Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN

Nama

: Tn. A

Jenis kelamin

: Laki laki

Umur

: 17 tahun

Agama

: Islam

Suku/Bangsa

: Makassar/Indonesia

Pekerjaan

: Pelajar

Alamat

: Jl Samudera Malili

No. Register

: 739523

Tanggal pemeriksaan

: 05 Januari 2016

Rumah sakit

: Poli Mata RS Wahidin Sudirohusodo

II. ANAMNESIS
KU : bola mata kiri tergulir ke arah dalam
AT : Dialami sejak 5 tahun yang lalu, timbul secara tiba-tiba setelah 1 tahun kecelakaan
terkena balok kayu. Penglihatan ganda ada , penglihatan kabur tidak dirasakan.
Riwayat mata merah tidak ada, air mata berlebihan tidak ada, kotoran mata berlebih
tidak ada, gatal tidak ada, nyeri tidak ada, silau tidak ada, rasa mengganjal tidak ada,
rasa berpasir tidak ada. Riwayat nyeri kepala, riwayat demam tidak ada.
Riwayat luka robek di bagian hidung sebelah kiri pada saat kecelakaan. Riwayat
berobat di dokter mata setelah trauma tidak ada. Riwayat diabetes mellitus tidak ada,
riwayat penyakit tekanan darah tinggi tidak ada, riwayat pemakaian kacamata tidak
ada. Riwayat keluarga memiliki penyakit yang sama disangkal.

III. STATUS GENERALIS

KU : Sakit sedang/ gizi baik/ compos mentis

Tanda Vital

- Tekanan Darah : 120/70 mmHg


- Nadi

: 76 x/menit

- Pernapasan

: 16x/menit

- Suhu

: 36,6 C

IV. PEMERIKSAAN OFTALMOLOGI


I
PEMERIKSAAN

OD

OS

Palpebra

Edema (-)

Edema (-)

Apparatus Lakrimalis

Lakrimasi (-)

Lakrimasi (-)

Silia
Konjungtiva

Normal
Hiperemis (-)

Normal
Hiperemis (-)

Bola mata

Normal

Normal

Normal ke segala arah


Mekanisme muskular

n
s
p
e
k
s

GBM terhambat -2 ke arah


lateral,superotemporal dan
inferotemporal

-2
-2
-2

Kornea

Jernih

Jernih

Bilik Mata Depan

Normal

Normal

Iris

Coklat, kripte (+)

Coklat, kripte (+)

Pupil
Lensa

Bulat, sentral, RC(+)


Jernih

Bulat, sentral, RC(+)


Jernih

Pemeriksaan
Tensi okuler
Nyeri tekan
Massa tumor
Glandula preaurikuler

Palpasi
Tonometri
Tidak dilakukan permeriksaan
Visus
VOD: 6/6
VOS: 6/6
Campus Visual
Tidak dilakukan pemeriksaan.
Color Senses
Tidak dilakukan pemeriksaan.
Light Sense

OD
Tn
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada pembesaran

OS
Tn
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada pembesaran

Tidak dilakukan pemeriksaan.


Penyinaran Oblik
Pemeriksaan
Konjungtiva
Kornea
BMD
Iris
Pupil
Lensa

OD
Hiperemis (-)
Jernih
Normal
Coklat, Kripte (+)
Bulat, sentral, RC(+)
Jernih

OS
Hiperemis (-)
Jernih
Normal
Coklat, Kripte (+)
Bulat, sentral, RC (+),
jernih

Diafanoskopi
Tidak dilakukan pemeriksaan.
Slit Lamp
SLOD : konjungtiva hiperemis (-), kornea jernih, BMD normal, iris coklat kripte (+), pupil
bulat, sentral, RC (+), lensa jernih
SLOS : konjungtiva hiperemis (-), kornea jernih, BMD normal, iris coklat kripte (+), pupil
bulat, sentral, RC (+), lensa jernih

Oftalmoskopi
Refleks fundus ada,papil N.II batas tegas,CDR 0.3, macula, reflex fovea ada,retina perifer
kesan normal

Pemeriksaan lainnya
o

Cover /uncover test : N=D= alternating esotropia

Tes Hisrschberg : OD 15O alternating esodeviasi

APCT: N=500 PD BO OD; D=35-400 PD BO OD

Foto klinis

RESUME
Laki-laki 17 tahun datang ke rumah sakit dengan bola mata kiri tergulir ke arah
dalam yang dialami sejak 5 tahun yang lalu timbul secara tiba-tiba setelah 1 tahun
kecelakaan terkena balok kayu. Penglihatan ganda ada. Riwayat mata merah tidak ada, air
mata berlebihan tidak ada, kotoran mata berlebih tidak ada, gatal tidak ada, nyeri tidak ada,
silau tidak ada, rasa mengganjal tidak ada, rasa berpasir tidak ada.
Riwayat luka robek di bagian hidung sebelah kiri pada saat kecelakaan. Riwayat
berobat di dokter mata setelah trauma tidak ada. Riwayat pemakaian kacamata tidak ada.
Dari pemeriksaan visus didapatkan VOD: 6/6 F, VOS: 6/6. Pada pemeriksaan oftalmologi
didapatkan, refleks fundus ada,papil N.II batas tegas,CDR 0.3, macula, reflex fovea
ada,retina perifer kesan normal. Pada pemeriksaan penunjang lainnya:
o

