Anda di halaman 1dari 9

Nama Peserta : dr.

Fadhilah Nisa Tanjung


Nama Wahana : RSUD Petala Bumi Pekanbaru
Topik : Diabetes mellitus tipe 2
Tanggal (Kasus) : 12 Februari 2015
Nama Pasien : Tn A A

No. RM : 80.46.05

Tanggal Presentasi :

Nama Pendamping : dr. Hj. Haniza Rangkuti

Tempat Presentasi :
Objektif Presentasi
Keilmuan

Keterampilan

Penyegaran

Tinjauan Pustaka

Diagnostik

Manajemen

Masalah

Istimewa

Neonatus

Bayi

Anak

Remaja

Dewasa

Lansia

Bumil

Deskripsi :
Seorang pria 56 tahun datang ke RSUD Petala Bumi pukul 20.16 dengan keluhan lemas
yang dialami 2 hari sebelum masuk rumah sakit namun memberat 12 jam ini sehingga tidak
dapat beraktivitas seperti biasa. Keluhan disertai mual, kepala pusing dan sulit tidur. Riwayat
sering lapar dan haus (+), penuruan berat badan (+) sebanyak 7 kg dalam satu bulan ini,
sering buang air kecil malam hari (+), kebas kebas dijumpai pada kedua telapak kaki, bibir
terasa kering (+) dan pandangan kabur tidak dijumpai. Sebelumnya pasien pernah memeriksa
kadar gula darah satu bulan yang lalu 300 mg/dl dan 2 minggu yang lalu 400 mg/dl dan. Satu
hari yang lalu pasien berobat ke klinik dan dinyatakan menderita kencing manis dan
kemudian oleh dokter umum di klinik diberikan satu macam obat gula namun pasien tidak
teratur mengonsumsi obat tersebut. Demam tidak dijumpai, keringat dingin tidak dijumpai,
BAK sering dan BAB dalam batas normal.
RPT: RPO: Metformin
Tujuan : Memahami diagnosis dan tatalaksana diabetes melitus tipe 2
Bahan Bahasan:

Tinjauan Pustaka

Cara Membahas

Diskusi

Riset

Kasus

Presentasi dan diskusi

Audit

Email

Pos

Data Pasien :

Nama: Adri
Atamin
Nama RS : RSUD Petala Bumi Telp :

Nomor Registrasi: 80.46.05


Terdaftar Sejak : 12 Februari 2015

Data utama untuk bahan diskusi :


1. Diagnosis/Gambaran Klinis:
Seorang pria 56 tahun datang ke RSUD Petala Bumi pukul 20.16 dengan keluhan lemas
yang dialami 2 hari sebelum masuk rumah sakit namun memberat 12 jam ini sehingga tidak
dapat beraktivitas seperti biasa. Keluhan disertai mual, kepala pusing dan sulit tidur. Riwayat
sering lapar dan haus (+), penuruan berat badan (+) sebanyak 7 kg dalam satu bulan ini,
sering buang air kecil malam hari (+), kebas kebas dijumpai pada kedua telapak kaki, bibir
terasa kering (+) dan pandangan kabur tidak dijumpai. Sebelumnya pasien pernah memeriksa
kadar gula darah satu bulan yang lalu 300 mg/dl dan 2 minggu yang lalu 400 mg/dl dan. Satu
hari yang lalu pasien berobat ke klinik dan dinyatakan menderita kencing manis dan
kemudian oleh dokter umum di klinik diberikan satu macam obat gula namun pasien tidak
teratur mengonsumsi obat tersebut. Demam tidak dijumpai, keringat dingin tidak dijumpai,
BAK sering dan BAB dalam batas normal.
2. Riyawat Pengobatan : Metformin 2x1
3. Riwayat Kesehatan/ Penyakit : 4. Riwayat Keluarga : 5. Riwayat Pekerjaan : Pegawai swasta
6. Lain- Lain :
Daftar Pustaka :
1. Alvin .C, 2008. Diabetes Melitus, Harrison internal Medicine 17th Edition, 2052- 2063
2. Perkeni, 2006. Konsensus Pengelolaan Diabetes Melitus di Indonesia. Semarang.
3. Soegondo, S.,2006.Farmakoterapi Pada Pengendalian Glikemia Diabetes Melitus
Tipe2.Dalam:Sudoyo, A.W., ed Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III.Edisi ke
4.Jakarta:Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,1860-1863.
4. WHO and International Diabetes Federation, 2009. Definition and Diagnosis of
Diabetes Mellitus and Intermediate Hyperglycemia. Atlas Diabetes.

