Anda di halaman 1dari 43

MODUL PRAKTIKUM

MEKANIKA FLUIDA II
Dipergunakan untuk praktikum mahasiswa Teknik Lingkungan ITB

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2015

PERATURAN PRAKTIKUM MEKANIKA FLUIDA II 2016


RESPONSI
1. Peserta wajib menghadiri responsi praktikum.
2. Responsi diadakan setiap 2 minggu sekali hari Rabu, pk 09.00 10.00 di RSG lt. 6 labtek IX C sesuai
dengan jadwal mata kuliah mekanika fluida 2.
3. Responsi akan berlangsung selama kurang lebih 60 menit, terdiri dari penjelasan praktikum dan tes
responsi.

PRAKTIKUM
Pelaksanaan Praktikum
1. Praktikum dilaksanakan selama 90 menit, sudah termasuk tes di akhir praktikum.
2. Tidak mengikuti praktikum berarti tidak lulus praktikum dan otomatis tidak lulus mata kuliah
Mekanika Fluida II.
3. Praktikan diharapkan hadir tepat waktu dengan toleransi keterlambatan maksimal 10 menit.
a. 5 - 10 menit (Jam di Lab. TPA) dikenakan sanksi perorangan (-10) dan kelompok (-5) dari nilai
laporan.
b. Sedangkan lebih dari 10 menit, praktikan tidak diperbolehkan mengikuti praktikum shift
tersebut (harus mengikuti praktikum shift lain) dengan sanksi perorangan dan kelompok tetap
diberlakukan.
4. Praktikan tidak diperkenankan bercanda berlebihan selama praktikum.
5. Bagi praktikan yang memecahkan properti laboratorium, segera lapor ke koordinator asisten dan
mengganti item tersebut setelah kejadian berlangsung.
6. Praktikan tidak boleh menggunakan fasilitas apapun di laboratorium tanpa izin dari asisten yang
bertugas.

Kelengkapan Praktikum
1. Jurnal praktikum wajib dibawa selama kegiatan praktikum dan menjadi salah satu aspek penilaian.
2. Seluruh praktikan yang mengikuti praktikum wajib mengisi daftar absen yang tersedia di
laboratorium pada saat praktikum dilaksanakan.
3. Selama praktikum, praktikan menggunakan jas praktikum lengan panjang, name tag, sepatu
tertutup, pakaian yang rapi dan sopan. Bagi yang berambut/berponi panjang harap diikat/dijepit

agar tidak mengganggu aktivitas selama praktikum. Jika kelengkapan tersebut tidak dipenuhi,
praktikan tidak diizinkan mengikuti praktikum.
4. Praktikan harus memakai jas lab dan nametag sebelum memasuki ruangan lab dan dibuka setelah
praktikum selesai di luar lab.
5. Nametag mengikuti format praktikum mekanika fluida I (Nama-shift). Disamakan untuk semua
praktikan.
6. Peralatan pribadi yang diperlukan untuk praktikum, meliputi stopwatch/ HP berstopwatch (1 per
kelompok), penggaris 30 cm (2 per kelompok), kalkulator (1 per kelompok), alat tulis (perorangan),
kertas reuse halaman A4 kalkulator (1 per kelompok). Peralatan tersebut harap disiapkan
sebelum memasuki laboratorium.
7. Tas praktikan disusun rapi di ruang asisten.
8. Praktikan tidak diperbolehkan menggunakan aksesoris di tangan (termasuk jam tangan) selama
praktikum.
Izin Praktikum
1. Praktikan yang tidak dapat mengikuti praktikum hanya boleh dikarenakan oleh 2 alasan :
a. Sakit, dengan melampirkan surat sakit (hanya menerima surat sakit dari dokter) paling lambat
1 minggu setelah praktikum, diberikan pada asisten yang bertugas saat praktikum.
Pemberitahuan bahwa praktikan sakit harus disampaikan oleh teman satu kelompok ke asisten
yang bertugas pada saat praktikum dilaksanakan.
b. Ijin, dengan melampirkan surat ijin (yang dibuat oleh wali/orangtua) pada hari praktikum
dilaksanakan, diberikan pada asisten praktikum. Pemberitahuan bahwa praktikan izin harus
disampaikan oleh teman satu kelompok ke asisten yang bertugas pada saat praktikum
dilaksanakan.
2. Bagi praktikan yang tidak hadir, diharapkan mengikuti praktikum modul tersebut di shift lain (boleh
kelas yang sama atau berbeda) dan mengumpulkan laporan serta mengikuti tes akhir sesuai dengan
shift yang diikutinya. Jika praktikan tidak dapat mengikuti praktikum modul tersebut, maka
diharapkan mengumpulkan :
a. Tugas berupa resume dua buah jurnal/paper yang berkaitan atau di dalamnya ada pembahasan
tentang fenomena hidrolika (mekanika fluida). Resume sebanyak 1-2 halaman (tidak
mengandung tabel/gambar) tulistangan. Print out paper asli harap disertakan (menggunakan
kertas reuse/ bolak balik)
b. Laporan praktikum menggunakan data kelompok praktikan.

