Anda di halaman 1dari 30

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengetahuan
1. Pengertian
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi
melalui panca indra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran,
penciuman, rasa dan raba (Notoatmodjo, 2007).
Pengetahuan (knowledge) adalah pengenalan akan sesuatu, atau apa
yang akan dipelajari. Ahli lain menyatakan pengetahuan adalah akumulasi
pengalaman inderawi yang dicatat dalam otak masing-masing diberi nama
setempat

dan

dikomunikasikan

seperlunya

secara

abstrak

tanpa

menunjukkan benda yang bersangkutan secara fisik (Atmadilaga, 1993


dalam Budiman, 2011).
2. Dasar-Dasar Pengetahuan
Dasar-dasar pengetahuan mencakup 3 aspek, di antaranya
(Budiman, 2011):
1) Penalaran
Penalaran adalah suatu proses berpikir dalam menarik sesuatu
kesimpulan yang berupa pengetahuan (Suriasumantri, 1999 dalam
Budiman, 2011). Penalaran menghasilkan pengetahuan yang dikaitkan

10

dengan kegiatan berpikir dan bukan dengan perasaan. Karena berpikir


merupakan suatu kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang benar.
Ciri-ciri penalaran mencakup:
1) Adanya suatu pola berpikir yang secara luas disebut logika
2) Adanya sifat analitik dari proses berpikir
2) Logika
Logika adalah suatu teori mengenai syarat-syarat penalaran
yang sah atau studi tentang aturan-aturan mengenai penalaran yang tepat
dengan bentuk dan pola pikiran yang masuk akal dan syah. Secara luas
logika sebagai pengkajian untuk berpikir secara sahih. Logika
diperlukan untuk menemukan pengetahuan yang diperoleh melalui
penalaran.
3) Sumber Pengetahuan
1) Sumber Pengetahuan melalui Penalaran
a) Berdasarkan Rasio
Secara umum rasio diartikan sebagai kemampuan untuk
melakukan
merefleksikan,

abstraksi,

memahami,

memperhatikan

perbedaan-perbedaan,

dan

menghubungkan,
kesamaan-kesamaan,

sebagainya.

Orang

yang

mengembangkan pemahaman rasio disebut kaum rasionalisme.


Kaum rasionalisme selalu berpikir mulai dari suatu pernyataan

11

yang sudah pasti.


b) Berdasarkan Empiris
Empiris disebut juga pengalaman. Pengalaman diartikan
sebagai mengalami peristiwa, perasaan, emosi, penderitaan,
kejadian, keadaan kesadaran. Orang yang mengembangkan
pemahaman empiris disebut empirisme. Berbeda dengan kaum
rasionalisme pengetahuan manusia itu bukan didapatkan
melalui penalaran rasional yang bersifat abstrak, namun lewat
pengalaman konkret.
2) Sumber Pengetahuan bukan melalui Penalaran
a) Intuisi
Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui
proses penalaran tertentu. Seseorang yang sedang terpusat
pemikirannya pada suatu masalah tiba-tiba saja dia sudah
menemukan jawaban atas permasalahan tersebut. Intuisi bersifat
personal dan tidak bisa diramalkan. Pengetahuan intuisi dapat
dipergunakan sebagai hipotesis bagi analisis selanjutnya dalam
menentukan benar tidaknya pernyataan yang ditemukan.
b) Wahyu

12

Wahyu merupakan pengetahuan yang disampaikan oleh Tuhan


kepada manusia. Pengetahuan ini disalurkan lewat para Nabi
yang diutus sesuai zamannya. Agama merupakan sumber
pengetahuan bukan saja mengenai kehidupan sekarang yang
terjangkau pengalaman, namun juga mencakup masalahmasalah transdental.
3) Kriteria Kebenaran
Filsafat berkembang berdasarkan anggapan bahwa ada kebenaran
yang harus ditemukan.
3. Tingkat Pengetahuan dalam Domain Kognitif
Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif memiliki 6
tingkatan yaitu (Bloom, 1956 dalam Notoatmodjo, 2007):
a. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah
dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini
adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh
bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab
itu, tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.
b. Memahami (Comprehension)

13

Memahami

diartikan

sebagai

suatu

kemampuan

untuk

menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat


menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
c. Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan
materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya).
Aplikasi ini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukumhukum, rumus, metode dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang
lain.
d. Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi
atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam
satu struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain.
e. Sintesis (Synthesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan
atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan
yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk
menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.
f. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan
justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-

