Anda di halaman 1dari 51

MARKAS BESAR

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA


DIVISI PROFESI DAN PENGAMANAN

LAMPIRAN KEPUTUSAN KADIVPROPAM POLRI


NO. POL.
: KEP /
/ I /
2008
TANGGAL
:
JANUARI
2008

RENCANA KERJA
DIVISI PROFESI DAN PENGAMANAN POLRI
TAHUN ANGGARAN 2013

I.

Latar Belakang
1.

Kondisi Umum
Tahun

2013

Divpropam Polri

merupakan

tahun

keempat

pelaksanaan

Renstra

2010 2014, yang merupakan kelanjutan dari pelaksanaan

arah kebijakan tahun 2012 dalam rangka mendinamisir dan menggelar


pelayanan
mewujudkan

masyarakat dan sinergi polisional secara lengkap dalam


kondisi

yang

menjamin

pembangunan

nasional

yang

berwawasan aman. Tahun keempat Renstra tahun 2010-2014 dihadapkan


kepada perkembangan lingkungan strategis yang syarat dengan isu global
(demokratisasi, HAM, lingkungan hidup, terorisme, pemanasan global dan
perdagangan

bebas)

yang

dibarengi

dengan

kemajuan

pesat

ilmu

pengetahuan dan tekonologi, telah mendorong terjadinya turbulensi disemua


aspek kehidupan manusia, baik dalam konteks bergaul antar negara maupun
dalam skala nasional. Fenomena tersebut sangat berpengaruh terhadap
perkembangan kehidupan masyarakat, bangsa, negara di bidang ideologi,
politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan, yang akan
berpengaruh secara langsung terhadap kuantitas dan kualitas gangguan
keamanan.

/ Pelaksanaan . . . ..

2
Pelaksanaan tugas Polri pada tahun 2012 dalam melaksanakan tugas
dan tanggung jawabnya sebagai pemelihara keamanan dan ketertiban
masyarakat, penegakkan hukum serta pelindung, pengayom dan pelayan
masyarakat guna mewujudkan Keamanan Nasional telah menunjukan
keberhasilan

yang

cukup

membanggakan,

ditandai

dengan

semakin

kondusifnya situasi keamanan dan ketertiban masyarakat serta semakin


meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap Polri, hal ini menjadi modal
awal dalam membangun keikutsertaan masyarakat, Lembaga/ Instansi terkait
baik dalam maupun luar negeri sebagai mitra Polri.
Pencapaian sasaran prioritas Polri tahun 2013 tetap mengacu pada
keberhasilan yang telah dicapai pada tahun sebelumnya maupun keberhasilan
yang masih akan dicapai baik dibidang operasional, pembinaan kekuatan
maupun pembangunan kekuatan pada tahun 2012 yang diselaraskan dengan
kebijakan Revitalisasi Polri menuju Pelayanan Prima guna meningkatkan
kepercayaan masyarakat dan Reformasi Birokrasi Polri gelombang II tahun
2011-2014.
Sebagai Lembaga Profesi yang melayani kepentingan Publik dituntut
mampu melaksanakan tugasnya sesuai ketentuan perundang-undangan
maupun standar professional prosedur (SOP) serta memiliki Etika Profesi
dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Disamping itu sikap mental
dan disiplin dari setiap Anggota Polri, terus dibina agar produk-produk
pelayanan Polri senantiasa sesuai dengan standard profesi Polri. Pada saat ini
masyarakat menghendaki agar Aparatur Pemerintah termasuk Polri, lebih
profesional dan meningkatkan kinerja pelayanannya yang berorientasi kepada
kepentingan masyarakat serta menghindari praktek Kolusi, Korupsi dan
Nepotisme.

Kapolri

telah

mengeluarkan

sejumlah

kebijakan

untuk

meningkatkan kinerja dan kualitas pelayanan publik. Kebijakan ini ternyata


tidak serta merta menyelesaikan permasalahan pelayanan publik oleh Polri
/yang . . . .

3
yang selama ini masih belum maksimal. Sebagai ujung tombak dalam
menciptakan keamanan dan ketertiban masyarakat, Polri harus mampu
beradaptasi dengan segala perubahan dan perkembangan yang terjadi dalam
kehidupan masyarakat yang begitu pesat, sehingg menjadi tantangan yang
semakin berat dan kompleks.
Tantangan eksternal yang dihadapi oleh Polri saat ini ditandai dengan
terjadinya gangguan kriminalitas yang semakin canggih seiring dengan
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi maupun perilaku kehidupan
masyarakat sebagai dampak pola kejahatan yang terjadi. Sedangkan
tantangan internal yang dihadapi oleh Polri adalah tingkat profesionalisme dan
kinerja anggota Polri yang masih perlu ditingkatkan. Apabila peningkatan
profesionalisme dan kinerja ini tidak dilakukan maka akan menjadi bumerang
bagi Polri sendiri atau dapat menimbulkan masalah baru, antara lain misalnya
kekerasan yang dilakukan oleh petugas kepolisian di lapangan, salah
prosedur, salah tembak, penanganan konflik antar suku bangsa maupun
perkelahian antar warga masyarakat yang tidak tuntas dan lain sebagainya.
Untuk lebih memantapkan kedudukan serta pelaksanaan tugas Polri
sebagai bagian integral dari reformasi, Polri telah memiliki Undang-Undang
Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia yang
memuat fungsi, tujuan, peran, susunan, kedudukan, keanggotaan dan
Pembinaan Profesi. Khusus pembinaan profesi diatur dalam pasal 31 s/d 36
dinyatakan bahwa pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam
melaksanakan tugas dan wewenangnya harus memiliki kemampuan profesi
melalui pembinaan profesi. Pembinaan kemampuan profesi pejabat kepolisian
negara Republik Indonesia diselenggarakan melalui pembinaan etika profesi
dan pengembangan pengetahuan serta pengalamannya dibidang teknis
kepolisian melalui pendidikan, pelatihan dan penugasan secara berjenjang dan
berlanjut. Sedangkan untuk pembinaan disiplin anggota Polri diatur dalam
dalam pasal 27.
/dalam . . . .

4
Dalam kaitannya dengan pembinaan profesi, tata tertib, disiplin anggota
dan

pengamanan

internal

Polri,

telah

diwadahi

dalam

tugas-tugas

kepropaman. Diamanatkan dalam undang-undang tersebut, bahwa sikap dan


perilaku pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia terikat pada Kode Etik
Profesi Polri, sedangkan untuk membina persatuan dan kesatuan serta
meningkatkan kerja dan moril diadakan peraturan disiplin anggota Polri. Disisi
lain undang-undang tersebut juga menyatakan bahwa anggota Polri tunduk
pada kekuasaan peradilan umum.
Terkait dengan Peran Strategis Satker Propam Polri sebagai salah satu
unsur utama fungsi pengawasan Polri khususnya fungsi pengawasan internal,
fungsi penegakan hukum yang terkait peraturan disiplin dan kode etik Polri,
dan pelayanan pengaduan masyarakat (publik complaint), maka Satker
Propam Polri saat ini dan kedepan dihadapkan pada tantangan tugas yang
tidak semakin ringan, namun sebaliknya semakin multi kompleks sehingga
menambah spektrum beban tugas Polri ke depan, salah satunya menyangkut
masalah efektivitas fungsi pengawasan terhadap kinerja dan perilaku
Anggota/PNS Polri.
Bertitik tolak dari kondisi tersebut diatas, maka Satker Propam Polri
harus mampu mewujudkan peran sebagai ujung tombak perubahan,
transformasi profesionalisme dan kinerja Polri dan benteng terakhir fungsi
pengawasan serta pengendalian mutu kinerja Jajaran. Propam Polri harus
mampu mengawal pengendalian mutu kinerja Jajaran dan mengamankan
pelaksanaan tugas pada umumnya agar dapat berjalan sesuai Rencana
Strategis Polri,

serta dapat dilaksanakan

sesuai dengan ketentuan dan

peraturan perundang-undangan yang berlaku. Selanjutnya juga diharapkan


melalui implementasi tugas pokok, fungsi dan peran Propam Polri dapat
ditumbuh kembangkan kualitas pelayanan Polri dari waktu ke waktu secara
sinergis, optimal dan efektif baik di Bidang Preemptif, Preventif dan Represif.

/dalam . . .

5
Dalam mengoperasikan peraturan perundang-undangan tersebut, Polri
telah melaksanakan sesuai dengan peraturan pemerintah, masih ada
anggapan bahwa Polri masih kurang sungguh-sungguh menegakkan hukum
internal. Indikasi terlihat dari adanya tindak pidana yang dilakukan oleh
anggota Polri, hanya diselesaikan melalui Sidang Disiplin maupun Sidang
Komisi Kode Etik saja. Kesan masyarakat terhadap penegakan hukum internal
Polri tersebut,

terjadi karena masyarakat kurang terdapat

informasi atas

penyelesaian kasus-kasus yang dilakukan oleh anggota Polri.


Dalam upaya pemuliaan dan penegakan Etika Profesi Polri, pimpinan
dituntut mampu memberikan sanksi kepada Anggota Polri yang melakukan
pelanggaran melalui Sidang Komisi Kode Etik Polri maupun Sidang Disiplin.
Diharapkan penegakan etika dan disiplin kepada Anggota Polri, dilaksanakan
oleh setiap Kepala Satuan Organisasi Polri selaku Ankum diseluruh tingkatan
sehingga pelanggaran sekecil apapun ditindak lanjuti dengan tindakan korektif
atau sanksi. Apabila kondisi ini selalu terpelihara, maka pelanggaranpelanggaran hukum yang akan dilakukan oleh Anggota Polri dapat
diminimalisasi.
Kondisi eksternal dan internal Polri yang dipengaruhi oleh perubahan
dan perkembangan lingstra tersebut sebagai berikut:
a.

Perkembangan Aspek Lingkungan Strategis sesuai Tupoksi


1)

Aspek ideologi
a)

kondisi

ideologi

masih

dihadapkan

pada

belum

diimplementasikannya nilai-nilai Pancasila sebagai dasar


Negara

secara

menyeluruh

dalam

kehidupan

bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Setelah Badan


Pembinaan

Pelaksanaan

Pendidikan

Pedoman

Penghayatan Pancasila (BP 7) dibubarkan, tidak ada lagi


lembaga ataupun pihak lain yang berupaya untuk

/ mensosialisasikan . . . .

mensosialisasikan

pengamalan

nilai

nilai

Pancasila

sebagai ideologi Negara dalam kehidupan berbangsa dan


bernegara;
b)

bergulirnya

issue

kebebasan

HAM

dan

kebebasan

berdemokrasi termasuk kebebasan seseorang dalam


menganut Ideologi, berakibat kepada berkembangnya
wacana, diskusi, dan penyebaran faham/ideologi lain
selain Pancasila (liberalisme, komunisme, syariat Islam
dan ideologi lain) dalam bentuk pertemuan terbuka
maupun

melalui

mass

media.

