Anda di halaman 1dari 7

Asuhan Keperawatan Hipertensi / Darah Tinggi

Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to Facebook


MAU YANG PASTI-PASTI??? KLIK SINI GAK BAKALAN NYESEL
Asuhan keperawatan pada penderita hipertensi ( askep hipertensi ) merupakan panduan sederhana
yang dapat digunakan oleh perawat atau paramedis dalam mengambil tindakan terhadap kondisi
pasien.
A.
Pendahuluan
Hipertensi merupakan penyakit yang makin banyak dijumpai di Indonesia, terutama di kota besar. Di
negara industri, hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan utama. Di Indonesia hipertensi
juga merupakan masalah kesehatan yang sangat perlu diperhatikan oleh dokter, perawat, serta tim
kesehatan lainnya yang berkeja pada pelayanan kesehatan primer, karena angka prevalensinya yang
tinggi akibat jangka panjang yang ditimbulkannya.
Berdasarkan penyebabnya hipertensi dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu hipertensi primer
dan hipertensi sekunder. Hipertensi primer meliputi lebih kurang 90% dari seluruh pasien hipertensi dan
10% lainnya disebabkan oleh hipertensi sekunder. Hanya 50% dari golongan hipertensi sekunder dapat
diketahui penyebabnya dan dari golongan ini hanya beberapa persen yang dapat diperbaiki
kelainannya. Oleh karena itu upaya penanggulangan hipertensi terhadap hipertensi primer baik
mengenai patogenesis maupun tentang pengobatannya.
Hipertensi tidak boleh dianggap penyakit yang ringan karena jika terlambat memberikan pertolongan
penyakit ini akan merenggut nyawa penderita. (Prof. Tjokronegoro, Arjatma, 2001)
B.
1. Pengertian

Pembahasan

Hipertensi adalah peningkatan tekanan pada systole, yang tingginya tergantung umur individu yang
terkena. Tekanan darah berfluktuasi dalam batas batas tertentu, tergantung pada posisi tubuh, umur
dan tingkat stress. Hipertensi juga dapat digolongkan sebagai ringan, sedang atau berat, berdasarkan
diastole. Hipertensi ringan apabila tekanan diastole 95 104 mmHg, hipertensi sedang apabila tekanan
diastole 105 114 mmHg, hipertensi berat apabila tekanan diastole > 115 mmHg.
Menurut WHO (1978) batas tekanan darah yang masih dianggap normal adalah 140/90 mmHg dan
tekanan darah sama dengan atau di atas 160/95 mmHg dinyatakan sebagai hipertensi. Hipertensi
adalah peningkatan tekana darah di atas normal yaitu bila tekanan sistolik (atas) 140 mmHg atau lebih
dan tekanan diastolic (bawah) 90 mmHg atau lebih.
MAU
YANG
2. Patofisiologi

PASTI-PASTI???

