Anda di halaman 1dari 91

REVIU LKPD

BASIS AKRUAL
Suyono SE.,MBA.,Ak.,CFE
Pusdiklat BPK-RI

FASILITATOR

Suyono
SE.,MBA.,Ak.,CFE

Pendidikan

2
4

S1 : FE-UI (Akuntansi)
S2 : MM-UGM (Strategik)
Profesional :
Ak
CFE (ACFE)

Back to main

Karir

2002 -2003 : Auditor E&Y


2004-2010 : Auditor BPK
2010-2012 : Perencana StrategisBPK
2012- saat ini : Widyaiswara

Back to main

1
Data Diri

2
4

TTL: Blora, 14 -8- 1980


Istri

: Dwi Mulyani ST

Anak : Nargis SW
Ilham BW

Back to main

1
3

2
Kontak

Email : suyonos@yahoo.com
Twitter :
@suyonos
HP : 0817114144

Back to main

Fasilitator
Peserta
dewasa

Existing
Knowledge

New
Knowledge

Pemahaman
baru

Modul
dan kasus

Model Pembelajaran

Andragogi

Tujuan Pembelajaran

Deletion
Distorsi

Generalisasi

Persepsi

TUJUAN PEMBELAJARAN

Peserta mampu
melaksanakan reviu
LKPD berbasis akrual

Mampu memiliki
pemahaman SAP
Akrual

Mampu melaksanakan
pemahaman entitas

Mampu melaksanakan
penilaian SPI

Mampu melaksanakan
prosedur analitis atas
LKPD

Mampu menyusun
laporan Reviu LKPD

AGENDA DIKLAT

Gambaran
Umum Reviu
LKPD

SAP
berbasis
akrual

Penilaian
SPI

Prosedur
Analitis
LKPD

Penyusunan
Laporan
Reviu

Agenda 1

GAMBARAN UMUM REVIU LKPD

DEFINISI REVIU
Reviu atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah adalah
prosedur penelusuran angka-angka, permintaan keterangan
dan analitis yang harus menjadi dasar memadai bagi
Inspektorat untuk memberi keyakinan terbatas atas laporan
keuangan bahwa tidak ada modifikasi material yang harus
dilakukan atas laporan keuangan agar laporan keuangan
tersebut disajikan berdasarkan Sistem Pengendalian Intern
(SPI) yang memadai dan sesuai dengan Standar Akuntansi
Pemerintahan (SAP).

REVIU VS AUDIT
Tujuan
untuk memberikan keyakinan
terbatas bahwa laporan
keuangan disajikan telah
sesuai dengan SAP.

TUJUAN
memberikan pernyataan opini
tentang tingkat kewajaran
informasi yang disajikan
dalam LKPD

REVIU VS AUDIT...................(4-END)
Pelaporan

PELAPORAN

Bersifat pernyataan negatif

Bersifat pernyataan positif


Opini Baku

REVIU VS AUDIT...........................(3)
Metode Pembuktian

METODE PEMBUKTIAN

Bukti analisis

Bukti Analisis
Bukti Pendukung
Peristiwa/kejadian
Bukti Alamiah

REVIU VS AUDIT...........................(2)
Prosedur

PROSEDUR

Pemahaman Entitas
Penilaian SPI
Prosedur Analitis

Pemahaman Entitas
Penilaian SPI
Pengujian Pengendalian
Pengujian Subtantif

REVIU AUDIT
Resiko
pengendalian
Resiko
Inherent

Resiko
deteksi

Resiko
Audit

AR = IR X CR X DR

CRITICAL POINT DALAM REVIU


Kesesuaian
dengan SAP

Per-angkaan
( akurat,
handal,
absah)

SPI yang
Memadai

KESESUAIAN DENGAN SAP

Asersi Keterjadian/Keberadaan
Asersi Kelengkapan
Asersi Hak dan Kewajiban
Asersi Penilaian dan Alokasi
Asersi Penyajian dan Pengungkapan

MANAJEMEN REVIU LKPD

Perencanaan

Pelaksanaan

Pelaporan

Pemahaman entitas
Penilaian SPI
Penyusunan PKR

Penelusuran angka
Permintaan keterangan
Prosedur analitis

Koreksi
LHR

Agenda 2

SAP BASIS AKRUAL

PP 71/2010 TENTANG SAP Mengatur:


Pengakuan, Pengukuran, Penyajian, Pengungkapan Pos-pos Laporan Keuangan,
dan Metode-metode Akuntansi

PERMENDAGRI NOMOR 64 TAHUN 2013


TANGGAL 3 DESEMBER 2013

PERMENDAGRI TENTANG SAP BERBASIS AKRUAL


Mengatur:
1. Pengakuan, Pengukuran, Penyajian, Pengungkapan Pos-pos Laporan Keuangan, dan
Metode-metode Akuntansi
2. Panduan Penyusunan Kebijakan dan Sistem Akuntansi Pada Pemda teknik
penyusunan lap serta teknik konversi atas akun anggaran yang berbeda

