Anda di halaman 1dari 53

Mekanisme Persetujuan

Peta untuk RDTR

Isfandiar M. Baihaqi Diastarini Pusat Pemetaan Tata Ruang dan Atlas Badan Informasi Geospasial
Isfandiar M. Baihaqi
Diastarini
Pusat Pemetaan Tata Ruang dan Atlas
Badan Informasi Geospasial

Dasar Hukum

Dasar Hukum

FUNGSI RDTR MENURUT

PERMEN PU No 20/2011

RDTR dan peraturan zonasi berfungsi sebagai:

a.kendali mutu pemanfaatan ruang wilayah kabupaten/kota berdasarkan RTRW;

b.acuan bagi kegiatan pemanfaatan ruang yang lebih rinci dari kegiatan pemanfaatan ruang yang diatur

dalam RTRW;

c.acuan bagi kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang; d.acuan bagi penerbitan izin pemanfaatan ruang; dan

e.acuan dalam penyusunan RTBL.

MANFAAT RDTR MENURUT

PERMEN PU No 20/2011

RDTR dan peraturan zonasi bermanfaat sebagai:

a.penentu lokasi berbagai kegiatan yang mempunyai kesamaan

fungsi dan lingkungan permukiman dengan karakteristik

tertentu;

b.alat operasionalisasi dalam sistem pengendalian dan pengawasan pelaksanaan pembangunan fisik kabupaten/kota yang dilaksanakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah,

swasta, dan/atau masyarakat;

c.ketentuan intensitas pemanfaatan ruang untuk setiap bagian wilayah sesuai dengan fungsinya di dalam struktur ruang kabupaten/kota secara keseluruhan; dan

d.ketentuan bagi penetapan kawasan yang diprioritaskan untuk

disusun program pengembangan kawasan dan pengendalian pemanfaatan ruangnya pada tingkat BWP atau Sub BWP.

Verifikasi Status Perda

RTRW dan RDTR

Contoh : RDTR Kota Medan diamanatkan dalam Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 13 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Medan

Tahun 2011-2031

Pasal 14

Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 13 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Medan Tahun

Pemeriksaan Managemen

Data RTRW dan RDTR

Data spasial RTRW diatur dalam empat folder

utama, yaitu :

1.

Folder Peta Dasar

2.

Folder Peta Tematik

3.

Folder Peta Rencana

4.

Folder Album Peta

yaitu : 1. Folder Peta Dasar 2. Folder Peta Tematik 3. Folder Peta Rencana 4. Folder

Managemen Basis Data Geospasial

Managemen Basis Data Geospasial
Managemen Basis Data Geospasial

Sumber data peta RDTR

Foto udara atau citra satelit resolusi tinggi

Digital Elevation Model (DEM)

Sumber data peta RDTR • Foto udara atau citra satelit resolusi tinggi • Digital Elevation Model

Citra Satelit Resolusi Tinggi

1.

Citra satelit optis resolusi tinggi 1 meter (Quickbird, Geoeye/Worldview, Pleiades, dll)

2.

Citra satelit resolusi tinggi yang diperlukan untuk pemetaan 1:5000 adalah citra satelit Raw data (data mentah)

3.

Perekaman maksimal 2 tahun

4.

Tutupan awan kurang dari 10 %.

adalah citra satelit Raw data (data mentah) 3. Perekaman maksimal 2 tahun 4. Tutupan awan kurang

RESOLUSI GEOMETRIS

CITRA SATELIT QUICKBIRD

RESOLUSI GEOMETRIS CITRA SATELIT QUICKBIRD

Digital Elevation Model (DEM)

A. Untuk menghasilkan data ketinggian (DEM atau

kontur), perlu sumber data ketinggian:

Foto udara stereo

DSM dari IFSAR, TerraSAR, dll.

DSM dari LIDAR

B. Jika data-data tersebut tidak tersedia maka dapat menggunakan DEM TerraSar (res 7 m) untuk data yang tersedia di BIG dengan mempertimbangkan

keadaan relief daerah yang akan dipetakan.

