Anda di halaman 1dari 40

Edisi 1/Januari 2016

MAJALAH DWI BAHASA


INDONESIA-INGGRIS

santri

Pribumisasi Islam
Kolom Gus Dur:

Pribumisasi Islam

Temu Muka:

Alissa Wahid

Artikel Utama

Islam Nusantara
di Simpang Jalan

Teras
abik!
Awalnya, ide untuk menerbitkan
majalah bukanlah prioritas utama dalam
kegiatan komunitas ini. Maklum, kerja
komunitas seringkali terhalangi oleh jumlah
tenaga yang mengurusnya. Sebenarnya ide
banyak bermunculan dan bertumpah ruah ketika
kegiatan diskusi berlangsung. Namun selalu saja
ada halangan dari komunitas yang berisikan
manusia-manusia fleksibel ini untuk
mengeksekusi ide tersebut. Hingga pada
akhirnya, kebulatan tekad dalam menyuarakan
gagasan perdamaian dan toleransi mampu
menggerus kemalasan tersebut.
Ditambah lagi belum ada satu majalah pun
yang membahas gagasan seorang tokoh,
khususnya Gus Dur, secara utuh. Namun kalau
pun ada, majalah seperti itu hanya sebatas edisi
khusus yang membahas satu tokoh saja. Di mana
pada edisi berikutnya akan terputus karena
tuntutan untuk membahas tokoh lain yang
berbeda.
Kami berkomitmen untuk terus
menerbitkan majalah yang benar-benar khusus
menyuarakan gagasan Gus Dur sebagai tema
utama. Manusia kosmopolit ini benar-benar
mayapada yang tak ada habisnya untuk dibedah.
Mulai dari gagasan tentang kemanusiaan,
keilmuan, aktivisme, politik, hingga keislaman
yang diperjuangkan Bapak Pluralisme ini selalu
menarik untuk dikaji. Untuk itu, majalah digital
yang terbit perdana ini mengangkat tema besar
dari gagasan Gus Dur yang berasal dari
tulisannya, Pribumisasi Islam.
Di tengah melajunya modernitas ini,
gagasan Pribumisasi Islam menjadi menarik
untuk ditampilkan kembali. Saat ini, masyarakat
modern mulai menampakkan karakter
materialistiknya. Jiwa konsumtif dan praksis
melanda orang-orang yang dikerubungi oleh
kemajuan teknologi. Di tengah kebisingan yang
merajalela itu, manusia-manusia ini merasa sepi
dan kosong. Lantas kebanyakan dari mereka
mencari pelarian. Salah satu pelarian itu ialah
pencarian pencerahan dan penyegaran lewat
agama. Agama dianggap mampu mengisi
kekosongan jiwa manusia yang tidak pernah
puas dan selalu mempertanyakan apa tujuan
hidup.
Dari kecenderungan yang praktis tersebut,
mereka kemudian memaknai agama secara
terbatas. Maka masuklah semangat mengaji
Islam secara tekstual. Tak jarang hal itu
digunakan oleh beberapa pihak untuk
mempenetrasi ide-ide puritan dan radikal.

2
Majalah Santri Gus Dur

Kesempatan tersebut menimbulkan


ketegangan antara Islam dengan budaya
serta adat lokal yang lebih dulu membumi di
negeri ini. Mereka yang menyuarakan ide-ide
puritan mengabaikan kearifan lokal dan
membuat pagar batas besar atas Islam
terhadap budaya.
Gus Dur melihat itu sebagai bencana
yang dapat menggerogoti bangsa dari dalam.
Mental semacam itu tidak baik bagi
kemajuan bangsa Indonesia. Maka Gus Dur
menawarkan kacamata Pribumisasi Islam
untuk melihat bagaimana agama bisa
bergandengan tangan dengan budaya.
Sementara itu, belakangan ini hadir pula
pewacanaan Islam nusantara. Seolah
merespon hegemoni budaya Arab terhadap
Islam. Persaingan budaya dan agama ini pun
berkelindan dalam seteru yang seolah tiada
akhir. Dua isu ini, Pribumisasi Islam dan
Islam Nusantara menjadi sajian utama
dalam majalah perdana ini.
Harapannya majalah ini bisa menjadi
pemancar gagasan Gus Dur dan
menandingkannya dengan gagasan
cendekiawan lain. Tidak hanya sebatas
mengonsumsi gagasan Gus Dur, semangat
untuk mereproduksi gagasannya juga
menjadi semangat kami dalam menerbitkan
majalah ini. Kita tahu bahwa banyak tulisan
Gus Dur bertebaran di berbagai media, dan
posisi majalah ini hanyalah sebagai satu
wadah yang menampung serta menyuarakan
gagasan-gagasan tersebut. Demi
penyebarluasan ide-ide soal kemanusiaan,
perdamaian dan toleransi yang telah
diteladani oleh Gus Dur ke seluruh dunia.
Sekaligus menjadi tempat Komunitas
Gusdurian berdialektika dan mengabadikan
gagasannya ke ruang publik. Meski begitu,
kami tidak menolak sumbangan tulisan dari
siapa saja.
Untuk itu kami hadir dalam dua bahasa:
versi Bahasa Indonesia dan English. Sengaja
tidak berwujud cetak, karena kami meyakini
zaman kian berubah dan era baru telah
dimulai, yakni era digital. Majalah ini juga
gratis, tanpa embel-embel biaya untuk
mengunduhnya. Anggap saja sedekah
intelektual dari kami. Semoga apa yang kami
usahakan ini bermanfaat bagi semesta.
Gus Dur telah meneladankan, saatnya
kita yang melanjutkan.
Akhir kata, selamat membaca![]
-Redaksi

DAFTAR ISI

hal

Kolom Gus Dur

Artikel Utama

Pribumisasi Islam

Islam Nusantara
di Simpang Jalan

Agama (Islam) dan budaya mempunyai


independensi masing-masing, tetapi
keduanya mempunyai wilayah tumpang
tindih.....

Kedatangan Islam di Nusantara


memulai babak baru dalam
sejarah peradaban Asia Tenggara.
Islam memengaruhi bentuk
peradaban mapan di Nusantara
yang semulanya bercorak HinduBudha. Selengkapnya hal....14

Artikel Utama

Pribumisasi Islam
vis a vis Arabisasi
Majelis Redaksi Majalah
Santri Gus Dur
Pemimpin Redaksi: Agung
Hidayat Aziz
Tim Redaksi: Muhammad
Autad An Nasher,
Mohammad Pandu,
Laelatul Badriyah, Ahmad
Sarjoko
Design & Layouter:
Joko Jejak,
Muhammad Aziz
Dharmawan
Artistik:
Latif Amin
Tim Alih Bahasa:
Rifqi Fairuz,
Mujiburohman,
Mukhammad Faisol Amir,
Nurul Huda, Dahlia Arikha
S, Laela Badra, Rifqiya
Hidayatul Mufidah, Andi
Triswoyo.

hal...19

Artikel Lepas

Inspirasi dari
Gus Dur hal...24

Kita
Butuh
Islam
Ramah
Bukan
Islam
Marah

Tamu Muka:

hal

29

Alissa Wahid
Gusdurian ada
karena ada Gus Dur
Review Buku:

Dongeng tentang
32 Legenda Gus Dur

Gus Dur

hal

Ngopi yuk, Gus! :

Tidak Boleh Ada


Pemaksaan dalam
Penafsiran
Sastra:

Puisi

Majalah ini diterbitkan


oleh Komunitas Santri Gus
Dur-GUSDURian Jogja.
3
Majalah Santri Gus Dur

hal

37

34

Kolom Gus Dur

Pribumisasi Islam
Oleh: KH. Abdurrahman Wahid
gama (Islam) dan
budaya mempunyai
independensi masingmasing, tetapi
keduanya mempunyai wilayah
tumpang tindih. Bisa
dibandingkan dengan
independensi antara filsafat
dan ilmu pengetahuan. Orang
tidak bisa berfilsafat tanpa
ilmu pengetahuan, tetapi tidak
bisa dikatakan bahwa ilmu
pengetahuan adalah filsafat. Di
antara keduanya terjadi
tumpang tindih dan sekaligus
perbedaan-perbedaan.
Agama (Islam)
bersumberkan wahyu dan
memiliki norma-normanya
sendiri. Karena bersifat
normatif, maka ia cenderung
menjadi permanen. Sedangkan
budaya adalah buatan manusia,
karenanya ia berkembang
sesuai dengan perkembangan
zaman dan cenderung untuk
selalu berubah. Perbedaan ini
tidak menghalangi
kemungkinan manifestasi
kehidupan beragama dalam
bentuk budaya. Maka
muncullah tari 'seudati', cara
hidup santri, budaya
menghormati kyai dan
sebagainya, dengan wawasan
budaya dari agama secara
langsung diterima dan
dilaksanakan oleh masyarakat
tanpa mempersoalkan dalilnya.
Umat Islam abangan yang
menjauhi 'ma lima' (mabuk,
berjudi, mencuri, berbuat
amoral, mengisap ganja) belum
tentu dengan alasan

keagamaan tetapi sangat boleh


jadi karena alasan-alasan
budaya, misalnya ketaatan
kepada kyai atau orang tua.
Tumpang tindih antara
agama dan budaya akan terjadi
terus-menerus sebagai suatu
proses yang akan memperkaya
kehidupan dan membuatnya
tidak gersang. Kekayaan variasi
budaya akan memungkinkan
adanya persambungan antara
berbagai kelompok atas dasar
persamaan-persamaan, baik
persamaan agama maupun
budaya. Upaya rekonsiliasi
antara budaya dan agama
bukan karena kekhawatiran
terjadinya ketegangan antara
keduanya, sebab kalau manusia
dibiarkan pada fitrah
rasionalnya, ketegangan seperti
itu akan reda dengan
sendirinya.
Sebagai contoh adalah redanya
semangat ulama dalam
mempersoalkan rambut
gondrong. Jika sebuah stadion
sebaiknya mempunyai
mushalla, meskipun kecil,
bukan berarti untuk mencegah
tabrakan antara shalat dengan
sepak bola, akan tetapi karena
pada kenyataannya
pertandingan sepak bola
hampir selalu diadakan ketika
waktu shalat Asar masuk. Jadi
akomodasi ini bukan dilakukan
karena terpaksa akan tetapi
adalah sesuatu yang timbul
secara alami, menandai
terjadinya proses
pribumisasi.
Masjid Demak adalah

4
Majalah Santri Gus Dur

sebuah contoh yang konkret


dari upaya rekonsiliasi atau
akomodasi itu. Ranggon atau
atap yang berlapis pada masjid
tersebut diambilkan dari
konsep 'Meru' dari masa praIslam (Hindu-Budha) yang
terdiri dari sembilan susun.
Sunan Kalijaga memotongnya
menjadi tiga susun saja,
melambangkan tiga tahap
keberagamaan seorang muslim,
iman, islam dan ihsan. Pada
mulanya orang baru beriman
saja, kemudian ia
melaksanakan islam
ketika telah menyadari
pentingnya syari'at.
Barulah ia mamasuki
tingkat yang lebih
tinggi lagi (ihsan)
dengan
mendalami
tasawuf, hakekat
dan ma'rifat.
Pada

Kolom Gus Dur


tingkat ini mulai disadari
bahwa keyakinan tauhid dan
ketaatan kepada syari'at mesti
berwujud kecintaan kepada
sesama manusia. Mengasihi diri
sendiri dengan melepaskan
kecintaan kepada materi dan
menggantinya dengan
kecintaan kepada Allah adalah
bentuk rasa kasih yang
tertinggi. Pada tahap
berikutnya, datanglah bentuk
masjid ala Timur Tengah,
dengan bentuk kubah dan
segala ornamennya. Terjadilah
kemudian proses arabisasi,
meskipun pada mulanya bentuk
masjid baru ini ditolak oleh
Masjid Ngampel dan Pakojan.
Bentuk kubah lambat laun
menjadi sesuatu yang normatif
dan harus. Sedangkan semangat
pribumisasi menganggap kedua
model ini sama saja.
Bahaya dari proses Arabisasi
atau proses mengidentifikasikan diri dengan budaya Timur
Tengah adalah tercabutnya kita
dari akar budaya kita sendiri.
Lebih dari itu, arabisasi belum
tentu cocok dengan kebutuhan.
Pribumisasi bukan upaya
menghindarkan timbulnya
perlawanan dari kekuatankekuatan budaya setempat,
akan tetapi justru agar budaya
ini tidak hilang. Inti pribumisasi
Islam adalah kebutuhan, bukan
untuk menghindari polarisasi
antara agama dengan budaya,
sebab polarisasi demikian
memang tak terhindarkan.
Sebagai titik tolak dari
upaya rekonsiliasi ini adalah
meminta agar wahyu difahami
dengan mempertimbangkan
faktor-faktor kontekstual,
termasuk kesadaran hukum dan
rasa keadilannya. Dalam proses
ini pembauran Islam dengan
budaya tidak boleh terjadi,
sebab berbaur berarti
hilangnya sifat-sifat asli. Islam
harus tetap pada sifat

Islamnya. Al-Qur'an adalah


harus tetap dalam bahasa Arab,
terutama dalam shalat, sebab
hal ini telah merupakan norma.
Sedang terjemahan al-Qur'an
hanyalah dimaksudkan untuk
mempermudah pemahaman,
bukan menggantikan al-Qur'an
sendiri.
Pribumisasi Islam bukanlah
'jawanisasi' atau sinkretisme,
sebab pribumisasi Islam hanya
mempertimbangkan kebutuhankebutuhan lokal di dalam
merumuskan hukum-hukum
agama, tanpa menambah
hukum itu sendiri. Juga
bukannya upaya meninggalkan
norma demi budaya, tetapi
agar norma-norma itu
menampung kebutuhankebutuhan dari budaya dengan
mempergunakan peluang yang
disediakan oleh variasi
pemahaman nash, dengan
tetap memberikan peranan
kepada Ushul Fiqh dan Qaidah
Fiqh. Sedangkan sinkretisme
adalah usaha memadukan
teologia atau sistem
kepercayaan lama tentang
sekian banyakhal yang diyakini
sebagai kekuatan gaib berikut
dimensi eskatologisnya dengan
Islam, yang lalu membuat
bentuk panteisme. Sinkretisme
hal ini bisa dicontohkan dengan
kuil 1000 dewa di India, Iran
dan Timur Tengah zaman
dahulu. Setiap penjajah yang
masuk menambahkan tuhan
yang baru untuk disembah
bersama-sama dengan tuhantuhan yang lama. Pada suatu
tahap akhirnya manusia pun
dipertuhan dan bahkan pula
malaikat (seperti pada agama
Kong Hu cu). Malaikat bisa
didekati agar melakukan
intervensi terhadap kekuasaan
tuhan, sehingga ia pun lebih
berkuasa dari tuhan sendiri.
Pribumisasi Islam adalah
bagian dari sejarah Islam, baik

5
Majalah Santri Gus Dur

di negeri asalnya maupun di


negeri lain, termasuk
Indonesia. Kedua sejarah ini
membentuk sebuah sungai
besar yang terus mengalir dan
kemudian dimasuki lagi oleh
kali cabangan sehingga sungai
ini semakin membesar.
Bergabungnya kali baru, berarti
masuknya air baru yang
menambah warna air yang
telah ada. Bahkan pada tahap
berikutnya, aliran sungai ini
mungkin terkena 'limbah
industri' yang sangat kotor. Tapi
toh, tetap merupakan sungai
yang sama dan air yang lama.
Maksud dari perumpamaan ini
adalah bahwa proses
pergulatan dengan kenyataan
sejarah tidaklah merubah
Islam, melainkan hanya
merubah manifestasi dari
kehidupan agama Islam.
Sebagai contoh, pada
mulanya ditetapkan haramnya
berjabatan tangan antara lakilaki dan perempuan yang
ajnabi. Ketentuan ini
merupakan bagian dari
keseluruhan perilaku atau
akhlak orang Islam. Ketika
ketentuan ini masuk ke
Indonesia, masyarakatnya telah
memiliki berbagai kebudayaan.
Misalnya, adat Sunda
mempunyai jabatan tangan
'ujung jari'. Setelah berjalan
sekian abad, masuk pula
budaya Barat dengan jabatan
tangannya yang tegas dan tak
pilih-pilih. Hasilnya di
masyarakat Islam saat ini
adalah sebagian mereka,
termasuk para birokrat dalam
bidang agama dan para
pemimpin organisasi,
melakukan jabatan tangan
dengan lawan jenis, sedang
para Kyai yang hidup dengan
fiqh secara tuntas tetap
bertahan untuk tidak
melakukannya.
Lalu apakah dengan

Kolom Gus Dur


demikian bisa disimpulkan
bahwa Islam telah mengalami
erosi di Indonesia? Jawabnya
adalah 'tidak', sebab Islam
sebagai sebuah totalitas tetap
berjalan seperti sedia kala.
Karena para pemeluknya tetap
melakukan shalat, pergi ke
masjid, membayar zakat, pergi
ke madrasah dan sebagainya.
Dengan kata lain, secara
kultural kita melihat adanya
perubahan pada partikelpartikel dan tidak pada aliran
besarnya. Umat Islam tetap
melihat berpacaran bebas
model Barat sebagai tidak
Islami dan berusaha agar anakanak mereka tidak
melakukannya.
Fiqh dan Adat
Di dalam Ilmu Ushul Fiqh
dikenal kaidah al 'adah
muhakkamah (adat istiadat
bisa menjadi hukum). Di
Indonesia telah lama terjadi
bahwa pembagian waris antara
suami-istri mendapatkan
masukan berupa dua model
yang berasal dari adat, yaitu
adat perpantangan di
Banjarmasin dan gono gini di
Yogyakarta-Solo yang pada
perkembangannya juga
menyebar di Jawa Timur.
Keduanya adalah respon
masyarakat adat yang berada
di luar lingkup pengaruh kyai
terhadap ketentuan nash
dengan pemahaman lama yang
merupakan pegangan para kyai
itu. Harta rumah tangga
dianggap sebagai perolehan
suami-istri secara bersamasama, yang karenanya mesti
dipisahkan dulu sebelum
diwariskan, ketika salah satu
suami/istri meninggal.
Separoh dari harta itulah
yang dibagi kepada para ahli
waris menurut hukum waris
Islam, sedang separoh lainnya
adalah milik dari suami/istri
yang masih hidup. Teknik

demikian adalah perubahan


mendasar terhadap hukum
waris, dan bentuk-bentuk
penyesuaian seperti ini
berjalan sementara para ulama
merestuinya, walaupun
(seraya) tidak menganggapnya
sebagai cara pemecahan
utama. Sebab pemecahan
utama justru adalah yang
seperti ditentukan oleh syara'
secara apa adanya. Letak
kemajuannya adalah bahwa
penyesuaian-penyesuaian
seperti ini bukan hanya tidak
diharamkan tetapi bahkan
dianggap sebagai adnal qaulaini
(pendapat dengan mutu nomor
dua) dan tidak dipersoalkan
sebagai sesuatu yang
mengganggu prinsip.

