Anda di halaman 1dari 29

A.

JUMP 4 : KERANGKA KONSEP

DEFINISI

MENIFESTASI KLINIS

PEMERIKSAAN PENUNJANG

ETIOLOGI

PENATALAKSANAAN

HERPES
ZOOSTER
KEPERAWATAN

PENGOBATAN

KOMPLIKASI
PENCEGAHAN
.

MEDIS

PATOFISIOLOGI

ASKEP,NIC,NOC

FARMAKOLOGI

NON
FARMAKOLOGI

Modul Sistem Integumen Lbm 2 Kasus Abses Kulit Kutanius


Kelompok III PSIK VI B

E. JUMP 5 : TUJUAN MINIMAL


Secara umum tujuan yang diharapkan adalah mahasiswa mampu menjelaskan
asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan sistem integumen.
Sedangkan tujuan khusus yang diharapkan mahasiswa mampu :
1. Mengidentifikasi pengertian penyakit atau gangguan kesehatan pada sistem
integumen.
2. Menjelaskan clinical patway dari menifestasi klinis pada gangguan kesehatan
sistem integumen.
3. Mengidentifikasi proses timbulnya komplikasi yang terdapat pada sistem
integumen.
4. Melakukan pemeriksaan fisik pada gangguan kesehatan sistem integumen.
5. Menjelaskan berbagai pemeriksaan penunjang yang diperlukan.
6. Menjelaskan pengkajian keperawatan pada sistem integumen yang spesifik
dan diperlukan pada klien.
7. Menyebutkan diagnosis keperawatan yang mungkin dialami klien pada
gangguan sistem integumen.
8. Menjelaskan perencanaan keperawatan untuk mengatasi gangguan masalah
klien.
9. Menjelaskan tindakan keperawatan yang harus dilakukan.
10. Menjelaskan terapi yang diberikan untuk mengatasi gangguan keperawatan
pada klien yang mengalami masalah gangguan pada sistem integumen dan
implikasi keperawatan.
11. Merumuskan bebagai pendidikan kesehatan pada klien dan keluarga untuk
mencapai kesehatan yang optimal.

Modul Sistem Integumen Lbm 2 Kasus Abses Kulit Kutanius


Kelompok III PSIK VI B

F. JUMP 6 : PERTANYAAN TEORITIS


1. ANATOMI FISIOLOGI

Kulit adalah suatu organ pembungkus seluruh permukaan luar tubuh,


merupakan organ terberat dan terbesar dari tubuh. Seluruh kulit beratnya
sekitar 16 % berat tubuh, pada orang dewasa sekitar 2.7 3.6 kg dan luasnya
sekitar 1.5 1.9 meter persegi. Tebalnya kulit bervariasi mulai 0.5 6 mm
tergantung dari letak, umur dan jenis kelamin. Kulit tipis terletak pada kelopak
mata, penis, labium minus dan kulit bagian medial lengan atas. Sedangkan
kulit tebal terdapat pada telapak tangan, telapak kaki, punggung dan bahu.
Kulit berasal dari dua lapis yang berbeda, lapisan luar adalah epidermis yang
merupakan lapisan epitel berasal dari ectoderm sedangkan lapisan dalam
yang berasal dari mesoderm adalah dermis atau korium yang merupakan
suatu lapisan jaringan ikat.
1. Epidermis
Epidermis (Kutilkula) Epidermis merupakan lapisan terluar dari kulit, yang
memiliki struktur tipis dengan ketebalan sekitar 0,07 mm terdiri atas
beberapa lapisan, antara lain seperti berikut :
a. Stratum korneum yang disebut juga lapisan zat tanduk. Letak lapisan
ini berada paling luar dan merupakan kulit mati. Jaringan epidermis ini
disusun oleh 50 lapisan sel-sel mati. Sel-sel mati ini akan mengalami
pengelupasan dan terus-menerus diganti oleh sel-sel baru dari
stratum germinativum (stratum basale). Sel-sel dari stratum korneum
mengandung keratin, sebuah protein yang membantu menjaga hidrasi
kulit dengan mencegah penguapan air. Selain itu, sel-sel ini juga
dapat menyerap air, yang membantu hidrasi lebih lanjut dan
3

Modul Sistem Integumen Lbm 2 Kasus Abses Kulit Kutanius


Kelompok III PSIK VI B

menjelaskan mengapa manusia dan hewan lain mengalami kerutan


pada kulit di jari tangan dan kaki ketika berendam dalam air untuk
waktu yang lama. Stratum korneum paling tebal pada telapak kaki dan
paling tipis pada pelupuk mata, pipi dan dahi.
b. Stratum lusidum, yang berfungsi melakukan pengecatan terhadap
kulit dan rambut. Semakin banyak melanin yang dihasilkan dari sel-sel
ini, maka warna kulit akan menjadi semakin gelap. Selain memberikan
warna pada kulit, melanin ini juga berfungsi untuk melindungi sel-sel
kulit dari sinar ultraviolet matahari yang dapat membahayakan kulit.
Walaupun sebenarnya dalam jumlah yang tepat sinar ultraviolet ini
bermanfaat untuk mengubah lemak tertentu di kulit menjadi vitamin D,
tetapi dalam jumlah yang berlebihan sangat berbahaya bagi kulit.
Kadang-kadang seseorang menghindari sinar matahari di siang hari
yang terik, karena ingin menghindari sinar ultraviolet ini. Hal ini
disebabkan karena ternyata sinar ultraviolet ini dapat membuat kulit
semakin hitam. Berdasarkan riset, sinar ultraviolet dapat merangsang
pembentukan

melanosit

menjadi

lebih

banyak

untuk

tujuan

perlindungan terhadap kulit. Sedangkan jika kita lihat seseorang


mempunyai kulit kuning langsat, ini disebabkan orang tersebut
memiliki pigmen karoten.
c. Stratum granulosum, yang menghasilkan pigmen warna kulit, yang
disebut melamin. Lapisan ini terdiri atas sel-sel hidup dan terletak
pada bagian paling bawah dari jaringan epidermis.
d. Stratum germinativum, sering dikatakan sebagai sel hidup karena
lapisan ini merupakan lapisan yang aktif membelah. Sel-selnya
membelah ke arah luar untuk membentuk sel-sel kulit terluar. Sel-sel
yang baru terbentuk akan mendorong sel-sel yang ada di atasnya
selanjutnya sel ini juga akan didorong dari bawah oleh sel yang lebih
baru lagi. Pada saat yang sama sel-sel lapisan paling luar
mengelupas dan gugur.
2. Dermis
4

Modul Sistem Integumen Lbm 2 Kasus Abses Kulit Kutanius


Kelompok III PSIK VI B

Dermis adalah lapisan kulit kedua di bawah epidermis. Jaringan ini lebih
tebal daripada epidermis yaitu sekitar 2,5 mm. Penyusun utama dari
dermis adalah kolagen (protein penguat), serat retikuler (serat protein
yang berfungsi sebagai penyongkong), dan serat elastis (protein yang
berperan dalam elastisitas kulit).
Jenis lapisan kulit dermis terdiri atas dua macam, yaitu lapisan papiler
(lapisan jaringan ikat longgar) dan lapisan retikuler (lapisan jaringan ikat
padat). Kedua lapisan ini sangat sulit untuk dibedakan. Di dalam lapisan
kulit dermis terdapat :
Kelenjar keringat (penghasil keringat untuk pencegahan kulit kering

dan juga pengatur suhu).


