Anda di halaman 1dari 15

A.

PENDAHULUAN
Hassan Hanafi adalah seorang cendekiawan muslim yang menaruh perhatian atas
pembaruan atau lebih tepatnya sering disebut dengan rekonstruksi ilmu-ilmu keislaman (klasik)
seperti ilmu Ushuluddin dan Fiqh yang disesuaikan dengan realitas obyektif.. Lebih jauh lagi,
pemikiran Hassan Hanafi dikenal dengan segi tiga emas pemikiran Islam yang memadukan
ketiga

unsur

dari

tradisi

klasik,

tradisi

Barat

dan

kekinian

(contextual).

Walaupun Hassan Hanafi lahir, besar, aktif dalam barisan pemuda yang berjuang membebaskan
bangsanya dan kaum muslimin dari bentuk-bentuk penjajahan Barat, tetapi Hassan Hanafi muda
banyak belajar dari Barat dalam hal kebebasan berpikir. Dari sinilah kemudian Hanafi
menganialisis fenomena pemikiran termasuk pemikiran Islam (klasik), lantas mewarnai
pemikiran keislaman dengan mengkaitkan dengan tradisi keilmuan yang berkembang secara
progresif dalam konteks peradaban Barat. Keterpaduan yang dikenal dengan istilah segitiga emas
pemikiran Islam ini kemudian membawa sang pendobrak kejumudan (kemandekan) berpikir
dalam tradisi kesilaman ini sebagai salah satu tokoh pemikir reformis (pembaru) yang
memperkaya khasanah pemikiran progresif kontekstual disertai semangat kebebasan berpikir.
Sehingga bergerak dari statis ke anarkis(me).
Cendekiawan yang sukses adalah cendekiawan yang mampu menjadikan dirinya
sebagai cermin bagi realitas zamannya melalui pikiran-pikiran cerdas yang menawarkan solusi
kreatif-efektif.bagi problematika yang menantang realitas. Cendekiawan muslim yang sukses
melalui terobosan pemikirannya mampu menembus kebuntuan berpikir yang bermanfaat demi
kemaslahatan sosial. Dengan demikian, pikiran-pikiran yang digulirkan senantiasa merupakan
jawaban atas problematika sosial yang dikaitkan dengan realitas. Hassan Hanafi sosok pemikir
yang unik. Ia tidak layak dikatakan sebagai pemikir tradisional karena ia membongkar dan
mengkritik pemikiran tradisional. Namun, ia tidak juga pantas disebut selaku pemikir modernis
dikarenakan ia mengkritik tajam modernitas dan menjadikan wacana tradisional sebagai landasan
pemikiran yang diproyeksikan pada masa kini dan yang akan datang. Bahkan ia juga bukan
termasuk pemikir fundamentalis sebab ia memakai analisis intelektual dengan penekanan pada
rasionalitas. Tetapi ia tetap bisa disebut pemikir pembaru karena pemikirannya kontektual yang
berhubungan realitas obyektif . Pemikirannya menjadi rujukan sejumlah cendekiawan Muslim di
Indonesia terutama mereka yang berasal dari perguruan tinggi agama Islam (UIN) dahulu IAIN.

B. INTI BACAAN BUKU ISLAMOLOGI 1


Salah satu karya pemikiran Hassan Hanafi sejak 1978 yang kemudian dibukukan
pada tahun 1981 adalah Dirasat Islamiyah (Studi Islam). Buku ini diterjemahkan kedalam bahasa
Indonesia dengan judul: " Islamologi 1 Dari Teologi Statis Ke Anarkis" yang inti tulisannya
mengupas tentang pemahaman Hassan Hanafi yang meliputi Ilmu Usuluddin, Nalar dan
Transferensi (teks religius), serta Ilmu Usul Fiqh. Istilah statis ke anarkis mengandung makna
dari sesuatu yang diam tidak bergerak berubah menuju sesuatu yang bebas tidak terikat satu
aturan. Kajian ini merupakan elaborasi berbagai pandangan para pakar terdahulu. Telaah dikemas
secara kontemporer diarahkan pada revitalisasi dan atau repersepsi materi klasik yang ada sesuai
dengan tuntutan realitas dan jaman.
Ilmu Usuluddin dalam konteks tulisan Hassan Hanafi diarahkan pada strukturisasi
dan teorisasi ideologi dan hipotesis (putusan rasional dalil-dalil ideologi pasca kematian rasul
yang berpegang teguh pada rasio dan naql (teks religious). Pemahaman tentang ilmu Usuluddin
dikaitkan dengan upaya sistematisasi problem kehidupan di dunia, berorientasi pada justifikasi
kepercayaan relijius dan purifikasi keimanan dengan keyakinan. Ilmu usul Fiqh diteropong
dengan studi eksploratif. Dengan ilmu inilah lalu direkontruksikan inklusivitas tradisi, integrasi
antara yang lama dan yang baru. Melalui sela-sela usul Fiqh dapat diketahui dan diantisipasi
masa lampau, masa kini dan masa depan kaum muslimin.
Paling tidak Hanafi mengeksplorasi tiga kesadaran dalam mengulas studi Islam.
Pertama, kesadaran historis untuk mengetahui validitas teks-teks historis yang dapat
ditransmisikan. Kedua, kesadaran spekulatif berkaitan atas pemahaman interpretasi teks-teks dari
sudut analisis bahasa. Ketiga, kesadaran praksis, yang dikaitkan dengan keterhubungan atau
relevansi

nilai-nilai

pada

substansi

kehidupan

praksis

kekinian.

