Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di Indonesia di kenal juga dengan negara yang kaya dengan sumber daya
alam (SDA), serta berbagai macam tanaman seperti kacang hijau, kacang tanah
dan lain sebagainya.
Cahaya merupakan faktor esensial untuk pertumbuhan dan perkembangan
tanaman. Cahaya berperan penting dalam proses fisiologi tanaman, terutama
fotosintesis, respirasi, dan transpirasi. Unsur radiasi matahari yang penting bagi
tanaman ialah intensitas cahaya, kualitas cahaya, dan lamanya penyinaran. Bila
intensitas cahaya yang diterima rendah, maka jumlah cahaya yang diterima oleh
satuan luas permukaan daun dalam jangka waktu tertentu rendah (Gardner, 1991).
Intensitas cahaya rendah pada saat pembungaan padi dapat menurunkan
karbohidrat yang terbentuk, sehingga menyebabkan meningkatnya gabah hampa
Intensitas cahaya rendah menurunkan hasil kedelai, jagung, padi gogo, ubi jalar,
dan talas. Pengurangan cahaya pada tanaman yang telah memperoleh cahaya,
suhu dan kelembaban yang optimum akan menyebabkan pengurangan
pertumbuhan akar dan tanaman menunjukkan gejala etiolasi (Williams dan
Joseph, 1976).
Pertumbuhan pada tanaman dapat dilihat dari makin besarnya suatu tanaman
yang disebabkan oleh jumlah sel yang bertambah banyak dan bertambah besar.dan
bersifat tidak dapat balik (irreversible). Selain tumbuh, tanaman juga mengalami
perkembangan. Perkembangan adalah peristiwa biologis menuju kedewasaan
tidak dapat dinyatakan dengan ukuran tetapi dengan perubahan bentuk tubuh
(metamorfosis) dan tingkat kedewasaan (Gardner, 1991).
Pertumbuhan dan perkembangan merupakan dua proses yang berjalan secara
simultan (pada waktu yang bersamaan). Perbedaannya terletak pada faktor
kuantitatif karena mudah diamati, yaitu perubahan jumlah dan ukuran. Sebaiknya
perkembangan dapat dinyatakan secara kualitatif karena perubahannya bersifat
fungsional (Gardner ,1991).
Tumbuhan yang masih kecil, belum lama muncul dari biji dan masih hidup
dari persediaan makanan yang terdapat di dalam biji, yang dinamakan kecambah
(plantula). Awal perkecambahan dimulai dengan berakhirnya masa dormansi.
Masa dormansi adalah berhentinya pertumbuhan pada tumbuhan dikarenakan

kondisi lingkungan yang tidak sesuai. Berakhirnya masa dormansi ditandai


dengan masuknya air dalam biji suatu tumbuhan, yang disebut dengan proses
imbibisi. Imibibisi ini terjadi karena karena penyerapan air akibat potensial air
yang rendah pada biji kacang kering. Air yang berimbibisi menyebabkan biji
mengembang dan memecahkan kulit pembungkusnya dan juga memicu perubahan
metabolik

pada

embrio

yang

menyebabkan

biji

tersebut

melanjutkan

pertumbuhan. Enzim-enzim akan mulai mencerna bahan-bahan yang disimpan


pada endosperma atau kotiledon, dan nutriennutriennya dipindahkan ke bagian
embrio yang sedang tumbuh. Biji dapat berkecambah karena di dalamnya terdapat
embrio atau lembaga tumbuhan. Embrio atau lembaga tumbuhan mempunyai
tiga bagian, yaitu akar embaga/calon akar (radikula), daun lembaga (kotiledon),
dan bayang lembaga (kaulikulus) (Sutarmi, 1983).
B.

Tujuan
Adapun tujuan praktikum morfologi tentang bagian-bagian daun, yaitu:

1. mengenal organ vegetatif pada kecambah.


