarakat untuk berpindah ke Makassar
Dalam pandangan para ahli pembangunan, wilayah pekelurahanan
dianggap mampu apabila; sarana dan prasarana dasar tersedia dan
masyarakatnya memiliki kemampuan untuk memenuhi berbagai kebutuhan
dalam kehidupan mereka, baik fisik maupun sosial-psikologis. Masyarakatnya
secara umum memiliki tingkat pendapatan yang mencukupi untuk memenuhi
berbagai kebutuhan, seperti pangan, kesehatan dan gizi, pendidikan,

perumahan dan lingkungan hidup atau dengan kata lain kuat dari segi ekonomi,
sosial, budaya, kelembagaan dan politik.
Dengan banyaknya masalah yang timbul akibat pembangunan yang tidak
merata, sehingga sangat diperlukan peraturan perundangan dalam perencanaan
pembangunan yang membahas mengenai hubungan daerah administrasi
propinsi dan kabupaten atau kota tidak lagi hirarkis, ketiganya sejajar. Dengan
demikian orientasi hirarkis yang memusat di Makassar akan semakin memudar.
Hal demikian juga cenderung didorong oleh kekuatan kegiatan ekonomi dan
politik nasional dan internasional yang lebih memilih berhubungan dengan
pemerintah kota-kota yang mandiri daripada dengan pemerintahan negara yang
unasannya lebih kompleks dan rumit
Salah satu contohnya adalah Kelurahan Katangka, Kecamatan Somba
opu, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan. Kelurahan Katangka
merupakan kelurahan yang telah menghadirkan citra positif bagi Kecamatan
Somba opu. kita dapat mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki seperti
kegiatan pariwisata yang ada untuk menarik para investor-investor untuk
datang ke Somba Opu yang dapat meningkatkan Anggaran Pendapatan Belanja
Daerah (APBD) demi meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat Somba
Opu. Selain itu, dengan menyediakan fasilitas dan utilitas yang lebih memadai.
Sehubungan dengan hal ini maka di lakukan penelitian mengenai kondisi
wilayah serta prospek pembangunan di Kelurahan Katangka Kecamatan Somba
opu Kabupaten Gowa.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian
ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana tingkat pertumbuhan penduduk di Kelurahan Katangka pada
tahun 2034?
2. Bagaimana kebutuhan Sarana dan Prasarana di Kelurahan Katangka pada
tahun 2034?

3. Bagaimana struktur dan tingkat perkembangan wilayah di Kelurahan


Katangka?
C. Tujuan dan Manfaat
Tujuan
Adapun tujuan dilakukannya penelitian ini, yaitu:
a. Untuk mengetahui tingkat pertumbuhan penduduk di Kelurahan
Katangka pada tahun 2034
b. Untuk mengetahui kebutuhan Sarana dan Prasarana di Kelurahan
Katangka pada tahun 2034
c. Untuk mengetahui struktur dan tingkat perkembangan wilayah di
Kelurahan Katangka.
2. Manfaat
Adapun manfaat dilakukannya penelitian ini, yaitu:
a. Penelitian ini dapat dijadikan pemerintah Kelurahan Katangka sebagai
bahan masukan dalam menentukan kebijakan pembangunan di masa
yang akan datang.
b. Dapat memberikan masukan kepada masyarakat setempat tentang
masalah yang ada pada daerah tersebut sehingga masyarakat dapat ikut
berpastisipasi dalam membangun wilayah tersebut khususnya masyarakat
di Kabupaten Gowa.
c. Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk
melakukan penelitian selanjutnya.
D. Sistematika Pembahasan
Secara garis besar, laporan survey ini terdiri dari lima bab yang secara
garis besarnya akan diuraikan dalam sistematika pembahasan berikut ini:
BAB I: PENDAHULUAN
Berisi uraian mengenai latar belakang, rumusan masalah, tujuan
dan manfaat, dan sistematika pembahasan.

BAB II

: TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian wilayah, pengertian kota, dan standarisasi sarana dan
prasarana pembangunan di Indonesia.

BAB III

: METODOLOGI PENELITIAN
Berisi tentang lokasi penelitian, waktu penelitian, jenis dan
sumber data, teknik pengumpulan data dan metode analisis.

BAB IV

: GAMBARAN UMUM WILAYAH


Berisi tentang gambaran umum Kabupaten Gowa, gambaran
umum Kecamatan Somba opu, dan gambaran wilayah Kelurahan
Katangka.

BAB V

: ANALISIS DAN PEMBAHASAN


Berisi tentang analisis fisik dasar wilayah, analisis proyeksi
penduduk untuk 20 tahun ke depan, analisis kebutuhan sarana dan
prasarana, analisis struktur wilayah (indeks sentralisasi terbobot),
analisis indeks perkembangan wilayah, dan analisis sosial budaya.

BAB VI

: PENUTUP
Bab ini berisi tentang kesimpulan dan saran-saran dari team
penyusunan mengenai isi pokok dari keseluruhan data yang
dikumpulkan, serta menurut pengamatan penyusun di lapangan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Wilayah
Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta
segenap unsur yang terkait kepadanya yang batas dan sistemnya ditentukan
berdasarkan aspek administrative dan atau aspek fungsional.4 Adapun
pengertian wilayah yang digunakan dalam perencanaan dapat berarti suatu
wilayah yang sangat sempit atau sangat luas, sepanjang di dalamnya terdapat
unsur ruang atau space.5 Para geograf memandang wilayah adalah tiap bagian
yang berada permukaan bumi, dengan wilayah paling luas adalah seluruh
permukaan bumi. Wilayah dibagi berdasarkan homogenitas tertentu sehingga
dapat membedakan antara suatu wilayah dengan wilayah yang lain.
Menurut Glasson (1974) ada dua cara pandang berbeda tentang
wilayah, yaitu subjektif dan objektif. Cara pandang subjektif,yaitu wilayah
adalah alat untuk mengidentifikasi suatu lokasi yang didasarkan atas dasar
kriteria tertentu atau tujuan tertentu. Dengan demikian, banyaknya wilayah
tergantung kepada kriteria yang digunakan.Wilayah hanyalah suatu model agar
kita bisa membedakan lokasi yang satu dari lokasi yang lainnya.Hal ini
diperlukan

untuk

membantu

manusia

mempelajari

dunia

secara

sistematis.Pandangan objektif menyatakan wilayah itu benar-benar ada dan


dapat dibedakan dari ciri-ciri atau gejala alam di setiap wilayah.6
1. Jenis-Jenis Wilayah
Wilayah atau pewilayahan dalam geografi disebut juga geografi
regional yaitu pengelompokan wilayah di permukaan bumi berdasarkan
kriteria tertentu yang membedakan antara wilayah satu dengan wilayah

Republik Indonesia, UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang

Tarigan, Robinson. 2009. Perencanaan Pembangunan Wilayah ed.Revisi. hal. 113

loc. cit., h. 111

lainnya. Dalam geografi dikenal tiga kriteria pewilayahan dengan


ciri-ciri sebagai berikut,
a.

Pewilayahan berciri tunggal (single topic region),


yaitu penetapan regional atau wilayah yang didasarkan pada salah satu
aspek

geografi.

Contoh

kemiringan

lereng

dapat

menunjukkan

ketampakan dari suatu daerah, apakah termasuk daerah yang datar,


landai, atau terjal. Di sini lokasi suatu daerah hanya dilihat dari satu
aspek geografi yaitu derajat kemiringan lereng.
b.

Pewilayahan berciri majemuk (multi topic region),


yaitu penetapan wilayah yang didasarkan pada beberapa faktor geografi.
Contoh penetapan wilayah berdasarkan iklim yaitu iklim tropik,
subtropik, sedang, dan dingin. Di katakan berciri majemuk karena iklim
terbentuk dari beberapa unsur seperti suhu, curah hujan, dan angin.

c.

Perwilayahan berciri keseluruhan (total region),


yaitu penetapan wilayah yang didasarkan pada banyak faktor
menyangkut lingkungan alam, lingkungan biotik, maupun manusia.
Contoh ekosistem mangrove, dikatakan bercirikan keseluruhan karena
melibatkan faktor alam, biotik, dan manusia di sekitarnya.
Berdasarkan ciri-ciri umum wilayah dapat dibedakan sebagai berikut.

a.

Wilayah Homogen, Wilayah homogen merupakan


wilayah yang memiliki satu parameter dengan sifat atau ciri yang hampir
sama.

b.

Wilayah Modal, Wilayah modal merupakan wilayah


yang secara fungsional memiliki sifat saling ketergantungan antara
daerah pusat dengan daerah di sekitarnya. Besarnya ketergantungan
antara pusat dan daerah dapat dilihat dari faktor produksi, penduduk,
barang, dan jasa, maupun perhubungan di antara keduanya.

c.

Wilayah Perencanaan Wilayah perencanaan dapat


diartikan sebagai wilayah yang menggambarkan kesatuan-kesatuan

keputusan ekonomi. Wilayah perencanaan memiliki ciri-ciri sebagai


berikut.
Masyarakat yang berada di wilayah perencanaan mempunyai
kesadaran terhadap permasalahan yang dihadapi daerahnya.
Memiliki kemampuan untuk merubah industri yang dilaksanakan
sesuai dengan tenaga kerja yang tersedia.
Menggunakan salah satu model perencanaan.
Memiliki setidaknya satu pusat pertumbuhan.
d.

Wilayah

Administrasi,

Wilayah

administrasi

merupakan wilayah yang mendasarkan pada kepentingan administrasi


pemerintahan dengan batas yang telah ditentukan.
B. Pengertian Kota
Dalam menggunakan kata kota perlu dicermati karena dalam bahasa
Indonesia,kata kota bisa berarti dua hal yang berbeda. Pertama, kota dalam
pengertian umum adalah suatu daerah terbangun yang didominasi jenis
penggunaan tanah nonpertanian dengan jumlah penduduk dan intensitas
penggunaan ruang yang cukup tinggi.Dikarenakan intensitas penggunaan
tanahnya yang lebih tinggi tersebut, maka kota senantiasa menjadi pusat
aktivitas bagi daerah sekitarnya. Kedua, kota dalam pengertian administrasi
pemerintahan diartikan secara khusus, yaitu suatu bentuk pemerintahan daerah
yang mayoritas Wilayahnya merupakan daerah perkotaan.
Kita yang hidup pada zaman muthakhir ini dapat dengan mudah
mengamati dan menggambarkan apakah kota itu, sesuai dengan tolak ukur
atau focus perhatian kita masing-masing. Oleh karena itu tidak dirisaukan jika
terdapat banyak definisi tentang kota, yang mungkin satu dengan yang lainnya
berbeda. Adapun Definisi tersebut antara lain :
Kota adalah suatu ciptaan peradaban umat manusia. Kota sebagai hasil
dari peradaban lahir dari pekelurahanan, tetapi kota berbeda dengan
pekelurahanan Pekelurahanan sebagai daerah yang melindungi kota
(P.J.M. Nas 1979 : 28). Kota seolah-olah mempunyai karakter tersendiri,
mempunyai jiwa, organisasi, budaya atau peradaban tersendiri.
8

Prof. Bintarto (1984 : 36) Kota adalah sistem jaringan kehidupan manusia
yang ditandai oleh strata sosial ekonomi yang heterogen serta corak
matrialistis.
Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia No 4/1980
Kota adalah wadah yang memiliki batasan administratif wilayah seperti
kotamadya dan kota administrasi.
Mayer : Kota sebagai tempat bermukim penduduknya.
Wirth : kota adalah pemilihan yg cukup besar,padat dan permanen,dihuni
oleh orang yang heterogen kedudukn sosialnya.
Dwight sanderson: kota adalah yang brpenduduk sepuluh ribu orang atau

lebih.
Mumford : Kota sebagai tempat pertemuan yang berorientasi ke luar.
Sebelum kota menjadi tempat pemukiman yang tetap, pada mulanya kota
sebagai suatu tempat orang pulang balik untuk berjumpa secara teratur,
jadi ada semacam daya tarik pada penghuni luar kota untuk kegiatan

rohaniah dan perdagangan serta,kegiatan lain.


Max Weber: Penghuninya sebagian besar telah mampu memenuhi
kebutuhannyalewat pasar setempat dan ciri kota ada pasarnya.
Sjoberg : : Melihat kota dari timbulnya suatu golongan spesialis non
agraris dan yang berpendidikan merupakan bagian terpenting
1. Karakteristik Kota
a. Dari aspek morfologi, antara kota dan pekelurahanan terdapat perbedaan
bentuk fisik, seperti cara membangun bangunan-bangunan tempat tinggal
yang berjejal dan mencakar langit (tinggi) dan serba kokoh. Tetapi pada
prakteknya kriteria itu sukar dipakai pengukuran, karena banyak kita
temukan dibagian-bagian kota tampak seperti kelurahan misalnya,
didaerah pinggiran kota, sebaliknya juga kelurahan-kelurahan yang mirip
kota, seperti kelurahan-kelurahan di pegunungan dinegara-negara laut
tengah.
b. Dari aspek penduduk. Secara praktis jumlah penduduk ini dapat dipakai
ukuran yang tepat untuk menyebut kota atau kelurahan, meskipun juga
tidak terlepas dari kelemahan kelemahan. Kriteria jumlah penduduk ini
dapat secara mutlak atau dalam arti relatif yakni kepadatan penduduk
dalam suatu wilayah. Sebagai contoh misalnya dia AS dan Meksiko suatu
9

tempet dikatakan kota apabila dihuni lebih dari 2500 jiwa dan Swedia
200 jiwa.
c. Dari aspek sosial, gejala kota dapat dilihat dari hubungan-hubungan
sosial (social interrelation dan social interaction) di antara penduduk
warga kota, yakni yang bersifat kosmopolitan. Hubungan sosial yang
bersifat impersonal, sepintas lalu (super-ficial), berkotak-kotak, bersifat
sering terjadi hubungan karena kepentingan dan lain-lain, orang ini bebas
untuk memilih hubungan sendiri.
d. Dari aspek ekonomi, gejala kota dapat dilihat dari cara hidup warga kota
yakni bukan dari bidang pertanian atau agraria sebagai mata pencaharian
pokoknya, tetapi dari bidang-bidang lain dari segi produksi atau jasa.
Kota berfungsi sebagai pusat kegiatan ekonomi, perdagangan industri,
dan kegiatan pemerintahan serta jasa-jasa pelayanan lain. Ciri yang khas
suatu kota ialah adanya pasar, pedagang dan pusat perdagangan.
e. Dari aspek hukum, pengertian kota yang dikaitkan dengan adanya hakhak dan kewajiban hukum bagi penghuni, atau warga kota serta sistem
hukum tersendiri yang dianut untuk menunjukkan suatu wilayahtertentu
yang secara hukum disebut kota.
Dari karakteristik diatas dapat disimpulkan bahwa kota :
Kota mempunyai fungsi-fungsi khusus (sehingga berbeda antara kota

dengan fungsi yang berbeda)


Mata pencaharian penduduknya diluar agraris.
Adanya spesialisasi pekerjaan warganya
Kepadatan penduduk
Ukuran jumlah penduduk (tertentu yang dijadikan batasan
Warganya (relatif) mobility
Tempat pemukiman yang tampak permanen
Sifat-sifat warganya yang heterogen, kompleks, social relation, yang
impersonal dan eksternal, serta personal segmentasion karena begitu
banyaknya peranan dan jenis pekerjaan seseorang dalam kelompoknya
sehingga seringkali tidak kenal satu sama lain, seolah-olah seseorang
menjadi asing dalam lingkungannya.7

7 http://ichwanmuis.com/?p=1750(jumat, 25 Agustus 2013)

10

2. Fungsi Utama Kota


Dilihat dari sejarah atau proses perkembangannya pada masa yang
lalu dapat diketahui bahwa kota-kota pada umumnya mempunyai corak atau
cirinya sendiri yang berbeda satu sama lainnya. Menurut Noel P. Gist dalam
Urban Society (hasil kuliah Drs.M Thalla, 1972) fungsi utama kota
adalah sebagai berikut :
a.

Production center, yakni kota sebagai pusat produksi, baik barang

b.

setengah jadi maupun barang jadi


Center of trade and commerce, yakni kota sebagai pusat perdagangan
dan niaga, yang melayani daerah sekitarnya. Kota seperti ini sangat

c.

banyak, seperti Rotterdam, Singapura, Hamburg.


Political capital, yakni kota sebagai pusat pemerintahan atau sebagai

d.

ibukota negara, misalnya kota london dan Brazil.


Cultural center, kota sebagai pusat kebudayaan, contohnya : kota Vatikan,

e.

Makkah, Yerusalem.
Health and recreation, yakni kota sebagai pusat pengobatan dan rekreasi
wisata, misalnya : Monaco, Palm Beach, Florida, Puncak Bogor,

f.

Kaliurung.
Divercified cities, Yakni kota-kota yang berfungsi ganda atau beraneka.
Kota-kota pada masa kini (setelah perang dunia ke II) banyak yang
termasuk kategori ini. Sebagai contoh : Jakarta, Tokyo, Surabaya yang
mencanangkan
perdagangan,

diri

sebagai

maritim,

kota

indarmardi

(kota

industri,

dan pendidikan),disamping sebagai

pusat

pemerintahan.