Kesadaran tidak pernah bersifat pasif karena menyadari sesuatu berarti mengubah sesuatu.
Kesadaran merupakan praksis tindakan Hanafi mencermati bahwa sebuah risalah pemikiran
bukanlah suatu risalah pemikiran ideal apabila tidak berkaitan dengan realitas obyektif dan tidak
memiliki kemasalahatan bagi masyarakat luas. Oleh karena itu pendekatan eksploratif yang
dilakukan merupakan perpaduan antara kajian studi Islam klasik-tradisional dan pandangan

Barat-modern serta dikaitkan pada tataran kekinian. Konsep ini sangat relevan ditinjau dari
persoalan umat Islam pada masa lalu hingga kini.
Bab 1 Ilmu Usuluddin
Ilmu Usuluddin adalah ilmu pengetahuan yang mengkaji obyek tertinggi (Allah) dan
arah kebutuhan terhadap ilmu ini adalah restrukturisasi teoretisasi ideologi dan hipotesis dalildalil

pasca

kematian

rasul

yang

berpegang

teguh

pada

rasio

dan

naql.

Paling tidak ada lima nama lain dari ilmu Ushuluddin. Pertama, Ilm'Ushul ad-Din: (melakukan
analogisasi terhadap ideologi religius dan dibangun dalam rasio). Kedua,Ilm al-Kalam
(menggunakan firman Allah, Al Quran sebagai objek yang disebut ilmu pengetahuan adalah
kalam yang berpengaruh dalam hati. Ketiga,Ilm al - Aqaid al-Islamiyah (ilmu ideologi Islam
secara sistematis: ilmu pengetahuan ini disebut sebagai al-Fiqh al-Akbar vis a vis al-Fiqh alAsghar (merupakan nilai-nilai bagi tindakan atau perbuatan praksis kehidupan manusia).
Keempat, Ilm at-Tauhid: (ilmu pengetahuan yang menempatkan tauhid sebagai keyakinan
utama. Kelima,Ilm adz-Dzat wa as-Shifah: (menjadikan persoalan zat/esensi dan sifat/atribut
sebagai hal utama). Menurut pemahaman ini kedudukan naql lebih utama dari rasio (paham
kasb).
Epistemologi dan Ontologi
Otentisitas epistemologi studi Islam muncul dalam analisa materi-materi argumentasi
yakni rasional (aqliyyah) dan tekstual (naqliyyah). Pada intinya, konstruksi ilmu pengetahuan
diklasifikasikan kedalam konsepsi (tashawwur) berupa pernyataan yang jelas dan konfirmasi
(tashdiq) yang berupa argumen atau dalil. Masing-masing klasifikasi pengetahuan itu dibagi
menjadi badihi (yang terbukti dengan sendirinya) bersifat fitrah dan kasbi (perolehan) yang
datang melalui indera dan pengalaman (empiris). Argumentasi terdiri dari argumen rasional
(aqliyah) dan argumen tekstual (naqliyah). Argumentasi rasional terdiri atas yang pasti-definitif
(qath'iyyah) berpegang pada bukti (burhan) dan dalil atau argumentasi spekulatif (zhanniyyah).
Epistemologi berkembang mulai dari keraguan aksetik, taklid, estimasi dan inspirasi sumber
pengetahuan subyektif seperti transendensi, inderawi, empirik, badihiyyah dan mutawatirat
(periwayatan yang valid dan shahih) hingga menjadi teori ilmu pengetahuan yang komprehensif.

Setelah itu epistemologi menyatu dengan ontologi didalam mengenali tiga hukum rasional yaitu
mungkin, wajib dan mustahil (absurb). Singkatnya, meski epistemologi dapat mencapai sebagian
dasar kognitif universal seperti konstruksi naql atas dasar rasio, tetapi tetap berada dalam ranah
logika epistemologi klasik yakni ilmu pengetahuan formal yang tidak terlepas dari pertautan
agama dengan kepentingan umum dan pengaruhnya terhadap pragmatisme sosial.
Dalam konteks ontologi para ulama ushuluddin kemudian menganalisis keniscayaan,
kemungkinan, yang dahulu dan yang baru sebagai pemahaman-pemahaman untuk diskursus
tentang Allah dan penetapan eksistensi Nya. Para filsuf menegaskan ke- qadim-an alam dengan
menetapkannya sebagai yang menciptakan (ash-Shain), tapi para teolog menolak ke-qadim-an
segala sesuatunya selain Allah. Pembahasan lain dalam bab ini adalah mengenai deskripsi
Esensi(subyek) ketuhanan berikut Atribut yang menyertai; Penciptaan tindakan (kasb vs
ikhtiyar), Baik & Buruk - Allah bebas melakukan vs perbuatan manusia sendiri - (Asy'arisme vs
Mu'tazilah); Kenabian, risalah kenabian yang satu menghapus risalah kenabian yang lain. Setiap
Nabi memenuhi siklusnya dalam suatu fase kehidupan; Kiamat, revitalisasi badan adalah
mungkin baik menurut aql maupun naql; Iman dan Praksis, (antara iman dan praksis tindakan
menyatu - Mu'tazilah, sedangkan Asy'arisme mengeluarkan praksis tindakan dari iman);
Kepemimpinan (al-Imamah), Syiah vs Ahlussunnah - sebagai landasan fundamental, salah satu
bagian

usuluddin

(Syi'ah),

sedangkan

Ahlussunnah

menganggap

sebaliknya.