2. Mengetahui proses perkecambahan
3. Mengetahui tipe perkecamabahan yang terjadi pada tanaman amatan

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.

Pengertian Perkecambahan
Pengulangan kembali tentang pertumbuhan janin, dan akan dilengkapi
dengan keluarnya radikula di luar biji. Pembentukan biji telah di utarakan, tetapi
disini telah diuraikan periode yang di mulai dengan akhir perkecambahan dan
berakhir dengan semaian atau ipukan yang tidak bergantung pada akumulasi

makanan di dalam biji. Perkecambahan dan pemantapan adalah saat-saat yang


genting dalam kehidupan tumbuhan, karena dalam tingkatan ilmiah selama siklus
hidup setiap spesies maka jumlah terbesar individunya mati (Tjitrosomo, 1994).
Kedalaman suatu biji dibenamkan dalam tanah, baik yang sengaja ditanam
ataupun secara kebetulan tumbuh, merupakan faktor yang penting dalam
perkecambahan. Biji yang terdapat dipermukaan tidak memiliki persediaan air
yang cukup untuk melengkapi perkecambahannya. Jika terlalu dalam maka biji
tidak jadi berkecambah, atau mungkin menghabiskan persediaan makanan untuk
menembus tanah dan mendapat cahaya. Biji-biji besar, sebab berisi banyak
makanan, dapat ditanam lebih dalam daripada biji-biji yang kecil, sehingga dapat
lebih banyak suplai air yang uniform (Tjitrosomo, 1994).
Beberapa segi dalam perkecambahan biji menimbulkan problemma dalam
bidang hortokultur, pertanian, kehutanan, pemuliaan tanaman, pengendalian
gulma, dan erosi. Banyak sekali penyelidikan telah dijalankan mengenai aktivitas,
proses, dan keadaan yang berkaitan dengan perkembangbiakan tumbuhan dengan
biji (Tjitrosomo, 1994).
Kalau keadaan menguntungkan, penyerapan air oleh biji diikuti oleh banyak
kegiatan. Protoplasma mengalami rehidrasi dan enzim-enzimnya mulai berfungsi.
Zat pati diurai menjadi gula, lemak menjadi zat-zat yang dapat dilarutkan, dan
protein menjadi asam amino. Persediaan bahan-bahan ini memungkinkan
pembebasan energi oleh respirasi, translokasi bahan makanan ke janin dan
mulailah embrio bertumbuh (Rosanti, 2013).
Respirasi pada biji dorman lagi kering berlangsung teramat perlahan.
Mungkin juga respirasi berhenti pada biji-biji yang sama sekali kering tetapi
masih hidup. Membasahi biji-biji itu memungkinkan respirasi meningkat dengan
cepat, dan pada saat perkecambahan berlansung dengan baik maka laju respirasi
dapat menjadi ratusan kali. Pengaruh luar biasa hidrasi ini terhadap respirasi
merupakan sebab utama betapa amat pentingnya kelembaban rendah pada biji dan
padi-padian yang disimpan di gudang. Sebagai akibat meningkatnya kegiatan
enzim dan tersedianya bahan makanan serat energi pada biji yang berkecambah,
maka pemanjangan sel mulai dalam janin, dan perkecambahan tumbuhan baru
yang telah dimulai itu berlangsung lagi (Tjtrosomo, 1994).

Perkecambahan biji dapat dibedakan dalam dua macam :


a. Perkecambahan diatas tanah (epigaeis) yaitu jika pada perkecambahan,
karena pembentangan ruas batang dibawah daun lembaganya lalu
terangkat keatas, muncul diatas tanah, misalnya pada kacang hijau
(Phaseolus radiatus L). Dan lembaganya lalu berubah warnanya
menjadi hijau dapat digunakan untuk asimilasi, tetapi umumnya tidak
panjang. Daun lemabaga itu kemudian gugur dan sememtara itu pada
kecambah sudah tumbuh daun daun normal yang sudah dapat
melakukan tugas asimilasi.
b. Perkecambahan dibawah tanah (hypogaeis), bila daun lembaga tetap
tinggal didalam kulit biji, dan tetap didalam tanah, seperti terdapat
misalnya, pada biji kacang kapri (Pisum sativum L). (Gembong, 1985)
B.

