Anda di halaman 1dari 28

1

BAB I
PENDAHULUAN
Masalah Vertebra atau tulang belakang merupakan tulang yang sangat penting
bagi manusia. Struktur dari vertebra terdiri dari ruas-ruas tulang yang tersusun
secara vertical sehingga membentuk postur tubuh mausia menjadi tegak. Ruasruas itu terdiri dari tujuh ruas tulang cervical, dua belas ruas tulang thorakal, lima
tulang lumbal, sacrum, dan koksigis. Selain itu tulang vertebra merupakan tempat
keluarnya medulla spinals dan roots nerve. Saraf saraf ini kemudian menjalar ke
seluruh tubuh sebagai media untuk menghantarkan impuls pada otak untuk
mengeksekusi perintah tersebut. Medulla spinalis dan akar saraf merupakan
bagian yang sensitif pada tulang belakang. Sehingga apa bila ada kerusakan pada
saraf akan terjadi gangguan gangguan yang sesuai dengan lesi sarafnya, baik itu
pada tingkat dermatom ataupun miotom. Kerusakan ini bisa muncul karena
berbagai penyebab, seperti trauma, postur yang salah, patologis atau degenerasi.
Lesi pada ruas ruas belakang membawa dampak yang berbeda. Bergantung pada
tingkatan ruas mana yang terkena.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Spondiloarthrosis
Spondiloarthrosis adalah kondisi dimana terjadi perubahan degeneratif
pada sendi intervertebralis antara corpus dan diskus. Spondiloarthrosis merupakan
bagian dari osteoarthritis yang juga dapat menghasilkan perubahan degeneratif
pada sendi sendi synovial sehingga dapat terjadi pada sendi sendi apophyseal
tulang belakang. Secara klinis kedua perubahan degeneratif tersebut terjadi secara
bersamaan (hamdy, 2010). Spondyloarthrosis cervical merupakan suatu kondisi
proses degenerasi pada discus intervertebralis dan jaringan pengikat persendian
antara ruas-ruas tulang belakang (Irfan, 2012). Tulang belakang (spine
osteoarthritis) yang disebabkan oleh proses degenerasi sehingga mengganggu
fungsi dan struktur normal tulang belakang. Spondylosis/ Spondiloarthrosis dapat
terjadi pada leher (cervical), punggung tengah (thoracal), maupun punggung
bawah (lumbal). Proses degenerasi dapat menyerang sendi antar ruas tulang
belakang, tulang dan juga penyokongnya (ligament).
Spondyloarthrosis merupakan penyakit degeneratif yang mengenai tulang
belakang, dapat disebut juga osteorthrisis vertebra. Hal ini disebabkan oleh karena
pada saat melakukan aktivitas (misalnya bangun dari duduk, mengangkat barang)
tekanan terutama bertumpu pada tulang belakang sehingga tempat ini
menanggung beban yang paling besar. Selain itu, tulang belakang mempunyai
sendi yang banyak, terdiri dari 23 buah persendian pada diskus intervertebralis

dan 46 buah permukaan posterior. Oleh karena itu kolumna vertebralis merupakan
struktur pertama dari sistem muskuloskeletal yang mengalami perubahan
degeneratif pada proses penuaan dan terutama terjadi pada daerah yang lebih
mobil yaitu segmen lumbal dan servical.
Diskus intervertebralis tersusun atas jaringan fibrokartilago yang berfungsi
sebagai peredam kejut (shock absorber), menyebarkan gaya pada kolumna spinal
dan juga memungkinkan gerakan antar vertebra. Namun dengan bertambahnya
usia terjadi degenerasi diskus yang ditandai dengan perubahan ukuran dan bentuk
diskus. Dimulai dari dekade ke tiga, nukleus polpusus secara gradual akan
mengalami sedikit dehidrasi dan kadar proteoglikan akan menurun sehingga
menyebabkan diskus bertambah kaku dan

