Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PRAKTIKUM PTK IV

AYAKAN

Disusun Oleh:
Restu Riyadi Prasetyo

2005430044

Asadullah M ikhsan

2005430009

Fitriyanti

2005430041

Jurusan Kimia
Fakultas Teknik
Universitas Muhammadiyah Jakarta
2009

OPERASI AYAKAN ( SIEVING )


Djs art work
12

I.

MAKSUD DAN TUJUAN


Memisahkan

bahan

atas

dasar

ukuran

partikel,

untuk

memperoleh bahan dengan ukuran partikel lebih uniform.


Menentukan luas permukaan spesifik bahan.

II.

TEORI PERCOBAAN
Pengecilan bahan menjadi ukuran tertentu biasanya disesuaikan

dengan tujuannya. Bahan padat dapat dipecah dengan beberapa cara,


antara lain sebagai berikut :

Copression

Impact

Attrition

Cutting
Setelah bahan itu dipecah tentunya bahan tersebut mempunyai

ukuran partikel lebih kecil. Keseragaman ukuran dapat diperoleh


melalui operasi ayakan, kemudian bahan tersebut dianalisis dengan
perlakuan memisahkannya secara mekanis. Salah satu alat untuk
menganalisis ukuran partikel yang telah menjadi ukuran kecil-kecil
adalah standar Ayakan Tyler.
Karakteristik Partikel Zat Padat.
Partikel zat padat secara individu dikarakteristikan dengan
ukuran,

bentuk

dan

densitasnya.

Partikel

zat

padat

homogen

mempunyai densitas yang sama dengan bahan bongkahan. Partikelpartikel yang didapatkan dengan memecahkan zat padat campuran,
misalnya

bijih

yang

mengandung

logam,

mempunyai

berbagai

densitas, biasanya mempunyai densitas yang berbeda dari bahan


lindaknya. Untuk partikel yang bentuknya beraturan, misalnya yang
berbentuk bola dan kubus, ukuran dan bentuknya dapat dinyatakan
dengan mudah. Tetapi partikel yang bentuknya tidak beraturan (seperti
butir-butir pasir dan serpih mika), istilah ukuran (size) dan bentuk
(shape) tidak begitu jelas dan harus didefinisikan secara acak.

Djs art work


12

Bentuk Partikel
Bentuk setiap partikel dikarakteristikkan dengan sferisitas atau
kebolaan (Sphericity) S , yang tidak bergantung pada ukuran partikel.
Untuk partikel berbentuk bola

dengan diameter D p, = 1; untuk

partikel yang tidak berbentuk bola, sferisitas didefinisikan oleh


hubungan :
S =

6Vp
D p Sp

dimana : Dp = diameter

(1)

ekivalen

atau

diameter

nominal

partikel
sp

= luas permukaan ssatu partikel

vp = volume satu partikel


Diameter

ekivalen

kadang-kadang

didefinisikan

sebagai

diameter bola yang volumenya sama dengan volume partikel itu.


Tetapi, bahan-bahan berbentuk bijian (granular) halus, volume maupun
luas permukaannya tidak mudah ditentukan secara eksak, sehingga Dp
biasanya diambil dari ukuran nominal atas dasar analisis ayak (screen
analysis) atau melalui pemeriksaan mikroskop. Luas permukaan
didapatkan dari pengukuran adsorpsi atau dari penurunan tekanan di
dalam hamparan partikel, dan kemudian pers. (1) diterapkan untuk
menghitung S. Untuk kebanyakan bahan pecahan, nilai S berkisar
antara 0,6 dan 0,8, seperti terlihat pada tabel 1; tapi untuk partikel
yang telah membulat karena abrasi S bisa sampai setinggi 0,95.
Untuk kubus dan silinder yang panjangnya L sama dengan
diameternya, diameter ekivalen itu lebih besar dasri L, dan S yang
didapatkan dari diameter ekivalen ialah 0,61 untuk kubus dan 0,87
untuk silinder. Untuk bentuk-bentuk itu sebaiknya digunakan diameter
nominal L, karena rasio permukaan terhadap volume ialah 6/Dp, sama
dengan bola, dan hal ini membuat S sama dengan 1,0. Untuk isian
kolom (column packing) seperti cincin dan pelana, juga digunakan
ukuran nominal untuk menentukan S.

Djs art work


12

Ukuran Partikel
Pada umumnya, diameter dapat ditentukan untuk setiap
partikel yang ekidimensional. Partikel yang tidak ekidimensional, yaitu
yang panjang pada satu arah ketimbang pada arah yang lain, partikel
itu dikarakterisasi dengan dimensi utama yang kedua terpanjang.
Untuk partikel berbentuk jarum, umpamanya D p akan menunjukkan
tebal partikel, dan bukan pada panjangnya.
Ukuran partikel manurut konvensi, dinyatakan dalam berbagai
satuan, bergantung pada jangkauan ukuran yang terlibat. Parikelpartikel kasar diukur dalam inci atau milimeter; partikel halus dengan
ukuran ayak, partikel yang sangat halus dengan ukuran mikrometer.
Partikel-partikel yang ultrahalus kadang-kadang diberikan dengan luas
permukaan per satuan massa, biasanya dalam meter persegi per
gram.
Ukuran Partikel Campuran Dan Analisis Ukuran.
Dalam contoh yang ukurannya seragam, dengan diameter Dp,
volume total partikel ialah m/p, diameter m dan p masing-masing
ialah massa contoh dan densitas partikel. Oleh karena volume satu
partikel adalah vp, banyaknya partikel di dalam contoh N ialah :
m

N = v
p
p

(2)

Tabel 1. Sifat bola untuk bermacam-macam bahan.


