Anda di halaman 1dari 48

LAPORAN

UPAYA OPTIMALISASI METODE PRIMER MODIFIKASI (MPM)


DI RUANG DAHLIA 5 RSUP Dr. SARDJITO
PERIODE 28 DESEMBER 2015 16 JANUARI 2016

Disusun untuk Memenuhi Tugas Individu


Praktik Profesi Ners Stase Manajemen Keperawatan

Disusun Oleh:
TRI HANDAYANI PUASTUTI
14/376824/KU/17553

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Yang Maha Kuasa atas limpahan rahmat
dan HidayahNya penulis dapat menyelesaikan tugas individu tentang Upaya Optimalisasi
Metode Primer Modifikasi (MPM) di Ruang Dahlia 5 RSUP Dr. Sardjito. Dalam proses
penyusunan laporan ini tentu banyak pihak yang berperan, oleh karena itu penulis ingin
mengucapkan terima kasih kepada:
1. Dr. Mochammad Syafak Hanum, Sp.A., sebagai Direktur Utama RSUP Dr. Sardjito,
2. Endri Astuti , S.Kep.,Ns., sebagai Kepala Bidang Keperawatan RSUP Dr.
Sardjito,
3. Patricia Suti Lasmani, S.Kep., Ns., sebagai Ketua Komite Keperawatan RSUP
Dr. Sardjito,
4. dr. Faisal Heryono, Sp.PD., sebagai Kepala IRNA 1 RSUP Dr. Sardjito,
5. Retno Koeswandari, S.Kep, Ns., M.Kep., sebagai penanggungjawab administrasi dan
SDM RSUP Dr. Sardjito,
6. Tutik Purwaningsih, S.Pd., S.ST., sebagai Kepala Ruang Dahlia 5 RSUP Dr. Sardjito,
7. Totok Harjanto, S.Kep.,Ns.,M.Kes., sebagai Pembimbing Akademik I yang telah
memberikan bimbingan dan arahan dalam pelaksanaan praktik profesi stase
manajemen keperawatan,
8. Nuryandari, SKM, M.Kes., sebagai Pembimbing Akademik II yang telah memberikan
bimbingan dan arahan dalam pelaksanaan praktik profesi stase manajemen
keperawatan,
9. Seluruh staf dan perawat di Ruang Dahlia 5 RSUP Dr. Sardjito atas kerjasama dan
bantuannya,
10. Rekan-rekan kelompok Stase Manajemen Keperawatan atas kerjasama selama
kegiatan praktek profesi ini,
11. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah membantu
kelancaran proses praktik dan pembuatan laporan ini.
Semoga hasil laporan ini memberikan manfaat untuk Ruang Dahlia 5 IRNA 1.
Yogyakarta, Januari 2016

Penulis

LEMBAR PENGESAHAN
UPAYA OPTIMALISASI METODE PRIMER MODIFIKASI (MPM)
DI RUANG DAHLIA 5 RSUP Dr. SARDJITO
PERIODE 28 DESEMBER 2015 - 16 JANUARI 2016
Untuk Memenuhi Tugas Individu
Praktik Profesi NersStase Manajemen Keperawatan
Disusun Oleh:
Tri Handayani Puastuti
NIM: 14/376824/KU/17553

Disahkan pada tanggal..................................................


Oleh:
Kepala Ruang Dahlia 5

Tutik Purwaningsih, S.Pd., S.ST


NIP. 196109021981032001
Pembimbing Akademik I

Pembimbing Akademik II

Totok Harjanto.,S.Kep., Ns., M.Kes.

Nuryandari, SKM., M. Kes.

NIU. 1120110076/268

NIP. 19530805 197602 2 001

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ruang Dahlia merupakan salah satu ruang yang termasuk dalam Instalasi
Rawat Inap (IRNA) 1 di RSUP Dr. Sardjito. Ruang Dahlia terbagi menjadi 5 ruang,
yaitu: Dahlia 1, Dahlia 2, Dahlia 3, Dahlia 4, dan Dahlia 5. Ruang Dahlia 5
merupakan ruang perawatan untuk pasien bedah mulut dan THT. Ruang Dahlia 5
letaknya terpisah dengan gedung IRNA 1 yaitu berada di lantai II gedung IMC 2.
Dahlia 5 dibagi dalam 7 ruangan yaitu ruangan A, ruangan B, ruangan C, ruangan D,
ruangan E, ruangan F dan ruangan G. Dahlia 5 dibagi menjadi 3 kelas yaitu kelas I
terdapat 1 ruangan, kelas II 4 ruangan dan kelas 3 2 ruangan. Total keseluruhan
kapasitas di ruang Dahlia 5 sebanyak 23 tempat tidur.
Dalam memberikan pelayanan kesehatan yang optimal, bermutu serta dapat
memberikan kepuasan kepada pasien dan keluarga diperlukan komitmen yang tinggi
dari semua petugas pemberi pelayanan kesehatan. Perubahan bidang kesehatan di
Indonesia saat ini terjadi begitu pesat, persaingan bebas terjadi di semua tatanan
kesehatan terutama rumah sakit. Pelayanan keperawatan merupakan bagian

dari

sistem kesehatan di sebuah rumah sakit. Pelayanan keperawatan merupakan kegiatan


yang selalu ada, yaitu: selama 24 jam di rumah sakit, sehingga baik buruknya sebuah
rumah sakit sangat dipengaruhi oleh kualitas
mempertahankan eksistensinya dalam

pelayanan keperawatan. Untuk

persaingan bebas ini adalah dengan cara

meningkatkan kepuasan pelanggan (pasien dan keluarga). Kepuasan pasien tersebut


bisa dicapai diantaranya dengan meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan.
Kualitas pelayanan keperawatan diantaranya ditentukan oleh manajemen asuhan
keperawatan, yaitu: suatu pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM) keperawatan.
Dalam menjalankan kegiatan keperawatan dapat digunakan metode proses
keperawatan untuk menyelesaikan masalah pasien. Dengan demikian dalam
pengelolaan asuhan keperawatan ini terdapat hubungan antara perawat dan pasien
baik langsung ataupun tidak langsung. Terdapat tiga komponen penting dalam
manajemen asuhan keperawatan yang salah satunya adalah sistem pengorganisasian
dalam pemberian asuhan keperawatan (Marquis & Huston, 1998). Salah satu dari
beberapa sistem tersebut adalah Model Praktik Keperawatan Profesional (MPKP).
Penerapan MPKP di rumah sakit bermacam-macam disesuaikan dengan situasi
dan kondisi rumah sakit. Berdasarkan buku pedoman penerapan MPKP di RSUP Dr.

Sardjito, saat ini model praktik keperawatan yang digunakan adalah modifikasi atau
gabungan dari model keparawatan primer dan model keperawatan tim yang disebut
Metode Primer Modifikasi (MPM) yang dikembangkan oleh Nuryandari (1998).
Berdasarkan hasil pengkajian pada tanggal 28-30 Desember 2015, hasil
rekapitulasi total tentang pelaksanaan MPM menunjukkan rata-rata sebesar 81%.
Namun berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan Kepala Ruang Dahlia 5,
terdapat beberapa variabel yang masih belum dilaksanakan secara optimal. Variabel
tersebut yaitu pelaksanaan hubungan profesional antar staf keperawatan dengan
dokter/tim kesehatan lain sebesar 62,5%, pelaksanaan tugas jaga (operan) sebesar
75%, pelaksanaan preconference sebesar 72,7% dan pelaksanaan post conference
sebesar 62,5%.
Ditinjau dari pelaksanaan profesional/kemitraan antara staf keperawatan
dengan dokter/tim kesehatan lain, beberapa hal yang belum dilakukan antara lain
perawat dan dokter belum melakukan visite bersama, belum digunakannya rekam
keperawatan sebagai saran hubungan profesional program kolaborasi, dan juga
dokter/tim kesehatan lain belum mengetahui siapa PN setiap pasien.
Pelaksanaan tugas jaga (operan) didapatkan hasil persentase sebesar 75%.
Berdasarkan hasil tersebut, hal yang belum terlaksana antara lain perawat pemberi
operan, dokter/tim kesehatan lain belum menggunakan rekam keperawatan sebagai
sarana hubungan profesional dalam rangka program kolaborasi, dan juga dokter/tim
kesehatan yang lain belum mengetahui siapa PN yang merawat setiap pasien.
Dari pelaksanaan pre conference, beberapa hal yang belum terlaksana antara
lain PN belum menyiapkan rekam medik pasien yang menjadi tanggung jawabnya,
PN belum menjelaskan tujuan dilakukan pre conference, dan PN belum menjelaskan
masalah, tujuan dan rencana keperawatan yang menjadi tanggung jawabnya.
Pelaksanaan post conferernce didapatkan hasil 62,5%. Berdasarkan hasil
tersebut, hal yang belum terlaksana antara lain PN belum menyiapkan rekam medik
pasien yang menjadi tanggung jawabnya, tujuan dilakukannya post conference belum
tersampaikan dan memberikan reinforcement positif belum dilakukan.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara kepala ruang hampir semua staf
sudah menjalankan perannya masing-masing namun pelaksanaannya belum optimal.
Kendala dalam pelaksanaan MPM yang perlu diperbaiki adalah pelaksanaan pre
conference dan post conference. Kurangnya motivasi dan perlunya ditinjau kembali
peran masing-masing staf dalam menjalankan asuhan keperawatan sesuai pedoman
yang ada dapat menjadi faktor yang menyebabkan terjadinya masalah tersebut.

Kurang optimalnya pelaksanaan MPM diruangan secara tidak langsung akan


mempengaruhi mutu pelayanan keperawatan yang diberikan. Konsistensi pelayanan
keperawatan yang diberikan kepada pasien menurun, akan mudah timbul konflik
karena mudah terjadi tumpang tindih tugas ataupun kekosongan. Hal tersebut jelas
akan mengurangi nilai profesional dari pemberi asuhan keperawatan pada pasien.
B. Prgram Kegiatan
Kegiatan yang dilakukan adalah optimalisasi MPM melalui kegiatan
sosialisasi dan role play tentang pelaksanaan MPM.
C. Tujuan Kegiatan
Apakah dengan melakukan kegiatan konsultasi dengan Kepala Ruang Dahlia 5
dan semua perawat ruangan Dahlia 5 tentang pelaksanaan MPM, mencari sumber/
literatur tentang pelaksanaan MPM, menyiapkan materi tentang pelaksanaan MPM,
sosialisasi dan role play tentang pelaksanaan MPM kepada perawat di Ruang Dahlia 5
sebanyak 5 kali, pelaksanaan MPM, pendampingan pelaksanaan MPM, evaluasi
pelaksanaan MPM oleh an-Ners bersama Kepala Ruang, PN, dan AN yang berjumlah
14 orang pada tanggal 5-11 Januari 2016 di Ruang Dahlia 5 dapat meningkatkan
pelaksanaan MPKP dengan MPM dari nilai 81% menjadi 90%?

BAB II
KAJIAN TEORI
Sistem pelayanan kesehatan yang di dalamnya termasuk pelayanan
keperawatan telah mengalami perubahan mendasar yang merupakan dampak dari
perubahan kependudukan dengan ciri masyarakat yang berpendidikan, lebih sadar
tentang hak dan hukum, serta menuntut dan semakin kritis terhadap berbagai bentuk
pelayanan keperawatan serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini
(Kuntoro, 2010). Pelaksanaan keperawatan yang ada di rumah sakit masih bersifat

okupasi, yaitu: tindakan keperawatan yang dilakukan hanya atas dasar kepatuhan
pelaksanaan prosedur dan pelaksanaan tugas berdasarkan instruksi dokter, dan tidak
didasarkan pada tanggung jawab moral dan analisis-sintesis mandiri tentang asuhan
keperawatan.

Untuk

mengatasi

permasalahan

ini,

dibutuhkan

restructuring,

reengineering, dan redesigning system pemberian asuhan keperawatan melalui


pengembangan Model Praktek Keperawatan Profesional (MPKP) yang diperbaharui
dengan Sistem Pemberian Pelayanan Keperawatan Profesional (SP2KP).

