Anda di halaman 1dari 11

BAB I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang


Wanita yang dapat melahirkan adalah sebuah karunia terbesar dan merupakan momen
yang sangat membahagiakan. Setelah melahirkan banyak orang menganggap bahwa kehamilan
adalah kodrat wanita yang harus dilalui namun kenyataannya pada wanita yang mengalami hal
tersebut melahirkan dapat menjadi episode yang dramatis dan traumatis yang sangat menentukan
kehidupannya, karena ibu yang mengalami stress, perasaan sedih dan takut akan mempengaruhi
emosional dan sensivitas ibu pada pasca melahirkan. 1
Wanita pada pasca persalinan perlu melakukan penyesuaian diri dalam melakukan
aktivitas dan peran barunya sebagai seorang ibu di minggu-minggu pertama atau bulan-bulan
pertama setelah melahirkan. wanita yang telah berhasil melakukan penyesuaian diri dengan baik
dapat melewati gangguan psikologis ini, tetapi sebagian lain yang tidak berhasil melakukan
penyesuaian diri ini akan mengalamigangguan-gangguan psikologis, inilah yang dinamakan
syndrom baby blues. 2
Baby Blues Syndrome adalah komplikasi psikiatrik yang paling umum yang terjadi pada
wanita setelah melahirkan. Ibu baru yang tidak mampu mengurus bayinya mengalami tandatanda sindrom baby blues seperti; sulit berkonsentrasi, kesepian dan perasaan sedih yang
mendominasi. Berdasarkan analisa 43 studi yang melibatkan lebih dari 28.000 responden,
diketahui angka kejadian baby blues di Amerika Serikat pada ibu baru mencapai 14,1 % lebih
tinggi dibandingkan dari negara Eropa, Australia, Amerika Selatan dan China 3
Dari masih seringnya angka kejadian Baby Blues Syndrome dan pentingnya gangguan ini
terhadap ibu yang baru saja melahirkan, penulis merasa tertarik untuk membahas mengenai Baby
Blues Syndrome.

1.2 Tujuan Pembahasan


1.2.1 Tujuan Umum
Untuk mengenal dan memahami Baby Blues Syndrome yang sering terjadi pada wanita
setelah melahirkan
1.2.2 Tujuan Khusus
a.

Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan Baby Blues Syndrome baik


secara organik maupun psikis

b.

Mengetahui cara mendiagnosis Baby Blues Syndrome secara dini

c.

Mengetahui cara menatalaksana Baby Blues Syndrome secara cepat dan tepat

BAB II
2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Baby Blues Syndrome


Baby Blues Syndrome, dinamakan juga Maternity Blues atau Post Partum Blues adalah
gangguan mood yang menyertai suatu persalinan. Biasanya sindroma ini terjadi pada hari ke-3
hingga ke-6 setelah melahirkan dan berlangsung selama 2-6 minggu. Beck serta Teissedre dan
Chabroi menginterpretasikan blues sebagai fenomena sementara (berlangsung beberapa hari
atau bahkan hanya beberapa jam), dan dapat terjadi pada 50-80% ibu baru. 4
2.2 Manifestasi Klinis Baby Blues Syndrome
Sindrom ini ditandai dengan menurunnya mood, kelelahan fisik dan mental, kecemasan,
iritabel, menangis, dan gangguan tidur. . Beberapa ahli juga menyatakan adanya ketidakstabilan
emosi, berkisar antara sedih hingga mood yang meningkat.
Beberapa gejala pada Baby Blues Syndrome antara lain :
1.
2.
3.
4.
5.

Dipenuhi oleh perasaan kesedihan dan depresi disertai dengan menangis tanpa sebab.
Mudah kesal, gampang tersinggung dan tidak sabaran.
Tidak memiliki tenaga atau sedikit saja.
Cemas, merasa bersalah dan tidak berharga
Menjadi tidak tertarik dengan bayi anda atau menjadi terlalu memperhatikan dan kuatir

terhadap bayinya
6. Tidak percaya diri.
7. Sulit beristirahat dengan tenang bias juga tidur lebih lama
8. Peningkatan berat badan yang disertai dengan makan berlebihan
9. Penurunan berat badan yang disertai tidak mau makan
10. Perasaan takut untuk menyakiti diri sendiri atau bayinya 5

