Anda di halaman 1dari 28

MATERI OLIMPIADE ASTRONOMI

1. Mekanika Benda Langit


2. Radiasi Elektromagnet
3. Bola langit
4. Konsep waktu dan kalender
5. Tata Surya
6. Sistem Bumi-Bulan-Matahari
7. Bintang
8. Galaksi dan Kosmologi dasar

RINCIAN MATERI
1. Mekanika Benda Langit
1) Hukum Kepler
- Dapat menjelaskan tentang bentuk orbit dan gerak benda langit dalam orbit
- Hubungan periode orbit dan jarak benda langit terhadap titik pusat massa
2) Hukum Gravitasi Newton
- Dapat menjelaskan tentang gerak benda langit melalui interaksi gaya tarik
menarik Newton
- Dapat menjelaskan tentang hukum kekekalan energi
- Pasang surut
- Dapat menurunkan gaya pasang surut dan keterkaitannya dengan fase bulan
3) Aplikasi hukum Newton
- Gerak dan lintasan planet, asteroid, komet dan satelit buatan
2. Radiasi Elektromagnet
1) Hukum Radiasi
- Dapat menjelaskan pengaruh jarak terhadap kuat cahaya
- Memahami proses pelemahan dan penguatan cahaya benda langit
2) Benda Hitam
- Dapat menjelaskan konsep penyerapan dan pelepasan energi
- Memahami konsep matahari atau planet sebagai sebuah model benda hitam
3) Spektrum Elektromagnet
- Mengenal pembagian kelas spektrum
- Konsep pembangkitan energi
- Dapat menjelaskan kenapa matahari dan bintang dapat bersinar dalam tempo
milyaran tahun

3. Bola langit
1) Konsep dasar segitiga bola (beda segitiga bola dan segitiga datar
- Mengenal persyaratan segitiga pada permukaan bola yagn dinamakan segitiga
bola
- Dapat membedakan persyaratan segitiga bidang datar dan segitiga bola
2) Tata Koordinat Astronomi
- Mengenal konsep bola langit, lingkaran besar dan lingkaran kecil
- Mengenal definisi kutub lingkar besar
- Mengenal sistem koordinat geografis dalam bola Bumi (lintang dan bujur sebuah
tempat)
- Dapat menjelaskan secara kualitatif sistem koordinat horizon
- Dapat menjelaskan secara kualitatif sistem koordinat ekliptika
3) Pengertian ekuinok
- Dapat menjelaskan kedudukan titik ekuinok pada bola langit
- Dapat menjelaskan kedudukan tahunan Matahari pada saat di arah titik Vernal dan
autumnal ekunok, titik balik musim panas dan titik balik musim dingin, implikasinya
pada lama siang dan malam, panjangnya cahaya senja dan fajar astronomi.
4) Konstelasi dan Zodiak
- Dapat mengenal rasi bintang yagn terletak pada ekliptika dan daerah langit
lainnya
- Mengenal fungsi beberapa rasi bintang untuk navigasi
- Mengenal fungsi beberapa rasi bintang untuk bercocok tanam
5) Obyek langit dengan kondisi Circumpolar
- Dapat menjelaskan benda-benda langit yang tidak terbit dan terbenam dari suatu
tempat di permukaan bola bumi
4. Konsep waktu dan kalender
1) Waktu Matahari
- Dapat menjelaskan konsep waktu matahari rata-rata
- Dapat menjelaskan perbedaan jam matahari saat matahari berada di meridian
pengamat (akibat orbit bumi berbentuk elips dan sudut kemiringan ekliptika)
2) Waktu Sideris / Jam Bintang
- Dapat menjelaskan konsep waktu berdasarkan posisi bintang
- Memahami beda waktu sideris dan waktu matahari rata-rata
- Kalender surya (Julian dan Gregorian)
- Dapat menjelaskan perbedaan kalender Julian dan Gregorian

- Dapat menjelaskan definisi satu tahun tropis


- Julian Date atau Julian Day
- Dapat menjelaskan konsep penjumlahan hari matahari rata-rata sejak 1 Januari
4713 SM jam 12 GMT
3) Kalender Bulan (Kalender Hijriah)
- Dapat menjelaskan beda interval waktu periode sinodis dan sideris bulan
- Dapat menjelaskan aturan kalender bulan Hijriah
5. Tatasurya
1) Matahari (sebagai pusat Tatasurya)
- Dapat menjelaskan alasan matahari menjadi pusat gaya sentral anggota tatasurya
- Dapat menjelaskan matahari sebagai sumber energi radiasi dalam tatasurya
2) Komponen Tatasurya (Planet, Komet, Asteroid, Materi antar Planet)
- Mengenal fisik komponen tatasurya
- Dapat menjelaskan kualitatif asal mula pembentukan komponen tatasurya :
Planet, Komet, Asteroid, Materi antar planet
3) Periode Sideris dan Sinodis Planet
- Dapat menjelaskan periode sideris dan sinodis planet
- Posisi penting planet, misalnya oposisi, elongasi barat dan timur
4) Teori Pembentukan Tatasurya
- Dapat menjelaskan secara kualitatif teori pembentukan tatasurya
6. Sistem Bumi-Bulan-Matahari
1) Fase bulan dan Hilal
- Dapat menjelaskan fasa-fasa bulan
2) Periode Sideris dan Sinodis Bulan
- Dapat menjelaskan periode sideris dan sinodis bulan
3) Gerhana Bulan dan Gerhana Matahari
- Dapat menjelaskan jenis gerhana bulan dan gerhana matahari
- Dapat mendeskripsikan geometri bayang-bayang (umbra, penumbra, antumbra,
dll.)
4) Musim di Planet Bumi
- Dapat menjelaskan pengaruh kedudukan tahunan matahari terhadap musim
5) Aurora
- Mengenal kutub sumbu rotasi dan kutub medan magnet bumi