A. PENGERTIAN MODEL PRAKTEK KEPERAWATAN PROFESIONAL (MPKP)/


SISTEM

PEMBERIAN

PELAYANAN

KEPERAWATAN

PROFESIONAL

(SP2KP)
Hoffart dan Woods (1996) dalam Huber (2010) mendefinisikan Model Praktik
Keperawatan Profesional sebagai suatu sistem yang meliputi struktur, proses dan nilainilai profesional yang memungkinkan perawat profesional mengatur pemberian asuhan
keperawatan dan mengatur lingkungan untuk menunjang asuhan keperawatan. MPKP
memfasilitasi perawat profesionalyang mempunyai kemampuan dan tanggung jawab
dalam mengatasi masalah keperawatan dan telah menghasilkan berbagai jenjang produk
keperawatan untuk pemberian asuhan keperawatan termasuk lingkungan asuhan
keperawatan tersebut diberikan (Sitorus dan Yulia, 2005).
Sistem pemberian pelayanan keperawatan profesional (SP2KP) merupakan
kegiatan pengelolaan asuhan keperawatan di setiap unit ruang rawat di rumah sakit.
Komponennya terdiri dari: perawat, profil pasien, sistem pemberian asuhan
keperawatan, kepemimpinan, nilai-nilai profesional, fasilitas, sarana prasarana
(logistik) serta dokumentasi asuhan keperawatan (Direktorat Bina Pelayanan
Keperawatan DEPKES RI, 2009).
SP2KP adalah kegiatan pengelolaan asuhan keperawatan di setiap unit ruang rawat
di rumah sakit yang memungkinkan perawat untuk melaksanakan asuhan keperawatan
yang profesional bagi pasien. SP2KP mempunyai sistem pengorganisasian yang baik
dimana seluruh komponen yang terlibat dalam asuhan keperawatan diatur secara
profesional dan merupakan pengembangan dari MPKP.
Berdasarkan

buku pedoman penerapan MPKP di RSUP Dr. Sardjito adalah

modifikasi atau gabungan dari model keperawatan primer yang dimodifikasi yang
disebut Metode Primer Modifikasi (MPM) yang dikembangkan oleh Nuryandari

(1998). Model keperawatan primer modifikasi didasarkan pada beberapa alasan antara
lain:
1. Keperawatan primer tidak digunakan secara murni karena sebagai perawat primer
harus mempunyai latar belakang pendidikan S1 Keperawatan.
2. Keperawatan tim tidak digunakan secara murni karena tanggung jawab pasien
terfragmentasi pada berbagai tim.
3. Melalui kombinasi kedua model tersebut diharapakan komunitas asuhan
keperawatan dan akuntabilitas asuhan keperawatan terdapat pada PN.
B. TUJUAN SP2KP (MPKP)
Tujuan utama MPKP adalah untuk meningkatkan mutu pelayanan keperawatan.
Sedangkan tujuan khusus SP2KP adalah sebagai berikut:
1. Menjaga konsistensi asuhan keperawatan.
2. Mengurangi konflik, tumpang tindih dan kekososongan pelaksanaan asuhan
keperawatan oleh tim keperawatan
3. Menciptakan kemandirian dalam memberikan asuhan keperawatan
4. Memberikan pedoman dalam menentukan kebijakan dan keputusan
5. Menjelaskan dengan tegas ruang lingkup dan tujuan asuhan keperawatan bagi setiap
tim keperawatan.
C. KOMPONEN SP2KP
Di dalam pengoranisasian asuhan keperawatan dikenal beberapa model pemberian
asuhan keperawatan. MPKP terdiri dari 5 elemen subsistem (Hoffart & Woods,1996),
yaitu :
1. Nilai-nilai profesional (Professional values)
Nilai-nilai profesional menjadi komponen

utama

praktik

keperawatan

profesional. Nilai-nilai profesional ini merupakan inti dari SP2KP. Nilai-nilai


profesional tersebut adalah:
a. Nilai intelektual: kemmapuan pengetahuan terhadap ilmu keperawatan dan
pengetahuan lain yang mendukung dalam pelaksanaan tugas keperawatan.
b. Nilai komitmen moral: menjaga moralitas dalam pelayanan keperawatan,
menjunjung kode etik keperawatan
c. Otonomi, kendali dan tanggung gugat: menghargai otonomi pasien, mengetahui
batas

kewenangan

dan

bertanggung

jawab

atas

tindakan

profesional

keperawatan.
Pada model ini perawat primer (PN) dan perawat asosiasi (AN) membangun
kontrak dengan klien/ keluarga sejak klien/ keluarga masuk ke suatu ruang rawat
yang merupakan awal dari penghargaan atas harkat dan martabat manusia.
Hubungan tersebut akan terus dibina selama klien dirawat di ruang rawat, sehingga
klien/ keluarga menjadi mitra dalam memberi asuhan keperawatan. Pada

pelaksanaan dan evaluasi renpra, PN mempunyai otonomi dan akuntabilitas untuk


mempertanggungjawabkan asuhan yang diberikan termasuk tindakan yang
dilakukan AN dibawah tanggung jawabnya. Dengan kata lain PN mempunyai
tanggung jawab untuk membina performa AN agar melakukan tindakan berdasarkan
nilai-nilai profesional.
2. Pendekatan manajemen (Management Approach)
Seorang perawat dalam melakukan asuhan keperawatan untuk memenuhi
kebutuhan dasar manusia harus melakukan pendekatan penyelesaian masalah,
sehingga masalah klien dapat diidentifikasi dan nantinya dapat diterapkan tindakan
berupa terapi keperawatan yang tepat untuk masalah klien.
SP2KP mensyaratkan pendekatan manajemen dalam implementasinya yang
terdiri dari: Perencanaan, Pengorganisasian, Pengarahan, dan Pengendalian.
a. Perencanaan
Perencanaan adalah keseluruhan proses pemikiran dan penentuan secara matang
hal-hal yang akan dikerjakan di masa mendatang dalam rangka mencapai tujuan
(Siagiran, 2007). Melalui visi, misi, filosofi, dan kebijakan. Sedangkan untuk
jenis perencanaan jangka pendek melalui rencana kegiatan harian, mingguan,
bulanan, dan tahunan. Perencanaan meliputi perencanaan ketenagaan, fasilitas
dan alat, serta standar dan SPO yang akan digunakan.
b. Pengorganisasian
Merupakan pengelompokan aktivitas untuk mencapai tujuan melalui struktur
organisasi SP2KP, menyusun daftar dinas, menyusun daftar alokasi asuhan
keperawatan pasien dan penugasan kelompok tenaga keperawatan.
1) Struktur organisasi
Susunan komponen-komponen dalam suatu organisasi, pada pengertian
struktur organisasi adanya pembagian kerja
2) Jadwal dinas ruangan
Jadwal dinas ruangan adalah daftar yang berisi jadwal dinas perawat yang
bertugas, penanggung jawab dinas/ shift, serta tugas lain yang tergambar
dalam jadwal.
3) Daftar pasien
Daftar yang berisi nama pasien, nama dokter, nama perawat dalam tim,
penanggung jawab pasien, dan alokasi perawat saat menjalankan dinas setiap
shift.
c. Pengarahan
Yaitu bentuk tindakan dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Melalui
pendelegasian, supervisi, komunikasi efektif mencakup pre dan post konferens
serta manajemen konflik.

1) Pendelegasian
Melakukan pekerjaan

melalui

orang

lain

dalam

pengorganisasian

pendelegasian dilakukan agar aktivitas organisasi tetap berjalan untuk


mencapai tujuan yang ditetapkan.
2) Supervisi
Proses memastikan kegiatan dilaksanakan sesuai dengan tujuan organisasi
dengan cara melakukan pelaksanaan terhadap pelaksanaan kegiatan.
3) Komunikasi efektif
Merupakan fungsi pokok manajemen, komunikasi yang kurang baik dapat
mengganggu kelancaran organisasi dalam mencapai tujuan organisasi
(Swanburg, 2000). Penerapan komunikasi dalam SP2KP antara lain:
a) Pre konferen
Komunikasi PN/ Ketua Tim dengan perawat pelaksana setelah selesai
operan untuk rencana kegiatan pada shift tersebut dipimpin oleh PN/
Ketua Tim.
b) Operan
Komunikasi serah terima antara shift pagi, siang, dan malam.
c) Post konferen
Komunikasi PN/ Ketua Tim dengan perawat pelaksana tentang hasil
kegiatan sepanjang shift sebelum operan kepada shift berikutnya.
4) Manajemen konflik
Perbedaan pandangan atau ide antara satu orang dengan orang lain. Konflik
dapat terjadi di ruang rawat, oleh karena itu perlu dibudayakan upaya-upaya
mengantisipasi konflik antara petugas dan tim. Cara-cara penanganan konflik
melalui:
a) Berkolaborasi, yaitu: upaya yang ditempuh untuk memuaskan kedua belah
pihak yang sedang berkonflik. Cara ini adalah salah satu bentuk
kerjasama, berbagai pihak yang terlibat konflik, didorong untuk
menyelesaikan masalah yang mereka hadapi dengan jalan mencari dan
menemukan persamaan kepentingan dan bukan perbedaan. Situasi yang
diinginkan adalah tidak ada satu pihakpun yang dirugikan. Istilah lain cara
penyelesaian konflik ini adalah win-win solution.
b) Berkompromi, yaitu: cara penyelesaian konflik dimana semua pihak yang
berkonflik

mengorbankan

kepentingannya

demi

terjaminnya

keharmonisan hubungan kedua belah pihak. Upaya ini tidak ada salah satu
pihak yang menang atau kalah. Istilah lain cara penyelesaian konflik ini
adalah

lose-lose

solution,

dimana

masing-masing

pihak

akan

mengorbankan kepentingannya agar hubungan yang dijalin tetap harmonis


d. Pengendalian

Yaitu proses memastikan aktivitas sebenarnya sesuai dengan aktivitas yang


direncanakan. Melalui audit struktur, audit proses, dan audit hasil.
Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam pengendalian meliputi:
1) Menetapkan standar, menetapkan metide, dan pengukuran prestasi kerja
2) Menetapkan apakah prestasi kerja sesuai dengan standar:
a) Audit struktur: pengukuran yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan
meliputi kuantitas maupun kualitas tenaga perawat, lingkungan, fasilitas,
standar, SOP, petunjuk teknis, dan lain-lain yang diperlukan sebelum
aktivitas pelayanan dilakukan
b) audit proses: pengukuran pelaksanaan pelayanan keperawatan yang
digunakan untuk menetukan apakah hasil keperawatan tercapai
c) audit hasil: audit pokok kerja berupa kondisi pasien, kondisi sumber daya
manusia, kepuasan pasien, angka infeksi, dan lain-lain.
Perawat primer mempunyai tanggung jawab terhadap perawat asosiasi. Kewajban
untuk membimbing AN dalam memberi asuhan keperawatan sehingga sesuai
dengan prosedur yang sudah menjadi standar dalam memberikan pelayanan bagi
klien. PN dalam hal ini juga adalah seorang manajer yang harus dibekali
kemampuan manajemen dan kepemimpinan.
3. Sistem pemberian asuhan keperawatan (Care Delivery System)
Dalam perkembangan keperawatan menuju layanan yang profesional,
digunakan beberapa metode pemberian asuhan keperawatan, yaitu: metode kasus,
fungsional, tim, dan keperawatan primer, serta manajemen kasus. Dalam praktik
keperawatan profesional, metode yang paling memungkinkan pemberian asuhan
keperawatan profesional harus dipilih melalui kajian, tetapi metode fungsional
adalah metode yang tidak boleh digunakan. Metode pemberian askep adalah
modifikasi keperawatan primer sehingga keputusan tentang renpra ditetapkan oleh
PN, yang kemudian PN akan mengevaluasi perkembangan klien setiap hari dan
membuat modifikasi pada renpra sesuai dengan kebutuhan klien.
4. Hubungan Profesional (Professional Relationship)
Pada model ini, hubungan antar profesional dalam tim kesehatan dilakukan
oleh PN. PN yang paling mengetahui tentang perkembangan kondisi klien sejak
awal masuk ke suatu ruang rawat sehingga mampu memberi informasi tentang
kondisi klien kepada profesi lain khususnya dokter.
Asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien melibatkan beberapa
anggota tim kesehatan. Karena banyaknya anggota tim kesehatan yang terlibat, maka

perlu adanya kesepakatan mengenai hubungan kolaborasi dalam pemberian asuhan


keperawatan tersebut. Hubungan profesional mengatur hubungan:
a. perawat dengan pasien/ keluarga
b. perawat dengan perawat
c. perawat dengan dokter
d. perawat dengan tim kesehatan lain
e. perawat dengan mahasiswa keperawatan
Komunikasi diagonal dilakukan antara profesi perawat dengan perawat
maupun profesi kesehatan lainnya. Hubungan profesional di ruang SP2KP meliputi:
a. rapat perawat ruangan
b. operan tugas jaga
c. pre dan post konferens
d. visite bersama
e. diskusi refleksi kasus
f. rapat tim kesehatan.
5. Kompensasi dan penghargaan (Compensation and Reward)
PN dan timnya berhak atas kompensasi serta penghargaan untuk asuhan
keperawatan yang dilakukan sebagai asuhan yang profesional. Kompensasi dan
penghargaan yang diberikan kepada perawat bukan bagian dari asuhan medis atau
kompensasi dan penghargaan berdasarkan prosedur.
Kemampuan perawat melakukan praktek profesional perlu dipertahankan dan
ditingkatkan melalui manajemen sumber daya manusia, sehingga perawat mendapat
kompensasi berupa penghargaan sesuai dengan apa yang dikerjakan (Nursalam,
2007). Sistem penghargaan ini melalui proses rekruitmen, seleksi kerja, orientasi,
penilaian kinerja dan pengembangan staf perawat.
D. KARAKTERISTIK SISTEM PEMBERIAN PELAYANAN KEPERAWATAN
PROFESIONAL (SP2KP)
1. Penetapan jumlah tenaga keperawatan
Penetapan jumlah tenaga keperawatan berdasarkan jumlah klien sesuai dengan
derajat jetergantungan klien.
2. Penetapan jenis tenaga keperawatan
Pada suatu ruang rawat terdapat berbagai jenis tenaga keperawatan sesuai dengan
metode penugasan yang ditetapkan, yaitu: Kepala Ruang, Clinical Care Manager
(CCM), Perawat Primer (PP/ PN) atau Ketua Tim (Katim), dan Perawat Asosiet
(PA).
3. Penetapan tugas tenaga keperawatan
Peran dan fungsi masing-masing tenaga sesuai dengan kemampuannya dan
terdapat tanggung jawab yang jelas yang ditetapkan oleh rumah sakit dalam uraian
tugas tenaga keperawatan.