bila ada gaya tekan maka akan

disalurkan ke anulus secara asimetris, akibatnya bisa cedera atau robekan pada
anulus dan nukleus bisa herniasi. Hernia Nukleus Pulposus (HNP) adalah suatu
keadaan dimana sebagian atau

seluruh dari nukleus pulposus mengalami

penonjolan kedalam kanalis spinalis (Awad JN. 2006). Prevalensi HNP berkisar
antara 1 2 % dari populasi (purwanto.2003). Perbandingan laki-laki dengan
perempuan adalah seimbang, yaitu : 1 : 1 (Ramachandran TS.et all.2008). Usia
yang paling sering adalah usia 30 50 tahun (Feske S.et all.2003). HNP lumbalis
paling sering (90%) mengenai diskus intervertebralis L5 S1 dan L4 L5
(Purwanto.2003).

2.2 Anatomi Vertebra


Columna vertebralis merupakan poros tulang rangka tubuh yang
memungkinkan untuk bergerak. Terdapat 33 columna vertebralis, meliputi 7
columna vertebra cervical, 12 columna vertebra thoracal, 5 columna vertebra
lumbal, 5 columna vertebra sacral dan 4 columna vertebra coccygeal. Vertebra
sacral dan cocygeal menyatu menjadi sacrum-coccyx pada umur 20 sampai 25
tahun. Columna vertebrales juga membentuk saluran untuk spinal cord. Spinal
cord merupakan struktur yang Sangat sensitif dan penting karena menghubungkan
otak dan sistem saraf perifer.
Canalis spinalis dibentuk di bagian anterior oleh discus intervertebralis atau
corpus vertebra, di lateral oleh pediculus, di posterolateral oleh facet joint dan di
posterior oleh lamina atau ligament. Canalis spinalis mempunyai dua bagian yang
terbuka di lateral di tiap segmen, yaitu foramina intervertebralis.
Recessus lateralis adalah bagian lateral dari canalis spinalis. Dimulai di
pinggir processus articularis superior dari vertebra inferior, yang merupakan
bagian dari facet joint. Di bagian recessus inilah yang merupakan bagian
tersempit. Setelah melengkung secara lateral mengelilingi pediculus, lalu berakhir
di caudal di bagian terbuka yang lebih lebar dari canalis spinalis di lateral, yaitu
foramen intervertebralis. Dinding anterior dari recessus lateralis dibatasi oleh
discus intervertebralis di bagian superior, dan corpus verterbralis di bagian
inferior.

Dinding lateral dibentuk oleh pediculus vertebralis. Dinding dorsal dibatasi


oleh processus articularis superior dari vertebra bagian bawah, sampai ke bagian
kecil dari lamina dan juga oleh ligamen kuning (lamina). Di bagian sempit
recessus lateralis, dinding dorsalnya hanya dibentuk oleh hanya processus
lateralis, dan perubahan degeneratif di daerah inilah mengakibatkan kebanyakan
penekanan akar saraf pada stenosis spinalis lumbalis.
Akar saraf yang berhubungan dengan tiap segmen dipisahkan dari kantong
dura setinggi ruang intervertebra lalu melintasi recessus lateralis dan keluar dari
canalis spinalis satu tingkat dibawahnya melalui foramina intervertebralis. Di tiaptiap titik ini dapat terjadi penekanan.

Gambar : Columna Vertebralis

Gambar : Struktur Columna Vertebralis Lumbal

2.3 Anatomi Diskus Intervertebra


Diskus intervetebralis adalah lempengan kartilago yang berbentuk sebuah
bantalan di antara dua tulang belakang. Material yang keras dari fibrosa
digabungkan dalam satu kapsul. Bantalan seperti bola di bagian tengah diskus
dinamakan Nukleus Pulposus. Discus

pada vertebrae cervical lebih kecil

disbanding dari toracal dan lumbal. Terdiri dari nucleus pulposus, annulus
fibrosus, dan 2 cartilaginous end plate. Lebih tertutup tulang bila dibandingkan
dengan vertebra yang lain.

