Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

I.I

Latar Belakang
Setiap individu memiliki latar belakang yang berbeda dalam proses kehidupannya,
mulai dari lahir hingga mencapai titik kedewasaannya. Sehingga di dalam diri setiap
individu terdapat berbagai macam cara identifikasi serta perubahan melalui proses yang
berbeda pula dan diharapkan menuju arah yang lebih baik. Di dalamnya terdapat
hubungan timbal balik antara satu individu dengan individu lainnya dan dari identifikasi
tersebut didapatkan pola tingkah laku dari hasil pemikiran yang panjang.
Konsep diri memberikan kita kerangka acuan yang mempengaruhi manajemen kita
terhadap situasi dan hubungan kita dengan orang lain. Kita mulai membentuk konsep diri
saat usia muda. Masa remaja adalah waktu yang kritis ketika banyak hal secara kontinu
mempengaruhi konsep diri. Karena pada usia tersebut, kita akan sibuk mencari sesuatu
atau hal yang baru, sehingga membuat kita tidak bisa memilih yang benar untuk diri kita
sendiri.
Konsep diri adalah semua tanda, keyakinan, dan pendirian yang merupakan suatu
pengetahuan individu tentang dirinya yang dapat mempengaruhi hubungannya dengan
orang lain, termasuk karakter, kemampuan, nilai, ide, dan tujuan.
Pengertian lain, konsep diri adalah citra subyektif dari diri dan pencampuran yang
kompleks dari perasaan, sikap dan persepsi bawah sadar maupun sadar. Konsep diri
dikembangkan melalui proses yang sangat kompleks yang melibatkan banyak variable.
Keempat komponen konsep diri adalah identitas, citra tubuh, harga diri dan peran.
Konsep diri seseorang dinyatakan melalui sikap dirinya yang merupakan aktualisasi
orang tersebut. Manusia sebagai organisme yang memiliki dorongan untuk berkembang
yang pada akhirnya menyebabkan ia sadar akan keberadaan dirinya. Perkembangan yang
berlangsung tersebut kemudian membantu pembentukan konsep diri individu yang
bersangkutan.
Konsep diri dan persepsi tentang kesehatan sangat berkaitan erat satu sama lain. Klien
yang mempunyai keyakinan tentang kesehatan yang baik akan dapat meningkatka konsep
diri. Tetapi sebaliknya, klien yang memiliki persepsi diri yang negatif akan menimbulkan
keputusasaan.

I.II

Tujuan
1. Untuk memberikan wawasan serta pengetahuan yang luas tentang konsep diri
kepada pembaca, khususnya kepada para perawat ataupun mahasiswa.
2. Untuk memberikan gambaran tentang arti konsep diri dalam kasus yang terjadi di
kalangan masyarakat

I.III

Manfaat
1. Dapat mengetahui makna konsep diri secara lebih luas
2. Dapat mengetahui kasus atau masalah yang berhubungan dengan konsep diri

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. Hubungan Antara Konsep Diri dan Kematangan Emosi Dengan Penyesuaian


Diri Istri Yang Tinggal Bersama Keluarga Suami
Penyesuaian istri dalam keluarga suami adalah salah satu yang penting di penyesuaian
perkawinan. Keberhasilan istri dalam proses penyesuaian untuk keluarga suami akan
memberikan rasa kepuasan, kebahagiaan dan stabilitas dalam kehidupan istri dan jiwa
untuk menciptakan harmoni, baik suami dan keluarga suami. Istri penyesuaian itu sendiri
dipengaruhi oleh konsep diri dan kematangan emosional. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui secara empirik hubungan antara konsep diri dan kematangan emosi dengan
penyesuaian diri istri yang tinggal bersama keluarga suami dan mengetahui sumbangan
efektif dari konsep diri dan kematangan emosi terhadap penyesuaian diri istri yang tinggal
bersama keluarga suami.
Populasi dalam penelitian ini adalah istri di RW 03 Godong Desa, Kecamatan
Godong, Kabupaten Grobogan dengan karakteristik: hidup dengan keluarga suami, usia
pernikahan kurang dari 5 tahun dan yang pertama perkawinan. Metode sampling yang
digunakan adalah purposive sampling dengan sampel ukuran 60 orang. Teknik analisis
data yang digunakan adalah analisis regresi berganda dan analisis korelasi parsial.
Hasil nilai koefisien analisis korelasi regresi diperoleh Rx12y = 0,603, F = 16,247
dengan p = 0,000 (p <0,01) dan koefisien determinasi = 0,363, yang dapat disimpulkan
ada hubungan antara konsep diri dan kematangan emosional untuk penyesuaian diri istri
yang tinggal dengan suami keluarga, sumbangan efektif dari konsep diri variabel dan
kematangan emosi kepada penyesuaian diri istri yang tinggal bersama keluarga suami
adalah 36,3%. Hasil yang diperoleh parsial korelasi analisis (1) koefisien korelasi rx1y-2
= 0,362 dengan p = 0,005 (P <0,01), sehingga ada hubungan yang positif dan sangat
signifikan antara konsep diri dan penyesuaian diri istri yang tinggal dengan suami
keluarga dengan mengendalikan kematangan emosi, (2) koefisien korelasi rx2y-2 = 0,336
dengan p = 0,009 (p <0,01), sehingga ada positif dan hubungan yang sangat signifikan
antara kematangan emosi dengan penyusaian diri istri yang tinggal bersama keluarga
suami dengan konsep pengendalian diri.