Akan tetapi harus


disadari bahwa
penyesuaian ajaran
Islam dengan
kenyataan hidup
hanya diperkenankan
sepanjang
menyangkut sisi
budaya.
Dalam kaitannya dengan
pernikahan misalnya,
sebenarnya rukun bagi sahnya
hubungan suami istri sangat
sedikit, yaitu ijab, qabul, saksi
dan wali. Sedang selebihnya
diserahkan kepada adat,
misalnya tentang pelaksanaan
upacara peresmiannya. Di sini
adat berperan sebagai
penghubung pola-pola perilaku
baru dengan tetap berpijak
kepada aturah normatif dari
agama. Pola hubungan agama
dan adat seperti ini sehat
sekali. Bahwa pakaian

6
Majalah Santri Gus Dur

pengantin Jawa menampakkan


bagian bahu mempelai wanita,
orang Islam tidak memandang
hal itu sama rusaknya dengan
zina, durhaka kepada orang tua
dan kejahatan-kejahatan berat
lainnya. Kekurangan seperti itu
umumnya bisa dimaklumi
sebagai bagian dari adat,
selama syarat-syarat
keagamaan dari nikah dan
pengaturan hubungan
selanjutnya, seperti soal
nafkah dan kewajibankewajiban rumah tangga; masih
datur secara Islam Sedangkan
manifestasi kulturalnya
diserahkan kepada adat. Hal ini
sudah berjalan beberapa abad
dan memang selalu ada
perubahan-perubahan tanpa
banyak menimbulkan reaksi
karena berjalan secara sendirisendiri. Pola hubungan ini
ditampung dalam al 'adah
muhakkamah, sehingga adat
istiadat bisa disantuni tanpa
mengurangi sahnya
perkawinan.
Akan tetapi harus disadari
bahwa penyesuaian ajaran
Islam dengan kenyataan hidup
hanya diperkenankan
sepanjang menyangkut sisi
budaya. Dalam soal wali nikah,
ayah angkat tetap bukan wali
nikah untuk anak angkatnya.
Ketentuan ini adalah norma
agama, bukan kebiasaan. Ini
jelas berbeda dengan cara
penempatan siswa di sekolahsekolah Timur Tengah. Di sana,
siswa laki-laki dan perempuan
tingkat SD, SMP dan SMA
ditempatkan di ruangan
terpisah dan baru boleh
disatukan di tingkat perguruan
tinggi. Keputusan ini
didasarkan atas anggapan
bahwa para remaja umumnya
kurang memiliki pertimbangan
dan sangat dipengaruhi nafsu.
Kelemahan-kelemahan
ini telah bisa diatasi oleh

mereka yang telah mengalami


kedewasaan dan kematangan,
yaitu pada usia memasuki
perguruan tinggi.
Cara ini bukanlah ketentuan
agama, tapi logika agama,
yaitu campuran hukum agama
dan logika. Dari sini bisa
muncul adat istiadat, dan adat
pengaturan penempatan siswa
seperti itu memang lalu
mengeras di Timur Tengah.
Sebaliknya di Indohesia, ulama
melihat dari sudut Iain, yaitu
bahwa tidak ada tempat yang
lebih aman daripada sekolah,
meskipun belum sama sekali
memadai. Sehingga para ulama
memperbolehkan dimasukinya
sekolah, meskipun siswa dan
siswi duduk dalam satu kelas
(ko edukasi).
Mengembangkan Aplikasi Nash
Karena adanya prinsipprinsip yang keras dari Hukum
Islam, maka adat tidak bisa
merubah nash itu sendiri
melainkan hanya merubah atau
mengembangkan aplikasinya
saja, dan memang aplikasi itu
akan berubah dengan
sendirinya. Misalnya, Nabi tidak
pernah menetapkan beras
sebagai benda zakat,
melainkan gandum. Lalu ulama
yang mendefinisikan gandum
sebagai qutul balad, makanan
pokok. Dan karena definisi
itulah, gandum berubah
menjadi beras untuk Indonesia.
Kasus lain yang kontemporer
dari pengembangan aplikasi
nash ini adalah pemahaman
ayaf al-Qur'an tentang
bolehnya menikah dengan
maksimal empat wanita dan
kalau tidak bisa menegakkan
keadilan, wajib hanya menikah
dengan seorang wanita saja
(Q.S. 4:3). Pada mulanya
keadilan ini diukur dengan
keseimbangan jatah giliran
menginap dan nafkah. yang

Gus Dur semasa muda bersama Sayyid Muhammad bin


Alawy Al-Malikiy (sebelah kiri Gus Dur) dan KH. Said
Aqil Siradj (dua dari kanan Gus Dur) di Makkah, Arab
Saudi.

berarti hak menambah jumlah


istri adalah mutlak di tangan
suami. Akan tetapi sekarang
sudah terasa perlunya
mempertanyakan "mengapa
begitu simplistiknya konsep
keadilan itu, bagaikan Islam
menghargai wanita hanya
dengan ukuran-ukuran biologis.
Semakin terdengar kebutuhan
untuk mengembangkan
pemahaman terhadap nash itu
menjadi keadilan yang
dirasakan oleh obyek dari
tindakan poligini (permaduan)
itu, di mana laki-laki dan
wanita sama-sama didudukkan
sebagai subyek hukum. Sebab
pelaksanaan poligini saat ini
selalu dirasakan oleh kaum
wanita sebagai tidak adil,
kecuali dalam keadaan yang
ekstrim dan langka.
Dengan demikian, jika
tadinya wanita hanya menjadi
obyek pasif yang tidak ikut
menentukan, sehingga secara
umum dihukumi menerima
permaduan, maka dengan
tampilnya wanita sebagai
subyek, secara umum mereka
dihukun menolak. Dengan
rumusan singkat, pemahaman
nash itu menjadi "kawini'
seorang wanita saja, dan

7
Majalah Santri Gus Dur

perkawinan kedua dan


seterusnya hanya bisa
dilaksanakan jika ada
keperluan yang bisa disetujui
oleh istri". Dan inilah yang
telah dirumuskan di dalam
Undang-undang Perkawinan
Indonesia No. 1 tahun 1974.
Tampaklah dalam kasus ini,
perubahan pemahaman
menjadi sesuatu yang tak
terelakkan, dengan melihat
bahwa para ulama menerima
penyantuman pemahaman
seperti itu di dalam Undangundang.
Masalahnya sekarang adalah
bagaimana mempercepat
pengembangan pemahaman
nash seperti itu dan agar
berjalan lebih sistematik lagi,
dengan cakupan yang lebih luas
dan argumentasi yang lebih
matang. Kalau keinginan ini
terlaksana, maka inilah yang
dimaksudkan dengan
pribumisasi Islam, yaitu
pemahaman terhadap nash
dikaitkan dengan masalahmasalah di negeri kita.
Sebuah kasus di Mesir pada
tahun 1930-an, ketika Dewan
Ulama Tertinggi al- Azhar
memutuskan bahwa guna
menghilangkan selisih yang

pustakamuhibbin.blogspot.com

Kolom Gus Dur

Kolom Gus Dur


banyak antara bagian ahli waris
wanita dan pria akibat adanya
ketentuan bagian laki-laki
adalah dua kali lipat bagian
wanita, maka digunakan apa
yang dinamakan washiyah
wajibah. Konsep washiyah
wajibah (wasiat wajib) ini
menganggap seakan-akan
almarhum telah berwasiat.
Jumlah maksimal wasiat
yang diperkenankan (sepertiga
dari harta peninggalan) diambil
terlebih dahulu untuk dibagikan
secara merata kepada ahli
waris. Barulah sisanya, dua
pertiga, dibagi menurut
ketentuan nash, yaitu dua
berbanding satu untuk laki-laki.
Kenyataan bahwa modifikasimodifikasi seperti itu ditolerir
oleh para ulama dan sampai
saat ini tetap berlaku
menunjukkan vitalitas Islam,
artinya adanya kelenturan yang
tidak sampai meninggalkan
pegangan dasar. Cara aplikasi
semacam ini bisa banyak
dilakukan dalam fiqh.
Sebagai contoh di dalam
sebuah musyawarah ulama
terbatas muncul soal sterilisasi.
Pertanyaan mendasar pun
muncul tentang pemilik hak
menciptakan anak, Tuhankah
atau manusia Jawaban yang
diberikan adalah bahwa hak
menciptakan anak dan
meniupkan ruh dalam rahim
adalah milik Tuhan, sebagai
tanda kekuasaan-Nya. Karena
itu semua bentuk intervensi
terhadap hak ini, yaitu dalam
bentuk menghilangkan
kemampuan seorang ibu untuk
melahirkan, berarti melanggar
wewenang Tuhan. Dengan
demikian mafhum mukhalafah
(implikasi kebalikannya) adalah
diperbolehkanya pembatasan
kelahiran dengan cara
membuat sterilisasi yang tidak
permanen. Dengan demikian
pula, melaksanakan vasektomi

yang oleh dokter dijamin akan


bisa dipulihkan kembali, tanpa
mempersoalkan prosentase
jaminan itu, hukumnya
diperbolehkan. Misalnya
dengan pemakaian Cincin Jung
yang bisa dilepas kembali.
Kepada seoarang ulama sepuh
diterangkan bahwa menurut
kalangan medis, kemungkinan
kepulihan itu baru sekiatar 30
persen. Ulama itu menjawab
bahwa asal pada prinsipnya
bisa pulih, maka besar kecilnya
kemungkinan itu tidak menjadi
soal, terserah kepada kehendak
Allah.
Sebuah hadis Nabi
memerintahkan umat beliau
agar memperbanyak
pernikahan dan kelahiran,
karena di hari kiamat beliau
akan membanggakan mereka di
hadapan Nabi-nabi yang lain.
Pada mulanya, kata banyak
dipahami sebagai jumlah,
karena itu memang zaman
penuh kesulitan dalam
memelihara anak. Dengan
tingginya angka kematian anak,
maka ada kekhawatiran bahwa
jumlah umat Islam akan
dikalahkan oleh jumlah umat
yang lain. Akan tetapi alasan
demikian pada saat ini tidak
bisa dipertahankan lagi, ketika
penonjolan kuantitas sudah
tidak dibutuhkan. Jumlah anak
yang terlalu banyak justru akan
menimbulkan bahaya, ketika
kemampuan masyarakat untuk
menampung mereka ternyata
tidak memadahi. Maka
terjadilah perubahan, ukuranukuran itu dititik beratkan
pada kualitas. Perubahan
pemahaman seperti ini
membawa kepada rumusan
pemahaman nash yang baru,
"Kawinlah akan tetapi jangan
terlalu banyak anak dan aturlah
jumlah keluarga anda".
Konsekuensi lebih jauh dari
perubahan pemahaman ini

8
Majalah Santri Gus Dur

dapat menyangkut soal usia


perkawinan. Perintah
memperbanyak anak tentulah
bermakna pula perintah untuk
segera menikah. Apalagi
ternyata ada hadis yang
memerintahkan para pemuda
untuk segera melangsungkan
perkawinan agar tidak
terjerumus ke dalam perbuatan
amoral. Akan tetapi tinjauan
lalu dikembalikan kepada
konteks semula, bahwa hadis
itu disabdakan pada waktu
tingkat kematian bayi sangat
tinggi dan angka harapan hidup
sangat rendah. Dengan kawin
muda, maka kesempatan untuk
membesarkan anak lebih lama.
Jadi hadis ini sesuai dengan
tanggung jawab berkeluarga
pada waktu itu. Situasi telah
berubah.
Pada saat ini pemuda yang
berusia 15 tahun tentu belum
mampu memenuhi kebutuhan
bagi sebuah perkawinan dan
konsekuensi hukumnya. Situasi
lapangan pekerjaan sudah tidak
sesederhana dulu, karena saat
ini untuk memasuki pasaran
kerja memerlukan persyaratan
yang kompleks. Dengan
demikian, tuntutan kualitas
sebagai hasil dari perubahan
pemahaman nash menghendaki
pula perubahan batas terendah
usia perkawinan. Maka Undang-

Jumlah anak yang


terlalu banyak justru
akan menimbulkan
bahaya, ketika
kemampuan
masyarakat untuk
menampung mereka
ternyata tidak
memadahi.

Kolom Gus Dur


undang Perkawinan pun
menetapkan umur 18 tahun
untuk laki-laki dan 16 tahuh
untuk wanita, sambil tidak
menutup kemungkinan bahwa
batas usia terendah ini bisa
dinaikkan, menurut keperluan.
Batas ini ternyata tidak
ditentang ulama.
Sejumlah kaidah fiqh pun
ikut terlibat. Dalam kasus
tersebut jelas telah
dipergunakan kaidah darul
mafasid muqaddam 'ala jalbilmashalih (menutup
kemungkinan bahaya harus
didahulukan sebelum upaya
memperoleh kemaslahatan).
Memang lebih baik seorang
pemuda segera menikah
daripada terjerumus kepada
perbuatan a-moral. Perkawinan
akan membuat dirinya sadar
tentang arti hidup. Akan tetapi
perkawinan pada usia ini juga
mengandung bahaya yang
besar, karena penanggung
jawab anak hasil perkawinan
akan tidak jelas, di saat lingkup
tanggung jawab keluarga
modern akan semakin kecil.
Misalnya tak ada lagi kepala
suku atau kepala klan yang
mengurusi soal-soal bersama.
Bahaya inilah yang harus
dicegah terlebih dahulu
sebelum upaya menuju
kebaikan, yaitu maslahat
berkeluarga.
Lebih jauh lagi adalah dalil
al-hajah tanzilu manzilah aldlarurah (ke-butuhan setara
dengan keadaan darurat),
sedangkan dalil lain berbunyi
adl-dlarurah tubihulmahdhurah (keadaan darurat
memungkinkan dihalalkannya
dilarang). Dengan demikian,
gabungan dari dua dalil ini akan
membentuk kesimpulan bahwa
hajah (keadaan membutuhkan)
bisa menghalalkan yang haram;
karena faktor kebutuhan setara
dengan keadaan darurat.

Musyawarah ulama terbatas


tadi menyimpulkan adanya
kebutuhan meningkatkan batas
usia terendah bagi perkawinan,
mencegah kelahiran dini dan
secara makro mengatur
keseimbangan antara penduduk
dengan sumberdaya alam. Yang
dibutuhkan bukanlah asal
kelangsungan hidup masyarakat
terjamin tapi dengan
mengorbankan banyak hal,
termasuk soal pendidikan,
ketika misalnya semua biaya
dicurahkan untuk penyediaan
lapangan kerja.
Dengan kata lain, ledakan
penduduk menimbulkan hajah.
Kalau demikian timbulah
pertanyaan tentang wewenang
merumuskan hajah tersebut
ketika menyangkut soal-soal
makro. Ternyata musyawarah
terbatas tersebut memutuskan
bahwa kebolehan sterilisasi
yang bisa dipulihkan kembali
bisa diputuskan oleh tim yang
terdiri dari para ahli dari
berbagai bidang: ahli
demografi, ekonomi, fiqh,
psikologi dan dokter medis.
Rumusan ini jelaslah
merupakan perubahan besar
dalam konsep-konsep dasar
fiqh. Hal-hal seperti ini harus
disadari sebagai proses budaya
menuju pengembangan
implikasi atau konotasi hukum
dan nash untuk membentuk
hukum baru, suatu kebutuhan
untuk menghadapi
kemungkinan munculnya
pertimbangan-pertimbangan
terbaru yang tampak
menggugat pemahaman lama.
Dalam soal bank misalnya,
tidak kurang dari seorang alim
semacam Dr Yusuf Al Qardlawi
menempatkan bahwa larangan
terhadap riba disebabkan oleh
berlebihannya pengembalian
hutang (adl'afan mudla'afah)
dalam jumlah yang merugikan
peminjam. Kerugian ini sampai

9
Majalah Santri Gus Dur

menutup kemungkinan
produktivitas akibat beban
bunga hutang, sebagaimana
praktek rentenir. Adapun bunga
bank (interest) yang
dimaksudkan sebagai biaya
administrasi dan sekedar untuk
pengembalian modal kepada
penanam uang bisa ditolerir
selama tidak mengganggu
produksi. Dengan kata lain,
keuntungan yang diperkirakan
dari pengusahaan uang
pinjaman itu lebih besar
daripada tingkat suku bunga
yang harus dibayarkan,
sehingga tidak ada unsur
eksploitasi.
Pendekatan Sosio-Kultural
Ada sebuah soal yang sangat
penting setelah pembicaraan
seputar soal pemahaman nash
di atas, yaitu pendekatan sosiokultural. Sosial-budaya adalah
perkembangan budaya dalam
konteks kemasyarakatan. Saat
ini masyarakat Indonesia
sedang mengalami transisi dari
masyarakat feodal/agraris
menuju masyarakat modern.
Perkembangan yang terjadi
ternyata bersifat dualistik; di
satu pihak telah tercapai
modernitas, termasuk upaya
menciptakan infra-struktur
ekonomi, dan perilaku di segaia
bidang telah lebih rasional,
sampai terkadang dengan
mengorbankan norma-norma
agama, tetapi di pihak lain
perilaku feodal masih
dipergunakan sebagai alat
untuk mencari akar ke masa
lampau. Dalam situasi
perkembangan dualistik
menuju modernitas (keadaan
sarwa-modern) ini, maka
hukum Islam akan berfungsi
dengan baik apabila ia
dikaitkan dengan perubahan
pada struktur masyarakat itu
sendiri.
Dengan demikian, sasaran

Kolom Gus Dur


perubahan itu bukanlah pada
sistem pemerintahan atau
sistem politik, akan tetapi pada
sub-sub sistemnya. Misalnya,
tanpa mempersoalkan 'sistem'
ekonomi Indonesia yang tak
jelas bentuknya ini, diambillah
langkah-langkah untuk mencari
model-model ideal dari
pengorganisasian koperasi,
suatu bentuk usaha yang ide
dasarnya dipercayai bisa
menjembatani antara sistem

Di antara contoh konkret


yang bisa disebut adalah apa
yang terjadi dalam tubuh
Nahdlatul Ulama (NU). NU yang
ada sekarang adalah NU tahun
1926 dengan perangkatnya:
Tanfidziyah dan Syuriyah,
bahkan lebih keras lagi dengan
adanya sistem Mustasyar Akan
tetapi sekaligus NU sekarang
bukanlah NU yang dulu. Karena
di dalam tubuhnya telah
berkembang pemikiran-

Kecenderungan formalisasi ajaran Islam


dalam kehidupan masyarakat dan
Islamisasi dalam bentuk manifestasi
simbolik ini jelas tidak menguntungkan
karena hanya akan menimbulkan
kekeringan substitusi.
kapitalis dan sistem sosialis.
Misalnya dengan mencobakan
bentuk-bentuk usaha bersama
yang pada masa lalu
sebenarnya-banyak dilakukan.
Sementara itu, perubahan
politik memang suatu
keharusan, tetapi untuk
keperluan itu sistem kepartaian
yang adatermasuk hadirnya
fraksi ABRImasih tetap bisa
dipergunakan. Persoalannya
kemudian bagaimana sub-sub
sistem yang ada bisa menjadi
demokratis, mandiri dan
sebagainya. Misalnya
mengusahakan kemandirian
Golkar mesti dimulai dengan
menyadari kenyataan bahwa
ketidak mandirian itu terletak
pada dominasi orang-orang
birokrasi pemerintahan di
dalamnya. Di sini pendekatan
sosio-kultural mengambil
peranan penting dalam
merubah perilaku tanpa
merubah bentuk-bentuk
lahiriah Iembaga pemerintahan
itu sendiri.

pemikiran makro, cakrawala


pandang yang lebih luas,
pemikiran yang jauh ke depan
dan cara kerja yang lebih
administrates. Perubahanperubahan dalam kultur ini
masih dalam konteks
kelembagaannya semula.
Karena terjadi perubahan
pada segi budaya, maka
berubah pulalah konteks
masyarakatnya. Dengan
demikian, untuk konteks
Indonesia secara umum,
tantangan umat Islam
sebenarnya adalah bagaimana
mengisi Pancasila. Negara
Kesatuan RI dan sistem
politiknya dengan wawasan
Islam yang secara kultural bisa
merubah wawasan hidup orang
banyak dengan memperhatikan
konteks kelembagaan
masyarakat tadi.
Pendekatan sosio-kultural
terkadang disalah pahami
sebagai hanya bersudut
pandang budaya atau politik
saja, suatu pandangan yang

10
Majalah Santri Gus Dur

menyesatkan. Pendekatan
politik selalu mempersoalkan
segi kelembagaan, Sedangkan
pendekatan kultural berbicara
tentang perilaku masyarakat
dan usaha pencerahan.
Kemudian persoalannya
mengaitkan lembaga dengan
perilaku masyarakat adalah
persoalan mempengaruhi
perilaku lembaga. Di sinilah
letak peranan dari pendekatan
sosio-kultural. Sementara itu
kalangan yang tampak
menggebu-gebu dengan
pendekatan struktural sering
terjerumus dalam pembicaraan
tentang perilaku budaya suatu
lembaga, bukan bagaimana
merombaknya. Apalagi
perincian yang dikemukakan
dalam rangka pendekatan
struktural itu ternyata adalah
cara-cara sosial budaya. Dus,
sebenarnya telah terjadi
kerancuan semantik.
Pendekatan sosio-kultural
menyangkut kemampuan orang
Islam untuk memahami
masalah-masalah dasar yang
dihadapi bangsa, dan bukan
berusaha memaksakan
agendanya sendiri. Kalau yang
terakhir ini terjadi, maka yang
berlangsung sebenarnya
hanyalah proses pelarian
(eskapisme). Umat Islam
menuntut syarat-syarat yang
terlalu idealistik untuk menjadi
muslim yang baik. Lalu tidak
diakuilah kemusliman orang
yang tidak mampu memenuhi
syarat-syarat itu, seperti orangorang yang baru bisa
melaksanakan ibadah haji dan
zakat sementara belum mampu
melaksanakan shalat dan puasa
dengan baik. Kecenderungan
formalisasi ajaran Islam dalam
kehidupan masyarakat dan
Islamisasi dalam bentuk
manifestasi simbolik ini jelas
tidak menguntungkan karena
hanya akan menimbulkan