Kelenjar minyak (menghasilkan minyak yang berperan sebagai

pelindung kulit dari kekeringan).


Folikel rambut (akar rambut yang merupakan tempat membelahnya

sel-sel rambut)
Hipormis atau subkutan (bagian kulit yang paling bawah)
Saraf-saraf penerima rangsangan sentuhan (sebagai

sensor

penerima rangsangan sentuhan yang kemudian akan dikirimkan ke


otak)
Di dalam dermis juga terdapat jaringan lemak yang merupakan tempat
cadangan energi padat yang sewaktu-waktu digunakan tubuh untuk
beraktifitas (ketika di dalam tubuh tidak ada glukosa)
3. Subkutis
Subkutis terdiri dari kumpulan-kumpulan sel-sel lemak dan diantara
gerombolan ini berjalan serabut-serabut jaringan ikat dermis. Sel-sel
lemak ini bentuknya bulat dengan intinya terdesak ke pinggir, sehingga
membentuk seperti cincin. Lapisan lemak ini di sebut perikulus adiposus,
yang tebalnya tidak sama pada tiap-tiap tempat dan juga pembagian
antara laki-laki dan perempuan tidak sama (berlainan). Guna perikulus
adiposus adalah sebagai Shok breker = pegas/bila tekanan trauma
mekanis

yang

menimpa

pada

kulit,

Isolator

panas

atau

untuk

mempertahankan suhu, penimbun kalori, dan tambahan untuk kecantikan


5

Modul Sistem Integumen Lbm 2 Kasus Abses Kulit Kutanius


Kelompok III PSIK VI B

tubuh. Di bawah subkutis terdapat selaput otot kemudian baru terdapat


otot.
4. Kelenjar pada kulit
Kelenjar kulit mempunyai lobus yang bergulung-gulung dengan saluran
keluar lurus untuk mengeluarkan berbagai zat dari tubuh (kelenjar
keringat). Ada 2 kelenjar yang terdapat pada kulit yaitu:
a. Kelenjar Sebasea
Kelenjar tulang menghasilkan kelenjar sebasea, kelenjar ini terdapat
dari: badan kelenjar, saluran kelenjar, dan muara kelenjar. Kelenjar
sebasea berasal dari rambut yang bermuara pada saluran folikel
rambut untuk melumasi rambut dan kulit yang berdekatan. Kelenjar ini
paling banyak terdapat pada kepala dan muka sekitar hidung, mulut
dan telinga. Kelenjar sebasea mengeluarkan sebum, yaitu campuran
lemak, zat lilin, minyak dan pecahan-pecahan sel yang befungsi
sebagai emoliens atau pelembut kulit. Zat ini juga memiliki aktifitas
bakterisida.

Kelenjar

sebasea

dapat

terinfeksi

sehingga

menyebabkan furunkel (bisul).


b. Kelenjar Keringat
Kelenjar keringat adalah tube tunggal yang bergulung dan terletak
pada jaringan subkutan yang menghasilkan kelenjar sudorivera.
Sekresi aktif dari kelenjar keringat di bawah pngendalian saraf
simpatis. Keringat berisi air dan sedikit garam, melalui difusi secara
sederhana 500 cc/hari. Kelenjar keringat merupakan alat utama
untuk mengendalikan suhu tubuh, berkurang pada waktu iklim dingin
dan meningkat pada suhu panas. Sekresi aktif dari kelenjar keringat
dibawah pengendalian saraf simpatis.
5. Fungsi kulit
Kulit menutupi dan melindungi permukaan tubuh dan bersambung dengan
selaput lendir yang melapisi rongga yang berfungsi sebagai berikut :
1. Sebagai Pelindung
Kulit relatif tak tembus air, dalam arti bahwa ia menghindarkan
hilangnya cairan dari jaringan dan juga menghindarkan masuknya air,
sehingga tidak terjadi penarikan dan kehilangan cairan. Kulit juga
melindungi struktur internal dari tubuh terhadap trauma dan terhadap
6

Modul Sistem Integumen Lbm 2 Kasus Abses Kulit Kutanius


Kelompok III PSIK VI B

invasi oleh mikroorganisme yang membahayakan. Sebagian besar


organisme mengalami kesullitan untuk berpenetrasi pada kulit yang
utuh tetapi dapat masuk melalui kulit yang terpotong atau mengalami
abrasi (lecet). Selain itu kulit pula mengandung pigmen melanin yang
melindungi terhadap sinar ultraviolet matahari.
2. Sebagai Indera Peraba
Merasakan sentuhan, rasa nyeri, perubahan suhu dan tekanan klit
dari jaringan subkutan, dan ditransmigrasikan melalui saraf sensoris
ke medula spinalis dan otak, juga rasa sentuhan yang disebabkan
oleh rangsangan pada ujung saraf di dalam kulit berbeda-beda
menurut ujung saraf yang dirangsang (panas, nyeri, dingin, dan lainlain). Rasa sakit disebabkan karena tekanan yang dalam dan rasa
yang berat dari suatu benda, misalya mengenai otot dan tulang atau
sendi.
3. Sebagai Organ Pengatur panas
Suhu tubuh seseorang adalah tetap, meskipun terjadi perubahan
suhu lingkungan. Hal itu dipertahankan karena penyesuaian antara
panas yang hilang dan panas yang dihasilkan, yang diatur oleh pusat
pengatur panas. Pusat ini segera menyadari apabila ada perubahan
pada panas tubuh, karena suhu darah yang mengalir melalui medulla
oblongata. Suhu normal (sebelah dalam) tubuh, yaitu suhu visera dan
otak adalah 36 sampai 37,5. Suhu kulit lebih rendah.
Persarafan vaso-motorik mengendalikan arteriol kutan dengan dua
cara, yaitu vaso-dilatasi dan vaso-konstriksi. Pada vaso-dilatasi
arteriol melebar, kulit menjadi lebih panas, kelebihan panas
dipancarkan ke kelenjar keringat sehingga terjadi penguapan cairan
pada permukaan tubuh. Pada vaso-konstriksi pembuluh darah dalam
kulit mengkerut, kulit menjadi pucat dan dingin, hilangnya keringat
dibatasi dan panas suhu tubuh tidak dikeluarkan.
4. Sebagai Tempat Penyimpanan
Kulit berfungsi sebagai alat penampung air dan lemak yang dapat
melepaskannya bilamana diperlukan. Kulit dan jaringan di bawahnya
7

Modul Sistem Integumen Lbm 2 Kasus Abses Kulit Kutanius


Kelompok III PSIK VI B

bekerja sebagai tempat penyimpanan air, jaringan adipose di bawah


kulit merupakan tempat penyimpanan lemak yang utama pada tubuh.
5. Sebagai Alat Absorpsi
Kulit dapat mengabsorpsi sinar ultraviolet yang bereaksi prekusor
vitamin D yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan tulang.
Selain itu kulit juga mengabsorpsi obat-obatan tertentu yang
digunakan sebagai salep.
6. Sebagai Ekskresi
Zat berlemak, air dan ion-ion seperti NA diekskresi melalui kulit,
karena pada kulit terdapat kelenjar keringat (kelenjar sudorifera) yang
treletak di lapisan dermis yang mengeluarkan 5-10% dari seluruh sisa
metabolisme.