KLIK

SINI

GAK

BAKALAN

NYESEL

Meningkatnya tekanan darah di dalam saluran arteri bisa terjadi melalui beberapa cara, yaitu : jantung
memompa lebih kuat sehingga mengalirkan lebih banyak cairan pada setiap detiknya, arteri besar
kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku, sehingga mereka tidak dapat mengembang pada saat
jantung memompa darah melalui arteri tersebut, karena-nya darah pada setiap denyut jantung dipaksa
untuk melalui pembuluh darah yang sempit daripada biasanya dan menyebabkan naiknya tekanan.
Inilah yan terjadi pada usia lanjut, dimana dinding arterinya telah menebal dan kaku karena
arteriosklerosis.
Dengan cara yang sama, tekanan darah juga meningkat pada saat terjadi vasokonstriksi, yaitu jika
arteri kecil (arteriola) untuk sementara waktu mengkerut karena perangsangan saraf atau hormon di
dalam
darah.
Bertambahnya cairan dalam sirkuilasi bisa menyebabkan meningkatnya tekanan darah, hal ini terjadi
jika terdapat kelainan fungsi ginjal sehingga tidak mampu membuang sejumlah garam dan air dari
dalam tubuh, volume darah dalam tubuh meningkat, sehingga tekanand arah juga meningkat,
sebaliknya jia : aktivitas memompa jantung berkurang, arteri mengalami pelebaran, banyak cairan
keluar dari sirkulasi, maka tekanan darah akan menurun.
Penyesuaian terhadap faktor faktor tersebut dilaksanakan oleh perubahan di dalam fungsi ginjal dan
sistem saraf otonom (bagian dari system saraf yang mengatur berbagai fungsi tubuh secara otomatis).
Ginjal mengendalikan tekanan darah melalui beberapa cara : jika tekanan darah meningkat, ginjal
akan menambah pengeluaran garam dan air, sehingga volume darah bertambah dan tekanan darah
kembali normal. Jika tekanan darah menururn, ginjal akan mengurangi pembuangan garam dan air,
sehingga volume darah bertambah dan tekanan darah kembali normal. Ginjal juga bisa meningkatkan
tekanan darah dengan menghasilkan enzim yang disebut rennin, yang memicu pembentukan hormone
angiotensin, yang selanjutnya akan memicu pelepasan hormon aldosteron. Ginjal merupakan organ
penting dalam mengendalikan tekanan darah, karena iti berbagai penyakit dan kelainan pada ginjal
bisa menyebabkan terjadinya tekanan darah tinggi.
Misalnya penyempitan arteri yang menuju ke salah satu ginjal (stenosis arteri renalis) bisa
menyebabkan hipertensi. Perdangan dan cedera pada salah satu atau kedua ginjal juga bisa
menyebabkan naiknya tekanan darah.
Sistem saraf simpatis merupakan bagian dari system saraf otonom, yang untuk sementara waktu akan :
meningkatkan tekanan darah selama respon fight or flight (reaksi fisik tubuh terhadap ancaman dari
luar). Meningkatkan kecepatan dan kekuatan denyut jantung; jugta mempersempit sebagian besar
arteriola, tetapi memperlebar arteteriola di daerah tertentu (misalnya otot rangka, yang memerlukan
pasokan darah yang lebih banyak). Mengurangi pembuangan air dan garam oleh ginjal, sehingga akan
meningkatkan volume darah dalam tubuh. Melepaskan hormone epinefrin (adrenalin) dan norepinefrin
(noradrenalin), yang merangsang jantung dan pembuluh darah.

3. Etiologi
a.
Usia
Hipertensi akan makin meningkat dengan meningkatnya usia hipertensi pada yang berusia dari 35 tahun
dengan jelas menaikkan insiden panykit arteri dan kematian premature.
b.
Jenis
Kelamin
berdasar jenis kelamin pria umumnya terjadi insiden yang lebih tinggi daripada wanita. Namun pada
usia pertengahan, insiden pada wanita mulai meningkat, sehingga pada usia di atas 65 tahun, insiden
pada wanita lebih tinggi.
c.
Hipertensi pada yang berkulit hitam paling sedikit dua kalinya pada yang berkulit putih.

Ras

d.
Pola
Hidup
Faktor seperti halnya pendidikan, penghasilan dan faktor pola hidup pasien telah diteliti, tanpa hasil
yang jelas. Penghasilan rendah, tingkat pendidikan rendah dan kehidupan atau pekerjaan yang penuh
stress agaknya berhubungan dengan insiden hipertensi yang lebih tinggi. Obesitas juga dipandang
sebagai faktor resiko utama. Merokok dipandang sebagai faktor resiko tinggi bagi hipertensi dan
penyakit arteri koroner. Hiperkolesterolemia dan hiperglikemia adalah faktor faktor utama untuk
perkembangan arterosklerosis yang berhubungan dengan hipertensi.
MAU
YANG
4.
Berdasarkan

PASTI-PASTI???
KLIK
penyebab,
hipertensi

SINI
GAK
BAKALAN
NYESEL
di
bagi
dalam
2
golongan
:

a.
Hipertensi
primer
/
essensial
Merupakan hipertensi yang penyebabnya tidak diketahui, biasanya berhubungan dengan faktor
keturunan
dan
lingkungan
b.
Hipertensi
sekunder
Merupakan hipertensi yang penyebabnya dapat diketahui secara pasti, seperti gangguan pembuluh
darah dan penyakit ginjal.
5.
Faktor
a.
b.
Kebiasaan
c.
Minuman
d.
Penyakit
kencing
manis
e.
Wanita
yang
tidak
f.
Stress
dan
kurang
g. Diet yang tidak seimbang, makanan berlemak dan tinggi kolesterol

dan
olah

pencetus
Obesitas
merokok
beralkohol
jantung
menstruasi
raga

6. Tanda dan Gejala


a.
Sakit
b.
Nyeri
c.
Rasa
d.
Marah
e.
Mata
f.
g.
Sukar
i.
j.
Rasa
k.
l.
m.