4. Penetapan standar asuhan keperawatan


Standar asuhan keperawatan perlu ditetapkan untuk minimal 10 kasus terbanyak
sehingga setiap tenaga keperawatan mendapatkan acuan dalam menjalankan tugas
dan sebagai dasar pelaksanaan evaluasi standar asuhan keperawatan.
5. Penetapan metode penugasan
Penggunaan suatu metode penugasan akan menjadi acuan dalam sistem kerja di
ruang perawatan. Metode modifikasi keperawatan primer dalam SP2KP,
merupakan metode yang banyak dipilih di Indonesia, sehingga terdapat satu orang
perawat profesional yang disebut perawat primer yang bertanggung jawab dan
bertanggung gugat atas asuhan keperawatan yang diberikan. Selain itu, terdapat
Clinical Care Manager (CCM) yang mengarahkan dan membimbing Perawat
Primer dalam memberikan asuhan keperawatan. CCM diharapkan akan menjadi
peran ners spesialis pada masa yang akan datang.
E. METODE PRIMER MODIFIKASI (MPM)
Berdasarkan buku pedoman penerapan MPKP di RSUP Dr. Sardjito adalah
modifikasi atau gabungan dari model keperawatan primer yang dimodifikasi yang
disebut Metode Primer Modifikasi (MPM) yang dikembangkan oleh Nuryandari
(1998).
Model keperawatan primer modifikasi didasarkan pada beberapa alasan antara lain:
1. Keperawatan primer tidak digunakan secara murni karena sebagai perawat primer
harus mempunyai latar belakang pendidikan S1 Keperawatan.
2. Keperawatan tim tidak digunakan secara murni karena tanggung jawab pasien
terfragmentasi pada berbagai tim.
3. Melalui kombinasi kedua model

tersebut diharapakan komunitas asuhan

keperawatan dan akuntabilitas asuhan keperawatan terdapat pada PN.


Karakteristik dari MPM adalah:
a. Perawat primer mempunyai tanggung jawab untuk asuhan keperawatan pasien
selama 24 jam sehari, dari penerimaan sampai pemulangan
b. Perawat primer melakukan pengkajian kebutuhan asuhan keperawatan,
kolaborasi dengan pasien dan professional kesehatan lain, dan menyusun
rencana perawatan.
c. Pelaksanaan rencana asuhan keperawatan didelegasikan oleh perawat primer
kepada AN.
d. Perawat primer berkonsultasi dengan perawat kepala
e. Autoritas, tanggung gugat dan autonomi ada pada perawat primer
F. PEDOMAN PELAKSANAAN
1. Operan/Serah Terima Jaga

Operan/serah terima jaga dalah suatu cara dalam menyampaikan dan menerima
sesuatu laporan yang berkaitan dengan keadaan klien, bertujuan:
a. Menyampaikan kondisi atau keadaan klien secara umum
b. Menyampaikan hal penting yang perlu ditindaklanjuti oleh dinas berikutnya
c. Tersusunnya rencana kerja untuk dinas selanjutnya
Prosedur Serah Terima
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam prosedur ini adalah:
a. Persiapan
1) Kedua kelompok dalam keadaan siap
2) Kelompok yang akan bertugas menyiapkan buku catatan
b. Pelaksanaan
Dalam pelaksanaanya dilakukan serah terima kepada masing-masing
penanggungjawab. Serah terima dilakukan setiap pergantian shift perawat
mendiskusikan unruk melakukan serah terima dengan mengkaji secara
komprehensif yang berkaitan dengan masalah keperawatan klien, rencana
tidakan yang sudah dan belum dilakukan serta hal penting lainnya yang
perlu dilimpahkan.
c. Hal-hal yang bersifat khusus dan memerlukan perincian yang lengkap
sebaiknya dicatat secara khusus untuk kemudian diserah terimakan kepada
perawat selanjutnya. Hal- hal yang perlu disampiakan pada saat serah
terima adalah:
1) Identitas klien dan diagnosa medis
2) Masalah keperawatan yang mungkin muncul
3) Tindakan keperawatan yang sudah dan belum dilaksanakan
4) Intervensi kolaborasi dan independensi
5) Rencana umum dan persiapan yang perlu dilakukan dalam kegiatan
selanjutnya,

misalnya

operasi,

pemeriksaan

laboratoriaum,

persiapan untuk konsultasi, atau prosedur lainya yang telah


dilaksanakan secara rutin.
Perawat yang melakukan serah terima dapat melakukan klarifikasi dengan tanya
jawab dan melakukan validasi terhadap hal-hal yang kurang jelas. Penyampaian
saat serah terima secara singkat dan jelas. Lama serah terima untuk setiap klien
tidak lebih dari 5 menit kecuali pada kondisi khusus dan memerlukan penjelasan
yang lengkap. Pelaporan untuk timbang terima dilakukan secara langsung pada
buku laporan ruangan yang dilakukan oleh perawat.
Perawat betanggung jawab dan anggotanya dari kedua shift bersama-sama secara
langsung melihat keadaan klien.
2. KONFERENS (CONFERENCE)

Konferens merupakan pertemuan tim yang dilakukan setiap hari. Konferens


terdapat dua tahap, yaitu: pre conference dan post konference. Pre konference
dilakukan setelah operan dinas pagi. Sedangkan post conference dilakukan setelah
operan dinas sore. Konferen sebaiknya dilakukan ditempat tersendiri sehingga
dapat mengurangi gangguan dari luar.
Tujuan konferen adalah:
a. Membahas setiap klien sesuai rencana praktek yang telah dibuat oleh PN
b. Menetapkan klien yang akan menjadi tanggung jawab dari setiap AN
c. Membahas rencana tindakan keperawatan untuk setiap klien pada hari itu.
Rencana kegiatan disesuaikan dengan renpra yang telah dibuat oleh PN
d. Mengidentifikasi tugan AN untuk setiap klien yang menjadi
tanggungjawabnya.
3. URAIAN TUGAS
1. Kepala Ruang
Tugas kepala ruangan dalam pengorganisasian (RS Sardjito, 2007), meliputi:
a. Tugas Pokok:
1) Mengelola kegiatan pelayanan dan asuhan keperawatan pasien di ruang
2)
3)
4)
5)
6)

rawat
Melaksanakan fungsi kolaboratif dengan tim kesehatan lain
Melaksanakan pendidikan kesehatan bagi pasien dan keluarga
Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan bimbingan PKK
Melakukan/ membantu pelaksanaan penelitian
Melakukan pengendalian, pemantauan dan evaluasi kegiatan guna

peningkatan mutu pelayanan keperawatan di ruang rawat


7) Mendukung terlaksananya program patient safety.
b. Uraian tugas Kepala Ruang
1) Planning
a) Menyusun jadwal dinas.
b) Merencanakan koordinasi.
c) Menyusun perencanaan tahunan
2) Organizing
a) Mensosialisasikan, mengatur dan mengendalikan pelaksanaan
kebijakan yang telah ditentukan kepada semua staf
b) Mengecek kelengkapan inventaris peralatan dan obat-obatan yang
tersedia untuk kelancaran pelayanan
c) Mengajukan permintaan peralatan

dan

obat-obatan

sesuai

kebutuhan. Memeriksa keadaan ruangan dan peralatan serta


menyusun

laporan

kerusakan,

usulan

perbaikan

dan

pemeliharaannya
d) Menyusun data yang berhubungan dengan pelayanan untuk
membuat laporan harian, bulanan, triwulan serta tahunan

e) Mengadakan rapat secara berkala untuk mengetahui masalah dan


mendapatkan cara penyelesaian agar pelaksanaan pelayanan
berjalan baik
f) Memberikan pengarahan, orientasi dan bimbingan kepada staf
baru/mahasiswa praktek di ruangan
g) Mengkoordinir pelaksanaan tatatertib, disiplin, kebersihan dan
keamanan ruangan.
h) Melaksanakan asuhan dengan menggunakan pendekatan proses
ilmiah
i) Membuat usulan nilai pra DP3 semua tenaga yang menjadi
tanggung jawabnya
j) Membuat usulan pengembangan tenaga
k) Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan dalam rangka
memperlancar pelaksanaan kegiatan di instalasi. Membagi staf
keperawatan ke dalam grup MPM sesuai dengan kemampuan dan
beban kerja
l) Membagi staf keperawatan ke dalam grup MPM sesuai dengan
kemampuan dan beban kerja
m) Membuat jadwal dinas koordinasi dengan perawat primer (PN)
n) Membagi pasien kepada grup MPM sesuai kemampuan dan beban
kerja
o) Memfasilitasi dan mendukung kelancaran tugas perawat primer
dan perawatan asosiate (PN & AN)
p) Melakukan supervisi dan memberi motivasi seluruh staf untuk
mencapai kinerja yang optimal
q) Melakukan upaya peningkatan mutu asuhan dan pelayanan dengan
mengevaluasi melalui berbagai metode evaluasi peningkatan mutu
r) Berperan sebagai konsultan/pembimbing bagi perawat primer (PN)
s) Mendelegasikan tugas pada sore, malam, dan hari libur kepada
penanggung jawab tugas jaga ruangan
t) Membuat laporan pelaksanaan tugas secara berkala/insidentil
u) Bertanggung jawab terhadap kelengkapan entry data dalam billing
system.
2. Jabatan Keperawatan
Primary Nurse
Berdasarkan struktur organisasi dan uraian jabatan keperawatan RS DR.
Sardjito April 2007 adalah sebagai berikut:
a.
Tugas Pokok Primary Nurse:
1) Mengelola asuhan keperawatan pasien di ruang rawat
2) Melakukan fungsi kolaboratif dengan tim kesehatan lain
3) Melaksanakan pendidikan kesehatan bagi pasien dan keluarga
4) Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan bimbingan PKK

5) Melakukan/membantu pelaksanaan penelitian


6) Melakukan pengendalian, pemantauan dan evaluasi kegiatan guna

b.

peningkatan mutu pelayanan keperawatan di ruang rawat


7) Mendukung terlaksananya program Patient Safety
Tugas Primary Nurse
1) Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan dalam rangka
memperlancar pelaksanaan kegiatan
2) Menggantikan tugas PJ ruang pada pagi hari jika PJ tidak ada.
3) Mendelegasikan tugas perawat primer pada sore, malam, hari libur
kepada perawat asosiate
4) Memberikan bimbingan mahasiswa praktek yang ada dalam groupnya
dalam rangka orientasi dan pelaksanaan praktek keperawatan.
5) Perawat primer menginformasikan peraturan dan tata tertib yang
berlaku pada pasien/keluarga.
6) Perawat primer melakukan visite/monitoring perkembangan pasien
dan memberitahukan serta menyiapkan pasien yang akan pulang
7) Perawat primer menerima konsultasi/keluhan pasien/keluarga dan
berupaya mengatasinya, serta memfasilitasi pelaksanaan konsultasi
dengan dokter
8) Perawat primer membuat laporan tugas kepada Karu setiap akhir tugas
tentang kondisi pasien dan masalah yang ada
9) Mengikuti pertemuan ilmiah/rutin yang diselenggaraan RS di
lingkungan tugasnya
10) Bertanggung jawab atas kelengkapan entry data dalam Billing System.
c.
Tanggung Jawab Primary Nurse
1) Kebenaran kajian data, diagnosa dan rencana keperawatan
2) Kebenaran layanan asuhan, evaluasi dan resume keperawatan
3) Kebenaran dan ketetapan pendidikan/penyuluhan kesehatan pada
pasien
4) Pemenuhan kebutuhan kesehatan pasien dengan kolaborasi tim
kesehatan lain
5) Kelengkapan dan kebenaran informasi kepada pasien tentang dokter
dan perawat yang bertanggung jawab, jadwal konsultasi dan rencana
tindakan yang akan dilakukan dan rencana perawatan setelah pasien
pulang
6) Kelengkapan dan kebenaran isian dokumen asuhan keperawatan
7) Kebenaran bimbingan dan arahan kepada perawat asosiet dan
mahasiswa praktek klinik keperawatan
8) Kebenaran dan kelengkapan laporan dan
d.

keperawatan
Wewenang Primary Nurse

dokumen asuhan

1) Mengatur, membimbing dan memberikan arahan tugas kepada


AN/mahasiswa PKK yang menjadi tanggung jawabnya
2) Meminta bahan dan perangkat kerja yang dibutuhkan untuk
pelaksanaan asuhan dan pelayanan sesuai dengan kebutuhan pasien
3) Melakukan kolaborasi dengan tim kesehatan
4) Melakukan konsultasi dan koordinasi tugas dengan penanggung jawab
ruang dan PN lain
5) Melakukan asuhan dan pelayanan yang komprehensif dan prima
kepada semua pasien yang menjadi tanggung jawabnya
6) Mendelegasikan tugas pada AN bila sedang tidak bertugas.
Penanggung Jawab Tugas Jaga (PJTJ)
a.