- Dapat menjelaskan peristiwa terjadinya aurora di belahan langit utara atau selatan
dan kaitannya dengan aktibitas matahari
6) Meteor Shower (Hujan Meteor)
- Dapat menjelaskan peristiwa terjadinya hujan meteor dan keterkaitannya dengan
orbit bumi
7. Bintang
1) Jarak
- Dapat menjelaskan tentang satuan/unit jarak ke benda langit (SA, parsek, TC, dll)
2) Magnitudo
- Mengenal skala terang absolut dan skala terang semu
- Dapat menjelaskan hubungan antara terang bintang dan jaraknya
3) Warna
- Dapat menjelaskan hubungan warna bintang dengan temperatur permukaannya
- Mengenal konsep pemerahan warna bintang oleh materi antar bintang
4) Daya (Luminositas)
- Mengenal ragam daya bintang
- Dapat menjelaskan hubungan kecerlangan bolometrik absolut bintand dengan
kelas spektrum
5) Temperatur
- Dapat menjelaskan perbedaan termperatur kecerlangan, temperatur warna dan
temperatur efektif
6) Radius
- Dapat menjelaskan ragam hubungan antara radius dengan kecerlangan bintang
7) Diagram Hertzprung-Russel
- Dapat menjelaskan kedudukan kelompok bintang dalam diagram HertzprungRussel
- Dapat menjelaskan keterkaitan antara bintang pada deret utama dengan bintang
raksasa, bintang maha raksasa dan bintang katai putih
8. Galaksi dan Kosmologi Dasar
1) Bimasakti
- Dapat menjelaskan kedudukan dan gerak matahari di dalam galaksi
- Mengenal struktur galaksi (piringan/disk, Bulge, Halo, Lengan Spiral, dll.)
- Mengenal komponen galaksi (materi antar bintang, bintang muda, bintang tua, dll)

2) Ekstragalaksi
- Dapat menjelaskan ragam galaksi (spiral, eliptikal dan iregular)
3) Gugus Galaksi
- Dapat mengenal gugus lokal dan gugus lainnya di alam semesta
4) Hukum Hubble
- Dapat menjelaskan fenomena menjauh dan mendekatnya galaksi
5) Teori Big Bang
- Dapat menjelaskan asal mula terbentuknya jagad raya berdasarkan teori Big Bang.

Mengukur Jarak Bintang Dengan Paralaks


Paralaks adalah perbedaan latar belakang yang tampak ketika sebuah benda yang diam dilihat
dari dua tempat yang berbeda. Kita bisa mengamati bagaimana paralaks terjadi dengan cara yang
sederhana. Acungkan jari telunjuk pada jarak tertentu (misal 30 cm) di depan mata kita.
Kemudian amati jari tersebut dengan satu mata saja secara bergantian antara mata kanan dan
mata kiri. Jari kita yang diam akan tampak berpindah tempat karena arah pandang dari mata
kanan berbeda dengan mata kiri sehingga terjadi perubahan pemandangan latar belakangnya.
Perpindahan itulah yang menunjukkan adanya paralaks.
Paralaks juga terjadi pada bintang, setidaknya begitulah yang diharapkan oleh pemerhati dunia
astronomi ketika model heliosentris dikemukakan pertama kali oleh Aristarchus (310-230 SM).
Dalam model heliosentris itu, Bumi bergerak mengelilingi Matahari dalam orbit yang berbentuk
lingkaran. Akibatnya, sebuah bintang akan diamati dari tempat-tempat yang berbeda selama
Bumi mengorbit. Dan paralaks akan mencapai nilai maksimum apabila kita mengamati bintang
pada dua waktu yang berselang 6 bulan (setengah periode revolusi Bumi). Namun saat itu tidak
ada satu orangpun yang dapat mendeteksinya sehingga Bumi dianggap tidak bergerak (karena
paralaks dianggap tidak ada). Model heliosentris kemudian ditinggalkan orang dan model
geosentrislah yang lebih banyak digunakan untuk menjelaskan perilaku alam semesta.
Paralaks pada bintang baru bisa diamati untuk pertama kalinya pada tahun 1837 oleh Friedrich
Bessel, seiring dengan teknologi teleskop untuk astronomi yang berkembang pesat (sejak Galileo
menggunakan teleskopnya untuk mengamati benda langit pada tahun 1609). Bintang yang ia
amati adalah 61 Cygni (sebuah bintang di rasi Cygnus/angsa) yang memiliki paralaks 0,29.
Ternyata paralaks pada bintang memang ada, namun dengan nilai yang sangat kecil. Hanya
keterbatasan instrumenlah yang membuat orang-orang sebelum Bessel tidak mampu
mengamatinya. Karena paralaks adalah salah satu bukti untuk model alam semesta heliosentris
(yang dipopulerkan kembali oleh Copernicus pada tahun 1543), maka penemuan paralaks ini
menjadikan model tersebut semakin kuat kedudukannya dibandingkan dengan model geosentris
Ptolemy yang banyak dipakai masyarakat sejak tahun 100 SM.

Setelah paralaks bintang ditemukan, penghitungan jarak bintang pun dimulai. Lihat ilustrasi di
bawah ini untuk memberikan gambaran bagaimana paralaks bintang terjadi. Di posisi A, kita
melihat bintang X memiliki latar belakang XA. Sedangkan 6 bulan kemudian, yaitu ketika Bumi
berada di posisi B, kita melihat bintang X memiliki latar belakang XB. Setengah dari jarak sudut
kedua posisi bintang X itulah yang disebut dengan sudut paralaks. Dari sudut inilah kita bisa
hitung jarak bintang asalkan kita mengetahui jarak Bumi-Matahari.

Dari geometri segitiga kita ketahui adanya hubungan antara sebuah sudut dan dua buah sisi.
Inilah landasan kita dalam menghitung jarak bintang dari sudut paralaks (lihat gambar di bawah).
Apabila jarak bintang adalah d, sudut paralaks adalah p, dan jarak Bumi-Matahari adalah 1 SA
(Satuan Astronomi = 150 juta kilometer), maka kita dapatkan persamaan sederhana
tan p = 1/d
atau d = 1/p, karena p adalah sudut yang sangat kecil sehingga tan p ~ p.