2.3 Etiologi Baby Blues Syndrome


Beberapa hal yang dapat memicu terjadinya Baby Blues Syndrome antara lain :

a. Kurangnya dukungan sosial, bisa dari suami maupun keluarga. Adanya problem
dengan orangtua maupun mertua dapat memperbesar resiko terjadinya Baby Blues
Syndrome.
b. Wanita dengan riwayat premenstrual syndrome, neuroticism (emosi yang tidak stabil),
kecemasan dan depresi pada kehamilan mempunyai resiko Baby Blues Syndrome
lebih besar.
c. Wanita yang merupakan single parent. Penelitian di Adewuya menunjukkan bahwa
ibu single memiliki kesempatan untuk menderita Baby Blues Syndrome sebanyak 3,5
kali.
d. Komplikasi persalinan. Perdarahan akibat persalinan, rasa sakit setelah operasi dan
komplikasi medis karena persalinan lainnya dapat memicu Baby Blues Syndrome.
e. Tidak siap menjadi ibu atau bayi yang lahir tidak diinginkan. Misalnya pada kasus
perkosaan atau kelahiran bayi pada hubungan yang tidak sah.
f. Perubahan hormonal. Terjadinya penurunan progesterone, peningkatan hormon
kortisol (hormon pemicu stress), estrogen dan prolaktin yang dapat mempengaruhi
keadaan psikis ibu.
g. Kelelahan mengurus bayi sendirian.
h. Merokok. Menurut penelitian ibu perokok dapat memperbesar kemungkinan
terjadinya Baby Blues Syndrome sebanyak empat kali lebih besar daripada ibu nonperokok. 5

2.4 Patofisiologi Baby Blues Syndrome


Baby Blues Syndrome bisa disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain faktor biologis
dan faktor emosi. Menurut Koshchavtsev dkk, Baby Blues Syndrome merupakan kegagalan
adaptasi antara ibu dan bayi, yang muncul pada perilaku ambivalen ibu pada bayi. 4
Ketika bayi lahir, terjadi perubahan level hormon yang sangat mendadak pada ibu.
Hormon kehamilan (estrogen dan progesteron) secara mendadak mengalami penurunan 72 jam
setelah melahirkan dan juga disertai penurunan kadar hormon yangdihasilkan oleh kelenjar tiroid
yang menyebabkan mudah lelah, penurunan mood, dan perasaan tertekan serta di lain sisi terjadi
peningkatan dari hormon menyusui. Perubahan hormon yang cepat inilah bisa mencetuskan
terjadinya Baby Blues Syndrome. 6

Menurut Maguire dan Mody, Baby Blues Syndrome diduga diakibatkan terganggunya
sensitivitas reseptor GABA (-aminobutyric acid) tipe A. Reseptor GABA A ini berperan dalam
mengikat derivat dari hormon seks yang disebut neurosteroid yang akan terikat ke beberapa tipe
reseptor, termasuk reseptor GABAA. Terikatnya neusteroid ke reseptor GABAA ini akan
memodulasi eksitabilitas dari sel otak. 6
Neurosteroid ini berasal dari hormon progesteron yang mengalami fluktuasi selama siklus
menstruasi dan memuncak saat kehamilan. Reseptor GABAA sendiri memiliki subunit yakni
subunit dan . Masing-masing subunit memiliki fungsi inhibisi tonik (dimediasi reseptor
GABAA subunit ) dan inhibisi fasik (dimediasi reseptor GABAA subunit ) pada sel granul pada
gyrus dentate. Inhibisi ini akan berkurang selama kehamilan dan menjadi normal pada keadaan
post partum. Namun pada Baby Blues Syndrome, kadar subunit (subunit reseptor delta) tidak
kembali ke tingkat awal dan menjadi berkurang. Karena berkurangnya inhibisi tonik (yang
merupakan fungsi dari subunit ), neurosteroid akan terus berikatan dengan reseptor GABA A
sehingga reseptor tersebut akan menjadi semakin sensitif, sehingga memicu terjadinya Baby
Blues Syndrome. Sehingga dapat disimpulkan bahwa menurut Maguire dan Mody, kekurangan
subunit dari reseptor GABAA pada akan menunjukkan sikap depresi dan gangguan cemas
setelah melahirkan, mengarah ke Baby Blues Syndrome. 6
Wanita yang rentan terhadap Baby Blues Syndrome atau wanita yang mengalami depresi
selama kehamilan yang kemudian diberi antidepresan selama kehamilan. Noorlander et al
memeriksa efeknya terhadap janin dan menemukan bahwa pada tikus, paparan obat terhadap
SIRS menurunkan daya tahan anak tikus setelah lahir dan pada saat anak tikus sudah dewasa,
menyebabkan menurunnya jumlah transporter serotonin di nucleus rapha dan berpengaruh pada
sensitivitas reseptor GABA sehingga menyebabkan perilaku cemas. Jadi dapat disimpulkan
bahwa pemberian antidepresan dapat menyebabkan Baby Blues Syndrome di kemudian hari. 6,7

2.5 Diagnosis Baby Blues Syndrome


Sindrom ini umumnya terjadi dalam 14 hari pertama setelah melahirkan, dan cenderung
lebih buruk sekitar hari ketiga atau empat setelah persalinan.