Kolom Gus Dur


kekeringan substitusi. Karena
itu patut diusulkan agar
terlebih dahulu Islam
menekankan pembicaraan
tentaing keadilan, demokrasi
dan persamaan. Dengan
demikian, peran umat Islam
dalam kehidupan berbangsa ini
akan lebih efektif dan perilaku
mereka akan lebih demokratis.
Weltanschauung Islam
Ajaran Islam bisa dibedakan
antara yang merupakan nilai
dasar dan kerangka
operasionalisasinya. Nilai dasar
adalah nilai-nilai yang
mendasari kehidupan
masyarakat, yang intinya
adalah (menurut Dr.
Muhammad Abu Zahrah dan
diperkuat oleh ahli-ahli lain)
keadilan, persamaan dan
demokrasi (syura). Prinsip
operasionalisasi nilai-nilai dasar
ini sudah dirumuskan dalam
kaidah fiqh 'tasharruful imam
'ala ra 'iyyatihi manuthun bil
mashlahah' (tindakan
pemegang kekuasaan rakyat
ditentukan oleh kemaslahatan
dan kesejahteraan mereka).
Dengan bahasa sekarang, harus
dijunjung tinggi nilai-nilai
demokrasi, keadilan sosial dan
persamaan di muka undangundang. Jadi Weltanschauung
Islam sudah jelas, yaitu bahwa
Islam mengakomodasi
kenyataan-kenyataan yang ada
sepanjang membantu atau
mendukung kemaslahatan
rakyat. Prinsip ini harus
mewarnai segala wujud, baik
bentuk kelembagaan maupun
produk hukum.
Andaikan telah terjadi
kesepakatan (sekurangkurangnya oleh mayoritas)
tentang Weltanschauung Islam,
niscaya pekerjaan telah
selesai. Sayangnya,
kesepakatan ini belum pernah
terjadi, sebab orang Islam baru

pada tahap membuat


komponen-komponen
Weltanschauungs Islam sendiri.
Proses yang terbalik ini
menyebabkan kesalahan dalam
penyusunan skala prioritas
kepedulian. Pada ujungnya,
muncullah keruwetankeruwetan seperti dalam soal
ada tidaknya negara Islam,
masyarakat bersyariat ataupun
masyarakat berhukum sekular,
bahkan masih ditambah lagi
dengan soal-soal kecil seperti
apakah sebuah Undang- undang
Pendidikan Nasional harus
menyebutkan pendidikan
agama dalam pasal-pasalnya
ataukah tidak. Upaya sejumlah
intelektual muslim, seperti
Syaikh Muhammad Abu Zahrah,
Syaikh Yusuf Qardlawi dan
intelektual lainnya untuk
menyusun prioritas yang benar,
ternyata tidak mendapatkan
sambutan, karena kaum
muslimin sedang mengalami
krisis identitas yang ditandai
oleh kegairahan
mempersoalkan manifestasi
simbolik dari Islam. Identitas
diri mesti tampil secara visual.
Inilah yang mempakan sebab
mengapa umat Islam sibuk
dengan masalah-masalah semu
atau hanya bersifat pinggiran
(periferal).
Apa yang disebut dengan
islamisasi pada umumnya
barulah pada arabisasi budaya,
yaitu semakin banyaknya
dipakai terminologi Arab yang
berasal dari nash. Sebutan
'saudara-saudara', 'kelompok'
atau 'kolega' diganti dengan
'ikhwan'. Istilah 'sembahyang'
yang telah berabad-abad
dipakai di negeri ini yang
sebenarnya telah berkonotasi
Islam, walaupun kata itu
sendiri berasal dari 'nyembah
Sang Hyang', diganti dengan
'shalat', sambil berpendirian
bahwa sembahyang bukanlah

11
Majalah Santri Gus Dur

shalat. Dan 'langgar' pun


dirubah menjadi 'mushalla'.
Hal-hal yang bersifat 'embelembel malahan menjadi
perhatian pokok.
Kecenderungan ini akan
berlanjut terus selama proses
identifikasi diri kaum muslimin
belum terselesaikan dengan
baik.
Di hadapan itu semua
tampak ada semacam quasi
weltanschauung (syibh nadhariyyah anil haryah), yang lalu
menjadi ideologi semu.
Misalnya munculnya ideologi
tertentu. Padahal ujung dari
ungkapan Islam sebagai
alternatif yang seakan
merupakan manifestasi dari
suatu ideologi tertentu.
Padahal ujung dari ungkapan
ini juga masih mempersilahkan
masing-masing negara untuk
menentukan corak ideologinya
sendiri.
Dengan sikap demikian,
sebenarnya yang ditawarkan
bukanlah alternatif, karena toh
tetap berpendirian bahwa tidak
ada alternatif yang universal.
Terus terang satu-satunya
penulis yang secara konsisten
tetap mendambakan Islam
sebagai alternatif adalah Abul
Ala al Maududi. Semua ahli
lain, bahkan Abul Hasan An
Nadawi apalagi Sayyid Quthb,
telah merubah pendirian
mereka. Terlihat jelas pula
bahwa jawaban-jawaban yang
diberikan, baik oleh Khomeini
maupun Ziaul-Haq, masih
bersifat semu. Idealisme
mereka begitu tinggi, sehingga
tidak bisa mendarat dalam
kehidupan; gagal menemukan
prinsip-prinsip operasional dari
nilai-nilai dasar kehidupan
masyarakat. Seringakali
percobaan-percobaan untuk
keperluan itu berujung pada
bentuk-bentuk kekuasaan
Imam. Padahal prinsip-prinsip

Kolom Gus Dur


Tiga pilar dasar; keadilan, persamaan, dan demokrasi
(weltanschauung) itu diejawantahkan kedalam sikap hidup
yang mengutamakan Islam, kebangsaan dan kemanusiaan.
operasional itu semestinya
senafas dengan yang telah
disebutkan, yaitu tasharrufulimam ala raiyatih manuthun
bil-mashlahah, laa dlarara wa
laa dlirar (tidak dibenarkan
terjadinya segala bentuk
perbuatan yang merugikan)
dan sebagainya.
Selama problem krisis
identitas kaum muslimin belum
terpecahkan, maka langkahlangkah belum bisa diambil
untuk membentuk
Weltanschauung Islam. Dan
selama masih dalam keadaan
demikian, yang ada barulah
weltanschauung Islam yang
semu dan baru pada tahap
semangat keislaman saja atau
sekadar slogan-slogan islami
kosong. Jalan yang terbaik
adalah melakukan upaya
rekonstruksi hukum agama
secara parsial sesuai dengan
kebutuhan atau bersifat adhock sejalan dengan situasi adhock yang tengah berlangsung.
Tentu saja tawaran ini datang
dari cara pandang sarwa-fiqh.
Fiqh adalah alat yang paling
efektif untuk mengatur kultur
umat Islam dan bisa dikatakan
sebagai kunci kemajuan atau
kemunduran mereka.
Tiga pilar dasar; keadilan,
persamaan, dan demokrasi
(weltanschauung) itu
diejawantahkan kedalam sikap
hidup yang mengutamakan
Islam, kebangsaan dan
kemanusiaan. Prinsip
operasional tasharruful imam
ala raiyyatihi manuthun bilmashlahah dirinci dalam subsub prinsip hingga menjadi

kerangka operasioanal dari


Weltanschauung Islam
tersebut. Di sinilah kultur Islam
hendaknya diisikan.
Agenda Prioritas
Apa yang harus dikerjakan
pertama kali adalah
menciptakan kesadaran
masyarakat tentang apa yang
harus dilakukan oleh Islam.
Dari sini kemudian tersedia
lahan bagi masuknya
pendekatan sosiokultural yang
sifatnya mampu menampung
kebutuhan-kebutuhan
pengembangan dan perubahan.
Tapi kerja ini tidak bisa begitu
saja dilakukan. Dengan kata
lain, betapapun pentingnya
perubahan-perubahan
formalistik hukum fiqh,
ternyata masyarakat tidak
menunggu rumusan-rumusan
formal itu dalam menentukan
apa yang hendak mereka
lakukan. Jika demikian,
seharusnya masyarakat
dirangsang untuk tidak terlalu
memikirkan manifestasi
simbolik dari Islam dalam
kehidupan, akan tetapi lebih
mementingkan esensinya.
Hal ini berarti penciptaan
Weltanschauung dengan
pembinaan atau pembentukan
tiga nilai dasar tadi, lalu
mencari prinsip
operasionalisasinya dan
penjabaran prinsip itu ke
dalam kerangka
operasionalisasi, dan baru
sesudah itu prioritas lainnya
akan muncul dengan
sendirinya. Inti persoalannya
adalah membangun etika

12
Majalah Santri Gus Dur

masyarakat yang baru.


Hubungan yang lebih egaliter,
kebebasan berpendapat dan
ketundukan kepada hukum
adalah inti keadilan, yang akan
membentuk perilaku
masyarakat secara berangsurangsur menuju budaya baru.
Prioritas ini dibarengi dengan
prioritas transformasi budayabudaya yang ada, seperti
penertiban kehidupan koperasi
dan budaya politik. Budaya
politik orang Jawa yang pasif
(menunggu dawuh dari atas)
harus diubah menjadi budaya
kreatif yang serba berinisiatif.
Ini penting sekali, karena
Pancasila sendiri masih dalam
taraf mencari bentuk atau
masukan, untuk
mengoperasionalkan nilai-nilai
dasar bangsa. Di sini Islam bisa
masuk tanpa perlu formalisasi,
tetapi lebih dengan membawa
Weltanschauung yang khas dari
dirinya.
Tidak perlu ada
kekhawatiran bahwa dengan
kesediaan meninggalkan
formalitas itu Islam akan larut
dan kalah. Karena, meskipun
nilai-nilai keadilan, persamaan
dan demokrasi sebenarnya
bukan hanya milik Islam tetapi
juga adalah milik dari kemanusiaan, tetapi wawasan,
lingkup, watak, sasaran dan
tujuannya tetap berbeda.
Perbedaan ini segera bisa
dikenali manakala rincian dan
nilai-nilai dasar itu diungkap
kembali dari perbendaharaan
keilmuan Islam yang sangat
kaya itu.
Dalam soal keadilan

Kolom Gus Dur


misalnya, Islam mengenal apa
yang dinamakan al-kulliyyat alkhams (lima jaminan dasar);
jaminan atas keselamatan
fisik/pribadi, jaminan atas
keselamatan keyakinan agama,
jaminan atas kesucian
keluarga, jaminan atas
keselamatan hak milik dan
jaminan atas keselamatan
profesi. Di luar Islam tentu saja
terdapat juga konsep tentang
jaminan-jaminan dasar seperti
ini, akan tetapi kuantitas dan
kualitasnya pasti berbeda.
Dalam bidang ekonomi akan
terlihat perbedaan nyata
antara Islam dengan Kristen.
Seorang muslim yang baik
dengan sendirinya adalah anti
kapitalisme karena salah satu
kewajiban yang harus
ditunaikannya yaitu zakat pada
hakekatnya memang bersifat
anti-kapitalistik. Prinsip zakat
adalah bahwa di dalam harta
yang dimiliki seseorang,
terdapat sebagian yang bukan
miliknya sendiri. Terlepas dan
soal besar dan kecilnya, tetapi
zakat mengisyaratkan prinsip
membersihkan harta dan anti
penumpukan harta serta
kebebasan individu yang
berlebihan.
Begitu pun dalam bidangbidang lain, Islam tetap
memiliki kekhasannya. Bahwa
ia bisa dikembangkan menjadi
sistem alternatif adalah soal
lain. Dengan melihat
kenyataan bahwa Islam tidak
sistemik, maka agaknya
kemungkinan Itu tak ada.
Sebab Islam 'hanya'
mengandung wawasanwawasan yang bisa diterapkan
pada sistem apa pun, kecuali
sistem thaghut (tiranik), yaitu
sistem yang bertentangan
dengan unsur-unsur utama
Weltanschauung Islam sendiri
yaitu persamaan, keadilan dan
demokrasi.

Jembatan Baru
Salah satu persoalan yang
sangat perlu pemecahan adalah
keterpisahan antara dua
komponen dalam sistem
keyakinan Islam yaitu
keyakinan akan keimanan yang
sangat pribadi, sebagaimana
yang tercantum dalam Rukum
Iman dan dimensi sosialnya
sebagaimana tercantum dalam
Rukun Islam. Pada dimensi
individu ukuran keimanan
bersifat sangat pribadi dan
merupakan urusan seseorang
dengan Allah sendiri (hablun
minallah). Sedang pada
dimensi sosialnya syahadat
yang tampak bersifat sangat
pribadi itu ternyata
berwawasan sosial, arena
pengucapannya harus dilakukan
di muka orang banyak, seperti
dalam persaksian perkawinan.
Apalagi tentang Rukun Islam
yang lain. Shalat, apalagi
berjamaah, berfungsi
mencegah perbuatan keji dan
munkar, yang berarti
berorientasi menjaga
ketertiban masyarakat.
Sementara zakat telah jelas
sebagai ibadah sosial, puasa
adalah keprihatinan sosial dan
ibadah haji adalah saat
berkumpulnya kaum muslimin
dari segala penjuru dengan
berbaju ihram yang sama tanpa
memandang pangkat dan
kedudukan.
Persoalannya kini adalah
bagaimana dimensi pribadi ini
bisa diterjemahkan secara
sosial. Karena di dalam Islam
ternyata mungkin untuk
menjadi mukmin yang baik dan
sekaligus menjadi makhluk
asosial dan sebaliknya bisa
terbentuk pula sikap hidup
yang begitu sosial tetapi tanpa
keimanan. Usaha
menjembatani kedua bentuk
keberagamaan yang ekstrem ini
adalah sebuah keharusan,

13
Majalah Santri Gus Dur

sedangkan al-Qur'an telah


memberikan petunjuknya (Q.S.
2:177). Ayat ini menerangkan
bahwa struktur masyarakat
yang adil harus ditandai dengan
perhatian yang cukup terhadap
kesejahteraan orang-orang
yang menderita dan
pengerahan dana untuk
membela kaum lemah. Secara
epistemologis, konsep ini
belum pernah dirumuskan dan
disepakati sebagai soal teologi,
melainkan dianggap sebagai
soal politik.
Dengan demikian yang masih
diperlukan adalah,
pengembangan akidah
Islamiyyah yang mempunyai
komponen rukun iman dan
sekaligus rukun islam dalam
bentuk yang terjembatani.
Usaha menjembatani ini
mempakan pekerjaan besar
yang harus ditempuh melalui
dialog dengan semua pihak.
Apa yang ada tetap
dipertahankan tetapi mesti
ditambah dan diperjelas
dengan wawasan-wawasan
baru. Dengan kata lain semua
kelompok masyarakat
bertanggung jawab terhadap
proses pribumisasi Islam dalam
arti mengokohkan kembali akar
budaya kita, dengan tetap
berusaha menciptakan
masyarakat yang taat
beragama.[]
Tulisan ini pernah dimuat di
Islam Indonesia Menatap Masa
Depan, (Jakarta: P3M, 1989).
Bisa juga dibaca di Buku
Pergulatan Negara, Agama dan
Kebudayaan, Depok:
Desantara, 2001.

Artikel Utama

Islam Nusantara
di Simpang Jalan
Oleh: Agung Hidayat Aziz

edatangan Islam
di Nusantara
memulai babak
baru dalam
sejarah peradaban Asia
Tenggara. Islam
memengaruhi bentuk
peradaban mapan di
Nusantara yang
semulanya bercorak
Hindu-Budha.
Perubahan ini
berlangsung dari
berbagai aspek mulai
ekonomi, politik hingga
sosial masyarakatnya.
Pengaruh Islam ini
menarik banyak peneliti
untuk menelusuri jejak
kedatangan Islam di
Indonesia. Penelitianpenelitian tersebut
menghasilkan banyak
teori tentang awal mula
Islam di Indonesia.
Beragam gagasan
tersebut membuat
simpul rumit yang
terkadang tidak mampu
menggambarkan secara jelas
kapan dan di mana Islam di
Nusantara ini bermula.
Sebagian dari penelitian hanya
mengandalkan fakta yang baur
serta interpretasi dari
penemuan bukti-bukti berupa
makam, tempat ibadah,
maupun surat-surat yang
bercerita soal Islam telah
masuk ke Indonesia.
Salah satu teori paling
populer menyebutkan, paruh

kerajaan Islam. Konteks


pada masa itu diwarnai
dengan meredupnya
pengaruh Hindu-Budha.
Kerajaan adikuasa di
Nusantara, Majapahit,
mulai goyah sementara
pemberontakan di
daerah semakin
kencang. Kemungkinan
hal ini dimanfaatkan
oleh penguasa-penguasa
kecil daerah yang
berkongsi dengan
kekuatan luar (dalam
hal ini Islam), yang
ditawarkan dalam
pergaulan internasional
kala itu.
Situasi perdagangan
di Selat Malaka saat itu
semakin ramai. Kontak
dagang yang dimulai
bangsa Eropa di Asia
Tenggara pun
memengaruhi koalisi
latief
para pemilik bandar.
Jika hanya bertahan
dengan institusi klasik
abad 11 atau 13 adalah masa di
keraton Hindu-Budha, di mana
mana Islam mengawali
orientasi pembangunan berada
jejaknya di Nusantara.
di pedalaman dengan corak
Kesultanan Samudera Pasai,
agraris, tentu tidak akan
yang saat ini menjadi bagian
memberikan perkembangan
dari Provinsi Daerah Istimewa
Aceh, menjadi tempat berlabuh dan jaminan keamanan. Harus
ada institusi politik yang
para pelintas dan pedagang
memberikan keamanan dagang
Islam yang banyak berasal dari
demi kepentingan dunia
Timur Tengah serta India.
perdagangan internasional ini.
Tampaknya teori ini berpaku
Sementara itu beberapa
pada kehadiran institusi politik
teori melihat kedatangan Islam
Islam yang ada di Nusantara,
ke Nusantara jauh sebelum
yakni telah berdirinya sebuah

14
Majalah Santri Gus Dur

Artikel Utama
institusi politik Islam, yakni
kerajaan, berkedudukan di
sana. Dugaan bahwa Islam
masuk pada abad 7 atau 8
Masehi pun muncul. Tampaknya
ini sebagai reaksi dari banyak
teori sebelumnya, Islam tidak
melulu datang karena ingin
mendirikan semangat
berinstitusi seperti yang di
atas. Serta keyakinan akan
kontak antara Nusantara
dengan peradaban Islam sudah
terjadi sejak permulaan dinasti
kekhalifahan Umayyah.
Ragam teori juga
mengatakan dari manakah
awalnya pengaruh Islam di
Nusantara ini berasal. Mulai
dari teori Persia, Hadramaut,
India maupun Cina hingga Arab.
Pemahaman dari manakah
Islam berawal juga akan
memberikan konsekuensi Islam
manakah yang dominan
nantinya atau berkontribusi
besar bagi penyebaran Islam di
Nusantara. Jika menilik asalnya
dari India misalnya atau Arab,
maka besar kemungkinan
tradisi Sunni sudah masuk.
Sementara jika melihat teori
Persia, Islam yang masuk ke
tanah air pastilah terpengaruh
budaya Syiah. Gagasan
semacam ini tampaknya
mengandung muatan agenda
pengaruh akan suatu budaya
luar terhadap Islam di
Nusantara.
Namun, kita tidak perlu
ambil pusing atau berdebat
kusir soal siapa yang mula-mula
mengawali dakwah Islam di
kepulauan Asia Tenggara ini.
Bukti-bukti memang
menampakkan banyak saluran
penyebaran gagasan Islam di
Nusantara. Mulai dari saluran
perdagangan, perkawinan,
pendidikan, maupun pengaruh
politik. Nusantara ialah
kawasan yang diuntungkan dari

kondisi geografis alamnya.