2. Hubungan Antara Konsep Diri dan Penyesuaian Diri Pada Remaja di Islamic
Boarding School
Di Indonesia, kesadaran masyarakat tentang pendidikan sudah semakin meningkat,
hal ini ditunjukkan dengan banyaknya orang tua yang menginginkan anaknya masuk
sekolah unggulan. Alternatif pendidikan yang ditawarkan untuk menghasilkan SDM
yang berkualitas salah satunya adalah sekolah berasrama (Boarding School). Penelitian
ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan konsep diri remaja, (2) mendeskripsikan
penyesuaian diri remaja, dan (3) mengetahui hubungan antara konsep diri dan
penyesuaian diri remaja. Rancangan penelitian ini adalah deskriptif korelasi, dengan
menggunakan metode random sampling, sampel penelitian berjumlah 111 siswa di
Islamic Boarding School SMPIT DAARUL HIKMAH Bontang. Instrumen penelitian
menggunakan skala konsep diri dan skala penyesuaian diri. Teknik analisis data
menggunakan teknik analisis deskriptif dan teknik korelasi Product Moment Karl
Pearson.
Hasil penelitian menunjukkan (1) masih banyak remaja yang memiliki konsep diri
negatif dan sangat negatif (55%). (2) Masih banyak remaja yang memiliki penyesuaian
diri buruk dan sangat buruk (51%). (3) Ada hubungan positif signifikan antara konsep
diri dan penyesuaian diri remaja, dengan nilai = 0,668 dengan p = 0.000 < 0.05 artinya
jika konsep diri remaja positif maka penyesuaian diri akan baik. Jika konsep diri remaja
negatif maka penyesuaian diri akan buruk
3. Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Kecenderungan Cinderella Complex
Setiap individu memulai hidupnya dengan sifat ketergantungan, kemudian individu
akan menuju kepada kemandirian. Tuntutan terhadap kemandirian menjadi semakin
penting selama masa remaja. Ketergantungan yang terlalu lama pada remaja perempuan
merupakan rintangan dalam peralihan ke masa dewasa. Salah satu hambatan remaja
perempuan untuk mandiri ialah adanya Cinderella complex. Kecenderungan Cinderella
Complex ialah kecenderungan perempuan untuk tergantung secara psikis yaitu adanya
keinginan yang kuat untuk dirawat dan dilindungi orang lain terutama laki-laki serta
keyakinan bahwa sesuatu dari luar dirinya yang akan menolongnya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsep diri dengan
kecenderungan Cinderella complex pada mahasiswa. Hipotesis dalam penelitian ini
adalah ada hubungan negatif antara konsep diri dengan kecenderungan Cinderella
complex. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa angkatan 2008 Fakultas
Psikologi Universitas Diponegoro Semarang berjumlah 126 orang, dengan karakteristik
yaitu berjenis kelamin perempuan dan belum menikah. Sampel penelitian ini berjumlah
66 orang, yang diperoleh melalui simple random sampling. Alat pengumpul data dalam
penelitian ini adalah Skala Kecenderungan Cinderella complex (33 aitem valid, =
0,904) dan Skala Konsep Diri (45 aitem valid, = 0,946), yang telah diujicobakan pada
60 orang mahasiswa angkatan 2008 Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro.

Analisis regresi sederhana menunjukkan nilai koefisien korelasi sebesar 0,704 dan
p=0,000 (p<0,05). Artinya, terdapat hubungan yang negatif dan signifikan antara konsep
diri dengan kecenderungan Cinderella complex. Semakin positif konsep diri maka
semakin rendah kecenderungan Cinderella complex. Sebaliknya, semakin negatif konsep
diri maka semakin tinggi kecenderungan Cinderella complex. Sumbangan efektif konsep
diri terhadap kecenderungan Cinderella complex sebesar 49,6%. Hasil tersebut
mengindikasikan bahwa ada faktor lain sebesar 50,4% yang juga ikut berperan
mempengaruhi kecenderungan Cinderella complex. Faktor-faktor lain yang
mempengaruhi Cinderella Complex ialah faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal
meliputi sosial budaya masyarakat, pola asuh serta peran media massa sedangkan faktor
internal yaitu harga diri.
4. Hubungan Konsep Diri Akademik dengan Motivasi Berprestasi pada Remaja
Awal yang Tinggal di Panti Asuhan di Denpasar
Remaja awal adalah masa pembentukan konsep diri. Konsep diri merupakan
sekumpulan keyakinan dan perasaan yang dimiliki individu tentang mereka sendiri,
meliputi karakteristik fisik, sosial, emosional, aspirasi dan prestasi (Hurlock,1999).
Terkait dengan kebutuhan akan prestasi, remaja perlu mengembangkan konsep diri
khususnya konsep diri akademik sebagai bekal dalam menghadapi persaingan di dunia
kerja kelak. Konsep diri bukan merupakan faktor bawaan sejak lahir, melainkan faktor
yang dipelajari dan dibentuk berdasarkan pengalaman individu dalam berhubungan
dengan orang lain. Begitu pula dengan konsep diri akademik. Ketika seseorang tinggal
pada situasi yang berbeda pada umumnya seperti di panti asuhan, maka hal tersebut
dapat mempengaruhi remaja awal dalam membentuk konsep dirinya yang pada akhirnya
dapat mempengaruhi keinginan mereka untuk berprestasi. Berdasarkan hal tersebut,
maka peneliti ingin melihat apakah ada hubungan antara konsep diri akademik dengan
motivasi berprestasi pada remaja awal yang tinggal di panti asuhan.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan metode analisis
korelasi product moment yang melibatkan 120 remaja awal panti asuhan sebagai subjek
yang diperoleh dengan menggunakan teknik pengambilan sampel simple random
sampling.
Hasil yang diperoleh adalah ada hubungan yang positif dan signifikan antara konsep
diri akademik dengan motivasi berprestasi pada remaja awal yang tinggal di panti asuhan
di Denpasar, yang ditunjukkan dengan koefisien korelasi (r) antara variabel konsep diri
dan motivasi berprestasi adalah 0,588 dengan nilai p 0.000 (p< 0,05) yang berarti bahwa
variabel konsep diri akademik dan variabel motivasi berprestasi saling berkorelasi secara
signifikan dan positif dan berada pada intensitas sedang.