PERKADA TENTANG KEBIJAKAN AKUNTANSI DAN


SISTEM AKUNTANSI PEMDA (SAPD) BERBASIS AKRUAL
MENGHASILKAN LAPORAN KEUANGAN YANG DAPAT
MEMBANDINGKAN ANTAR PERIODE DAN ANTAR ENTITAS

23

DEFINISI DAN URGENSI AKUNTANSI BERBASIS AKRUAL


BASIS AKRUAL adalah suatu basis akuntansi di mana TRANSAKSI EKONOMI ATAU PERISTIWA
AKUNTANSI DIAKUI, DICATAT, DAN DISAJIKAN dalam laporan keuangan PADA SAAT
TERJADINYA TRANSAKSI tersebut, tanpa memperhatikan waktu kas diterima atau dibayarkan.
PENDAPATAN DIAKUI/DICATAT PADA SAAT TIMBULNYA HAK dan tidak semata-mata pada saat
kas masuk ke kas negara.
BELANJA DIAKUI/DICATAT PADA SAAT TIMBULNYA KEWAJIBAN atau tidak selalu pada saat
kas keluar dari kas negara.
Aset diakui pada saat potensi ekonomi masa depan diperoleh dan mempunyai nilai yang dapat diukur
dengan andal.
Kewajiban diakui pada saat dana pinjaman diterima atau pada saat kewajiban timbul.

Urgensi Implementasi Akuntansi Berbasis Akrual:


International Best Practice dalam pertanggungjawaban pengelolaan keuangan negara
khususnya untuk meningkatkan keandalan penyajian nilai hak dan kewajiban
pemerintah;
Perhitungan biaya lebih akurat untuk mencapai suatu output tertentu sebagai dasar
penilaian kinerja dibandingkan jika hanya berdasarkan basis kas;
Penyajian aset di neraca menjadi lebih andal, karena adanya perhitungan beban
penyusutan, amortisasi dan penyisihan piutang tak tertagih untuk dapat menyajikan
aset sesuai dengan nilai bersih yang dapat direalisasikan (net realizable value).

24

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

Perbedaan Antara SAP Berbasis Akrual dan Kas Menuju Akrual


SAP Berbasis Kas
Menuju Akrual:

SAP Berbasis Akrual:

Komponen LKPD terdiri dari


4 laporan:
1. Laporan Realisasi
Anggaran (LRA)
2. Neraca
3. Laporan Arus Kas (LAK)
dan
4. Catatan atas Laporan
Keuangan (CaLK).

Komponen LKPD terdiri dari


7 laporan:
1. Laporan Realisasi
Anggaran (LRA)
2. Laporan Perubahan SAL
3. Laporan Operasional (LO)
4. Neraca
5. Laporan Perubahan
Ekuitas (LPE)
6. Laporan Arus Kas (LAK)
dan
25

Kebijakan Akuntansi
Pemerintah Daerah

Sistem Akuntansi
Pemerintah Daerah

SUBSTANSI
PERMENDAGRI
64 TAHUN 2013

Bagan Akun Standar


(BAS)

Konversi Penyajian
LRA

Penyajian kembali
(Restatement)
26

Mengapa Harus Akrual (Yuridis)

Menyukseskan Implementasi Akuntansi Berbasis Akrual sebelum 2015

A K RU
A
L

Mengapa Harus Akrual (Manfaat)

Gambaran Utuh Posisi Keuangan


Akurasi Hak dan Kewajiban

Manfaat

Penyajian Wajar Nilai Aset

Alat Ukur Penggunaan Sumberdaya


Keterkaitan Operasi & Neraca

Menyukseskan Implementasi Akuntansi Berbasis Akrual sebelum 2015

A K RU
A
L

Dampak Kesalahan Implementasi SAP

1. Ketidakpatuhan Terhadap Peraturan Perundang Undangan.


2. Ketidakandalan Penatausahaan dan Pengamanan Aset.
3. Inefektifitas dan Inefisiensi dalam Pencapaian Tujuan.
4. Ketidakwajaran Penyajian Laporan Keuangan.
5. Kesalahan Pengambilan Keputusan atas dasar Laporan Keuangan.
6. Opini Audit atas Laporan Keuangan yang Menurun.
7. Penurunan Tingkat Transparansi Publik.
8. Penurunan Kepercayaan Masyarakat.
9. Politisasi dalam Isu Kepemimpinan.
Menyukseskan Implementasi Akuntansi Berbasis Akrual sebelum 2015

A K RU
A
L

PP NO. 71 TAHUN 2010 TENTANG SAP


Standar Akuntansi Pemerintahan, yang selanjutnya disingkat SAP,
adalah prinsip-prinsip akuntansi yang diterapkan dalam
menyusun dan menyajikan laporan keuangan pemerintah.