C. Standarisasi Penyediaan Sarana


1. Fasilitas Pemerintahan
Analisis kebutuhan fasilitas pelayanan umum guna pelayanan
kepada msyarakat secara makro, seperti kantor administrasi, kantor pos,
telepon umum, balai pertemuan, MCK dan parkir umum. Sesuai dengan

11

fungsi kota dan kebutuhan perkembangan penduduk kota, maka fasilitas


yang dibutuhkan haruslah mempunyai:
Parkir umum + MCK seluas 200 M2, setiap unit melayani 2.500 jiwa.
Balai pertemuan dengan luas lahan 600 M 2, setiap unit melayani
penduduk sekitar 2.500 jiwa.
Kantor Camat dengan luas lahan 2.000 M2.
Kantor Lurah dengan luas lahan 1.000 M2.
Kantor pos pembantu dengan luas lahan 200 M2.
Pos Polisi dengan luas lahan 400 M2.
Kantor Koramil dengan luas lahan 400 M2.
2. Fasilitas Pendidikan
Pendidikan formal mempunyai beberapa tingkatan/jenjang yaitu
taman kanak kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Lanjutan Tingkat
Pertama (SLTP), Sekolah Menengah Umum (SMU). Rencana kebutuhan
fasilitas pendidikan maupun fasilitas sosial ekonomi lainnya didasarkan
pada standar perencanaan kebutuhan sarana kota (PU. Cipta Karya),
dengan standar luasan yang berpedoman pada tingkat kepadatan pada
tingkat kepadatan penduduk. Dan lebih mendasar lagi adalah bagaimana
memadukan antara supply and demand dengan standar yang digunakan.
Taman Kanak kanak (TK), penduduk mendukung fasilitas ini minimal
1.000 orang dengan luas lahan 2.400 M2. lokasinya sebaiknya berada di
tengah tengah kelompok keluarga, jumlah murid dengan standar 3
ruang kelas terdiri dari 30 40 murid di setiap satu ruang kelas.
Sekolah Dasar (SD), kebutuhan satu unit SD, minimal penduduk
pendukungnya 6000 jiwa dengan luas lahan 7.200 M 2. Lokasi jenis
fasilitas

ini

sebaiknya

berada

di

tengah

kelompok

keluarga

(permukiman) dengan radius pencapaian dari daerahyang dilayani


maksimum 100 meter.
Sekolah Lanjutan Tingkat

Pertama

(SLTP),

jumlah

penduduk

pendukungnya minimal 25.000 jiwa untuk sebuah SLTP, sedangkan luas


lahannya adalah 5.400 M2. penempatan lokasi fasilitas ini sebaiknya
dikelompokkan dengan taman dan lapangan olahraga. Standar jumlah
murid adalah 40 murid/kelas.
Sekolah Menengah Umum (SMU). Penduduk pendukungnya minimal
25.000 orang untuk sebuah SMU. Luas lahan SMU ini adalah 5.400 M 2.
12

Standar 30 murid/ruang kelas dengan 14 kelas (pagi/sore) untuk sebuah


SMU.
3. Fasilitas Kesehatan
Tingkat kesehatan penduduk merupakan salah satu elemen penting
yang dapat menentukan kualitas sumberdaya manusia. Fungsi utama sarana
ini memberikan pelayanan medis kepada penduduk. Oleh karena itu
penyediaan fasilitas kesehatan di kawasan perencanaan ini perlu mendapat
prioritas. Dikaitkan dengan standar perencanaan lingkungan permukiman
kota, maka kualitas kesehatan yang harus disediakan untuk melayani
penduduk tersebut adalah puskesmas, balai pengobatan, tempat praktek
dokter dan apotik serta fasilitas lain seperti tempat parkir dan taman.
Puskesmas pembantu, minimal penduduk pendukungnya adalah 30.000
jiwa dengan luas lahan adalah 2.400 M 2. Penempatan lokasinya
sebaiknya berada di tengah lingkungan keluarga (permukiman) dengan
radius pencapaian maksimum 1500 M2.
BKIA/Rumah Bersalin, penduduk pendukung minimal 10.000 jiwa
dengan luas lahan 3.200 M2. Lokasi fasilitas ini berada di tengah
tengah lingkungan keluarga dengan radius pencapaian maksimal 2.000
meter.
Puskesmas, Penduduk minimal 30.000 orang, luas lahan adalah 6.500
m2, lokasi sebaiknya berada pada pusat lingkungan bersama dengan
pelayanan pemerintah, dengan radius maksimal 2.000 meter
Pustu, Penduduk minimal 6.000 orang, luas lahan adalah 500 m2, lokasi
terletak ditengah-tengah permukiman, dengan radius maksimal 1.500
meter.
Apotik, fasilitas kesehatan yang fungsinya untuk melayani penduduk
dalam memenuhi kebutuhan obat obatan adalah apotik. Penduduk
pendukung minimal 10.000 jiwa dengan luas lahan 700 M2. hal yang
perlu diperhatikan dalam perencanaan fasilitas kesehatan ini adalah
pengalokasian fasilitas dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan
pemukiman sehingga radius pencapaian merupakan jarak yang tepat bagi
kelompok aktivitas kegiatan penduduk.

13

Praktek Dokter (Klinik), untuk menciptakan optimalisasi pelayanan


kesehatan yang baik kepada masyarakat di kawasan perencanaan,
diperlukan tenaga tenaga medis yang cukup memadai terutama dokter
yang dapat memnerikan pelayanan yang lebih dekat pada masyarakat.
Oleh karena itu dibutuhkan tempat praktek dokter yang menyatu dengan
perumahan penduduk. Lokasi fasilitas ini disatukan dengan rumah
tempat tinggal dan setiap unutnya melayani penduduk 5.000 jiwa.
Balai Pengobatan, minimal penduduk pendukungnya adalah 3.000 jiwa
dengan luas lahan600 M2. lokasi penempatan sebaiknya berada di tengah
tengah lingkungan keluarga dengan radius pencapaian maksimum
1.500 meter.
Posyandu, minimal penduduk pendukungnya adalah 1.250 jiwa
4. Fasilitas Peribadatan
Penghitung kebutuhan fasilitas peribadatan di kawasan
perencanaan disesuaikan dengan jumlah penduduk pemeluk agama yang
ada. Berdasarkan data jumlah penduduk menurut agama di kawasan
perencanaan menunjukkan bahwa sekitar 97 % memeluk agama Islam dan
selebihnya beragama Kristen, katholok, dll (3 %). Hal ini berarti penyediaan
fasilitas peribadatan bagi pemeluk agama Islam lebih diprioritaskan, yang
berupa Masjid dan Mushollah.
Masjid, penduduk minimal pendukung fasilitas ini adalah 30.000 jiwa,
dengan luas 3.500 M2. lokasi penempatan fasilitas berada dalam satu
pusat lingkungan kelurahan dan dekat dengan konentrasi penduduk.
Mushallah/Langgar, penduduk minimal 2500 jiwa, dengan luas lahan
600 M2. lokasi penempatan fasilitas tergantung kondisi konsentrasi dan
distribusi pemeluk agama bersangkutan.
Gereja, penduduk minimal terdiri dari 15 Kepala Keluarag , lokasi
penempatan fasilitas berada pada radius pencapaian maksimal 300 M
dari pusat permukiman.
5. Fasilitas Perdagangan
Perkembangan suatu kota ditentukan oleh tingkat pertumbuhan
ekonomi kota yang bersangkutan dan sebaliknya tingkat perkembangan
ekonomi itu sendiri dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satu diantaranya
adalah ketersediaan sarana dan prasarana ekonomi untuk melayani
14

kebutuhan

penduduk

sebagai

pelaku

kegiatan

ekonomi.

Fasilitas

perekonomian yang dimaksud disini adalah fasilitas pelayanan kegiatan


perbelanjaan sehari hari yang mempunyai sifat pelayanan dari berbagai
tingkat sesuai dengan skala pelayanan yang direncanakan.
Keberadaan pasar merupakan salah satu tigkat pelayanan regional
sangat besar manfaatnya bagi kegiatan perekonomian yang diharapkan dapat
berperan sebagai titik pusat kegiatan jasa distribusi barang barang
produksi yang dapat menarik dan mendorong laju pertumbuhan kelurahankelurahan pada wilayah pelayanannya.
Dengan kondisi demikian dalam kaitannya dengan kawasan
perencanaan pada masa datang, dapat dialokasikan jenis jenis fasilitas
perekonomian berdasarkan kriteria standar menurut pengelompokan jumlah
penduduk/distribusi penduduk setiap Bagian Wilayah Kota (BWK).
Pertokoan, penduduk pendukung minimal 2.500 jiwa dengan luas lahan
2.400 M2. kriteria lokasi terletak pada jalan utama lingkungan dan
mengelompok dengan pusat lingkungan.
Warung/ Kios, penduduk pendukungnya adalah 250 jiwa. Kriteria lokasi
di pusat lingkungan yang mudah dicapai dengan radius maksimal 500
meter.
6. Fasilitas Jasa
Sesuai dengan tingkat kebutuhan Rencana Tata Ruang maka
fasilitas Jasa yang termuat dalam suatu permukiman adalah fasilitas jasa
dengan jumlah penduduk pendukung 50 KK tiap fasiltas jasa.
7. Fasilitas Olahraga dan Ruang Terbuka
Fasilitas olahraga dan ruang terbuka adalah semua bangunan dan
taman yang digunakan untuk kegiatan olah raga dan rekreasi, fasilitas ini
merupakan fasilitas yang cukup penting mengingat fungsinya dalam
mengurangi kepadatan kawasan permukiman. Fasilitas ini terdiri dari
lapangan olah raga, tempat bermain dan jalur hijau.
Lokasi fasilitas ini umumnya terletak di tengah tengah
lingkungan

permukiman

terutama

untuk

taman.

Menurut

standar

perencanaan lingkungan permukiman kota, kebutuhan fasilitas olah raga dan


ruang terbuka kawasan perencanaan adalah :

15

Taman untuk pelayanan 250 jiwa, sarana ini berfungsi sebagai ruang
hijau kota, luas setiap unit 500 m2.
Taman Tempat Bermain untuk pelayanan 2.500 jiwa yang berfungsi
sebagai ruang terbuka dan tempat bermain. Sarana ini dibutuhkan
dengan lahan seluas 2.500 M2.
Lapangan Olahraga(Sepak Bola) dengan luas lahan 18.000 m2.
Tempat Bermain (Bola Voly + Bulutangkis dan daerah terbuka) Jumlah
penduduk minimal 2.500, dengan luas lahan 1.250 m2.
D. Standarisasi Penyediaan Prasarana
1. Jaringan jalan
a. Jaringan Jalan Kolektor
Karakter dari jaringan jalan kolektor adalah jalan yang berfungsi
sebagai pengumpul lalu lintas dari jaringan jalan lokal untuk disalurkan
ke jaringan jalan arteri. Dengan kata lain jaringan jalan ini akan
merupakan penghubung jalan arteri dengan jalan lokal.Selain itu jalan
yang memotong jaringan jalan ini sedapat mungkin dibatasi oleh
kendaraan yang melintasinya.Jalan ini direkomendasikan berkecepatan
lebih rendah dari kecepatan kendaraan pada jalan arteri.adapun cakupan
dari jalan ini adalah
Panjang jalan 0,6 km / 1000 penduduk
Ratio luas jalan 0,5 % dari luas wilayah
b. Jaringan Jalan Lingkungan
Jaringan jalan lokal adalah jalan yang berfungsi menampung lalu
lintas dari jalan tertentu,dan selanjutnya akan disalurkan ke jaringan jalan
kolektor. Adapun karakter dari jalan lokal adalah jarak perjalanannya atau
identik dengan panjang jalan ini relatif pendek dan jalan memotongnya
(dapat

saja

berupa

gank/lorong)

tidak

dibatasi.

selain

itu

direkomendasikan lebih mudah dari ketentuan yang diberlakukan pada


jaringan jalan kolektor maupun arteri.
adapun cakupan dari jalan ini adalah
Panjang 40-60 m/Ha
Lebar 2-5 m
2. Jaringan Air Bersih

16

Air bersih memegang peranan penting sebagai kebutuhan pokok


dan utama penghidupan dan kehidupan penduduk di kawasan perencanaan.
Beberapa sumber air bersih yang dimanfaatkan oleh penduduk kawasan
perencanaan bersumber dari air permukaan (sungai) dan dari mata air
pegunungan yang dikelolah oleh PDAM dan masyarakat. Sasaran rencana
kebutuhan air bersih dikategorikan berdasarkan jumlah kebutuhan penduduk
pendukung dan kebutuhan aktivitas perkotaan. Standarisasi kebutuhan air
bersih berdasarkan petunjuk pedoman tersebut di atas termasuk sasaran
penggunaanya, antara lain :
a. Air Bersih Perumahan
Kebutuhan air bersih untuk perumahan digolongkan untuk
kebutuhan perjiwa penghuni (jumlah penduduk). Diasumsikan bahwa tiap
satu rumah akan dialami oleh 1 KK dengan 5 jiwa. Tiap 1 jiwa
membutuhkan lebih kurang 60 liter/hari.
b. Air Bersih Fasilitas Pendidikan
Kebutuhan air bersih untuk kebutuhan fasilitas pendidikan
diketahui setelah dianalisis besaran jumlah dan jenis fasilitas pendidikan
yang akan tersedia hingga akhir tahun perencanaan. Standar kebutuhan
air bersih untuk fasilitas pendidikan berdasarkan jenjang tingkat
pendidikan formal adalah :
Kebutuhan air bersih untuk jenjang pendidikan TK adalah 10
liter/orang/hari.
Kebutuhan air bersih untuk jenjang pendidikan SD adalah 10
liter/orang/hari.
Kebutuhan air bersih untuk jenjang pendidikan SLTP adalah 10
liter/orang/hari.
Kebutuhan air bersih untuk jenjang pendidikan SMU adalah 10
liter/orang/hari.
c. Air Bersih Fasilitas Kesehatan
Demikian halnya dengan fasilitas lainnya, jumlah kebutuhan air
bersih untuk fasilitas kesehatan di kawasan perencanaan sangat
targantung dari jumlah fasilitas pelayanan kesehatan yang direncanakan.

17

Adapun jenis fasilitas kesehatan yang akan direncanakan pada kawasan


perencanaan adalah :
Kebutuhan air bersih untuk toko obat/apotik adalah 30 liter/unit/hari.
Kebutuhan air bersih untuk tempat praktek dokter adalah 300
liter/unit/hari.
Kebutuhan air bersih untuk balai pengobatan/puskesmas pembantu
adalah 10.000 liter/unit/hari.

d. Air Bersih Fasilitas Olah Raga dan Ruang Terbuka


Kebutuhan air bersih untuk mendukung kegiatan olah raga dan
ruang terbuka di kawasan perencanaan terbagi atas taman tempat bermain
dan lapangan olah raga. Masing masing membutuhkan air bersih
sebanyak 1000 liter/Ha/hari.
e. Air Bersih Fasilitas Perekonomian
Perhitungan kebutuhan air bersih untuk fasilitas perekonomian di
kawasan

perencanaan

disesuaikan

dengan

standar

lingkungan

permukiman kota. Kebutuhan air bersih untuk sarana perekonomian


adalah :
(a) pasar 10.000 liter/unit/hari,
(b) warung 250 liter/unit/hari,
(c) pertokoan membutuhkan air bersih sebanyak 1.000 liter/unit/hari.
f. Air Bersih Fasilitas Pelayanan Umum
Kebutuhan air bersih untuk fasilitas pelayanan umum digunakan
asumsi asumsi berdasarkan standar atau pedoman perencanaan
lingkungan. Kantor lingkungan, kantor pos pembantu, dan parkir umum
ditambah MCK, dengan kebutuhan air bersih 1.000 liter/unit/hari.
g. Air Bersih Fasilitas Peribadatan
Berdasarkan analisa kependudukan di kawasan perencanaan
sebagian besar penduduk beragama Islam, sehingga komposisi penduduk
pada tahun mendatang tidak jauh berbeda pada keadaan sekarang. Hasil
analisis menunjukkan bahwa perkiraan kebutuhan fasilitas peribadatan di
kawasan perencanaan yaitu Masjid lingkungan dan mushallah. Kebutuhan
sarana air bersih untuk Masjid adalah 3.500 liter/unit/hari, dan Mushallah
membutuhkan air bersih sebanyak 2.000 liter/unit/hari.

18

3. Jaringan Listrik
Kebutuhan sistem energi listrik dimaksudkan adalah kebutuhan sistem
yang meliputi jaringan dan distribusinya. Pelayanan listrik di kawasan
perencanaan dibutuhkan peningkatan daya listrik serta jaringan yang relatif
mencukupi termasuk penerangan jalan.
Keseluruhan kebutuhan energi listrik di kawasan perencanaan
berdasarkan standar perencanaan kebutuhan listrik adalah:
Perumahan dengan golongan type besar adalah 1.300 Watt/unit, type
sedang adalah 900 Watt/unit dan type kecil sebesar 900 Watt/unit.
Fasilitas sosial dan pelayanan umum membutuhkan suplay energi listrik
sesuai standar yakni 120 watt/m2 atau 50% dari kebutuhan rumah tangga.
Penerangan jalan membutuhkan 10% energi listrik dari total kebutuhan
rumah tangga.
Perkiraan kehilangan energi listrik dalam transmisi diperkirakan 30 %
dari total energi listrik yang dibutuhkan.
Sistem distribusi jaringan kabel listrik dengan menggunakan tiang
yang terbuat dari pipa beton yang penempatannya pada daerah manfaat jalan
dengan jarak satu dengan yang lainnya adalah lebih kurang 50 meter dan
sebagai upaya untuk menghindari gangguan jaringan listrik, maka di
beberapa tempat akan ditempatkan gardu listrik yang sekaligus berfungsi
sebagai pengontrol gangguan listrik yang akan terjadi.
4. Jaringan Telepon
Salah satu sarana untuk berinteraksi dan berkomunikasi yang saat
ini tersedia di kawasan perencanaan adalah berupa saluran telepon dengan
sistem DRS (digital radio system) dengan skala pelayanan yang terbatas.
Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan jaringan telepon di kawasan
perumahan/perkantoran diupayakan dapat terpenuhi dan tentunya dengan
skala prioritas kebutuhan dengan perluasan sistem jaringan yang ada.
Standar rasio tingkat layanan kebutuhan telepon baik pribadi maupun umum
adalah masing masing 1 : 14 dan 1 : 250.
5. Jaringan Drainase