Cover /uncover test : N=D= alternating esotropia

Tes Hisrschberg : OD 15O alternating esodeviasi

APCT: N=500 PD BO OD; D=35-400 PD BO OD

VI. DIAGNOSIS
ODS Alternating Esotropia
VII. PENATALAKSANAAN
Rencana Operasi Koreksi Strabismus
VIII. PROGNOSIS

Quo ad Vitam

: Bonam

Quo ad Sanationam

: Dubia et bonam

Quo ad Visam

: Dubia et bonam

Quo ad Comesticam

: Bonam

PEMBAHASAN
I.

PENDAHULUAN
Mata merupakan salah satu organ indera manusia yang mempunyai
manfaat sangat besar. Kelainan yang menggangu fungsi mata salah satunya
adalah strabismus. Strabismus ini terjadi jika ada penyimpangan dari penjajaran
okular yang sempurna.1

Di Los Angeles pada usia enam bulan sampai enam tahun memiliki
prevalensi strabismus sekitar 2,5%, sedangkan temuan ini tetap konstan tanpa
memandang jenis kelamin atau etnis, prevalensi cenderung meningkat dengan
bertambahnya usia.2
Strabismus terjadi pada kira-kira 2% anak-anak usia di bawah 3 tahun
dan sekitar 3% remaja dan dewasa muda. Kondisi ini mengenai pria dan wanita
dalam perbandingan yang sama. Strabismus mempunyai pola keturunan, jika
salah satu atau kedua orangtuanya strabismus, sangat memungkinkan anaknya
akan strabismus. Namun, beberapa kasus terjadi tanpa adanya riwayat
strabismus dalam keluarga. Anak-anak disarankan untuk dilakukan pemeriksaan
mata saat usia 3-4 tahun. Bila terdapat riwayat keluarga strabismus,
pemeriksaan mata disarankan dilakukan saat usia 12-18 bulan. 3
Strabismus menyebabkan posisi kedua mata tidak lurus maka akan
mengakibatkan penglihatan binokuler tidak normal yang akan berdampak
pada berkurangnya kemampuan orang tersebut dalam batas tertentu. Orang
dengan kelainan

ini akan terbatas kesempatan

dalam kegiatannya

pada

bidang-bidang tertentu.4
II.

DEFINISI
Strabismus adalah suatu keadaan dimana kedudukan kedua bola mata
tidak ke satu arah.5 Satu mata bisa terfokus pada satu objek sedangkan mata
yang lain dapat bergulir ke dalam, ke luar, ke atas, atau ke bawah. 6 Keadaan ini
bisa menetap (selalu tampak) atau dapat pula hilang timbul yang muncul dalam
keadaan tertentu saja seperti saat sakit atau stres. 3
Esotropia merupakan juling ke dalam atau strabismus konvergen
manifes dimana sumbu penglihatan mengarah ke arah nasal.

III.

ANATOMI DAN FISIOLOGI GERAK BOLA MATA

1. Otot dan persarafan5,7


a. Muskulus rektus

lateral,

kontaksinya

akan

menghasilkan

abduksi

atau

menggulirnya bola mata kearah temporal dan otot ini dipersarafi oleh saraf ke IV
(saraf abdusen).

b. Muskulus

rektus

medius,

kontraksinya

akan

menghasilkan aduksi

atau

menggulirnya bola mata kearah nasal dan otot ini dipersarafi oleh saraf ke III (saraf
okulomotor).
c. Muskulus rektus superior, kontraksinya akan menghasilkan elevasi, aduksi, dan
intorsi bola mata yang dipersarafi oleh saraf ke III (saraf okulomotor).
d. Muskulus rektus inferior, kontraksinya akan menghasilkan depresi, adduksi, dan
ekstorsi yang dipersarafi oleh saraf ke III(saraf okulomotor).
e. Muskulus oblik superior, kontraksinnya akan menghasilkan intorsi, abduksi, dan
f.

depresi yang dipersarafi saraf ke IV (saraf troklear)


Muskulus oblik inferior ,kontraksinya akan menghasilkan ekstorsi, abduksi, dan
elevasi yang dipersarafi saraf ke III(saraf okulomotor).