Seseorang terdiagnosis Baby Blues Syndrome apabila terlihat secara psikologis


kejiwaannya seperti di bawah ini :
a. Perasaan cemas, khawatir ataupun was was yang berlebihan, sedih, murung,dan sering
menangis tanpa ada sebab (tidak jelas penyebabnya).
b. Seringkali merasa kelelahan dan sakit kepala dalam beberapa kasus sering migrain.
c. Perasaan ketidakmampuan, misalnya dalam mengurus anak.
d. Adanya perasaan putus asa. 1,6
Jika pasien mengalaminya lebih dari 2 minggu, bisa jadi pasien mengalami Post Partum
Depression. Apabila gejala diatas tidak disadari dan lama kelamaan tekananatau stres yang
dirasakan semakin kuat atau semakin besar, maka penderita akan mengalami depresi pasca
melahirkan yang berat. Gejala dari depresi tersebut adalah :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Kelelahan yang berkepanjangan, susah tidur, dan insomnia.


Hilangnya perasaan bahagia dan minat untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan.
Tidak memperhatikan diri sendiri dan menarik diri dari keluarga dan teman.
Tidak memperhatikan atau bahkan perhatian yang berlebihan pada anak.
Perasaan takut telah menyakiti anak.
Tidak tertarik pada seks
Perasaan berubah-ubah dengan ekstrim, terganggu proses berpikir dankonsentrasi.
Kesulitan dalam membuat keputusan sederhana.2,5,8

Berikut adalah perbedaan gejala klinis dari Baby Blues Syndrome dan Postpartum
Depression.
Karakteristik
Insiden

Baby Blues Syndrome


30-75% pada ibu yang

Post Partum Depression


10-15% pada ibu yang

Onset
Durasi

melahirkan
3-5 hari setelah melahirkan
Hari sampai minggu

melahirkan
3-6 bulan setelah melahirkan
Minggu sampai bulanan jika

Stressor yang berhubungan

Tidak ada hubungan

tidak mendapatkan terapi


Ada terutama kurangnya

Pengaruh sosial dan budaya


Riwayat mood disorder
Riwayat keluarga mood

Tidak ada hubungan


Tidak ada hubungan
Tidak ada hubungan

dukungan sosial
Ada hubungan yang kuat
Ada hubungan yang kuat
Ada beberapa hubungan

disorder
Rasa sedih

Ya

Ya
6

Mood lability

Ya

Sering pada awalnya


kemudian depresi secara

Anhedonia
Gangguan tidur
Keinginan untuk bunuh diri
Kenginan untuk menyakiti

Tidak
Kadang-kadang
Tidak ada
Jarang

bertahap
Sering
Sering
Kadang-kadang
Sering

bayi
Adanya perasaan bersalah dan

Tidak ada dan jika ada

Sering dan biasanya berat

ketidakmampuan
biasanya ringan
Tabel 2.1 Perbedaan antara Baby Blues Syndrome dan Postpartum Depression.6,7,8

2.6 Differential Diagnosis dari Baby Blues Syndrome


DD dari Baby Blues Syndrome antara lain :
a) Postpartum Depression
Terjadi antara 3-6 bulan setelah melahirkan, biasanya 12 minggu. Gangguan ini
berlangsung selama beberapa bulan, dan bila tidak mendapatkan perawatan bisa
mencapai beberapa tahun. Kadang ibu berpikir untuk bunuh diri, dan sering berpikiran
untuk menyakiti bayi.
b) Postpartum Psychosis
Pada gangguan ini ibu ingin membunuh diri sendiri atau bayi. Dapat mendengar
suara-suara yang menyuruh untuk membunuh. Terjadi beberapa hari,rata-rata 2-3 minggu
setelah kelahiran, hampir selalu dalam kurun 8 minggu. 9,10

2.7 Tatalaksana Baby Blues Syndrome


Meskipun gejalanya cukup ringan bila dibandingkan dengan postpartum depression , bukan
berarti sindrom ini bisa di abaikan begitu saja. Penanganan yang bisa dilakukan antara :
a. Dengan

cara

pendekatan

komunikasi terapeutik di

mana

tujuan

dari

komunikasi teraputik ini adalah menciptakan hubungan baik antara dokter atau bidan
dengan pasien dalam rangka kesembuhannya dengan cara mendorong pasien agar
mampu meredakan segala ketegangan emosi, dapat memahaminya, dapat mendukung
7

tindakan-tindakan membangun yang bisa dilakukan untuk meredakan gejala-gejala


yang timbul.
b. Memberikan support mental pada ibu agar ibu dapat bersabar dalam merawat bayinya.
c. Meningkatkan support mental/dukungan keluarga dalam mengatasi gangguan
d.
e.
f.
g.

psikologis yang berhubungan dengan masa nifas sang ibu.