Kondisi

tersebut

mengandung kerawanan terhadap eksistensi Pancasila


serta reaksi masyarakat yang dapat menimbulkan konflik
horizontal;
c)

pandangan yang meragukan Pancasila sebagai falsafah


kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai satu
satunya dasar negara yang dapat menjadi pemersatu
bangsa, dapat mengakibatkan lemahnya ikatan persatuan
dan kesatuan sehingga menimbulkan berbagai tuntutan
pemisahan dan pemecahan keutuhan Negara Kesatuan
Republik Indonesia;

2)

Aspek Politik
a)

sistem politik dalam negeri menganut sistem demokrasi


sesuai nilai-nilai Pancasila, yang mengedepankan azas
musyawarah untuk mencapai mufakat. Namun pada
kenyataannya demokrasi lebih menonjol dalam setiap
proses pengambilan keputusan yakni melalui mekanisme
voting;
/ b)

pertumbuhan . . . .

b)

pertumbuhan demokrasi masyarakat dari aspek politik


memang mengarah pada suatu kehidupan berpolitik yang
positif dengan tumbuh kembangnya demokrasi. Reformasi
di berbagai

bidang

terutama

dalam

bidang

politik

praktis, yang seolah-olah memberikan kebebasan yang


sebebas-bebasnya kepada masyarakat untuk menentukan
keinginannya dalam berpolitik;
c)

sistem multi partai (jumlah partai yang banyak) belum


mampu menghasilkan pemerintahan yang kuat, karena
tidak menghasilkan pemenang mayoritas. Adanya Partai
lokal di NAD cenderung akan diikuti oleh daerah-daerah
lain, sehingga perlu diwaspadai agar tidak digunakan
sebagai embrio untuk timbulnya negara federal. Adanya
konflik kepentingan antar dan intra partai politik serta antar
masa pendukung dapat membahayakan integrasi politik
nasional. Kondisi demikian masih berkepanjangan selama
orientasinya masih pada kepentingan kelompok/golongan;

d)

kondisi proses politik (proses pemecahan masalah dan


pengambilan keputusan nasional) masih diwarnai oleh
menguatnya dominasi Dewan Pengurus Pusat (DPP)
Parpol terhadap para wakil rakyat maupun elite politik
yang berada di kursi pemerintahan. Musyawarah untuk
mufakat yang merupakan amanat pembukaan UUD 45
semakin terabaikan. Hal ini ditandai dengan masih
dominannya peran fraksi daripada peran wakil rakyat dan
amanat UU yang menyatakan bahwa keputusan terbanyak
dari hasil voting merupakan keputusan akhir;

/ e)

kondisi . . . .

e)

kondisi budaya politik belum menunjukkan iklim dan


budaya politik yang sesuai dengan demokrasi yang
sebenarnya. Budaya politik masih bersifat paternal,
primordial,

oportunis,

nepotis,

feodal

dan

anarkhis.

Indikatornya yaitu adanya pengerahan massa politik


sebagai kelompok penekan, bernuansa kekerasan dan
destruktif. Budaya paternalistik dan primordial masih
dominan mewarnai pemilihan pemimpin suprastruktur
maupun

infra

struktur

politik.

Etika

Politik

belum

sepenuhnya sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi dan


masih banyak terjadi pemaksaan kehendak, adanya
kelompok yang tidak siap kalah dalam pertarungan politik;
f)

adanya otonomi khusus yang diberlakukan di beberapa


daerah tertentu dapat memicu daerah otonomi lainnya
menuntut otonomi khusus hal ini bertentangan dengan
prinsip negara kesatuan;

g)

kebebasan pers tumbuh dan berkembang, yang belum


diimbangi oleh tanggung jawab sesuai etika jurnalistik,
sehingga mengarah kepada kebebasan tanpa batas dan
tidak bertanggung jawab terhadap akibat pemberitaan.
Media massa lebih mengutamakan kepentingan bisnis
dibandingkan resiko sosial politik;

h)

penegakan hukum masih akan dihadapkan pada belum


optimalnya kinerja aparatur penegak hukum terutama
kasus-kasus yang menjadi perhatian nasional, selain itu
dimungkinkan masih terjadi mafia peradilan.

/3)

Aspek . . . . .

3)

Aspek Ekonomi
a)

nilai tukar rupiah telah mulai stabil, namun masih retan


terhadap gejolak ekonomi global termasuk diantaranya
adalah ulah permainan para spekulan mata uang yang
bermain di pasar mata uang;

b)

kejahatan perbankan nasional masih akan terjadi dengan


berbagai modus operandi seperti yang terjadi pada kasus
Bank Century dan City Bank, sehingga menurunkan
tingkat kepercayaan pada perbankan nasional;

c)

tingkat pertumbuhan hypermart yang demikian tinggi baik


di perkotaan maupun di daerah pinggiran telah mematikan
sentra-sentra ekonomi masyarakat kecil seperti pasar
tradisional;

d)

pembangunan sarana prasarana dan aspek transportasi


telah menunjukan peningkatan tapi tidak sebanding
dengan meningkatnya jumlah kendaraan bermotor yang
signifikan serta tidak seimbang dengan ruas jalan yang
tersedia

sehingga

mengakibatkan

meningkatnya

kemacetan dan kecelakaan lalu lintas.

4)

Aspek Sosial budaya


a)

Dampak Globalisasi
Apabila

dampak

negatif

globalisasi

tidak

mampu

diantisipasi dengan baik akan mengakibatkan terjadinya


perubahan perilaku masyakat Indonesia. Kondisi tersebut
menimbulkan potensi kerawanan terhadap meningkatnya
berbagai gangguan Kamtibmas seperti perkembangan
teknologi informasi dan komunikasi telah mempengaruhi

10

aspek kehidupan masyarakat. Tidak lagi terdapat jarak


dan waktu antara satu wilayah dengan wilayah lain di
seluruh dunia karena semua itu akan dapat ditempuh dan
dijangkau dengan mudah melalui teknologi yang ada
seperti internet. Hal ini sudah ada di hampir seluruh
pelosok wilayah Indonesia sehingga menimbulkan potensi
kerawanan terhadap meningkatnya gangguan Kamtibmas
seperti cyber crime.
b)

Kesenjangan Sosial
Kesenjangan sosial akan mengakibatkan perbedaan
kehidupan dalam masyarakat, baik antara yang kaya dan
yang miskin, antara yang berkuasa dan yang tidak
berkuasa, maupun antara yang berpendidikan dengan
yang

tidak

berpendidikan.

Kesenjangan

itu

sering

menimbulkan kerawanan dan tekanan kehidupan dan


bahkan dapat menimbulkan konflik vertikal maupun
horizontal.

Sempitnya

lapangan

pekerjaan

ditambah

dengan beragamnya masalah tenaga kerja yang belum


teratasi dengan baik, cenderung masih akan dihadapi
serta berpotensi menimbulkan gangguan, antara lain:
masalah PHK, masalah UMR, masalah pesangon dan
kesejahteraan pekerja, masalah TKI dan lain-lain.
c)

Pertumbuhan Hukum yang lambat


Sistem

hukum

nasional

meliputi

substansi

hukum,

kelembagaan, sarana dan prasarana dan budaya hukum


belum terwujud, akibat pembangunan hukum yang belum
selesai. Substansi hukum masih ada yang tumpang tindih

/dan . . . .

11

dan masih terdapat inskonsistensi peraturan perundangundangan. Pada tahun 2013 kecenderungannya masih
akan terjadi, mengingat proses keluarnya produk hukum
yang cukup lama. Kondisi tersebut berakibat masih
terjadinya ketidakpastian hukum sehingga berpengaruh
luas terhadap kehidupan politik, ekonomi (investor dan
pelaku usaha), sosial dan budaya serta keamanan.
Perumusan

perundang-undangan

cenderung

belum

berorientasi kepada kepentingan masyarakat umum. Hal


ini disebabkan para penyusun undang-undang lebih
mengedepankan kepentingan politik sesaat daripada
kepentingan nasional.
d)

Pendidikan
Pembangunan pendidikan telah ditunjang oleh kenaikan
anggaran belanja pendidikan secara bertahap mendekati
angka

yang

Pengelolaan
kurang

ditetapkan

oleh

pembangunan

terencana

dengan

UUD

sektor
baik

Tahun

pendidikan
dan

1945.
yang

kurangnya

pengawasan dapat menimbulkan berbagai kasus yang


berkaitan dengan pendidikan, antara lain :
(1)

kasus ijazah palsu;

(2)

masalah Ujian Akhir Nasional;

(3)

masalah

gelar

kesarjanaan

dari

lembaga

pendidikan yang tidak memenuhi syarat;


(4)

penyimpangan dalam penyaluran dana subsidi


Bantuan Operasional Sekolah (BOS);

(5)

dan lain-lain.

/5) aspek . . .

12

5)

Aspek Agama
a)

Konflik internal dan eksternal agama


Pemahaman dan implementasi ajaran agama belum
berkembang secara baik, bahkan pada sisi tertentu
mengalami penurunan, sehingga muncul gejala fanatisme
sempit,

sebagian

menggunakan

pemuka

agama

untuk

agama

cenderung

kepentingan

tertentu

(politisasi agama untuk kepentingan partai).


Surat Keputusan Bersama 2 (Dua) Menteri antara Menteri
Agama dan Menteri Dalam Negeri Tahun 2006 tentang
pendirian tempat Ibadah
ibadah

yang

dinilai

(penutupan

tidak

sejumlah tempat

memperoleh

izin),

telah

menimbulkan kontroversi di masyarakat. Masyakat yang


menolak SKB tersebut beralasan ajaran-ajaran yang
menimbulkan aliran-aliran baru dalam setiap agama
samawi,

berakibat

terjadinya

paham-paham

yang

sebenarnya sudah bergeser dari ajaran agama yang


sebenarnya. Selanjutnya menimbulkan konflik internal
maupun

eksternal

agama

yang

berdasarkan

atas

keyakinan agama yang berdasarkan atas keyakinan


agama
tindakan

samawi

tersebut.

anarkis

dalam

Kemudian

bentuk

menyebabkan

perusakan

maupun

pengusiran terhadap kelompok masyarakat yang berbeda


aliran dan berbeda agama.
b)

Aliran sesat
Stigma

aliran

sesat

dan

munculnya

aliran

yang

berkembang di masyarakat menjurus pada penistaan


terhadap agama tertentu, sehingga

menyebabkan

/ ketersinggungan . . ..

13

ketersinggungan dari para pengikutnya, hal ini dapat


menyebabkan terjadinya tindakan anarkis dan tindak
kriminal lainnya. Beberapa aliran kepercayaan yang dinilai
sesat dan menyesatkan, antara lain:

6)

(1)

Lia Eden/Ajaran Salamullah;

(2)

Ajaran Islam Jamaah/Lemkari;

(3)

Aliran ingkar Sunnah;

(4)

Perguruan Mahesa Kurung;

(5)

Ajaran Ahmadiyah;

(6)

dan lain-lain.