C. Jika relief relatif datar bisa menggunakan SRTM dan ASTER, namun jika daerah bergunung

digunakan data yang lebih baik.

C. Jika relief relatif datar bisa menggunakan SRTM dan ASTER, namun jika daerah bergunung digunakan data

RESOLUSI GEOMETRIS

TERRA SAR

RESOLUSI GEOMETRIS TERRA SAR
RESOLUSI GEOMETRIS TERRA SAR

TAHAPAN PELAKSANAAN

KEGIATAN PEMETAAN

TAHAPAN PELAKSANAAN KEGIATAN PEMETAAN

CITRA SATELIT TEGAK

CITRA SATELIT TEGAK

ORTHOREKTIFIKASI

ORTHOREKTIFIKASI Pada tahap orthorektifikasi citra dilakukan: • Pengolahan GPS hasil pengukuran GCP • Plotting GCP

Pada tahap orthorektifikasi citra dilakukan:

Pengolahan GPS hasil pengukuran GCP

Plotting GCP terhadap citra satelit pada titik yang bersesuaian

Input citra satelit, titik GCP, dan DSM untuk menghasilkan citra satelit

orthorektifikasi. DSM yang digunakan, misal TerraSAR-X res 7.5 m

PENGUKURAN GROUND

CONTROL POINT (GCP)

Ground Control Point (GCP) Titik yang spesifik dan terlihat jelas pada citra serta mudah dikenali dilapangan yang digunakan

untuk melakukan koreksi geometrik pada citra satelit

Syarat Penempatan control point :

1. Persebaran merata tergantung dengan luasan dan bentuk citra satelit

2. Banyaknya jumlah Control point disesuaikan dengan luasan,

bentuk, dan kondisi relief daerah pemetaan

3. Standar jarak antar titik yang digunakan oleh BIG pada saat ini,

3-4 km untuk area yang relatif datar dan 2-3 km untuk area yang berbukit

4. Direncanakan pada objek yang spesifik, tampak jelas di citra dan

mudah dikenali di lapangan

Kriteria Pemilihan Obyek di Citra Satelit untuk GCP

Ukuran obyek lebih kecil dari 1 piksel.

Bentuk obyek harus jelas dan tegas.

Warna obyek harus kontras dengan warna disekitarnya.

Obyek harus dapat diidentifikasi secara jelas dan akurat pada citra.

Obyek harus berada atau mendekati permukaan tanah.

Bayangan obyek tidak boleh digunakan sebagai titik kontrol.

Obyek dengan pola yang sama sebaiknya dihindari.

Obyek merupakan obyek permanen dan diam serta diyakini tidak akan mengalami perubahan atau pergeseran pada saat pengukuran.

Obyek berupa perpotongan dua garis. Sebagai contoh adalah perpotongan dua jalan. Obyek berupa pojok /

Obyek berupa perpotongan dua garis. Sebagai contoh adalah perpotongan dua jalan.

dua garis. Sebagai contoh adalah perpotongan dua jalan. Obyek berupa pojok / tepi. Sebagai contoh adalah

Obyek berupa pojok / tepi. Sebagai contoh adalah pojok pagar.

CONTOH PEMILIHAN OBYEK SEBAGAI GCP

adalah pojok pagar. CONTOH PEMILIHAN OBYEK SEBAGAI GCP Obyek berupa perpotongan garis dan ujung / pojok.

Obyek berupa perpotongan garis dan ujung / pojok. Sebagai contoh adalah perpotongan jalan dengan obyek lain.

Sebagai contoh adalah perpotongan jalan dengan obyek lain. Obyek berupa ujung dari sebuah garis yang dapat

Obyek berupa ujung dari sebuah garis yang dapat diidentifikasi dengan jelas. contoh garis di tempat parkir.

Obyek berupa perpotongan dua pojok / tepi. contoh perpotongan tepi jalan dan tepi obyek lain.

/ tepi. contoh perpotongan tepi jalan dan tepi obyek lain. Obyek berupa titik atau detil yang

Obyek berupa titik atau detil yang jelas. Sebagai contoh lampu jalan.