Menyukseskan Implementasi Akuntansi Berbasis Akrual sebelum 2015

A K RU
A
L

Apa Saja yang Berubah karena Basis


Akrual

Jumlah Laporan Keuangan Pokok (4 menjadi 7)


- Lama: Neraca, LRA, LAK dan CaLK
- Ditambah baru: LPE, LO dan LPSAL
Basis CTA:
- LRA dan LAK berbasis Kas
- Neraca berbasis Akrual

Basis Akrual:
- LRA, LAK dan LPSAL berbasis
Kas
- Neraca , LPE dan LO berbasis
Akrual

Konsep Pengakuan Pendapatan LO dan Beban


endapatan LO diakui saat timbulnya hak atau diterimanya sumber daya
konomi yang menambah kekayaan bersih pemerintah;
eban diakui saat timbulnya kewajiban atau dikonsumsinya sumber
aya ekonomi yang mengurangi kekayaan bersih pemerintah
Penyesuaian Format Penyajian pada Neraca dan LAK
Menyukseskan Implementasi Akuntansi Berbasis Akrual sebelum 2015

STRUKTUR PSAP AKRUAL VS


KAS MENUJU AKRUAL

A K RU
A
PSAP
BASIS KAS MENUJU AKRUAL
L

BASIS AKRUAL

PSAP
01

Penyajian Laporan Keuangan

Penyajian Laporan Keuangan

PSAP
02

Laporan Realisasi Anggaran

Laporan Realisasi Anggaran Berbasis


Kas

PSAP
03

Laporan Arus Kas

Laporan Arus Kas

PSAP
04

Catatan atas Laporan Keuangan

Catatan atas Laporan Keuangan

PSAP
05

Akuntansi Persediaan

Akuntansi Persediaan

PSAP
06

Akuntansi Investasi

Akuntansi Investasi

PSAP
07

Akuntansi Aset Tetap

Akuntansi Aset Tetap

PSAP
08

Akuntansi Konstruksi Dalam


Pengerjaan

Akuntansi Konstruksi Dalam


Pengerjaan

PSAP
09

Akuntansi Kewajiban

Akuntansi Kewajiban

Menyukseskan Implementasi Akuntansi Berbasis Akrual sebelum 2015

HUBUNGAN SAP, SISTEM, LAPORAN


KEUANGAN, DAN OPINI AUDIT

A K RU
A
L
1

Ket:
1. Sistem akuntansi
dikembangkan
berdasarkan SAP
2. Laporan keuangan
pemerintah
dihasilkan melalui
sistem akuntansi
3. BPK melakukan
audit atas laporan
keuangan dan
memberikan opini
audit

OPINI
AUDIT
WTP
WDP
TIDAK
WAJAR
TMP

Menyukseskan Implementasi Akuntansi Berbasis Akrual sebelum 2015

KOMPONEN LAPORAN KEUANGAN


NO LAPORAN KEUANGAN

1
2
3
4
5
6
7

Laporan Realisasi Anggaran


Neraca
Laporan Arus Kas
Catatan atas Laporan Keuangan
Laporan Perubahan Saldo
Anggaran Lebih
Laporan Perubahan Ekuitas
Laporan Operasional

BASIS BASIS
KAS
AKRU
MENUJ AL
U
AKRUA
L

34

V
V
V
V
X

V
V
V
V
V

X
X

V
V

A K RU
A
L

Komponen Laporan Keuangan

LRA
LPSAL
LAK

Laporan
Keuangan
Pokok

LO
LPE
NERACA

CALK

Menyukseskan Implementasi Akuntansi Berbasis Akrual sebelum 2015

Jenis Laporan Keuangan Pemda

A K RU
A
L Financial Report
NERACA

Aset sumber daya yg dikuasai/dimiliki yg manfaat ekonomi/sosialnya


diharapkan akan diperoleh.
2. Kewajiban sumber daya yg akan dikeluarkan akibat peristiwa masa lalu.
3.
Ekuitas kekayaan bersih pemerintah (Aset Kewajiban)
1.

LO
1.
Pendapatan LO (Hak pemda/penerimaan aset yg menambah ekuitas)
2.Beban (Kewajiban pemda/konsumsi aset yang mengurangi ekuitas)
3.Transfer (Hak/kewajiban, penerimaan/pengeluaran satu entitas ke entitas
pelaporan lain)
4. Kegiatan Non Operasional
5. Pos Luar Biasa (pendapatan / beban luar biasa akibat peristiwa luar biasa,
tidak teramal, tidak sering dan di luar kendali entitas)

Accr
ual
basi
s

Laporan Perubahan Ekuitas

Kenaikan/penurunan ekuitas dibandingkan tahun sebelumnya

LAK
Menacatat penerimaan/ pengeluaran kas dari aktivitas:
1.
Aktivitas Operasional pelaksanaan APBD
2.Aktivitas Investasi penjualan/pembelian BMD
3.
Aktifitas Pendanaan pembiayaan APBD
4.
Aktivitas Transitoris PFK, dan aktifitas non anggaran lainnya.
36

Menyukseskan Implementasi Akuntansi Berbasis Akrual sebelum 2015

Cas
h
Basi
s

A K RU
A
L

Jenis Laporan Keuangan Pemda

Budgetary Report
LRA
1.

Pendapatan-LRApenerimaan kas daerah yang menambah


SiLPA/SAL dan tidak akan dibayarkan kembali.
2. Belanja pengeluaran kas daerah yang mengurangi SiLPA/SAL dan tidak
akan diterima kembali.
3.
Pembiayaan Penerimaan/Pengeluaran Kas Daerah yang akan
dibayarkan/diterima kembali.