Gambar 1. Otot-Otot Gerak Bola Mata

2. Fungsi Otot Penggerak Bola Mata


Normalnya mata mempunyai penglihatan binokuler yaitu setiap saat terbentuk
bayangan tunggal dari kedua bayangan yang diterima oleh kedua mata sehingga terjadi
fusi dipusat penglihatan. Hal tersebut dapat terjadi karena dipertahankan oleh otot

penggerak bola mata agar selalu bergerak secara teratur, gerakan otot yang satu akan
mendapatkan keseimbangan gerak dari otot yang lainnya sehingga bayangan benda
yang jadi perhatian selalu jatuh tepat dikedua fovea sentralis. 5 Syarat terjadi
penglihatan binokuler normal:
1. Tajam penglihatan pada kedua mata sesudah dikoreksi refraksi anomalinya
tidak terlalu berbeda dan tidak terdapat aniseikonia.
2. Otot-otot penggerak kedua bola mata seluruhnya dapat bekerja sama dengan
baik, yakni dapat menggulirkan kedua bola mata sehingga kedua sumbu
penglihatan menuju pada benda yang menjadi pusat perhatiannya.
3. Susunan saraf pusatnya baik, yakni sanggup menfusi dua bayangan yang
datang dari kedua retina menjadi satu bayangan tunggal.
Bayi yang baru lahir, faal penglihatan belum normal, visus hanya dapat
membedakan terang dan gelap saja. Adanya perkembangan umur, visus juga ikut
berkembang. Pada usia 5-6 tahun, visus mencapai maksimal. Perkembangan yang pesat
mulai saat kelahiran sampai tahun-tahun pertama. Bila tidak ada anomali
refraksi/kekeruhan media/kelainan retina maka visus tetap sampai hari tua. Tajam
penglihatan normal berarti fiksasi dan proyeksi normal sehingga mampu membedakan:
1. bentuk benda
2. warna
3. intensitas cahaya
Bersamaan

dengan

perkembangan

visus,

berkembang

pula

penglihatan

binokularitasnya. Bila perkembangan visus berjalan dengan baik dan fungsi ke 6 pasang
otot penggerak bola mata juga baik, serta susunan saraf pusatnya sanggup menfusi dua
gambar yang diterima oleh retina mata kanan dan kiri maka ada kesempatan untuk
membangun penglihatan binokular tunggal stereoskopik.4,5

Gambar 2. Penglihatan Binokular Tunggal Stereoskopik


Gangguan gerakan bola mata terjadi bila terdapat satu atau lebih otot mata yang tidak dapat
mengimbangi gerakan otot mata lainnya maka akan terjadi gangguan keseimbangan
gerakan mata sumbu penglihatan akan menyilang mata menjadi strabismus. 7
IV.

ETIOLOGI

Strabismus biasanya disebabkan oleh:

1. Kelumpuhan pada 1 atau beberapa otot penggerak mata (strabismus paralitik).


Kelumpuhan pada otot mata bisa disebabkan oleh kerusakan saraf.

2. Tarikan yang tidak sama pada 1 atau beberapa otot yang menggerakan mata (strabismus
non-paralitik). Strabismus non-paralitik biasanya disebabkan oleh suatu kelainan di
otak.
V.

KLASIFIKASI

1. Menurut manifestasinya
a. Heterotropia : strabismus manifes (sudah terlihat)
Suatu keadaan penyimpangan sumbu bola mata yang nyata dimana kedua
penglihatan tidak berpotongan pada titik fikasasi.
Contoh: esotropia, eksotropia, hipertropia, hipotropia

Gambar 3. Jenis-Jenis Heterotropia


b. Heteroforia : strabismus laten (belum terlihat jelas)
Penyimpangan sumbu penglihatan yang tersembunyi yang masih dapat diatasi
dengan reflek fusi.
Contoh: esoforia, eksoforia
2. Menurut jenis deviasi
a. Horizontal : esodeviasi atau eksodeviasi
b. Vertikal : hiperdeviasi atau hipodeviasi
c. Torsional : insiklodeviasi atau eksiklodeviasi
d. Kombinasi: horizontal, vertikal dan atau torsional
3. Menurut kemampuan fiksasi mata
a. Monokular : bila suatu mata yang berdeviasi secara konstan
b. Alternan
: bila kedua mata berdeviasi secara bergantian
4. Menurut usia terjadinya :
a. kongenital

: usia kurang dari 6 bulan.

b. didapat

: usia lebih dari 6 bulan.

5. Menurut sudut deviasi7


a) Komitan( nonparalitik)
b) Inkommitan( paralitik)

VI.

DIAGNOSA
Diagnosa berdasarkan :
Keterbatasan gerak

Deviasi
Diplopia.

Ketiga tanda ini menjadi nyata, bila mata digerakkan kearah lapangan kerja dari
otot yang sakit. Pada keadaan parese, dimana keterbatasan gerak mata tak
begitu nyata adanya diplopi merupakan tanda yang penting.
VII.

ETIOPATOGENESIS

a) Komitan (nonparalitik)
Sudut deviasi tetap konstan pada berbagai posisi, mengikuti gerak mata yang
sebelahnya pada semua arah dan selalu berdeviasi dengan kekuatan yang sama.
Deviasi primer (deviasi pada mata yang sakit) sama dengan deviasi sekunder
(deviasi pada mata yang sehat).