2.4 Etiologi
Faktor penyebab dan predisposisi adalah:
1.

Adanya trauma pada sendi-sendi vertebra

2.

Adanya penyakit pada vertebra (penyakit scheuermann)

Pada kasus

Spondyloarthrosis

terjadi

perubahan

discus intervertebralis,

pembentukan osteofit paravertebral dan facet joint serta perubahan arcus


laminalis posterior.

Osteofit

foramen intervertebrale

yang terbentuk seringkali menonjol ke dalam

dan mengadakan iritasi atau menekan akar saraf.

Ekstensi dapat meningkatkan intensitas rasa nyeri.

2.5 Patologi dan patogenesis


Penyakit degeneratif pada vertebra lumbal lebih sering ditemukan dimana
terjadi kelainan degenersi pada sendi intervertebral (antara kedua badan vertebra)
serta faset posterior yang menimbulkan keadaan yang disebut osteoartitis.
Pada sendi sentral terjadi degenerasi yang menyebabkan penyempitan
diskus intervertebralis dan hipertrofi pada pinggir sendi dengan terbentuknya
osteofit. Akibat lain yang ditimbulkan adalah terjadinya instabilitas. Hiperekstensi
dan penyempitan segmental dari vertebra. Juga dapat terjadi herniasi diskus
intervertebralis.
Osteofit

yang

terjadi

dapat

memberikan

tekanan

pada

intervertebralis yang memberikan tekanan pada saraf yang melewatinya.

2.6 Patofisiologi

foramen

Saat mengalami degenerasi, diskus mulai menipis karena kemampuannya


menyerap air berkurang sehingga terjadi penurunan kandungan air dan matriks
dalam diskus. Degenerasi yang terjadi pada diskus menyebabkan fungsi diskus
sebagai shock absorber menghilang, yang kemudian akan timbul osteofit yang
menyebabkan penekanan pada radiks, medulla spinalis dan ligamen yang pada
akhirnya timbul nyeri dan menyebabkan penurunan mobilitas/toleransi jaringan
terhadap suatu regangan yang diterima menurun sehingga tekanan selanjutnya
akan diterima oleh facet joint. Degenerasi pada facet joint akan diikuti oleh
timbulnya penebalan subchondral yang kemudian terjadi osteofit yang dapat
mengakibatkan terjadinya penyempitan pada foramen intervertebralis. Hal ini
akan

menyebabkan terjadinya kompresi/penekanan pada isi

foramen

intervertebral ketika gerakan ekstensi, sehingga timbul nyeri yang pada akhirnya
akan menyebabkan penurunan mobilitas/toleransi jaringan terhadap suatu
regangan yang diterima menurun. Pada uncinate joint yang memang sebagai
sendi palsu yang terus mengalami friksi dan iritasi secara terus-menerus akan
timbul osteofit juga yang kemudian akan menekan kanalis spinalis sehingga
timbul nyeri dan menurunkan mobilitas/toleransi jaringan terhadap suatu
regangan.
Berkurangnya tinggi diskus akan diikuti dengan pengenduran ligamen yang
mengakibatkan fungsinya berkurang dan instabilitas. Akibatnya nukleus pulposus
dapat berpindah kearah posterior, sehingga menekan ligamentum longitudinal
posterior, menimbulkan nyeri dan menurunkan mobilitas/toleransi jaringan
terhadap suatu regangan. Spasme otot-otot

cervical dan lumbal

juga dapat

10

menyebabkan nyeri karena iskemia dari otot tersebut menekan pembuluh darah
sehinggga

aliran

darah

akan

melambat

dan

juga

terjadi

penurunan

mobilitas/toleransi jaringan terhadap suatu regangan. Dari kesemua faktor diatas


akan menimbulkan penurunan lingkup gerak sendi pada cervical. ( Irfan, 2012 )
Proses degenerasi juga dapat menimbulkan penipisan tulang rawan dan
penonjolan tulang yang disebut osteophyte atau biasa disebut pengapuran.
Akibatnya otot dan jaringan penunjang sekitarnya dapat teriritasi oleh tonjolan
tulang tersebut dan penderita akan merasakan nyeri dan kaku.