Tugas Pokok Penanggung Jawab


Tugas Jaga:
1) Mengelola kegiatan pelayanan dan asuhan keperawatan pasien di
2)
3)
4)
5)
6)

ruang rawat pada sore, malam dan hari libur


Melaksanakan fungsi kolaboratif dengan tim kesehatan lain
Melaksanakan pendidikan kesehatan bagi pasien dan keluarga
Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan bimbingan PKK
Melakukan/membantu pelaksanaan penelitian
Melakukan pengendalian, pemantuan dan evaluasi kegiatan guna
peningkatan mutu pelayanan keperawatan di ruang rawat pada sore,

b.

malan, dan hari libur


7) Mendukung terlaksananya program Patient Safety.
Uraian Tugas Penanggung Jawab
Tugas Jaga:
1) Memberikan pengarahan, orientasi dan bimbingan kepada mahasiswa
praktek di ruangan
2) Mengkoordinir pelaksanaan tata tertib, disiplin, kebersihan dan
keamanan ruangan
3) Melaksanakan asuhan keperawatan dengan menggunakan proses
keperawatan
4) Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan dalam rangka
memperlancar pelaksanaan kegiatan di ruangan
5) Membagi pasien kepada grup MPM sesuai kemampuan dan beban
kerja
6) Memfasilitasi dan mendukung kelancaran tugas asuhan dan pelayanan
7) Melakukan supervisi dan memberi motivasi seluruh staf untuk
mencapai kinerja yang optimal
8) Melakukan upaya peningatan mutu asuhan dan pelayanan
9) Berperan sebagai konsultan dari perawat asosiet (AN) pada saat PN
tidak bertugas.

c.

Tanggung

Jawab

Penanggung

Jawab Tugas Jaga:


1) Ketepatan koordinasi tugas asuhan dan pelayanan di ruangan
2) Kebenaran arahan tugas staf dan mahasiswa
3) Kelancaran memfasilitasi kebutuhan yang diperlukan untuk asuhan
dan pelayaan
4) Kelancaran layanan dan asuhan yang komprehensif dan prima
5) Kelancaran pelaksanaan pendelegasian tugas Pj. Ruang keperawatan
pada sore, malam dan hari libur
6) Kebenaran dan ketepatan penggunaan sumber daya yang efisien dan
efektif
7) Kebenaran laporan pelaksanaan kegiatan asuhan dan pelayanan
keperawatan.
d.

Wewenang Penanggung Jawab Tim


1) Mengatur dan membimbing dan memberikan arahan anggota
tim/mahasiswa PKK yang menjadi tanggung jawabnya
2) Meminta bahan dan perangkat kerja yang dibutuhkan untuk
pelaksanaan asuhan dan pelayanan sesuai dengan kebutuhan pasien
3) Melakukan kolaborasi dengan tim kesehatan
4) Melakukan konsultasi dan koordinasi tugas dengan penanggung
jawab ruang dan PN lain
5) Melakukan asuhan dan pelayanan yang komprehensif dan prima
kepada semua pasien yang menjadi tanggung jawabnya
6) Mendelegasikan tugas pada AN bila sedang tidak bertugas

Assosiate Nurse (AN)


a.
1)
2)
3)
4)
5)
6)

Tugas Pokok Assosiate Nurse (AN):


Melaksanakan asuhan keperawatan pasien di ruang rawat inap
Melaksanakan fungsi kolaboratif dengan tim kesehatan lain
Melaksanakan pendidikan kesehatan bagi pasien dan keluarga
Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan bimbingan PKK
Melakukan/membantu pelaksanaan penelitian
Melakukan pengendalian, pemantauan dan evaluasi kegiatan guna

peningkatan mutu pelayanan keperawatan di ruang rawat inap


7) Mendukung terlaksananya program Patient Safety
b.
Uraian Tugas Assosiate Nurse (AN):
1) Melakukan doa bersama setiap awal dan akhir tugas yang dilakukan
setelah selesai serah terima operan tugas jaga.
2) Mengikuti pre conference yang dilakukan PN setiap awal tugas pagi.
3) Melakukan asuhan keperawatan kepada pasien yang menjadi
tanggung jawab dan ada bukti di rekam keperawatan.
4) Melakukan monitoring respon pasien dan ada bukti di rekam
keperawatan.
5) Melakukan konsultasi tentang masalah pasien kepada PN.

6) Membimbing dan melakukan pendidikan kesehatan kepada pasien


yang

menjadi

tanggung

jawabnya

dan

ada

bukti

direkam

keperawatan.
7) Menerima keluhan pasien dan keluarga dan berusaha untuk
mengatasinya.
8) Melengkapi catatan asuhan keperawatan pada semua pasien yang
menjadi tanggung jawabnya.
9) Melakukan evaluasi asuhan keperawatan setiap akhir tugas pada
semua pasien yang menjadi tanggung jawabnya dan ada

bukti

direkam keperawatan.
10) Mengikuti post conference yang diadakan oleh PN pada setiap akhir
tugas dan melaporkan kondisi/perkembangan semua pasien yang
menjadi tanggung jawabnya kepada PN dan ada bukti di rekam
keperawatan
11) Bila PN tidak ada, wajib mengenalkan AN yang ada dalam satu group
yang akan memberikan asuhan keperawatan pada jaga berikutnya
12)
13)
14)
15)

kepada pasien/keluarga baru.


Mengikuti diskusi kasus/conference dalam pertemuan rutin
Melaksanakan tugas lain sesuai uraian tugas AN
Melaksanakan tugas PN pada sore, malam, dan hari libur
Berkoordinasi dengan Pj tugas jaga apabila ada kesulitan tentang

pelayanan
16) Bertanggung jawab atas kelengkapan entry data dalam Billing
System.
c.

Tanggung Jawab Assosiate Nurse (AN):


1) Kebenaran asuhan keperawatan meliputi kajian diagnosis, rencana
tindakan keperawatan
2) Kebenaran dan ketepatan pelayanan dan asuhan keperawatan yang
komprehensif dan prima
3) Kelengkapan bahan dan peralatan kesehatan
4) Kebenaran isian rekam keperawatan
5) Kebenaran infomasi/bimbingan/penyuluhan

kesehatan

kepada

pasien/keluarga
6) Ketepatan penggunaan sumber daya secara efisien dan efektif
d.
Wewenang Assosiate Nurse (AN):
1) Memeriksa kelengkapan dan alat yang diperlukan
2) Meminta bahan dan perangkat kerja sesuai dengan kebutuhan
pelaksanaan tugas
3) Melakukan pengkajian, menetapkan diagnosa dan perencanaan
keperawatan bagi pasien baru pada saat PN tidak bertugas sore,
malam, dan hari libur

4) Melakukan asuhan keperawatan pasien


5) Melaporkan asuhan keperawatan pasien ke PJ tugas jaga dan Perawat
Primer (PN)

BAB III
PELAKSANAAN DAN EVALUASI
A. PELAKSANAAN
1.
Langkah-Langkah Kegiatan
Berdasarkan permasalahan yang telah ditemukan maka akan dilakukan upaya
untuk optimalisasi pelaksanaan Metode Modifikasi (MPM), optimalisasi meeting
morning, pre conference, pelaksanaan operan jaga, post conference. Adapun langkahlangkah kegiatan yang dilakukan terangkum dalam tabel di bawah ini.

No
.
1.

2.

3.

Tabel 1. Langkah Kegiatan Optimalisasi Pelaksanaan MPM


di Ruang Dahlia 5 RSUP Dr. Sardjito 31 Dsember 2015 9 Januari 2016
Pelaksan
Kegiatan
Sasaran
Tujuan
Waktu
Tempat
a
PERSIAPAN
Konsultasi
Ners
KaRu
Menjelaskan
31
Ruang
dengan KaRu
muda
Dahlia 5
makasud dan
Desembe Dahlia
tujuan kegiatan
r 2015
5
optimalisasi
MPM, rencana
kegiatan yang
akan dilakukan
dan mendapatkan
masukan terkait
upaya
optimalisasi
pelaksanaan
MPM
Koordinasi
Ners
KaRu
Mendiskusikan
31
Ruang
dengan KaRu
muda
dan PN
terkait hasil
Desembe Dahlia
dan PN Ruang
Ruang
observasi
r 2015
5
Dahlia 5
Dahlia 5
pelaksanaan
dan 1
MPM dan upaya
Januari
optimalisasi
2016
MPM selanjutnya
Melakukan
Ners
Ners
Persiapan lembar 1 - 2
Ruang

No
.

4.

1.

2.

1.

Kegiatan
studi literatur
dan
menyiapkan
instrumen
terkait
pelaksanaan
MPM
Sosialisasi
pelaksanaan
MPM dengan
role play

Pelaksan
a
muda

Ners
muda

Pendampingan
dan observasi
pelaksanaan
meeting
morning,
operan jaga,
pre conference,
post
conference di
Dahlia 5
Observasi
pelaksanaan
tugas KaRu,
PN, AN di
Dahlia 5

Ners
muda

Diskusi tentang
pelaksanaan
MPM operan
jaga, meeting
morning, pre
conference,

Ners
muda

Ners
muda

Sasaran
muda

Tujuan
checklist untuk
pendampingan
pelaksanaan
MPM dan
persiapan role
play MPM

KaRu,
PN, AN
Dahlia 5

Mensosialisasika
n adanya
pendampingan
pelaksanaan
MPM selama 6
hari sehingga
semua perawat
memiliki
persiapan
pelaksanaan
MPM secara
optimal
PELAKSANAAN
Karu,
Memantau
PN, AN
pelaksanaan
Dahlia 5
MPM setelah
adanya evaluasi
pelaksanaan
MPM
sebelumnya

KaRu,
PN, AN
Dahlia 5

Melakukan
penilaian
optimalisasi
pelaksanaan
peran dalam
MPM setelah
evaluasi hasil
pengkajian
sebelumnya
EVALUASI
Karu dan Mengevaluasi
PN
perubahan
Dahlia 5
pelaksanaan
MPM

Waktu

Tempat

Januari
2016

Dahlia
5

4 11
Januari
2016

Nurse
Station
Ruang
Dahlia
5

5 11
Januari
2016

Ruang
Dahlia
5

5 - 11
Januari
2016

Ruang
Dahlia
5

13 14
Januari
2016

Ruang
Dahlia
5

No
.

2.

2.

Kegiatan
post
conference di
Dahlia 5
Evaluasi
pelaksanaan
MPM sebelum
dan setelah
pendampingan

Pelaksan
a

Ners
muda

Sasaran

KaRu,
PN, AN
Dahlia 5

Tujuan

Mengetahui
pencapaian
optimalisasi
pelaksanaan
MPM

Waktu

13 14
Januari
2016

Tempat

Ruang
Dahlia
5

Jadwal Kegiatan
Jadwal kegiatan optimalisasi pelaksanaan MPM khususnya pelaksanaan
meeting morning, operan, pre-post conference,penerimaan dan orientasi pasien baru,
serta observasi pelaksanaan tugas KaRu, PN, dan AN dapat dijelaskan dengan tabel
berikut:

Tabel 2. Jadwal Kegiatan Optimalisasi Pelaksanaan MPM


di Ruang Dahlia 5 IRNA I RSUP Dr. Sardjito Desember 2015 Januari 2016
Pelaksanaan (Desember 2015 - Januari 2016)
No
Kegiatan
3
1
2
4
5 6
7 8
9 11 12 13
1
PERSIAPAN
1
Konsultasi dengan
X
KaRu

2
Koordinasi dengan
X X
PN & KaRu Dahlia
5
3
Melakukan studi
X X
literatur dan

menyiapkan
instrumen terkait
pelaksanaan MPM
4
Sosialisasi
X
pelaksanaan MPM

dengan role play


PELAKSANAAN
1
Pendampingan dan
X X X X
X
observasi

pelaksanaan operan
jaga, meeting
morning, pre
conference, post
conference di
Dahlia 5

Pelaksanaan (Desember 2015 - Januari 2016)


No
2

Kegiatan

3
1

Observasi
pelaksanaan tugas
KaRu, PN, AN di
Dahlia 5

11

12

13

EVALUASI
1

Diskusi tentang
pelaksanaan MPM
operan jaga,
meeting morning,
pre conference, post
conference,
penerimaan dan
orientasi pasien
baru di Ruang
Dahlia 5
Evaluasi
pelaksanaan MPM
sebelum dan setelah
pendampingan

Keterangan: X = rencana, = pelaksanaan

3.

