P. 1
Panduan PDT TKHI

Panduan PDT TKHI

4.5

|Views: 1,250|Likes:
Dipublikasikan oleh earlyquinn85
PDT TKHI
PDT TKHI

More info:

Published by: earlyquinn85 on Apr 12, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/06/2014

pdf

text

original

PEDOMAN PENATALAKSANAAN PENYAKIT PADA JAMAAH HAJI INDONESIA

DEPARTEMEN KESEHATAN RI DIREKTORAT JENDERAL PEMBERANTASAN PENYAKIT MENULAR DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN PEMUKIMAN JAKARTA 1999

Katalog Dalam Terbitan. Departemen Kesehatan RI Indonesia. Departemen Kesehatan. Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman Pedoman Penatalaksanaan Penyakit pada Jamaah Haji Indonesia Jakarta : Departemen Kesehatan, 1999 1. Judul 1. DISEASE PILGRIM AND PILGRIMAGES - MECCA

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI …………………………………………………………………… I KATA PENGANTAR ………………………………………………………… iii PRAKATA ……………………………………………………………………. iv BAB I. PENATALAKSANAAN PENYAKIT ……………………………… A. Jantung Koroner …………………………………………….. B. Paru …………………………………………………………….. C. Saluran Pencemaan …………………………………………. D. Gangguan FaaI Hati …………………………………………. 1 1 20 37 42

E. Meningitis Meningokokus …………………………………… 43 F. Rematik ………………………………………………………… 47 G. Gangguan Jiwa ……………………………………………….. 50 H. Kulit …………………………………………………………….. I. THT …………………………………………………………….. J. Sengatan Dingin ……………………………………………… BAB II. PENATALAKSANAAN GIZI ……………………………………… A. Pendahuluan …………………………………………………. B. Pengaruh Musim Dingin Terhadap Kebutuhan Gizi ……… 57 60 63 68 68 68

BAB III. PENATALAKSANAAN OBAT DAN ALAT KESEHATAN ………. 96 A. Pengelolaan Obat dan Aikes di Arab Saudi ……………….. 96 B. Daftar Obat dan Alat Kesehatan …………………………….. 97 BAB IV. PENATALAKSANAAN SANITASI DAN SURVEILANS ………… 109 PENUTUP ……………………………………………………………………… 116

KONTRIBUTOR
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. Dr. H. Zainuswir, Sp.JP. Dr. Hj. Meylita Azis, Sp.JP. Dr. Ashyadi, A.Sp.KJ. Dr. H. Fidiansyah, Sp.KJ. Dr. Rusdi Efendi, Sp.KJ. Dr. H. Hanafi, Sp.P. Dr. Muhardi J.Sp.P. Dr. H. Djoko Tiradi, Sp.PD. Dr. Hj. Ana Uyainah, Sp.PD. Dr. Maryantoro, Sp.PD. Dr. Rikyanto, Sp.K. Dr. Elfita Nurdin Dr. Asma Agus Drs. H. Ondri Saputra Anwar Musadad, MSc. M. Maemunah, SKM. Hj. Ike Gunawiarsih, SKP. I.G.A. Nyoman Suriati, SKP.

EDITOR
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Dr. H. Yusharmen, DCommH, MSc. H. Prihartono, SKM. Hj. Sugini, SKM. Hj. Liliek Oendarwati, SKM. Dr. H. Rimarky Oemar Hj. Siti Husmiati, SKM. H. Ade Mashuri, BSc.

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Dalam cangka merealisasi perwujudan pelayanan yang profesional bagi jamaah haji agar dapat melaksanakan ibadah dengan sah, lancar, dan selamat, maka telah dapat disusun buku “PEDOMAN PENATALAKSANAAN PENYAKIT PADA JAMAAH HAJI INDONESIA”. Buku ini merupakan pedoman bagi para petugas Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI ) dalam melaksanakan tugas pelayanan kesehatan di perjalanan pergi pulang ke dan dari Arab Saudi maupun ketika berada di Arab Saudi. Dengan adanya buku pedoman ini diharapkan penanganan jamaah haji yang sakit baik di kloter dan BPHI akan lebih baik. Kepada berbagai fihak yang telah berkonstribusi sehingga tersusunnya buku pedoman ini kami ucapkan terima kasih. Semoga segala yang telah disumbangkan dapat bermanfaat bagi semua pihak dan mendapat pahala disisi Allah SWT. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

PRAKATA
Buku Pedoman Penatalaksanaan Penyakit Pada Jamaah Haji Indonesia ini merupakan petunjuk yang sederhana, tidak mengandung pembahasan yang rumit dan diharapkan dapat menjadi pegangan bagi petugas Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) Kloter/Non Kloter. Dalam buku ini penyakit disusun berdasarkan kelompok penyakitnya, kemudian diuraikan muali dari gambaran singkat tentang penyakit, diagnosis dan penatalaksanaannya baik di Pesawat, Kloter dan BPHI yang meliputi; gambaran ringkas penyakit, diagnosis dan pengobatan praktis, rasional. Disamping itu, buku ini berisi tentang penatalaksanaan gizi / dietetik masing - masing penyakit, pengamatan penyakit dan sanitasi serta penatalaksanaan obat maupun alat kesehatan di Arab Saudi. Buku Pedoman Penatalaksanaan Penyakit Pada Jamaah Haji Indonesia tidak sebagai instruksi yang kaku. Dalam batas yang tidak menyimpang dan pada situasi tertentu, para petugas kesehatan dapat bertindak lain untuk dapat memperoleh penatalaksanaan yang lebih baik. Buku ini merupakan edisi pertama, oleh karena itu para editor dan kontributor menyadari bahwa buku pedoman ini tak luput dari kekurangan dan keterbatasannya maupun jauh dari kesempurnaan. Untuk itu kami mengharapkan perbaikan / penyempurnaan dari para pembaca demi tercapainya peningkatan pelayanan kesehatan bagi para duyufurrahman dimasa-masa mendatang.

Jakarta, Januari 1999 Para Kontributor dan Editor

BAB. I PENATALAKSANAAN PENYAKIT
I. PENATALAKSANAAN PENYAKIT

A. Jantung Koroner 1. Angina Pectoris Tidak Stabil Angina Pectoris Tidak Stabil adalah suatu sindroma klinik rasa sakit dada iskemik yang mencakup spektrum yang luas dari berbagal presentasi klinik dimana ada pethuruan pola angina, tanpa bukti adanya nekrosis miokard Ciri-ciri angina pectoris, yaitu, adanya peningkatan frekuensi, intensitas dan lamanya sakit di dada Rasa sakit ini limbul sewaktu istirahat atau dengan aktifitas ringan, bekurangnya respon terhadap nitrat a. DIAGNOSIS Diagnosis ditetapkan berdasarkan; riwayat nyeri dada yang khas sesuai dengan ciri diatas dan adanya gambaran iskhemi pada EKG sewaktu angina. Adapun pemeriksaan pendukung yang dapat dilakukan, seperti Laboratorium; enzym jantung masih normal, darah rutin, gula darah, ureum creatinin. Hal lain dilakukan Rontgen foto, Eko kardiografi, Treadmill dan kateterisasi (dapat direncanakan setelah jamaah haji kembali ke Tanah Air. Sebagai diagnosis banding yaitu Intark Miokard Akut. b. PENATALAKSANAAN 1) Di Penerbangan = di Kloter Pengobatan a) ISDN Sublingual 5 mg, dapat diulang setelah 5-10 menit. b) Diazeparn 5 mg, 3 x 1 tabIet c) Infus RL atau Glukosa 5% dengan tetesan emergency (8 tts/mnt) d) Beri oksigen 3-4 ltr/mnt Tindak lanjut : Rujuk ke RSAS/BPHI Asuh keperawatan : a) Berikan obat-obatan dan oksigen sesuai instruksi. b) Awasi ketat tanda-tanda vital c) Atur posisi pasien senyaman mungkin. d) Jelaskan pasien harus istirahat total (bed rest) Gizi : Bebas lunak Sanitasi surveitans : Reporting dan rekording. 2) Di BPHI Pengobatan a) Tirah baring b) Oksigen 2 - 4 ltr/mnt c) Infus Dextrose 5% atau NaCI 0,9% d) Obat penenang ringan, Diazepam 5 mg/B jam

e) Puasa selama 8 jam f) Laxadin g) Obat-obat khusus : Nitrat, Penyekat Beta, Heparinisasi (Bolus 5000 U, lanjutkan perdrip 1000 U/jam s.d APTT 1,5 - 2 x nadi, jika memungkinkan) h) Aspirin dimulai dari fase akut I) Bila belum teratasi dapat ditambah antagonis Kalsium. Tindak Lanjut : Bila dapat diatasi dalam 48 jam prognosa kurang baik, maka harus segera rujuk ke RSAS. Asuhan Keperawatan a) Membebaskan/mengontrol nyeri b) Mencegah/meminimalkan komplikasi yang dapat timbul pada otot jantung (Myocard) c) Memberikan informasi mengenai proses penyakit, prognosis dan tindakan perawatan/pengobatan d) Memberi dukungan dan penjelasan mengenai perubahan pola hidup. Masalah Keperawatan Yang Mungkin Terjadi a. Gangguan Rasa Nyaman Nyeri Akut Gangguan Rasa Nyaman Nyeri Akut dapat terjadi sehubungan dengan penurunan aliran darah ke myocard (otot jantung) dan peningkatan kerja jantung/konsumsi oksigen. Intervensi 1) Catat respon pasien terhadap efek obat 2) Identifikasi faktor penyebab frekuensi, durasi, intensitas dan lokasi nyeri 3) Observasi gejala sesak nafas, muaVmuntah, palpitasi, pusing 4) Tinggikan bagian kepala 5) Monitor nadi dan irama nadi 6) Pada saat serangan Angina, dampingi psien untuk mengurangi stress, pasien harus bedrest, tanda-tanda vital di monitor setiap 5 menit. Kolaborasi 1) Pemberian oksigen tambahan 2) Pemberian obat-obatan: Nitrogliserin sublingual atau obat longacting : Isosorbid (Isordil, Sorbitate) 3) Betabloker 4) Analgesics: Acetaminophen 5) Memonitor serial EKG 6) Merujuk pasien ke RSAS (persiapan rujukan) b. Penurunan “Cardiac Out Put” Penurunan “Cardiac Out Put” dapat terjadi sehubungan dengan perubahan inotropik (efek obat-obatan), perubahan denyut nadi/ritme dan konduksi. Adapun tanda dan gejalanya, seperti; perubahan haemodynamic, mengeluh sesak, lelah, kulit dingin, perubahan mental, nyeri dada yang berlanjut.

Intervensi

1) 2) 3) 4) 5) 6) 7)

Monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi) Catat warna kulit dan kualitas nadi Dengar/auskultasi bunyi nafas dan murmur Berikan posisi tidur yang nyaman sesuai kebutuhan pasien terutama saat serangan Penuhi kebutuhan perawatan dini sesuai indikasi Monitor dan catat respon obat-obatan terutama kombinasi dari Calsium Antagonis, Propanol dan Nitrat Kaji tanda dan gejala CRF.

Kolaborasi 1) Pemberian oksigen tambahan sesuai indikasi 2) Pemberian obat-obatan sesuai indikasi : Ca-Antagonis (Nifedipine, Verapamil), Beta Bloker 3) Mengirim pasien ke RSAS jika keadaan tidak membaik. c. Rasa Cemas Rasa cemas dapat terjadi sehubungan dengan situasi krisis, ancaman gagal menunaikan lbadah Haji atau takut meninggal. Rasa cemas ini ditandai dengan; rasa gelisah, ekspresi wajah tampak cemas, tegang, peningkatan emosi, perhatian hanya pada diri sendiri.

Intervensi 1) Perhatikan ekspresi, menghilangkan rasa takut, perasaan tertekan/depresi. 2) Berikan semangat kepada keluarga, teman, agar memberi dukungan kepada pasien. 3) Dampingi pasien sampai stabil. Kalobrasi : Pemberian sedative dan transquilizers sesuai indikasi. Gizi 1) Puasakan selama 8 jam 2) Beri makanan cair/Iunak dalam 24 jam 3) Lanjutkan dengan 1300 cal, rendah garam dan rendah lemak. Sanitasi surveilans : Rekording dan reporting. 2. Infark Miokard Akut “Infark Miokard Akut” terjadi akibat oklusi koroner akut dengan “Iskemia Miokard” yang berkepanjangan dan pada akhirnya menyebabkan kerusakan sel-sel. Kerusakan miokard yang timbul tergantung pada letak pembuluh darah yang tersumbat, lamanya sumbatan, ada tidaknya kollateral dan luas miokard yang terkena. a. DIAGNOSIS Diagnosis dapat ditegakkan dengan beberapa ketentuan. Pertama, ditemukan sakit dada khas infark, lama sakit Iebih dari 20 menit, tidak hilang dengan istirahat dan nitrat. Kedua, gambaran EKG dengan evolusinya yang khas (MCI) Ketiga, hasil laboratorium terlihat peningkatan enzym (KG, CKMB, Troponim T. dll) Bila terdapat 2 dari 3 kriteria tersebut atau seluruhnya, maka tindakan kita segera kirim ke RSAS. Adapun pemeriksaan pendukung, seperti; pemeriksaan serial EKG adanya ST elevasi (khas MCI), pemeriksaan serial Laboratorium; enzym jantung meningkat, Rontgen foto Ekokardiografi, Treadmill test, Kateterisasi (berencana setelah di tanah air).

b. PENATALAKSANAAN 1) Di Penerbangan a) Sama dengan penatalaksanaan pada Angina Tak Stabil. b) Lapor pilot untuk turun dinegara terdekat agar segera mendapat di Rumah Sakit. 2) Di Kloter Tindakan dan pengobatan sesuai dengan Angina Tak Stabil Tindak lanjut: Segera rujuk ke RSAS. 3) Di BPHI Pengobatan a). Tirah baring di ruang perawatan intensif (ICCU) b) Berikan oksigen sebanyak 2-41/menit c) Pasang akses vena Dextrose 5%/NaCI 0,9% d) Pasang monitor, pemantauan EKG sampai keadaan stabil selama 3-4 hari e) Pemeriksaan laboratorium darah enzym jantung, gula darah dan elektrolit serta rontgen foto f) Atasi rasa sakit dengan pemberian: - Nitrat sublingual, spray, intra vena (pertimbangkan kontra indikasi) - Morfin sulfat 2,5-5 mg i.v, dapat diulang tiap 5-20 menit sampai sakit hilang - Pethidin 50-75 mg i.v. g) Atasi rasa takut dan gelisah dengan - Diazepam 5 mg i.v atau peroral - Aspirin 160 - 325 mg/hari h) Pengobatan lain-lain, bila perlu Sulfas Atropin 0,5 mg i.v atas indikasi Lidokain bolus 1 mg/kg BB, dilanjutkan dosis pemeliharaan 3 mg/menit hari I, sampai dengan 3 hari berturut-turut dengan tapering off. Trombolisis bila pasien datang kurang dari 4 jam.

-

Tindak Lanjut : Rujuk ke RSAS. Asuhan Keperawatan a) Mengurangi nyeri dan cemas b) Mengurangi kerja jantung C) Mencegah/mendeteksi dysritmia atau komplikasi d) Memenuhi perawatan din (kebutuhan sehari-hari) Masalah keperawatan yang mungkin timbul a. Gangguan Rasa Tak Nyaman dan Nyeri Akut Gangguan rasa tak nyaman dan nyeri akut dapat terjadi sehubungan dengan kurangnya suplai oksigen ke otot jantung sekunder karena oklusi Arteri coronaria. Kondisi ini ditandai, dengan rasa nyeri dada hebat dengan menjalar ke lengan kiri, leher, punggung belakang dan epigastnium. Disamping itu, ekspresi wajah tampak kesakitan, kelelahan, lelah, perubahan kesadaran, nadi

dan tekanan darah. Intervensi 1) Monitor dan catat karakteristik nyeri: lokasi nyeri, intensitas nyeri, durasi/Iamanya nyeri, kualitas dan penyebaran nyeri. 2) Kaji apakah pernah ada riwayat nyeri dada sebelumnya 3) Atur lingkungan tenang dan nyaman, jelaskan bahwa pasien harus istirahat 4) Ajarkan tehnik relaksasi seperti; nafas dalam dll. 5) Ukur/periksa tanda-tanda vital sebelum dan sesudah pengobatan analgetik. Kolaborasi 1) Pemberian tambahan oksigen dengan “nasal canule” atau masker. 2) Pemberian obat-obatan sesuai indikasi, antiangina (Nitroglycerin seperti; nitro - disk, nitro bid), Beta blockers; propanolol (indera), pindolol (vitlen), atenolol (tenormin), analgesic (seperti; morphine/meperidine/ demoral),Ca-antagonis (seperti, nifedipine/adalat). b. Keterbatasan/ketidak Mampuan Aktifitas Fisik Keterbatasan/ketidak mampuan aktifitas fisik terjadi sehubungan dengan suplai oksigen dan keburukan oksigen yang tidak seimbang, iskemik/kematian otot jantung. Kondisi ini ditandai dengan; kelelahan, perubahan nadi dan tekanan darah saat aktifitas, perubahan warna kulit, dysritmia. Intervensi 1) Catat nadi, irama dan tekanan darah sebelum, saat dan setelah aktifitas 2) Anjurkan dan jelaskan bahwa pasien harus istirahat (bed rest) sampai keadaan stabil 3) Jelaskan/anjurkan pasien supaya tidak mengedan jika buang air besar 4) Hindarkan pasien kelelahan ditempat duduk 5) Rencanakan aktifitas bertahap jika telah bebas nyeri; duduk ditempat tidur, berdiri, duduk di kursi 1 jam sebelum makan 6) Ukur tanda vital sebelum dan sesudah aktifitas. Kolaborasi : Merujuk ke ASAS untuk program tindak lanjut dan rehabilitasi. c. Rasa Cemas Rasa cemas dapat terjadi berkaitan dengan perubahan status menjadi sakit, ancaman kematian, kegagalan berhaji. Kondisi ini ditandai, dengan; tekanan darah meningkat, wajah tampak cemas/tegang, perhatian hanya pada diri sendiri. Intervensi 1) Lakukan komunikasi teraputik dengan cara membina hubungan saling percaya dan dengarkan keluhan pasien dengan sabar 2) Dampingi pasien, cegah tindakan destruktif dan konfrontatif 3) Jelaskan tindakan-tindakan yang akan dilakukan 4) Jawab pertanyaan pasien dengan konsisten 5) Bantu dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kolaborasi; pemberian sedative, misalnya Diazepam (valium), Flurazepam hydrochloride (Dalmane), Lorazepam (ativan).

d. Potensial Penurunan “Cardiac Out Put” Penurunan “Cardiac Put Put” dapat terjadi sehubungan dengan perubahan nadi, aliran konduksi, dan penurunan preload/peningkatan SVR. Intervensi 1) Ukur tekanan darah, evaluasi kualitas nadi 2) Kaji adanya murmur, S3 dan S4 3) Dengarkan bunyi nafas 4) Hindarkan aktifitas dan anjurkan pasien untuk istirahat 5) Gunakan pispot/urinal bila ingin ke kamar mandi/WC 6) Siapkan alat-alat/obat-obatan emergensi. Kolaborasi 1) Pemberian oksigen tambahan 2) Pemasangan infus 3) Rekam EKG 4) Pemeriksaan Rontgen thoraks ulang 5) Rujuk ke RSAS jika perlu pemasangan “Pace maker”. e. Potensial penurunan perfusi jaringan Penurunan perfusi jaringan dapat terjadi sehubungan dengan vasokontriksi hipovolemia. Intervensi 1) Awasi perubahan emosi secara mendadak misalnya bingung, cemas, lemah/letargi dan penurunan kesadaran (stupor) 2) Awasi adanya sianosis, kulit dingin dan nadi perifer 3) Kaji adanya tanda-tanda Homan’s (Homan’s Sign); nyeri pada pergerakan lutut, eritema dan edema 4) Monitor pernafasan 5) Kaji fungsi pencernaan; ada tidaknya mual, penurunan bunyi usus, muntah, distensi abdomen dan konstipasi 6) Monitor pemasukan cairan; ada tidaknya perubahan dalam produksi urine. Kolaborasi 1) Pemeriksaan laboratorium; astrup, creatinin dan elektrolit 2) Pengobatan; Heparin, Cemitidin (Tagamet), Panitidine (Zantac) dan Antasida. f. Perubahan Volume Cairan Perubahan volume cairan yang berlebihan terjadi sehubungan dengan penurunan perfusi organ renal, peningkatan retensi sodium dan air, serta peningkatan tekanan hidrostatik atau penurunan protein plasma. Intervensi 1) Kaji bunyi nafas, ada tidaknya crackles 2) Kaji JVD (Distensi Vena Jugularis) dan oedem ada atau tidak ada 3) Keseimbangan cairan 4) Timbang berat badan setiap hari 5). Jika memungkinkan berikan cairan 2000 cc/24 jam. Kolaborasi: Pemberian garam/minum dan diuretik misalnya Furosemid (Lasix).

Gizi : Makanan cair atau lunak 1300 kalori rendah garam dan rendah lemak setelah puas 8 jam kemudian diulang setelah 24 jam. Sanitasi surveilans : Recording dan reporting

3. Hipertensi Emergensi Hipertensi emergensi merupakan keadaan yang membutuhkan pengobatan yang cepat. Komplikasi a. Jantung b. Serebrovaskuler c. Lain-lain

: - Diseksi Aorta yang akut - Kegagalan ventrikel kiri : - Perdarahan intra cranial - Perdarahan subarachnoid : - Ekslamsia - Epistaksis - Trauma kepala

a.