2. LATAR BELAKANG
Herpes zoster telah dikenal sejak zaman Yunani kuno. Herpes zoster
disebabkan oleh virus yang sama dengan varisela, yaitu virus varisela
zoster.1,2 Herpes zoster ditandai dengan adanya nyeri hebat unilateral serta
timbulnya lesi vesikuler yang terbatas pada dermatom yang dipersarafi
serabut saraf spinal maupun ganglion serabut saraf sensorik dan nervus
kranialis.3,4
Insiden herpes zoster tersebar merata di seluruh dunia, tidak ada perbedaan
angka kesakitan antara pria dan wanita. Angka kesakitan meningkat dengan
peningkatan usia. Diperkirakan terdapat antara 1,3-5 per 1000 orang per
tahun. Lebih dari 2/3 kasus berusia di atas 50 tahun dan kurang dari 10%
kasus berusia di bawah 20 tahun.
Patogenesis herpes zoster belum seluruhnya diketahui. Selama terjadi
varisela, virus varisela zoster berpindah tempat dari lesi kulit dan permukaan
mukosa ke ujung saraf sensorik dan ditransportasikan secara sentripetal
melalui serabut saraf sensoris ke ganglion sensoris. Pada ganglion terjadi
infeksi laten, virus tersebut tidak lagi menular dan tidak bermultiplikasi, tetapi
8

Modul Sistem Integumen Lbm 2 Kasus Abses Kulit Kutanius


Kelompok III PSIK VI B

tetap mempunyai kemampuan untuk berubah menjadi infeksius. Herpes


zoster pada umumnya terjadi pada dermatom sesuai dengan lokasi ruam
varisela yang terpadat. Aktivasi virus varisela zoster laten diduga karena
keadaan tertentu yang berhubungan dengan imunosupresi, dan imunitas
selular merupakan faktor penting untuk pertahanan pejamu terhadap infeksi
endogen.
Komplikasi herpes zoster dapat terjadi pada 10-15% kasus, komplikasi yang
terbanyak adalah neuralgia paska herpetik yaitu berupa rasa nyeri yang
persisten setelah krusta terlepas. Komplikasi jarang terjadi pada usia di
bawah 40 tahun, tetapi hampir 1/3 kasus terjadi pada usia di atas 60 tahun.
Penyebaran dari ganglion yang terkena secara langsung atau lewat aliran
darah sehingga terjadi herpes zoster generalisata. Hal ini dapat terjadi oleh
karena defek imunologi karena keganasan atau pengobatan imunosupresi.
Secara umum pengobatan herpes zoster mempunyai 3 tujuan utama yaitu:
mengatasi inveksi virus akut, mengatasi nyeri akut ynag ditimbulkan oleh virus
herpes zoster dan mencegah timbulnya neuralgia paska herpetik.

3. DEFINISI
Herpes Zoster adalah radang kulit akut, mempunyai sifat khas yaitu
vesikel-vesikelnya yang tersusun berkelompok sepanjang persarafan sensoik
kulit sesuai dermatom. (Menurut R.S Siregar, 1996, Hal 96).
Herpes Zoster adalah suatu penyakit gelembung yang akut, biasanya
mengenai orang dewasa, yang karakteristik oleh karena lokasi penyakit ini
mengenai sebelah bagian badan di dalam satu dermatom. (Menurut Jubianto
Judonarso dan Sjaiful Fahmi, 1985, Hal 13).
Herpes Zoster adalah radang kulit akut dan setempat, terutama terjadi
pada orang tua yang khas ditandai adanya nyeri radikuler unilateral serta
timbulnya lesi vesikuler yang terbatas pada dermatom yang dipersarafi
serabut saraf spinal maupun ganglion serabut saraf sensorik dari nervus
kranialis. Infeksi ini merupakan reaktivasi virus varisela-zoster dari infeksi
endogen yang telah menetap dalam bentuk laten setelah infeksi primer oleh
virus. (Menurut Marwali Harahap, 2000, Hal 92).
Herpes Zoster adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus
varisela-zoster yang menyerang kulit dan mukosa, infeksi ini merupakan
reaktivasi virus yang terjadi setelah infeksi primer. (Menurut Adhi Djuanda dkk,
1993,Hal 94).
9

Modul Sistem Integumen Lbm 2 Kasus Abses Kulit Kutanius


Kelompok III PSIK VI B

Herpes Zoster merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh virus


varisela yang berada laten di jaras saraf sensorik setelah pasien pulih dari
varisela dan muncul beberapa tahun setelah infeksi varisela. (Menurut
Elizabeth J. Corwin, Hal 604).
Herpes zoster adalah radang kulit akut yang bersifat khas seperti
gerombolan vesikel unilateral, sesuai dengan dermatomanya dan radang ini
dialami oleh seseorang yang tidak mempunyai kekebalan terhadap varicella.
Herpes Zoster merupakan kelainan inflamatorik viral dimana virus
penyebabnya menimbulkan erupsi vesikuler yang nyeri disepanjang distribusi
saraf sensorik dari satu atau lebih ganglion posterior. (Menurut Smeltzer,
Suzanne C, Hal 1865).
KLASIFIKASI
Menurut lokasi lesinya, herpes zoster dibagi menjadi:
1) Herpes zoster oftalmikus
Herpes zoster oftalmikus merupakan infeksi virus herpes zoster yang
mengenai bagian ganglion gasseri yang menerima serabut saraf dari
cabang ophtalmicus saraf trigeminus (N.V), ditandai erupsi herpetik
unilateral pada kulit.Infeksi diawali dengan nyeri kulit pada satu sisi kepala
dan wajah disertai gejala konstitusi seperti lesu,demam ringan. Gejala
prodromal berlangsug 1 sampai 4 hari sebelum kelainan kulit timbul.
Fotofobia,banyak kelar air mata, kelopak mata bengkak dan sukar dibuka.
2) Herpes zoster fasialis
Herpes zoster fasialis merupakan infeksi virus herpes zoster yang
mengenai bagian ganglion gasseri yang menerima serabut saraf fasialis
(N.VII), ditandai erupsi herpetik unilateral pada kulit.
3) Herpes zoster brakialis
Herpes zoster brakialis merupakan infeksi virus herpes zoster yang
mengenai pleksus brakialis yang ditandai erupsi herpetik unilateral pada
kulit
4) Herpes zoster torakalis
Herpes zoster torakalis merupakan infeksi virus herpes zoster yang
mengenai pleksus torakalis yang ditandai erupsi herpetik unilateral pada
kulit.
5) Herpes zoster lumbalis
Herpes zoster lumbalis merupakan infeksi virus herpes zoster yang
mengenai pleksus lumbalis yang ditandai erupsi herpetik unilateral pada
kulit.
6) Herpes zoster sakralis
Herpes zoster sakralis merupakan infeksi virus herpes zoster yang
mengenai pleksus sakralis yang ditandai erupsi herpetik unilateral pada
kulit.
10