14

penilaian ini didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau
menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.
4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
Pengetahuan dipengaruhi oleh faktor (Notoadmojo, 2007):
a. Pendidikan
Pendidikan adalah proses belajar yang berarti terjadi proses
pertumbuhan, perkembangan atau perubahan ke arah yang lebih dewasa,
lebih baik dan lebih matang pada diri individu, keluarga atau
masyarakat. Beberapa hasil penelitian mengenai pengaruh pendidikan
terhadap perkembangan pribadi, bahwa pada umumnya pendidikan itu
mempertinggi taraf intelegensi individu.
Makna pendidikan secara sederhana dapat diartikan sebagai
usaha manusia membangun kepribadian sesuai dengan nilai-nilai dalam
masyarakat dan kebudayaan manusia. Proses pendidikan dapat
dikatakan berjalan sepanjang manusia untuk melestarikan hidupnya.
b. Persepsi
Persepsi, mengenal dan memilih objek sehubungan dengan yang
akan diambil. Persepsi bersifat subjektif, rangsangan yang sama dapat
dipersepsikan berbeda. Persepsi juga merupakan suatu proses dimana
seseorang memilih, mengorganisasikan, dan memberi arti pada
rangsangan, baik bersifat internal maupun eksternal.
c. Motivasi

15

Motivasi merupakan dorongan, keinginan dan tenaga penggerak


yang berasal dari dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu dengan
mengesampingkan hal-hal yang dianggap kurang bermanfaat. Motivasi
adalah adanya kekuatan dorongan yang menggerakan kita untuk
berperilaku tertentu (Notoatmodjo, 2007).
d. Pengalaman
Pengalaman

adalah

sesuatu

yang

dirasakan

(diketahui,

dikerjakan) juga merupakan kesadaran akan suatu hal yang tertangkap


oleh indera manusia. Pengalaman merupakan guru yang baik, yang
menjadi sumber pengetahuan dan juga merupakan suatu cara untuk
memperoleh kebenaran pengetahuan. Oleh sebab itu pengalaman pribadi
pun dapat digunakan sebagai upaya untuk memperoleh pengetahuan
(Notoatmodjo, 2007).
Faktor eksternal yang mempengaruhi pengetahuan antara lain
meliputi: lingkungan, sosial, ekonomi, kebudayaan dan informasi.
Lingkungan sebagai faktor yang berpengaruh bagi pengembangan sifat dan
perilaku individu. Sosial ekonomi, penghasilan sering dilihat untuk memiliki
hubungan antar tingkat penghasilan dengan pemanfaatan.
5. Cara Mencari Pengetahuan
Terdapat

banyak

(Notoatmodjo, 2007):
a. Cara tradisional

cara

untuk

mencari

pengetahuan

yaitu

16

Untuk memperoleh pengetahuan, cara kuno atau tradisional


dipakai

orang

memperoleh

kebenaran

pengetahuan,

sebelum

ditemukannya metode ilmiah untuk metode penemuan secara sistematik


dan logis.
b. Cara coba-salah (trial and error)
Cara ini telah dipakai orang sebelum adanya kebudayaan, bahkan
mungkin sebelum adanya peradapan. Pada waktu itu seseorang apabila
menghadapi persoalan untuk masalah, upaya pemecahannya dilakukan
dengan cara coba-coba saja. Dimana metode ini telah digunakan orang
dalam waktu yang cukup lama untuk memecahkan berbagai masalah.
Bahkan sekarang ini metode coba-coba masih sering dipergunakan
terutama oleh mereka yang belum atau tidak mengetahui cara
memecahkan masalah.
c. Kekuasaan atau otoritas
Dalam kehidupan manusia sehari-hari, banyak sekali kebiasaan
dan tradisi-tradisi yang dilakukan oleh orang tanpa melakukan penalaran
apakah yang dilakukan tersebut baik atau tidak. Kebiasaan ini biasanya
diwariskan turun temurun dari generasi berikutnya.
d. Berdasarkan pengalaman pribadi
Pengalaman adalah guru yang baik, dimana pengalaman itu
merupakan sumber pengetahuan, atau pengetahuan itu merupakan suatu
cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Pengalaman pribadipun

17

dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan. Perlu


diperhatikan bahwa tidak semua pengalaman pribadi dapat menuntun
seseorang untuk menarik kesimpulan dengan benar, maka perlu berfikir
kritis dan logis.
e. Melalui jalan pikir
Sejalan dengan perkembangan kebudayaaan umat manusia, cara
berfikir manusia pun ikut berkembang. Dari sini manusia telah mampu
menggunakan

penalarannya

dalam

memperoleh

pengetahuannya.