DIAGNOSIS 1) 2) 3) 4) Tekanan darah diastolik> 140 mg Hg. Kardiomegali karena adanya bendungan jantung dan paru. Oligouria dan asotermia. Nyeri kepala, gelisah, mata kabur, kejang-kejang dan kesadaran menurun sampai dengan koma. 5) Perdarahan exudat dan edema. 6) Mual dan muntah.

b. PENATALAKSANAAN 1) Di Penerbangan = di Kloter - Nifedipine 5 mg sublingual, ulang tiap 15 menit sampai tensi 160/100 mm Hg. - Oral nifedipine 3 x 10 mg - Captopril 3 x 25 mg - Prazozim 2 x 1 mg - ISDN 3 x l0 mg

Tindak Lanjut : Segera rujuk ke RSAS / BPHI. Sanitasi surveilans : Recording dan reporting 2) Di BPHI a) Harus dirawat secara intensif b) Pasang infus untuk obat-obatan melalui intra vena Pengobatan Jenis Obat 1. Nitroprusid 2. Nitrogliserin Dosis 0,25-10mg/kg BB 5 - 100.../mnt Obat bekerja Segera 2 - 5 menit Keterangan 1 - 2 menit 1/u dng iskemi

3. Hidralasin

10-20 mg i.v

10 - 20 menit

3-5 menit

Catatan : Pemantauan ketat terhadap penurunan tekanan darah secara cepat dan fungsi-fungsi organ target seperti; otak, jantung dan ginjal. Asuhan Keperawatan a) Mempertahankan fungsi Kardiovaskuler b) Mencegah komplikasi c) Memberi penjelasan mengenai proses penyakit, prognosis dan pengobatan d) Memberi dorongan. agar pasien aktif dalam berobat/ kontrol. Masalah Keperawatan Yang Mungkin Timbul a. Potensial Penurunan “Cardiac Out Put” Potensial penurunan “Cardiac Out Put” terjadi sehubungan dengan peningkatan Afterload, vasokonstriksi, Iskemik Miokard dan Hipertroti Ventrikel. Intervensi 1) Monitor tekanan darah dengan tehnik yang benar 2) Ukur kualitas nadi sentral dan perifer 3) Auskultasi bunyi jantung dan nafas 4) Observasi warna kulit, temperatur dan “capillary refill time” (waktu aliran darah balik, normal 1-3 detik) 5) Kaji adanya edema 6) Jelaskan bahwa pasien perlu membatasi aktifitas 7) Bantu dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari 8) Atur posisi kepala lebih tinggi 9) Anjurkan dan ajarkan tehnik relaksasi 10) Monitor respon obat/pengobatan dan tekanan darah Kolaborasi Pemberian obat-obatan sesuai indikasi 1) 2) 3) 4) 5) Thiazide diuretics : Chlorothiazide Diuretivs : Furosemide (lasix) Potassium - Spating diuretics : Spironolactone (Aldactone) Sympathetic inhibitors Propanolol (Inderal), Artenolol Vasodilators: Prazosin (minipress), Calsium Channet Blokers (nitedipine).

b. Gangguan Rasa Nyeri Kepala Akut Gangguan Rasa Nyeri Kepala Akut dapat terjadi sehubungan dengan peningkatan tekanan pembuluh darah otak. Intervensi 1) Anjurkan pasien untuk bedrest pada saat fase akut 2) Ajarkan cara mengurangi nyeri tanpa menggunakan obat-obatan misalnya kompres dingin pada dahi, pijit/urut pada bagian belakang leher dan tehnik relaksasi 3) Batasi aktifitas yang dapat menimbulkan nyeri kepala seperti; duduk terlalu lama, terlalu membungkuk dan batuk yang lama/sering. Kolaborasi: Pemberian obat-obatan sesuai indikasi misalnya

Analgesic, Tranguilizers (Lorazepam/Ativan), Diazepam (Valium). c. Gangguan Nutrisi Gangguan Nutrisi yang lebih dari kebutuhan tubuh terjadi sehubungan dengan kebiasaan hidup, pemasukan (intake) melebihi kebutuhan metabolik dan budaya. Keadaan ini ditandai dengan berat badan 10-20% diatas BB ideal dan makan berlebihan. Intervensi 1) Jelaskan kepada pasien tentang diet yang sesuai seperti; membatasi garam, lemak, gula, mentega dan telor. 2) Identifikasi kebutuhan kalori dan diet: tinggi serat dan banyak buah-buahan. 3) Anjurkan untuk mengurangi berat badan secara bertahap 1-2 kg/minggu. Kolaborasi : Pemberian diet yang sesuai. d. Koping Individu Yang Tidak Efektif Koping individu yang tidak efektif dapat terjadi sehubungan dengan perubahan gaya hidup/ kebiasaan, kurang relaksasi, kurang dukungan, nutrisi yang tidak baik, kegiatan yang berlebihan dan persepsi yang tidak realistik. Kondisi ini ditandai dengan merokok yang terus menerus, mudah marah, depressi, mengeluh susah tidur dan nyeri yang menetap. Intervensi 1) Kaji mekanisme koping yang efektif, kenali penyebab stress pasien 2) Libatkan pasien dalam perencanaan perawatan dan pengobatan 3) Bantu pasien dalam menyusun program kegiatan khususnya dalam pelaksanaan ibadah di Tanah Air. Gizi : Diet rendah sodium. Sanitasl surveilans : Reporting dan rekording 4. Penyakit Jantung Aritmia Aritmia adalah gangguan pembentukan dan hantaran impuls pada jantung. Etilogi; Karena penyakit-penyakit di jantung sendiri, antara lain penyakit jantung koroner, penyakit jantung katup dan karena penyakit-penyakit/gangguan diluar jantung, antara lain obat-obatan, gangguan elektrolit, penyakit endokrin. a. DIAGNOSIS Berdasarkan klinis dibagi menjadi 3 bagian 1) Aritmia minor: tidak memerlukan pengobatan, umpama extra sistol ventrikel < 6 x I menit atau yang jarang. 2) Aritmia mayor, memerlukan pengobatan, misalnya extra sistol yang > 6 x/menit, takhikardi paroximal dll. 3) Aritmia yang mengancam kehidupan yaitu yang memerlukan pengobatan segera, seperti Takhikardi ventrikel, fibrilasi ventrikel dll.

b. PENGOBATAN : 1) Pengobatan terhadap penyakit yang mendasarinya 2) Penggunaan obat-obatan anti aritmia yang sesuai dengan jenis aritmianya 3) DC shock 4) Alat pacu jantung, sampal dengan tindakan bedah jantung. Beberapa jenis aritmia yang memerlukan pengobatan segera dan sering ditemukan 1) Paroksimal Atrial Takhikardi / P.A.T Terjadi bila sentrum ektopik yang terdapat di atrium mengirimkan pacuannya dalam frekuensi yang tinggi. Etilogi; Penyakit endokrin, penyakit katup jantung, juga dapat ditemukan pada orang normal yang mengalami stres. a) DIAGNOSA Berdasarkan anamnesa; jamaah mengeluh jantung berdebardebar/berdenyut cepat sekali hingga baju disekitar dada bergoyang, debaran datangnya tiba-tiba dan hanya beberapa menit atau dapat juga beberapa hari, kadang-kadang dapat hilang dengan sendirinya. Dari hasil pemeriksaan EKG terlihat gambaran denyut jantung 150 - 250 x I menit dan gelombang P abnormal atau tidak dapat dilihat. b) PENGOBATAN Bila keadaan pasien baik (sadar, vital sign normal) dapat dilakukan pengobatan non medika menthosa yaitu 1) Percobaan Valsava; setelah inspirasi yang dalam, pasien diinstruksikan menghembuskan nafas dengan glottis tertutup. 2) Percobaan Muller; setelah expirasi yang panjang dan dalam pasien diinstruksikan menarik nafas dengan glottis tertutup. 3) Tekanan pada bola mata (hati-hati). 4) Pasien disuruh muntah. 5) Tekanan pada sinus karotis (hati-hati). Di Kloter : Berikan Verapamil tablet Di BPHI: Berikan Verapamil injeksi dan Digitalis, bila keadaan memburuk (tidak sadar dan tekanan darah menurun) pasang infus dan berikan oksigen 3 liter/menit. Tindak lanjut : Bila mendapatkan pasien P.A.T. segera rujuk ke BPHI, sebelumnya lakukan non medika mentosa dan berikan tablet Verapamil. 2) Fibrilasi Atrium I A.F. Rapid Respond Ditandai dengan denyut jantung yang cepat sampai dengan 350x/menit per ECU. Etilogi; Penyakit jantung katup, penyakit jantung koroner, hipertensi, Tirotolsikosis. a) DIAGNOSIS Diagnosis ditegakkan dengan EKG.

b) PENATALAKSANAAN Di Penerbangan = di Kloter Pasien diberi Diazepam 3x5 mg dan segera dirujuk ke BPHI dengan infus tetesan emergensi 8-10 tts/mnt. Di BPHI Pengobatan dilakukan berdasarkan gejala kilnis dan penyakit dasar, tetapi dapat pula dilakukan; Digitalisasi, penyekat Beta, dan DC shock. 3) Ektra Sistol Ventrikel (V.E.S) Adalah terjadinya kontraksi ventrikel yang Iebih awal, karena adanya impuls yang datang dari sentrum ektopik pada ventrikel dalam siklus jantung yang normal. Etilogi; penyakit jantung dengan/ tanpa kardiomegall, bukan penyakit jantung antara lain Intoksikasi digitalis, gangguan elektrolit, stres, kopi/rokok. a) DIAGNOSIS Diagnosis ditegakkan dengan EKG; dimana gelombang ORS lebar; Bigemini (VES selangseling dengan gelombang QRS yang normal); Trigemini (VES setiap 2 gelombang QRS yang normal). b) PENGOBATAN (1) Anti aritmia : Disopyramid 2 x 1 tablet (2) Terapi kausal umpamanya hipokalemi! acidosis (3) Sedative : Trangualizer 4) Takhikardia Ventrikel Terdapat 3 atau lebih ekstrasistole secara berturut-turut, yang terjadi tiba-tiba dalam waktu singkat atau menetap dalam waktu yang lama. Etilogi; Penyakit jantung lanjut/berat, gangguan elektrolit. a) DIAGNOSIS Diagnosis ditegakkan dengan EKG; dimana gambaran EKG QRS lebar-lebar 110-240 x/menit, gelombang P tak kelihatan. b) PENATALAKSANAAN Penerbangan : RJP dan hubungi pilot untuk segera mendarat agar memperoleh pertolongan lebih lanjut. Kioter : RJP dan segera rujuk ke RSAS. BPHI: Lidocain hidrokiorid i.v bolus 1 mg/kg BB, disuntikkan perlahan-lahan dalam waktu 2 - 4 menit. Dilanjutkan dengan dosis 2 - 4 mg/menit/drip selama 48 jam. RJP dan segera rujuk ke RSAS. 5) Fibrilasi Ventrikel Fibrilasi ventrikel merupakan aritmia yang paling buruk prognosisnya dan merupakan penyebab kematian mendadak yang paling sering. Etilogi; Infark miokard akut, penyakit jantung yang berat, hipokalemi dan hiperkalemi berat.

a) DIAGNOSIS Diagnosis ditegakkan dimana penderita ditemukan hilang kesadaran, shock dan apnoe, serta hasil EKG. b) PENGOBATAN (1) Segera lakukan resusLtasi jantung paru (2) DC shock mulai dari 200 youle (3) Obat-obatan emergensi sesuai perkembangan penyakit/seperti: Adekosin, Xylocard, KCL, Melon, Sulfas Atrofin, Adrenalin. (4) Segera rujuk ke RSAS. 5. Gagal Jantung Gagal jantung adalah suatu keadaan dimana jantung tidak lagi mampu memompa darah ke jaringan untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh, walaupun darah balik masih normal. Ada 2 (dua) etiologi gagal jantung, Pertama, Intra Cardial, meliputi; Penyakit jantung bawaan umpamanya (seperti; ASD, VSD dll); Penyakit jantung katup (seperti; MS-MI, AS, Al, TS dan TI); Penyakit jantung koroner (seperti; Ml, Iskemi); Penyakit jantung Kardiomyopati. Kedua, Ekstra Kardial, meliputi; Anemi, Hipertensi, Tiroid, CRF/penyakit ginjal khronis, Diabetes Mellitus dan COPD. Kelainan gagal jantung diklasifikasi secara f secara fisiologis menjadi dua, yaitu; gagal jantung kiri atau gagal jantung kanan dan gagal jantung kiri dan kanan (gagal jantung kongestit). a. DIAGNOSA Anamnesis adanya “Paroxysmal Nocturnal Dyspnoe” yaitu terbangun malam hari karena sesak, “Dyspnoe de Effort” yaitu sesak bila aktifitas meningkat, Oligouri dan “Orthopnoe” yaitu tidur harus memakai bantal tinggi. Pada pemeriksaan fisik; denyut jantung > 120 x menit, bunyi jantung “Gallop (+)“, bising jantung bisa ada/tidak, ronchi pada bagian basal paru. Stadium lanjut (decomp kanan) terdapat JVP tinggi, Hepatomegali, oedem tungkai bawah dan Acites. Pemeriksaan pendukung; pada Thorak foto PA terlihat kardiomegali dengan bendungan vena paru (clue) Pada stadium lanjut pumonary - oedem. Hasil EKG terlihat Takhikardia, dengan gelombang P mitral, gelombang P biphasic di TV, dan LVH (pembesaran ventrikel kiri) Sedangkan hasil Echocandiografi tampak pembesaran ventrikuler kiri, gerakan dinding ventrikel hipokinetik - akinetik dan EPSS.10. b. PENATALAKSANAAN: 1) Di Kloter a) Posisi pasien diatur duduk dikursi roda atau tidur dengan bantal > 2 buah (1/2 duduk) b) Beri oksigen 2 - 4 liter menit c) lnfus Ringer Laktat dengan tetesan emergensi 8 tts/menit d) Lasix inj. 1 ampul (dosis disesuaikan dengan beratnya penyakit)

2) Di BPHI a) Posisi pasien diatur duduk dikursi roda atau tidur dengan batal > 2 buah (1/2 duduk) b) Beri oksigen 2-4 liter/menit c) Infus Ringer Laktat tetesan emergensi 8 tts/menit d) Lasix inj. 1 ampul (dosis disesuaikan dengan beratnya penyakit) e) Digitalisasi cepat, tiap 2 jam/4 jam dengan dosis cedilanid 0,03

f) g) h) i)

j) k) I)

x GB = X mg. Caranya : - Berikan 1 bolus cedilanid 1 amp (0,4 mg) yang dilarutkan/diencerkan (2cc cedilanid + 8 cc RL) diberikan i.v pelan dalam 5 menit. - Selanjutnya tiap 2 atau 4 jam 1 cc cedilanid (1/2 amp) sampai dosis total X mg. - Setiap pemberian cedilanid, diambil rekaman EKG sebelumnya (didahului rekaman EKG) untuk evaluasi. - Bila denyut jantung Iebih kurang 90 x/menit maka cedilanid inj. diganti per oral (Digoxin tablet) - Digitalisasi lambat (tiap 6 - 8 jam) disesuaikan dengan klinis atau ringan - beratnya penyakit. Pemeriksaan darah astrup, elektrolit Substitusi Kalium bila perlu Preparat Mangan Bila tekanan darah cenderung turun, Dopamin -Dobutrex drip yang dimulal dari 5 micron gr/kg BB dosis dinaikkan untuk mempertahankan tekanan darah sistolik 110 - 120 mgHg. Pasang Dourcatheter dan ukur minum dan produksi urine (diupayakan Balance Negatif) Diet cair V, diet jantung dan AG (rendah garam), disesuaikan dengan beratnya penyakit Evaluasi “Vital Sign”, EKG dan Thoraks foto.

Tindak Lanjut: Bila menemukan pasien jatuh kedalam “Decomp” (gagal jantung) dilapangan, sikap no. a - d dapat dilakukan sambil merujuk pasien ke BPHI / RSAS. Gizi : Diet cair V, diet jantung dan AG (rendah garam), disesuaikan dengan beratnya penyakit. B. Paru 1. Asma bronkiale dalam serangan (ringan, sedang, berat) dan Bekas TB + SOPT (Sydrome Obstruktif Pasca TB) Serangan asma bronkiale sering ditimbulkan oleh ISPA, tekanan emosi, kerja fisik atau rangsangan yang bersifat alergen. a. DIAGNOSIS Anamnesis; riwayat serangan asma (+), sesak nafas (+), batuk kering (+), batuk berdahak (putih, hijau, kuning), demam +/dan riwayat asma pada keluarga (+) Pencetus serangan asma; suhu udara, debu, makanan, kecapean, dan emosi. Pada pemeriksaan fisik; tampak sesak nafas, vital sign bisa normal/meningkat, suhu afebril/febril, infeksi saluran nafas atas (+); Paru sonor, VES mengeras, Wheezing (+) Ronchi +/-, Jantung dalam batas normal/takhikardia; Abdomen normal; Extremitas normal. Pada pemeriksaan penunjang; laboratorium darah rutin, Hb, Ht, Leukosit, Trombosit duff; Analisa gas darah dikoreksi jika terdapat kelainan; Rontgen thoraks (tidak mutlak).

b. PENATALAKSANAAN 1) Di Penerbangan = di Kloter Pada serangan ringan dengan tanda-tanda: Aktifitas biasa, bicara lancar, HR < 100 x / 1 mnt. Dapat diberikan pengobatan; Ventolin inhaler 3 x 1 PUFF, Teofilin oral 3 x 75 mg (tablet), Salbutol 3 x 0,5 mg (tablet), Antibiotik oral : Amoxicillin 3 x 500 mg, jika perlu dan Mukolitik/ ekspektoran. Tindak Lanjut: Jika obstruks tidak teratasi, segera rujuk ke BPHI dan bila mungkin beri Aminophillin drip 1 amp/8 jam/klof Dextrose 5%. 2) Di BPHI Pada serangan sedang dengan tanda-tanda, bicara terputusputus, sesak berat, keringatan, nadi > 120 x/1 mnt, APE < 40% atau <100 ltr/mnt, periksa dengan PFR.

Dapat diberikan pengobatan a) Nebulisasi dengan Ventolin/Salbuven/Bricasma/+ Bisolvon (seluruhnya 1 cc) sebanyak 1-3 kali dalam 1 jam pertama dan dapat diulang 1-4 jam kemudian jika klinis belum ada perbaikan. Jika dengan nebulisasi tidak membaik, maka berikan Bricasma 1/2 ampul subkutan atau drip Bricasma 2 ampul/1 kolf Destrose 5% selama 6 jam atau drip Aminophillin 3/4 ampul - 1 ampul / 1kolf Dextrose 5% selama 8 jam. b) Kalmethasone 3 x 10 mg (2 ampul) c) Oksigen 4 liter/menit dengan ventory mask. d) Minum yang banyak e) Perlu pemeriksaan serial astrup/+elektrolit f) Antibiotika atas indikasi g) Ekspektoran/mukolitik Tindak Lanjut : Apabila kondisi pasien makin memburuk, dengan tanda tanda : Sianosis, suara natas melemah, bradikardi, aritmia, hipotensi, lelah, gelisah, asidosis respiratorik/metabolik (dengan Astrup), hipoksemia berat (dengan astrup) segera rujuk ke RSAS. Asuhan Keperawatan : 1) Mempertahankan potensi jalan nafas 2) Meningkatkan pertukaran gas 3) Memenuhi pemasukan nutrisi dan air 4) Mencegah komplikasi 5) Memberi informasi tentang penyakit Masalah Keperawatan Yang Mungkin Timbul a. Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif Bersihan jalan nafas tidak efektif dapat terjadi sehubungan dengan Peningkatan produksi sputum, Penumpukan sputum karena sputum kental, Pembengkakan/penebalan mukosa Bronkhus, Kelelahan/kekurangan energi.

Intervensi Atur posisi pasien senyaman mungkin, jauhkan dari polusi, observasi karakteristik batuk, dan bantu serta latih batuk efektif, tingkatkan pemasukan cairan. Kolaborasi: 1) Pemberian oksigen (02) 2) Pemberian obat bronkhodilator, inhalasi dan anti mikrobial 3) Tindakan chest fisioterapi 4) Monitor analisa gas darah dan Rontgen Thoraks. b. Pertukaran Gas Menurun Pertukaran gas menurun dapat terjadi sehubungan dengan gangguan suplai oksigen (obtruksi, bronkhospasme, kerusakan alveoli).

Intervensi 1) Atur posisi yang memudahkan untuk bernafas (fowler / semi fowler) 2) lstirahatkan pasien dan bantu memenuhi kebutuhan sehari-hari pasien 3) Monitor tanda-tanda vital Kolaborasi 1) Monitor AGD (Analisa Gas Darah) dan pulse oximetri 2) Beri O2 tambahan 3) Bantu saat intubasi, pertahankan ventilasi saat pindah ke RSAS. c. Gangguan Kebutuhan Nutrisi dan Cairan Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi dan cairan dapat terjadi sehubungan dengan kurangnya kebutuhan tubuh sampai dengan sesak nafas, kelelahan, karena efek samping obat-obatan, mual dan muntah. Intervensi 1) Kaji keadaan diet, beri makanan yang disukai, catat tingkat kesulitan makan, evaluasi berat badan 2) Auskultasi bunyi usus (bising usus) 3) Lakukan pemeliharaan kebersihan mulut secara teratur 4) Berikan obat ekspektoran sesuai program 5) Siapkan tempat khusus untuk sputum 6) Beri cairan yang cukup, bila perlu kolaborasi untuk pemasangan infus. d. Potensial lnfeksi Potensial infeksi sehubungan dengan penurunan fungsi silia, penumpukan sputum, peningkatan polusi Iingkungan, proses penyakit khronik dan malnutrisi. Intervensi 1) Monitor suhu tubuh 2) Ulangi tentang pentingnya latihan nafas dalam, batuk efektif dan

pemberian cairan yang cukup Kolaborasi : Pemberian anti mikrobial e. Kurang Pengetahuan Mengenal Proses Penyakit Kurangnya pengetahuan mengenai proses penyakit sehubungan dengan kurangnya pendidikan dan informasi. Intervensi 1) Kaji tingkat pengetahuan pasien tentang penyakitnya 2) Jelaskan mengenai penyakit yang dialaminya 3) Jelaskan cara mencegah penyakitnya bila kambuh selama di Tanah Suci yaitu dengan menghindari polusi, memakai masker, makan dan minum yang cukup 4) Ajarkan cara menggunakan obat-obatan inhaler (bronkhodilator) sesuai program dokter. Tindak Lanjut: Keadaan menjadi berat (prognosis buruk), bila ditemui salah satu gejala dibawah ini 1) Suara nafas melemah "silent chest” pada auskultasi 2) Cyanosis 3) Bradikardi, Aritmia jantung, hipotensi 4) Lelah, gelisah, mengantuk serta refrakter terhadap semua Bronkodilator dan pengobatan supportif lainnya 5) Hiperapnea, asidosis respiratorik, asidosis metabolik 6) Hipoksemia berat walaupun dengan pengobatan adekuat 7) Memerlukan perawatan di ICU, segera rujuk ke RSAS. 2. TB Paru dan Haemoptisis Ekspektorasi darah atau mukus yang berdara. Etiologi; TB Paru (aktif/bekas), BE, Abses Paru, Kanker Paru, Brokhitis Kronis. Kegawatan batuk darah tergantung jumlah darah yang dikeluarkan dan sumbatan bekuan darah yang keluar, tetapi batuk darah yang sedikit ada kemungkinan terjadi batuk darah yang masif. a. Batuk Darah Masif 1) DIAGNOSIS a) Batuk dara > 600 rnV24 jam & belum berhenti. b) Batudarah>250ml-<600m1/24jam, HB < 10 gr %, masih berlangsung. 2) PENATALAKSANAAN a) Di Penerbangan = di Kloter 1) Tenangkan pasien 2) Baringkan pada posisi miring kearah paru yang “sakit” (ronchi (+) pada bagian yang sakit 3) Pasien disuruh membantukkan darah yang masih ada dalam saluran nafas agar tidak terjadi obtruksi saluran nafas, dan darah dibatukkan kedalam kantong plastik 4) Isap lendir (darah) jika kondisi pasien Iemah (pasien

5)

tidak mampu batuk) Obat-obatan hemostatik; transamin, vit. K. Vit. C, Ca. Glukonas injeksi 6) Pemasukan cairan yang cukup, oral dan parenteral. Tindak Lanjut; segera rujuk ke BPHI.

b)

Di BPHI

Pengobatan : 1) Tenangkan pasien 2) Berbaring pada posisi paru yang “sakit”, sedikit Trendelenburg 3) Saluran nafas harus terbuka; spontan - tindakan 4) Pemasangan IV line untuk pengganti cairan, pemberian obat parenteral dan “Imobilisasi pasien” 5) Nutrisi yang cukup 6) Pemberian hemostatik; Transamin, Vit.K, Vit.C, Ca. Glikonas injeksi 7) Batuk darah massif, cek Hb dan Ht. Bila Ht<25%, HbdOgr%, perdarahan masih (+). Tindak Lanjut : segera rujuk ke RSAS karena perlu di tranfusi dan anjuran pulang dini. Asuhan Keperawatan : 1) Memaksimalkan/mempertahankan ventilasi/ oksigenasi 2) Mencegah penyebaran infeksi 3) Memberi dukungan untuk menjaga/mempertahankan kesehatan 4) Memberi informasi tentang penyakit dan pengobatan. Masalah Keperawatan Yang Mungkin Timbul a. Berihan Jalan Nafas tidak Etektif Bersihan jalan nafas yang tidak efektif sehubungan dengan sekret yang kental, sputum bercampur darah, kelelahan, batuk produktif, pembengkakan trakhea/faring. Intervensi 1) Kaji dan catat fungsi pernafasan: bunyi nafas, jumlah RR, irama dan kedalaman, penggunaan otot-otot bantu, karakteristik batuk dan sputum, jumlah darah yang dibatukkan. 2) Beri posisi yang nyaman: fowler/semi fowler 3) Jika sedang batuk darah sebaiknya pasien dalam posisi duduk 4) Dampingi dan anjurkan pasien untuk membatukkan darahnya untuk mencegah sumbatan jalan nafas 5) Beri tempat khusus untuk menampung sputum atau darahnya 6) Catat karakteristik sputum/darah 7) Bersihkan sekret/darah dari mutut dan trakhea lakukan pengisapan sekret jika diperlukan (di BPHI) 8) Penuhi kebutuhan cairan minimal 2500 cc/hari, jika tidak ada kontra indikasi.