Modul Sistem Integumen Lbm 2 Kasus Abses Kulit Kutanius


Kelompok III PSIK VI B

4. ETIOLOGI DAN EPIDIMIOLOGI


Reaktivasi virus varisela zoster, Herpes zoster disebabkan oleh virus varicella
zoster. Virus varicella zoster terdiri dari kapsid berbentuk ikosahedral dengan
diameter 100nm. Kapsid tersusun atas 162 sub unit protein-varion yang
lengkap dengan diameternya 150-200nm, dan hanya varion yang terselubung
yang bersifat infeksius. Infeksiositas virus ini dengan cepat dihancurkan oleh
bahan organic, deterjen, enzim proteolitik, panas dan suasana Ph yang tinggi.
Masa inkubasisnya 14-21 hari.
Epidemiologi Herpes
Data Kasus penyakit herpes zoster dan herpes genitalis Herpes zoster terjadi
pada orang yang pernah menderita varisela sebelumnya karena varisela dan
herpes zoster disebabkan oleh virus yang sama yaitu virus varisela zoster.
Setelah sembuh dari varisela, virus yang ada di ganglion sensoris tetap hidup
dalam keadaan tidak aktif dan aktif kembali jika daya tahan tubuh menurun.
Lebih dari 2/3 usia di atas 50 tahun dan kurang dari 10% usia di bawah 20
tahun.
Departemen penelitian pusat kesehatan Omsteld melakukan penelitian
dengan metode menggunakan data dari 1 Januari 1996-15 Oktober 2005,
dilakukan studi pada populasi penduduk dewasa ( 22 tahun) dari Olmsted
County, MN, untuk menentukan (dengan peninjauan rekam medis) kejadian
herpes zoster dan tingkat komplikasi herpes zoster. Tingkat insiden ditentukan
oleh usia dan jenis kelamin dan disesuaikan dengan populasi Amerika
Serikat. Hasilnya adalah Sebanyak 1.669 penduduk dewasa dengan
diagnosis dikonfirmasi herpes zoster diidentifikasi antara 1 Januari 1996 dan
31 Desember 2001. Sebagian besar (92%) dari pasien imunokompeten dan
60% adalah perempuan. Ketika disesuaikan dengan populasi orang dewasa
Amerika Serikat, kejadian herpes zoster adalah 3,6 per 1000 orang-tahun
(95% confidence interval, 3.4-3,7), dengan peningkatan temporal 3,2-4, 1 per
1000 orang-tahun dari 1996 sampai 2001. Insiden herpes zoster dan tingkat
komplikasi herpes zoster meningkat dengan usia, dengan 68% kasus terjadi
pada orang berusia 50 tahun ke atas. Neuralgia terjadi pada 18% pasien
dewasa dengan herpes zoster dan di 33% dari senior10
5. FAKTOR RESIKO
1) Usia lebih dari 50 tahun, infeksi ini sering terjadi pada usia ini akibat
daya tahan tubuhnya
melemah. Makin tua usia penderita herpes
zoster makin tinggi pula resiko terserang nyeri.
2) Orang yang mengalami penurunan kekebalan (immunocompromised)
seperti HIV danleukimia. Adanya lesi pada ODHA merupakan
manifestasi pertama dari immunocompromised.
3) Orang dengan terapi radiasi dan kemoterapi.
4) Orang dengan transplantasi organ mayor seperti transplantasi sumsum
tulang.
11

Modul Sistem Integumen Lbm 2 Kasus Abses Kulit Kutanius


Kelompok III PSIK VI B

Factor pencetus kambuhnya herpes :


1) Trauma / Luka
2) Demam
3) Gangguan Pencernaan
4) Sinar Ultraviolet
5) Stress
6) Kelelahan
7) Alcohol
8) Obat Obatan
9) Haid
6. MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi Klinis Daerah yang paling sering terkena adalah daerah thorakal.
Frekuensi penyakit inipada pria dan wanita sama. Sedangkan mengenai umur
lebih sering pada orang dewasa.Sebelum timbul gejala kulit terhadap gejala
prodromal baik sistemik seperti demam,pusing, malaise maupun lokal seperti
nyeri otot-tulang, gatal, pegal dan sebagainya.Setelah timbul eritema yang
dalam waktu singkat menjadi vesikel yang berkelompok dengan dasar kulit
yang eritema dan edema. Vesikel ini berisi cairan jernih kemudian menjadi
keruh (berwarna abu-abu)dapat menjadi pastala dan krusta. Kadang vesikel
mengandung darah yang disebut herpeszoster haemoragik dapat pula timbul
infeksi sekunder sehingga menimbulkan ulkusdengan penyembuhan berupa
sikatriks. Massa tunasnya 7-12 hari. Massa aktif penyakitini berupa lesi-lesi
baru yang tetap timbul berlangsung kurang lebih 1-2 minggu.Disamping gejala
kulit dapat juga dijumpai pembesaran kelenjar geth bening regional. Lokalisasi
penyakit ini adalah unilateral dan bersifat dermatomal sesuai dengantempat
persyarafan. Pada susunan saraf tepi jarang timbul kelainan motorik tetapi
padasusunan saraf pusat kelainan ini lebih sering karena struktur ganglion
kranialismemungkinan hal tersebut. Hiperestesi pada daerah yang terkena
memberi gejala yangkhas. Kelainan pada muka sering disebabkan oleh karena
gangguan pada nervustrigeminus atas nervus fasialis dan otikus. Herpes
zoster

oftalmikus

disebabkan

oleh

infeksi

cabang-cabang

pertana

nervustrigeminus.

12

Modul Sistem Integumen Lbm 2 Kasus Abses Kulit Kutanius


Kelompok III PSIK VI B

Sehingga menimbulkan kelainan pada mata, disamping itu juga cabang


keduadan ketiga menyebabkan kelainan kulit pada daerah persyarafannya.
Sindrom RamsayHunt diakibatkan oleh gangguan nervus fasalis dan otikus
sehingga menyebabkanpengelihatan ganda paralisis otot muka (Paralisis Bell),
kelainan kulit yang sesuai dengantingkat persyarafan, tinnitus vertigo,
gangguan pendengaran, nistagmus, nausea, dangangguan pengecapan.
Herpes zoster abortif artinya penyakit ini berlangsnug dalamwaktu yang
singkat dan kelainan kulit hanya berupa vesikel dan eritema. Pada Herpes
Zoster generalisata kelainan kulitnya unilateral dan segmentalditambah
kelainan kulit yang menyebar secara generalisa berupa vesikel yang solitar
danada umbilikasi. Nauralgia pasca laterpetik adalah rasa nyeri yang timbul
pada daerahbekas penyembuhan. Nyeri ini dapat berlangsung sampai
beberapa bulan bahkanbertahun-tahun dengan gradasi nyeri yang bervariasi.
Hal ini cenderung dijumpai padausia lebih dari 40 tahun.