Kehidupan kaum muslimin pada saat ini sangat mengharapkan adanya pikiran-pikiran baru
mencerahkan sehingga keyakinan Islamiah tampil di hadapan problem-problem aktual kaum
muslimin seperti keterbelakangan dan kolonialisme.
Perkembangan

Karya-Karya

dalam

Ilmu

Usuluddin:

Karya-karya yang disusun tentang ilmu usuluddin terbagi dua. Pertama, sejarah sekte Islam:
Mu'tazilah, Khawarij, Syi'ah dan Murji'ah Kedua, mengenai keyakinan keislaman yang
mengungkap pandangan sektarian yang diperoleh dari pemahaman keyakinan. Karya-karya ini
berkembang sejalan dinamika ilmu pengetahuan dan dapat dibagi lintas perkembangannya
sebagai berikut:
a. Kemunculan aliran dari aspek obyek (tauhid, kenabian dan kepemimpinan)
b. Dari problematika ke obyek dan dari obyek ke landasan pokok

c. Dari pokok agama (usuluddin) ke konstruksi ilmu pengetahuan


d. Dari konstruksi ilmu pengetahuan menuju keyakinan keimanan
e. Dari keyakinan menuju ideologi revolusi (at-Tauhid, Muhammad Abduh (1323 H).
Dalam lintas perkembangan ilmu Usuluddin tampak pada fase kelima mulai kita lihat pemikiran
progresif menjawab tantangan jaman dan mewujudnyatakan keyanikan yang dimiliki kearah
ideologi pembebasan (anarkisme) bersifat revolusioner seperti yang dirintis Muhammad Abduh.
Dari sini kiranya pengaruh pemikiran Hassan Hanafi kemudian berkembang dalam melahirkan
progresifitas dan melakukan upaya penguatan keyakinan melalui tradisi klasik, Barat dan
mengkaitkannya dengan realitas obyektif.
Bagi Hassan Hanafi prioritas kaum muslimin pada masa kini (saat pokok pikirannya
itu dikembangkan dalam Dirasat Islamiyah) adalah peniadaan klaim kafir terhadap individu dan
kembali pada kesatuan ide. Sepanjang mereka tunduk pada petunjuk akal, seperti kebaruan alam,
kesatuan pencipta dan atribut-atributnya maka mereka adalah komunitas muslim. Kepada mereka
harus disampaikan ajakan menuju Islam. Setiap mujtahid mempunyai kehidupan dan pikiran
yang mengedepankan kesetaraan atau egalitarianisme dengan setiap individu yang lain. Dari
pada mengklaim seseorang atau kelompok (sekte) berada dalam kekafiran, lebih baik mengajak
pada Islam yang dijelaskan melalui bukti-bukti demonstratif (burhan), manifestasi dari tauhid
dan aktualisasi pengaruhnya dalam kehidupan komunitas muslim. Setiap pandangan diikuti dan
dikuatkan dengan suatu dalil dan bukti demonstratif yakni pembuktian yang dapat
dipertanggujawabkan secara empirik saintifik mengikuti kaidah rasionalitas yang terukur.
Meniadakan klaim kafir terhadap sekte dan individu tertentu dengan kembali pada
kesatuan masa (waktu) melalui kesatuan ide adalah dengan ikatan antara orientasi- orientasi yang
beragam. Sehingga sejarah bukan pelecehan terhadap setiap ijtihad, akan tetapi sejarah
merupakan peningkatan atau kemajuan/pembaruan atas akidah dan afirmatif terhadap setiap
pandangan, selama pandangan tersebut dikuatkan dengan suatu dallil atau bukti demonstratif .
Apabila keadaan-keadaan masa lalu itu telah berubah dan pandangan-pandangan atas sekte-sekte
itu menentang keadaan-keadaan itu, maka kehidupan kaum muslimin sangat memerlukan
kehadiran pikiran baru yang mencerahkan.Sehingga keyakinan Islamiyah tampil dimuka
menghadapi problem-problem actual kaumj muslimin berupa keterbelakangan dan penjajahan.