19

Jaringan primer dan sekunder drainase harus mempunyai kapasitas


tampung yang cukup untuk menampung air yang mengalir dari area Kasiba
dan kawasan sekitarnya.
Saluran pembuangan air hujan dapat dibangun secara terbuka
dengan ketentuan sebagai berikut :
a. Dasar saluran terbuka lingkaran dengan diameter minimum 20 cm atau
berbentuk bulat telur ukuran minimum 20/30 cm;
b. Bahan saluran terbuat dari tanah liat, beton, pasangan batu bata dan atau
bahan lain;
c. Kemiringan saluran minimum 2 %;
d. Tidak boleh melebihi peil banjir di daerah tersebut;
e. Kedalaman saluran minimum 30 cm;
f. Apabila saluran dibuat tertutup, maka pada tiap perubahan arah harus
dilengkapi dengan lubang kontrol dan pada bagian saluran yang lurus
lubang kontrol harus ditempatkan pada jarak maksimum 50 (lima puluh)
meter;
g. Saluran tertutup dapat terbuat dari PVC, beton, tanah liat dan bahanbahan lain;
h. Untuk mengatasi terhambatnya saluran air karena endapan pasir/tanah
pada drainase terbuka dan tertutup perlu bak kontrol dengan jarak kurang
lebih 50 m dengan dimensi (0,40x 0,40x 0,40) m3;
i. Setiap kasiba perlu melestarikan dan menyediakan kolam-kolam retensi
dan sumur resapan pada titik-titik terendah;
j. Penggunaan pompa drainase merupakan upaya tambahan apabila ditemui
kesulitan untuk mengalirkan air secara gravitasi dan dapat juga digunakan
untuk membantu agar pengaliran air dalam saluran mengalir lebih cepat.
Adapun tahapan perencanaan jaringan primer dan sekunder
drainase meliputi :
a. Pengumpulan data topografi dan pemetaan yang terdiri dari pemetaan
topografi dan pemotretan dari udara atau satelit; membuat peta tematik
dengan ketelitian skala 1: 5000 yang mencakup kontur interval 5 meter
untuk perencanaan jaringan; membuat peta tematik dengan ketelitian
skala 1:1.000 untuk perencanaan detail; membuat level ikat topografi
(benchmark) yaitu elevasi dasar kota yang dikaitkan dengan elevasi muka
air laut pasang atau pada sungai besar; menentukan garis kontur dengan

20

penyesuaian terhadap titik ikat elevasi berdasarkan elevasi sungai yang


ada guna perencanaan drainase perumahan;
b. Pengumpulan data hidrologi yang terdiri dari data yang mencakup
kedudukan muka air banjir terhadap elevasi lahan, serta data curah hujan
harian, bulanan dan tahunan;
c. Pengumpulan data geologi yang terdiri dari penyelidikan tanah untuk
mengetahui kemungkinan penurunan pondasi saluran dan kekuatan /
kondisi tanah dasar untuk mengetahui daya dukung lapisan tanah
tersebut.;
d. Pengumpulan data kualitas dan kuantitas genangan, luas, lama, tinggi dan
frekuensi genangan dalam setahun;
e. Pengumpulan data tentang kerugian dan kerusakan akibat genangan.
Dalam sistem penyediaan prasarana drainase perlu dibuat kolam
retensi, yaitu bangunan resapan buatan atau bangunan resapan alam yang
berfungsi untuk menampung air hujan dan kemudian meresap kedalam
tanah atau mengalir ke saluran drainase.
Dalam sistem penyediaan prasarana drainase perlu dibuat peil
banjir sebagai acuan bagi perencana dan pelaksana dalam pembangunan
fisik agar terbebas atau terhindar dari banjir dalam periode ulang tertentu.
Pada periode perencanaan sistem drainase perlu memperhatikan
daerah tangkapan air (catchment area) agar tidak terjadi kegagalan pada
fungsi sistem drainase.
Periode ulang kelurahanin yang harus direncanakan untuk Kasiba
adalah seperti tercantum pada Tabel Periode. Disain Makro dan Tabel
Periode Disain Mikro yang disajikan pada Lampiran 17 Peraturan
Menteri Negara Perumahan Rakyat ini.
Pembangunan jaringan primer dan sekunder drainase harus
memperhatikan aspek hidrolis dan aspek struktur.
Aspek Hidrolis sebagaimana disebutkan pada ayat (1) mencakup
kecepatan maksimum dan minimum alirandalam saluran, bentuk saluran,
dan bangunan pelengkap yang diperlukan.
Aspek Struktur sebagaimana disebutkan pada ayat (1) mencakup
jenis dan mutu saluran, serta kekuatan dan kestabilan bangunan.
6. Sistem Transportasi

21

Pengembangan sistem transportasi di kawasan perencanaan merupakan


bagian integral terhadap pengembangan sistem transportsi kota secara
keseluruhan. Keintegralan sistem ini akan menghasilkan pola dan
aksesibiliras pergerakan antar dan inter kawasan semakin baik. Jarak, biay,
waktu tempuh dalam suatu pergerakan yang efisien dan efektif adalah suatu
tingkat kenyamanan dan keamanan yang diterjemahkan dalam tingkat
pelayanan pergerakan (level of service).
Dalam perencanaan sistem transportasi kota akan dipertimbangkan
beberapa subsistem dari sistem transportasi yang saling terkait membentuk
siklus perencanaan sistem transportasi. Sub sub sistem tersebut terbagi
atas :

sub sistem kegiatan


sub sistem jaringan
sub sistem pergerakan
sub sistem kelembagaan
sub sistem lingkungan (lokal, kota, regional, nasional,

internasional).
Kebutuhan umum

perencanaan

transportasi

adalah

untuk

mengestimasikan jumlah dan lokasi kebutuhan akan transportasi (jumlah


perjalanan, baik untuk angkutan umum maupun pribadi), termasuk pola
tindakan yang akan diambil (rekayasa atau manajemen transportasi) untuk
masa datang (umur rencana) untuk kepentingan kebijaksanaan investasi
perencanaan transportasi. Kajian ini disebut sistem supply vs demand.
Hubungan dasar antara tataguna lahan, transportasi dan lalulintas
disatukan dalam beberapa urutan konsep, yang biasanya dilakukan secara
berturut turut sebagai berikut :
Aksesibilitas, suatu ukuran atau kesempatan untuk melakukan suatu
perjalanan. Konsep ini lebih bersifat abstrak dan dapat digunakan
mengalokasikan problem yang terdapat dalam sistem transportasi dan
mengevaluasi solusi solusi alternative. Dapat juga dikatakan
aksesibilitas adalah suatu ukuran kenyamanan bagaimana lokasi guna
lahan berinteraksi satu dengan yang lain dan bagaimana mudah dan
susahnya lokasi tersebut dicapai melalui sistem transportasi. (Black,

22

1981). Model yang digunakan adalah moel hansen, black dan conroy,
1972.
Bankitan lalulintas (trip generation); suatu ukuran bagaimana tri terjadi
dalam suatu guna lahan (zona). Model analisis yang digunakan adalah

IHCM 1990, 1995 dan 1998 serta standar/kritria baku transportasi.


Distribusi pergerakan (trip distribution); bagaimana perjalan tersebut
terdistribusi ke berbagai zona tarikan dan bangkitan di dalam zona
zona. Pengaruh kuat dalam konsep ini, lokasi dan intensitas land use
dan spasial separtation. Model analisis yang digunakan dengan
pendkatan rute dan pilihan pergerakan berdasarkan zona asal dan tujuan

(Tij = graviti model)


Pemilihan moda transportasi (model choice or model split);
menentukan faktor faktor yang mempengaruhi pemilihan moda
transportasi untuk suatu tujuan tertentu.
Pemilihan rute (route choice or trip assgnment); menentukan faktor
faktor yang mempengaruhi pemilihan rute antara zona asal dan tujuan.
Hubungan antara waktu, kapasitas dan arus lalulintas, waktu
perjalanan dipengaruhi oleh kapasitas rute yang ada dan jumlah lalu
lintas yang menggunakannya.
Pengembangan jaringan transportasi yang terdiri dari jaringan jalan
dan terminal. Di kawasan perencanaan pengembangan jaringan jalan sesuai
dengan fungsinya meliputi jalan kolektor dan jalan lokal. Sedangkan
pengembangan

prasarana

transportasi

berupa

terminal

pembantu

direncanakan alokasinya berdekatan dengan pasar induk kota.


Konsep sistem jaringan jalan akan optimal apabila pembagian fungsi
dan klasifikasi jalan telah ditentukan.Kejelasan tersebut akan mempermudah
pengaturan sirkulasi setiap moda angkutan agar elemen transportasi yang
ada dapat saling menunjang mobilitas penduduk dan/atau barang ke arah
lebih baik
7. Jaringan Persampahan
Penggolongan jenis sampah dan intensitas penanganannya antar
kawasan dalam satu daerah sangat berbeda termasuk jumlah sampah yang
dihasilkan. Untuk mengestimasikan jumlah sampah yang akan dihasilkan di
masa datang dianggap bahwa jumlahnya tergantung jumlah penduduk
23

kawasan tersebut. Mengingat untuk mengkuantitaskanjumlah sampah yang


dihasilkan sangat sulit maka digunakan standar umum yakni 2,9
liter/orang/hari.
Kuantitas sampah yang dihasilkanakan dikumpulkan ataupun
dikelolah dengan menggunakan sarana dan prasarana, berupa penyediaan;
Gerobak 1 M3 untuk 200 KK.
Tempat pembuangan sementara (TPS) untuk 150 KK.
Container sampah dengan volume 6 8 M3 2.000 KK.

24

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian yang dilakukan oleh kelompok I berlokasi di Kelurahan
Katangka, Kecamatan Somba opu, Kabupaten Gowa.
B. Waktu Penelitian
Kegiatan Penelitian ini berlangsung selama dua bulan yang dimulai pada
minggu kedua bulan desember Tahun 2015 dan berakhir pada minggu pertama
bulan Januari Tahun 2015. Waktu penelitian tersebut mencakup tahap persiapan
penelitian, tahap pelaksanaan penelitian, tahap penyusunan laporan hingga
tahap presentasi.

C. Jenis dan Sumber Data


Ada dua jenis data yang digunakan dalam penelitian ini, yakni berupa data
sekunder dan data primer.
1. Data Sekunder merupakan data-data yang diperoleh dari kantor instansi atau
lembaga lembaga yang terkait serta data dari hasil penelitian sebelumnya
yang sifatnya merupakan data baku. Adapun data-data sekunder tersebut
berupa:
Data kondisi fisik wilayah studi yang mencakup data geografis, kondisi
topografi, kemiringan lereng, geologi, jenis tanah dan hidrologi. Sumber
data: Kecamatan Somba opu Dalam Angka 2015 dan Profil Kelurahan
Data kependudukan dengan spesifikasi data berupa jumlah penduduk
kepadatan penduduk, perkembangan dan penyebaran penduduk. Sumber
data: Kecamatan Somba opu Dalam Angka 2015 dan Kantor Kelurahan
Katangka
Prasarana dan sarana, meliputi jenis fasilitas yang ada. Sumber data:
Kecamatan Somba opu Dalam Angka 2015 dan Kantor Kelurahan
Katangka.

25

2. Data primer merupakan data yang diperoleh dari hasil penelitian langsung
di lapangan. Data-data tersebut seperti:
Kondisi fisik dasar lokasi penelitian (eksisting dan pola penggunaan
lahan lokasi penelitian).
Utilitas jaringan, sarana/fasilitas dan pelayanan.
Sosial budaya masyarakat yang menyangkut adat istiadat dan perilaku
masyarakat.
Aksebilitas (meliputi jenis moda trasportasi dan jarak tempuh).

D. Teknik Pengumpulan Data


Untuk mendapatkan data yang dibutuhkan dalam penelitian ini, maka
dilakukan suatu teknik pengumpulan data. Adapun metode pengumpulan data
yang dilakukan untuk penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Observasi Lapangan.
Observasi lapangan dilakukan untuk memperoleh data yang lebih akurat dan
sekaligus membandingkan atau mencocokkan data dari instansi terkait
dengan data yang sebenarnya di lapangan. Adapun data-data yang diperoleh
dari hasil observasi lapangan yaitu:
Data kondisi fisik wilayah studi yang mencakup data geografis, kondisi
topografi, kemiringan lereng, geologi, jenis tanah dan hidrologi. Sumber
data: Kecamatan Somba opu Dalam Angka 2015 dan Profil Kelurahan
Data kependudukan dengan spesifikasi data berupa jumlah penduduk
kepadatan penduduk, perkembangan dan penyebaran penduduk. Sumber
data: Kecamatan Somba opu dalam Angka 2015 dan Kantor Kelurahan
Katangka

26

Prasarana dan sarana, meliputi jenis fasilitas yang ada. Sumber data:
Kecamatan Somba opu dalam Angka 2015 dan Kantor Kelurahan
Katangka.
Kondisi fisik dasar lokasi penelitian (eksisting dan pola penggunaan
lahan lokasi penelitian).
Utilitas jaringan, sarana/fasilitas dan pelayanan.
Sosial budaya masyarakat yang menyangkut adat istiadat dan perilaku
masyarakat.
Aksebilitas (meliputi jenis moda trasportasi dan jarak tempuh).
2. Wawancara.
Hal ini dilakukan dengan maksud mendengarkan tanggapan ataupun
informasi -informasi penting tentang daerah atau wilayah penelitian.
Adapun data-data yang diperoleh dari hasil wawancara yaitu data-data
mengenai aspek sosial budaya dan aspek ekonomi wilayah penelitian.
3. Metode telaah pustaka
Metode ini merupakan cara pengumpulan data dengan menggunakan
sumber sumber dokumenter berupa literatur/referensi, laporan penelitian
serupa, bahan seminar ataupun jurnal. Peneliti mempelajari data, kuantitatif
dan kualitatif, melalui sumber dokumenter (laporan, monografi daerah, dan
lainnya). Untuk kepentingan perencanaan pembangunan wilayah, pengum
pulan data dan informasi dengan cara-cara di atas masih harus didukung
dengan pengamatan langsung ke lapangan. Hal ini dapat dilakukan dengan
jalan menjelajahi seluruh daerah perencanaan, meninjau daerah perencanaan
dari udara, atau meninjau beberapa bagian daerah perencanaan yang
dianggap dapat memberikan gambaran daerah secara keseluruhan.
E. Metode Analisa Data

27

Sesuai dengan rumusan masalah, maka metode analisis yang digunakan


dalam menganalisis masalah yaitu :
1. Rumusan masalah pertama tentang tingkat perkembangan penduduk di
Kelurahan Katangka pada tahun 2034 dapat diketahui dengan menggunakan
metode analisis Proyeksi penduduk. Proyeksi kependudukan diperlukan
dalam perencanaan suatu kawasan untuk memperkirakan jumlah dan jenis
fasilitas pelayanan sosial ekonomi yang dibutuhkan selama kurun waktu
pelaksanaan rencana dan merubah kecenderungan laju pertumbuhan
penduduk dalam rangka menanggulangi dinamika penduduk yang terlalu
cepat. Metode proyeksi salah satunya adalah metode ekstrapolasi yang
digunakan

berdasarkan

pertimbangan

kecenderungan

pertumbuhan

penduduk yang mengalami patahan pada kurva perkembangannya. Adapun


rumus dari metode ekstrapolasi ini adalah sebagai berikut :

Pt + =pt + b
Dimana b = 1t-1bn
t-1
Ket : Pt = Penduduk daerah yang diselidiki pada tahun dasar
= Selisih tahun dari tahun dasar it ke tahun Pt +
2. Rumusan masalah kedua tentang tingkat kebutuhan sarana dan prasarana di
Kelurahan Katangka tahun 2034 dapat diketahui dengan menggunakan
metode analisis SPM (Standar Pelayanan Maksimum). Adapun standar
prasarana yang dipergunakan di dalam penyusunan laporan adalah sesuai
dengan konsep pedoman perencanaan lingkungan pemukiman Kota
Departemen PU serta disesuaikan dengan keinginan masyarakat lokasi studi
dan tidak terlepas dari arahan Rencana Tata Ruang Wilayah yang mana
penjelasannya telah dipaparkan pada bab tinjauan pustaka sebelumnya.
3. Rumusan masalah ketiga tentang struktur dan tingkat perkembangan
wilayah di Kelurahan Katangka pada tahun 2034 dapat diketahui dengan
menggunakan metode:
a) Analisis Skalogram
28

Metode Skalogram digunakan untuk menjawab pertanyaan


mendasar tentang bagaimana pola fungsi / fasilitas pelayanan, sosial
ekonomi yang terdapat pada berbagai tingkatan perkotaan/ pusat
pelayanan dan bagaimana pola tersebut melayani kebutuhan penduduk di
wilayah yang di tinjau. Dengan kata lain metode ini dapat digunakan
untuk

mengelompokan

satuan

permukiman

berdasarkan

tingkat

kompleksitas fungsi pelayanan yang dimilikinya, serta menentukan jenis


dan keragaman pelayana dan fasilitas yang terdapat pada pusat pusat
pelayanan dengan berbagai tingkatan.
Di samping itu Analisis Skalogram dapat pula digunakan untuk :
Memperlihatkan asosiasi kasar antara fasilitas dan sistem pelayanan pada
suatu lokasi dan kemungkinan hubungan antara mereka.
1. Memperlihatkan urutan fungsi pelyanan yang seyogyanya yang
terdapat pada satuan permukiman dengan tingkatan tertentu.
2. Dengan mengkobinasikan Skalogram dengan peta lokasi fasilitas
pelayanan dan kriteria pelayanan baku, maka dapat diketahui cukup
tidaknya suatu fungsi pelayanan pada wilayah yang ditinjau.
3. Ketidakberadaan suatu fungsi atau fasilitas pada suatu satuan
pelayanan pada suatu satuan pemukiman dapat segera terlihat,
sehingga dengan demikian dapat dilakukan analisis mengapa hal
tersebut dan pengambilan keputusan tantang investasi untuk
pengadaan fungsi atau fasilitas pelayanan tersebut dapat segera
diambil.
4. Keberadaan suatu fungsi atau fasilitas pelayanan yang seharusnya
tidak ada pada suatu permukiman dapat diketahui, sehingga dengan
demikian alasan kebaradan fungsi tersebut. Untuk menyusun
skalogram dibutuhkan seperangkat data sebagai berikut :

Daftar semua pemukiman ada pada wilayah yang ditinjau.

Jumlah penduduk untuk setiap pemukiman.

Peta yang menunjukan lokasi dari setiap pemukiman.