Anggaran Biaya
Anggaran biaya optimalisasi pelaksanaan MPM dijelaskan pada tabel berikut:
Tabel 3. Anggaran Biaya Pelaksanaan MPM
di Ruang Dahlia 5 RSUP Dr. Sardjito Desember 2015 Januari 2016

No
.
1.
2

Kebutuhan

Rencana Biaya

Realisasi biaya

Print
Rp 10.000,00
Rp 7.500,00
Foto copy
Rp 10.000,00
Rp 15.000,00
Jumlah
Rp 20.000,00
Rp 22.500,00
Sumber: Data Primer, Desember 2015 Januari 2016
B. EVALUASI
1.
Ketentuan Evaluasi Optimalisasi Pelaksanaan MPM
Ketentuan evaluasi optimalisasi pelaksanaan MPM meliputi beberapa
komponen evaluasi yang dijelaskan pada tabel sebagai berikut:

No
1.

Tabel 4. Ketentuan Evaluasi Optimalisasi Pelaksanaan MPM


di Ruang Dahlia 5 RSUP Dr. Sardjito Desember 2015 Januari 2016
Komponen Evaluasi
Pelaksanaan MPM
Hal yang dievaluasi
Pelaksanaan operan jaga, meeting morning, Pre
conference, Post conference, tugas KaRu, tugas PN,
tugas AN, hubungan antar staf keperawatan, hubungan
profesional antara staf keperawatan dengan dokter/tim

No

2.
3.
4.

Komponen Evaluasi

Sasaran evaluasi
Evaluator
Instrumen evaluasi

Pelaksanaan MPM
kesehatan lain, hubungan staf keperawatan dengan
pasien, informasi pasien baru, discharge planning
Kepala ruang, PN dan AN
Ners muda dan perawat ruang Dahlia 5
Instrumen MPM yang meliputi: operan jaga, meeting
morning, Pre Conference, Post conference, tugas KaRu,
tugas PN, tugas AN, hubungan antar staf keperawatan,
hubungan profesional antara staf keperawatan dengan
dokter/tim kesehatan lain, hubungan staf keperawatan
dengan pasien, informasi pasien baru, discharge

5.
6.
7.
8.
9.

Sampel
Metode evaluasi
Waktu
Tempat
Kriteria keberhasilan

planning
1 Karu, 2 PN, dan 11 AN
Observasi dan wawancara
5 - 11 Januari 2016
Ruang Dahlia 5
Pelaksanaan MPM minimal 90%

Sumber: Data Primer, Desember 2015 Januari 2016


2.

Hasil
Hasil evaluasi pelaksanaan MPM dilakukan dengan cara observasi langsung
maupun wawancara. Observasi pelaksanaan MPM dilakukan selama lima hari di
Ruang Dahlia 5 dengan menggunakan instrumen pelaksanaan MPM. Observasi
dilaksanakan pada tanggal 5-11 Januari 2016. Hasil evaluasi pelaksanaan MPM
operan jaga, meeting morning, Pre conference, Post conference, tugas KaRu, tugas
PN, tugas AN, hubungan antar staf keperawatan, hubungan profesional antara staf
keperawatan dengan dokter/tim kesehatan lain, hubungan staf keperawatan dengan
pasien, informasi pasien baru, discharge planning tersebut selanjutnya dibandingkan
dengan data hasil pengkajian tanggal 28-30 Desember 2015 yang dapat dilihat pada
tabel berikut ini:
Tabel 5. Pelaksanaan Tugas Kepala Ruang Keperawatan
di Ruang Dahlia 5 RSUP Dr. Sardjito Januari 2016

No

Variabel Yang Dinilai

1.

Membagi staf ke dalam grup MPM sesuai dengan kemampuan dan beban
kerja

Observasi
Sebelum
Sesudah
f (1)
Ya Tdk

f (5)
Ya Tdk
5

2.
3.

Membuat jadwal dinas koordinasi dengan PN


Menyiapkan materi tentang permasalahan pasien dan ruangan yang ada

5
5

4.

pada hari tersebut termasuk laporan permasalahan dinas malam


Kepala Ruang melakukan meeting morning untuk menindaklanjuti masalah

yang ada yang diawali dan diakhiri dengan doa


5.

Membagi pasien ke dalam grup MPM sesuai dengan kemampuan dan beban

6.

kerja.
Memfasilitasi dan mendukung kelancaran tugas PN dan AN

7.

Melakukan supervisi dan memberi motivasi seluruh staf keperawatan untuk

8.

mencapai kinerja yang optimal


Memberikan reinforcement positif kepada semua staf termasuk pada saat

9.

mengakhiri meeting morning kepada dinas malam dan dinas pagi


Melakukan upaya peningkatan mutu asuhan keperawatan dengan melakukan

10.

evaluasi melalui angket setiap pasien akan pulang


Mendelegasikan tugas kepada PPJR pada jaga sore, malam, libur

11.

Berperan serta sebagai konsultan

12.

Melakukan pengawasan kedisiplinan tugas staff melalui daftar hadir yang

13.

ada di ruang
Memberikan pendidikan kesehatan pada pasien dan keluarga

12
2
85,7%

5
70
0
92,8%

14

Mengadakan CNE ( Continuing Nursing Education)


Jumlah
Presentase
Sumber: Hasil Observasi Bulan Januari 2016

Tabel 6. Pelaksanaan Tugas PN di Ruang Dahlia 5 RSUP dr. Sardjito Januari 2016

No

Tugas PN

Observasi
Sebelum
Sesudah

1.
2.

Bertugas pada pagi hari


Bersama AN menerima operan tugas jaga dari AN yang tugas malam

f (1)
Ya Tdk

3.

Bersama AN melakukan konfirmasi/supervisi tentang kondisi pasien

4.

segera setelah selesai operan tugas jaga malam


Bersama AN melakukan doa bersama sebagai awal dan akhir tugas

dilakukan setelah selesai operan tugas jaga malam

f (5)
Ya Tdk
5
5

5.

Melakukan pre conference dengan semua AN yang ada dalam grupnya

6.

setiap awal dinas pagi


Membagi tugas atau pasien kepada AN sesuai kemampuan dan beban kerja

7.

Melakukan

8.

jawab ada bukti di rekam keperawatan


Memonitor dan membimbing tugas AN

9.

Membantu tugas AN untuk kelancaran pelaksanaan asuhan pasien

10.

Mengoreksi, merevisi, dan melengkapi catatan asuhan keperawatan yang

11.

dilakukan oleh AN yang ada di bawah tanggung jawabnya


Melakukan evaluasi hasil kepada setiap pasien sesuai tujuan yang ada

pengkajian,

menetapkan

masalah

atau

diagnosa

dan

perencanaan keperawatan kepada semua pasien yang menjadi tanggung

dalam perencanaan asuhan keperawatan dan ada bukti dalam rekam


12.

keperawatan
Melaksanakan post conference pada setiap akhir dinas dan menerima
laporan akhir tugas jaga dari AN untuk persiapan operan tugas jaga

13.

berikutnya
Mendampingi AN dalam operan tugas jaga kepada AN yang tugas jaga

14.

berikutnya
Memperkenalkan AN yang ada dalam satu grup atau yang akan merawat

19.
16.

selama pasien dirawat atau kepada pasien/keluarga baru


Mendelegasikan tugas kepada AN pada sore malam libur
Melaksanakan pendelegasian tugas PJ ruang bila pagi hari tidak bertugas

17.

Menyelenggarakan diskusi kasus dengan dokter dan tim kes. lain setiap

18.

minggu
Menyelenggarakan diskusi kasus dalam pertemuan rutin keperawatan di

19.

ruangan minimal sebulan sekali


Melakukan bimbingan klinik keperawatan kepada AN minimal seminggu
sekali (ronde keperawatan/bed side teaching)

20.

Melaksanakan tugas lain sesuai uraian tugas


Jumlah
Persentase
Sumber: Hasil Observasi Bulan Januari 2016

5
5

Tugas AN

5
5
5

17
3
85 %

Tabel 7. Pelaksanaaan Tugas AN di Ruang Dahlia 5 RSUP dr. Sardjito Januari 2016
No

Observasi

5
95
5
95%

Sebelum

1.

Melaksanakan operan tugas setiap awal dan akhir jaga dari dan

Ya

2.

kepada AN yang ada dalam satu grup


Melakukan konfirmasi atau supervisi tentang kondisi pasien

3.

segera setelah selesai operan setiap pasien


Melakukan doa bersama setiap awal dan akhir tugas yang

4.
5.

dilakukan setelah selesai serah terima operan tugas jaga


Mengikuti pre conference yang dilakukan PN setiap awal tugas
Melaksanakan asuhan keperawatan kepada pasien yang menjadi

6.

f (1)
Tdk

Sesudah
Ya
5
5
5

5
5

tanggung jawabnya dan ada bukti di rekam keperawatan


Melakukan monitoring respon pasien dan ada bukti di rekam

7.

keperawatan
Melakukan konsultasi tentang masalah pasien/keluarga kepada

8.

PN
Membimbing dan melakukan pendidikan kesehatan kepada
pasien yang menjadi tanggung jawabnya dan ada bukti di rekam

9.

keperawatan
Menerima keluhan

untuk

10.

mengatasinya
Melengkapi catatan asuhan keperawatan pada semua pasien

11.

yang menjadi tanggung jawabnya


Melakukan evaluasi asuhan keperawatan pada semua pasien

12.

yang menjadi tanggung jawabnya


Mengikuti post conference yang diadakan oleh PN pada setiap

pasien/keluarga

dan

berusaha

akhir tugas dan melaporkan kondisi dan perkembangan semua


13.

pasien yang menjadi tanggung jawabnya kepada PN


Bila tak ada PN wajib mengenalkan AN yang ada dalam grup
yang akan memberikan asuhan keperawatan pada jaga

14.
19.

berikutnya kepada pasien/keluarga baru


Melaksanakan pendelegasian tugas PN pada sore malam libur
Berkoordinasi dengan PPJR/dokter/tim kesehatan lain bila ada

16.

masalah pasien pada sore malam libur


Mengikuti diskusi kasus dengan dokter/tim kesehatan lain setiap

17.

seminggu sekali
Mengikuti diskusi kasus dalam pertemuan rutin keperawatan di

5
85

18.

ruangan
Melaksanakan tugas lain sesuai uraian tugas AN
Jumlah

16

f (5)
Tdk

5
5
5

Persentase
Sumber: Hasil Observasi Bulan Januari 2016

89%

94,4%

Tabel 8. Pelaksanaaan Tugas antar staff keperawatan dengan pasien di Ruang Dahlia 5
RSUP dr. Sardjito Januari 2016

No
1.

Hubungan Profesional Antar staff Keperawatan dengan Pasien


atau Keluarga

Sebelum

Sesudah

Ya

Ya

Tdk

Kepala ruang melakukan supervisi seluruh pasien yang ada di

Tdk

ruangan setiap awal tugas


2.

Observasi

PN dan AN mensupervisi seluruh pasien yang menjadi tanggung

jawabnya segera setelah menerima operan tugas setiap pasien.


3.

PN menginformasikan peraturan dan tata tertib RS yang berlaku

kepada setiap pasien atau keluarga baru


4.

PN memperkenalkan perawat dalam satu grup yang akan merawat

selama pasien dirawat di RS


9.

PN atau AN melakukan visit atau monitoring pasien untuk

mengetahui perkembangan atau kondisi pasien


6.

PN memberikan penjelasan setiap rencana tindakan atau program


pengobatan sesuai wewenang dan tanggung jawabnya.

7.

Setiap akan melakukan tindakan keperawatan PN atau AN


memberikan penjelasan atas tindakan yang akan dilakukan kepada

pasien atau keluarga


8.

Kesediaan PN atau AN untuk menerima konsultasi/keluhan


pasien/keluarga dan berupaya mengatasinya

9.

Pasien atau keluarga mengetahui siapa PN atau perawat yang


bertanggung jawab selama ia dirawat dan ditulis pada papan nama

TD

TD

TD

TD

pasien.
10.

PN atau AN memberitahu dan mempersiapkan pasien yang akan


pulang.

Jumlah
Persentase

8
88%

1
90%

Sumber: Hasil Observasi Bulan Januari 2016

Tabel 9. Tugas Antar Staf di Ruang Dahlia 5 RSUP dr. Sardjito Januari 2016
Observasi
No

Hubungan Profesional Antar staf Keperawatan

Sebelum
Ya

1.

Penanggung jawab pelayanan mengadakan pertemuan rutin

Tdk

Sesudah
Ya

Tdk

Karu minimal 1x/minggu


2.

PJ Ru Kep mengadakan petemuan rutin dengan seluruh staf


kep minimal sebulan sekali

3.

Karu mengadakan pertemuan rutin dengan PN minimal


1x/minggu

4.

PN mengadakan pre dan post conference pada setiap awal dan

akhir jaga pagi


9.

PN menerima serah terima dari AN yang tugas jaga


sebelumnya

6.

PN mendampingi serah terima tugas jaga antara AN pada


tugas jaga berikutnya.

7.

AN melaksanakan serah terima tugas jaga dari jaga sebelum


dan kepada tugas jaga berikutnya.

8.

PN melakukan dokumentasi askep terutama dalam


pengkajian, menetapkan diagnosa dan penyusunan rencana
keperawatan.

9.