Pengukuran GPS di Lapangan

Obyek spesifik dan tampak jelas pada citra satelit

GPS di Lapangan Obyek spesifik dan tampak jelas pada citra satelit Objek yang dimaksud dapat ditemukan
GPS di Lapangan Obyek spesifik dan tampak jelas pada citra satelit Objek yang dimaksud dapat ditemukan
GPS di Lapangan Obyek spesifik dan tampak jelas pada citra satelit Objek yang dimaksud dapat ditemukan

Objek yang dimaksud dapat ditemukan dilapangan

GPS di Lapangan Obyek spesifik dan tampak jelas pada citra satelit Objek yang dimaksud dapat ditemukan
Formulir Lapangan

Formulir

Lapangan

Formulir Lapangan

GPS TIPE GEODETIC

1. GPS tipe Geodetic adalah GPS yang mampu mengamati titik dengan ketelitian pengamatannya

mampu menghasilkan posisi dengan akurasi yang tinggi, baik menggunakan satu frequensi (ketelitian cm s.d dm) ataupun dua frequensi (ketelitian dm

s.d mm)

2. Syarat ketelitian pengamatan GPS

Horisontal Accuracy pengamatan GPS di lapangan

≤ 1/3 Resolusi Spasial Citra Satelit

GPS Handheld vs GPS tipe

Geodetic

GPS Handheld vs GPS tipe Geodetic GPS Tipe Geodetic GPS Handheld

GPS Tipe Geodetic

GPS Handheld vs GPS tipe Geodetic GPS Tipe Geodetic GPS Handheld
GPS Handheld vs GPS tipe Geodetic GPS Tipe Geodetic GPS Handheld

GPS Handheld

GPS Handheld vs GPS tipe Geodetic GPS Tipe Geodetic GPS Handheld

METODE PENGAMATAN

GPS

1. Menggunakan Metode Diferensial dengan menggunakan paling sedikit dua receiver yang mana salah satunya diletakan pada titik yang telah diketahui koordinatnya (stasiun referensi)

2. Stasiun referensi tersebut adalah Orde 0 dan 1

milik BIG, orde 2 dan 3 milik BPN (syarat

penggunaan orde 2 dan 3, hasil pengolahan GPS

harus FIX)

LAMA PENGAMATAN

Lama pengamatan, disesuaikan dengan jarak dan metode yang digunakan

1. Jika menggunakan metode statik dengan baseline sekitar 20-30 km maka lama pengamatan 40-60

menit.

2. Jika menggunakan metode RTK, pengamatan

dilakukan sampai hasilnya FIX atau minimal 20

cm.

Orthorektifikasi Citra Satelit Resolusi Tinggi (QuickBird)

Contoh software yang digunakan adalah PCI Geomatic 2013

1. Input data citra

2. Input GCP dan DEM

2013 1. Input data citra 2 . I n p u t G C P d

3. Orthorektifikasi dan Resampling

2013 1. Input data citra 2 . I n p u t G C P d
2013 1. Input data citra 2 . I n p u t G C P d
2013 1. Input data citra 2 . I n p u t G C P d
2013 1. Input data citra 2 . I n p u t G C P d

Perbandingan posisi GCP Rencana sebelum dan sesudah Orthorektifikasi

Perbandingan posisi GCP Rencana sebelum dan sesudah Orthorektifikasi
Perbandingan posisi GCP Rencana sebelum dan sesudah Orthorektifikasi

Uji Akurasi

Uji Akurasi Citra Kota Bogor Hasil Uji Akurasi Horisontal 10,229 meter > 2.5 meter maka belum memenuhi syarat ketelitian untuk peta skala 1:5000

No(

Nama CP

Jarak ke Titik GPS yang bersesuaian

X

 

Y

 

X

 

Y

 

(X

GPS -X CP ) 2

(Y

GPS -Y CP ) 2

(X

GPS -X CP ) 2 +

GPS

GPS

CP

CP

(Y

GPS -Y CP ) 2

1

BGR 01

7.261

695700.590

9278368.733

695707.120

9278365.560

 

42.641

 

10.069

 

