Anda di halaman 1dari 13

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI
Pembelajaran inkuiri merupakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara
maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu (benda, manusia
atau peristiwa) secara sistematis, kritis, logis, analitis sehingga mereka dapat merumuskan
sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Pembelajaran menggunakan metode inkuiri
(inquiry training) pertama kali dikembangkan oleh Richard Suchman yang menginginkan
agar siswa bertanya mengapa suatu peristiwa terjadi, kemudian siswa melakukan kegiatan,
mengumpulkan dan menganalisis data, sampai akhirnya siswa menemukan jawaban dari
pertanyaan tersebut. Pembelajaran inkuiri merupakan rangkaian kegiatan pembelajaran yang
menekankan pada proses berpikir kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri
jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan (Sudrajat, 2011). Ciri-ciri pembelajaran
inkuiri yaitu pertama, menekankan kepada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari
dan menemukan, kedua, seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan
menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat
menumbuhkan sikap percaya diri dan ketiga, tujuan dari pembelajaran inkuiri adalah
mengembangkan

kemampuan

berpikir

secara

sistematis,

logis,

dan

kritis,

atau

mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental (Herdian, 2010).
Menurut Sudrajat (2011), pembelajaran inkuiri dapat dibedakan menjadi: inkuiri
terbimbing (guided inquiry), inkuiri yang dimodifikasi (modified inquiry), inkuiri bebas (free
inquiry), mengundang ke dalam inkuiri (invitation into inquiry), inkuiri pendekatan peranan
(inquiry role approach), teka-teki bergambar (pictorial riddle), pembelajaran sinektik
(synectics lesson) dan kejelasan nilai-nilai (value clarification) (Ni Putu Nita Surdiantini.
2014).
2.1.2 Pembelajaran Inkuiri Terbimbing ( Guided Inquiry )
Thohiron (2012), mengemukakan bahwa pembelajaran inkuiri terbimbing (guided
inquiry) adalah suatu model pembelajaran yang dalam pelaksanaannya guru menyediakan
bimbingan/petunjuk yang cukup luas untuk siswa. Pada umumnya, model pembelajaran
inkuiri terbimbing (guided inquiry) terdiri atas:
(1) Pernyataan masalah,
(2) Prinsip atau konsep yang ditemukan,

(3) Alat/bahan,
(4) Diskusi pengarahan,
(5) Kegiatan penemuan oleh siswa,
(6) Proses berpikir kritis dan ilmiah,
(7) Pertanyaan yang bersifat terbuka dan
(8) Catatan guru.
Pada model pembelajaran inkuiri terbimbing (guided inquiry) ini, guru memberikan
petunjuk-petunjuk kepada siswa seperlunya. Petunjuk tersebut dapat berupa pertanyaanpertanyaan yang membimbing agar siswa mampu menemukan sendiri arah dan tindakantindakan yang harus dilakukan untuk memecahkan permasalahan yang diberikan guru.
Pengerjaannya dapat dilakukan sendiri atau dapat diatur secara kelompok. Tujuan umun dari
model pembelajaran inkuiri terbimbing (guided inquiry) adalah membantu siswa
mengembangkan keterampilan intelektual dan keterampilan-keterampilan lainnya, seperti
mengajukan pertanyaan dan menemukan (mencari) jawaban yang berasal dari keingintahuan
mereka (Tangkas, 2012). Pembelajaran inkuiri terbimbing (giuded inquiry) memiliki 6
karakteristik yaitu :
(1) Siswa belajar dengan aktif dan memikirkan sesuatu berdasarkan pengalaman,
(2) Siswa belajar dengan aktif membangun apa yang telah diketahuinya,
(3)Siswa mengembangkan daya pikir yang lebih tinggi melalui petunjuk atau
bimbingan pada proses belajar,
(4) Perkembangan siswa terjadi pada serangkaian tahap,
(5) Siswa memiliki cara belajar yang berbeda satu sama lainnya dan
(6) Siswa belajar melalui interaksi sosial dengan lainnya (Riadi, 2012).
Adapun tahapan/sintaks dari pembelajaran inkuiri terbimbing (guided inquiry) dapat
dilihat pada Tabel sebagai berikut :
Tabel Tahapan-tahapan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing (Guided Inquiry) :

