Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN KASUS

ABORTUS INKOMPLETUS

Pembimbing:
dr. Iksan Oetama, SpOG

Disusun oleh:
Sarah Martinauli Harahap
03011267

KEPANITERAAN KLINIK KEBIDANAN DAN KANDUNGAN


RUMAH SAKIT ANGKATAN LAUT MINTOHARDJO
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
Periode 28 Desember 2015 - 7 Maret 2016

BAB I
PENDAHULUAN

Abortus (keguguran) merupakan salah satu penyebab perdarahan yang terjadi


pada kehamilan trimester pertama dan kedua. Perdarahan ini dapat menyebabkan
berakhirnya kehamilan atau kehamilan terus berlanjut. Secara klinis, 10-15% kehamilan
yang terdiagnosis berakhir dengan abortus.1
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat
hidup di laur kandungan. Sebagai batasan adalah kehamilan kurang dari 20 minggu atau
berat janin kurang dari 500 gram. Angka kejadian abortus sukar ditentukan karena banyak
kasus abortus provokatus tidak dilaporkan, kecuali bila sudah terjadi komplikasi. Seorang
wanita dapat mengalami abortus tanpa mengetahui bahwa ia hamil. Abortus bisa juga
tidak diketahui karena hanya dianggap sebagai menstruasi yang terlambat (siklus
memanjang), dan insiden abortus kriminalis yang pada umumnya tidak dilaporkan.
Abortus dapat menyebabkan perdarahan yang hebat dan dapat menimbulkan
syok, perforasi, infeksi, dan kerusakan faal ginjal (renal failure) sehingga mengancam
keselamatan ibu. Kematian dapat terjadi apabila pertolongan tidak diberikan secara cepat
dan tepat.

BAB II
LAPORAN KASUS
STATUS / REKAM MEDIS OBSTETRI
RUMAH SAKIT ANGKATAN LAUT DR.MINTOHARDJO
__________________________________________________________________
Nama Mahasiswa

: Sarah Martinauli H.

NIM

: 030.11.267

Dokter Pembimbing

: dr. Iksan Oetama, Sp.OG

Tanda Tangan :

2.1 IDENTITAS
Identitas pasien
Nama

: Ny. D

Umur

: 32 tahun

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Pendidikan terakhir

: SMA

Alamat

: Perumahan Ctira Swarma I Blok B3 no.9 Kel.


Segara Bekasi utara

Agama

: Islam

Suku

: Jawa

Status

: Menikah

Masuk RS

: 24 Januari 2016

No. RM

: 082850

Identitas suami
Nama

: Tn. AS

Umur

: 38 tahun

Pekerjaan

: TNI AL

Pangkat

: SERDA

Pendidikan terakhir

: SLTA

Alamat

: Perumahan Ctira Swarma I Blok B3 no.9 Kel.


Segara Bekasi Utara

Agama

: Islam

Suku

: Jawa

Status

: Menikah

2.2 ANAMNESIS
Dilakukan autoanamnesis kepada pasien Ny. D, bertempat di P.Bunyu, RSAL dr.
Mintohardjo pada hari Senin, 25 Januari 2016 pukul 13.00 WIB.
A. KELUHAN UTAMA
Keluar gumpalan darah dari kemaluan sejak 9 jam SMRS.
B. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Pasien datang ke IGD RSAL Mintohardjo dengan keluhan keluar darah
banyak dan menggumpal 9 jam SMRS yaitu kurang lebih pukul 05.00. Pasien
mengatakan bahwa darah tersebut berwarna merah agak kehitaman dan
berbentuk menggumpal seperti cendol. 15 jam SMRS pasien juga mengeluh
adanya nyeri perut disertai dengan rasa mulas. Nyeri perut terutama dirasakan
dibagian bawah. Pasien mengatakan nyeri perut seperti ingin melahirkan. 2
minggu SMRS pasien sempat mengeluh keluar darah setelah berhubungan
dengan suami berupa darah segar. Sejak awal kehamilan pasien

mengatakan

sempat keluar darah segar dari kemaluan berupa bercak-bercak namun berhenti
dengan sendirinya, sehingga pasien tidak mengontrol lebih lanjut.
Pasien mengaku sudah tidak haid sejak pertengahan September 2015.
Pasien melakukan pemeriksaan test pack urin dan mendapatkan hasil positif.
Pasien sudah sempat datang ke dokter untuk dilakukan pemeriksaan USG dan
dikatakan terdapat tanda kehamilan. Saat ini merupakan kehamilan ke-4 pasien.
Pasien memiliki 2 anak. Pasien pernah melakukan hubungan seksual 2-3 kali
dalam sebulan terakhir. Tidak kejang, tidak nyeri kepala, tidak mual, tidak
muntah, tidak nyeri ulu hati, tidak sesak nafas, mata tidak kabur. Pasien
menyangkal sempat terjatuh ataupun minum obat-obatan tertentu. Keluhan BAK
dan BAB tidak ada.
C. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Pasien memiliki riwayat keguguran sebelumnya pada Mei 2014 dan
dilakukan tindakan kuretase pada bulan Mei 2014. Riwayat hipertensi, DM,
jantung, ginjal, asma, alergi disangkal oleh pasien. Riwayat keputihan ataupun
infeksi kelamin sebelumnya juga disangkal oleh pasien.
D. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
Kakak kandung pasien sempat mengalami keguguran pada kehamilan
pertama. Riwayat hipertensi, DM, jantung disangkal oleh pasien.

E. RIWAYAT MENSTRUASI
Menarche

: 13 tahun

Dysmenorrhea

: tidak ada

Siklus haid

: 28 hari teratur

HPHT

: kurang lebih pertengahan September

Nyeri saat haid

: disangkal

E. RIWAYAT OBSTETRIK
GIVP0A1

No

Umur
kehamilan

Suami

Tahun
persalinan

Tempat
pertolongan

Jenis
persalinan

Anak
Keadaan

1.

cukup
bulan

usia anak
Klinik Bidan
saat ini 7 thn

Spontan

Sehat

2.

cukup
bulan

usia anak
Klinik Bidan
saat ini 3 thn

Spontan

Sehat

Tn. AS
(38 thn) Abortus
UK 7
(Mei 2014) minggu

3
4

Hamil saat
ini

F. RIWAYAT PERNIKAHAN
Pasien menikah satu kali, usia pernikahan 9 tahun, usia saat menikah 23.
G. RIWAYAT KONTRASEPSI
Pasien mengaku pernah memakai KB suntik 3 bulan 1 kali selama 3
bulan dan sempat menggunakan
H. RIWAYAT ANTENATAL CARE (ANC)
Sejak usia kehamilan 2 bulan, pasien melakukan asuhan antenatal setiap
bulan 1 kali.
I.