Aspek Keamanan
Permasalahan-permasalahan

dibidang

keamanan

yang

berpotensi menyebabkan timbulnya gangguan keamanan antara


lain meliputi :
a)

tingkat kepatuhan dan disiplin masyarakat terhadap


hukum yang masih rendah sehingga pelanggaran hukum
dianggap hal yang biasa dan cenderung dalam menangani
masalah keamanan, masyarakat bertindak main hakim
sendiri;

b)

sebagian

masyarakat

menganggap

bahwa

masalah

keamanan dapat diatur dan ditentukan adat setempat,


sehingga

penerapan

hukum

positif

menjadi

kurang

maksimal;
c)

rendahnya sanksi hukuman terhadap pelaku kejahatan


pelanggaran sehingga tidak menimbulkan efek jera bagi
para pelaku;

d)

tingkat pemahaman tentang keamanan dan kesadaran


hukum masyarakat yang masih relatif rendah;
/e) berbagai . . ..

14

e)

berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat, baik


permasalahan yang bersumber dari kondisi sosial politik,
kondisi sosial ekonomi maupun kondisi sosial budaya.

Peningkatan

gangguan

keamanan

yang

ditandai

dengan

meningkatnya intensitas dan kualitas kejahatan konvensional,


kejahatan Transnasional, kejahatan terhadap kekayaan negara
dan kejahatan yang berimplikasi kontinjensi akan terus mewarnai
di tahun-tahun yang akan datang. Penyebab dan motivasi yang
selalu meningkat akibat dinamika kehidupan masyarakat akan
selalu mewarnai peningkatan gangguan masyarakat. Selain itu
sebagai akibat ketidakpuasan atas kebijakan pemerintah pusat
yang dianggap tidak adil dalam proses pembangunan daerah
sehingga

menyebabkan

cara-cara

inskonstitusional

dalam

memperjuangkan aspirasinya dengan melakukan separatisme


maupun terorisme. Apalagi data pengungkapan terakhir telah
ditemukan indikasi bahwa jaringan terorisme yang dibangun
sudah merambah pada Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
Selain itu, semakin seringnya terjadi bencana alam baik gempa
bumi, banjir bandang, tanah longsor dan angin puyuh, perlu
untuk ditangani secara intensif agar tidak menjadi keresahan bagi
masyarakat.
b.

Analisis SWOT:
Beberapa faktor yang mempengaruhi pelaksanaan tugas Divpropam
Polri dalam rangka melaksanakan fungsinya dapat dianalisis dari
beberapa faktor yaitu faktor intern maupun faktor ekstern melalui
analisis SWOT, sebagai berikut:

/1)

Kekuatan . . . ..

15

1)

Kekuatan (Strengths) :
a)

Divpropam Polri telah mengambil langkah reformasi, baik


reformasi struktural, instrumental, maupun kultural, secara
berkelanjutan untuk menuju lembaga kepolisian sipil,
profesional, modern dan mandiri. Semua langkah-langkah
reformasi tersebut masih memerlukan waktu dalam
mencapai keberhasilan agar dapat dirasakan oleh semua
pihak;

b)

reformasi instrumental, berupa perubahan sistem piranti


lunak, fungsional dalam organisasi Polri sebagai pedoman
operasionalisasi fungsi, antara lain pada pembenahan
manajemen keuangan dengan sistem penganggaran
berbasis kinerja, dimana diseluruh kesatuan selalu on
budget

sehingga

diharapkan

makin

diperbarui

dengan

pelayanan Polisi
efektif.
hanya

Sistem

pada

masyarakat

operasional

mengandalkan

yang

kekuatan

kesatuan terdepan dalam pelaksanaan operasi, dukungan


logistik yang sudah tersedia di kesatuan terdepan, serta
sistem pengawasan yang semakin efektif dari internal Polri
maupun yang berasal dari eksternal Polri disetiap tingkat
satuan. Dalam rangka meningkatkan pelayanan propam
Polri kepada Masyarakat, pada tanggal 3 Agustus 2010
telah di lounching

Sentra Pelayanan Propam, dengan

Motto pelayanan yaitu ONE STOP SERVICE , peresmian


Website Propam, Leaflet Propam serta buletin Propam,
dalam hal ini telah dilakukan penilaian terhadap Sentra
Pelayanan Propam dan mendapatkan pengakuan berupa
sertifikat ISO 9001:2008, launching ECPP tahun 2011,
Sentra pelayanan Paminal dan Provos tahun 2012;
/c) reformasi . . . . .

16

c)

reformasi kultural telah meletakkan landasan dalam


bentuk pembenahan manajemen sumber daya manusia
dengan berorientasi strategi untuk mewujudkan Polisi
berwibawa, bermoral dan berkinerja yang profesional;
memperjelas manajemen SDM yang sehat, mulai dari
sistem rekruitment, sistem pendidikan dan seleksi, sistem
penilaian kinerja, sistem jalur karier, sampai pada sistem
remunerasi personel, berseragam dan tidak berseragam.
Sehingga

tampilan

Polri

dilapangan

benar-benar

sebagaimana yang diharapkan oleh masyarakat. Dalam


pelaksanaan tugas diperlukan perubahan paradigma
budaya kerja (culture set) dan

pola pikir (mindset).

perubahan budaya kerja (culture set) dari ditakuti menjadi


mitra, dari mencari-cari kesalahan menjadi konsultan, dari
arogan menjadi proporsional. Sedangkan perubahan pola
pikir (mindset) dari rekatif menjadi proaktif, dari angker
menjadi humanis, dari legalitas menjadi legitimasi, dari
tertutup menjadi transparan, dari akuntabilitas vertikal
menjadi akuntabilitas publik, dan dari monologis menjadi
dialogis;
d)

pembangunan kekuatan Polri menuju Polri yang modern


dan profesional diarahkan pada 2 (dua) jenis penampilan
yaitu polisi berseragam (uniform police) dan polisi tidak
berseragam (Ununiform police/Plain Cloth Police), Uniform
Police diarahkan pada tantangan tugas yang bersifat
pelayanan,

pencegahan

dan

penertiban

sedangkan

Ununiform Police/Plain Cloth Police diarahkan pada


tantangan tugas penyelidikan dan penyidikan;

/e) membangun . . . . .

17
e)

membangun

kerjasama

secara

eksternal

dengan

lembaga-lembaga pemerintah baik departemen maupun


non departemen serta masyarakat sehingga membentuk
sinergi polisional.
2)

Kelemahan (Weaknesses)
a)

Kepala satuan organisasi Polri selaku Ankum di seluruh


tingkatan belum mampu secara maksimal memberikan
sanksi kepada anggota Polri yang melakukan pelanggaran
melalui Sidang Komisi Kode Etik Profesi maupun Sidang
Disiplin, sehingga pelanggaran sekecil apapun perlu
ditindak lanjuti dengan tindakan korektif atau sanksi tidak
tercapai;

b)

masih adanya keengganan penyidik dalam menyidik


Anggota Polri yang melakukan tindak pidana;

c)

penempatan anggota yang tidak tepat/bermasalah dalam


tugas yang memerlukan kerahasiaan;

d)

masih ada tenggang rasa yang tinggi dari ankum untuk


melakukan Sidang Disiplin terhadap anggota;

e)

pemahaman tugas Ankum belum maksimal dan belum


adanya sosialisasi secara menyeluruh kepada semua
Satker;

f)

sosialisasi

dan

pelatihan

semua

aturan

bidang

kepropaman belum dilaksanakan oleh semua Satker.


3)

Peluang (Opportunities)
a)

kepercayaan

pemerintah

dan

masyarakat

atas

keberadaan organisasi Divpropam Polri yang semakin


meningkat dengan mengakomodir harapan masyarakat
yaitu

mampu

mengeliminasi

penyimpangan

yang

dilakukan oleh personel Polri / PNS;


/b) pemberian . . . .

18

b)

pemberian sanksi atau hukuman yang terekspose luas


terhadap penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan
oleh personel Polri dan ditangani oleh Divpropam Polri
dengan memberikan punishment sehingga menanamkan
bentuk pemahaman baru kepada masyarakat akan
adanya organisasi Divpropam dalam institusi Polri;

c)

adanya dukungan masyarakat terhadap Divpropam Polri


dengan

ada/beraninya

masyarakat

melaporkan/

menginformasikan setiap pelanggaran yang dilakukan oleh


oknum petugas Polisi;
d)

adanya dukungan dari berbagai instansi dalam bentuk


kerjasama pendidikan dan pelatihan personel Divpropam
Polri.

4)

Ancaman (Threats)
a)

perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang


komunikasi dan informasi sudah tidak mengenal lagi
hambatan

terhadap

kecepatan

berkomunikasi

dan

kemampuan menembus batas ruang dan waktu telah


mendorong angka pelanggaran hukum dan kriminalitas
yang selalu meningkat;
b)

jumlah pelanggaran hukum dan kriminalitas yang masih


tinggi, mencangkup 4 golongan jenis kejahatan, yaitu
kejahatan konvensioanal, transnasional crime, kejahatan
kekayaan

negara

dan

kejahatan

yang

berimplikasi

kontijensi;
c)

jumlah pelanggaran yang dilakukan oleh anggota/ PNS


Polri yaitu tahun 2010 antara pelanggaran disiplin
sebanyak 6.900 kasus dan pelanggaran KEPP 412 kasus;
/tahun . . . .

19

tahun 2011 pelanggaran disiplin sebanyak 4.015 kasus


dan

pelanggaran

pelanggaran

KEPP

disiplin

399

kasus;

sebanyak

1.852

tahun
kasus

2012
dan

pelanggaran KEPP 155 kasus


d)

isu tebang pilih terhadap penangan kasus-kasus yang


merugikan kekayaan negara, masyarakat / individu
diantara korupsi, apabila tidak memiliki komitmen dalam
penanganan akan menurunkan kepercayaan masyarakat
terhadap Polri;

e)

kegiatan politik praktis oleh kelompok-kelompok tertentu


yang berusaha untuk menagacaukan pemerintah / negara
dan penyaluran aspirasi kepentingan masyarakat yang
tidak terwadahi dengan baik, sehingga mereka mencari
dengan penyaluran lain diluar mekanisme yang ada, hal
tersebut akan mudah memicu terjadinya

gangguan

Kamtibmas dan tindakan melawan hukum yang pada


akhirnya akan menimbulkan keresahan masyarakat;
f)

persaingan politik dan ketidakpuasan kelompok tertentu


terhadap

kinerja

kelemahan

pemerintah

tertentu

selalu

dengan

memanfatkan

mengatas-namakan

demokrasi maupun tindakan anarkhi terhadap sarana dan


prasarana pemerintah / masyarakat;
g)

masyarakat

kurang

mendapatkan

informasi

atas

penyelesaian kasus-kasus yang dilakukan oleh anggota


Polri.

Hal tersebut juga karena keengganan Kasatwil /

kasatker

untuk

mempublikasikan

pelanggaran

yang

dilakukan oleh anggota Polri kepada masyarakat dalam


penegakan supremasi hukum.
/2. Identifikasi . . . .

20

2.