Dalam kondisi yang demikian itu ilmu tauhid (teologi) menjadi sebuah ilmu kebangkitan umat
muslimin dan akidah Islam akan menjadi sebuah ideologi yang revolusioner bagi kaum
muslimin.
Seruan pembaruan menuju ke masa depan dan transformasi keyakinan-keyakinan religius
kedalam ideologi revolusioner terus berlangsung, sehingga masyarakat umat Islam mampu
menghadapi berbagai problem kehidupan seperti penjajahan, zionisme, disintegrasi, kapitalisme
dan keterbelakangan. Prinsip tauhid yang dipahami dengan benar akan mampu menyatukan dan
mempersenjatai masyarakat mengatasi berbagai krisis multidimensional yang dihadapi kaum
muslimin.
Kalimat la ilaha ilallah (tiada Tuhan selain Allah) dalam konsep ilmu usuluddin menurut
pandangan Hassan Hanafi memiliki dua makna tindakan. Makna yang pertama "la illaha" yakni
tindakan yang membebaskan manusia dari subordinasi penguasa, sedang "ilallah" merupakan
tindakan kedua yang menjadikan manusia sebagai pelaku tatanan nilai baru dan mengikat
manusia dengan prinsip universal. Hal inilah yang menunjukkan bahwa pemikiran (pembaruan)
sangat relevan dengan kondisi keumatan dewasa ini. Pada titik inilah sosok pemikir Hassan
Hanafi lebih banyak menaruh perhatian. Ilmu Usuluddin tidak hanya sekedar dilihat dari konteks
tradisi klasik yang memuliakan keesaan Allah tetapi pengetahuan ini lebih jauh diproyeksikan
pada pembebasan manusia dari belenggu ketidakberdayaan secara sistematik (systematically
ignorance).
Bab 2. Nalar Dan Transferensi
Aql (nalar) dan naql (transferensi) adalah salah satu tema ilmu Usuluddin yang tidak
terlepas dari pertanyaan apakah aql merupakan landasan naql (transferensi), atau sebaliknya naql
merupakan landasan aql? Mu'tazilah menyatakan jika terjadi kontroversi antara aql dan naql
maka yang digunakan adalah nalar dan melakukan ta'wil terhadap naql. Sedangkan Ibnu
Taimiyyah sebaliknya yakni naql yang dapat menyelesaikan masalah karena yang mengetahui
semua itu hanyalah Allah. Objektivitas dan subjektivitas. Apakah baik dan buruk merupakan
atribut obyektif independent bagi tindakan praksis yang mungkin bagi nalar? Ataukah persoalan
baik dan buruk itu merupakan atribut subyektif esensial yang tunduk pada kehendak illahiah dan
hanya dapat dicapai melalui sam (riwayat) atau naql? Asy'arisme hanya berkeyakinan bahwa

melalui media relasi dengan subyek-esensi Tuhan maka tidak ada sesuatu pun yang buruk. Allah
bebas melakukan apapun yang dikehendaki. Suatu yang buruk bila direlasikan kepada manusia
adalah sesuatu yang dilarang oleh ajaran Agama (syar), sedangkan suatu yang baik adalah
sesuatu yang diperintah syar bagi manusia untuk dilakukan. Sementara Mu'tazilah berpandangan
bahwa sesungguhnya ajaran Agama dapat diketahui kebaikannya oleh nalar. Sesuatu yang tidak
dapat diketahui kebaikannya oleh aql dan merupakan pembebanan maka hal itu telah merubah
diri manusia menjadi seperti robot tidak bernalar tidak berkehendak.
Kewajiban-Kewajiban Rasional. Asy'arisme mengungkap hal ini dengan contoh Abu
Jahal. Sebenarnya pembebanan tanggungjawab keimanan terhadap Abu Jahal adalah identik
dengan pembebanan terhadap setiap muslim. Hanya Abu Jahal mengingkari hal itu karena tidak
menggunakan nalarnya.Mu'tazilah menetapkan kewajiban-kewajiban rasional seperti (1)
mengetahui Allah (2) mensyukuri nikmat (3) Allah tidak melakukan tindakan yang buruk, (4)
petunjuk, Allah melakukan sesuatu yang dapat mendekatkan manusia pada ketaatan, (5), pahala
atas ketaatan, (6) siksa atas dosa besar sebelum bertobat, (7) Allah melakukan hal yang terbaik
bagi hamba-Nya di dunia. Apabila Allah akan membebani manusia maka Dia harus
menyempurnakan nalar-nalar mereka. Transferensi (naql) tanpa nalar hanyalah spekulasi yang
tidak bisa naik ke derajat keyakinan. Transferensi sendiri tidak dapat menetapkan sesuatu "Allah
berfirman", "Rasulullah bersabda" tidak mengekspresikan argumentasi. Disinilah pentingnya
nalar.
Intisari dari tema nalar dan transgerensi adalah pertama, terdapat urgensi nalar dalam
ilmu usuluddim (teologi) dan tuntutan pembangunan naql atas nalar atau wahyu memandu akal.
Kedua, terdapat urgensi nalar terhadap keadilan. Nalar yang membentuk kebebasan adalah suatu
keniscayaan mengingat keadilan berindikasi kebebasan tindakan dan "baik dan buruk'.
Kebebasan hanya dapat ditegakkan berdasarkan nalarm perbedaan baik dan buruk.
Ketiga, terdapat urgensi tema penindasan, derita kepedihan dan manusia cenderung hidup
ditentukasn oleh undang-undang hal dan keselarasan, sehingga manusia mampu mengaktifkan
pandangan dan tujuan hidupnya dalam melawan berbagai belenggu seperti penindasan,
oertentangan, kesia-sian dan disintegrasi. Kempat, urgensi analogi gaib sebagai sumber ide
ketuhanan. Terdapatnya keterbatasan manusia sehingga manusia mengetahui sesuatu melalui
pengalaman empirik tertentu dari yang dilihat di dunia. Kelima, kecenderungan dalam