1) Strabismus Nonparalitika Nonakomodatif


Deviasinya telah timbul pada waktu lahir atau pada tahun-tahun
pertama. Deviasinya sama ke semua arah dan tidak dipengaruhi oleh
akomodasi. Karena itu penyebabnya tak ada hubungannya dengan
kelainan refraksi atau kelumpuhan otot-otot. Mungkin disebabkan
oleh:
Insersi yang salah dari otot-otot yang bekerja horizontal.
Gangguan keseimbangan gerak bola mata
Dapat terjadi karena gangguan yang bersifat sentral, berupa
kelainan kuantitas rangsangan pada otot. Hal ini disebabkan
kesalahan persarafan terutama dari perjalanan supranuklear, yang
mengelola konvergensi dan divergensi. Kelainan ini dapat
menimbulkan proporsi yang tidak sama pada kekuatan
konvergensi dan divergensi. Untuk melakukan konvergensi dari
kedua mata, harus ada kontraksi yang sama dan serentak dari
kedua m.rektus internus, sehingga terjadi gerakan yang sama dan
simultan dari mata kenasal. Divergensi dan konvergensi adalah
bertentangan, overaction dari yang satu menyebabkan kelemahan
dari yang lain dan sebaliknya. 8,9

Kekurangan daya fusi


Kelainan daya fusi kongenital sering didapatkan. Daya fusi ini
berkembang sejak kecil dan selesai pada umur 6 tahun. Ini
penting untuk penglihatan binokuler tunggal yang menyebabkan
mata melihat lurus. Tetapi bila daya fusi ini terganggu secara
kongenital atau terjadi gangguan koordinasi motorisnya, maka
akan menyebabkan strabismus. Pada kasus yang idiopatis,
kesalahan mungkin terletak pada dasar genetik. Eksotropia dan
esotropia sering merupakan keturunan autosomal dominan.
Kadang-kadang pada anak dengan esotropia, didapatkan orang
tuanya dengan esoforia yang hebat. Tidak jarang strabismus
nonakomodatif tertutup oleh faktor akomodatif, sehingga bila
kelainan refraksinya dikoreksi, strabismusnya hanya diperbaiki
sebagian saja.5,10

Tanda-tanda :

Kelainan kosmetik, sehingga pada anak-anak yang lebih besar


merupakan beban mental.

Tak terdapat tanda-tanda astenopia.

Tak ada hubungan dengan kelainan refraksi.

Tak ada diplopia, karena terdapat supresi dari bayangan pada


mata yang berdeviasi.

2)

Strabismus Nonparalitika Akomodatif


Gangguan keseimbangan konvergensi dan divergensi dapat juga
berdasarkan akomodasi, jadi berhubungan dengan kelainan refraksi.
Dapat berupa :

strabismus konvergens (esotropia)

strabismus divergens (eksotropia)

Pemeriksaan

Pemeriksaan refraksi

Harus dilakukan dengan sikloplegia, untuk menghilangkan


pengaruh dari akomodasi. Caranya :
-

Pada anak-anak dengan pemberian sulfas atropin 1 tetes


sehari, tiga hari berturut-turut, diperiksa pada hari keempat.

Pada orang dewasa diteteskan homatropin 1 tetes setiap 15


menit, tiga kali berturut-turut, diperiksa 1 jam setelah tetes
terakhir.

Pengukuran derajat deviasi

Pemeriksaan kekuatan duksi


Mengukur kekuatan otot yang bergerak pada arah horizontal
(adduksi = m.rektus medialis; abduksi = m.rektus lateralis).

a) Esotropia Akomodatif
Kelainan ini berhubungan

dengan

hipermetropia

atau

hipermetropia yang disertai astigmat. Tampak pada umur


muda, antara 1-4 tahun, dimana anak mulai mempergunakan
akomodasinya untuk melihat benda-benda dekat seperti
mainan atau gambar-gambar. Mula-mula timbul periodik, pada
waktu penglihatan dekat atau bila keadaan umumnya
terganggu, kemudian menjadi tetap, baik pada penglihatan jauh
ataupun dekat.
Kadang-kadang dapat menghilang pada usia pubertas. Anak
yang hipermetrop, mempergunakan akomodasi pada waktu
penglihatan jauh, pada penglihatan dekat akomodasi yang
dibutuhkan lebih banyak lagi. Akomodasi dan konvergensi erat
hubungannya,

dengan

penambahan

akomodasi

konvergensinyapun bertambah pula. Pada anak dengan


hipermetrop ini, mulai terlihat esoforia periodik pada
penglihatan dekat, disebabkan rangsangan berlebihan untuk
konvergensi. Lambat laun kelainan deviasi ini bertambah
sampai fiksasi binokuler untuk penglihatan dekat tak dapat

dipertahankan lagi, dan terjadilah strabismus konvergens untuk


dekat. Kemudian terjadi pula esotropia pada penglihatan jauh.
b) Eksotropia Akomodatif
Hubungannya dengan miopia. Sering juga didapat, bila satu
mata kehilangan penglihatannya sedang mata yang lain
penglihatannya tetap baik, sehingga rangsangan untuk
konvergensi tak ada, maka mata yang sakit berdeviasi keluar.
Strabismus divergens biasanya mulai timbul pada waktu masa
remaja atau dewasa muda. Lebih jarang terjadi.
Pada miopia mulai dengan kelemahan akomodasi pada jarak
dekat, orang miop hanya sedikit atau tidak memerlukan
akomodasi, sehingga menimbulkan kelemahan konvergensi
dan timbullah kelainan eksotropia untuk penglihatan dekat
sedang untuk penglihatan jauhnya normal. tetapi pada keadaan
yang lebih lanjut, timbul juga eksotropia pada jarak jauh. Bila
penyebabnya divergens yang berlebihan, yang biasanya
merupakan kelainan primer, mulai tampak sebagai eksotropia
untuk jarak jauh. Tetapi lama kelamaan kekuatan konvergensi
melemah, sehingga menjadi kelainan yang menetap, baik
untuk jauh maupun dekat.
b) Inkomitan (paralitik)
Sudut deviasi tidak sama, pada kebanyakan kasus disebabkan kelumpuhan otot
penggerak bola mata
i.Kelumpuhan Saraf Okulomotor
Tanda-tanda:

Ptosis

Bola mata hampir tak dapat bergerak. Keterbatasan bergerak kearah atas, kenasal dan
sedikit kearah bawah.

Mata berdeviasi ketemporal, sedikit kebawah. Kepala berputar kearah bahu pada sisi
otot yang lumpuh

Sedikit eksoftalmus, akibat paralisis dari 3 mm rekti yang dalam keadaan normal
mendorong mata kebelakang.

Pupil midriasis, reaksi cahaya negatif, akomodasi lumpuh.

Diplopia.
Hal tersebut terjadi oleh karena N.III mengurusi :
M.rektus superior, m.rektus medialis, m.rektus lateralis, m.obliqus inferior, m.
sfingter pupil, mm.siliaris. bila ini semua lumpuh tinggal m.rektus lateralis, m.obliqus
superior yang bekerja, karena itu mata berdeviasi kearah temporal sedikit kearah bawah
dan intorsi (berputar kearah nasal). Pupil lebar tak ada akomodasi.
Kelumpuhan N.III sering tak sempurna hanya mengenai 2-3 otot saja. Dapat
disertai dengan kelumpuhan dari otot-otot lain. Bila terdapat kelumpuhan dari semua
otot-otot, termasuk otot iris dan badan siliar, disebut oftalmoplegia totalis. Kalau hanya
terdapat kelumpuhan dari otot-otot mata luar, disebut oftalmoplegia eksterna, yang ini
lebih sering terjadi. Kelumpuhan yang terbatas pada m.sfingter pupil dan badan siliar,
disebut oftalmoplegia interna. Hal ini sering dijumpai misalnya pada :
- pemakaian midriatika, sikloplegia, waktu mengadakan pemeriksaan fundus atau
refraksi
- kontusio bulbi
- akibat lues, difteri, diabetes, penyakit serebral.
Dalam hal ini kita dapatkan pupil lebar, tak ada akomodasi. Pada oftalmoplegia interna,
diobati menurut penyebabnya dan lokal diberikan pilokarpin atau eserin. Kalau
akomodasinya tetap hilang, beri pula kacamata sferis (+) 3 D untuk pekerjaan dekat.
Penyebab:
Kelainannya dapat terjadi pada setiap tempat dari korteks serebri ke otot, seperti

adanya eksudat, perdarahan, periostitis, tumor, trauma, perubahan pembuluh darah yang
menyebabkan penekanan atau peradangan pada saraf.
Jarang disebabkan peradangan atau degenerasi primer.
Infeksi akut (difteri, influenza), keracunan (alkohol), diabetes mellitus, penyakit-penyakit
sinus, trauma.
Terjadinya gejala dapat tiba-tiba ataupun perlahan-lahan, tetapi perjalanan penyakitnya
selalu menahun. Kekambuhan sering terjadi. Bila telah terjadi lama, prognosis tidak
menguntungkan lagi karena kemungkinan terjadinya atrofi dari otot-otot yang lumpuh

ii.Kelumpuhan m.rektus medialis


Menyebabkan strabismus divergens, gangguan gerak kearah nasal, diplopi. Kelainan ini
bertambah bila mata digerakkan kearah nasal (aduksi). Kepala dimiringkan kearah otot
yang sakit.
iii.Kelumpuhan m.rektus superior
Terdapat keterbatasan gerak keatas, hipotropia, diplopia. Bayangan dari mata yang sakit
terdapat diatas bayangan mata yang sehat. Kelainan bertambah pada gerakan mata
keatas.
iv.Kelumpuhan m.rektus inferior
Terdapat keterbatasan gerak mata kebawah, hipertropia, diplopic yang bertambah hebat
bila mata digerakkan kebawah. Bayangan dari mata yang sakit terletak lebih rendah.
v.Kelumpuhan m.oblik superior
Terdapat keterbatasan gerak kearah bawah terutama nasal inferior, strabismus yang
vertikal, diplopia yang bertambah hebat bila mata digerakkan kearah nasal inferior.
Bayangan dari mata yang sakit terletak lebih rendah.
vi.Kelumpuhan m.oblik inferior
Terdapat keterbatasan gerak keatas, terutama atas nasal, strabismus vertikal, diplopia.
Kelainan bertambah bila mata digerakkan kearah temporal atas. Bayangan dari mata
yang sakit terletak lebih tinggi.
vii.Kelumpuhan Saraf Abdusen
Tanda-tandanya :

Gangguan pergerakan mata ke arah luar.

Diplopi yang menjadi lebih hebat, bila mata digerakkan kearah luar.