1. Subyektif.
Seorang pria 56 tahun datang ke RSUD Petala Bumi pukul 20.16 dengan keluhan lemas
yang dialami 2 hari sebelum masuk rumah sakit namun memberat 12 jam ini sehingga
tidak dapat beraktivitas seperti biasa. Keluhan disertai mual, kepala pusing dan sulit
tidur. Riwayat sering lapar dan haus (+), penuruan berat badan (+) sebanyak 7 kg dalam
satu bulan ini, sering buang air kecil malam hari (+), kebas kebas dijumpai pada kedua
telapak kaki, bibir terasa kering (+) dan pandangan kabur tidak dijumpai. Sebelumnya
pasien pernah memeriksa kadar gula darah satu bulan yang lalu 300 mg/dl dan 2 minggu
yang lalu 400 mg/dl dan. Satu hari yang lalu pasien berobat ke klinik dan dinyatakan
menderita kencing manis dan kemudian oleh dokter umum di klinik diberikan satu
macam obat gula namun pasien tidak teratur mengonsumsi obat tersebut. Demam tidak
dijumpai, keringat dingin tidak dijumpai, BAK sering dan BAB dalam batas normal.
RPT: RPO: Metformin
2. Objektif.
Keadaan umum : Tampak lemah
Kesadaran
: Compos mentis
Tanda-tanda vital
Tekanan darah :
Frekuensi nafas :
Frekuensi nadi :
Suhu
:

130/90 mmHg
20x/menit
96x/menit
36,5 oC

Anemis
Ikterik
Dispnoe
Sianosis
Edema

:
:
:
:
:

(-)
(-)
(-)
(-)
(-)

Status generalisata
Kepala
Mata : konjunctiva palpebra inferior pucat (-), sklera ikterik (-), refleks cahaya +/+,
pupil isokor d = 3 mm.
Telinga : dalam batas normal
Hidung : dalam batas normal
Mulut : dalam batas normal
Leher
Trakea medial, pembesaran KGB (-), struma (-)
Thoraks

: Suara pernafasan : vesikuler pada kedua lapangan paru


Suara tambahan : (-/-)
Suara jantung I (+) normal, suara jantung II (+) normal, desah (-)

Abdomen : soepel, hepar lien renal tak teraba, peristaltik (+) normal
Ekstremitas
Superior : dalam batas normal
Inferior
: dalam batas normal
Pemeriksaan laboratorium:
Darah rutin
Hb
: 15,7 gr/dl

Leukosit
Trombosit
Hematokrit
Kimia darah
Ureum
Kreatinin
pH
SGOT
SGPT
GDS

: 11.500 /mm3
: 166.000/mm3
: 44 %
:
:
:
:
:
:
:
:

59 mg/dL
1,4 mg/dL
5,0
14
22
267 (20.45 WIB)
227 (22.00 WIB)
228 (24.00 WIB)