Sebagai pemasok rempahrempah dan bandar dagang
untuk kawasan Asia yang ramai,
maka terasa wajar jika
memiliki kontak dengan banyak
peradaban Islam yang sedang
pada masa-masa emasnya. Hal
ini mengindikasikan bahwa
Islam yang dibawa berasal dari
ragam budaya, intelektual,
tafsir dan wujud keislaman itu
sendiri, sehingga sangat sulit
untuk menolak keragaman ini.
Selain itu, menjadi buta mata
jika mengklaim hanya ada satu
bentuk Islam saja yang
berkembang di Nusantara. Hal
ini disebabkan oleh kontak
budaya yang tidak terwujud
dalam sekali jadi. Namun, ada
banyak proses atau fase yang
disertai banyak gelombang
perkembangan Islam di
Nusantara.
Mencari Bentuk Islam
Nusantara
Masuknya Islam ke
Nusantara kita pahami sebagai
suatu pengaruh dari luar. Islam
muncul dalam wujud asing dan
mengawali karir perubahannya
sebagai seorang liyan di tengah
kemajemukan bangsa
Nusantara, yang mana
sebelumnya didominasi budaya
Hindu-Budha. Maka agar dapat
diterima kehadirannya oleh
khalayak umum, Islam
kemudian mengalami
transformasi. Islam pun
menawarkan kecanggihan
peradaban yang telah
dihasilkannya mulai dari bentuk
instusi keagamaan, politik,
sistem dagang hingga seni.
Islam sebagai agama
terbaru (kontemporer) pada
masa itu, terhitung sangat
komprehensif. Hal ini
disebabkan oleh tumbuh dan
berkembangnya agama samawi

15
Majalah Santri Gus Dur

tersebut di ranah
persinggungan dua peradaban
besar. Islam bersanding dengan
rasionalitas ala Barat yang
diwarisi Byzantium dan Roma
dari Yunani kuno. Serta adab
ketimuran dan kejayaan
spiritualisme di Timur oleh
Persia dan Hindustan. Islam
sukses menggarap semua hasil
kebudayaan dari peradaban
tersebut dan menciptakan
suatu peradaban baru yang
kaya intelektualitas,
menyegarkan dan penuh
diskursus ilmu pengetahuan.
Islam pada masa keemasan
peradabannya ialah salah satu
pencapaian terbaik peradaban
umat manusia dari berbagai
segi, mulai dari filsafat,
teknologi, medis, sains dan
astronomi.
Karena begitu
komprehensif, Islam mengalami
kontak dengan Nusantara
dengan berbagai aspek
pendekatan. Hal ini
dikarenakan pula beragamnya
aktor yang bermain membuat
Islam dapat masuk dengan
cukup mudah. Mulai dari
pedagang, sarjana atau
cendekiawan maupun hubungan
bilateral institusi politik Islam
di luar Nusantara. Islam
melakukan kontak dengan
Nusantara sebagai peradaban
baru yang maju pada saat itu.
Masyarakat dalam peradaban
Islam yang berbudaya tinggi
dan berselera kekinian,
sehingga muncul tawaran,
apakah masyarakat Nusantara
mau menjadi bagian dari
peradaban ini?
Namun apakah sebegitu
pasifnya Nusantara ini,
sehingga harus takluk pada
banyak kebudayaan dari
peradaban Islam tersebut?
Tentu tidak. Perubahan yang
dibawa oleh Islam dan

Artikel Utama
penyebarannya seperti yang
kita ketahui tidak sekali jadi.
Namun berulang-ulang,
bergelombang dan mempunyai
fase. Bentuknya pun tidak
linear, melainkan timbal-balik
dan berkelanjutan antara
Nusantara dan peradaban Islam
itu sendiri.
Bentuk-bentuk kontak itu
berimplikasi pada berbagai
perubahan yang diterima
masyarakat Nusantara, sadar
maupun tidak. Akulturasi
hingga asimilasi budaya terjadi,
tergantung dari penyesuaian
suatu daerah terhadap
penyerapannya terhadap Islam,
sebagai agama yang
menawarkan nilai-nilai yang
menyegarkan. Kondisi
penyesuaian tersebut
dipengaruhi oleh bagaimana
suatu daerah di Nusantara
berkontak awal dengan Islam,
pendekatan yang hadir, kondisi
geografis, kedekatan dengan
pusat peradaban dan
perdagangan internasional,
serta lama hubungan kontak
tersebut. Dengan kata lain, kita
mungkin akan melihat
perbedaan antara penyerapan
budaya Islam masyarakat
pesisir dan pedalaman di
Nusantara ini. Islam hadir
sebagai wujud kontemporer
dan komprehensif yang
memberikan perspektif
menyegarkan dari berbagai
aspek, salah satunya aspek
budaya di Nusantara.
Sehingga baru-baru ini saja
terdapat wacana akan Islam
Nusantara di Indonesia.
Penggunaan frasa tersebut
tampaknya belum jelas, apakah
akan digunakan sebagai
konsep, alat pengkaji persoalan
atau lebih jauh lagi sebagai
suatu ideologi. Apakah
pewacanaan Islam Nusantara
dipahami sebagai Islam khas

Nusantara, yang artinya


mengakomodir nilai-nilai dan
kearifan lokal. Meskipun
nantinya akan menimbulkan
pertanyaan, Nusantara mana
yang menjadi perwakilan untuk
menyebut frasa tersebut? Hal
ini menjadi penting, sebab
Nusantara tidak dapat
dipahami sebagai suatu entitas
yang tunggal. Ia merupakan
kawasan dengan banyak
gugusan pulau yang
menyebabkan diversifikasi

sebagaimana yang telah lama


kita nikmati di media massa.
Sandiwara itu tampaknya tidak
pernah berakhir, bahkan
merembes hingga ke ranah geopolitik komunitas muslim di
negara-negara Asia Tengah dan
bekas koloni Uni Soviet lainnya.
Sedangkan kekuatan Eropa baru
bernama Turki, menampilkan
diri dengan romantisme
kejayaan kekhalifahan terakhir
Islam yang sebenarnya
hanyalah sebuah dinasti

kebudayaan yang luas.


Apakah agenda Islam
Nusantara merupakan Islam
tandingan dalam kancah
internasional? Di mana banyak
negara sudah mulai
mengondisikan taktik
diplomasinya, baik secara
formal maupun tidak. Kita bisa
lihat arogansi Arab Saudi yang
merasa mewakili kepentingan
Ahlussunnah wal-jamaah
sedunia. Dengan dananya yang
kencang, negara minyak
tersebut merasa perlu
mengembangkan Islam sunni
dengan paham dari Abdul
Wahabnya. Sementara Iran dan
kepentingan sayap syiahnya
terus memengaruhi rezimrezim syiah lainnya.
Ketegangan antara kedua
negara Islam besar ini
menampilkan sandiwara yang
besar pula di Timur Tengah,

kekaisaran ottoman. Dengan


cerita heroisme Al-Fatih
penakluk Barat Konstantinopel,
Turki mendongengkan ke dunia
muslim siapa pelanjut kejayaan
Islam era global kini. Apakah
permainan hegemonik dari
negara-negara Islam di atas
mencerminkan nilai-nilai
humanisme universal yang
diajarkan Rasulullah
Muhammad SAW? Jawabnya
adalah tidak.
Lantas di manakan posisi
Islam Nusantara ini? Karena
wacana ini digalakkan ormas
Islam besar Nahdlatul Ulama,
lantas ditanggapi pula oleh
banyak cendekiawan,
budayawan serta akademisi di
Indonesia, maka respon publik
pun menjadi beragam. Dari
respon tersebut sempat terjadi
diskursus menarik soal bentuk
dan arah Islam Nusantara.

16
Majalah Santri Gus Dur

Artikel Utama
Apakah ide Islam Nusantara
yang digelontorkan NU akan
identik dengan tradisi pondok
pesantren dan wujud
kesantrian? Mengingat bentuk
Islam di Nusantara ini sangat
beragam. Bagaimana pula
promosi penyebaran Islam ala
Wali Songo yang sangat Jawa
itu ditaruh dalam konsepsi ide
ini?
Bagaimana pula kacamata
NU melihat perkembangan
Islam di berbagai daerah
seperti sejarah dialektika dan
sufisme di Aceh, khazanah
tarekat di bagian Barat
Sumatera, komunitas Islam di
Lombok, budaya masyarakat
Melayu dan Islam, serta entitas
Islam di Timur Nusantara yang
jarang dijangkau dalam
diskursus Islam Nusantara ini?
Bagaimana merangkai yang
demikian untuk dapat
menentukan arah Islam
Nusantara? Jangan-jangan Islam
Nusantara hanya agenda reaktif
saja. Yakni sebagai tindakan
preventif terhadap Islam
radikal yang tidak sesuai
dengan cita rasa dan norma
adat tanah air yang mulai
meresahkan, sehingga perlu
konsepsi besar yang mampu
merangkul sebagal jenis Islam
di Bumi Indonesia ini.
Pribumisasi Islam, antara jalan
Agama dan Budaya
Jika Islam Nusantara
melihat entitas keunikan Islam

yang tegak di Nusantara, maka


Pribumisasi Islam menawarkan
kacamata bagaimana Islam
mampu mengambil peran pada
konteks wilayah dan adat
istiadat manapun. Gagasan Gus
Dur ini berusaha menepis
arogansi, baik agama maupun
budaya dalam penanaman nilai
dan norma di masyarakat.
Gagasan ini bukanlah
sinkretisme seperti yang
dituduh beberapa kalangan
yang kurang paham. Melainkan
suatu alat untuk mendamaikan
agama dan budaya: dua motor
penggerak peradaban, agar
bisa diserap dan diberdayakan
untuk kepentingan masyarakat
tanpa pertentangan yang tidak
perlu.
Pribumisasi Islam tidak
hanya dapat diterapkan di
Indonesia saja. Sebagai sebuah
metode, ia berpotensi menjadi
alternatif bagi siapa saja yang
merasa perlu mengembangkan
ajaran Islam, tanpa harus
menghancurkan budaya
setempat yang lebih dulu ada.
Penanaman Islam tidak dilalui
dengan jalan kekerasan
melainkan kompromistis. Niat
baik yang ditawarkan ialah
keinginan memajukan kearifan
lokal yang ada, sehingga tidak
menimbulkan ketersinggungan
dan ketegangan dengan Islam
karena dianggap sebagai suatu
yang asing dan berbeda.
Pribumisasi Islam bisa saja
menjadi metode dakwah di

manapun, di belahan bumi ini.


Ia dapat pula menjadi cara
membuat konsensus di tengah
publik yang menentukan arah
kebijakan. Ia bisa melakukan
pendamaian sistem sosial
bahkan politik suatu
masyarakat.
Gagasan ini menolak
dominasi monolitik dari
kebudayaan Islam itu sendiri.
Pribumisasi Islam juga
berangkat dari keresahan
terhadap kesalahpahaman
masyakat yang menganggap
Islam sama dengan Arab.
Dengan dalih sunnah rasul,
yang mana wahyu turun pada
Nabi Muhammad yang
berdomisili di Jazirah Arab,
banyak para elit membenarkan
sesat pikir ini. Bahwa Arab
dipahami sebagai suatu
kebudayaan yang Islami,
sehingga saat ini marak
masyarakat mengonsumsi
simbol-simbol agama yang
sebenarnya tidak memiliki
esensi sama sekali dengan nilai
ibadah. Dalam hal ini, Gus Dur
memberikan contoh seperti
berpakaian yang ke arabaraban (berjubah). Meskipun
itu hak individu, namun dalam
stigma masyarakat dan alim
ulama yang hadir dikhalayak,
hal tersebut dijadikan simbol
religiusitas. Padahal sejatinya
yang menjadi esensi ialah
menutup aurat. Mengapa harus
bersusah-susah memakai gamis,
jika ada banyak alternatif

Bahwa Arab dipahami sebagai suatu kebudayaan


yang Islami, sehingga saat ini marak masyarakat
mengonsumsi simbol-simbol agama yang sebenarnya
tidak memiliki esensi sama sekali dengan nilai
ibadah.
17
Majalah Santri Gus Dur

Artikel Utama
berpakaian di Nusantara ini
yang juga menutup aurat sepeti
memakai sarung misalnya.
Contoh kecil inilah salah satu
semangat yang ditawarkan
pribumisasi Islam.
Suatu alat dan cara
memandang Islam ini juga
dapat ditawarkan dan
dikembangkan di mana saja di
seluruh belahan bumi ini.
Pribumisasi Islam tidak
mengenal kata final, ia adalah
suatu proses di mana Islam
tengah tumbuh dan
berkembang di berbagai
daerah. Sebagai sebuah
metode, nantinya diharapkan
dapat menjadi Islam dengan
berbagai wajah. Ia dapat
menjadi Islam Afrika, Islam
Amerika, Islam Latin, Islam
Tionghoa, Islam Malaysia dan
Islam lainnya. Hal ini sebagai
konsekuensi dari Islam sebagai
agama yang rahmatan
lilalamin dengan nilainya yang
universal. Sehingga nilai
universal itu akan mengisi
banyak ruang parsial dan
menciptakan beragam wajah.
Di samping itu, juga mampu
mengakomodir gagasan dan
kearifan lokal yang telah
tumbuh di masyarakat. Namun
tetap mengimani nilai dan
semangat Islam yang sama.
Islam yang mengutamakan
perdamaian, persatuan,

menghargai perbedaan dan


selalu mendorong kemajuan di
masyarakat.
Sayangnya, banyak
masyarakat di Nusantara ini
pada praktiknya tidak dapat
membedakan mana yang ranah
agama dan mana pula yang
perilaku budaya. Terkadang hal
ini dikarenakan agama telah
melekat, tanpa disadari, pada
budaya setempat dan berkawin
dengan baik serta harmonis.
Bentuk agama dan budaya
selalu saja melenceng dalam
memahaminya. Agama
dianggap sebagai suatu yang
final dan berhubungan secara
spiritual-transeden. Sementara
itu budaya identik dengan seni
dan kesusasteraan yang
berbuah dari pikiran manusia.
Sehingga jika kita
mengadukkan keduanya, maka
semangat kesucian dari agama
menjadi tidak relevan lagi. Pola
pikir seperti ini adalah momok
besar bagi diskursus
masyarakat. Karena dinilai
akan menimbulkan ketegangan
dalam memahami keduanya.
Benar adanya bahwa agama
ialah suatu jalan atau langkah
menuju Tuhan, sedangkan
budaya adalah ekspresi
manusia. Namun bagi agama,
suatu jalan bukankah juga tak
mungkin mangkir dari suatu
ekspresi? Karena manusia

adalah makhluk yang penuh


dengan simbol dan perlu
banyak ekspresi untuk
mengungkapkan ketaatannya.
Maka dari argumen tersebut,
saya meyakini bahwa agama
memiliki dua sisi, baik sebagai
jalan menuju Tuhan maupun
bagian dari ekspresi manusia
menuju Tuhannya itu sendiri.
Sebagai suatu susunan
masyarakat yang telah beradab
dan membuat peradaban,
kebudayaan ialah akibat mutlak
dari menanggung beban
tersebut. Produk kebudayaan
meliputi banyak hal, mulai dari
seni, agama, filsafat, sains dan
teknologi maupun politik.
Diskursus semacam ini cukup
sulit karena masih memandang
agama layaknya teks yang suci
dan budaya dikhawatirkan
mengotorinya. Padahal
keduanya lekat dan terkadang
berjalan beriringan. Namun,
tampaknya beberapa pihak
masih menganggap keduanya
berada pada persimpangan
yang memiliki jalannya masingmasing.[]
Agung Hidayat Aziz. Penulis
adalah mahasiswa Fakultas
Ilmu Sosial dan Politik UGM
jurusan Ilmu Komunikasi. Aktif
sebagai pegiat di komunitas
Santri Gus Dur Jogja.

Guru spiritual saya adalah realitas


guru realitas saya adalah spiritualitas
KH. Abdurrahman Wahid

Klik website kami

www.santrigusdur.com
18
Majalah Santri Gus Dur

Artikel Utama

Pribumisasi Islam
via a vis Arabisasi
Oleh: Sarjoko
rabisasi Islam atau
Islamisasi Arab?
Pertanyaan ini muncul
dalam sebuah diskusi
kecil yang diikuti penulis
beberapa waktu yang lalu.
Kedua pertanyaan itu memakai
babon kata yang sama, yaitu
kata Islam dan Arab, tetapi
memiliki makna yang sangat
jauh berbeda. Arabisasi Islam
berkonotasi meletakkan segala
sesuatu yang terkait dengan
Arab pada Islam. Sementara
Islamisasi Arab bisa dimaknai
sebagai proses peletakan dasar
Islam pada sebuah wilayah atau
negara bernama Arab.
Salah satu poin yang
diangkat dalam diskusi kecil
tersebut adalah maraknya artis
yang berhijrah dan kini
mengisi berbagai kajian Islam
di berbagai kesempatan. Salah
satu ciri orang berhijrah,
sebagaimana dilakukan para
artis, adalah dengan menyisipi
beberapa kosakata

percakapannya dengan bahasa


Arab, misalnya saja mengganti
ucapan teman atau saudara
dengan akhi dan ukhti,
perkumpulan dengan halaqah
dan lain sebagainya. Di samping
itu, pakaian yang mereka
kenakan juga mengalami
evolusi yang amat signifikan. Di
kalangan artis pria, yang
awalnya tampil sewajarnya,
setelah mengaku berhijrah
muncul dengan tampilan yang
baru yaitu berjenggot tebal dan
mengenakan celana cingkrang
atau isbal. Tampilan yang
demikian setidaknya
menumbuhkan dua sikap di
tengah masyarakat muslim,
yaitu arabfobia dan arabfilia.
Arabfilia adalah gejala
masyarakat yang selalu melihat
budaya Arab sebagai budaya
yang paling unggul dalam
merepresentasikan Islam.
Baginya, semua ajaran Nabi
pada masa Islam awalwalau
yang bersifat konteks

19
Majalah Santri Gus Dur

Arabsangat baik diterapkan di


mana pun. Kaum ini cenderung
ingin mengikuti segala tindak
tanduk Nabi Muhammad SAW
sampai ke hal paling kecil.
Misalnya saja memelihara
jenggot dan mencukur kumis
karena dianggap kumis adalah
tampilan orang Yahudi. Ada
pula yang menerapkan tradisi
cadar (burqa) yang sebenarnya
merupakan tradisi berpakaian
orang padang pasir, dianggap
relevan dengan kondisi
Indonesia yang beriklim tropis.
Sebaliknya, kaum arabfobia
memandang bahwa budaya
Arab bukanlah budaya Islam,
sehingga tidak perlu
mengimpor budaya Timur
Tengah itu untuk
mengaplikasikan Islam di satu
wilayah. Dalam tahap paling
radikal, kaum ini menuntut
adanya relevansi agama dengan
budaya lokal secara penuh,
misalnya mengganti azan dan
bacaan salat dengan bahasa

Artikel Utama
Arabisasi yang berkedok islamisasi perlu dikritik
karena membawa ketegangan dan membuat agama
seolah-olah hanya mengakomodir kepentingan satu
kebudayaan tertentu, dalam hal ini budaya Arab.
lokal yang lebih dimengerti.
Kedua sikap ini bisa memicu
terjadinya xenosentrimse dan
chauvinisme radikal, yang
justru mencederai semangat
agama Islam sebagai rahmat
bagi semesta. Pemaksaan
penerapan atau penolakan
budaya tertentu dalam
beragama membuat citra
agama sebagai institusi yang
penuh kasih dan sayang patut
dipertanyakan.

Pergulatan Agama dan


Budaya
Saat Islam mulai dikenal
luas dan dijadikan agama oleh
orang-orang di luar Madinah
dan Mekah, Islam bertemu
dengan pelbagai budaya yang
beragam. Misalnya saja dari
bentuk rumah ibadah kaum
muslimin, yaitu masjid. Jika
bentuk masjid pada mulanya
hanya berupa bangunan persegi
beratap pelepah pohon kurma,
ketika masuk ke negara lain
(misalnya Persia) yang memiliki
cita arsitektur megah, bentuk
masjid mulai berubah.
Bangunan masjid mulai dihiasi
oleh kubah dengan berbagai
ornamen-ornamen dan hiasan
kaligrafi yang sekarang justru
menjadi simbol bangunan dan
budaya Islam.
Di wilayah nusantara yang
didominasi pemeluk Hindu dan
Buddha, bentuk masjid juga
sangat dipengaruhi bentuk
bangunan pra-Islam. Atap susun
merupakan adaptasi dari
bentuk bangunan Pura yang

menjadi tempat ibadah


masyarakat Hindu. Para juru
syiar yang dikenal sebagai
Walisongo tidak serta merta
mengubah secara radikal
bentuk rumah ibadah yang ada,
melainkan memberi pemaknaan
yang lain. Misalnya saja tiga
atap susun di masjid diartikan
sebagai simbol kesempurnaan
manusia (insan kamil) jika
sudah mencapai tiga hal, yaitu
iman, islam, dan ihsan.
Dua contoh kasus di atas
hanyalah contoh kecil dari
sekian banyak contoh
perjumpaan agama dan budaya
yang bisa disiasati secara bijak
oleh juru dakwah. Di wilayah
manapun, Islam akan
dihadapkan pada realitas
budaya setempat dan hal
tersebut kemudian menjadi
realitas budaya Islam. Realitas
budaya Islam antara satu
wilayah dengan lainnya pasti
memiliki keragaman dan
keunikan masing-masing.
Perbedaan ini seharusnya tidak
menjadi persoalan jika kita
memahami ajaran agama
secara substantif tanpa
memaksakan budaya lain
sebagai budaya yang lebih
unggul. Namun jika
menganggap bahwa tradisi
Islam harus sama dengan tradisi
Islam awal yang ada di Arab,
maka hal ini yang menjadi
masalah. Karena
mengidentikkan tradisi
(budaya) Arab dengan Islam
adalah bentuk dari arabisasi.
Alih-alih melakukan islamisasi,
seseorang malah justru

20
Majalah Santri Gus Dur

terjebak pada arabisasi.