5. Hubungan Obesitas Dengan Citra Diri dan Harga Diri Pada Remaja Putri di
Kelurahan Jomblang Kecamatan Candisari Semarang
Obesitas merupakan keadaan dimana terjadi penumpukan lemak tubuh yang berlebih,
sehingga berat badan seseorang seseorang jauh diatas normal dan dapat membahayakan
kesehatan. Obesitas dapat memberikan dampak negatif secara psikologi kepada remaja
yang bersangkutan, hal yang selalu beriringan dengan obesitas adalah gangguan citra diri
dan harga diri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan obesitas dengan
citra diri dan harga diri pada remaja putri di Kelurahan Jomblang Kecamatan Candisari
Kota Semarang.
Metode dalam penelitian ini adalah Diskriptif Korelasi dengan pendekatan Cross
Sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh remaja putri yang mengalami
obesitas di Kelurahan Jomblang yaitu sebanyak 27 remaja. Teknik sampling yang
digunakan adalah dengan menggunakan sample jenuh yaitu dengan menggunakan
seluruh populasi sebagai sample penelitian.
Hasil penelitian menyatakan bahwa sebagian besar remaja yang menjadai responden
dalam penelitian berada dalam obesitas ringan ( 81,5 % ), sebagian besar remaja putri
memiliki citra diri yang negatif ( 51,9 % ), serta sebagian besar remaja putri memiliki
harga diri yang negatif (51,9 % ). Berdasarkan hasil uji korelasi Pearson Product
Moment didapatkan nilai p = 0.154 (>0.05), sehingga tidak terdapat hubungan antara
obesitas dengan citra diri dan nilai p = 0.791 (> 0.05), sehingga tidak terdapat hubungan
antara obesitas dengan harga diri pada remaja putri. Berdasarkan hasil penelitian tersebut
maka diharapkan remaja putri yang mengalami obesitas agar meningkatkan kemampuan
fisiknya, meluangkan waktu untuk melakukan kegiatan olah raga rutin serta dapat
memahami perikaku apa saja yang dapat mempengaruhi kesehatn fisiknya. Secara
keseluruhan diharapkan remaja putri yang mengalami obesitas untuk dapat
meningkatkan harga dirinya dan memiliki pandangan yang positif terhadap tubuhnya
agar dapat terhindar dari penghinaan secara fisik.
6.

Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Konsep Diri Anak Usia Sekolah
(10-12 Tahun)

Pola asuh merupakan proses di dalam keluarga, interaksi orang tua dan anak. Pola
asuh diterapkan sejak anak lahir dan disesuaikan dengan usia serta tahap perkembangan,
contohnya pada anak usia 10-12 tahun. Usia tersebut merupakan usia praremaja yang
memiliki berbagai karakteristik perkembangan dimana akan mempengaruhi cara pandang
individu tentang diri. Pengetahuan individu tentang diri, perpaduan antara perasaan,
sikap, dan persepsi bawah sadar ataupun sadar dinamakan konsep diri. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui hubungan pola asuh orang tua dengan konsep diri anak usia
sekolah (10-12 tahun). Jenis penelitian adalah kuantitatif non eksperimental dengan studi
korelasi dan pengumpulan data menggunakan kuesioner. Responden penelitian adalah
anak usia 10-12 tahun dan ditentukan dengan teknik total sampling. Total responden 149
orang.