Faktor-faktor Lingkungan dan Perkecambahan


Keadaan tertentu dalam lingkungan yang perlu bagi perkecambahan biji
ialah, kelembaban, oksigen, dan suhu yang sesuai. Selain itu, cahaya berpengaruh
baik terhadap perkecambahan biji bagi spesies, sedangkan pada yang lain
peristiwa itu dihalangi oleh cahaya. Meskipun demikian, pengaruh ada tidaknya
cahaya dapat termodifikasi oleh faktor lain, terutama temperatur (Tjitrosomo,
1994).
Biji-biji sebagian besar tumbnuhan, bila masak, hanya berisi sedikit air, maka
perkecambahan itu baru akan terjadi setelah kulit biji, dan juga jaringan lain, telah
menyerap air. Biji-biji berbagai spesies berbeda keperluannya akan oksigen, tetapi
oksigen biasanya sangat perlu dalam perkecambahan. Beberapa biji tidak dapat
berkecambah dalam tanah basah atau yang berlumpur. Bila terangkat ke
permukaan sewaktu pengolahan tanah, maka biji-biji tersebut dapat berkecambah
karena adanya aerasi yangn lebih baik dan kadang-kadang karena pengaruh
cahaya (Tjitrosomo, 1994).
Pengaruh suhu terhadap perkecambahan berbeda-beda bagi berbagai macam
biji. Banyak biji yang berkecambah dalam kisaran suhu yang luas. Batas suhu
minimal 0oC, dan maksimal 65oC, tetapi presentase perkecambahan biasanya amat
sedikit jika suhu itu amat rendah atau amat tinggi. Untuk sebagian besar tanaman
budidaya suhu optimal itu antara 28oC38oC, tetapi biji-biji tertentu seperti

misalnya ercis, selada, lobak, jelai, dan gandum dapat berkecambah pada suhu
14oC, sebab itu dapat ditanam lebih awal dalam musim semi. Pada umumnya, bijibiji tanaman budidaya musim dingin dapat harus ditanam segera setelah tanah
dapat dikerjakan. Jagung dan kacang, sabaiknya ditanam setelah pohon-pohon
mengeluarkan daunnya pada musim semi, sedangakan labu, mentimun, dan
semangka hanya ditanam setelah tanah hangat dan pada waktu tanaman tahunan
berbunga (Tjitrosomo, 1994).
Biji-biji kacang dan ercis tidak mempunyai endosperma, maka suplai bahan
makanan yang diberikan kepada semaian (bibit tanaman) terakumulasi di dalam
kotiledon. Pada kacang, sesudah keluarnya radikula maka hipokotil memanjang
dan menjadi lengkung. Apeks lengkung ini adalah bagian pertama dari bibit
tanaman yang keluar ke atas permukaan tanah. Sewaktu apeks bertumbuh,
hipokotil menjadi lurus dan mengangkat daun lembaga ke atas dari tanah
sementara itu, plumula, yang terdapat di antara kotiledon, mulai bertumbuh dan
membentuk daun sejati dan bagian batanga di atas kotiledon (Tjitrosomo, 1994).
Kotiledon dan plumula pada kacang tidak ditekan dari tanah tetapi ditarik
keluar oleh pertumbuhan hipokotil, jadi luka pada pucuk dapat dicegah. Cara
pencegahan ini atau pun mekanisme lain yang melindungi apeks batangnya
merupakan hal yang biasa pada perkecambahan biji (Tjitrosomo, 1994).
Bahan makanan yang ditampung dalam kotiledon sedikit demi sedikit
diuraikan dan dipindahkan ke tempat-tempat lain pada bibit tanaman yang tumbuh
dengan cepat. Kotiledo yang berdaging pada kacang menjadi berwarna hijau
karena cahaya, tetapi banyaknya bahan makanan yang disintesis dapat diabaikan,
karena bahan makanan yang terakumulasi itu dipakai habis, sehingga secara
berangsur menjadi kayu dan akhirnya jatuh (Tjitrosomo, 1994).
Bahan makanan yang terkumpul pada biji-biji terdapat pada endosperma, dan
kegiatan utama kotiledon ialah peruraian dan translokasi makanan cadangan ini
untuk pertumbuhan bibit tanaman. Pada perkecambahan jagung dan beberapa
anggota famili rumput-rumputan, butir-butirnya yang mengandung perisai atau
scutelum dan sisa-sisa endosperma, tetap tertinggal didalam tanah (Tjitrosomo,
1994).
Sistem perakaran primer, yang dibentuk oleh radikula, tidak pernah menjadi
besar dan dapat digunakan untuk sementara. Akar-akar primer ini dilengkapi oleh
sistem perakaran sekunder yang lebih kuat, yang terbentuk dari buku-buku bawah