2.7 Insiden
Penyebab seseorang mengalami proses degenerasi pada sendi sedangkan
orang lain tidak atau seseorang lebih cepat proses degenerasi pada tulangnya
belum dapat dipastikan. Tetapi ada beberapa faktor resiko yang dapat
memperberat atau mencetuskan penyakit ini. Faktor usia dan jenis kelamin salah
satunya, semakin tua semakin banyak penderita spondyloarthrosis. Dari temuan
radiografik (Holt, 1966) kejadiannya 13% pada pria usia 30-an, dan 100% pada
pria usia 70-an. Sedangkan pada wanita umur 40-an 5% dan umur 70-an 96%.
Faktor lain yang turut meningkatkan kejadian spondyloarthrosis adalah faktor
trauma, wear and tear alias pengausan, dan genetik. Perlu diingat bahwa tulang
punggung adalah penahan berat, jadi tentunya berhubungan dengan pekerjaan dan
obesitas. Misalnya orang yang mempunyai pekerjaan sering mengangkat beban
berat maka kecenderungan terkena Spondyloarthrosis lebih tinggi, dan orang yang

11

gemuk dengan sendirinya juga memberi beban lebih pada sendi di ruas tulang
punggung sehingga meningkatkan kemungkinan terkena spondyloarthrosis.
Merokok juga dilaporkan merupakan faktor resiko penyakit ini.

2.8 Manifestasi Klinis


Manifestasi gejala pada Spondyloarthrosis tergantung pada posisi dan
bagian tulang yang mengalami kelainan serta usia penderita. Bila degenerasi
terjadi pada sendi antar ruas-ruas tulang belakang, maka dapat terjadi penipisan
sendi dan ruas tulang merapat satu sama lain, sehingga tinggi badan bisa
berkurang. Selain itu juga jaringan yang terdapat di dalam sendi antar ruas
tersebut bisa menonjol ke luar yang disebut hernia discus. Bila terjadi seperti ini
maka penderita Spondyloarthrosis akan merasa nyeri di punggungnya akibat
penekanan struktur tersebut ke jaringan sekitarnya. Hernia discus juga dapat
menekan ke dalam sumsum tulang belakang sehingga menimbulkan gangguan
saraf baik motorik, sensorik, maupun otonom sehingga bisa saja bermanifestasi
menjadi kelumpuhan, gangguan sensori seperti kesemutan dan mati rasa, dan
gangguan otonom seperti gangguan berkeringat, gangguan buang air besar
maupun kecil.
Proses degenerasi juga dapat menimbulkan penipisan tulang rawan dan
penonjolan tulang yang disebut osteophyte atau biasa disebut pengapuran.
Akibatnya otot dan jaringan penunjang sekitarnya dapat teriritasi oleh tonjolan
tulang tersebut dan penderita akan merasakan nyeri dan kaku.

12

Gejala klinis Spondyloarthrosis dapat ringan sampai berat dan sangat


tergantung pada usia penderita. Gejala Spondyloarthrosis dapat diklasifikasikan
sebagai berikut:
1. Leher (Cervical Spine)

Rasa sakit yang hilang timbul

Nyeri yang menyebar ke bahu, lengan, tangan, atau jari

Kekakuan sendi pada bahu atau leher sehingga membatasi pergerakan


setelah bangun tidur

Mati rasa pada daerah leher atau bahu

Kelemahan atau kesemutan di leher, bahu, lengan, tangan, atau jari

Sakit kepala di bagian belakang kepala

Kehilangan keseimbangan

Kesulitan menelan (ini jarang terjadi, tetapi mungkin terjadi jika


sumsum tulang belakang dikompresi)