AN melakukan dokumentasi askep terutama dalam hal


pelaksanaan dan evaluasi keperawatan.

10.

PN membuat laporan tugas pada PJRu Kep setiap akhir tugas


terutama keadaan umum pasien dan permasalahan yang ada.

11.

PN melakukan motivasi/bimbingan/reinforcement dengan AN


setiap hari

12.

AN menggantikan tugas PN bila PN tidak ada

13.

PPJr menggantikan tugas PJRu pada tugas S/M/HL

1
12
92,3%

12

Jumlah
Persentase

92,3%

Sumber: Hasil Observasi Bulan Januari 2016

Tabel 10. Pelaksanaaan profesional/kemitraan antara staf keperawatan dengan


dokter/tim kesehatan lain di Ruang Dahlia 5 RSUP dr. Sardjito Januari 2016
Observasi
Sebelum
Sesudah
Ya
Tdk
Ya
Tdk

Hubungan Profesional/Kemitraan Antar staf

No

Keperawatan dengan Dokter/Tim Kesehatan Lain

1.

PN atau AN melakukan visite bersama dengan

2.

dokter/tim kesehatan lain yang merawat


PN melakukan diskusi kasus dengan dokter/tim

3.

kesehatan minimal 1x/minggu.


Hubungan profesional/kemitraan dengan dokter/tim

4.

kesehatan lain tercermin dalam dokumen rekam medik.


PN atau AN dapat segera memberikan data pasien yang
akurat dengan cepat dan tepat kepada dokter/tim

5.

kesehatan lain bila dibutuhkan.


PN/AN menggunakan rekam medik sebagai sarana
hubungan profesional dalam rangka pelaksanaan

6.

program kolaborasi.
Dokter/tim kesehatan lain menggunakan rekam

keperawatan sebagai sarana hubungan profesional


7.

dalam rangka program kolaborasi.


Dokter/Tim kesehatan yang lain mengetahui setiap

8.

pasien siapa PN yang merawat.


PN memfasilitasi pelaksanaan konsultasi
pasien/keluarga dengan dokter/tim kesehatan lain.
Jumlah
Persentase

62,5%

2
75%

Sumber: Hasil Observasi Bulan Januari 2016

Tabel 11. Evaluasi Pelaksanaan Meeting Morning dalam Melaksanakan MPM di Ruang
Dahlia 5 RSUP dr. Sardjito Januari 2016
No

Variabel yang dinilai

Observasi
Sebelum
Sesudah
f (1)

f (5)

1.

KaRu menyiapkan tempat untuk melakukan

Ya

2.
3.

meeting morning
Didahului dengan berdoa
KaRu memberikan arahan kepada staf dengan

5
5

4.

materi yang telah disiapkan sebelumnya


KaRu melakukan klarifikasi apa yang telah

9.

disampaikan kepada staf


Memberikan
kesempatan

staf

untuk

Tdk

Ya
5

Tdk

mengungkapkan permasalahan yang muncul


6.

di ruangan
Bersama-sama

7.

pemecahan masalah yang dapat ditempuh


KaRu memberi motivasi dan reinforcement

staf

mendiskusikan

kepada staf
Meeting morning diikuti oleh seluruh staff
Jumlah
Persentase
Sumber: Hasil Observasi Bulan Januari 2016
8.

7
1
87,5%

5
40
0
100%

Tabel 12. Pelaksanaan Serah Terima Tugas Jaga (Operan)


di Ruang Dahlia 5 dr. Sardjito Januari 2016
Observasi
No

Variabel Yang Dinilai

Sebelum

Sesudah

f (1)

f (5)

Ya

1)

Perawat pemberi operan menyiapkan tempat untuk operan

2)

Perawat pemberi operan menyiapkan rekam medis yang telah diisi

Tdk

Ya
5

dengan rekam keperawatan yang lengkap sesuai shift jaga


3)

Kepala ruang/PN/AN memimpin operan diawali doa bersama

4)

Perawat mengoperkan status kesehatan pasien dengan cara

membacakan rekam keperawatan


5)

Perawat mengoperkan nama pasien, diagnose medis dan masalah

6)

keperawatan
Perawat mengoperkan

tindakan

keperawatan

mandiri

dan

kolaborasi yang telah dilakukan beserta hasil dan waktu


pelaksanaan

Tdk

7)

Perawat menyebutkan perkembangan/kondisi fisik pasien yang

8)

terjadi selama shift


Perawat menyebutkan rencana tindakan keperawatan mandiri dan

9)

kolaborasi yang akan dilakukan dan waktu pelaksanaan


Perawat penerima operan melakukan pengecekan kelengkapan

10)

dokuman asuhan keperawatan


Perawat penerima operan mencatat hal-hal yang dioperkan untuk

11)

setiap pasien dalam buku peran tugas


Perawat pemberi dan penerima operan melakukan kunjungan

12)

pasien dalam rangka klarifikasi kan konfirmasi


Perawat yang mengoperkan menginformasikan

kepada

13)

pasien/keluarga nama perawat shift berikutnya


Perawat penerima operan memberi salam kepada pasien/keluarga

14)

serta mengenalkan diri dengan komunikasi yang baik


Perawat pemberi dan penerima operan menandatangani buku

15)

operan tugas
Pemberi dan penerima operan saling memberikan reinforcement

16)

Ka Ruang/PN/AN/ menutup operan dengan baik

12

Jumlah

75

75%

Persentase
Sumber: Hasil Observasi Bulan Januari 2016

93,7%

Tabel 13. Pelaksanaan Pre Conference di Ruang Dahlia 5 dr. Sardjito Januari 2016
Observasi
No

Variabel Yang Dinilai

Sebelum

Sesudah

f (1)

f (5)

Ya

Tdk

Ya
5

Tdk

1.

PN menyiapkan ruangan/tempat

2.

PN menyiapkan rekam medik pasien yang menjadi

3.

tanggung jawabnya
PN menjelaskan tujuan dilakukannya pre conference

4.

PN memandu pelaksanaan pre conference

5.

PN

menjelaskan

masalah

keperawatan

pasien,

keperawatan dan rencana keperawatan yang menjadi


6.

tanggung jawabnya
PN membagi tugas kepada AN sesuai kemampuan

yang dimiliki dengan memperhatikan keseimbangan


7.

kerja
PN Mendiskusikan cara dan strategi pelaksanaan

8.

asuhan pasien/tindakan
PN memotivasi untuk memberikan tanggapan dan

9.

penyelesaian masalah yang sedang didiskusikan


PN
mengklarifikasi
kesiapan
AN
untuk

10.

yang menjadi tanggung jawabnya


PN Memberikan reinforcement positif pada AN

11.

PN Menyimpulkan hasil pre conference

melaksanakan asuhan keperawatan kepada pasien

Jumlah

Persentase

45

72,7%

10

81,8%

Sumber: Hasil Observasi Bulan Januari 2016

Tabel 14. Pelaksanaan Post Conferencedi Ruang Dahlia 5 dr. Sardjito Januari 2016

No

Observasi
Sebelum
Sesudah

Variabel yang dinilai

1.
2.

PN menyiapkan ruang/tempat
PN menyiapkan rekam medik pasien yang menjadi

3
4.

tanggung jawabnya
Menjelaskan tujuan dilakukannya post conference
PN menerima penjelasan dari AN tentang hasil tindakan

5.

/hasil asuhan keperawatan yang telah dilakukan AN


PN mendiskusikan masalah yang ditemukan

masalahnya
PN memberikan reinforcement pada AN
PN menyimpulkan hasil post conference
PN mengklarifikasi pasien sebelum melakukan operan tugas

jaga berikutnya (melakukan ronde keperawatan)


Jumlah
Persentase
Sumber: Hasil Observasi Bulan Januari 2016

f (1)
Tdk

Ya
5

f (5)
Tdk
5

5
5

dalam

memberikan askep pasien dan mencari upaya penyelesaian


6.
7.
8.

Ya

5
5
5

5
3
62,5%

30

10
75%

Tabel 15. Pelaksanaan Penerimaan dan Pemberian Orientasi Pasien Baru


di Ruang Dahlia 5 dr. Sardjito Januari 2016
No

Kegiatan

Observasi
Sesudah
Sebelum
Ya
Tdk
Ya
Td

A.
1.
2.
3.
4.

Pre Interaksi
Menyiapkan ruangan untuk pasien baru
Mengidentifikasi data pasien baru
Melaksanakan serah terima pasien baru
Mengantarkan pasien baru ke kamar pasien sesuai kelas perawatan

B.
1.

Orientasi
Memberi salam dengan sopan dan memperkenalkan diri pada keluarga

2.
C.
1.

Menjelaskan tujuan orientasi pasien baru


Kerja
Memberitahukan kepada keluarga nama ruangan, kamar dan kelas

2.

pasien dirawat
Mengenalkan dan menjelaskan cara penggunaan fasilitas yang ada di
ruangan (nursing call, tempat tidur, almari meja pasien, kamar mandi

pasien, wastafel, tempat linen kotor, jemuran handuk, dll sesuai


3.

fasilitas yang ada)


Menjelaskan prosedur pembuangan sampah:

Sampah non medis (ember dengan plastik hitam)

4.

Sampah medis (ember dengan plastik kuning)


Memberi tahu tempat jaga perawat (nurse station) bila sewaktu-waktu

5.
D.
1.
2.

memerlukan.
Mengklarifikasi kejelasan orientasi yang telah diberikan
Terminasi
Menyimpulkan hasil kegiatan
Merencanakan tindak lanjut kepada pasien/ keluarga dan rencana

3.

pertemuan selanjutnya
Memberi reinforcement positif (terima kasih, semoga lekas sembuh,

E
1.

dsb) dan mengakhiri orientasi dengan salam


Dokumentasi
Melakukan dokumentasi penerimaan dan orientasi pasien baru di

blangko rekam medik yang telah tersedia


Jumlah
Persentase
Sumber: Hasil Observasi Bulan Januari 2016

13

2
87 %

14

1
93%

Tabel 16. Pelaksanaan Penerimaan dan Pemberian Informasi Pasien Baru


di Ruang Dahlia 5 dr. Sardjito Januari 2016
Observasi
Sebelum
Sesudah
Ya
Tdk Ya
Tdk

No

Kegiatan

A.
1

Pre Interaksi
Mengumpulkan data pasien (nama, kelas, status:

2
3

umum, askes, jamkesmas, dll)


Menyiapkan tempat untuk memberikan informasi
Menyiapkan media (leaflet) dan blangko bukti

B.
1
2
3

pemberian informasi pasien baru


Orientasi
Memberi salam dengan senyum
Memperkenalkan diri (nama dan peran perawat)
Mengajak pasien/ keluarga ke tempat yang telah

disiapkan
Mempersilahkan

berhadapan dengan perawat


Menanyakan nama panggilan kesukaan pasien/

6
7
8
9

keluarga
Menanyakan perasaan pasien/ keluarga
Menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan
Menjelaskan tujuan kegiatan
Menjelaskan perkiraan waktu yang dibutuhkan untuk

C.
1

kegiatan pemberian informasi baru


Kerja
Memberikan kesempatan pasien/ keluarga untuk

pasien/

keluarga

untuk

duduk

mengklarifikasi informasi
Melakukan pemberian informasi baru, antara lain:
a. Menjelaskan materi informasi yang akan diberikan

b. Menjelaskan petugas yang akan merawat

c. Menjelaskan waktu konsultasi


d. Menjelaskan hak dan kewajiban pasien/ keluarga
e. Menjelaskan peraturan dan tata tertib
1) Tarif pelayanan
2) Tata tertib penunggu dan pengunjung
3) Pedoman administrasi pasien pulang/pindah
bangsal

Pasien umum

Pasien ASKES/ PNS

Pasien Jamkesmas
Pasien Astek/ Jamsostek
(1) Menjelaskan bahwa perkembangan kondisi dan
rencana perawatan pasien akan disampaikan oleh
PN

setiap

pagi

atau

sewaktu-waktu

bila

diperlukan
(2) Menjelaskan perencanaan perawatan lanjutan

(discharge planning)
(3) Menjelaskan fasilitas ruang rawat
Mengklarifikasi kejelasan pasien/ keluarga terhadap

D.
1
2

informasi yang telah disampaikan


Terminasi
Menyimpulkan hasil kegiatan
Memberikan reinforcement positif pada pasien/
keluarga

(terima

kasih

atas

kpercayaan

dan

kerjasamanya, semoga lekas sembuh, dsb)


Merencanakan tindak lanjut kepada pasien/ keluarga

4
E.
1

dan rencana pertemuan selanjutnya


Mengakhiri kegiatan dengan salam
Dokumentasi
Perawat dan pasien/ keluarga menandatangani bukti
pemberian informasi pasien baru pada blangko rekam

medik yang telah tersedia


Jumlah

25
5
83,3%

27

3
90%

Sumber: Hasil Observasi Bulan Januari 2016

Tabel 17. Pelaksanaan Perencanaan Pasien Pulang (Discharge Planning)


di Ruang Dahlia 5 dr. Sardjito Januari 2016
No

Kegiatan

Pelaksanaan

Sebelum
Ya
Tdk
A.
1.