dari batang. Buku-buku ini adalah bagian dari plumula yang denagn demikian
didorong menembus ke atas tanah pada waktu perkecambahan, jika akar-akar
sekunder timbul pada saat gerakan ini, maka dapat dipastikan bahwa akar-akar
tersebut akan rusak. Juga, daun-daun muda tumbuhan rumput-rumputan tidak
akan mampu mendorong tanah untuk keluar kecuali jika tetap dilindungi oleh
koleoptil. Mekanisme yang mengendalikan dan menggabungkan berbagai
perkembangan tersebut merupakan peristiwa yang menarik (Tjitrosomo, 1994).
Timbulnya tumbuhan rumput mudah dihasilkan oleh memanjang mesokotil.
Struktur ini dipandang sebagai kombinasi antara hipokotil dan jaringan pada
kotiledon yang mula-mula menghubungkan skutelum dan koleoptil. Perpanjangan
mesokotil ini bergantung pada suplai bebas hormon tumbuh, yang biasanya
bergerak ke bawah dari tempat pembentukan hormon di ujung koleoptil. Kadar
hormon itu sedemikian hingga cukup merangsang pertumbuhan mesokotil, tetapi
selalu tinggi sehingga menghambat pertumbuhan plumula dan akar-akar sekunder
(Tjitrosomo, 1994).

BAB III
METODE PRAKTIKUM
A.

Waktu dan Tempat Praktikum


Praktikum Morfologi Tumbuhan mengenai Mengenal Organ Vegetatif Pada
Kecambah, mengetahui tipe perkecambahan, mengetahui proses perkecambahan
dilaksanakan pada hari Jumat, 20 November 2015 pukul 11.30 Jumat, 4
Desember 2015 pukul 12.00 WIB dan bertempat pelaksanaan praktikum di
Perumahan Anggrek Barat No: 178, Cepokomulyo, Kepanjen.

B.

Alat dan Bahan


1.
Alat Praktikum
a. Buku catatan
c. Alat tulis
d. Silet/cutter
e. gelas aqua (14)
f. Kertas Roti

g. Kertas Samak
h. Kertas Ivori
i. Oven
2.