2.2 PROBLEM BASED LEARNING (PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH)


2.2.1 Pengertian Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)
Pembelajaran berbasis masalah atau dikenal dengan Problem Based Learning pada
mulanya diperkenalkan pada awal tahun 1970-an di fakultas kedokteran McMaster University
Kanada, sebagai satu upaya menemukan solusi dalam diagnosis dengan membuat pertanyaanpertanyaan sesuai situasi yang ada. Walaupun PBL aslinya dari pendidikan kedokteran,
penerapannya telah berkembang ke berbagai bentuk bidang pendidikan (Amir, 2010: 128).
Menurut Arends (1997) dalam Trianto (2010: 92), pembelajaran berbasis masalah
merupakan suatu pendekatan pembelajaran dimana siswa mengerjakan permasalahan yang
autentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan
inkuiri dan keterampilan berpikir tingkat lebih tinggi, mengembangkan kemandirian, dan
percaya diri. Hal yang sama juga dijelaskan Kemendikbud (2013) bahwa pembelajaran

berbasis masalah merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang menyajikan masalah


kontekstual sehingga merangsang peserta didik untuk belajar.
Belajar dan pembelajaran dalam model pembelajaran berbasis masalah diorientasikan
kepada pemecahan berbagai masalah terutama yang terkait dengan aplikasi materi pelajaran
di dalam kehidupan nyata. Selama siswa melakukan kegiatan memecahkan masalah, guru
berperan sebagai tutor yang akan membantu mereka mendefinisikan apa yang mereka tidak
tahu dan apa yang mereka perlu ketahui untuk memahami dan atau memecahkan masalah
(Newbledan Cannon,111 dalam Gintings, 2008: 210).
Secara keseluruhan dapat kita simpulkan bahwa model pembelajaran berbasis
masalah adalah model pembelajaran yang memfokuskan pada penyajian masalah dunia nyata
siswa yang berhubungan dengan topik pelajaran yang dipelajari dimana siswa akan bekerja di
dalam tim untuk memecahkan masalah tersebut guna memperoleh pengetahuan dan
membangun pengetahuan mereka sendiri sehingga dapat meningkatkan kemampuan berpikir
kritis siswa, menumbuhkan inisiatif siswa bekerja dalam tim serta memotivasi siswa untuk
belajar.
2.2.2 Karakteristik Pembelajaran Berbasis Masalah
Menurut Putra (2013: 72) pembelajaran berbasis masalah memiliki karakteristik yaitu
belajar dimulai dengan satu masalah, masalah yang dipilih harus berhubungan dengan dunia
nyata siswa, mengorganisasikan pelajaran seputar masalah, memberikan tanggung jawab
yang besar kepada siswa dalam membentuk dan menjalankan secara langsung proses belajar,
belajar dengan berkelompok serta menuntut siswa untuk mendemonstrasikan hal yang telah
dipelajari dalam bentuk produk atau kinerja. Melalui penerapan pembelajaran berbasis
masalah akan terjadi pembelajaran yang bermakna dimana siswa yang belajar memecahkan
suatu masalah maka mereka akan menerapkan pengetahuan yang mereka miliki atau berusaha
mengetahui pengetahuan yang diperlukan. Siswa bekerja secara berkelompok untuk mencari
solusi dari permasalahan dunia nyata. Oleh karena itu pembelajaran berbasis masalah dapat
meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif siswa dalam bekerja,
motivasi internal dalam belajar, dan dapat mengembangkan hubungan interpersonal dalam
bekerja kelompok.
2.2.3 Tujuan Pembelajaran Berbasis Masalah
Tujuan pembelajaran berbasis masalah yaitu: (a) Membantu siswa mengembangkan
keterampilan berpikir dan keterampilan pemecahan masalah. (b) Belajar peranan orang