Pre Interaksi
Mengidentifikasi

2.
3.
4.
5.

pengetahuan pasien/keluarga.
Mengidentifikasi kebutuhan perawatan lanjutan pasien di rumah
Membuat rencana interaksi
Menyiapkan tempat untuk memberikan discharge planning
Menyiapkan bahan untuk pemberian discharge planning

data

pasien

(tingkat

pendidikan

dan

Sesudah
Ya
Tdk

(pedoman pemberian discharge planning, leaflet), surat kontrol,


B.
1
2

surat pulang, obat-obatan.


Orientasi
Memberi salam dengan senyum
Memperkenalkan diri (nama dan peran) dan menjelaskan tugas

3
4
5
6

perawat (KaRu/ PN/ PjTj)


Menanyakan perasaan pasien/ keluarga
Menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan
Menjelaskan tujuan kegiatan
Menjelaskan perkiraan waktu yang dibutuhkan untuk kegiatan

C.
1

pemberian discharge planning


Kerja
Memberikan kesempatan pasien/ keluarga untuk klarifikasi

informasi yang telah disampaikan


Menjelaskan informasi discharge planning secara urut sesuai

3
4

pedoman:
a. Masalah keperawatan yang perlu tindak lanjut di rumah
b. Penyuluhan/ pendidikan kesehatan:
- Cara pemakaian obat
- Cara makan dan minum/ pengaturan diet
- Cara pengaturan aktivitas dan istirahat
- Lain lain : Contoh : cara perawatan luka, cara menyusui
c. Periksa ulang / control
Mengklarifikasi informasi yang telah diberikan
Menanyakan kejelasan informasi discharge planning yang telah

D
1

disampaikan pada pasien/ keluarga


Terminasi
Mengevaluasi pengetahuan pasien/ keluarga tentang informasi

discharge planning yang diberikan


Memberikan reinforcement positif pada pasien/ keluarga (terima

3
E
1

kasih atas kerjasamanya, dsb)


Mengakiri pertemuan dengan mengucapkan salam
Dokumentasi
Perawat (KaRu/PN/PjTj) dan pasien/ keluarga menandatangani

bukti pemberian discharge planning di blangko rekam medik


yang telah disediakan
Jumlah
Persentase
Sumber: Hasil Observasi Bulan Januari 2016

20

4
83,3%

23

1
95,8%

Tabel 18. Hasil Rekapitulasi Evaluasi Total Penerapan MPM


di Ruang Dahlia 5 RSUP dr. Sardjito
NO

VARIABEL YANG DINILAI

SKOR
Sebelum

Sesudah

85,7%

100%

1.

Tugas KaRu

2.

Tugas PN

85%

95%

3.

Tugas AN

89%

94,4%

4.

Hubungan profesional staf keperawatan

88%

90%

5.

dengan pasien
Hubungan
profesional

staf

92,3%

92,3%

6.

keperawatan yang mendukung MPM


Hubungan
profesional
antar

staf

62,5%

75%

87,5%

100%

75%

93,7%

antar

keperawatan dengan dokter/tim kesehatan


7.

lain
Evaluasi meeting morning

8.

Evaluasi pelaksanaan tugas jaga (operan)

9.

Evaluasi pelaksanaan pre conference

72,7%

81,8%

10.

Evaluasi pelaksanaan post conference

62,5%

75%

11.

Pengkajian pelaksanaan orientasi pasien

87%

93%

12.

baru
Pengkajian

pemberian

83,3%

90%

13.

informasi pasien baru


Pengkajian pelaksanaan discharge planning

83,3%

95,8%

81%

90,46%

pelaksanaan

Jumlah rata-rata (%)


Sumber: Hasil Observasi Bulan Januari 2016
3.

Analisa dan Pembahasan


Setelah dilakukannya kegiatan optimalisasi MPM melalui pendampingan
pelaksanaan MPM di ruang Dahlia 5, didapatkan hasil bahwa terjadi peningkatan

pada proses pelaksanaan MPM. Dari hasil pengkajian awal yang dilakukan pada 2830 Desember 2015, nilai rata-rata pelaksanaan proses MPM sebesar 81%, setelah
dilakukan pendampingan, hasil evaluasi pelaksanaan MPM naik menjadi 90,46%.
Berdasarkan hasil tersebut, dapat diketahui bahwa kegiatan pendampingan MPM
memberikan pengaruh terhadap kualitas pelaksanaan MPM yang ditunjukkan dengan
peningkatan rata-rata skor rekapitulasi kegiatan MPM. Berdasarkan tabel hasil
rekapitulasi penerapan MPM dapat diketahui bahwa pelaksanaan tugas KaRu semula
85,7% menjadi 100%, pelaksanaan tugas PN 85% menjadi 95%, pelaksanaan tugas
AN 89% menjadi 94,4%, hubungan profesional staf keperawatan dengan pasien
semula 88% menjadi 90%, hubungan profesional antar staf keperawatan yang
mendukung MPM semula 92,3% tidak mengalami perubahan yaitu tetap menjadi
92,3%, hubungan profesionalantar staf keperawatan dengan dokter/tim kesehatan lain
semula 62,5% menjadi 75%, pelaksanaan meeting morning semula 87,5% menjadi
100%, pelaksanaan operan tugas jaga semula 75% menjadi 93,7%, pelaksanaan pre
conference semula 72,7% menjadi 81,8%, pelaksanaan post conference semula 62,5%
menjadi 75%, pelaksanaan orientasi pasien baru semula 87% menjadi 93%,
pelaksanaan pemberian informasi pasien baru semula 83,3% menjadi 90%, dan
pelaksanaan discharge planning semula 83,3% menjadi 95,8%.
Hasil optimalisasi MPM pada tugas KaRU dengan nilaiawal sebesar 85,7%
naik menjadi 100%, peningkatan terjadi pada item KaRu memberikan reinforcement
positif kepada semua staf termasuk pada saat mengakhiri meeting morning kepada
dinas malam dan dinas pagi dan juga item tentang CNE (Continuing Nursing
Education). Menurut hasil wawancara dan observasi

didapatkan bahwa KaRu

menjalankan pengadaan CNE untuk staf di ruangan. KaRu menyampaikan informasi


atau masalah yang perlu disampaikan dalam kegiatan meeting morning seperti
motivasi untuk meningkatkan pelayanan keperawatan kepada klien sebaik-baiknya
serta motivasi untuk menjalankan tugas dan kewajiban sesuai peran masing-masing
anggota staf. Berdasarkan hasil analisa data mengenai tugas KaRu dapat disimpulkan
bahwa pelaksanaan tugas KaRu sudah sangat baik dengan pencapaian sebesar 100%.
Saran atau rekomendasi yang dapat diberikan untuk KaRu Dahlia 5 terkait MPM
adalah mempertahankan dan tetap menjalankan tugas sesuai dengan perannya sebagai
seorang KaRu dan meningkatkan kinerja terutama pada item seperti memberikan
reinforcement positif kepada semua staf saat mengakhiri meeting morning kepada
dinas malam dan dinas pagi.

Hasil observasi tugas PN setelah pendampingan MPM mengalami


peningkatan, dari nilai awal sebesar 85%, naik menjadi 95%. Kenaikan terjadi pada
item kegiatan memperkenalkan AN yang ada dalam satu grup atau yang akan merawat
selama pasien dirawat atau kepada pasien dan keluarga. Sebelum kegiatan
pendampingan kegiatan tersebut tidak dilakukan, perawat hanya menyampaikan
kepada pasien dan keluarga tentang saatnya pergantian atau operan jaga/shift namun
belum

memperkenalkan

anggota

perawat

yang

berjaga

saat

itu.

Setelah

pendampingan, perawat sudah menyebutkan bahwa sedang dilakukan operan jaga,


menyebutkan perawat yang turun jaga dan memperkenalkan pada pasien dan keluarga
nama perawat yang bertugas setelahnya. Berdasarkan uraian tugas PN, item yang
belum terlaksana dari tugas PN adalah melakukan bimbingan klinik keperawatan
kepada AN minimal satu minggu sekali (ronde keperawatan atau bed side teaching).
Berdasarkan hasil observasi, PN sering berdiskusi dengan dokter atau tim kesehatan
lain terkait permasalahan yang ada pada pasien. Kegiatan tersebut tidak dilakukan
secara formal, namun dilakukan secara insidental ketika perlu untuk saling
mengklarifikasi dan mendiskusikan permasalahan yang ada pada pasien. Dalam hal
tugas PN dalam melakukan bimbingan klinik keperawatan kepada AN minimal
seminggu sekali melalui ronde atau bed side teaching, kegiatan tersebut belum
dilakukan. Kegiatan antara PN dan AN terjadi saat diskusi perkembangan pasien
terutama saat kegiatan operan jaga. Berdasarkan uraian tugas PN dalam MPM, dapat
disiimpulakn bahwa PN sudah menjalankan tugasnya dengan baik dilihat dari capaian
nilai sebesar 95%. Saran atau rekomendasi yang dapat diberikan untuk tugas PN
adalah mempertahankan dan melaksanakan tugas yang sudah dilakukan dengan baik
berdasarkan uraian tugas PN dan meningkatkan tugasnya dalam hal melaksanakan
bimbingan klinik keperawatan kepada AN minimal seminggu sekali melalui ronde
atau bed side teaching serta menyelenggarakan diskusi kasus dengan dokter dan tim
kesehatan lain setiap minggu secara formal. Tindak lanjut yang dapat direncanakan
adalah perlu adanya jadwal/agenda khusus untuk mengakomodir kegiatan diskusi atau
bimbingan klinik keperawatan. Misalnya dalam satu minggu diambil satu hari untuk
ronde keperawatan yang dilakukan bersama antara KaRu, PN dan AN.
Pelaksanaan tugas AN dalam keterlibatannya dalam MPM

mengalami

peningkatan, dari nilai awal sebesar 89% meningkat menjadi 94,4%%. Secara
keseluruhan tugas AN dilaksanakan dengan baik mulai dari melaksanakan operan
tugas setiap awal dan akhir jaga, melakukan konfirmasi segera setelah selesai operan,

melakukan doa bersama setiap awal dan akhir kegiatan, mengikuti pre conference,
melaksanakan asuhan keperawatan kepada pasien yang menjadi tanggung jawabnya,
melakukan monitoring respon pasien, melakukan konsultasi kepada PN, membimbing
dan melakukan pendidikan kesehatan kepada pasien, menerima keluhan pasien dan
keluarga, melengkapi catatan asuhan keperawatan, melakukan evaluasi asuhan
keperawatan, mengikuti post conference, melaksanakan pendelegasian tugas PN,
berkoordinasi dengan tim kesehatan lain, dan melaksanakan tugas lain sesuai dengan
uraian tugas AN. Kegiatan yang belum terlaksana berdasarkan uraian tugas AN adalah
dalam hal mengikuti diskusi kasus dengan dokter atau tim kesehatan lain setiap
seminggu sekali dan mengikuti diskusi kasus dalam pertemuan rutin keperawatan
diruangan. Hal tersebut dikarenakan tidak adanya diskusi kasus yang dilakukan secara
formal. Diskusi kasus dilakukan secara langsung dengan sesama perawat maupun
dokter dan tim kesehatan lainnya ketika saat itu terdapat masalah pada pasien yang
perlu didiskusikan untuk mencari solusinya. Saran atau rekomendasi dan tindak lanjut
yang diberikan untuk AN adalah untuk tetap melanjutkan tugas sesuai dengan peran
dan tanggungjawabnya serta selalu mengikuti dan berpartisipasi aktif dalam diskusi
kasus meskipun diskusi yang dilakukan tidak secara formal.
Pelaksanaan tugas antara staf dengan pasien dengan nilai awal sebesar 88%
meningkat menjadi 90%. Perubahan yan terjadi adalah dalam hal pasien dan keluarga
mengetahui siapa perawat yang bertanggung jawab merawat pasien. Hal ini tidak
lepas dari peningkatan dalam proses operan jaga. Sebelum pendampingan perawat
tidak menyebutkan nama perawat yang bertugas pada shift berikutnya. Setelah
pendampingan, setiap operan jaga dengan kegiatan keliling ke pasien selalu
disebutkan perawat yang turun jaga dan siapa perawat yang menggantikan setelahnya.
Dengan menyebutkan nama perawat yang menggantikan bertugas, maka pasien
mengetahui perawat yang bertanggung jawab merawat pada hari tersebut. Saran atau
rekomendasi yang diberikan kepada staf keperawatan untuk mempertahankan
pelaksanaan hubungan antara staf dengan pasien dan dapat dilakukan konsisten
sehingga dapat dipertahankan. Namun dalam item pasien atau keluarga mengetahui
siapa PN atau perawat yang bertanggung jawab selama ia dirawat dan ditulis pada
papan nama pasien, hal tersebut tidak dapat dinilai. Sesuai dengan ketentuan JCI yang
berlaku di RSUP Dr. Sardjito bahwa papan nama pasien sudah tidak diperkenankan
lagi untuk digunakan.