29

Daftar fungsi atau fasilitas pelayanan sosial ekonomi yang terdapat


pada setiap pemukiman.
Penyusunan Skalogram dilakukan dibutuhkan seperangkat data
sebagai berikut :
a. Buat sebuah tabel yang jumlah barisnya sama dengan jumlah
satuan pemukiman ditambah satu, dan jumlah kolomnya sama
dengan jumah fasilitas pelayanan sosial ekonomi yang terdapat
pada wilayah yang ditinjau ditambah satu.
b. Kolom pertama, dimulai pada baris kedua, diisi dengan nama
satuan pemukiman, dimulai dengan satuan pemukiman yang
memiliki jumlah penduduk terbesar.
c. Pada baris pertama dimulai dari kolom kedua berturut turut
kearah kanan diisi dengan nama atau kode dari fungsi / fasilitas
pelayanan. Dengan demikian setiap sel dari tabel tersebut
mewakili

keberadaan

suatu

fungsi

pada

suatu

satuan

pemukiman.
d. Isi dengan tanda X sel yang mewakili fungsi tertentu yang
terdapat pada satu satuan pemukiman.
e. Atur kembali letak suatu fungsi dan satuan pemukiman. Fungsi
yang paling banyak terdapat pada satuan pemukiman diletakkan
pada kolom paling kiri dan satuan pemukiman yang memiliki
jumlah fungsi terbanyak diletakkan pada baris paling atas.
Pengaturan ini diulangi untuk semua satuan pemukiman dan
fungsi yang ada sedemikian rupa sehingga diperoleh pola X
yang mendekati bentuk segitiga.
Adapun variabel-variabel yang digunakan dalam analisis skalogram
yaitu dapat dilihat pada tabel 3.1
Tabel 3.1
Variabel-Variabel dalam Analisis Skalogram
Kelompok
Variabel yang digunakan

30

Indeks
1. Jumlah Toko/Warung/Kios
2. Jumlah Supermarket/Pasar Swalayan/Toserba
Fasilitas
Restoran/rumah makan/kedai makanan
Ekonomi
minuman
3. Jumlah jasa
1. Jumlah TK negeri dan swasta
2. Jumlah SD negeri dan swasta dan yang
Fasilitas
sederajad
Pendidikan
3. Jumlah SLTP negeri dan swasta dan yang
sederajat
4. Jumlah SMU dan SMK negeri dan swasta
1. Jumlah fasilitas pengobatan
Fasilitas
2. Jumlah fasilitas pelayanan obat
Kesehatan
3. Jumlah tenaga medis
1. Jumlah tempat peribadatan
Fasilitas
2. Jumlah lapangan terbuka/alun-alun/taman
Sosial Lain
bermain
3. Panti asuhan
b) Index Tingkat Perkembangan Wilayah
Metode perhitungan indekx tingkat perkembangan wilayah
digunakan untuk membandingkan tingkat atau derajat perkembangan
sub-wilayah yang terdapat pada suatu wilayah dengan menggunakan
beberapa indikator sosial-ekonomi (19).
Metode ini berbasis pada metode pembobotan (Ranting methods)
dan terdiri atas beberapa langkah, yaitu:
1. Menentukan indikator sosial ekonomi.
Indikator sosial ekonomi dimaksudkan disini adalah indikator yang
secara lansung maupun tidak lansung mengukur tingkat pemenuhan
kebutuhan dasar masyarakat seperti: keadaan perumahan, tingkat
pendidikan, derajat kesehatan, kesempatan kerja, dan aksebilitas ke
fasilitas pelayannan umum dan sumber sumber informasi.
2. Mengumpulkan dan mengisi data kedalam tabel
Data-data yang berkaitan dengan indikator tersebut dari setiap sub
wilayah perencanaan dikumpulkan dan diletakkan tepat dibawah nama
dan atau kode indikator masing-masing, dimulai dari sub wilayah
perencanaan yang pertama pada baris kedua, data dari sub wilayah
perencanaan yang pertama pada baris yang ketiga, dan seterusnya.
31

3. Pemberian nilai.
Nilai nominal yang diperoleh pada langka kedua diberi nilai dengan
cara sebagai berikut:
- Memberi rentang nilai yang ada untuk setiap indikator menjadi 3
-

kelompok.
Indikator yang memiliki nilai yang termasuk ke dalam kelompok
dengan rentang nilai terbesar diberi nilai 3, yang termasuk dalam
kelompok dengan rentang nilai terbeser kedua diberi nilai 2, dan

sisanya diberi nilai 1.


- Langkah pada butir diatas diulang untuk setiap indikator yang ada.
4. Pemberian bobot untuk setiap indikator
Setiap indikator memiliki kontribusi yang berlain terhadap pencapaian
derajat kesejahteraan yang diukur dengan tingkat pemenuhan
kebutuhan dasar. Oleh karena itu setiap indikator perlu di beri bobot
yang sebandin dengan kontribusinya masing - masing. Besar bobot
untuk setiap indikator tergantung kepada penelitian si perencana.
5. Menghitung indeks perkembangan pada sub-wilayah
Nilai yang diperoleh untuk setiap indikator, setelah dikalikan dengan
bobotnya masing-masing, dijumlahan dan hasilnya merupakan indeks
tingkat perkembangan yang dicari.
6. Interpretasi Hasil
Hasil perhitungan indeks tingkat

perkembangan

wilayah

dikelompokkan kedalam tiga kategori. Kelompok dengan index


perkembangan tertinggi diinterpretasikan sebagai sub wilayah yang
memiliki tingkat perkembangan terbaik di bandingkan dengan sub
wilayah lainnya yang ada di dalam lingkup wilayah perencanaan.
Kelompok dengan indeks perkembangan menengah merupakan subwilayah dengan tingkat berkembangan sedang. Sedangkan yang
terrakhir, yaitu kelompok yang memiliki nilai terkecil merupakan
kelompok sub-wilayah yang memiliki tingkat perkembangan yang
terelakang dibandingkan dengan sub wilayah lainnya.
F. Defenisi Operasional

32

Dalam defenisi operasional ini ada beberapa pengertian yang berkaitan


dengan pokok pembahasan materi penelitian untuk dijadikan acuan, defenisi
tersebut adalah:
1. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap
unsur yang terkait kepadanya yang batas dan sistemnya ditentukan
berdasarkan aspek administratif dan atau aspek fungsional8.
2. Wilayah administrasi merupakan wilayah yang mendasarkan pada
kepentingan administrasi pemerintahan dengan batas yang telah ditentukan9.
3. Wilayah perencanaan dapat diartikan sebagai wilayah yang menggambarkan
kesatuan-kesatuan keputusan ekonomi.
4. Wilayah kota adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan
pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman
perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan,
pelayanan social, dan kegiatan ekonomi.
5. Kota adalah suatu ciptaan peradaban umat manusia. Kota sebagai hasil dari
peradaban lahir dari pekelurahanan, tetapi kota berbeda dengan
pekelurahanan Pekelurahanan sebagai daerah yang melindungi kota
(P.J.M. Nas 1979 ) 10.

Republik Indonesia, UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang

Reza Pahlawan,Ilmu Wilayah,Blogspot.Com, Juni 2010. http://www.jrezapahlawan. blogspot. com/


2010/06/ilmu-wilayah.html (5 Mei 2011)

10

Bintarto, R. 1984. Interaksi Desa Kota dan permasalahannya, Jakarta : Ghalia Indonesia

33

BAB IV
GAMBARAN UMUM WILAYAH
A. Gambaran Umum Kabupaten Gowa
1. Letak Geografis dan Administrasi
Kabupaten Gowa berada pada 12 38.16' Bujur Timur dan 5 33.6' Bujur
Timur dari Kutub Utara. Sedangkan letak wilayah administrasinya antara 12
33.19' hingga 13 15.17' BT dan 5 5' hingga 5 34.7' LS. Adapun batasbatas wilayah administrasi Kabupaten Gowa adalah sebagai berikut:

Sebelah utara berbatasan dengan Kota Makassar dan Kabupaten Maros

Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Takalar dan Jeneponto

Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Sinjai, Bulukumba dan


Bantaeng

Sebelah barat berbatasan dengan Kota Makassar dan Takalar


Luas wilayah Kabupaten Gowa adalah 1.883,32 km2 atau sama

dengan 3,01% dari luas wilayah Provinsi Sulawesi Selatan.yang terbagi dalam
167 Kelurahan / Kelurahan dari 18 Kecamatan yang ada. Adapun kecamatankecamatan yang berada di Kabupaten Gowa dapat dilihat pada tabel 4.1.
Tabel 4.1
Luas Daerah dan Pembagian Daerah Administrasi
di Kabupaten Gowa pada Tahun 2014
Luas
No
Kecamatan
(Km2)
1 Bontonompo
30,39
29,24
2 Bontonompo
60,09
3
Selatan
19,04
4
Bajeng
48,24
5
Bajeng Barat
20,67
6 Pallangga
28,09
7 Barombong
52,63
8 Somba Opu
84,96
9 Bontomarannu
221,26
10 Pattallassang
91,90
11 Parangloe
34

12
13
14
15
16
17
18

Manuju
Tinggi Moncong
Tombolo Pao
Parigi
Bungaya
Bontolempangan
Tompobulu
Biringbulu

142,87
251,82
132,76
175,53
142,46
132,54
218,84

Sumber: Kabupaten Gowa Dalam Angka 2015

Diagram 4.1
Luas Daerah (Km2) dan Pembagian Daerah Administrasi
di Kabupaten Gowa
300
251.82

250

221.26

218.84

200

175.53

150
84.96

100
50

142.46

142.87

60.09

30.3929.24

48.24
19.04

20.67 28.09

91.9

52.63 (Km2)
Luas

0
132.76

132.54

Sumber: Kabupaten Gowa Dalam Angka 2015

PETA GOWA

35

Luas wilayah Kab. Gowa sekitar 1.883,33 km atau sekitar 3,01% dari luas
wilayah Sulawesi Selatan, terbagi dalam 18 kecamatan yang meliputi 167
desa/kelurahan. Dari 18 kecamatan di Kabupaten Gowa dibagi menjadi 2
golongan kecamatan berdasarkan sebagian besar wilayah, yaitu kecamatan dataran
rendah dan kecamatan dataran tinggi. Luas kecamatan bervariasi dengan tingkat
kelerengan daerah yang bervariasi dari dataran rendah hingga dataran tinggi.
Terdapat 9 kecamatan yang terletak di dataran rendah dan 9 kecamatan di dataran
tinggi. Ibu kota Kabupaten Gowa adalah Sungguminasa, yang meliputi seluruh
wilayah Kecamatan Somba Opu, sebagian Kecamatan Pallangga, dan 2 (dua)
Kelurahan di wilayah Kecamatan Bontomarannu. Disamping itu, dari 18
kecamatan yang terdapat di Kabupaten Gowa, terdapat 3 kecamatan luas, yaitu
Kecamatan Parang Loe dengan luas 221,26 Km atau 11,75% dari luas Kabupaten
Gowa, Kecamatan Tombolo Pao dengan luas 251,82 km atau 13,37% dari luas
Kabupaten Gowa dan Kecamatan Biringbulu yang mempunyai luas 218,84 km
atau 11,26% dari luas Kabupaten Gowa secara keseluruhan. Berikut tabel
mengenai luas daerah dan pembagian daerah administratif di Kabupaten Gowa.
Tabel 4
Luas Daerah dan Pembagian Daerah Administratif
Di Kabupaten Gowa Tahun 2014
Luas

Persentase

(km)

(%)

Bontonompo

30,39

Bontonompo Sel

Kecamatan

Banyaknya Desa/Kelurahan
Defeniti

Persiapa

Jumla

1,61

f
14

n
-

h
14

29,24

1,55

Bajeng

60,09

3,19

14

14

Bajeng Barat

19,04

1,01

Pallangga

48,24

2,56

16

16

Barombong

20,67

1,10

Somba Opu

28,09

1,49

14

14

Bontomarannu

52,63

2,79

Pattalassang

84,96

4,51

Parangloe

221,26

11,75

36

Manuju

91,90

4,88

Tinggimoncong

142,87

7,59

Tombolo Pao

251,82

13,37

Parigi

132,76

7,05

Bungaya

175,53

9,32

Bontolempangan

142,46

7,56

Tompobulu

132,54

7,04

Biringbulu

218,84
1.883,3

11,62

11

11

100,00

167

167

JUMLAH

Sumber : Kabupaten Gowa Dalam Angka 2015

B. Gambaran Umum Kecamatan Somba Opu


1. Letak Geografis dan Administrasi
Kecamatan Somba opu adalah salah satu dari beberapa kecamatan
yang berada di Kabupaten Gowa yang secara geografis terletak pada 12038.
16 bujur timur dari Jakarta dan 5 0 33. 6 bujur timur dari kutub utara
terhadap wilayah Kabupaten Gowa secara keseluruhan. Luas wilayah
Kecamatan Somba Opu adalah 28,09 Km2 atau 1,49 % dari luas total
wilayah Kabupaten Gowa yaitu 1883,33 Km2.
Ibu kota Kecamatan Somba Opu adalah di Kelurahan Sungguminasa
dan sekaligus Kecamatan Somba Opu ditetapkan sebagai Ibu kota
Kabupaten Gowa. Kecamatan Somba Opu merupakan daerah dataran yang
memiliki batas wilayah adminisrasi sebagai berikut :
Sebelah utara berbatasan dengan kota Makassar
Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Bontomarannu
Sebelah barat berbatasan dengan kota Makassar & Kecamatan
Palangga
Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Takalar & Kecamatan
Palangga.

37

Kecamatan Somba opu terdiri dari 28 RW yang tersebar di 14


kelurahan yang ada. Adapun 14 kelurahan tersebut dapat dilihat pada tabel
4.4.

1.

Tabel 4.4
Luas Daerah dan Pembagian Daerah Administrasi
di Kecamatan Somba opu Tahun 2014
Persentase
Banyaknya
Luas
Kelurahan/
Terhadap Luas
Area
Lingkungan/ RW/
Kelurahan
Kecamatan
(Km2)
Lingkungan
RK
(%)
Pandang-Pandang
2,16
5,52
2
9

2.

Sungguminasa

1,46

5,20

19

3.

Tompobalang

1,80

6,41

19

4.

Batangkaluku

1,30

4,63

27

5.

Tamarunang

2,16

7,69

37

6.

Bontoramba

2,12

7,55

14

7.

Mawang

2,99

10,64

14

8.

Romangpolong

2,71

13,21

21

9.

Bonto-Bontoa

1,61

5,73

19

10.

Kalegowa

1,21

4,31

11.

Katangka

1,36

4,84

21

12.

Tombolo

2,06

7,33

12

38

13.

Pacinongan

3,71

8,26

12

53

14.

Samata
Jumlah

1,44
28,09

8,68
100,00

2
28

7
102

18
327

No

RT
19

Sumber: Kecamatan Somba opu Dalam Angka 2015

38

Diagram 4.4
Luas Daerah dan Pembagian Daerah Administrasi
di Kecamatan Somba opu Tahun 2014
14
12
10
8

6.41
5.52
6
Luas Area (Km2)
4

Persentase Terhadap Luas Kecamatan (%)

2
0

5.2

4.637.697.5510.64
13.215.734.314.847.338.268.68

Sumber: Kecamatan Somba opu Dalam Angka 2015

Pada tabel 4.4 dan diagram 4.4 dapat dilihat bahwa wilayah
administrasi Kecamatan Somba opu terdiri dari 14 kelurahan/kelurahan, 28
Lingkungan/lingkungan, 327 RT dengan luas wilayah 28,09 km2.

39

PETA SOMBA OPU

40

C. Gambaran Wilayah Kelurahan Katangka


Kelurahan Katangka adalah salah satu kelurahan yang terletak di
Kecamatan Somba opu Kabupaten Gowa. Jarak tempuh wilayah Kelurahan
Katangka dari Ibukota Kecamatan Somba opu yakni 1,5 Km, sedangkan jarak
dari Ibukota Kabupaten yaitu 1 km.
Kelurahan Katangka memiliki luas wilayah 1,36 Km2 dengan jumlah
penduduk pada tahun 2014 sebanyak 9.512 jiwa.
Letak Geografis dan Administrasi
Kelurahan Katangka merupakan salah satu kelurahan yang terdapat di
Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa. Secara geografis batas
administrasi Kelurahan Katangka berbatasan dengan:

sebelah utara berbatasan dengan Kota Makassar


sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Tombolo
sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Kalegowa
sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan Pandang-Pandang
Untuk lebih jelasnya mengenai pembagian daerah administrasi di

Kelurahan Katangka dapat di lihat pada peta nomor 3


Wilayah administrasi Kelurahan Katangka pada tahun terdiri dari 2
Lingkungan/lingkungan, 8 RW, 21 RT, dengan luas wilayah sekitar 1,36
km2. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.8. berikut:
Tabel 4.8
Luas Daerah dan Pembagian Daerah Administrasi
di Kelurahan Katangka
Lingkunga Luas Area
No.
n
(Km2)
1.
Katangka
0,79
2.

Lakiyung
Jumlah

0,57
1.36

Sumber: Profil Kelurahan Katangka Tahun 2015

Diagram 4.8
Luas Daerah dan Pembagian Daerah Administrasi
di Kelurahan Katangka Tahun 2014
41

0.8
0.7
0.6
Luas Area
(Km2)

0.5
0.4
0.3
0.2
0.1
0
Katangka

Lakiyung

Sumber: Profil Kelurahan Katangka Tahun 2015

42

PETA KATANGKA ADMIN

43

2.

Kondisi Fisik Dasar


a.

Kondisi Topografi
Kondisi topografi yaitu memuat tingkat ketinggian wilayah dihitung
dari dasar permukaan laut.Secara umum keadaan topografi Kelurahan
Katangka adalah kawasan bukan pantai karena pada dasarnya Kabupaten
Gowa adalah salah satu Kabupaten yang tidak memiliki wilayah pesisir
di semua wilayah administrasinya.
Kelurahan Katangka sendiri yakni berupa dataran rendah yang
berada pada ketinggian 7-18 meter dari permukaan air laut. Kondisi
wilayah katangka sendiri terdiri dari wilayah dataran dan terdapat bagian

b.

yang agak berbukit.


Kondisi Geologi
Kondisi geologi yaitu memuat struktur batuan dan tanah yang
menyusun suatu wilayah. Kelurahan Katangka adalah kawasan kelurahan
yang menjadi bagian dari Ibu Kota Kabupaten Gowa yang memiliki jenis
batuan bertekstur Cadas dimana batuan cadas terbentuk karenaproses
pembekuan lava yang keluar dari dapur bumi, tingkat kekuatan pada
batuan ini sedikit rapuh.
Sedangkan jenis tanah di kelurahan ini merupakan jenis tanah
alluvial. Tanah alluvial adalah tanah yang cocok untuk lahan pertanian.
Pada dasarnya tanah aluvial adalah tanah yang belum bekembang atau
tanah yang masih mudah dan tebentuk dari segala bentuk induk tanah.
Sifat taah aluvial dipengaruhi oleh sumber bahan asal sehingga tingkat
kesuburannya pun berbeda-beda.

c.