Kepala dimiringkan kearah otot yang lumpuh.

Deviasinya menghilang, bila mata digerakkan kearah yang berlawanan dengan


otot yang lumpuh

Pada anak dibawah 6 tahun, dimana pola sensorisnya belum tetap, timbul
supresi, sehingga tidak timbul diplopia.

Pada orang dewasa, dimana esotropianya terjadi tiba-tiba, penderita mengeluh


ada diplopia, karena pola sensorisnya sudah tetap dan bayangan dari objek yang
dilihatnya jatuh pada daerah-daerah retina dikedua mata yang tidak bersesuaian.

Penyebab:

Sering terdapat pada orang dewasa yang mendapat trauma dikepala, tumor atau

peradangan dari susunan saraf serebral.


Jarang ditemukan pada anak-anak, yang biasanya disebabkan trauma pada
waktu lahir, kelainan kongenital dari m.rektus lateralis atau persarafannya.

VIII.

GEJALA KLINIS

Pada incommittant strabismus( paralitik).

Gerak mata terbatas


Terlihat pada daerah dimana otot yang lumpuh bekerja. Hal ini dapat dilihat, bila
penderita diminta supaya matanya mengikuti suatu objek yang digerakkan, tanpa
menggerakkan kepalanya.

Deviasi
Kalau mata digerakkan kearah otot yang lumpuh bekerja, mata yang sehat akan
menjurus kearah ini dengan baik, sedangkan mata yang sakit tertinggal. Deviasi ini akan
tampak lebih jelas, bila kedua mata digerakkan kearah dimana otot yang lumpuh
bekerja. Tetapi bila mata digerakkan kearah dimana otot yang lumpuh ini tidak
berpengaruh, deviasinya tak tampak.

Diplopia
Terjadi pada otot yang lumpuh dan menjadi lebih nyata bila mata digerakkan kearah ini.

Ocular torticollis (head tilting)


Penderita biasanya memutar kearah kerja dari otot yang lumpuh. Kedudukan kepala
yang miring, menolong diagnosa strabismus paralitikus. Dengan memiringkan
kepalanya, diplopianya terasa berkurang.

Proyeksi yang salah

Mata yang lumpuh tidak melihat objek pada lokalisasi yang benar. Bila mata yang sehat
ditutup, penderita disuruh menunjukkan suatu objek yang ada didepannya dengan tepat,
maka jarinya akan menunjukkan daerah disamping objek tersebut yang sesuai dengan
daerah otot yang lumpuh. Hal ini disebabkan, rangsangan yang nyata lebih besar
dibutuhkan oleh otot yang lumpuh, dan akan menyebabkan tanggapan yang salah pada
penderita.

Vertigo, mual-mual
Disebabkan oleh diplopia dan proyeksi yang salah. Keadaan ini dapat diredakan dengan
menutup mata yang sakit
Gejalanya berupa:9
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Mata lelah
Sakit kepala
Penglihatan kabur
Mata juling (bersilangan)
Mata tidak mengarah ke arah yang sama
Gerakan mata yang tidak terkoordinasi
Penglihatan ganda.

IX.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Ketajaman penglihatan
Pemeriksaan dengan e-chart digunakan pada anak mulai umur 3-3,5 tahun, sedangkan
diatas umur 5-6 tahun dapat digunakan Snellen chart.
2. Cover and Uncover Test: menentukan adanya heterotropia atau heteroforia.

4. Cover and Uncover Test


Cover test merupakan salah satu cara untuk menilai strabismus. Pasien diminta untuk
melihat ke sebuah target. Pada saat pasien memfiksasi target tersebut, 1 mata ditutup. Kita
menilai mata yang tidak ditutup. Jika mata yang tidak ditutup normal, maka tidak akan ada
perubahan posisi jika mata lain ditutup. Jika ada gangguan, maka posisi mata akan berubah
melihat ke target. Sebagai contoh, misalnya jika mata kiri melihat kedalam, ketika mata kanan
ditutup maka mata kiri akan berpindah melihat ke arah luar untuk memfiksasi target. Jika salah
satu mata posisinya lebih tinggi dari mata yang lain ketika ditutup, maka akjan terjadi
pergerakan mata ke arah bawah.(1)

3. Tes Hirscberg: untuk mengukur derajat tropia, pemeriksaan reflek cahaya dari senter pada pupil.
Cara :
a. Penderita melihat lurus ke depan.
b. Letakkan sebuah senter pada jarak 12 inci (kira-kira 30 cm) cm di depan setinggi kedua mata
c.
d.
-

pederita.
Perhatika reflek cahaya dari permukaan kornea penderita.
Keterangan:
Bila letak di pinggir pupil maka deviasinya 15 derajat.
Bila diantara pinggir pupil dan limbus deviasinya 30 derajat.
Bila letaknya di limbus deviasinya 45 derajat.

Gambar 5. Tes Hirscberg


4. Tes Krimsky: mengukur sudut deviasi dengan meletakkan ditengah cahaya refleks
kornea dengan prisma sampai reflek cahaya terletak disentral kornea.

