Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Skizofrenia adalah suatu sindrom klinis berbagai keadaan psikopatologis yang sangat
mengganggu, melibatkan proses pikir, emosi, persepsi, dan tingkah laku dengan insidensi pada
pria lebih besar daripada wanita.1 Skizofrenia terkait dengan stres, gangguan neurobiologis yang
ditandai dengan gangguan pikiran.2 Data menunjukkan bahwa 1% populasi penduduk dunia
menderita skizofrenia.3-5 Skizofrenia lebih sering terjadi pada populasi urban dan pada
kelompok sosial ekonomi rendah. 6 Di seluruh dunia, skizofrenia tidak terdistribusi merata
secara geografis. Secara historis, prevalensi skizofrenia di timur laut dan barat Amerika Serikat
dilaporkan lebih tinggi daripada daerah lain.7 Derajat keparahan skizofrenia lebih besar di
negara maju daripada Negara berkembang. Prevalensi penderita skizofrenia di Indonesia adalah
0,3 sampai 1 % dan biasanya timbul pada usia sekitar 18 sampai 45 tahun, namun ada juga yang
baru berusia 11 sampai 12 tahun sudah menderita skizofrenia. Apabila penduduk Indonesia
sekitar 200 juta jiwa, maka diperkirakan sekitar 2 juta jiwa menderita skizofrenia (Sinaga, 2007).
Menurut hasil studi Bahar dkk dalam Yani (1999) penderita kesehatan jiwa di Indonesia
sebesar 18,5% artinya dari 1000 penduduk terdapat sedikitnya 185 penduduk dengan gangguan
kesehatan jiwa atau tiap rumah tangga terdapat seorang anggota keluarga yang menderita
gangguan kesehatan jiwa. Jika hasil studi ini dapat dijadikan dasar, maka tidak dapat dipungkiri
bahwa telah terjadi peningkatan angka gangguan kesehatan jiwa atau gangguan emosional yang
semula berkisar antara 20 sampai 60 per 1000 penduduk, seperti yang tercantum pada sistem
kesehatan nasional.
Skizofrenia dalam masyarakat umum terdapat 0,2 sampai 0,8%. Bila diproyeksikan
dengan jumlah penduduk Indonesia yang lebih kurang 200 juta jiwa tahun 1997, maka jumlah
penduduk yang mengalami skizofrenia ada 400 ribu sampai 1,6 juta orang. Angka yang besar ini
menjadi tantangan berat terutama bagi Departemen Kesehatan dalam menangani masalah ini
(Maramis, 2004). Data dari Dinas Kesehatan Jawa Timur pada tahun 2008 menyatakan jumlah
skizofrenia di Indonesia terutama di Jawa Timur mencapai 2% dari populasi (Dinkes, 2008).

Jumlah tersebut didapatkan dari jumlah kunjungan pasien skizofrenia di rumah sakit besar di
jawa timur dan masih tidak menutup kemungkinan akan ditemukannya kasus tambahan yang
masih belum terdeteksi pada data dinas kesehatan. Data dari puskesmas bantaran kabupaten
probolinggo menunjukkan terdapat 29 pasien jiwa baik kasus lama maupun baru dan 12
diantaranya masih belum berobat. Selain itu terdapat 8 kasus penderita skizofrenia yang masih
mengalami pasung di kecamatan bantaran.
Penderita gangguan jiwa sering mendapatkan stigma dan diskriminasi yang lebih besar
dari masyarakat disekitarnya dibandingkan dengan penyakit medis lainnya. Mereka sering
mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi, misalnya perlakuan kekerasan, diasingkan,
diisolasi atau dipasung. Perlakuan ini disebabkan karena ketidaktahuan atau pengertian yang
salah dari keluarga atau anggota masyarakat mengenai skizofrenia (Hawari, 2001). Perilaku
seseorang didasarkan atas pengetahuan yang mereka miliki, jika seseorang memiliki
pengetahuan yang baik maka akan menujukkan sikap positif, sedangkan orang berpengetahuan
yang kurang maka akan mempengaruhi mereka dalam perperilaku yang cenderung negatif.
Begitupula pada keluarga yang memiliki pengetahuan kurang tentang gangguan jiwa skizofrenia
akibatnya keluarga akan menganggap gangguan jiwa penyakit yang memalukan dan membawa
aib bagi keluarga. Penilaian masyarakat terhadap gangguan jiwa sebagai akibat dari dilanggarnya
larangan, guna-guna, santet, kutukan dan sejenisnya berdasarkan kepercayaan supranatural. Hal
terebut yang mungkin menjadi alasan kenapa pasien skizofrenia masih memiliki kesadaran yang
rendah untuk berobat serta beresiko menimbulkan kejadian kekambuhan bagi pasien skizofrenia
sendiri.
Berdasarkan wawancara pada 5 keluarga yang merawat penderita Skizofrenia dirumah,
penderita pernah mengalami kekambuhan dan kembali dirawat di rumah sakit jiwa. Jarak
kekambuhan bervariasi pada masing-masing penderita yaitu antara satu bulan sampai satu tahun
setelah dipulangkan dari rumah sakit jiwa. Penelitian yang ditulis oleh Davies dalam Kazadi
(2013) menunjukkan bahwa hampir 80% pasien Skizofrenia mengalami kekambuhan berulang
kali. Dalam sebuah penelitian yang ditulis dalam The Hongkong Medical Diary bahwa studi
naturalistik telah menemukan tingkat kekambuhan atau kekambuhan pada pasien skizofrenia
adalah 70-82% hingga lima tahun setelah pasien masuk Rumah Sakit pertama kali (Kazadi,
2008).

Kekambuhan pada pasien Skizofrenia merugikan dan membahayakan pasien, keluarga,


dan masyarakat. Ketika tanda-tanda kekambuhan muncul, pasien bisa saja berperilaku
menyimpang seperti mengamuk, bertindak kekerasan seperti menghancurkan barang-barang atau
yang lebih parah lagi pasien akan melukai bahkan membunuh orang lain atau dirinya sendiri.
Jika hal itu terjadi masyarakat akan menganggap bahwa gangguan yang diderita pasien tersebut
sudah tidak bisa disembuhkan lagi. Keluarga pun akan dirugikan dari segi materi karena jika
pasien kembali menjalani rawat inap di Rumah Sakit Jiwa maka akan banyak biaya yang harus
mereka keluarkan untuk pengobatan (Kazadi, 2013). Dari beberapa penelitian menunjukkan
bahwa salah satu faktor penyebab terjadinya kekambuhan klien skizofrenia adalah kurangnya
peran serta keluarga dalam perawatan terhadap anggota keluarga yang menderita penyakit
tersebut. Menurut Elain (2010) salah satu penyebabnya adalah karena keluarga yang tidak tahu
cara menangani perilaku klien di rumah. Keluarga jarang mengikuti proses keperawatan klien
karena jarang mengunjungi klien di rumah sakit, dan tim kesehatan di rumah sakit juga jarang
melibatkan keluarga. Berdasarkan pemikiran di atas penulis tertarik untuk mengadakan
penelitian dengan judul Hubungan Dukungan Keluarga Terhadap Kekambuhan Pasien
Skizofrenia di Wilayah Kerja Puskesmas Bantaran
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu Adakah Hubungan Antara Tingkat
Pengetahuan Keluarga, Sikap Keluarga, dan Dukungan Perilaku Keluarga Dengan Tingkat
Kekambuhan Pasien Skizofrenia Di Wilayah Kerja Puskesmas Bantaran Kabupaten
Probolinggo?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan keluarga, sikap keluarga, dan dukungan
perilaku keluarga dengan tingkat kekambuhan pasien skizofrenia di wilayah kerja Puskesmas
Bantaran Kabupaten Probolinggo
1.3.2 Tujuan Khusus
Penelitian ini ingini mengetahui:

a. Karakteristik pasien skizofrenia di wilayah kerja Puskesmas Bantaran Kabupaten