Kondisi Hidrologi
Kondisi hidrologi meliputi air permukaan dan air tanah yang terdapat
dalam wilayah Kelurahan Katangka.
1) Air Permukaan
Sumber air permukaan di Kelurahan Katangka berasal dari aliran
air drainase yang berasal dari limbah rumah tangga penduduk,
limpasan air hujan serta air sungai yang alirannya berasal dari
Kelurahan Bontoala Kecamatan Somba Opu.

44

Selain itu juga terdapat sumber air bersih PDAM yang melayani
penduduk di Kelurahan Katangka.
2) Air Tanah
Selain air permukaan, sumber air yang dapat dimanfaatkan oleh
penduduk di Kelurahan Katangka yaitu air tanah. Air tanah yang
digunakan oleh penduduk di kelurahan ini berupa sumur gali dan
sumur bor, meskipun penggunaan sumur ini bagi penduduk di
Kelurahan Katangka lebih sedikit dibandingkan dengan penggunaan
air PDAM.
Selain air permukaa dan air Tanah di Kelurahan ini terdapat
genangan periodik yang letaknya pada lahan persawahan karena air
hanya tergenang di lahan ini pada musim hujan.
d.

Kondisi Klimatologi
Iklim dan cuaca sangat mempengaruhi pola kehidupan penduduk di
Kelurahan Katangka utamanya pada penduduk yang bermata pencaharian
pada sektor pertanian. Sebagaimana Kelurahan yang lainnya, Kelurahan
Katangka mempunyai iklim tropis dengan dua musim yaitu musim
kemarau antara bulan Maret November dan musim hujan antara bulan
Desember Februari. Suhu udara mencapai 22 0C - 330C, curah hujan
antara 2000mm-3000mm dengan fluktuasi rata-rata 177 pertahun.

e.

Tata Guna Lahan


Kelurahan Katangka merupakan salah satu kelurahan di Kecamatan
Somba Opu. Luas total wilayahnya mencapai 1,36 km 2. Penggunaan
lahan di Kelurahan Katangka meliputi lahan pertanian bukan sawah
( kebun ), serta lahan nonpertanian ( industri, perumahan, perkantoran,
pertokoan, dll) mencapai.
Penggunaan fungsi lahan nonpertanian di Kelurahan Katangka
diperuntukkan bagi penetapan fasilitas-fasilitas pemukiman. Untuk lebih
jelasnya penggunaan lahan di Kelurahan Katangka dapat dilihat pada
tabel 4.9.
Tabel 4.9

45

N
o.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
9.
10
.
11
.
12
.
13
.
14
.
15
.
16
.
17
.

Aspek Penggunaan Lahan


di Kelurahan Katangka Tahun 2015
Luas Lahan
Jenis
yang
Persentase
Penggunaan
digunakan
(%)
Lahan
(Ha)
Rawa-rawa
5,34
3,93
Kebun
9,94
7,31
Lahan Kosong
2,74
2,01
Pemakaman
7,26
5,34
Fasilitas Olahraga
0,50
0,37
Sejarah
0,01
0,01
Ruang Terbuka
10,21
7,51
Fasilitas Permukiman
87,11
64,05
Fasilitas Perdagangan

2,10

Fasilitas Perkantoran

0,05

Fasilitas Pendidikan

0,41

Fasilitas Kesehatan

0,33

Fasilitas Peribadatan

0,96

Fasilitas Jasa

0,95

Fasilitas Sosial

0,06

Jalan

7,62
Jumlah

136

1,54
0,04
0,30
0,24
0,71
0,70
0,04
5,60
100

Sumber: Profil Kelurahan Katangka Tahun 2015 dan survey lapangan tahun 2015

46

Diagram 4.9
Aspek Penggunaan lahan
di Kelurahan Katangka Tahun 2014

Rawa-rawa

0.06
0.95
0.96
7.625.34 9.94 2.74
Lahan
Kosong
Pemakaman
Olahraga
7.26
0.33

Kebun

0.5

0.41

0.01

0.05
RTH

Sejarah

2.1
Permukiman Perdagangan

Perkantoran

10.21
Pendidikan Kesehatan

87.11

Peribadatan Jasa

Sosial

Jalan

Sumber: Profil Kelurahan Katangka Tahun 2015 dan survey lapangan tahun 2015

47

a. Kondisi Topografi57
b.

48

c. Kondisi Geologi

49

GEO

50

d. Kondisi Hidrologi

51

e. Kondisi Klimatologi

52

f. Tata Guna Lahan

53

Gambar 4.1 Rawa-rawa


di Kelurahan katangka

3.

Gambar 4.2 Kebun


di Kelurahan katangka

Aspek Kependudukan
a.

Jumlah dan Kepadatan Penduduk


Luas wilayah Kelurahan Katangka yaitu 1,36 km2. Yang terdiri 2
lingungan Adapun Pertumbuhan Jumlah penduduk dalam lima tahun
tahun terakhir terjadi peningkatan jumlah penduduk. Dimana pada tahun
2010 jimlah pendudk di kelurahan ini berjumlah 7.201 jiwa dengan
kepadatan penduduk 5.301 jiwa/km2 jumlah ini terus meningkat hingga
pada tahun 2014 jumlah penduduk mencapai 9.512 jiwa dengan
kepadatan jumlah penduduk mencapai 6.994 jiwa/km2
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel beriut mengenai jumlah
dan kepadatan penduduk di Kelurahan Katangka Tahun 2009-2014.

N
o
1.
2.
3.
4.
5.

Tabel 4.10
Jumlah dan KepadatanPenduduk
di Kelurahan Katangka Tahun 2007-2014
Kepadat
an
Jumlah
Tahu
Pertumbu
Pendud
Pendud
n
han
uk
uk
(jiwa/km
2
)
2010
7.201
5.301
2011
7.340
+139
5.397
2012
7.406
+66
5.446
2013
9.339
+1.933
6.867
2014
9.512
+173
6.994
54

RataRata

8.160

578

6001

Sumber: Kecamatan Somba opu Dalam Angka 2015

Diagram 4.10
Jumlah dan Pertumbuhan Penduduk
di Kelurahan Katangka Tahun 2007-2014
10,000
9,000
8,000
7,000
6,000
5,000
4,000

9,512

9,339
jumlah penduduk (JIW
A)
7,201 7,340 7,406

3,000
2,000
1,000
0

2010

2011

2012

2013

2014

Sumber: Kecamatan Somba opu Dalam Angka 2015

Diagram 4.11
Kepadatan Penduduk
di Kelurahan Katangka Tahun 2010-2014
7,000
6,000
5,000
4,000
3,000

6,867
jumlah kepadatan
penduduk (JIWA)
5,446
5,397
5,301

6,994

2,000
1,000
0

2010

2011

2012

2013

2014

Sumber: Kecamatan Somba opu Dalam Angka 2015

Adapun jumlah dan kepadatan penduduk Kelurahan Katangka dirinci


menurut Lingkungan dapat dilihat pada tabel 4.11.

55

Tabel 4.11
Jumlah dan Kepadatan Penduduk
di Kelurahan Katangka Tahun 2014

No.

1.
2.

Nama
Lingkung
an

Jumlah
Pendudu
k (jiwa)

Luas
Wilaya
h (Km2)

5.714
3.798
9.512

0,79
0,57
1,36

Katangka
Lakiyung
Jumlah

Kepadata
n
Pendudu
k
(Jiwa/Km2
)
7233
6663
13.895

Sumber:Profil Kelurahan Katangka Tahun 2015

Diagram 4.12
Kepadatan Penduduk Menurut Lingkungan
di Kelurahan Katangka Tahun 2014
5714
6000
5000
4000
3000
2000
1000
0

3798
jumlah penduduk (JIWA)

Katangka

Lakiyung

Sumber:Profil Kelurahan Katangka Tahun 2015

56

PETA KEPADATAN PENDUDUKduduk

57

b.

Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin


Berdasarkan jenis kelamin tampak bahwa jumlah laki-laki tahun
2010 adalah 561 jiwa dan jumlah penduduk perempuan 599 jiwa. Dengan
demikian rasio jenis kelamin Dalam Angka 2015 sekitar 93P yang berarti
setiap 100 orang penduduk perempuan terdapat sekitar 93 orang
penduduk laki-laki. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.12.

Jumla
h KK
2.063

Tabel 4.12
Penduduk Menurut Jenis Kelamin
di Kelurahan Katangka Tahun 2015
Jenis Kelamin
Rasio Jenis
Laki-laki

Perempuan

Jumlah

Kelamin

(Jiwa)

(Jiwa)

(Jiwa)

4.736

4.776

9.512

(P)
97

Sumber:Profil Kelurahan Katangka Tahun 2015

Diagram 4.13
Penduduk Menurut Jenis Kelamin
di Kelurahan Katangka Tahun 2015

4,776
perempuan
laki-laki
4736

Sumber: Kecamatan Somba opu Dalam Angka 2015

c.

Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama


Penduduk di Kelurahan Katangka pada tahun 2014 berjumlah
9.512, di manapenduduknya mayoritas beragama Islam. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.13

Tabel 4.13
Penduduk Berdasarkan Agama
58

di Kelurahan Katangka Tahun 2014


Kelurah
an
Katang
ka

Islam
9.250

Kriste

Kathol

ik

65

24

Hindu
-

Budh
a
-

SSumber: Profil Kelurahan Katangka Tahun 2015

Diagram 4.14
Penduduk Berdasarkan Agama
di Kelurahan Katangka Tahun 2014
10,000
8,000
6,000

9250
4,000
jumlah penduduk (JIWA)
2,000
65 24
0

Sumber: Profil Kelurahan Katangka Tahun 2015

4.

Aspek Fasilitas/Sarana
a.

Fasilitas Perkantoran
Fasilitas perkantoran merupakan fasilitas penting bagi suatu daerah.
Suatu daerah tidak akan menjalankan tugas-tugas pemerintahannya
dengan baik jika tidak memiliki fasilitas perkantoran. Oleh karena itu,
Pemerintah mendirikan satu unit fasilitas perkantoran di Kelurahan
Katangka, yakni berupa 1 unit kantor kelurahan, Pegadaian dan L.P
HAM.
Tabel 4.14
Fasilitas Perkantoran di Kelurahan Katangka Tahun 2015
Banyakn
N
Fasilitas
Lokasi
ya
o. Perkantoran
Fasilitas
1. kantor kelurahan
ling.katangka
1
2. kantor pegadaian
ling.katangka
1
3.
kantor l.p ham.
ling.katangka
1
Jumlah
3
59

Sumber: Survey Lapangan 2015

Gambar 4.3 Kantor Kelurahan


di Katangka

Gambar 4.4 Pegadaian di


Kelurahan Katangka

Gambar 4.5 Kantor Lembaga Perlindungan HAM


di Kelurahan Katangka

60

MUKIM

61

Perkantoran

62

b.

Fasilitas Pendidikan
Di Kelurahan Katangka terdapat 5 unit fasilitas pendidikan.yang
terdiri dari 2 unit PLAY GROUP dan TK, 3 unit SD. Untuk Lebih
jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.15.
Tabel 4.15
Fasilitas Pendidikan
di Kelurahan Katangka Tahun 2015
TK dan
N
Lingkun
SM SMA/SM
PLAY
SD
o.
gan
P
K
GROUP
1.
Katangka
1
2.
Lakiyung
2
2
Jumlah
2
3
Sumber: Survey Lapangan 2015

Gambar 4.6 Tk dan Play Gruop


di kelurahan Katangka

Gambar 4.7 Sekolah Dasar


Kelurahan Katangka

Gambar 4.8 SDI Lakiyung

Gambar 4.9 SDI Katangka

di kelurahan Katangka

di Kelurahan Katangka

Pendidikan

63

c.

Fasilitas Kesehatan
Hidup sehat adalah idaman setiap insan manusia. Dan jika sedang
menderita sakit, maka secepatnya pula penyakit itu harus diobati oleh
para ahlinya masing-masing. Olehnya itu, Pemerintah di Kelurahan
Katangka

menyediakan

fasilitas

kesehatan,

yang

terdiri

dari

poskesdes/polindes, apotek, dan rumah sakit. Untuk lebih jelasnya dapat


dilihat pada tabel 4.16.
Tabel 4.16
Fasilitas Kesehatan
di Kelurahan Katangka Tahun 2015
No
.

1.
2.

Lingkung
an

Katangka
Lakiyung
Jumlah

Puskes
mas

Pust
u

1
1

Posyan
du

1
1
2

B.Pengobatan
& Rumah
Bersali

1
1

Klini

Apoti

3
1
4

1
1
2

Sumber: Survey Lapangan 2015

Gambar 4.10 Posyandu


di kelurahan Katangka

Gambar 4.12 Klinik Gigi


di kelurahan Katangka

Gambar 4.11 Pustu


di Kelurahan Katangka

Gambar 4.13 Balai Pengobatan


dan rumah bersalin di Kelurahan Katangka

64

Gambar 4.14 Posyandu


di kelurahan Katangka

65

Kesehatan

66

d.

Fasilitas Peribadatan
Seluruh penduduk Kelurahan Katangka yang berjumlah 1.160 jiwa,
menganut agama Islam. Olehnya itu di Kelurahan ini hanya terdapat
fasilitas peribadatan untuk umat Islam, yaitu berupa masjid dan
mushallah.
Di kelurahan Katangka terdapat 1 mesjid yang merupakan salah
satu wisata budaya bersejarah di kelurahan Katangka yaitu, Mesjid Tua
Al-Hilal, yang merupakan Mersjid tertua di Sulawesi SelatanBarat.Adapun jumlah masjid di kelurahan ini dapat dilihat pada Tabel
4.17.
Tabel 4.17
Fasilitas Peribadatan
di Kelurahan Katangka Tahun 2015
N
o.
1.
2.

Lingkungan
Katangka
Lakiyung
Jumlah

Mesjid
6
3
9

Sumber: Survey Lapangan 2015

Gambar 4.15 Fasilitas Peribadatan (Masjid AL-HILAL)

Gambar 4.16 Fasilitas Peribadatan


(Mesjid)

Gambar 4.17 Fasilitas Peribadatan


( Mesjid)

Peribadatan
67

e.

Fasilitas Perdagangan dan Jasa


Pembangunan suatu wilayah sangat ditentukan oleh tingkat
perekonomian penduduk di wilayah tersebut. Oleh karena itu, fasilitas
perdagangan dan jasa sangat diperlukan didaerah ini agar dapat
menunjang pembangunan didaerah ini. Adapun jumlah fasilitas
perdagangan dan jasa di Kelurahan Katangka dapat dilihat pada Tabel
4.18.

N
o.
1.
2.
3.
N
o.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Tabel 4.18
Fasilitas Perdagangan dan Jasa
di Kelurahan Katangka Tahun 2015
Banyaknya
Fasilitas Perdagangan
Fasilitas (unit)
Kios
25
Toko
125
Warung Makan
11
Banyaknya Fasilitas
Fasilitas Jasa
(unit)
Tukang Jahit
3
Bengkel
7
Laudry
1
Warnet
3
Service Barang Elekrtonik
1
Salon
3
Tukang kayu
1
Cuci Motor
1
Warkop
2
Jumlah
183

Sumber: Survey Lapangan 2015

Gambar 4.18 Fasilitas Perdagangan


(Ruko) di Kelurahan Katangka

Gambar 4.19 Fasilitas Perdagangan


(Kios) di Kelurahan Katangka

68

Gambar 4.20 Fasilitas Jasa


(Bengkel) di Kelurahan Katangka

f.

Gambar 4.21 Fasilitas Jasa


(Warnet) di Kelurahan Katangka

Fasilitas Olahraga
Di Kelurahan Katangka juga terdapat fasilitas olahraga, bagi warga
yang ingin menyalurkan hobbynya dalam bidang olahraga, untuk lebih
jelasnya dapat di lihat pada tabel berikut.
Tabel 4.19
Fasilitas Olahraga
di Kelurahan Katangka Tahun 2015
N
o.
1.
2.

Fasilitas Olahraga

Jumlah

Lapangan
Lapangan Bulutangkis
Jumlah

2
1
3

Sumber: Survey Lapangan 2015

Gambar 4.22 Fasilitas Olahraga

69

Perdagangan

70

Jasa

71

Olahraga

72

g.

Fasilitas Sosial
Selain fasilitas olahraga di kelurahan Katangka juga terdapat
fasilitas sosial, seperti panti asuhan yang memberikan bukti nyata
kepadulian warganya terhadap manusia khususnya anak-anak, untuk
lebih jelasnya dapat di lihat pada tabel berikut.
Tabel 4.20
Fasilitas Sosial
di Kelurahan Katangka Tahun 2015
No.
1.

Fasilitas Sosial
Panti asuhan
Jumlah

Jumlah
2
2

Sumber: Survey Lapangan 2015

Gambar 4.23 Fasilitas sosial (Panti Asuhan)

73

Sosial

74

h.

Fasilitas Industri
Selain memiliki Jiwa Sosial, warga di Kelurahan Katangka juga
pekerja keras hal ini dapat di buktikan dengan berdirinya sebuah
industri ,yang dapat membuka lapangan kerja untuk penduduk di
sekitarnya untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari tabel berikut.
Tabel 4.21
Fasilitas industri
di Kelurahan Katangka Tahun 2015
N
o.
1.

Fasilitas Sosial

Jumlah

Pabrik DHT
Jumlah

1
1

Sumber: Survey Lapangan 2015

i.

Fasilitas RTH
Lahan yang belum dibangun atau sebagian besar belum dibangun
di wilayah perkotaan yang mempunyai nilai untuk keperluan taman dan
rekreasi; konservasi lahan dan sumber daya alam lainnya; atau
keperluan sejarah dan keindahan.
1. RTH makro, seperti kawasan pertanian, perikanan, hutan lindung,
hutan kota dan landasan pengaman bandar udara.
2. RTH medium, seperti kawasan area pertamanan ( city park ),
sarana olahraga, pemakaman umum.
3. RTH mikro, yaitu lahan terbuka yang ada di setiap kawasan
permukiman yang disediakan dalam fasilitas umum seperti taman
bermain ( play ground ), taman lingkungan ( community park ) dan
lapangan olahraga.
Kelurahan Katangka dengan luas 1,36 km2 memiliki RTH yang
lumayan luas , berupa Kebun, lahan Kosong, rawa-rawa serta
pemakaman baik pemakaman umum maupun pemakaman yang bernilai
sejarah. untuk lebih jelasnya Fasilitas pemakamn dapat di lihat pada
tabel berikut.