Gambar 6. Tes Krimsky


Dengan uji krimsky satu prisma dengan kekuatan yang sesuai dengan beratnya juling
dipegang di depan mata berfiksasi (dasar keluar untuk esotropia, dasar ke dalam untuk
esotropia, dasar ke bawah untuk hipotropia, dasar ke atas untuk hypertropia) dan refleks
cahaya diobservasi agar dipusatkan pada pupil mata yang dinirfiksasi. Sudut deviasi dan
arah dibaca langsung dari prisma.
Lampu diletakkan 33 cm di depan penderita, diletakkan prisma pada mata yang
berfiksasi yang kekuatan prismanya ditambah perlahan-lahan sehingga refleks sinar
pada mata yang juling terletak di tengah kornea. Kekuatan prisma yang diletakkan pada
mata yang difiksasi dan memberikan sinar ditengah pada mata yang juling merupakan
beratnya deviasi mata yang juling.6,7
X.

TERAPI

Prognosis untuk esotrope masing-masing akan tergantung pada asal dan


klasifikasi kondisi mereka.8
1. Tujuan :
a. mengembalikan penglihatan binokular yang normal
b. alasan kosmetik7
2. Dapat dilakukan dengan tindakan:4,5
a. Ortoptik
1) Oklusi
Jika

anak

menderita

strabismus

dengan

ambliopia,

dokter

akan

merekomendasikan untuk melatih mata yang lemah dengan cara menutup mata
yang normal dengan plester mata khusus (eye patch).
2) Pleotik
3) Obat-obatan
b. Memanipulasi akomodasi
1) Lensa plus / dengan miotik
Menurunkan beban akomodasi dan konvergensi yang menyertai
2) Lensa minus dan tetes siklopegik
Merangsang akomodasi pada anak-anak
c. Operatif
Prinsip operasinya :
-

reseksi dari otot yang terlalu lemah


resesi dari otot yang terlalu kuat

3. Tahapan:7
a. Memperbaiki visus kedua mata dengan terapi oksklusi
a. Pada anak berumur dibawah 5 tahun dapat diteteskan sulfas atropin 1 tetes satu
bulan, sehingga mata ini tak dipakai kira-kira 2 minggu. Ada pula yang
menetesinya setiap hari dengan homatropin sehingga mata ini beberapa jam
sehari tak dipakai. 3,4
b. Pada anak yang lebih besar, mata yang normal ditutup dilakukan penutupan
matanya 2-4 jam sehari. Dengan demikian penderita dipaksa untuk memakai

matanya yang berdeviasi. Biasanya ketajaman penglihatannya menunjukkan


perbaikan dalam 4-10 minggu. Penutupan ini mempunyai pengaruh baik pada
pola sensorisnya retina, tetapi tidak mempengaruhi deviasi. Sebaiknya terapi
penutupan sudah dimulai sejak usia 6 bulan, untuk hindarkan timbulnya
ambliopia. Penetesan atau penutupan jangan dilakukan terlalu lama, karena
takut menyebabkan ambliopia pada mata yang sehat.
c. Pada strabismus yang sudah berlangsung lama dan anak berumur 6 tahun atau
lebih pada waktu diperiksa pertama, maka hasil pengobatannya hanya kosmetis
saja. Sedapat mungkin ambliopia pada mata yang berdeviasi harus dihilangkan
dengan cara penutupan, pada anak yang sudah mengerti (3 tahun), harus
dikombinasikan dengan latihan ortoptik untuk mendapatkan penglihatan
binokuler yang baik. Kalau pengobatan preoperatif sudah cukup lama
dilakukan, kira-kira 1 tahun, tetapi tak berhasil, maka dilakukan operasi.
b. Memperbaiki posisi kedua bola mata agar menjadi ortoforia.
Hal ini dapat dicapai dengan pemberian lensa, melaukan operasi atau kombinasi
keduanya. Tindakan operasi sebaiknya dilakukan bila telah tercapai perbaikan visus
dengan terapi okslusi. Tindakan operatif sebaiknya dilakukan pada umur 4-5 tahun,
supaya bila masih ada strabismusnya yang belum terkoreksi dapat dibantu dengan
latihan.
c. Melatih fusi kedua bayangan dari retina kedua mata agar mendapatkan penglihatan
binokuler sebagai tujuan akhir yang hasilnya tergantung dari hasil operasi,
pemberian lensa koreksi dan latihan ortoptik.9,10
XI.

KOMPLIKASI

1. Kosmetik
2. Supresi
Usaha yang tidak disadari dari penderita untuk menghindari diplopia yang timbul akibat
adanya deviasinya.
3. Ambliopia
Menurunnya visus pada satu atau dua mata dengan atau tanpa koreksi kacamata dan
tanpa adanya kelainan organiknya.
4. Adaptasi posisi kepala

Keadaan ini dapat timbul untuk menghindari pemakaian otot yang mengalami
kelumpuhan untuk mencapai penglihatan binokuler. Adaptasi posisi kepala biasanya
kearah aksi dari otot yang lumpuh.5,8,10
XII.