Tanda dan gejala Herpes zoster


1
a

Gejala prodomal
Keluhan biasanya diawali dengan gejala prodomal yang berlangsung

selama 1 4hari
Gejala yang mempengaruhi tubuh : demam, sakit kepala, fatigue, malaise,
nusea, rash, kemerahan, sensitive, sore skin ( penekanan kulit), neri, (rasa

terbakar atautertusuk), gatal dan kesemutan.


Nyeri bersifat segmental dan dapat berlangsung terus menerus atau

hilang timbul.Nyeri juga bisa terjadi selama erupsi kulit.


Gejala yang mempengaruhi mata : Berupa kemerahan, sensitive terhadap
cahaya,pembengkakan kelopak mata. kekeringan mata, pandangan

kabur, penurunansensasi penglihatan dan lain lain.


Timbul erupsi kulit Kadang terjadi limfadenopati regional Erupsi kulit
hampirdan biasanya terbatas pada daerah yang dipersarafi oleh satu
ganglion sensorik. Erupsi dapat terjadi di seluruh bagiantubuh, yang
tersering di daerah ganglion torakalis.

13

Modul Sistem Integumen Lbm 2 Kasus Abses Kulit Kutanius


Kelompok III PSIK VI B

Lesi dimulai dengan macula eritroskuamosa, kemudian terbentuk papul


papul dan dalam waktu 1224 jam lesi berkembang menjadi vesikel. Pada
hari ketigaberubah menjadi pastul yang akan mengering menjadi krusta
dalam 7 10 hari.Krusta dapat bertahan sampai 2 3 minggu kemudian

mengelupas. Pada saat ininyeri segmental juga menghilang.


Lesi baru dapat terus muncul sampai hari ke 4 dan kadang kadang

sampai hari ke7.


Erupsi kulit yang berat dapat meninggalkan macula hiperpigmentasi dan

jaringan parut (pitted scar)


Pada lansia biasanya mengalami lesi yang lebih parah dan mereka lebih
Sensitive terhadap nyeri yang dialami.

Menurut lokasi lesinya, herpes zoster dibagi menjadi:


Herpes zoster oftalmikus
Herpes zoster oftalmikus merupakan infeksi virus herpes zoster yang
mengenai bagian ganglion gasseri yang menerima serabut saraf dari
cabang ophtalmicus saraf trigeminus (N.V), ditandai erupsi herpetik
unilateral pada kulit. Infeksi diawali dengan nyeri kulit pada satu sisi
kepala dan wajah disertai gejala konstitusi seperti lesu, demam ringan.
Gejala prodromal berlangsug 1 sampai 4 hari sebelum kelainan kulit
timbul. Fotofobia, banyak kelar air mata, kelopak mata bengkak dan sukar
dibuka. Gambar 1. Herpes zoster oftalmikus sinistra. 2. Herpes zoster
fasialis Herpes zoster fasialis merupakan infeksi virus herpes zoster yang
mengenai bagian ganglion gasseri yang menerima serabut saraf fasialis

(N.VII), ditandai erupsi herpetik unilateral pada kulit.


Herpes zoster fasialis dekstra.
Herpes zoster brakialis Herpes zoster brakialis merupakan infeksi virus
herpes zoster yang mengenai pleksus brakialis yang ditandai erupsi

herpetik unilateral pada kulit.


Herpes zoster brakialis sinistra.
Herpes zoster torakalis Herpes zoster torakalis merupakan infeksi virus
herpes zoster yang mengenai pleksus torakalis yang ditandai erupsi
herpetik unilateral pada kulit.

14

Modul Sistem Integumen Lbm 2 Kasus Abses Kulit Kutanius


Kelompok III PSIK VI B

Herpes zoster torakalis sinistra.


Herpes zoster lumbalis Herpes zoster lumbalis merupakan infeksi virus
herpes zoster yang mengenai pleksus lumbalis yang ditandai erupsi

herpetik unilateral pada kulit.


Herpes zoster sakralis Herpes zoster sakralis merupakan infeksi virus
herpes zoster yang mengenai pleksus sakralis yang ditandai erupsi

herpetik unilateral pada kulit.


Herpes zoster sakralis dekstra.

7. PATOFISIOLOGI
Pada episode infeksi primer, virus dari luar masuk ke tubuh hospes
(penerima virus). Selanjutnya, terjadilah penggabungan virus dengan DNA
hospes, mengadakan multiplikasi atau replikasi sehingga menimbulkan
kelainan pada kulit. Virua akan menjalar melalui serabut saraf sensorik ke
ganglion saraf dan berdiam secara permanen dan bersifat laten. Infeksi hasil
reaktivasi virus varicella yang menetap di ganglion sensori setelah infeksi
chickenpox pada masa anak anak. Sekitar 20 % orang yang menderita
cacar akan menderita shingles selama hidupnya dan biasanya hanya terjadi
sekali. Ketika reaktivasi virus berjalan dari ganglion ke kulit area dermatom.
Virus ini berdiam di gonglion susunan saraf tepi dan ganglion kranalis
kelainan kulit yang timbul memberikan lokasi yang setingkat dengan daerah
persyarafan gonglion tersebut. Kadang virus ini juga menyerang ganglion
anterion, bagian motorik kranalis sehingga memberikan gejala-gejala
gangguan motorik. Pada episode infeksi primer, virus dari luar masuk
ketubuh hospes (penerima virus). Selanjutnya, terjadilah penggabungan virus
dengan DNA hospes, mengadakan multiplikasi atau replekasi sehingga
menimbulkan kelainan pada kulit. Virus akan menjalar melalui serabut saraf
sensorik ke gonglion saraf dan berdiam secara permanen dan bersifat laten.
Infeksi hasil reaktivasi virus varicella yang menetap di gonglion sensori
setelah infeksi chickenpox pada masa anak-anak sekitar 20% orang yang
menderita cacar akan menderita shingles selama hidupnya dan biasanya
15

Modul Sistem Integumen Lbm 2 Kasus Abses Kulit Kutanius


Kelompok III PSIK VI B

hanya terjadi sekali. Ketika reaktivasi virus berjalan dari gonglion ke kulit area
dermatom.
Infeksi primer dari VVZ ini pertama kali terjadi di daerah nasofaring. Disini
virus mengadakan replikasi dan dilepas ke darah sehingga terjadi viremia
permulaan yang sifatnya terbatas dan asimptomatik. Keadaan ini diikuti
masuknya virus ke dalam Reticulo Endothelial System (RES) yang kemudian
mengadakan replikasi kedua yang sifat viremia nya lebih luas dan
simptomatik dengan penyebaran virus ke kulit dan mukosa. Sebagian virus
juga menjalar melalui serat-serat sensoris ke satu atau lebih ganglion
sensoris dan berdiam diri atau laten didalam neuron. Selama antibodi yang
beredar didalam darah masih tinggi, reaktivasi dari virus yang laten ini dapat
dinetralisir, tetapi pada saat tertentu dimana antibodi tersebut turun dibawah
titik kritis maka terjadilah reaktivasi dari virus sehingga terjadi herpes zoster.
Perkembangan herpes zoster.