3. Bagi praktikan yang tidak mengikuti praktikum tanpa keterangan tidak berhak mendapatkan nilai
laporan praktikum modul yang dipraktikumkan.
JURNAL PRAKTIKUM
1. Jurnal praktikum menggunakan Kertas Reuse A4 30 halaman, dijilid ring + plastic
2. Isi jurnal pada setiap praktikum :
a. Judul Modul & PJ Modul
b. Tujuan Praktikum
c. Prinsip Praktikum
d. Cara Kerja (dalam bentuk diagram flow)
e. Tabel data
f.

Rumus-rumus yang digunakan

3. Isi jurnal dibuat sebelum praktikum dilaksanakan. Jurnal digunakan untuk menulis data selama
praktikum berlangsung
4. Format Cover Jurnal (Gambar1)

Gambar 1 Format Cover Jurnal


LAPORAN PRAKTIKUM
Laporan praktikum merupakan laporan per orangan dan ditulis tangan kecuali Gambar, Tabel, Grafik,
dan Cover. Setiap halaman diberi garis pinggir kanan (1,5 cm), kiri, atas, bawah (1 cm). Laporan
menggunakan kertas reuse atau bolak-balik, distepler minimal 2 buah. Pengumpulan laporan satu

minggu setelah praktikum. Laporan diserahkan pada asisten yang bertugas sesuai dengan jam
praktikum secara berkelompok. Laporan yang dikumpulkan setelah jam praktikum shift kelompoknya
dianggap terlambat 1 (satu) hari. Keterlambatan pengumpulan laporan dikenai sanksi perorangan -5
(minus lima) nilai laporan/ hari. Jika praktikan tidak mampu menyelesaikan laporan tepat waktu
dikarenakan sakit, harap memberikan surat sakit pada waktu pengumpulan laporan yang ditentukan.
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Bab
Teori Dasar
Tujuan
Prinsip
Data Awal
Pengolahan Data
Data Akhir
Analisis (A)
Analisis (B)
Kesimpulan
Daftar Pustaka

Bobot
15
5
10
4
10
4
30
10
10
2

Ketentuan isi laporan :


COVER laporan mengikuti format yang sudah diberikan, diketik dengan font Times New Roman
(Gambar 2)

TEORI DASAR dikerjakan secara perorangan 1-2 halaman tulis tangan termasuk gambar ilustrasi
(boleh merupakan print-out yang ditempel).

TUJUAN diharapkan jumlahnya minimal 2 poin lebih banyak dari yang tercantum di modul
berdasarkan hal-hal yang praktikan temukan saat praktikum.

PRINSIP dijelaskan dalam bentuk paragraf, merupakan prinsip praktikum (metoda yang
dilakukan saat praktikum hingga tercapai tujuan praktikum)

DATA AWAL dan DATA AKHIR (dalam bentuk tabel boleh manual/ komputer)

PENGOLAHAN DATA berisi tahapan-tahapan perhitungan lengkap untuk 1 variasi debit

ANALISIS (A) diharapkan berisi :


o Analisis data dan grafik
o Analisis komponen rumus-rumus yang digunakan kaitannya dengan hasil pengolahan
data
o Analisis kondisi yang didapatkan saat praktikum
o Faktor-faktor kesalahan yang mungkin terjadi saat praktikum
o Analisis umum lainnya (Seluruhnya dibandingkan dengan literatur)

ANALISIS (B) meliputi contoh aplikasi dalam bidang teknik lingkungan disertai penjelasannya.
Minimal dicantumkan 2 contoh aplikasi

Jika mengutip kalimat yang merupakan hasil pemikiran orang lain dari buku, jurnal, atau
internet, baik pada teori dasar maupun analisis, maka harus mencantumkan sumber-sumber
tersebut pada kalimat (contoh : Damanhuri, 2005) dan sumber tersebut dicantumkan di daftar
pustaka

KESIMPULAN diharapkan menjawab seluruh poin yang dituliskan di bagian TUJUAN

DAFTAR PUSTAKA minimal mencantumkan dua sumber textbook, atau jurnal (nasional atau
internasional)

UJIAN PRAKTIKUM
Ujian praktikum dilaksanakan untuk menilai pemahaman praktikan akan prinsip-prinsip mekanika fluida
saluran terbuka yang diaplikasikan di praktikum. Ujian praktikum merupakan ujian individual dan
tertulis.
NILAI PRAKTIKUM
Nilai total praktikum merupakan penggabungan dari nilai keaktifan praktikan dalam praktikum, nilai
jurnal, nilai tes responsi, nilai tes akhir, nilai laporan, dan nilai ujian praktikum.