Arabisasi yang berkedok
islamisasi perlu dikritik karena
membawa ketegangan dan
membuat agama seolah-olah
hanya mengakomodir
kepentingan satu kebudayaan
tertentu, dalam hal ini budaya
Arab. Para arabfilia selalu
menggunakan argumentasi
bahwa ajaran Islam adalah
ajaran yang sudah sempurna.
Ajaran itu sudah tertuang
dalam Alquran dan hadis yang
sudah paten dan tidak bisa
diganggu gugat. Jika ada
sebuah tradisi yang tidak ada
dalilnya di dalam Alquran atau
pun hadis, maka disebut bidah
yang harus dibuang.
Konsekuensinya adalah tradisi
seperti tahlilan, halal bi halal,
nyadran dan beberapa tradisi
lain yang menjadi khas Islam di
nusantara dan tidak pernah ada
dalam tradisi di awal Islam di
Arab adalah bidah.
Pemahaman semacam ini
tentu sangat meresahkan,
apalagi dengan kedok
pemurnian agama. Jika ingin
membatasi agama dengan
budaya, maka jangan pernah
membawa agama tersebut ke
wilayah yang memiliki
keragaman budaya. Agama
seharusnya mampu
mengakomodir budaya
sebagaimana prinsip ajarannya;
rahmatan lilalamin, rahmat
bagi semesta. Karena
bagaimana pun persinggungan
antara agama dan budaya akan
menghasilkan sebuah tradisi
yang baru. Tinggal bagaimana

Artikel Utama
agama memberikan ruhnya di
dalam tradisi tersebut.
Selama ini orang terjebak
dalam dalil naqli (tekstual)
tanpa melihat konteks dalam
memahami ajaran Islam. Dalam
memahami sunah Rasul
misalnya, orang hanya
membaca teks dalam hadis,
kemudian memahaminya
sebagai ajaran Islam. Padahal
tidak semua yang disampaikan
Rasulullah kepada para sahabat
waktu itu relevan dengan
budaya di luar Arab. Akibatnya,
banyak di antara kita, bahkan
sebagian juru dakwah yang
populer saat ini, menganggap
tradisi berjenggot, berjubah,
bahkan menunggang kuda
adalah sunah Rasul yang
mempunyai sisi keharusan
untuk ditiru. Pada tahap yang
paling radikal adalah
menganggap gandum serta
kurma sebagai sunah Rasul
karena kedua jenis makanan
tersebut setiap hari dikonsumsi
oleh Nabi Muhammad SAW.
Padahal, beberapa tradisi yang
disebutkan adalah bagian dari
kultur masyarakat Arab yang
tidak ada sangkut pautnya
dengan ajaran atau substansi
dari agama Islam. Meniru
tradisi tersebut karena pilihan
dalam berpenampilan dan
pilihan menu konsumsi adalah
hak seseorang, sama seperti

Namun mengatakan
bahwa berjubah,
berjenggot, berkuda
dan memakan gandum
atau kurma sebagai
bagian dari ajaran
Islam tentu perlu
untuk diluruskan dan
dikritisi.

ketika seseorang memilih untuk


mengenakan batik atau baju
Koko, menunggangi sepeda
motor, dan memilih untuk
makan jagung. Sekali lagi, ini
bukan persoalan benar atau
salah. Namun mengatakan
bahwa berjubah, berjenggot,
berkuda dan memakan gandum
atau kurma sebagai bagian dari
ajaran Islam tentu perlu untuk
diluruskan dan dikritisi.

Pribumisasi sebagai
Rekonsiliasi
Masuknya Islam ke semua
lini kehidupan harus ditunjang
dengan semangat pribumisasi
yang telah sekian lamanya
diterapkan oleh para juru syiar
Islam di negara ini. Pribumisasi
Islam bukan berarti menolak
atribut Arab untuk berislam,
malahan pribumisasi Islam
merupakan sikap dewasa
seseorang dalam beragama.
Memahami Islam dari kacamata
pribumisasi Islam ialah melihat
Islam sebagai bagian yang
terpisah dari budaya setempat
awal di mana Islam lahir. Islam
adalah sebuah nilai yang dapat
diaplikasikan pada seluruh
kebudayaan yang ada di dunia
ini, dengan berbagai penyesuaian-penyesuaian yang perlu
untuk dilakukan, tanpa menafikan ajaran-ajaran fundamental yang tak bisa diganggu
gugat.
Maka tidak perlu ada
ketakutan jika pribumisasi
Islam adalah upaya dearabisasi
secara total sebagaimana
dituduhkan oleh beberapa
kalangan. Sampai-sampai ada
tuduhan jika Islam Nusantara
sebagai salah satu bentuk dari
pribumisasi Islam akan
mengganti kain kafan dengan
kain batik, bacaan salat dengan
bahasa Jawa dan lain sebagainya. Kekhawatiran semacam itu

21
Majalah Santri Gus Dur

hanya muncul karena ketidaktahuan dan kurangnya pemahaman terkait pribumisasi


Islam. Seperti pribumisasi Islam
yang dilakukan Walisongo
misalnya, adakah satu catatan
yang menjelaskan para juru
syiar saat itu mengajari
masyarakat untuk mengganti
bacaan salat dan lafal azan
dengan bahasa selain Arab?
Entitas Arab sebagai sebuah
wilayah memang sangat erat
berkaitan dengan Islam, begitu
pula Islam sebagai sebuah
institusi tidak bisa dilepaskan
dengan Arab sebagai tempat
kemunculannya. Namun Islam
bukanlah Arab, sehingga harus
dibedakan agar syiar Islam atau
islamisasi tidak identik dengan
arabisasi. Bagi penulis,
arabisasi merupakan proses
identifikasi budaya Arab
sebagai budaya Islam yang
dianggap harus diterapkan
secara penuh di setiap wilayah
tanpa memandang kearifan
lokal setempat. Hasil dari
arabisasi adalah pelabelan
berbagai budaya Arab sebagai
ajaran Islam, sementara
budaya lainnya dianggap lebih
rendah dari budaya Arab.
Semangat pribumisasi Islam
yang digaungkan Gus Dur
bukanlah sebuah upaya
menghindarkan timbulnya
perlawanan dari kekuatan
budaya-budaya setempat, akan
tetapi justru agar budaya itu
tidak hilang. Inti pribumisasi
Islam adalah kebutuhan, bukan
untuk menghindari polarisasi
antara agama dengan budaya,
sebab polarisasi demikian
memang tidak terhindarkan
(Abdurrahman Wahid:
2003:119).
Dalam berinteraksi dengan
lokalitas, Islam sebenarnya
telah memiliki sikap yang
sangat jelas sebagaimana
dilakukannya pada awal

Artikel Utama
kemunculannya. Sikap Islam
dalam berinteraksi dengan
budaya lokal ini seharusnya
menjadi rujukan bagi penganutnya, terutama bagi mereka
yang menamakan diri sebagai
juru syiar, agar melakukan hal
yang sama. Bukan justru
melakukan pemaksaan tradisi
yang membuat citra Islam
sebagai agama rahmat bagi
semesta menjadi kabur.
Sikap Islam dalam
berinteraksi dengan budaya
setidaknya memiliki tigapola
(Ali Sodiqin dalam Khoiro
Ummatin: 2014). Pertama
adalah dengan menyempurnakan budaya lokal tersebut
(tahmil). Islam tidak melarang
budaya Arab pra Islam yang
masih dilestarikan, akan tetapi
mengambilnya sebagai bagian
dari ajaran agama Islam.
Misalnya adalah tradisi penanggalan kalender kamariah atau
hijriah. Kedua adalah dengan
memodifikasi budaya setempat
(taghyir) seperti pada ritual
haji. Haji yang mulanya
digunakan bangsa Arab pra
Islam untuk menyembah
berhala-berhala diubah
menjadi ritual untuk mendekatkan diri pada Allah dan
menjadi salah satu rukun Islam.
Sikap yang terakhir adalah
dengan menghapus tradisi
tersebut (tahrim) karena tidak
sesuai dengan prinsip-prinsip
fundamentalisme agama,
misalnya adalah tradisi
penguburan hidup-hidup anak
perempuan.
Ketiga prinsip tersebut
sejatinya telah dipraktekkan
oleh para juru syiar Islam di
masa lampau. Beberapa juru
syiar yang dikenal sebagai
walisanga menerapkan ajaran
Islam yang ramah terhadap
lokalitas, sehingga agama Islam
dapat diterima oleh sebagian
besar masyarakat tanpa melalui

proses ekspansi dan


kolonialisasi sebagaimana
terjadi di wilayah lainnya,
terutama di kawasan Eropa.
Munculnya tradisi
tahlilansebuah forum doa
bersama kepada orang yang
telah meninggalyang
awalnya merupakan tradisi
perayaan terhadap
kematian seseorang, adalah
salah satu bentuk modifikasi
positif oleh para juru syiar
Islam di masa lampau yang
masih dilestarikan hingga
saat ini. Walau tidak
ditemui satu nash pun
mengenai tradisi ini, pun
tidak ditemui dalam tradisi
Arab, tetapi jika melihat
berbagai nilai yang
terkandung di dalamnya,
akan sangat mudah
menyebut tahlilan sebagai
ritual yang sangat islami.
Dengan menerapkan tiga
prinsip utama di atas,
pertemuan antara agama dan
budaya bukan menjadi hal yang
perlu dipermasalahkan apalagi
dipertentangkan. Selama tidak
mencederai nilai-nilai
fundamental agama, sebuah
tradisi sangat baik untuk
dipelihara. Dalam konteks
masyarakat Jawa, orang tidak
harus merasa kurang islami jika
mengenakan batik atau kain
lurik yang menjadi budaya
lokal. Pun dalam melakukan
pergaulan, orang tidak perlu
ragu untuk mengucapkan salam
sesuai adat yang berlaku. Bagi
masyarakat Sunda misalnya,
mengucapkan sampurasun
dapat dikatakan sangat islami,
melihat substansi dari sebuah
salam sebagai ajaran
silaturahmi. Teks hanyalah
sebuah pengantar untuk
menuju tujuan dari sebuah
ajaran.
Jika pribumisasi Islam bisa
menjadi nilai dasar seseorang

22
Majalah Santri Gus Dur

Jika pribumisasi
Islam bisa menjadi
nilai dasar seseorang
dalam memandang
sebuah interaksi
agama dan budaya,
tidak akan ada lagi
klaim bidah dari
golongan tertentu
yang mencederai
semangat Islam
sebagai agama
universal.
dalam memandang sebuah
interaksi agama dan budaya,
tidak akan ada lagi klaim
bidah dari golongan tertentu
yang mencederai semangat
Islam sebagai agama universal.
Bidah adalah klaim yang
membenturkan pertemuan
agama dan budaya, yang
seakan-akan membuat agama
sama sekali menolak adanya
budaya di luar ajaran Islam
awal. Sebaliknya, perjumpaan
agama dengan budaya
setempat bisa menjadi
alternatif dalam menanamkan
prinsip-prinsip agama di dalam
masyarakat, sekaligus
menambah khazanah kekayaan
budaya dalam Islam.[]
Sarjoko. Penulis adalah
mahasiswa Komunikasi dan
Penyiaran Islam UIN Sunan
Kalijaga dan pegiat Komunitas
Santri Gus Dur. Ngeksis di akun
Instagram @sarjokooo

Dahaga bacaan
yang ramah?

GRATIS!

Ramah kantong,

ramah pikir

Pindai ini
Scan it!

Unduh versi
pdf-nya https://goo.gl/Vp8WWB
Bacaan Hari Jumat
Buletin SANTRI

Meneguhkan Islam Indonesia

Berlangganan hubungi:

08995178392

Artikel Lepas Artikel


Lepas

Inspirasi dari
Pemikiran Gus Dur
Oleh: Marzuki Wahid

H
H

aul adalah ajaran


budaya untuk memperingati, mengenang,
dan meneladani
kebaikan, serta mendoakan
orang yang sudah meninggal
dunia. Aku hanya pulang, bukan
pergi, kata Gus Dur suatu
waktu. Benar adanya, semangat,
gagasan, dan gerakan Gus Dur
tidak pergi, masih terus hadir
hingga hari ini. Satu di antaranya
adalah gagasan menjadi muslim
Indonesia yang hendak diungkap dalam tulisan ini.

Islam-Arab versus
Islam-Indonesia

Tiga dekade yang lalu,


Almaghfurlah Gus Dur pernah
melontarkan satu pertanyaan
menggelitik, Kita ini sebetulnya
orang Islam yang (kebetulan)
hidup di Indonesia ataukah orang
Indonesia yang (kebetulan)
beragama Islam? Pertanyaan
ini sepintas tidak problematik,
tetapi jika dibaca pelan-pelan
dengan kecermatan yang tajam,
maka termuat dua paradigma
yang bertolak belakang dalam
mengimplementasikan Islam di
bumi Nusantara ini.
Mencermati model pertanyaannya, tentu saja asumsi
dasar pertanyaan ini membedakan keislaman dan keindonesiaan sebagai dua entitas yang
independen, tak berhubungan
satu sama lain: originalitas Indonesia menurut Agus Sunyoto adalah Kapitayanbukan animisme

dan dinamismedengan ragam


kebudayaan yang melingkupinya. Sementara originalitas Islam
adalah Arab dengan ragam kebudayaan yang menyertainya.
Pertanyaan ini dilontarkan
Gus Dur ketika sebagian orang
Islam di Indonesia marak menggunakan identitas ke-Arab-an
untuk meneguhkan identitas
dirinya sebagai orang Islam. Dengan identitas itu, dalam benak
mereka, seolah-olah Islam itu
Arab dan Arab itu Islam. Untuk
menjadi Muslim, seseorang harus
menggunakan identitas Arab
atau melebur seperti orang Arab,
mulai dari cara berbicara yang
ke-arab-arab-an, berjenggot dan
berjambang lebat, berpakaian
jubah, abaya hitam-hitam bercadar, atau seperti pakaian orang
Afghanistan, hingga cara makan
dan apa yang dimakan oleh
orang Arab pun dijadikan model
keislaman.
Muslim yang berblangkon
(peci khas Jawa, Cirebon),
bersarung, masih menggunakan
kemenyan dan dupa dalam
sebagian aktivitasnya, senang
berziarah kubur, memperingati
tujuh hari, empat puluh hari,
seratus hari atau setahun (haul)
dari kematian leluhurnya dianggap tidak lebihsaleh dan tidak
lebihIslam ketimbang mereka
yang serba-Arab itu. Karena
semua itu dianggap bukan Islam,
tapi tahayul, bidah, dan churafat (dulu dikenal TBC). Keislaman kelompok ini disebut Islam

24
Majalah Santri Gus Dur

sinkretis, yakni Islam campuran


antara Islam-murni dengan
budaya lokal setempat.
Islam-murni (puritan) bagi
mereka adalah Islam sebagaimana dijalankan Rasulullah SAW selama hidupnya di Arab pada abad
ketujuh Masehi di padang pasir,
yang belum mengenal teknologi
secanggih hari ini. Demi menjaga
kemurnian ajaran Islam, penganut Islam di manapun berada
diharuskan meniru dan mengikuti
Islam masa Rasulullah dengan
keseluruhan budaya dan tradisi
kearabannya.
Jika model Islam ini yang
diikuti, maka yang terjadi adalah
arabisasi, pengaraban dunia.
Jika Islam adalah arabisasi,
maka Islam tentu bersifat lokal,
temporal, dan bernuansa politis
(sebab kata Arab adalah konsep politik). Jika Islam bersifat
lokal, temporal, dan bernuansa
politis, maka tentu bertentangan
dengan misi utama Islam sendiri
sebagai rahmatan lil alamin,
menebarkan cinta kasih kepada
seluruh umat manusia di dunia
dan segala ciptaan Tuhan di alam
semesta.
Selain itu, adalah imposible
mempraktikkan Islam-murni
pada saat sekarang dan di tempat yang sama sekali berbeda
dengan budaya Arab. Kebudayaan Arab sendiri dan sejumlah tempat ibadah yang yang
disucikan umat Islam di Arab,
seperti Kabah, Masjidil Haram,
tempat Sai, Padang Arafah,

Artikel Lepas
Mina, Muzdalifah, dan lain-lain
kini telah mengalami perubahan secara signifikan ketimbang
masa Rasulullah dulu karena
perkembangan teknologi dan
kebutuhan manusia sekarang.
Inilah keresahan Gus Dur melalui
pertanyaan kritisnya yang saya
kutip di atas.
Islam-serba Arab itulah
paradigma orang Islam yang
(kebetulan) hidup di Indonesia. Identitas dasarnya adalah
Islam (yang dalam pandangan
mereka adalah Arabisme). Untuk
menjadi Islam, Indonesia dengan
seluruh kebudayaannya harus
di-arab-kan. Jika Indonesia tidak
bisa diarabkan, maka mereka
membuat identitas keislaman
sendiri secara eksklusif di dalam
sistem kebudayaan Indonesia.
Kebudayaan Indonesia disebutnya bidah (bukan bagian dari
ajaran Islam) dan semua bidah
adalah menyimpang dan sesat.
Paradigma ini tentu cenderung
eksklusif dalam kebudayaan
Indonesia, bahkan dalam banyak
hal terjadi konflik kebudayaan.

wahyu ketuhanan dan tauhid.


Ajaran-ajaran dan nilai-nilai
ini dapat diterapkan di mana
dan kapan saja. Selain ibadah,
semuanya dapat dilakukan sesuai
dengan budaya setempat. Islam
dalam paradigma ini sangat
mengapresiasi kebudayaan lokal,
bahkan berpendapat bahwa
al-datu muhakkamah (adat/
tradisi dapat dijadikan hukum).
Menjadi Muslim, tidak harus
Arab. Dengan budaya lokal sekalipun, seseorang bisa menjadi
Muslim sejati.
Di Bayan Lombok Barat,
misalnya, terdapat pergumulan
yang intensif antara Islam dengan kebudayaan setempat, yang
tercermin dalam komunitas Wetu
Telu. Tanpa harus menjadi Arab
dan tanpa meninggalkan nilainilai dan ajaran-ajaran Islam
yang universal itu, seseorang
bisa mengamalkan ajaran Islam
dengan baik. Islam Wetu Telu
adalah potret Islam lokal yang
bertahan dengan keaslian dan
kejujurannya.
Keberadaannya bukan tanpa

Kebudayaan Indonesia disebutnya bidah


(bukan bagian dari ajaran Islam) dan semua
bidah adalah menyimpang dan sesat.
Paradigma ini tentu cenderung eksklusif
dalam kebudayaan Indonesia, bahkan dalam
banyak hal terjadi konflik kebudayaan.
Kebalikan dari cara pandang
di atas adalah paradigma orang
Indonesia yang (kebetulan)
beragama Islam. Paradigma
ini memandang Islam bukan
Arab, melainkan nilai-nilai dan
ajaran-ajaran universal kemanusiaan, keadilan, kemaslahatan,
kerahmatan, kesetaraan, dan
persaudaraan yang dilandasi

hambatan dan ancaman. Cercaan dan stigma sesat, menyimpang, sinkretis, belum
sempurna, dan sejenisnya biasa
dilekatkan oleh kelompok Islam
lain yang merasa sempurna dan
lebih benar, Islam Waktu Lima.
Lagi-lagi, ini adalah pergulatan
klaim kebenaran yang biasa
terjadi sepanjang sejarah antara

25
Majalah Santri Gus Dur

kalangan tekstualis dengan kontekstualis, konservatif dengan


inovatif, arabis dengan kultural,
dan varian-varian Islam lain.
Dengan demikian, Islam memang universal. Dalam universalitasnya, Islam dapat dipraktikkan
dan diwujudkan dalam setiap
kebudayaan di belahan dunia.
Universalitas Islam terletak
kepada nilai-nilai dasar ketuhanan, kenabian, kemanusiaan,
keadilan, kerahmatan, kebaikan,
dan kasih sayang, beserta
prinsip-prinsip dasar pengembangannya. Ekspresi Islam dalam
kehidupan nyata tentu bergantung pada lanskap sosiologis dan
kultural di mana Islam dipraktikkan. Indonesiadengan segala
karakteristik kebudayaan dan
keberislamannyasesungguhnya
telah dapat menjadi varian Islam
sendiri di dunia, yakni Islam-Indonesia, tanpa harus menjadi
Arab, Timur Tengah, Barat, atau
Eropa.