dewasa yang autentik (c) Menjadi Pembelajar yang Mandiri. Pembelajaran berbasis masalah
berusaha membantu siswa menjadi pembelajar yang mandiri dan otonom. Dengan bimbingan
guru yang secara berulang ulang mendorong dan mengarahkan mereka untuk mengajukan
pertanyaan, mencari penyelesaian terhadap masalah nyata oleh mereka sendiri, siswa belajar
untuk menyelesaikan tugas tugas itu secara mandiri dalam hidupnya kelak (Trianto, 2010:
94).
2.2.4 Tahapan dalam Penerapan Pembelajaran Berbasis Masalah
Berikut ini diberikan contoh tahapan yang dapat diterapkan dalam menyelenggarakan
belajar dan pembelajaran dengan model pembelajaran berbasis masalah yaitu:
(a) Mempelajari standar isi dan standar kompetensi siswa dan kurikulum untuk
menentukan karakteristik masalah yang sesuai untuk digunakan sebagai bahan belajar dan
pembelajaran.
(b) Pelajari tingkat pengetahuan siswa untuk mempertimbangkan kompleksitas
persoalan yang akan dijadikan bahan belajar dan pembelajaran.
(c) Buatlah soal atau tugas yang berisi masalah yang harus dicarikan solusinya oleh
siswa atau kelompok siswa dengan merujuk kepada hasil analisis kurikulum dan tingkat
kemampuan siswa.
(d) Beri pengkondisian awal kepada siswa sebelum diberi tugas masalah untuk
dicarikan solusinya.
(e) Kegiatan diskusi atau pelaksanaan prosedur pemecahan masalah oleh siswa atau
kelompok siswa. Selama kegiatan ini berlangsung, guru berperan sebagai fasilitator dan tutor
diantaranya dengan memberikan bimbingan dan motivasi kepada siswa, mengingatkan
kepada siswa tentang apa yang mereka ketahui dan apa yang belum mereka ketahui,
mengingatkan apakah tahapan sudah benar, dan mendorong partisipasi siswa.
(f) Menutup kegiatan dengan menyelenggarakan diskusi tentang hasil pemecahan
masalah.
(g) Guru melakukan penilaian terhadap hasil kegiatan siswa dan memberikan
komentar serta pengarahan untuk ditindaklanjuti sebagai kegiatan pengayaan bagi siswa
(Gintings, 2008: 213 214).
2.2.5 Pembelajaran Berbasis Masalah Dengan Pendekatan Inkuiri Terbimbing
Pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan inkuiri terbimbing adalah
pembelajaran yang mengikuti sintaks PBM baku dengan menekankan pendekakatan inkuiri

terbimbing pada tahap penyelidikan individu atau kelompok, pada tahap ini diharapkan
mahasiswa menemukan penyelesaian permasalahan yang disajikan pengajar dengan
mengikuti langkahlangkah pembelajarn yang dituangkan dalam Lembar Kerja Mahasiswa
(LKM) yang di implementasikan dengan metode eksperimen, sedangkan pada PBM biasa
bebas menggunakan metode atau pendekatan pada tahap penyelidikan individu atau
kelompok yang dikehendaki, Sintaks PBM dengan pendekatan inkuiri dapat dilihat pada
sintaks berikut :
Sintaks Pembelajaran Berbasis Masalah dengan Pendekatan Inkuiri Terbimbing
Tahap

Kegiatan Pengajar

Tahap -1

Pengajar memandu mahasiswa dalam merumuskan tujuan

Orientasi mahasiswa

pembelajaran, mengajukan pertanyaan tentang perlengkapan

pada masalah

penting yang dibutuhkan logistik yang dibutuhkan, serta


memotivasi mahasiswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah

Tahap -2

yang dipilihnya.
Pengajar Membimbing

Mengorganisasikanm

mengorganisasikan

hasiswa untuk belajar

masalah

Tahap -3

melalui LKM
Pengajar mendorong mahasiswa untuk mengumpulkan informasi

Membimbing

yang sesuai, membimbing mahasiswa melaksanakan eksperimen

penyeledikan individu

berdasarkan LKM untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan

maupun kelompok
Tahap -4

masalah. (pendekatan inkuiri terbimbing).