RIWAYAT PENGOBATAN
Pasien tidak mengkonsumsi obat-obatan sebelumnya.

2.3 PEMERIKSAAN FISIK


A. STATUS GENERALIS
Keadaan umum

Kesadaran

: tampak sakit sedang


: compos mentis
4

Antropometri

BB sekarang

: 55 kg

Tinggi badan

: 162 cm

Tanda vital

Tekanan darah

: 110/70 mmHg

Nadi

: 88x / menit

Suhu

: 36,6C

Pernafasan

: 18x / menit

Kepala

: Normochepali

Mata

: Konjungtiva anemis -/- , sklera ikterik -/-

Leher

: tidak ada pembesaran KGB dan tiroid

Jantung : Bunyi jantung I dan II reguler, murmur (-), gallop (-)

Paru

: suara nafas vesikuler, wheezing (-/-), ronkhi (-/-)

Abdomen

: Pada status ginekologi

Ekstremitas

: Superior : akral hangat dan tidak ada edema


Inferior : akral hangat dan tidak ada edema

B. STATUS OBSTETRIK
TFU

: 3 jari di atas symphisis

DJJ

: (-)

HIS

: (-)

Leopold I

: 3 jari di atas symphisis

Leopold II

: Tidak dapat dinilai

Leopold III

: Tidak dapat dinilai

Leopold IV

: Tidak dapat dinilai

C. STATUS GINEKOLOGIS
Pemeriksaan Luar
Inspeksi :
-

massa (-)

Palpasi
-

Fundus uteri : 3 jari di atas symphisis

nyeri tekan : (-)

!
Inspekulo :
Terlihat perdarahan aktif. Tampak ketuban berwarna hijau, ketuban pecah spontan, janin
keluar tampak di vagina, ditarik agak keras.
Pemeriksaan Dalam
Vulva

: tidak ada kelainan

Vagina

: tidak ada kelainan

Portio

: licin

OUE

: pembukaan kurang lebih 1-2 cm

2.4 PEMERIKSAAN PENUNJANG


1. Pemeriksaan Laboratorium
Tabel 1. Hasil pemeriksaan Laboratorium 24/01/2016 pukul 10.46 WIB

Jenis Pemeriksaan

Hasil

Satuan

Nilai rujukan

Leukosit

11.300*

/ul

5000 10000

Eritrosit

4.14*

juta/ul

4,2 5,4

Hematologi
Darah rutin

Hemoglobin

11.0*

g/dl

12 14

Hematokrit

34*

37 42

Trombosit

328.000

ribu/ul

150.000 450.000

Tabel 2. Hasil pemeriksaan Laboratorium 24/01/2016 pukul 16.37 WIB

Jenis Pemeriksaan

Hasil

Satuan

Nilai rujukan

Leukosit

12.700*

/ul

5000 10000

Eritrosit

4.06*

juta/ul

4,2 5,4

Hemoglobin

10.6*

g/dl

12 14

Hematokrit

33*

37 42

Trombosit

366.000

ribu/ul

150.000 450.000

Bleeding Time

200

menit

13

Clotting Time

1100

menit

5 15

Hematologi
Darah rutin

Hemostasis

2. Pemeriksaan Ultrasonography (USG)


Tnggal 06 Januari 2016, 18:17

Hasil USG :
-

CRL 5.58

GA 12 minggu

EDD 19/07/2016

2.5 DIAGNOSIS
GIVP0A1 H16/17 minggu
Abortus Incomplete (ICD-10 233.2)
2.6 PENATALAKSANAAN
Medikamentosa
1. UGD

IVFD RL 30 tpm

Inj. Transamin 500 mg iv

Inj. Vitamin K 1 amp iv

2. Ruang Bersalin (10.00)

IVFD RL + oxytocin 2 amp 40 tpm

Amoxycillin 3 x 500 mg PO (profilaksis)

Misoprostol 2 caps. supp.

Non-medikamentosa
Pengawasan KU, TTV, dan PPV

Edukasi kepada pasien dan keluarga pasien tentang hasil pemeriksaan dan
tindakan yang akan dilakukan

Rencana Curretase (25 Januari 2016)

Puasa 6-8 jam untuk persiapan kuretase

2.7 PROGNOSIS
Ad vitam

: Ad Bonam

Ad functionam : Ad bonam

Ad sanationam : Ad Bonam

2.8 RESUME
Ny.D 32 tahun, GIVP0A1

H 16/17 minggu,

datang ke IGD RSAL dr. Mintohardjo

dengan keluhan keluar perdarahan dari vagina sejak 9 jam SMRS. Darah berwarna merah
kehitaman, jumlah banyak, nyeri perut dan mulai seperti mau melahirkan diakui pasien.
Pada awal kehamilan, pasien sempat keluar flek-flek berwarna darah segar yang berhenti
dengan sendirinya. Pasien juga sempat melakukan hubungan seksual 2-3 dalam sebulan
terakhir. Pasien sudah pernah melahirkan dua kali dan mempunyai riwayat aborsi satu
kali. Riwayat hipertensi, DM, penyakit jantung, ginjal, asma, dan alergi disangkal oleh
pasien
Pada pemeriksaan fisik didapatkan tanda vital dalam batas normal. Pada
pemeriksaan luar TFU 3 jari di atas sympisis, nyeri tekan (-). Pada inspekulo terlihat
perdarahan aktif. Tampak ketuban berwarna hijau, ketuban pecah spontan, janin keluar
tampak di vagina, ditarik agak keras. Pada pemeriksaan dalam tampak ostium uteri
terbuka, dan portio teraba licin.
2.9 LAPORAN KURETASE

Ahli Bedah

: dr.Aninditha, SpOG

Diagnosis Pra-Bedah

: GIVP0A1 H 16/17 minggu + abortus inkomplit

Diagnosis Pasca Bedah : P2A2 + Abortus inkomplit

Macam operasi

: Kuretase

Posisi Pasien

: Lithotomi

Mulai operasi

: 08.00

Selesai Operasi

: 08.30

Durasi

: 30 menit

Komplikasi

:-

Laporan Operasi Tindakan Kuretase:


1. Pasien dalam posisi litotomi dalam analgesi neuroleptik
2. A & antisepsis genitalia eksterna dan sekitarnya
3. Kandung kemih dikosongkan
4. Dipasang spekulum bawah dan atas
5. Dipasang tenakulum pada bibir portio pada arah jam 11
6. Sondase masuk 7 cm, arah uterus ante-fleksi
7. Dengan cunam abortus dikeluarkan jaringan ukuran kurang lebih 40 gram,
kesan hasil konsepsi
8. Dengan kuret tajan korpus uteri dibersihkan secara sistematis, dikeluarkan
jaringan sebanyak 20 cc.
9. Setelah diyakini tidak ada perdarahan, tindakan dihentikan
10.Portio dicuci dengan betadin.