Sifat
Bahan

bentuk

Sifat bentuk
Bahan

bola

Pasir Rounded

0,95

1,0

Pasir Ottawa
Debu Coal

0,83
0,73

Dp)
L = Do, Di = 0,5

0,58

Pasir Hitam

0,65

Do
L = Do, Di = 0,75

0,33

Gelas Crushed

0,65

0,3

Sempih Mica

0,28

bola
Bola,

kubus,

silinder
pendek (L = Dp)
Cincin Raschig (L =

Do
Pelana Berl

Djs art work


12

Luas permukaan partikel-partikel itu ialah, dari pers. (1) dan (2)
6m

A = N sp = D
S
p
p

(3)

Agar dapat mererapkan pers. (2) dan (3) terhadap partikel yang
mempunyai berbagai ukuran dan berbagai densitas, campuran itu
dipilahkan menjadi fraksi-fraksinya, masing-masing dengan densitas
konstan dan ukuran yang mendekati konstan. Setiap fraksi ini
ditimbang, atau partikel-partikelnya dicacah atau diukur dengan salah
satu cara yang dapat digunakan. Pers. (2) dan (3) lalu dapat diterapkan
terhadap setiap fraksi itu dan hasilnya kemudian dijumlahkan.
Informasi

dari

analisis

ukuran

partikel

didaftarkan

untuk

menunjukkan massa atau jumlah fraksi yang terdapat didalam setiap


tokokan atau pertambahan kecil (increment) ukuran berbagai fungsi
ukuran partikel rata-rata (atau jangkauan ukuran) di dalam tokokan itu.
Analisis yang ditabulasikan dengan cara demikian dinamakan analisis
differensial (differensial analysis). Hasilnya biasanya disajikan dalam
bentuk

histogram,

seperti

terlihat

pada

gambar

1a,

dengan

menggunakan kurva kontinu sebagai pendekatan terhadap distribusi,


seperti ditunjukkan oleh garis putus-putus pada gambar itu. Cara
kedua untuk menyajikan informasi itu ialah dengan menggunakan
analisis

kumulatif

(Cumulatif

Analysis)

yang

didapatkan

dengan

menjumlahkan tokokan-tokokan itu secara berurutan, mulai dari yang


mengandung partikel terkecil; lalu mendaftarkan atau memetakan
jumlah kumulatif tersebut terhadap diameter maksimum dari partikel
yang terdapat di dalam tokokan itu. Gambar 1b, merupakan pemetaan
terhadap analisis kumulatif distribusi yang terlihat pada gambar 1a.
Dalam analisis kumulatif, data itu dapat dinyatakan dengan baik dalam
bentuk kurva kontinu.
Perhitungan mengenai ukuran partikel rata-rata, luas permukaan
partikel, atau populasi partikel itu di dalam campuran itu dapat dibuat
berdasarkan analisis differensial ataupun analisis kumulatif. Pada
prinsipnya, metode yang didasarkan atas analisis kumulatif lebih tepat
daripada yang didasarkan atas analisis differensial; sebab, bila kita
menggunakn analisis kumulatif, kita tidak perlu lagi mengandaikan

Djs art work


12

bahwa semua partikel yang terdapat di dalam satu fraksi tertentu


mempunyai

ukuran

yang

sama.

pengukuran

besar

partikel

Namun,

biasanya

dilain

tidak

pihak

memadai

ketelitian

untuk

kita

menggunakan analisis kumulatif, sehingga perhitungan itu hampir


selalu didasarkan atas analisis differensial saja.
Permukaan Spesifik Campuran
Jika densitas partikel

p dan sferisitas

s diketahui, luas

permukaan partikel didalam setiap fraksi dapat dihitung dari pers. (3).
Bila

hasilnya

untuk

semua

fraksi

dijumlahkan

kita

akan

mendapatkan A, yaitu permukaan spesifik (spesific surface), artinya


luas permukaan total per satuan massa partikel. Jika p dan s adalah
konstan, Aw diberikan oleh :
Aw =

6X1
6X 2
6X n

...
S p D p1
S p D p2
S p D pn

6
=
S p

xi

i 1

(4)

pi

dimana subkrip =

masing-masing tokokan

Xi

fraksi massa dalam setiap tokokan tertentu

jumlah tokokan

Dpi

diameter partikel rata-rata, diambil sebagai

rata-rata
aritmetik dari diameter terkecil dan terbesar
di dalam

FRAKSI MASAA

0,25
0,2
0,15
0,1
0,05
0
0

10 20 30 40 50 60 70 80 90

UKURAN PARTIKEL

Fraksi Massa Kumulatif


lebih kecil dari ukuran
yang ditetapkan

tokokan itu.

100
80
60
40
20
0
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90
UKURAN PARTIKEL

Gambar 1. Distribusi ukuran partikel untuk powder :

Djs art work


12

analisis differensial

analisis kumulatif

Ukuran Partikel Rata-rata


Ukuran partikel rata-rata untuk campuran partikel didefinisikan
menurut berbagai cara. Barangkali yang paling lazim dipakai ialah
diameter

pukul-rata

volume-permukaan

(volume-surface

mean

diameter) Dpi, yang dihubungkan dengan luas permukaan spesifik A w.