transedensi dan kenikmatan membuat seoraang teolog (mutakallim) lupa bahwa (tujuan) sasaran
bukanlah pembelaan terhadap hak-hak Allah. Allah tidak butuh alam semesta manusialah yang
sangat membutuhkan segala sesuatu. Allah sendiri ingin menetapkan hal-hal yang berkaitan
dengan manusia melalui pengiriman wahyu. Keenam, terdapat persepsi kebaikan bagi umat
Islam dan mengetahui pandangan dari sekte-sekte teologi yang didalamnya merupakan tuntutan
umat Islam.
Sebagai perancang pemikiran segi tiga emas yang memiliki sikap terhadap tradisi
klasik, tradisi Barat dan sikap terhadap realitas obyektif, Hassan Hanafi sering dianggap terlalu
idealis bahkan oportunis. Disamping itu, dia berupaya untuk mengintegrasikan hal yang lama
dengan yang baru, sehingga dia mengeksplorasi triangle teori kesadaran : 1) kesadaran historis
untuk mengetahui validitas teks-teks historis melalui metode transmisi, 2) kesadaran spekultatif
untuk menginterpretasikan dan memahami teks-teks melalui analisis bahasa dan 3) kesadaran
praksis untuk signifikansi nilai-nilai dalam kehidupan praksis. Dengan triangle teori ini maka
wahyu ditransformasikan pada tataran sistem ideal dunia dari cipta karya manusia dan tauhid
menjadi akhir tindakan serta Tuhan lebih dekat pada proses menjadi dari pada realitas statis .
Bab 3. Ilmu Usul Fiqh
Ilmu Usul Fiqh merupakan ilmu pengetahuan tentang pokok-pokok hukum Islam
atau ilmu pengetahuan inferensi hukum-hukum syariat dari dalil dalil yang meyakinkan. Manfaat
ilmu usul fiqh adalah mengetahui berbagai ketentuan Allah baik secara qath'i atau
zhanni/spekulatif.
Kesadaran Historis (4 Dasar Pemikiran). Al Qur'an, sebagai dasar pertama. Diskursus
mengenai ayat-ayat bermakna tegas (al-muhkam) dan sebaliknya al-mustasyabih., jelas-tekstual
(zhahir) vs interpretatif-alegoris (al-muawwal). Lalu soal rukun-rukun penghapusan yakni
penghapusan (an-naskh), yang menghapus (an-nasakh), yang dihapus (al-mansukh). Jika annaskh itu penarikan, maka yang menghapus adalah Allah, yang dihapuskan adalah ketentuan
hukum yang ditarik, dan yang terhapuskan darinya (al-mansukh minhu) adalah orang yang
dibebani ketentuan hukum.

Dasar kedua adalah Sunnah yaitu ucapan, tindakan, dan ketetapan. Sunnah lebih luas
dari pada hadist. Ada tiga hal yang perlu diperhatikan yakni kata-kata sahabat, sanad (rangkaian
pewaris) dan matan (materi hadist). Kedua dasar lainnya ijma (konsensus) dan qiyas (penalaran
analogis).merupakan wahyu tidak tertulis (wahyu komunal dan wahyu personal).
Kesadaran Eidetis merupakan terpenting dalam ilmu usul fiqh karena kesadaran ini
bagian metodologis yang merepresentasikan kesungguhan dan kemampuan manusia terhadap
pemahaman dan interpretasi wahyu pada masa lalu yang di intrepretasikan dalam konteks
kekinian dengan keempat dasar hukum Islam. Bahasa (kata-kata) bisa menjadi sorotan dalam
menunjukkan ketentuan hukum melalui bentuk dan susunan, melalui arti dan pemahamannya
atau melalui makna dan rasionalitasnya misal qiyas atau penalaran analogis. Kesadaran eidetis
berorientasi pada sistem dan rasionalitas yaitu dengan analisis kata-kata (filologis) sejumlah
makna dan argumen. Kelompok tektualis (ahli zahir) mengingkari terjadinya penalaran analogis.
Mereka berpegang teguh pada argumen yang yang berasal dari Al Kitab (Al Quran) dan sunnah.
Kesadaran praksis (ketentuan yuridis/syariat). Munculnya kesadaran praksis
merupakan buah dari pemahaman ketentuan hukum, larangan dan perintah dan transformasi
wahyu kedalam tindakan di dunia. Pengertian al-hukm (ketentuan) secara terminologis adalah
materi hukum terhadap tindakan-tindakan mukalaf (orang yang diberi beban/ tugas). Secara
rasional, sebelum kehadiran ketentuan yuridis tidak ada kewajiban bersyukur kepada Allah. Ini
berbeda dengan Mu'tazilah yang mewajibkan dengan dasar nalar.
Secara syari' atau syariat bahwa validitas tindakan diukur dari niatnya seorang
mukalaf (orang yang menjalankan tugas syariat). Seorang mukalaf dalam menjalankan tugasnya
(takalif) tidak dibenarkan dan tidak diperbolehkan melakukan tindakan yang dapat merugikan
atau menyengsarakan orang lain. Barangsiapa yang ditugaskan untuk menegakkan kepentingan
orang lain (masyarakat luas) maka umat Islam wajib menjaga kepentingan orang yang diberikan
amanah itu. Ini mengindikasikan bahwa syariat Islam sangat peduli atas nasib dan kepentingan
orang lain. Dalam konteks ini ajaran Islam amat mementingkan kepentingan orang lain dari pada
kepentingan dirinya sendiri yang dalam khasanah psikologi sosial disebut sebagai perilaku
altruistik yang berlawanan dengan self-fish atau yang popular dengan sebutan egoistik. Ajaran
syariat Islam tidak memperbolehkan umatnya melakukan tindakan yang mementingkan dirinya