Kolaborasi; Pemasangan infus, pemberian 02, pemberian obat-obatan: mukolitik, bronkhodilator, kortikosteroid. Jika dalam keadaan gawat, bantu untuk intubasi dan segera kirim ke RSAS (?) b. Potensial Menyebarnya Infeksi Potensial penyeraban infeksi sehubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat, penurunan fungsi silia, penumpukan sputum, kerusakan jaringan, malnutrisi. Intervensi 1) Jelaskan bahwa penyakit dapat menyebar/menular melalui percikan air Iudah, udara pematasan, batuk, bekas makan/minum. 2) Anjurkan pasien untuk batuk dengan menutup mulut dan hidung dengan tissue dan membuangkanya pada tempat yang telah disediakan. 3) Jelaskan bahwa pasien perlu isolasi untuk mengurangi penyebaran infeksi dan memberi ketenangan kepada pasien. 4) Monitor suhu tubuh jika perlu. 5) Anjurkan dan jelaskan pentingnya minum obat dengan teratur. Kolaborasi : Pemberian obat-obatan TB sesuai indikasi yaitu : INH, Ethambutol, Rifampisin, PZA. c. Gangguan Pertukaran Gas Gangguan pertukaran gas sehubungan dengan atelektasis, penurunan fungsi jaringan paru, kerusakan membran alveolar - kapiler, edema bronkhial. Intervensi 1) Kaji, awasi dan catat: sesak nafas (dyspnoe), tachypnea, bunyi nafas abnormal, peningkatan usaha bernafas, pengembangan dada dan kelelahan. 2) Evaluasi tanda-tanda gangguan pertukaran gas seperti: cyanosis, membran mukosa biru/kebiruan, kuku kebiruan. 3) Ajarkan dan deminstrasikan cara pursed-up breathing (pemafasan dengan mulut mencucu) pada saat ekspirasi khususnya pada pasien fibrosis. 4) Anjurkan untuk bed rest (istirahat)/kurangi aktifitas. 5) Kaji kemampuan untuk perawatan diri dan bantu jika pasien membutuhkan. d. Gangguan Kebutuhan Nutrisi Gangguan kebutuhan nutrisi dan kurang dari kebutuhan tubuh sehubungan dengan sering batuk, kelelahan, sesak, tidak nafsu makan. Intervensi 1) Kaji status nutrisi pasien, pola makan dan berat badan sebelumnya (dapat dilihat di buku status kesehatan). 2) Anjurkan pasien untuk makan makanan yang disukai. 3) Jika memungkinkan hidangkan makanan yang disukai

pasien. 4) Jelaskan pentingnya makan yang cukup. 5) Monitor pemasukan dan pengeluaran serta berat badan. 6) Lakukan perawatan oral sebelum dan sesudah memberikan pengobatan pernafasan. Gizi : Diet Tinggi Kalori dan Tinggi Protein (TKTP). Sanitasi surveilans ; hindari penyebaran infeksi dengan perawatan isolasi. 3. PPOK ( Penyakit Paru Obstruktif Khronik) Eksserbasi Akut a. DIAGNOSIS Anamnesis sesak nafas, capek, batuk (dahak putih, hijau, kuning), demam (+)/(-), riwayat sesak yang lama. Pada -pemeriksaan fisik; tampak sesak nafas, hipopnoe/ hiperpnoe; TD normal/meningkat, nadi . 80 x/mnt, RR > 24x/ mnt; suhu afebris/febris; Toraks; Paru: Emfisemateus, hipersonor, vesikuler melemah, experium memanjang, ronchi (+) / (-); Cor; tachikardi; Abdomen dan extremitas normal. Pada pemeriksaan pendukung: Rontgen toraks PA, UDFL, Analisa gas darah, pemeriksaan sputum MO jika terdapat tandatanda infeksi. b. PENATALAKSANAAN 1) Di Penerbangan = di Kloter a) Nebulisasi; Atroven/Salbutamol/Bris-casma/bisa ditambah Bisolvon seIuruhnya per 1 cc, dapat diberikan 3-4 x sehari. b) Oksigen 2 ltr/mnt. c) Steroid (Kalmethason 10 mg, iv) d) Antibiotik jika ada tanda-tanda infeksi e) Intake cairan cukup. 2) Di BPHI a) Oksigen 2 ltr/mnt b) Intake cairan 25 - 30 cc/kg BB c) Fisioterapi dada, astrup serial d) Sabitamol 3x2 mg, Aminophillin tablet 3x1 tablet e) Antibiotik jika ada tanda-tanda infeksi f) Steroid jika klinis berat, tidak ada respon bronkhodilator. Rujuk ke RSAS, jika keadaan makin berat.

Lanjut :

Asuhan Keperawatan: 1. Mempertahankan potensi jalan natas 2. Meningkatkan pertukaran gas 3. Memenuhi pemasukan nutrisi dan air 4. Mencegah komplikasi 5. Memberi informasi tentang penyakit Masalah Keperawatan Yang Mungkin Timbul a. Bersihkan Jalan Nafas tidak Efetif

Bersihan jalan nafas tidak etektif sehubungan dengan peningkatan produksi sputum, penumpukan sputum karena sputum kental, pembengkakan/penebalan mukosa bronkhus, kelelahan/kekurangan energi. Intervensi: 1) Atur posisi senyaman mungkin 2) Jauhkan dari polusi 3) Observasi karakteristik batuk, dan bantu serta latih batuk efektit 4) tingkatkan pemasukan cairan Kolaborasi: 1) Pemberian oksigen (02) 2) Pemberian obat bronkhodilator, inhalasi dan anti mikrobial 3) Tindakan chest fisioterapi 4) Monitor anafisa gas darah dan Rontgen foto. b. Pertukaran Gas Menurun Pertukaran gas menurun sehubungan dengan gangguan suplai oksigen (obtruksi, bronkhospasme, kerusakan alveoli). Intervensi 1) Atur posisi yang memudahkan untuk bernafas (fowler/semi fowler) 2) lstirahatkan pasien dan bantu memenuhi kebutuhan sehari-hari pasien 3) Monitor tanda-tanda vital Kolaborasi 1) Monitor AGD (Analisa Gas Darah) dan pulse oximetri 2) Beri O2 tambahan 3) Bantu saat intubasi, pertahankan ventilasi saat pindah ke RSAS. c. Gangguan Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi dan Cairan Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi dan cairan kurang dari kebutuhan tubuh sehubungan dengan sesak nafas, kelelahan, efek samping obat-obatan, mual dan muntah. Intervensi 1) Kàji keadaan diet, makanan yang disukai, catat tingkat kesulitan makan, evaluasi berat badan. 2) Auskultasi bunyi usus (bising usus) 3) Lakukan pemerliharaan kebersihan mulut secara teratur 4) Berikan obat ekspektoran sesuai program 5) Siapkan tempat khusus untuk sputum 6) Beri cairan yang cukup Kolaborasi; untuk pemasangan infus. d. Potensial lnfeksi Potensial infeksi sehubungan dengan penurunan fungsi si!ia, penumpukan sputum, peningkatan polusi lingkungan, proses penyakit khronik, malnutrisi.

Intervensi Monitor suhu tubuh, tekankan tentang pentingnya latihan nafas dalam, batuk efektif, dan pemberian cairan yang cukup. Kolaborasi : Pemberian anti mikrobial. e. Kurang Pengetahuan Mengenai Proses Penyakit Kurang pengetahuan mengenai proses penyakit sehubungan dengan kurang pendidikan, kurang informasi. Intervensi 1) Kaji tingkat pengetahuan pasien tentang penyakitnya. 2) Jelaskan mengenai penyakit yang dialaminya. 3) Jelaskan cara mencegah penyakitnya bila kambuh selama di Tanah Suci yaitu dengan menghindari polusi, memakai masker, makan dan minum yang cukup. 4) Ajarkan cara menggunakan obat-obatan inhaler (bronkhodilator) sesuai program dokter. Gizi: Diet makanan lunak

Tindak Lanjut Evaluasi Pengobatan 1) Tanda-tanda membaik yaitu keluhan berkurang, tanda-tanda infeksi membaik, pasien sudah bisa mobilisasi tanpa mengeluh sesak. 2) Tanda-tanda perburukan yaitu sesak makin berat, capek, bicara susah, penderita membentuk nafas lambat dan dalam. Tindakan 1) Bronkodilator per drip, nebulisasi (Salbutamol 1 cc, Atrovent 1 cc) 4 x I 1 jam (Aminopillin 0,5/kg BB/jam). 2) Steroid injeksi Intra Vena. 3) Periksa analisa gas darah dan elektrolit. 4) Perlu perawatan intensif, segera rujuk ke RSAS. 4. Broncho Pneumonia/Pneumonia a. DIAGNOSIS Anamnesis batuk, dahak berwarna kuning/hijau, bisa demam/ bisa tidak, sesak nafas (+) / (-). Pemeriksaan fisik; Kesadaran mulai dari komposmentis sampai penurunan kesadaran, tanda-tanda vital bisa normal atau meningkat, suhu febril, Tekanan darah normal/meningkat, takhikardia, dan paru; sonor, vesikuler, ronchi (+). Pemeriksaan Pendukung; Rontgen : infiltrat, perselubungan, Laboratorium; lekusitosis dan untuk kasus berat dilakukan analisa gas darah, MO Sputum/pemeriksaan gram. b. PENATALAKSANAAN 1) Di Penerbangan = di Kloter Segera rujuk ke BPHI/RSAS 2) BPHI

Pengobatan a) Antibiotik yang diberikan dapat golongan Penisillin, golongan Makrolide, golongan Sefalosporin, golongan Quinolon, golongan Aminoglicoside. Cara pemberian injeksi atau oral. b) Mukolitik, Ekspektoran, Bronchodilator (tablet, syrup) c) Antipiretik kalau perlu d) Pemasukan cairan dan diet disesuaikan dengan keadaan pasien e) Oksigen 4 /tr/1 mnt/tergantung hasil Astrup. Tindak Lanjut : Rujuk ke ASAS. Asuhan Keperawatan 1) Meningkatkan/mempertahankan fungsi respirasi 2) Mencegah komplikasi 3) Memberi dukungan untuk proses penyembuhan 4) Memberi penjelasan mengenai proses penyakit/prognosis dan pengobatan. Masalah Keperawatan Yang Mungkin Terjadi a. Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif Bersihan jalan nafas tidak efektif sehubungan dengan inflamasi trakheo bronkhial, peningkatan produksi sputum, nyeri pleuritik, penurunan energi dan kelelahan. Yang ditandai dengan pernafasan dalam dan cepat, RR berubah, nyeri saat batuk, bunyi nafas abnormal, penggunaan otot bantu pernafasan, sesak, cyanosis dan batuk dengan/tanpa produksi sputum. lntervensi 1) Kaji jumlah pernafasan (AR), kedalaman dan gerakan dada. 2) Auskultasi bunyi nafas apakah ada wheezing, crackles. 3) Tinggikan bagian kepala tempat tidur, dan rubah posisi pasien secara teratur. 4) Istirahatkan pasien, ajarkan dan demonstrasikan cara batuk efektif. 5) Jika perlu lakukan pengisapan lendir. 6) Beri minum air hangat lebih banyak (minimal 2500 cc/ hari), bila tidak ada kontra indikasi. Kolaborasi 1) Kaji dan monitor efek pengobatan nebulisasi dan chest fisiotherapi, IPPB (Intermitten Positive Pressure Breathing), Postural drainage. 2) Catat dan berikan obat-obatan, mukolitik, ekspektoran, bronchodilator dan analgesik. 3) Beri cairan tambahan; infus. 4) Beri humidifikasi oksigen. 5) Mintor analisa gas darah (Astrup), pulse oximetry. b. Pertukaran Gas (difusi) Menurun Pertukaran gas (difusi) menurun sehubungan dengan perubahan membran alveolar-kapiler, perubahan aliran oksigen (Hypoventilasi). Dengan ditandai dengan seska nafas, cyanosis, nadi cepat, hypoxia (kekurangan O2 dalam jaringan). Intervensi

Kaji kedalaman, jumlah dan kesuiitan bernafas Observasi tanda-tanda cyanosis (membran mukosa, kuku) Kaji status mental (kesadaran) Monitor denyut nadi dan irama jantung Monitor suhu tubuh (jika diperlukan) Bila suhu tubuh tinggi, beri pakaian yang tipis, atur suhu udara di dalam ruangan nyaman. Beri kompres dingin atau hangat (tapid water sponges) 7) Anjurkan/pertahankan pasien bed rest, ajarkan tehnik relaksasi 8) Atur posisi semitowler, ajarkan tehnik nafas dalam dan batuk efektif. Kolaborasi 1) Pemberian oksigen (terapi oksigen) dengan nasal canule atau mask oksigen atau venturi mask. 2) Hasil pemantauan analisa gas darah/pulse oxymetri. C. Ketidak Mampuan Aktifitas Ketidak mampuan aktifitas sehubungan dengan suplai dan kebutuhan oksigen tidak seimbang. kelelahan, batuk yang terus menerus, sesak nafas. Ditandai dengan pasien tampak lelah, nafas cepat, nadi cepat jika aktifitas. Intervensi 1) Kaji aktifitas yang masih dapat dilakukan 2) Anjurkan pasien untuk istirahat 3) Atur posisi pasien yang nyaman 4) Kaji pemenuhan kebutuhan sehari-hari memenuhi kebutuhan sehari-hari pasien.

1) 2) 3) 4) 5) 6)

dan

bantu

untuk

d. Gangguan Rasa Nyaman Gangguan rasa nyaman disebabkan nyeri akut sehubungan dengan inflamasi pada jaringan paru, batuk yang kuat, reaksi dari toxin di set. Ditandai dengan nyeri dada pleuritik dan pusing. Intervensi 1) Kaji karakteristik nyeri 2) Monitor tanda-tanda vital 3) Ajarkan cara mengurangi rasa nyeri seperti relaksasi dan latihan nafas, distraksi (mendengarkan musik/kaset ngaji, dan zikir) 4) Lakukan pemeliharaan kebersihan mulut lebih sering. Kolaborasi : Pemberian obat-obatan analgetik dan antitusif. e. Potensial Penurunan Volume Cairan Potensial penurunan volume cairan sehubungan dengan suhu tinggi, pernafasan melalui mulut, hiperventilasi, muntah, penurunan intake oral. Intervensi 1) Kaji dan catat; tanda-tanda vital, peningkatan suhu tubuh, takhikardi, hipotensi orthostatik. 2) Kaji turgor kulit, membran mukosa (bibir dan lidah). 3) Monitor pemasukkan dan pengeluarari cairan serta warna urine. 4) Hitung balance cairan.

5) Beri cairan/minum lebih banyak. Kolaborasi; Pemberian obat-obatan sesuai indikasi (anti-piretik, anti mimetik), pasang infus. Gizi : Diet disesuaikan keadaan pasien (TKTP). Tindak Lanjut : Perhatikan terjadinya tanda-tanda sepsis antara lain kesadaran makin menurun, demam, tekanan darah labil, RR rneningkat, HR meningkat. 5. Penumotoraks = Kolaps Paru a. DIAGNOSIS Anamnesis sesak nafas mendadak perlahan-lahan, nyeri dada pada hemitoraks yang kolaps. Pada pemeriksaan fisik tampak sesak nafas, AR > 20 x / mnt, TD normal, nadi normal / meningkat; Infeksi hemitoraks yang sakit gerakannya tertinggal; Perkusi hipersonor; Fremitus melemah; Vesikuler melemah. Pemeriksaan Penunjang; Foto thorak; tampak daerah lusen avaskuler. b. PENATALAKSANAAN 1) Di Penerbangan = di Kloter a) Oksigen 4 ltr/mnt. b) Jika sesak makin berat lakukan torakosintesis pada ruang interkostal V pada hemitoraks yang sakit dengan abocath No. 14. Abocath hubungkan dengan bloodset. Ujung bloodset yang satu lagi masukkan kedalam botol yang berisi cairan steril (atau tambah Betadine 10 cc). 2) Di BPHI 1) Rawat dengan slang WSD (Abocath No. 14) terfiksasi. 2) Pasien latihan nafas dalam. Tindak Lanjut : Bila bertambah sesak rujuk ke RSAS 6. Edema Paru a. Kardiogenik 1) DIAGNOSIS Anamnesis sesak nafas sehingga posisi duduk/setengah duduk, ada riwayat penyakit jantung, hipertensi dan coroner. Pemeriksaan fisik; tampak sesak nafas, AR > 24 x / mnt, nadi tachikardi, tekanan darah normal rendah/tinggi; tachikardi, Gallop (+) I (-); Paw, ronchi basah halus terutama pada kedua lapangan bawah paw; Abdomen normaVmembesar dan extremitas normal/edema. Pada pemeriksaan penunjang; Foto thoraks Kerley B line (+),

Vasculansasi meningkat, gambaran EKG iskemia / infark / LVH, hasil Astrup terlihat asidosis respiratorik/metabolik dan hipoksemia. 2) PENATALAKSANAAN a) Di Penerbangan = di Kloter 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) Oksigen 4 ltr/mnt Restriksi cairan 15 - 20 cc/kg BB/24 jam Lasix 3 x 1 ampul (jika TD> 110 MMHg Kalium Durales 2 x 1 tablet Morfin iv 1 ampul (jika edema paw Std I) Antibiotik jika ada tanda-tanda infeksi Digitalisasi kalau ada tanda-tanda Decomp (lihat penanganan Decomp Cordis).