PROGNOSIS
Setelah dilakukan operasi, mata bisa melihat langsung namun masalah tajam

penglihatan masih dapat terjadi. Pada anak-anak dapat memiliki masalah membaca di
sekolah, dan untuk orang dewasa lebih terbatas dalam melakukan kegiatan.
Dengan diagnosis dini dan penanganan segera masalah dapat secepatnya teratasi.
Penganan yang terlambat akan menyebabkan kehilangan penglihatan mata secara
permanen. Sekitar sepertiga anak-anak dengan strabismus akan mengalami ambliopia
sehingga harus dipantau secara ketat.9,10
XIII.

DISKUSI
Telah dilaporkan kasus seorang laki-laki umur 17 tahun, masuk ke poliklinin

mata RS wahidin Sudirohusodo tanggal 5 Januari 2016 dengan diagnosis kerja ODS
alternating esotropia.
Dari anamnesis, pasien mengeluhkan mata kanan juling ke dalam sejak 5 tahun
yang lalu sejak terlibat kecelakaan balok yang mengenai mata. Hal ini dinamakan
strabismus tipe esotropia dimana mata berdeviasi kearah nasal.

Hal ini sering

didapatkan pada orang dewasa yang mendapat trauma dikepala, tumor atau peradangan
dari susunan saraf serebral. Jarang ditemukan pada anak-anak, yang biasanya
disebabkan trauma pada waktu lahir, kelainan kongenital dari m.rektus lateralis atau
persarafannya.
Tanda-tandanya :

gangguan pergerakan mata kearah luar

diplopi homonim, yang menjadi lebih hebat, bila mata digerakkan kearah luar

kepala dimiringkan kearah otot yang lumpuh

deviasinya menghilang, bila mata digerakkan kearah yang berlawanan dengan otot yang
lumpuh

pada anak dibawah 6 tahun, dimana pola sensorisnya belum tetap, timbul supresi,
sehingga tidak timbul diplopia

Pada pemeriksaan fisik tidak ditemukan kelainan pada mata pasien. Pada pemeriksaan
visus, penglihatan pasien masih baik dengan visus VODS : 6/6. Pasien turut megeluh
megalami penglihatan ganda. Pada pemeriksaan pergerakan bola mata, mata sebelah kiri
sulit melirik kea rah lateral, superotemporal dan inferotemporal. Hal ini mungkin
disebabkan terdapat kelainan pada otot ekstraorbital yang terlibat dalam pergerakan bola
mata tersebut, sama ada disebabkan oleh mekanikal atau innervasi saraf pada otot-otot
pergerakan bola mata yang terlibat.
Berdasarkan anamnesis, diketahui bahawa pasien mempunyai riwayat trauma dan
mengalami keluhan habis peristiwa tersebut. Dapat disimpulkan bahwa pasien ini
didiagnosis sebagai ODS Alternating esotropia setelah dilakukan beberapa pemeriksaa
penunjang lainnya dengan hasil seperti berikut:
o

Cover /uncover test : N=D= alternating esotropia

Tes Hisrschberg : OD 15O alternating esodeviasi

APCT: N=500 PD BO OD; D=35-400 PD BO OD

o
XIV.

KESIMPULAN
Mata merupakan salah satu organ indera manusia yang mempunyai manfaat

sangat besar. Kelainan yang menggangu fungsi mata salah satunya adalah strabismus.
Strabismus adalah suatu keadaan dimana kedudukan kedua bola mata tidak ke satu arah.
Hal ini dapat terjadi karena adanya gangguan gerakan bola mata terjadi bila terdapat
satu atau lebih otot mata yang tidak dapat mengimbangi gerakan otot mata lainnya
maka akan terjadi gangguan keseimbangan gerakan mata sumbu penglihatan sehingga
tidak terbentuk penglihatan binokuler. Penyebabnya bisa karena kelumpuhan pada 1
atau beberapa otot penggerak mata (strabismus paralitik) yang disebabkan oleh
kerusakan saraf atau karena tarikan yang tidak sama pada 1 atau beberapa otot yang
menggerakan mata (strabismus non-paralitik) yang disebabkan oleh suatu kelainan di
otak.
Klasifikasi

dapat

terbagi

berdasarkan

manifestasinaya,

jenis

deviasi,

kemampuan fiksasi mata, usia terjadinya, dan sudut deviasinya. Gejalanya dapat berupa
mata lelah, sakit kepala, penglihatan kabur, mata juling (bersilangan), pengkihatan
ganda, mata tidak mengarah ke arah yang sama dan tidak terkoordinasi. Pemeriksaan

yang dapat dilakukan untuk mendiagnosis adalah dengan pemeriksaan ketajaman


penglihatan, Cover and Uncover Test, Tes Hirscberg, dan Tes Krimsky. Tujuan dari
penatalaksanaan adalah mengembalikan penglihatan binokular yang normal dan alasan
kosmetik. Tindakan yang dapat dilakukan adalah ortoptik, pemasangan lensa, dan
operatif. Strabismus dapat mengakibatkan komplikasi seperti kosmetik, supresi,
ambliopia, dan adaptasi postur kepala. Prognosis akan lebih baik bila masalah dapat
terdiagnosis dini dan penanganan segera sehingga masalah cepat teratasi.