Dengan kata lain dalam memperoleh kebenaran pengetahuan manusia


telah menggunakan jalan pikirannya baik melalui induksi dan deduksi.
f. Cara modern dalam memperoleh pengetahuan
Cara ini disebut metode penelitian ilmiah atau metodologi
penelitian. Cara ini mula-mula mengadakan pengamatan langsung
terhadap gejala-gejala alam atau kemasyarakat kemudian hasil
pengmatannya tersebut dikumpulkan dan diklasifikasikan dan akhirnya
diambil kesimpulan umum.
6. Cara Pengukuran Pengetahuan
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau
angket yang menyatakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek
penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui
atau kita ukur dapat disesuaikan (Notoadmojo, 2007).

18

B. Ibu Hamil
1. Gizi Ibu Hamil
a. Pengertian Gizi Ibu Hamil
Gizi dan Nutrisi ibu hamil merupakan hal penting yang harus
dipenuhi selama kehamilan berlangsung. Istilah gizi berasal dari bahasa
Arab giza yang berarti zat makanan, dalam bahasa Inggris dikenal dengan
istilah nutrition yang berarti bahan makanan atau zat gizi atau sering
diartikan sebagai ilmu gizi. Pengertian lebih luas bahwa gizi diartikan
sebagai proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara
normal

melalui

penyimpanan,

proses

metabolisme,

pencernaan,
dan

penyerapan,

pengeluaran

zat

transportasi,
gizi

untuk

mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal organ tubuh


serta untuk menghasilkan tenaga. (Irianto, 2007).
Gizi dapat diperoleh dari makanan yang membantu tubuh agar
tetap sehat, Supariasa, dkk (2002 dalam Najoan dan Manampiring, 2011)
menjelaskan bahwa suatu proses organisme menggunakan makanan yang
dikonsumsi

secara

normal

melalui

proses

pencernaan,

absobsi,

transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang


tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan
fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi.
Gizi ibu hamil merupakan nutrisi yang diperlukan dalam jumlah
yang banyak untuk pemenuhan gizi ibu sendiri dan perkembangan janin

19

yang dikandungnya (Bobak, dkk,2005). Mitayani (2010) menyatakan gizi


ibu hamil adalah zat makanan atau menu yang takaran semua zat gizinya
dibutuhkan oleh ibu hamil setiap hari dan mengandung zat gizi seimbang
dengan jumlah sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan.

b. Kebutuhan Gizi Ibu Hamil


Berikut adalah informasi kebutuhan gizi ibu hamil yang harus
diperhatikan (Sibagariang, 2010):
1) Protein
Komponen sel tubuh ibu dan janin sebagian besar terdiri dari protein.
Perubahan dalam tubuh ibu seperti plasenta juga memerlukan protein.
Jenis protein yang dikonsumsi sebaiknya yang mempunyai nilai
biologi tinggi seperti daging, ikan, telur, tahu, tempe, kacangkacangan, biji-bijian, susu, yogurt.
2) Karbohidrat dan serat
Tubuh ibu hamil memerlukan cukup persediaan energi setiap menit
selama 280 hari untuk pertumbuhan janin dan untuk membentuk sel
tubuh oleh protein. Karbohidrat seperti beras, serelia, gandum, dan
lain-lain adalah sumber energi utama. Agar kebutuhan energi ibu hamil
terpenuhi, maka disarankan untuk makan 3 porsi karbohidrat atau serat

20

makanan setiap hari. Serat sangat penting terutama bagi ibu hamil
yang sering mengalami konstipasi. Makanan berserat tinggi seperti
padi-padian, buah segar dan sayuran segar dapat mengatasi konstipasi.
Meskipun serat bukan zat gizi tetapi keberadaannya sangat diperlukan.
3) Lemak
Lemak dapat membantu tubuh untuk menyerap banyak nutrisi. Lemak
juga menghasilkan energi dan menghemat protein untuk dimanfaatkan
dalam fungsi-fungsi pertumbuhan jaringan plasenta dan janin. Bagi ibu
hamil lemak juga dapat disimpan sebagai cadangan tenaga untuk
menjalani persalinan dan pemulihan pasca persalinan. Cadangan lemak
yang terdapat pada ibu hamil juga bermanfaat untuk membantu proses
pembentukan ASI. Meskipun kemak merupakan sumber energi namun
sebagian besar energi diambil dari karbohidrat. Bayi memerlukan asam
linoleat (banyak terdapat pada minyak kedelai, minyak jagung, minyak
biji matahari, minyak biji kapas) dan asam lemak esensial yang
penting untuk perkembangan pusat susunan syaraf, termasuk sel otak.
4) Vitamin
Vitamin penting untuk pembelahan dan pembentukan sel baru. Selama
hamil, kebutuhan asam folat dan vitamin B lain seperti thiamin,
roboflavin dan niacin meningkat untuk membantu pembentukan
energi. Selain itu vitamin B6 diperlukan untuk membantu protein
membentuk sel-sel baru. Asam folat terutama diperlukan pada 3 bulan

21

pertama kehamilan untuk mengurangi risiko pertumbuhan kritis yang


berlangsung pada 3 bulan pertama kehamilan. Kebutuhan B12 juga
meningkat. Vitamin ini terdapat dalam daging, susu, telur, dan
makanan hewani lainnya. Kebutuhan vitamin C meningkat sedikit
untuk membantu enyerapan zat besi yang berasal dari bahan makanan
nabati. Kebutuhan vitamin D meningkat untuk penyerapan kalsium.