Probolinggo
b. Hubungan antara tingkat pengetahuan keluarga dengan tingkat kekambuhan pasien
skizofrenia di wilayah kerja Puskesmas Bantaran Kabupaten Probolinggo
c. Hubungan antara sikap keluarga dengan tingkat kekambuhan pasien skizofrenia di
wilayah kerja Puskesmas Bantaran Kabupaten Probolinggo
d. Hubungan antara dukungan perilaku keluarga dengan tingkat kekambuhan pasien
skizofrenia di wilayah kerja Puskesmas Bantaran Kabupaten Probolinggo
1.4 Manfaat Penelitian
a. Bagi pengembangan bidang kesehatan, hasil penelitian ini sebagai bahan untuk
meningkatkan pelayanan dalam kesehatan pasien skizofrenia baik dari Dinas Kesehatan
melalui program kesehatan maupun dari Puskesmas sehingga dapat menurunkan tingkat
kekambuhan pasien skizofrenia.
b. Bagi pasien skizofrenia, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi
pasien skizofrenia agar mereka melalui

peningkatan

fungsi

keluarga

mendapat

perhatian dari keluarga dan tenaga kesehatan


c. Bagi masyarakat umum, hasil penelitian ini dapat menambah informasi bagi masyarakat
tentang penanganan pasien skizofrenia di lingkup keluarga

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Skizofrenia
Skizofrenia berasal dari bahasa Yunani, schizeinyang berarti terpisahatau pecah, dan
phren yang artinya jiwa. Pada skizofrenia terjadi pecahnya atau ketidakserasian antara afeksi,
kognitif dan perilaku. Secara umum, simptom skizofrenia dapat dibagi menjadi tiga golongan:
yaitu simptom positif, simptom negative, dan gangguan dalam hubungan interpersonal.
Pada umumnya ditandai oleh penyimpangan yang fundamental dan karakteristik dari
pikiran dan persepsi, serta oleh afek yang tidak wajar (inappropriate) atau tumpul (blunted).
Kesadaran yang jernih (clear consciousness) dan kemampuan intelektual biasanya tetap
terpelihara, walaupun kemunduran kognitif tertentu dapat berkembang kemudian (Kaplan, 2006).
Secara umum penyebab dari skizofrenia adalah (Kaplan, 2006) :
1. Genetik
Penelitian klasik awal tentang genetika dari skizofrenia, dilakukan pada tahun 1930an,
menemukan bahwa seseorang kemungkinan menderita skizofrenia jika anggota keluarganya
juga menderita skizofrenia dan kemungkinan seseorang menderita skizofrenia adalah
berhubungan dengan dekatnya hubungan persaudaraan tersebut. Dalam kasus kembar
monozigot genetik yang identik, ada sekitar 50 persen skizofrenia. Temuan tersebut
menyatakan bahwa pengaruh genetic melebihi pengaruh lingkungan. Dalam studi pasien
skizofrenia yang tidak memiliki riwayat penyakit baik dalam garis ibu atau ayah, ditemukan
bahwa mereka yang lahir dari ayah lebih tua dari usia 60 tahun rentan gangguan tersebut.
Agaknya, spermatogenesis pada pria yang lebih tua dikenakan untuk kerusakan epigenetik
lebih besar dari pada pria yang lebih muda.
Modus penularan genetik dalam skizofrenia tidak diketahui, tetapi beberapa gen muncul
untuk memberikan kontribusi terhadap kerentanan skizofrenia. Linkage dan studi hubungan

genetik telah memberikan bukti kuat untuk sembilan situs linkage: 1Q, 5Q, 6p, 6Q, 8P, 10P,
13q, 15q, dan 22q. Analisis lebih lanjut dari situs ini kromosom telah menyebabkan
identifikasi gen kandidat tertentu, dan para kandidat terbaik saat ini adalah alpha-7 nicotinic
reseptor, DISC 1, GRM 3, COMT, NRG 1, RGS 4, dan G 72. Baru-baru ini, mutasi dari gen
dystrobrevin (DTNBP1) dan neureglin 1 telah ditemukan berhubungan dengan fitur negatif
dari skizofrenia.
2. Faktor Biokimia
a. Hipotesis Dopamin
Rumusan yang paling sederhana dari hipotesis dopamine untuk skizofrenia menyatakan
bahwa skizofrenia disebabkan oleh terlalu banyaknya aktivitas dopaminergic. Teori
tersebut timbul dari dua pengamatan. Pertama, kecuali clozapine, khasiat dan potensi
antipsikotik adalah berhubungan dengan kemampuannya bertindak sebagai antagonis
reseptor dopaminergic tipe-2 (D2). Kedua, obat-obatan yang meningkatkan aktivitas
dopaminergic, yang peling jelas adalah amfetamin, yang merupakan salah satu
psikomimetik. Teori dasar tidak menguraikan apakah hiperaktivitas dopaminergik karena
terlalu banyak dopamin, terlalu banyak reseptor dopamin, hipersensitivitas dari reseptor
dopamin untuk dopamin, atau kombinasi dari mekanisme ini. Tracts dopamin di otak yang
dilibatkan juga tidak ditentukan dalam teori, meskipun saluran mesocortical dan
mesolimbic yang paling sering terlibat.

Neuron dopaminergik dalam jalur tersebut

berjalan dari badan sel mereka di otak tengah untuk neuron dopaminoceptive dalam sistem
limbik dan korteks serebral. Pelepasan dopamin berlebihan pada pasien dengan
skizofrenia telah dikaitkan dengan tingkat keparahan gejala psikotik positif. Ada juga
laporan konsentrasi dopamin meningkat pada amigdala, penurunan densitas transporter
dopamin, dan meningkatkan jumlah jenis dopamin 4 reseptor di korteks entorhinal.

Satu peranan penting bagi dopamine dalam patofisiologi skizofrenia adalah konsistensi
dengan penelitian yang telah mengukur konsentrasi plasma metabolit dopamine utama,
yaitu homovanillic acid.
b. Serotonin
Hipotesis kini menempatkan kelebihan serotonin sebagai penyebab dari kedua
gejala positif dan negatif dalam skizofrenia. Aktivitas antipsikotik antagonis serotonin
kuat generasi kedua clozapine dan lainnya, ditambah dengan efektivitas clozapine untuk
mengurangi gejala positif pada pasien kronis.
c. Norepinefrin
Sebuah degenerasi neuronal selektif dalam sistem saraf norepinefrin bisa
menjelaskan aspek ini simtomatologi skizofrenia. Namun, biokimia dan farmakologis
tidak dapat disimpulkan. Beberapa peneliti telah melaporkan bahwa pemberian
antipsikotik jangka panjang menurunkan aktivitas neuron noradrenergic di lokus sereleus
dan bahwa efek terapeutik dari beberapa antipsikotik mungkin melibatkan aktivitasnya
pada reseptor adrenergic-1 dan adrenergic-2.
d. GABA
Neurotransmiter penghambatan asam amino -aminobutyric acid (GABA) telah
terlibat dalam patofisiologi skizofrenia berdasarkan temuan bahwa beberapa pasien
dengan skizofrenia memiliki kehilangan GABAergic neuron di hipokampus. GABA
memiliki efek regulasi terhadap aktivitas dopamin, dan hilangnya neuron GABAergic
inhibitor dapat menyebabkan hiperaktivitas neuron dopaminergik.

e. Neuropeptide
Neuropeptida, seperti substansi P dan neurotensin, dilokalisasi dengan
neurotransmitter

katekolamin

dan

indolamine

dan

mempengaruhi

tindakan

neurotransmiter ini. Perubahan dalam mekanisme neuropeptida dapat memfasilitasi,


menghambat, atau mengubah pola sistem saraf.
f. Glutamat
g. Glutamat telah terlibat karena menelan phencyclidine, antagonis glutamat, menghasilkan
sindrom akut mirip dengan skizofrenia. Hipotesis yang diajukan tentang glutamat
termasuk

yang

hiperaktif,

hypoactivity, dan

glutamat-induced

neuro-toksisitas.