Tindak Lanjut : Rujuk ke BPHI/RSAS. b) Di BPHI 1) Penatalaksanaan lanjutan dari kloter 2) Lakukan pemeriksaan Astrup & elektrolit, UDFL dan Rontgen. C. Saluran Pencernaan 1. Hematemesis, Melena dan Hematosesia Haematemesis adalah muntah darah tercampur makanan. Melena adalah pasase tinja berwarna kehitaman dan konsistensi seperti Tir (Tarry). Hamatemesis dan Melena, keduanya disebabkan perdarahan saturan cerna bagman atas, biasanya secara anatomis sumber perdarahan di atas ligamentum Treitz. Keadaan ini selalu bersifat gawat darurat yang harus segera ditangani. Hematemesis harus dibedakan dengan Hemoptisis (Batuk darah). Hematosesia adalah perdarahan segar dari saluran cerna bagian bawah. a. DIAGNOSIS 1) Hematemesis Anamnesis muntah darah berwarna hitam tercampur dengan makanan, jumlah darah yang keluar sebanyak 500 - 2000 cc,. perdarahan secara spontan tanpa batuk. PH asam karena tercampur asam lambung, baunya khas amis dan anyir. Ada riwayat penyakit lambung/saluran cerna, minum obat Sosilat/Anti Inflamasi Non Steroid!obat Rematik. Menderita penyakit hati khornik (Serosis/Hepatis). Paa pemeriksaan fisik terdapat gangguan Hemodinamik. Hasil pemeriksaan laboratorium anemia ringan sampai sedang, urine berwarna kuning tua. 2) Melena Anamnesis berak berwarna kehitaman seperti petis/Tir (Tarry), bau amis/anyir/sticky, jumlahnya 300 - 1000 cc/ Iebih, PH asam dan tampak seperti kopi (Coffee ground appearance). Pada pemeriksaan fisik terdapat gangguan Hemodinamik, laboratorium anemia ringan sampai sedang dan lakukan pemeriksaan Hb, Ht, Trombo, CT, BT, Urine Iengkap. 3) Hematosesia Anmnesis berak darah segar, bau amis/anyir, volume 200 - 1000 cc, PH netral sampai aUalis. Dapat terjadi gangguan Hemodinamik dan jarang terjadi

anemia, kecuali perdarahan hebat/Iebih dari 3 hari b. 1) a) b) c) d) PENATALAKSANAAN Di Penerbangan Puasakan sampai di bandara tujuan Berikan Antasida 2 sendok makan (30 cc) setiap 2 jam dan Simetidine 2 tablet/8 jam. Duphalac 2 sendok makan setiap 3 jam dan Neomysin 4 x 500 mg Pengawasan vital sign dan perdarahan yang mana tekanan darah diastole harus di atas 70 mm Hg, nadi sekitar 80 -100 kali/mnt, respirasi 20-24 kali/mnt. Bila perdaraha lebih dari 3000 cc atau selama 3 jam penerbanan tidak berhenti, maka laporkan ke “Purser untuk menyampaikan kepada pilot agar mendarat di lapangan udara terdekat untuk pemasangan Naso gasirik (pipa lambung) dan infus lin. Jika memungkinkan lanjutkan penerbangan dimana penderita diinfus dengan NaCi 0,9% + Adona 2 ampul : 20 tetes / mnt, Simetidine 4 x 1 ampul i.v, Ampisillin 3 x 1 gros i.v (tes dulu) dan Posisi penderita diatur berbaring atau setengah duduk. Setelah sampa segera mjuk ke BPDIIRSAS/RS di Tanah Air Tenangkan penderita, dan jika penderita tenang biasanya perdarahan akan berhenti dalam waktu 3 - 4 jam. Di Kloter Beri Antasida 2 sendok makan (30 cc) dan Simetidine 2 tablet, dan setelah itu puasakan. Segera rujuk ke BPHI/RSAS.

e) f) 2) a) b)

Tindak Lanjut : Rujuk ke BPHI/RSAS. 3) Di BPHI

a) Lengkapi anamnesa/pem. Fisik/laboratorium b) Pasang pipa Naso gastrik dan kumbah lambung dengan air L5 sampai jernih/perdarahan berhenti dan puasakan c) Simetidine 3 x 2 ampul i.v atau 4 x 1 ampul i.v d) Nutrisi parenteral 2100 kal/24 jam e) Ampislilin 3 x 1 gr i.v (yang segolongan) f) Duphalac/Letulase 4 x 2 sendok makan g) Neomycin 4 x 500 gr h) Propanodol 3 x 20 gr I) iso sorbit mono nitrat 3 x 10 mg. Tindak Lanjut a) Bila keadaan umum memburuk/perdarahan tidak berhenti dalam 4 jam/Hb di bawah 8 gr %, maka segera rujuk ke RSAS. b) Bila membaik makan 24 jam setelah perdarahan berhent/ tenng beri diet cain porsi 6 x 24 jam. Obat oral/parenteral Ianjutkan 4 x 24 jam. c) Bila bertambah membaik obat parenteral I NG tube dilepas dan lakukan mobilisasi. d) Cari penyakit primer (utama), hindari faktor pencetus (obat dIL)

2. Gastro Enteritis a. DIAGNOSIS Defekasi berbentuk cairan atau setengah cairan > 3 kali sehari, bersifat mendadak dan berlangsung singkat dalam beberapa jam atau hari. Tampak tanda-tanda dehidrasi; tekanan darah turun, nadi meningkat, turgor kulit kurang, kesadaran menurun, ekstremitas dingin, jari tangan keriput dan sianosis. Lakukan pemeriksaan pendukung yaitu darah perifer Iengkap, analisa gas darah, elektrolit, ureum, kreatinin, analisa dan kultur tinja. Diagnosis Banding: Kolera eltor, Salmonellosis, Shigellosis, Amebiasis.

b. PENATALAKSANAAN 1) Di Penerbangan Anti biotik, sesuai dengan perkiraan diagnosis; a) Kolera Eltor: Tetrasiklin 4 x 500 mg/hari selama 3 hari b) Salmonellosis: Ampisilin 4 x 1 gr/hari selama 10-14 hari c) Shigellosis: Ampisillin 4 x 1 gr/hari selama 5 hari d) Amebiasis: Metronidazole 4 x 500 mg/hari selama 3 hari e) Banyak minum sebagai pengganti cairan yang keluar. 2) Di Kioter Berikan perawatan tirah baring, berikan banyak minum dan diet bubur, lakukan rehidrasi dengan cairan Ringer Laktat dengan jumlah cairan yang diberikan sesuai dengan jumlah cairan yang keluar, beri antibiotik sesuai dengan perkiraan diagnosis (lihat add 1.) Rujuk ke BPHI, apabila tidak tampak perbaikan atau bertambah berat. 3) Di BPHI Pengobatan Rehidrasi dengan cairan Ringer Laktat dengan jumlah cairan yang diberikan sesuai dengan jumlah cairan yang keluar. Berikan Antibiotik sesuai dengan perkiraan diagnosis, evaluasi hemodinamik dengan baik. Masalah Keperawatan Yang Mungkin Timbul a. Gangguan Keseimbangan Cairan/Dehidrasi Isotonis Gangguan keseimbangan cairan (dehidrasi isotonis) sehubungan dengan diare. Kriteria evaluasi : Dehidrasi teratasi. Intervensi 1) Pemberian cairan per parenteral/infus sesuai dengan kebutuhan cairan yang hilang (pemberian awal 1000 cc/i jam) 2) Monitor pemasukan dan pengeluaran 3) Monitor vital sign 4) Ben oralit sesuai dengan kemampuan pasien (adlibidum). Kolaborasi; terapi cairan infus dan pengobatan lanjutan. b. Gangguan Rasa Nyaman Gangguan rasa nyaman sehubungan dengan muntah dan diare. Kriteria evaluasi : Rasa nyaman terpenuhi. Intervensi 1) Perhatikan kebersihan tempat tidur/seprai/personal higiene 2) Beri tempat tidur yang bolong daerah bokong untuk menampung diare

3) Menjelaskan kepada pasien dan keluarga tentang penyakitnya dan tindakan yang akan dilakukan (tindakan perawatan isolasi). c. Gangguan Nafsu Makan Gangguan nafsu makan sehubungan dengan diare. Kriteria evatuasi : Adanya nafsu makan Intervensi 1) Beri makanan lunak untuk menurunkan stimulasi usus 2) Beri makanan tinggi kalori tinggi protein (TKTP) 3) Hindari makanan yang merangsang dan yang membuat kembung / menimbulkan gas seperti kol dan kubis dll. 4) Porsi kecil tapi sering. d. Potensial Terjadinya Penularan Potensial terjadinya penularan sehubungan dengan penyebab diare. Kriteria evaluasi : Tidak terjadi penularan. intervensi 1) Penderita dirawat diruang terpisah (isolasi) 2) Cuci tangan sebelum dan sesudah bekerja 3) Bekas alat-alat makan, alat tenun dsb didesinfeksi/direndam air panas sebelum dicuci. 4) Personal higiene penderita seperti mandi dan kebersihan mulut dan anus penderita. Kolaborasi : Kepada petugas Sansur tentang adanya kasus diare untuk penyuluhan/surveilans ke kloter asal jamaah haji. Gizi : Diet lunak. Sanitasi surveilans : Memberikan penyuluhan tentang pencegahan penularan infeksi, dan investigasi sumber penularan. D. Gangguan Faal Hati 1. Ikterus dan Prekoma Hepatikum Ikterus adalah peningkatan kadar Bilirubin dalam sirkulasi darah dengan manifestasi klinik pada kulit dan segera akibat gangguan fungsi hati, baik akut atau khronis (khronis eksaserbas akut). Prekoma Hepatikum adalah keadaan klinis penurunan kesadaran akibat penyakit hati khronik dengan berbagai gejala dan tanda. Ikterus dan prekoma Hepatikum dapat berdiri sendiri atau sating berkaitan. a. DIAGNOSIS 1) Ikterus Anamnesis riwayat penyakit hati/kuning (obat, jamu, tranfusi, pengidap/carrier), stelera dan kulit berwarna kuning / kehijauan, mual, muntah, gatal, demam (sub febril) dan diare. Pada pemeriksaan hepar teraba Hepato/spleno megali. Hasil pemeriksaan laboratorium bilirubin direk/totat meningkat, urine berwarna kuning tua seperti air teh, SGOT/SGPT/Gama GT/Alkali Transferase meninggi, HBs Ag dan Anti HBs Ag.

2) Prekoma Hepatikum Anamnesis riwayat penyakit hati khronik, keadaan umum terlihat gelisah, mual, muntah, bicara meracau dan keringat dingin. “Abdominal pain” dan Despepsia. Takhikardi dan disorientasi ringan, pada pemeriksaan palpasi Didopati Hepato/Spleno Megali, Asites, Speder Naevi, Eritema Palmaris dan G inekomastia. Hasil laboratorium, didapatkan tanda-tanda keganasan fungsi hati. 3) Koma Hepatikum Kesadaran Somnolens hingga Komateus yang disertai / tidak dengan gangguan Hemodinamik - Tremor halus. b. PENATALAKSANAAN 1) Di Penerbangan a) Bila ikterus, jamaah sakit harus istirahat total. b) Jika Prekoma Hepatikum atau koma Hepatikum, lakukan infus dengan cairan Isotokis hingga Bandara tujuan. 2) Di Kioter a) Jika ikterus atasi dahulu dehidrasi, batasi kegiatan fisik, isolasi dari jamaah lain dan segera rujuk ke BPHI. b) Pada Prekoma dan koma Hepatikum, segera kirim ke BPHI. 3) Di PBHI a) Bila ikterus lakukan pemasangan Infus dengan cairan isotonis/plasma expander (Dextrans/Aminoleban/Aminofusin) b) Koreksi penyakit utama c) Pada Prekoma dan koma hepatikum segera rujuk ke RSAS. Tindak Lanjut a) Bila ada perbaikan

- Terapi konservatif - Diet hati khronik - Pengawasan vital sign b) Bila tidak ada perbaikan, pertimbangkan pulang dini.

E. Meningitis meningokokus (Bacterial meningitis) Meningitis adalah peradangan selaput otak dan selaput sumsum tulang belakang yang akut. Ditinjau dari penyebabnya dibagi menjadi 2 golongan yaitu meningitis yang disebabkan bakteri (Bacterial meningitis) dan disebabkan virus (Virus meningitis). Etilogi: Neisseria meningitidis (Meningokokus) group A sering sebagai penyebab terjadinya wabah, sedangkan dalam keadaan endemis umumnya group B & C. Group lain Juga dapat sebagai penyebab yaitu group A, B & C paling banyak menimbulkan penyakit. Sero group A penyebab wabah di daerah Sub Sahara Afrika. Sero group B & C endemis di Eropah dan Amerika Serikat. Pathogenesis: Fokus primair infeksi meningococcus adalah pada nasopharinx. Paling sering ditandai adanya radang lokal dan menimbulkan symptom ringan. Penyebaran meningokokus dari nasofaring melalui aliran darah dan biasanya diikuti gejala klinis yang jelas. 1. DIAGNOSIS Anamnesis demam, sakit kepala, mual, muntah, anorexia, kejang dan sakit sendi. Pada pemeriksaan fisik: Rangsangan meningeal seperti; kaku kuduk, tanda Kerning, tanda Brudzinki), kemerahan di kulit (seperti; rash, ptechiae, vesicular, echymosis, kesadaran menurun (seperti; delirium, shock dan koma). Pemeriksaan Pendukung: Lumbal Punctie untuk pemeriksaan liquor Cerebro Spinalis,

hasilnya terlihat warna dan kekeruhan dapat jernih atau keruh, tekanan derigan manometer bisa > 20 cm air, kualitatif protein dengan Nonne & Pandy, kuantitatif Cel (PMN & MN) normal Glikosa dibanding Glukosa darah > 0,5 - 1/3 Glukosa darah. Preparat langsung MN 5/mm 3 dan pewarnaan Gram, BTA serta Kultur. Kontra indikasi LP, peninggian tekanan intra cranial (TIC) yang nyata, antara lain pemeriksaan fundus copy untuk melihat edema papil nervus optikus (apakah > 2 Dioptri). Pemeriksaan darah tepi Lekositosis/kadang-kadang leukopenia dan Thrombosit normal atau menurun. Diagnosis Banding 1) Pendarahan SUb Arachnoid 2) Abses Retro Faring 3) Demam Thypoid 4) Encephalitis 5) Tetanus 6) Sengatan panas 7) Pneumonia 8) Psikosis 2. PENATALAKSANAAN a. Di Penerbangan = di Kloter 1) Penderita di Infus 2 A, AL; 14 - 20 tts/mnt. 2) Ampicillin kombinasi dengan Chloramphenikol. 3) Segera rujuk ke RSAS atau BPHI. b. Di BPHI 1) Penderita di Infus 2 A, RL; 14 - 20 tts/mnt 2) Pengobatan dengan Ampicillin di kombinasi dengan Chloramphenicol sesuai dosis. 3) Segera rujuk ke RSAS, setelah diberi pertolongan seperlunya serta perawatan penderita secara suportif. Masalah Keperawatan Yang Mungkin Timbul a. Gangguan Pengaturan Suhu Tubuh Gangguan pengaturan suhu tubuh sehubungan dengan Sepsis. Kriteria evaluasi : Suhu tubuh normal kembali. Intervensi 1) Kompres dingin / es 2) Monitor vital sign 3) Anjurkan banyak minum 4) Pemberian cairan infus Kolaborasi; Pemberian cairan infus dan pengobatan lanjutan. b. Gangguan Kesadaran Gangguan kesadaran sehubungan dengan serangan selaput otak. Kriteria lntervensi : Semua kebutuhan pasien dibantu perawat sehingga kebutuhan pasien terpenuhi.

Intervensi 1) Kebutuhan 02, pemberian 02 (2-4 1/mnt), membersihkan jalan nafas dengan penghisapan lendir, monitor vital sign, menghitung Glasco Coma Scoring untuk mengetahul penurunan kesadaran. 2) Kebutuhan makanan dan minuman, pemberian terapi parenteral sesuai

3)

4) 5)

6)

program medis, pemberian makanan melalui slang (Nasal Gastric Tube) sesuai dengan program gizi. Kebutuhan cairan dan elektrolit, pemberian terapi parenteral sesuai program medis, monitor pemasukan dan pengeluaran (mengatur keseimbangan cairan). Monitor vital sign. Kebutuhan eliminasi, pemasangan catether dan penampungannya, pemasangan alas bokong/duk untuk menampung defekasi dan jaga kebersihan bokong. Pencegahan dekubitus akibat tirah baring: a) Jaga kebersihan sprei/baju pasien b) Posisi selang seling setiap 2-3 jam c) Pasang windring di bokong penderita d) Usahanya kebersihan perseorangan terutama bersihan bokong/punggung Lakukan massage, pemberian minyak zaitun di punggung dan bokong penderita. Potensial Terjadinya Kejang Potensial terjadinya kejang sehubungan dengan penyakit Meningitis meningokokus. Kriteria evaluasi: Kejang berkurang dan penurunan akibat samping sari kejang.

7) c.

Intervensi 1) Pemberian terapi anti konvulsi sesuai dengan program medis. 2) Pasang spatel lidah dibungkus kasa untuk mencegah lidah tergigit dan menutup jalan nafas. 3) Monitor respirasi dan jalan nafas. d. Potensial Terjadinya Komplikasi dan Infeksi Nasokomial Potensial terjadinya komplikasi dan infeksi sehubungan dengan lamanya dirawat. Kriteria evaluasi: Komplikasi dan infeksi nasokomial dihindari/dikurangi. Intervensi 1) Pencegahan dekubitus (sesuai intervensi pada gangguan kesadaran). 2) Pencegahan phlebitis dan tempat tusukan infus dengan mengganti slang setiap 3-4 hari sekali dan bekerja dengan tehnik septik aseptik. 3) Pencegahan infeksi saluran kemih dengan a) Pemasangan catether dengan memperhatikan tehnik septik aseptik. b) Ganti slang catether setiap 3-4 hari sekali. c) Kebersihan daerah genetalia (terutama wanita). e. Potensial Terjadinya Penularan (Cross lnfeksi) Potensial terjadinya penularan sehubungan dengan penyakit Meningitis meningokokus. Kriteria evaluasi: Tidak terjadi cross infeksi.

Intervensi 1) Pasien diisolasi/barrier Nursing ditempat khusus terpisah dengan penyakit lain. 2) Petugas harus selalu cuci tangan sebelum dan sesudah bekerja. 3) Di isolasi ditempat terpisah dengan penyakit lain. 4) Petugas harus selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah bekerja. 5) Memakai masker pada saat berkomunikasi dengan jamaah sakit/ bekerja.

6) Petugas memakai celemek pada saat bekerja. f. Kurangnya Pengetahuan Pasien/Keluarga Mengenal Penyakitnya. Kriteria evatuasi : Pengetahuan bertambah.

Intervensi 1) Penyuluhan mengenai cara mencegah penularan. 2) Informasi manfaat isolasi dan vaksinasi. 3) Informasi mengenai tindakan-tindakan yang diberikan. Hal-hal yang harus diperhatikan perawat. 1) Pemberian program pengobatan, perhatikan dosis, jam / frekuensi pemberian, efek samping, tulis nama yang memberikan. 2) Mempersiapkan alat-alat tindakan diagnostik, lumbal fungsi, funduscopi. F. Rematik 1. Arthritis Gout a. DIAGNOSIS Berdasarkan (Kriteria ARA), terdapat kristal monosodium urat didalam cairan atau terdapat kristal monosodium urat di dalam totus atau didapat 6 dari 12 kriteria berikut 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) lnflamasi maksimum pada hari pertama Serangan artritis akut lebih dan 1 kali Artritis monoartikuler Sendi yang terkena benwarna kemerahan Pembengkakan dan sakit pada sendi MTP 1. Serangan pada sendi MTP unilateral Serangan pada sendi pada tarsal unilateral Adanya tofus Hiperurisemia Pembengkakan sendi asimetris pada gambaran radiologik Kista subkortikal tanpa erosi pada gambaran radiologik Kultur bakteri cairan sendi negatif.

Pemeriksaan pendukung; kadar asam urat darah dan urin, ureum, kreatinin dan CCI serta radiologi sendi. Diagnosis banding; Pseudogout, Artritis septik, Demam rematik, Artritis reumatoid. b. PENATALAKSANAAN 1) Di Penerbangan: Penyuluhan dan obat antiinflamasi non steroid (Indomethacin). 2) Di Kloter a) Penyuluhan dan diet rendah purin b) Obat antiinflamasi non streroid (Indomethacin) c) Pengobatan hiperurisemia (Allopurinol 1 x 300 mg) apabila peradangan akut telah teratasi. d) Rujuk ke BPHI, apabila peradangan sangat hebat.

3) Di BPHI a) Pengobatan fase akut: Kolkisin dan obat antiinflamasi non steroid. b) Pengobatan hiperurisemia: Diet rendah purin dan obat urikosurik (Allopurinol 1 x 300 mg). 2. Rhematoid Arthritis (RA) a. DIAGNOSIS Berdasarkan Kriteria ARA th 1987 Rhematoid arthritis ditandai dengan; 1) kaku sendi pada pagi hari sekurang-kurangnya 1 jam, 2) Artritis pada sekurang-kurangnya 3 sendi, 3) Artritis pada persendian tangan, 4) Artrits yang simetris, 5) Nodul reumatoid, 6) Faktor Reumatoid serum positif dan 7) gambaran radiologik yang spesifik. Untuk menentukan diagnosis RA dibutuhkan 4 dari 7 kriteria tersebut diatas, kriteria 1 s/d 4 harus diderita penderita minimal 6 minggu. b. PENATALAKSANAAN 1) Di Penerbangan: Proteksi pada sendi yang sakit terutama pada stadium akut, obat-obatan anti inflamasi non steroid misalnya; Indomethacin, Piroksikam dll. 2) Di Kloter a) Proteksi pada sendi yang sakit terutama pada stadium akut. b) Pemberian obat-obatan anti inflamasi non streroid (indomethacin, Piroksikam). c) Rujuk ke BPHI, apabila peradangan sendi sangat hebat atau terdapat infeksi sekunder. 3) Di BPHI a) Pada umumnya tidak dibutuhkan rawat inap, kecuali peradangan sendi sangat hebat atau disertai infeksi sekunder. b) Proteksi pada sendi yang sakit terutama pada stadium akut. c) Pemberian obat-obatan anti inflamasi pada stadium akut. d) Pemberian obat-obatan remitif (DMARD), misainya; Salazopirin, Kioroquin dll. e). Fisoterapi. 3. Artritis Septik Bakteriai (Non Gonokok) a. DIAGNOSIS Diagnosis ditetapkan dengan nyeri sendi akut umumnya monoartikuler dan terbanyak mengenai sendi lutut, biasanya terdapat penyakit lain yang mendasarinya, dan ditemukan bakteri dari kultur cairan sendi. Pemeriksaan penunjang antara lain analisis cairan sendi, pewarnaan gram dan kultur cairan sendi, pemeriksaan radiografi sendi, lekosit, LED, dan CRF serta kultur darah. Diagnosis Banding : Artritis gonokok, Bursitis septik.

b. PENATALAKSANAAN 1) Di Penerbangan: Berikan antibiotik berspektrum luas dan analgesik. 2) Di Kioter : Berikan antibiotik berspektrum luas dan analgesik, selanjutnya rujuk ke BPHI. 3) Di BPHI a) Pengobatan dengan Aspirasi cairan sendi. b) Antibiotik berspektrum luas sebelum ada hasil kultur dan diubah setelah hasil kultur diperoleh.. c) Joint drainage. d) Rujuk ke RSAS apabila memerlukan tindakan bedah. G. Gangguan Jiwa Gangguan jiwa adalah suatu kelompok gejala atau perilaku yang dapat ditemukan secara kIinis dan dengan penderitaan (distress) serta berkaitan dengan terganggunya tungsi (disfungsi). Penyebab timbulnya gangguan jiwa adalah bersifat multifaktorial. Berdasarkan Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ), urutan hirarki dasar diagnosis gangguan jiwa senantiasa diawali dengan memikirkan kemungkinan penyebab organik yang mendasari (faktor organo - biologi) atau dikenal dengan istilah Gangguan Mental Organik (GMO). Apabila dasar organik dapat disingkirkan maka perlu dipikirkan faktor penyebab lainnya yaitu : taktor spiko-edukasi, sosial-budaya dan psikorreligius. 1. DIAGNOSIS Berdasarkan Auto dan allo-anamnesis dari orang terdekat disekitarnya maupun Buku Kesehatan Haji sangat penting untuk memperjelas riwayat perjalanan penyakit. Hal ini penting untuk menentukan adanya dasar organik atau bukan, onset akut atau kronis, kelainan psikosis atau neurosis serta riwayat obat-obatan yang dipakai. Pada pemeriksaan fisik status internus dan neurologis dilakukan sebagaimana lazimnya pemeriksaan di bidang kedokteran. Adanya kelainan status internus dan atau neurologis menuntun kearah kelainan organik (GMO) dan memerlukan pemeriksaan lanjutan sesuai kelainan yang ditemukan. Sedangkan status psikiatri diketompokkan dalam pemeriksaan a. Kesadaran Kesadaran merupakan keadaan biologik - fungsional yang optimal untuk bereaksi terhadap stimulus dari luar dan/atau dari dalam. Penilaian fungsi kesadaran merupakan hal yang utama dan lazim dalam setiap awal pemeriksaan medis. Timbulnya gangguan kesadaran merupakan gejala patognomonik adanya Gangguan Mental Organik (GMO) Misalnya; dellirium, epilepsi, cedera otak, meningitis atau heat stroke. b. Realty Testing Ability (RTA) Uji kemampuan menilai realitas (RTA) merupakan aspek yang sangat memegang peranan penting dan berkaitan dengan aspek mental alinnya (misalnya; gangguan kesadaran, waham, halusinasi, kegaduh-gelisahan, autistik, afek yang tumpul/datar). Adanya gangguan RTA merupakan tanda patognomonik gejala psikosis.