5) Mineral
Mineral berperan pada pertumbuhan tulang dan gigi. Mineral yang
sangat dibutuhkan selama kehamilan adalah kalsium, zat besi dan
seng. Wanita hamil memerlukan lebih banyak kalsium terutama pada
trimester 3 kehamilan. Kalsium dibutuhkan untuk pertumbuhan janin
serta untuk persediaan ibu hamil sendiri agar pembentukan tulang
janin tidak mengambil dari persediaan kalsium ibu. Sumber kalsium
dapat diperoleh dari susu dan hasil olahannya, ikan/hasil laut, sayuran
berwarna hijau dan kacang-kacangan.
Zat besi penting untuk pembentukan hemoglobin. Untuk meningkatkan
masa hemoglobin diperlukan zat besi sekitar 500 mg (termasuk
simpanan) karena selama kehamilan volume darah meningkat sampai
50%. Pada saat melahirkan ada zat besi yang hilang sebanyak 250 mg
belum termasuk untuk janin dan plasenta. Kekurangan harus dipenuhi
selama trimester 2 dan 3. Sumber zat besi adalah makanan yang

22

berasal dari hewan yaitu daging, ayam dan telur serta kacangkacangan, biji-bijian dan sayuran hijau. Kekurangan zat besi yang
umum diderita ibu hamil dapat meningkatkan resiko kelahiran bayi
prematur atau bayi dengan berat badan rendah dan ibunya yang
menderita Anemia.
Seng diperlukan untuk fungsi reproduksi, pertumbuhan janin, sistem
pusat syaraf dan fungsi kekebalan tubuh. Kekurangan seng akan
menghambat pertumbuhan janin dalam kandungan bahkan tidak
menutup kemungkinan akan terjadi kasus kretinisme (cebol) pada bayi
yang dilahirkan. Selain itu, konsumsi seng yang tidak mencukupi akan
mempengaruhi daya pengecap dan pembau si ibu. Hal ini akan
berakibat pada penurunan nafsu makan si ibu. Seng terdapat pada
bahan makanan dari hewan misalnya daging, makanan dari laut dan
unggas, serta padi-padian.
Asam folat diperlukan untuk membentuk sel baru. Setelah konsepsi,
asam folat membantu mengembangkan sel syaraf dan otak janin.
Sumber asam folat adalah hati, sayuran berwarna hijau, jeruk,
kembang kol, kacang kedelai/kacang-kacangan lain, roti gendum,
serelia, ragi.
6) Air
Air mengangkut zat gizi ke seluruh tubuh termasuk plasenta dan
membawa sisa makanan ke luar tubuh. Jika ibu hamil mengalami

23

muntah-muntah, maka disarankan untuk minum cairan sebanyak


mungkin, minimal 3 liter per hari-hari.
7) Yodium
Yodium merupakan bahan dasar hormon tiroksin yang berfungsi dalam
pertumbuhan dan perkembangan otak bayi.
Bagi ibu hamil, pada dasarnya semua zat gizi memerlukan namun
yang seringkali menjadi kekurangan adalah energi, protein dan beberapa
mineral seperti zat besi dan kalsium. Kebutuhan energi pada trisemester I
meningkat secara minimal, kemudian sepanjang trisemester II dan II
kebutuhan energi terus meningkat sampai akhir kehamilan. Energi
tambahan selama trimester II diperlukan untuk pemekaran jaringan ibu
seperti pertambahan volume darah, pertambahan uterus dan payudara
serta penumpukan lemak. Selama trisemester III energi tambahan
digunakan untuk pertumbuhan janin dan plasenta (Lubis, 2003).
c. Makanan
1) Gizi pada Ibu Hamil dengan Anemia
Gizi yang perlu dikonsumsi bagi ibu hamil yang mengalami Anemia
yaitu mengkonsumsi pangan hewani dan gizi yang cukup dapat
mencegah Anemia gizi besi. Jumlah Fe yang dianjurkan pada ibu
hamil adalah 18mg/hari. Setiap ibu hamil diharapkan meminum paling
sedikit 90 tablet selama hamil sesegera mungkin setelah rasa mual
berkurang atau hilang (Depkes). Konsumsi tablet besi (Tablet Fe)

