Anda di halaman 1dari 33

PERCOBAAN IV

FREQUENCY DIVISION MULTIPLEXING DAN DEMULTIPLEXING


4.1

Tujuan
1. Untuk mengetahui blok-blok yang menyusun Frequency Division
Multiplexing dan Frequency Divison Demultiplexing.
2. Untuk mengetahui proses-proses yang terjadi dalam teknik Frequency
Division Demultiplexing.

4.2

Peralatan
1. Perangkat keras Frequency Division Multiplexing dan Frequency

Division Demultiplexing
2. Oscilloscope
3. Frequency Counter
4. Kabel-kabel Penghubung
4.3

Dasar Teori

4.3.1

Multiplexing
Multiplexing adalah suatu cara pengiriman beberapa sinyal informasi

dengan menggunakan beberapa sinyal pembawa (sub-carrier) untuk sebuah


saluran transmisi secara bersama-sama. Multiplexer mengkombinasikan (memultiplex) data dari n input dan mentransmisi melalui kapasitas data link yang
tinggi.

Gambar 4.1 Multiplexing

Adapun beberapa jenis dari teknik multiplexing yang umum digunakan


yaitu Time Division Multiplexing (TDM), Frequency Division Multiplexing

(FDM), dan Code Division Multiplexing (CDM). TDM memiliki 2 jenis yaitu
synchronous TDM dan asynchronous TDM.
4.3.2

Time Division Multiplexing (TDM)


Secara umum TDM menerapkan prinsip penggiliran waktu pemakaian

saluran transmisi dengan mengalokasikan satu slot waktu (time slot) bagi setiap
pemakai saluran (user). TDM yaitu terminal atau channel pemakaian bersamasama kabel yang cepat dengan setiap channel membutuhkan waktu tertentu secara
bergiliran. Biasanya waktu tersebut cukup digunakan untuk menghantar satu bit
(kadang-kadang dipanggil bit interleaving) dari setiap channel secara bergiliran
atau cukup untuk menghantar satu karakter (kadang-kadang dipanggil character
interleaving atau byte interleaving). Menggunakan metoda character interleaving,
multiplexer akan mengambil satu karakter (jajaran bitnya) dari setiap channel
secara bergiliran dan meletakkan pada kabel yang dipakai bersama-sama sehingga
sampai ke ujung multiplexer untuk dipisahkan kembali melalui port masingmasing.
Menggunakan metode bit interleaving, multiplexer akan mengambil satu
bit dari setiap channel secara bergiliran dan meletakkan pada kabel yang dipakai
sehingga sampai ke ujung multiplexer untuk dipisahkan kembali melalui port
masing-masing. Jika ada channel yang tidak ada data untuk dihantar, TDM tetap
menggunakan waktu untuk channel yang ada (tidak ada data yang dihantar), ini
merugikan penggunaan kabel secara maksimum. Kelebihanya adalah karena
teknik ini tidak memerlukan guardband jadi bandwidth dapat digunakan
sepenuhnya dan perlaksanaan teknik ini tidak sekompleks teknik FDM.
Pengiriman data menggunakan TDM dilakukan dengan mencampur data
berdasarkan waktu sinyal data tersebut dikirimkan. Bit data dari terminal secara
bergantian diselipkan diantara bit data dari terminal lain.

Jenis dari TDM adalah sebagai berikut.


A. Synchronous Time Division Multiplexing (STDM)

Hubungan antara sisi pengirim dan sisi penerima dalam komunikasi


data yang menerapkan teknik synchronous TDM.
B. Asynchronous Time Division Multiplexing (ATDM)
Untuk mengoptimalkan penggunaan saluran dengan cara menghindari
adanya slot waktu yang kosong akibat tidak adanya data (atau tidak
aktif-nya pengguna) pada saat sampling setiap input line, maka pada
asynchronous TDM proses sampling hanya dilakukan untuk inputline
yang aktif saja.
4.3.3

Frequency Division Multiplexing (FDM)


Pada Frequency Division Multiplexing (FDM), beberapa sinyal informasi

dikirim secara serentak atau bersamaan dimodulasi dengan masing-masing sinyal


informasi.

Gambar 4.2 Skema Multiplexing

Prinsip dari FDM adalah pembagian bandwidth saluran transmisi atas


sejumlah kanal (dengan lebar pita frekuensi yang sama atau berbeda) dimana
masing-masing kanal dialokasikan ke pasangan entitas yang berkomunikasi.