2. Punggung Tengah (Thoracal Spine)

Nyeri di bagian atas dan pertengahan punggung

Kaku punggung setelah bangun tidur

Terbatasnya gerak tulang punggung

3. Punggung Bawah (Lumbar Spine)

Rasa sakit yang hilang timbul

Kaku tulang punggung bagian bawah

13

Rasa sakit yang berkurang dengan istirahat atau setelah berolahraga

Mati rasa daerah sekitar pinggang atau punggung bawah

Kelemahan pada punggung bawah

Sering terjadi kesemutan pada kaki

Kesulitan berjalan

Masalah usus atau kandung kemih (ini jarang terjadi, tetapi mungkin
terjadi jika sumsum tulang belakang dikompresi.)

2.9 Pemeriksaan Fisik


a. Inspeksi adalah suatu tindakan pemeriksa dengan menggunakan indera
penglihatan untuk mendeteksi karakteristik normal atau tanda tertentu dari bagian
tubuh atau fungsi tubuh pasien. Inspeksi digunakan untuk mendeteksi bentuk,
postur, warna, posisi, ukuran, tumor dan lainnya dari tubuh pasien. Inspeksi
dilakukan pada posisi tidur, duduk, berdiri, dan saat pasien berjalan.
b. Palpasi adalah cara pemeriksaan dengan jalan meraba, menekan, dan
memegang bagian tubuh pasien untuk mengetahui tentang adanya spasme otot,
nyeri tekan, suhu, oedema, kountur dan lainya. Dengan kata lain bahwa palpasi
merupakan tindakan penegasan dari hasil inspeksi, disamping untuk menemukan
yang tidak terlihat.
c. Move merupakan tes gerak untuk mengetahui ada tidaknya nyeri,
keterbatasan gerak atau ROM, dan kelemahan dari otot maupun gerakan pasien.

14

d. Pemeriksaan MMT (Manual Muscle Testing), Suatu cara pemeriksaan


untuk mengetahui kekuatan otot atau kemampuan mengontraksikan otot secara
volunteer dengan tujuan membantu menegakkan diagnosa. Nilai MMT :
Nilai 0 (zero)

tidak ada kontraksi sama sekali (baik terlihat maupun

teraba).
Nilai 1 (trace)

kontraksi otot dapat terlihat/diraba tetapi tidak ada

gerakan sendi.
Nilai 2 (poor)

kontraksi otot dapat menggerakan sendi secara penuh

tanpa mempengaruhi gravitasi.


Nilai 3 (fair) : kontraksi otot dapat menggerakan

sendi secara

penuh dengan melawan gravitasi


Nilai 4 (good) : kontraksi otot dengan gerakan sendi

penuh,

mampu melawan gravitasi dg tahanan sedang


Nilai 5 (normal) : kontraksi otot dengan gerakan sendi

penuh,

mampu melawan gravitasi dg tahanan penuh


e. Status Gizi
Body Mass Index (BMI) atau dalam bahasa Indonesia disebut Index Masa
Tubuh (IMT) adalah sebuah ukuran berat terhadap tinggi badan yang umum
digunakan untuk menggolongkan orang dewasa ke dalam kategori
Underweight (kekurangan berat badan), Overweight (kelebihan berat badan)

15

dan Obesitas (kegemukan). Rumus atau cara menghitung BMI sangat


mudah, yaitu dengan membagi berat badan dalam kilogram dengan kuadrat
dari tinggi badan dalam meter (kg/m). Untuk mengetahui nilai IMT ini,
dapat dihitung dengan rumus
berikut:

2.10

Pemeriksaan Radiologi

Apabila menemukan gejala tersebut dokter biasanya menanyakan keluhan dan


melakukan pemeriksaan fisik seperti nyeri tekan dan jangkauan gerak. Setelah itu
apabila dianggap perlu, dokter akan menyarankan penderita melakukan berbagai
pemeriksaan misalnya X-ray, CT-scan atau MRI.
Posisi pasien : Lumbo Sacral AP: tidur telentang di atas meja pemeriksaan