24

secara baik memberi peluang terhindarnya dari Anemia. Tablet Fe di


anjurkan di minum diantara dua kali waktu makan (Martini,2004). Zat
besi juga dapat ditemukan pada sayuran berwarna hijau gelap. Perlu
diperhatikan bahwa zat besi yang terdapat pada daging lebih mudah
diserap tubuh daripada zat besi pada sayuran atau pada makanan
olahan seperti sereal yang diperkuat dengan zat besi (Arisman,2010).
Vitamin C diperlukan untuk meningkatkan penyerapan zat besi di
dalam tubuh, peningkatan konsumsi vitamin C sebanyak 20 mg, 50
mg, 100 mg, dan 250 mg dapat memperbesar penyerapan zat besi
sebesar 2 kali, 3 kali, 4 kali, dan 5 kali (Murtini, 2004).
Berikut ini adalah jenis-jenis makanan yang mengandung zat besi :
Tabel.2.1 Makanan yang Mengandung Zat Besi
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Jenis Makanan yang Mengandung Zat Besi


Daging
Hati
Ikan
Telur
Bayam
Kankung
Buncis
Kacang polong
Kacang tanah
Daun Singkong

2. Status Gizi Ibu Hamil


a. Pengertian Status Gizi pada Ibu Hamil

Kandungan (Mg)
2,8
7
2,5
1
3,9
2,5
1
7,5
10
2,0

25

Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam


bentuk variabel tertentu atau dapat dikatakan bahwa status gizi
merupakan indikator baik-buruknya penyediaan makanan sehari-hari
(Irianto, 2007).
Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam
bentuk variabel tertentu atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk
variabel tertentu (Sibagariang, 2010).
Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi
makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Dibedakan antara status gizi buruk,
kurang, baik, dan lebih (Almatsier, 2004).
Status gizi adalah status kesehatan yang dihasilkan oleh
keseimbangan antara kebutuhan dan masukan nutrien (Beck, 2011).
Penilaian status gizi adalah interpretasi dari data yang didapatkan
dengan menggunakan berbagai metode untuk mengidentifikasi populasi
atau individu yang berisiko atau dengan status gizi buruk (Departemen
Gizi dan Kesehatan Masyarakat, 2011).
Penilaian status gizi (nutritional assessment) adalah pengukuran
yang didasarkan pada data antropometrik serta biokimiawi dan riwayat
diet (Beck, 2011).
Status gizi ibu sebelum dan selama hamil dapat mempengaruhi
pertumbuhan janin yang sedang dikandung. Bila status gizi ibu normal
pada masa sebelum dan selama hamil kemungkinana besar akan

26

melahirkan bayi yang sehat, cukup bulan dengan berat badan normal.
Seorang ibu hamil akan melahirkan bayi yang sehat bila tingkat kesehatan
dan gizinya berada kondisi yang baik (Sibagariang, 2010).
b. Kriteria Gizi pada Ibu Hamil
1) Ibu Hamil Trisemester
Seorang ibu yang sedang hamil mengalami kenaikan berat badan
sebanyak 10-12 kg. Pada trimester I kenaikan berat badan seorang ibu
tidak mencapai 1 kg, namun setelah mencapai trimester II pertambahan
berat badan semakin banyak yaitu sekitar 3 kg dan pada trimester III
sekitar 6 kg (Weni, 2010)

Pada masa kehamilan trimester III (28-40 minggu), penatalaksanaan


gizi pada ibu hamil bertujuan mencapai status gizi ibu yang optimal
sehingga ibu menjalani kehamilan dengan aman, melahirkan bayi
dengan potensi fisik dan mental, serta memonitor kesehatan janin dan
ibunya. Total kenaikan berat badan yang disarankan selama kehamilan
trimester III IMT (indeks masa tubuh) (kg/m) (Nanni, 2007 dalam
Retnaningsih, 2010):
a) Kurus (IMT <18,5)
b) Normal (IMT 18,5-22,9)
c) Overwight (IMT 23-29,9)
d) Obesitas (IMT >30)