FOLLOW-UP
24 Januari 2016,16.00 (di Ruang Bersalin)
S

: Pasien tampak gelisah dan mengeluh mulas dan nyeri perut.

: KU: Baik, Kes: CM


TD 110/80
N 90x/menit
S 36.5 Celcius
RR 18x/menit
Pemeriksaan Luar:
Kontraksi uterus (+), Perdarahan (+)
Tampak Janin dan Plasenta sudah keluar

: GIVP0A1 H 16/17 minggu Abortus Inkomplit

: Infus D5% 20 tpm


Citotec serviks 1 tablet sebelum puasa
Inj. Amoxixylin
Pro-kuretase

10

!
25 Januari 2016 (Post Kuretase)
S

: Pasien mengeluh nyeri di bagian kemaluan. Skala nyeri 2.

: KU: baik, Kes: CM


TD: 110/70
N: 84x/menit
S: 36.3 Celcius
RR: 18x/ menit
Perdarahan (-), Kontraksi Uterus (-)

: Post-Kuretase, P2A2.

: IVFD RL 20 tpm
Methergin 3x1 p.o
Cefadroxyl 2x1 p.o
Etabion 1x1 p.o
Hygiene Vulva dijaga

11

BAB III
PEMBAHASAN
Pasien Ny.D 32 tahun, GIVP0A1 H 16/17 minggu, datang ke IGD RSAL dr. Mintohardjo
dengan keluhan keluar perdarahan dari vagina sejak 9 jam SMRS. Darah berwarna merah
kehitaman, jumlah banyak, nyeri perut dan mulai seperti mau melahirkan diakui pasien.
Pada awal kehamilan, pasien sempat keluar flek-flek berwarna darah segar yang berhenti
dengan sendirinya. Pasien juga sempat melakukan hubungan seksual 2-3 dalam sebulan
terakhir. Pasien sudah pernah melahirkan dua kali dan mempunyai riwayat aborsi satu
kali. Riwayat hipertensi, DM, penyakit jantung, ginjal, asma, dan alergi disangkal oleh
pasien. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tanda vital dalam batas normal. Pada
pemeriksaan luar TFU 3 jari di atas sympisis, nyeri tekan (-). Pada inspekulo terlihat
perdarahan aktif. Tampak ketuban berwarna hijau, ketuban pecah spontan, jaringan keluar
tampak di vagina, ditarik agak keras. Pada pemeriksaan dalam tampak ostium uteri
terbuka, dan portio teraba licin.
Pada pasien ini penegakkan diagnosis abortus inkompletus dapat diambil melalui
anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan ginekologi. Abortus adalah ancaman atau
pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan, dimana sebagai
batasan adalah jika kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500
gram. Dari kasus ini maka perlu ditegakkan diagnosis kehamilan terlebih dahulu. Pada
pasien ini terdapat riwayat ammenorrhea sejak bulan September 2015, pasien juga sudah
melakukan test pack yang hasilnya + dan juga sudah pernah melakukan pemeriksaan
USG yang dimana pasien berkata terdapat tanda-tanda kehamilan.
Pada pasien ini juga terdapat beberapa faktor resiko yang dapat menyebabkan
abortus terjadi. Pasien memiliki riwayat abortus sebelumnya, dimana dikatakan bahwa
jika sudah mengalami abortus sebelumnya, resiko kemungkinan terjadinya abortus
meningkat sekitar 19%. Selain itu angka paritas yang meningkat juga dapat meningkatkan
resiko komplikasi pada kehamilan, persalinan, dan nifas, yang dimana salah satunya
adalah abortus. Kehamilan yang lebih dari ketiga juga dapat meningkatkan resiko
terjadinya abortus.
Terdapat beberapa jenis abortus, namun pada kasus ini ditegakkan diagnosis
abortus inkomplitus. Kasus ini sesuai dengan hasil anamnesis abortus inkompletus
dimana terdapat perdarahan pada trimester pertama kehamilan, dimana pada pasien ini
usia kehamilannya sekitar 16 minggu, adanya darah yang mengalir keluar dari vagina,
disertai rasa mulas, dan terdapat riwayat keluarnya jaringan dari jalan lahir. Selain itu dari

12

pemeriksaan fisik, pada inspekulo ditemukan adanya darah yang mengalir aktif, dilatasi
serviks, dan terlihat jaringan di jalan lahir.
Sebagai diagnosis banding, klasifikasi abortus lainnya dapat masuk sebagai
diagnosis banding, begitu pula kehamilan ektopik, dan mola hidatidosa. Diagnosis
kehamilan ektopik dan mola hidatidosa dapat ditegakkan melalui pemeriksaan USG. Pada
kehamilan ektopik terdapat gambaran janin ekstrauterine, dan pada Mola Hidatidosa
terdapat gambaran snow flake pattern yang dimana tidak ditemukan pada pasien ini.
Selain itu dari anamnesis juga dapat disingkirkan kehamilan ektopik, karena tidak
terdapat nyeri tekan pada pasien kasus ini.
Penatalaksanaan yang diberikan pada pasien ini berupa IVFD RL + oxytocin 2
amp 40 tpm, Amoxycillin 3 x 500 mg PO (profilaksis),Misoprostol 2 caps. supp. Hal ini
sesuai dengan teori yang ada dimana dikatakan jika usia kehamilan 16 minggu atau lebih,
maka berikan infus oksitosin 20 unit dalam 500 cc IV RL 40 tpm sampai dengan terjadi
ekspulsi hasil konsepsi, dan jika perlua diberikan misoprostol pervaginam setiap 4 jam
samapi ekspulsi hasil konsepsi. Kemudian dapat juga diberikan amoxycilin yang
tujuannya adalah sebagai profilaksis infeksi. Selain itu pada pada pasien ini juga
diberikan metyl ergomentrin, yang juga sesuai dengan teori dimana ditujukan untuk
mempertahankan kontraksi uterus sehingga mengurangi terjadinya perdarahan lebih
lanjut.
Prognosis pada pasien ini ad bonam dengan alasan, karena tidak terdapat tandatanda infeksi ataupun shock pada ibu begitu pula tanda-tanda komplikasi yang berbahaya.