Realitas yang lain

Indonesia adalah negeri


berpenduduk muslim terbesar di
dunia. Dengan jumlah penduduk yang banyak dan wilayah
yang luas, Indonesia juga bisa
jadi negeri pemilik mesjid dan
pendidikan Islam terbanyak di
duniamulai dari pendidikan
anak usia dini, pesantren, hingga
pendidikan tinggi. Setiap tahun,
Indonesia adalah penyumbang
jamaah haji dan umrah terbanyak di negeri kelahiran Rasulullah Saw. Meski tidak secara
terang-terangan menyebut diri
negara Islam, tetapi dalam
setiap perhelatan negara-negara
Islam di dunia, suara Indonesia
selalu diperhitungkan.
Dengan sejumlah catatan
buruk kasus-kasus kekerasan atas
nama agama yang terjadi akh-

Artikel Lepas Artikel


Lepas
ir-akhir ini, terutama menyangkut pembatasan hak, pelarangan, pengusiran, pembakaran,
hingga pembunuhan atas Jemaat
Ahmadiyah Indonesia (JAI),
aliran-aliran yang dituduh sesat,
dan Gereja-gereja di berbagai
daerah, Indonesia masih dikenal
sebagai negara yang mampu
menerapkan toleransi beragama
dan kerukunan kehidupan umat
beragama terbaik dibanding
dengan negara-negara muslim
lainnya. Muslim Indonesia pun
konon memiliki karakter yang
khas, terutama dalam pergumulannya dengan kebudayaan lokal
Nusantara. Meski Islam lahir di
Arab, tetapi dalam kenyataannya Islam dapat tumbuh kembang
dan bahkan sangat berpengaruh
di bumi Nusantara yang sebelumnya diwarnai animisme dan
dinamisme.
Indonesia pun secara sadar
tidak menggunakan label Islam
dalam struktur dan sistem kenegaraannya. Meskipun dengan
dasar Pancasila dan UUD 1945,
tetapi aturan-aturan kenegaraan
dan peraturan perundang-undangannya tidak bertentangan
dengan Islam, bahkan sejalan
dengan misi Islam untuk mewujudkan keadilan, kedamaian, dan
kemaslahatan. Di dalam Istana
Presiden Indonesia di Jakarta
terdapat Masjid Baiturrahim, di
sampingnya ada Masjid Istiqlal,
masjid nasional yang dikelola
oleh Pemerintah. Begitu juga di
hampir seluruh Kantor Gubernur dan Bupati se-Indonesia, di
depan atau di sampingnya selalu
terdapat Masjid Agung yang dikelola oleh Pemerintah.
Itulah Islam Indonesia,
Islam ala Indonesia yang sering
Gus Dur jelaskan. Saya memilah
dan membedakan term Islam
Indonesia dan Islam di Indonesia. Sekilas tidak terdapat

perbedaan, tetapi secara paradigmatik memiliki implikasi yang


jauh. Yang digambarkan di atas
adalah Islam Indonesia, Islam
khas Indonesia, Islam berkarakter Indonesia, dan Islam yang
menyatu dengan kebudayaan
masyarakat Indonesia, tanpa
bermaksud menundukkan dan
menggantikannya menjadi Islam
versi Arab. Islam Indonesia
adalah Islam berbaju kebudayaan Indonesia, Islam bernalar
Nusantara, Islam yang menghargai pluralitas, Islam yang ramah
kebudayaan lokal, dan sejenisn-

ya. Islam Indonesia bukan foto


copy Islam Arab, bukan kloning
Islam Timur Tengah, bukan
plagiat Islam Barat, dan bukan
pula duplikasi Islam Eropa.
Islam Indonesia adalah semua
Islam itu yang tersaring ke dalam
keindonesiaan.
Berbeda dengan itu, Islam di
Indonesia memberikan pengertian bahwa Indonesia hanya
sebagai lokus persinggahan dari
Islam. Filosofi, logika, nalar,
budaya, simbol, bahasa, dan
tata cara pergaulan semuanya
diadopsi, difotocopy, dicang-

Latif|Santri Gus Dur

26
Majalah Santri Gus Dur

Artikel Lepas
kok, diduplikasi, dan diplagiat
secara sempurna dari Islam Arab.
Asumsi paradigma Islam di
Indonesia adalah bahwa Islam
itu Arab dengan seluruh darah
daging kebudayaannya, sejak
kelahiran hingga perkembangan
dewasa ini. Di Indonesia, Islam
hanya menumpang, singgah,
dan menjadi orang lain
yang--apabila bisa akan--menguasai Indonesia. Indonesia harus
diislamkan, artinya diubah dan
diganti dengan Islam Arab atau
pseudo-Arab: menjadi negara
Islam, secara simbolik menyebut
Syariat Islam, berbahasa Arab
atau kearab-araban, pakaian
kearab-araban, dan sejenisnya.
Islam model ini tidak ramah
dengan kebudayaan lokal, malah
cenderung memusuhinya.

Pilar Islam Indonesia

Di balik Islam Indonesia


atau Islam di Indonesia
terdapat pilar keislaman yang
sangat kuat di Indonesia. Tanpa
pilar ini, Islam tidak akan
berkembang di bumi Indonesia.
Pilar-pilar itu adalah organisasi-organisasi Islam yang sejak kelahirannya hingga sekarang terus
berjuang dengan caranya sendiri
untuk mewujudkan Islam di bumi
Nusantara. Organisasi-organisasi ini memiliki akar jamaah
yang sangat kuat di bawah,
yang secara sosiologis berbeda
satu sama lain. Mereka juga
memiliki rasion detre sendiri
atas kehadirannya di Indonesia,
mempunyai aset keagamaan,
memiliki infrastruktur sampai
ke desa, dan yang terpenting
mereka menggunakan nalar yang
berbeda satu sama lain dalam
memahami sumber ajaran Islam,
al-Quran dan Hadis.
Organisasi-organisasi Islam
sejenis ini di Indonesia sangat

banyak. Di antaranya adalah


Persyarikatan Muhamadiyyah, Al
Irsyad, Persis, Nahdlatul Ulama, al-Washliyyah, Perti, Darud
Dawah wal Irsyad, Nahdlatul
Wathan, Mathlaul Anwar, dan
lain-lain. Organisasi-organisasi Islam ini adalah bagian dari
peradaban dan kekayaan intelektual Islam Indonesia. Inilah
Islam Nusantara yang membentuk kepribadian masyarakat
Indonesia yang secara umum
sangat toleran, dapat hidup
rukun dengan agama-agama lain,
menerima dasar negara Pancasila, menghargai kebudayaan lokal
dan kebhinekaan, dan memiliki
ikatan sosial yang sangat kuat.
Munculnya isu terorisme,
Islam garis keras, Islam
ekstrim, dan Islam fundamentalis, yang merongrong dasar
negara Pancasila, menggunakan
kekerasan dalam menegakkan
Syariat Islam, menyuarakan
negara Islam dan khilafah Islamiyah secara simbolik, sesungguhnya bukan produksi asli Islam-Indonesia. Itu adalah gerakan
Islam transnasional yang diimpor
dari negara-negara Timur Tengah. Gejala ini muncul sepuluh
tahun terakhir saja, setelah
rezim Orde Baru tumbang.
Gerakan Islam transnasional
ini sesungguhnya tidak memperoleh dukungan kuat dari mayoritas Muslim Indonesia. Hanya
saja, karena suara mereka nyaring dan keras, sehingga memperoleh perhatian media massa dan
membuat ketakutan sebagian
pemerintah, politisi, dan aparat
negara lainnya. Atas ketakutan
ini, seolah-olah mereka memperoleh dukungan politik.

Negara Pancasila

Gus Dur adalah tokoh Muslim terdepan yang menentang

27
Majalah Santri Gus Dur

negara Islam simbolik di Indonesia. Gus Dur memandang bahwa


Pancasila adalah kompromi politik yang memungkinkan semua
orang Indonesia hidup bersama-sama dalam sebuah negara
kesatuan nasional Indonesia.
Menurutnya, tanpa Pancasila,
Indonesia akan berhenti sebagai
negara. Douglas E. Ramage
mencatat bahwa penafsiran Gus
Dur dan rujukannya yang sering
pada Pancasila erat kaitannya
dengan peranannya sebagai
ulama-pesantren, yang memiliki
komitmen kuat pada pluralisme
dan nilai-nilai inti demokrasi.
Telah lama ia berpendapat
bahwa umat Islam harus berpegang pada Pancasila. Ia memahami Pancasila sebagai syarat
bagi demokratisasi dan perkembangan Islam spiritual yang
sehat dalam konteks nasional.
Di matanya, Indonesia adalah
sebuah negara yang didasarkan
pada konsensus dan kompromi dan kompromi itu inheren
dalam Pancasila. Dengan penuh
keyakinan, Gus Dur berpendapat
bahwa pemerintahan yang
berideologi Pancasila, termasuk
negara damai (dar al-shulh) yang
harus dipertahankan. Menurutnya, hal ini adalah cara yang
paling realistik secara politik
jika dilihat dari pluralitas agama
di Indonesia.
Lebih jauh, bagi Gus Dur, hal
ini sepenuhnya konsisten dengan
doktrin keagamaan Islam yang
tidak memiliki perintah mutlak
untuk mendirikan negara Islam.
Islam tandas Gus Dur tidak mengenal sistem pemerintahan yang
definitif dan baku. Dalam persoalan yang paling pokok, misalnya
suksesi kekuasaan, ternyata
Islam tidak memiliki sistem
yang baku; terkadang memakai
istikhlf, baiat dan ahl al-hall
wa al-aqdi (sistem formatur).

Artikel Lepas Artikel


Lepas
Padahal,
dalam panCita negara yang secara konsisten diperjuangkan Gus
dangan Gus
Dur adalah tatanan politik nasional yang dihasilkan
Dur, soal suksesi
adalah soal yang
oleh proklamasi kemerdekaan, di mana semua
cukup urgen dalam mawarga negara memiliki derajat yang sama
salah kenegaraan. Kalau
memang Islam punya sistem
tanpa memandang asal-usul agama, ras,
yang baku, tentu tidak terjadi
etnis, bahasa dan jenis kelamin.
demikian, komentar Gus Dur.
Tidak adanya bentuk baku
sebuah negara dan proses
pemindahan kekuasaan dalam
kedua elemen asasi inilah sesebagai simbol sosial dan politik
bentuk baku yang ditinggalkan
buah modus keberadaan politik
belaka. Dengan kata lain, Islam
Rasulullah, baik melalui ayat
komunitas Islam negeri ini harus
tidak dibaca dari sudut verbatim
al-Qur`an maupun al-Hadits,
diupayakan.
doktrinalnya, tetapi coba dimembuat perubahan historis
Cita negara yang secara
tangkap spirit dan rohnya. Islam
atas bangunan negara yang ada
konsisten diperjuangkan Gus Dur
dalam maknanya yang legal formenjadi tidak terelakkan dan
adalah tatanan politik nasional
mal tidak bisa dijadikan sebagai
tercegah lagi. Dengan demikian,
yang dihasilkan oleh proklamasi
ideologi alternatif bagi cetak
maka kesepakatan akan bentuk
kemerdekaan, di mana semua
biru negara bangsa Indonesia. Isnegara tidak bisa lagi dilandaswarga negara memiliki derajat
lam merupakan faktor pelengkap
kan pada dalil naqli, melainkan
yang sama tanpa memandang
di antara spektrum yang lebih
pada kebutuhan masyarakat
asal-usul agama, ras, etnis,
luas dari faktor-faktor lain dalam
pada suatu waktu.
bahasa dan jenis kelamin. Konkehidupan bangsa.
Inilah yang menyebabkan
sekuensinya, politik umat Islam
Walhasil, visi Gus Dur tentang
mengapa hanya sedikit sekali
di Indonesia pun terikat dengan
Indonesia masa depan adalah
Islam berbicara tentang benkomitmen tersebut. Segala bennegara-bangsa Indonesia yang
tuk negara. Menurutnya, Islam
tuk eksklusifisme, sektarianisme, demokratis, pluralis, toleran,
memang sengaja tidak mengatur
dan primordialisme politik harus
dan humanis, yakni negara yang
konsep kenegaraan. Yang ada
dijauhi. Termasuk di sini adalah
menjamin kedudukan yang sama
dalam Islam hanyalah komunitas
pemberlakuan ajaran agama
bagi seluruh warga negara dari
agama (kuntum khaira ummatin
melalui negara dan hukum forberbagai latar belakang agama,
ukhrijat li al-ns), bukan khaira
mal, demikian pula ide proporetnis, gender, aliran, bahasa,
dawlatin, apalagi khaira mamsionalitas dalam perwakilan di
dan status sosial. Seluruh warga
lakatin, kilahnya.
lembaga-lembaga negara.
negara mempunyai hak dan
Filsafat politik yang menSebab, tuntutan-tuntutan
kewajiban yang sama, tidak
dasari pemikiran Gus Dur adalah
semacam ini jelas berwajah
ada diskriminasi dan kekerasan
bagaimana mengombinasikan
sektarian dan berlawanan dendalam kehidupan mereka.
kesalehan Islam dengan apa yang gan asas kesetaraan bagi warga
disebutnya komitmen kemanegara.
Marzuki Wahid. Direktur Fahnusiaan. Baginya, nilai itu bisa
Yang penting bagi Gus Dur
mina-instutute, Deputi Rektor
digunakan sebagai dasar bagi
adalah memperjuangkan nilaiInstitut Studi Islam Fahmina
penyelesaian tuntas persoalan
nilai Islam, bukan universum
(ISIF), dan Dosen Fak. Syariah
utama kiprah politik umat, yakni
formalistiknya. Dengan memIAIN Syekh Nurjati Cirebon.
posisi komunitas Islam pada
perjuangkan nilai-nilai yang
sebuah masyarakat modern dan
ada dalam Islam, Gus Dur bisa
pluralistik Indonesia. Humanimengatakan bahwa dia sedang
tarianisme Islam pada intinya
memperjuangkan Islam. Di mata
menghargai sikap toleran dan
Gus Dur, Islam hanya dilihat
memiliki kepedulian yang kuat
sebagai sumber inspirasi-motiterhadap kerukunan sosial. Dari
vasi, landasan etik-moral, bukan

28
Majalah Santri Gus Dur

Temu Muka
Alissa Wahid:

GUSDURian Ada Karena Ada Gus Dur


aat ini, di Indonesia
sudah terdapat 100
Jaringan GUSDURian.
Ini adalah
perkembangan GUSDURian yang
benar-benar di luar perkiraan
kita di awal, jelas Alissa
Wahid saat ditemui Tim
Majalah Santri GUSDUR di
Seknas Jaringan GUSDURian
pada tanggal 09 Januari 2016.
GUSDURian ingin mewujudkan
Indonesia yang maslahat,
Indonesia yang adil, yang
masyar
akatnya makmur
dan sentosa.
Dengan
lahirnya
anakanak
ideologi
s Gus
Dur
yang
menjel
ma

menjadi GUSDURian di setiap


sudut Indonesia, harapannya
dapat mewujudkan cita-cita
mulia tersebut.
Dengan didasari pada nilainilai dan prinsip-prinsip yang
telah diperjuangkan oleh Gus
Dur, GUSDURian di manapun
dapat bergerak dan menekuni
isu-isu strategis yang sesuai
dengan situasi dan kondisi di
mana mereka tinggal.
Di bawah ini adalah petikan
wawancara bersama putri
pertama Gus Dur disela-sela
kesibukannya yang padat.
Sebagai koordinator yang
menjahit GUSDURian di 100
kota, dan angka itu tentu
sangatlah besar, namun masih
banyak juga orang yang belum
mengenal apa dan siapa itu
GUSDURian, bisa dijelaskan
mbak?
GUSDURian yaitu orang yang
merasa dirinya adalah murid
atau orang yang mengambil
inspirasi dari Gus Dur.
Dan GUSDURian,
karena dia orang, dia
ada di mana-mana.
Tidak terbatasi oleh
tempat atau
terbatasi oleh
kelompok. Di
kalangan
orang-orang
Tionghoa
ada
GUSDURia
n. Di
Amerika

29
Majalah Santri Gus Dur

pun ada. Beberapa minggu yang


lalu, teman-teman di Kuwait
meluncurkan GUSDURian
Kuwait. Lalu ada juga
GUSDURian yang berkumpul
membentuk komunitas lokal.
Misalnya ada komunitas
GUSDURian Semarang. Itu yang
kemudian kita mengenalnya
sebagai komunitas komunitas
lokal GUSDURian.
Karena Gus Dur sudah wafat,
lalu bagaimana peran atau
posisi Gus Dur di dalam
GUSDURian?
GUSDURian ada karena ada
Gus Dur. Kalau seseorang
menyebut dirinya sebagai
GUSDURian, berarti dia
mengambil Gus Dur sebagai
inspirasi. GUSDURian
mengambil inspirasi dari
prinsip-prinsip Gus Dur.
Strategi-strategi Gus Dur bisa
kita adopsi, namun untuk
strategi yang melekat pada
karakter atau kepribadian, kita
belum tentu bisa mengikuti.
Misalnya bagaimana Gus Dur
membangun hubungan dengan
presiden Kuba Fiedel Castro,
kita juga tidak akan bisa
mengikuti itu. Dan kita tidak
mengharapkan GUSDURian
mengikuti itu. Yang paling
penting adalah mengikuti
prinsip-prinsip yang diajarkan
oleh Gus Dur yakni ketauhidan,
kemanusiaan, keadilan,
kesetaraan, pembebasan,
persaudaraan, kesederhanaan,
kesatriaan, dan kearifan lokal.