sendiri (egois). Esensi ajaran syariat Islam sangat altruistik dalam setiap tindakan dan tema
kegiatan yang diusungnya.
Oleh karena itu segala benrtuk perlakuan dan tindakan yang membuat umat lain
menderita sangat dilarang dalam Islam. Dalam konteks inilah Hassan Hanafi mengkritik
kolonialisme-imperialisme

dan mengusung konsep-konsep pembebasan

manusia

yang

mengalami segala bentuk penjajahan. Hassan Hanafi mengkritik pedas Barat dalam turut
menjadikan Umat Islam "terpenjara" secara fisik dan mental sebagai akibat perlakuan yang tidak
beradab selama penjajahan. Barat dalam hal ini bersikap sangat egoistik yang bertentangan
dengan syariat Islam. Sementara itu pemahaman para teolog Islam atas ajaran Islam mandek dan
mengalami stagnasi sehingga "kemerdekaan" tak kunjung tiba.
Syariat dibuat dengan mempertimbangkan aspek mukalaf secara universal, bukan
terhadap kelompok tertentu, seperti kelompok sufisme yang menduga bahwa mereka
diperbolehkan melakukan tindakan atau kegiatan yang tidak diperbolehkan kelompok lain dan
mempunyai syariat spesial bukan universal. Bahkan Rasulullah sendiri tidak dispesialisasikan
dengan suatu syariat khusus, sehingga sejarah kehidupannya secara universal berlaku bagi umat.
Jadi, ilmu usul fiqh merupakan ilmu tanzil (sistematis) yakni ilmu pengetahuan yang
menginferensikan ketentuan syariat dan berorientasi dari Allah (teosentris) kepada manusia
(antroposentris) yang kontradiktif diametral dengan ilmu ta'wil (intrepretasi alegoris) seperti
direpresentasikan oleh sufisme.
C. PEMBAHASAN
Hassan Hanafi berupaya menelusuri historisitas akidah dengan menggunakan nalar
hingga tauhid mempunyai ikatan dengan praksis, Allah dengan bumi, subyek ilahiah dengan
subyek insaniyah, sifat-sifat ketuhanan dengan nilai-nilai kemanusiaan Tujuan penelusuran untuk
menunjukkan bukti-bukti kebenaran internal melalui analisis rasional terhadap pengalaman
generasi masa lalu dan cara-cara yang dilakukan dalam implementasinya.
Konsep la ilaha ilallah mengandung dua makna tindakan. Yang pertama "la illaha"
yakni tindakan yang membebaskan manusia dari subordinasi penguasa, sedangkan "ilallah"
merupakan tindakan kedua yang menjadikan manusia sebagai pelaku tatanan nilai baru dan

mengikat manusia dengan prinsip universal. Pernyataan keimanan yang kedua Muhammad dan
Rasulullah, mengandung pengertian dan penegasan bahwa wahyu telah selesai dan tidak ada lagi
Nabi dan Rasul setelah Muhammad. Wahyu mengalami perkembangan dari Nabi pertama hingga
terakhir. Akal (nalar) telah sampai pada taraf keyakinan. Akal mampu merealisasikan misi
kemanusiaan. Cita-cita yang ada dalam kalimat tauhid adalah pembebasan manusia dari
belenggu ketidakberdayaan. Dengan spirit tauhid para pendahulu di masa lampau mampu
menaklukkan berbagai Negara, berjihad di jalan Allah, membebaskan perasaan manusia demi
meninggikan agama Allah.Mereka berhasil dengan pemikiran dan syariat, dan sukses
menerjemahkan teori-teori dalam praksis, maka generasi sekarang dituntut untuk dapat
membebaskan Negara dari krisis multidimensional. Pada dasarnya pemikiran Hasan Hanafi
bertumpu pada penyandingan antara tradisi dan modernitas. Ia mendesain segitiga pemikiran
Islam yang dipandang akan memberikan spirit bagi kebangkitan umat Islam, sikap terhadap
tradisi klasik (tradisional), sikap terhadap tradisi Barat, dan sikap terhadap realitas obyektif
(kontekstualitas).
Dalam gagasannya tentang rekonstruksi teologi tradisional, Hanafi menegaskan
perlunya mengubah orientasi perangkat konseptual sistem kepercayaan (teologi) sesuai dengan
perubahan konteks yang terjadi. Teologi tradisional, kata Hanafi, lahir dalam konteks sejarah
ketika inti keislaman sistem kepercayaan, yakni transendensi Tuhan, diserang oleh wakil dari
sekte dan budaya lama. Teologi itu dimaksudkan untuk mempertahankan doktrin utama dan
memelihara kemurniannya. Sementara itu, konteks sosial-politik sekarang sudah berubah. Islam
mengalami berbagai kekalahan di berbagai medan pertempuran sepanjang periode kolonialisasi.
Oleh karena itu, kerangka konseptual lama, yang berasal dari kebudayaan klasik, harus diubah
menjadi kerangka konseptual baru yang berasal dari kebudayaan modern .
Selanjutnya, Hanafi memandang bahwa teologi bukanlah pemikiran murni yang
hadir dalam kehampaan kesejarahan, melainkan merefleksikan konflik-konflik sosial politik.
Oleh karena itu, kritik teologi memang merupakan tindakan yang sah dan dibenarkan. Sebagai
produk pemikiran manusia, teologi terbuka untuk kritik. Menurut Hanafi, teologi sesungguhnya
bukan ilmu tentang Tuhan, yang secara etimologis berasal dari kata theo dan logos, melainkan
ilmu tentang kata - firman (ilm al-kalam).