Asetilkolin dan Nikotin.


h. Studi postmortem dalam skizofrenia telah menunjukkan penurunan reseptor muscarinic
dan nikotinat di-putamen berekor, hipokampus, dan daerah terpilih dari korteks
prefrontal. Reseptor ini memainkan peran dalam regulasi sistem neurotransmiter yang
terlibat dalam kognisi.
3. Neuroanatomi
Dua daerah otak yang mendapatkan paling banyak perhatian adalah system limbic
dan ganglia basalis, walaupun beberapa laporan kontroversial mempermasalahkan kelainan
neuropatologis dan neurokimiawi di dalam korteks serebral, thalamus dan batang otak.
Hilangnya volume otak dilaporkan secara luas di otak penderita skizofrenia muncul hasil dari
kepadatan berkurang dari akson, dendrit, dan sinapsis yang memediasi fungsi asosiatif dari
otak.
Kepadatan Synaptic tertinggi pada usia 1, kemudian dikupas ke nilai dewasa pada
masa remaja awal. Satu teori, sebagian didasarkan pada pengamatan bahwa pasien sering

mengalami gejala skizofrenia selama masa remaja, berpendapat bahwa skizofrenia hasil dari
pemangkasan sinaps berlebihan selama tahap pengembangan.
a. Ventrikel Serebri
Computed tomography (CT) scan pasien dengan skizofrenia secara konsisten
menunjukkan pembesaran ventrikel lateral dan ketiga dan beberapa pengurangan volume
kortikal. Pengurangan volume substansia grisea kortikal telah dibuktikan selama tahap
awal penyakit. Beberapa peneliti telah berusaha untuk menentukan apakah kelainan
dideteksi oleh CT progresif atau statis. Beberapa penelitian telah menyimpulkan bahwa
lesi diamati pada CT scan hadir pada awal penyakit dan tidak kemajuan. Studi-studi lain,
telah menyimpulkan bahwa proses patologis pada CT scan visualisasi terus kemajuan
selama penyakit. Jadi, apakah proses patologis aktif terus berkembang pada pasien
skizofrenia masih belum pasti.
b. Sistim Limbik
Karena peranannya dalam mengendalikan emosi, sistem limbik telah diduga
terlibat dalam patofisiologi skizofrenia. Studi sampel otak postmortem dari pasien
skizofrenia telah menunjukkan penurunan dalam ukuran wilayah termasuk amigdala,
hippocampus, dan gyrus parahippocampal. Temuan neuropathological setuju dengan
pengamatan yang dibuat oleh pencitraan resonansi magnetik pasien dengan skizofrenia.
Hippocampus tidak hanya lebih kecil dalam ukuran dalam skizofrenia, tetapi juga
fungsional normal seperti yang ditunjukkan oleh gangguan dalam transmisi glutamat.
Disorganisasi dari neuron dalam hippocampus penderita skizofrenia juga telah
dilaporkan.

c. Korteks prefrontalis
Ada bukti yang cukup dari studi otopsi otak yang mendukung kelainan anatomi di
korteks prefrontal dalam skizofrenia. Defisit Fungsional di wilayah pencitraan otak
prefrontal juga telah ditunjukkan. Telah lama mencatat bahwa beberapa gejala skizofrenia
meniru yang ditemukan pada orang dengan lobotomies prefrontal atau sindrom lobus
frontal.
d. Thalamus
Beberapa studi menunjukkan bukti penyusutan volume thalamus thalamus atau
kehilangan neuron, di subnuclei tertentu. Inti dorsal medial thalamus, yang memiliki
hubungan timbal balik dengan korteksprefrontal, telah dilaporkan jumlah neuron. Jumlah
neuron, oligodendrocytes, dan astrosit dikurangi dengan 30 sampai 45 persen pada
pasien skizofrenia.
e. Ganglia Basalis dan Cerebellum
Banyak pasien dengan skizofrenia menunjukkan gerakan-gerakan aneh. Gerakan
aneh dapat mencakup gaya canggung, wajah meringis, dan stereotypies. Karena ganglia
basal dan cerebellum terlibat dalam pengendalian gerakan, penyakit di daerah tersebut
terlibat dalam patofisiologi skizofrenia. Studi Neuropathological dari ganglia basalis telah
menghasilkan laporan tentang hilangnya sel atau pengurangan volume.
Beberapa

pasien

skizofrenia

memang

berasal

dari

keluarga

yang

disfungsional. Tetapi,adalah kepentingan klinis untuk mengenali perilaku keluarga patologis,


karena perilaku tersebut secara bermakna meningkatkan stress emosional yang harus dihadapi

oleh skizofrenia yang rentan. Konsep ikatan ganda (double blind) oleh Gregory Bateson untuk
menggambarkan suatu keluarga hipotetik dimana anak-anak mendapatkan pesan yang
bertentangan dari orang tuanya tentang perilaku, sikap, dan perasaan anak. Theodore Lidz
menggambarkan dua pola perilaku keluarga yang abnormal. Dalam satu tipe keluarga, terdapat
keretakan yang menonjol antara orang tua sangat terlalu dekat dengan anak dari jenis kelamin
yang berbeda. Pada jenis keluarga lain, Hubungan condong antara satu orang tua sangat terlalu
dekat dengan anak dari jenis kelamin yang berbeda. Pada jenis keluarga lain, hubungan condong
antara satu orang tua melibatkan satu perjuangan tenaga antara orang tua dan menyebabkan
dominasi salah satu orang tua (Maramis, 2004).
2.2 Keluarga
2.2.1 Konsep Keluarga
Pengertian keluarga berkembang sesuai dengan kondisi yang ada. Pada mulanya keluarga
diartikan sebagai kumpulan individu yang diikat oleh perkawinan, hubungan darah atau adopsi
yang tinggal bersama dalam satu keluarga. Setiap individu pasti mempunyai keluarga baik secara
legal melalui perkawinan antara suami dan istri, hubungan darah yaitu hubungan anak dan
orangtua serta saudara, atau melalui adopsi yang disahkan secara hukum menjadi hubungan anak
dan orangtua. Pada tahap selanjutnya pengertian keluarga berkembang menjadi dua atau lebih
individu yang bersama-sama diikat olah kedekatan emosi dan kepedulian sesama dan tidak
terbatas pada anggota keluarga yang ada hubungan perkawinan, hubungan darah atau adopsi.
Keluarga merupakan sistem yang paling dekat dengan individu dan merupakan tempat individu
belajar, mengembangkan nilai, keyakinan, sikap dan perilaku. Agar keluarga memberikan
dampak terhadap individu yang menjadi anggota keluarga tersebut, maka diharapkan anggota
keluarga dapat berfungsi dan berperan secara kondusif. Friedman (1998) mengidentifikasi 5
(lima) fungsi keluarga.
1. Fungsi afektif, berhubungan erat dengan pemenuhan aspek psikososial yang ditandai dengan
keluarga yang gembira , bahagia, akrab, merasa dimiliki, gambaran diri yang positif, yang
semua didapatkan melalui interaksi didalam keluarga. Setiap anggota keluarga saling
mengasihi, menghargai, dan mendukung. Kepedulian dan pengertian antar anggota keluarga
merupakan pemenuhan kebutuhan psikologis dalam keluarga. Perceraian, kenakalan anak,
masalah psikososial dan gangguan jiwa sering dijumpai pada keluarga yang fungsi afektifnya

