Anda di halaman 1dari 2

Hubungan Gigi Protusi dengan Kesulitan Proses Pengunyahan dan Penelanan

Proses deglutasi atau memasukan makanan ke dalam tubuh melalui rongga


mulut dibagi menjadi tiga fase yaitu fase oral,fase faringeal, dan fase esofageal.
Pada fase oral

terjadi proses pembentukan bolus makanan atau proses

pengunyahan yang dilaksanakan oleh gigi geligi, lidah, palatum mole, otot-otot pipi
dan saliva untuk menggiling dan membentuk bolus dengan konsistensi dan ukuran
yang siap untuk ditelan.
Mekanisme pengunyahan diawali dengan masuknya makanan ke dalam
rongga mulut, makanan dalam mulut tersebut menghambat reflex otot untuk
mengunyah yang dipersarafi nervus trigeminus. Hal ini menyebabkan terjadinya
penurunan rahang bawah dan terjadi reflex regang otot-otot rahang bawah sehingga
otot-otot tersebut berkontraksi. Setelah berkontraksi, rahang bawah terangkat lalu
terjadi pengatupan gigi sehingga bolus makanan tertekan (Guyton dan Hall, 2007).
Sementara rahang bawah naik turun, gigi-geligi rahang atas dan rahang bawah
beroklusi, memotong, melumat, menggerus, dan memperluas permukaan makanan
sehingga makanan menjadi lebih kecil, halus, mudah ditelan, dan mudah dicerna.
Pengunyahan membantu mempercepat pencernaan makanan karena enzim-enzim
pencernaan hanya bekerja pada permukaan partikel makanan, sehingga tingkat
pencernaan bergantung pada area permukaan keseluruhan yang dibongkar oleh
sekresi pencernaan.
Gigi dirancang untuk mengunyah, gigi anterior (incisors) berperan untuk
memotong dan gigi posterior (molar) berperan untuk menggiling, melumatkan, dan
menggerus makanan.
Gigi anterior yang protusi tidak dapat memotong makanan dengan baik
terutama makanan yang keras. Padahal sebelum masuk ke rongga mulut makanan
tersebut harus dipotong terlebih dahulu dengan gigi anterior agar makanan tersebut
berukuran lebih kecil. Ketika makanan tersebut masuk ke rongga mulut, ukurannya

belum ideal untuk dilumat dan digerus oleh gigi-gigi posterior akibatnya terjadi
kesulitan proses pengunyahan.
Jika terjadi kesulitan pada proses pengunyahan, makanan tidak dilumatkan
secara sempurna sehigga partikelnya belum sederhana, hal ini akan menyebabkan
kesulitan pada proses penelanan. Selain itu akan berdampak juga pada proses
pencernaan. Bolus makanan yang tidak dikunyah secara sempurna akan sulit dicerna
oleh enzim-enzim pencernaan karena enzim-enzim pencernaan hanya bekerja pada
permukaan partikel makanan.