Identifikasi Masalah
Setelah

mempelajari

beberapa

aspek

lingkungan

strategis

yang

mempengaruhi kondisi dan situasi keamanan dalam negeri yang selanjutnya


dianalisis melalui analisis SWOT maka dapat diidentifikasi permasalahan yang
akan dan mungkin terjadi pada tahun 2013 yaitu :
a.

SDM Polri masih kurang profesional, yang ditandai oleh masih adanya
pelanggaran disiplin, kode etik profesi, pelanggaran lalu lintas dan
tindak pidana yang dilakukan oleh anggota/ PNS Polri;

b.

budaya melayani belum terlihat, yang ditandai oleh masih adanya sikap
arogan di lapangan, bertindak anarkis, dan lain-lain;

c.

sarana dan prasarana masih minim seperti kendaraan bermotor baik di


darat

maupun

pelaksanaan

di

perairan,

dukungan

tugas operasional

BBM

kepolisian

dan

guna

mendukung

minimnya

biaya

perawatan serta pemeliharaan sarana dan prasarana yang ada pada


Polri akan mempengaruhi kinerja anggota Polri;
d.

sistem dan metode berupa sosialisasi dan internalisasi program


Reformasi Birokrasi Polri belum dilaksanakan secara maksimal dan
Reward and punishment belum dilaksanakan secara konsisten oleh
para unsur pimpinan Polri;

e.

pengawasan dan pengendalian belum berjalan secara optimal;

f.

masyarakat masih ada yang belum memahami tentang tugas Polri,


belum mau berubah terhadap perubahan yang dilakukan oleh Polri
(masih ingin mengambil jalan pintas dalam penyelesaian kasus),
menganggap Polri belum berubah dan tingkat kesadaran hukum
anggota masih relatif rendah;

g.

berbagai permasalahan lain yang berkaitan dengan tugas Polri di


lapangan, antara lain:

/1) masih .. . . . . .

21

1)

Masih banyaknya kasus-kasus anggota yang terlibat tindak


pidana, disiplin dan pelanggaran Kode Etik Profesi Polri;

2)

pengamanan unjuk rasa yang tidak profesional, proporsional dan


prosedural;

3)

penyidikan tidak profesional, proporsional dan prosedural;

4)

masih ada anggota yang melakukan pembiaran dan menjadi


backing tindak pidana (perjudian, illegal loging, illegal mining dan
penyelundupan);

5)

penyimpangan pengadaan materiil Polri;

6)

penyalahgunaan senjata api oleh anggota Polri;

7)

komersialisasi rumah dinas;

8)

fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi;

9)

lemahnya penertiban dan pengamanan dokumen dan asset Polri;

10)

lemahnya inventarisasi aset-aset Polri;

11)

penyimpangan dalam sistem logistik Polri (pengadaan s/d


penghapusan);

12)

sistem pengarsipan tidak tertib;

13)

pembocoran rencana kegiatan operasi;

14)

kerahasiaan pengiriman dokumen/berita sering bocor;

15)

adanya oknum Polri memberi keterangan untuk konsumsi luar


yang bukan kapasitasnya;

16)

press realese pejabat Polri yang tidak satu bahas;

17)

pencopotan dari jabatan (demosi) tanpa dilanjutkan proses


pemeriksaan / tanpa adanya alasan hukum yang jelas;

18)

anggota disersi yang disarankan PTDH tapi keputusan dari


sidang KKEP dilakukan pembinaan (tidak konsekwen).

/II. Tujuan . . . .

22

II.

TUJUAN DAN SASARAN


3.

Visi dan Misi


a.

Visi dan Misi Polri


Visi Polri :
Terwujudnya pelayanan kamtibmas prima, tegaknya hukum dan
kamdagri mantap serta terjalinnya sinergi polisional yang proaktif.
Misi Polri :
1)

Melaksanakan

deteksi

dini

dan

peringatan

dini

melalui

kegiatan/operasi penyelidikan, pengamanan dan penggalangan;


2)

memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan secara


mudah, responsif dan tidak diskriminatif;

3)

menjaga keamanan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas untuk


menjamin keselamatan dan kelancaran arus orang dan barang;

4)

menjamin keberhasilan penanggulangan gangguan keamanan


dalam negeri;

5)

mengembangkan perpolisian masyarakat yang berbasis pada


masyarakat patuh hukum;

6)

menegakkan hukum secara profesional, objektif, proporsional,


transparan dan akuntabel untuk menjamin kepastian hukum dan
rasa keadilan;

7)

mengelola secara profesional, transparan akuntabel dan modern


seluruh sumber daya Polri guna mendukung operasional tugas
Polri;

8)

membangun sistem sinergi Polisional Interdepartemen dan


lembaga internasional maupun komponen masyarakat dalam
rangka membangun kemitraan dan jejaring kerja (partnership
building/ networking).

/ b.

Visi . . . .

23

b.

Visi dan Misi Divpropam Polri


Visi Divpropam Polri :
Terwujudnya Pengamanan Internal, penegakan tata tertib, disiplin
dan

tegaknya

hukum

serta

terbina

dan

terselenggara

pertanggungjawaban Profesi sehingga terminimalisirnya penyimpangan


perilaku anggota / PNS Polri.
Misi Divpropam Polri:
Berdasarkan Visi sebagaimana tersebut diatas, selanjutnya dijabarkan
dalam bentuk Misi Divpropam Polri ke depan dalam pelaksanaan tugas
pokoknya, baik dibidang pembangunan kekuatan, pembinaan kekuatan
maupun kegiatan operasional yaitu :
1)

Menyelenggarakan

fungsi

pelayanan

terhadap

pengaduan/

laporan masyarakat tentang sikap perilaku dan penyimpangan


anggota/ PNS Polri;
2)

menyelenggarakan

tugas

Pengamanan

Internal,

meliputi

pengamanan personel, materiil, kegiatan dan bahan keterangan


di lingkungan Polri termasuk penyelidikan terhadap kasus
dugaan pelanggaran dan penyimpangan dalam pelaksanaan
tugas Polri;
3)

memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada


masyarakat sebagai bukti pertanggungjawaban Profesi Polri
kepada masyarakat akan kinerja dan profesionalisme;

4)

menegakkan
dengan

hukum

secara

menjunjung tinggi

manusia dengan

profesional

dan

proporsional

supremasi hukum dan hak asasi

menyelesaikan perkara dan penanganan

personel Polri yang bermasalah supaya mendapat kepastian


hukum dan rasa keadilan;
5)

meningkatkan upaya konsolidasi Internal Polri sebagai upaya


penyamaan Visi dan Misi Divpropam Polri kedepan;
/6)

meningkatkan . . . . . ..

24

6)

meningkatkan kemampuan dan keterampilan personel guna


peningkatan pelaksanaan tugas.

4.

Tujuan Jangka Menengah


a.

Polri
1)

Terciptanya kondisi aman yang mendukung tercapainya prioritas


sasaran pembangunan nasional lima tahun ke depan;

2)

tegaknya hukum yang mampu memberikan rasa perlindungan


dan pengayoman oleh negara serta kepastian dunia usaha;

3)

terwujudnya kerukunan sosial sehingga bebas dari konflik sosial


dan gangguan terhadap pelaksanaan agenda demokrasi baik di
pusat maupun di daerah;

4)

terwujudnya kerja sama lintas departemen dan lintas Negara


dalam rangka mewujudkan upaya menciptakan keamanan
melalui sinergi polisional;

5)

terbangunnya potensi masyarakat dalam mewujudkan keamanan


lingkungan masing-masing bekerja sama dengan Polri sehingga
terwujud masyarakat patuh hukum.

b.

Divpropam Polri
1)

Terbangunnya kepercayaan dari masyarakat kepada Propam


sebagai

organisasi

yang

peduli

dan

kredibel

dalam

meminimalisasi penyimpangan yang dilakukan oleh anggota


/PNS Polri;
2)

terwujudnya good and clean governance dalam lembaga


kepolisian dengan pemberdayaan Divpropam;

3)

terwujudnya pertanggungjawaban profesi dan pengamanan


internal

termasuk

dilingkungan

Polri

penegakkan
dan

disiplin

dan

pelayanan pengaduan

ketertiban
masyarakat

tentang adanya penyimpangan tindakan anggota /PNS Polri;

25

/4) terwujudnya . . .
4)

terwujudnya

pelayanan

prima

kepada

masyarakat

dalam

penerimaan dan penyelesaian pengaduan masyarakat terhadap


pelanggaran anggota /PNS Polri.

5.

Sasaran Prioritas.
a.

Polri
Berdasarkan tahapan pencapaian Renstra Polri Tahun 2010 2014
tersebut diselaraskan dengan kebijakan program Revitalisasi Polri
dengan 10 program Prioritas menuju Polri yang profesional maka
sasaran prioritas Polri tahun 2013 ditetapkan sebagai berikut:
1)

melanjutkan Sasaran Prioritas Tahun 2012 yang belum selesai,


yaitu melengkapi sarana dan prasarana satuan kerja tingkat
pusat dan kewilayahan, anggaran operasional untuk lidik sidik,
penanggulangan terorisme, pengamanan wilayah perbatasan
dan pulau-pulau terluar berpenghuni dan dukungan operasional
Kasatker guna meningkatkan pelayanan kepada masyarakat;

2)

melanjutkan dan mensinergikan program, kegiatan dan rencana


aksi Reformasi Birokrasi Polri Gelombang II tahun 2011 2014
ke dalam rencana aksi dan kegiatan Satker menuju pelayanan
prima kepada masyarakat;

3)

terselenggaranya e-goverment melalui kegiatan Pengelolaan


Informasi Dokumentasi (PID) dalam rangka pelayanan publik;

4)

terlaksananya

pembangunan

dan

pengembangan

Sistem

Informasi terpadu melalui Management Informasi System (MIS)


dalam rangka mendukung tugas pokok Polri dan pengamanan
Pemilu tahun 2014;

26

/5)
5)

pengadaan . . . . .

pengadaan almatsus Polri yang berbasis teknologi dalam rangka


menunjang tugas pokok Polri dan persiapan pelaksanaan
pengamanan Pemilu tahun 2014;

6)

terselenggaranya kegiatan pengawasan dan pemeriksaan oleh


Aparat

Pengawasan

Internal

Pemerintah

(APIP)

guna

mewujudkan aparatur Polri yang profesional, proporsional dan


akuntabel

serta

penerapan

Sistem

Pengendalian

Intern

Pemerintah (SPIP) yang efektif guna mencegah terjadinya KKN;


7)

terselenggaranya sertifikasi profesi bagi tenaga pendidik Polri


guna meningkatkan profesionalisme tenaga pendidik Polri;

8)

terpenuhinya jumlah penyidik Polri yang berlatar belakang DIK


S1 atau D-IV dari sumber Pa dan Ba melalui Program Pendidikan
Jarak Jauh (PPJJ) serta melalui pendidikan STIK/PTIK secara
bertahap;