Didefinisikan oleh :
Ds =

6
S

(5)

Aw p

Substitusikan pers. (4) ke dalam pers. (5) memberikan :

1
Ds = x i

(6)

D pi

Jika jumlah partikel di dalam setiap fraksi N i diketahui, dan bukan


fraksi massanya. Kadang-kadang, digunakan rata-rata lain. Diameter
pukul-rata-rata aritmetik (arithmetic mean diameter) DN ialah :

N
n

DN =

D pi

i 1

N
n

D pi

i 1

NT

(7)

i1

dimana NT ialah jumlah partikel di dalam keseluruhan contoh.


Diameter

pukul-rata

massa

(massa

mean

diameter)

Dw

didapatkan dari persamaan :


Dw = xi Dpi (8)
Jika volume total contoh itu dibagi dengan

jumlah partikel di

dalam campuran (lihat di bawah) kita dapatkan volume rata-rata setiap


partikel. Diameter partikel itu ialah diameter pukul-rata volume
(volume mean diameter) Dv, yang didapatkan dari hubungan :

Djs art work


12

1
3

Dv =

xi


i 1

(9)

3
D pi

Untuk contoh yang terdiri dari partikel seragam, diameter ratarata, tentu saja sama. Tetapi untuk campuran yang terdiri dari partikel
berbagai ukuran, masing-masing diameter rata-rata yang ada itu
mungkin sangat berlainan satu sama lain.
Jumlah Partikel Di Dalam Campuran
Untuk menghitung, dari analisa differensial, jumlah partikel yang
terdapat didalam campuran, dapat kita gunakan pers. (2), yaitu
persamaan untuk menghitung jumlah partikel yang terdapat di dalam
setiap fraksi. Kemudian Nw, yaitu populasi total didalam suatu massa
contoh, didapatkan dengan menjumlahkan senua fraksi. Untuk suatu
bentuk partikel tertentu, volume setiap partikel itu sebanding dengan
diameternya pangkat tiga, atau
vp = a Dp3 (10)
dimana a adalah faktor bentuk volume (volume shape factor). Dari
pers.(2) dengan mengandaikan bahwa a tidak bergantung pada
ukuran, maka

1
Nw =
a p

xi

i 1

pi

1
a p D v3

(11)

Luas permukaan spesifik, diameter rata-rata yang bermacammacam itu , serta jumlah partikel dapat dihitung dengan mudah dari
analisis ukuran partikel dengan menggunakan program komputer yang
sederhana. Instrumen-instrumen pengukur untuk partikel-partikel yang
sangat halus banyak yang sudah diprogramkan sehingga dapat
menyatakan besaran-besaran itu secara langsung.
Analisis Ayak; Deret Ayak Standar
Ayak (screen) standar digunakan untuk mengukur besarnya
partikel (dan distribusinya) dalam jangkau ukuran antara 3 sampai
0,0015 in (76 mm sampai 38 m). Ayak-ayak uji itu terbuat dari kawat,

Djs art work


12

sedang rapat anyaman (mesh) dan ukuran kawatnya dibakukan


dengan teliti. Bukan ayak itu berbentuk bujur sangkar. Setiap ayak itu
diidentifikasi menurut mesh (rapat ayak) per inci. Bukaan sebenarnya
tentulah lebih kecil dari angka meshnya, karena tebal kawat tentu
harus diperhitungkan juga. Karakteristik dari suatu deret yang lazim
yaitu deret ayak standar Tyler (Tyler standar screen series). Perangkat
ayak ini didasarkan atas bukaan (lubang) ayak ukuran 200 mesh, yang
ditetapkan sebesar 0,074 mm.
Luas bukaan pada setiap ayak tertentu adalah persis dua
kalibukaan pada ayak ukuran berikutnya yang lebih kecil. Rasio
dimensi anyaman yang sebenarnya pada suatu ayak terhadap ayak
berikut yang lebih kecil, oleh karena itu ialah

2 = 1,41.

Untuk mendapatkan pemisahan ukuran yang lebih rapat, dibuat


pula

ayak-ayak

dengan

ukuran-antara

mempunyai dimensi mesh

yang

masing-masingnya

2 atau 1,189 kali ukuran ayak standar

yang lebih kecil berikutnya. Namun biasanya ayak antara ini tidak
banyak dipakai.
Dalam melakukan analisis, seperangkat ayak standar disusun
secara deret dalam suatu tumpukan, dimana ayak denmgan anyaman
paling rapat ditempatkan paling bawah, dan yang anyamannya paling
besar ditempatkan paling atas. Contoh yang dianalisis lalu dimasukkan
ke dalam ayak yang paling atas dan oengayak itu diguncang secara
mekanis selama beberapa waktu tertentu, misalnya selama 20 menit.
Partikel yang tertahan pada setiap ayak dikumpulkan dan ditimbang,
dan massa pada setiap tokokan ayak itu dikonversikan menjadi fraksi
massa atau persen massa dari contoh keseluruhan. Setiap partikel
yang dapat lulus dari ayak yang terhalus dikumpulkan didalam suatu
panci yang ditempatkan pada dasar susunan itu.
Hasil dari analisis ayak ditabulasikan untuk menunjukkan fraksi
massa pada setiap tokokan ayak sebagai fungsi dari jangkau ukuran
mesh pada setiap tokokan itu. Oleh karena partikel yang tertahan pada
suatu ayak tertentu adalah yang lulus dari ayak yang di atasnya, maka
hanya diperlukan dua angka saja untuk menentukan jangkau ukuran
suatu