MODUL 01 ALIRAN SERAGAM DAN KEMIRINGAN SALURAN


Genniya Haya Nur Sadrina dan Widi Ajeng Luthfiyya
A. SASARAN
a.
b.
c.
d.
e.

Membuktikan fenomena aliran seragam (profil aliran)


Menentukan koefisien chezy (C)
Menentukan koefisien manning (n)
Menentukan bilangan reynold (NRE)
Menentukan korelasi antara koefisien chezy (C) dan koefisien manning (n)

B. TEORI DASAR
Aliran seragam terjadi apabila :
a. Kedalaman (y), luas penampang (A), kecepatan (v), dan debit (Q) sepanjang segmen
saluran adalah konstan
b. Slope energi, muka air, dan dasar saluran sejajar
Persamaan-persamaan yang berhubungan dengan aliran seragam adalah :
1. Persamaan Dasar
Dimana :
= Kecepatan aliran (m/s)
= konstanta tahanan aliran
= jari-jari hidrolis (m)
= slope energi
= konstanta
2. Persamaan Chezy

Dimana :
= Kecepatan aliran (m/s)
= konstanta tahanan aliran
= jari-jari hidrolis (m)
= slope energi
3. Persamaan manning

Dimana :
= Kecepatan aliran (m/s)
= konstanta tahanan aliran
= jari-jari hidrolis (m)
= slope energi

I-1 Modul Praktikum Mekanika Fluida II

4. Persamaan Reynold

Dimana :
= Kecepatan aliran (m/s)
= bilangan Reynold
= Densitas (kg/m3)
= Diameter hidrolis (4R)(m)
= viskositas kinematik (N/m2)
= viskositas dinamis (m2/s)

C. CARA KERJA
1. Ukur temperatur air pada awal percobaan setelah hydraulic bench dinyalakan.
2. Operasikan Hydraulic Bench dengan beban tertentu, catat beban yang digunakan
dan waktu yang diperlukan untuk menaikkan bebannya.
3. Kalibrasi alat pengukur kedalaman.
4. Ukur lebar saluran terbuka.
5. Ukur kedalaman di 6 titik sepanjang saluran ( 3 di hulu dan 3 di hilir dengan jarak
yang sama) dengan menggunakan alat pengukur kedalaman. Catat posisi tiap titik
(x).
6. Lakukan percobaan sebanyak 5 variasi debit. Setiap kali variasi debit dilakukan tiga
kali pengukuran waktu.
7. Ukur temperatur air pada akhir percobaan.

D. TABEL DATA
Massa beban (kg)

Suhu air awal (0C)

Tawal

Suhu air akhir (0C)

Takhir

Lebar saluran (m)

I-2 Modul Praktikum Mekanika Fluida II

Waktu

Variasi
beban

t1

t2

t3

Kedalaman hulu
trata-rata

y1

y2

y3

R2/3

yrata-rata

Kedalaman hilir
y4

y5

y6

yrata-rata

E. TABEL HASIL
Volume

Qact

air (m3)

(m3/s)

yrata-rata

F. GRAFIK
1. x terhadap y ratarata
2. y ratarata terhadap C (regresi power)
3. Re terhadap C (regresi power)
4. y ratarata terhadap Qact (regresi power)
5. v terhadap y ratarata (regresi power)
6. Re terhadap y ratarata (regresi power)
7. Qact terhadap C (regresi power)
8. v terhadap R2/3 (regresi power)

I-3 Modul Praktikum Mekanika Fluida II

NRE

(m2)

(m/s)

F. ILUSTRASI

Gambar 1. Fenomena Aliran seragam

I-4 Modul Praktikum Mekanika Fluida II

MODUL 02 ALIRAN BERUBAH BERATURAN


Ade Lismi Rohaya M dan Natasya Sandra Virmelia

A. SASARAN
1. Mengamati fenomena perubahan atau kadar momentum aliran.
2. Menghitung debit aktual aliran.
3. Menghitung kecepatan aliran.
4. Menghitung koefisien Manning saluran (n)
5. Menghitung bilangan Reynold (nRe) dan bilangan Froud (nFr)

B. TEORI DASAR
Aliran berubah beraturan (gradually varied flow) terjadi jika parameter hidraulis (kecepatan
dan tampang basah) berubah secara progresif dari satu tampang ke tampang yang lain. Apabila
di ujung hilir saluran terdapat bendung maka akan terjadi profil muka air pembendungan
dimana kecepatan aliran akan berkurang (diperlambat), sedangkan apabila terdapat terjunan
maka profil akan menurun dan kecepatan akan bertambah (dipercepat). Contohnya yaitu aliran
pada sungai.
Aliran berubah beraturan memiliki debit seragam akibat pertambahan maupun
pengurangan air di sepanjang jalur air tersebut. Pertambahan ataupun pengurangan air ini akan
menyebabkan gangguan pada energi atau kadar momentum aliran. Sebab itu perilaku hidrolik
aliran berubah beraturan lebih rumit dibandingkan dengan aliran yang debitnya tetap.