Gambar 4.3 Frekuensi Division Multiplexer

Contoh aplikasi FDM ini yang polpuler pada saat ini adalah jaringan
komunikasi seluler, seperti GSM (Global System Mobile) yang dapat menjangkau
jarak 100 m sampai dengan 35 km. Tingkatan generasi GSM adalah sebagai
berikut.
a.First-generation (Analog cellular systems (450-900 MHz)):
-

Frequency shift keying for signaling

FDMA for spectrum sharing

NMT (Europe), AMPS (US)

b. Second-generation (Digital cellular systems (900, 1800 MHz)):


- TDMA/CDMA for spectrum sharing
- Circuit switching
- GSM (Europe), IS-136 (US), PDC (Japan)
Kelemahannya adalah jika ada channel (terminal) yang tidak menghantar
data, frekuensi yang dikhususkan untuk membawa data pada channel tersebut
tidak tergunakan dan ini merugikan juga harganya agak mahal dari segi
pemakaian (terutama dibandingkan dengan TDM) karena setiap channel harus
disediakan frekuensinya. Kelemahan lain adalah karena bandwidth jalur atau
media yang dipakai bersama-sama tidak dapat digunakan sepenuhnya, kerana
sebagian dari frekuensi terpaksa digunakan untuk memisahkan antara frekuensi
channel-channel yang ada yang disebut sebagai guardband. Sistem ini menumpuk
sinyal pada bidang frekuensi data yang dikirim akan dicampur berdasarkan
frekuensinya.

FDM tidak hanya digunakan untuk pengiriman dari titik ke titik, tapi dapat
juga dengan cara multidrop. Dengan cara ini, setiap penerima hanya mengambil
sinyal data sesuai dengan frekuensi yang sudah ditentukan dan data yang lain
diteruskan ke tujuan yang bersangkutan. Jika terminal tersebut tidak mengirimkan
data, maka kanal itu tidak berfungsi.
4.3.4

Code Division Multiplexing (CDM)


Code Division Multiplexing (CDM) dirancang untuk menanggulangi

kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh teknik multiplexing sebelumnya, yakni


TDM dan FDM. Contoh aplikasinya pada saat ini adalah jaringan komunikasi
seluler CDMA. Prinsip kerja dari CDM adalah sebagai berikut:
1. Kepada setiap entitas pengguna diberikan suatu kode unik (dengan
panjang 64 bit) yang disebut chipspreading code.
2. Untuk pengiriman bit 1, digunakan representasi kode (chipspreading
code) tersebut.
3. Sedangkan untuk pengiriman bit 0, yang digunakan adalah inverse
dari kode tersebut.
4. Pada saluran transmisi, kode-kode unik yang dikirim oleh sejumlah
pengguna akan ditransmisikan dalam bentuk hasil penjumlahan (sum)
dari kode-kode tersebut.
5. Di sisi penerima, sinyal hasil penjumlahan kode-kode tersebut akan
dikalikan dengan kode unik dari si pengirim (chipspreading code)
untuk diinterpretasikan selanjutnya jika jumlah hasil perkalian
mendekati nilai +64 berarti bit 1, sedangkan jika jumlahnya
mendekati 64 dinyatakan sebagai bit 0.
Contoh penerapan CDM untuk 3 pengguna (A,B dan C) menggunakan
panjang kode 8 bit (8-chipspreading code) dijelaskan sebagai berikut:
a) Pengalokasian kode unik (8-chipspreading code) bagi ketiga
pengguna :
-

Kode untuk A : 10111001

Kode untuk B : 0110111

Kode untuk C : 11001101

b) Misalkan pengguna A mengirim bit 1, pengguna B mengirim bit 0


dan pengguna C mengirim bit 1. Maka pada saluran transmisi akan
dikirimkan kode berikut :
-

A mengirim bit 1 : 10111001 atau + - + + + - - +

B mengirim bit 0 : 10010001 atau + - - + - - - +

C mengirim bit 1 : 11001101 atau + + - - + + - +

hasil penjumlahan (sum) = +3,-1,-1,+1,+1,-1,-3,+3


c) Pasangan dari A akan menginterpretasi kode yang diterima dengan
cara :
-

Sinyal yang diterima : +3 1 1 +1 +1 1 3 +3

Kode milik A

: +1 1 +1 +1 +1 -1 1 +1

Hasil perkalian (product) : +3 +1 1 +1 +1 +1 +3 +3 = 12


Nilai +12 akan diinterpretasi sebagai bit 1 karena mendekati nilai
+8.
d) Pasangan dari pengguna B akan melakukan interpretasi sebagai
berikut :
-