tokokan;

angka

yang

pertama

berdasarkan

ayak

yang

Djs art work


12

meluluskannya, dan yang kedua ayak yang menahannya. Jadi, notasi


14/20 berarti lulus dari 14 mesh dan tertahan oleh 20 mesh.
Contoh analisa ayak terlihat pada tabel 2. Dua kolom pertama
memberikan ukuran mesh dan lebar bukaan didalam ayak, kolom
ketiga ialahj fraksi massa dari contoh keseluruhan yang tertahan pada
ayak yang bersangkutan. Fraksi itu ditandai dengan x i dimana i ialah
nomor ayak dihitung dari bawah; jadi i = 1 menunjukkan panci dan
ayak i + 1 ialah ayak berikut di atas ayak i. Lambang Dpi berarti
diameter partikel, sama dengan besarnya bukaan anyaman pada ayak
i.
Dua kolom terakhir dalam tebel 2 menunjukkan diameter
partikel rata-rata Dpi pada setiap tokokan dan fraksi kumulatif yang
lebih kecil dari masing-masing nilai Dpi. Dalam analisis ayak, fraksi
kumulatif ini kadang-kadang dituliskan bertolak dari ayak paling atas
dan dinyatakan sebagai fraksi lebih besar dari ukuran tertentu.
Pemetaan secara differensial data yang terdapat di dalam kolom
2 dan 3. Tabel 2 memberikan gambaran yang salah mengenai distribusi
ukuran partikel karena jangkau ukuran partikel yang diliputnya berbeda
dari suatu tokokan ke tokokan lain.
Bahan yang terkumpul di atas satu tokokan (ayak Tertentu) lebih
sedikit bila jangkau ukuran setiap jangkau itu masing-masing sama,
dan data itu dapat dipetakan secara langsung. Namun, disini kita akan
mendapatkan gambaran yang lebih tepat dengan memetakan x i/(Dpi+1
Dpi), dimana Dpi+1 Dpi ialah ukuran partikel dalam tokokan i. Hal ini
diilustrasikan oleh gambar 2a yang merupakan pemetaan langsung,
dan Gambar 2b yang merupakan pemetaan yang disesuaikan untuk
partikel ukuran 20/28 mesh dan lebih kecil yang didaftarkan pada table
Mesh

Buka
an
ayak
Dpi,
mm

Fraksi massa
yang
tertahan, xi

Diameter
partikel rata-rata
dalam tokokan,
Dpi, mm

Fraksi kumulatif
partikel yang lebih
kecil dari Dpi

Djs art work


12

4
6
8
10
14
20
28
35
48
65
100
148,
6
200
Pan

4,699
3,327
2,362
1,651
1,168
0,833
0,589
0,417
0,295
0,208
0,147
0,104
0,074
-

0,0000
0,0251
0,148,60
0,3207
0,2570
0,1590
0,0538
0,0210
0,0102
0,0077
0,0058
0,0041
0,0031
0,0075

4,013
2,845
2,007
1,409
1,001
0,711
0,503
0,356
0,252
0,178
0,126
0,089
0,037

1,0000
0,9749
0,8499
0,5292
0,2722
0,1132
0,0594
0,0384
0,0282
0,0205
0,0147
0,0106
0,0075
0,0000

Tabel 2. Analisis Ayak


Grafik kumulatif dibuat dari hasil seperti yang didalam kolom 2
dan 5 dalam tabel 2. Bila jangkau menyeluruh ukuran partikel itu
besar, pemetaan itu sering dilakukan dengan menggunakan skala
logaritmik

untuk

diameter.

Pemetaan

kumulatif

semilogaritmik

daripada analisis dari tabel 2 diberikan dalam gambar 3.


Pemetaan kumulatif itu dapat pula dibuat di atas kertas
probabilitas-logaritmik dimana skala absis dibagi sesuai dengan
distribusi probabilitas menurut Gauss.
Analisa

ukuran

terhadap

hasil

dari

mesin

pemecah

atau

penggiling biasanya menghasilkan grafik garis lurus di atas kertas itu,


sedikitnya untuk sebagian besar jangkau ukurannya. Grafik seperti itu
dulu digunakan untuk ekstrapolasi ke ukuran partikel yang lebih kecil
dari jangkau ayak penguji, tetapi karena sekarang sudah ada metode
untuk mengkukur partikel yang sangat kecil, hal tersebutr di atas tidak
diperlukan lagi.
Penentuan Ukuran Partikel Yang Sangat Halus
Ukuran partikel yang terlalu halus untuk analisis ayak dapat
ditentukan dengan berbagai metode, antara lain dengan sedimentasi
differensial, pengukuran porositas pada hamparan endapan, absorpsi
cahaya di dalam suspensi, adsorpsi gas pada permukaan partikel, dan
dengan mencacah secara visual di baah mikroskop. Dalam salah satu
peranti pengukur, yaitu yang dinamakan pencacah Coulter (Coulter

Djs art work


12

Counter), suspensi encer partikel dibuat didalam zat cair pembawa


yang bersifat penghantar listrik. Suspensi itu dilewatkan secara
perlahan melalui orifice yang sangat halus. Di dalam zat cair melintas
orifice itu diberikan penurunan tegangan listrik; arus yang mengalir
diantara hulu dan elektrode hilir lalu diukur.