tidak terpenuhi. Pasien perilaku kekerasan mungkin berasal dari keluarga yang kurang saling
menghargai, adanya permusuhan, kegagalan yang dipandang negatif. Kondisi afektif
keluarga yang dapat menimbulkan kekambuhan adalah ekspresi emosi yang tinggi seperti
kritik negatif, usil, permusuhan, atau terlalu mengatur (Pharoah, 2000). Penelitian yang
dilakukan di rumah sakit jiwa Bogor (Maryatini, 1998) menunjukkan bahwa sikap menerima,
toleransi dan mengkritik dari keluarga berhubungan dengan periode kekambuhan pasien.
2. Fungsi sosialisasi adalah proses interaksi dengan lingkungan sosial yang dimulai sejak lahir
dan berakhir setelah meninggal. Anggota keluarga belajar disiplin, budaya, norma melalui
interaksi dalam keluarga sehingga individu mampu berperan di masyarakat. Kegagalan
bersosialisasi dalam keluarga, terutama jika norma dan perilaku yang dipelajari berbeda
dengan yang ada di masyarakat dapat menimbulkan kegagalan bersosialisasi di masyarakat.
Pasien dengan perilaku kekerasan, mungkin mendapat penguatan yang didapat dari anggota
keluarga. Peristiwa kekerasan dalam keluarga juga merupakan faktor risiko lain bagi perilaku
kekerasan pasien.
3. Fungsi perawatan kesehatan adalah praktek merawat anggota keluarga, termasuk kemampuan
keluarga meningkatkan dan memelihara kesehatan. Keluarga menentukan apa yang harus
dilakukan jika sakit, kapan meminta pertolongan dan kepada siapa minta pertolongan.
Penelitian yang dilakukan dirumah sakit jiwa Lawang dan Menur (Widodo, 2000)
menunjukkan bahwa 119 orang (68 %) pasien pernah berobat ke dukun, orang pintar, kiai,
atau peramal sebelum dirawat di rumah sakit. Hal ini terjadi karena kurangnya pengetahuan
keluarga tentang cara merawat pasien. Keluarga umumnya membawa pasien kerumah sakit
jiwa karena perilaku kekerasan. Oleh karena itu selama dirawat di rumah sakit, keluarga
perlu diberikan pendididkan kesehatan agar dapat merawat pasien setelah pulang dari rumah
sakit. Tomczyk (1999) mengatakan ada dua terapi yang perlu dilakukan pada keluarga yaitu
psikoedukasi dan terapi sistemik keluarga agar keluarga mampu merawat pasien. Keduanya
bertujuan memberdayakan keluarga agar mampu merawat pasien.
4. Fungsi reproduksi adalah fungsi keluarga untuk meneruskan kelangsungan keturunan. Belum
ada penelitian tentang faktor perilaku kekerasan yang terkait dengan jumlah saudara kandung
dalam keluarga.
5. Fungsi ekonomi adalah fungsi keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Asumsi krisis
ekonomi meningkatkan perilaku kekerasan secara kasat mata dapat dibuktikan. Demikian

pula jika keluarga mempunyai kemampuan merawat pasien di rumah akan mengurangi biaya
perawatan dirumah sakit. Penghasilan keluarga akan berkurang dengan adanya anggota
keluarga yang sakit (tidak produktif) ditambah anggota keluarga yang harus menemani atau
merawat pasien (tidak produktif).
Seluruh fungsi keluarga ini akan difasilitasi dalam mendukung perawatan pasien di
rumah sakit dan setelah pulang ke rumah. Perlu dikaji siapa yang utama akan memberikan
perawatan kepada pasien setelah pasien pulang dari rumah sakit. Psikoedukasi keluarga
merupakan salah satu bentuk dari intervensi keluarga yang merupakan bagian dari terapi
psikososial. Pada psikoedukasi keluarga terdapat kolaborasi dari klinisi dengan anggota keluarga
pasien yang menderita gangguan jiwa berat.
Tujuan dari program psikoedukasi adalah menambah pengetahuan tentang gangguan
jiwa anggota keluarga sehingga diharapkan dapat menurunkan angka kambuh, dan meningkatkan
fungsi keluarga. Tujuan ini akan dicapai melalui serangkaian kegiatan edukasi tentang penyakit,
cara mengatasi gejala, dan kemampuan yang dimiliki keluarga.
Pekkala dan Merinder (2001) menemukan bahwa program psikoedukasi menurunkan kambuh
atau rawat ulang dari 9 bulan menjadi 18 bulan. Sedangkan Dyck, et al (2000) menemukan
bahwa kelompok keluarga yang mendapat program psikoedukasi lebih efektif merawat gejala
negatif daripada kelompok standar. Selain itu program psikoedukasi berhasil mengurangi reaksi
negatif dan kejenuhan keluarga yang merawat. Secara umum, program komprehensif dari
psikoedukasi adalah sebagai berikut:
a. Komponen didaktik, berupa pendidikan kesehatan, yang menyediakan informasi tentang
penyakit dan sistem kesehatan jiwa
b. Komponen ketrampilan, yang menyediakan pelatihan tentang komunikasi, penyelesaian
konflik, pemecahan masalah, asertif, manajemen perilaku dan manajemen stress
c. Komponen emosional, memberi kesempatan ventilasi dan berbagi perasaan disertai
dukungan emosional. Mobilisasi sumber daya yang dibutuhkan, khusus pada keadaan krisis
d. Komponen sosial, peningkatan penggunaan jejaring formal dan non formal. Peningkatan
kontak dengan jejaring sumber daya dan sistem pendukung yang ada di masyarakat akan
menguntungkan keluarga dan klien

Hal hal yang dilakukan pada saat melakukan psikoedukasi keluarga antara lain:

Mengidentifikasi bagaimana reaksi anggota keluarga terhadap keadaan pasien yang


menderita gangguan jiwa.

Mengidentifikasi faktor penyebab gangguan jiwa yang diderita oleh pasien.

Mengidentifikasi tanda dan gejala prodormal gangguan jiwa yang terjadi pada pasien.

Mengajarkan kepada keluarga bagaimana strategi koping yang dapat diterapkan.

Menjelaskan kepada keluarga tentang psikobiologi penyakit jiwa, diagnosis dan


pengobatannya, reaksi keluarga, trauma keluarga, pencegahan kambuh, guideline
keluarga.

Melakukan pemecahan masalah secara terstruktur


Skizofrenia merupakan gangguan jiwa kronik yang memiliki karakteristik gejala positif

seperti waham dan halusinasi, juga gejala negatif seperti afek tumpul dan apatis. Penyakit ini
juga sering berhubungan dengan ganggguan kognitif dan depresi. Penyakit ini biasanya mulai
muncul pada usia dewasa muda dan ditandai dengan terjadinya relaps dengan periode remisi
sempurna atau parsial. Pada kebanyakan kasus, penyakit ini menyebabkan disabilitas, mengenai
seluruh aspek dalam kehidupan dan membutuhkan terapi anti psikotik jangka panjang.
Skizofrenia merupakan gangguan jiwa yang menghancurkan dan dapat menimbulkan disabilitas.
Prevalensi terjadinya skizofrenia adalah 0,4 1,4 % dan biasanya dimulai pada usia dewasa atau
dewasa muda. Kurang dari 20 % pasien yang dapat mengalami recovery sempurna setelah
episode pertama.
Terapi yang diberikan bertujuan untuk mencapai keadaan remisi pada semua gejala
dengan memaksimalkan kapasitas fungsi dan optimalisasi kualitas hidup. Antipsikotik
konvensional seperti klorpromazine dan haloperidol yang diperkenalkan pada tahun 1950 cukup
efektif dalam mengobati psikosis akut dan mencegah terjadinya relaps. Terapi untuk mencegah
relaps memerlukan waktu yang lama bahkan bisa seumur hidup sehingga diperlukan obat yang
efektif, aman, dan sedikit efek samping. Untuk tujuan ini maka dengan mulai munculnya obat
antipsikotik golongan atipikal maka pengobatan skizofrenia mulai berubah dengan menggunakan

obat

antipsikotik

atipikal

yang

memiliki

efek

samping

lebih

sedikit.