Jarak d dihitung dalam SA dan sudut p dihitung dalam radian. Apabila kita gunakan detik busur
sebagai satuan dari sudut paralaks (p), maka kita akan peroleh d adalah 206.265 SA atau 3,09 x
10^13 km. Jarak sebesar ini kemudian didefinisikan sebagai 1 pc (parsec, parsek), yaitu jarak
bintang yang mempunyai paralaks 1 detik busur. Pada kenyataannya, paralaks bintang yang
paling besar adalah 0,76 yang dimiliki oleh bintang terdekat dari tata surya, yaitu bintang
Proxima Centauri di rasi Centaurus yang berjarak 1,31 pc. Sudut sebesar ini akan sama dengan
sebuah tongkat sepanjang 1 meter yang diamati dari jarak 270 kilometer. Sementara bintang 61
Cygni memiliki paralaks 0,29 dan jarak 1,36 tahun cahaya (1 tahun cahaya = jarak yang
ditempuh cahaya dalam waktu satu tahun = 9,5 trilyun kilometer) atau sama dengan 3,45 pc.

Hingga tahun 1980-an, paralaks hanya bisa dideteksi dengan ketelitian 0,01 atau setara dengan
jarak maksimum 100 parsek. Jumlah bintangnya pun hanya ratusan buah. Peluncuran satelit
Hipparcos pada tahun 1989 kemudian membawa perubahan. Satelit tersebut mampu mengukur
paralaks hingga ketelitian 0,001, yang berarti mengukur jarak 100.000 bintang hingga 1000
parsek. Sebuah katalog dibuat untuk mengumpulkan data bintang yang diamati oleh satelit
Hipparcos ini. Katalog Hipparcos yang diterbitkan di akhir 1997 itu tentunya membawa
pengaruh yang sangat besar terhadap semua bidang astronomi yang bergantung pada ketelitian
jarak.

Paralaks Bintang dan Pengukuran Jarak


Fisikastudycenter.com- Contoh soal pembahasan astronomi tentang paralaks bintang.
Paralaks bintang dapat digunakan untuk memperkirakan jarak sebuah bintang dari bumi.
Rumus Paralaks Bintang

dimana
p = paralaks bintang
d = jarak bintang dari bumi
Paralaks sebuah bintang dinyatakan dalam satuan detik busur, jadi paralaks ini adalah suatu
sudut, sementara jaraknya dinyatakan dengan satuan parsec dengan 1 parsec = 3,26 tahun
cahaya.
Untuk mengetahui jarak bintang dari Bumi:

Soal No.1
Seorang pengamat memperoleh data bahwa paralaks bintang X dari bumi adalah sebesar 20 detik
busur. Berdasarkan data tersebut Tentukan jarak bintang X dari bumi, nyatakan dalam satuan
tahun cahaya!
Pembahasan
Data:

p = 20 detik busur
d =.....
Gunakan rumus jarak bintang:

Jarak bintang adalah 0,163 tahun cahaya.


Soal No.2
Bintang A memilki jarak 9,78 tahun cahaya. Tentukan besar paralaks dari bintang A gunakan 1
parsek = 3,26 tahun cahaya.
Pembahasan
Data:
d = 9,78 tahun cahaya = 9,78 : 3,26 = 3 parsek
p =....
p = 1/d
p = 1/3 = 0,33 detik busur.
Soal No.3
Sudut paralaks bintang yang paling dekat dengan Matahari adalah...
A. kurang dari 1 detik busur
B. lebih dari 1 detik busur kurang satu menit busur
C. lebih dari satu derajad
D. lebih dari satu menit busur kurang dari satu derajad
E. semua jawaban benar
Pembahasan
Bintang paling dekat dengan matahari adalah Proxima Centauri memiliki paralaks 0,772 detik
busur, yang berarti kurang dari 1 detik busur.
Soal No.4
Paralaks sebuah bintang yang dilihat dari Bumi besarnya adalah 0,5". Berapakah besarnya

paralaks bintang tersebut apabila dilihat dari planet Mars yang berjarak 1,52 AU dari Matahari?
A. 0,25"
B. 0,33"
C. 0,5"
D. 0,76"
E. 1,0"
(OSK 2009)
Pembahasan
Paralaks dari Bumi dan dari Mars:
1/5'' = 1,52/x
x = 1,52 5'' = 0,76''
Soal No.5
Paralaks sebuah bintang diamati dari bumi besarnya adalah 0,40 busur. Berapakah paralaks
bintang tersebut jika diamati dari permukaan planet Jupiter? (Jarak Jupiter Matahari adalah 5,2
satuan astronomi)

Konversi Satuan Astronomi


Konversi satuan-satuan astronomi.
Soal No.1
Berdasarkan deret ukur titius Bode, jarak rata-rata planet Mars ke Matahari adalah 1,6 AU.
Nyatakan jarak rata-rata planet Mars ke Matahari dalam satuan meter! (Gunakan 1 AU = 150 juta
km)

Pembahasan
d = 1,6 AU
d = ....meter
1AU = 150 juta km = 150 x 106 km = 150 x 109 m
1,6 AU = 1,6 x (150 x 109 m) = 2,4 x 1011 m
Soal No.2

A star is located at a distance of 5,1 parsec. 1 parsec is equal to 3,26 light years. One ligth year is
the distance travelled by light in a year. If the light speed is 300.000 km/seconds, what is the
distance of the star?
A. 1,7 x 1011 km
B. 1,5 x 1012 km
C. 1,6 x 1014 km
D. 1,1 x 1015 km
E. 1,3 x 1017 km
(Astronomi - OSK 2013)
Pembahasan
Data:
1 parsec = 3,26 light years
c = 300.000 km/s
5,1 parsec = .......km
Jarak tempuh cahaya dalam 1 tahun
1 light year = d = ct
1 light year = (300.000 km/s)(365 x 24 x 3600 s)
1 light year = 9,4608 x 1012 km
5,1 parsec = 5,1 (3,26) light years = 5,1 (3,25) (9,4608 x 1012) km = 1,573 x 1014 km = 1,6 x 1014
km
Soal No.3
Energi foton sinar gamma adalah 108 eV. Nyatakan energi foton sinar gamma dalam satuan joule!
Pembahasan
Konversi satuan energi:
1 eV = 1,6 1019 joule
(eV = elektronvolt)
Sehingga:
108 eV = 108 1,6 1019 joule = 1,6 1011 joule
Soal No.4
Sebuah bintang memiliki daya 3,95 1033 erg.s1. Nyatakan daya bintang tersebut dalam satuan
joule.s1!