III. ALAT DAN BAHAN PERCOBAAN

Satu set ayakan dan Timbangan.


( 1)Tombol Pengatur Frekuensi
( 2 )Tombol pengatur waktu
( 3 ) Peganggan/ pengikat

Bahan arang aktif

Gambar Ayakan

IV. PROSEDUR PERCOBAAN :

Ditimbang tokokan dan pan kosong dari alat ayakan.

Alat diset sesuai gambar dengan urutan pan paling bawah


dan selanjutnya tokokan yang berurutan semakin ke atas nilai
Mesh-nya makin kecil.

Bahan padat /arang (coal) ditimbang sebanyak 10 gram.

Arang dimasukkan ke dalam tokokan paling atas.

Alat ayakan dinyalakan sampai waktu dan frekuensi


tertentu.
Bahan dianalisis dengan dua percobaan berat konstan dan

waktu konstan.

Pan yang berisi coal ditimbang.

Djs art work


12

V.

DATA PENGAMATAN

Massa konstan = 20 gram

Waktu konstan = 10 menit

T1= 5 menit

Massa 1 = 6 gram

T2 = 10 menit

Massa 2 = 12 gram

T3 = 15 menit

Massa 3 = 18 gram

T4 = 20 menit

Massa 4 = 24 gram

T5 = 25 menit

Massa 5 = 30 gram

T6 = 30 menit

Massa 6 = 36 gram
Berat Kosong Tokokan

Diameter Opening ( Cm )

( gr )
235,76

0,0098

80 Mesh

236,33

0.024802
0.007 x

100 Mesh

225,09

0.01778
0.0059 x

120 Mesh

211,60

140 Mesh

60 mesh

2,54

cm

cm

2.54

cm

0.014986
0.0049 x

2.54

cm

224,99

0.012446
0,0041 x

2,54

cm

170 Mesh

214,81

0.010414
0.0035 x

2.54

cm

Pan

260,80

2.54

0.00889

Tabel Data Pengamatan :


Massa konstan 20 gram

Massa coal ( gram)


Mesh
60
80
100
120

Dpi
0,009
8
0,007
0,005
9
0,004
9

5
menit

10
menit

15
menit

20
menit

25
menit

8,53
2,87

8,46
2,86

8,38
2,86

8,38
2,87

8,35
2,86

1,07

1,07

1,06

1,08

1,08

1,08

1,07

1,07

1,08

1,08

30
menit
8,33
2,86
1,09
1,06

Djs art work


12

0,004
1
0,003
5
-

140
170
Pan

0,79
0,76

0,76

0,77

0,79

0,76

0,40
5,16

0,40
5,22

0,41
5,24

0,38
5,26

0,40
5,26

19,87

19,84

19,79

19,84

19,79

5,28
19,8
3

30
gram
11,89
5,03
1,77
1,63
1,33
0,71
7,48
29,84

36
gram
14,60
5,71
2,10
1,92
1,60
0,90
9,04
35,87

0,42

Waktu konstan 10
menit

Mesh
60
80
100
120
140
170
Pan

Dpi
0,0098
0,007
0,0059
0,0049
0,0041
0,0035

6 gram
2,25
1,02
0,37
0,33
0,27
0,12
1,65
6,01

12
gram
4,64
2,24
0,73
0,64
0,51
0,26
2,92
11,94

Massa coal
18
gram
7,63
3,09
1,02
0,90
0,76
0,37
4,16
17,93

( gram)
24
gram
10,15
4,48
1,19
1,24
1,03
0,42
5,32
23,83

VI. PERHITUNGAN
s (sifat kebolaan) Coal

= 0,73

p (densitas partikel) Coal = 1,47 g/cm3


Massa konstan variabel waktu
Luas permukaan spesifik (30 Hz dalam 4 menit)
Fraksi Massa yang yang tertahan, Xi
Differensial
Kumulatif

Diameter partikel

No

Mes

60

2,72 / 9,99 =

2,72 / 9,99 = 0,272

totokan, Dpi
0,024892

80

0,272
1,44 / 9,99 =

2,72+1,44 / 9,99 =

0,01778

100

0,144
1,24 / 9,99 =

0,416
1,44+1,24 / 9,99 =

0,014896

120

0,124
0,99/ 9,99 =

0,268
1,24+0,99 / 9,99 =

0,012446

rata-rata dalam

Djs art work


12

5
6
7

140

0,099
0,36 / 9,99 =

0.223
0,36+0,99/ 9,99 =

0,010414

170

0,036
0,43 / 9,99 =

0,135
0,43+0,36/ 9,99 =

0,00889

200

0,043
0,55 / 9,99 =

0,079
0,43+0,55 / 9,99 =

0,007366

0,055
Untuk Differensial:

0,098

Aw =
6
0,272
+ 0,144 + 0,124
+ 0,099 +
0,036 + 0,043 + 0,055
0.73 x 1.4 0,024892 0,01778 0,014896 0,012446 0,010414
0,00899 0,007366
= 332,78 cm2
Untuk Kumulatif :
Aw =
6
0,272
+ 0,416 + 0,268
+ 0,223 +
0,135 + 0,079 + 0,098
0.73 x 1.4 0,024892 0,01778 0,014896 0,012446 0,010414
0,00899 0,007366
= 686,71 cm2
Luas permukaan spesifik (30 Hz dalam 6 menit)
No