Temu Muka
Itu yang kita sebut 9 nilai
utama Gus Dur
Sementara peran atau posisi
Keluarga GUSDUR (Ciganjur)
dalam GUSDURian, terutama
Mbak Alissa sendiri itu
bagaimana?
Keluarga Ciganjur
mendirikan Yayasan Bani
Abdurrahman Wahid.
GUSDURian induknya adalah
Yayasan Bani Abdurrahman
Wahid. Karena jaringan
GUSDURian adalah tempat
berkumpul para GUSDURian
yang sifatnya komunitas seperti
masyarakat, sehingga tidak ada
legalitas formalnya. Untuk
memback-up legalitas
formalnya yaitu Yayasan Bani
Abdurrahman Wahid. Karena
kami merasa nilai, pikiran, dan
perjuangan Gus Dur itu harus
dilanjutkan, salah satunya bagi
kami adalah mensuport
kelompok-kelompok
masyarakat yang memang
berusaha melanjutkan
perjuangan Gus Dur. Salah satu
hasilnya adalah Jaringan
GUSDURian itu. Yang didirikan
sebetulnya tidak hanya oleh
keluarga Ciganjur saja, tetapi
oleh murid-murid senior Gus
Dur, seperti Mas Imam (Imam
Aziz-Ketua PBNU), Mas Zastro
(Zastro al-Ngatawi-LESBUMI
NU).
Oh iya mbak, gagasan-gagasan
Gus Dur itu kan banyak.
Pastinya ada prioritas
tersendiri dari Jaringan
GUSDURian terhadap gagasan

atau perjuangan Gus Dur yang


perlu dilanjutkan. Kira-kira
warisan GUSDUR yang penting
bagi Indonesia dalam konteks
hari ini apa?
Ada empat gelombang
perjuangan Gus Dur. Gelombang
pertama, gelombang
spiritualitas. Di situ berarti kita
bicara NU, Islam Nusantara,
kerukunan antar iman.
Gelombang kedua adalah
gelombang masyarakat sipil.
Yang kita bicarakan adalah
kultur-kultur yang berkembang
di masyarakat. Gelombang
ketiga adalah gelombang
negara. Kiprah Gus Dur di ranah
negara. Di situ kita bicara
bagaimana Gus Dur
mengadvokasi kebijakankebikan publik. Dan semuanya
bermuara kepada kemanusiaan.
Di mana kemanusiaan menjadi
gelombang yang keempat.
GUSDURian ingin melanjutkan
di empat ranah itu. Contoh
GUSDURian di Kalimantan
Timur, perhatian mereka adalah
konflik pengelolaan sumber
daya alam.
Berbicara tentang harapan dan
cita-cita, apa sih yang menjadi
impian atau cita-cita
GUSDURian terhadap masa
depan masyarakat, bangsa dan
Negara?
Impian GUSDURian
sebetulnya mudah sekali,
masyarakat Indonesia yang
maslahat, itu saja sudah ideal.
Pertanyaanya justru adalah
strategi menuju ke sana. Itu
yang sampai sekarang kita

belum.
Kalau boleh tahu, sejak
lahirnya Jaringan GUSDURian
sendiri, kia-kira apa saja yang
telah dilakukan JGD baik di
level internasional, nasional,
maupun lokal?
Di tingkat internasional pada
tahun 2015 GUSDURian sudah
menjadi bagian dari gerakan
masyarakat sipil global dalam
kampanye aksi 2015 yang
terkait dengan sustainable
development goals (SDGs). Jadi
bagaimana meningkatkan
partisipasi publik dalam
pencapaian target-target
pembangunan dunia. Termasuk
kampanye suara rakyat untuk
pembangunan itu, sebetulnya
bagian dari kampanye global
seluruh dunia. GUSDURian juga
menjadi bagian dari network
dialog antar iman se-Asia.
Kemarin, waktu Asian Our
Fellowship, salah satu materi
atau tema yang saya bawa
adalah memperkenalkan
GUSDURian ke dunia
internasional. Itu di 14 kota di
Amerika.
Di tingkat nasional
GUSDURian tahun ini
meluncurkan gerakan anti
korupsi khusus untuk
pesantren. Jadi kita melakukan
halaqah nasional alim ulama
untuk pemberantasan korupsi,
di mana akhirnya keluar fatwa.
Dan setelah itu kita melakukan
halaqah daerah di 9 kota. Di
Pontianak, Padang, Makassar,
Lampung, Cimahi, Pati, Banten,
Surabya, Pacitan. Selain itu

Impian GUSDURian sebetulnya mudah sekali,


masyarakat Indonesia yang maslahat, itu saja
sudah ideal
Alissa Wahid, Koordinator JGD

30
Majalah Santri Gus Dur

Temu Muka
GUSDURian masuk di dalam
aliansi-aliansi masyarakat sipil.
Misalnya untuk gerakan save
KPK.
Yang dilakukan di tingkat
lokal itu banyak sekali.
Misalnya Komunitas GUSDURian
Temanggung aktif membantu
desa-desa yang kekeringan saat
ini. Teman-teman GUSDURian
di Jember, di sana kan ada Mba
Ciciek Farha dan Mas
Suporaharjo (Pendiri Tanoker
Ledokombo Jember) yang
mendampingi anak-anak
keluarga TKI. Kemudian temanteman di komunitas-komunitas
lintas Iman juga banyak sekali
seperti di Purwokerto. Malang
punya gerakan menulis untuk
perdamaian. Yang terakhir
kegiatan bersama, kalau tahun
2015 kemarin, kita punya
beberapa kampanye serentak.
Kampanye yang pertama bulan
Januari tahun 2015. Kita
peluncuran aksi 2015 suara
rakyat untuk pembangunan di
55 kota. Kemudian peringatan
hari perdamaian internasional,
ada 22 kota yang
menyelenggarakan aksi
mengkampanyekan
perdamaian, dan yang terakhir
hari toleransi tanggal 16
November kemarin di mana 50
kota menyelenggarakan festival
film toleransi.
Banyak sekarang ini sebuah
gerakan atau komunitas yang
awalnya bergerak pada isu
sosial, pendidikan,
kebangsaan, kemudian
berubah menjadi gerakan
politik praktis. Lalu
bagaimana mbak kaitannya
GUSDURian dengan gerakan
politik praktis itu sendiri?
Sejak awal Jaringan
GUSDURian dibuat untuk
merawat nilai pemikiran dan
perjuanagn Gus Dur di ranah

yang non politik praktis. Jadi


bibitnya sudah non politik
praktis. Karena itu bahkan
dalam pemilihan presiden di
mana partisipasi publik sangat
kuat GUSDURian tetap tidak
mengambil sikap di dalam
percaturan politik praktis pada
saat itu. Politik bagi GUSDURian
adalah politik kebangsaan
bukan politik praktis.
Mengenai pembiayaan atau
pendanaan gerakan
GUSDURian itu sendiri
bagaimana mbak?
Kita sangat beruntung
karena kalau di Jaringan
GUSDURian partisipasi atau
kontribusi para GUSDURian itu
maksimal. Bahkan Sekretariat
Nasional saja tidak memiliki
budget apapun untuk
mensupport teman-teman di
semua komunitas. Temanteman belajar untuk melakukan
pengumpulan sumber daya
termasuk sumber dana sendiri.
Jadi kita biarkan teman-teman
untuk melakukan itu. Dan
nyatanya sampai sekarang itu
justru yang menjadi alasan
suksesnya GUSDURian. Bagi kita
yang menjadi asset paling
berharga adalah kemandirian
teman-teman, rasa memiliki
teman-teman terhadap jaringan
GUSDURian, sehingga apa-apa
dilakukan secara bergotongroyong.
Jika ada orang yang ingin
menjadi GUSDURian, adakah
cara khusus?
GUSDURian itu sifatnya
perorangan. GUSDURian
sebenarnya adalah self label
yang kita sematkan ke diri kita.
Saya nggak bisa bilang Mas
Ghozi (GUSDURian Jogja) itu
seorang GUSDURian, Mas Ghozi
sendiri yang harus menyebut
dirinya GUSDURian atau merasa

31
Majalah Santri Gus Dur

sebagai seorang GUSDURian.


Tapi orang yang merasa
GUSDURian belum tentu dia
betul-betul mengikuti inspirasi
dari Gus Dur. Jadi itu nggak
resiprok orang yang merasa
GUSDURian pasti betul-betul
mengikuti Gus Dur. (Pandu/ElaMSGD)

Yang paling
penting adalah
mengikuti
prinsip-prinsip
yang diajarkan
oleh Gus Dur
yakni
ketauhidan,
kemanusiaan,
keadilan,
kesetaraan,
pembebasan,
persaudaraan,
kesederhanaan,
kesatriaan, dan
kearifan lokal.

Review Buku

Artikel
Lepas

Dongeng tentang

Legenda Gus Dur


Oleh: Mohammad Pandu

H. Mustofa Bisri (Gus


menikahkan putrinya, saya juga
yaitu di Madinah Al-Buuts. Gus
Mus) keluar dari dapur
menikahkan putriku. Sesudah
Mus juga menceritakan tentang
rumahnya dengan
itu, kami dianugerahi anak
kehidupannya dengan Gus Dur
membawa dua cangkir
laki-laki. Gus Dur tidak. Tuhan
selama di Mesir. Di samping
kopi panas di tangannya. Gus
menghendaki yang lain. Gus Dur
kuliah reguler di universitas,
Mus berjalan menuju ruang
tak punya putra.
kami juga aktif dalam diskusitamu. Di sana sudah duduk
Berangkat dari sanalah
diskusi yang diselenggarakan
bersimpuh seorang tamunya
buku Gus Dur dalam Obrolan
oleh PPI (Perhimpunan Pelajar
yang belum lama menunggu,
Gus Mus ini lahir. Sangat wajar
Indonesia), terutama diskusi
KH. Husein Muhammad (Kiai
jika pada akhirnya Gus Mus
sastra, membaca buku dan
Husein). Kunjungan Kiai Husein
membawa nama Gus Dur sebagai
membuat buletin serta
ke rumah Gus Mus sore itu tidak
materi obrolannya dengan
majalah, terang Gus Mus. Di
lain karena undangan
luar itu, kami juga
bedah buku karya
sering keluyuran,
pemikir Mesir, Dr. Ali
menjadi gelandangan,
JUDUL BUKU Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus
Mabruk, di Pondok
menonton film, main
PENULIS KH. Husein Muhammad
Pesantren Raudlatut
sepak bola, dan lain
PENERBIT Noura Books, Jakarta Selatan
Thalibin, Rembang.
lain, lanjutnya.
TAHUN I, Oktober 2015
Setelah acara
Satu per satu cerita
TEBAL 179 halaman
selesai, Gus Mus
yang disampaikan Gus
mempersilakan Kiai
Mus tentang Gus Dur
Husein beristirahat
selalu direkam dalam
sejenak di rumahnya, sambil
Kiai Husein. Sebab Gus Mus
ingatan Kiai Husein. Dalam
menunggu bus yang akan
sendiri merupakan salah satu
setiap ceritanya, Kiai Husein
mengantar Kiai Husein pulang.
sahabat terdekat Gus Dur. Hal
juga menambahkan refleksinya
Sebelum perbincangan hangat ini bisa dilihat dari cerita Gus
sendiri, baik dari pengalaman
kedua kiai tersebut dimulai,
Mus selanjutnya. Ia bercerita,
pribadinya dengan Gus Dur
tiba-tiba dua menantu dan
bahwa sekitar seminggu sebelum
maupun ada kaitannya dengan
cucu-cucu Gus Mus datang.
wafatnya, Gus Dur bersama
kitab dan buku yang pernah ia
Setelah menyalami Kiai Husein
istrinya, Nyai Sinta Nuriyah
pelajari. Seperti halnya ketika
satu per satu, mereka duduk dan sempat mengunjungi rumah
Gus Mus bercerita tentang
mendampingi Gus Mus bersama
Gus Mus. Gus Dur keukeuh
misteri tidur Gus Dur. Kiai cum
tamunya. Mereka ikut menyimak
ingin mengunjungi Gus Mus dan
budayawan itu pun menjelaskan,
perbincangan santai kedua kiai
keluarga meski pada saat saat
bahwa tidak ada yang aneh
tersebut. Kiai Husein mulai
itu Gus Dur sedang sakit. Aku
dengan misteri tidur Gus Dur.
membuka pertanyaan, Berapa
hanya kangen Gus Mus. Nanti di
Jika tiba-tiba Gus Dur mampu
menantu njenengan, gus? Gus
sana sebentar saja, ujar Gus
menjawab dengan baik apa
Mus seketika menjawab dengan
Dur pada istrinya kala itu.
yang disampaikan pembicara
santai, Pada awalnya, saya
Gus Mus mulai menjadi
dalam sebuah forum, meski ia
sama dengan Gus Dur. Saya
sahabat Gus Dur sejak keduanya
sebelumnya tertidur, itu karena
punya empat anak perempuan.
bertemu di Al-Azhar, Kairo dan
Gus Dur punya siasat.
Gus Dur juga. Setiap Gus Dur
tinggal dalam satu asrama,
Manakala menerima

32
Majalah Santri Gus Dur

Artikel
ReviewLepas
Buku
undangan untuk diskusi,
seminar, simposium dan
sejenisnya, Gus Dur lebih
dulu mencari tahu siapa
saja pembicaranya. Lalu
mempelajari pikiranpikiran, perspektif dan
gagasannya melalui
karya-karya maupun
ceramahnya. Nah, dari
membaca semua itu,
Gus Dur menangkap apa
yang akan disampaikan
para pembicara itu
kelak, Gus Mus lantas
menirukan Gus Dur,
Paling-paling tak jauh
dari itu-itu juga.
Dari cerita Gus Mus
tentang misteri Gus Dur
tersebut, lantas Kiai
Husein merefleksikannya
dengan teori baraah
al-istihlal dalam kitab
Al-Jauhar al-Maknun,
salah satu kitab
Dok. Istimewa
balaghah atau sastra
Arab yang biasa dikaji
dengan Kiai Husein, Gus Mus
di pesantren. Teori ini
menceritakan bagaimana ia tibamemaparkan tentang kebiasaan
tiba menjadi seorang penyair.
seorang pembicara yang
Awalnya saya diminta oleh
mengawali pikirannya dengan
Gus
Dur membaca puisi di
mengungkap substansi yang
TIM (Taman Ismail Marzuki).
akan disampaikannya kemudian.
Padahal, saya hanya orang
Semacam pendahuluan yang
me-resume seluruh isi. Jadi, bisa desa dan santri sarungan yang
tak mengerti sastra dan puisi,
dikatakan bahwa apa yang akan
kok diminta tampil di ibu
disampaikan seorang pembicara
kota? ujar Gus Mus. Pada saat
sudah termuat dalam kata
itu Gus Dur memang sedang
pengantarnya. Hal inilah yang
menjabat sebagai ketua Dewan
sudah dipahami Gus Dur sejak
Kesenian Jakarta (DKJ). Gus
dulu.
Mus diminta tampil oleh Gus
Bagi Kiai Husein, Gus Mus
Dur sebab ia perlu seorang
adalah sosok yang tepat untuk
penyair yang bisa membacakan
menggambarkan Gus Dur secara
puisi berbahasa Arab dalam
lebih dekat. Sebagai sahabat
acara Malam Solidaritas untuk
dekatnya, Gus Mus banyak
Palestina. Lantas Gus Dur pun
bersinggungan langsung dengan
menunjuk Gus Mus sebagai
Gus Dur. Bahkan sebagian
penyair dadakan itu. Gus
karakter Gus Mus saat ini
Mus kemudian membacakan
terbentuk dari pengaruh Gus
puisi-puisi karya para penyair
Dur. Di tengah obrolannya

33
Majalah Santri Gus Dur

Palestina dalam acara


bergengsi tersebut. Sejak
itu, saya disebut orang
sebagai penyair, he-he-he
lanjut Gus Mus menutup
ceritanya.
Kiai Husein membagi
buku ini menjadi dua
bagian. Yaitu, bagian
pertama berisi obrolan satu
jamnya dengan Gus Mus,
yang berbicara panjanglebar tentang Gus Dur. Pada
bagian kedua, Kiai Husein
memaparkan bagaimana
pandangan Gus Mus tentang
perempuan. Yang terakhir
ini perlu disampaikan
Kiai Husein, mengingat ia
merupakan salah satu kiai
yang aktif menyuarakan
hak-hak kaum perempuan.
Masih banyak cerita
tentang Gus Dur yang
dipaparkan oleh Gus Mus
dalam buku ini. Kecakapan
dalam bercerita dan
perkenalan baiknya dengan
Gus Dur, seakan terlihat Gus
Mus sedang menceritakan
sosok dirinya sendiri pada
Kiai Husein. Gus Mus menjadi
representasi yang tepat sebagai
pendongengcerita rakyat
tentang Legenda Gus Dur. Kiai
Husein menulis buku ini dengan
bahasa narasi yang ringan,
sehingga buku ini bisa dinikmati
oleh berbagai kalangan. Selain
itu, beberapa bagian dari buku
ini juga dilengkapi dengan komik
strip tentang perjalanan hidup
Gus Dur dengan gaya humornya
yang khas. Selamat membaca!
Mohammad Pandu. Pegiat
Komunitas Santri Gusdur Jogja
dan santri di Ponpes Kotagede
Hidayatul Mubtadi-ien (PPKHM).

Ngopi Yuk, Gus!


Dialog Imajiner:

Tidak Boleh Ada Pemaksaan


dalam Penafsiran
alah satu gagasan Gus Dur yang sampai saat
ini tidak usang diperbincangkan banyak orang
adalah pandangannya tentang keislaman.
Islam dimaknai oleh Gus Dur sebagai suatu
realitas yang yang hidup di tengah masyarakat.
Pemaknaan itu sangat berbeda jauh dari kalangan
ekstrimis, yang suka melakukan kekerasan dengan
mengatasnamakan Islam dan melakukan pemaksaan
atas penafsiran. Dialog imajiner dengan Gus Dur kali
ini akan menemukan titik terang dari apa sebenarnya
Islam yang dimaknai oleh Gus Dur sehingga menjadi
laku hidup beliau hingga akhir hayatnya.
Berikut ini dialog imajiner redaksi dengan Gus Dur
dengan tema keislaman.
www.perspektif.net

Assalamualaikum Gus.
Waalaikumsalam, mas. Monggo.(Gus Dur
mempersilahkan kami duduk santai, lesehan, di
kediamannya; Ciganjur-Jakarta Selatan)
Begini gus, mau tanya-tanya soal keislaman dalam
pandangan Gus Dur. Saya pernah membaca biografi
Anda gus, bahwa Anda dulu pernah terlibat dengan
gerakan Ikhwanul Muslimin, apa benar, gus?
Ya benar. Semula, saya pernah mengikuti jalan pikiran
kaum ekstrimis, yang menganggap Islam sebagai
alternatif terhadap pola pemikiran Barat. Dan saya
juga turut serta dalam gerakan lkhwanul Muslimin di
Jombang, sekitar tahun 50-an. Saya juga mempelajari
secara mendalam Nasionalisme Arab di Mesir pada
tahun 60-an, dan Sosialisme Arab di Baghdad. Namun,
sekembali di tanah air, di tahun-tahun 70-an, saya
melihat Islam sebagai jalan hidup yang saling belajar
dan saling mengambil berbagai ideologi non-agama,
serta berbagai pandangan dari agama-agama lain.

akan pernah dirasakan atau dialami orang lain, dan


sekaligus juga ada kesamaan pengalaman dengan
orang lain yang mengalami pengembaraan mereka
sendiri.
Kenapa saya bisa begitu? Mungkin ya karena saya
sering jalan-jalan, main-main, berkumpul dengan
banyak orang. Seharusnya yang menjadi pertanyaan
adalah apakah selama pengembaraan itu seseorang
berakhir pada ekletisme yang berwatak kosmopolitan,
atau pengembaraan itu membawa hasil yang
sebaliknya.
Maksudnya bagaimana gus? (Gus Dur sambil menguap
sembari membenarkan posisi kacamatanya)
Jadi begini, pengalaman pribadi seseorang itu tidak
akan pernah sama dengan pengalaman orang lain. Dan
kita justru harus merasa bangga dengan pikiranpikiran sendiri yang berbeda dari pemikiran orang lain.