9)

terlaksananya kegiatan pendidikan yang menghasilkan hasil didik


yang berjiwa pelindung, pengayom, pelayan masyarakat dan
sebagai abdi masyarakat yang mengutamakan kepentingan
umum di seluruh lembaga pendidikan dalam jajaran Lemdikpol;

10)

peningkatan kualitas dan kuantitas kemampuan personel Polri


guna mengatasi kekurangan personel Polri dan menempatkan
personel Polri pada titik sebaran pelayanan kepada masyarakat;

11)

meningkatkan kesejahteraan personel Polri disesuaikan dengan


anggaran yang tersedia;

12)

peningkatan kualitas dan kuantitas jaringan intelijen guna


terlaksananya deteksi aksi dalam rangka mengeliminir gangguan
Kamtibmas secara dini;

27

/13)
13)

tergelarnya . . . .

tergelarnya atase Kepolisian di luar negeri (SLO) dan perwira


penghubung / Liaison Officer (LO) inter kementerian guna
mengatasi potensi gangguan yang bisa terjadi (problema
peripheral) sehingga masyarakat lebih aktif (proactive policing)
guna terciptanya rasa aman dan semangat membangun yang
tinggi pada semua lapisan masyarakat;

14)

teratasinya gangguan keamanan di wilayah perairan, perbatasan


dan pulau-pulau terluar berpenghuni dan berpenduduk yang
mengganggu perekonomian negara;

15)

terselenggaranya program rencana umum nasional keselamatan


jalan di semua satuan wilayah dan satuan fungsi lalu lintas;

16)

terciptanya kondisi keamanan dalam negeri yang semakin


kondusif melalui penggelaran personel Polri di wilayah rawan
terhadap gangguan Kamtibmas/kejahatan, berpotensi konflik,
konflik dan pasca konflik;

17)

mensinergikan dan melaksanakan tata kelola pencegahan tindak


pidana terorisme melalui kerja sama dengan TNI, Badan
Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan masyarakat;

18)

terlaksananya

penyusunan

peraturan

perundang-undangan

terkait tugas dan fungsi Polri;


b.

Divpropam Polri
1)

Meningkatkan pemberian pelayanan prima kepada masyarakat


dalam penerimaan dan penyelesaian pengaduan masyarakat
terhadap pelanggaran Anggota / PNS Polri;

2)

menerima setiap laporan, baik melalui surat, website maupun


laporan langsung dan selanjutnya ditindak lanjuti oleh Divpropam
Polri beserta jajaran;

28

/3) menyelenggarakan . . . .
3)

menyelenggarakan

pendataan,

pengolahan,

pemantauan,

pengendalian dan evaluasi terhadap penanganan pengaduan /


laporan masyarakat tentang sikap perilaku penyimpangan
anggota /PNS Polri;
4)

supervisi penyelesaian perkara ke polda-polda yang banyak


laporan/komplain dari masyarakat;

5)

supervisi pembinaan dan penegakan disiplin Polri/ PNS;

6)

menyelenggarakan pembinaan dan pertanggungjawaban Profesi


serta penilaian akreditasi penerapan Standar Profesi;

7)

menyelenggarakan penegakan kode etik profesi Polri secara


profesional, transparan dan akuntabel;

8)

menyelenggarakan pembinaan dan pemeliharaan disiplin, tata


tertib di lingkungan Polri;

9)

menyelenggarakan kegiatan sosialisasi peraturan di bidang


propam ke satuan kerja, baik di tingkat Mabes Polri maupun
satuan kewilayahan;

10)

mengirim anggota ke daerah-daerah untuk penyelidikan, audit


investigasi,

pemeriksaan

dan

pemberkasan

terhadap

penyimpangan anggota/ PNS Polri;


11)

melaksanakan pengamanan gedung dan materiil Polri, dalam


bentuk pengamanan tertutup dan terbuka seperti

penjagaan,

patroli jalan kaki ke kantor-kantor, sel tahanan dan obyek vital


Polri lainnya;
12)

melaksanakan kegiatan penegakan tata tertib dan disiplin secara


berkala, dengan penjagaan dan pemeriksaan di pintu-pintu
gerbang Mako serta mengadakan absensi pada setiap kegiatan;

13)

menyelenggarakan Sidang Disiplin dan Sidang Komisi Kode Etik


Profesi Polri;

29

/14)
14)

menyelenggarakan . . . .

menyelenggarakan rakernis serta rapat kerja rutin untuk


menyamakan pemahaman tugas di lingkungan Divpropam Polri;

15)

memberikan data catatan personel yang diperlukan pimpinan


Polri berkaitan dengan rencana Kenaikan Pangkat, Mutasi dan
penugasan lainnya;

16)

mengusulkan

kepada

pimpinan

untuk

penggantian

dan

pengisian jabatan yang masih kosong dikarenakan pensiun dan


mutasi;
17)

melaksanakan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan dan


keterampilan serta mengusulkan pendidikan pengembangan
spesialis propam Polri untuk meningkatkan kemampuan dan
keterampilan personel propam Polri;

18)

melaksanakan sosialisasi dan internalisasi Sistem Pengendalian


Intern Pemerintah (SPIP) dan Peningkatan peran Aparat
Pengawasan

Intern

Pemerintah

(APIP)

sebagai

Quality

Assurance dan Consulting dengan tujuan untuk mewujudkan


tercapainya organisasi yang efektif dan efisien serta taat pada
peraturan;
III.

Arah Kebijakan
6.

Kebijakan Polri
Arah Kebijakan dan Strategi Polri Tahun 2013 dalam rangka pencapaian
kebijakan nasional di bidang keamanan sebagai berikut:
a.

melanjutkan Sasaran Prioritas Tahun 2012 yang belum selesai, yaitu


melengkapi sarana dan prasarana satuan kerja tingkat pusat dan
kewilayahan, anggaran operasional untuk lidik sidik, penanggulangan
terorisme, pengamanan wilayah perbatasan dan pulau-pulau terluar
berpenghuni dan dukungan operasional kasatker guna meningkatkan
pelayanan kepada masyarakat;

30

/ b.
b.

meningkatkan..

meningkatkan palayanan publik yang Prima melalui 4 (empat) program


Quick Wins tahun 2009-2010 yaitu Quick respons, transparansi
penerbitan SIM, STNK dan BPKB (SSB), transparansi pelayanan
penyidikan dan transparansi rekruitmen ditambah 9 (sembilan) rencana
aksi Quick Wins dalam program pelayanan publik Road Map RBP Polri
gelombang II tahun 2011-2014;

c.

terlaksananya program, kegiatan dan rencana aksi Reformasi Birokrasi


Polri Gelombang II tahun 2011 - 2014 di seluruh Satker / Satfung di
tingkat pusat maupun kewilayahan guna terwujudnya pelayanan prima
kepada masyarakat;

d.

memenuhi

kebutuhan

anggaran

yang

lebih

proporsional

guna

meningkatkan pelaksanaan tugas fungsi operasional Polri khususnya di


tingkat kewilayahan dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada
masyarakat, diikuti dengan peningkatan pengawasan ke dalam secara
berjenjang;
e.

mewujudkan e-government melalui kegiatan Pengelolaan Informasi


Dokumentasi (PID) dalam rangka pelayanan publik;

f.

terwujudnya pembangunan dan pengembangan sistem informasi


terpadu melalui Manajemen Informasi System (MIS) dalam rangka
mendukung tugas pokok Polri dan pengamanan Pemilu tahun 2014;

g.

pengadaan almatsus Polri yang berbasis teknologi dalam rangka


menunjang tugas pokok Polri dan persiapan pelaksanaan pengamanan
Pemilu tahun 2014;

h.

meningkatkan kegiatan pengawasan dan pemeriksaan oleh Aparat


Pengawasan Internal Pemerintah (APIP) guna mewujudkan aparat Polri
yang profesional, proporsional dan akuntabel serta menerapkan Sistem
Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) secara efektif guna mencegah
terjadinya KKN;

31

/ i.
i.

Meningkatkan . . . .

meningkatkan pelaksanaan penelitian dan pengembangan seiring


dengan modernisasi teknologi Kepolisian sesuai standar pelayanan
Polri;

j.

meningkatkan kualitas dan kuantitas kegiatan pendidikan dan pelatihan


pengembangan kemampuan personel Polri guna mengatasi kekurangan
personel Polri dan menempatkan personel Polri pada titik sebaran
pelayanan kepada masyarakat;

k.

menyusun standar kompetensi kerja khusus bidang pendidik Polri,


menyusun strategi pengembangan kompetensi profesi Polri dan
menginventarisir serta menyusun sertifikasi pendidik oleh lembaga
sertifikasi profesi;

l.

mewujudkan lembaga pendidikan Polri sebagai organisasi pembina


pendidik yang solid, sehingga menghasilkan hasil didik yang berjiwa
pelindung, pengayom, pelayan masyarakat dan abdi masyarakat yang
mengutamakan kepentingan umum;

m.

terpenuhinya jumlah penyidik Polri yang berlatar belakang DIK S1 atau


D-IV dari sumber Pa dan Ba melalui Program Pendidikan Jarak Jauh
(PPJJ) serta melalui pendidikan STIK/PTIK secara bertahap;

n.

melaksanakan peningkatan kegiatan deteksi aksi sehingga dapat


mengeliminir gangguan kamtibmas secara dini;

o.

melaksanakan peningkatan kualitas dan kuantitas jaringan Intelijen


guna mendukung akurasi bahan keterangan;

p.

terpenuhinya atase Kepolisian di luar negeri (SLO) dan staf teknis Polri
(LO) di luar negeri dalam membantu akselerasi perluasan kompetensi
pelayanan Polri bagi warga negara Indonesia di luar negeri, kerjasama
dalam penanggulangan kejahatan internasional / transnasional, dan
kerjasama Kepolisian lainnya;

32

/ q.
q.

terbangunnya . . . .

terbangunnya kemitraan dalam system sinergi polisional dengan


kementerian / lembaga serta seluruh komponen masyarakat terkait,
melalui penempatan personel liaison officer (LO) yang kompeten dan
berkualitas;

r.

meningkatkan pengamanan di wilayah perbatasan dan pulau-pulau


terluar berpenghuni dan berpenduduk dalam upaya menciptakan
Kamtibmas yang kondusif;

s.

meningkatkan kegiatan preemtif dan preventif melalui peningkatan


kegiatan Bhabinkamtibmas, anggota Polmas dan kegiatan turjawali oleh
petugas Polisi berseragam di wilayah rawan terhadap gangguan
Kamtibmas/kejahatan, berpotensi konflik, konflik dan pasca konflik;

t.

meningkatkan pengamanan di wilayah perairan dan perbatasan guna


mengatasi

kejahatan

internasional

(transnasional

crime)

yang

mengganggu perekonomian negara;


u.

mewujudkan keamanan dalam negeri yang semakin kondusif melalui


penggelaran personel Polri di wilayah rawan terhadap gangguan
Kamtibmas/kejahatan, berpotensi konflik, konflik dan pasca konflik;

v.

meningkatkan kelancaran, keamanan dan ketertiban dan kelancaran


lalu lintas angkutan jalan dalam mendukung sendi kehidupan ekonomi
dan sosial masyarakat dengan menjalin kerja sama dan koordinasi
dengan lintas sektoral;

w.

melaksanakan tata kelola pencegahan tindak pidana terorisme dengan


lebih meningkatkan koordinasi dan kerja sama dengan TNI, Badan
Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan masyarakat;

x.

terselesaikannya penanganan tindak pidana sesuai dengan lapisan


kemampuan dan lapis kewenangan secara profesional, transparan dan
akuntabel dengan menjunjung tinggi HAM dengan prioritas utama tindak
pidana yang merugikan kekayaan negara dan transnasional crime;

33

/ y.
y.

menggelar . . . . .

menggelar operasi Kepolisian melalui operasi terpusat dan operasi


kewilayahan dengan memprioritaskan penanggulangan kejahatan yang
merugikan kekayaan negara dan transnasional crime;

z.

melaksanakan penyusunan peraturan perundang-undangan terkait


tugas dan fungsi Polri.