Cas
h
Basi
s

Laporan Perubahan SAL


Kenaikan/penurunan SAL dibandingkan tahun sebelumnya.

CALK
1.Informasi tentang ekonomi makro, kebijakan fiskal/keuangan & pencapaian target Perda
APBD termasuk kendala /hambatan yg dihadapi
2.
Ikhtisar pencapaian kinerja selama tahun pelaporan;
3.Informasi ttg dasar penyusunan laporan keuangan & kebijakan akuntansi yg dipilih;
4.Penjelasan, rincian & analisis setiap pos pada laporan keuangan.
5.Informasi tambahan yg diperlukan tapi tidak disajikan dlm lembar muka laporan
keuangan.
37

Menyukseskan Implementasi Akuntansi Berbasis Akrual sebelum 2015

PERUBAHAN UTAMA PADA BASIS AKRUAL


(2-3)
KAPAN PENDAPATAN LRA ATAU LO
DIAKUI?
KONSEP UMUM
2-3)
Pendapatan-LRA
Pendapatan-LO
Penerimaan oleh
BUN/BUD atau oleh
entitas pemerintah
lainnya yang
menambah SAL
dalam periode TA
yang bersangkutan
yang menjadi hak
pemerintah, dan
tidak perlu dibayar
kembali oleh
pemerintah

LRA
vs
LO

Hak pemerintah yang


diakui sebagai
penambah nilai
kekayaan bersih.
Kekayaan Bersih
adalah Selisih Aset
dengan Kewajiban
atau disebut dengan
Ekuitas.

38

PERUBAHAN UTAMA PADA BASIS AKRUAL


(2-3)
PENGAKUAN PENDAPATAN
PERPAJAKAN
NO

JENIS
PENDAPATAN

Pendapata
n
Perpajakan
(PPh,
PPN&BM, PBB,
BPHTB, Cukai
Bea Masuk,
Pajak Ekspor,
Pajak Lainnya)

SAAT PENGAKUAN
PENDAPATAN LRA

PENDAPATAN LO

Pendapatan
Self
pajak diakui Assesment
saat realisasi
kas diterima
di rekening
kas umum
negara
Official
Assesment

Pendapatan pajak
diakui saat Realisasi Kas
diterima di kas negara
tanpa terlebih dahulu
pemerintah
menerbitkan surat
ketetapan
Pendapatan pajak
diakui pada saat
timbulnya hak menagih
(saat otoritas
perpajakan telah
menerbitkan surat
ketetapan yang
mempunyai
kekuatan
39
hukum mengikat dan

PERUBAHAN UTAMA PADA BASIS AKRUAL


(2-3)
PENGAKUAN PENDAPATAN PNBP
NO

JENIS
PENDAPATAN

SAAT PENGAKUAN
PENDAPATAN LRA

PNBP

PNBP diakui
saat realisasi
kas diterima
di rekening
kas umum
negara

PENDAPATAN LO

a. Saat diterima pembayaran


PNBP dari wajib bayar atas
benefit/manfaat yang telah
diterima oleh wajib bayar
b. Saat ditetapkan PNBP
terutang melalui penetapan
instansi pengelola PNBP
maupun mitra pengelola
instansi PNBP atas
benefit/manfaat yang telah
diterima oleh wajib bayar
40

PERUBAHAN UTAMA PADA BASIS AKRUAL


(3-3)
KAPAN BELANJA ATAU BEBAN DIAKUI?
KONSEP UMUM
2-3)
Belanja-LRA
Beban-LO
Semua pengeluaran
oleh BUN/BUD yang
mengurangi SAL
dalam periode TA
bersangkutan yang
tidak akan
diperoleh
pembayarannya
kembali oleh
pemerintah

LRA
vs
LO

Kewajiban
pemerintah yang
diakui sebagai
pengurang nilai
kekayaan bersih.

41

PERUBAHAN UTAMA PADA BASIS AKRUAL


(2-3)
PENGAKUAN BELANJA ATAU BEBAN
NO

KLASIFIKASI

SAAT PENGAKUAN

BELANJA

Belanja diakui pada saat terjadinya


pengeluaran dari Rekening Kas Umum
Negara atau pengesahan dari
Bendahara Umum Negara/Kuasa
Bendahara Umum Negara.

BEBAN

Beban diakui pada saat:


a.timbulnya kewajiban;
b.terjadinya konsumsi aset;
c.terjadinya penurunan manfaat
ekonomi atau potensi jasa.
42

ILUSTRASI PENGARUH TRANSAKSI


Contoh 1: Pendapatan Sewa
Dinas A memiliki Gedung Serbaguna yang dapat disewakan. Dinas A
telah menyewakan gedung serbaguna kepada pelanggan pada tgl 25
Des 20X0 namun baru dibayar pada tgl 10 JanX1 senilai
Rp.1.000.000,Basis Kas (LRA)
Basis Akrual (LO)
20X0