13

BAB IV
TINJAUAN PUSTAKA
4.1 Definisi Abortus
Abortus merupakan pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar
kandungan yaitu berat badan kurang dari 500 gram atau usia kehamilan kurang dari
(ACOG memberi batasan 20 minggu,1 FIGO memberi batasan 22 minggu,2 Hanretty
memberikan batasan 24 minggu,3 WHO memberi batasan 28 minggu4).
4.2 Epidemiologi
Rata-rata terjadi 114 kasus abortus per jam. Sebagian besar studi menyatakan
kejadian abortus spontan antara 1520% dari semua kehamilan. Kalau dikaji lebih jauh
abortus sebenarnya bisa mendekati 50%. Hal ini dikarenakan tingginya angka chemical
pregnancy loss yang tidak bisa diketahui pada 24 minggu setelah konsepsi
(Prawirohardjo, 2008).
WHO memperkirakan di seluruh dunia, dari 46 juta kelahiran pertahun terdapat
20 juta kejadian abortus. Sekitar 13% dari jumlah total kematian ibu di seluruh dunia
diakibatkan oleh komplikasi abortus, 800 wanita diantaranya meninggal karena
komplikasi abortus dan sekurangnya 95% (19 dari setiap 20 abortus) di antaranya terjadi
di negara berkembang. Di Amerika Serikat angka kejadian abortus spontan berkisar
antara 10-20% dari kehamilan. Di Rumah Sakit Umum Daerah RSUD Banyumas Unit II
Purwokerto, angka kejadian abortus pada tahun 2007 sebesar 23,70% pada tahun 2008
meningkat menjadi 30,70%. Sedangkan di Rumah Sakit dr. Hasan Sadikin Bandung,
prevalensi abortus tercatat sebesar 8-12% (Dwilaksana, 2010).5
Di Indonesia setiap tahun selalu dilakukan pencatatan distribusi penyakit oleh
Departemen Kesehatan RI yang salah satunya adalah penyakit kehamilan. Jumlah
keguguran yang terjadi diketahui akan menurun dengan meningkatnya usia gestasional,
dari 25% pada 5 hingga 6 minggu pertama kehamilan menjadi 2% selepas 14 minggu
kehamilan.
4.3 Etiologi
Aborsi memiliki banyak faktor penyebab, tetapi beberapa studi menunjukkan
60% disebabkan oleh kelainan kromosom.6 Berikut adalah penyebab yang umum
didapatkan dalam kasus aborsi: 7
1. Faktor janin:
a. Aborsi aneuploidi

14

95% dari kelainan kromosom yang berkaitan dengan aborsi disebabkan


oleh kesalahan gametogenesis. Trisomi autosomal paling sering
ditemukan berkaitan dengan kelainan kromosom pada aborsi pada
trimester pertama. Sedangkan monosomy X adalah kelainan kromosom
tunggal spesifik yang paling sering ditemukan
b. Aborsi eupliodi
Janin dengan kromosom normal cenderung untuk aborsi lebih jauh di
kemudian hari dibandingkan dengan aborsi aneuploidi. Angka kejadian
dari aborsi euploidi berkurang dramatis setelah umur ibu lebih dari 35
tahun.
2. Faktor ibu:
a. Infeksi
Infeksi tidak umum menyebabkan aborsi. Studi yang dilakukan Simpson
dan teman-teman (1996) tidak menemukan bukti aborsi akibat infeksi.
Studi lain yang dilakukan Oakshet dan teman-teman (2002)
menunjukkan hubungan antara aborsi pada trimester kedua dengan
bakterial vaginosis
b. Hipotiroid
Defisiensi tiroid yang berat mungkin berkaitan dengan aborsi. Efek dari
hipotiroid sendiri terhadap aborsi belum banyak diteliti namun
peningkatan autoantibodi terhadap tiroid berkaitan dengan peningkatan
angka kejadian dari aborsi.
c. Diabetes Mellitus
Kadar gula darah yang tidak terkontrol meningkatakan angka kejadian
aborsi
d. Merokok
Kebiasaan merokok berkaitan dengan meningkatnya resiko dari aborsi
euploidi. Resiko ini meningkata sesuai dengan peningkatan frekuensi dan
dosis dari merokok itu sendiri.
e. Alkohol
Konsumsi alkohol pada 8 minggu pertama kehamilan berkaitan erat
dengan peningkata angka kejadian aborsi
f.

Kafein
Peningkatan resiko aborsi baru terjadi pada mereka yang mengkonsumsi
kafein lebih dari 500 mg per hari.

15

g. Defek uterus
Resiko aborsi meningkat pada sindrom Asherman
h. Servix inkompeten
Servix inkompeten adalah terjadinya dilatasi servix yang tidak sakit pada
trimester kedua. Kejadian tersebut bisa diikuti oleh prolap dan
penggembungan dari membran ke vagina sehingga terjadi expulsi dari
janin prematur.
4.4 Faktor Resiko
Faktor resiko abortus yaitu :
1.

Usia Ibu
Usia dibawah 20 tahun dan diatas 35 tahun merupakan usia resiko untuk
hamil dan melahirkan (Mulyati, 2003). Menurut Manuaba (1998) kurun waktu
reproduksi sehat adalah 20-30 tahun dan keguguran dapat terjadi pada usia yang
masih muda, karena pada saat remaja alat reproduksi belum matang dan belum
siap untuk hamil. Menurut Cunningham (2005) bahwa frekuensi abortus
bertambah dari 12% pada wanita 20 tahun, menjadi 26 % pada wanita yang
berusia diatas 40 tahun. Menurut Prawirohardjo (2008) risiko ibu terkena
aneuploidi adalah 1 : 80 pada usia diatas 35 tahun, karena angka kejadian kelainan
kromosom/trisomi akan meningkat setelah usia 35 tahun.
Abortus meningkat dengan pertambahan umur, OR 2,3 setelah usia 30 tahun.
Risiko berkisar 13,3% pada usia 12-19 tahun; 11,1% pada usia 20-24 tahun;
11,9% pada usia 25-29 tahun; 15% pada usia 30-34 tahun; 24,6% pada usia
35-39%; 51% usia 40-44 tahun; 93,4% pada usia 45 tahun ke atas. Baru-baru ini
peningkatan usia ayah dianggap sebagai suatu faktor risiko terjadinya abortus.
Suatu penelitian yang dilakukan di Eropa melaporkan bahwa risiko abortus
tertinggi ditemukan pada pasangan dimana usia wanita 35 tahun dan pria 40
tahun.6

2.