Data diuji dengan menggunakan Chi Square dan hasil menunjukkan terdapat
hubungan antara pola asuh orang tua dengan konsep diri anak usia sekolah (10-12 tahun)
(x2=6.808; p=0.033). Pola asuh demokratis lebih banyak didapatkan anak dengan konsep
diri positif 73,3%, sedangkan pola asuh otoriter dan permisif didapatkan lebih banyak
anak dengan konsep diri negatif yaitu 18,9% dan 28,4%. Saran diberikan kepada para
orang tua agar menerapkan pola asuh demokratis dimana anak 10-12 tahun dengan
konsep diri positif terbanyak didapatkan dari pola asuh tersebut, pihak sekolah dan orang
tua diharapkan mampu berkolaborasi untuk meningkatkan prestasi siswa sesuai minat
dan kemampuannya, pada perawat komunitas diharapkan dengan perannya di masyarakat
dapat membantu menemukan masalah dan memberikan pendidikan kesehatan terkait
pola asuh orang tua dan konsep diri anak.
7.

Gambaran Konsep Diri Pada Klien Dewasa Muda Dengan Kolostomi


Permanen di Yayasan Kanker Indonesia Jakrta Pusat

Kolostomi ialah lubang yang di buat melalui abdomen kedalam kolon iliaka
(asendens), tempat mengeluarkan feses. Kolostomi di buat agar klien dapat bertahan
hidup lebih lama dan untuk membantu mereka kembali ke hidup yang lebih sehat dan
produktif serta meningkatkan kualitas hidupnya. Klien dengan kolostomi menghadapi
beberapa masalah, baik fisik maupun psikologis; misalnya kebocoran yang di sebabkan
oleh kegagalan menempelnya perekat kantung dan kesulitan dalam menjaga kantung.
Masalah tersebut sangat mempengaruhi konsep diri klien terhadap kondisi yang
dialaminya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran konsep diri pada klien
dewasa muda dengan kolostomi permanen di Yayasan Kanker Indonesia Jakarta Pusat.
Penelitian ini menggunakan studi kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Sampel
dalam penelitian di pilih dengan menggunakan teknik jenis Purposive Sampling dengan
pendekatan sampling Homogen.
Pengumpulan data dengan cara wawancara mendalam. Penelitian ini menghasilkan
sembilan belas tema yaitu; stresor, adaptasi transisi sehat dan sakit, perubahan fungsi
eliminasi tubuh, keterbatasan aktivitas, penilaian kepuasan terhadap bentuk tubuh, alasan
penilaian bentuk tubuh, faktor-faktor yang mempengaruhi ideal diri, pencapaian ideal,
indikator keberhasilan, respon emosional, respon kehilangan, sumber pembentukan harga
diri, peran di keluarga, tugas perkembangan, stresor, sikap terhadap penerimaan,
pengakuan jenis kelamin, penilaian diri terhadap tujuan hidup, penilaian koping. Peneliti
menyarankan agar klien dapat berbagi pengalaman dengan sesama penderita untuk
meningkatkan penerimaan dan pembentukan konsep diri yang positif.

8. Konsep Diri dan Gaya Hidup Lansia yang Mengalami Penyakit Kronis di
Panti Sosial Tresna Werdha
Di Indonesia, jumlah penduduk lanjut usia (lansia) mengalami peningkatan secara
cepat setiap tahunnya, sehingga Indonesia telah memasuki era penduduk berstruktur
lanjut usia {aging structured population). Peningkatan jumlah lansia tersebut, berdampak
pada munculnya masalah kesehatan, yang terjadi pada lansia berupa masalah fisik,
biologi, maupun psikososial.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsep diri dengan gaya
hidup lansia yang mengalami penyakit kronis di Panti Sosial Tresna Werdha Khusnul
Khotimah Pekanbaru. Desain yang digunakan deskriptif korelasi dengan pendekatan
cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh lansia dengan penyakit kronis
yang memenuhi kriteria inklusi (total sampling), yaitu sebanyak 30 orang. Uji statistik
yang digunakan adalah uji Chi Square.
Hasil penelitian didapatkan p value = 0,02 (p value > 0,05). Hal ini menunjukkan
bahwa terdapat hubungan antara konsep diri dengan gaya hidup lansia yang mengalami
penyakit kronis di panti sosial tresna wredha Khusnul Khotimah Pekanbaru. Kesimpulan
hasil penelitian ini menunjukkan bahwa status konsep diri lansia mempengaruhi
pembentukan gaya hidup sehat lansia khususnya pada lansia dengan penyakit kronis.
Oleh karena itu diharapkan kepada petugas panti dan petugas kesehatan yang ada di
lingkungan panti dapat memfasilitasi dan mendukung berbagai kegiatan yang dapat
meningkatkan status konsep diri lansia kearah positif.
9. Konsep Diri Pada Remaja Tunanetra di Yayasan Pendidikan Anak Buta
(YPAB)
Masa remaja adalah masa dimana seseorang mulai memikirkan tentang cita-cita,
harapan dan keinginan. jika pada masa ini remaja menghadapi kejadian, seperti
kecelakaan atau faktor eksternal lainnya yang dapat membuat kondisi fisik menjadi
kurang sempurna. Hal ini akan membuat hidup dan juga cita-citanya hilang atau berubah.
Namun, remaja tunanetra yang memiliki konsep diri yang positif akan mampu menerima
keadaan dirinya, walaupun cacat sekalipun.
Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) memahami bentuk konsep diri, (2) memahami
aspek konsep diri, (3) memahami faktor yang mempengaruhi konsep diri. Penelitian ini
menggunakan metode kualitatif. Subyek Penelitian adalah 2 remaja tunanetra.
Pengambilan data dilakukan dengan tekhnik wawancara dan observasi. Hasil penelitian
ini adalah (1) Bentuk Konsep diri yang dimiliki remaja tunanetra yakni dimensi internal
dan eksternal, dimana subyek memiliki konsep diri positif tentang dirinya dan bisa
menerima kondisi fisiknya. (2) Aspek konsep diri pada remaja tunanetra yakni
pengetahuan, harapan dan penilaian. Subyek memiliki pengetahuan yang cukup tentang
kondisinya serta memiliki harapan untuk masa depannya. (3) Konsep diri tersebut di
pengaruhi oleh Usia Kematangan, Penampilan Diri, Kepatutan Seks, Nama dan Julukan,
Hubungan Keluarga, Teman-teman Sebaya, Kreativitas, serta Cita-cita.