c. Aspek sikap dan perilaku Sikap dan perilaku merupakan kesiapan memberikan respon dengan cara yang khas untuk mencapai motif/tujuan tertentu. Kegaduh-gelisahan, autistik, penarikan din, apatis, sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan yang sedemikian parah menyokong ke arah tanda-tanda psikosis. d. Aspek alam perasaan (afek) Afk merupakan unsur yang memberi kehangatan dan warna pada kepribadian seseorang. Afek yang tumpul atau datar merupakan gejala patognomoik adanya gangguan psikosis. e. Aspek persepsi dan berpikir Persepsi merupakan penerimaan kesan melalui panca indera atau yang dirasa untuk mengenal, mengetahui objek-objek dari stimulus. Sedangkan berfikir merupakan rangkaian proses asosiasi, kombinasi, integnasi, penguraian dan sintesis unsur-unsur pikiran dalam membuat kesimpulan, pendapat dan penilaian. Aspek persepsi dan benfikir juga berkaitan dengan penilaian daya ingat dan orientasi. Gejala yang timbul dalam gangguan persepsi dan berfikir sedemikian luas (antara lain ; waham, asosiasi longgar, loncat gagasan, halusinasi, ilusi, dpresonalisasi) sehingga penilaiannya dikaitkan dengan uji kemampuan menilai realitas (RTA). Adanya gangguan persepsi dan/atau berfikir yang disertai gangguan RTA merupakan tanda patognomonik gangguan psikosis. Mengingat sarana dan prasarana yang ada, pemeriksaan penunjang lebih diutamakan pada kasus-kasus yang diduga sebagai kelainan organik (GMO) dan perlu bekerja sama dengan dokter ahli Iainnya. 2. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan gangguan jiwa selama di pesawat, kloter dan BPHI pada umumnya dibedakan oleh sarana dan prasarana yang ada. Perbedaannya adalah tersedianya sarana perawatan bila di BPHI dalam bentuk ruangan isolasi. Untuk memudahkan prinsip penatalaksanaan bagi petugas, maka pengelompokkan gangguan jiwa dibedakan dalam 3 bagian utama; a. Gangguan Mental Organik Prinsip utama penatalaksanaan gangguan jiwa adalah memikirkan adanya kelainan organik yang mendasari timbulnya penyakit. Sebagaimana keadaan gangguan fisik, jika ditemukan kecurigaan adanya kelainan organik (GMO) yang perlu diatasi adalah keadaan gangguan organiknya sehingga memerlukan penatajaksanaan bersama-sama dengan dokter ahli Iainnya. Prinsip penanganan A (air way), B (breathing), dan C (circulation) dilakukan sesuai prosedur dan kebutuhan. Selanjutnya diberikan terapi sesual etilogi dan simptom yang ditemukan. Kegaduhan-gelisahan yang timbul pada GMO dapat diberikan injeksi Haloperidol 5 mg atau injeksi CPZ 50 mg IM dan hindari pemberian lnjeksi Diazepam jika diduga adanya kelainan organik.

b. Gangguan Psikotik Jika keadaan organik dapat disingkirkan, maka penatalaksanaan gangguan psikiatri ditekankan pada aspek ada-tidaknya gejala psikosis yang ditandai oleh gangguan penilaian realitas (RTA). Gangguan RTA yang sedemikian parah dan mengganggu diri dan/atau Iingkungan memertukan tindakan pengamanan (fiksasi) yang manusiawi, misalnya dengan jaket fiksasi atau isolasi ruangan. Selanjutnya diberikan farmakoterapi antipsikotik yaitu injeksi Halloperidol 5 mg IM atau injeksi

CPZ 100 mg IM dan injeksi Diazepam 10 - 20 mg IM/IV sesuai tingkat kegaduhgelisahannya. Tindakan ini dapat diulangi setelah 30 menit jika betum reda. Selanjutnya diberikan terapi oral antipsikotik CPZ 3 x 50 100 mg/hari, dapat dinaikkan sampai 900 mg/hari atau Haloperidol 3 x 5 10 mg/hari. Efek samping yang perlu diperhatikan pada pemberian anti psikotik adalah timbulnya gejala extrapiramidal (parkinson) yang ditandai antara lain; kekakuan, berjalan seperti robot, lidah tertarik. Jika timbul efek tersebut dapat diberikan injeksi Fifenhidramin 2 cc IM atau Injeksi Sulfas Atrof in 0,25 - 0,5 mg IM dan pemberian oral Trihexifenidil (artane) 3 x 2 - 4 mg/hari. Efek samping antipsikotik lainnya adalah hipotensi. Oleh karena itu, jika tekanan darah kurang dari 90/60 mm Hg maka tidak diberikan antipsikotik dan lakukan tindakan pembaringan serta minum kopi. Jika tekanan darah belum membaik berikan IVFD RL / Dex 5% 30 - 40 tts/mnt disertai Noradrenalin 2 amp/kolf hingga tekanan darah membaik> 100 I 70 mm Hg. c. Gangguan Non-psikotik (Neurotik) Gangguan ini paling banyak dijumpai dengan secara umum dikelompokkan dalam kelompok ansietas dan depresi. Gejala ansietas menunjukkan kecemasan yang berlebihan disertai rasa takut yang tidak wajar. Gejala lainnya adalah timbulnya berbagai keluhan somatik tanpa dasar organik. Penderita ansietas yang tidak menunjukkan gejala penyakit parah, biasanya tidak memerlukan perawatan dan cukup diberikan anti-ansietas seperti diazepam 5 - 15 mg perhari atau Alprazolam 1,5 - 3 mg/hari dibagi dalam 3 dosis. Selanjutnya penderita diberikan psikoterapi supportif. Sedangkan gejala depressi adalah reaksi kesedihan akibat kehilangan objek yang disayangi atau dicintai (lost of love object). Gejalanya dimulai dengan sering murung, menarik diri dari kegiatan (mengurung diri), tidak nafsu makan, gangguan pola tidur, erosi kemampuan berfikir dan konsentrasi, merasa tidak berguna dan kadang-kadang ingin bunuh diri. Jika gejalanya ringan, penderita cukup diberi psikotenapi supportif dan antidepresan (Amitniptiline 3 x 25 mg/hari atau Imipramin 3 x 25 mg/hari atau Amineptine 2 x 200 mg/hari atau CPZ 3 x 50 mg atau Hallopenidol 3 x 0,5 mg/hari).

Tindak Lanjut : Bila gejala yang timbul cukup berat (kecenderungan untuk bunuh diri/ingin bunuh diri/percobaan bunuh diri) maka sebaiknya penderita dirujuk ke BPHI untuk mendapat perawatan Iebih lanjut oleh psikiater.

Sikap Menghadapi Pasien: 1. Hangat, ramah, banyak perhatian dan tenang 2. Bersikap empati, menyapa lebih dahutu, memperkenalkan diri, mengajak bicara, menunjukkan perhatian, mengalah. 3. Formil, netral, “menjaga jarak” (khususnya untuk pasien paranoid). 4. Bila kondisi pasien masih membahayakan, ambil sikap waspada (pasien difikasi). 3. PENGOBATAN a. Obat- obat anti psikotik. 1) Chlorpromazine/Largactil Tablet 3 x 100 mg dapat dinaikkan s.d 900 mg / hari. lnjeksi 100 mg IM, injeksi dapat diulang 30 - 45 menit. 2) Haloperidol Tablet 3 x 5mg lnjeksi Serenace 5 mg/cc Halloperidol drop 3 x 20 tts 3) Pertenazin (Ovomit) 3 x 8 mg. 4) Flufenazine decanoat (Modecate) injeksi 25 mg/cc Bila ada efek samping obat : a) Hipotensi ortostatik: Baringkan penderita lebih kurang 10 menit, beri minum kopi. Bila belum menotong berikan IVFD RL / Dex 5% 30-40 Us / mnt ditambah Noradrenatin 2 amp / koif. b) Parkison atau Akatisia berikan Artane 3 x 2 - 4 mg / hari, Sulfas Atrofin 3 x 1, Inj. SA 1 - 2 amp IM atau injeksi Delladril 1-2 cc IM. b. Obat anti Depresant 1) Amitriptilin (Toilinc) 2) Imipramin (Tofranil) 3) Maprotilin (ludionil) 4) Amineptin (Survectov) 5) Moclobemide (Aurorix) 6) Sertraline Zoloft) c. Obat anti cemas (Benzodiazepine) 1) Alprazlam (Xanax) 2) Lorazepam (Ativan) 3) Diazepam (Valium) 4) Bromazepam (Lexotan) 5) Clobazam (Frisium)

75 - 300 mg / hari 75 - 300 mg / hari 75 - 300 mg / hari 1 x 1 tablet 2 x 1 tablet 1 x 1 tablet

0,5 - 4 mg / hari 1 - 8 mg / hari 4 - 40 mg / hari 3 - 6 mg / hari 20 - 30 mg / hari

H. Kulit 1. SLE (System Lupus Erythematous) a. DIAGNOSIS Berdasarkan 11 eritina ARA, pada anamnesis adanya keluhan bercak merah pada wajah, timbul perlahan kemudian melebar dan gatal terutama terkena panas. Pemeriksaan fisik: 1) Rambut ditemukan Pluk test (+) dan alopesia dengan scarring 2) Wajah terdapat malar rash seperti kupu-kupu dan fotosensitif 3) Ujung-ujung jari deprresed scar sampai ulkus Pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah laboratorium darah dengan hasil anemia, leukopenia dan LED meningkat, Rontgen foto dada, hasil EKD abnormal. Diangnosis Banding : Erupsi obat bentuk foto sensitivitas dan Rheumatoid fever b. PENATALAKSAAN 1) Di Penerbangan : a) Monitor obat dan gejala yang timbul b) Perlakuan sama dengan jamaah biasa. 2) Di Kloter : a) Prednison 30 mg / hari b) Sunblock dengan SPF >= 15 Asuhan Keperawatan: Sesuai dengan gejala yang timbul a) Istirahat dengan aktifitas dikurangi b) Pakaian yang protektif dari Sun exposed. c) Perhatikan obat-obatan yang memperberat Gizi : Diet TKTP Sanitasi surveilans : a) Penyuluhan kurangi aktifitas diluar b) Recording dan Reporting

3)

Di BPHI : a) Follow up apakah sudah adekuat b) Alternatif tambahkan Chloroquin ablet 1 x 500 mg / hari.

2.

Dermatitis Atopik a. DIAGNOSIS Anamnesis, gatal yang berulang pada lipatan lengan dan lutut serta adanya stigma atopik pribadi / keluarga. Pemeriksaan fisik terdapat bekas eksloriasi, plak hiperpigmentasi pada fasca cubiti danpoplitea. Hasil pemeriksaan penunjang Ig E meningkat dan eosinofilia. Pada tes tusuk dan tes tempel

dengan TDR hasflnya positif. Diagnosis banding : Scabies dan Erupsi obat, golongan halogen b. PENATALAKSANAAN 1) Di Penerbangan : Obat-obatan diteruskan dan ventilasi yang baik. 2) Di Kloter Pengobatan : Berikan Antihistamin golongan sedatif per oral dan Krim steroid Asuhan Keperawatan: a) Pakaian yang menyerap keringat. misalnya katun b) Kurangi faktor pencetus, misalnya debu dan suhu lingukungan hendak yang menyenangkan. Gizi : Hindari makanan yang merangsang, misalnya makanan yang berbumbu. Sanitasi Surveilans : Kontrol lingkungan yaitu kelembaban dan TDR serta recording - reporting 3) Di BPHI Pengobatan : Evaluasi pengobatan apakah sudah adekuat dan tambahkan prednison 20 mg hari dalam masa singkat. Asuhan Keperawatan a) Hindari tempat-tempat yang berdebu b) Hindari sabun antiseptik dan farfum Gizi: Diet yang tidak merangsang Sanitasi surveilans : Evaluasi kepadatan debu dan TDR, recording dan reporting. 3. Xerotic Skin I Dis xerotik a. DIAGNOSIS Pada anamnesis penderita mengeluh kulit kering dan bersisik disertai keluhan gatal. Sedangkan pada pemeriksaan fisik kulit tampak bersisik, bibir pecah-pecah dan pada uji gones tampak kulit lebih putih dan berskuama. b. PENATALAKSANAAN

1) Di Penerbangan : Aklimatisasi lingkungan dan berikan krim pelembab / baby oil 2) DiKloter Beri pengobatan dengan krim pelembab dan antihistamin oral a) Mandi dengan air hangat dan gunakan sabun hanya sedikit, sebaiknya sabun digunakan mengandung pelembab b) Pakaian dari bahan katun

Gizi : Beri diet TKTP Sanitasi Surveilans: Recording dan reporting 3) Di BPHI a) Pengobatan diteruskan b) Krim steroid perlu dipertimbangkan bila ada tanda-tanda c) Bibir oleskan margarin / lip gloss. Asuhan Keperawatan : Hindari sabun yang berlebihan Gizi : Hindari makanan yang merangsang bila bibir pecah-pecah dan diet TKTP. Sanitasi surveilans : Evaluasi kelembaban, recording dan reporting L. THT 1. Epistaksis Epistaksis adalah pendarahan dari rongga hidung a. DIAGNOSIS Berdasarkan penyebab dibagi menjadi: 1) Lokal disebabkan infeksi, neoplasma atau kongenital misalnya Hereditary haemorrhagic teleangiectasia (osler) 2) Sistematik yang disebabkan Kardiovaskuler ( hipertensi atau arteriosclerosis ), kelainan darah, infeksi, perubahan tekanan atmosfir (Caissom disease) atau kelainan Endokrin. Berdasarkan sumber dibagi menjadi: 1) Epistaxis anterior berasal dari plexus Kiessel bach atau arteri Etmoidalis anterior dan mudah diatasi. 2) Epistaxis posterior berasal dari arteri Sfenopalatina dan atau arteri Etmoidalis posterior. Sering terdapat pada usia lanjut akibat hipotensi atau Arterio sclerosis dan pendarahan hebat serta jarang berhenti spontan. PENATALAKSANAAN Prinsipnya: 1) Menghentikan pendarahan 2) Mencegah komplikasi 3) Mencegah berulang dengan mencari penyebab. 1) Di Kloter a) Pasien didudukan I berbaring duduk dengan kepala ditundukkan. b) Monitor vital sign c) Cuping hidung dipencet selama 5 menit d) Bila tidak berhasil segera rujuk ke BPHI 2) Di BPHI a) Monitor vital sign, bila terlihat tanda-tanda shock (tensi turun) segera pasang infus. b) Pasang tampon adrenalin 5 - 10 menit dan “ala nasi” ditekan kearah septum.

Masalah Keperawatan Yang Mungkin Timbul a. Potensial Terjadinya Shock Potensial terjadinya shock sehubungan dengan Epistaksis. Kriteria Evaluasi : Epistaksis berhenti. Intervensi: 1) Pasien didudukkan / berbaring setengah duduk dengan posisi kepala ditundukkan, tujuannya adalah mencegah darah masuk ke dalam saluran nafas (mencegah aspirasi) 2) Letakkan bengkok dimuka pasien untuk menampung darah 3) Monitor vital sign dan jika tampak tanda-tanda shock (tensi turun) segera pasang infus 4) Apabila pendarahan berasal dari pleksus Kieselbach, maka cuping hidung dipencet untuk mengurangi pendarahan. 5) Siapkan alat: a. Lampu kepala b. Spekulum hidung c. Alat penghisap d. Pinset e. Kapas f. Tampon gulung g. Alat pelilit (aplikator) kapas. h. Api spiritus i. Kateter j. Adrenalin k. Vaselin/salep antibiotika I. Nitras argenti 25 % m. Tampon Bellocq yaitu kain kasa yang dilipat/ digulung kemudian diikat dengan 2 buah tali sehingga ujung tall pada satu sisi 2 lembar, sedangkan pada sisi lainnya satu lembar. Tampon ini diperlukan untuk menolong pendarahan anterior. Kaloborasi : Terapi pemberian infus dan obat-obatan serta tindakan pemasangan tampon dan tindakan pengobatan lanjutan. Upaya pencegahan: 1) Pemakaian masker untuk menghindari iritasi karena udara. 2) Membuang lendir/cairan hidung jangan terlalu keras. 3) Pasien hipertensi dilakukan pengontrolan tekanan darah. J. Sengatan Dingin 1. Sengatan dingin (Frost Bite dan Cold Injuries) Frostbite adalah salah satu manifestasi klinik cold injuris atau sering disebut freezing cold injuries. a. DIAGNOSIS 1) Frost Nip Bentuk klinis yang paling ringan, cenderung mengenai telinga, hidung, pipi, jari dan ibu jari, tangan atas dan bawah serta tungkai atas dan atau bawah. Berdasarkan anamnesis penderita mengeluh ada rasa kaku / beku daerah telinga (Aurikuler atau Auditus

kanalikuli), hidung, pipi, jari tangan/ibu jar bahu, lengan atas/bawah, tungkai atas atau paha atas dan paha bawah. Kekakuan pada status lokalis, nyeri tekan atau pada udara dingin dan Hiperemis sekitar lesi/sendi. 2) Freezing (frost bite) Akibat gangguan aklimatisasi yang mengenai aliran pembuluh darah kecil akibatnya oklusi agglutinasi Trombosit dan Trombi. Berdasarkan anamnesis penderita mengeluh “Anestesi” (hilang rasa) atau baal di daerah tungkai atas / bawah dan jari-jari tangan kaku / beku. Pada pemeriksaan status lokalis, mulai tampak mascrasi dan keringat tampak berlebihan serta nyeri sendi-sendi kecil/besar atau asimetris. Hasil laboratorium menunjukkan Lekositosis, osteoporosis gangguan aglutinasi / CT / BT. 3) Non Freezing (Immersion Foot Injuries): Hanya menangani tungkai, walaupun dapatterjadi secara bersama dengan “Frost bite”. Sering menyerang pelaut / surveyor di tengah laut dan tentara (“Trench Foot”). Berdasarkan hasil anamnesis kaki basah terlalu lama dan dingin. Pada pemeriksaan fisik tampak pucat, palsasi nadi melemah, hiperemia, bengkak, dan nyeri. Diangnosis Banding a) Gagal jantung kongetive, Aritmia jantung b) Uremia, gagal ginjal akut/khronik c) Diabetes Mellitus d) Takar lajak ( “over dosis” ) obat-obat Antipiretik, Opiat / Benzo Diazpin, Tranquiliser mayor/minor atau anti histamin non selektif. b. PENATALAKSANAAN 1) Di Penerbangan: a) Selimuti dengan kain hangat dan kendorkan ikatan-ikatan pada tubuh (ikat pinggang, kancing celana, pakaian dalam, sepatu, arloji, kalung dan ikat kepala) b) Minum dan makan makanan yang hangat dengan porsi sedikit tetapi sering misalnya setiap 15 menit. c) Rebahkan dengan posisi kepala agak rendah dan tungkai Iebih tinggi 30 derajat. d) Kompres air hangat pada daerah lesi atau berikan cairan / krem pelembab di sekitar lesi. e) Bila nyeri semakin hebat boleh diberikan Asam Mefenamat 500 mg setiap 8 jam atau Tranadot 50 mg/8 jam. 2) Di Kloter: a) Baringkan penderita dengan alas lunas dan selimuti dengan selimut hangat. b) Lepaskan semua ikatan tubuh c) Beri minum dan makan makanan yang hangat d) Lakukan kompres hangat / Revanol pada daerah lesi e) Segera rujuk ke BPHI/RSAS.

Masalah Keperawatan Yang Mungkin Timbul Gangguan Fungsi Suhu Tubuh ( “Termo Regulasi”) Gangguan fungsi suhu tubuh ( “Termo Regulasi” ) sehubungan dengan Sengatan dingin. Yang ditandai dengan: a) Vasokontruksi pembuluh darah kulit sehingga kulit tampak pucat b) Produksi kelenjar keringat ( “Sabesca”) menurun sehingga kulit terlihat kering. c) Kram, kaku, menggigil hingga pingsan Kriteria evaluasi : Sengatan dingin teratasi. Intervensi: a) Beri selimut dan buli-buli panas mengurangi penguapan b) Bawa ketempat / ruangan yang bersuhu panas c) Beri minum hangat yang banyak d) Kulit diolesi dengan pelembab untuk mengurangi kulit kering e) Pakaikan pakaian yang tebal dan kaos kaki f) Hindari menggunakan air dingin untuk minum, mandi dan berwudhu g) Beri diet tinggi kalori dan tinggi protein untuk meningkatkan daya tahan tubuh. h) Perhatikan personal higiene dan kebersihan lingkungan Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi parental / infus. 3) Di BPHI a) Lengkapi anamnesa, pemeriksaan fisik dan laboratorium. b) Imobilisasi, kalau perlu fiksasi sederhana di daerah lesi. c) Obati faktor pencetus dan penyakit primer / sekunder. d) Reworming bertahap: • Penyinaran infra merah setiap 2 jam selama 20 menit sampai suhu normal. • Kompres air panas / hangat setiap 1 jam selama 30 menit • Ruangan hangat / tanpa pendingin. e) Antibiotika cakram luas misalnya Amoxillin 3 x 50 gr, Doxiciclin 2 x 100 gr atau Ciprofloksasin 3 x 500 mg. f) Anti Inflamasi misalnya Nonflamin atau Excelase 3 x 2 tablet g) Anti Oksidan dosis tinggi 3 x 1 tablet h) Obat sirkulasi tepi dosis tinggi misalnya Aspirin 325 gr atau Aspilet 2 x 1 tablet, Dipiridamol 3 x 75 mg dan vitamin B complek atau B12 dosis tinggi * 2 x 5000 U) i) Fisio terapi dengan Short Wave Diatermi, Musde Wavement, Relaksasi, Masage ringan dengan gelly dan latihan otot dengan bola tenis. Masalah Keperawatan Yang Mungkin Timbul Gangguan Fungsi Suhu Tubuh (“Termo Regulasi”) Gangguan fungsi suhu tubuh (“Termo Regulasi”) sehubungan dengan Sengatan dingin. Yang ditandai dengan: a) Vasokontriksi pembuluh darah kulit sehingga kulit tampak pucat b) Produksi kelenjar keringat ( “Sebasea” menurun sehingga kulit terlihat kering. c) Kram, kaku, menggigil hingga pingsan.

