Anda di halaman 1dari 4

LAPORAN PENDAHULUAN MULTIPLE ORGAN DYSFUNCTION SYNDROME

a. Definisi
Multiple Organ Dysfunction Syndrome (MODS) adalah perubahan fungsi organ pada klien
dengan penyakit akut seperti homeostasis yang tidak dapat diatasa tanpa intervensi,
disebut MODS jika organ yang mengalami kegagalan dua atau lebih organ (Black &
Hawks, 2014). Deskripsi MODS menunjukkan bahwa terjadi infeksi laten atau tidak
terkontrol (Hermato & Amin, 2009).
b. Etiologi dan Faktor Risiko
Penyebab MODS meliputi jaringan yang mati, jaringan yang cedera, defisit perfusi, dan
sumber inflamasi yang persisten (Black & Hawks, 2014). Sedangkan orang yang berisiko
tinggi mengalami MODS adalah orang yang memiliki respon imun yang rendah seperti
lansia, klien dengan penyakit kronis, klien dengan gizi buruk, klien dengan kanker, korban
trauma berat dan klien yang menderita sepsis (Black & Hawks, 2014). Menurut Balk R.A
(2000 dalam Herwanto & Amin, 2009) faktor risiko tinggi terjadinya MODS adalah
Systemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS), syok dan hipotensi berkepanjangan,
trauma berat, operasi besar, gagal hati stadium akhir, infark usus, disfungsi hati, usia > 65
tahun.
c. Klasifikasi MODS
Terdapat dua jenis MODS, primer dan sekunder. MODS primer merupakan kegagalan
yang didapat langsung dari trauma/cedera itu sendiri. MODS sekunder terjadi dari
inflamasi sistemik yang meluas, terjadi setelah trauma, dan menyebabkan disfungsi organ
yang tidak terlibat dalam trauma awal (Black & Hawks, 2014). Klien memasuki proses
hipermetabolik pada hari ke 14-21 hari, kecuali proses ini tidak dapat dihentikan maka
pasien akan berujung pada kematian (Black & Hawks, 2014).
d. Patofisiologi
Mekanisme Kerusakan/Kematian Jaringan pada MODS
Kerusakan jaringan terjadi selama inflamasi dan merupakan suatu proses yang pada
akhirnya dapat menyebabkan disfungsi dan kegagalan organ. Sel endotel vaskuler

mengekspresikan molekul-molekul adhesi yang menarik leukosit dari sirkulasi untuk


migrasi ke jaringan. Akumulasi leukosit terjadi sebagai respons terhadap dari chemokine,
seperti IL-8. Kerusakan jaringan terjadi karena degranulasi leukosit, menghasilkan elastase
dan matrix metalloproteinase (MMP) yang mendegradasi protein struktural. Leukosit yang
teraktivasi juga memproduksi spesies oksigen reaktif (ROS) dari NADPH oksidase
membran yang turut menyebabkan kerusakan jaringan. Dilatasi dan konstriksi lokal,
blokade pembuluh darah oleh agregasi neutrofil dan trombosit, kerusakan endotel, dan
edema interstisial semuanya berkontribusi dalam kejadian hipoksia jaringan pada MODS.
Kematian sel karena hipoksia akan memicu respon inflamasi. Hipoksia sendiri
merangsang sel epitel untuk melepaskan TNF-a dan IL-8 yang mengakibatkan perubahan
permeabilitas epitel. Hipoksia juga menginduksi pelepasan IL-6, sitokin utama yang
berperan menimbulkan respon fase akut.
Setelah terjadi reperfusi pada jaringan iskemik, terbentuklah ROS sebagai hasil
metabolisme xantin dan hipoxantin oleh xantin oksidase, dan hasil metabolisme AA.
Jumlah ROS yang terbentuk melebihi kapasitas anti-oksidan endogen sehingga terjadi
dominasi oksidasi komponen seluler yang penting. Selain itu terjadi produksi superoksida
dismutase oleh neutrofil teraktivasi. Kematian sel juga terjadi akibat influks kalsium ke
dalam sel (calcium-mediated cell damage). Respon inflamasi MODS terkait dengan
perubahan dinamika dan regulasi apoptosis dibandingkan dengan keadaan non-inflamasi.
Pada MODS terjadi keterlambatan apoptosis neutrofil serta peningkatan apoptosis limfosit
dan parenkim. Keterlambatan apoptosis neutrofil memperpanjang fungsi neutrofil dalam
proses inflamasi sekaligus memperlama elaborasi metabolit toksik. Peningkatan apoptosis
limfosit mengurangi efektor inflamasi sekaligus menyebabkan imunosupresi. Apoptosis
parenkim mengurangi cadangan fungsional organ (Balk R.A, 2000 dalam Herwanto &
Amin, 2009).
e. Pengkajian
Manifestasi yang terlihat pada pasien MODS dapat menjadi kriteria yang digunakan untuk
mendiagnosis MODS. Salah satu kriteria yang digunakan untuk mendiagnosis MODS
adalah Apache II yang terdiri dari (Black & Hawks, 2014):
Kegagalan kardiovaskular (terdapat satu atau lebih hal berikut)
- Tekanan arteri rata-rata < 49 mmHg (tekanan sistolik < 60 mmHg)
- Terjadi takikardi ventrikel atau fibrilasi ventrikel