sinyal yang diterima : +3 1 1 +1 +1 1 3 +

kode milik B

jumlah hasil perkalian: 3 1 1 1 +1 1 3 3 =

: 1 +1 +1 1 +1 +1 +1 1

-12
Berarti bit yang diterima adalah bit 0, karena mendekati nilai 8.
4.3.5

Demultiplexing
Frequency Division Demultiplexing adalah suatu teknik untuk memulihkan

sinyal yang telah ter-multiplexing melalui FDM, guna mendapatkan sinyal aslinya
(sinyal informasi). FDM dimungkinkan bila lebar pita media transmisi yang
digunakan melebihi lebar pita yang diperlukan dari sinyal-sinyal yang
ditransmisikan. Sejumlah sinyal dapat dibawa secara simultan bila masing-masing
sinyal dimodulasikan ke frekuensi pembawa yang berlainan dan frekuensi

pembawa lain, cukup pisahkan dimana lebar pita sinyal secara signifikan tidak
bertumpang tindih. Misalkan beberapa sumber sinyal dimasukkan ke multiplexer,
yang memodulasi setiap sinyal ke frekuensi yang berbeda-beda.
Masing-masing sinyal yang dimodulasi memerlukan lebar pita tertentu
yang dipusatkan di sekitar frekuesi pembawa (channel). Untuk mencegah
interferensi channel dipisahkan dengan band pelindung yang merupakan bagian
dari spektrum yang tidak digunakan. Sistem pembawa jarak jauh dirancang agar
dapat mentransmisikan sinyal-sinyal band suara di sepanjang jalur transmisi
berkapasitas tinggi seperti kabel koaksial, dan sistem gelombang mikro. Sinyal
data atau suara yang asli beberapa kali. Sebagai contoh sinyal dapat diberi kode
untuk membentuk sinyal suara analog. Masing-masing tahapan dapat merusak
data yang asli apabila modulator memuat derau.
Bagian-bagian perangkat FDD terdiri dari beberapa alat, yaitu BPF (Band
Pass Filter), LPF (Low Pass Filter), demodulator (demux), penguat dan osilator.
Sinyal termodulasi yang telah dimultiplexing dibedakan berdasarkan bandwidthnya dan terpisah menjadi sinyal-sinyal termodulasi yang berupa kode-kode.
Selanjutnya sinyal termodulasi tadi di-filter (disaring) oleh LPF (Low Pass Filter)
dari beberapa sinyal-sinyal berfrekuensi rendah yang menumpang pada sinyal
informasi khususnya memisahkan sinyal informasi dari sinyal carrier (pembawa).
Kemudian sinyal-sinyal termodulasi yang telah di-filter tadi dibangkitkan dari
akibat proses multiplexing kedalam bentuk sinyal aslinya. Lalu sinyal termodulasi
di-oscillator-kan untuk mendapatkan sinyal informasi yang dicari. Pada tahap
berikutnya sinyal ini di-filter kembali dan mengalami penguatan untuk
mendapatkan sinyal informasi seperti yang dikirim oleh pengirim.

Gambar 4.4 Skema Demultiplexing

4.4

Langkah Pecobaan

4.4.1

Frequency Division Multiplexing (FDM)

A. Persiapan
1. Hidupkan perangkat percobaan
2. Hidupkan saklar dan ukurlah besarnya frekuensi sinyal informasi dan
bentuk gelombangnya dengan mengukur pada terminal S1 seperti gambar
berikut :

Gambar 4.5 Alat Multiplexing

3. Ukurlah besar frekuensi dan bentuk. sinyal osilator seperti gambar


berikut :

Gambar 4.6 Alat Multiplexing

4. Putar-putarlah timer di bagian belakang perangkat supaya diperoleh


keluaran 14 kHz untuk masing-masing kanal 1,2,3 secara berurut.
B. Pengukuran Keluaran Penguat
1. Hubungkan kanal 1 osciloscope dengan terminal S1-1 dan hubungkan
kanal 2 osciloscope dengan terminal SP-1 seperti gambar berikut :

Gambar 4.7 Alat Multiplexing

2. Lanjutkan pengukuran untuk kanal 2 dan 3. Catat hasilnya.

3. Bandingkan bentuk sinyal informasi dengan bentuk sinyal keluaran


penguat masing-masing kanal.
C. Pengukuran Keluaran Modulator
4. Hubungkan kanal 1 oscilloscope dengan terminal SP-1 dan hubungkan
kanal 2 osciloscope dengan terminal SM-1 seperti gambar berikut:

Gambar 4.8 Alat Multiplexing

5. Lanjutkan pengukuran untuk kanal 2 dan 3, catat hasilnya.


6. Bandingkan bentuk sinyal keluaran penguat (sinyal masukan modulator)
dengan keluaran modulator
7. Hubungkan perangkat FDM dengan oscilloscope seperti pada gambar
berikut:

Gambar 4.9 Alat Multiplexing

8. Perhatikan bentuk sinyal keluaran multiplexer dan berikan komentar.


4.4.2

Frequency Division Demultiplexing (FDD)

A. Persiapan
1. Alat ukurnya (oscilloscope) terlebih dahulu dikalibrasi.
2. Hidupkan perangkat percobaan, terus tekan switch pada posisi on.

Gambar 4.10 Alat Demultiplexing

3. Lakukan pengukuran oscillator dengan oscilloscope dan frequency


counter. Atur nilai frekuensi osilator (sesuai dengan yang ditunjukkan
frequency counter), dengan menge-trim (putar-putar trimer di bagian
belakang perangkat) sehingga diperoleh frekuensi yang sama dengan
pengirimnya. Catat hasil pengukurannya.
4. Hubungkan perangkat FDD dengan pengirimnya
B. Percobaan
5. Amati dan catatlah sinyal yang diterima dari transmisi dengan
oscilloscope.
6. Amati dan catatlah keluaran dari masing-masing band-pass filter.
7. Hubungkan kanal oscilloscope dengan keluaran BPF 1 dan kanal-2
oscilloscope dengan keluaran modulator 1 pada penerimanya. Demikian
juga untuk BPF-2 dan BPF-3.

8. Amati dan catatlah masukan dan keluaran dari masing-masing


demodulator. Masukan demodulator adalah keluaran dari BPF. Gunakan
kedua kanal dari oscilloscope (mode dual) untuk mengamatinya.
9. Amati dan catatlah masukan dan keluaran dari masing-masing low-pass
filter. Masukan LPF adalah keluaran dari demodulator. Gunakan kedua
kanal dari oscilloscope (mode dual) untuk mengamatinya.
10. Amati dan catatlah masukan dan keluaran dari masing-masing penguat
dengan oscilloscope (mode dual).
11. Amati dan catatlah frekuensi akhir (penguat) dengan frequency counter.
Bandingkan dengan input pada bagian pengirimnya.
12. Hubungkan masing-masing osilator sub-pembawa pada pengirimnya untuk
digunakan pada penerimanya. Tekan saklar jumper osilator pengirim pada
posisi"ON". Lakukan lagi pengukuran seperti langkah (3) sampai (10).

4.5

Gambar dan Data Hasil Percobaan

4.5.1

Frequency Division Multiplexing (FDM)


A. Sinyal Informasi

Gambar 4.11 Sinyal Informasi Kanal 1 pada Multiplexing

Parameter yang didapatkan :


Frekuensi
Pk-Pk
Amplitudo

: 808,1 Hz
: 5,20 V
: 5,12 V

Gambar 4.12 Sinyal Informasi Kanal 3 pada Multiplexing

Parameter yang didapatkan :


Frekuensi
Pk-Pk
Amplitudo

: 2,058 kHz
: 4,72 V
: 4,64 V

B. Sinyal Penguat

Gambar 4.13 Sinyal Penguat Kanal 1 pada Multiplexing

Parameter yang didapatkan :


Frekuensi
Pk-Pk
Amplitudo

: 808,1 Hz
: 13,8 V
: 13,7 V

Gambar 4.14 Sinyal Penguat Kanal 3 pada Multiplexing

Parameter yang didapatkan :


Frekuensi

: 2,062 kHz

Pk-Pk

: 9,92 V

Amplitudo

: 9,84 V

C. Sinyal Carrier

Gambar 4.15 Sinyal Pembawa Kanal 1 pada Multiplexing

Parameter yang didapatkan :


Frekuensi

: 14,01 kHz

Pk-Pk

: 2,34 V

Amplitudo

: 2,32 V

Gambar 4.16 Sinyal Pembawa Kanal 2 pada Multiplexing

Parameter yang didapatkan :


Frekuensi

: 23,64 kHz

Pk-Pk

: 1,08 V

Amplitudo

: 1,74 V

Gambar 4.17 Sinyal Pembawa Kanal 3 pada Multiplexing

Parameter yang didapatkan :


Frekuensi
Pk-Pk
Amplitudo

: 33,84 kHz
: 1,34 V
: 1,30 V

D. Sinyal Modulasi

Gambar 4.18 Sinyal Modulasi Kanal 1 pada Multiplexing

Parameter yang didapatkan :


