Anda di halaman 1dari 2

Konsep Diri dalam Perilaku Organisasi.

Organisasi dikenal sebagai sistem kerjasama sekelompok orang yang memiliki aturan dan keterikatan
tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Sementara, perilaku dapat
dikaitkan dengan sikap dan tindakan seorang individu (unsur behavior; way of thinking or behaving).
Maka, secara sederhana dapat dikatakan bahwa ilmu perilaku organisasi adalah ilmu tentang perilaku
tiap individu dan kelompok, serta pengaruh individu dan kelompok terhadap organisasi, maupun
perilaku interaksi antara individu dengan individu lain; individu dengan kelompok; serta kelompok
dengan kelompok lain dalam sebuah organisasi demi kemanfaatan suatu organisasi.
Di sisi yang lain, perilaku organisasi dapat dilihat dari sudut pandang manajemen. Misalnya dalam
Manajemen Tradisional (traditional management) memandang bahwa setiap individu memiliki perilaku
tertentu dalam perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, serta pengawasan (POAC). Setiap
kelompok mempunyai karakteristik tertentu dalam berinteraksi, baik di dalam maupun antar
kelompok, antar instansi atau antar unit kerja. Menurut Manajemen Berdasar Sasaran (management
by objectives) bahwa setiap individu ataupun kelompok memiliki interest tertentu dalam menentukan
sasaran kerja tiap unit dan bahkan sasaran organisasi.
Manajemen stratejik memandang setiap individu atau kelompok memiliki pandangan yang berbeda
dalam menganalisa lingkungan, juga penentu visi dan misi organisasi, melakukan perumusan strategi
dan mengimplementasikannya, dan sekaligus melakukan pengendalian terhadap strategi yang
diterapkan tadi. Sedangkan dalam pandangan total quality management (TQM) memandang bahwa
setiap individu atau kelompok memiliki tolok ukur yang berbeda dan memiliki komitment mutu yang
berbeda pula.
Prinsip dasar nilai yang dimiliki individu.
Pengertian nilai itu sendiri merupakan keyakinan dasar bahwa suatu modus perilaku tertentu lebih
disukai secara pribadi atau sosial dibanding modus perilaku lainnya. Sedangkan sistem nilai disini
merupakan suatu hierarki yang didasarkan pada suatu peringkat nilai-nilai seorang individu dalam hal
intensitasnya. Sistem nilai tadi bisa bersumber dari orang tua atau keluarga individu, dari masyarakat,
maupun bersumber dari latar belakang pendidikan yang di dapat individu.
Hubungan nilai dan perilaku dapat digambarkan bahwa sistem nilai yang dianut akan berpengaruh
terhadap perilakunya karena nilai mempengaruhi sikap dan sikap mempengaruhi perilaku sang
individu tersebut. Seseorang yang memiliki sistem nilai yang tinggi akan memiliki kecenderungan
berperilaku lebih terkendali dibanding seseorang yang memiliki sistem nilai lebih rendah. Seseorang
yang memiliki sistem nilai yang berbeda akan mempengaruhi pandangan tentang mutu suatu
tindakan.
Motivasi individu juga punya peran penting dalam menata nilai secara individual. Motivasi dapat
diartikan sebagai proses pengembangan dan proses pengarahan perilaku agar individu menghasilkan
keluaran (output) yang diharapkan, sesuai dengan sasaran dan tujuan yang ingin dicapai. Menurut
Steer & Porter ( 1991:6 ) Motivation primarily concerned with : a. What energizes human behavior;
b. What direct or channels such behavior; and c. how this behavior is maintanied or sustained.
Ketiganya mengarah pada pola-pola yang erat dengan individual yang secara subjektif mampu
mengelola nilai bagi kemanfaatan individunya. Pengenalan diri secara matang perlu diterapkan ke
masing-masing individu.
Citra diri = peta pribadi.
Citra diri secara individual juga berperan mendukung motivasi secara terus-menerus. Peran penting
individu dalam aktifitas suatu organisasi dapat dikatakan sangat vital, mengingat seorang individu
adalah pemegang peran kunci dalam aktifitas organisasi. Tiap individu harus mampu mengenali

potensinya masing-masing. Finding your indentity is a process with no real end point (Oscar Wilde).
Dapat diartikan bahwa kita tidak akan pernah selesai menelaah siapa diri kita.
Self Awareness, dapat diartikan di sini sebagai kemampuan melihat pola pikir kita yang berada di
ketidaksadaran dan mengangkatnya ke alam sadar kita (ketidaksadaran menjadi kesadaran). Self
awareness bukanlah sebuah ilmu, namun lebih merupakan ketajaman persepsi dan observasi,
terhadap diri sendiri, baik secara fisik maupun proses mental dan psikologis yang berlangsung dalam
diri kita. Disini masing-masing individu harus memahami betul konsep dirinya dan apa yang menjadi
kelebihan atau kekurangan secara individul. Kemudian mampu menerima dengan segala
konsekuensi terhadapat keberadaannya secara individu di tengah masyarakat atau individu yang lain.
The final mystery is oneself, misteri bagi kita yang sebenarnya adalah diri kita sendiri.