Bahan Praktikum

a.70 biji kacang tunggak,


b. Air
c. Tanah
d. Humus
C. Cara Kerja
1. Diambil satu persatu biji yang telah disiapkan
2. Di tanam 5 biji kacang pada satu gelas aqua pada hari pertama, dan pada hari
berikutnya hingga 14 hari
3. Diberi keterangan pada setiap gelas, agar tidak tertukar
4. Jika pengamatan telah berusia 14 hari, ambil biji satu persatu pada setiap hari dalam
setiap gelas aqua.
5. Bersihkan kecambag dari tanah dan kotoran yang lain dengan menggunakan air
6. Keringkan dengan kapar hingga kering
7. Tata kecambah pada kertas roti secara tertidur, dan lekatkan isolasi pada batang
kecambah agar tidak mudah bergoyang.
8. Oven kecambah hingga kecambah kering dan tekstur seperti kertas.
9. Jika kecambah sudah kering, tata kecambah pada kertas ivori
10. Beri label dan keterangan pada pojok kanan bawah kertas ivori
11. Tutup hasil hebarium Kecambah dengan kertas sampul berwarna coklat

BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN ANALISIS
A. Hasil Pengamatan
Hari
ke
1

Gambar Pengamatan

Keterangan
Panjang akar 0,5 cm

Panjang batang 6 cm
Panjang akar 2,3 cm

Panjang batang 6,1 cm


Panjang daun 1,1 cm
Panjang akar 1,3 cm
Jumlah dau 1

Panjang batang 3,2 cm


Panjang daun 1,7 cm
Panjang akar 1,4 cm
Jumlah dau 2

Panjang batang 7,1 cm


Pangjang daun 2,5 cm
Panjang akar 1,8 cm
Jumlah daun 2

Panjang batang 5,8 cm


Pangjang daun 2,3 cm
Panjang akar 2,4 cm
Jumlah daun 2

Panjang batang 10,2 cm


Pangjang daun 3,2 cm
Panjang akar 4,1 cm
Jumlah daun 2

Panjang batang 6,3 cm


Pangjang daun 2,8 cm
Panjang akar 2 cm
Jumlah daun 2

Panjang batang 9,9 cm


Pangjang daun 3,2 cm
Panjang akar 4,3 cm
Jumlah daun 2

10

Panjang batang 12,1 cm


Pangjang daun 4,2 cm
Panjang akar 3,6 cm
Jumlah daun 2

11

Panjang batang 9,3 cm


Pangjang daun 5,2 cm
Panjang akar 2,3 cm
Jumlah daun 2

12

Panjang batang 13,5 cm


Pangjang daun 5,0 cm
Panjang akar 7,5 cm
Jumlah daun 2

13

Panjang batang 18 cm
Pangjang daun 5,4 cm
Panjang akar 2,8 cm
Jumlah daun 2

14

Panjang batang 15,8 cm


Pangjang daun 5,7 cm
Panjang akar 3.0 cm
Jumlah daun 4

B. Analisis Data
pada praktikum pertumbuhan perkecambahan ini dilakukan penanaman kecambah
dari hari pertama hingga hari ke 14 atau selama 2 minggu, diperoleh hasil bahwa.
Kecambah yang berusia 1 hari tumbuh akar saj dengan dengan panjang 2,3 cm.
Kecambah berusia 2 hari mulai tumbuh batang sepanjang 6 cm dan panjang akar 1
cm. Kecambah berusia 3 hari mulai tumbuh, Panjang batang 6,1 cm, Panjang daun
1,1 cm, Panjang akar 1,3 cm dan Jumlah dau 1. Kecambah yang berusia 4 hari
mulai mengalam perpanjangan yaitu Panjang batang 3,2 cm Panjang daun 1,7 cm
Panjang akar 1,4 cm dan Jumlah dau 2, kecambah yang berusia 5 hari mulai
terlihat pertumbuhannya yaitu Panjang batang 7,1 cm, Panjang daun 2,5 cm,
Panjang akar 1,8 cm dan Jumlah daun 2. Pertumbuhan kecambah di hari ke 6
adalah sebagi berikut Panjang batang 5,8 cm, Panjang daun 2,3 cm, Panjang akar
2,4 cm dan Jumlah daun 2. Pertumbuhan hari ke 7 adalah Panjang batang 10,2 cm,
Panjang daun 3,2 cm, Panjang akar 4,1 cm dan Jumlah daun. Pada usia kecambah
8 hari terlihat pertumbuhannya Panjang batang 6,3 cm, Panjang daun 2,8 cm,
Panjang akar 2 cm dan Jumlah daun 2. Pada umur kecambah 9 hari terlihat
pertumbuhannya sebagai berikut Panjang batang 9,9 cm, Panjang daun 3,2 cm,
Panjang akar 4,3 cm, dan Jumlah daun 2. Pada umur kecambah 10 hari terlihat
pertumbuhan seluruh organ menjadi Panjang batang 12,1 cm, Panjang daun 4,2
cm, Panjang akar 3,6 cm dan Jumlah daun 2. Pada kecambah umur 11 hari terlihat
semakin bertambah ukuran kecambah yaitu Panjang batang 9,3 cm, Panjang daun
5,2 cm, Panjang akar 2,3 cm dan Jumlah daun 2. Pada kecambah berumur 12 hari