Meskipun pengobatan dengan antipsikotik efektif mengurangi angka terjadinya relaps tetapi 30%
- 40% pasien mengalami relaps pada satu tahun setelah keluar dari rumah sakit meski mereka
tetap meminum obat.
Mengkombinasikan antara pengobatan antipsikotik dengan pendekatan psikososial
merupakan suatu cara yang efektif dibandingkan hanya dengan obat saja dalam mencegah
terjadinya relaps pada pasien skizofrenia. Komponen dari terapi psikososial antara lain adalah :
1. Psikoedukasi keluarga dan pasien : pasien, keluarga dan orang kunci di sekitar pasien
perlu belajar sebanyak mungkin tentang apa itu skizofrenia, bagaimana pengobatannya
sehingga terbentuk pengetahuan dan ketrampilan yang berguna untuk mencegah
timbulnya relaps.
2. Kolaborasi membuat keputusan : penting bagi pasien, keluarga, dan klinisi untuk
memutuskan bersama tentang terapi dan tujuannya. Apabila pasien sudah mulai
membaik, dia dapat menjadi bagian dalam pembuatan keputusan ini.
3. Monitoring gejala dan pengobatan : monitoring yang hati-hati dapat meyakinkan pasien
untuk minum dan mengidentifikasi secara dini tanda-tanda timbulnya relaps sehingga
pencegahan dapat dilakukan.
4. Asistensi dalam mencari pelayanan kesehatan, asuransi, dll : Pasien kadangkala
membutuhkan bantuan dalam mencari pelayanan kesehatan yang lain seperti medis, gigi,
atau mencari asuransi kesehatan. Tim terapi, pasien dan keluarga harus berusaha
mengeksplorasi sumber-sumber apa saja yang dapat diperoleh atau disediakan. Termasuk
di dalamnya apabila pasien sudah mulai ingin bekerja, dicarikan tempat pekerjaan yang
cocok.
5. Terapi suportif perilaku : termasuk dukungan perilaku emosi dan meyakinkan serta
mendorong perilaku sehat pasien dan membantu pasien menerima keadaannya.
6. Peer support / self help group : adanya sebuah kelompok yang memiliki jadwal
bertemu yang reguler tergantung pada kebutuhan dan perhatian dari kelompok tersebut.
Pembicara dapat diundang untuk memberikan pengetahuan, terjadi juga diskusi dan
sharing

yang

dapat

saling

menguatkan.

Pelayanan yang lain yang juga dapat diberikan pada pasien antara lain adalah:

Mengatur jadwal pertemuan kembali dengan dokter

Assertive community treatment

Rehabilitasi :
Rehabilitasi

psikososial

ketrampilan

dengan

membantu
tujuan

pasien

melatih

mendapatkan

atau

mempertahankan pekerjaan
rehabilitasi

psikiatri

membuatnya

mengajarkan

dapat

meraih

pasien

tujuan

ketrampilan
dalam

yang

pekerjaan,

pendidikan, sosialisasi dan tempat tinggal


rehabilitasi
yang

dapat

pekerjaan

latihan

bekerja

membantu

pasien

untuk

dan
menjadi

program
pekerja

training
penuh

waktu

Intensive partial hospitalization

Aftercare day treatment

Penelitian yang dilakukan oleh Marvin dkk pada tahun 2000 menunjukkan bahwa suatu program
untuk mencegah relaps yang mengkombinasikan psikoedukasi keluarga dengan intervensi klinik
termasuk obat obatan, dapat secara efektif mengurangi terjadinya relaps pada pasien
skizofrenia.
2.2.2. Peran Keluarga dalam Penanganan Pasien Skizofrenia.
Kepedulian masyarakat akan kesehatan khususnya kesehatan jiwa akan meningkatkan
peran serta mereka untuk bertanggung jawab terhadap program pelayanan kesehatan jiwa
masyarakat. Penggunaan sumber daya yang tersedia di masyarakat dapat memberdayakan
individu, keluarga, kelompok dan masyarakat sehingga kesehatan jiwa menjadi tanggung jawab
masyarakat bukan hanya tanggung jawab para profesional (Juvita, 2009).
Peran serta masyarakat sangat penting karena perawatan di rumah sakit jauh lebih mahal,
misalnya biaya perawatan pasien skizofrenia di USA sebesar 65.2 juta dolar per tahun. Biaya
perawatan pasien skizofrenia di rumah oleh keluarga akan menghemat sebesar 25 juta pounds per
tahun. Keberhasilan pelayanan pada pasien skizofrenia tergantung dari kerjasama tim kesehatan
jiwa di masyarakat (dokter, perawat, pekerja sosial) dengan pasien dan keluarganya. Anggota
keluarga diperlukan memberikan perawatan di rumah khususnya pencegahan tersier pada
skizofrenia, serta melakukan fungsinya.

Perawatan skizofrenia oleh keluarga:


1. Menurut (Setiadi 2008) beberapa hal yang harus dilakukan keluarga dalam upaya penyesuaian
diri dengan kehadiran skizofrenia dalam sistem mereka dan cara mengatasinya adalah:
a. Aktif mencari informasi/psikoedukasi
Informasi-informasi yang akurat tentang skizofrenia, gejala-gejalanya, kemungkinan
perjalannan penyakitnya, berbagai bantuan medis dan psikologis yang dapa
meringankan gejala skizofrenia merupakan sebagian informasi vital yang sangat
dibutuhkan keluarga. Informasi yang tepat akan menghilangkan saling menyalahkan
satu sama lain, memberikan pegangan untuk dapat berharap secara realistis dan
membantu keluarga mengarahkan sumber daya yang mereka miliki pada usaha-usaha
yang produktif. Pemberian informasi yang tepat dapat dilakukan dengan suatu
program psikoedukasi untuk keluarga.
b. Sikap yang tepat adalah SAFE (Sense of humor, Accepting the illness, Family
balance, Expectations which are realistic).
c. Menurut Torney(1988) dalam Iman Setiasi, keluarga perlu memiliki sikap yang tepat
tentang skizofrenia, sisingkatnya sikap-sikap yang tepat itu dengan SAFE.
d. Support group
Bilamana keluarga menghadapi skizofrenia dalam keluarga mereka seorang diri,
beban itu akan terasa sangat berat, namun bila keluarga-keluarga yang sama-sama
memiliki anggota keluarga skizofrenia bergabung bersama maka beban mereka akan
terasa lebih ringan. Mereka dapat saling menguatkan, berbagi informasi yang mutahir,
bahkan mungkin menggalang dana bersama bagi keluarga yang kurang mampu.
Upaya peredaan ketegangan emosional secara kelompok juga akan lebih efektif dan
lebih murah.
e. Family therapy (object relations family therapy)
Family therapy dapat menjadi bagian dari rangkaian upaya membantu keluarga agar
sebagai suatu sistem meningkat kohesivitasnya dan lebih mampu

melakukan

penyesuaian diri
f. Keluarga harus membantu menumbuhkan sikap mandiri dalam diri si penderita
seperti melibatkan dalam kegiata sehari-hari dan mereka harus sabar dan menerima
kenyatan.
Dukungan keluarga dan teman merupakan salah satu obat penyembuh yang sangat berita bagi
penderita skizofrenia. Menerima kenyataan, menurut Suryantha adalah kunci pertama proses