ALIRAN BERUBAH CEPAT


Aliran berubah cepat, mengikuti prinsip berikut:
1. Distribusi tekanan tidak dianggap hidrostatik
2. Perubahan regim aliran pada jarak yang pendek dan waktu yang cepat
3. Perubahan geometrik aliran akan sangat tergantung pada segmentasi analisis, akibat
perubahan yang ada
4. Terjadi perubahan luas basah, sehingga koefisien kecepatan dan momentum
akan membesar
5. Terdapat kerumitan jika mengikuti pola zonasi aliran konvensional, akibat adanya aliran,
difusi dan turbulensi.
II-1

ALIRAN BERUBAH LAMBAT


Perilaku dasar berubah lambat:
1. Kedalaman hidrolis berubah secara lambat pada arah longitudinal
2. Faktor pengendali aliran ada di kombinasi di hulu & hilir
3. Analisis menentukan struktur saluran yang aman dan op mal

Asumsi:
1. steady flow dan distribusi tekanan ditentukan oleh gaya hidrostatis
2. kehilangan tekanan didekati aliran seragam
3. Slope kecil
4. Tidak terjadi re-aerasi
5. Koefisien corolis tidak berubah
6. Koefisien gesek tidak bervariasi terhadap kedalaman
7. Saluran prismatik

Rumusrumus yang digunakan :

C. CARA KERJA
1. Ukur lebar saluran, panjang saluran, dan tinggi ambang yang akan digunakan.
2. Operasikan hydraulic bench dan ukur temperatur awal.
3. Tempatkan dua ambang di hilir saluran, dan ukur kedalaman saluran pada 10 titik
yang ditentukan di sepanjang saluran.
4. Lakukan pengukuran sebanyak 3 variasi waktu (dengan hydraulic bench) pada satu
titik kedalaman yang sama, dan 5 variasi debit setiap kali pengukuran.
5. Jika pengukuran telah selesai, matikan hydraulic bench dan ukur temperatur akhir air.

D. Tabel Data
Waktu
Variasi Debit

t1

t2

t3

Kedalaman Saluran
t
ratarata

y1

y2

y3

y4

y5

y6

y7

y8

y9

E. Tabel Hasil
Tabel Pengukuran Aliran Berubah Beraturan Untuk Tiap Variasi
Titik

RH

NRE

NFR

ES

dy/
dx

F. GRAFIK
Untuk tiap variasi, buatlah grafik :
Sumbu X
Jarak antar titik
Jarak antar titik
Jarak antar titik
Jarak antar titik
Jarak antar titik
Keterangan :
v
= kecepatan aliran
NRe
= bilangan Reynold
NFr
= bilangan Froud
ES
= energi spesifik
Yteori = kedalaman aliran secara hitungan

Sumbu Y
Yteori dan Yaktual
ES
v
NRE
NFR

Yteori

Yaktual

Sf

y10

Yaktual = kedalaman aliran secara aktual (pengamatan)

MODUL 03 LONCATAN HIDROLIS


Floriana Ayumurti, Arlieza Raudhah, dan Raihan Anandya

A. SASARAN
1. Q aktual
2. Bilangan Froude
3. Energi Spesifik
4. Efisiensi Loncatan
B. CARA KERJA
1. Ukur suhu awal
2. Jalankan Hydraulic Bench untuk memperoleh debit aktual
3. Tempatkan sluice gate +/ 90 cm dari inlet sehingga membentuk loncatan hidrolis
4. Atur bukaan sluice gate sehingga membentuk loncatan hidrolis
5. Ukur panjang loncatan dan kedalaman aliran di 6 titik sesuai gambar
6. Lakukan dengan 5 variasi debit
7. Ukur suhu akhir
C. TABEL DATA
Massa beban (kg) =
T air awal (C) =
T air akhir (C) =
Variasi
Beban
(kg)

Waktu
t1

D. TABEL HASIL
Volume
Q (m3/s)
Air (m3)

t2

t3

A1 (m2)

t rata
(s)

Kedalaman
Y1

A2 (m2)

Y2

Y3

A3 (m2)

Y4

A4 (m2)