Mes

1
2
3
4
5
6
7

60
80
100
120
140
170
200

Fraksi Massa yang yang

Diameter partikel

tertahan, Xi
Differensial
Kumulatif
0,270
0,142
0,125
0,101
0,036
0,041
0,053

rata-rata dalam
totokan, Dpi
0,024892
0,01778
0,014896
0,012446
0,010414
0,00889
0,007366

0,271
0,412
0,267
0,225
0,136
0,077
0,094

Untuk Differensial ;
Aw =
6
0,271
+ 0,142 + 0,125
+ 0,101 +
0,036 + 0,041 + 0,053
0.73 x 1.4 0,024892 0,01778 0,014896 0,012446 0,010414
0,00899 0,007366
= 329,77 cm2
Untuk Kumulatif :
Aw =
6
0,271
0,136 + 0,0077 + 0,094

+ 0,412

0,267

0,225

Djs art work


12

0.73 x 1.4 0,024892 0,01778 0,014896 0,012446 0,010414


0,00899 0,007366
= 681,23 cm2
Luas permukaan spesifik (30 Hz dalam 10menit)
No

Mes

1
2
3
4
5
6
7

60
80
100
120
140
170
200

Fraksi Massa yang yang


tertahan, Xi
Differensial
Kumulatif
0,270
0,141
0,124
0,101
0,037
0,042
0,054

0,270
0,407
0,265
0,225
0,138
0,0799
0,097

Diameter partikel
rata-rata dalam
totokan, Dpi
0,024892
0,01778
0,014896
0,012446
0,010414
0,00889
0,007366

Untuk Differensial ;
Aw =
6
0,270
+ 0,141 + 0,124
+ 0,101 +
0,037 + 0,042 + 0,054
0.73 x 1.4 0,024892 0,01778 0,014896 0,012446 0,010414
0,00899 0,007366
= 331,14 cm2
Untuk Kumulatif :
Aw =
6
0,270
+ 0,407 + 0,265
+ 0,225 +
0,138 + 0,00799 + 0,097
0.73 x 1.4 0,024892 0,01778 0,014896 0,012446 0,010414
0,00899 0,007366
= 684,32 cm2
Luas permukaan spesifik (30 Hz dalam 13 menit)
No

Mes

1
2
3
4

60
80
100
120

Fraksi Massa yang yang


tertahan, Xi
Differensial
Kumulatif
0,267
0,140
0,125
0,101

0,267
0,407
0,264
0,226

Diameter partikel
rata-rata dalam
totokan, Dpi
0,024892
0,01778
0,014896
0,012446

Djs art work


12

5
6
7

140
170
200

0,037
0,041
0,052

0,138
0,077
0,093

0,010414
0,00889
0,007366

Untuk Differensial ;
Aw =
6
0,267
+ 0,140 + 0,125
+ 0,101 +
0,037 + 0,041 + 0,052
0.73 x 1.4 0,024892 0,01778 0,014896 0,012446 0,010414
0,00899 0,007366
= 328,03 cm2
Untuk Kumulatif :
Aw =
6
0,267
+ 0,407 + 0,264
+ 0,226 +
0,138 + 0,0077 + 0,097
0.73 x 1.4 0,024892 0,01778 0,014896 0,012446 0,010414
0,00899 0,007366
= 678,05 cm2

Luas permukaan spesifik (30 Hz dalam 16 menit)


No

Mes

1
2
3
4
5
6
7

60
80
100
120
140
170
200

Fraksi Massa yang yang


tertahan, Xi
Differensial
Kumulatif
0,265
0,139
0,124
0,101
0,038
0,043
0,054

0,265
0,404
0,263
0,225
0,139
0,081
0,097

Diameter partikel
rata-rata dalam
totokan, Dpi
0,024892
0,01778
0,014896
0,012446
0,010414
0,00889
0,007366

Untuk Differensial ;
Aw =
6
0,265
+ 0,139 + 0,124
+ 0,101 +
0,038 + 0,043 + 0,054
0.73 x 1.4 0,024892 0,01778 0,014896 0,012446 0,010414
0,00899 0,007366
= 287,55 cm2

Djs art work


12

Untuk Kumulatif :
Aw =
6
0,265
+ 0,404 + 0,263
+ 0,225 +
0,139 + 0,081 + 0,097
0.73 x 1.4 0,024892 0,01778 0,014896 0,012446 0,010414
0,00899 0,007366
= 679,04 cm2
Waktu konstan, variasi berat
Luas permukaan spesifik (30 Hz dalam 4 menit, 6 gram)
No

Mes

1
2
3
4
5
6
7

60
80
100
120
140
170
200

Fraksi Massa yang yang


tertahan, Xi
Differensial
Kumulatif
0,309
0,137
0,108
0,105
0,039
0,057
0,142

0,309
0,446
0,245
0,213
0,144
0,096
0,199

Diameter partikel
rata-rata dalam
totokan, Dpi
0,024892
0,01778
0,014896
0,012446
0,010414
0,00889
0,007366