7.

Kebijakan Strategi Divpropam Polri.


a.

menata kembali mekanisme pemberian pelayanan administrasi pada


satuan Propam agar diperoleh suatu pelayanan yang cepat, mudah,
terhindar dari adanya praktek KKN;

b.

memberikan

pelayanan

pengaduan

kepada

masyarakat

yang

membutuhkan dengan mengedepankan prinsip cepat dan mudah;


c.

menyelenggarakan Sidang Komisi Kode Etik Polri dan Sidang Disiplin


secara profesional, transparan dan akuntabel;

d.

melakukan pemeriksaan secara obyektif sesuai dengan pelanggaran


yang dilakukan anggota dan tidak memberikan peluang kepada
pemeriksa untuk melakukan KKN;

e.

peningkatan kualitas dan kuantitas personel Propam baik melalui


rekruitment, pendidikan dan pelatihan secara khusus;

f.

peningkatan integritas perorangan dan kesatuan demi terwujudnya


organisasi yang solid dengan prioritas personel Propam dalam
melaksanakan kegiatan Operasi;

g.

peningkatan

kemampuan

personel

Propam

dalam

memperoleh

informasiIbahan keterangan secara langsung dari sumber-sumber


primer secara tertutup dan terbuka;
h.

pengembangan jaringan sistem filling dan recording dalam rangka


meningkatkan monitoring pengaduan masyarakat dan pelayanan
penelitian personel serta informasi lainnya;

34

/ i.
i.

Melanjutkan . . . .

melanjutkan kebijakan Remunerasi guna pemenuhan hak-hak personel


dalam rangka peningkatan kinerja;

j.

menindaklanjuti program revitalisasi dan restrukturisasi secara bertahap


sampai dengan tahun 2025 yang meliputi pengembangan organisasi
kekuatan dan kemampuan SDM, materiil dan fasilitas/jasa, anggaran
serta sistem dan metode;

k.

menindaklanjuti secara bertahap Rencana Strategis (Renstra) Polri


tahap II yang mencakup perubahan aspek struktural, aspek kultural dan
aspek instrumental.

IV.

Program, Kegiatan dan Pagu Indikatif


8.

Program dan Kegiatan Divpropam Polri tahun 2013


a.

Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Polri


1)

Tujuan
Mendukung tugas pembinaan dan operasional Polri melalui
ketersediaan sarana dan prasarana materiil, fasilitas dan jasa
baik kualitas maupun kuantitas.

2)

Kegiatan : Pengembangan Prasarana dan Sarana Kepolisian


Pengadaan barang/peralatan perkantoran guna mendukung/
menunjang tugas dan fungsi Propam Polri meliputi :

b.

a)

Belanja peralatan.

b)

Belanja kendaraan.

c)

Belanja Meubelair.

Program Pengawasan dan Peningkatan Akuntabilitas Aparatur Polri.


1)

Tujuan

35
Mewujudkan

personel

Divpropam

Polri

yang

profesional,

proporsional dan akuntabel sebagai implementasi reformasi Polri


khususnya perubahan pola pikir dan kultur.
/2)

2)

Kegiatan . . . .

Kegiatan :
a)

Dukungan Manajemen dan Teknis Pengawasan Umum


dan Pemuliaan Profesi dan Pengamanan :
(1)

pengelolaan Gaji,tunjangan dan uang lembur;

(2)

melaksanakan rapat staf;

(3)

pengadaan peralatan kantor;

(4)

perawatan kendaraan bermotor roda 2 dan roda 4;

(5)

penyusunan
kinerja,

renja, RKA-KL/ DIPA, penetapan

SBK,

lakip

bulanan/tahunan,

laporan

realisasi & rengiat mingguan;


(6)

pembuatan

laporan

anev

mingguan,

bulanan,

triwulan, semester dan tahunan;


(7)

pembuatan laporan SAKPA, renkas dan tutup buku;

(8)

perawatan peralatan fungsional;

(9)

melaksanakan fungsi registrasi dan penelitian


personil;

(10)

membuat evaluasi dan analisa laporan bulanan,


semester dan tahunan dari masing-masing Polda;

(11)

menerbitkan SKTB dan memberikan rekomendasi


penilaian

status

bagi

personil

yang

telah

melaksanakan hukuman disiplin dan/ atau KEPP


dalam rangka pemulihan nama baik dan hak-hak
personil Polri;
(12)

melakukan supervisi bidang pelayanan pengaduan


masyarakat, rehabpers dan renmin ke 31 Polda;

36

/(13) penelitian . . . .
(13)

penelitian kembali perlengkapan administrasi dan


produk/berkas sidang KKEP dari daerah-daerah
sehubungan dengan adanya komplain dari para
terduga pelanggar tentang rekomendasi hukuman
disiplin melalui surat permohonan penanganan
kembali;

(14)

penerimaan, pengendalian dan pendataan secara


nasional

pengaduan

masyarakat,

serta

meningkatkan pelayanan dalam merespon laporan /


pengaduan masyarakat;
(15)

melaksanakan kegiatan piket di sentra pelayanan


pengaduan masyarakat;

(16)

pelayanan penerimaan laporan langsung dan tidak


langsung (melalui surat pengaduan dan website)
membuat laporan polisi, STPL, pelimpahan kasus
ke Biro-Biro, Satker Mabes Polri dan Satwil-Satwil
jajaran;

(17)

penyelenggaraan pemeliharaan dan perawatan


software dan hardware jaringan file dan recording;

(18)

penyelenggaraan

pengelolaan

informasi

dan

dokumentasi (PID);
(19)

melaksanakan kegiatan operasional Divpropam


Polri (Back up perjalanan dinas dan dukungan
operasional ke kewilayahan);

(20)

melaksanakan

aplikasi

Sistem

Informasi

Manajemen keuangan Barang Milik Negara (SiMAK

37
BMN) dengan tujuan untuk mendata seluruh aset
negara yang dimiliki oleh Divpropam Polri;

/(21) pembelian........
(21)

pembelian alat tulis kantor untuk mendukung


kegiatan perkantoran sehari-hari;

(22)

melaksanakan koordinasi dengan para Karo dan


Kabag di lingkungan Divpropam Polri terkait dengan
penanganan anggota yang bermasalah;

(23)

memonitor perilaku anggota yang bermasalah untuk


bahan laporan/masukan bagi pimpinan dan bahan
wanjak;

(24)

menyelenggarakan pelatihan barang dan jasa di


lingkungan Divpropam Polri.

b)

Pertanggungjawaban Profesi
(1)

melaksanakan audit investigasi terhadap kasuskasus yang menonjol;

(2)

melaksanakan

pemeriksaan/pemberkasan

ter-

hadap dugaan pelanggaran kode etik profesi Polri


di Mabes Polri dan di kewilayahan;
(3)

menyelenggarakan

Sidang

KKEP

dan

sidang

komisi banding;
(4)

(5)
(6)

melaksanakan simulasi sidang KKEP dan


sosialisasi Perkap No. 14 tahun 2011 tentang kode
etik profesi Polri, susunan organisasi tata kerja
komisi kode etik Polri dan simulasi sidang komisi
kode etik Polri (KKEP);
melaksanakan pelatihan Akreditor ( Auditor tk.
Dasar);
melaksanakan penilaian akreditasi terhadap
penerapan standarisasi profesi Polri ke 31 Polda;

38
(7)

pembuatan anev pelaksanaan tupoksi Rowabprof;

(8)

melaksanakan rapat staf.

/ c)
c)

Penyelenggaraan . . . .

Penyelenggaraan Pengamanan Internal Polri:


(1)

melakukan penyempurnaan piranti lunak Paminal;

(2)

pembuatan produk-produk Paminal;

(3)

melaksanakan pelatihan fungsi Paminal;

(4)

melaksanakan operasi bersih;

(5)

melaksanakan pembinaan pengamanan personil,


kegiatan, materiil dan bahan keterangan;

(6)

penerbitan SKHP;

(7)

melaksanakan penyelidikan internal Polri ke 31


polda;

(8)

melaksanakan pengawasan penerimaan Bintara


Polri, SIPSS, Setukpa, Taruna Akpol, Sespima,
STIK, Sespimen, Sespimti dan Lemhanas;

(9)
d)

melaksanakan pengamanan tertutup.

Penegakan Tata Tertib dan Disiplin Polri


(1)

melakukan penegakan tata tertib (Gaktib) terhadap


pelanggaran disiplin bagi anggota/ PNS Polri dan
lainlain;

(2)

melakukan pembinaan dan penegakan hukum di


lingkungan Polri;

(3)

melakukan

penjagaan

pengawalan

orang/barang

melakukan

mako,

patroli

dan

berharga/bukti

serta

pengamanan/pengawasan

kegiatan Polri di lingkungan Mako;

terhadap

39
(4)

melakukan pemeriksaan terhadap anggota yang


melakukan pelanggaran disiplin di kewilayahan
maupun di Mabes Polri;

/(5)
(5)

melakukan

pendataan

melakukan . . . . .

terhadap

unjuk

rasa,

pengrusakan, pembakaran terhadap Mako Polri


serta pendataan penyalahgunaan senjata api yang
dilakukan oleh anggota Polri;
(6)

melaksanakan pengawalan tahanan;

(7)

melaksanakan Sidang disiplin;

(8)

melakukan pelatihan Bela Diri;

(9)

melaksanakan pembinaan fungsi Provos ke PoldaPolda;

(10)

melaksanakan pelatihan fungsi Provos;

(11)

melaksanakan

koordinasi

dan

pengawasan/

pemantauan, pengecekan petugas jaga tahanan


Mabes Polri dan Kewilayahan;
(12)

melaksanakan

koordinasi

dan

pengawasan

pengamanan pos/ pintu masuk ke kewilayahan;


(13)

melaksanakan pengawasan pelaksanaan sidang


disiplin ke kewilayahan;

(14)

melaksanakan pengecekan Daftar Pendahuluan


Pemeriksaan Pelanggaran Disiplin (DP3D), Patsus
dan SKHD/ Rekomendasi di Mabes Polri dan ke
Kewilayahan;

(15)

penyampaian informasi hasil pelaksanaan sidang


disiplin dan sidang komisi kode etik profesi kepada
masyarakat,

agar

masyarakat

mengetahui

40
keseriusan Polri dalam menegakkan hukum di
internal Polri;
(16)

meningkatkan keamanan internal Mako-Mako Polri


di

seluruh

wilayah

(metal

detector)

untuk

mengantisipasi serangan-serangan terhadap Polri


yang cenderung meningkat;
/(17) peningkatan . . . .
(17)

peningkatan pelayanan pengaduan masyarakat


terhadap pelanggaran Anggota Polri/PNS di tingkat
Polres, bekerjasama dengan SPK yang ada.