Frekuensi
Pk-Pk
Amplitudo

: 5,495 kHz
: 1,58 V
: 1,34 V

Gambar 4.19 Sinyal Modulasi Kanal 3 pada Multiplexing

Parameter yang didapatkan :


Frekuensi

: 23,53 kHz

Pk-Pk

: 1,11 V

Amplitudo

: 760 mV

E. Sinyal Hasil Multiplexing

Gambar 4.20 Sinyal Hasil Multiplexing

Parameter yang didapatkan :


Frekuensi

:14,29 kHz

Pk-Pk

: 3,22 V

Amplitudo

: 1,28 V

4.5.2

Frequency Division Demultiplexing (FDD)


A. Band Pass Filter

Gambar 4.21 Sinyal BPF Kanal 1 pada Demultiplexing

Parameter yang didapatkan :


Frekuensi

: 12,12 kHz

Pk-Pk

: 220 mV

Amplitudo

: 68,0 mV

Gambar 4.22 Sinyal BPF Kanal 3 pada Demultiplexing

Parameter yang didapatkan :


Frekuensi
Pk-Pk
Amplitudo

: 16,60 kHz
: 164 mV
: 40,0 mV

B. Sinyal Carrier

Gambar 4.23 Sinyal Carrier Kanal 1 pada Demultiplexing

Parameter yang didapatkan :


Frekuensi
Pk-Pk
Amplitudo

: 13,99 kHz
: 2,54 V
: 2,50 V

Gambar 4.24 Sinyal Carrier Kanal 3 pada Demultiplexing

Parameter yang didapatkan :


Frekuensi
Pk-Pk
Amplitudo

: 33,78 kHz
: 1,29 V
: 1,27 V

C. Sinyal Informasi

Gambar 4.25 Sinyal Informasi Kanal 1 pada Demultiplexing

Parameter yang didapatkan :


Frekuensi

: 808,1 Hz

Pk-Pk

: 960 mV

Amplitudo

: 872 mV

Gambar 4.26 Sinyal Informasi Kanal 3 pada Demultiplexing

Parameter yang didapatkan :


Frekuensi

: 2,050 kHz

Pk-Pk

: 436 mV

Amplitudo

: 400 mV

4.6

Analisa Hasil Percobaan

4.6.1

Analisa Sinyal FDM

A. SI (Sinyal Informasi)
Bentuk sinyal informasi pada kanal 1 dan 3 dapat dilihat pada gambar
4.11 sampai gambar 4.12. Pada saat praktikum amplitudo yang didapat setiap
kanal lebih besar dari amplitudo yang didapat secara teori. Amplitudo secara
teoritis dapat ditemukan dengan menggunakan rumus:
Amplitudo =

(4.1)

Tabel 4.1 Tabel Perbandingan Ampiltudo Sinyal Informasi

Parameter
Amplitudo Teoritis

SI1
2,60 V

SI3
2,36 V

Amplitudo Praktikum

5,12 V

4,64 V

Frekuensi

808,1 Hz

2,058 kHz

Pk-Pk

5,20 V

4,72 V

B. Sinyal Penguat (SP)


Bentuk dari sinyal penguat dapat dilihat pada gambar 4.13 dan gambar
4.14 . Pada saat praktikum amplitudo yang didapat setiap kanal lebih besar dari
amplitudo

yang didapat secara teori.

Amplitudo dapat ditemukan dengan

menggunakan rumus pada persamaan 4.1.Sehingga didapatkan.

Tabel 4.2 Tabel Perbandingan Ampiltudo Sinyal Penguat

Parameter
Amplitudo Teoritis

SP1
6,9 V

SP3
4,96 V

Amplitudo Praktikum

13,7 V

9,84 V

Frekuensi

808,1 Hz

2,062 kHz

Pk-Pk

13,8 V

9,92 V

C. Sinyal Pembawa (SC)


Bentuk gelombang dari sinyal carrier dapat dilihat pada gambar 4.15
sampaigambar 4.17. Pada saat praktikum amplitudo yang didapat setiap kanal
lebih besar dari amplitudo yang didapat secara teori. Amplitudo secara teori dapat
dicari dengan menggunakan rumus pada persamaan 4.1. Sehingga didapatkan.
Tabel 4.3Tabel Perbandingan Ampiltudo Sinyal Pembawa

Parameter
Amplitudo Teoritis

SC1
1,17 V

SC2
0,54 V

SC3
0,67 V

Amplitudo Praktikum

2,32 V

1,74 V

1,30 V

Frekuensi

14,01 kHz

23,64 kHz

33,84 kHz

Pk-Pk

2,34 V

1,08 V

1,34 V

D.