terlihat pertumbuhannya Panjang batang 13,5 cm, Panjang daun 5,0 cm, Panjang
akar 7,5 cm dan Jumlah daun 2. Pada kecambah yang berumur 13 hari terlihat
pertumbuhannya Panjang batang 18 cm, Panjang daun 5,4 cm, Panjang akar 2,8
cm dan Jumlah daun 2. Dan pertumbuhan kecambah yang berumur 14 hari
nampak adanya panambahan ukuran dari masing masing organ kecambah
adalah Panjang batang 15,8 cm, Panjang daun 5,7 cm, Panjang akar 3.0 cm dan
Jumlah daun 4

BAB V
PEMBAHASAN
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada morfologi biji kacang
tunggak (Vigna unguiculata). terdapat pusar biji, tegma dan testa. Pada anatomi
kacang tunggak terdapat epikotil, plumula, hipokotil, kotiledon, radikula dan
pusar biji.

Pada pengamatan kecamabah hari pertama mengalami masa dormansi, mulai


terlihat pertumbuhan akar 2,3 cm, mulai terjadi pembelahan dan sudah melalui
masa dormansi, mengenali masa dormansi. Pada hari kedua batang mulai tumbuh
6 cm, dan akarnya tumbuh 1 cm, dan mulai terus terjadi pembelahan. Pada hari
ketiga mulai terjadi pembelahan yang sangat pesat, panjang batang menjadi 6,1
cm, , Panjang daun 1,1 cm, Panjang akar 1,3 cm dan daun mulai tumbuh, Jumlah
dau 1. Kecambah yang berusia 4 hari mulai mengalam perpanjangan sel dan
pembelahan sel hingga Panjang batang 3,2 cm Panjang daun 1,7 cm Panjang akar
1,4 cm dan Jumlah dau 2, kecambah yang berusia 5 hari mulai terlihat
pembelahan sel semakin pesat dan daun mulai menanggapi rangsangan hingga
pertumbuhan kecambah menjadi panjang batang 7,1 cm, panjang daun 2,5 cm,
panjang akar 1,8 cm dan jumlah daun 2. Pertumbuhan kecambah di hari ke 6
adalah sebagi berikut Panjang batang 5,8 cm, Panjang daun 2,3 cm, Panjang akar
2,4 cm dan Jumlah daun 2. Pertumbuhan hari ke 7 adalah Panjang batang 10,2 cm,
Pangjang daun 3,2 cm, Panjang akar 4,1 cm dan Jumlah daun. Pada usia
kecambah 8 hari terlihat pertumbuhannya Panjang batang 6,3 cm, Panjang daun
2,8 cm, Panjang akar 2 cm dan Jumlah daun 2. Pada umur kecambah 9 hari
terlihat pertumbuhannya sebagai berikut Panjang batang 9,9 cm, Pangjang daun
3,2 cm, Panjang akar 4,3 cm, dan Jumlah daun 2. Pada umur kecambah 10 hari
terlihat pertumbuhan seluruh organ menjadi Panjang batang 12,1 cm, Pangjang
daun 4,2 cm, Panjang akar 3,6 cm dan Jumlah daun 2. Pada kecambah umur 11
hari terlihat semakin bertambah ukuran kecambah yaitu Panjang batang 9,3 cm,
Pangjang daun 5,2 cm, Panjang akar 2,3 cm dan Jumlah daun 2. Pada kecambah
berumur 12 hari terlihat pertumbuhannya Panjang batang 13,5 cm, Pangjang daun
5,0 cm, Panjang akar 7,5 cm dan Jumlah daun 2. Pada kecambah yang berumur 13
hari terlihat pertumbuhannya Panjang batang 18 cm, Pangjang daun 5,4 cm,
Panjang akar 2,8 cm dan Jumlah daun 2. Dan pertumbuhan kecambah yang
berumur 14 hari nampak adanya panambahan ukuran dari masing masing organ
kecambah, pembelahan sel dan perkembangan sudah mulai terjadi dengan pesat
hingga ukuran kecambah mencapai panjang batang 15,8 cm, pangjang daun 5,7
cm, panjang akar 3.0 cm dan jumlah daun 4