Teologi bukanlah ilmu tentang Tuhan karena Tuhan tidak tunduk kepada ilmu. Tuhan
mengungkapkan diri dalam Firman-Nya yang berupa wahyu. Ilmu kata adalah tafsir yaitu ilmu
hermeneutik yang mempelajari analisis percakapan (discourse analysis), bukan saja dari segi
bentuk murni ucapan, melainkan juga dari segi konteksnya, yakni pengertian yang merujuk
kepada dunia. Adapun wahyu sebagai manifestasi kemauan Tuhan, yakni wahyu yang dikirim
kepada manusia mempunyai muatan-muatan kemanusiaan. Hanafi ingin meletakkan teologi
Islam tradisional pada tempat yang sebenarnya, yakni bukan pada ilmu ketuhanan yang suci,
yang tidak boleh dipersoalkan lagi dan harus diterima begitu saja secara taken for granted. Ia
adalah ilmu kemanusiaan yang tetap terbuka untuk diadakan verifikasi dan falsifikasi, baik
secara historis maupun eidetis.
Secara praksis, Hanafi juga menunjukkan bahwa teologi tradisional tidak dapat
menjadi sebuah "pandangan yang benar-benar hidup" dan memberi motivasi tindakan dalam
kehidupan konkret umat manusia. Secara praksis, teologi tradisional gagal menjadi semacam
ideologi yang sungguh-sungguh fungsional bagi kehidupan nyata masyarakat muslim. Kegagalan
para teolog tradisional disebabkan oleh sikap para penyusun teologi yang tidak mengaitkannya
dengan kesadaran murni dan nilai-nilai perbuatan manusia. Akibatnya, muncul keterpecahan
antara keimanan teoritik dengan amal praktisnya di kalangan umat. Ia menyatakan, baik secara
individual maupun sosial, umat in dilanda keterceraiberaian dan terkoyak-koyak. Secara
individual, pemikiran manusia terputus dengan kesadaran, perkataan maupun perbuatannya.
Keadaan itu akan mudah melahirkan sikap-sikap moral ganda (an-nifaq; hipocrisy) atau
sinkretism kepribadian (muzawij; assyahszyyali). Fenomena sinkretis ini tampak dalam
kehidupan umat Islam saat ini: sinkretisme antara kultur keagamaan dan sekularisme (dalam
kebudayaan), antara tradisional dan modern (peradaban), antara Timur dan Barat (politik), antara
konservatisme dan progresivisme (sosial) antara kapitalisme dan sosialisme (ekonomi).
Secara historis, teologi telah menyingkap adanya benturan berbagai kepentingan dan sarat
dengan konflik sosial-politik. Teologi telah gagal pada dua tingkat: pertama, pada tingkat teoritis,
yaitu gagal mendapat pembuktian ilmiah dan filosofis, dan kedua, pada tingkat praksis, yaitu
gagal karena hanya menciptakan apatisme dan negativisme.
Rekonstruksi Teologi melihat sisi-sisi kelemahan teologi tradisional, Hanafi lalu
mengajukan saran rekonstruksi teologi. Menurutnya, adalah mungkin untuk memfungsikan