27

IMT merupakan alat sederhana untuk memantau status gizi orang


dewasa khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan
berat badan, maka mempertahankan berat badan normal memungkinkan
seseorang dapat mencapai

harapan hidup yang lebih panjang. IMT

hanya dapat digunakan untuk orang dewasa yang berumur diatas 18


tahun.
Indeks Massa Tubuh diukur dengan cara membagi berat badan dalam
satuan kilogram dengan tinggi badan dalam satuan meter kuadrat
(Gibson, 2005).
Berat badan (kg)
IMT =
Tinggi badan (m) x Tinggi badan (m)
c. Metode Penilaian Status Gizi
1) Umum
Metode dalam penilaian status gizi dibagi dalam tiga kelompok.
Kelompok pertama, metode secara langsung yang terdiri dari penilaian
dengan melihat tanda klinis, tes laboratorium, metode biofisik, dan
antropometri. Kelompok kedua, penilaian secara tidak langsung
dengan melihat statistik kesehatan dan kelompok terkahir adalah
penilaian dengan melihat variabel ekologi (Departemen Gizi dan
Kesehatan Masyarakat, 2011).
a)

Penilaian Status Gizi Secara Langsung

28

(1) Biokimia
Pemeriksaan laboratorium (biokimia), dilakukan melalui
pemeriksaan spesimen jaringan tubuh (darah, urine, tinja,
hati dan otot) yang diuji secara laboratoris terutama untuk
mengetahui kadar

hemoglobin,

feritin, glukosa, dan

kolesterol. Pemeriksaan biokimia bertujuan mengetahui


kekurangan gizi spesifik (Irianto, 2007).
(2) Pemeriksaan Tanda-Tanda Klinik
Penilaian tanda-tanda klnik berdasarkan pada perubahan
yang terjadi berhubungan dengan kekurangan atau kelebihan
zat gizi yang dapat dilihat pada jaringan epitel di mata, kulit,
rambut, mukosa mulut, dan organ yang dekat dengan
permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid (Departemen Gizi
dan Kesehatan Masyarakat, 2011). Pemeriksaan klinis
bertujuan mengetahui status kekurangan gizi dengan melihat
tanda- tanda khusus.
(3) Pemeriksaan Biofisik
Pemeriksaan dilakukan dengan melihat kemampuan fungsi
serta perubahan struktur jaringan. Pemeriksaan biofisik
bertujuan mengetahui situasi tertentu (Irianto, 2007). Pada
Anemia dilakukan pemeriksaan phisycal performance

29

(energy expenditure and work capacity) (Departemen Gizi


dan Kesehatan Masyarakat, 2011).

(4) Pengukuran Antopometri


Pengukuran

antopometri

dimensi tubuh dan

adalah

pengukuran

terhadap

omposisi tubuh. Antopometri adalah

pengukuran yang paling sering digunakan sebagai metode


penilaian status gizi untuk melihat dua masalah utama gizi,
yaitu: (1) kurang energi protein, khususnya pada anak-anak
dan ibu hamil, (2) obesitas pada semua kelompok umur
(Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat, 2011).
Pemeriksaan

anthropometri

dilakukan

dengan

cara

mengukur: tinggi badan, berat badan, lingkar lengan atas,


tebal lemak tubuh (triceps, biceps, subscapula dan
suprailliaca).

Pengukuran

anthropometri

bertujuan

mengetahui status gizi berdasarkan satu ukuran menurut


ukuran lainnya (Irianto, 2007).
b) Penilaian Status Gizi Secara Tidak Langsung
Selain pemeriksaan status gizi secara langsung, dapat juga dilakukan
pemeriksaan secara tidak langsung yang meliputi (Irianto, 2007):
(1) Survei Konsumsi

30

Penilaian konsumsi makanan; dilakukan dengan wawancara


kebiasaan makan dan penghitungan konsumsi makanan seharihari. Tujuan penilaian ini adalah mengidentifikasi kekurangan
dan kelebihan gizi.
(2) Statistik Vital
Pemeriksaan dilakukan dengan menganalisis data kesehatan
seperti angka kematian, kesakitan dan kematian akibat hal-hal
yang berhubungan dengan gizi. Pemeriksaan ini bertujuan
menemukan indikator tidak langsung status gizi masyarakat.
(3) Faktor Ekologi
Pengukuran status gizi didasarkan atas ketersediaan makanan
yang dipengaruhi oleh faktor ekologi (iklim, tanah, irigasi, dll).
Faktor- faktor ekologi tersebut perlu diketahui untuk mengetahui
penyebab malnutrisi masyarakat.
2) Pengukuran Langsung pada Ibu Hamil
Pengukuran langsung pada ibu hamil trisemester III adalah dengan
pengukuran antopometri khususnya pengukuran LILA (Lingkar lengan
atas). LILA merupakan salah satu cara untuk menilai status gizi yang
dilakukan secara antropometri (Supariasa, dkk, 2002 dalam Asyirah,
2012). LILA adalah salah satu cara untuk mengetahui keadaan gizi
Wanita Usia Subur (WUS) yang paling sederhana dengan cara
mengukur lingkar lengan atas (Depkes dan kesejahteraan sosial RI,