Paritas Ibu
Semain banyak jumlah kelahiran yang dialami seorang ibu semakin
tinggi resikonya untuk mengalami komplikasi kehamilan, persalinan dan nifas.
Sejalan dengan pendapat Cunningham (2005) bahwa resiko abortus spontan
semakin meningkat dengan bertambahnya paritas. Persalinan kedua dan ketiga
merupakan persalinan yang aman, sedangkan risiko terjadinya komplikasi
meningkat pada kehamilan, persalinan, dan nifas setelah yang ketiga dan

16

seterusnya. Demikian juga dengan paritas 0 dan lebih dari 4 merupakan kehamilan
risiko tinggi (Mulyati, 2003).
3.

Riwayat Abortus Sebelumnya


Resiko pasien dengan riwayat abortus untuk kehamilan berikutnya
ditentukan dari frekuensi riwayatnya. Pada pasien yang baru mengalami riwayat 1
kali berisiko 19%, 2 kali berisiko 24%, 3 kali berisiko 30%, dan 4 kali berrisiko
40%. Menurut Malpas dan Eastman kemungkinan terjadinya abortus lagi pada
seorang wanita yang mengalami abortus habitualis ialah 73% dan 83,6%.
Sebaliknya Warton dan Fraser memberikan prognosis yang lebih baik yaitu 25,9%
dan 39%.8

4.

Pemeriksaan Antenatal
Pemeriksaan antenatal yang baik adalah minimal 1 kali pada trimester
pertama, 1 kali pada trimester kedua dan 2 kali pada trimester ketiga. Keuntungan
yang diperoleh dengan melakukan pemeriksaan antenatal dengan baik adalah
kelainan yang mungkin ada atau akan timbul pada kehamilan tersebut cepat
diketahui dan segera dapat diatasi sebelum berpengaruh tidak baik pada
kehamilannya (Prawirohardjo, 2008). Ibu dengan pemeriksaan antenatal yang tidak
baik akan meningkatkan risiko kehamilan (risiko kesakitan dan kematian), karena
akan sulit untuk mendeteksi kelainan dan kebutuhan yang diperlukan ibu dalam
mempersiapkan kehamilan dan kelahiran secara optimal.

5.

Pendidikan
Umumnya ibu yang mengalami abortus mempunyai pendidikan 1-9
tahun dan memungkinkan abortus pada pendidikan rendah lebih besar
dibandingkan dengan kelompok yang berpendidikan lebih tinggi.

6.

Kebiasaan orang tua


a. Merokok
b. Konsumsi alkohol selama 8 minggu pertama kehamilan. Tingkat aborsi
spontan dua kali lebih tinggi pada wanita yang minum alkohol 2x/minggu
dan tiga kali lebih tinggi pada wanita yang mengkonsumsi alkohol setiap
hari. Dalam suatu penelitian didapatkan bahwa risiko abortus meningkat
1,3 kali untuk setiap gelas alkohol yang dikonsumsi setiap hari.
c. Radiasi juga dapat menyebabkan abortus pada dosis yang cukup. Akan
tetapi, jumlah dosis yang dapat menyebabkan abortus pada manusia tidak
diketahui secara pasti.
d. Alat kontrasepsi dalam rahim yang gagal mencegah kehamilan
menyebabkan risiko abortus, khususnya abortus septik meningkat.

17

e. Psikologis seperti ansietas dan depresi.


4.5 Patofisologi
Pada awal abortus terjadilah perdarahan dalam desidua basalis kemudian
diikuti oleh nekrosis jaringan di sekitarnya. Hal tersebut menyebabkan hasil konsepsi
terlepas sebagian atau seluruhnya, sehingga merupakan benda asing dalam uterus.
Keadaan ini menyebabkan uterus berkontraksi untuk mengeluarkan isinya.
Pada kehamilan kurang dari 8 minggu hasil konsepsi itu biasanya dikeluarkan
seluruhnya karena villi koriales belum menembus desidua secara mendalam. Pada
kehamilan antara 8 sampai 14 minggu villi koriales menembus desidua lebih dalam,
sehingga umumnya plasenta tida dilepaskan sempurna yang dapat menyebabkan
banyak perdarahan. Pada kehamilan 14 minggu ke atas umumnya yang dikeluarkan
setelah ketuban pecah ialah janin, disusul beberapa waktu kemudian plasenta.
Perdarahan tidak banyak jika plasenta segera terlepas dengan lengkap. Peristiwa
abortus ini menyerupai persalinan dalam bentuk miniature.9
Hasil konsepsi pada abortus dapat dikeluarkan dalam berbagai bentuk. Ada
kalanya kantong amnion kosong atau tampak di dalamnya benda kecil tanpa bentuk
yang jelas (blighted ovum); mungkin pula janin telah mati lama (missed abortion).
Apabila mudigah yang mati tidak dikeluarkan dalam waktu singkat, maka ia
dapat diliputi oleh lapisan bekuan darah. Isi uterus dinamakan mola kruenta. Bentuk
inui menjadi mola karnosa apabila pigmen darah telah diserap dan dalam sisanya
terjadi organisasi, sehingga semuanya tampa seperti daging. Bentuk lain adalah mola
tuberose; dalam hal ini amnion tampa berbenjol-benjol karena terjadi hematoma
antara amnion dan korion.
4.6 Klasifikasi Abortus 10
Menurut cara terjadinya dibedakan atas :
a. Abortus spontan yaitu abortus yang terjadi dengan sendirinya tanpa
disengaja atau dengan tidak didahului faktor-faktor mekanis atau medicinalis,
semata-mata disebabkan oleh faktor-faktor alamiah.
b. Abortus provokatus (induksi abortus) adalah abortus yang disengaja tanpa
indikasi medis, baik dengan memakai obat-obatan maupun dengan alat-alat.
Abortus ini terbagi lagi menjadi :
1) Abortus medicinalis (abortus therapeutica) yaitu abortus karena
tindakan kita sendiri, dengan alasan bila kehamilan dilanjutkan, dapat

18

membahayakan jiwa ibu (berdasarkan indikasi medis). Biasanya perlu


mendapat persetujuan 2 sampai 3 tim dokter ahli.
2) Abortus kriminalis yaitu abortus yang terjadi oleh karena tindakantindakan yang tidak legal atau tidak berdasarkan indikasi medis dan
biasanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi oleh tenaga tradisional.
Pembagian abortus secara klinis adalah sebagai berikut :
a. Abortus Iminens
Merupakan abortus tingkat permulaan dan merupakan
ancaman terjadinya abortus, ditandai perdarahan
pervaginam, ostium uteri masih tertutup dan hasil
konsepsi masih baik dalam kandungan.

b. Abortus Insipiens
Abortus yang sedang mengancam yang ditandai dengan
serviks telah mendatar dan ostium uteri telah membuka,
akan tetapi hasil konsepsi masih dalam kavum uteri dan
dalam proses pengeluaran.

c. Abortus Inkompletus
Sebagian hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri dan masih ada yang
tertinggal.