Berubah menjadi lepuh


Lepuh mengisi dengan getah bening , membuka kerak di atas dan akhirnya

menghilang.
Neuralgia Postherpetic kadang-kadang dapat terjadi karena kerusakan saraf
PATOGENESIS VIRUS HERPES ZOSTER
Patogenesis herpes zoster belum seluruhnya diketahui. Selama terjadi
varisela, virus varisela zoster berpindah tempat dari lesi luka dan permukaan
mukosa ke ujung saraf sensorik dan ditransformasikan secara sentripetal
melalui serabut saraf sensoris ke ganglion sensoris. Pada ganglion terjadi
infeksi laten, virus tersebut tidak lagi menular dan tidak bermutiplikasi, tetapi
tetap mempunyai kemampuan untuk berubah menjadi infeksius. Herpes
zoster pada umumnya terjadi pada dermatom sesuai dengan lokasi ruam
varisela yang terpadat. Aktivasi virus varisela diduga berhubungan dengan

16

Modul Sistem Integumen Lbm 2 Kasus Abses Kulit Kutanius


Kelompok III PSIK VI B

imunosupresi dan imunitas selular yang merupakan faktor penting untuk


pertahanan penjamu terhadap infeksi endogen.
Masa tunasnya 7-12 hari masa aktif penyakit berupa lesi baru dan yang tetap
timbul berlangsung kira-kira 1-2 minggu virus berdiam di ganglion posterior
susunan syaraf tepi dan ganglion kronialis. Lokasi kelainan kulit sekitar
daerah persyarafan ganglion kadang-kadang virus menyerang gangguan
arterior bagian motorik kranolis sehingga memberikan gejala gangguan
motorik.
FAKTOR PENCETUS HERPES ZOSTER
a. Penurunan imunitas pada :
Keganasan
Radiasi
Imuro suppressive
Penggunaan kortikosteroid yang lama
b. Faktor pencetus kambuhnya Herpes zoster
Trauma/luka
Kelelahan
Demam
Alkohol
Gangguan pencernaan
Haid
Setres

17

Modul Sistem Integumen Lbm 2 Kasus Abses Kulit Kutanius


Kelompok III PSIK VI B

18

Modul Sistem Integumen Lbm 2 Kasus Abses Kulit Kutanius


Kelompok III PSIK VI B

19

Modul Sistem Integumen Lbm 2 Kasus Abses Kulit Kutanius


Kelompok III PSIK VI B

8. PATHWAY HERPES ZOSTER

Faktor Predisposisi :

REAKTIVASI VIRUS
VARISELA ZOSTER

1. Pada klien pernah


menderita cacar air
2. Sistem imun yang lemah
3. Menderita kelainan
malignitas

Respon inflamasi lokal

Kerusakan
saraf perifer

Vesikula yang tersebar

Respon inflamasi sistemik

Respon psikologis

Gangguan
gastrointestina

Kondisi kerusakan
jaringan kulit

KETIDAKSEIMBANGAN
NUTRISI <<

GANGGUAN
KONSEP DIRI

KERUSAKAN
INTEGRITAS
JARINGAN

NYER
I

GANGGUAN
POLA TIDUR

9. PEMERIKSAAN PENUNJANG
20

Modul Sistem Integumen Lbm 2 Kasus Abses Kulit Kutanius


Kelompok III PSIK VI B

Tes diagnostik untuk membedakan dari impetigo, kontak dermatitis dan herps
simplex :
Tzanck Smear : mengidentifikasi virus herpes tetapi tidak dapat
membedakanherpes zoster dan herpes simplex.

Kultur dari cairan vesikel dan tes antibody : digunakan untuk membedakan
diagnosis herpes virus

Immunofluororescent : mengidentifikasi varicella di sel kulit

Pemeriksaan histopatologik

Pemerikasaan mikroskop electron

Kultur virus

Identifikasi anti gen / asam nukleat VVZ

Deteksi antibody terhadap infeksi virus

10. KOMPLIKASI
a. Neuralgia paska herpetik
Neuralgia paska herpetik adalah rasa nyeri yang timbul pada daerah
bekas penyembuhan. Neuralgia ini dapat berlangsung selama berbulanbulan sampai beberapatahun. Keadaan ini cenderung timbul pada umur
diatas 40 tahun, persentasenya 10 - 15 % dengan gradasi nyeri yang
bervariasi. Semakin tua umur penderita maka semakin tinggi
persentasenya.
b. Infeksi sekunder
Pada penderita tanpa disertai defisiensi imunitas biasanya tanpa
komplikasi. Sebaliknya pada yang disertai defisiensi imunitas, infeksi
H.I.V., keganasan, atau berusia lanjut dapat disertai komplikasi. Vesikel
sering manjadi ulkus dengan jaringan nekrotik.
c. Kelainan pada mata
Pada herpes zoster oftatmikus, kelainan yang munculdapat berupa: ptosis
paralitik, keratitis, skleritis, uveitis, korioratinitis dan neuritis optik.
d. Sindrom Ramsay Hunt
Sindrom Ramsay Hunt terjadi karena gangguan pada nervus fasialis dan
otikus, sehingga memberikan gejala paralisis otot muka (paralisis Bell),
21