Pengajar membimbing mahasiswa dalam merencanakan dan

Mengembangkan dan

menyiapkan karya yang sesuai dengan laporan, video, dan

menyaji kan hasil

membantu mereka untuk berbagi tugas dengan teman lainnya.

karya
Tahap -5

Pengajar membantu mahasiswa untuk melaksanakan refleksi atau

Menganalisis dan

evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang

mengevaluasi proses

mereka gunakan dengan memperhatikan pertanyaan-pertanyaan

pemecahan

yang

mahasiswa

mendefinisikan

dan

tugas belajar yang berhubungan dengan

tersebut dengan mengajukan pertanyaan penuntun

telah

dimunculkan

pembelajaran.
2.3 PEMBELAJARAN KONVENSIONAL

dan

diselesaikan

dalam

proses

Metode ceramah dan metode tanya jawab dapat diklasifikasikan sebagai metode
tradisional atau konvensional. Dalam metode ceramah, guru menerangkan dan siswa
mendengarkan informasi yang disampaikan oleh sang guru. Namun demikian metode
ceramah yang lebih bagus dapat menggunakan alat peraga untuk menjelaskan, berupa gambar
atau grafik yang digunakan untuk memperjelas informasi. Dalam metode tanya jawab, guru
mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan siswa menjawabnya, atau sebaliknya siswa betanya
guru menjelaskan. Dalam proses tanya jawab terjadilah proses dua arah. Guru yang
demokratis tidak akan menjawabnya sendiri, tetapi melemparkan pertanyaan dari siswa
kepada siswa atau kelompok lainnya tanpa merasa khawatir dinilai tidak dapat menjawab
pertanyaan itu. Dengan metode tanya jawab interaksi yang terjadi tidak hanya dua arah tetapi
ada banyak arah. Oleh karena itu, penggunaan metode ceramah dan tanya jawab akan lebih
efektif jika diikuti dengan metode lain. Misalnya penugasan, latihan dan bahkan demonstrasi.
Langkah-Langkah Dalam Penerapan Pembelajaran Konvensional
Kegiatan Guru
a. Merumuskan tijuan yang diharapkan dicapai oleh siswa.
b. Menyelidiki apakah metode tersebut benar-benar alternative metode yang ada pada
tempatnya.
c. Barulah setelah pertimbangan diambil bahwa memang metode konvensional
merupakan metode interaksi yang paling sesuai untuk keperluan tersebut.
d. Membedakan dan menentukan konsep, fakta serta keterampilan yang dapat
dijelaskan alat atau dengan uraian tertentu.
e. Menetukan strategi motivasional untuk merangsang dan menimbulkan perhatian
siswa dan mengarahkan pada pokok yang diajarkan.
f. Menanamkan pengertian jelas melalui bebrapa jalan misalnya memberikan ikhtisar
ringkas mengenai pokok-pokok yang akan diuraikan atau menyimpulkan pokokpokok penting dalam ceramah itu.
g. Mengadakan penilaian untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan-tujuan khusus
ceramah itu.
Kelebihan penggunaan metode konvensional adalah:
a. Penceramah dalam hal ini guru, dapat menguasai seluruh arah pembicaraan dalam
kelompok.
b. Organisasi kelompok pendengar sangat sederhana.
c. Metode ceramah amat sesuai untuk memberikan informasi baru bagi siswa.
d. Metode tanya jawab digunakan untuk memberikan pemahaman yang lebih
mendalam dan luas kepada peserta didik.

Kekurangan penggunaan metode konvensional adalah:


a. Metode ceramah kurang dapat digunakan untuk menigkatkan aspek keterampilan
kepada siswa.
b. Metode tanya jawab dalam situasi tertentu sulit digunakan dalam kelas yang
terlalu besar.
c. Guru sulit mengetahui sampai dimana setiap anggota kelompok telah mengerti
tentang informasi yang telah diberikan.
d. Pada anggota kelompok dapat terbentuk konsep yang berbeda-beda dari yang
e.
f.
g.
h.

dimaksud oleh guru tesebut.


Hanya menekankan pada tugas.
Guru menerangkan, siswa diam.
Siswa pasif.
Siswa menghafal dan lupa.