!
d. Abortus Kompletus
Seluruh hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri pada kehamilan
kurang dari 20
minggu atau berat janin kurang dari 500 gram.
19

!
e. Missed Abortion
Abortus yang ditandai dengan embrio atau fetus telah meninggal
dalam kandungan sebelum kehamilan 20 minggu dan hasil
konsepsi seluruhnya masih tertahan dalam kandungan.
Abortus Habitualis

f.

Abortus habitualis ialah abortus spontan yang terjadi 3 kali atau


lebih berturut-turut.
4.6 GEJALA KLINIS
Gejala klinis pada abortus pada umumnya sama, antara lain: 11
a. Perdarahan atau bercak darah dari jalan lahir pada trimester pertama
b. Jumlah darah umumnya sedikit
c. Warna darah bervariasi dari kecoklatan hingga merah segar
d. Perdarahan bisa berlangsung hingga beberapa hari
e. Biasa didahului oleh mulas-mulas atau sakit pinggang
4.7 DIAGNOSIS
4.7.1 Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik6
a. Abortus iminens:
-

Anamnesis:

Perdarahan pada trimester pertama kehamilan

Biasa berupa bercak-bercak

Bisa atau tidak disertai dengan mulas atau nyeri pinggang

Tidak ada riwayat keluarnya jaringan dari jalan lahir

Pemeriksaan Fisik:

Inspekulo: ditemukan bercak darah di sekitar dinding vagina, portio


tertutup, tidak ditemukan jaringan

20

b. Abortus insipiens:
-

Anamnesis:

Perdarahan pada trimester pertama kehamilan

Biasa berupa darah segar yang mengalir

Disertai dengan mulas atau nyeri pinggang

Tidak ada riwayat keluarnya jaringan dari jalan lahir

Pemeriksaan Fisik:

Inspekulo: ditemukan darah segar di sekitar dinding vagina, portio


terbuka, tidak ditemukan jaringan

c. Abortus inkomplit:
-

Anamnesis:

Perdarahan pada trimester pertama kehamilan

Biasa berupa darah segar yang mengalir

Disertai dengan mulas atau nyeri pinggang

Ada riwayat keluarnya jaringan dari jalan lahir

Pemeriksaan Fisik:

Inspekulo: ditemukan darah segar di sekitar dinding vagina, portio


terbuka, bisa ditemukan jaringan di jalan lahir

d. Abortus komplit:
-

Anamnesis:

Perdarahan pada trimester pertama kehamilan

Darah biasa berupa bercak-bercak

Disertai dengan mulas atau nyeri pinggang

Ada riwayat keluarnya jaringan dari jalan lahir

Pemeriksaan Fisik:

Inspekulo: ditemukan bercak darah di sekitar dinding vagina, portio


tertutup, tidak ditemukan jaringan

e. Abortus tertunda:
-

Anamnesis:

Uterus yang berkembang lebih rendah dibandingkan usia


kehamilannya

Bisa tidak ditemukan perdarahan atau hanya bercak-bercak

Tidak ada riwayat keluarnya jaringan dari jalan lahir

Pemeriksaan Fisik:

Inspekulo: bisa ditemukan bercak darah di sekitar dinding vagina,


portio tertutup, tidak ditemukan jaringan

21

f.

Abortus septik:
-

Anamnesis:

Ditemukan satu atau lebih tanda-tanda abortus di atas

Riwayat sedang menggunakan IUD

Riwayat percobaan aborsi sendiri

Pemeriksaan Fisik:

Demam > 38 C

Inspekulo: ditemukan salah satu tanda abortus seperti di atas

4.7.2 Pemeriksaan Penunjang


-

Serum -hCG
Serum -hCG > 2500 IU per mL disertai dengan USG transvaginal
merefleksikan 90% kehamilan intrauterine
Serum -hCG > 6500 IU per mL disertai dengan USG abdomen
merefleksikan 90% kehamilan intrauterine

USG
Gerakan jantung janin harusnya sudah bisa dilihat sejak masa gestasi 6-7
minggu

4.8 DIAGNOSIS BANDING


Diagnosis
banding

Gejala

Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan penunjang

Abortus
iminens

- perdarahan dari
uterus pada
kehamilan sebelum
20 minggu berupa
flek-flek
- nyeri perut ringan
- keluar jaringan (-)

- tes kehamilan urin

TFU sesuai dengan


umur kehamilan
Dilatasi serviks (-)

masih positif
- USG : gestasional sac
(+), fetal plate (+), fetal
movement (+), fetal
heart movement (+)

Abortus
insipien

- perdarahan banyak
dari uterus pada
kehamilan sebelum
20 minggu
- nyeri perut berat
- keluar jaringan (-)

TFU sesuai dengan


umur kehamilan
Dilatasi serviks (+)

- tes kehamilan urin


masih positif
- USG : gestasional sac
(+), fetal plate (+), fetal
movement (+/-), fetal
heart movement (+/-)

22

Abortus
inkomplit

Abortus
komplit

- perdarahan banyak /
sedang dari uterus
pada kehamilan
sebelum 20 minggu
- nyeri perut ringan
- keluar jaringan
sebagian (+)

- perdarahan (-)
- nyeri perut (-)
- keluar jaringan (+)

TFU kurang dari


umur kehamilan
Dilatasi serviks (+)
teraba jaringan dari
cavum uteri atau
masih menonjol
pada osteum uteri
eksternum

- tes kehamilan urin

TFU kurang dari


umur kehamilan
Dilatasi serviks (-)

- tes kehamilan urin

masih positif
- USG : terdapat sisa
hasil konsepsi (+)

masih positif bila


terjadi 7-10 hari setelah
abortus.
- USG : sisa hasil
konsepsi (-)

Missed
abortion

Mola
hidatidosa

Blighted
ovum

- perdarahan (-)
- nyeri perut (-)
- biasanya tidak
merasakan keluhan
apapun kecuali
merasakan
pertumbuhan
kehamilannya tidak
seperti yang
diharapkan. Bila
kehamilannya > 14
minggu sampai 20
minggu penderita
merasakan rahimnya
semakin mengecil,
tanda-tanda
kehamilan sekunder
pada payudara mulai
menghilang.