10. Pengaruh Konsep Diri dan Kedisiplinan Terhadap Prestasi Belajar Siswa
Jurusan Teknik Audio Video di SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta
Siswa harus memiliki prestasi belajar yang baik demi terciptanya manusia yang
berkualitas dan berprestasi tinggi. Prestasi belajar merupakan tolak ukur maksimal yang
telah dicapai siswa setelah melakukan proses belajar selama waktu yang ditentukan.
Prestasi belajar siswa banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik berasal dari dalam
dirinya (internal) maupun dari luar dirinya (eksternal). Prestasi belajar yang dicapai
siswa pada hakikatnya merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor tersebut.
Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengetahui konsep diri siswa, kedisiplinan siswa,
dan prestasi siswa, (2) mengetahui bagaimanakah pengaruh konsep diri terhadap prestasi
belajar siswa, pengaruh kedisiplinan terhadap prestasi belajar siswa, pengaruh konsep
diri dan kedisiplinan secara bersama terhadap prestasi belajar siswa. Penelitian ini
merupakan penelitian ex-post facto. Penelitian ini dilakukan di Jurusan Teknik Audio
Video SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta dengan populasi berjumlah 111 orang dengan
menggunakan teknik simple random sampling dan didapat sampel sebanyak 84 orang.
Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode angket dan
dokumentasi. Teknik analisis yang digunakan adalah regresi linear sederhana dan regresi
ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) konsep diri siswa, kedisiplinan, dan
prestasi belajar siswa memiliki kecenderungan dalam kategori tinggi, (2) tidak terdapat
pengaruh yang signifikan antara konsep diri dengan prestasi belajar siswa, kedisiplinan
dengan prestasi belajar siswa, konsep diri dan kedisiplinan secara bersama terhadap
prestasi belajar siswa kelas XI dan XII Jurusan Teknik Audio Video SMK
Muhammadiyah 3 Yogyakarta.

BAB III
ANALISA
No
1

Identitas
Penelitian

Tujuan
Penelitian

Metodelogi
Penelitian

Nova
Anissa
dan
Agustin
Handayani,
Hubungan
Antara Konsep
Diri
dan
Kematangan
Emosi Dengan
Penyesuaian
Diri Istri Yang
Tinggal
Bersama
Keluarga
Suami, 2012,
Semarang

Untuk
mengetahui
secara
empirik
hubungan antara
konsep diri dan
kematangan
emosi
dengan
penyesuaian diri
istri yang tinggal
bersama keluarga
suami
dan
mengetahui
sumbangan
efektif
dari
konsep diri dan
kematangan
emosi
terhadap
penyesuaian diri
istri yang tinggal
bersama keluarga
suami.

Populasi
dalam
penelitian ini adalah
istri di RW 03
Godong
Desa,
Kecamatan Godong,
Kabupaten
Grobogan
dengan
karakteristik: hidup
dengan
keluarga
suami,
usia
pernikahan kurang
dari 5 tahun dan
yang
pertama
perkawinan. Metode
sampling
yang
digunakan
adalah
purposive sampling
dengan
sampel
ukuran 60 orang.
Teknik analisis data
yang
digunakan
adalah
analisis
regresi berganda dan
analisis
korelasi
parsial.

menggunakan
teknik
analisis regresi dua
prediktor dan analisis
korelasi parsial.

(1) mendeskrips
ikan konsep
diri remaja,

Rancangan
penelitian
ini
adalah deskriptif
korelasi, dengan
menggunakan
metode random
sampling, sampel
penelitian

(1) masih
banyak
remaja
yang
memiliki konsep
diri negatif dan
sangat
negatif
(55%).