20X1

20X0

20X0

Pendapatan

1.000.000

1.000.000

Belanja/Beban

Silpa/Surplus

1.000.000

1.000.000

NERACA

ANALISA:
Kondisi 20X0
Karena pada tahun 20X0 tidak ada kas yang diterima maka
tidak ada pencatatan pendapatan pada LRA di tahun 20X0
Karena pada tahun 20X0 satker telah memberikan layanan
penggunaan gedung serba guna tersebut kepada pelanggan
maka satker telah memiliki hak untuk menagih pembayaran
atas penggunaan gedung tersebut sebesar Rp. 1juta. Pada
LO hal ini dibukukan sebagai Pendapatan LO sebesar Rp. 1
juta dan pada neraca sebagai piutang sebesar Rp. 1 jt.
Kondisi 20X1
Karena kas diterima di tahun 20X1 maka LRA akan
membukukan pendapatan sebesar Rp1jt.
Neraca akan membukukan penambahan kas sebesar Rp. 1 jt
dan pengurangan piutang sejumlah Rp1.000.000

31 Des 20X0
Kas
Piutang

31 Des 20X1
0 Kas

1.000.0 Piutang
00

Kewajib
an
Kronologis
transaksi:

Kewajiba
n

1.000.0
00
0
0

Pendapatan Sewa LO 43Piutang Pendapatan Kas


masuk dan pendapatan LRA Piutang

ILUSTRASI PENGARUH TRANSAKSI


Contoh 2: Belanja/Beban Gaji
Gaji pegawai penjaga gedung bulan Des 20X0 dibayar Dinas
pada tgl 10 Jan 20X1 sebesar Rp.700.000,Basis Kas (LRA)
20X0

Basis Akrual (LO)

20X1

20X0

20X1

Pendapatan

Belanja/Beban

700.000

700.000

Silpa/Surplus

-700.000

-700.000

ANALISA:

NERACA

Kondisi 20X0
Karena pada tahun 20X0 tidak ada kas yang dibayarkan
maka tidak ada pencatatan belanja pada LRA
Karena pada tahun 20x0 satker telah menerima benefit
dari pegawai maka pada LO akan dicatat adanya beban
gaji sebesar Rp. 700rb dan pada neraca akan dicatat
adanya utang (beban gaji yang belum dibayar) sebesar
Rp 700rb.
Kondisi 20X1
Karena kas dibayarkan di tahun 20X1 maka LRA akan
membukukan belanja (gaji) sebesar Rp 700 rb1jt.
Neraca akan membukukan pengurangan kas sebesar Rp.
700 rb
Pembayaran utang gaji akan mengurangi saldo

31 Des 20X0

31 Des 20X1

Kas

0 Kas

Piutang

0 Piutang

700.000

Kewajiba
700.000 Kewajiban
nKronologis transaksi:
44 keluar dan Belanja
Beban Kewajiban Kas
Kewajiban berkurang

0
0

Akrual VS Kas
Contoh 3: Belanja/Beban Sewa
Dinas A menyewa Gedung untuk digunakan sebagai kantor. Periode sewa
adalah 1 (satu) tahun mulai tgl1 Agustus 20X0 sd 31 Juli 20X1 sebesar Rp.
12 juta. Sewa dibayar dimuka (pada tgl. 1 Agts 20X0) sebesar Rp12 juta.
LRA (Basis Kas)
20X0
Pendapatan

Belanja/Beban
Surplus/(Defisit)

LO (Basis Akrual)

20X1

20X0

20X1

12 juta

5.000.000

7.000.000

(-12 juta)

(-5.000.000)

(-7.000.000)

NERACA

ANALISA:
Kondisi 20X0

31 Des 20X0

Karena pada tahun 20X0 terjadi pengeluaran kas untuk


membayar sewa maka neraca akan membukukan
pengurangan kas sebesar Rp. 12 jt dan LRA akan
membukukan belanja sewa sebesar Rp 12 jt.

Kas

Pada akhir tahun 20X0 dilakukan penyesuaikan untuk


menghitung besar sewa yang benar-benar menjadi
beban di tahun 20X0, yaitu sebesar Rp5jt (untuk 5
bulan).

Kewajiban

Sisa sewa selama 7 bulan (Rp. 7 jt) akan dicatat


sebagai Piutang (Sewa Dibayar Dimuka)
Kondisi 20X1
Sisa sewa selama 7 bulan direalisasikan di tahun 20X1
sehingga di tahun 20X1 LO membukukan beban sewa

Piutang

31 Des 20X1

-12.000.000
7.000.000
0

Kas

Piutang

Kewajiba
n

Kronologis transaksi:
Kas keluar Belanja Beban tahun berjalan
Piutang Beban thn
berikutnya &
45
piutang berkurang

Akrual VS Kas
Contoh 4: Pembelian dan penyusutan Aset Tetap
Pada tanggal 2 Januari 20X0 Dinas A membeli 1 (satu) unit kendaraan dinas seharga
Rp140jt menggunakan Belanja Modal. Masa ekonomis kendaraan dinas tersebut 7 tahun
dan penyusutan per tahun menggunakan metode garis lurus tanpa nilai residu adalah
Rp20jt.