2.4 HASIL BELAJAR


2.4.1 Pengertian Hasil Belajar
Menurut Sudjana, hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki peserta
didik setelah mereka menerima pengalaman belajarnya. Dimyati (2009: 3) menyatakan
bahwa, Hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar siswa dan tindak
mengajar guru. Hasil belajar adalah suatu pencapaian tujuan pengajaran guru dan merupakan
peningkatan kemampuan mental siswa. Purwanto (2005:147) menyatakan bahwa:Hasil
belajar merupakan perubahan perilaku siswa akibat belajar. Perubahan ini diupayakan dalam
proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan. Perubahan perilaku individu
akibat proses belajar tidaklah tunggal. Setiap proses belajar mempengaruhi perubahan
perilaku pada domain tertentu pada diri siswa, tergantung perubahan yang diinginkan terjadi
sesuai dengan tujuan pendidikan.
Dilihat dari segi aspek hasil belajar yang dievaluasi, ada 3 ranah yang dievaluasi
berhubungan dengan hasil belajar kognitif, afektif dan psikomotorik. Menurut Bloom dan
Krathwohl (1964) dalam Sudaryono (2012: 43 49) memilah taksonomi pembelajaran dalam
tiga ranah, yakni ranah kognitif, afektif, psikomotor. Ranah kognitif adalah ranah yang
mencakup kegiatan otak. Artinya, segala upaya yang menyangkut aktivitas otak termasuk ke
dalam ranah kognitif.Ranah

kognitif ini terdiri atas 6 (enam) tingkatan yaitu tingkat

pengetahuan (knowledge), tingkat pemahaman (comprehension), tingkat penerapan


(application), tingkat analisis (analysis), tingkat sintesis (synthesis), dan tingkat evaluasi
(evaluation).

Hasil belajar adalah bagian yang sangat penting dan tidak terpisahkan dalam proses
pembelajaran. Hasil belajar diketahui setelah adanya evaluasi atau penilaian hasil belajar.
Hasil belajar digunakan untuk mengetahui sejauh mana siswa berhasil mencapai tujuan
pembelajaran dan memperoleh perubahan perilaku etelah proses pembelajaran sehingga dapat
diperoleh gambaran tentang pencapaian program pendidikan. Hasil belajar juga penting bagi
guru sebagai umpan balik untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan gurudalam mengajar
sehingga dapat memperbaiki proses pembelajaran selanjutnya.
2.4.2 Aspek Hasil Belajar
Benyamin S. Bloom membagi kawasan belajar yang mereka sebut sebagai tujuan
pendidikan menjadi tiga bagian yaitu ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotorik.
A. Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Dalam ranah
ini terdapat enam jenjang proses berfikir yaitu pengetahuan atau ingatan, pemahaman,
aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.
B. Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek yakni
penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi dan internalisasi.
C. Ranah psikomotorik berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan
bertindak.
2.4.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Ada berbagai faktor yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar siswa di
sekolah. Secara garis besar faktor tersebut dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu:
a. Faktor yang berasal dari luar diri siswa (Eksternal), terdiri dari beberapa faktor,
yaitu:

Faktor lingkungan (alam dan sosial), berupa waktu, kelembaban udara, faktor
keluarga, guru dan cara mengajarnya, lingkungan dan kesempatan yang tersedia, dan

motivasi sosial.
Faktor Instrumental, yang terdiri dari gedung atau sarana fisik kelas, alat pengajaran,
media pengajaran, guru dan kurikulum serta strategi belajar mengajar yang digunakan
akan mempengaruhi hasil belajar.
b. Faktor yang berasal dari dalam diri siswa (Internal), terdiri dari :

Faktor fisiologis siswa yang pada umumnya sangat berpengaruh terhadap kemampuan
belajar seseorang. Orang yang dalam keadaan segar jasmaninya akan berlainan

belajarnya dari orang yang dalam keadaan kelelahan.


Faktor psikologis, sekurang-kurangnya ada tujuh faktor yang tergolong faktor
psikologis yaitu inteligensi, minat, bakat, motif, kematangan dan kelelahan.