kepala

dan
kepala

berat
/

emosi
berkunang
Telinga
tidur
Kesulitan
mual

Mudah

di
tidak

h.
/

pusing
berputar
tengkuk
stabil
kunang
berdengung
Kesemutan
bicara
muntah
Epistaksis
Migren
lelah

n. Tinistus yang diduga berhubungan dengan naiknya tekanan darah


7. Klasifikasi Hipertensi
Klasifikasi hipertensi berdasarkan The Joint National Commite on Detection Evaluation and Treatmen of
High
Blood
Pressure,
adalah
sebagai
berikut
:
Kategori
Sistolik
Diastolik
a.
Normal
tinggi
(perbatasan)
130

139
85

89
b.
Stadium
1,
ringan
140

159
90

99
c.
Stadium
2,
sedang
160

179
100

109
d.
Stadium
3,
berat
180

209
110

119
e. Stadium 4, sangat berat 210 > 120 >
8.
a.
b.
c.
d.
e. Gangguan penglihatan

Infakr
Gagal

Komplikasi
Stroke
miokard
ginjal
Ensefalopati

9. Penatalaksanaan Medik
a. Penatalaksanaan farmakologis / perubahan gaya hidup pengurangan asupan garam dan upaya
penurunan berat badan, menghindari faktor resiko seperti merokok, minum alcohol, hiperlipidemia dan
stress.

MAU
YANG
PASTI-PASTI???
KLIK
SINI
GAK
BAKALAN
NYESEL
b. Penatalaksanaan dengan obat berlandaskan beberapa prinsip
Pengobatan hipertensi sekunder lebih mengutamakan pengobatan kasual.
Pengobatan hipertensi primer ditujukan untuk menurunkan tekanan darah dengan hartapan
memperpanjang umur dan mengurangi komplikasi.

Upaya menurunkan tekana darah dicapai denga menggunakan obat anti hipertensi selain

dengan perubahan gaya hidup.


Pengobatan hipertensi primer adalah pengobatan jangka panjang dengan kemungkinan besar

untuk seumur hidup.


Pengobatan penggunaan obat golongan diuretic, penyekat beta antagonis kalsium, dan
penghambat enzim koversi angiotensin (penghambat ACE) merupakan anti hipertensi yang sering
digunakan.
10.
Penanganan,
Perawatan
dan
Pencegahan
Hipertensi
a.
Berobat
/
memeriksakan
diri
secara
teratur
b.
Minum
obat
secara
teratur
c. Jangan menghentikan, mengubah dan menambah dosis dan jenis obat tanpa petunjuk dokter
d. Konsultasikan dengan petugas kesehatan jika menggunakan obat untuk penyakit lain karena ada
jenis
obat
yang
dapat
meningkatkan
dan
memperburuk
hipertensi
e. Usahakan untuk mempertahankan berat badan yang seimbang dengan mencegah kegemukan
f.
Batasi
pemakaian
garam
(sodium)
g.
Tidak
merokok
h. Memperhatikan diet dengan memperbanyak makan buah dan sayuran dan membatasi minuman
beralkohol
i.
Hindari
minum
kopi
berlebihan
j. Periksa tekanan darah secara teratur terutama jika usia sudah mencapai 40 tahun
C.
Asuhan
Keperawatan
Hipertensi
/
askep
hipertensi
1.
Penurunan
curah
jantung
berhubungan
dengan
iskemia
miokard
Tujuan
:
Tidak
terjadi
penurunan
curah
jantung
Rencana
Tindakan
:
a) Pantau tekanan darah, ukur pada kedua tangan / paha untuk evaluasi awal
b)
Catat
keberadaan,
kualitas
denyutan
sentral
dan
perifer
c)
Amati
warna
kulit,
kelembaban
suhu
dan
masa
pengisian
d)
Catat
edema
umum
/
tertentu
e)
Berikan
lingkungan
yang
tenang,
kurangi
aktivitas
/
keributan
lingkungan
f)
Anjurkan
tehnik
relaksasi,
aktivitas
pengalihan
g) Kolaborasi dengan dokter dalam pengobatan
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan
oksigen
Tujuan
:
Intoleransi
aktivitas
teratasi
Rencana
tindakan
:
a)
Kaji
skala
aktivitas
b) Perhatikan frekuensi nadi, dispnea, nyeri dada, keletihan dan kelemahan berlebihan diaforesis,
pusing
atau
pingsan.
c) Instruksikan pasien tentang penghematan energi d) Berikan dorongan untuk melakukan aktivitas /
perawatan
diri
bertahap
e) Berikan bantuan sesuai kebutuhan