LRA (Basis Kas)


20X0
Pendapatan
Belanja/Beban

Surplus/
(Defisit)

ANALISA:

LO (Basis Akrual)

20X1

20X0

20X1

140.000.000

20.000.000

20.000.000

(140.000.000)

(-20.000.000)

20.000.000

N E R A C A (Basis Akrual)
20X0

Kondisi 20X0
Karena pada tahun 20X0 terjadi pengeluaran kas
untuk membeli AT maka neraca akan
membukukan pengurangan kas sebesar Rp140 jt
dan LRA akan membukukan belanja modal
sebesar Rp 140 jt.
Pada akhir tahun 20X0 dilakukan penyesuaikan
untuk menghitung besar beban penyusutan
tahun 20X0, yaitu sebesar Rp20jt, disajikan di LO
dan akumulasi nilainya di Neraca.
Kondisi 20X1
PAda tahun 20X1 tidak ada belanja modal dan
hanya dicatat beban penyusutan AT yaitu

20X1

Kas

140.000.00
0

Kas

ATKendaraan&M
esin

140.000.00
0

ATKendaraan&M
esin

140.000.0
00

Akumulasi
penyusutan

20.000.000

Akumulasi
penyusutan
46

40.000.00
0

Dinas A membayar belanja modal untuk membangun


gedung DPRD sebesar 1.000.000.000 pada tanggal 28
SIMULASI

Desember
2011

Pembelian
Gedung

Jurnal Laporan Keuangan


1 Agt Bangunan
Kas

1.000.000.000
1.000.000.000

Jurnal angggaran tetap dibuat dengan menggunakan basis kas


1 Agt Belanja Modal
1.000.000.000
Estimasi SAL
1.000.000.000

Gedung yang dibeli tahun 2012, pada tahun 2013


didepresiasikan selama 20 tahun, tanpa nilai sisa, metode
depresiasi garis lurus

SIMULASI

Depresiasi

Jurnal Laporan Keuangan


31 Des
Beban Depresiasi
50.000.000
Akumulasi Depresiasi
50.000.000

Jurnal angggaran tidak ada


Penyajian di Neraca
Gedung
1.000.000.000
Akumulasi Depresiasi
50.000.000
Gedung
950.000.000
Laporan Operasional
Beban Depresiasi
50.000.000

Dinas A melakukan belanja barang sebesar Rp 500 juta


pada 1 April . Pada tanggal 31 Desember 2012 barang
tersebut masih tersisa sebesar 150 juta.
Jurnal Laporan Keuangan
1 April
Beban persediaan
500.000.000
Kas
500.000.000
Penyesuaian
31 Des
Persediaan
150.000.000
Beban barang
150.000.000

SIMULASI - Persediaan

Jurnal angggaran tetap dibuat dengan menggunakan basis kas


1 April

Belanja barang
Estimasi SAL

500.000.000
500.000.000

Penyajian di Neraca
Persediaan
150.000.000
Laporan Operasional
Beban persediaan
350.000.000
Laporan Realisasi Anggaran
Belanja barang
500.000.000

Pemda A memberikan pinjaman kepada Pihk III Rp 200


juta pada 1 Okt.

SIMULASI -

Investasi

Jurnal Laporan Keuangan


1 Okt Investasi non permanen
Kas

200.000.000
200.000.000

Jurnal angggaran tetap dibuat dengan menggunakan basis kas


1 Okt Pengeluaran pembiayaan - penyertaan 200.000.000
Estimasi SAL
200.000.000

Pada 31 Desember 2012, terdapat pendapatan Pajak yang


belum dibayar namun telah diterbitkan SKPD sebesar Rp
200.000.000.

SIMULASI -

Piutang

Jurnal Laporan Keuangan


1 Okt Piutang Pajak
200.000.000
Pendapatan pajak

200.000.000

Jurnal angggaran belum dimasukkan dalam LRA karena kasnya


belum diterima. Akan dimasukkan sebagai pendapatan LRA pada
tahun 2013 saat pendapatan tersebut diterima.

LO

52

A K RU
LAPORAN
PERUBAHAN EKUITAS
A
L

LPE

NERACA

www.themegallery.com

A K RU
LAPORAN
REALISASI ANGGARAN
LRA
A
L

A K RU
LAPORAN
PERUBAHAN SAL
A
L

LPSAL

LAK

A K RU
A
L

Penyusunan LKPD Berbasis Akrual

1. Persiapan Perangkat Hukum tentang SAPD, Kebijakan Akuntansi dan


BAS.
2. Penyiapan SDM yang handal melalui pelatihan/training.
3. Penyiapan Sistem Aplikasi yang andal dan terintegrasi (bisa
disiapkan sendiri atau melalui kerja sama dengan pihak ketiga).
4. Menyusun Laporan Keuangan sesuai Ketentuan yang berlaku
(Peraturan Kepala Daerah/Perkada Sistem Akuntansi dan Kebijakan
Akuntansi Daerah)
6. Pelaksanaan Review LKPD oleh aparat pengawasan internal
(Inspektorat Daerah
7. Menyampaikan Laporan Keuangan kepada BPK untuk diaudit.
8. Menyampaikan Laporan Keuangan kpd DPRD untuk dibahas dan
dijadikan Perda Pertanggungjawban APBD.
Menyukseskan Implementasi Akuntansi Berbasis Akrual sebelum 2015

Perangkat Hukum SAPD

A K RU
A
Standar
L

Sistem Akuntansi Pemerintah


Daerah paling sedikit meliputi:

Akuntansi
Pemerintaha
n
(PP 71/2010)
mengac
u

Dokumen Sumber
Jurnal Standar

menyusun

Sistem
Akuntansi
Pemerintah
Daerah

Pemerinta
h Daerah

Peraturan
Daerah
tentang
Pengelolaan
Keuangan
Daerah

mengac
u

Bagan Akun Standar


Prinsip Pelaporan
Keuangan
(+Konsolidasi).