2.5 KECAKAPAN KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR


2.5.1 Pengertian Kecakapan Keterampilan Dasar Mengajar
Kecakapan keterampilan dasar mengajar atau yang sering disebut dengan pengajaran
mikro merupakan pelatihan tahap awal dalam pembentukan kompetensi mengajar melalui
pengaktualisasian dasar mengajar. Pada dasarnya pengajaran mikro merupakan suatu metode
pembelajaran atas dasar perfoma yang tekniknya dilakukan dengan cara melatihkan
komponen-komponen kompetensi dasar mengajar (teaching skill) dalam proses pembelajaran
sehingga calon guru benar-benar mampu menguasai setiap komponen satu persatu atau
beberapa komponen secara terpadu dalam situasi pembelajaran (Waskito, 1987 : 1).
Dalam pelaksanaan pengajaran mikro mencakup kegiatan orientasi, observasi
pembelajaran di sekolah atau di lembaga yang akan dipakai, serta praktik mengajar dengan
model peer teaching. Dalam pengajaran mikro, mahasiswa dapat berlatih kompetensikompetensi dasar mengajar secara terbatas pada aspek kompetensi yang belum dikuasai atau
berlatih secara terpadu dari beberapa kompetensi dasar mengajar, namun masih tetap terbatas
dari aspek kompetensi mengajar, materi, peserta didik, maupun waktu. Praktik mengajar
dilakukan sampai mahasiswa yang bersangkutan menguasai kompetensi dasar mengajar
secara memadai sebagai prasyarat praktik pembelajaran di sekolah atau lembaga
kependidikan. Dalam pengertian lain, terkait dengan standar kompetensi mengajar adalah
memberi pelajaran pada siswa yang sedang belajar (pembelajar) (Handaniwati dkk, 2003 : 8).
Setelah Guru/Dosen Pemula dianggap menguasai materi dan system penyampaiannya,
tiba saatnya untuk berlatih menguasai Keterampilan Dasar Mengajar, yaitu ; Keterampilan
yang bersifat Generik yang harus dikuasai oleh semua calon Guru/Dosen. Komponen
Keterampilan Dasar Mengajar yang dilatihkan dalam Pengajaran Micro (Micro-Teaching)
menurut hasil Penelitian Tumey (1973) terdapat 8 (Delapan) Keterampilan yang sangat
berperan dalam Kegiatan Belajar Mengajar. Kedelapan Keterampilan tersebut sebagai berikut
:
1. Keterampilan Dasar Membuka dan Menutup Pelajaran (Set Induction and Closure),
2. Keterampilan Dasar Menjelaskan (Explaining Skills),

3. Keterampilan Dasar Mengadakan Variasi (Variation Skills),


4. Keterampilan Dasar Memberikan Penguatan (Reinforcement Skills),
5. Keterampilan Dasar Bertanya (Questioning Skills),
6. Keterampilan Dasar Mengelola Kelas,
7. Keterampilan Dasar Mengajar Perorangan/Kelompok Kecil,
8. Keterampilan Dasar Membimbing Diskusi Kelompok Kecil.
2.5.2 Tujuan Kecakapan Keterampilan Dasar Menjelaskan
Penjelasan dalam proses belajar mengajar dapat diartikan sebagai usaha penyajian
informasi secara lisan yang diorganisasikan secara sistematis untuk menunjukkan hakikat
suatu konsep dan hubungannya dengan konsep-konsep lain, antara yang diketahui dengan
yang tidak diketahui, atau antara defenisi dengan bukti/contoh sehari-hari.
Penjelasan ini dapat dipandang sebagai usaha membuat suatu gambaran tentang
sesuatu keadaan atau konsep dengan hubungannya dengan sebab-sebab mengapa keadaan itu
terjadi. Melalui penjelasan ini murid akan terbantu dalam usahanya menggali sendiri
pengetahuan dari berbagai sumber.
Adapun prinsip-prinsip menjelaskan dalam proses mengajar adalah sebagai berikut:
1.

Penjelasan dapat diberikan diawal, ditengah ataupun diakhir jam pelajaran

2.
3.
4.
5.

tergantung kepada keperluannya.


Penjelasan harus relevan dengan tujuan pengajaran.
Penjelasan dapat diberikan jika timbul pertanyaan dari murid.
Materi penjelasan harus bermakna bagi murid.
Penjelasan harus sesuai dengan kemampuan dan latar belakang murid.
2.5.3 Komponen-Komponen Keterampilan Menjelaskan
Keterampilan menjelaskan dalam proses belajar mengajar secara garis besar dapat

diklasifikasikan atas tiga komponen.