9.

Pagu Indikatif
Pagu Indikatif Divpropam Polri per program dalam TA.2013 sebesar
Rp. 44.513.732.000,- (empat puluh empat milyar lima ratus tiga belas juta
tujuh ratus tiga puluh dua ribu rupiah) dengan perincian sebagai berikut :
a.

Program Peningkatan Sarana Dan Prasarana Aparatur Polri sebesar


Rp. 11.179.450.000,- (sebelas milyar seratus tujuh puluh sembilan juta
empat ratus

lima puluh ribu rupiah) digunakan untuk kegiatan

Pengadaan peralatan, kendaraan dan meubelair.


b.

Program Pengawasan dan Peningkatan Akuntabilitas Aparatur Polri


sebesar

Rp. 33.334.282.000,- (tiga puluh tiga milyar tiga ratus tiga

puluh empat juta dua ratus delapan puluh dua ribu rupiah) digunakan
untuk kegiatan :
1)

Dukungan Manajemen dan Teknis Pengawasan Umum dan


Pemuliaan Profesi dan Pengamanan dengan alokasi anggaran
sebesar Rp. 28.356.997.000,- (dua puluh delapan milyar

tiga

ratus lima puluh enam juta sembilan ratus sembilan puluh tujuh
ribu rupiah).
2)

Pertanggungjawaban Profesi dengan alokasi anggaran sebesar


Rp. 1.439.831.000,- (satu milyar empat ratus tiga puluh sembilan
juta delapan ratus tiga puluh satu ribu rupiah).

41
3)

Penyelenggaraan Pengamanan Internal Polri dengan alokasi


anggaran sebesar

Rp. 1.940.964.000,- (satu milyar sembilan

ratus empat puluh juta sembilan ratus enam puluh empat ribu
rupiah).

/4)
4)

Penegakan . . . .

Penegakan Tata Tertib dan Disiplin Polri dengan alokasi anggaran


sebesar Rp. 1.596.490.000,- (satu milyar lima ratus sembilan
puluh enam juta empat ratus sembilan puluh ribu rupiah).

10.

Kegiatan prioritas pagu indikatif T.A 2013


TARGET

PROGRAM/
KEGIATAN/
SASARAN KEGIATAN

KODE

ALOKASI

Ren 2013

2014

2015

2016

Program
Peningkatan
02Sarana Dan Prasarana
Aparatur Polri
3084

( JUTA RUPIAH )

KET

INDIKATOR KINERJA
Renc 2013

2014

2015

2016

6.099,0

6.737,0

6.737,0

6.737,0

Pengembangan Peralatan
Polri
Persentase penambahan
kendaraan R-2 & R4

50%

50%

50%

50%

0.0

0.0

0.0

0.0

Persentase penambahan
meubelair

50%

50%

50%

50%

0.0

0.0

0.0

0.0

Persentase penambahan
peralatan

50%

50%

50%

50%

0.0

0.0

0.0

0.0

36 exmplr

32 exmplr

30 exmplr

30 exmplr

3.0

6.0

6.0

6.0

30.0

119.3

119.3

119.3

Program Pengawasan Dan


03Peningkatan Akuntabilitas
Aparatur Polri

3087

Dukungan Manajemen dan


Tehnik Pengawasan
Umum dan Pemuliaan
Profesi dan Pengamanan
Jumlah penerbitan SKTT
dan RPS
Jumlah kegiatan supervisi
Bag
Rehab
ke
Kewilayahan
Jumlah
kegiatan
menghimpun
laporan
analisa dan evaluasi

4 Polda

31 Polda

31 Polda

31
Polda

67 lap

67 lap

67 lap

67 lap

2.6

5.2

5.2

5.2

Prosentase
kegiatan
Rakernis Propam
yang
dilaksanakan

100%

100%

100%

100%

560.0

616.0

616.0

616.0

Jumlah penyusunan
produk-produk
perencanaan

9 nskh

9 nskh

9 nskh

9 nskh

55.6

61.2

61.2

61.2

3 lap

3 lap

3 lap

3 lap

11.2

12.4

12.4

12.4

1500 lap

1250 lap

1000 lap

60.0

66.0

66.0

66.0

31 Polda

31 Polda

31 Polda

70.0

119.3

119.3

119.3

100%

51.1

51.1

120 giat

120 giat

120 giat

807.5

888.2

888.2

888.2

Jumlah pembuatan laporan


keuangan

Jumlah laporan pengaduan


masyarakat yang diterima1750 lap
oleh Bag Yanduan
Jumlah kegiatan supervisi
Bag Yanduan k
7 polda
Kewilayahan
Prosentase
penyelenggaraan pelatihan
100%
barang
dan
jasa
di
lingkungan Divpropam Polri

3088

Pertanggung jawaban
Profesi

Jumlah Audit Investigasi


terhadap
kasus-kasus
Kode Etik Profesi Polri yang
dilaksanakan

120 giat

KL

42

PROGRAM/
KEGIATAN/
SASARAN KEGIATAN

KODE

Jumlah
pemeriksaan
/
pemberkasan
terhadap
dugaan pelanggaran KEPP
yang dilaksanakan

36 berkas

36 berkas

36 berkas

36 berkas

95.0

104.5

104.5

104.5

Jumlah sidang KKEP yang


dilaksanakan

42 sidang

35 sidang

30 sidang

30 sidang

157.5

173.2

173.2

173.2

Jumlah
pelaksanaan
simulasi sidang KKEP ke
kewilayahan

7 Polda

31 Polda

31 Polda

31 Polda

29.1

119.3

119.3

119.3

Ren 2013

2014

2015

2016

100%

100%

100%

100%

98.0

107.8

107.8

107.8

31 Polda

31 Polda

31 Polda

31 Polda

127.5

140.2

140.2

140.2

15 Polda

125.0

654 giat

654 giat

654 giat

654 giat

213.2

234.5

234.5

234.5

4 giat

4 giat

261.1

287.2

287.2

287.2

31 Polda

31 Polda

119.3

131.2

131.2

131.2

132 kasus

132 kasus

1.139.0

1.252.9

1.252.9

1.252.9
23.8

TARGET

Prosentase
anggota
Divpropam
Polri
yang
mengikuti
pelatihan
akreditor
Jumlah
pelaksanaan
penilaian akreditasi dan
penerapan
standarisasi
profesi ke kewilayahan
Jumlah
pelaksanaan
sosialisasi perkap kode etik
profesi ke kewilayahan

Jumlah
Pengamanan
terhadap kegiatan Polri,
Penyelenggaraan
objek Vital,objek khusus,
Pengamanan Internal Polri VVIP/VIP/pejabat dan giat
lainnya
sesuai
dengan
ketentuan dan sasaran

3089

Jumlah pelaksanaan Opsih


yang dilaksanakan dengan
4 giat
4 giat
aman, tertib dan terkendali
Jumlah pelaksanaan giat
fungsi
Paminal
di
31 Polda
31 Polda
kewilayahan dengan tertib
dan lancar
Jumlah
terungkapnya
kasus-kasus pelanggaran
132 kasus
132 kasus
oleh anggota Polri di tingkat
pusat dan kewilayahan
Prosentase
pelaksanaan
100 %
100 %
pelatihan fungsi Paminal
Jumlah
penyempurnaan
2 naskah
2 naskah
pilun yang dihasilkan
Jumlah
SKHP
yang
6000
6000 exmplar
exmplar
diterbitkan
Jumlah
pelaksanaan
pengawasan, pengamanan
31 giat
31 giat
dan monitoring penerimaan
personil
Jumlah
kegiatan
Penegakan tata Tertib dan
opsgaktibplin
yang
79 giat
79 giat
Disiplin Polri
dilaksanakan

3090

Jumlah kegiatan Back up


riksa, back up sidang
disiplin dan pemeriksaan
DP3D yang dilaksanakan
di kewilayahan
Jumlah
pelaksanaan
sidang disiplin oleh ankum
Mabes
Polri
dgn
mempersiapkan personel
Provos sebagai penuntut
dan pengawal terperiksa.
Jumlah
giat
Pamka /Penjagaan Mako,
patroli dan pengawalan
orang /barang berharga/
bukti, pam/patroli rumah
dinas TB I dan TB II serta
pam /pengawasan giat di
lingkungan Mako sehingga
Terciptanya keamanan dan
ketertiban
yang
dilaksanakan
Jumlah
kegiatan
Pemeriksaan
yang
dilaksanakan
di
kewilayahan dan Mabes
Polri
Prosentase
pelaksanan
pelatihan fungsi Provos
.

ALOKASI

( JUTA RUPIAH )

KET

INDIKATOR KINERJA

Jumlah
kegiatan
pembinaan bidang Provos
satwil

Renc 2013

2014

2015

2016

100 %

100 %

21.6

23.8

23.8

2 naskah

2 naskah

41.5

45.6

45.6

45.6

6000
exmplar

6000 exmplar

125.0

137.5

137.5

137.5

31 giat

31 giat

300.0

330.0

330.0

330.0

79 giat

79 giat

249.9

274.9

274.9

274.9

40 giat

40 giat

40 giat

40 giat

183.5

201.9

201.9

201.9

24 sidang

24 sidang

24 sidang

24 sidang

12.1

13.4

13.4

13.4

365 giat

365 giat

365 giat

365 giat

319.9

351.9

351.9

351.9

120 giat

120 giat

120 giat

120 giat

677.8

745.6

745.6

745.6

100 %

100 %

100 %

100 %

33.6

36.9

36.9

36.9

31 Polda

31 Polda

31 Polda

31 Polda

119.3

131.2

131.2

131.2

43

V.

PENUTUP
11.

Penutup
Demikian Rencana Kerja Divpropam Polri Tahun 2013 ini disusun sebagai
pedoman dalam pelaksanaan tugas pokok Divpropam Polri pada Tahun
Anggaran 2013.

Jakarta,

Juni 2012

KEPALA DIVISI PROFESI DAN PENGAMANAN POLRI

Drs. HERMAN EFFENDI


INSPEKTUR JENDERAL POLISI
Paraf :
1. Kasubbag ren : ..
2. Kabag Renmin : ..........
3. Karo Paminal : . . . . .
4. Karo Provos
:.....
5. Karo Wabprof :..