3. Assessment
Menurut American Diabetes Association (ADA) tahun 2010, Diabetes melitus
merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang
terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau kedua-duanya.
American Diabetes Assosiation (2005) dalam Aru Sudoyo (2006) mengklasifikasikan
diabetes mellitus menjadi :
1) Diabetes mellitus tipe 1
Dibagi dalam 2 subtipe yaitu autoimun, akibat disfungsi autoimun dengan kerusakan
sel-sel beta dan idiopatik tanpa bukti autoimun dan tidak diketahui sumbernya.
2) Diabetes mellitus tipe 2
Bervariasi mulai yang predominan resisten insulin disertai defisinsi insulin relatif
sampai yang predominan gangguan sekresi insulin bersama resisten insulin.
3) Diabetes mellitus Gestasional
Faktor resiko terjadinya diabetes mellitus gestasional yaitu usia tua,etnik, obesitas,
multiparitas, riwayat keluarga, dan riwayat gestasional terdahulu.Karena terjadi
peningkatan sekresi beberapa hormone yang mempunyai efek metabolic terhadap
toleransi glukosa, maka kehamilan adalah suatu keadaan diabetogenik.
4) Diabetes mellitus tipe lain :
a) Defek genetik fungsi sel beta
b) Defek genetik kerja insulin : resisten insulin tipe A,leprechaunism, sindrom rabson
mandenhall, diabetes loproatrofik, dan lainnya.
c) Penyakit eksokrin pankreas : pankreastitis, trauma / pankreatektomi, neoplasma,
fibrosis kistik, hemokromatosis, pankreatopati fibro kalkulus, dan lainnya.
d) Endokrinopati : akromegali, sindron cushing, feokromositoma, hipertiroidisme
somatostatinoma, aldosteronoma, dan lainnya.
e) Karena obat atau zat kimia : vacor, pentamidin, asam nikotinat, glukokortikoid,
hormon tiroid, diazoxic,agonis adrenergic, tiazid, dilantin, interferon alfa, dan
lainnya.
f) Infeksi : rubella konginetal, dan lainnya.
g) Immunologi (jarang) : sindrom stiff-man , antibody antireseptor insulin, dan
lainnya.
h) Sindroma genetik lain : sindrom down, sindrom klinefilter, sindrom turner, sindrom
wolframs, ataksia friedriechs, chorea Huntington, sindrom Laurence/moon/biedl,
distrofi miotonik,porfiria, sindrom pradelwilli, dan lainnya

Gejala Klinis
Gejala awalnya berhubungan dengan efek langsung dari kadar gula darah yang
tinggi.Jika kadar gula darah sampai diatas 160-180 mg/dL, maka glukosa akan sampai ke
air kemih.
Jika kadarnya lebih tinggi lagi, ginjal akan membuang air tambahan untuk mengencerkan
sejumlah besar glukosa yang hilang. Karena ginjal menghasilkan air kemih dalam jumlah
yang berlebihan, maka penderita sering berkemih dalam jumlah yang banyak (poliuri).
Akibat poliuri maka penderita merasakan haus yang berlebihan sehingga banyak minum
(polidipsi). Sejumlah besar kalori hilang ke dalam air kemih, penderita mengalami
penurunan berat badan. Untuk mengkompensasikan hal ini penderita seringkali
merasakan lapar yang luar biasa sehingga banyak makan (polifagi).
Dengan memahami proses terjadinya kelainan pada diabetes melitus tersebut diatas,
mudah sekali dimengerti bahwa pada penderita diabetes melitus akan terjadi keluhan
khas yaitu lemas, banyak makan, (polifagia), tetapi berat badan menurun, sering buang
air kecil (poliuria), haus dan banyak minum (polidipsia). Penyandang diabetes melitus
keluhannya sangat bervariasi, dari tanpa keluhan sama sekali, sampai keluhan khas
diabetes melitusseperti tersebut diatas. Penyandang diabetes melitus sering pula datang
dengan keluhan akibat komplikasi seperti kebas, kesemutan akibat komplikasi saraf,
gatal dan keputihan akibat rentan infeksi jamur pada kulit dan daerah khusus, serta
adapula yang datang akibat luka yang lama sembuh tidak sembuh.
Diagnosis
Berbagai keluhan dapat ditemukan pada penyandang diabetes. Kecurigaan adanya DM
perlu dipikirkan apabila terdapat keluhan klasik DM seperti di bawah ini:
Keluhan klasik DM berupa: poliuria, polidipsia, polifagia, dan penurunan berat badan
yang tidak dapat dijelaskan sebabnya
Keluhan lain dapat berupa: lemah badan, kesemutan, gatal, mata kabur, dan disfungsi
ereksi pada pria, serta pruritus vulvae pada wanita
Diagnosis DM dapat ditegakkan melalui tiga cara:
1. Jika keluhan klasik ditemukan, maka pemeriksaan glukosa plasma sewaktu >200
mg/dL sudah cukup untuk menegakkan diagnosis DM
2. Pemeriksaan glukosa plasma puasa 126 mg/dL dengan adanya keluhan klasik.
3. Tes toleransi glukosa oral (TTGO). Meskipun TTGO dengan beban 75 g glukosa lebih
sensitif dan spesifik dibanding dengan pemeriksaan glukosa plasma puasa, namun
pemeriksaan ini memiliki keterbatasan tersendiri. TTGO sulit untuk dilakukan berulangulang dan dalam praktek sangat jarang dilakukan karena membutuhkan persiapan
khusus.
Apabila hasil pemeriksaan tidak memenuhi kriteria normal atau DM, bergantung pada
hasil yang diperoleh, maka dapat digolongkan ke dalam kelompok toleransi glukosa
terganggu (TGT) atau glukosa darah puasa terganggu (GDPT).
1. TGT: Diagnosis TGT ditegakkan bila setelah pemeriksaan TTGO didapatkan glukosa
plasma 2 jam setelah beban antara 140 199 mg/dL (7,8-11,0 mmol/L).
2. GDPT: Diagnosis GDPT ditegakkan bila setelah pemeriksaan glukosa plasma puasa
didapatkan antara 100 125 mg/dL (5,6 6,9 mmol/L) dan pemeriksaan TTGO gula
darah 2 jam < 140 mg/dL.