- pH serum kurang dari sama dengan 7,24 dengan PaCO2 kurang dari sama dengan
40 mmHg
Kegagalan Pernapasan (terdapat satu atau lebih hal berikut)
- RR kurang dari sama dengan 5 kali per menit atau lebih dari sama dengan 49 kali
permenit dengan PaCO2 lebih dari sama dengan 50 mmHg
- Bergantung pada ventilator pada hari kedua
Kegagalan Ginjal (terdapat satu atau lebih hal berikut):
-Produksi urin kurang dari sama dengan 479 ml/24 jam atau kurang dari sama
dengan/8 jam
- BUN serum lebih dari sama dengan 100 mg/dl
- Kreatinin serum lebih dari 3,5 mg/dl
Kegagalan Neurologis
Skor GCS kurang dari sama dengan 6
Beragam Kegagalan Hepatik
- bilirubin serum lebih dari sama dengan 6 mg%
- masa protombin lebih dari sama dengan 4 detik tanpa adanya antikoagulan
sistemik
Urutan klasik akumulasi MODS adalah gagal respirasi (dalam 72 jam pertama)
mendahului gagal hati (5-7 hari) dan intestinal (10-15 hari), diikuti gagal ginjal
(11-17 hari) (Hermanto & Amin, 2009).
f. Diagnosa Keperawatan
Asuhan untuk klien dengan MODS beragam, menyeimbangkan kebutuhan satu sistem
dengan sitem yang laiinya sambil mencoba mempertahankan fungsi optimal dari setiap
sistem. Diagnosa keperawatan yang tepat untuk klien dengan MODS ditentukan oleh
sistem yang telibat dan manifestasi yang identifikasikan (Black & Hawks, 2014).
Banyak organ yang terpengaruh oleh MODS. Paru-paru merupakan organ pertama yang
mengalami gangguan fungsi, hal ini dapat disebabkan karena luasnya area permukaan
epitel paru dikombinasikan dengan pajanan bakteri dari aliran balik darah sistemik (Black
& Hawks, 2014). Karena biasanya organ yang pertama terkena adalah paru-paru, diagnosa
yang dapat ditegakan diagnosa yang berhubungan dengan gangguan paru seperti:
gangguan pertukaran gas, ketidakefektifan pola napas b.d menurunnya ekspansi paru
sekunder terhadap penumpukan cairan dalam rongga pleura, ketidakefektifan bersihan
jalan nafas serta gangguan pertukaran gas (NANDA, 2014).

Referensi:

Black, J.C & Hawks, J.H. (2014). Keperawatan medikal bedah edisi 8 buku 3. Singapore:
Elsheiver
Johnson, M.,et all. (2002). Nursing outcomes classification (NOC) Second Edition, IOWA
NANDA. (2012). Diagnosis keperawatan: Definisi dan klasifikasi 2012-2014. (Made
Sumarwati & Nike Budhi Subekti, Penerjemah). Jakarta: EGC.
Herwanto, V. & Amin Z. (2009). Sindrom disfungsi organ multipel. Departemen Ilmu
Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ Rumah Sakit Dr. Cipto
Mangunkusumo: Jakarta