Y5

L (m)

A5 (m2)

Y6/Y2

Hi
(m)

A6 (m2)

Volume
Air (m3)

R1

ES1

Q (m3/s)

R2

R3

P1 (m)

R4

ES2

R5

ES3

P2 (m)

R6

V1
(m/s)

ES4

P3 (m)

V2
(m/s)

ES5

P4 (m)

V3
(m/s)

V4
(m/s)

ES6

P5 (m)

V5
V6
(m/s) (m/s)

Beda E

P6 (m)

Fr

E6/E2

GRAFIK
1. Fr2 terhadap Y6/Y2
2. Fr2 terhadap Y6/Y2
3. Fr2 terhadap Y6/Y2
4. Y terhadap L
5. Y6/Y2 terhadap L
6. Q terhadap L
7. ES terhadap Y (untuk setiap variasi debit)
8. Seluruh grafik menggunakan regresi power, kecuali grafik ES terhadap Y dan Y terhadap L

RUMUS YANG DIGUNAKAN

Fr2

ILUSTRASI

MODUL 04 ALIRAN DI ATAS AMBANG LEBAR DAN AMBANG TAJAM


Tammya Ayu dan Hanifah Nurawaliah

ALIRAN DI ATAS AMBANG LEBAR


A. SASARAN
1. Menghitung debit aliran dengan menggunakan ambang lebar sebagai alat ukur
2. Menghitung nilai koefisien discharge (Cd), Energi spesifik (Es), kedalaman kritis (Yc), dan
bilangan Froude dari ambang lebar
3. Mempelajari hubungan tinggi muka air di atas ambang terhadap debit air yang
melimpah di atas ambang
4. Mengetahui pengaruh bentuk ambang terhadap efektivitas penyaluran debit
5. Mengetahui karakteristik aliran yang melalui ambang lebar

B. TEORI DASAR

Debit aliran yang terjadi pada ambang lebar dihitung dengan menggunakan
formula sebagai berikut:
3

= ( 2 ) .. (1)

1 +2
2

(2)

Tingkat kekritikan aliran tersebut dapat ditentukan dengan mencari bilangan Froud

dengan persamaan:
=

. (3)

= = . (4)
= +

2
2

(5)

Keterangan:
Q

= debit aliran (m3/dt)

hu

= kedalaman di atas ambang (m)

Cd

= koefisien discharge

= lebar ambang (m)

= angka Froud (froud number)

= kedalaman aliran tiap titik (m)

= luas saluran (m2)

Jika:
F<1 disebut aliran subkritik.
F=1 disebut aliran kritik.
F>1 disebut aliran super kritik.

C. CARA KERJA
1. Ambang lebar dipasang pada posisi tertentu dalam model saluran terbuka.
2. Alat pengukur kedalaman dan venturimeter dikalibrasikan. Dimensi ambang dicatat.
3. Pompa dinyalakan dengan debit air tertentu sesuai dengan yang diinginkan tetapi tidak
meluap.
4. Lakukan pula pegukuran debit aktual.
5. Sekat dihilir diatur sedemikian rupa sehingga diperoleh keadaan loncat pertama,
loncatan kedua, peralihan, tenggelam pertama, dan tenggelam kedua. Untuk masing

masing keadaan diperiksa apakah aliran sudah stabil. Jika sudah pengambilan data dapat
dilakukan.
6. Untuk masingmasing keadaan data tinggi muka air pada delapan titik pengamatan
dicatat untuk menggambar profil aliran, dan untuk menghitung debit maka dapat
dicatat dari venturimeter.
7. Langkah 5 dan 6 diulang untuk dua debit yang berbeda. Namun yang dicatat hanya
permukaan air di hulu (y1) dan kedalaman air di hilir (y2) saja.
8. Setelah selesai langkah 7, sekat di hilir dikosongkan.
9. Debit aliran diatur (mulai dari yang besar ke yang kecil).
10. Tinggi muka air sebelum ambang (y1) dicatat.
11. Langkah 9 dan 10 diulangi sampai didapat debit minimum yang masih dapat mengalir.
12.

Ulangi lagi langkah 110.