Sinyal Modulasi (SM)


Bentuk gelombang dari sinyal modulasi dapat dilihat pada gambar 4.18

dan gambar 4.19. Pada saat praktikum amplitudo yang didapat setiap kanal lebih

besar dari amplitudo yang didapat secara teori. Pada saat praktikum didapat
amplitudo kanal 1, dan 3 yaitu sebesar 1,34 V, dan 760 mV. Amplitudo secara
teori dapat dicari dengan menggunakan rumus pada persamaan 4.1. Sehingga
didapatkan.
Tabel 4.4 Tabel Perbandingan Ampiltudo Sinyal Modulasi

Parameter
Amplitudo Teoritis

SM1
0,79 V

SM2
-

SM3
555 mV

Amplitudo Praktikum

1,34 V

760 mV

Frekuensi

5,495 kHz

23,53 kHz

Pk-Pk

1,58 V

1,11 V

E. Sinyal Multiplexing
Bentuk sinyal multiplexing dapat dilihat pada gambar 4.20. Bentuk sinyal
multiplexing berbentuk seperti itu karena dimodulasi secara AM, karena
amplitudo dari sinyal hasil multiplexing berubah sesuai dengan amplitudo
sinyal informasi.

4.6.2

Analisa Sinyal FDD ( Frequency Division Demultiplexing)

A. BPF (Band Pass Filter)


Bentuk gelombang dari sinyal hasil Band Pass Filter dapat dilihat pada
gambar 4.21 sampai gambar 4.22. Pada saat praktikum amplitudo yang didapat
setiap kanal lebih besar dari amplitudo yang didapat secara teori. Pada saat

praktikum didapat amplitudo kanal 1 dan 3 yaitu sebesar 68 mV dan 40 mV.


Amplitudo teroritis didapatkan dengan menggunakan rumus pada persamaan 4.1.
Sehingga didapat :
Tabel 4.5 Tabel Perbandingan Ampiltudo Sinyal Band Pass Filter

Parameter
Amplitudo Teoritis

BPF1
110 mV

BPF3
82 mV

Amplitudo Praktikum

68 mV

40 mV

Frekuensi

12,12 kHz

16,60 kHz

Pk-Pk

220 mV

164 mV

B. Sinyal Carrier (SC)


Bentuk gelombang dari sinyal carrier dapat dilihat pada gambar 4.23 dan
gambar 4.24. Pada saat praktikum amplitudo yang didapat setiap kanal lebih besar
dari amplitudo yang didapat secara teori. Pada saat praktikum didapat amplitudo
kanal 1, dan 3 yaitu sebesar 2,50 V, dan 1,27 V. Amplitudo teroritis didapatkan
dengan menggunakan rumus pada persamaan 4.1. Sehingga didapat :

Tabel 4.6 Perbandingan Amplitudo pada Sinyal Carrier

Parameter
Amplitudo Teoritis

SC1
1,25 V

SC2
-

SC3
0,64 V

Amplitudo Praktikum

2,54 V

1,29 V

Frekuensi

13,99 kHz

33,78 kHz

Pk-Pk

2,50 V

1,27 V

C. Sinyal Penguat (SP)


Bentuk gelombang dari sinyal penguat dapat dilihat pada gambar 4.25 dan
gambar 4.26. Pada saat praktikum amplitudo yang didapat setiap kanal lebih besar
dari amplitudo yang didapat secara teori. Pada saat praktikum didapat amplitudo
kanal 1 dan 2 yaitu sebesar 864mV dan 400mV. Amplitudo teroritis didapatkan
dengan menggunakan rumus pada persamaan 4.1. Sehingga didapat :
Tabel 4.7 Perbandingan Amplitudo pada Sinyal Penguat