Pada kacang tunggak perkecambahannya dalah epigeal, pertumbuhan dan


perkembangannya

lambat.

Apabila

dibandingkan

dengan

perlakuan

perkecambahan yang dilakukan individu yang lain. Perkecambahan merupakan


proses pertumbuhan dan perkembangan embrio atau munculnya plantula
(tumbuhan kecil dari dalam biji). Perubahan embrio saat perkecambahan
umumnya adalah radikula tumbuh dan berkembang menjadi akar, selanjutnya
plumula tumbuh dan berkembang menjadi batang dan daun (Tjitrosoepomo,
2001).
Pertumbuhan proses pertambahan ukuran atau volume serta jumlah sel secara
irreversible, yaitu tidak dapat kembali ke bentuk semula. Pertumbuhan
disebabkan oleh adanya pembelahan sel (pertambahan jumlah sel) dan oleh
adanya pembesaran sel (pertambahan ukuran sel). Pertumbuhan bersifat
kuantitatif, yaitu dapat diukur menggunakan alat Auksanometer. Pertumbuhan
tumbuhan berlangsung sepanjang hidupnya (Mulyani, 2006).
Perkembangan adalah suatu proses menuju keadaan yang lebih dewasa atau
terspesialisasinya sel-sel menuju ke struktur dan fungsi tertentu/proses perubahan
bentuk (morfogenesis). Perkembangan ditandai dengan adanya kemampuan untuk
berkembang biak. Perkembangan bersifat kualitatif, hanya bisa diukur dari
perubahan bentuk dan tingkat kedewasaan (Tjitrosomo, 1994).
Menrut Tjitrosoepomo (2001), Berdasarkan letak kotiledon pada saat
berkecambah, dikenal dua macam tipe perkecambahan, yaitu hipogeal dan
epigeal.
a.

Perkecambahan Hipogeal
Terjadi pertumbuhan memanjang dari epikotil yang menyebabkan plumula

keluar menembus kulit biji dan muncul di atas tanah. Kotiledon tetap berada di
dalam tanah.
b. Perkecambahan Epigeal
Terjadi pertumbuhan memanjang dari hipokotil yang menyebabkan plumula
dan kotiledon terdorong ke permukaan tanah. Kotiledon berada di atas tanah.
Kacang Tunggak, dengan ketinggian terakhir hari ke 14 adalah 15,8 cm,
menunjukan bahwa tahap pertumbuhannya kotiledon selalu berada di atas tanah,
hingga kecambah mulai tumbuh daun dan kotiledon menghilang. Warna batang
dan cabangnya adalah hijau. Daunnya mulai dari 2helai hingga 4 helai dan