Ditetapka
n dengan

Peraturan
Kepala
Daerah

disusun berdasarkan prinsip


pengendalian intern sesuai
dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan

A K RU
A
L

Perkada

Kebijaka
n
Akuntan
si

1.
2.
3.
4.

SISTEM AKUNTANSI PEMDA

Sistem Akuntansi
Pemda
Minimal mengatur:
1.Format LK,
2. Kebijakan akuntansi,
3. Prosedur akuntansi,
4. Bagan akun standar,
5. Jurnal standar,
6. Entitas pelaporan
dan entitas
akuntansi,
7. Dokumen sumber

Perundang
an Terkait
KEUDA
Pengakuan
pengukuran
Pelaporan
pengungkap

SAP

60

Struktur SA
Pemda

BAGAN AKUN STANDAR (BAS) berisi kode dan nama


akun untuk mencatat serta mengklasifikasikan
transaksi serupa

A K RU
A
L
Pendekatan Penyusunan BAS di PMDN
Penerapan Akuntansi Akrual pada Pemda

Menyukseskan Implementasi Akuntansi Berbasis Akrual sebelum 2015

A K RU
A
L

Metode Penyusunan Laporan Keuangan

Manual
Penyusunan Laporan Keuangan tidak menggunakan suatu Sistem
Aplikasi berbasis Komputer yang memproses data secara otomatis untuk
Menghasilkan laporan keuangan. Proses manual dapat
menggunakan alat berupa komputer, namun proses posting dan closing
entries dilakukan secara manual.

Menggunakan Sistem Aplikasi berbasis Komputer


Penyusunan Laporan Keuangan menggunakan suatu Sistem Aplikasi
erbasis Komputer yang memproses data transaksi secara otomatis untu
Menghasilkan Laporan Keuangan.
Gabungan
Penyusunan Laporan Keuangan dimana sebagian dilakukan
dengan menggunakan proses komputerisasi,
namun sebagian proses lainnya dilakukan secara manual.
Menyukseskan Implementasi Akuntansi Berbasis Akrual sebelum 2015

A K RU
A
L

Model Implementasi Basis Akrual


Akrual dilaksanakan Secara Penuh

Pelaksanaan Pencatatan Transaksi dilakukan


berdasarkan basis akrual, yaitu transaksi dicatat pada setiap saat terjadinya
transaksi.
Contohnya: Hutang belanja dicatat atas setiap SPM yang diterbitkan dan
belum ada SP2D-nya, walaupun SP2Dnya dicairkan pada keesokan harinya

Konversi Laporan Keuangan CTA ke Akrual


Pelaksanaan akuntansi akrual dilakukan hanya pada akhir tahun anggaran
yaitu pada saat pembuatan laporan keuangan dengan melakukan konversi
pelaporan dari basis CTA ke basis akrual.
Contohnya: Hutang/Piutang yang akan dibayar/diterima dalam TAB, maka
tidak dilakukan pencatatan. Kecuali bila pada Akhir TA masih terdapat saldo.

Menyukseskan Implementasi Akuntansi Berbasis Akrual sebelum 2015

KETERKAITAN LAPORAN KEUANGAN

A K RU
A
Laporan Operasional
L

Pendapatan
500
Beban
(200)
Surplus/Defisit Opr
300
Kegiatan non
operasional
60
Surplus/Defisit LO
360 Laporan Perubahan
Ekuitas
Ekuitas Awal
1.000
Surplus/Defisit LO
360
Ekuitas Akhir
1.360
Neraca
Aset
2.000
Kewajiban

LRA
Pendapatan
450
Belanja
(0)
Surplus/(defisit)
450
Pembiayaan
1.000
Laporan Perubahan SAL
SILPA
SAL Awal
1.450
100
Penggunaan SAL
(30)
SILPA
1.450
SAL Akhir
1.520
64

CONTOH TRANSAKSI PADA LAPORAN OPERASIONAL

A K RU
A
TRANSAKSI
PENDAPATAN
L

AKRUAL - LO

1. Telah terbit Surat Ketetapan Dicatat sebagai pendapatan pajak pada


Pajak (SKP) di tahun 20xx
periode dikeluarkannya SKP
sebesar Rp500
Jurnal:
Piutang Pajak
500
Pendapatan Pajak 500
2. Pajak diterima oleh
kas negara Rp300

Dicatat sebagai pelunasan piutang


Jurnal (BUN):
Kas
300
Piutang Pajak
300

3. Pada tanggal neraca terdapat


SKP yang belum dibayar oleh
Wajib Pajak Rp200

Tidak ada jurnal

CONTOH TRANSAKSI PADA LAPORAN OPERASIONAL

A K RU
A
TRANSAKSI
BEBAN
L

1. Satuan Kerja menerima


tagihan listrik sebesar Rp200
pemakaian bulan Desember
20xx
2. Pada tanggal 31 Desember
20xx belum dilakukan
pembayaran tagihan listrik