Parameter
Amplitudo Teoritis

SP1
480 mV

SP3
218 mV

Amplitudo Praktikum

872 mV

400 mV

Frekuensi

808,1 Hz

2,050 kHz

Pk-Pk

960 mV

436 mV

4.6.3

Amplitudo SI dengan SP pada Multiplexing

Gambar 4.27 Perbandingan SI Channel 1 dengan SP Channel 2 pada Kanal 1


Tabel 4.6 Perbandingan SI dengan SP pada Kanal 1

Parameter
Amplitudo Teoritis

SI1
2,60 V

SP1
6,9 V

Amplitudo Praktikum

5,12 V

13,7 V

Frekuensi

808,1 Hz

808,1 Hz

Pk-Pk

5,20 V

13,8 V

Sinyal informasi pada kanal 1 memiliki amplitudo sebesar 5,12 V


sedangkan sinyal penguat memiliki amplitudo sebesar 13,7 V. Ini berarti Sinyal
penguat memiliki amplitudo yang lebih besar dari sinyal informasi. Hal ini
disebabkan karena sinyal penguat merupakan sinyal informasi yang telah
melewati proses penguatan pada repeater equipment. Penguatan sinyal diperlukan
untuk mengurangi kecacatan sinyal yang disebabkan oleh redaman (attenuation
distortion) selama proses transmisi berlangsung.

4.6.4

Analisis Sinyal Modulasi

Gambar 4.28 Sinyal Modulasi Kanal 1, dan 3


Tabel 4.7 Sinyal Modulasi

Parameter
Amplitudo Teoritis

SM1
0,79 V

SM3
555 mV

Amplitudo Praktikum

1,34 V

760 mV

Frekuensi

5,495 kHz

23,53 kHz

Pk-Pk

1,58 V

1,11 V

Sinyal modulasi merupakan sinyal hasil dari tumpang tindih sinyal


keluaran dari penguat dengan sinyal pembawa. Pada sinyal penguat kanal 1
memiliki frekuensi sebesar 808,1 Hz, pada sinyal carrier kanal 1 memiliki
frekuensi sebesar 14,01 kHz dan pada sinyal modulasi kanal 1 memiliki frekuensi
sebesar 5,495 kHz. Sedangkan pada sinyal penguat kanal 3 memiliki frekuensi
sebesar 2,062 kHz , pada sinyal carrier kanal 3 memiliki frekuensi 33,84 kHz dan
sinyal modulasi memiliki frekuensi 23,53 kHz. Pada amplitudo sinyal penguat
lebih kecil dari sinyal carrier, dan sinyal carrier lebih kecil dari sinyal modulasi.
Teknik modulasi yang digunakan pada modulator adalah teknik modulasi
amplitudo karena pada hasil multiplexing karakteristik sinyal yang ditampilkan
mirip dengan hasil dari teknik modulasi amplitudo.

4.6.5

Analisis Sinyal Hasil Multiplexing

Gambar 4.31 Sinyal Hasil Multiplexing

Parameter yang didapatkan :


Frekuensi

: 14,29 Hz

Pk-Pk

: 3,22 V

Amplitudo

: 1,28 V

Sinyal hasil multiplexing merupakan gabungan dari sinyal informasi dan


sinyal pembawa pada kanal-kanal. Oleh karena itu, sinyal hasil multiplexing
memiliki frekuensi yang lebih besar dari sinyal informasi. Pada saat praktikum
didapatkan frekuensi sinyal hasil multiplexing sebesar 14,29 kHz. Sinyal hasil
multiplexing memiliki guard band untuk mencegah terjadinya tumpang tindih
pada setiap sinyal informasi yang ditransmisikan. Pada gambar bisa dilihat
gelombang sinyal hasil multiplexing memiliki celah-celah itulah yang dinamakan
guardband. Bentuk dari gelombang sinyal hasil multiplexing memiliki bentuk
yang sesuai dengan amplitudo sinyal informasinya dan bentuk gelombang sinyal
hasil multiplexing memiliki bentuk yang mirip dengan modulasi amplitudo (AM).

4.6.6

Analisis SI pada Multiplexing dan SI pada Demultiplexing

Gambar 4.29 Perbandingan Sinyal Informasi Multiplexing Channel 1 dengan Sinyal Informasi
Demultiplexing Channel 2 pada Kanal 1
Tabel 4.8 Perbandingan Sinyal Informasi Multiplexing dengan Sinyal Informasi Demultiplexing

Parameter
Frekuensi
Pk-Pk
Amplitudo
Parameter
Frekuensi
Pk-Pk
Amplitudo

Sinyal Informasi Multiplexing


Kanal 1
Kanal 2
808,1 Hz
5,20 V
5,12 V
Sinyal Informasi Demultiplexing
Kanal 1
Kanal 2
808,1 Hz
960 mV
872 mV
-

Kanal 3
2,058 kHz
4,72 V
4,64 V
Kanal 3
2,050 kHz
436 mV
400 mV

Sinyal informasi multiplexing pada kanal 1 memiliki frekuensi yang sama


dengan sinyal informasi demultiplexing pada kanal 1 sedangkan pada kanal 3
demultiplexing memiliki frekuensi hampir mendekati frekuensi sinyal informasi
multiplexing pada kanal 3. Dapat dilihat pada gambar 6.2 sinyal informasi
demultiplexing memiliki karakteristik yang bentuk gelombang yang sama hanya
saja pada sinyal informasi demultiplexing memiliki amplitudo yang lebih kecil
daripada sinyal informasi multiplexing.
4.6.7