TFU kurang dari


umur kehamilan
Dilatasi serviks (-)

- Tanda kehamilan (+) - Terdapat banyak


atau sedikit
gelembung mola
- Perdarahan banyak /
sedikit
- Nyeri perut (+)
ringan
- Mual - muntah (+)

TFU lebih dari umur


kehamilan
Terdapat banyak
atau sedikit
gelembung mola
DJJ (-)

- Perdarahan berupa
flek-flek
- Nyeri perut ringan
- Tanda kehamilan (+)

TFU kurang dari


usia kehamilan
OUE menutup

- tes kehamilan urin


negatif setelah 1
minggu dari terhentinya
pertumbuhan
kehamilan.
- USG : gestasional sac
(+), fetal plate (+), fetal
movement (-), fetal
heart movement (-)

- tes kehamilan urin


masih positif (Kadar
HCG lebih dari
100,000 mIU/mL)
- USG : adanya
pola badai salju
(Snowstorm).
- tes kehamilan urin
positif
- USG : gestasional sac
(+), namun kosong
(tidak terisi janin).

23

KET

- Nyeri abdomen (+)


- Tanda kehamilan (+) - Perdarahan
pervaginam (+/-)
-

Nyeri abdomen (+)


Tanda-tanda syok
(+/-) : hipotensi,
pucat, ekstremitas
dingin.
Tanda-tanda akut
abdomen (+) : perut
tegang bagian
bawah, nyeri tekan
dan nyeri lepas
dinding abdomen.
Rasa nyeri pada
pergerakan servik.
Uterus dapat teraba
agak membesar dan
teraba benjolan
disamping uterus
yang batasnya sukar
ditentukan.
Cavum douglas
menonjol berisi
darah dan nyeri bila
diraba

- Lab darah : Hb rendah,


eritrosit dapat
meningkat, leukosit
dapat meningkat.
- Tes kehamilan positif
- USG : gestasional sac
diluar cavum uteri.

4.9 TATALAKSANA
4.9.1 ABORSI
Secara umum tatalaksana aborsi dibagi 2, yaitu: 12
a. Terapi medikasi
Terapi medikasi menggunakan mifepristone yang disusul dengan
penggunaan misoprostol atau mungkin hanya misoprostol saja. Terapi
medikasi ini digunakan pada aborsi dengan masa gestasi 4-9 minggu dan
lebih dari 14 minggu. Terapi bedah cenderung digunakan pada masa gestasi
9-14 minggu. Regimen lain seperti methotrexate disusul dengan misroprostol
juga sering digunakan.
Indikasi penggunaan terapi medikasi:
-

Pilihan pasien

Masa gestasi yang kecil

Obesitas (BMI > 30) tanpa kelainan kardiovaskular

Fibroma uterus

Malformasi uterus

Riwayat bedah sevik sebelumnya

Kontraindikasi terapi medikasi;


-

Riwayat alergi mifepristone, misoprostol atau obat terapi medikasi lainnya

Mendapat terapi kortikosteroid jangka panjang

24

Gagal ginjal kronik

Kelainan pembekuan darah

IUD yang masih terpasang

Infeksi daerah panggul yang berat

Rekomendasi WHO dan IPPF:


-

Mifeprostone 200mg oral diikuti misprostol 800g 36-48 jam setelahnya


(oral, sublingual, bukal atau intravaginal) dalam satu dosis atau dibagi
menjadi dua dosis 400g yang diberikan selang 2 jam

Rekomendasi FDA Amerika Serikat:


-

Hari pertama: Mifepristone 600mg per oral dalam satu kali minum

Hari kedua: Rh-imunoglobin 50g tidak lebih dari 48 jam sesudah


terjadinya tanda-tanda aborsi pada pasien dengan Rh

Hari ketiga: bila proses aborsi belum selesai dan dikonfirmasi dengan
USG, berikan misoprostol 400g

Hari keempat belas: cek kembali keadaan aborsi pasien dengan USG atau
serum -hCG. Serum -hCG seharusnya berada di bawah 1.000IU/L
setelah 2 minggu pemberian mifepristone. Bila proses aborsi belum
selesai, dilanjutkan dengan aspirasi vakum.

b. Terapi bedah
Indikasi terapi bedah:
-

Pilihan pasien

Sterilisasi

Terdapat kontraindikasi pada pemakaian terapi medikasi

Pasien tidak mampu datang untuk kontrol setelah terapi medikasi:

Pendekatan terapi bedah yang umum dilakukan yaitu:


1. Aspirasi Vakum
Aspirasi vakum adalah prosedur yang aman dan efektif dan menjadi
terapi pilihan sebelum teknik dilatasi dan kuretase. Teknik ini bisa
digunakan hingga masa gestasi 12 minggu dan 99,5% efektif.
Komplikasi teknik ini lebih rendah dibandingkan teknik dilatasi dan
kuretase, dilatasi servik yang dibutuhkan lebih kecil, harga yang lebih
murah, tidak diperlukan anastesi umum.
2. Dilatasi dan Kuretase
Teknik ini lebih berbahaya dan lebih sakit dibandingkan teknik aspirasi
vakum sehingga pemilihan teknik ini umumnya dibatasi bila aspirasi dan

25

terapi medikasi tidak bisa diberikan. Teknik ini bisa digunakan hingga
masa gestasi 12 minggu an 99% efektif.
4.9.2 PASCA-ABORSI
Pasien yang mendapat terapi medikasi sebaiknya diobservasi selama 4-6jam
telebih dahulu. Pada pasien dengan terapi medikasi yang ingin segera pulang,
minum obat di rumah, atau yang proses abortusnya belum selesai sebaiknya
kembali kontrol ke dokter 10-15 hari setelah mendapat terapi untuk
mengkonfirmasi status aborsinya.12
Setelah terapi bedah, pasien idealnya kembali kontrol ke dokter 7-10 hari setelah
mendapat terapi. Pasien sebaiknya diberi informasi bahwa mungkin terdapat
tanda-tanda perdarahan dari bercak hingga sebanyak darah menstruasi untuk
beberapa minggu ke depan. Pasien juga sebaiknya mendapat informasi tentang
gejala-gejala klinis yang memerlukan intervensi medis segera dan sebaiknya
segera kembali ke rumah sakit seperti perdarahan yang banyak, demam lebih dari
satu hari disertai nyeri panggul.
Selain kontrol berkaitan dengan aborsinya, semua pasien sebaiknya mendapat
informasi mengenai kontrasepsi. Secara umum, semua jenis kontrasepsi aman
digunakan pada wanita post abortus. Penelitian menunjukkan bahwa kesuburan
akan kembali normal dalam 2 minggu dan 75% wanita akan mengalami ovulasi
dalam 6 minggu, setiap pasien sebaiknya diberi informasi bahwa ia bisa
melahirkan kembali sebelum menstruasi berikutnya.12
4.10 Komplikasi
Komplikasi yang mungkin timbul adalah :
1. Perdarahan akibat luka pada jalan lahir, atonia uteri, sisa jaringan tertinggal,
diatesa hemoragik dan lain-lain. Perdarahan dapat timbul segera pasca tindakan,
dapat pula timbul lama setelah tindakan.
2. Syok akibat refleks vasovagal atau nerogenik. Komplikasi ini dapat
mengakibatkan kematian yang mendadak. Diagnosis ini ditegakkan bila setelah
seluruh pemeriksaan dilakukan tanpa membawa hasil. Harus diingat
kemungkinan adanya emboli cairan amnion, sehingga pemeriksaan histologik
harus dilakukan dengan teliti.
3. Emboli udara dapat terjadi pada teknik penyemprotan cairan ke dalam uterus.
Hal ini terjadi karena pada waktu penyemprotan, selain cairan juga gelembung
udara masuk ke dalam uterus, sedangkan pada saat yang sama sistem vena di