1. Merencanakan Dan Menganalisa
Maksudnya penjelasan yang diberikan guru perlu direncanakan dengan sistematis,
terutama yang berkaitan dengan isi pesan dan penerima pesan (murid). Isi pesan (materi)
penjelasan meliputi menganalisa masalah secara keseluruhan penetuan jenis hubungan yang
ada antara unsur-unsur yang dikaitkan. Sedangkan penerima pesan menyangkut pemahaman
guru terhadap keberadaan terutama kesiapan murid dilihat dari usia, jenis kelamin,
kemampuan, latar belakang sosial, lingkungan belajar murid. Dalam usaha guru
merencanakan penjelasan tersebut perlu diperhatikan hal-hal berikut:
a. Penjelasan artinya penggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh murid.

b. Penjelasan hendaknya cocok dengan khazanah pengetahuan dan pengalaman


murid pada saat itu.
2. Menyajikan
Maksudnya penjelasan yang diberikan guru perlu disajikan dengan baik sesuai dengan
perencanaan yang telah dibuat sebelumnya. Penyajian ini bergantung pada kejelasan,
penggunaan contoh dan ilustrasi, serta pemberian tekanan.
3. Penggunaan Balikan
Maksudnya pemberian kesempatan pada murid untuk menunjukkan pemahaman,
keraguan atau ketidak mengertian atas penjelasan yang diberikan. Dalam hal ini guru perlu
mengajukan pertanyaan seperti apakah kamu mengerti dengan pertanyaan tadi? Atau
apakah penjelasan ibu tadi bermakna bagi kalian? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan atau
tanggapan tadi dapat merupakan balikan yang dapat digunakan guru untuk melakukan
penyesuaian dalam sajiannya.
2.5.4 Tujuan Kecakapan Keterampilan Dasar Mengajar
Secara umum, kecakapan keterampilan dasar mengajar atau pengajaran mikro
bertujuan untuk membentuk dan mengembangkan kompetensi dasar mengajar sebagai bekal
praktik mengajar (real microteaching) di sekolah /lembaga pendidikan. Secara khusus, tujuan
pengajaran mikro adalah sebagai berikut :
a. Membentuk dan meningkatkan kompetensi dasar mengajar terbatas.
b. Membentuk dan meningkatkan kompetensi dasar mengajar terpadu dan utuh untuk
beberapa kompetensi dasar mengajar.
Adapun tujuan khususPengajaran Micro (Micro Teaching) antara lain sebagai berikut :
1. Mahasiswa terampil untuk membuat Persiapan Mengajar,
2. Membentuk Sikap Profesional sebagai calon Guru/Dosen,
3. Berlatih menjadi guru yang bertanggung jawab dan berpegang kepada Etika
keguruan,
4. Dapat menjelaskan Pengertian Micro Teaching,
5. Dapat berbicara di depan kelas secara runtut dan runut sehingga mudah dipahami
oleh audience atau peserta didik,
6. Terampil membuka dan menutup pelajaran,
7. Dapat bertanya secara benar,
8. Dapat memotivasi belajar siswa/peserta didik,
9. Dapat membuat variasi dalam mengajar,
10. Dapat menggunakan alat-alat / media pembelajaran dengan benar dan tepat,

11. Dapat mengamati keterampilan keguruan secara obyektif, sistematis, kritis dan
praktis,
12. Dapat memerankan sebagai Guru/Dosen , Supervisor, Peserta Didik, maupun
sebagai Observer dengan baik,
13. Dapat menerapkan teori Belajar dan Pembelajaran dalam suasana Didaktis,
Paedagogis, Metodik dan Andragogis secara tepat dan menarik,
14. Berlatih membangun rasa percaya diri.
2.6 HIPOTESIS TINDAKAN
Hipotesis dalam penelitian ini adalah penerapan model problem based learning
dengan pendekatan inkuiri terbimbing dapat menunjukkan hasil belajar siswa dan
keterampilan dasar mengajar pada Mahasiswa Pendidikan Biologi UNIVERSITAS NEGERI
MEDAN tingkat pertama.