Modul Sistem Integumen Lbm 2 Kasus Abses Kulit Kutanius


Kelompok III PSIK VI B

kelainan kulit yang sesuai dengan tingkat persarafan, tinitus, vertigo,


gangguan pendengaran, nistagmus, nausea, dan gangguan pengecapan.
e. Paralisis motorik
Paralisis motorik dapat terjadi pada 1-5% kasus, yangterjadi akibat
perjalanan virus secara kontinuitatum dari ganglion sensorik ke sistem
saraf yang berdekatan. Paralisis ini biasanya muncul dalam 2 minggu
sejak munculnya lesi. Berbagai paralisis dapat terjadi seperti: di wajah,
diafragma, batang tubuh, ekstremitas, vesika urinaria dan anus. Umumnya
akan sembuh spontan.
11. PENCEGAHAN
Untuk mencegah herper zoster, salah satu cara yang dapat ditempuh adalah
pemberian vaksinasi.[9] Vaksin berfungsi untuk meningkatkan respon spesifik
limfosit sitotoksik terhadap virus tersebut pada pasien seropositif usia lanjut.
[9] Vaksin herpes zoster dapat berupa virus herpes zoster yang telah
dilemahkan atau komponen selular virus tersebut yang berperan sebagai
antigen.[7] Penggunaan virus yang telah dilemahkan telah terbukti dapat
mencegah atau mengurangi risiko terkena penyakit tersebut pada pasien
yang rentan, yaitu orang lanjut usia dan penderita imunokompeten, serta
imunosupresi.[7][10]
Di Amerika Serikat, vaksin ini dianjurkan (bukan diharuskan) dan dipatuhi oleh
90 persen rakyat Amerika Serikat. Dan berhasil menurunkan angka kejadian,
perawatan di rumah sakit, bahkan kematian. Vaksinasi pada orang sehat
bertahan untuk 10 tahun dan jika sampai terkena, maka penyakitnya ringan
saja.[11] Di tahun 2007, the Advisory Committee on Immunization Practices
(ACIP) merekomendasikan vaksinasi kedua sebelum usia masuk sekolah
untuk lebih meningkatkan kekebalan terhadap cacar air.[12]
Vaksin cacar air biasa sudah dapat mengurangi kekambuhan dan gejala
Herpes Zoster, tetapi pada tahun 2006, FDA (BPOMnya Amerika Serikat)
telah menyetujui penggunaan Zostavax untuk mencegah terjadinya lepuh.
Zostavax sebenarnya adalah konsentrat vaksin cacar air biasa dan lebih
ditujukan kepada manula yang kekebalannya telah menurun. Zostavax
berhasil mengurangi lepuh hingga 50 persen
12. PENGOBATAN MEDIS DAN NON MEDIS
a. Pengobatan Umum

22

Modul Sistem Integumen Lbm 2 Kasus Abses Kulit Kutanius


Kelompok III PSIK VI B

Selama fase akut, pasien dianjurkan tidak keluar rumah, karena dapat
menularkan kepada orang lain yang belumpernah terinfeksi varisela dan
orang dengan defisiensi imun.
Usahakan agar vesikel tidak pecah, misalnya jangan digaruk dan pakai
baju yang longgar. Untuk mencegah infeksi sekunder jaga kebersihan
badan.
b. Pengobatan Khusus
1) Obat Antivirus
Obat yang biasa digunakan ialah asiklovir dan modifikasinya,
misalnya valasiklovir dan famsiklovir. Asiklovir bekerja sebagai
inhibitor DNA polimerase pada virus. Asiklovir dapat diberikan peroral
ataupun intravena. Asiklovir Sebaiknya pada 3 hari pertama sejak lesi
muncul. Dosis asiklovir peroral yang dianjurkan adalah 5800 mg/hari
selama 7 hari, sedangkan melalui intravena biasanya hanya
digunakan pada pasien yang imunokompromise atau penderita yang
tidak bisa minum obat. Obat lain yang dapat digunakan sebagai terapi
herpes zoster adalah valasiklovir. Valasiklovir diberikan 31000
mg/hari selama 7 hari, karena konsentrasi dalam plasma tinggi. Selain
itu famsiklovir juga dapat dipakai. Famsiklovir juga bekerja sebagai
inhibitor DNA polimerase. Famsiklovir diberikan 3200 mg/hari
selama 7 hari.
2) Analgetik
Analgetik diberikan untuk mengurangi neuralgiayang ditimbulkan oleh
virus herpes zoster. Obat yang biasa digunakan adalah asam
mefenamat. Dosis asam mefenamat adalah 1500 mg/hari diberikan
sebanyak 3 kali, atau dapat juga dipakai seperlunya ketika nyeri
muncul.
3) Kortikosteroid
Indikasi pemberian kortikostreroid ialah untuk Sindrom Ramsay Hunt.
Pemberian harus sedini mungkin untuk mencegah terjadinya paralisis.
Yang biasa diberikan ialah prednison dengan dosis 320 mg/hari,
setelah seminggu dosis diturunkan secara bertahap. Dengan dosis
prednison setinggi itu imunitas akan tertekan sehingga lebih baik
digabung dengan obat antivirus.
c. Pengobatan topikal
Pengobatan topikal bergantung pada stadiumnya. Jika masih stadium
vesikel diberikan bedak dengan tujuan protektif untuk mencegah
pecahnya vesikel agar tidak terjadi infeksi sekunder. Bila erosif diberikan
kompres terbuka. Kalau terjadi ulserasi dapat diberikan salap antibiotik.

23

Modul Sistem Integumen Lbm 2 Kasus Abses Kulit Kutanius


Kelompok III PSIK VI B

13. PEMERIKSAAN FISIK


a. Keadaan Umum
a.
Tingkat Kesadaran
b.
TTV
2)
Head To Toe
a.
Kepala
Bentuk
Kulit kepala
b.
Rambut
Warna rambut hitam, tidak ada bau pada rambut, keadaan rambut tertata rapi.
c.
Mata (Penglihatan)
Posisi simetris, pupil isokor, tidak terdapat massa dan nyeri tekan, tidak ada
penurunan penglihatan.
d.
Hidung (Penciuman)
Posisi sektum naso tepat ditengah, tidak terdapat secret, tidak terdapat lesi,
dan tidak terdapat hiposmia. Anosmia, parosmia, kakosmia.
e.
Telinga (Pendengaran)
Inspeksi
Daun telinga : tidak terdapat lesi, kista epidemoid, dan keloid.
Lubang telinga : tidak terdapat obstruksi akibat adanya benda asing.
Palpasi
Tidak terdapat edema, tidak terdapat nyeri tekan pada otitis media dan
mastoidius.
Pemeriksaan pendengaran
Test audiometric : 26 db (tuli ringgan)
Test weber : telinga yang tidak terdapat sumbatan mendengar lebih keras.
Test rinne : test (-) pada telinga yang terdapat sumbatan
f.
Mulut dan gigi
Mukosa bibir lembab, tidak pecah-pecah, warna gusi merah muda, tidak
terdapat perdarahan gusi, dan gigi bersih.
g.
Leher
Posisi trakea simetris, tidak terdapat pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada
pembesaran vena jugularis, tidak ada nyeri tekan.
h.
Thorak
Bentuk : simetris
Pernafasan : regular
Tidak terdapat otot bantu pernafasan
24
Modul Sistem Integumen Lbm 2 Kasus Abses Kulit Kutanius
Kelompok III PSIK VI B

i.
Abdomen
Inspeksi
Bentuk : normal simetris
Benjolan : tidak terdapat benjolan
Palpasi
Tidak terdapat nyeri tekan
Tidak terdapat massa / benjolan
Tidak terdapat tanda tanda asites
Tidak terdapat pembesaran hepar
Perkusi
Suara abdomen : tympani.
j.
Reproduksi
Pada pemeriksaan genitalia pria, daerah yang perlu diperhatikan adalah
bagianglans penis, batang penis, uretra, dan daerah anus. Sedangkan pada
wanita,daerah yang perlu diperhatikan adalah labia mayora dan minora,
klitoris, introitus vagina, dan serviks
Jika timbul lesi, catat jenis, bentuk, ukuran / luas,warna, dan keadaan lesi.
Palpasi kelenjar limfe regional, periksa adanyapembesaran; pada beberapa
kasus dapat terjadi pembesaran kelenjar limferegional
k.
Ekstremitas
Tidak terdapat luka dan spasme otot.
l.
Integument
Ditemukan adanya vesikel-vesikel berkelompok yang nyeri,edema di sekitar
lesi,dan dapat pula timbul ulkus pada infeksi sekunder.
14. DIAGNOSA KEPERAWATAN NANDA NIC NOC
1. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan inflamasi jaringan.
Tujuan
: integritas kulit membaik.
Intervensi : kaji kerusakan, ukuran, kedalaman, warna, cairan setiap 4
jam.
Rasionalisasi: untuk mengetahui seberapa besar kerusakan Jaringan kulit.
Pertahankan istirahat di tempat tidur dengan peninggian ekstrimitas
dan imobilisasi.
Rasionalisasi : untuk mengurangi edema dan meningkatkan sirkulasi.