75

Tabel 4.22
Fasilitas Pemakaman
di Kelurahan Katangka Tahun 2015
N
o.
1.
2.
3.
4.
5.

Fasilitas Olahraga

Jumlah

Pemakaman Sultan Hasanuddin


Pemakaman Aru Palakka
Pemakaman syech Yusuf
Kompleks makam Keluarga keturunan

1
1
1

raja Gowa
Pemakaman Umum
Jumlah

1
2
6

Sumber: Survey Lapangan 2015

Gambar 4.24 Fasitas Pemakaman umum yang ada di kelurahan Katangka

76

Industri

77

rth

78

4.

Aspek Utilitas/Prasarana
a.
Utilitas Jaringan Jalan
Fungsi jalan yang terdapat di Kelurahan Katangka yaitu tergolong
kolektor sekunder dan lokal sekunder. Jenis jalannya tediri dari jalan
aspal dan tanah dengan kondisi baik dan kurang baik. Untuk lebih
jelasnya sampel utilitas jaringan jalan di Kelurahan Katangka dapat
dilihat pada tabel 4.22.
Tabel 4.23
Utilitas Jaringan Jalan
di Kelurahan Katangka Tahun 2015
No.
Nama Jalan
Jenis
Fungsi Jalan
Jalan
1. Jl. Sultan
Aspal
Lingkungan
Hasanuddin
2. Jl. Syech Yusuf
Aspal
Kolektor Sekunder
3. Jl. Syech Yusuf 1
Beton
Lingkungan
4. Jl. Syech Yusuf 2
Beton
Lingkungan
5. Jl. Syech Yusuf 3
Beton
Lingkungan
6. Jl. Syech Yusuf 4
Aspal
Lingkungan
7. Jl. Syech Yusuf 5
Beton
Lingkungan

Kurang Baik
Kurang Baik
Kurang Baik
Buruk
Kurang Baik
Kurang Baik

8.
9.
10.

Baik
Kurang Baik
Buruk

Jl. Pallantikan Raya


Jl. Pallantikan 3
Jl. Pallantikan 5

Aspal
Aspal
Beton

Kolektor sekunder
Lingkungan
Lingkungan

Kondisi
Jalan
Baik

Sumber: Survey Lapangan 2015

Gambar 4.25 Utilitas Jaringan Jalan


(Jl.Pallantikan Raya)

Gambar 4.26 Utilitas Jaringan Jalan


(Jl.Pallantikan 3)

79

Gambar 4.27 Utilitas Jaringan Jalan

Gambar 4.28 Utilitas Jaringan Jalan

Jl.Syech Yusuf

b.

Utilitas Jaringan Telekomunikasi


Di Kelurahan Katangka, sudah terdapat jaringan telepon namun
distribusi penyebaran jaringannya sudah menyeluruh ke setiap rumah
pendudukSelain jaringan telepon, warga di Kelurahan Katangka juga
menggunakan ponsel sebagai alat komunikasinya. Adapun layanan pusat
telepon seluler yang terdapat di Kelurahan Katangka sudah banyak
seperti Indosat, Xl, Tree, Telkomsel dan lain-lain.

Gambar 4.29 Utilitas Jaringan


Telepon di Katangka

Gambar 4.30 Utilitas Jaringan


Telepon di Katangka

80

jalan

81

jalan

82

jalan

83

telekom

84

c.

Utilitas Jaringan Air Bersih


Tingkat pelayanan kebutuhan air bersih pada Kelurahan
Katangka sudah cukup baik, dimana sumber air bersih berasal dari
sistem pompanisasi dan PDAM yang mana telah digunakan oleh
sebagian besar penduduk yang tinggal di kelurahan Katangka. Sumur
gali dan sumur bor juga merupakan sumber air bersih bagi sebagian
penduduk yang belum memasukkan jaringan PDAM kerumah-rumah.
Adapun ukuran-ukuran diameter pipa yang berasal dari
jaringan PDAM yang terletak pada tiap RW sebagai berikut:
- Diameter pipa jaringan primer adalah 65 cm
- Diameter pipa jaringan sekunder adalah 25 cm
- Diameter pipa jaringan tersier adalah 2,5 cm
Pipa jaringan primer (pipa induk) terdapat disepanjang jalan
yang selanjutnya berhubungan dengan pipa jaringan tersier yang
terdapat di rumah-rumah penduduk. Berdasarkan hasil wawancara
kami kepada masyarakat, dimana pada Kelurahan Katangka ,
sebagian besar penduduknya menggunakan PDAM sebagai sumber
air bersih rumah tangga.
Dengan jumlah pengguna PDAM yang cukup banyak maka
Kelurahan Katangka, telah tersuplai hampir sepenuhnya air bersih
dari PDAM. Hal ini menyebabkan sumur pompa dan sumur gali
sangat sedikit atau pengambilan air tanah sangat kecil.

Gambar 4.31 Utilitas Jaringan Air Bersih(Sumur gali)

85

Gambar 4.32 Utilitas Jaringan Air Bersih(Pipa PDAM)

d.

Utilitas Jaringan Persampahan


Di Kelurahan Katangka, sistem pengolahan sampah oleh

masyarakatnya ada tiga macam, yaitu :


1. Individual langsung, yaitu mengumpulkan sampahnya lalu dibakar.
2. Komunal tidak langsung, yaitu tiap warga mengumpulkan sampahnya
pada TPS yang ada di Kelurahan yang berada lebih dekat dari sekitar
rumah masing-masing warga kemudian sampah tersebut akan ditindak
lanjuti oleh truk Pengangkut sampah.

Gambar 4.33 Persampahan

Gambar 4.34 Persampahan

86

air

87

e.

Utilitas Jaringan Listrik


Utilitas jaringan listrik di Kelurahan Katangka sudah menjangkau
semua bagian wilayah administrasi Kelurahan Katangkd.
Di Kelurahan Katangka terdapat 4 gardu listrik. Adapun distribusi

penyaluran listriknya terbagi atas tiga, yaitu:


1. Tegangan rendah (450-900 watt).
2. Tegangan menengah (900-1300 watt).
3. Tegangan tinggi (lebih dari 1300 watt);

Gambar 4.35 Utilitas Jaringan Listrik


f.

Utilitas Jaringan Drainase


Drainase adalah suatu sistem pembuangan air yang ada, baik untuk
air hujan maupun air limbah.Dengan adanya tingkat pelayanan dan
kondisi fisik yang belum memadai di beberapa lokasi, maka pada
musim hujan sering menimbulkan banjir dan terjadinya pencemaran
lingkungan yang disebabkan oleh sistem pembuangan limbah tidak
terencana dengan baik terutama limbah rumah tangga.
Fungsi drainase yang terdapat di Kelurahan Katangka yaitu
tergolong drainase sekunder dan tersier. Adapun jenis drainasenya
tergolong drainase semi permanen, dan drainase permanen dengan
kondisi buruk dan baik. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel
4.23 mengenai jaringan drainase di Kelurahan Katangka.

No.

Tabel 4.24
Utilitas Jaringan Drainase
di Kelurahan Katangka Tahun 2015
Nama Jalan
Jenis
Fungsi
Drainas
Drainase

Kondisi
Drainase
88

e
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Jl. Sultan
Hasanuddin
Jl. Syech Yusuf
Jl. Syech Yusuf 1
Jl. Syech Yusuf 2
Jl. Syech Yusuf 3
Jl. Syech Yusuf 4
Jl. Syech Yusuf 5
Jl. Pllantikan Raya
Jl. Pllantikan 3
Jl. Pllantikan 5

Beton

Sekunder

Kurang Baik

Beton
Beton
Beton
Beton
Beton
Beton
Beton
Beton
Beton

Sekunder
Tersier
Tersier
Tersier
Tersier
Tersier
Sekunder
Tersier
Tersier

Buruk
Kurang Baik
Kurang Baik
Kurang Baik
Kurang Baik
Kurang Baik
Kurang Baik
Kurang Baik
Kurang Baik

Sumber: Survey Lapangan 2015

Gambar 4.36 Utilitas Jaringan Drainase Gambar 4.37 Utilitas Jaringan Drainase
Drainase Sekunder

W
d
b
Keterangan : w (Lebar Penampang Atas) = 1 m
d (Tinggi Penampang) = 70cm
b (Lebar Penampang Bawah) = 0,5 m

89

Drainase Tersier

W
d
b
Keterangan : w (Lebar Penampang Atas) = 20,30 cm
d (Tinggi Penampang) = 20, 30, 40 cm
b (Lebar Penampang Bawah) = 15, 20 cm

90

listrik

91

got

92

got

93

got

94

5.

Aspek Sosial Budaya


Kelurahan Katangka merupakan salah satu kelurahan Kelurahan
katangka adalah salah satu kelurahan yang penduduknya hidup dengan teap
mempertahankan aspek sosial nya dalam kehidupan sehari-ari, seperti
gotong-royong dan saling membantu, penduduk di Kelurahan ini juga
menjaga keakraban dan kekompakan di antara tiap warga, dan tetap
menjaga peninggalan-peninggalan yang bernilai sejarah yang ada di
kelurahan Katangka
Beberapa peninggalan,ataupun situs-situs bersejarah, baik itu makam
para pahlawan,ataupun peninggalan para raja-raja Gowa terdahulu untuk
lebih jelasnya dapat di lihat pada tabel berikut.
Tabel 4.25
Situs Bersejarah
di Kelurahan Katangka Tahun 2015
N
o.
1.

2.

Fasilitas Olahraga
Pemakaman Sultan
Hasanuddin

Pemakaman Aru Palakka

Keterangan
Makam Sultan Hasanuddin berada di Lingkungan
Katangka, yang di dalamnya terdapat batu
pallantikang
Aru palakka meruakan raja keturunan Bone,Makam
Aru Palakka berapa di sebelah barat kelrahan
Katangka
Di dalam kompleks ini terdapat 4 buah cungkup dan

3.

Pemakaman syech Yusuf

sejumlah makam biasa. Makam Syekh Yusuf


terdapat di dalam cungkup terbesar, berbentuk bujur
sangkar Pintu masuk terletak di sisi Selatan
Kompleks ini terletak di sebelah utara bukit

4.

5.

Kompleks makam

Tamalate yang Pada bagian kepala terdapat

Keluarga Keturunan raja

semacam gunungan yang dilengkapi dengan

Gowa

kaligrafi ayat-ayat suci Al-Qur'an dan identitas yang

Buhung Bissu

dimakamkan..
Bangunan sumur ini terletak di sebelah timer Batu
Tumanurung. Dahulu sumur ini hanya digunakan

95

para pendeta (bissu-bissu). Sumur ini berukuran 4 x


4 meter Konstruksinya dan bahan batu bata
Bungung Barania terletak di sebelah barat daya
kompleks makam Tamalate. Cerita rakyat yang
berkembang menuturkan bahwa Bungung Barania
6.

Buhung Barania

dahulu merupakan tempat minum prajurit


(pakkanna) sebelum berangkat perang. Mereka
percaya bahwa minum air Bungung Barania akan
menambah keberanian (mempertinggi sikap ksatria).
Mesjid Katangka didirikan pada tahun 1605 M.

7.

Mesjid Al-hilal

Sejak berdirinya telah mengalami beberapa kali


pemugaran, Yang masih menarik adalah ukuran
tebal tembok kurang lebih 90 cm
Batu pallantikang sesungguhnya merupakan batu
alami tanpa pembentukan, terdiri dari satu batu

Batu Pallantikang

andesit yang diapit 2 batu kapur. Batu andesit


merupakan pusat pemujaan yang tetap disakralkan
masyarakat sampai sekarang

Sumber: Survey Lapangan 2015

Gambar 4.38 Makam Aru Palakka

Gambar 4.40 Makam Syech Yusuf

Gambar 4.39 Mesjid Al-Hilal

Gambar 4.41 Makam Sultan


Hasanuddin

96

Gambar 4.42 Kompleks makam keluarga keturunan raja Gowa

Gambar 4.43 Buhung Barania

Gambar 4.44 Buhung Barania

97

sejarah

98

BAB V
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
A. Analisis Posisi Strategis Kawasan
Pada suatu wilayah, letak geografis dan administrasi juga akan sangat
berpengaruh terhadap perkembangan dan pembangunan pada wilayah tersebut,
baik pengaruh internal dari wilayah tersebut maupun pengaruh dari wilayah
sekitarnya.
Kelurahan Katangka yang secara administratif Kelurahan Katangka
berada tidak jauh ibukota dari Kecamatan Somba opu yang merupakan pusat
pelayanan bagi Kecamatan Somba opu serta berbatasan langsung dengan kota
Makassar. Dengan posisi ini, Kelurahan Katangka memiliki aksesibilitas yang
baik dalam menjangkau fungsi-fungsi pelayanan yang ada di Kelurahan
Sungguminasa.
B. Analisis Aksesibilitas
Jalan merupakan salah satu penunjang utama fungsi fungsi sistem, baik
itu sistem sosial, ekonomi dalam kehidupan sehari-hari, dan penunjang bagi
berjalannya transportasi dengan baik namun apabila jalan rusak maka
transportasi pun akan terganggu. Jalan yang mengalami kerusakan diakibatkan
oleh tidak sesuainya volume kendaraan dengan kapasitas jalan.
Diliat dari aksesiblitas di kelurahan ini sudah baik namun ada beberapa
jalan yang mengalai kondisi buruk yaitu di jalan syech. Yusuf yang mengalami
genangan akibat drainase yang kurang baik hal ini tentunya berpengaruh pada
sisem pergerakan di koridor jalan ini dan sekitarnya.
Berdasarkan hasil penelitian, jenis jalan yang ada di Kelurahan Katangka
adalah jalan aspal, paving blok, beton dan pengerasan. Sehingga untuk
kedepannya agar dapat meningkatkan akses masyarakat terhadap fungsi-fungsi
pelayanan maka perlu peningkatan kualitas jalan khususnya untuk jalan-jalan
yang kondisinya masih kurang baik dan jenis jalan pengerasan.
C. Analisis Fisik Dasar Wilayah
1. Analisis Topografi

99

Kelurahan Katangka terletak pada 7-18 mdpl dengan kemiringan


Berdasarkan topografi tersebut dapat diketahui bahwa di Kelurahan
Katangka memiliki topografi wilayah datar dan topografi wilayah
perbukitan. Untuk topografi daerah datar di Kelurahan ini, sangat cocok
untuk

dijadikan

sebagai

kawasan

budidaya

sebagai

kawasan

pengembangan utama dan didukung oleh kawasan permukiman dan


kawasan sistem pusat kegiatan.
Adapun budidaya yang dapat dikembangkan pada daerah datar di
Kelurahan Katangka yaitu budidaya dibidang pertanian yang meliputi
kegiatan persawahan dan perkebunan mengingat bahwa potensi Kelurahan
Katangka ini berada dibidang pertanian. pengembangan budidaya tertentu
yang memang sangat cocok untuk keadaan topografi yang dimiliki
kawasan itu. Sedangkan untuk kawasan pengembangan sistem pusat
kegiatannya berupa kegiatan campuran maupun yang spesifik, yang
memiliki fungsi strategis dalam menarik berbagai kegiatan pemerintahan,
sosial, ekonomi, dan kegiatan pelayanan kota menurut hirarki yang terdiri
dari sistem pusat penunjang yang berskala lokal.
Untuk topografi daerah perbukitan di

Kelurahan

Katangka,

peruntukkan lahannya hanya di arahkan ke kawasan lindung seperti hutan


agar pohon-pohon yang di tanam pada kawasan hutan tersebut dapat
mencegah terjadinya erosi dan banjir pada daerah datar di wilayah
tersebut.
2. Analisis Geologi Dan Jenis Tanah
Berdasarkan jenis struktur tanah yang terdapat di kelurahan ini yakni
jenis tanah alluvial yang mana berdasarkan pengklasifikasiannya, jenis
tanah ini tidak peka terhadap erosi sehingga jenis tanah ini sangat
menunjang dalam pengembangan lahan pertanian di Kelurahan Katangka.
Dari jenis batuan di Kelurahan ini terdiri jadi batuan jenis Cadas yang
dalam perkembangannya batuan ini merupakan batuan beku yang tingkat
kekerasannya sedang, meskipun memeliki tingkat kekresan sedang bukan
berarti batuan ini tidak memiliki manfaat, batuan ini dapat dimanfaatkan
sebagai media ukir yang tenuna akan meningkatkan ekonomi masyarakat
di Kelurahan Katangka.
100

3. Analisis Hidrologi
Apabila dilihat dari potensi sumber daya air, di Kelurahan Katangka
sebagian besar penduduknya penggunakan PDAM, dan semua wilayah di
Kelurahan Katangak sudah terlayani dengan PDAM. mengingat sebagian
dari wilayah katanggka terdapat batuan keras yang menghambat proses
pengeboran untuk mengambil sumber air , sehingga ke depannya agar
menyediaan air untuk daerah katangka mungkin lebih di perhatikan
mengingat air adalah ketubuhan utama manusia
4. Analisis Klimatologi
Iklim dan cuaca sangat mempengaruhi pola kehidupan penduduk di
Kelurahan Katangka. Kelurahan Katangka memiliki iklim sedang dengan
intensitas curah curah hujan antara 2000mm-3000mm dengan fluktuasi
rata-rata 177 pertahun.. Kondisi iklim ini sangat mendukung untuk
pengembangan kawasan budidaya pertanian di Kelurahan Katangka.
Sehingga hal ini sejalan dengan Kondisi struktur jenis tanah di kelurahan
ini yang sangat mendukung untuk bedidaya pertanian.
5. Analisis Penggunaan Lahan
Pola penggunaan lahan merupakan pencerminan dari bentuk
hubungan antara penduduk dengan lingkungannya. Selain itu, penggunaan
lahan merupakan indikator yang menggambarkan aktifitas utama
penduduk dan juga merupakan pencerminan terhadap potensi kegiatan
yang berlangsung di atas lahan tersebut.
Untuk mendukung pengembangan wilayah dari aspek penggunaan
lahan, maka hal yang perlu di perhatikan adalah tingkat kelestariannya
terhadap keseimbangan lingkungan sekitarnya sehingga nantinya dapat
memberikan nilai ekonomi yang tinggi dalam mendukung pengembangan
wilayah.
Di kelurahan Katangka banyak terdapat makam-makam, ataupun
tempat bersejarah, sehingga ini akan menjadi, satu kelebihandari kelurahan
ini.
Tata guna lahan di Kelurahan Katangka perlu mendapat pengawasan
dari pemerintah agar tercipta keserasian antara kawasan lindung dan
101

kawasan budidaya demi menjaga kealamian di wilayah Kelurahan


Katangka.
D. Analisis Kependudukan Kelurahan Katangka
Data penduduk di Kelurahan Katangka 5 tahun terakhir berdasarkan
data dari BPS Sulawesi Selatan dan Kantor Kelurahan Katangka. Tahun 2010
jumlah penduduk Kelurahan Katangka sebanyak 7.201 dan pada tahun 2011
mengalami pertambahan penduduk sekitar 139 jiwa sehingga jumlah
penduduk keseluruhan adalah 7.340 jiwa, bertambahnya jumlah penduduk
dapat disebabkan oleh adanya fertilitas yang tinggi di banding mortalitas,
selanjutnya pada tahun 2012 juga mengalami pertambahan penduduk menjadi
7.406 jiwa atau bertambah sebanyak 66

jiwa dan pada tahun 2013

mengalami peningkatan jumlah penduduk yaitu sebanyak 1933 jiwa,


sehingga jumlah penduduk di Kelurahan Katangka pada tahun 2014 ialah
9.330 jiwa,Jumlah penduduk di kelurahan katamgka mencapai 9.512 jiwa hal
ini disebabkan oleh tingginnya fertilitas dan banyaknya penduduk yang
melakukan migrasi dari daerah lain. Untuk mengetahui laju kurva
pertumbuhan penduduk di Kelurahan Katangka dapat di lihat pada tabel 5.1
dan diagram 5.1.