teologi menjadi ilmu-ilmu yang bermanfaat bagi masa kini, yaitu dengan melakukan rekonstruksi
dan revisi, serta membangun kembali epistemologi lama yang rancu dan palsu menuju
epistemologi baru yang sahih dan lebih signifikan. Tujuan rekonstruksi teologi Hanafi adalah
menjadikan teologi tidak sekedar dogma-dogma keagamaan yang kosong, melainkan menjelma
sebagia ilmu tentang pejuang sosial, yang menjadikan keimanan-keimanan tradisional memiliki
fungsi secara aktual sebagai landasan etik dan motivasi manusia.
Sistem kepercayaan sesungguhnya mengekspresikan bangunan sosial tertentu. Sistem
kepercayaan menjadikan gerakan sosial sebagai gerakan bagi kepentingan mayoritas yang diam,
sehingga sistem kepercayaan memiliki fungsi visi. Karena memiliki fungsi revolusi, tujuan final
rekonstruksi teologi tradisional adalah revolusi sosial. Menilai revolusi dengan agama di masa
sekarang sama halnya mengaitkan filsafat dengan syariat di masa lalu, ketika filsafat menjadi
tuntutan zaman saat itu. Untuk melakukan rekonstruksi teologi sekurang-kurangnya
dilatarbelakangi oleh tiga hal berikut:
Pertama, kebutuhan akan adanya sebuah ideologi yang jelas di tengah-tengah
pertarungan global antara berbagai ideologi.
Kedua, pentingnya teologi baru ini bukan semata pada sisi teoritisnya, melainkan
juga terletak pada kepentingan praktis untuk secara nyata mewujudkan ideologi sebagai gerakan
dalam sejarah. Salah satu kepentingan ideologi ini adalah memecahkan problem pendudukan
tanah di negara-negara muslim. Ketiga, kepentingan teologi yang bersifat praktis (amaliyah fi'
liyah) yaitu secara nyata diwujudkan dalam realitas melalui realisasi tauhid dalam dunia Islam.
Hanafi menghendaki adanya 'teologi dunia' yaitu teologi baru yang dapat mempersatukan umat
Islam di bawah satu orde. Menurut Hanafi, rekonstruksi teologi merupakan salah satu cara yang
mesti ditempuh jika mengharapkan agar teologi dapat memberikan sumbangan yang konkret
bagi

sejarah

kemanusiaan.

Kepentingan

rekonstruksi

itu

pertama-tama

untuk

mentransformasikan teologi menuju antropologi, menjadikan teologi sebagai wacana tentang


kemanusiaan, baik secara eksistensial, kognitif, maupun kesejarahan.
Selanjutnya Hanafi menawarkan dua hal untuk memperoleh kesempurnaan teori ilmu
dalam teologi Islam, yaitu: Pertama, analisis bahasa. Bahasa serta istilah-istilah dalam teologi

tradisional adalah warisan nenek moyang di bidang teologi yang merupakan bahasa khas yang
seolah-olah menjadi ketentuan sejak dulu. Teologi tradisional memiliki istilah-istilah khas seperti
Allah, iman, akhirat. Semua ini sebenarnya menyingkapkan sifat-sifat dan metode keilmuan, ada
yang empirik-rasional seperti iman, amal, dan imamah, dan ada lagi yang historis seperti
nubuwah

serta

ada

pula

yang

metafisik

seperti

Allah

dan

akhirat.

Kedua, analisis realitas. Analisis in dilakukan untuk mengetahui latar belakang historissosiologis munculnya teologi di masa lalu, mendeskripsikan pengaruh-pengaruh nyata teologi
bagi kehidupan masyarakat, dan bagaimana ia mempunyai kekuatan mengarahkan terhadap
perilaku para pendukungnya. Analisis realitas ini berguna untuk menentukan ke arah mana
teologi kontemporer harus diorientasikan. Dalam menghadapi hegemoni Barat, Hanafi
merumuskan paradigma fikir yang ia sebut oksidentalisme-cara memandang Barat-sebagai antitesis orientalisme Barat. Untuk ini, ia menulis buku khusus berjudul Muqaddimah fi Ilmi
Istighrab. Ia mengajak umat Islam mengkritik hegemoni budaya, politik, dan ekonomi Barat,
yang terbina di sebalik kajian orientalisme.
Hanafi yakin orientalisme sama saja dengan imperialisme, seperti kepopuleran
imperalisme budaya yang disebut Barat melalui medianya dengan mempropagandakan Barat
sebagai pusat kebudayaan kosmopolitan. Bahkan, orientalisme dijadikan semulus mungkin untuk
melancarkan penerusan kolonialisme Barat (Eropa) terhadap dunia Timur (Islam). Apakah
dengan oksidentalisme ini Hanafi berhasrat merebut kekuasaan orientalisme? Tidak! Hanafi
menulis, oksidentalisme hanya ingin menuntut pembebasan diri dari cengkaman kolonialisme
orientalis.
Menurut Hanafi, ego oksidentalisme lebih bersih, objektif, dan neutral dibandingkan
dengan ego orientalisme. Oksidentalisme sekadar menuntut keseimbangan dalam kebudayaan,
kekuatan, yang selama ini memposisikan Barat sebagai pusat yang dominan. Dengan
oksidentalisme, Hanafi berniat mengakhiri dan sekaligus meruntuhkan mitos Barat yang
dianggap sebagai satu-satunya perwakilan (kekuatan) dunia. Dilihat dari uraian diatas tampak
dengan jelas bahwa rekonstruksi yang dilakukan Hassan Hanafi menunjukkan penalaran yang
sangat tinggi. Pemikiran ini tampaknya lahir dari kesadaran yang sangat penuh atas posisi kaum
Muslimin yang sedang terbelakang, untuk kemudian melakukan rekonstruksi terhadap bangunan

pemikiran Islam tradisional agar dapat berfungsi sebagai kekuatan pembebasan. Upaya
rekonstruksi ini adalah suatu keniscayaan.