Pembahasan
Konversi:
1 erg = 107 joule
Sehingga:
3,95 1033 erg.s1 = 3,95 1033 107 joule.s1 = 3,95 1026 joule.s1

Soal No.1
Radiasi bintang X pada intensitas maksimum terdeteksi pada panjang gelombang 580 nm. Jika
tetapan pergeseran Wien adalah 2,9 10 3 mK maka suhu permukaan bintang X tersebut
adalah
A. 3000 K
B. 4000 K
C. 5000 K
D. 6000 K
E. 7000 K
Pembahasan
Data:
m = 580 nm = 580 109 meter
Tetapan Wien = 2,9 10 3 mK
T =....
m T = tetapan Wien
(580 109)T = 2,9 10 3
T = 2,9 10 3 : 580 109 = 5000 K
Soal No.2
Jika radiasi matahari pada intensitas maksimum adalah warna kuning dengan panjang gelombang
510 nm maka suhu permukaan matahari adalah..
(Tetapan pergeseran Wien adalah 2,9 . 103 mK )
A. 1,69 x 103 K
B. 2,69 x 103 K

C. 3,69 x 103 K
D. 4,69 x 103 K
E. 5,69 x 103 K
Pembahasan
m = 510 nm = 510 109 m

Soal No.3
Sebuah bintang dengan temperatur permukaannya 10500 K akan memancarkan spektrum benda
hitam yang berpuncak pada panjang gelombang
A. 2,76 x 107 meter
B. 2,76 x 107 nanometer
C. 2,76 x 10 5 meter
D. 2,76 x 105 nanometer
E. 2,76 x 105 centimeter
(Astronomy seleksi kabupaten 2009)
Pembahasan
T = 10 500 K
m =....

Soal No.4
Gambar di bawah adalah spektrum sebuah bintang.

Berdasarkan spektrum bintang ini, tentukanlah temperatur bintang tersebut.


A. 20.000 K
B. 15.500 K
C. 12.250 K
D. 7.250 K
E. 5.250 K
(Astronomi Propinsi 2009)
Pembahasan
m = 4 000 = 4 000 1010 m
T =....
T = 2,9 103 / m
T = 2,9 103 / 4 000 1010
T = 7 250 K
Soal No. 5
Temperatur permukaan sebuah bintang adalah 12000 K, dan misalkan temperatur permukaan
Matahari adalah 6000 K. Jika puncak spektrum Matahari berada pada panjang gelombang 5000
Angstrom, pada panjang gelombang berapakah puncak spektrum bintang yang mempunyai
temperatur 12000 K?
A. 5000 Angstrom
B. 10000 Angstrom
C. 2500 Angstrom
D. 6700 Angstrom
E. 1200 Angstrom
Untuk menyatakan letak suatu benda langit diperlukan suatu tata koordinat yang dapat
menyatakan secara pasti kedudukan benda langit tersebut. Tata koordinat tersebut terdiri dari tata

koordinat horison, tata koordinat ekuator, tata koordinat ekliptika dan tata koordinat galaktik.
Namun dalam pembahasan kali ini akan diperkenalkan tata koordinat horison dan tata koordinat
ekuator, karena tata koordinat inilah yang paling sering digunakan dalam astronomi.
Tiap-tiap tata koordinat tentunya memiliki cara penggunaan sistem yang berbeda serta
terdapatnya berbagai macam keuntungan dan kelemahan dalam penggunaan sistem tersebut.
Dengan demikian penggunaan suatu sistem koordinat bergantung pada hasil yang kita inginkan,
apakah hasil yang didapat ingin digunakan untuk waktu sesaat atau untuk waktu yang lama dan
dapat dipakai secara universal.
Tata Koordinat Horison
Tata koordinat ini adalah tata koordinat yang paling sederhana dan paling mudah dipahami.
Tetapi tata koordinat ini sangat terbatas, yaitu hanya dapat menyatakan posisi benda langit pada
satu saat tertentu, untuk saat yang berbeda tata koordinat ini tidak dapat memberikan hubungan
yang mudah dengan posisi benda langit sebelumnya. Karena itu menyatakan saat benda langit
pada posisi itu sangat diperlukan dan tata koordinat lain diperlukan agar dapat memberikan
hubungan dengan posisi sebelum dan sesudahnya.
Bola langit dapat dibagi menjadi dua bagian sama besar oleh satu bidang yang melalui pusat bola
itu, menjadi bagian atas dan bagian bawah. Bidang itu adalah bidang horisontal yang membentuk
lingkaran HORISON pada permukaan bola, dan bagian atas adalah letak benda-benda langit
yang tampak, dan bagian bawahnya adalah letak dari benda-benda langit yang tidak terlihat saat
itu.

Penjelasan gambar
UTSB : Bidang horison
UZS : Meridian langit
BZT : Ekuator langit

Disetiap tempat di permukaan Bumi mempunyai lingkaran meridian yang berbeda-beda


tergantung bujur tempat itu (yang berbujur sama mempunyai lingkaran meridian yang sama)
Pada dasarnya garis Utara-Selatan adalah perpanjangan sumbu Bumi yang melalui kutub Utara
dan kutub Selatan. Titik Utara di Kutub Utara sering disebut Titik Utara Sejati (True North), dan
sebaliknya Titik Selatan Sejati (True South), yang mana letaknya berbeda dengan Kutub Utara
Magnetik dan Kutub Selatan Magnetik. Apabila dilihat dari zenith maka dengan putaran searah
jarum jam akan mendapatkan arah Utara, Timur, Selatan dan Barat dengan besar perbedaan
sudutnya sebesar 90o.
Dengan mengenal istilah tersebut akan memudahkan kita dalam memahami tata koordinat
horison dengan ordinatnya yaitu, Azimuth dan Tinggi (A,h).
Tinggi benda langit dapat digambarkan pada bola langit dengan membuat lingkaran besar yang
melalui zenith, benda langit itu dan tegak lurus pada horison (lingkaran vertikal), diukur dari
horison dengan nilainya 0o-90o.
Untuk menyatakan Azimuth terdapat 2 versi:

Versi pertama menggunakan titik Selatan sebagai acuan.

Versi kedua yang dianut secara internasional, diantaranya dipakai pada astronomi dan
navigasi menggunakan titik Utara sebagai acuan, berupa busur UTSB.

Kedua versi tersebut menggunakan arah yang sama, yaitu jika dilihat dari zenith arahnya searah
perputaran jarum jam yang nilainya 0o-360o.