31

2000). Pengukuran lingkar lengan atas menggunakan pita LILA


dengan ketentuan apabila ukuran LILA kurang dari 23,5 cm dapat
dikatakan menderita KEK (Kekurangan Energi Kronis) (Suparisa,
2002 dalam Asyirah, 2012).
C. Anemia pada Ibu Hamil
1. Pengertian
Anemia adalah kekurangan Haemoglobin (Hb). Hb adalah protein
dalam sel darah merah, yang mengantar oksigen dari paru ke bagian tubuh
yang lain. Anemia menyebabkan kelelahan. sesak nafas dan pusing
(Syafrudin, Karningsih dan Dairi, 2011).
Anemia didefinisikan sebagai keadaan dimana level Hb rendah
karena kondisi patologis (Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat,
2011).
2. Penyebab
Defesiensi Ferum (Fe) merupakan salah satu penyebab Anemia,
tetapi bukanlah satu-satunya penyebab Anemia. Penyebab lainnya adalah
infeksi kronik, khususnya malaria dan defisiensi asam folat (Departemen
Gizi dan Kesehatan Masyarakat, 2011).
Anemia dapat terjadi bila tubuh kita tidak membuat sel darah merah
secukupnya. Anemia juga disebabkan kehilangan atau kerusakan pada sel

32

tersebut. Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan Anemia (Syafrudin,


Karningsih dan Diari, 2011):
a. Kekurangan zat besi, vitamin B12 atau asam folat. Anemia
Megalobiastik disebabkan kekurangan zat asam folat, arinya ukuran sel
darah merah yang besar dan berwarna merah muda.
b. Kerusakan pada sumsum tulang dan ginjal.
c. Kehilangan darah akibat perdarahan dalam satu siklus haid perempuan.
d. Penghancuran sel darah merah (Anemia Hemolitik).
e. Infeksi, misalnya infeksi HIV dan infeksi oportunistik terkait dengan
penyakit HIV.
f. Obat-obatan. Ada beberapa obat yang dapat menyebabkan Anemia,
misalnya obat yang dipakai untuk mengobati HIV dan infeksi terkait,
dan beberapa obat-obatan fisioterapi
g. Kehamilan. Pada kehamilan terjadi proses hemodilusi (pengenceran
darah) yang dapat menyebaban Anemia Defisiensi Besi (Anemia yang
disebabkan kekurangan zat besi).
3. Tanda Gejala Anemia
Menurut Syafrudin, Karningsih dan Diari (2011) gejala umum
Anemia adalah lesu, lemah, cepat letih, pucat lama, pusing, dan mudah
mengantuk. Kadang disertai dengan kulit kering, kuku kusam, kulit
berwarna kuning, terutama pada orang yang sulit makan, sakit lama,

33

perdarahan kronik, infeksi cacing, penyakit keganasan, ibu hamil dan


menyusui serta orang yang lanjut usia.
Gejala fisik Anemia defisiensi zat besi berupa badan lemah, lelah,
kekurangan energi, kurang nafsu makan, daya konsentrasi menurun, sakit
kepala, mudah terinfeksi penyakit, stamina tubuh menurun, dan pandangan
berkunang-kunang terutama bila bangkit dari duduk. Selain itu, wajah,
selaput lendir kelopak mata, bibir, dan kuku penderita Anemia tampak pucat
Bahkan pada Anemia yang berat, dapat berakibat penderita sesak napas,
bahkan lemah jantung.
Alam (2012) menambahkan bahwa gejala Anemia adalah Ibu
mengeluh cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang, malaise, lidah
luka, nafsu makan turun (anoreksia), konsentrasi hilang, nafas pendek (pada
Anemia parah), dan keluhan mual muntah lebih hebat pada hamil muda.
4. Klasifikasi Anemia pada Kehamilan
Menurut Alam (2012) Anemia pada kehamilan terbagi menjadi
Anemia Defisiensi Besi, Anemia Megaloblastik, Anemia Hipoplastik dan
Anemia Hemolitik.
a. Anemia Defisiensi Besi
Anemia defisiensi besi adalah Anemia yang terjadi akibat
kekurangan zat besi dalam darah.
Pengobatannya dengan pemberian tablet zat besi yang bisa
dilakukan dengan dua cara. Yaitu, terapi oral dan parenteral. Terapi oral

34

dilakukan dengan memberikan preparat besi, yaitu fero sulfat, fero


glukonat atau Na-fero bisirat. Pemberian preparat 60 mg/hari dapat
menaikan kadar Hb sebanyak 1 gr%/bulan. Jika pasien tidak tahan
dengan terapi ini, maka bisa dilakukan dengan terapi parenteral.
Pemeriksaan dan pengawasan Hb dapat dilakukan dengan
menggunakan alat sachli, dilakukan minimal 2 kali selama kehamilan,
yaitu trimester I dan III. Hasil pemeriksaan Hb dengan sachli dapat
digolongkan sebagai berikut.
1) Hb 11 gr%