penyembuhan atau pengendalian skizofrenia. Keluarga harus tetap bersikap menerima, tetap
berkomunikasi dan tidak mengasingkan penderita. Tindakan kasar, bentakan, atau mengucilkan
malah akan membuat penderita semakin depresi bahkan cenderung bersikap kasar. Akan tetapi
terlalu memanjakan juga tidak baik.7
Pasca perawatan biasanya penderita akan dikembalikan pada lingkungan keluarga. Penerimaan
kembali oleh keluarga sangat besar artinya, dalam berbicara tidak boleh emosional agar tidak
memancing kembali emosi penderita. Yang penting usaha-usaha preventif berupa hindari frustasi
dan kesulitan psikis lainnya. Menciptakan kontak-kontak social yang sehat dan baik.
Membiasakan pasien memiliki sikap hidup positif dan mau melihat hari depan dengan
keberanian.7
Pada skizofrenia fase aktif penderita mudah terpukul oleh problem yang sederhana sekalipun.
Kurangi pemberian tanggung jawab agar tidak membebani penderita dan dapat mengurangi
stress jangka pendek. Penderita mungkin menggunakan kata-kata yang tidak masuk akal, agar
lebih paham cobalah berkomunikasi dengan cara lain dan mengajak melakukan aktivitas
bersama-sama seperti mendengarkan music, melukis, nonton tv, atau menunjukkan perhatian
tanpa bercakap-cakap.
Keluarga menanggung beban dan tanggung jawab merawat anggota keluarga yang sakit
terutama mengatasi perilaku kacau atau tanpa informasi, ketrampilan dan dukungan yang
memadai. Akhir-akhir ini perhatian para ahli beralih kepada pengaruh keluarga

terhadap

timbulnya kekambuhan. Sikap keluarga terhadap penderita dapat ditentukan dengan apa yang
disebut EE (Emotional Expresion) yang ter diri atas kritikan atau komentar negative, emotional
over involvement, permusuhan terhadap penderita, ketidakpuasan dan kehangatan. Bila keluarga
EE nya tinggi maka kekambuhan akan tinggi, namun sebaliknya bila EEnya tidak maka
kekambuhan akan tinggi, namun sebaliknya bila EEnya rendah maka kekambuhan pun akan
rendah.
2. Menurut Nurhaeni dkk (2002) adalah focus pada pencegahan kekambuhan klien gangguan
jiwa antara lain:
a. Mengenal adanya penyimpangan awal sedini mungkin
b. Mengambil keputusan dalam mencari pertolongan atau bantuan kesehatan sedini
mungkin

c. Memberi perawatan bagi anggota keluarga yang sakit, cacar atau memerlukan
bantuan dan menaggulangi keadaan darurat kesehatan.
d. Menciptakan lingkungan keluarga yang sehat
e. Memanfatkan sumber yang ada di masyarakat
f. Melaksanakan program rekreasi misalnya: mengajak klien nonton bersama, jalan
santai, pergi ketempat rekreasi.
g. Melakukan kegiatan social dan keagamaan misalnya: mengajak klien arisan bersama,
mengajak pergi ke pura, pengajian dll.
h. Mencegah stigma di masyarakat tentang gangguan jiwa seperti: pendekatan pada took
masyarakat atau orang yang berpengaruh dalam rangka mensosialisasikan kesehatan
jiwa dan gangguan jiwa.
i. Saling terbuka dan tidak ada diskriminasi
j. Saling menghargai dan mempercayai
k. Menghadapi ketegangan dangan tenang dan menyelesaikan masalah kritis/darurat
secara tuntas dan wajar.

2.3 KEKAMBUHAN
2.3.1. Defenisi Kekambuhan
Kekambuhan adalah istilah medis yang mendiskripsikan tanda-tanda dan gejala kembalinya
suatu penyakit setelah suatu pemulihan yang jelas. Menurut Kazadi (2008)

penyebab

kekambuhan pasien Skizofrenia adalah faktor psikososial yaitu pengaruh lingkungan keluarga
maupun sosial.
Kambuh merupakan kondisi dimana pasien kembali menunjukkan gejala-gejala skizofrenia
setelah remisi dari rumah sakit. Penderita mengalami kambuh diikuti oleh perburukan sosial
lebih lanjut pada fungsi dasar pasien. Kekambuhan pasien skizofrenia merupakan istilah yang
secara relative merefleksikan perburukan gejala atau perilaku yang membahayakan pasien dan
atau lingkunganya. Tingkat kekambuhan sering di ukur dengan menilai waktu antara lepas rawat
dari perawatan terakhir sampai perawatan berikutnya dan jumlah rawat inap pada periode
tertentu (Pratt,2006). Keputusan untuk melakukan rawat inap di rumah sakit pada pasien
skizofenia adalah hal utama yang dilakukan atas indikasi keamanan pasien karena adanya
kekambuhan yang tampak dengan tindakan seperti ide bunuh diri atau mencelakakan orang lain,
dan bila terdapat perilaku yang sangat terdisorganisasi atau tidak wajar termasuk bila pasien
tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar berupa makan, perawatan diri dan tempat tinggalnya.

Selain itu rawat inap rumah sakit diperlukan untuk hal-hal yang berkaitan dengan diagnostic san
stabilitas pemberian medikasi (Kazadi, 2008). Perawatan pasien skizofrenia cenderung berulang,
apapun subtype penyakitnya. Tingkat kekambuhan lebih tinggi pada pasien skizofrenia yang
hidup bersama anggota keluarga yang penuh ketegangan, permusuhan dan keluarga yang
memperlihatkan kecemasan yang berlebihan. Tingkat kekambuhan dipengaruhi juga oleh stress
dalam kehidupan, seperti hal yang berkaitan dengan keuangan dan pekerjaan. Keluarga
merupakan bagian yang penting dalam proses pengobatan dengan skizofrenia. Keluarga berperan
dalam deteksi dini, proses penyembuhan dan pencegahan kekambuhan. Penelitian pada keluarga
di Amerika, membuktikan bahwa peranan keluarga yang baik akan mengurangi angka perawatan
di rumah sakit, kekambuhan dan memperpanjang waktu antara kekambuhan. Meskipun angka
kekambuhan secara otomatis dapat dijadikan sebagai criteria kesuksesan suatu pengobatan
skizofrenia, tetapi parameter ini cukup signifikan dalam beberapa aspek. Setiap kekambuhan
berpotensi menimbulkan bahaya bagi pasien dan keluarganya, yakni seringkali mengakibatkan
perawatan kembali rehospitalisasi dan pembengkakan biaya.
2.3.2 FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KEKAMBUHAN
a) Ketidakpatuhan Meminum Obat
Faktor yang paling penting dengan kekambuhan pada skizofrenia adalah ketidakpatuhan
meminum obat. Salah satu terapi pada pasien skzofrenia adalah pemberian antipsikosis. Obat
tersebut bekerja bila dipakai dengan benar tetapi banyak dijumpai pasien skizofrenia tidak
menggunakan obat mereka secara rutin. Kira-kira 7% orang-orang yang diberi resep obat-obat
antipsikotik menolak memakainya (Yusak, 2002).
Menurut Yusak (2002) factor ketidakpatuhan terhadap pengobatan adalah kurang pahamnya
pasien tentang tujuan pengobatan yang ditetapkan sehubungan dengan prognosisnya, sukarnya
memperoleh obat di luar rumah sakit, mahalnya harga obat, dan kurangnya perhatian dan
kepedulian keluarga yang mungkin bertanggungjawab atas pembelian atau pemberian abat
kepada pasien. Terapi obat yang efektif dan aman hanya dapat dicapai bila pasien mengetahui
seluk beluk pengobatan serta kegunaanya.
Menurut Sinaga et al. Kriteria ketidakpatuhan terhadap pengobatan adalah jika ditemukan salah
satu keadaan dibawah ini.
1. Pada pasien rawat jalan atau rawat inap dalam 72 jam menunjukkan > dua