Pada tata koordinat horizon, letak bintang ditentukan hanya berdasarkan pandangan pengamat
saja. Tata koordinat horizon tidak dapat menggambarkan lintasan peredaran semu bintang, dan
letak bintang selalu berubah sejalan dengan waktu. Namun, tata koordinat horizon penting dalam
hal pengukuran adsorbsi cahaya bintang.

Ordinat-ordinat dalam tata koordinat horizon adalah:


1.
Bujur suatu bintang dinyatakan dengan azimut (Az). Azimut umumnya diukur dari selatan
ke arah barat sampai pada proyeksi bintang itu di horizon, seperti pada gambar azimut bintang
adalak 220. Namun ada pula azimut yang diukur dari Utara ke arah timur, oleh karena itu
sebaiknya Anda menuliskan keterangan tentang ketentuan mana yang Anda gunakan.
2.
Lintang suatu bintang dinyatakan dengan tinggi bintang (a), yang diukur dari proyeksi
bintang di horizon ke arah bintang itu menuju ke zenit. Tinggi bintang diukur 0 90 jika
arahnya ke atas (menuju zenit) dan 0 -90 jika arahnya ke bawah.
Letak bintang dinyatakan dalam (Az, a). Setelah menentukan letak bintang, lukislah lingkaran
almukantaratnya, yaitu lingkaran kecil yang dilalui bintang yang sejajar dengan horizon
(lingkaran PQRS).
Keuntungan dalam penggunaan sistem koordinat horison yaitu pada penggunaannya yang
praktis, Sistem koordinat yang sederhana dan secara langsung dapat dibayangkan letak objek
pada bola langit. Namun tedapat juga beberapa kelemahan pada Sistem koordinat ini, yaitu pada
tempat yang berbeda maka horisonnya pun berbeda serta terpengaruh oleh waktu dan gerak
harian benda langit.
Tata Koordinat Ekuator
Tata koordinat ini merupakan salah satu tata koordinat yang sering digunakan dalam astronomi.
Sistem koordinat ini dapat menyatakan letak benda langit dalam skala waktu relatif panjang.
Sekalipun perubahan unsur-unsur koordinatnya relatif kecil terhadap waktu.

Dalam setiap pembahasan sistem koordinat benda langit, setiap benda langit selalu dipandang
terproyeksi pada suatu bidang bola khayal yang digambarkan sebagai bola langit. Bola yang
memuat bidang khayal tersebut disebut bola langit. Ukuran bola Bumi diabaikan terhadap bola
langit sehingga setiap pengamat di muka Bumi dianggap berada di pusat bola langit.
Seperti halnya pada pembahasan mengenai bola pada umumnya, setiap lingkaran pada bola
langit yang berpusat di pusat bola dan membagi bola menjadi dua bagian yang sama besar
disebut lingkaran besar, sedangkan lingkaran lainnya disebut lingkaran kecil.

Di bawah ini diberikan deskripsi istilah-istilah yang dipakai pada bola langit:
Titik kardinal: empat titik utama arah kompas pada lingkaran horison, yaitu Utara, Timur,
Selatan dan Barat.
Lingkaran kutub, lingkaran jam atau bujur langit: lingkaran besar melalui kutub-kutub langit.
Lingkaran ekliptika: lingkaran tempat kedudukan gerak semu tahunan Matahari. Perpotongan
bidang orbit Bumi (ekliptika) dengan bola langit.
Kutub-kutub langit: titik-titik pada bola langit tempat bola langit berotasi. Perpotongan bola
langit dengan sumbu Bumi. Kutub langit di belahan langit Selatan disebut Kutub Langit Selatan
(KLS) dan di belahan langit Utara disebut Kutub Langit Utara (KLU).
Pada sistem koordinat ekuator, koordinat yang digunakan adalah koordinat Aksensiorekta (?) dan
Deklinasi (d). Aksensiorekta adalah panjang busur yang dihitung dari titik Aries atau disebut juga
dengan titik gamma (g) pada lingkaran ekuator langit sampai ke titik kaki dengan arah
penelusuran ke arah timur, dengan rentang antara 0 s.d. 24 jam atau 00 s.d. 3600.
Sedangkan deklinasi adalah panjang busur dari titik kaki pada lingkaran ekuator langit ke arah
kutub langit sampai ke letak benda pada bola langit. Deklinasi bernilai positif jika ke arah KLU
dan bernilai negatif jika ke arah KLS, dengan rentang antara 00 s.d. 900 atau 00 s.d. -900.

Dalam penggunaan sistem koordinat ekuator, terdapat hubungan antara waktu matahari dengan
waktu bintang (waktu sideris). Dimana Waktu Menengah Matahari (WMM) = sudut jam
Matahari + 12 jam. Hubungan ini tentunya berkaitan juga dengan tanggal-tanggal istimewa titik
Aries terhadap Matahari. Tanggal-tanggal istimewa tersebut adalah :
Sekitar tanggal 21 Maret (TMS), Matahari berimpit dengan Titik Aries. Jam 0 WMM = jam 12
waktu bintang.
Sekitar tanggal 22 Juni (TMP), saat Matahari di kulminasi bawah, titik Aries berhimpit dengan
titik Timur. Jam 0 WMM = jam 18 waktu bintang.
Sekitar tanggal 23 September (TMG), saat Matahari di kulminasi bawah, titik Aries berada di
titik kulminasi atas. Jam 0 WMM = jam 0 waktu bintang.
Sekitar tanggal 22 Desember (TMD), saat Matahari di kulminasi bawah, titik Aries berhimpit
dengan titik Barat. Jam 0 WMM = jam 06 waktu bintang.
Tata koordinat ekuator merupakan sistem koordinat yang paling penting dalam astronomi. Letak
bintang-bintang, nebula, galaksi dan lainnya umumnya dinyatakan dalam tata koordinat ekuator.
Pada tata koordinat ekuator, lintasan bintang di langit dapat ditentukan dengan tepat karena
faktor lintang geografis pengamat () diperhitungkan, sehingga lintasan edar bintang-bintang di
langit (ekuator Bumi) dapat dikoreksi terhadap pengamat. Sebelum menentukan letak bintang
pada tata koordinat ekuator, sebaiknya kita mempelajari terlebih dahulu sikap bola langit, yaitu
posisi bola langit menurut pengamat pada lintang tertentu.