D. TABEL DATA
Tinggi ambang

cm

Suhu Awal

Lebar ambang

cm

Suhu Akhir

Panjang ambang

cm

E. TABEL HASIL

GRAFIK
1. Gambar Profil muka air untuk kelima keadaan pada 1 gambar. Profil tersebut digambar
secara manual dalam 1 gambar pada kertas millimeter block dan digambar
menggunakan Microsoft excel.
2. Qact vs b.(hu 3/2) (linear)
3. Y vs Fr (power)
4. Es vs Y (millimeter block)

F. ILUSTRASI

ALIRAN DI ATAS AMBANG TAJAM


A. SASARAN
1. Debit aliran (Q)
2. Koefisien discharge (Cd), Energi spesifik (Es), kedalaman kritis (Yc), dan bilangan Froude
dari ambang tajam
3. Mengetahui karakteristik aliran yang melalui ambang tajam

B. TEORI DASAR
Debit aliran yang terjadi pada ambang tajam dihitung dengan menggunakan
formula sebagai berikut :

Keterangan :

= debit aliran ( m3 /dtk )

= tinggi air di atas ambang ( m )

= tinggi ambang ( m )

Gambar aliran di atas ambang tajam

C. CARA KERJA
1. Ukur tinggi ambang tajam yang digunakan, lebar saluran.
2. Ukur kedalaman ketinggian muka air di 6 titik yang telah ditentukan (lihat ilustrasi),
yaitu sebelum ambang, di atas ambang, dan setelah ambang dengan 3 variasi debit.

D. TABEL DATA
Tinggi ambang

cm

Suhu Awal

Lebar ambang

cm

Suhu Akhir

Panjang ambang

cm

E. TABEL HASIL
Dibuat 3 tabel untuk 3 variasi debit

GRAFIK
1. Qteoritis terhadap Qaktual (linear)
2. Qact vs b.(h 3/2) (linear)
3. Y vs Fr (power)
4. Es terhadap y untuk tiap variasi (grafik manual)

F. ILUSTRASI

MODUL 05 - ALAT UKUR DEBIT SALURAN TERBUKA


Kenny Wonosantoso dan Fiana Fauzia

A. SASARAN
1. Mengukur tinggi muka air di atas Notch (H)
2. Menghitung nilai Qaktual dan Qteoritis
3. Menghitung nilai Cd (Coefficient Discharge)

B. TEORI DASAR
Notch pada dasarnya merupakan konstruksi dalam saluran terbuka. Notch biasanya digunakan dalam
pengukuran kecepatan aliran saluran terbuka. Notch akan memberikan efek konstraksi pada aliran
fluida sehingga ketinggian air diatas notch dapat digunakan untuk menentukan kecepatan fluida dan
dapat diukur untuk mewakili besaran debit yang melaluinya. Alat ukur pada saluran terbuka ini dapat
diklasifikasikan menjadi dua, yaitu u-notch dan v-notch.

C. CARA KERJA
1. Jalankan hydraulic bench dan pasang beban, catat massa beban yang digunakan dan waktu yang
dibutuhkan untuk pengaliran.
2. Ukur suhu air awal percobaan.
3. Ukur kedalaman air seperti pada gambar
4. Lakukan tiga kali pengukuran untuk setiap variasi debit, dimana dalam percobaan ini dilakukan lima
kali variasi debit.
5. Ukur suhu akhir percobaan.
6. Hitung debit dan koefisien Cd dengan rumus:

D. TABEL DATA
Besaran

Nilai

T air awal (oC)


T air akhir (oC)
Massa beban (kg)
b (lebar notch) (cm)

Waktu

Kedalaman (m) U-Notch

Kedalaman (m) V-notch

Variasi
t1

t2

t3

H1

H2

H3

H1

H2

H3

1
2
3
4
5

E. TABEL HASIL
Variasi

Waktu rata-

Kedalaman

Q aktual (

Q teoritis

rata (s)

rata-rata (m)

m/s)

(m/s)

Cd

F. ILUSTRASI

MODUL 06 VENTURIFLUME
Zeneth Ayesha Thobarony

A. SASARAN
1. Memperoleh nilai Q actual.
2. Mendapatkan nilai Qteoritis (mengunakan persamaan aliran kritis)
3. Menghitung Cd (koefisien disharge).
4. Menghitung Fr (bilangan Froude): dihitung pada setiap titik.
5. Menghitung Re (Bilangan Reynolds): dihitung pada setiap titik.
6. Menghitung ES (Energi spesifik): dihitung pada setiap titik.
7. Mengetahui nilai Yc (Kedalaman kritis)

B. TEORI DASAR
Venturiflume adalah sebuah alat yang memberikan penyempitan tibatiba pada suatu
saluran sehingga menyebabkan terjadinya aliran kritis pada saluran terbuka dan
menciptakan kedalaman kritis. Berikut adalah gambaran sebuah venturi flume :
1. Gambar Penyempitan Saluran