episode dari:
1) Menolak obat yang diresepkan baik secara aktif atau pasif
2) Adanya bukti atau kerugian menyimpang atau meludahkan obat yang diberikan
3) Menunjukkan keragu-raguan terhadap obat yang diberikan.
2. Pasien rawat inap dengan riwayat tidak patuh pada pengobatan sewaktu rawat jalan minimal
tidak patuh selama 7 hari dalam sebulan.
3. Pasien rawat jalan dengan riwayat ketidakpatuhan yang sangat jelas seperti sudah pernah
dilakukan keputusan untuk mengawasi dengan ketat oleh orang lain dalam waktu sebulan.
4. Pasien rawat inap yang mengatakan dirinya tidak dapat menelan obatobatan walaupun tidak
ditemukan kondisi medis yang dapat mengakibatkan hal tersebut.
Faktor- faktor yang mempunyai hubungan dengan ketidakpatuhan minum obat antara lain:
1. Faktor-faktor sehubungan dengan pasien (keparahan penyakit, instight yang buruk,
komorbid dengan penggunaan zat).
2. Faktor-faktor sehubungan dengan pengobatan (efek samping obat yang mengganggu,
dosis yang tidak efektif).
3. Faktor lingkungan (kurangnya dukungan)
4. Faktor sehubungan dengan interaksi dengan petugas professional kesehatan.
b) Faktor Sehubungan Dengan Pasien
Beberapa karakteristik demografi telah dihubungkan dengan perilaku patuh. Usia masih
merupakan masalah yang kontroversial dalam hubungan ketidakpatuhan. Tampaknya pasien
pasien yang berusia lanjut mempunyai permasalahan tentang kepatuhan terhadap rekomendasi
yang diberikan. Dikalangan usia muda, terutama pria, cenderung mempunyai tingkat kepatuhan
yang buruk terhadap pengobatan. Alasan untuk hal ini kemungkinan bahwa pada dewasa muda
sehubungan dengan segala bentuk terapi atau mengatur perjanjian, mereka menganggap dirinya
istimewa dan berbeda dengan yang lain.
Sedangkan pada orang tua, kemungkinan memiliki defisit memori sehingga dapat mempengaruhi
kepatuhan. Selain itu,pada orang tua sering mendapat berbagai macam obat-obatan sehubungan
dengan komorbiditas fisik. Wanita cenderung lebih patuh terhadap pengobatan dibandingkan
dengan pria, begitu juga wanita muda menunjukkan kepatuhan yang lebih baik dibandingkan
yang tua.

Keadaan penyakit pasien sendiri juga mempunyai pengaruh yang kuat dalam penerimaan
terhadap pengobatan. Pasien yang merasa tersiksa atau khawatir akan diracun, akan merasa
enggan untuk menerima pengobatan. Permasalahan yang lain adalah model kepercayaan pasien
tergantung tentang kesehatanya, dimana menggambarkan pikiran pasien tentang kesehatanya,
dimana menggambarkan pikiran pasien tentang penyebab dan keparahan penyakit mereka.
Banyak orang menilai bahwa skizofrenia adalah penyakit yang kurang penting dan tidak begitu
serius dibandingkan dengan penyakit-penyakit lain seperti kanker. Jadi jelas bahwa jika mereka
mempercayai penyakitnya tidak begitu serius dan tidak penting untuk diterapi maka ketidak
patuhan dapat terjadi.
Sikap pasien terhadap pengobatan juga perlu diperhitungkan dalam pengaruhnya terhadap
kepatuhan pasien terhadap pengobatan. Sangatlah penting untuk mengamati, berdiskusi dan jika
memungkinkan mencoba untuk merubah sikap pasien terhadap pengobatan. Pada pasien dengan
skizofrenia sikap pasien terhadap pengobatan dengan antipsikotik bervariasi dari yang sangat
negative sampai sangat positif. Sikap negatif terhadap pengobatan berhubungan dengan simtom
positif dan efek samping. Selain itu juga pasien skizofrenia sering mengalami kejenuhan minum
obat. Masalah keuangan dapat juga mengganggu kepatuhan pasien. Beberapa pasien mungkin
tidak mampu untuk membeli obat atau walaupun mampu jarak tempuh dan transportasi dapat
menjadi penghalang.
c) Faktor Sehubungan Dengan Pengobatan
Pasien yang tidak mengalami efek samping terhadap pengobatan kemungkinan lebih mau
melanjutkan pengobatan. Efek samping obat neuroleptik yang tidak menyenangkan sebaiknya
diperhitungkan sebab dapat berperan dalam menurunkan kepatuhan. Efek samping yang umum
dan penting adalah efek ekstrapiramidal, gangguan seksual dan penambahan berat badan. Namun
pada data ternyata tidak ada hubungan antara regimen terapi dan profil efek samping dengan
kepatuhan terhadap pengobatan. Kenyataanya pasien yang tidak patuh tidak berbeda dari pasien
yang patuh dalam melaporkan efek samping neurologic.
Masalah tambahan dalam pengobatan skizofrenia adalah kebanyakan obatobat antipsikotik kerja
obatnya lambat, sehingga pasien tidak merasakan dengan segera efek positif dari antipsikotik.
Malahan kadang-kadang pasien terlebih dahulu merasakan efek samping sebelum efek obat
terhadap penyakitnya tersebut. Begitu uga dengan pasien skizofrenia yang sudah dalam remisi

biasanya kekambuhan tidak langsung segera terjadi bila pengobatan dihentikan. Kekambuh dapat
terjadi beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan setelah obat antipsikotik dihentikan, jadi
penghentian obat tidak terlalu berhubungan dengan buruknya keadaan pasien. Sebagai akibatnya
pasien yang sudah dalam remisi sempurna mempunyai permasalahan apakah remisi tersebut
berhubungan dengan pengobatan yang dilakukanya.
d) Faktor Lingkungan
Dukungan dan bantuan merupakan bagian penting dalam kepatuhan pengobatan. Pasien yang
tinggal sendirian secara umum mempunyai angka kepatuhan yang rendah dibandingkan dengan
mereka yang tinggal dalam lingkungan yang mendukung. Kemungkinan lain, sikap negative
dalam lingkungan sosial pasien terhadap pengobatan psikiatri atau terhadap pasien sendiri dapat
mempengaruhi kepatuhan yang biasanya bila pasien tinggal dengan orang lain. Tidak kalah
penting faktor yang mempengaruhi perilaku pasien terhadap kepatuhan adalah pengaruh obat
terhadap penyakitnya. Sangat penting untuk memberikan dukungan untuk menambah sikap
positif terhadap pengobatan pada pasien. Lingkungan terapetik juga harus diperhitungkan. Dalam
pasien rawat inap dimana teman sekamar pernah mengalami pengalaman buruk terhadap satu
jenis obat dan menceritakannya maka akan merubah sikap pasien terhadap obat yang sama.
e) Faktor Psikososial
Berbagai macam stressor lingkungan kemungkinan berhubungan dengan kekambuhan
skizofrenia. Stessor psikososial adalah setiap keadaan atau peristiwa yang menyebabkan
perubahan dalam kehidupan seseorang yang memaksa orang tersebut untuk beradaptasi.
Perhatian utama ditujukan bagi semua emosi yang diekspresikan (expressed emotion) dan resiko
terjadinya relaps pada skizofrenia. Sebagai salah satu faktor, yang dimaksud dengan expressed
emotion dalam hal ini adalah berupa kebiasaan memperlihatkan kritik atau emosi yang
berlebihan orang tua terhadap anak-anaknya.
Selain faktor transaksional keluarga lainya, studi terbaru menunjukkan ketertarikanya terhadap
gaya afektif negative (negative affaective style), seperti mengkritik yang berlebihan, sikap
menyalahkan, gangguan-gangguan, dan dukungan yang tidak adekuat. Pasien skizofrenia yang
tinggal dalam lingkungan keluarga dengan expressed emotion yang kuat atau gaya afektif
negative secara signifikan lebih sering mengalami relaps dibandingkan dengan yang tinggal