Sudut antara kutub Bumi (poros rotasi Bumi) dan horizon disebut tinggi kutub () . Jika
diperhatikan lebih lanjut, ternyata nilai = , dengan diukur dari Selatan ke KLS jika
pengamat berada di lintang selatan dan diukur dari Utara ke KLU jika pengamat berada di
lintang utara. Jadi untuk pengamat pada = 90 LU lingkaran ekliptika akan berimpit dengan
lingkaran horizon, dan kutub lintang utara berimpit dengan zenit, sedangkan pada = 90 LS
lingkaran ekliptika akan berimpit dengan lingkaran horizon, dan kutub lintang selatan berimpit
dengan zenit
Ordinat-ordinat dalam tata koordinat ekuator adalah:
1.
Bujur suatu bintang dinyatakan dengan sudut jam atau Hour Angle (HA). Sudut jam
menunjukkan letak suatu bintang dari titik kulminasinya, yang diukur dengan satuan jam
(ingat,1h = 15). Sudut jam diukur dari titik kulminasi atas bintang (A) ke arah barat (positif,
yang berarti bintang telah lewat kulminasi sekian jam) ataupun ke arah timur (negatif, yang

berarti tinggal sekian jam lagi bintang akan berkulminasi). Dapat juga diukur dari 0 360 dari
titik A ke arah barat.
2.
Lintang suatu bintang dinyatakan dengan deklinasi (), yang diukur dari proyeksi bintang
di ekuator ke arah bintang itu menuju ke kutub Bumi. Tinggi bintang diukur 0 90 jika
arahnya menuju KLU dan 0 -90 jika arahnya menuju KLS.
Dapat kita lihat bahwa deklinasi suatu bintang nyaris tidak berubah dalam kurun waktu yang
panjang, walaupun variasi dalam skala kecil tetap terjadi akibat presesi orbit Bumi. Namun sudut
jam suatu bintang tentunya berubah tiap jam akibat rotasi Bumi dan tiap hari akibat revolusi
Bumi. Oleh karena itu, ditentukanlah suatu ordinat baku yang bersifat tetap yang menunjukkan
bujur suatu bintang pada tanggal 23 September pukul 00.00, yaitu ketika titik Aries ^ tepat
berkulminasi atas pada pukul 00.00 waktu lokal (vernal equinox). Ordinat inilah yang disebut
asensiorekta (ascencio recta) atau kenaikan lurus, yang umumnya dinyatakan dalam jam. Faktor
gerak semu harian bintang dikoreksi terhadap waktu lokal (t) dan faktor gerak semu tahunan
bintang dikoreksi terhadap Local Siderial Time (LST) atau waktu bintang, yaitu letak titik Aries
pada hari itu. Pada tanggal 23 September LST-nya adalah pukul 00h, dan kembali ke pukul 00h
pada 23 September berikutnya sehingga pada tanggal 21 Maret, 21 Juni, dan 22 Desember LSTnya berturut-turut adalah 12h, 18h, dan 06h. Jadi LST dapat dicari dengan rumus :

Adapun hubungan LST, HA00 dan asensiorekta ()


LST = + HA00
Dengan t adalah waktu lokal. Misal jika HA00 = +3h, maka sudut jam bintang pada pukul 03.00
adalah +6h (sedang terbenam). Ingat, saat kulminasi atas maka HA = 00h. Dengan demikian
didapatkan hubungan komplit bujur pada tata koordinat ekuator
LST + t = + HAt
Patut diingat bahwa HA00 ialah posisi bintang pada pukul 00.00 waktu lokal, sehingga posisi
bintang pada sembarang waktu ialah:
HAt = HA00 + t
Dengan ordinat tetap, HAt ordinat tampak, LST koreksi tahunan, dan t koreksi waktu harian.
Contoh pada gambar di bawah. Pada tanggal 21 Maret, LST-nya adalah 12h. Jadi letak bintang R
dengan koordinat (, ) sebesar (16h,-50)akan nampak di titik R pada pukul 00.00 waktu lokal.
Perhatikan bahwa LST diukur dari titik A kearah barat sampai pada titik Aries ^. Tampak bintang
R berada pada bujur (HA00) -60 atau -4 jam. Jadi, bintang R akan berkulminasi atas di titik Ka
pada pukul 04.00 dan terbenam di horizon pada pukul 10.00. Asensiorekta diukur dari titik Aries
berlawanan pengukuran LST sampai pada proyeksi bintang di ekuator. Jadi telah jelas bahwa.

HA = LST
Dengan -xh = 24h - xh

Lingkaran kecil KaKb merupakan lintasan gerak bintang, yang sifatnya nyaris tetap. Untuk
bintang R, yang diamati dari = 40 LS akan lebih sering berada pada di atas horizon daripada
di bawah horizon. Pembahasan lebih lanjut pada bagian bintang sirkumpolar.
Tinggi bintang atau altitude, yaitu sudut kedudukan suatu bintang dari horizon dapat dicari
dengan aturan cosinus segitiga bola. Tinggi bintang, a, yaitu
a = 90 -
Dimana jarak zenit () dirumuskan dengan
cos = cos(90 ) cos(90 ) + sin(90 ) sin(90 ) cosHA
Gerak Harian Benda Langit
Bola langit melakukan gerak semu harian akibat gerak rotasi Bumi. Pengamatan permukaan
Bumi dapat mengamati benda langit bergerak berlawanan arah dengan arah gerak rotasi Bumi.
Rotasi Bumi arahnya dari barat ke timur, inilah yang menyebabkan seolah-olah benda langit
bergerak dari timur ke barat.
Oleh karena gerak harian bola langit terjadi akibat gerak rotasi Bumi, maka periode gerak harian
benda langit sama dengan periode rotasi Bumi yaitu satu hari, yang umum dianggap satu hari
adalah 24 jam, sehingga dalam selang waktu itu Bumi telah berotasi sebesar 360o. Berikut ini
diberikan hubungan waktu dan panjang busur yang ditempuh benda langit dalam melakukan
gerak harian:

24j = 3600
1j = 150
4m = 10
4d = 1
Lintasan gerak benda langit sejajar dengan ekuator langit dengan kemiringan tergantung pada
lintang pengamat (?) di permukaan Bumi. Besarnya sudut kemiringan menunjukkan besarnya
jarak kutub (90o- ?) tempat pengamat berada. Lintasan gerak harian benda langit di ekuator
langit berbentuk lingkaran besar sedangkan di tempat lainnya lingkaran kecil.
Kedua kutub langit itu yaitu KLU dan KLS yang memiliki lintasan gerak harian berbentuk titik,
sehingga tampak diam diputari oleh seluruh benda-benda langit. Benda di belahan langit Utara
tampak mengedari KLU dan di belahan langit selatan tampak mengedari KLS. Kedua kutub itu
memiliki ketinggian yang berbeda di permukaan Bumi, tergantung lintang pengamat
dipermukaan Bumi. Tempat di belahan Bumi Utara, letak KLU berada di atas horison dengan
ketinggian sama dengan besarnya lintang pengamat dan KLS berada di bawah horison.
Sebaliknya tempat di belahan Bumi Selatan, letak KLS berada di atas horison dengan ketinggian
sama dengan besarnya lintang pengamat dan KLU berada di bawah horison.
Penentuan Waktu Sideris
Waktu sideris atau waktu bintang didasarkan kepada kala rotasi bumi terhadap acuan bintang.
Seperti halnya pada hari matahari, satu hari sideris dibagi menjadi 24 jam, tetapi panjang harinya
sendiri lebih pendek sekitar 4 menit dibandingkan hari matahari. Adanya perbedaan panjang hari
sideris dengan hari matahari menyebabkan bintang-bintang termasuk titik gamma setiap hari
mencapai meridian pengamat lebih cepat sekitar 4 menit dari hari sebelumnya. Dengan lain
perkataan, titik gamma bergerak sepanjang lingkaran ekuator ke arah barat sekitar 1 derajat busur
setiap harinya.
Adapun cara menentukan waktu sideris adalah sebagai berikut :
1. Tentukan selisih hari terhadap salah satu dari 4 tanggal patokan terdekat yakni: 21 Maret, 22
Juni, 23 September atau 22 Desember.
2. Tentukan perbedaan waktu titik Aries dengan Matahari selama selisih waktu no.1 di atas
dengan mengalikan setiap beda 1 hari sebesar 4 menit.
3. Tentukan jam 0 WMM waktu setempat yang bersesuaian dengan waktu sideris pada tanggal
yang bersangkutan dengan menambahkan (jika melewati salah satu tanggal patokan di atas) atau
mengurangkan (jika mendahului) dengan selisih waktu no. 2 di atas yang paling dekat dengan
tanggal patokan terdekat yang dipakai.
4. Patokan tanggal hubungan Waktu Sideris (Siderial Time) dengan Waktu Matahari Menengah
(Mean Sun):
21 Maret Jam 0 WMM = Jam 12 Waktu Sideris
22 Juni Jam 0 WMM = Jam 18 Waktu Sideris
23 September Jam 0 WMM = Jam 0 Waktu Sideris
22 Desember Jam 0 WMM = Jam 6 Waktu Sideris
5. Tentukan waktu sideris jam yang diinginkan dengan menambahkan dengan WMM pada jam
yang ditentukan.
Contoh: Tentukan Waktu Sideris yang bersesuaian dengan Jam 10 tanggal 26 Maret 2007.
Jawab:
1. Sesilih tanggal 26 Maret dengan 21 Maret adalah = 26 - 21 = 5 hari.

2. Perbedaan waktu Aries dengan Matahari selama 5 hari = 5 x 4 menit = 20 menit.


3. Jam 0 WIB tanggal 26 Maret = Jam 12 + 20 menit = Jam 12.20 Waktu Sideris.
4. Jam 10 WIB tanggal 26 Maret = Jam 10 + 12.20 Waktu Sideris = Jam 22.20 Waktu Sideris.
Contoh soal aplikasi posisi benda langit:
Dimanakah posisi rasi Sagittarius( AR 19jam, Dekl. -250 ) pada bola langit jam 12 WIB tanggal
14 Maret 2007 ?
Jawab:
Selisih tgl 14 Maret dengan 21 Maret = 7 hari
Beda Aries dengan Matahari = 7 x 4 menit = 28 menit
Jam 0 WIB tgl 14 Maret = Jam 12 - 28 menit = Jam 11. 32 Waktu Sideris.
Jam 12 WIB tgl. 14 Maret = 11.32 + 12 WIB = Jam 23.32 Waktu Sideris.
Sudut Jam rasi Sagittarius saat itu = Waktu Sideris - AR Sagittarius = 23.32 - 19 = 4 jam 32
menit.
Posisi Sagittarius saat itu : (4 32/60x 150)= 680 di sebelah barat meridian dan 250 di selatan
equator langit.

Tata Koordinat Bola Langit


Berikut saya membahas mengenai tata koordinat horizon dan ekuator, yang
juga merupakan perbaikan dari buku saya. Tata koordinat horizon dan ekuator
sangat penting karena sangat sering digunakan untuk menyatakan letak benda
langit. Oke, langsung saja disimak..

Tata Koordinat Horizon

Pada tata koordinat horizon, letak bintang ditentukan hanya berdasarkan


pandangan pengamat saja. Tata koordinat horizon tidak dapat menggambarkan
lintasan peredaran semu bintang, dan letak bintang selalu berubah sejalan dengan
waktu. Namun, tata koordinat horizon penting dalam hal pengukuran adsorbsi
cahaya bintang.

Ordinat-ordinat dalam tata koordinat horizon adalah:

1.

Bujur suatu bintang dinyatakan dengan azimut (Az). Azimut umumnya diukur dari
selatan ke arah barat sampai pada proyeksi bintang itu di horizon, seperti pada
gambar azimut bintang adalak 220. Namun ada pula azimut yang diukur dari Utara
ke arah timur, oleh karena itu sebaiknya Anda menuliskan keterangan tentang
ketentuan mana yang Anda gunakan.

2.

Lintang suatu bintang dinyatakan dengan tinggi bintang (a), yang diukur dari
proyeksi bintang di horizon ke arah bintang itu menuju ke zenit. Tinggi bintang
diukur 0 90 jika arahnya ke atas (menuju zenit) dan 0 -90 jika arahnya ke
bawah.