Kriteria diagnosis DM
1. Gejala klasik DM + glukosa plasma sewaktu 200 mg/dL (11,1 mmol/L) Glukosa
plasma sewaktu merupakan hasil pemeriksaan sesaat pada suatu hari tanpa
memperhatikan waktu makan terakhir
2. Gejala klasik DM + Kadar glukosa plasma puasa 126 mg/dL (7.0 mmol/L). Puasa
diartikan pasien tak mendapat kalori tambahan sedikitnya 8 jam
3. Kadar gula plasma 2 jam pada TTGO 200 mg/dL (11,1 mmol/L). TTGO yang
dilakukan dengan standar WHO, menggunakan beban glukosa yang setara dengan 75
g glukosa anhidrus yang dilarutkan ke dalam air.

Penatalaksanaan Diabetes Mellitus


Pada penatalaksanaan diabetes mellitus, langkah pertama yang harus dilakukan adalah
penatalaksanaan tanpa obat berupa pengaturan diet dan olah raga. Apabila dalam langkah
pertama ini tujuan penatalaksanaan belum tercapai, dapat dikombinasi dengan langkah
farmakologis berupa terapi insulin atau terapi obat hipoglikemik oral, atau kombinasi
keduanya
Terapi non farmakologi
1. Pengaturan diet
Diet yang baik merupakan kunci keberhasilan penatalaksanaan diabetes. Diet yang
dianjurkan adalah makanan dengan komposisi yang seimbang dalam hal karbohidrat,
protein dan lemak. Tujuan pengobatan diet pada diabetes adalah:
a. Mencapai dan kemudian mempertahankan kadar glukosa darah mendekati kadar
normal.
b. Mencapai dan mempertahankan lipid mendekati kadar yang optimal.
c. Mencegah komplikasi akut dan kronik.
d. Meningkatkan kualitas hidup.
Terapi nutrisi direkomendasikan untuk semua pasien diabetes mellitus, yang
terpenting dari semua terapi nutrisi adalah pencapian hasil metabolis yang optimal dan
pencegahan serta perawatan komplikasi. Untuk pasien DM tipe 1, perhatian utamanya
pada regulasi administrasi insulin dengan diet seimbang untuk mencapai dan