16

Lumbo Sacral Lateral: tidur miring dengan kaki di tekuk

Gambar : Spondylosis dan Spondyloarthrosis Cervical


Gambaran Radiologis
Gambaran yang mungkin didapatkan pada pemeriksaan Radiologi adalah sebagai
berikut:
1. Penyempitan ruang discus intervertebralis
2. Perubahan kelengkuangan vertebrae dan penekanan saraf
3. Osteofit/Spur formation di anterior ataupun posterior vertebrae
4. Pemadatan Corpus vertebrae
5. Porotik (Lubang) pada tulang
6. Vertebrae tampak seperti bambu (Bamboo Spine)

17

7. Sendi sacroiliaca tidak tampak atau kabur


8. Celah sendi menghilang

Gambar: Ilustrasi Gambaran Radiologis pada Spondyloarthrosis

18

Gambar: Osteofit

Gambar: Perubahan kelengkungan vertebrae

19

Gambar: Penyempitan DIV dan Osteofit

20

Gambar: Penekanan akar saraf

Gambar : Osteofit atau Spur Formation

21

Gambar : Osteofit atau Spur formation

Pada foto rontgen didapatkan adanya kelainan berupa penyempitan ruangan


intervertebralis serta adanya osteofit.

22

Gambar : Lumbosakral AP/Lateral


Hasil Pemeriksaan :
Tampak lipping process pada corpus vertebrae Th XII s/d L 5 dengan
sedikit pergeseran dari corpus vertebrae L 5 ke dorsal terhadap L 4 disertai sedikit
penyempitan pada intervertebral space L 4-5.
Pedicle, processus spinosus dan transversus tampak baik dan intact.
Alignment masih baik dengan columna vertebralis melurus. Line weight bearing
jatuh dibelakang promontorium.
Kesimpulan : Spondyloarthrosis lumbalis dan adanya paravertebral muscle
spasme.

23

Gambar : Lumbo Sakral AP/Lateral


Hasil Pemeriksaan
Alignment baik
Corpus vertebrae : lipping VL 1, 2, 3, 4, 5 dengan vacuum phenomenon VL 4-5
Pedicle, trabekulasi : baik
Intervertebral space tidak menyempit
Tidak tampak lesi osteolitik atau osteoblastik
Kesimpulan : Degenerative disk disease

24

2.11

Terapi
Penanganan bervariasi tergantung penilaian dokter akan kondisi dan gejala

pasiennya. Secara umum ada penanganan bedah dan non-bedah. Penanganan


bedah baru disarankan apabila penderita menampilkan gejala gangguan neurologis
yang mengganggu kualitas hidup penderita. Selain itu dokter juga memperhatikan
riwayat kesehatan umum pasien dalam menyarankan tindakan bedah. Apabila
tidak perlu, maka dokter akan menyarankan penanganan non bedah yang meliputi
pemberian obat antiradang (NSAID), analgesik, dan obat pelemas otot. Selain itu
apabila perlu dokter dapat menganjurkan pemasangan alat bantu seperti cervical
collar yang tujuannya untuk meregangkan dan menstabilkan posisi. Fisioterapi
berupa pemberian panas dan stimulasi listrik juga dapat membantu melemaskan
otot. Dan yang tak kalah pentingnya adalah exercise. Dengan exercise maka otototot yang lemah dapat diperkuat, lebih lentur dan memperluas jangkauan gerak.
Terapi atau tindakan yang dapat dilakukan pada penderita Spondyloarthrosis
dapat digolongkan menjadi:
1. Tindakan Operasi: apabila ada gangguan berupa penekanan saraf/ akar
saraf yang progresif atau instabilitas yang hebat maka perlu pembedahan.
2. Obat-obatan: tujuan obat adalah untuk mengurangi nyeri dan kaku pada
leher dan lengan.
3. Rehabilitasi

Medik:

program

rehabilitasi

medik

pada

penderita

Spondyloarthrosis cervicalis tergantung gejala klinis yang timbul,


bertujuan untuk mengurangi rasa nyeri, mempertahankan lingkup gerak

25

sendi, menguatkan otot serta meningkatkan aktifitas hidup sehari-hari.