25

Pertahankan teknik aseptic

Modul Sistem Integumen Lbm 2 Kasus Abses Kulit Kutanius


Kelompok III PSIK VI B

Rasionalisasi :perawatan kurang resiko infeksi dan kerusakan jaringan


semakin meluas.

Gunakan kompres dan balutan.

Rasionalisasi :sirkulasi darah lancer

Pantau suhu setiap 4 jam, laporkan kedokter jika ada peningkatan

Rasionalisasi :mengetahui tanda-tanda infeksi


2. Nyeri berhubungan dengan inflamasi jaringan.
Tujuan :gangguan rasa nyaman nyeri teratasi (hilang)
Intervensi :
kaji intensitas nyeri menggunakan skala nyeri
Rasionalisasi :untuk mengetahui seberapa besar nyeri.

Pertahankan ekstrimitas yang dipengaruhi dalam posisi yang


ditentukan.

Rasionalisasi :mengurangi nyeri.

Berikan analgesic jika diperlukan

Rasionalisasi :mengurangi nyeri.

Bantu danajarkan penanganan terhadap nyeri misalnya relaksasi.

Rasionalisasi :mengurangi nyeri.

Tingkatkan aktivitas distraksi

Rasionalisasi :mengalihkan perhatian terhadap nyeri.


3. Gangguan body image berhubungan dengan perubahan struktur kulit.
Tujuan : gangguan body image pasien teratasi
Kriteria hasil:

Body image positif


Mampu mengidentifikasi kekuatan personal
Mendiskripsikan secara faktual perubahan fungsi tubuh
Mempertahankan interaksi sosial
Intervensi :
Kaji tingkat kebutuhan tidur
Rasionalisasi :mengetahui lamanya kebutuhan tidur

Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyamaN.

Rasionalisasi :memudahkan klien untuk tidur.


26

Modul Sistem Integumen Lbm 2 Kasus Abses Kulit Kutanius


Kelompok III PSIK VI B

Berikan kesempatan pada klien untuk beristirahat

Rasionalisasi : agar klien dapat beristirahat

Kolaborasi tentang pemberian analgetik

Rasionalisasi :dapat mengurangi nyeri dan memudahkan klien untuk


istirahat tidur.
4. Ketidakseimbangan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan intake nutrisi yang kurang.
Tujuan :kebutuhan nutrisi terpenuhi.
Intervensi :
Kaji turgor kulit
Rasionalisasi :ketidak adekuatan volume cairan di dalam tubuh
menyebabkan kulit kering.

Kaji perubahan tanda vital, peningkatan suhu tubuh

Rasionalisasi : peningkatan suhu tubuh dapat meningkatkan laju metabolic


dan kehilangan cairan melalui evaporasi.

Catat jumlah makanan yang dihabiskan

Rasionalisasi : untuk mengetahui seberapa banyak klien makan

Timbang berat badan setiap hari

Rasionalisasi :untuk mengetahui penurunan dari status nutrisi

Anjurkan klien untuk makan dalam porsi kecil tapi sering dan banyak
mengandung zat gizi.

Rasionalisasi :untuk memenuhi kebutuhan nutrisi


5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi
mengenai proses penyakit.
Tujuan : agar klien mengetahui proses terjadinya penyakit
Intervensi :
Kaji tingkat kecemasan
Rasionalisasi :untuk mengetahui seberapa besar tingkat kecemasan

Kaji tingkat pengetahuan klien tentang proses terjadinya penyakit

Rasionalisasi :untuk mengetahui pengetahuan klien tentang proses


terjadinya penyakit.
27

Modul Sistem Integumen Lbm 2 Kasus Abses Kulit Kutanius


Kelompok III PSIK VI B

Informasikan secara akurat tentang kondisi klien dan tindakan yang


akan diberikan

Rasionalisasi :klien mengerti sehingga dapat mengurangi cemas.

Informasikan secara aku ratten tentang proses terjadinya penyakit

Rasionalisasi : agar klien mengetahui tentang proses terjadinya penyakit.

G. JUMP 7 : DAFTAR PUSTAKA


Corwin, Elizabeth. J. 2001. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.
Djuanda, Adhi. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi Keempat. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.Jakarta : 2005
Djuanda, Prof. Dr. dr. Adhi. 2007. Ilmu Penyakit KUlit dan Kelamin. Ed.5.
Jakarta:FKUI
Doenges. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan edisi 3. Jakarta : EGC.
Doherty, Gerard M. and Way, Lawrence W.1994. Current Surgical Diagnosis &
Treatment. 11th Edition. India: Mc Graw Hill.
Graham, R.2005. Lecture Notes on Dermatologi. Ed.8. Jakarta: Erlangga
Hamzah, Mochta. 2005. Ilmu Penyakit dan Kelamin Edisi 4. Jakarta: Balai penerbit
FKUI
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran edisi: 3, jilid 2. Media Aesculapius:
Jakarta
Price dan Wilson. 1991. Patofisiologi Konsep Klinik Proses-Proses Penyakit Edisi
2.Jakarta: EGC.
28

Modul Sistem Integumen Lbm 2 Kasus Abses Kulit Kutanius


Kelompok III PSIK VI B

Rampengan, T.H. Penyakit Infeksi Tropik Pada Anak. Penerbit Buku Kedokteran
EGC. Jakarta : 2005
Schachner, Lawrence. Pediatric Dermatology Third Edition. Mosby. 2003.
www.American Academy Of Family Phisicians, Diagnosis and Managemen of
Melanoma Maligna.
www.emedcine. Susan M Sweeter MD. Malignant Melanoma.
www.Medine Plus Medical. Malignant Melanoma.
(http://httpyasirblogspotcom)
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Herpes_zoster
https://azidnasbi.wordpress.com/2011/11/15/herpes-zoster/

http://newsdaily7.com/app/?&t202id=300051&t202kw=newwwcpa&match=&c3=

29

Modul Sistem Integumen Lbm 2 Kasus Abses Kulit Kutanius


Kelompok III PSIK VI B