Kriteria evaluasi : Sengatan dingin teratasi. Intervensi a) Beri selimut dan buli-buli panas untük mengurangi penguapan b) Bawa ketempat/ ruangan yang bersuhu panas. c) Beri minum hangat yang banyak. d) Kulit diolesi dengan pelembab untuk mengurangi kulit kering e) Pakaikan pakaian yang tebal dan kaos kaki. f) Hindari menggunakan air dingin untuk minum, mandi dan berwudhu. g) Beri diet tinggi kalori dan tinggi protein untuk meningkatkan daya tahan tubuh. h) Perhatikan personal higiene dan kebersihan lingkungan. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi parenteral/infus. Tindak lanjut: Konsul dokter Bedah atau dokter ahli Saraf, lakukan pengobatan konservatif dan pembatasan aktifitas serta gunakan alat bantu atau “Weight Bearing”.

BAB. II PENATALAKSANAAN GIZI
II. PENATALAKSANAAN GIZI A. Pendahuluan Berdasarkan berbagai kajian ilmiah telah ditemukan bahwa kebutuhan seseorang akan zat gizi ditentukan oleh banyak faktor. Perubahan musim dan suhu udara sekeliling ternyata juga mempengaruhi jumlah kebutuhan kalori dan zat gizi lain. Berdasarkan informasi yang diperoleh, separuh waktu keberadaan jamaah haji tahun 1999, jatuh pada musim dingin dengan kelembaban rendah. Hal ini ternyata menjadi tantangan bagi Tim Kesehatan Haji Indonesia untuk mengantisipasi keadaan tersebut, yang diantaranya adalah Pembinaan Gizi. Dalam tulisan ini akan ditelaah seberapa jauh pengaruh musim dingin di Arab Saudi terhadap para jamaah haji Indonesia. Hal ini sangat penting untuk menentukan langkah-langkah Pembinaan Gizi Para Tamu Allah tersebut. Tujuan pembinaan ini tiada lain adalah untuk mencapai keadaan kesehatan jamaah yang optimal agar dapat melaksanakan ibadah sebaik mungkin B. Pengaruh Musim Dingin Terhadap Kebutuhan Gizi Sebuah penelitian mengenai “Pengeluaran Energi” atau Energi Expenditure pada sekelompok pekerja didaerah pegunungan / dataran tinggi yang berhawa dingin, memberikan hasil kenaikan kurang lebih 25% dibandingkan dengan dataran rendah. Sedangkan hasil penelitian serupa terhadap kelompok orang yang bukan pekerja dimusim dingin hanya menghasilkan kenaikan 25% saja. Hasil penelitian yang beragam ini tampaknya akibat dipengaruhi variabel

individu. Penggunaan baju dingin adalah salah satu upaya menghangatkan tubuh tanpa meningkatkan jumlah konsumsi makanan. Jumlah haji yang pada umumnya terdiri dari kelompok orang yang sudah berumur dengan klasifikasi aktivitas sedang, tampaknya peningkatan kebutuhan zat gizi tidak diperlukan terlalu tinggi. Penambahan sebesar maksimum 5% diperkirakan sudah cukup memadai untuk meraih derajat kesehatan yang optimal agar dapat melaksanakan ibadah secara sempurna.

Ini dapat dicapai dengan cara mengkonsumsi makanan selingan diantara dua kali makan. Sedang untuk menanggulangi kelembaban rendah hendaknya diimbangi dengan jumlah cairan yang cukup, baik dari air minum dan mengkonsumsi buah-buahan yang cukup. 1. PENATALAKSANAAN a. Di Kloter 1). Penyuluhan di pondokan terhadap: a) Jamaah yang tidak memerlukan diit khusus, baik secara perorangan maupun kelompok. Materi diberikan secara singkat dan jelas, berupa pesan-pesan: - Jangan menahan lapar - Makanlah sesuatu diantara dua kali makan - Perbanyak minum - Perbanyak makan buah-buahan b) Jamaah yang karena mengidap penyakit tertentu harus menjalani diit khusus, diperlukan materi khusus yang akan dibicarakan kemudian. 2). Pengecekan berat badan seluruh jamaah, dan hasilnya ditindak lanjuti agar dapat dicapai berat badan normal. b. Di BPHI Pemenuhan kebutuhan gizi bagi jamaah yang dirawat di BPHI adalah berdasarkan ketetepan Tim Medis yang merawat, baik mengenai jumlah zat gizi yang diperlukan maupun bentuk makanan yang diberikan. 1). Jamaah yang tidak memerlukan diit khusus. Untuk kelompok ini digunakan standar makanan rumah sakit yang ada. Berdasarkan bentuknya, makanan dapat dibedakan menjadi : a) Makanan biasa dengan makanan pokok: Nasi/ pengganti b) Makanan lunak, dengan makanan pokok Bubur/pengganti c. Makanan saring, dengan makanan pokok Bubur yang dihaluskan/pengganti d) Makanan cair, dengan formula rumah sakit (lihat pada Lampiran 1). Disamping formula rumah sakit, dewasa ini sudah banyak diproduksi formula komersial dengan susunan nutrisi yang beragam, sesuai dengan penyakit yang diderita. 2). Jamaah yang memerlukan Diit khusus a). Diabetes Mellitus (DM). Diit ini dibagi menjadi

8 tingkatan sebagai berikut: - DM1 : 1.100 Kalori - DM II : 1.300 Kalori - DM Ill : 1 .500 Kalori - DM IV : 1.700 Kalori - DM V : 1.900 Kalori - DM VI : 2.100 Kalori - DM VII : 2.300 Kalori - DM VIII: 2.500 Kalori Penentuan jumlah kalori secara gampang, yaitu untuk pasien kurus 2.300-2.500 kalori, normal 1.700-2.100 kalori, dan gemuk 1.100-1.500 kalori. Pembagian makanan sehari dapat dilihat pada Lampiran II. Daftar bahan makanan penukar yang berguna untuk mengganti susunan hidangan agar tidak membosankan, dapat dilihat pada Lampiran III. b) Jantung, macam diit dan indikasi pemberian: Diit Jantung I Diit Jantung I diberikan kepada penderita dengan “infark miokard akut” atau gagal jantung berat. Pemberian berupa 111/5 liter cairan sehari selama 1-2 hari pertama bila penderita dapat menerimanya. Makanan ini rendah kalori dan semua zatzat gizi. Diit Jantung II Diit Jantung II diberikan secara berangsur dalam bentuk lunak dan rendah garam, setelah fase akut infark dapat diatasi menurut beratnya hipertensi atau oedema yang menyertai penyakit. Makanan ini juga rendah kalori, protein, dan thiamin. Dilt Jantung III Diit Jantung III diberikan sebagai makanan perpindahan dari Diit Jantung II kepada penderita penyakit jantung tidak tentalu berat. Makanan diberikan dalam bentuk mudah cerna berbentuk lunak atau biasa. Makanan ini rendah kalori dan rendah, tetapi cukup zat-zat gizi lainnya sesuai beratnya hyportensi atau oedema yang menyertai penyakit. Diit Jantung IV Dilt Jantung IV diberikan sebagai makanan perpindahan dari Dilt Jantung III atau kepada penderita penyakit jantung ringan. Pemberian dalam bentuk biasa sesuai beratnya hipentensi atau oedema yang menyertai. Makanan diberikan rendah garam dan cukup kalori dan zat-zat gizi.

Waktu / Energi 1100 07.00:

Tabel 1 Daftar Waktu, Energi dan Standar Diet Standar Diet 1300 1500 1700 1900 2100 2300 2500

Hewani Nabati SayurA SayurB Minyak 10.00:

Nasi 1/2 1/2
-

1 1/2

s
-

2 1 1
-

1 1/2 1 s
-

1 1/2 1 s
-

11/2 11/2 11/2 1/2 1 1 1 1 1 s s
-

1 1 1 s
-

1 1
-

1 1
-

1 1
-

1 1
-

1 1 1 3 1 1 s 1 1 3 1 2 1 1
S

1 1 1 3 1 1
S

Buah 1 Susu
-

13.00: Nasi 1 Hewani Nabati SayurA SayurB 1 1 s 1 Buah 1 Minyak 1 16.00: Buah 1 19.00: Nasi 1/2 Hewan Nabati SayurA SayurB 1 1 s 1 Buah 1 Minyak 1 1 1 1 s 1 1 1 1 1 1 1 s 1 1 1 1 1/2 1 1 s 1 1 1 1 1 1 1 s 1 1 1 2 1 1 s 1 1 2 1 1 1/2 1 1 s 1 1 1 2 1 1 s 1 1 2 1 2 1 1 s 1 1 2 2 1/2 1 1 s 1 1 3 1 2 1 1 s 1 1 2

1 1 3 1 3 1 1
S

1 1 2

1 1 2

Tabel 2 Daftar Diit Jantung Berdasarkan Bahan Makanan, Berat dan Ukuran Rumah Tangga Bahan makanan Diit Jantung I Diit Jantung II Berat (g) URT Berat (g) URT
Beras Daging Telur Tempe Sayuran Buah Minyak Margann t. garam Gula pasir Tepung Susu
-

100 100

60
-

3 gis bubur 3 pt. Sdg. 1 butir
-

400
-

-2 gis sari
-

200 400
10 40 20

2 gis 4 pt. sdg.
-

80 80

8 sdm 16 sdm

1 sdm 1 sdm 1 sdm

Bahan makanan
Beras Daging Telur Tempe Sayuran

Diit Jantung I Berat (g) URT
200 100

Diit Jantung_II Berat (g) URT
250 100

50
100 200

4 gis tim 2 pt. Sdg. 1 butir 4 pt. Sdg. 2 gelas

50
100 200

31/2 gis tim 2 pt. Sdg. 1 butir 1 pt. Sdg. 2 gelas

Buah Minyak Margarin t. garam Gula pasir TepungSusu

400 15
-

4 pt. Sdg 1 1/2 sdm
-

400 25
-

4 pt. Sdg. 2 1/2 sdm
-

30
-

3 sdm
-

30

3 sdm

Pembagian minuman sehari: Pukul 06.00 Susu Pukul 08.00 Susu Pukul 10.00 Air Jeruk Pukul 13.00 Susu Pukul 15.00 Sari Pepaya Pukul 18.30 Sari Pepaya Pukul 20.00 Teh manis

1 gis 1 gis 1 gis 1 gis 1 gis 1 gis 1 gis

Tabel 3 Daftar Makanan Diit Jantung Sehari
Pukul Bahan Makanan Diit Jantung II Berat (g)
08.00 Beras Telur Sayuran Tep.Susu Minyak Gula pasir 30 50 50 20
-

Diit Jantung Ill Berat (g)
50 50 50
-

Diit Jantung IV Berat (g)
50 50 50
-

URT
1 gls bbr 1 btr 1/2gls 4sdm
-

URT
1 gis tim 1 btr 1/2gls
-

URT
3/4 gls nasi 1 btr 1/2gls

10

5 10

1/2 sdm 1 sdm

5 50

1 sdm

1/2 sdm 1 sdm

Pukul

Bahan Makanan

Diit Jantung II Berat (9) URT
1 pt. Sdg. 2 sdm 1 gls bbr
-

Diit Jantung III Berat (9)
100 10 75 50 75 100
-

Diit Jantung IV Berat (9)
100 10 100 50 75 100
-

URT
1 pt. sdg. 1 sdm 11/2 gls tim 2 pt. sdg. 2/4 gls 1 ptsdg
-

URT
1 pt. sdg. 1 sdm 11/3 gls nasi 2/4 Pt sdg 1 Pt sdg
-

10.00 12.00 dan 10.00

16.00

Pepaya (gula pasir Beras Tempe Sayuran Pepaya Margarin Minyak Pepaya Gula pasir

100 20 35
-

75 100 5
-

100 10

2/4 gls 1 ptsdg 1/2 sdm
-

1 ptsdg 1 sdm

5 100 10

1/2 sdm 1 ptsdg 1 sdm

10 100 10

1 sdm 1 Pt sdg 1 ptsdg

Tabel 4 Daftar Golongan Bahan Makanan Yang Boleh dan Tidak Boleh Diberikan
Gel. Bahan Makanan Boleh Diberikan Tidak Boleh Diberikan

Sumber HidratArang Sumber Protein Hewani Sumber Protein Nabati Sumber Lemak

Beras, bubur, singkong, talas, kentang, makroni, ml, bihun, roti, biskuit, tepung-tepurigan, gula. Daging sapi kurus, ayam bebek, ikan, telur, susu dalam jumtah terbatas Kacang-kacangan kering maks 25 g sehari tahu, tempe, oncom. Minyak, margarin, mentega, sedaoat digunakan untuk

Kue-kue yang terlalu manis dan gurih seperti cake, tercis, dodol, dsb. Semua daging berlemak, sosis

Goreng-gorengan, santan kerital

menggoreng : kelapa, santan encer dalam jumlah terbatas. Gel. Bahan Makanan Sayuran Boleh Diberikan Sayuran yang tidak menimbulkan gas bayum, kangkung, buncis, kacang panjang, toge, labu slam, oyong, tomat, wortel, dsb. Semua buah : nangka, durian, advokat, hanya dibolehkan dalam jumlah terbatas. Bumbu dapur, seperti : pala, kayu manis, asam, gula, garam. Teh encer, coklat, sirop, susu dalam jumlah terbatas. Tidak Boleh Diberikan

Buah-buahan

Sayuran yang menimbulkan gas seperti kol, sawi, lobak Lombok dan bumbu lain yang merangsang Kopi, dan teh kental

Bumbu-bumbu Minuman

Tabel 5 Contoh Menu: Diit Jantung II
Pagi Nasi tim Telur 1/2 matang Setup wortel Teh manis Susu Pukul 10.00: Slada pepaya Pagi Nasi tim Telur 1/2 matang Setup wortel Teh manis Pukul 10.00: Slada pepaya Siang Bubur nasi Tim daging giling Sup sayuran Pepaya Sore Bubur nasi Semur daging giling Setup bayam Pisang Pukul 16.00: air jeruk

Slang Nasi tim Daging bumbu Tomat Tempe bacem Sayur bening Pepaya

Sore Nasi tim Ikan pepes Tahu tim Ca. Sayur Pisang Pukul 16.00 : Air jeruk

Contoh menu diit jantung IV sama dengan Diit Jantung III, hanya nasi tim diganti dengan nasi.

c)

Penyakit Kelainan Pembuluh Darah Kelainan pembuluh darah berupa arteroskierosis diakibatkan oleh meningkatnya kadar lipida darah sehingga disebut hiperlipidemia atau lebih terkenal dengan sebuta “dislipidemia I’. Umumnya kada lipid disebut hiperlipo prôteinemia. Diit hiperlipoproteinemia berbeda menurut 5 tipe yaitu I sampai dengan V. Karena hiperlipoproteinemia I, II dan V jarang ditemui, maka dalam penuntun Diit RSCM-Persegi hanya diuraikan Diit I liperlipoproteinemia II dan IV. Out I liperlipoproteinemia II Out Hiperlipoproteinemia II diberikan kepada penderita hiperlipo proteinemia tipe II. Tipe ini didapat pada semua umur dan diduga dapat menurun, atau sekunder pada

konsumsi kolesterol tinggi, nephrosis, atau penyakit hati. Kadar kolesterol darah biasanya tinggi, sedangkan kadar trigliserida normal atau tinggi. Syarat-syarat diit yang diberikan: 1) Lemak terbatas dengan perbandingan lemak tak jenuh ganda (T.TJG) / lemak jenuh (U) 1,8 - 2,8. ini dapat dicapai bila lemak takjenuh ganda lebih an 10 persen kalori total. 2) Kolesterol rendah yaitu dibawah 300 mg sehari. 3) Hidrat arang tidak dibatas 4) Kalori sesual kebutuhan 5) Serat tinggi. Tabel 7 Daftar Bahan Makanan, Berat dan Ukuran Rumah Tangga
Bahan Makanan Berat (g) URT

Beras Daging Tempe Kacang hijau Sayuran Buah Minyak gizi Gula pasir

300 100 150 25 300 300 30 25

4 gls nasi 2 ptg sdg 6 ptg sdg 2 1/2 sdm 3 gls 3 ptg pepaya sdg 3 sdm 2 1/2 sdm

Tabel 8 Daftar Nilai Gizi Sehari Kalori Protein Lemak - Lemak jenuh - Lmk tak jenuh gnd - LTJG/LG - Kolesterol 2.280 79g 53 g 9,2 g Hidrat arang Kalsium Besi Vitamin A Thiamin 2,3 Vitamin C 70 mg Tabel 9 Daftar Pembagian Makanan Sehari Waktu Pukul 10.00 Bahan Beras Kac. Hijau Tempe Gula pasir Sayuran Minyak jag. Gula pasir Beras Buah Daging Tempe Sayuran Buah Berat 70 g 25 g 50 g 15 g 50 g 10 g 10 g 115 g 100 g 50 g 50 g 125 g 75 g URT 1 gls nasi 2 1/2 sdm 2 ptg sdg 1 1/2 sdm 1/2 gls 1 sdm 1 sdm 1 1/2 gls nasi 1 ptg pepaya sdg 1 ptg sdg 2 ptg sdg 1 1/4 gls 1 ptg pepaya sdg 374 g 0,5g 28 mg 11.988 SI 1 mg 194 mg

Pukul

16.00

Minyakjagung

10 g

1 sdm

Tabel 10 Contoh menu Diit Hiperlipoproteinemia II Pagi Nasi Tempe goreng Setup buncis Pukul 10.00 Bubur kcg hijau Siang Nasi Ikan goreng Tahu balado Sayur asam Lalap timun Pepaya Pukul 16.00 Pepaya Sore Nasi Daging bumbu Bali Tumis kacang merah Sup sayuran Rebusan sawi / Tomat

Tabel 11 Daftar Bahan Makanan boleh dan tidak boleh diberikan Gel. Bahan Makanan Sumber HidratArang Boleh Diberikan Beras, jagung, roti, kentang makroni, bihun, tepungtepungan, jam, madu, gula, sirop, dsb Daging sapi dan ayam yang tidak berlemak, lidah dalam jumlah terbatas, ikan, putih telur, susu skim yoghrut, dsb. Kacang-kacangan dan hasilnya seperti tahu, tempe, oncom, keju kacang tanah. Semua minyak tumbuh tumbuhan kecuali minyak kelapa, seperti minyak jagung, kacang tanah, biji bunga matahari, biji kapas, wijen. Semua macam sayuran Semua macam buahbuahan Semua macam bumbu Tidak Boleh Diberikan Kue-kue, cake, tarcis yang dibuat dengan susu penuh, keju, kuning telur, mentega, kelapa, minyak kalapa dan lemak jenuh lain. Semua daging berlemak seperti domba, kornet, susu, kuning telur, udang, kerang, jeroan, jantung, otak, hati, ginjal, susu penuh, keju es krim.

Sumber ProteinHewani Sumber Protein Nabati Sumber

Minyak kelapa, kelapa, santan kental, lemak hewan, margarin, mentega

Lemak Sayuran Buah-buahan Bumbu-bumbu

Dilt Hiperlipoproteinemia IV Diit Hiperlipoproteinemia IV diberikan kepada penderita hiperlipo proteinemia IV. Tipe ini sering timbul pada umur 20 tahun ke atas pada “arteroskierosis prematur” atau sekunder pada Diabetes Mellitus atau penyakit metabolisme lain. Pada umumnya disertai kegemukan. Kadar kolesterol darah normal atau tinggi, sedangkan kadar trigliserida biasanya tinggi. Syatar-syarat dilt yang diberikan: 1) Kalori rendah, bila penderita terlalu gemuk. Jika telah tercapai berat badan normal, kalori disesuaikan untuk mempertahankan berat badan tersebut.

2) 3) 4) 5) 6)

Hidrat arang dibatasi : 40 - 60 persen kalori total. Pengurangan terutama dari hidrat arang murni (gula murni dan makanan yang mengandung gula murni). Lemak terbatas, diutamakan menggunakan lemak tak jenuh ganda. Kolesterol terbatas : 300 - 500 mg sehari. Protein tidak dibatasi. Serat tinggi. Tabel 12 Daftar Bahan Makanan Sehari Berdasarkan Berat dan Ukuran Rumah Tangga Sesual Tingkat Kalori Bahan Makanan Beras Daging Telur Tempe Sayu ran Buah Minyak Jagung Bahan Makanan 1200 Kalori Berat (g) 70 100 50 100 400 400 20 URT 1 gls nasi 2 ptg sdg 1 butir 4 ptg sdg 4 gls 4 ptg pepaya 2 sdm 1500 Kalori Berat (g) 125 100 50 100 400 400 25 1500 Berat (g) 250 100 50 100 400 400 30 URT 1 1/2 gls 2 ptg sdg 1 butir 4 ptg sdg 4 gls 4 ptg pepaya 2 1/2 sdm Kalori URT 3 1/2 gls 2 ptg sdg 1 butir 4 ptg sdg 4 gls 4 ptg pepaya 3sdm

1200 Katori Berat (g) 175 100 50 100 400 400 25 URT 2 1/2 gls nasi 2 ptg sdg 1 butir 4 ptg sdg 4 gls 4 ptg pepaya 2 1/2sdm

Beras Daging Telur Tempe Sayuran Buah MinyakJagung

Tabel 13 Daftar Nilai Gizi Sehari Sesuai Katori 1200 Kalori 1298 58 g 45 g 9,9 g 15,7 g 1,6 345 mg 174 g 0,5 g 24 mg 16324 SI 0,8 mg 260 mg 1500 Kalori 1540 62 g 51 g 10,5 g 18,6 g 1,8 345 mg 217 g 0,5 g 24,5 mg 16324 SI 0,9 mg 260 mg

Katori Protein Lemak - Lemak jenuh - Lemak jenuh gd - Perb.LTJG/LG - Kolesterol Hidrat arang Kalsium Besi Vitamin A Thiamin Vitamin C

Kalori Protein Lemak - Lemak jenuh - Lemakjenuhgd - Perb.LTJG/LG - Kolesterol Hidrat arang Kalsium Besi Vitamin A Thiamin Vitamin C

1700 Kalori 1720 66 g 52 g 10, 7 g 18,7g 1,8 345 mg 256 g 0,5 g 24,9 mg 16324 SI 1 mg 260 mg

2000 Kalori 2035 71 g 57 g 11,4 9 21,69 2 345 mg 217 g 0,5 g 25,5 mg 16324 SI 1,1 mg 260 mg

Tabet 14 Daftar Bahan Makanan Berdasarkan Waktu, Berat, Ukuran Rumah Tangga dan Kalori Sehari Waktu Pukul 07.00 Bahan Makanan Beras Telur Sayuran Minyak Buah Beras Daging Tempe Sayuran Buah Minyak Bahan Makanan 1200 Kalori Berat (g) 50 100 100 35 50 50 150 100 10 1200 Berat (g) 07.00 Beras Telur Sayuran Minyak Buah Beras Daging Tempe Sayuran Buah Minyak 35 50 100 5 100 70 50 50 150 100 10 URT 1 butir 1 gls 1 ptg sdg 1/2 gls nasi 1 ptg sdg 2 ptg sdg 11/2 gls 1 ptg sdg 1 sdm Kalori URT 1/2 gls 1 butir 1 gls 1/2 sdm 1 ptg sdg 1 gls nasi 1 ptg sdg 2 ptg sdg 1 1/2 gls 1 ptg sdg 1 sdm 1500 Kalori Berat (g) 15 50 100 5 55 50 50 50 150 100 10 1500 Berat (g) 40 50 100 10 100 105 50 50 150 100 10 URT 1/4 gls nasi 1 butir 1 gls 1/2 sdm 1 ptg sdg 2/4 gls nasi 1 ptg sdg 2 ptg sdg 11/2 gls 1 ptg sdg 1 sdm Kalori URT 1/2 gls nasi lbutir 1 gls 1 sdm 1 1/2 ptg sdg 2/4 gls nasi 1 ptg sdg 2 gls 1 1/2 gls 1 ptg sdg 1 sdm

10.00/1 6.00 Slang & Sore

Waktu Pukul

10.00/1 6.00 Siang & Sore

Tabel 15 Daftar Makanan Boleh dan Tidak Boleh Diberikan Gel. Bahan Makanan Boleh Diberikan Beras, jagung, roti, Sumber tepung-tepungan HidratArang (maezena) hunkwee, terigu, beras, ml, bihun, kentang, aspageti, makaroni dalam jumlah terbatas. Daging sapi, domba, Sumber ayam, ikan, putih telur, Protein Hewani susu skim, kuning telur dibatasi 3 butir seminggu. Sumber Protein Nabati Tidak Boleh Diberikan Kue-kue, cake, tarcis yang dibuat dengan susu penuh, keju, minyak kelapa dan lemak jenuh lain, kripik singkong/kentang, permen, coklat, jam gula, madu. Semua daging berlemak, kornet, kulit ayam, keju, jeroan, otak, udang dan kerangkerangan, susu penuh, es krim.