letaknya berseling terletak di buku - buku. Tangkai daunnya pendek ,lebih pendek
dari daunnya. Warna daunnya hijau muda sampai hiaju tua. Tanaman kacang
tunggak berakar tunggang dengan akar cabang pada permukaan (Tjitrosomo,
1994)
Biji kacang tunggak berkeping dua, terbungkus kulit biji dan
tidak mengandung jaringan endospperma. Embrio terletak di antara keping
biji.Warna kulit biji kuning. Pusar biji (hilum) adalah jaringan bekas biji melekat
pada dinding buah. Bentuk biji umumnya bulat lonjong tetapai ada pula yang
bundar atau bulat agak pipih (Sutarmi, 1983).
Kacang tunggak merupakan kacang yang memiliki nilai gizi cukup tinggi
seperti halnya Tinggi serat Kacang tunggak mengandung serat yang tinggi.
Setengah cangkir kacang tunggak mengandung 5,6 gram serat. Serat merupakan
nutrisi yang membantu mengatur sistem pencernaan Anda dan membantu
meringankan sembelit dan gejala sindrom iritasi usus besar. Serat juga membantu
menjaga kadar kolesterol sehat dengan mencegah kolesterol menyerap ke dalam
aliran darah Anda , yang mengurangi resiko terkena penyakit jantung. Kalium
Kacang ini mengandung kalium yang membantu menjaga tekanan darah Anda
serta menurunkan risiko penyakit jantung. Jumlah kalium yang seimbang dapat
menyehatkan otot dan tulang. Rendah lemak dan kalori Kacang tunggak
merupakan makanan rendah lemak dan rendah kalori sehingga tepat digunakan
untuk diet. Pola makan rendah lemak dan kalori membantu Anda menurunkan
berat badan dan mencegah penyakit diabetes. Protein Jika Anda tidak gemar
makan daging, ganti dengan kacang tunggak. Ia adalah sumber protein yang baik.
Protein membangun otot dan menyediakan energi untuk tubuh Anda. Zat besi
Satu lagi kabar baik dari kacang tunggak. Ia kaya zat besi yang dapat mencegah
anemia.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari percobaan yang saya lakukan dapat saya simpulan bahwa:
perkecambahan merupakan proses pertumbuhan dan perkembangan embrio atau
munculnya plantula (tumbuhan kecil dari dalam biji). Perubahan embrio saat

perkecambahan umumnya adalah radikula tumbuh dan berkembang menjadi akar,


selanjutnya plumula tumbuh dan berkembang menjadi batang dan daun. pada
morfologi kacang tunggak terdapat pusar biji, tegma, testa dan kotiledon. Tipe
perkecambahan yang dimiliki oleh kacang tunggak ini adalah epigeal
(perkecambahan di atas tanah) yaitu jika pada perkecambahan, karena
pembentangan ruas batang dibawah daun lembaganya lalu terangkat diatas,
muncul diatas tanah.
B. Saran
Dalam melakukan praktikum lakukanlah dengan sangat teliti agar dapat
mengetahui bagaimana tahap tahap pertumbuhan pada kecambah, dan
lakukanlah pengukuran yang akurat aga mendapatkan data yang akurat pula.
Perjelaslah pengamatan dengan literatur seperti buku mengenai perkecambahan
agar dapat memperkuat penjelasan saudara

DAFTAR PUSTAKA
Gardner P, dkk. 1991. Physiology of crop plants. Jakarta: Universitas Indonesia
Press.
Mulyani, Sri. 2006.Anatomi Tumbuhan. Yogyakarta: Kanisus.
Rosanti, Dewi. 2013. Morfologi Tumbuhan. Jakarta: Erlangga.
Sasmitamihardja D,SiregarA (1996).Fisiologi Tumbuhan. Bandung: ITB.
Sutarmi, S.1983. Botani Umum Jilid II. Bandung: Angkasa.
Tjitrosoepomo, G. 2001. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: UGM Press.
Tjitrosomo, G. 1994. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: UGM Press.