memelihara berat badan yang sehat. Penurunan berat badan telah dibuktikan dapat
mengurangi resistensi insulin dan memperbaiki respon sel-sel terhadap stimulus
glukosa.
2. Olah raga
Berolah secara teratur dapat menurunkan dan menjaga kadar gula darah tetap normal.
Prinsipya, tidak perlu olah raga berat, olah raga ringan asal dilakukan secara teratur
akan sangat bagus pengaruhnya bagi kesehatan. Beberapa contoh olah raga yang
disarankan, antara lain jalan atau lari pagi, bersepeda, berenang, dan lain sebagainya.
Terapi farmakologi
1. Insulin
Insulin adalah hormon yang dihasilkan dari sel pankreas dalam merespon glukosa.
Insulin merupakan polipeptida yang terdiri dari 51 asam amino tersusun dalam 2
rantai, rantai A terdiri dari 21 asam amino dan rantai B terdiri dari 30 asam amino.
Insulin mempunyai peran yang sangat penting dan luas dalam pengendalian
metabolisme, efek kerja insulin adalah membantu transport glukosa dari darah ke
dalam sel.
Macam-macam sediaan insulin:
1. Insulin kerja singkat
Sediaan ini terdiri dari insulin tunggal biasa, mulai kerjanya baru sesudah setengah
jam (injeksi subkutan), contoh: Actrapid, Velosulin, Humulin Regular.
2. Insulin kerja panjang (long-acting)
Sediaan insulin ini bekerja dengan cara mempersulit daya larutnya di cairan
jaringan dan menghambat resorpsinya dari tempat injeksi ke dalam darah. Metoda
yang digunakan adalah mencampurkan insulin dengan protein atau seng atau
mengubah bentuk fisiknya, contoh: Monotard Human.
3. Insulin kerja sedang (medium-acting)
Sediaan insulin ini jangka waktu efeknya dapat divariasikan dengan
mencampurkan beberapa bentuk insulin dengan lama kerja berlainan, contoh:
Mixtard 30 HM
2. Obat Antidiabetik Oral
Obat-obat antidiabetik oral ditujukan untuk membantu penanganan pasien diabetes
mellitus tipe 2. Farmakoterapi antidiabetik oral dapat dilakukan dengan menggunakan
satu jenis obat atau kombinasi dari dua jenis obat
a. Golongan Sulfonilurea
Golongan obat ini bekerja merangsang sekresi insulin dikelenjar pankreas, oleh
sebab itu hanya efektif apabila sel-sel Langerhans pankreas masih dapat
berproduksi Penurunan kadar glukosa darah yang terjadi setelah pemberian
senyawa-senyawa sulfonilurea disebabkan oleh perangsangan sekresi insulin oleh
kelenjar pankreas. Obat golongan ini merupakan pilihan untuk diabetes dewasa
baru dengan berat badan normal dan kurang serta tidak pernah mengalami
ketoasidosis sebelumnya
Sulfonilurea generasi pertama
Tolbutamid diabsorbsi dengan baik tetapi cepat dimetabolisme dalam hati. Masa
kerjanya relatif singkat, dengan waktu paruh eliminasi 4-5 jam (Katzung, 2002).
Dalam darah tolbutamid terikat protein plasma. Di dalam hati obat ini diubah
menjadi karboksitolbutamid dan diekskresi melalui ginjal
Asektoheksamid dalam tubuh cepat sekali mengalami biotransformasi, masa paruh
plasma 0,5-2 jam. Tetapi dalam tubuh obat ini diubah menjadi 1-hidroksilheksamid

yang ternyata lebih kuat efek hipoglikemianya daripada asetoheksamid sendiri.