Terapi Fisik:
o Terapi dingin digunakan hanya pada kondisi akut saja yaitu
untuk mengurangi nyeri dan proses peradangan. Setelah lewat
fase akut baru dapat diberikan terapi panas.
o Terapi panas merupakan modalitas terapi fisik yang sering
digunakan terutama pada fase sub akut dan kronis serta bisa
digunakan sebelum dimulai terapi latihan.
o Traksi cervical: traksi adalah suatu teknik yang menggunakan
gaya tarikan, digunakan untuk meregangkan jaringan ikat dan
untuk memisahkan permukaan sendi atau fragmen tulang.
Macam kekuatan tarikan yang diberikan dapat bersifat terus
menerus (continous) atau terputus-putus (intermitens).
o Terapi latihan: beberapa kasus memberikan respon yang baik
terhadap program latihan pada otot-otot leher, sehingga akan
memperbaiki fungsi leher dan mengurangi nyeri. Tujuan latihan
ini adalah untuk relaksasi, mobilisasi sendi dan memperkuat
otot leher. Contoh: Latihan relaksasi, lingkup gerak sendi, dan
isometrik.

Terapi Okupasi:

26

Terapis mengajarkan pasien melakukan segala aktifitas kehidupan


sehari-harinya dengan posture tubuh, terutama leher yang baik dan
benar.

27

BAB III
KESIMPULAN
Spondiloarthrosis adalah kondisi dimana terjadi perubahan degeneratif
pada sendi intervertebralis antara corpus dan diskus. Spondiloarthrosis merupakan
bagian dari osteoarthritis yang juga dapat menghasilkan perubahan degeneratif
pada sendi sendi synovial sehingga dapat terjadi pada sendi sendi apophyseal
tulang belakang. Secara klinis kedua perubahan degeneratif tersebut terjadi secara
bersamaan (hamdy, 2010). Spondyloarthrosis cervical merupakan suatu kondisi
proses degenerasi pada discus intervertebralis dan jaringan pengikat persendian
antara ruas-ruas tulang belakang (Irfan, 2012). Tulang belakang (spine
osteoarthritis) yang disebabkan oleh proses degenerasi sehingga mengganggu
fungsi dan struktur normal tulang belakang. Spondylosis/ Spondiloarthrosis dapat
terjadi pada leher (cervical), punggung tengah (thoracal), maupun punggung
bawah (lumbal). Proses degenerasi dapat menyerang sendi antar ruas tulang
belakang, tulang dan juga penyokongnya (ligament).
Apabila menemukan gejala tersebut dokter biasanya menanyakan keluhan dan
melakukan pemeriksaan fisik seperti nyeri tekan dan jangkauan gerak. Setelah itu
apabila dianggap perlu, dokter akan menyarankan penderita melakukan berbagai
pemeriksaan misalnya X-ray, CT-scan atau MRI.

28

Daftar Pustaka

Snell, R.S., 2006. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran. Jakarta: EGC.
Premkumar, K., 2004. Anatomy and Physiology. USA: Lippincott Williams &
Wilkins.
Robert Bruce Salter, Text Book Of Disorders And Injuries Of The Musculoskeletal
System, 1983. p 201
Sjamsjulhidayat R., Jong W.D., Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 2, EGC, Jakarta,
2004, Hlm 913
Urban, J. 2003. Degeneration of the intervertebral disc. BioMed Central Ltd. UK

Supplement

Anda mungkin juga menyukai