Letak bintang dinyatakan dalam (Az, a). Setelah menentukan letak bintang,
lukislah lingkaran almukantaratnya, yaitu lingkaran kecil yang dilalui bintang yang
sejajar dengan horizon (lingkaran PQRS).

Tata Koordinat Ekuator

Tata koordinat ekuator merupakan sistem koordinat yang paling penting


dalam astronomi. Letak bintang-bintang, nebula, galaksi dan lainnya umumnya
dinyatakan dalam tata koordinat ekuator. Pada tata koordinat ekuator, lintasan
bintang di langit dapat ditentukan dengan tepat karena faktor lintang geografis
pengamat () diperhitungkan, sehingga lintasan edar bintang-bintang di langit
(ekuator Bumi) dapat dikoreksi terhadap pengamat. Sebelum menentukan letak
bintang pada tata koordinat ekuator, sebaiknya kita mempelajari terlebih dahulu
sikap bola langit, yaitu posisi bola langit menurut pengamat pada lintang tertentu.

Sudut antara kutub Bumi (poros rotasi Bumi) dan horizon disebut tinggi kutub
() . Jika diperhatikan lebih lanjut, ternyata nilai = , dengan diukur dari Selatan
ke KLS jika pengamat berada di lintang selatan dan diukur dari Utara ke KLU jika
pengamat berada di lintang utara. Jadi untuk pengamat pada = 90 LU lingkaran
ekliptika akan berimpit dengan lingkaran horizon, dan kutub lintang utara berimpit
dengan zenit, sedangkan pada = 90 LS lingkaran ekliptika akan berimpit dengan
lingkaran horizon, dan kutub lintang selatan berimpit dengan zenit

Ordinat-ordinat dalam tata koordinat ekuator adalah:

1.

Bujur suatu bintang dinyatakan dengan sudut jam atau Hour Angle (HA). Sudut jam
menunjukkan letak suatu bintang dari titik kulminasinya, yang diukur dengan
satuan jam (ingat,1h = 15). Sudut jam diukur dari titik kulminasi atas bintang (A) ke
arah barat (positif, yang berarti bintang telah lewat kulminasi sekian jam) ataupun
ke arah timur (negatif, yang berarti tinggal sekian jam lagi bintang akan
berkulminasi). Dapat juga diukur dari 0 360 dari titik A ke arah barat.

2.

Lintang suatu bintang dinyatakan dengan deklinasi (), yang diukur dari proyeksi
bintang di ekuator ke arah bintang itu menuju ke kutub Bumi. Tinggi bintang diukur
0 90 jika arahnya menuju KLU dan 0 -90 jika arahnya menuju KLS.

Dapat kita lihat bahwa deklinasi suatu bintang nyaris tidak berubah dalam
kurun waktu yang panjang, walaupun variasi dalam skala kecil tetap terjadi akibat
presesi orbit Bumi. Namun sudut jam suatu bintang tentunya berubah tiap jam
akibat rotasi Bumi dan tiap hari akibat revolusi Bumi. Oleh karena itu, ditentukanlah
suatu ordinat baku yang bersifat tetap yang menunjukkan bujur suatu bintang pada
tanggal 23 September pukul 00.00, yaitu ketika titik Aries tepat berkulminasi atas
pada pukul 00.00 waktu lokal (vernal equinox). Ordinat inilah yang disebut
asensiorekta (ascencio recta) atau kenaikan lurus, yang umumnya dinyatakan
dalam jam. Faktor gerak semu harian bintang dikoreksi terhadap waktu lokal (t) dan
faktor gerak semu tahunan bintang dikoreksi terhadap Local Siderial Time (LST)
atau waktu bintang, yaitu letak titik Aries pada hari itu. Pada tanggal 23 September
LST-nya adalah pukul 00h, dan kembali ke pukul 00h pada 23 September berikutnya
sehingga pada tanggal 21 Maret, 21 Juni, dan 22 Desember LST-nya berturut-turut
adalah 12h, 18h, dan 06h. Jadi LST dapat dicari dengan rumus :

Adapun hubungan LST, HA00 dan asensiorekta ()

LST = + HA00

Dengan t adalah waktu lokal. Misal jika HA00 = +3h, maka sudut jam bintang
pada pukul 03.00 adalah +6h (sedang terbenam). Ingat, saat kulminasi atas maka
HA = 00h. Dengan demikian didapatkan hubungan komplit bujur pada tata koordinat
ekuator

LST + t = + HAt

Patut diingat bahwa HA00 ialah posisi bintang pada pukul 00.00 waktu lokal,
sehingga posisi bintang pada sembarang waktu ialah:

HAt = HA00 + t

Dengan ordinat tetap, HAt ordinat tampak, LST koreksi tahunan, dan t
koreksi waktu harian. Contoh pada gambar di bawah. Pada tanggal 21 Maret, LSTnya adalah 12h. Jadi letak bintang R dengan koordinat (, ) sebesar (16h,-50)akan
nampak di titik R pada pukul 00.00 waktu lokal. Perhatikan bahwa LST diukur dari
titik A kearah barat sampai pada titik Aries . Tampak bintang R berada pada bujur
(HA00) -60 atau -4 jam. Jadi, bintang R akan berkulminasi atas di titik Ka pada pukul
04.00 dan terbenam di horizon pada pukul 10.00. Asensiorekta diukur dari titik Aries
berlawanan pengukuran LST sampai pada proyeksi bintang di ekuator. Jadi telah
jelas bahwa.
HA = LST
Dengan -xh = 24h - xh

Lingkaran kecil KaKb merupakan lintasan gerak bintang, yang sifatnya nyaris
tetap. Untuk bintang R, yang diamati dari = 40 LS akan lebih sering berada pada
di atas horizon daripada di bawah horizon. Pembahasan lebih lanjut pada bagian
bintang sirkumpolar.

Tinggi bintang atau altitude, yaitu sudut kedudukan suatu bintang dari
horizon dapat dicari dengan aturan cosinus segitiga bola. Tinggi bintang, a, yaitu

a = 90 -

Dimana jarak zenit () dirumuskan dengan

cos = cos(90 ) cos(90 ) + sin(90 ) sin(90 ) cosHA