52.710

2

BGR 02

3.421

697736.815

9279122.801

697734.466

9279120.314

 

5.517

 

6.183

 

11.700

3

BGR 03

5.461

695787.443

9275644.166

695782.611

9275641.622

 

23.349

 

6.469

 

29.818

4

BGR 05

2.612

698378.731

9275171.791

698377.489

9275169.494

 

1.542

 

5.278

 

6.820

5

BGR 06

3.177

701185.900

9274986.368

701183.493

9274988.443

 

5.794

 

4.304

 

10.098

6

BGR 07

6.999

695503.034

9272122.167

695500.290

9272115.729

 

7.529

 

41.454

 

48.982

7

BGR 08

1.931

701979.999

9272641.354

701979.340

9272639.539

 

0.433

 

3.295

 

3.729

8

BGR 09

9.169

700256.635

9272199.423

700252.858

9272207.778

 

14.267

 

69.802

 

84.069

9

BGR 10

1.987

698079.281

9272121.457

698077.403

9272120.809

 

3.526

 

0.421

 

3.946

10

BGR 12

2.977

699568.709

9269955.358

699566.220

9269953.726

 

6.198

 

2.665

 

8.862

11

BGR 13

1.307

702196.061

9270278.296

702195.389

9270277.175

 

0.451

 

1.258

 

1.709

12

BGR 14

10.562

702710.595

9267516.695

702720.173

9267512.244

 

91.743

 

19.812

111.555

13

BGR 15

2.757

700843.212

9267453.515

700841.033

9267451.827

 

4.751

 

2.849

 

7.600

14

BGR 16

4.330

698456.603

9266803.600

698455.008

9266799.574

 

2.543

 

16.203

 

18.746

15

BGR 17

3.511

699037.331

9264341.028

699040.831

9264340.740

 

12.248

 

0.083

 

12.330

16

BGR 18

12.684

701266.312

9265088.585

701267.998

9265076.014

 

2.844

158.031

160.875

17

BGR 19

4.498

703399.809

9264605.321

703396.741

9264602.031

 

9.410

 

10.825

 

20.235

               

Jumlah

593.784

                 

(17 CP)

 
               

Rata-rata

 
 

(17 CP)

 

34.928

                 

RMSEr

 
               

(17 CP)

 

5.910

               

Akurasi

 
               

Horisontal

 
 

(17 CP)

 

10.229

Uji Akurasi

Uji Akurasi Citra Wilayah LumajangHasil Uji Akurasi Horisontal 1,341 meter < 2.5 meter maka memenuhi syarat ketelitian untuk peta skala

1:5000

No

Titik ICP

Jarak ke titik GPS

Koordinat GPS

Koordinat ICP (citra) GCP

(X

GPS -X CP ) 2

(Y

GPS -Y CP ) 2

(X

GPS -X CP ) 2 +(Y GPS -Y CP ) 2

 

yang bersesuaian

X

Y

X

Y

1

LMJ-15

1.253

739992.543

9092347.934

739993.796

9092347.923

 

1.571

 

0.000

 

1.571

2

LMJ-17

1.027

740343.201

9094979.749

740343.599

9094978.800

 

0.158

 

0.900

 

1.058

3

LMJ-20

1.053

739555.654

9098851.551

739556.678

9098851.784

 

1.049

 

0.054

 

1.103

4

LMJ-21

0.987

742078.398

9097885.509

742078.799

9097884.606

 

0.161

 

0.816

 

0.977

5

LMJ-24

0.706

744206.696

9097450.757

744207.000

9097451.398

 

0.093

 

0.411

 

0.504

6

LMJ-45

0.276

743965.475

9099943.819

743965.198

9099943.799

 

0.077

 

0.000

 

0.077

7

LMJ-40

0.530

749333.195

9105785.646

749332.795

9105786.000

 

0.160

 

0.125

 

0.285

8

LMJ-37

0.383

746643.980

9108218.104

746643.596

9108218.107

 

0.147

 

0.000

 

0.147

9

LMJ-36

0.272

746313.870

9110060.592

746313.599

9110060.600

 

0.073

 

0.000

 