Tampak Atas

Tampak Samping

VI-1

2. Gambar TitikTitik Pengukuran Kedalaman Air

Tampak Atas

Tampak Samping

Rumusrumus yang digunakan dalam pengukuran debit aliran dengan menggunakan


Venturiflume adalah :
Perhitungan Debit Aktual (Manometer)
(

Perhitungan Energi Spesifik Penyempitan


(

Dengan :

dan

Perhitungan Debit Teoritis

VI-2

Perhitungan Bilangan Froude

Perhitungan Energi Spesifik di Setiap Titik

Perhitungan Kedalaman Kritis

Notes : ES kritis didapatkan dari grafik


- Perhitungan Bilangan Reynolds

C. CARA KERJA
1. Atur dasar saluran dengan kemiringan kecil (0.25%).
2. Letakkan plat venturi kirakira pada jarak 4 dari outlet saluran (plat harus dipasang
tepat berlawanan satu sama lain).
3. Ukur suhu air pada awal percobaan.
4. Jalankan Hydraulic bench, catat perbedaan tinggi manometer air raksa pada setiap
debit.
5. Ukur kedalaman air pada titiktitik seperti ditujukan pada gambar.
6. Percobaan dilakukan 3 (tiga) kali pencatatan.
7. Percobaan dilakukan dengan 5 (lima) variasi debit.
8. Ukur suhu air pada akhir percobaan.

D. TABEL DATA
Massa beban =
T air awal

b (lebar saluran)

T air akhir

bt (lebar penyempitan)

VI-3

Tabel data untuk perhitungan Q actual


Kedalaman (cm)

Variasi

H1

H2

1
2
3
4
5

Tabel data untuk perhitungan Q teoritis

Variasi

Kedalaman (cm)
Y1

Y2

Y3

Y4

Y5

Y6

Y7

1
2
3
4
5

E. TABEL HASIL
1. Q Teoretis untuk setiap variasi
Varisi
1
2
3
4
5

VI-4

H Mano

Qaktual

EPenyempitan

QTeoritis

Cd

2. Bilangan Froude untuk Setiap Titik

Variasi

Bilangan Froude
Fr1

Fr2

Fr3

Fr4

Fr5

Fr6

Fr7

Es6

Es7

1
2
3
4
5

3. Nilai Energi Spesifik untuk Setiap Titik

Variasi

Energi Spesifik
Es1

Es2

Es3

Es4

Es5

1
2
3
4
5

4. Nilai Kedalaman Kritis Pada Berbagai Variasi Debit (Yc)


Variasi
1
2
3
4
5

VI-5

Yc

5. Nilai Bilangan Reynolds untuk Setiap Titik

Variasi

Bilangan Reynolds
Re1

Re2

Re3

Re4

Re5

Re6

Re7

1
2
3
4
5

GRAFIK
1. Q aktual (sumbu y) Q teoritis (sumbu x)
2. Q aktual (sumbu y) Cd (sumbu x)
3. Es (sumbu y) Y (sumbu x) dibuat di kertas mm blok
4. NFR (sumbu y) Y (sumbu x) satu grafik untuk seluruh variasi debit
5. NRe (sumbu y) Y (sumbu x) satu grafik untuk seluruh variasi debit

VI-6

F. ILUSTRASI
Tampak atas dan samping Parshall Flume

VI-7

MODUL 07 HIDROLIKA SUNGAI


Reza Eka Putra - Zakky Rabbani

A. SASARAN
1. Menghitung debit aliran sungai
2. Menghitung distribusi kecepatan di seluruh penampang sungai
3. Menghitung jarijari hidrolis sungai
4. Menentukan penampang melintang sungai
5. Menentukan kecepatan aliran sungai

B. TEORI DASAR
Sungai merupakan contoh saluran terbuka alami. Sungai terbentuk dengan adanya aliran air dari satu
atau beberapa sumber air yang berada di ketinggian, contohnya di sebuah puncak bukit atau gunung
yang tinggi, dimana air hujan banyak jatuh di daerah itu kemudian terkumpul di bagian cekung. Karena
penuh, akhirnya mengalir keluar melalui bagian bibir cekungan yang paling mudah tergerus air dan
membentuk badan sungai.
Sungai memiliki debit yang variatif disebabkan karena proses-proses alamiah yang terjadi sepanjang
hulu ke hilir. Karakteristik sungai ditentukan dengan besar debit, penampang, kecepatan sungai dan
sebagainya. Menurut Sosrodarsono dan Takeda (2006), debit air sungai adalah laju aliran air yang
melewati suatu penampang melintang dengan persatuan waktu. Besarnya debit dinyatakan dalam
satuan meter kubik per detik (m3/detik). Pengukuran debit sungai menjadi penting mengingat
distribusi kecepatan aliran di dalam alur tidak sama secara horisontal dan vertikal. Beberapa metode
pengukuran debit aliran sungai adalah:
1. Area velocity method
2. Fload area method
3. Metode kontinyu
Faktor yang dapat mempengaruhi debit air sungai, antara lain:
1. Intensitas hujan
2. Penggundulan hutan
3. Pengalihan hutan menjadi lahan pertanian
4. Intersepsi
5. Evaporasi dan transpirasi
VII-1