Rizka
Amalia
Nurhadi,
Hubungan
Antara Konsep
Diri
dan
Penyesuaian
Diri
Pada
Remaja
di

(2) mendeskrips
ikan
penyesuaian
diri remaja

Hasil Penelitian

Berdasarkan analisis
regresi dua prediktor
dapat disimpulkan
bahwa
ada
hubungan
antara
konsep diri dan
kematangan emosi
dengan penyesuaian
diri
istri
yang
tinggal
bersama
keluarga suami.
hasil
analisis
korelasi
parsial
menunjukkan bahwa
ada hubungan positif
dan
sangat
signifikan
antara
konsep diri dengan
penyesuaian diri istri
yang
tinggal
bersama
keluarga
suami
dengan
mengendalikan
kematangan emosi

(2) Masih

banyak

Islamic
Boarding
School, 2013,
Malang

(3) mengetahui
hubungan
antara
konsep diri
dan
penyesuaian
diri remaja

berjumlah
111
siswa di Islamic
Boarding School
SMPIT
DAARUL
HIKMAH
Bontang.
Instrumen

penelitian
menggunakan
skala konsep diri
dan
skala
penyesuaian diri.
Teknik analisis
data
menggunakan
teknik
analisis
deskriptif
dan
teknik
korelasi
Product Moment
Karl Pearson.
3

Sapti Wulansari,
Hubungan
Antara Konsep
Diri Dengan
Kecenderungan
Cinderella
Complex,
2010, Semarang.

untuk mengetahui
hubungan antara
konsep diri
dengan
kecenderungan
Cinderella
complex pada
mahasiswa.

Hipotesis
penelitian ini
adalah ada
hubungan negatif
antara konsep diri
dengan
kecenderungan
Cinderella
complex.
Populasi dalam
penelitian ini
adalah
mahasiswa
angkatan 2008
Fakultas
Psikologi
Universitas
Diponegoro
Semarang
berjumlah 126
orang, dengan

remaja
yang
memiliki
penyesuaian
diri
buruk dan sangat
buruk (51%).
(3) Ada
hubungan
positif signifikan
antara konsep diri
dan penyesuaian
diri remaja, dengan
nilai
=
0,668
dengan p = 0.000 <
0.05 artinya jika
konsep diri remaja
positif
maka
penyesuaian
diri
akan baik. Jika
konsep diri remaja
negatif
maka
penyesuaian
diri
akan buruk.
Terdapat hubungan
yang negatif dan
signifikan antara
konsep diri dengan
kecenderungan
Cinderella complex.
Semakin positif konsep
diri maka semakin
rendah kecenderungan
Cinderella complex.
Sebaliknya, semakin
negatif konsep diri
maka semakin tinggi
kecenderungan
Cinderella complex.
Faktor-faktor lain yang
mempengaruhi
Cinderella Complex
ialah faktor eksternal
dan internal. Faktor
eksternal meliputi sosial

karakteristik
yaitu berjenis
kelamin
perempuan dan
belum menikah.
Sampel penelitian
ini berjumlah 66
orang, yang
diperoleh melalui
simple random
sampling.

budaya masyarakat,
pola asuh serta peran
media massa sedangkan
faktor internal yaitu
harga diri.

Alat pengumpul
data dalam
penelitian ini
adalah Skala
Kecenderungan
Cinderella
complex dan
Skala Konsep
Diri yang telah
diujicobakan
pada 60 orang
mahasiswa
angkatan 2008
Fakultas
Psikologi Undip.
4

Komang Diah
Laxmy
Prabadewi dan
Putu Nugrahaeni
Widiasavitri,
Hubungan
Konsep
Diri
Akademik
dengan
Motivasi
Berprestasi
pada
Remaja
Awal
yang
Tinggal di Panti
Asuhan
di
Denpasar,

Untuk
melihat
apakah
ada
hubungan antara
konsep
diri
akademik dengan
motivasi
berprestasi pada
remaja awal yang
tinggal di panti
asuhan.

Menggunakan
metode
penelitian
kuantitatif
dengan
metode
analisis
korelasi
product
moment
yang
melibatkan
120
remaja awal panti
asuhan
sebagai
subjek
yang
diperoleh
dengan
menggunakan teknik
pengambilan sampel
simple
random
sampling.

Hasil yang diperoleh


adalah ada hubungan
yang
positif
dan
signifikan
antara
konsep diri akademik
dengan
motivasi
berprestasi pada remaja
awal yang tinggal di
panti
asuhan
di
Denpasar,
yang
ditunjukkan
dengan
koefisien korelasi (r)
antara variabel konsep
diri
dan
motivasi
berprestasi,
bahwa
variabel konsep diri

2013, Depansar.

akademik dan variabel


motivasi
berprestasi
saling
berkorelasi
secara signifikan dan
positif dan berada pada
intensitas sedang.

Sorga Perucha
Iful Prameswari,
Siti
Aisah,
Mifbakhuddin,
Hubungan
Obesitas
Dengan Citra
Diri dan Harga
Diri
Pada
Remaja Putri di
Kelurahan
Jomblang
Kecamatan
Candisari
Semarang,
2012, Semarang

untuk mengetahui
hubungan
obesitas dengan
citra diri dan
harga diri pada
remaja putri di
Kelurahan
Jomblang
Kecamatan
Candisari
Kota
Semarang

Metode
dalam
penelitian ini adalah
Diskriptif Korelasi
dengan pendekatan
Cross
Sectional.
Populasi
dalam
penelitian ini adalah
seluruh remaja putri
yang
mengalami
obesitas
di
Kelurahan Jomblang
yaitu sebanyak 27
remaja.
Teknik
sampling
yang
digunakan
adalah
dengan
menggunakan
sample jenuh yaitu
dengan
menggunakan
seluruh
populasi
sebagai
sample
penelitian

Hasil
penelitian
menyatakan
bahwa
sebagian besar remaja
yang
menjadi
responden
dalam
penelitian berada dalam
obesitas ringan ( 81,5 %
), sebagian besar remaja
putri memiliki citra diri
yang negatif ( 51,9 % ),
serta sebagian besar
remaja putri memiliki
harga diri yang negatif
(51,9 % ). Berdasarkan
hasil
uji
korelasi
Pearson
Product
Moment
didapatkan
tidak terdapat hubungan
antara obesitas dengan
citra diri, sehingga tidak
terdapat
hubungan
antara obesitas dengan
harga diri pada remaja
putri.