Sumber Lemak

Sayuran Buah-buahan Bumbu-bumbu

Kacang-kacangan dan hasil olahannya seperti tahu, tempe, oncom, kacang hijau, kacang merah, kacang tolo. Semua minyak Minyak kelapa, kelapa tumbuh-tumbuhan santan, margarin, mentega kecuali minyak kelapa, seperti minyak jagung, kacang tanah, biji bunga matahari, biji kapas, wijen, margarin khusus. Semua macam Sayuran Semua macam buahbuahan Semua macam bumbu

Tabel 16 Contoh Menu Diit Hiperlipoproteinemia 1200 kalori Pagi Telur 1/2 masak Irisan tomat Siang Nasi Ikan goreng Tempe balado Sayur asam Lalap ketimun I tomat Nenas Pukul 16.00 Selada buah Sore Nasi Daging empal Tumis kacang tanah Sayuran bening Lalap rbs kcng panjang Pisang

Pukul 10.00 Selada buah

Diit hiperlipoproteinemia IV 1500 s/d 2000 kalon menu nya sama dengan Out Hiperlipoproteinemia IV - 1200 kalori, kecuali pagi ditambah nasi dan oseng buncis. Keterangan: Daftar komposisi lemak, asam lemak, dan kolesterol dapat dilihat pada lampiran IV.

d) Diit Hipertensi: Diii Hipertensi diberikan dengan diit rendah garam yang tujuannya adalah membantu menghilangkan retensi garam/air dalam jaringan tubuh dan menurunkan tekanan darah. Syarat-syarat pemberian diit: 1) Cukup kalori, protein, mineral, dan vitamin 2) Bentuk makanan disesuaikan dengan keadaan penyakit. 3) Jumlah natrium yang diperbolehkan disesuaikan dengan retensi air/garam dan/atau hipertensi. Diit rendah garam diberikan kepada penderita dengan oedema dan/ atau hipertensi, sebagaimana terdapat pada penyakit “Decompensatio Cordis, Cirrhosis Hepatis, penyakit ginjal tertentu, Toksemia pada kehamilan dan Hipertensi Esensiil. Diit ini mengandung cukup zat-zat gizi sesuai dengan keadaan penyakit dan diberikan dengan berbagai tingkat Out Rendah Garam. Diit Rendah Garam I (200 - 400 mg mg Na) Diit rendah garam I dalam pemasakan tidak ditambahkan garam dapur. Bahan makanan tinggi natrium dihindarkan. Makanan ini diberikan kepada penderita dengan oedem, acites dan atau hipertensi berat. Tabel 17 Daftar Bahan Makanan Berdasarkan Berat dan Ukuran Rumah Tangga Sehari No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Nama Bahan Beras Daging Telur Tempe Kacang Hijau Sayuran Buah Minyak Gula pasir Berat (gram) 350 100 50 100 25 200 150 25 25 Ukuran Rumah Tangga 5 gelas Nasi 2 potong sedang 1 bt ayam negeri 4 potong sedang 2 1/2 sendok makan 2 gelas 2 bh pisang 21/2sendokmakan 2 1/2 sendok makan

Daftar NiIai Gizi Sehari. - Kalori : - Protein : - Lemak : - Hidrat Arang : - Kalsium : -Besi : -VitaminA : - Thiamin : - Vitamin C : - Natrium :

2230 75 gram 53 gram 365 gram 0,5 gram 24mg 6139mg 1,2 mg 87 mg 305 mg

Tabel 18 Daftar Makanan Berdasarkan Berat dan Ukuran Rumah Sehari Pagi : 70 gr = 1 gelas nasi 50 gr = 1 btr 50 gr = 1/2 g&as 5 gr = 1/2 sdm 10 gr - 1 sdm 25 gr = 2 1/2 sdm 15 gr = 1 1/2 sdm Siang dan Sore : 140 gr = 2 gls nasi 50 gr = 1 pt. sdg 75 gr = 3/4 gelas 75 gr = 1 bh pis. 10 gr = 1 sdm

Beras Telur Sayuran Minyak Gula psr Pukul 10.00: Kacang Hijau Gula Pasir •

Beras Daging Sayuran Buah Minyak

Diit Rendah Garam II (600 - 800 mg Na) Pemberian makanan sehari sama dengan Diit Rendah Garam I. Dalam pemasakan dibolehkan menggunakan 1/4 sdt garam dapur (1 gram) : bahan makanan tinggi natrium dihindarkan. Makanan ini diberikan kepada penderita dengan oedema, ascites, dan atau hipertensi tidak terlalu berat. Diit Rendah Garam III (1000 - 1200 mg Na) Pemberian makanan sehari sama dengan Diit Rendah garam I. Dalam pemasakan dibolehkan menggunakan 1/2 sdt (2 gr) garam dapur. Makan ini diberikan kepada penderita dengan oedema dan atau hipertensi ringan.

Cara memilih bahan makanan : Makanan yang diberikan makanan biasa rata-rata mengandung 2800 - 6000 mg natrium yang ekivalen dengan 7 - 15 gr Na Chiorida. Sebagian natrium berasal dari garam dapur, selebihnya dari bahan makanan yang mengandung natrium tinggi. Kadar natrium pada berbagai jenis bahan makanan dapat dilihat pada lampiran I. Tabel 19 Daftar Makanan Boleh dan Tidak Boleh Diberikan Golongan Sumber Hidrat Arang Boleh Diberikan Tidak Boleh Diberikan Beras, bulgur, kentang, roti, biskuit dan kue-kue singkong, terigu, tapioka, yang dimasak dengan hunkwee, gula, makanan garam dapur dan atau yang diolah dari bahan soda. makanan tsb diatas tanpa garam dapur dan soda. Daging dan ikan Otak, ginjal, lidah, sardin, maksimum 100 gr sehari, telur max. 1 keju, daging - ikan, telur btr sehan, Susu max. 200 yang diawet dengan gr sehari. garam dapur seperti :daging asap, harnbacon, dendeng abon, Semua kacang-kacangan ikan asin, ikan kaleng, dan hasilnya yang diolah kornet, ebi, udang kering, dan dimasak tanpa garam telur asin, telur pindang Dapur. dsb.

Sumber Protein Hewani

Sumber Protein Nabati

Sayuran

Semua sayuran segar Sayuran yang diawer Tanpa garam dapur, Natrium Benzoas dan Soda. Semua buah-buahan segar buah-buahan yang diawet tanpa garam dapur, Natrium benzoas, Dan soda. Minyak, margarin tanpa Garam mentega tanpa garam. Semua bumbu-bumbu segar dan kering yang tidak mengandung garam dapur, dan lain ikatan natrium Teh, kopi, minuman Botol ringan.

Keju, kacang tanah dan semua kacang-kacangan yang dimasak dengan garam dapur dan lain ikatan natrium Sayuran yang diawet dengan garam dapur dan lain ikatan natrium, seperti sayuran dalam kaleng, sawi asin, asinan, Acar, dsb. Margarin, dan mentega biasa. garam dapu r, ‘baking powder, soda kue, vetsin dan bumbu-bumbu yang mengandung garam seperti kecap, terasi, tauco, meggie, dsb. Cokiat

Buah-buahan

Lemak Bumbu-bumbu

Minuman Keterangan:

Rasa makanan dapat dipertinggi dengan menggunakan bumbu lain yang tidak mengandung natrium seperti gula, cake, bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, laos, salam, dsb. Makanan yang dikukus, ditumis, digoreng, dipanggang lebih enak dari pada makanan yang direbus. Pagi Nasi Telur dadar Tumis kacang Panjang. Pukul 10.00 Bubur kacang hijau. Slang Nasi Ikan acar kuning Tahu bacem Sayur lodeh Pepaya Sore Nasi daging pesmol Tempe keripik Ca sayuran Pisang

• Dilt pada Hipertensi dengan kelainan jantung dan pembuluh darah. Keadaan Hipertensi dengan kelainan jantung dan pembuluh darah sering ditemui, dan merupakan faktor risiko penyakit jantung koroner (PJK). Penatalaksanaan diitnya merupakan kombinasi diit rendah asam dan penyakit jantung dan atau Hipertensi Proteinemia. Lampiran I MAKANAN CAIR BIASA 2000 CAL 2000 CC Bahan Susu FC Susu Skim LLM Telur Ayam Glukosa : 110 gr : 100 : 20 gr : 150 gr (Negeri) : 25 gr

Nilai Gizi :

Gula Pasir : 100 gr Tepung beras : 20 gr Minyak Kacang : 20 cc (happy Salad Oil) Sari Buah : 100 gr Jumlah Cairan : 2000 cc E = 2013 kalor P = 88 gram L = 75,7 gram KH = 247, 9 gram

Cara Membuat: 1) Susu, gula, minyak di aduk sampai rata ditambahkan air mendidih. 2) Telur dikocok/di blunder 3) Tepung betas dimask setelah dicairkan dengan air secukupnya. 4) Masukan tepung beras ke dalam susu yang sudah diaduk tadi, masak sampai mendidih angkat dan masukan telur lalu tambah air sampai menjadi 2000 cc. 5) Saring, masukan dalam botol yang sudah disteril dan tutup.

Lampiran II Contoh Menu Berdasarkan Bahan Makanan Penukar
Contoh Menu Diabetes Meilitus: 1500 kalori SEHARI (P) - Nasi/ Penukar - Daging/Penukar - Tempe/Penukar - Sayuran/Penukar - Buah/Penukar - Minyak/Penukar 31/2 2 1/2 3 2 4 3 PAGI (P) 1 1/2 1 8 SlANG (P) 1 1/2 1 1 1 1 2 SORE (P) 1 1 1 1 1 1 SNACK -

2 -

Contoh Menu Diabetes Mellitus: 1500 KALORI Waktu Pagi Pukul 10.00 B. Makanan Roti 2 iris Pindakas 2 sdm Telur 1/2 btr Pisang 1 bh Nasi 1 gelas Udang 1/4 gelas Tahu 1 potong Tahu 1 potong Minyak 1/2 sdm Sayuran 1 gelas Kelapa 5 sdm Jeruk 1 buah Duku 15 buah Nasi 3/4 gelas Ayam 1 potong Penukar (1 P) (1 P) (1/2 P) (1 P ) (11/2) (1 P) (1 P) (1 P ) (1 P) (1 F) (1 P) (1 P ) (1 P ) (1 P ) (1 P) Contoh Menu - Roti Panggang - Pindakan - Telur Rebus - Pisang - Nasi - Nasi - Oseng-oseng - Udang tahu. cabe ijo - Urap sayuran - Jeruk - Duku - Nasi - Sop Avarn

Siang

Pukul 16.00 Malam

Kacang rnerah 2 sdrn Sayuran 1 gelas Minyak 1 2 sdm ApeI 1 2 buah

(1 P) (1 P) (1 P) (1 P)

- Kacang merah - Tumis sayuran - Apel

Lampiran Ill: CONTOH DAFTAR BAHAN MAKANAN PENUKAR Golongan I : SUMBER KARBOHIDRAT Satuan Penukar = 175 kalori 4 gram protein 40 karbohidrat Bahan Makanan Bihun Bavermout Kentang Krekes Mi Karina Nasi Roti putih Tepung terigu URT 1/2 gelas 6 sdm 2bh sedang 5 bh besar 1/2 bungkus 3/4 gelas 2 ptg sedang 8 sdm Berat (g) 50 50 200 50 50 100 80 50

Golongan II: SUMBER PROTEIN HEWANI Satuan Penukar = 95 kabri 10 gr protein 6 gr lemas Bahan Makanan Ayam Daging sapi Hati sapi Ikan segar Ikan asin Telur ayam Telur bebek Udang segar Keju URT 1 ptg sedang 1 ptg sedang 1 ptg sedang 1 ptg sda/1 ekor 1 ptg kecil 1 btr 1 btr 1/4 gelas 1 ptg kecil Berat (g) 50 50 50 50 25 50 60 50 50

-

Golongan III : SUMBER PROTEIN NABATI Satuan Penukar = 80 kalori 6 gram protein 3 gram lemak 8 gram karbohidrat Bahan Makanan Kacang hijau Kacang merah segar URT 2 sdm 2 1/2 sdm Berat (g) 20 25

-

-

Kacangtanah

2sdm 2 sdm 1 biji besar

20 20 100

-

Kehu kacang tanah

-

Tahu Tempe Susu kedelai

2 ptg sedang 1 gelas

50 200

Golongan IV: MINYAK Satuan Penukar = 45 kalori 5 gram lemak Bahan Makanan Minyak kelapa Margarin Minyakkacang/ kedelai/ jagung. Kelapa parut Santan URT 1/2 sdm 1/2 sdm 1/2sdm 5 sdm 1/2 gelas Berat (g) 3 5 5 30 50

-

Lampiran IV DAFTAR KOMPOSISI LEMAK, ASAM LEMAK DAN CHOLESTEROL BAHAN MAKANAN (DALAM 100 gr BAHAN MAKANAN)
Bahan makanan Lemak Total 1,1 1,2 1,3 7,4 1,3 14 9,2 25 4,5 11,5 0,2 3,2 8,6 42,8 15,6 49,6 34,7 4,6 6,5 3,5 Lemak Jenuh 0,3 0,3 1,2 1,5 0,1 5,1 3,6 0,9 1 3,7
• -

Lemak tak jenuh Cholesterol Oleat 0,3 0,7 0,3 2,3 0,3 1 4 10,5 1,1 5,1
-

I. Beras Roti Jagung Hevermout Tepungterigu II. Daging sapi Daging kambing Daging ayam Ikan Telur Udang Hati Otak Ill. KacangTanah Kacang kedelai Kacang mede Kelapa Tua Tahu IV. Alpokat V. Susu sapi cair

Linoleat 0,2
+

-

0,7 2,9 0,5 0,5 0,6 2,9 0,7 0,8
-

70 70 60 70 550 125
300

2000
-

9,4 2 5,5 29,4 1 1,1 1,8

16,5 4,4 32,2 1,9 1 2,7 1,1

13,8 7,9 8,6
+

-

2,1 0,7
+

-

11

Susu kambing cair Susu kerbau Susu ibu Susu bubuk penuh Susu kental Tak manis Keju Keterangan : sedikit Sekali
VI. Minyak kelapa

3,8 12 3,2 30 7,9 20,3

2,4 7,4 1,5 16,3 4 11,3

1 3,1 1 9,8 3
6,9

0,2 0,1 0,3 1
+

-

5
100

0,6

Minyak jagung Minyak biji kapas Minyak Olive Minyak kacang tanah Minyak kcng kedelai Minyak wijen Minyak biji bunga Matahari Margarin Mentega

98 100 100

80,2
9,4

9,9 25,4

3,2 54.6

-

100 100 99,9 100 100 8 81,6

32.7 19,1 21,9 12,8 26,2 9,8 21 44,1

21,6 58,8 38,4 28,9 38,5 11,7 46,1 23,3

40,4 16,9 32,3 51 31,5 72,9 7,2 2,1

250

Lampiran V DAFTAR KADAR NATRIUM DAN KALSIUM DALAM 100 GRAM BAHAN MAKANAN
Bahan makanan Sumber Hidrat Arang Berasgiling Beras lagiling Beras ketan Beras merah Bihun Biskuit Havermut Jagung kuning Kentang Krakers (soda) Krakers graham Kue-kue Makaroni Misoa Roti Coklat Tak bergaram Roti kismis 5 5 5 2 13 500 5 5 7 110 710 250 3 1 500 10 300 100 202 282 195 197 200 400 260 396 120 330 100 132 96 200 200 300 Coklat susu Es krim 100 100 500 90 Susu Kacang Hijau Kacang kedelai Kacang kedelai Kuning Kcg. kedelai hitam Keju kcg tanah Kacang merah Kacangtanah Tahu Tempe Kecap
-

Na/Mg

K/Mg

Bahan Makanan Sumber Protein Nabati

Na/Mg

K/Mg

6
-

1132 1504 1504

-

410 670 115 421 151
-

607 19 4 12
-

4000

500

Roti puith Tak bergaram Roti susu Singkong Tepung kedelai Tepung tapioka Tepung terigu

530 3 500 3 11 5 2 700 6 31 6 100

91 94 150 394 926 400 400 150 304 210 130 350

Susu Susu asam tepung Susu kambing Susu kental manis Susu kental manis Susu penuh cair Susu penuh cair Susu penuh tepung Susu krim cair Susu skim tepung Yoghurt L e m a k Kelapa

50 600 50 150 150 36 36 380 38 470 75 7

150 2800 200 320 320 150 150 1200 149 1500 200 555

Loast (roti bakar)
Ubi kuning Ubi putih Vermicelli Sumber Protein Hewani Ayam Corned Beef Daging anak sapi Daging bebek Daging domba Daging kelinci Daging sapi Ekor sapi Ginjal Ham HatiSapi Ikan Ikan mas Ikan sardin Ikan tongkol Kantong perut Sapi babat Keju Leverworsi Lidah Merahtelurayam Merah telur bebek Paru-paru sapi Putihtelurayam Putih telur bebek Sosis Telurayam Telurbebek

1250 100 200 100 50 93 73 200 1250 110 100
-

100 350 300 350 350 489 159 300 350 213 300 335 501 470

(spek) Margarin Tak garam Mentega Santan

1500 987 15 987 4

250 23 10 15 324

Buah-Buahan

Adpokat Anggur Apel Hijau Apel merah Arbei Belimbing Duku Jeruk nipis Jeruk Nenas Pepaya Pisang sari apel Sawo manika Lain-lain Bouillon blok Bubukcoklat

2 6
-

3,8 1 4 1 4 2 2 418 1 3

131 180
-

57 1250 900 100 108 105 190 215 228 1000 158 191

158 100
-

250 169 106 136 172 158 250 176 258

5000 500

100 1000

Udang Usus besar Usus kecil

185 84 123

333 177 213

Coklat pahit Garam Gula merah Gula putih Hagelslag Jam Kopi Madu Teh Tomato ketcup

4 38758 24 0,3 25 15 0,03 60 10 2100

830 4 230 0,5 300 75 16 210 1800 800

Sayuran Andewi Bayam Bawang merah Bawang putih
Bit

14 4 9 18
36

Daunpepayamuda Kacangbuncis Kacang Kapri (biji) Kapri Kembang kool Ketimun Kool Peterseli Petsay Prei Selada Seledri batang Seledri daun Wortel

16 18 11 1 20 5,3 10 28 22 5 15 75 4 70

BAB. III PENATALAKSANAAN OBAT DAN ALAT KESEHATAN

III. PENGELOLAAN OBAT DAN ALAT KESEHATAN A. Pengelolaan Obat dan Alat Kesehatan di Arab Saudi

Keberhasilan pelayanan kesehatan haji di Arab Saudi tidak dapat dipisahkan dengan pengelolaan obat dan alat kesehatan yang baik. Yang dimaksud dengan pengelolaan obat dan alat kesehatan adalah pengadaan dan pendistribusian obat dan alat kesehatan dengan jenis yang sesuai, jumlah yang cukup, dan tepat waktu. Pengadaan obat dan alat kesehatan dilaksanakan menurut ketentuan yang berlaku dengan mengacu pada perencanaan yang telah dibuat sebelumnya. Perencanaan kebutuhan obat dan alat kesehatan dibuat dengan mempertimbangkan beberapa hal antara lain : pola penyakit sesuai iklim di Arab Saudi, standar terapi yang mengutamakan daftar obat esensial nasional (DOEN) dan obat generik untuk penentuan jenis : jumlah jamaah dan pola komsumsi obat dan alat kesehatan untuk penentuan jamaah. Pendistribusian obat dan alat kesehatan dilaksanakan di masing-masing daerah kerja (Jeddah, Makkah, Madinah, Arafah, Mina) dengan sangat memperhatikan ketepatan waktu kesediaan sesuai jenis dan jumlah yang diperlukan. Prosedur pendistribusian dilakukan dengan cara ‘droping’ dan atau permintaan Iangsung melalui pencatatan dan petaporan oleh masing-masing daerah kerja. Dengan sistem administrasi yang tertib akan segera diketahui hal-hal krisis yang terkait dengan ketersediaan obat dan alat kesehatan. B. Daftar Kebutuhan Obat Dan Alat Kesehatan. TABEL: DAFTAR OBAT DAN ALAT KESEHATAN NAMA OBAT BENTUK PERSEDIAAN 2 I. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Anti Infeksi Kaplet Kapsul Tablet Kaplet Kapsul Tablet Tablet Tablet Tablet Kapsul 3

NO

1

Amoxcillin 500 mg Ampicillin 500 mg Chloramhenicol 250 mg Cotrimoxazol Cyprofloxacin Erythomycin 250 FG Thoches Kifarox Metronidazol 500 mg Teracyclin II. Obat Saluran Pernafasan II. 1.Anti Batuk, Ekspektoran, Mukolitik

11. 12. 13. 14. 15.