Tabel 5.1
Laju Pertumbuhan Penduduk
di Kelurahan Katangka Tahun 2007-2014

102

No.

Tahun

1.

2010

Jumlah
pendudu
k
(jiwa)
7.201

2.

2011

7.340

+139

3.

2012

7.406

+66

4.

2013

9.339

+1.933

5.

2014

9.512

+173

Rata-Rata

8.160

578

Pertumbuha
n
(jiwa)
-

Sumber : Kantor BPS dan Kantor Kelurahan Katangka Tahun 2015

Diagram 5.1
Jumlah dan Laju Jumlah Penduduk
di Kelurahan Katangka Tahun 2010-2014
10,000
9,000
8,000
7,000
6,000
5,000
4,000
3,000
2,000
1,000
0
2010

Jumlah penduduk

2011

2012

2013

2014

Sumber: Kecamatan Somba opu Dalam Angka 2015

Berdasarkan data tabel 5.1 dan bentuk kurva diagram 5.1, terlihat
bahwa laju pertumbuhan penduduknya mengalami perubahan drastis sehingga
untuk menganalisis proyeksi penduduk di tahun 2034, digunakan metode
analisis

penduduk

ekstrapolasi.

Adapun

Persamaan

proyeksi

pola

Ekstrapolasi, yaitu:

103

Pn = P0 + b.
Keterangan:
Pn = Jumlah penduduk yang akan diproyeksi
P0 = Jumlah penduduk tahun akhir
b = Rata-rata pertumbuhan penduduk

= Tahun proyeksi-Tahun akhir

Sebelum memproyeksi jumlah penduduk Kelurahan Katangka pada


tahun 2034, maka kami terlebih dahulu memproyeksi jumlah penduduk
Kelurahan Katangka kedalam 4 tahapan proyeksi, yakni proyeksi penduduk
tahun 2019, tahun 2024, tahun 2029 dan tahun 2034.

Proyeksi Penduduk Tahun 2019


P0
= jiwa
139+ 66+1933+173
b
=
= 578
4

= 2019-2014 = 5

P2019 = 9512+ 578 (5)


P2019 = 12.402
Proyeksi Penduduk Tahun 2024
P0
= 12.402 jiwa
139+ 66+1933+173
b
=
= 578
4

= 2024-2016 = 5

P2024 = 12.402+ 578 (5)


P2024 = 15.292 jiwa
Proyeksi Penduduk Tahun 2029
P0
= 15.292 jiwa
139+ 66+1933+173
b
=
= 578
4

P2029

= 2029-2021 = 5
= 15.292 + 578 (5)

104

P2029

= 18.182 jiwa

Proyeksi Penduduk Tahun 2034


P0
= 18.182jiwa
139+ 66+1933+173
b
=
= 578
4

= 2034-2026 = 5

P2034
P2034

= 18.167 + 578 (5)


= 21.072 jiwa
Tabel 5.2
Hasil Analisis Laju Pertumbuhan Penduduk
di Kelurahan Katangka Tahun 2019-2034

No
.

Tahun
Proyeksi

1.
2.
3.
4.

2019
2024
2029
2034

Rata-Rata

Jumlah
Penduduk
(Jiwa)
12.402
15.292
18.182
21.072

Sumber:Hasil

16.737

Proyeksi

Penduduk 2015

Diagram 5.2
Hasil Analisis Laju Pertumbuhan Penduduk
di Kelurahan Katangka Tahun 2019-2034
25,000
20,000
15,000
10,000

Jumlah penduduk

5,000
0
2016

2021

2026

2031

105

Sumber: Hasil Analisis 2015

E. Analisis Kebutuhan Sarana dan Prasarana


1. Kebutuhan Sarana
a. Sarana Pemukiman
Jumlah Perumahan di Kelurahan Katangka pada tahun 2014 terdiri
dari 2063 unit yang terdiri dari: 721 unit rumah kecil, 746 unit rumah
sedang dan 596 unit rumah besar.
Berdasarkan standar rumah sejahtera, 1 unit rumah diasumsikan
dihuni oleh 5 orang jiwa, dengan menggunakan asumsi ini maka dapat
ditentukan jumlah sarana perumahan yang perlu disediakan di
Kelurahan Katangka pada tahun 2034. Adapun Penyediaan fasilitas
perumahan tersebut dibagi dalam 3 (tiga) type, yaitu:
Type besar sebanyak 29% dengan luas kapling per unit 600 m2
(20 m x 30 m).
Type sedang sebanyak 36% dengan luas kapling per unit 200 m2
(10 m x 20 m).
Type kecil sebanyak 35% dengan luas kapling per unit 150 m2

(10

m x 15 m).
Dengan jumlah KK keseluruhan di Kelurahan Katangka setelah
hasil proyeksi yaitu sebanyak 4.214 KK pada tahun 2034, sehingga di
butuhkan 4.214 unit type rumah di Kelurahan Katangka
Tabel 5.3
Hasil Analisis Fasilitas Pemukiman
di Kelurahan Katangka Tahun 2034
Kelurah
an

Tipe Rumah

Besar

Sedang

Kecil

1.222

1.517

1.475

Jumlah Unit

Katangk
a

4.214

Sumber: Hasil Analisis 2015

b. Sarana Peribadatan

106

Di Kelurahan Katangka terdapat 9 unit

Masjid, Penduduk di

Kelurahan Katangka pada umumnya memeluk agama Islam. dengan


jumlah penduduk 9.512 jiwa. Dan setelah Setelah di proyeksi 20 tahun
kedepan yakni tahun 2034 jumlah penduduk Kelurahan Katangka
menjadi 21.072 jiwa, dengan rincian sebagai berikut

Agama Islam berjumlah 9.250 jiwa dengan persentase 97%


Agama Kristen berjumlah 65 jiwa dengan persentase 0,7%
Agama Katholik berjumlah 24 jiwa dengan persentase 0,3%
Lain-lain 173 jiwa dengan persentase 2%
maka berdasarkan stndar pelayanan mnimum untuk setiap masjid

2.500 jiwa, musollah 250 jiwa dan >15 kepala keluaraga penduduk
beragama non Islam. Sehingga pada tahun 2034 Kelurahan Katangka
memerlukan 18 unit masjid.
Tabel 5.4
Hasil Analisis Fasilitas Peribadatan
di Kelurahan Katangka Tahun 2034

Kelurah
an

Jenis
Sarana
Peribada
tan

Masjid
Katang

Musolla

ka

h
Gereja

Jumla
h
Saran
a
Tahun
2010

9
-

Hasil Analisis
Jumlah
Penduduk
pada Tahun
2034

Kebutuhan
Sarana
Peribadatan
tahun 2034

Penamba
han Unit

21.072
jiwa

Sumber: Hasil Analisis 2015

c. Sarana Pendidikan
Jumlah Sarana Pendidikan di Kelurahan Katangka berjumlah 5
unit yang terdiri dari 2 unit PLAY GROUP dan TK, 3 unit SD. Adapun
anlisis sarana pendidikan di Kelurahan Katangka berdasarkan analisis
standar pelayanan minimum, yakni sebagai berikut:

107

Untuk TK dan PLAY GROUP, standar yang


digunakan untuk 1 TK yaitu 1000 jiwa, dengan pencapaian dari
daerah yang di layan maksimum 500 meter. Jumlah penduduk
Kelurahan Katangka setelah diproyeksikan hingga tahun 2034,
jumlah penduduk di kelurahan katangka mencapai 21.072 jiwa,
Berdasarkan penduduk di kelurahan katangka ,di kelurahan ini
membutukan 21 TK ,sehingga di butuhkan 19 tambahan TK,

Untuk SD, standard yang digunakan untuk 1 SD yaitu


240 jiwa dengan dari 6000 penduduk, dari hasil proyeksi pada tahun
2034, Kelurahan Katangka memerlukan 5 unit SD. Karena terdapat 1
SD yang berada di perbatasan Kelurahan Katangka jadi

pada tahun

2034 di Kelurahan Katangka memerlukan penambahan SD.


-

Untuk SLTP, standard yang digunakan untuk 1 SLTP


yaitu 360 jiwa dari 25.000 standarisasi untuk menhitung jumlah
kebutuhan, dari hasil proyeksi pada untuk tahun 2034 jumlah
penduduk di kelurahan katangka hanya berjumlah 21.072, sehingga
pada tahun 2034 tidak memerlukan penambahan SLTP di Kelurahan
Katangka.

Untuk SLTA, standard yang digunakan untuk 1 SLTA


yaitu 600 jiwa dari 25.000 standarisasi untuk menhitung jumlah
kebutuhan, dari hasil proyeksi pada untuk tahun 2034 jumlah
penduduk di kelurahan katangka hanya berjumlah 21.072, sehingga
pada tahun 2034 tidak memerlukan penambahan SLTA di Kelurahan
Katangka.

108

Tabel 5.5
Hasil Analisis Fasilitas Pendidikan
Jenis
Sarana
Pendidika
n

Jumlah
Sarana
Eksisting
Tahun 2010

TK

Kata

SD

ngka

SLTP/ MTS

SLTA/SMK

Kelur
ahan

Jumlah
Penduduk
Proyeksi
pada Tahun
2034

Kebutuhan
Sarana
Pendidikan
Tahun
2034

Hasil Analisis

21

19

21.072

Jiwa

Penambahan
Unit

di Kelurahan Katangka Tahun 2034


Sumber: Hasil Analisis 2015

d. Sarana Kesehatan
Jumlah Sarana kesehatan di Kelurahan Katangka berjumlah 3 unit
yang terdiri dari 1 unit Pustu, 2 unit Posyandu, 1 unit Balai Pengobatan
dan Rumah Sakit Bersalin, dan 4 unit Klinik. Adapun analisis sarana
kesehatan di Kelurahan Katangka berdasarkan analisis standar
pelayanan minimum, yakni sebagai berikut:
- Standard penyediaan rumah sakit adalah dengan criteria 240.000
jiwa, jumlah penduduk Kelurahan Katangka tidak cukup untuk
menjadi acuan pembangunan rumah sakit baik jumlah penduduk
sebelum proyeksi maupun sesudah proyeksi, jadi untuk tahun 2034
-

tidak perlu ada penambahan rumah sakit.


Standard penyediaan puskesmas adalah dengan kriteria 30.000 jiwa
dengan aksesibilitas ke Sarana 6.500 m2, dengan melihat jumlah
penduduk Kelurahan Katangka sekarang yaitu 9.512

jiwa dan

setelah proyeksi 20 tahun ke depan pada tahun 2034 jumlah


penduduk sebanyak 21.072 jiwa maka di kelurahan ini tidak perlu
didirikan puskesmas. mengingat

jumlah penduduk kelurahan

109

Katangka
-

tidak

cukup

untuk

menjadi

acuan

pembangunan

Puskesmas.
Pustu, Penduduk minimal 6.000 orang, luas lahan adalah 500 m 2,
lokasi

terletak

ditengah-tengah

permukiman,

dengan

radius

maksimal 1.500 meter.dari hasil proyeksi 20 tahun ke depan pada


tahun 2034 jumlah penduduk sebanyak 21.072 jiwa maka di
kelurahan memerlukan penambahan pustu dari 1 pustu yang sudah
ada untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan pelayanan
-

kesehatan
BKIA/Rumah Bersalin, penduduk pendukung minimal 10.000 jiwa
dengan luas lahan 3.200 M2. Lokasi fasilitas ini berada di tengah
tengah lingkungan keluarga dengan radius pencapaian maksimal
2.000 meter. Berdasarkan hasil proyeksi penduduk pada di tahun
2034 jumlah penduduk di kelurahan Katangka berjumlah 21.072
sehingga di butuhkan penambahan

Balai pengobatan/Rumah

Bersalin untuk membantu penyediaan pelayanan dari 1 Balai


-

pengobatan/Rumah Bersalin yang ada di Kelurahan Katangka.


Apotik, dengan criteria 10.000 jiwa aksesibilitas ke sarana <1000 m2,
dengan melihat jumlah penduduk Kelurahan Katangka yaitu 9.512
jiwa dan setelah proyeksi 20 tahun ke depan pada tahun 2034
sebanyak 21.072 maka di kelurahan ini tidak memerlukan tambahan

apotik.
Praktek Dokter (Klinik), untuk menciptakan optimalisasi pelayanan
kesehatan yang baik kepada masyarakat di kawasan perencanaan,
diperlukan tenaga tenaga medis yang cukup memadai terutama
dokter yang dapat memnerikan pelayanan yang lebih dekat pada
masyarakat. Oleh karena itu dibutuhkan tempat praktek dokter yang
menyatu dengan perumahan penduduk. Lokasi fasilitas ini disatukan
dengan rumah tempat tinggal dan setiap unutnya melayani penduduk
5.000 jiwa.dari hasil proyeksi penduduk 20 tahun kemudian

Kelurahan Katangka ,tidak memerlukan tambahan klinik.


Posyandu, minimal penduduk pendukungnya adalah 1.250 jiwa, dari
hasil proyeksi di tahun 2034 diman jumlah penduduk kelurahan
110

Katngka mencapai 21.072, maka di kelurahan Katangka memerlukan


penambahan posyandu untuk membantu pelayanan 2 posyandu yang
ada di kelurahan ini.
Tabel 5.6
Hasil Analisis Fasilitas Kesehatan
di Kelurahan Katangka Tahun 2034
Kelurahan

Katangka

Jenis
Sarana
Kesehatan

Jumlah
Sarana
Eksisting
Tahun 2015

Rumah sakit
Puskesmas
Pustu
BKIA

1
1

Apotik
Posyandu

2
2

Klinik Dokter

Jumlah
Penduduk
Proyeksi
pada Tahun
2034

21.072 Jiwa

Hasil
Analisis

Kebutuhan
Sarana
Kesehatan
Tahun 2034

Penambah
an Unit

4
2

3
1

2
17

15

Sumber: Hasil Analisis 2015

e. Sarana Perdagangan
Adapun analisis data dan rencana mengenai sarana perdagangan di
Kelurahan Katangka yakni sebagai berikut:
-

Standar penyediaan pasar yaitu 20.000 jiwa dengan aksesibilitas ke


sarana >10.000 m2, dengan melihat jumlah penduduk Kelurahan
Katangka pada tahun 2014 sebanyak 9.512 jiwa, dan setelah
proyeksi 20 tahun ke depan pada tahun 2034 sebanyak 21.072 jiwa
maka di Kelurahan Katangka diperlukan adanya pembangunan
fasilitas perdagangan sebanyak 1 unit karena di Kelurahan ini belum
terdapat pasar.