Berdasarkan hasil observasi, pelaksanaan tugas antar staf di Ruang Dahlia 5


tidak mengalami peningkatan, yaitu tetap menjadi 92,3%. Uraian pelaksanaan tugas
antar staf yang belum dilaksanakan adalah dalam hal KaRu mengadakan pertemuan
rutin dengan PN. Hal ini belum dilakukan karena ketika adalah masalah yang harus
diselesaikan, baik PN maupun KaRu langsung saling berkomunikasi, sehingga tidak
terdapat pertemuan khusus antara KaRu dan PN. Saran atau rekomendasi dalam
pelaksanaan tugas antar staf sudah baik, namun perlu adanya pertemuan antara KaRu
dan PN untuk membahas permasalahan baik permasalahan pasien maupun
permasalahan yang ada diruangan.
Pelaksanaan profesional/ kemitraan antara staf keperawatan dengan dokter/tim
kesehatan lain mengalami peningkatan, dari nilai awal 62,5% menjadi 75%.
Peningkatan terjadi pada diskusi kasus dengan dokter atau tim kesehatan lainnya.
Diskusi kasus yang dilakukan tidak secara formal, namun adanya timbal balik antara
perawat dengan dokter atau tim kesehatan lainnya dalam menyelesaikan
permasalahan yang ada dalam pasien. Perawat dan dokter saling memberikan
informasi tentang perkembangan pasien dan berdiskusi untuk tindakan yang akan
dilakukan selanjutnya. Dokter juga selalu menginformasikan kepada perawat jika
pasien memerlukan tindakan. Uraian pelaksanaan profesional kemitraan antara staf
keperawatan dengan dokter atau tim kesehatan lain, terdapat item yang belum dapat
dilaksanakan seperti dokter/tim kesehatan lain belum menggunakan rekam
keperawatan sebagai sarana hubungan profesional dalam rangka program kolaborasi
dan dokter/tim kesehatan yang lain mengetahui setiap pasien siapa PN yang merawat.
Saran atau rekomendasi yang dapat diberikan adalah meningkatkan hubungan
kemitraan antara dokter dengan perawat sehingga dapat terjalin komunikasi antar
tenaga kesehatan yang lebih baik serta pelayanan terbaik untuk pasien.
Pelaksanaan kegiatan meeting morning dengan nilai awal sebesar 875,%
meningkat menjadi 100%. Peningkatan terjadi pada item KaRu memberikan
reinforcement positif. Pelaksanaan meeting morning selalu dilakukan setiap pagi
sebelum melakukan aktivitas diruangan dan dipimpin oleh kepala ruang. Setelah
kegiatan meeting morning, kemudian dilanjutkan dengan operan jaga dan
preconference. Saran atau rekomendasi untuk kegiatan meeting morning adalah untuk
mempertahankan kegiatan yang sudah dapat dilakukan, sehingga pelaksanaan meeting
morning dapat berjalan optimal sesuai dengan fungsinya.
Pada pelaksanaan serah terima tugas jaga (operan), di Ruang Dahlia 5, dari
nilai awal 75% naik menjadi 93,7%. Peningkatan terjadi pada item perawat penerima

operan melakukan pengecekan kelengkapan dokuman asuhan keperawatan, perawat


pemberi dan penerima operan menandatangani buku operan tugas serta saling
memberikan reinforcement. Namun saling memberikan reinforcement belum
dilakukan sepenuhnya, pemberi operan dan penerima operan belum saling
memberikan reinforcement positif, terkadang hanya satu pihak saja. Saran atau
rekomendasi yang dapat diberikan dalam pelaksanaan serah terima tugas adalah tetap
mempertahankan item-item yang sudah dilakukan dengan baik pada kegiatan serah
terima tugas dan meningkatkan dalam hal saling memberikan reinforcement positif
antara pemberi operan dan penerima operan.
Pelaksanaan preconference sebelum pendampingan didapatkan hasil sebesar
72,7%, setealah pendampingan naik menjadi 81,8%. Peningkatan terjadi pada item
PN menjelaskan masalah keperawatan pasien, keperawatan dan rencana keperawatan
yang menjadi tanggung jawabnya. Tanggapan dan penyelesaian masalah disampaikan
ketika proses diskusi. Ketika ditemukan permasalahan saat kegiatan preconference
berdasarkan informasi dari perawat sebelumnya, maka didiskusikan dan diambil
pemecahan masalahnya. Sementara itu, dari uraian kegitan preconference, item yang
belum terlaksana antara lain dalam PN menjelaskan tujuan dilakukannya
preconference dan PN menyiapkan rekam medik pasien yang menjadi tanggung
jawabnya. Menurut hasil wawancara PN tidak menjelaskan tujuan preconference
karena kegitan preconference terintegrasi bersama kegiatan serah terima (operan).
Sedangkan untuk kesiapan rekam medik, saat pelaksanaan preconference tidak
menggunakan rekam medik dikarenakan saat pagi hari rekam medik pasien sering
digunakan untuk visite atau sedang dipergunakan dokter untuk mencatat instruksi dan
sebagainya. Sehingga perawat menggunakan buku bantu keperawatan untuk
melakukan preconference dan operan. Saran atau rekomendasi yang dapat diberikan
yaitu diharapkan kegiatan preconference dapat berjalan dengan menggunakan rekam
medik agar pelaksanaan asuhan keperawatan dapat berjalan dengan optimal.
Berdasarkan hasil observasi sebelum pendampingan, nilai pelaksanaan post
conference sebesar 62,5%. Setelah kegiatan pendampingan, nilai pelaksanaan post
conference naik menjadi 75%. Peningkatan terjadi pada item PN memberikan
reinforcement positif. Penyampaian reinforement positif dilakukan oleh PN diakhir
kegiatan post conference. Item yang belum terlaksana dalam post conference yaitu
menjelaskan tujuan dilakukannya post conference dan belum menyiapkan rekam
medik saat kegiatan post conference. Saran atau rekomendasi yang dapat diberikan

untuk pelaksanaan post conference yaitu tetap mempertahankan pelaksanaan post


conference yang sudah sesuai dengan prosedur, terutama pada item-item yang sudah
dilaksanakan dan upaya penyampaian tujuan dilakukannya post conference.
Pelaksanaan penerimaan dan pemberian orientasi pasien baru di ruang Dahlia
5 mengalami peningkatan dari 87% menjadi 93%. Hal yang belum terlaksanan adalah
menyiimpulkan hasil kegiatan pada saat fase terminasi. Berdasarkan hasil tersebut,
saran atau rekomendasi yang dapat diberikan adalah mempertahankan pelaksanaan
penerimaan dan pemberian orientasi pasien baru dengan item-item yang sudah
dilakukan, serta melakukan klarifikasi kembali terhadap kejelasan orientasi yang
diberikan untuk memastikan bahwa penerima informasi sudah memahami informasi
yang disampaikan.
Pelaksanaan penerimaan dan pemberian informasi pasien baru, dari nilai awal
sebesar 83,3% meningkat menjadi 90%. Peningkatan terjadi pada item penjelasan
waktu konsultasi dan memberikan reinforcement positif pada pasien atau keluarga.
Peningkatan dalam penyiapan media untuk informasi pasien baru didukung dengan
diperbaruinya lembar balik sebagai media untuk membantu mempermudah
menyampaikan informasi kepada pasien baru. Dari uraian item dalam penerimaan dan
pemberian informasi baru, beberapa item yang belum terlaksana antara lain dalam hal
menanyakan perasaan pasien atau keluarga, dan pada item menyimpulkan hasil
kegiatan, menjelaskan perkiraan waktu konsultasi dan menyimpulkan hasil kegiatan.
Pelaksanaan perencanaan pasien pulang (discharge planning) dari nilai awal
sebesar 83,3% mengalami sedikit peningkatan menjadi 95,8%. Peningkatan terjadi
pada item menanyakan perasan keluarga/pasien. Namun terdapat hal yang belum
dilakukan adalah menjelaskan perkiraan waktu yang dibutuhkan untuk kegiatan
pemberian discharge planning.
4.

Faktor Kendala dan Pendukung


a. Faktor Kendala
Kendala yang ditemui dalam pelaksanaan kegiatan optimalisasi kegiatan MPM di
Ruang Dahlia 5 antara lain:
1) Terdapat perawat yang belum sepenuh hati mengikuti kegiatan optimalisasi
MPM sehingga peran dalam kegiatan optimalisasi MPM kurang maksimal.
2) Waktu kedatangan dari perawat yang beragam, sehingga kegiatan baru bisa
dimulai ketika seluruh anggota tim sudah datang dan siap
b. Faktor Pendukung
Faktor pendukung dalam pelaksanaan kegiatan optimalisasi MPM antara lain:

1) Adanya kebijakan dari RSUP. Dr Sardjito dalam melaksanakan MPKP dengan


MPM.
2) Adanya kerjasama dan dukungan yang baik dengan KaRu dan perawat ruangan
untuk aktif berpartisipasi dalam pelaksanaan optimalisasi MPM.
3) Adanya dukungan dan keterlibatan dari seluruh staf baik PN maupun AN dalam
kegiatan optimalisasi MPM.
4) Adanya pedoman pelaksanaan meeting morning, pre dan post conference,
operan jaga, pemberian orientasi dan informasi pasien baru, kegiatan discharge
planning, pelaksanaan tugas KaRu,PN, AN.
5.

Kesinambungan
Optimalisasi pelaksanaan MPM di Ruang Dahlia 5 RSUP Dr. Sardjito
memerlukan tindakan nyata:
a. Kepala ruang memberikan arahan dan dorongan kepada staf keperawatan untuk
meningkatkan pelaksanaan MPM setiap minggunya setelah praktek managemen
selesai di Ruang Dahlia 5.
b. Kepala Ruang bersama PN melakukan evaluasi berkala kepada seluruh perawat
untuk menilai kegiatan MPM yang berjalan, setiap bulan setelah praktek
manajemen selesai di Ruang Dahlia 5.
c. Seluruh staf meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelaksanaan MPM dan
berpertisipasi aktif sesuai dengan peran dan tanggung jawab yang telah kewajiban
pada masing-masing staf untuk mendukung pelaksanaan MPM.
d. PJTJ melakukan supervisi pada AN jaga sore /malam/ hari libur agar tetap
berkomitmen dalam pelaksanaan MPM setiap harinya di Ruang Dahlia 5.

6.

Refleksi Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan yang digunakan di Ruang Dahlia 5 menurut Gillies
(1996) dalam Nursalam (2015) berdasarkan kekuasaan dan wewenang adalah
demokratis. Sedangkan strategi yang digunakan saat melaksanakan kegiatan antara
lain dengan diskusi, komunikasi yang asertif, mencontohkan prosedur dan
memberikan reinforcement kepada perawat yang terlibat.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pelaksanaan kegiatan optimalisasi kegiatan MPKP dengan
metode MPM, melaui kegiatan studi literatur, sosialisasi, role play dan evaluasi yang
dilakukan pada tanggal 5-11 Januari 2016 di Ruang Dahlia 5 RSUP Dr. Sardjito, dapat
disimpulkan bahwa pelaksanaan MPM meningkat sebesar 9,46%. Dari nilai awal 81%
meningkat

menjadi

90,46%.

Maka

dapat

disiimpulkan

bahwa

pelaksanaan

pendampingan berpengaruh terhadap peningkatan pelaksanaan MPM, dan target


mencapai 90% terpenuhi
B. SARAN
1. Pelaksanaan MPKP dengan metode MPM di Ruang Dahlia 5 secara keseluruhan
sudah terlaksana dengan baik. Kepala ruang bersama PN dan seluruh staf untuk
mempertahankan kegiatan yang sudah berjalan dengan baik seperti pelaksanaan
tugas Kepala Ruang, PN, dan AN, hubungan profesional staf keperawatan dengan
pasien, hubungaan antar staf keperawatan, pelaksanaan meeting morning,
pelaksanaan operan jaga, pelaksanaan discharge planning. Sementara itu terdapat
beberapa kegiatan yang perlu untuk ditingkatkan seperti pelaksanaan post
conference dan hubungan profesional antar staf keperawatan dengan dokter/tim
kesehatan lain
2. Perlunya kegiatan evaluasi pelaksanaan MPM secara berkala agar pelaksanaan
kegiatan MPM dapat terkontrol dan dapat segera dilakukan tindak lanjut apabila
terdapat hal-hal yang kurang sesuai dengan pedoman.

DAFTAR PUSTAKA
Gillies. 1994. Nursing Management, A System Approach, W.B. Saundrs, Philadelphia.
Swansburg. 1996. Management and Leadership for Nurse Managers, second edition. Jones
and Barlet Publisher. Boston.
DEPKES RI. 2002. Standar Tenaga Keperawatan di Rumah Sakit. Dit Jen Yanmed, cetakan I.
DEPKES RI. Jakarta.
DEPKES RI. 2009. Sistem Pemberian Pelayanan Keperawatan Profesional. Direktorat Bina
Pelayanan Keperawatan DEPKES RI. Jakarta.
Nursalam. 2015. Manajemen Keperawatan, Aplikasi dalam Praktik Keperawatan Profesional,
Edisi 5. Penerbit Salemba Medika. Jakarta.