Bisolvon 8mg Dextrometorphan Glyceril Guaiacolat Ilustab OBH 11.2. Anti Asthma Aminophylin Asthma Soho Brasmatric Bronchophylin Dexamethason Prednison 11.3 Anti Tuberkolosa Ethambutol Parabutol Pyrifort Pyridoxin Rifampicin 600 mg 11.4 Anti Alergi CTM Incidal II. 5 Anti Common Cold. Antipiretik Acctosal Free Cold Merzatusin Noza Paracetamol Paratusin Supratlu Ill. Analgesik, Anti Inflamasi, Anti Rheumatik Diclofenac Na Ibuprofen Mefenamic Acid Rheumakur IV. Anti Depresan Diare Chlorpromazine 100mg Chlorpromazine 25 mg Diazepam Haloperidol Malleril V. 1. Anti Diare, Anti Spasmodik Buscopan Plus Dulcolax Extract Belladon Fitodiar Lodia

Tablet Tablet Tablet Tablet Botol

16. 17. 18. 19. 20. 21.

Tablet Tablet Tablet Kapsul Tablet Tablet

22. 23. 24. 25. 26.

Tablet Tablet Tablet Tablet Kaplet

27. 28.

Tablet Kapsul

29. 30. 31. 32. 33. 34. 35.

Tablet Tablet Tablet Tablet Tablet Tablet Tablet

36. 37. 38. 39.

Tablet Tablet Tablet Tablet

40. 41. 42. 43. 44. 45.

Tablet Tablet Tablet Tablet Tablet Tablet

46. 47. 48. 49. 50.

Tablet Tablet Tablet Tablet Tablet

51. 52. 53. 54.

New Diatabs Oralit Pavaverin Systabon

Tablet Sak Tablet Drage

55. 56. 57. 58. 59.

V. 2 Antasida Cimetidine Gestabil Homag Magnam

Tablet Tablet Tablet Tablet

60. 61.

V. 3 Anti Emetika I Anti Vertigo Antimo Plasil

Tablet Tablet

62. 63. 64.

VI. Anti Diabetika Diamicron Glibenclamide Glurenorm VII. Koagulan AdonaAC 17 Adona Forte Phytomenadion VIII. Obat Kardiovaskuler

Tablet Tablet Tablet

65. 66. 67.

Tablet Tablet Tablet

68. 69. 70. 71. 72. 73.

VIII. 1. Anti Hipertensi Capoten 25 mg Brinerdin Caterpers Kaptopril Nitedipin Reserpin VIII. 2 Obat Angina Cedocard 5 mg Cedocard 10 mg Persantin VIII.3 Anti Aritmia Digoxin Disopyramide Folia Digitalis VIII. 4 Duretika Furosemide 40 mg IICT 25 mg

Tablet Tablet Tablet Tablet Tablet Tablet

74. 75. 76.

Tablet Tablet Tablet

77. 78. 79. 80. 81. 82.

Tablet Tablet Tablet Tablet Tablet

IX.Obat Metabolisme, Ensym & Vitamin IX.1. Enzim Pencernaan

83. 84. 85. 86. 87. 88. 89. 90. 91. 92. 93.

Enzymfort Tripanzym IX. 2 Vitamin dan Multivitamin Becefort Bio ATP Combionta Galanta C Geriadyn Neorobion Neurovit E. Oskavit Vitamin B 1

Tablet Tablet

Kaplet Kaplet Kaplet Drage Kapsul Tablet Kaplet Tablet Tablet Tablet Tablet Tablet

IX. 3 Hormon 94. Duphaston 95. Pnmolut N 96. Provera X. 1 Obat Kulit Biocream Choramphecort Kemicetine S.K. Lasonil Mycofug S.K. Phenergan Cream X.2 Obat Mata AbalonA.T.M Cendo Fenict T.M Cendo Vasason T.M Cendo Vision T.M Chloramphenicol S.M Oxytetracyclin S.M X. 3 Obat Hidung Alupent Spray 109. Uladin Nasal Spray Respolin Inhaler X. 4 Anti Infeksi Mulut Albothy) Gentian Violet X.5 Antiseptika/Desiffektan Daryantulle Septadine XI. Cairan Infus Atrovent Sol Dextrose 5 % Dextrose 10 % Dextrose 40 % NaCLO,9% Ringer Dextrose

97. 98. 99. 100. 101. 102.

Tube Tube Tube Tube Tube Tube

Botol Botol Botol Botol Tube Tube

Botol Botol Botol

Botol Botol

Lembar Botol

Botol Koif Koif Koif Koif Kolt

Ringer Lactate XII. Obat Suntik AdonaAc 17 2 cc Adrenalin Alupent Aquabidest p.i Avil 2cc Buscopan2cc Chlorpromazine 25 mg Cortison Delladryl Dellamethason Dellamidon Deazepam Kalpicillin 1000mg Kemicitine Neurobio Primperan Serenace Transamin XIII. Alat Kesehatan XIlI.1 .Dari Kapas I Kain Cotton Buds Gaas Steril Kapas Plester Surgical Masker Tensoplast Verban XIII 2. Dan Stainless I Plastik Catheter Tip Disposable Surgery Glove Disposable Syringe 2,5cc Disposable Syringe 5cc Disposable Syringe 10cc Disposable Syringe 20cc Foley Catheter Nr.18 Foley Catheter Nr.20 Infusion Set Type 500 LVCatheterNr.18 LV Catheter Nr.20 LV Catheter Nr.22 UrineBagE2TypeA.

Koif

129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141

Ampul Ampul Ampul Ampul Ampul Ampul Ampul Ampul Vial Vial Vial Ampul Vial Ampul Ampul Ampul Ampul Ampul

142 143 144 145 146 147 148

Pak Pak Gulung Gulung Buah Pak Gulung

149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161

Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah

Xlll.3. Dan Karet 162 Steril Surgeon Glove 7,5 XIV. Lain-lain 163 Blood Chemistry

Buah

Unit

164 165 166 167 168 169 170

Jelly EKG Kertas EKG KJJelly Reagent Acutrend Glucose Tas Kloter Ultraproct Oint Xylocain Jelly

Tube Gulung Tube Set Buah Tube Tube

DAFTAR OBAT-OBATAN DAN ALAT KESEHATAN TAS KLOTER NAMA OBAT / ALAT KESEHATAN I. ANTI INFEKSI Ampicillin 500 mg Amoxillin 500 mg Klorampenikol 250 mg Erythromycin 250 mg Tetracyclin 250 mg Kotrimoxazol 480 mg II. OBAT SALURAN NAFAS II. 1. ANTITUSIF, EXSPEKTORAN, MUKOLITIK Dextrometorphan Bisolvon Sucus Liquintae Amonium Clorida Menthapip mentol Aqua (OBH) Glyceral Gualacolat (GG) . II. 2. ANTI ASMA Theophylin (bronchophyline) Aminophylin Prednisolon 5 mg (Prednison) Dexamethason 5 mg II. 3. ANTI ALLERGI Clorpheniramine Maleat 4 mg (CTM) Incidal II 3. ANTI COMMON COLD 1 Noscapin CTm, Gliseral Guaiakolat, Parasetamol 500 mg (Paratusin) 2 Parasetamol 500 mg, Cafein, CTM, GG Supraflu 3 Acetosal III. ANALGETIK ANTI INFLAMASI NON STEROID, ANTI RHEUMATIK Parasetomol 500 mg (Parasetamol) Rheumakur Mefenemid Asid 250 mg (Ponstan) Mexonac 25 lbol JUMLAH

200 kaplet 200 kapsul 100 kapsul 100 kapsul 100 kapsul 100 kapsul

100 tablet 100 tablet 350 - 480 botol 200 tablet

100 kapsul 100 tablet 200 tablet 200 tablet

1000 mg 20 kapsul

200 tablet 200 tablet 100 tablet

1 2 3 4 5

300 tablet 100 kaplet 100 kaplet 100 tablet 40 tablet

6 7

Alinamin F Voltaren 50 mg

200 tablet 10 tablet

1 2

IV. DEPRESAN SUSUNAN SYARAF PUSAT MUCOLITIK Chlorpromazine HCL 25 mg 100 tablet Diazepam 5 mg 50 tablet V. ANTI DIARE I SPASMOLITIKA New Diatab Lodia Film Coated Papaverin 40 mg Oralit VI.ANTISIDA Magnam Gestabil VII. ANTIEMETIKUM Antimo (Dimenhidrinate) VIII. ANTI DIABETIK ORAL Gliker, clamide Diamicron IX.ANTI KOAGULAN Phytomenadion 10 mg X. OBAT-OBAT KARDIOVASKULER X.I. ANTI HYPERTENSI Reserpine 0,25 mg Catapres

1 2 3 4

100 tablet 100 tablet 100 tablet 100 bungkus

1 2

300 tablet 200 tablet

1 1 2 1

50 tablet 40 tablet 30 tablet 50 tablet

1 2

50 tablet 20 tablet 30 tablet

X.2. ANTI ANGINA 1. Cedocard / Persatin / Propronolol HCL (diberikan salah satu, kalau sudah diberikan cedokard, jangan diberikan persatin atau propranolol HCL) X.3. ANTI ARITMIA Digoxin X.4. DIURETIKA Furosemide HCT XI.OBATMETABOLISME/ ENZIM DAN VITAMIN XI.1 ENZIM PENCERNAAN Enzymfort XI. 2. VITAMIN / MULTI VITAMIN Combioita Neurobion Vitalong C TRT

1

30 tablet

1 2

50 tablet 50 tablet

1

100 tablet

1 2 3

200 kapsul 200 kapsul 100 kapsul

4

Geradyn XII. OBAT KULIT, MATA DAN XII 1. OBAT KULIT Bio Cream Phenergan Cream XII.2. INFEKSI PADA KULIT Mycofug zalf Kemcetin zalf HIDUNG

100 kapsul

1 2

20 tube 2 tube

1 2

2 tube 2 tube

1 2 3 4 1 1

XII.3. INFEKSI PADA MATA Albalon A tetes mata Visine Eye Drop Oxytetracycline salep mata Kemicetin 1 % salep mata XIII. OBATMULUT Gentian Violet XIV. CAIRAN INFUS Ringer lactat XV. OBAT SUNTIK Kalpicilin 1000 mg Delladryl 10cc Dellamidon 10 cc Avil 2 cc Adrebakub AdonaAC Neurobion Buscopan 2 cc Chlorpromazine Diazepam Aquabidest pro injek XVI. ALAT-ALAT KESEHATAN XVI.1. BENTUK KAIN Tensoplast Cotton bug Gas steril Kapas 100 mg Plester Verban Surgical masker XVI.2. BENTUK STAINLESS Gunting set Classic stetoscope Sphygnomanometer Penlight steinless

3 botol 3 botol 3 tube 3 tube 1 botol 1 kolt

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

1 vial 2 vial 1 ampul 5 ampul 2 ampul 5 ampul 1 Ampul 2 ampul 2 ampul 2 ampul 2 vial

1 2 3 4 5 6 7

1 pak 1 pak 1 pak 1 pak 1 pak

1 2 3 4

1 buah 1 buah 1 buah 1 buah

1 2 3 4 5

XVI.3 BENTUK KARET I PLASTIK Steril surgeon glove 7,5 infus set + abocath Dispossible syringge 2,5cc Dispossible syringe 5cc Catether No. 18 & 20 XVII. LAIN-LAIN (FORM LAPORAN) Cs 1 Ls Lru Tru Lm Lp.1

1 buah 1 set 10 buah 5 buah 2 buah

1 2 3 4 5 6

5 buku 1 buku 1 buku 1 buku 1 buku 1 buku

BAB. IV PENATALAKSANAAN SANITASI DAN SURVEILANS
IV. PENATALAKSANAAN SANITASI DAN SURVEILANS

Kegiatan pengawasan sanitasi lingkungan dan surveilans penyakit bukan hanya tanggung jawab Petugas Sansur, merupakan tugas seluruh petugas kesehatan haji baik di kloter maupun non-kloter (Subko). A. Di Kloter 1. Pengawasan Kesehatan Lingkungan Pengawasan meliputi: a. Pemondokan jemaah haji, antara lain keadaan kamar tidur, halaman / gang tempat sampah, kamar mandi, WC, persediaan air, pencahayaan, ventilasi dan saluran air kotor. Bila ditemui keadaan yang tidak baik I memadai petugas TKHI kloter menginformasikan kepada ketua kloter untuk selanjutnya disampaikan ke Maktab/Muassasah. b. Pengawasan katering jamaah haji, bila kioter tersebut dilayani oleh katering. c. Penyuluhan kesehatan, dapat dilakukan sejak jamaah haji berada di asrama haji Embarkasi, pesawat terbang, waktu istirahat di Bandara King Abdul Aziz, selama di pemondokan, dan di kemah Arafah Mina. 2. Pengamatan Penyakit Pengamatan penyakit dilakukan atas dasar kasus yang ditangani di kloter, terutama penyakit-penyakit menular atau berpotensi menjadi kejadian luar biasa (KBL). Terdapat beberapa penyakit yang dapat menimbulkan KLB, antara lain diare, kolera, keracunan makanan, meningitis, encephalitis, hepatitis, dan titus abdominalis. a. Diare Penyakit ini ditandai dengan perubahan bentuk dan konsitensi tinja melembek sampai mencair dan bertambahnya frekuensi buang air besar lebih dari biasanya (Iazimnya 3 kali atau lebih dalam sehari). Tindakan yang dilakukan oleh: 1) Pengawasan terhadap tempat atau makanan yang diduga sebagai penyebab. 2) 3) 4) Pencegahan dengan mengamankan makanan dan upaya sanitasi. Penyuluhan, baik pada penderita maupun pada jamaah lain yang berada di sekitar penderita. Isi formulir Lw. 1. dan segera kirim ke Subko TKHI setempat.

b. Kolera Penyakit ini ditandai dengan serangan diare akut dengan frekuensi yang tinggi yang sering tanpa rasa mulas disertai muntah dan pada umumnya disertai dehidrasi. Pada usap dubur penderita dapat ditemukan vibrio cholera. Tindakan yang dilakukan adalah:

1) Pengawasan terhadap tempat atau makanan yang diduga sebagai penyebab. 2) Pencegahan dengan mengamankan dan upaya sanitasi. 3) Penyuluhan, baik pada penderita maupun pada jamaah lain yang berada di sekitar penderita. 4) Segera isi formulir Lw. 1 dan kirim ke Subko TKHI setempat. c. Keracunan Makanan Penyakit ini ditandai dengan mual, muntah, diare, sakit kepala serta berhubungan dengan mengkonsumsi makanan/minuman hasil olahan. Tindakan yang dilakukan oleh: 1) Pengawasan terhadap tempat atau makanan yang diduga sebagai penyebab. 2) Pencegahan dengan mengamankan dan upaya sanitasi. 3) Penyuluhan balk pada penderita maupun pada jamaah lain yang berada di sekitar penderita. 4) Segera isi formulir Lw. 1 dan kirim ke Subko TKHI setempat. d. Meningitis meningokokus Penyakit ini ditandai dengan demam tiba-tiba, sakit kepala hebat sertai mual muntah, nyeri sendi otot serta rangsangan meningeal seperti kaku kuduk, nyeri tengkuk. Seringkali disertai ptechie. Pada tahap dini sekali kadang hanya demam/panas tanpa disertai tanda-tanda rangsangan meningial. Dengan demikian penderita dengan gejala panas/demam saja patut dicurigai sebagai penderita meningitis. Upaya yang perlu dilakukan meliputi: 1) Merujuk penderita ke BPHI 2) Penyuluhan tentang penyakit Meningitis meningokokus dan upaya pencegahan secara berulang-ulang kepada seluruh jemaah haji. 3) Pencegahan dengan cara menganjurkan kepada jamaah untuk selalu menggunakan masker, menghindari kontak dengan penderita dan daerah padat manusia, menggunakan semprotan air untuk menjaga kelembaban hidung dan tenggorokan serta makan minum yang cukup. 4) Memberikan propilaksi kepada seluruh petugas dan jamaah kioter yang terinfeksi. 5) Segera isi formulir Lw. 1 dan kirim ke Subko TKHI setempat. e. Encephalitis Penyakit ini ditandai dengan demam tinggi mendadak, sakit kepala, pusing, kesadaran cepat menurun sampai koma, mual, muntah, kaku kuduk, kejang parese atau paralise. Upaya yang perlu dilakukan meliputi: 1) Merujuk penderita ke BPHI atau RSAS 2) Penyuluhan kepada seluruh jamaah haji dan anjuran kepada jamaah untuk menghindari aktifitas-aktifitas yang tidak perlu. 3) Menjaga konsumsi makanan tertentu. 4) Segera isi formuHr Lw. 1 dan kirim ke Subko TKHI setempat. f. Hepatitis Penyakit ini ditandai dengan icterus, demam, lemah, mual, nyeri tekan pada perut kuadran kanan atas dan urine berwarna teh pekat. Upaya yang perlu dilakukan meliputi 1) Segera rujuk penderita ke BPHI atau RSAS. 2) Penyuluhan kepada seluruh jamaah haji dan anjuran kepada jamaah untuk menghindari aktifitas-aktifitas yang tidak perlu.

3) Menjaga konsumsi makanan tertentu. 4) Segera isi formulir Lw. 1. dan kirim ke Subko TKHI setempat. g. Titus abdominalis Penyakit ini ditandai dengan demam tinggi terus menerus selama 1 minggu atau Iebih, kadang-kadang disertai penurunan kesadaran. Upaya yang perlu dilakukan meliputi: 1) Segera rujuk penderita ke BPHI 2) Pengawasan lingkungan dan upaya sanitasi (desinfeksi) 3) Penyuluhan kepada seluruh jamaah haji. 4) Pencegahan dengan cara mengajurkan kepada jamaah untuk tidak makan sembangan dan menggunakan peralatan makan bekas penderita. 5) Segera isi formulir Lw. 1 dan kirim ke Subko TKHI setempat. B. Di BPHI 1. Pengawasan Kesehatan Lingkungan a) Pemeriksaan suhu udara 3 kali dalam sehari menggunakan thermometer maksimum-minimum, yaitu pada pukul 06.00, 14.00 dan pukul 20.00. b) Pengukuran kelembaban udara 3 kali sehari berbarengan dengan pengukuran suhu udara. Alat yang digunakan adalah hygrometer rambut yang diletakkan secara horizontal di ruangan dan luar ruangan. c) Pengawasan pemondokan jamaah haji, meliputi: 1) Bagian luar gedung seperti kebersihan, bak-bak sampah, saluran air kotor dan petugas kebersihan. 2) Bagian dalam gedung seperti luar kamar tidur, persediaan air, WC, kamar mandi, ventilasi, pencahayaan, tenda, dapur dan kebersihan Iantai. 3) Pemeriksaan kuantitas dan kualitas air. Penghitungan jumlah persediaan air adalah dengan cara mengalikan jumlah jamaah dengan kebutuhan minimal 60 liter! orang/hari. Seclangkan pemeriksaan kualitas air dengan cara memeriksa pH dan sisa chior dalam air secara acak. Sebagai acuan pH antara 6,5-9,2 dan sisa chlor maksimal 0,4 ppm. d) Pengawasan katering yang meliputi pengawasan dan bimbingan terhadap pengamanan bahan makanan, kesehatan pengelola, persediaan air minum, pengelolaan air limbah, perlindungan terhadap makanan, serta pengangkutan/distribusinya. 2. Pengamatan Penyakit Pengamatan penyakit (surveilans) meliputi kegiatan pengumpulan, pengolahan, analisis dan penyajian data serta penyebarluasan informasi untuk ditindak lanjuti. a. Pengumpulan data Pengumpulan data meliputi data kesakitan harian dan kloter dan BPHI; data kematian diri kloter, BPHI dan RSAS; data kelahiran dari kloter, BPHI dan RSAS; data rujukan kloter dan BPHI; data hasil penyelidikan epidemiologi bila ada KLB, serta data lain yang diperoleh dari Subko TKHI dan Kantor Kesehatan Haji Arab Saudi. b. Pengolahan data Pengolahan data meliputi rekapitulasi semua laporan harian dan

laporan wabah, membuat tabel dan grafik, serta pengujian statistik bila diperlukan. c. Analisis data Analisa data untuk melihat kelompok-kelompok risiko tinggi dari variabel waktu, tempat dan orang. d. Penyajian data Penyajian data disajikan baik dalam bentuk narasi, tabel maupun grafik e. Tindak lanjut penanggulangi bila dari hasil pengamatan tersebut terjadi letusan penyakit. f. Desiminasi informasi antar Subko TKHI daerah kerja. 3. Penanggulangan KLB Langkah-langkah yang perlu dilakukan bila terjadi KLB a) Pelayanan medik penderita yang dilaksanakan oleh TKHI kloter, BPHI atau RSAS. Dilakukan tindakan terapi termasuk rujukan dan isotasi bila perlu. b) Pelaporan secara berjenjang; kloter ke Subko TKHI, Subko TKHI ke koordinator TKHI dan Koordinator TKHI ke Pimlakhar. c) Penyelidikan epidemiologi yang dilakukan petugas sansur dibantu dokter kloter dan BPHI dengan cara: 1) Menegakkan diagnosis dan menentukan etiologi penyakit 2) Memastikan ada tidaknya KLB 3) Membuat deskripsi KLB menurut waktu, orang dan tempat. 4) Menganalisis dan menentukan sumber dan cara penularan. 5) Mengidentifikasi jamaah yang mempunyai risiko tinggi. 6) Penanggulangan KLB yang melibatkan seluruh TKHI dan TPHI yang meliputi: •Tindakan terhadap sumber penular seperti isolasi penderita, pengobalan pendetita •Tindakan terhadap organisme penyebab misalnya penyehatan air, penyehatan makanan/minuman, penyehatan pondokan •Tindakan terhadap jamaah misalnya vaksinasi, - penyuluhan. 4. Pemantauan Jamaah Haji Yang Dirawat di RSAS Pemantauan dilakukan oleh Petugas Sansus dengan dibantu oleh Tenaga Musiman (Temus) setiap hari ke rumah sakit-rumah sakit di masing-masing daerah kerja. 5. Pencatatan dan Pelaporan a) Pencatatan menggunakan form Ck. 4 setiap metakukan kunjungna ke pemondokan/katering. b) Pencatatan menggunakan form Cw. 4a, Cw. 4b dan Cw. 4c bila melakukan penanggulangan KLB. c) Monitonng laporan dari kloter dan BPHI menggunakan form Ck. 4. d) Kompilasi laporan kioter dan BPHI. e) Membuat laporan khusus keadaan suhu dan kelembaban udara. f) Menyiapkan laporan harian Subko TKHI menggunakan form Lh.4a g) Menyiapkan laporan ke Dinas Kesehatan Arab Saudi menggunakan form Lh.4b

PENUTUP Demikian buku Pedoman Penatalaksanaan Penyakit Pada Jamaah Haji ini disusun sebagal acuan bagi petugas haji TKHI Kloter dan Non Kioter dalam melaksanakan tugasnya dilapangan nanti.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->