C. CARA KERJA
1. Mengukur lebar sungai.
2. Penampang sungai dibagi menjadi beberapa segmen dengan lebar tiap segmen sebesar
1 meter.
3. Ukur kedalaman di tiap sisi segmen (Di dan Dii untuk penghitungan penampang saluran
sungai) serta ukur pula kedalaman di tengah segmen (H) untuk pengukuran kecepatan
aliran sungai.
4. Mengukur kecepatan dari dasar tiap segmen. Pengukuran kecepatan dilakukan di tengah
segmen dengan ketinggian tiap 10 cm dari dasar sungai dengan menggunakan
propeller.Propeller dihadapkan ke arah arus sungai.
5. Ulangi langkah 4 dengan ketinggian 0,2 H; 0,6 H; 0,8 H.
6. Mengukur kecepatan aliran sungai di permukaan menggunakan tali sepanjang 1 m
dengan bola terapung di ujungnya. Hitung waktu yang dibutuhkan oleh aliran sungai
untuk meregangkan tali dan bola terapung.

VII-2

D. TABEL DATA
Segmen
Titik Segmen
Titik Tengah Segmen
Lebar Segmen (X, m)
Kedalaman sisi kiri (Di, m)
Kedalam sisi kanan (D ii, m)
Kedalaman titik tengah segmen (H, m)
0,2 H
0,6 H
0,8 H
N
S (m)
Vp (m/s)
t (detik)
N 0,2 H (Rps)
N 0,6 H (Rps)

VH (m/s)

N 0,8 H (Rps)

Vn (m/s)

Catatan :

VII-3

10 cm

N10(Rps)

20 cm

N20(Rps)

30 cm

N30(Rps)

40 cm

N40(Rps)

50 cm

N50(Rps)

1
ABC
B

R (putaran)
t (detik)
R (putaran)
t (detik)
R (putaran)
t (detik)
R (putaran)
t (detik)
R (putaran)
t (detik)
R (putaran)
t (detik)
R (putaran)
t (detik)
R (putaran)
t (detik)

2
CDE
D

3
EFG
F

4
GHI
H

5
IJK
J

6
KLM
L

E. TABEL HASIL
Segmen
Titik Segmen
Titik Tengah Segmen
Lebar Segmen (X, m)
Kedalaman sisi kiri (Di, m)
Kedalam sisi kanan (D ii, m)
Kedalaman titik tengah segmen (H, m)
0,2 H
0,6 H
0,8 H
m (m)
2
A (m )
N 0,2 H (Rps)
N 0,6 H (Rps)
N 0,8 H (Rps)
N10 (Rps)
N20 (Rps)
N30 (Rps)
N40 (Rps)
N50 (Rps)
Vp (m/s)
V 0,2H (m/s)
V 0,6H (m/s)
V 0,8H (m/s)
V 10 (m/s)
V 20 (m/s)
V 30 (m/s)
V 40 (m/s)
V 50 (m/s)
Vr (m/s)
Er 1 (%)
Er 2 (%)
3
Q segmen (m /s)
3
Q total (m /s)
A total
Vr total
m total (m)
Rh (m)
Catatan :

VII-4

1
ABC
B

2
CDE
D

3
EFG
F

4
GHI
H

5
IJK
J

6
KLM
L

F. PENGOLAHAN DATA
1. Jumlah pengukuran tiap 10 cm
i = H / 0,1
2. Kecepatan putaran propeller
N=R/t
3. Kecepatan tiap 10 cm dari dasar
N 0,71

V = (0,2240 x N) + 0,037

0,71 N 9,85 V = (0,2520 x N) + 0,017


4. Kecepatan rata-rata
Vr = ((Vn) + Vp) / (i+1)

5. Perhitungan Error
, dimana
, dimana V2 = V0,6H
6. Luas tiap Segmen
A = [( Di +Dii). X ]/2
7. Debit tiap segmen
Q = A x Vr
8. Debit total
Qtotal = Q1 + Q2 + Q3 + ..+Q7
9. Panjang Melintang
m = [(Dii-Di)2 + X2]0,5
mabc= {(Diiabc Diabc)2 + Xabc2 }0,5
10. Jari-jari hidrolis
RH = Atotal / m
11. Vr total
Vrtotal = (Vr1 + Vr2 + Vr3 + .+Vri) / i

VII-5

GRAFIK
1. Penampang melintang sungai
2. Kecepatan terhadap kedalaman pada setiap segmen
3. Kecepatan aktual terhadap bentang sungai
4. Kontur distribusi kecepatan diseluruh penampang sungai

G. ILUSTRASI

VII-6