Hal ihwal apa yang membuat Gus Dur kemudian


berubah drastis dari pandangan dan gerakan itu,
kok bisa?
Bisa donk, apa sih yang nggak bisa di dunia ini.
(kelakar Gus Dur). Perubahan alur pemikiran saya itu
tidak serta merta berubah dratis, tetapi
membutuhkan proses dan belajar yang panjang, lho
mas. Antara tahun 50 an, 60 an, dan 70 an, pemikiran
saya yang berubah-ubah itu butuh proses, dari tahun
ke tahun.
Justru dari situ saya menemukan dua hal sekaligus,
diantaranya pengalaman pribadi saya itu tentu tidak

Lalu, kira-kira apa yang bisa diambil oleh umat Islam


secara keseluruhan dari pengalaman anda Gus?
Dari kenyataan-kenyataan yang saya alami, mulai
pernah mengikuti gerakan Ikhwanul Muslimin hingga
berubah pandangan saya tentang Islam, dari situ, saya
sampai pada kesimpulan bahwa Islam yang dipikirkan
dan saya alami tersebut sebagai sesuatu yang khas,
yang dapat disebutkan sebagai Islamku, karena itu
menjadi pengalaman pribadi saya sendiri, yang patut

34
Majalah Santri Gus Dur

Ngopi Yuk, Gus!


diketahui orang lain tanpa memiliki kekuatan
pemaksa. Titik tekannya pada itu..
Sebab itu, kalau pandangan dan pengalaman saya
tentang Islam ini dipaksakan juga akan terjadi
dislokasi pada diri orang lain, yang justru akan
membunuh keindahan semula dari pandangannya
sendiri.

ditentukan oleh banyaknya orang yang melakukannya


sebagai keharusan dan kebenaran.
(Gus Dur tiba-tiba tertidur setelah menguraikan
panjang terkait Islam Anda. Sekitar satu menitan,
kemudian terbangun kembali)

Lalu, bagaimana pandangan Gus Dur bila melihat


realitas sekarang yang begitu banyak di kalangan
umat Islam sendiri sering melakukan pemaksaan
terhadap keyakinan dan pandangan orang lain?
Nah itu yang menjadi masalah. Selama ini, dalam
berbeda pandangan, orang sering memaksakan
kehendak dan menganggap pandangan yang
dikemukakannya sebagai satu-satunya kebenaran, dan
pandangannya itu ingin dipaksakan kepada orang lain.
Cara seperti ini menurut saya tidaklah rasional,
walaupun kandungan isinya sangat rasional.
Karena pemahaman keislamanku tentu bisa jadi
berbeda dengan pemahaman islam anda, mas. Kenapa
harus ada pemaksaan?
Saya contohkan begini, kamu tahu Masjid Raya
Pasuruan? setiap tahun, pada momen tertentu, selalu
berdatangan para pemain rebana yang memperagakan
seni dan unjuk kebolehan mereka di arena Masjid
Raya itu, tanpa ada yang mengundang. Uniknya,
jamaah yang datang ke kota tersebut mengendarai
truk ke kota itu dengan mengenakan seragam masingmasing, yang dibeli dari hasil keringat sendiri, serta
tak lupa membawa makanan sendiri dari rumah.
Setelah bermain rebana selama lima sampai sepuluh
menit, mereka pun lalu pulang tanpa mendengarkan
pagelaran rebana orang-rombongan lain.
Hal yang sama juga terjadi dalam haul atau
peringatan kematian Sunan Bonang di Tuban dalam
setiap tahunnya. Tanpa diumumkankan, orang datang
berduyun-duyun ke alun-alun Tuban, membawa tikar,
koran, dan minuman sendiri, untuk sekedar
mendengarkan uraian para penceramah tentang diri
beliau. Di sini, pihak panitia hanya cukup mengundang
para penceramah itu, memberitahukan Muspida dan
menyediakan meja-kursi ala kadarnya demi sopan
santunnya kepada para undangan. Bagi pengunjung,
tidak penting benar, adakah Sunan Bonang pernah
hidup? Dan kenyataan itu tidak terbantahkan di dalam
pemikiran pengunjung.
Nah, kebenaran yang diperoleh seperti ini adalah
sesuatu yang didasarkan pada keyakinan, bukan dari
sebuah pengalaman. Apa yang dialami oleh orangorang yang saya sebut itu tadi dinamai sebagai Islam
Anda, yang kadar penghormatan terhadapnya

Untuk melengkapi itu semua gus, tadi sudah


dijelaskan Islam Ku, dan barusan Gus Dur mengurai
pemaknaan Islam Anda, lalu apa itu Islam kita? dan
apa saja yang mestinya harus dikerjakan oleh umat
Islam di masa mendatang?
Begini, dalam menelaah nasib Islam di kemudian hari,
kita sampai pada keharusan-keharusan rasional untuk
dilaksanakan ataupun dijauhi. Jika kita ingin dianggap
sebagai muslim yang baik, kita harus mementingkan
masa depan Islam dengan menyatakan pikiran-pikiran
tentang masa depan Islam.
Masa depan Islam ini muncul atas keprihatinan yang
muncul pada diri umat Islam, sehingga keprihatinan
itu sendiri mengacu kepada kepentingan bersama
kaum muslimin. Dengan memikirkan masa depan Islam
ini kita bisa mencakup Islamku dan Islam Anda,
karena ia berwatak umum dan menyangkut nasib kaum
muslimin seluruhnya, di manapun mereka berada.
Masalahnya, untuk membentuk dan merumuskan Islam
kita itu tidaklah mudah, dan seringkali tersandung
dengan perbedaan isi antara pemahaman islamku dan
islam anda. Belum lagi, masing-masing hendak
memaksakan segala sesuatu penafsiran yang dipegang
mereka.
Kesimpulannya gus?
Pada intinya, pemaksaan kehendak dalam bentuk
pemaksaan tafsiran itu bertentangan dengan
demokrasi. Dan dengan sendirinya, hal itu ditolak oleh
mayoritas bangsa. Nah, pemaksaan kehendak itu
sering diwujudkan dalam apa yang dinamakan
ideologi-lslam, yang oleh orang-orang tersebut
hendak dipaksakan sebagai ideologi negeri ini.
Karenanya, kalau kita ingin melestarikan Islamku
maupun Islam Anda, yang harus dikerjakan adalah
menolak Islam yang dijadikan ideologi negara melalui
Piagam Jakarta dan yang sejenisnya.
Dengan demikian, hal-hal esensial yang menjadi
keprihatinan kaum muslimin, melalui proses yang
sangat sukar, akhirnya diterima sebagai Islam Kita,
dengan penerimaan suka rela yang tidak bersifat
pemaksaan pandangan tersebut. Begitu.
(Kesimpulan itu pertanda akhir dari sesi dialog
imajiner dengan Gus Dur pada edisi kali ini)
[Au/MSGD]

Karenanya, kalau kita ingin melestarikan Islamku


maupun Islam Anda, yang harus dikerjakan adalah
menolak Islam yang dijadikan ideologi negara melalui
Piagam Jakarta dan yang sejenisnya.
35
Majalah Santri Gus Dur

Sastra

Artikel
Lepas
Dok. Istimewa

Detik Waktu
Ataukah memang tidak akan kembali
Sang detik yang berlalu dengan sia-sia
Benarkah alam ini terus berjalan
Tanpa memedulikanku yang sedang kelaparan
Waktu berlalu begitu saja
Seperti detik jam yang selalu memutar dalam lingkaran yang tertempel
Mungkinkah kita akan bahagia
Seraya berdoa pinta sebongkah emas yang menghidupi hari tua
Ataukah sia-sia tanpa puisi yang terpampang dalam bilik
Dan secarik kertas bertuliskan perjalanan bermakna nanti
Mulailah nak
Sampai batas nanti dipaksa untuk terhenti
Terbaik, ciptakan yang terbaik
Bukan untuk orang- orang melihat mu
Tapi untuk pengabdian sebagai manusia
Bagaimana memanusiakan, dan bagaimana menciptakan kemanusiaan
Saatnya melanjutkan
Bukan untuk terdiam
Tapi bangkit dan menderu dengan lantang
Kehidupan yang akan terus berjalan

Pe-mimpin

Melewati batas yang tak pernah terpikirkan


Seperti penguasa yang enggan mati dengan kemiskinan
Seraya anggukan kepala demi kebohongan
Layaknya ia mampu memukul para pengemis berkeliaran
Membodohi dengan kata manis yang berucap kesejahteraan
Apa iya? keadilan akan tercipta
Dengan mulut busuk yang selalu berbicara nista
Apa tidak terpikir ? darah berlinang demi kemerdekaan
Kau lewati saja rakyat pinggir sungai yang mati kelaparan
Atas kemurkaanmu para pemimpin yang mengemis demi uang
Lihatlah fitrahmu yang sejati
Enggankah kau berbicara dengan malam yang memberi arti
Bukankah kau tercipta dari cinta
Kenapa kau dengan mudah mengelakkan cinta
Sungguh aku rindu pemimpin yang selalu merindu
Merindu kami rakyat kecil pinggir sungai

Kedua puisi ini merupakan karya


Bahri Nimah. Seorang penyair
kelahiran Semarang, saat ini
aktif di Gusdurian Jogja.

Majalah Santri Gus Dur


Repro Redaksi

Halaman Belakang

Teroris, Aksesoris,
dan Turis
Oleh: Muhammad Autad An-Nasher

ambar meme saat ini menjadi media


alternatif dalam mengampanyekan segala
sesuatu, termasuk hal-hal yang sifatnya
serius, sedang ramai dibicarakan oleh
media, lalu dibuat lelucon, parodi. Belum lama ini,
sempat ramai di media sosial dengan ilustrasi
gambar meme yang membicarakan ihwal keislaman
seseorang.
Pada meme tersebut dijelaskan, Rizieq Shihab,
sang komandan laskar pentung, yang suka-suka
teriak Allah Akbar dalam setiap orasinya
itu dikatakan sebagai orang Islam yang
identik dengan kekerasan. Karena
seringkali memaksa dan
membubarkan kegiatan yang
menurutnya menyimpang dari
ajaran Islam. Takbir!
Selanjutnya adalah Abu Bakar
Baasyir, sampai saat ini
beliau masih ditahan oleh
pihak kepolisian, karena
pernah mendalangi beberapa
aksi teror, ngebom, dan laku
intoleran lainnya. Pada gambar
meme, Baasyir disebut sebagai
orang Islam teroris. Mungkin karena
suka meneror dan menanamkan ideologi
kekerasan.
Di samping itu, ada juga jenis orang Islam yang
suka dengan aksesoris, simbol-simbol agama.
Segala sesuatu yang berkaitan dengan agama,
diukur dari bagaimana seseorang memakai sebuah
pakaian atau busana. Jadi, menurut orang Islam
yang tunduk pada identitas, simbol agama atau
aksesoris itu--kesalehan seseorang diukur dari
seberapa panjang jenggotmu, seberapa longgar
jilbab atau baju kurungmu, seberapa cingkrang
celanamu, dan betapa muslimahnya kamu jika
wajahmu tertutup cadar. Orang Islam itu ya harus
seperti apa yang di Arab, karena kan Islam datang
dari Arab, begitu anggapnya.
Ada sebuah cerita menarik yang dilontarkan

oleh Prof. Azyumardi Azra, Guru Besar UIN


Syarif Hidayatullah Jakarta. Ketika beliau
sedang berada di salah satu masjid di KairoMesirwaktu itu beliau hendak melaksanakan
shalat berjamaah. Pakaian yang beliau
kenakan kebetulan pada saat itu adalah
sarung batik bermotif bunga. Ketika hendak
memasuki masjid, beliau dilarang oleh salah
seorang penduduk di sana, karena pakaian
yang yang beliau kenakan dikatakan sebagai
tasyabbuh binnisa, menyerupai
perempuan, dan haram bagi lakilaki mengenakan sarung
tersebut. Beliau pun lalu
menimpali pakaian jubah
(baju kurung) yang
dipakai oleh orang Mesir
itu, bahwa di Indonesia,
pakaian yang dikenakan
(jubah/baju kurung) itu
juga dipakai oleh
perempuan, karena
bentuknya yang mirip
dengan daster, yang awam
dipakai ibu-ibu. Akhirnya pun
beliau diperbolehkan masuk
masjid, karena keduanya samasama saling memahami.
Apa yang menarik di sini? Ya, karena beda
budaya beda cara pandang, beda substansi
dan beda konteks. Maka dari itu, tidak perlu
kiranya orang buru-buru menghakimi,
mengharam-haramkan, apalagi menyesatkan
seseorang. Terlebih dalam beragama
(terutama dalam berpakaian atau berbahasa),
di antara kita, harus meniru ala budaya Arab.
Ngaji ya harus pakai lagu Arab, seperti Bayati,
Shoba, Hijaz, Jeharka, sementara jika ada
yang melantunkan al-Quran dengan langgam
Jawa, Dandanggulo, Maskumambang, Sinom,
Megatruh, itu tidak ngarobi, dan bila tidak
ngarobi itu tidak islami, dan tentunya tidak

38
Majalah Santri Gus Dur

Halaman Belakang
bahasa Gus DurPribumisasi Islamitu hadir di
sini. Bagaimana masyarakat tidak tercerabut dari
akar budayanya dengan proses arabisasi dengan
meniru Timur Tengah. (Sebagaimana diketahui
bersama bahwa di wilayah Arab, terutama di
Saudi Arabia, banyak peninggalan, situs sejarah,
yang dibumihanguskan oleh pemerintah Saudi atas
nama menghindari kemusyrikan, pengkultusan,
sehingga warisan sejarah pada masa Rasulullah
Saw. yang seharusnya bisa dinikmati saat ini,
malah dilenyapkan).
Apabila pribumisasi Islam ini dipahami oleh
orang Islam dengan baik, maka tidak perlu risau
juga ketika muncul istilah Islam Nusantara
dewasa ini. Di mana Islam Nusantara bukan
bermaksud untuk memecah adanya Islam yang
bermacam-macam, akan tetapi, agama Islam
yang menghargai lokalitas yang ada di wilayahnya
masing-masing. Lagi-lagi dalam istilah Gus Dur,
terkait Pribumisasi Islamyang bukan berarti
jawanisasi ataupun sinkretismeyang mana
Islam harus tetap berada pada Islamnya, alQuran juga tetap harus menggunakan bahasa
Arab, terutama dalam shalat, sebab hal itu telah
menjadi norma. Karena pribumisasi Islam adalah
memadukan kebutuhan-kebutuhan lokal dalam
merumuskan hukum-hukum agama, tanpa
mengubah hukum itu sendiri.
Pada akhirnya, cita rasa keislaman yang
dilakukan oleh seseorang mempunyai nilai
spiritual yang berbeda-beda tingkatannya. Ada
yang merasa belum sempurna (kaffah)
keislamannya kalau belum melakukan sweeping
dan kekerasan. Ada juga yang merasa belum
berislam kalau tidak memakai jubah, berjenggot,
dan isbal. Ada juga yang belum merasa puas
keislamannya ketika tidak berziarah dalam satu
minggu, seperti yang dilakoni para ahli sarkub
(sarjana kuburan).
Jenis keislaman orang yang gemar melakukan
teror, kekerasan, mengumbar kebencian, serta
jenis keislaman seseorang yang tunduk pada
identitas dan simbol budaya Arab; seperti pakaian
dan penggunaan istilah yang kearab-araban,
adalah bagian dari bentuk keislaman yang lebih
cocok hidup di negara bagian Timur Tengah.
Sementara orang Islam Indonesia, tentu
mempunyai corak keislaman tersendiri yang tidak
harus meniru Arab, tetapi nilai Islam itu bisa
melebur ke dalam kultur dan nilai lokalitasnya
masing-masing, yakni dengan menghargai
keanekaragaman budaya, toleransi, yang nir
kekerasan, bukan begitu? Wallahhualam.[]

Lagi-lagi dalam istilah Gus Dur,


terkait Pribumisasi Islamyang
bukan berarti jawanisasi
ataupun sinkretismeyang
mana Islam harus tetap berada
pada Islamnya, al-Quran juga
tetap harus menggunakan
bahasa Arab, terutama dalam
shalat, sebab hal itu telah
menjadi norma.
boleh. Inilah letak kegagalan berpikir
seseorang.
Dan, di tengah-tengah umat beragama
ternyata masih banyak yang belum memahami
perbedaaan mana agama dan mana budaya.
Dan ngerinya jika banyak kalangan umat Islam
yang mengagamakan budaya, sehingga apa saja
yang berbau Arab, itu adalah agama, dan wajib
untuk ditiru. Begitu ya akhi, ya ukhti, antum
pahamkan, liqa-nya di mana sih ikhwan dan
akhwat ini kok ya ndak faham-faham?
Selanjutnya adalah Islam turis. Islam turis
ini dipakai oleh Gus Dur dalam tulisannya yang
berjudul Tradisionalisme yang Diinginkan
dalam buku Gus Dur Bertutur. Gus Dur
mengatakan kalau orang yang suka berziarah
kubur (nyarkub), disebutlah sebagai turisme
agama, yaitu seorang yang berjalan ke makammakam para wali, melakukan ritual dari satu
kuburan ke kuburan yang lain. Padahal, apabila
dilihat oleh kacamata Islam yang kearabaraban, tradisi seperti itu adalah bidah dan
pelakunya adalah musyrik (menyekutukan
Tuhan), karena dianggapnya berziarah itu
menyembah atau meminta kepada kuburan.
Tetapi, bagi pelaku ziarah atau min ahli
sarkubin (orang yang suka nyarkub), itu bagian
dari pelestarian tradisi. Bisa kita lihat bersama
bagaimana masyarakat Islam Jawa ketika
mempunyai hajat, dia berziarah ke makammakam para wali yang dianggapnya mempunyai
kedekatan dengan Sang Pencipta.
Ketika menjelang hari raya atau bulan
Ramadhan, ada tradisi yang namanya nyadran.
Hal ihwal itu adalah suatu warisan yang tidak
bisa ditinggalkan oleh muslim Nusantara. Dalam

39
Majalah Santri Gus Dur

Selamat atas diluncurkannya Majalah Santri Gus Dur. Semoga menjadi yang terdepan dalam
menggali, menyebarluaskan, & mengembangkan gagasan Gus Dur untuk kemaslahatan umat.
Memulai adalah langkah pertama, semoga terus berlanjut menuju puncak pencapaian harapan!
Alissa Wahid, Koordinator Jaringan GUSDURian Indonesia
Salam Pirukun. Kurang lebih dua bulan terakhir ini secara rutin saya menerima kiriman Buletin
Santri secara online dari teman GUSDURian secara gratis. Saya boleh menikmati tulisan yang berisi
buah pikiran, rasan-rasan, argumen, dan pergumulan teman-teman GUSDURian dalam menghadapi
realitas kehidupan sosial secara umum maupun keagamaan. Dengan kesadaran saya ikut
menghanyutkan diri pada arus tulisan tersebut, walau belum ambil bagian dalam penulisan di
media ini (saya ngrumangsani diri!). Akhirnya saya disadarkan bahwa diam-diam saya telah
menjadi "Santrinya Gus Dur" melalui Buletin Santri, walau tanpa mendaftar dan tidak perlu pindah
agama, bahkan dengan tetap bejabatan pendeta. Dengan bergantinya baju penerbitan sebagai
majalah, kiranya santri bisa berkontribusi lebih besar dan luas dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara, khususnya dalam ikut serta membangun kebersamaan dan perdamaian
dalam keragaman, khususnya dalam hal perbedaan suku-ras dan agama. Teruslah berkarya nyata
sebagai santri-santri perdamaian melalui penerbitan Majalah Santri. Teriring salam dan doa: Sukses
santri Gus Dur dalam berkat Tuhan!
-Pendeta Indrianto Adiatmo, LPM Omah Pirukun, Program Pelayanan Perdamaian Lintas Budaya
dan Agama. GUSDURian Jogja.
Saya hanya bisa mengucapkan selamat atas karya anak-anak muda GUSDURian dalam bentuk
majalah dua bahasa ini. Baru pertama kali saya mengetahui ada majalah dua bahasa yang
diproduksi secara nonprofit oleh kaum muda. Selamat!
Imam Aziz, Ketua PBNU, GUSDURian Jogja
Selamat atas lahirnya majalah Santri Gus Dur. Semoga ini membawa angin segar bagi kaum muda
yang ingin meneladani dan mengambil inspirasi dari perjuangan dan nilai-nilai Gus Dur.
Hairus Salim, Direktur Utama Yayasan Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS), GUSDURian Jogja
Gus Dur adalah kamus kehidupan. Maka memengerti Gus Dur menjadi sebuah keniscayaan,
khususnya bagi generasi yang tak sejaman. Majalah ini semoga menjadi wasilah kita belajar
kehidupan pada Sang Guru. Selamat dan ikut bahagia atas terbitnya Majalah Santri Gus Dur.
Hakim Jayli, Direktur Utama TV9 Nusantara, GUSDURian Jawa Timur
Selamat atas terbitnya majalah Santri Gus Dur. Kebahagiaan dan kebanggaanku untuk majalah ini.
Gus Dur sangat sadar tentang pentingnya media, yang selalu dimasukkan dalam bagian kelompok
strategis sepanjang masa. Tentu berharap, media ini tidak saja menyediakan info yg memadai bagi
kaum muda yg ingin meng-gus-dur, tetapi jg harus mampu mengelola sejarah perjuangan Gus Dur
menjadi ilmu pengetahuan yang kontekstual, menjawab masalah-masalah hari ini.
Marzuki Wahid, Direktur FAHMINA Institute, GUSDURian Jawa Barat
latief

Selamat atas kelahiran Majalah Santri Gus Dur, semoga ini menjadi media yang dapat
menyampaikan ke masyarakat nilai-nilai pemikiran dan perjuangan Gus Dur yang selalu berpegang
demi kemaslahatan umat. Dan semoga ini membawa angin segar buat Indonesia. Dan tetap
berpegang pada prinsip jurnalis yang tidak memihak, serta menjadi media yang menjadi wadah
inspirasi semua masyarakat tanpa SARA. Amin.
Savic Ali, Direktur Utama NU Online, GUSDURian Jakarta
Luar biasa!!! Inilah buah pemikiran progresif anak muda yang memahami Islam secara kosmopolit
sebagaimana diteladankan Gus Dur sang guru bangsa. Semoga karya ini menjadi pemicu kaum
muda lainnya untuk terus menggelorakan semangat Islam yang tak tercerabut dengan akar tanah
airnya.
Nenni Safitri, Entrepreneur. GUSDURian Jogja

Anda mungkin juga menyukai