Standar penyediaan toko yaitu 500 jiwa dengan aksesibilitas ke


sarana <150 m2 dengan melihat jumlah penduduk Kelurahan
Katangka sekarang sebanyak 9.512 jiwa dan setelah proyeksi 20
tahun ke depan pada tahun 2034 sebesar 21.072 jiwa maka

111

diperlukan 42 unit toko di Kelurahan Katangka .namun di kelurahan


ini sudah banyak toko-toko yang tersebar di 2 lingkungan yang ada
di katangka,Sehingga tidak perlu di lakukan penambahan.
-

Standar penyediaan warung/kios yaitu 250 jiwa dengan radius 500


meter. Dengan melihat jumlah penduduk Kelurahan Katangka
sekarang sebanyak 9.512 jiwa dan setelah proyeksi 2 tahun ke depan
pada tahun 2034 sebanyak 21.072 jiwa maka diperlukan 84 unit
warung/kios. Karena di Kelurahan Katangka sudah terdapat 34
warung/kios, maka untuk tahun 2034 di perlukan penambahan
warung/kios sebanyak 52 unit.
Tabel 5.7
Hasil Analisis Fasilitas Perdagangan
di Kelurahan Katangka Tahun 2034

Keluraha
n

Jenis
Sarana
Perdagang
an

Jumlah
Sarana
Eksisting
Tahun
2010

Katangk

Pasar

Ruko

125

Kios/Waru

34

Jumlah
Penduduk
Proyeksi
pada Tahun
2034

Hasil
Analisis

Kebutuhan
Sarana
Perdagang
an Tahun
2034

Penambaha
n Unit

21.072

42

Jiwa

84

50

ng
Sumber: Hasil Analisis 2015

f.Sarana Jasa
Sarana jasa dalam suatu permukiman adalah fasilitas jasa dengan
jumlah penduduk pendukung 50 KK atau sama dengan 250 jiwa
penduduk kelurahan Katngka, tiap fasiltas jasa
Tabel 5.8
Hasil Analisis Fasilitas Perdagangan
di Kelurahan Katangka Tahun 2034
Jenis
Sarana
Perdagangan

Jumlah
Sarana
Eksisting
Tahun
2010

Jumlah
Penduduk
Proyeksi pada
Tahun 2034

Kebutuhan
Sarana
Perdagang
an Tahun
2034

Hasil
Analisis
Penamba
han Unit

112

Tukang Jahit
Bengkel
Laudry
Warnet
Service Barang
Elekrtonik
Salon
Tukang kayu
Cuci Motor
Warkop

84

81

84

77

84

83

84

81

84

83

84

81

84

83

84

83

84

82

1
3

21.072 Jiwa

Sumber: Hasil Analisis 2015

g. Analisis Sarana Industri


Sarana industri merupakan salah satu usaha kecil menengah yang
didirikan oleh warga setempat agar dapat bertahan dalam terpaan
berbagai krisis ekonomi yang selama ini terjadi dalam pengembangan
ekonomi masyarakat.
Sarana industri di Kelurahan Katangka berjumlah 1 unit. Dengan
sarana industri yang berjumlah 1 unit ini, maka sangat perlu bagi
pemerintah setempat untuk memberi perhatian berupa mengadakan
pengembangan terhadap usaha kecil menengah ini agar industryindustri ini dapat berkembang sehingga kedepannya dapat menyerap
penduduk sekitar sebagai tenaga kerja. Dengan begitu, masalah
pengangguran di kelurahan ini dapat sedikit teratasi.
h. Analisis Sarana Olahraga
Kesehatan adalah hal yang termahal dalam hidup ini. Selain sarana
kesehatan, juga dibutuhkan sarana olahraga agar dapat melakukan
olahraga sehingga kesehatan tubuh dapat terjaga.
Sehubungan dengan kesegaran jasmani masyarakat di suatu daerah
permukiman, maka dibutuhkan pelayann olah raga dan lapangan.
Sarana ini fungsinya selain sebagai kesegaran lingkungan juga dapat
113

berfungsi sebagai taman dan tempat bermain anak-anak. Sesuai dengan


tingkat kebutuhan Rencana Tata Ruang maka fasilitas pemerintahan dan
pelayanan umum yang harus termuat dalam satuan permukiman adalah
setiap unit kelurahan kawasan berpenduduk 30.000 jiwa diperlukan
taman dan lapangan olahraga untuk melayani kebutuhan kegiatan
penduduk di area terbuka, seperti pertandingan olahraga, upacara serta
kegiatan lainnya. Dapat disimpulkan bahwa jumlah penduduk
kelurahan katngka tidak mencukupi untuk menjadi acuan penyediaan
sarana olaha raga,namun walaupun begitu
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan kelompok kami, di
Kelurahan Katangka hanya terdapat sarana olahraga.berupa daerah
terbuka 2 dan lapangan bulu tangkis

Oleh karena itu untuk tahun

proyeksi 2034, pengadaan lapangan olah raga di keluahan katangka


tidak di bituhkan di kelurahan ini,mengingat dari lapangan yang sudah
ada di kelurahan katanggka dan juga letak kelurahan Katangka yang
dekat dengan lapangan yang menjadi pusat olahraga di kecamatan
Somba opu.
i. Analisis Sarana Ruang Terbuka Hijau
Penyediaan RTH di Kelurahan Katangka didasarkan pada luas
kawasan Kelurahan Katangka itu sendiri. Ruang terbuka hijau terdiri
dari Ruang Terbuka Hijau Publik dan Ruang Terbuka Hijau Privat.
Adapun proporsi RTH sebuah wilayah adalah sebesar minimal 30%
yang terdiri dari 20% ruang terbuka hijau publik dan 10% terdiri dari
ruang terbuka hijau privat.
Berdasarkan dari ketetapan tersebut di atas dengan merujuk pada
Undang-Undang penataan Ruang nomor 26 tahun 2007, maka dapat
diestimasikan bahwa dari luas total Kelurahan Katangka adalah 136 Ha,
dimana dari luas tersebut harus dimanfaatkan 26% sebagai Ruang
Terbuka Hijau (RTH) atau sekitar 36 Ha. Apabila dirinci menurut
pemanfaatannya, maka untuk RTH berupa taman publik sebesar 13 %

114

adalah 17,97 Ha dan ruang terbuka privat sebesar 13 % adalah 18,02


Ha.

2. Analisis Kebutuhan Prasarana


a. Analisis Prasarana Jaringan Jalan
Jaringan Jalan Kolektor
Jalan ini direkomendasikan berkecepatan lebih rendah dari
kecepatan kendaraan pada jalan arteri. adapun cakupan dari jalan ini
adalah
Panjang jalan 0,6 km / 1000 penduduk
Ratio luas jalan 0,5 % dari luas wilayah
Jaringan Jalan Lingkungan
direkomendasikan lebih mudah dari

ketentuan

yang

diberlakukan pada jaringan jalan kolektor maupun arteri.


adapun cakupan dari jalan ini adalah
Panjang 40-60 m/Ha
Lebar 2-5 m

No
1
2

Tabel 5.9
Hasil Analisis Prasarana Jaringan Jalan
di Kelurahan Katangka Tahun 2034
Eksisting
Jalan
Fungsi
tahun
Tahun
jalan
2015
2015
Jalan Kolektor
2,56 Km
12,6 Km
Jalan
7099,73 M
6.800 m/Ha
Lingkungan

Jumlah
penambaha
n
10,1 Km
-

b. Analisis Prasarana Jaringan Persampahan


Analisis Prasarana Jaringan Persampahan Permukiman
Jumlah timbulan sampah setiap hari yaitu 2,9 liter/hari/orang.
Jadi untuk tiap KK jumlah timbulan sampahnya 14,5 liter/hari.
Sedangkan jumlah kebutuhan sarana persampahan untuk
tong sampah, 40 liter untuk 150 KK.
Gerobak sampah 1 m3 untuk 200 KK
kontainer 6-8 m3 untuk 2.000 KK.

115

Analisis jaringan persampahan untuk fasilitas pemukiman di


Kelurahan Katangka dapat dilihat tabel 5.8
Tabel 5.10
Hasil Analisis Jaringan Persampahan Permukiman
di Kelurahan Katangka Tahun 2034
Keluraha
n

Jumlah
KK

Jumlah
Timbulan
Sampah

Katangka

4.214

61.103

Kebutuhan Sarana
Persampahan
Tong Sampah Gerobak
Kontainer

1.528

61

Sumber: Hasil Analisis 2015

Analisis Jaringan Persampahan Fasilitas Perdagangan


Analisis persampahan pada fasilitas perdagangan di Kelurahan
Katangka yaitu 30% dari 61.103 timbulan sampah = 18.331 timbulan
sampah. Jadi, untuk fasilitas perdagangan di Kelurahan Katangka di
butuhkan 458 unit tong sampah dan 18 unit gerobak dan 3 Kontainer.
Analisis Jaringan Persampahan Fasilitas Perkantoran
Analisis persampahan pada fasilitas perkantoran di Kelurahan
Katangka yaitu 10% dari 61.103 timbulan sampah = 6.110 timbulan
sampah. Jadi, untuk fasilitas perkantoran di Kelurahan Katangka di
butuhkan 153 unit tong sampah dan 6 unit Gerobak sampah.
Analisis Jaringan Persampahan Fasilitas Pendidikan
Analisis persampahan pada fasilitas pendidikan di Kelurahan
Katangka yaitu 1,5 liter/siswa/perhari. Adapun jumlah siswa di
sekolah yang ada di kelurahan Katangka adalah
Murid TK 298
Murid TK 1.323
analisisnya dapat dilihat pada tabel 5.11.

Tabel 5.11
Hasil Analisis Jaringan Persampahan Fasilitas Pendidikan
di Kelurahan Katangka Tahun 2034

116

Jumlah
Timbula
n
Sampah

Kebutuhan Sarana
Persampahan
Tong
Gerobak
Kontainer
Sampah

No

Fasilitas

Jumla
h
Siswa

TK dan PLAY

632

948

24

GROUP

2.950

4.438,5

111

3.771

5657

135

SD
Jumlah
Sumber: Hasil Analisis 2015

c. Analisis Prasarana Energi Listrik


Ketersediaan prasarana energi listrik dalam suatu wilayah sangat
berorientasi pada pengembangan perekonomian wilayah tersebut. Pada
tahun 2015, jaringan listrik telah dimanfaatkan oleh seluruh penduduk
Kelurahan Katangka dalam menjalankan aktifitas sehari-harinya. Untuk
mendukung pengembangan

sektor-sektor

potensial

di Kelurahan

Katangka serta untuk memenuhi kebutuhan energi listrik di masa yang


akan datang, maka diperlukan peningkatan kapasitas dan daya listrik agar
dapat memenuhi kebutuhan hidup masyarakat di kelurahan ini. Adapun
analisis jaringan listrik di Kelurahan Katangka Tahun 2034 berdasarkan
standar, yakni sebagai berikut:
Kebutuhan Listrik Fasilitas Perumahan
Jumlah kebutuhan listrik fasilitas perumahan dengan type besar di
Kelurahan Katangka pada tahun 2034, yaitu 1.222 unit. Jadi jumlah
kebutuhan listriknya 1.222x1.300=1.588.600 watt. Untuk kebutuhan
listrik

fasilitas

perumahan

dengan

type

sedang

adalah

1.517x900=1.365.300 watt dan untuk kebutuhan listrik fasilitas


perumahan dengan type kecil yaitu 1.475x900= 1.327.500 watt. Jadi
total kebutuhan listrik untuk fasilitas perumahan yaitu 4.281.400 watt.
Kebutuhan Listrik Fasilitas Sosial dan Pelayanan Umum
Jumlah energi listrik yang dibutuhkan oleh fasilitas sosial dan
pelayanan umum yaitu 50% x 4.281.400 = 2.140.700 watt.
Kebutuhan Listrik Untuk Penerangan Jalan

117

Jumlah energi listrik yang dibutuhkan untuk penerangan jalan yaitu


10% x 4.281.400 = 428.140 watt.
Kebutuhan Listrik Untuk Perkiraan Kehilangan Energi Listrik Dalam
Transmisi
Total dari keseluruhan energi listrik yang dibutuhkan di Kelurahan
Katangka pada tahun 2034 yaitu 4.281.400 + 2.140.700 + 428.140 =
6.850.240 watt. Jadi kebutuhan listrik untuk perkiraan kehilangan
energi listrik dalam transmisi yaitu 30% x 6.850.240 = 2.055.072 watt.
Tabel 5.12
Hasil Analisis Jaringan Listrik
di Kelurahan Katangka Tahun 2034
No.
Sarana/Fasilitas
Kebutuhan
Listrik Tahun
2034
Perumahan:
1.588.600 watt
Type Besar
1.
1.365.300 Watt
Type Sedang
1.327.500 Watt
Type Kecil
Jumlah

4.281.400 Watt

2.

Fasilitas Sosial dan


Pelayanan Umum yang
secara keseluruhan
berjumlah 14 Unit

2.140.700 Watt

3.

Penerangan Jalan

428.140 Watt

4.

Perkiraan kehilangan
energi listrik dalam
transmisi

2.055.072 Watt

Sumber: Hasil Analisis 2015

d. Analisis Prasarana Jaringan Air Bersih


Air Bersih Perumahan

118

Kebutuhan air bersih untuk perumahan digolongkan untuk


kebutuhan perjiwa. Diasumsikan bahwa tiap satu rumah akan dialami
oleh 1 KK dengan 5 jiwa. Tiap 1 jiwa membutuhkan lebih kurang 60
liter/hari.
Tabel 5.13
Analisis jaringan Air Bersih Perumahan
di Kelurahan Katangka Tahun 2034
Kebutuhan
Kelurah
Jumlah KK
Air Bersih
an
(liter/hari)
Katang
4.214
1.264.320
ka
Sumber: Hasil Analisis 2015

Air Bersih Fasilitas Pendidikan


Jumlah fasilitas pendidikan yang dibutuhkan Kelurahan
Katangka pada tahun 2034 sebanyak 25 unit yang masing-masing
terdiri dari 21 unit TK dan PLAY GROUP, dan 5 unit SD.di mana
kebutuhan air bersih unutk TK dan SD adalah 10 liter/orang/hari
Adapun analisis kebutuhan air bersihnya dapat dilihat pada tabel 5.14.
Tabel 5.14
Analisis jaringan Air Bersih Fasilitas Pendidikan
di Kelurahan Katangka Tahun 2034
Kebutuhan Air
N
Jumlah
Fasilitas
Bersih
o
Siswa
(liter/hari)
1

TK

632

6.320

SD

2.950

29.590

Sumber: Hasil Analisis 2015

Air Bersih Fasilitas Kesehatan


Jumlah fasilitas kesehatan yang dibutuhkan Kelurahan Katangka
pada tahun 2034 sebanyak 28. Terdiri dari 3 Pustu, 2 Balai
pengobatan, 2 Apotik, 17 Posyandu, 4 Klinik Dokter Adapun analisis
kebutuhan air bersihnya dapat dilihat pada tabel 5.15.

119

Tabel 5.15
Analisis jaringan Air Bersih Fasilitas Kesehatan
di Kelurahan Katangka Tahun 2034
Kebutuhan
N
Air Bersih
Fasilitas
o
(liter/unit/har
i)
1.
4 Pustu
40.000
2.

2 Balai pengobatan

20.000

3.

2 Apotik

60

4.

17 Posyandu

85.000

5.

4 Klinik Dokter

1.200

Sumber: Hasil Analisis 2015

Air Bersih Fasilitas Perdagangan


Jumlah fasilitas perdagangan yang dibutuhkan Kelurahan
Katangka pada tahun 2034 sebanyak 127 unit yang masing-masing
terdiri dari 1 unit Pasar, 125 unit Toko dan 34 unit kios/warung.
Adapun analisis kebutuhan air bersihnya dapat dilihat pada tabel 5.16.
Tabel 5.16
Analisis jaringan Air Bersih Fasilitas Perdagangan
di Kelurahan Katangka Tahun 2034
Kebutuhan
N
Air Bersih
Fasilitas
o
(liter/unit/ha
ri)
1
.

1 Pasar

125 Toko

34

Kios/Warung

10.000
125.000
8.500

.
Sumber: Hasil Analisis 2015

Air Bersih Fasilitas Pelayanan Umum


Kebutuhan air bersih untuk fasilitas pelayanan umum digunakan
asumsi asumsi berdasarkan standar atau pedoman perencanaan
120

lingkungan. Kantor lingkungan, kantor pos pembantu, dan parkir


umum ditambah MCK, dengan kebutuhan air bersih 1.000
liter/unit/hari. Pada tahun proyeksi, Kelurahan Katangka memiliki 1
unit fasilitas pelayanan umum yaitu 3 unit kantor kelurahan, kantor
Pegadaian, dan kantor LP.HAM. Jadi kebutuhan air bersihnya
sebanyak 3.000 liter/unit/hari.
Air Bersih Fasilitas Peribadatan
Jumlah fasilitas peribadatan yang dibutuhkan Kelurahan
Katangka pada tahun 2034 sebanyak 19 unit yang terdiri dari 18 unit
masjid dan 1 unit mushollah. Adapun analisis kebutuhan air bersihnya
dapat dilihat pada tabel 5.17.
Tabel 5.17
Analisis jaringan Air Bersih Fasilitas Peribadatan
di Kelurahan Katangka Tahun 2034
N
Fasilitas
Kebutuhan
o
Air Bersih
(liter/unit/ha
ri)
1
18 Masjid
63.000
.

1 Gereja

1.000

2
.
Sumber: Hasil Analisis 2015

e. Analisis Prasarana Jaringan Telepon


Salah satu indikator tingkat perkembangan kota dapat diukur
dengan ketersediaan pelayanan pos dan telekomunikasi. Sistem jaringan
informasi di Kelurahan Katangka yaitu dengan sistem jaringan
telekomunikasi (telepon rumah dan genggam). Dengan melihat
perkembangan penduduk Kelurahan Katangka dimasa mendatang, maka
perlu dilakukan analisis estimasi terhadap kebutuhan telekomunikasi.
Berdasarkan hasil estimasi kebutuhan sarana telekomunikasi hingga
tahun perencanaan 2034, Kelurahan Katangka membutuhkan sebanyak

121

84 SST telepon umum dan kebutuhan telepon pribadi sebanyak 1.505


SST.
f. Analisis Prasarana Drainase
Berdasarkan standarisasi penyediaan minimum, drainase di
kelurahan Katangka masih banyak yang tidak memenuhi SPM, utamanya
drainase yang ada di jalan-jalan lingkungan, banyak drainase yang hanya
memiliki kedalaman 20 atau bahkan 10 cm.pada satu titik jalan juga
terdapat drinase yang di penuhi pipa air sehingga drainase buralih fungsi
menjadi saliran pipa air.
F. Analisis Sosial Budaya
Berdasarkan hasil penelitian, kehidupan masyarakat di Kelurahan
Katangka sangat kompak, akur, saling tolong menolong dan sangat
menjunjung tinggi norma-norma yang ada. Namun seiring dengan
perkembangan zaman, tidak menutup kemungkinan bahwa sosial budaya
yang ada di kelurahan ini akan terkikis oleh arus globalisasi dan modernisasi
yang sedikit demi sedikit akan mengikis karasteristik pola tatanan kehidupan
tersebut, begitupun dengan peninggalan-peninggalan bersejarah yang ada di
kelurahan Katangka.
Hal ini dapat diantisipasi dengan tetap memberikan pendekatanpendekatan keagamaan, pemahaman, budaya lokal ataupun peniggalan
bersejarah yang tek ternilai harganya kepada generasi muda guna mengiringi
pertumbuhan dan perkembangannya , Dengan begitu, Kelurahan Katangka
bisa menjadi kelurahan yang mampu mengembangkan jiwa dan semangat
budaya lokal tradisional kepada masyarakatnya yang mana hal ini juga akan
menjadi filter sekaligus menjadi alat pemersatu pembangunan yang sangat
besar manfaatnya dalam menyongsong pembangunan dimasa yang akan
datang.

122