Istirahat yang cukup
Berolahraga teratur
Mengkonsumsi makanan yang bergizi
Yang paling penting adalah melakukan relaksasi agar emosi tetap terjaga.9,10,11

BAB III
8

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Baby Blues Syndrome, dinamakan juga Maternity Blues atau Post Partum Blues adalah
gangguan mood yang menyertai suatu persalinan. Biasanya sindroma ini terjadi pada hari ke-3
hingga ke-6 setelah melahirkan dan berlangsung selama 2-6 minggu. Baby Blues Syndrome dapat
terjadi pada 50-80% ibu baru.
Sindrom ini ditandai dengan menurunnya mood, kelelahan fisik dan mental, kecemasan,
iritabel, menangis, dan gangguan tidur. . Beberapa ahli juga menyatakan adanya ketidakstabilan
emosi, berkisar antara sedih hingga mood yang meningkat.
Baby Blues Syndrome dapat disebabkan oleh berbagai faktor meliputi faktor ibu, bayi,
maupun lingkungan. Ketidakseimbangan hormonal, perubahan gaya hidup, keadaan sosial di
sekitar ibu, dan komplikasi persalinan dapat juga menyebabkan Baby Blues Syndrome.
Patofisiologi sindrom ini melibatkan reseptor GABA di otak serta perubahan hormonal yang
terjadi setelah ibu melahirkan.
Sindrom ini relatif lebih ringan dan biasanya berlangsung maksimal 2 minggu, apabila
terjadi lebih daripada waktu tersebut maka dapat digolongkan sebagai postpartum depression.
Apabila gejala-gejala yang diderita tidak disadari dan lama-kelamaan tekanan atau stress yang
dirasakan semakin kuat atau semakin besar maka penderita akan mengalami depresi pasca
melahirkan yang berat. Oleh karena itu, meskipun gejala yang terjadi relatif ringan,
penatalaksanaan pada Baby Blues Syndrome sangatlah penting agar tidak berkembang menjadi
depresi.
Penatalaksanaan Baby Blues Syndrome yang dapat dilakukan meliputi komunikasi
terapeutik, memberikan support mental pada ibu, istirahat yang cukup, berolahraga, makan
makanan yang bergizi, dan melakukan relaksasi untuk meredakan stress.

3.2 Saran

Penulis menyarankan agar lebih banyak dilakukan penelitian dan penyuluhan mengenai
Baby Blues Syndrome agar pengetahuan mengenai sindrom ini bertambah sehingga dapat
didiagnosis secara dini dan meningkatkan tingkat kesembuhan pada penderita.

DAFTAR PUSTAKA

10

1. Suherni, dkk. (2009). Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta : Fitramaya.


2. Mansur, H., (2009), Psikologi Ibu dan Anak untuk Kebidanan, Salemba Medika, Jakarta.
3. Gazal M. et al, Brain-Derived Neurotrophic Factor in Post-Partum Depressive Mothers.
Brazil : Neurochem Res (2012).
4. A. G. Koshchavtsev, V. N. Multanovskaya, and V. V. Lorer, Baby Blues
Syndrome as an Adaptation Disorder in the Early Stages of Formation
of the MotherChild System. Neuroscience and Behavioral Physiology, Vol. 38,
No. 4, 2008
5. Cury AF et al, Maternity Blues: Prevalence and Risk Factors. Spain : The Spanish
Journal of Psychology (2008).
6. Welberg L. , Affective Disorders, Baby Blues. Macmillan Publishers Limited, 2008.
7. T. Field, Infancy, Cambridge (1990).
8. R. Zh. Mukhamedrakhimov, Types of motherchild interaction, Vopr. Psikhol., 4, 13
20 (1994).
9. R. Zh. Mukhamedrakhimov, The attachment of mothers and children
in risk groups, Vopr. Psikhol., 3, 1833 (1998).
10. Lanczik M., Hofberg K., Brockington IF, Delusion of Infestation with Post-Partum Onset
: Case Report. Birmingham : Psychopathology (1999).
11. Chabrol H. et al, Prevention and treatment of post-partum depression : a controlled
randomized study on women at risk. United Kingdom : Cambridge University Press
(2002).

11