0.074

10

LMJ-34

0.873

748997.959

9112629.070

748997.394

9112628.398

 

0.319

 

0.452

 

0.771

11

LMJ-32

0.188

748916.542

9115753.924

748916.400

9115753.803

 

0.020

 

0.015

 

0.035

           

Jumlah (11 CP)

     

6.601

           

Rata-rata (11CP)

     

0.600

           

RMSEr (11 CP)

     

0.775

           

Akurasi Horisontal

     

(11 CP)

 

1.341 meter

 
 

Pemeriksaan peta dasar

Pemeriksaan digitasi terhadap unsur-unsur :

-BWP (Bagian Wilayah Perkotaan) -Sungai -Jalan

-Bangunan

-Landuse eksisting -Toponimi

digitasi terhadap unsur-unsur : -BWP (Bagian Wilayah Perkotaan) -Sungai -Jalan -Bangunan -Landuse eksisting -Toponimi

DIGITASI PETA BERDASARKAN CITRA YANG SUDAH DIKOREKSI

Proses digitasi untuk membentuk data vektor dari data citra. Pada proses digitasi dilakukan interpretasi terhadap objek-objek yang nampak di citra satelit.

vektor dari data citra. Pada proses digitasi dilakukan interpretasi terhadap objek-objek yang nampak di citra satelit.

UNSUR PERAIRAN

Menggambarkan:

   

Jaringan sungai dan drainase

 

Garis

tepi

perairan,

yaitu

garis

batas

daratan

dan

air

yang

menggenang

(tepi

danau/Situ,

garis

tepi

rawa,

dan

garis

tepi

empang)

Segmen garis sungai harus terhubung satu dengan lainnya membentuk satu jaringan yang bermuara pada satu titik.

 

Aliran sungai harus mengikuti kesesuaian kontur

 
 
 

Unsur Gedung dan Bangunan

Gedung

dan

bangunan

didigitasi

satu

persatu

berdasarkan

 
 

kenampakan atapnya.

 

Gedung dan bangunan yang berhimpitan dan atapnya saling menyatu

 

dianggap satu blok rumah.

 

Gedung dan bangunan diberi simbol dan nama.

 

Gedung dan bangunan yang tidak terdapat pada Informasi tepi hanya

 

diberi nama tanpa simbol. Batas persil tanah dibuat sesuai kebutuhan.

 
 

35

  35

APAKAH ATAP BANGUNAN HARUS DIDIGITASI?

Atap bangunan didigitasi agar memudahkan survey lapangan untuk mengidentifikasi persoalan peruntukan dan pemanfaatan

ruang yang ada sebagai bahan untuk merumuskan peraturan

zonasi yang tepat. Selain itu, dari survey lapangan yang diplotkan pada atap bangunan akan dapat diketahui pola tutupan lahannya.

• Selain itu, dari survey lapangan yang diplotkan pada atap bangunan akan dapat diketahui pola tutupan
• Selain itu, dari survey lapangan yang diplotkan pada atap bangunan akan dapat diketahui pola tutupan
• Selain itu, dari survey lapangan yang diplotkan pada atap bangunan akan dapat diketahui pola tutupan

BAGAIMANA JARINGAN JALAN DIDIGITASI?

Jaringan jalan harus didigitasi dalam dua bentuk. Pertama,

sebagai dua garis sejajar (jika lebar > 2.5 m) sehingga membentuk blok jalan. Kedua, sebagai garis tunggal pada porosnya

Poros jalan digunakan untuk menggambarkan jaringan utilitas

beserta dengan atributnya.