Nisha
Pramawaty, Elis
Hartati,
Hubungan
Pola
Asuh
Orang
Tua
Dengan Konsep
Diri Anak Usia
Sekolah (10-12
Tahun), 2012,
Semarang.

untuk mengetahui
hubungan
pola
asuh orang tua
dengan
konsep
diri anak usia
sekolah
(10-12
tahun)

Jenis
penelitian
adalah
kuantitatif
non eksperimental
dengan studi korelasi
dan
pengumpulan
data menggunakan
kuesioner.
Responden
penelitian
adalah
anak usia 10-12
tahun dan ditentukan

Menunjukkan terdapat
hubungan antara pola
asuh orang tua dengan
konsep diri anak usia
sekolah (10-12 tahun).
Pola asuh demokratis
lebih
banyak
didapatkan anak dengan
konsep diri positif
73,3%, sedangkan pola
asuh
otoriter
dan

dengan teknik
sampling.
responden
orang. Data
dengan
menggunakan
Square.

total
Total
149
diuji

permisif
didapatkan
lebih
banyak
anak
dengan konsep diri
negatif yaitu 18,9% dan
28,4%.

Chi

Yuniska Pratiwi,
Gambaran
Konsep
Diri
Pada
Klien
Dewasa Muda
Dengan
Kolostomi
Permanen
di
Yayasan Kanker
Indonesia
Jakrta Pusat,
2014, Jakarta.

Untuk
mengetahui
gambaran konsep
diri pada klien
dewasa
muda
dengan kolostomi
permanen
di
Yayasan Kanker
Indonesia Jakarta
Pusat.

Penelitian
ini
menggunakan studi
kualitatif
dengan
pendekatan
fenomenologi.
Sampel di pilih
menggunakan jenis
Purposive Sampling
dengan pendekatan
sampling homogen.
Pengumpulan data
menggunakan
wawancara.

Menghasilkan 19 tema;
stresor, adaptasi transisi
sehat
dan
sakit,
perubahan
fungsi
eliminasi
tubuh,
keterbatasan aktivitas,
penilaian
kepuasan
terhadap bentuk tubuh,
alasan penilaian bentuk
tubuh,
faktor-faktor
yang
mempengaruhi
ideal diri, pencapaian
ideal,
indikator
keberhasilan,
respon
emosional,
respon
kehilangan,
sumber
pembentukan harga diri,
peran di keluarga, tugas
perkembangan, stresor,
sikap
terhadap
penerimaan, pengakuan
jenis kelamin, penilaian
diri terhadap tujuan
hidup, penilaian koping.

Reni
Zulfitri,
Konsep Diri
dan Gaya Hidup
Lansia
yang
Mengalami
Penyakit Kronis
di Panti Sosial
Tresna
Werdha, 2010,
Pekanbaru.

untuk mengetahui
hubungan antara
konsep
diri
dengan
gaya
hidup lansia yang
mengalami
penyakit kronis di
Panti
Sosial
Tresna
Werdha
Khusnul
Khotimah
Pekanbaru.

Menggunakan
deskriptif
korelasi
dengan pendekatan
cross
sectional.
Sampel
dalam
penelitian ini adalah
seluruh
lansia
dengan
penyakit
kronis
yang
memenuhi kriteria
inklusi
(total
sampling),
yaitu

Hasil
penelitian
menunjukkan
bahwa
terdapat
hubungan
antara
konsep
diri
dengan gaya hidup
lansia yang mengalami
penyakit kronis di panti
sosial tresna wredha
Khusnul
Khotimah
Pekanbaru.

sebanyak 30 orang.
Uji statistik yang
digunakan adalah uji
Chi Square.
9

Chusniatul
Fitriyah,
Siti
Azizah Rahayu,
Konsep Diri
Pada
Remaja
Tunanetra
di
Yayasan
Pendidikan
Anak
Buta
(YPAB), 2013,
Surabaya.

untuk memahami
bentuk
konsep
diri, memahami
aspek konsep diri,
memahami faktor
yang
mempengaruhi
konsep diri.

Penelitian
ini 1. Bentuk Konsep diri
menggunakan
yang dimiliki remaja
metode
kualitatif.
tunanetra
yakni
Subyek
Penelitian
dimensi internal dan
adalah 2 remaja
eksternal,
dimana
tunanetra.
subyek
memiliki
Pengambilan
data
konsep diri positif
dilakukan
dengan
tentang dirinya dan
tekhnik wawancara
bisa
menerima
dan observasi.
kondisi fisiknya.
2. Aspek konsep diri
pada
remaja
tunanetra
yakni
pengetahuan,
harapan
dan
penilaian.
Subyek
memiliki
pengetahuan yang
cukup
tentang
kondisinya
serta
memiliki
harapan
untuk
masa
depannya.
3. Konsep diri tersebut
di pengaruhi oleh
usia
kematangan,
penampilan
diri,
kepatutan
seks,
nama dan julukan,
hubungan keluarga,
teman-teman sebaya,
kreativitas,
serta
cita-cita.