Selain itu itu 1-hidroksilheksamid juga memperlihatkan masa paruh yang lebih
panjang, kira-kira 4-5 jam
Klorpropamid cepat diserap oleh usus, 70-80% dimetabolisme di dalam hati dan
metabolitnya cepat diekskresi melalui ginjal. Dalam darah terikat albumin, masa
paruh kira-kira 36 jam sehingga efeknya masih terlihat beberapa hari setelah
pengobatan dihentikan
Tolazamid diserap lebih lambat di usus daripada sulfonilurea lainnya dan efeknya
pada glukosa darah tidak segera tampak dalam beberapa jam setelah pemberian.
Waktu paruhnya sekitar 7 jam
Sulfonilurea generasi kedua
Gliburid (glibenklamid) khasiat hipoglikemisnya yang kira-kira 100 kali lebih kuat
daripada tolbutamida. Sering kali ampuh dimana obat-obat lain tidak efektif lagi,
risiko hipoglikemia juga lebih besar dan sering terjadi. Pola kerjanya berlainan
dengan sulfonilurea yang lain yaitu dengan single-dose pagi hari mampu
menstimulasi sekresi insulin pada setiap pemasukan glukosa (selama makan) Obat
ini dimetabolisme di hati, hanya 21% metabolit diekresi melalui urin dan sisanya
diekskresi melalui empedu dan ginjal
Glipizid memiliki waktu paruh 2-4 jam, 90% glipizid dimetabolisme dalam hati
menjadi produk yang aktif dan 10% diekskresikan tanpa perubahan melalui ginjal.
Glimepiride dapat mencapai penurunan glukosa darah dengan dosis paling rendah
dari semua senyawa sulfonilurea. Dosis tunggal besar 1 mg terbukti efektif dan
dosis harian maksimal yang dianjurkan adalah 8 mg. Glimepiride mempunya
waktu paruh 5 jam dan dimetabolisme secara lengkap oleh hati menjadi produk
yang tidak aktif
b. Golongan Biguanida
Golongan ini yang tersedia adalah metformin, metformin menurunkan glukosa
darah melalui pengaruhnya terhadap kerja insulin pada tingkat selular dan
menurunkan produksi gula hati. Metformin juga menekan nafsu makan hingga
berat badan tidak meningkat, sehingga layak diberikan pada penderita yang
overweight
c. Golongan Tiazolidindion
Golongan obat baru ini memiliki kegiatan farmakologis yang luas dan berupa
penurunan kadar glukosa dan insulin dengan jalan meningkatkan kepekaan bagi
insulin dari otot, jaringan lemak dan hati, sebagai efeknya penyerapan glukosa ke
dalam jaringan lemak dan otot meningkat. Tiazolidindion diharapkan dapat lebih
tepat bekerja pada sasaran kelainan yaitu resistensi insulin tanpa menyebabkan
hipoglikemia dan juga tidak menyebabkan kelelahan sel pankreas. Contoh:
Pioglitazone, Troglitazon.
d. Golongan Inhibitor Alfa Glukosidase
Obat ini bekerja secara kompetitif menghambat kerja enzim glukosidase alfa di
dalam saluran cerna sehingga dapat menurunkan hiperglikemia postprandrial. Obat
ini bekerja di lumen usus dan tidak menyebabkan hipoglikemia dan juga tidak
berpengaruh pada kadar insulin. Contoh: Acarbose
4. Plan
Diagnosis: Diabetes Mellitus tipe 2

Pengobatan:
- IVFD NaCl 0,9% kolf (IGD)
- IVFD NaCl 20 gtt/I + drip neurosanbe 1 amp/24 jam
- RI drip 2 IU/jam via syiring pump
- Inj ranitidin 1 amp/8 jam
- Magalat 3xC1

Rencana penjajakan:
Darah rutin
Urin rutin
Kimia darah
Elektrolit
GDS per 6 jam
Pendidikan: edukasi dilakukan pada pasien dan keluarga pasien mengenai penyakit
diabetes mellitus dengan bahasa awam beserta penyebab dan penanganannya.
Konsultasi: Dijelaskan kepada pasien mengenai langkah langkah diagnosis serta
anjuran pemeriksaan tambahan seperti darah rutin, urin rutin, kimia darah, elektrolit
dan gula darah per 6 jam serta komplikasi komplikasi yang mungkin muncul.
Penjelasan juga mencakup mengenai jenis obat-obatan dan tindakan. Pasien juga
dijelaskan mengenai tanda-tanda hipoglikemia dan penanganan awalnya.