Untuk Differensial ;
Aw =
6
0,309
+ 0,137 + 0,108
+ 0,105 +
0,039 + 0,057 + 0,142
0.73 x 1.4 0,024892 0,01778 0,014896 0,012446 0,010414
0,00899 0,007366
= 370,26 cm2
Untuk Kumulatif :
Aw =
6
0,309
+ 0,446 + 0,245 + 0,213 +
0,144 + 0,096 + 0,199
0.73 x 1.4 0,024892 0,01778 0,014896 0,012446 0,010414
0,00899 0,007366
= 799,71 cm2
Luas permukaan spesifik (30 Hz dalam 4 menit, 8 gram)
No

Mes

Fraksi Massa yang yang


tertahan, Xi
Differensial
Kumulatif

Diameter partikel
rata-rata dalam
totokan, Dpi

Djs art work


12

1
2
3
4
5
6
7

60
80
100
120
140
170
200

0,268
0,147
0,097
0,102
0,039
0,044
0,041

0,268
0,415
0,244
0,198
0,140
0,082
0,085

0,024892
0,01778
0,014896
0,012446
0,010414
0,00889
0,007366

Untuk Differensial ;
Aw =
6
0,268
+ 0,147 + 0,097
+ 0,102 +
0,039 + 0,044 + 0,041
0.73 x 1.4 0,024892 0,01778 0,014896 0,012446 0,010414
0,00899 0,007366
= 310,689 cm2
Untuk Kumulatif :
Aw =
6
0,268
+ 0,415 + 0,294 + 0,198 +
0,140 + 0,082+ 0,085
0.73 x 1.4 0,024892 0,01778 0,014896 0,012446 0,010414
0,00899 0,007366
= 677,372 cm2

Luas permukaan spesifik (30 Hz dalam 4 menit, 12 gram)


No

Mes

1
2
3
4
5
6
7

60
80
100
120
140
170
200

Fraksi Massa yang yang

Diameter partikel

tertahan, Xi
Differensial
Kumulatif
0,256
0,144
0,101
0,042
0,022
0,047
0,057

rata-rata dalam
totokan, Dpi
0,024892
0,01778
0,014896
0,012446
0,010414
0,00889
0,007366

0,256
0,399
0,245
0,143
0,064
0,069
0,104

Untuk Differensial ;
Aw =
6
0,256
0,022 + 0,047 + 0,057

+ 0,144

0,101

0,042

Djs art work


12

0.73 x 1.4 0,024892 0,01778 0,014896 0,012446 0,010414


0,00899 0,007366
= 284,64 cm2
Untuk Kumulatif :
Aw =
6
0,268
+ 0,399 + 0,245 + 0,143 + 0,064
+ 0,069 + 0,104
0.73 x 1.4 0,024892 0,01778 0,014896 0,012446 0,010414
0,00899 0,007366
= 577,89 cm2
Luas permukaan spesifik (30 Hz dalam 4 menit, 15 gram)
No

Mes

1
2
3
4
5
6
7

60
80
100
120
140
170
200

Fraksi Massa yang yang


tertahan, Xi
Differensial
Kumulatif
0,267
0,157
0,115
0,068
0,042
0,045
0,051

0,267
0,424
0,272
0,183
0,110
0,087
0,096

Diameter partikel
rata-rata dalam
totokan, Dpi
0,024892
0,01778
0,014896
0,012446
0,010414
0,00889
0,007366

Untuk Differensial ;
Aw =
6
0,267
+ 0,157 + 0,115
+ 0,068 +
0,042 + 0,045 + 0,051
0.73 x 1.4 0,024892 0,01778 0,014896 0,012446 0,010414
0,00899 0,007366
= 282,12 cm2
Untuk Kumulatif :
Aw =
6
0,267
+ 0,424 + 0,272 + 0,183 + 0,110
+ 0,087 + 0,096
0.73 x 1.4 0,024892 0,01778 0,014896 0,012446 0,010414
0,00899 0,007366
= 657,59 cm2
Luas permukaan spesifik (30 Hz dalam 4 menit, 18 gram)

Djs art work


12

No

Mes

1
2
3
4
5
6
7

60
80
100
120
140
170
200

Fraksi Massa yang yang


tertahan, Xi
Differensial
Kumulatif
0,244
0,217
0,098
0,106
0,044
0,032
0,033

0,244
0,460
0,315
0,209
0,150
0,076
0,065

Diameter partikel
rata-rata dalam
totokan, Dpi
0,024892
0,01778
0,014896
0,012446
0,010414
0,00889
0,007366

Untuk Differensial ;
Aw =
6
0,244
+ 0,217 + 0,098
+ 0,106 +
0,044 + 0,032 + 0,033
0.73 x 1.4 0,024892 0,01778 0,014896 0,012446 0,010414
0,00899 0,007366
= 322,03 cm2
Untuk Kumulatif :
Aw =
6
0,244
+ 0,460 + 0,315 + 0, 209 +
0,150 + 0,076 + 0,065
0.73 x 1.4 0,024892 0,01778 0,014896 0,012446 0,010414
0,00899 0,007366
= 686,63 cm2

Djs art work


12

Djs art work


12

VII. PEMBAHASAN
Pada praktikum operasi ayakan yang terjadi ini berdasarkan
pada standar ayakan tyler, ayakan disusun secara bertingkat
dengan jumlah mesh terkecil sampai terbesar ke bawah.
Praktikum ini memerlukan ketelitian dalam penimbangan coal
yang

akan

diayak,

hal

ini

dimaksudkan

untuk

akurasi

percobaan agar lebih baik.