37 Dading Huisan Sabulubulu
37
Dading Huisan
Sabulubulu

SURVEI KELENGKAPAN LAPANGAN

Melakukan verifikasi penutupan lahan/hasil interpretasi citra Pengecekan data batas administrasi Pengecekan unsur nama geografis (unsur perairan, nama desa, kampung/permukiman, perumahan, bangunan pemerintah, fasilitas umum, fasilitas sosial, dan lain-lain)pendetilan dari peta RBI.

perumahan, bangunan pemerintah, fasilitas umum, fasilitas sosial, dan lain-lain)  pendetilan dari peta RBI.
perumahan, bangunan pemerintah, fasilitas umum, fasilitas sosial, dan lain-lain)  pendetilan dari peta RBI.
perumahan, bangunan pemerintah, fasilitas umum, fasilitas sosial, dan lain-lain)  pendetilan dari peta RBI.
perumahan, bangunan pemerintah, fasilitas umum, fasilitas sosial, dan lain-lain)  pendetilan dari peta RBI.
perumahan, bangunan pemerintah, fasilitas umum, fasilitas sosial, dan lain-lain)  pendetilan dari peta RBI.

SURVEI KELENGKAPAN PETA

Survey Kelengkapan Informasi pada Peta dengan GPS

Suasana pertemuan dengan Kepala Desa Untuk penentuan batas administrasi
Suasana pertemuan dengan Kepala Desa
Untuk penentuan batas administrasi
Survey Kelengkapan Informasi pada Peta dengan GPS Suasana pertemuan dengan Kepala Desa Untuk penentuan batas administrasi
Survey Kelengkapan Informasi pada Peta dengan GPS Suasana pertemuan dengan Kepala Desa Untuk penentuan batas administrasi

Entry Data Lapangan

Entry data lapangan merupakan kegiatan penyusunan basis data secara digital dari hasil

kegiatan survei kelengkapan data lapangan dan toponimi terhadap data spasial dalam

format vektor.

digital dari hasil kegiatan survei kelengkapan data lapangan dan toponimi terhadap data spasial dalam format vektor.

Pemeriksaaan Peta Tematik

Peta Tematik Jaringan infrastruktur skala 1 : 5000,

jika tidak ada digunakan peta dengan skala yang

tersedia.

Peta Tematik Peta Tematik Jaringan infrastruktur skala 1 : 5000, jika tidak ada digunakan peta dengan

Pemeriksaan Peta Rencana

1. Sinkronisasi RDTR dengan RTRW

Mengacu pada rencana pola ruang yang telah ditetapkan dalam RTRW

Rencana struktur ruang wilayah kabupaten/kota

yang termuat dalam RTRW

Rencana pola ruang BWP yang termuat dalam RDTR 2. Sinkronisasi Substansi Perda RDTR dengan peta

termuat dalam RTRW • Rencana pola ruang BWP yang termuat dalam RDTR 2. Sinkronisasi Substansi Perda

Peta Rencana Pola ruang Kota Salatig

Peta Rencana Pola ruang Kota Salatig
Peta Rencana Pola ruang Kota Salatig

Peta Rencana Jaringan

Telekomunikasi BWP Pusat Kota

Peta Rencana Jaringan Telekomunikasi BWP Pusat Kota

Peta Rencana Jaringan Air Minum BWP Pusat Kota

Peta Rencana Jaringan Air Minum BWP Pusat Kota

Pemeriksaan Album Peta

Layout Peta dan Tata Letak (Mengikuti NSPK BIGdlm progress)

Simbol-simbol

(Mengikuti NSPK BIG dlm progress)

Pewarnaan (Mengikuti PP No 8 tahun 2013 dan Permen PU No 20 Tahun 2011)

Sumber data (Sumber data sesuai dengan sumber sebenarnya)

Indeks Peta (Indeks peta cetak skala 1: 5000 mengikuti indeks peta RBI)

(Sumber data sesuai dengan sumber sebenarnya) • Indeks Peta (Indeks peta cetak skala 1: 5000 mengikuti

Pemeriksaan Album Peta

Kelengkapan peta dalam RDTR ditampilkan dalam dua bentuk :

Penuh satu BWP, skala peta mengikuti ukuran kertas,

dicetak pada kertas ukuran A1.

Per NLP (nomor lembar peta), pada skala 1 : 5.000, dicetak pada kertas ukuran A1. Pembagian lembar peta (sheet) mengikuti indeks peta RBI

lembar peta), pada skala 1 : 5.000, dicetak pada kertas ukuran A1. Pembagian lembar peta (sheet)

Format Penuh

Ukuran muka peta menyesuaikan luas wilayah. Grid peta dibuat dengan grid geografi dan UTM, selang
Ukuran muka peta menyesuaikan luas
wilayah.
Grid peta dibuat dengan grid geografi dan
UTM, selang grid dibuat proporsional.