AKRUAL-LO
Dicatat sebagai beban
Jurnal:
Beban langganan daya dan jasa
Utang Belanja

200
200

Tidak ada jurnal

TRANSAKSI NON
OPERASIONAL

AKRUAL-LO

1. Satker menjual aset non lancar


pada Desember 20xx sebesar
Rp 150, dengan harga
perolehan Rp 90

Dicatat sebagai Surplus penjualan aset non


lancar.
Jurnal:
Kas
150
Aset tetap
90
Surplus penjualan aset non lancar
60

A K RU
A
L

Menyusun LO dari LRA

LRA
LO

www.themegallery.com

LRA
LO

www.themegallery.com

HUBUNGAN PENDAPATAN dan BELANJA/BEBAN dalam LO


dan LRA

Pendapatan LRA dan Pendapatan LO

L
R
A

Pendapatan-LO
juga
Pendapatan-LRA

Pend.
Diterima
Dimuka

Pendapatan
LO sudah
diterima
Kas-nya

L
O

Piutang
Pendapatan

Belanja dan Beban

B
e
l
a
n
j
a

Belanja
Dibayar
Dimuka

B
e
b
a
n

Belanja
juga
Beban

Beban sudah
dikeluarkan
Kas-nya/
Dibayar
70

Utang atas
Belanja
(YMHD)

A K RU
A
L

Penyusunan LO dari LRA


Manual, Akrual pada Akhir Tahun

1. Menyusun LRA berdasarkan Basis Kas.


2. Mengidentifikasi transaksi akrual yang berakibat penyesuaian Pendapatan
LRA/ Belanja yang hakikatnya adalah termasuk dalam Transaksi Akrual, antara
lain:
(1) Pendapatan diterima dimuka; (2) Piutang Pendapatan; (3) Belanja dibayar
dimuka;
(4) Utang Belanja.
LRA yang telah disesuaikan akan dijadikan sebagai LO dari Kegiatan
3. Mengidentifikasi
transaksi
murni akrual
berakibat
pada
penyesuaian
Operasional setelah
disesuaikan
denganyang
Transaksi
Murni
Akrual
sebagaimana
Neraca
di bawah
dan
ini.pengaruhnya pada Pendapatan LO dan Beban, antara lain:
(1) Penyusutan Aset Tetap; (2) Amortisasi ATB/Premium/Diskon; (3) Penyisihan
Piutang Tak tertagih; (4) Unrealised Gain/Loss; (5) Beban Persediaan;
4. Mengeluarkan Transaksi Belanja Modal, Pembiayaan dan Pendapatan/Beban
Luar Biasa.
5. Memasukkan Transaksi Pendapatan/Beban Non Operasional dalam Keg.Non
Operasional.
6. Memasukkan Transaksi Pendapatan/Beban Luar Biasa dalam Pos Luar Biasa.
7. Menyelesaikan Perhitungan Angka dan Kesesuaian Penyajian LO (Selesai).
Menyukseskan Implementasi Akuntansi Berbasis Akrual sebelum 2015

Agenda 3

PEMAHAMAN ENTITAS

TUJUAN

PEMETAAN

RESIKO INHERENT

Agenda 4

PENILAIAN SPI

Apa sebenarnya SPI dan SPIP?


SPI adalah Proses yang integral pada tindakan dan
kegiatan yang dilakukan secara terus-menerus oleh
pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan
keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi
melalui kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan
pelaporan keuangan, pengamanan aset negara, dan
ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan
(PP 60/2008, Bab I Ps. 1 butir 1)
SPIP adalah sistem pengendalian intern (SPI) yang
diselenggarakan secara menyeluruh di lingkungan
pemerintah pusat dan pemerintah daerah
(PP 60/2008, Bab I Ps. 1 butir 2)

PERSPEKTIF SPIP

PEMANTAUAN PENGENDALIAN INTERN


INFORMASI DAN KOMUNIKASI
KEGIATAN PENGENDALIAN

U
N
I
T
A

U
N
I
T
B

K
E
G
I
A
T
A
N
1

K
E
G
I
A
T
A
N
2

PENILAIAN RISIKO
LINGKUNGAN PENGENDALIAN

79

UNSUR SPIP
Click icon to add picture

80

PENILAIAN SPI

sistem dan Prosedur Penerimaan Kas

sistem dan Prosedur Pengeluaran Kas

sistem dan Prosedur Akuntansi Satuan Kerja

sistem dan Prosedur Akuntansi Pejabat Pengelola Keuangan Daerah

sistem dan Prosedur Penyusunan Laporan Keuangan.

Agenda 4

PROSEDUR ANALITIS LKPD

PROSEDUR ANALITIS DALAM STANDAR AUDIT

PROSEDUR ANALITIS

PENELUSURAN ANGKA

PENGUJIAN

PERMINTAAN KETERANGAN

PERMINTAAN KETERANGAN