Djs art work


12

Akurasi juga diharuskan pada penimbangan tokokan awal


kosong dan bisa dipastikan tokokan dalam kondisi bersih.
Dalam

opersionalnya

didapat

hasil

yang

telah

diayak,

jumlahnya tidak sesuai pada permulaan bahan sebelum


diayak dikarenakan alat yang tidak layak lagi (harus diganti)
sehingga menyulitkan proses penimbangan.
Waktu dan frekuensi yang ditentukan sangat berpengaruh
akan hasil dari pengayakan tersebut.

VIII. KESIMPULAN
Dari hasil parhitungan didapatkan bahwa semakin besar
guncangan yang diberikan maka luas permukaan spesifik
yang didapat semakin besar.
Begitupun

juga

bila

semakin

lama

waktu

untuk

mengguncangkan maka semakin besar pula luas permukaaan


spesifik yang didapat.
Perhitungan luas permukaan spesifik dengan metode Analisis
Differensial lebih kecil hasilnya bila dibandingkan dengan
metode Analisis Kumulatif.
Pada percobaan operasi ayakan ini diperlukan kelihaian dan
kejelian dalam penimbangan yang didapat.
Faktor penyebab berkurangnya jumlah bahan yang diayak
haruslah dihindarkan sedini mungkin, seperti angin, kesalahan
penimbangan (bisa diakibatkan oleh alat yang tidak
layak), atau faktor akurasi lainnya.

IX. DAFTAR PUSTAKA


Anonimus. 2003. Petunjuk Praktikum Operasi Teknik Kimia, Lab.
Operasi Teknik Kimia FT-UMJ. Fakultas Teknik, Jurusan. Kimia
Universitas Muhammadiyah Jakarta.
Cabe W.L, Mc. and Smith, J.C. 1956. Unit Operation of Chemical
Engineering, Mc.Graw Hill Ltd. New York
Satibi, Lukman Dr. Ir. 2003. Diktat Kuliah Operasi Teknik Kimia, Fakultas
Teknik, Jurusan. Kimia Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Djs art work


12

JAWABAN TUGAS
1. Buat Penurunan Rumus sperisitas (s) ?
s =

6Vp
D p Sp

= mm3 / mm x mm = mm

2. Apa yang dimaksud dengan sferisitas ?


Sferisitas (kebolaan) adalah karakteristik bentuk partikel (dianggap
mirip bentuk bola) yang tidak tergantung pada ukuran partikel..
Pada dasarnya pengukuran bahan yang berbentuk granular (bijian)
halus tidak mudah ditentukan secara eksak. Oleh karena perlu
dilakukan analisis ayakan atau bisa menggunakan mikroskop. Luas
Permukaan didapat dari pengukuran adsorpsi atau dari penurunan
tekanan di dalam hamparan partikel. Untuk partikel berbentuk bola
dengan diameter Dp, =1 ; sedangkan untuk yang tidak berbentuk
bola, sferisitas diukur dengan persamaan s =

6Vp
D p Sp

. . Untuk

kebanyakan bahan pecahan nilai sferisitas berkisar antara 0,6 0,8


(tabel 1), dan untuk partikel yang membulat akibat abrasi bisa
mencapai 0,95.
3. Turunkan rumus luas pemukaan spesifik bahan ?.
Rumus kebolaan untuk satu partikel :
s =

6Vp
D p Sp

pers (1)

karena volume total partikel : m/p (2)


maka pers.(2) disubstitusikan ke pers. (1), menjadi
s =

6 m
p
D p Sp

sehingga didapat
6m

6m

s = D S atau sp = D
p
p
p
p
p
p
Untuk luas permukaan total :

Djs art work


12

Aw =

6
S p

xi

i 1

pi

dimana : Dp = diameter ekivalen atau diameter nominal


partikel
sp = luas permukaan ssatu partikel
vp = volume satu partikel
Xi
=
fraksi massa dalam setiap tokokan
tertentu
n = jumlah tokokan
Dpi =
diameter partikel rata-rata, diambil
sebagai rata-rata
aritmetik dari diameter terkecil dan terbesar
di dalam
tokokan itu.
Aw =
Luas spesifik permukaan bahan.
4. Sebutkan macam metode/pengecilan /pnghalusan ukuran partikel
dan gambarkan ?
Metode yang dipakai dalam pemecahan :
Copression ( berdasarkan tekanan ), Impact ( berdasarkan tabrak ),
Attrition ( berdasarkan gesek, Cutting ( berdasarkan potong )
Alat yang digunakan untuk pengecilan ukuran

Crusher, Grinder, Ultrafine grinder, Cutting mill, compression mill,


impact mill, attrition mill.Alat pemecah jepit, alat pemecah belah,
alat pemecah gilas, alat pemecah penggiling, alat penggiling, ayak
sentrifugal.
5. Sebutkan analisa kesalahan pada praktikum ?
Analisa yang didapat antara lain :

Akurasi penimbangan yang kurang akibat alat sudah tidak


layak (rusak).

Faktor angin sehingga menyebabkan pada saat ditimbang


kemungkinana akan jatuh kebawah.

Proses pembersihan ayakan sebelum dimulai yang kurang


bersih.

Penglihatan pada waktu ayakan yang kurang ketelitian.

Human error.

Djs art work


12

Djs art work


12

Anda mungkin juga menyukai