Ukuran muka peta menyesuaikan dengan luasan BWP.

Skala mengikuti ukuran kertas (A1)

Informasi tepi, baik format landscape

maupun portrait

dibuat disebelah kanan.

• Skala mengikuti ukuran kertas (A1) • Informasi tepi, baik format landscape maupun portrait dibuat disebelah

Format NLP

Grid peta dibuat dengan grid : • Geografi selang grid (15”) • UTM selang grid
Grid peta dibuat dengan grid :
• Geografi selang grid (15”)
• UTM selang grid (500m)

Ukuran muka peta 75”x75” sesuai peta dasar RBI.

Skala peta dibuat pada 1 : 5.000

Informasi tepi, baik format landscape maupun portrait dibuat disebelah kanan.

• Skala peta dibuat pada 1 : 5.000 • Informasi tepi, baik format landscape maupun portrait

Sistematika Indeks Peta

RDTR skala 1 : 5000

Ukuran Lembar Peta

Skala

Format

Ukuran peta

Ukuran di Lapangan

1 : 1.000

15” x 15”

45

cm x 45 cm

450 m x 450 m

1 : 2.500

50” x 50”

62

cm x 62 cm

1500

m x 1500 m

1 : 5.000

75” x 75”

45

cm x 45 cm

2250

m x 2250 m

5.062.500 m₂ = 5,062 km₂ = 506,25 ha/NLP

m 1 : 5.000 75” x 75” 45 cm x 45 cm 2250 m x 2250

Sistematika Indeks Peta

RDTR skala 1 : 5000

Penomoran Lembar Peta Skala 1:5000 dan 1:1000 (dari lembar peta 1:10.000)

C

U

U P Q R K L F A G B A A M H C S
U P Q R K L F A G B A A M H C S
U P Q R K L F A G B A A M H C S

P

Q

R

K

L

F

A

G

B

A

A

M

H

C

S

N

I

D

V

W

X

Y

T

O

J

E
E
U P Q R K L F A G B A A M H C S
U P Q R K L F A G B A A M H C S
U P Q R K L F A G B A A M H C S

D

1 5

B

120 9-1 441

1 5

1

50

1 50

NLP

1209-1441

1209-1441D
1209-1441D

1209-14417

NLP 1209-1441 1209-1441D 1209-14417 1209-1441AE Keterangan Nomor Lembar Peta skala 1:10.000 format 150 ” x 150

1209-1441AE

Keterangan

Nomor Lembar Peta skala 1:10.000 format 150x 150. Satu NLP dibagi menjadi 4 NLP pada skala 1:5.000 masing-masing berukuran 75x 75

Nomor Lembar Peta skala 1:5.000 format 75”x 75Satu NLP dibagi menjadi 9 NLP pada skala 1:2.500

masing-masing berukuran 50x 50

Nomor Lembar Peta skala 1:2.500 format 50x 50Satu NLP dibagi menjadi 25 NLP pada skala 1:1.000

masing-masing berukuran 15x 15

Nomor Lembar Peta skala 1:1.000 format 15x 15

skala 1:1.000 masing-masing berukuran 15 ” x 15 ” Nomor Lembar Peta skala 1:1.000 format 15

Sinkronisasi Peta dengan Raperda

Sinkronisasi Peta dengan Raperda
Sinkronisasi Peta dengan Raperda
Sinkronisasi Peta dengan Raperda
Sinkronisasi Peta dengan Raperda
Terima kasih
Terima kasih

BERSAMA MENATA RUANG

INDONESIA

YANG LEBIH BAIK

Terima kasih BERSAMA MENATA RUANG INDONESIA YANG LEBIH BAIK PUSAT PEMETAAN TATA RUANG DAN ATLAS BADAN

PUSAT PEMETAAN TATA RUANG DAN ATLAS BADAN INFORMASI GEOSPASIAL