dalam keluarga dengan expressed emotion yang rendah, atau gaya yang normal. Studi keluarga
menunjukkan bahwa pasien skizofrenia yang kembali ke lingkungan rumah yang sering terjadi
keadaan kritis, kekerasan atau emosi yang diekspresikan cenderung akan meningkatkan relaps.
Studi WHO menunjukkan outcome yang lebih baik pada pasien skizofrenia secara tradisional, di
Negara-negara non-Barat, dimana keluarga lebih toleran. Intervensi keluarga terhadap terapi
mungkindapat menurunkan atau paling tidak akan memperlambat relaps pada pasien. Intervensi
yang dapat dilakukan keluarga adalah lebih dapat menerima bentuk menejemen yang
kebanyakan pasien tidak dapat menerimanya. Selain itu, percobaan intervensi social keluarga
penderita skizofrenia dengan pengobatan ternyata menghasilkan angka relaps yang sangat rendah
dibandingkan dengan hanya menggunakan pengobatan. Leff dan Vaughn melaporkan bahwa
bentuk empati merupakan bagian dari sekumpulan sikap dengan pengekspresian emosi yang
rendah. Sikap dari keluarga merupakan salah satu predikator yang sangat kuat terhadap relaps
pada skizofrenia.
Berbagai macam stessor lingkungan kemungkinan berhubungan dengan relapsnya skizofrenia.
Yang dimaksud dengan stressor psikososial adalah

setiap keadaan atau peristiwa yang

menyebabkan perubahan dalam kehidupan seseorang yang memaksa orang tersebut untuk
beradaptasi atau mengulangi. Biasanya stressor terjadi dalam kurun waktu satu tahun sebelum
gangguan jiwa saat ini. Yang termasuk stressor psikososial adalah:
i. Masalah dengan kelompok pendukung.
Kelompok pendukung dalam hal ini adalah keluarga. Salah satu kendala dalam upaya
penyembuhan skizofrenia adalah adanya stigma dalam keluarga dan masyarakat. Banyak
keluarga yang menganggap bahwa gangguan jiwa skizofrenia adalah penyakit yang
memalukan dan bukan penyakit yang dapat disembuhkan dengan tindakan medis.
Penerimaan keluarga dan lingkungan pada klien skizofreniaakan membantu proses
penyembuhan skizofrenia.
ii. Masalah pendidikan
Pendidikan berpengaruh pada proses kekambuhan pasien skizofrenia. Hal ini
bersangkutan dengan pemahaman keluarga tentang skizofrenia dan proses penyembuhan
skizofrenia. Keluarga dengan tingkat pendidikan yang tinggi akan lebih mudah untuk
memberikan

penyuluhan

dan

pemahaman

tentang

dibandingkan dengan keluarga yang berpendidikan rendah.

penganganan

skizofrenia,

iii. Masalah pekerjaan


Adanya stigma terhadap penyakit skizofrenia menimbulkan beban berupa beban subjektif
maupun objektif bagi penderita dan keluarganya. Bagi penderita hal tersebut menjadi
halangan baginya untuk mendapatkan perlakuan yang layak, kesulitan dalam mencari
pekerjaan dan sebagainya. Sebuah penelitian di Singapura memperlihatkan terdapat 73%
dari penderita kesulitan mendapatkan pekerjaan, 52% mengalami rendah diri dan 51%
dimusuhi akibat menderita skizofrenia. (Yosep, 2009).
iv. Masalah perumahan
Tempat tinggal yang terlalu ramai dan bising akan mempercepat orang mengalami stres.
Rasa tidak aman dan tidak terlindungi membuat jiwa seseorang tercekam sehingga
menganggu ketenangan dan ketentraman hidup.
v. Masalah ekonomi
Biaya pengobatan yang mahal ditambah dengan kemampuan ekonomi yang lemah
menngakibatkan beberapa keluarga pasien tidak menebus resep yang telah diberikan,
sehingga pasien tidak meminum obat sesuai dengan yang telah dianjurkan oleh dokter.
Hal tersebut akan mempengaruhi kekambuhan pada pasien.
vi. Masalah dengan pelayanan kesehatan
Pasien dengan skizofrenia memerlukan pelayanan kesehatan yang terusmenerus untuk
tetapmenjaga agar tidak terjadi kekambuhan. Tersedianya pelayanan kesehatan akan
mempermudah untuk mengontrol penderita skizofrenia sehingga kekambuhan dapat
diatasi
2.4 Hubungan Psikoedukasi Keluarga Dengan Kejadian Relaps Pada Pasien Skizofrenia
Memberikan obat antipsikotik pada pasien skizofrenia merupakan langkah pertama untuk
mengobati pasien tetapi sekarang ini semakin disadari bahwa perawatan yang komprehensif
membutuhkan integrasi antara obat-obatan, pencegahan relaps dan rehabilitasi psikososial.
Psikoedukasi keluarga merupakan terapi psikososial yang paling efektif. Psikoedukasi dapat
mengurangi angka rawat dan mengurangi biaya pengobatan pada pasien skizofrenia.
Beberapa studi tentang psikoedukasi keluarga yang telah dilakukan ditunjukkan di bawah ini:
(Shirly et al, 2006)

Goldstein dkk. (1978) melakukan penelitian pada 104 pasien skizofrenia (terutama
kunjungan pertama) membandingkan antara psikoedukasi keluarga (orientasi enam krisis,
sesi mingguan cepat; pendidikan, membangun penerimaan, merencanakan masa depan)
dengan pengobatan dengan dosis rendah dan sedang dan hasilnya secara bermakna
menurunkan relaps pada grup psikoedukasi keluarga selama 6 bulan .

Falloon dkk. (1982) melakukan penelitian pada 36 pasien skizofrenia yang tinggal
dengan keluarga yang HEE atau dinyatakan sebagai resiko tinggi untuk terjadinya relaps
membandingkan psikoedukasi keluarga (pemecahan masalah dan latihan kemampuan
komunikasi pada keluarga di rumah. Terapi intensif selama 3 bulan yang diteruskan
dengan 6 bulan sesi follow up ) dengan psikoterapi suportif individual dengan konseling
keluarga yang cepat dan hasilnya Secara bermakna menurunkan relaps pada grup terapi
keluarga selama 9 bulan.

Leff dkk. (1982, 1985) melakukan penelitian pada 24 pasien skizofrenia yang tinggal
dengan keluarga yang HEE membandingkan pendidikan pada keluarga, anggota keluarga,
terapi keluarga di rumah dengan kontrol teratur ke rumah sakit dengan kontak yang
sedikit pada keluarga dan hasilnya secara bermakna menurunkan relaps pada grup terapi
keluarga selama 9 bulan ; tidak bermakna pada terapi 2 tahun.

Glick dkk. (1985) Haas dkk. (1988) melakukan penelitian pada 80 pasien dengan
skizofrenia atau gangguan skizofreniform dan 60 pasien dengan gangguan afektif mayor
disorder membandingkan intervensi pada keluarga yang dirawat selama 6 sesi:
pendidikan, identifikasi stresor kini dan akan datang dengan Perawatan intensif pasien
rawat yang standar dan hasilnya terapi memiliki efek positif yang bermakna pada gejala
yang terdapat pada pasien perempuan dan kelurga pasien pada subgrup tsb.

Hogarty dkk. (1986, 1991) melakukan penelitian pada 103 pasien skizofrenia yang
tinggal dengan keluarga yang HEE membandingkan pendidikan, diskusi, komunikasi dan
latihan pemecahan masalah selama 2 tahun dengan Perawatan harian saja , latihan
ketrampilan sosial dan hasilnya Secara bermakna menurunkan relaps pada grup terapi
keluarga pada follow up tahun 1 dan 2.

McFarlane dkk. (1995) melakukan penelitian pada 172 pasien skizofrenia dengan kontak
keluarga 10 jam per minggu dan menghadiri 3 sesi program pendidikan/terapi
membandingkan psikoedukasi pada grup keluarga secara bersama dengan Psikoedukasi

pada grup keluarga sendiri sendiri dan hasilnya secara bermakna terdapat penurunan
relaps

pada

multifamily

Dari penelitian-penelitian ini didapatkan kesimpulan bahwa psikoedukasi keluarga dapat secara
efektif dan efisien mengurangi kejadian relaps pada pasien skizofrenia dan memperbaiki
fungsional dari pasien.