Analisis SP pada Multiplexing dan LPF pada Demultiplexing

Gambar 4.30 Perbandingan Sinyal Penguat Demultiplexing Channel 1 dengan Sinyal LPF
Demultiplexing Channel 2 pada Kanal 1
Tabel 4.8 Perbandingan Sinyal Informasi Multiplexing dengan Sinyal Informasi Demultiplexing

Parameter
Frekuensi
Pk-Pk
Amplitudo
Parameter
Frekuensi
Pk-Pk
Amplitudo

Sinyal Low Pass Filter Demultiplexing


Kanal 1
Kanal 2
806,5 Hz
4,36 V
4,20 V
Sinyal Penguat Demultiplexing
Kanal 1
Kanal 2
809,7 Hz
13,8 V
13,8V
-

Kanal 3
Kanal 3
-

Sinyal Low Pass Filter Demultiplexing pada kanal 1 memiliki frekuensi


yang lebih rendah daripada sinyal penguat demultiplexing pada kanal 1 begitu
juga pada kanal 3. Hal ini karena Sinyal Penguat merupakan sinyal yang telah
diperkuat sedangkan sinyal low pass filter adalah sinyal yang baru saja difilter dan
dihilangkan noisenya.

4.7
1.

Simpulan
Parameter amplitudo sinyal informasi, sinyal penguat, sinyal carrier dan
sinyal modulasi pada FDM memiliki perbedaan dengan amplitudo teoritis.
Demikian juga pada sinyal hasil BPF, sinyal carrier dan sinyal penguat

FDD yang didapat pada saat praktikum berbeda dengan amplitudo teoritis.
Hal ini terjadi akibat dari kesalahan pada alat ukur atau kesalahan
2.

pengukuran.
Jika sinyal informasi melalui proses penguatan maka amplitudo pada
sinyal informasi akan meningkat karena proses penguatan hanya akan

3.

meningkatkan tegangan pada amplitudo saja.


Sinyal modulasi merupakan hasil dari penumpangan sinyal informasi pada
sinyal carrier. Sinyal modulasi yang dihasilkan adalah bentuk amplitude
modulation. Oleh karena itu, sinyal pembawa mengalami pergeseran

4.

amplitudo dengan perubahan linear frekuensi.


Sinyal hasil multiplexing memiliki bentuk seperti hasil modulasi amplitudo
dikarenakan karakteristik bentuk gelombang sinyal yang dihasilkan
memiliki amplitudo yang berubah sesuai dengan sinyal pembawa dan

5.

sinyal
Sinyal low pass filter adalah sinyal hasil Demultiplexing yang telah difilter,
dan setelah itu sinyal hasil filter akan dikuatkan menjadi sinyal penguat

6.

yang mana sinyal tersebut adalah sinyal informasi.


Sinyal informasi pada FDM memiliki karakteristik yang sama dengan
sinyal informasi pada FDD karena sinyal FDM adalah sinyal informasi
yang belum dimultiplexing, dan sinyal informasi pada FDD adalah sinyal
informasi yang telah didemodulasi, jadi pada dasarnya mereka adalah
sinyal informasi yang sama.

LAMPIRAN

DAFTAR PUSTAKA
1. Waliadi

(2012).,

Frequency

Division

Multiplexing.,

https://www.scribd.com/doc/43630811/Frequency-Division-Multiplexing.
Diakses pada 5 Juni 2015
2. Aprionega
(2012).,

Sistem

Komunikasi

Satelite.,

http://www.academia.edu/9502683/TUGAS_SISTEM_KOMUNIKASI_S
ATELIT_SISTEM_MODULASI_ANALOG_DIGITAL_DAN_MULTIPL
EX_NAMA_APRIONEGA_ANDIPA_YUSTI_PEMBIMBING_LINCE_
MARKIS_PROGRAM_STUDI_TEKNIK_TELEKOMUNIKASI_JURUS
AN_TEKNIK_ELEKRO. Diakses pada 5 Juni 2015
3. Aditya
(2010).,
Frequency
Multiplexing.,https://www.scribd.com/doc/194353845/Bab-IIIFrequbency-Divisionv-Multivplexing. Diakses pada 5 Juni 2015

Division