26

endometrium dalam keadaan terbuka. Udara dalam jumlah kecil biasanya tidak
menyebabkan kematian, sedangkan dalam jumlah 70-100 ml dilaporkan sudah
dapat memastikan dengan segera.
4. Inhibisi vagus, hampir selalu terjadi pada tindakan abortus yang dilakukan tanpa
anestesi pada ibu dalam keadaan stress, gelisah, dan panik. Hal ini dapat terjadi
akibat alat yang digunakan atau suntikan secara mendadak dengan cairan yang
terlalu panas atau terlalu dingin.
5. Keracunan obat/ zat abortivum, termasuk karena anestesia. Antiseptik lokal
seperti KmnO4 pekat, AgNO3, K-Klorat, Jodium dan Sublimat dapat
mengakibatkan cedera yang hebat atau kematian. Demikian pula obat-obatan
seperti kina atau logam berat. Pemeriksaan adanya Met-Hb, pemeriksaan
histologik dan toksikolgik sangat diperlukan untuk menegakkan diagnosis.
6. Infeksi dan sepsis. Komplikasi ini tidak segera timbul pasca tindakan tetapi
memerlukan waktu.
Abortus inkomplit yang tidak ditangani dengan baik dapat
mengakibatkan syok akibat perdarahan hebat dan terjadinya infeksi akibat
retensi sisa hasil konsepsi yang lama didalam uterus6. Sinekia intrauterin
dan infertilitas juga merupakan komplikasi dari abortus.
Berbagai kemungkinan komplikasi tindakan kuretase dapat terjadi,
seperti perforasi uterus, laserasi serviks, perdarahan, evakuasi jaringan sisa yang
tidak lengkap, dan infeksi. Komplikasi ini meningkat pada umur kehamilan
setelah trimester pertama.
Komplikasi yang dapat terjadi akibat tindakan kuretase antara lain :
1. Dapat terjadi refleks vagal yang menimbulkan muntah-muntah,
bradikardi dan cardiac arrest.
2. Perforasi uterus yang dapat disebabkan oleh sonde atau dilatator.
3. Serviks robek yang biasanya disebabkan oleh tenakulum. Bila
pendarahan sedikit dan berhenti, tidak perlu dijahit.
4. Perdarahan yang biasanya disebabkan sisa jaringan konsepsi.
Pengobatannya adalah pembersihan sisa jaringan konsepsi.
5. Infeksi dapat terjadi sebagai salah satu komplikasi. Pengobatannya
berupa pemberian antibiotika yang sensitif terhadap kuman aerobik
maupun anaerobik. Bila ditemukan sisa jaringan konsepsi, dilakukan
pembersihan kavum uteri setelah pemberian antibiotika profilaksis
minimal satu hari.

27

4.11 PROGNOSIS
Resiko dari kematian atau komplikasi medis yang serius lebih banyak
terjadi pada wanita dengan kehamilan cukup bulan dibandingkan aborsi,
kesehatan secara umum lebih baik pada pasien aboertus dibandingkan kelahiran
cukup bulan. Resiko kematian yang berkaitan dengan kehamilan dan kelahiran
berkisar 7-8 per 100.000 kelahiran sedangkan bila dikaitkan dengan abortus,
berkisar kurang dari 1 per 100.000 kelahiran. Beberapa studi tidak menunjukkan
hubungan yang signifikan antara aborsi dengan penurunan kesuburan atau resiko
terjadinya kehamilan ektopik. Sebuah studi di Cina berkaitan dengan pemakaian
mifepristone dan misoprostol menunjukkan tidak adanya hubungan antara
pemakaian obat tersebut dengan peningkatan resiko kehamilan prematur.13

28

DAFTAR PUSTAKA
1. Prawirohardjo Sarwono. Abortus. Ilmu Kebidanan. Edisi IV. Jakarta : FK UI,
2010.
2. Saifuddin AB, Rachimhadhi T, Wiknjosastro GH. Ilmu Kebidanan. Edisi ke-4.
Jakarta : PT Bina Pustaka; 2011.h.550-6.
3. Cunningham FG, Gant FN, Leveno KJ, dkk. Obstetri Williams. Edisi 21. Jakarta:
EGC, 2005.
4. Hadijanto B. Perdarahan pada Kehamilan Muda. Saifuddin AB, Rachimhadhi T,
Wiknjosastro GH (editor), In : Ilmu Kebidanan, Edisi Keempat. Jakarta : PT Bina
Pustaka Sarwono Prawiroharjo, 2010.
5. Hanretty KP. Vaginal Bleeding in Pregnancy. Smith H (editor), In: Obstetrics
Illustrated, 6th Edition. London : Churchill-Livingstone, 2003.
6. Evans, Arthur T. Manual of Obstetric 7th ed. Lippincot Williams and Willkins.
2007
7. Norman F. Gant MD, Kenneth J., Md Leveno, Larry C., Iii, Md Gilstrap, John C.,
Md Hauth, Katharine D., Md Wenstrom, John C. Hauth, J. Whitridge Obstetrics
Williams (Editor), Steven L. Clark, Katharine D. Wenstrom. Williams Obstetrics
23rd Ed: McGraw-Hill Professional
8. POGI. Standar Pelayanan Medik. POGI, 2006.
9. Sharing responsibility : women, society and abortion worldwide. New York, The
Allan Guttmacher Institute,1999.
10. Greenwold N, Jauniaux E. Collection of villous tissue under ultrasound guidance
to improve the cytogenetic study of early pregnancy failure. Hum Reprod 2002;
17: 45256.
11. R. James. Scoot, Md. S. Ronald et al. Danforths Obstetric and Gynecology 9th
Edition. Lippincott Williams & Wilkins. 2003
12. World Health Organization. Safe Abortion: Technical and Policy Guidance for
Health Systems. World Health Organization. 2003
13. Hatcher, Robert A. Trussell, James. Nelson, Anita L. Contraceptice Technology.
Ardent Media. 2008

29