: Tidak Anemia

2) Hb 9-10 gr%

: Anemia ringan

3) Hb 7 - 8 gr%

: Anemia sedang

4) Hb < 7 gr%

: Anemia berat

Kebutuhan zat besi pada wanita hamil rata-rata mendekati 800


mg Kebutuhan ini terdiri dari, sekitar 300 mg diperlukan untuk janin
dan plasenta, serta 500 mg lagi digunakan untuk meningkatkan massa
hemoglobin maternal, kurang lebih 200 mg lebih akan dieksresikan
lewat usus, urin, dan kulit .
b. Anemia Megaloblastik
Anemia Megaloblastik adalah Anemia yang disebabkan oleh
karena kekurangan asam folik.
c. Anemia Hipoplastik

35

Anemia Hipoplastik adalah Anemia yang disebabkan oleh


hipofungsi sumsum tulang dalam membentuk sel darah merah baru.
Untuk diagnostik diperlukan pemeriksaan darah di laboratorium.
d. Anemia Hemolitik
Anemia Hemolitik adalah Anemia yang disebabkan penghancuran atau pemecahan sel darah merah yang lebih cepat dari
pembuatannya. Pengobatannya tergantung pada jenis Anemia hemolitik
serta penyebabnya. Bila disebabkan oleh infeksi maka infeksinya
diberantas dan diberikan obat-obat penambah darah. Namun pada
beberapa jenis obat-obatan, hal ini tidak memberi hasil. Sehingga
transfusi darah berulang dapat membantu penderita ini.
5. Pencegahan
Menurut Syafrudin, Karningsih dan Diari (2011) untuk mencegah
Anemia pada ibu hamil sebaiknya diberi tablet zat besi agar menjamin
tercukupinya kebutuhan zat besi untuk janin, terutama perkembangan otak
dan darah. Pada trimester pertama kehamilan, zat besi yang dibutuhkan
sedikit karena tidak terjadi menstruasi dan pertumbuhan janin masih lambat.
Menginjak trimester kedua hingga ketiga, volume darah dalam tubuh wanita
akan meningkat sampai 35 %, ini ekuivalen dengan 450 mg zat besi untuk
memproduksi sel-sel darah merah. Sel darah merah harus mengangkut
oksigen lebih banyak untuk janin. Sedangkan, saat melahirkan, perlu
tambahan besi 300-350 mg akibat kehilangan darah. Sampai saat

36

melahirkan, wanita hamil membutuhkan zat besi sekitar 40 mg perhari atau


dua kali lipat kebutuhan kondisi tidak hamil.
Pada wanita hamil, Anemia Defiensi Zat Besi disebabkan oleh
konsumsi makanan yang tidak memenuhi syarat gizi dan kebutuhan yang
meningkat. Selain itu, kehamilan berulang dalam waktu singkat Cadangan
zat besi ibu yang belum pulih akhirnya terkuras untuk keperluan janin yang
dikandung berikutnya. Saat menyusui, meski biasanya wanita tidak
mengalami menstruasi, ibu tetap kehilangan zat besi dan kalsium melalui
ASI. Selain kehilangan basal normal sekitar 0,8 mg, kehilangan zat besi
melalui ASI mencapai sekitar 0,3 mg per hari. Maka, ibu menyusui butuh
tambahan zat besi 2 mg per hari serta kalsium 400 mg per hari.
Alam (2012) menambahkan bahwa penanganan untuk Anemia yang
tergolong berat, maka diperlukan penanganan yang cepat, yakni transfusi
darah atau pemberian obat zat besi secara interval. Jika Anemia yang dialami
ringan dan sedang, maka cukup diberikan suplemen zat besi dengan asam
folat.

37

D. Kerangka Teori
Pengetahuan tentang gizi ibu hamil

1.
Faktor yang mempengaruhi
pengetahuan :
-

Pendidikan
Persepsi
Motivasi
Pengalaman

Kebutuhan gizi ibu hamil :


-

Protein
Karbohidrat dan serat
Lemak
Vitamin
Mineral
Air Yodium

Status gizi ibu hamil

Penilaian tidak langsung

Penilaian Langsung

Kejadian anemia

38

Skema 2.1 Kerangka Teori


Sumber : Notoatmodjo 2007; Sibagariang, 2010; Irianto, 2007; Departemen Gizi dan
Kesehatan Masyarakat, 2011;