3.
Nyeri
Tujuan

kepala
:

berhubungan
Nyeri

dengan

peningkatan
berkurang

tekanan
vaskuler
sampai

cerebral
hilang

Rencana
tindakan
:
a) kaji skala nyeri b) Kaji penyebab nyeri, catat penyebab, kualitas, regional dan waktu
c)
Observasi
tanda

tanda
vital
terutama
tekanan
darah
d) Berikan tindakan nonfarmakologik, misalnya : kompres dingin, pijat punggung dan tehnik
relaksasi. e) Hilangkan / minimalkan aktivitas vasokokstriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala.
f)
Bantu
pasien
dalam
aktivitas
g) Kolaborasi dengan dokter dalam mpemberian anagetik
4. Perubahan nutrisi kebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan masukan berlebihan
sehubungan
dengan
kebutuhan
metabolic.
Tujuan
:
Tidak
terjadi
peningkatan
masukan
berlebihan Rencana
tindakan
:
a) Kaji pemahaman pasien tentang hubungan langsung antara hipertensi dengan kegemukan
b) Bicarakan pentingnya menurunkan masukan kalori dan batasi masukan lemak, garam dan gula sesuai
indikasi
c)
Tetapkan
keinginan
pasien
menurunkan
berat
badan
d)
Dorong
pasien
untuk
mempertahankan
masukan
makanan
e) Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian makanan
MAU
YANG
PASTI-PASTI???
KLIK
SINI
5. Koping individu inefektif berhubungan dengan
Tujuan
:
Koping
individu

GAK
krisis

BAKALAN
NYESEL
situasional maturasional
kembali
efektif

Rencana
tindakan
:
a) kaji keefektifan strategi koping dengan mengobservasi perilaku. Misalnya menyatakan perasaan dan
perhatian b) catat laporan gangguan tidur, peningkatan, keletihan, kerusakan konsentrasi
c) Bantu pasien untuk mengidentifikasikan stressor spesifik dan cara mengatasinya
d) Libatkan pasien dalam perencanaan perawatan, beri dorongan partisipasi maksi
mum
dalam
pengobatan
e) Bantu pasien untuk mengidentifikasi dan mulai merencanakan perubahan hidup yang perlu
6. Kurang
Tujuan

pengetahuan

kebutuhan
:

pembelajaran

mengenai kondisi,
Pengetahuan

rencana

pengobatan
meningkat

Rencana
Tindakan
:
a)
Kaji
kesiapan
dan
hambatan
dalam
belajar
b) Tetapkan dan nyatakan batas tekanan darah normal, jelaskan tentang hipertensi dan efeknya pada
jantung, pembuluh darah, ginjal dan otak c) Bantu pasien dalam mengidentifikasi faktor faktor resiko
kardiovaskuler. Misalnya : obesitas, diet lemak, kolesterol, merokok dan minum alkohol

d) Bahas pentingnya menghentikan rokok, dan bantu pasien dalam rencana untuk berhenti merokok
e) Jelaskan tentang obat yang diresepkan, rasional, dosis, efek samping.
D. Kesimpulan Secara umum hipertensi merupakan suatu keadaan tanpa gejala, dimana tekanan yang
abnormal tinggi di dalam arteri menyebabkan meningkatnya resiko terhadap stroke, aneurisme, gagal
jantung, serangan jantung dan kerusakan ginjal. Tekanan darah dalam kehidupan seseorang bervariasi
secara alami. Bayi dan anak anak secara normal memiliki tekanan darah yang jauh lebih rendah dari
pada dewasa. Tekanan darah juga dipengaruhi oleh aktivitas fisik, dimana akan lebih tinggi pada saat
akan melakukan aktivitas dan lebih rendah ketika beristirahat. Tekanan darah dalam satu hari akan
berbeda paling tinggi pada waktu pagi hari dan paling rendah pada saat tidur malam hari.

MAU YANG PASTI-PASTI??? KLIK SINI GAK BAKALAN NYESEL