10

Andrie Prasetyo, 1. mengetahui


Pengaruh
konsep
diri
Konsep Diri dan
siswa,
Kedisiplinan
kedisiplinan

Penelitian
ini
merupakan
penelitian
ex-post
facto. Dilakukan di

1. konsep diri siswa,


kedisiplinan,
dan
prestasi
belajar
siswa
memiliki

Terhadap
siswa,
dan
Prestasi Belajar
prestasi siswa
Siswa Jurusan
Teknik
Audio 2. mengetahui
bagaimanakah
Video di SMK
pengaruh
Muhammadiyah
konsep
diri
3 Yogyakarta,
terhadap
2013,
prestasi belajar
Yogyakarta.
siswa,
pengaruh
kedisiplinan
terhadap
prestasi belajar
siswa,
pengaruh
konsep
diri
dan
kedisiplinan
secara
bersama
terhadap
prestasi belajar
siswa.

Jurusan
Teknik
Audio Video SMK
Muhammadiyah
3
Yogyakarta dengan
populasi berjumlah
111 orang dengan
menggunakan teknik
simple
random
sampling
dan
didapat
sampel
sebanyak 84 orang.
Pengumpulan data
dalam penelitian ini
menggunakan
metode angket dan
dokumentasi. Teknik
analisis
yang
digunakan
adalah
regresi
linear
sederhana
dan
regresi ganda.

BAB IV
PEMBAHASAN

kecenderungan
dalam
kategori
tinggi
2. tidak
terdapat
pengaruh
yang
signifikan
antara
konsep diri dengan
prestasi
belajar
siswa, kedisiplinan
dengan
prestasi
belajar
siswa,
konsep diri dan
kedisiplinan secara
bersama
terhadap
prestasi
belajar
siswa kelas XI dan
XII Jurusan Teknik
Audio Video SMK
Muhammadiyah 3
Yogyakarta.

Konsep diri merupakan salah satu faktor yang mampu memberikan pengaruh terhadap
penyesuaian diri individu. Di dalam penyesuaian diri individu terdapat faktor konsep diri
yang akan mengarahkan pola penyesuaian diri yang akan dilakukan oleh individu.
Dengan kata lain, untuk melakukan penyesuaian diri yang baik dibutuhkan faktor konsep
diri yang baik pula. Dari situlah dapat diketahui bahwa konsep diri dan penyesuaian diri
memiliki hubungan yang erat.
Individu akan terus melakukan penyesuaian diri. Dalam berinteraksi dengan
lingkungan sosial, manusia sebagai pribadi sangat ingin agar kehadirannya diterima oleh
orang-orang yang ada dalam lingkungannya dimana dia tinggal. Brooks & Emmert
(dikutip Rakhmat, 2007, h.105), keberhasilan seseorang melakukan sesuatu banyak
tergantung pada kualitas konsep dirinya, baik positif maupun negatif. Rasa diterima
kehadirannya oleh semua pihak akan membentuk konsep diri yang positif dan
memberikan rasa aman pada diri sendiri karena individu merasa bahwa ada dukungan
dan perhatian terhadap dirinya. Penerimaan dari lingkungan ini merupakan motivasi
yang baik bagi individu untuk lebih survive dalam menghadapi kehidupannya. Kehadiran
seseorang yang tidak diterima dalam lingkungannya dapat membentuk konsep diri
negatif, merasa tidak aman dan terancam. Penolakan ini menimbulkan kelabilan emosi,
menutup diri dan sikap yang cenderung menantang.
Menurut Panuju & Umami (1999, h.85), konsep diri berkembang seiring dengan
bertambahnya pengalaman dan pengetahuan yang didapatnya baik dari pendidikan
keluarga, sekolah, perguruan tinggi maupun masyarakat. Konsep diri juga dapat
mempengaruhi seseorang dalam berprestasi. Franken (dalam Huitt, 2009) juga
menyatakan bahwa terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa konsep diri merupakan
dasar semua perilaku yang bermotivasi. Konsep diri yang memberikan peningkatan diri
menuju ideal, dan diri ideal yang menciptakan motivasi dalam perilaku. Konsep diri
adalah pandangan dan keyakinan individu mengenai dirinya sendiri yang mencakup
fisik, psikis, sosial dan moral. Menurut Fuhrman (dalam kusumawardani, 2012) konsep
diri merupakan variabel yang akan ikut menentukan bagaimana individu merasakan,
menerima, dan merespon diri dan lingkungannya. Apabila individu menilai dirinya
kurang baik, maka individu akan menganggap remeh dan membayangkan kegagalan
usahanya, sedangkan bila individu menerima dirinya baik, maka individu akan bersikap
optimis terhadap usahanya sehingga kemungkinan untuk sukses tinggi.