44

MARKAS BESAR
KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
DIVISI PROFESI DAN PENGAMANAN

RENCANA KERJA
DIVISI PROFESI DAN PENGAMANAN POLRI
TAHUN ANGGARAN 2013

Jakarta,

2012

45

46
MARKAS BESAR
KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
DIVISI PROFESI DAN PENGAMANAN

RENCANA KERJA TAHUNAN


SATKER DIVPROPAM POLRI T.A. 2013

NO
1

1.

2.

SASARAN
URAIAN

INDIKATOR KINERJA

TARGET

Terpenuhinya
kebutuhan
peralatan
dalam
rangkaJumlah pengadaan kendaraan dinas
mendukung pelaksanaan tugasroda 2 dan roda 4
operasional Divpropam Polri
Jumlah pengadaan meubelair
Jumlah Pengadaan peralatan
Terwujudnya aparat Polri yang
Profesional, Proporsional dan
Akuntabel sebagai implementasi
reformasi
Polri
khususnya
perubahan kultur

Jumlah penerbitan SKTT dan RPS


Jumlah kegiatan supervisi Bag Rehab ke
Kewilayahan
Jumlah kegiatan menghimpun laporan
analisa dan evaluasi
Prosentase kegiatan Rakernis Propam
tahun 2013 yang dilaksanakan
Jumlah
penyusunan
produk-produk
perencanaan
Jumlah pembuatan laporan keuangan
Jumlah kegiatan menghimpun peraturanperaturan kepolisian
Jumlah laporan pengaduan masyarakat
yang diterima oleh Bag Yanduan
Jumlah kegiatan supervisi Bag Yanduan k
Kewilayahan
Jumlah penyelenggaraan pelatihan barang
dan jasa di lingkungan Divpropam Polri
Jumlah Audit Investigasi terhadap kasuskasus
Kode Etik Profesi Polri yang
dilaksanakan
Jumlah pemeriksaan / pemberkasan
terhadap dugaan pelanggaran KEPP yang
dilaksanakan
Jumlah sidang KKEP yang dilaksanakan
Jumlah pelaksanaan simulasi sidang KKEP
ke kewilayahan

64 unit
405 unit
198 unit

36 exemplar
4 Polda
67 laporan
100%
9 naskah
3 laporan
44 laporan
1750 laporan
7 polda
1 laporan
120 laporan
36 laporan
42 laporan
7 laporan

KET
5

47
2
1

3
Prosentase anggota Divpropam Polri yang
mengikuti pelatihan akreditor (auditor
tingkat dasar)
Jumlah pelaksanaan penilaian akreditasi
dan penerapan standarisasi profesi ke
kewilayahan
Jumlah pelaksanaan sosialisasi perkap
kode etik profesi ke kewilayahan
Jumlah Pengamanan terhadap kegiatan
Polri,
objek
Vital,objek
khusus,
VVIP/VIP/pejabat dan giat lainnya sesuai
dengan ketentuan dan sasaran
Jumlah
pelaksanaan
Opsihyang
dilaksanakan dengan aman, tertib dan
terkendali
Jumlah pelaksanaan giat fungsi Paminal di
kewilayahan dengan tertib dan lancar
Jumlah
terungkapnya
kasus-kasus
pelanggaran oleh anggota Polri di tingkat
pusat dan kewilayahan
Prosentase pelaksanaan pelatihan fungsi
Paminal
Jumlah pilun yang dihasilkan
Jumlah SKHP yang diterbitkan
Jumlah
pelaksanaan
pengawasan,
pengamanan dan monitoring penerimaan
personil
Jumlah kegiatan opsgaktibplin yang
dilaksanakan
Jumlah kegiatan Back up riksa, back up
sidang disiplin dan pemeriksaan DP3D
yang dilaksanakan di kewilayahan
Jumlah
giat
Pamka
/Penjagaan
Mako,patroli
dan
pengawalan
orang/barang berharga/ bukti, pam/patroli
rumah dinas TB I dan TB II serta pam
/pengawasan
giat
di
lingkungan
Makosehingga Terciptanya keamanan dan
ketertibanyang dilaksanakan
Jumlah kegiatan Pemeriksaan yang
dilaksanakan di kewilayahan dan Mabes
Polri
Jumlah pelaksanaan sidang disiplin oleh
ankum Mabes Polri dgn mempersiapkan
personel Provos sebagai penuntut dan
pengawal terperiksa.
Prosentase pelaksanaan pelatihan fungsi
Provos
Jumlah kegiatan pembinaan bidang
Provos satwil

MARKAS BESAR
KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
DIVISI PROFESI DAN PENGAMANAN

100%
31 polda
15 laporan
654 laporan

4 laporan
31 laporan
132 laporan
100%
2 naskah
6000 exemplar
31 laporan
79 laporan
40 laporan

365 laporan

120 laporan

24 sidang
100%
31 laporan

Ditetapkan di : Jakarta
Pada tanggal :

Juni

2012

RENCANA KERJA TAHUNAN (RKT) SATKER


DIVPROPAM
POLRI
TA. 2013 POLRI
KEPALA DIVISI
PROFESI DAN
PENGAMANAN
SASARAN
NO
URAIAN
1
1.

2
Meningkatnya

Jumlah

INDIKATOR
KINERJA
3
Pemanfaatan meubelair,

KEGIAT
PROGRAM

Drs. HERMAN EFFENDI URAIAN


INSPEKTUR5 JENDERAL POLISI 6

INDIKATOR

TARGET

4
100%

Program Peningkatana.

Pengembangan

Laporan meu

48
pemenuhan
dan
pemberdayaan /matfatjas
dalam rangka mendukung
pelaksanaan
tugas
operasional
Divpropam
Polri
2.

ranmor R-2, R-4 dan peralatan


secara Optimal
dan siap pakai
untuk mendukung
pelaksanaan
kegiatan operasional Satker Div
Propam Polri

Sarana dan Prasarana


Aparatur Polri

Terwujudnya aparat Polri


yang
Profesional,
Proporsional dan Akuntabel
sebagai
implementasi
reformasi Polri khususnya
perubahan kultur

peralatan Polri

Laporan pera

Laporan ranm

Laporan ranm

Pengawasan dan
Dukungan manajemen
Peningkatan
dan teknis Pengawasan
Akuntabilitas Aparatur Umum dan Pemuliaan
Polri
Profesi dan
Pengamanan :
a. Prosentase kegiatan Rakernis
Propam tahun 2013 yang
dilaksanakan

100%

a. Penyelenggaraan
Rakernis
Divpropam
tahun 2013

b. Jumlah kegiatan menghimpun


laporan analisa dan evaluasi

100%

b. Kegiatan menghimpunb.Laporan ha
laporan analisa dan menghimpun
analisa dan e
evaluasi

c.

100%

c. Penyusunan produk
produk perencanaan

100%

d. pembuatan
keuangan

100%

e. Menghimpun peraturan-e. Laporan ha


menghimpun
peraturan kepolisian
peraturan kep

Jumlah penyusunan
produk perencanaan

produk-

d. Jumlah
pembuatan
keuangan

laporan

e. Jumlah kegiatan menghimpun


peraturan-peraturan kepolisian

a. Laporan has
Rakernis

c.Laporan hasi
produk
perencanaan

laporan d. Laporan
laporan keua

2
f. jumlah . . . .
1

3
f.

Jumlah
laporan
pengaduan
masyarakat yang diterima oleh
Bag Yanduan.

80%

g. Jumlah kegiatan supervisi Bag


Yanduan k Kewilayahan

100%

h. Jumlah kegiatan menghimpun


laporan
dari
Polda-polda,
memperbanyak juklak &TR yang
dilaksanakan

100%

i. Jumlah kegiatan
diterbitkan

80%

j.

SKTB

yang

Jumlah
penyelenggaraan
pelatihan barang dan jasa di
lingkungan Divpropam Polri

6
f.

Penerimaan
laporane.
Terklarifika
pengaduan
masyarakat pengaduan
tentang perilaku anggota/ terhadap tugas
PNS Polri.

g. Supervisi Bag Yanduan

h. Perbanyak Juklak, TR,Anev


laporan

f. .Laporan hasil
supervisi Bag Y

g.Laporan hasil
dari polda-pold
dan terkirim

h.Laporan
has
penerbitan SK
i.

Penerbitan SKTB

i. Laporan penye
pelatihan bara
100%

j.

Pelatihan barang dan jasa

49

3
/a. Jumlah . . . .
1

a. Jumlah
kegiatan
pelaksanaan
penyusunan laporan anev tupoksi
Rowabprof.

100%

Pertanggungjawaban Profesi
:
a. Penyusunan pelaksanaan
laporan
anev
tupoksia. Laporan
pelaksanaan
Rowabprof
tupoksi Rowa

b. Jumlah Audit Investigasi terhadap


kasus-kasus Kode Etik Profesi Polri
yang dilaksanakan

85%

b.

c. Jumlah pemeriksaan/ pemberkasan


terhadap
dugaan
pelanggaran
KEPP yang dilaksanakan

85%

d. Jumlah
sidang
dilaksanakan

KKEP

yang

e. Jumlah pelaksanaan simulasi sidang


KKEP ke kewilayahan
f.

Prosentase anggota
Polri yang mengikuti
Standar profesi.

100%
100%

g. Prosentase anggota Divpropam Polri


yang
mengikuti
pelatihan
penegakan etika Profesi.

100%

h. Jumlah
Pelaksanaan
Penilaian
Akreditasi & Penerapan Standarisasi
Profesi
ke
Polda-Polda
yang
dilaksanakan.
i.

Audit

b. Laporan
audit
inve
kewilayahan

c. Laporan
c. Pelaksanaan
pelaksanaan
pemeriksaan/pemberkasan
terhadap
dugaan
pelanggaran KEPP
d. Laporan hasil
sidang KKE
d. Pelaksanaan sidang KKE.
e. Laporan
Simulasi sida
kewilayahan
e. Simulasi sidang KKEP ke
kewilayahan
f. Laporan
pelatihan Sta

85%

Divpropam
pelatihan

Pelaksanaan
investigasi

f.

Pelatihan Standar profesi. g. Laporan


akreditor
(
Dasar)
g. Pelatihan akreditor (auditor
tk. Dasar)
h. Laporan
Penilaian A
Penerapan
h. Pelaksanaan Penilaian
Profesi ke ke
Akreditasi & Penerapan
Standarisasi Profesi
i. Laporan
rapat staf

100%

i.

Jumlah pelaksanaan rapat staf

Rapat staf

100%

4
/ a. Jumlah . . . ..
1

a. Jumlah
Pengamanan
terhadap
kegiatan Polri, objek Vital,objek
khusus, VVIP/VIP/pejabat dan giat

100%

Penyelenggaraan
Pengamanan Internal Polri:
a. Kegiatan
Pangamanan
a. Laporan
Tertutup
pelaksanaan
pengamanan

50
lainnya sesuai dengan ketentuan
dan sasaran
b. Jumlah pelaksanaan Opsihyang
dilaksanakan dengan aman, tertib
dan terkendali
c. Jumlah pelaksanaan giat fungsi
Paminal di kewilayahan dengan
tertib dan lancar
d. Prosentase terungkapnya kasuskasus pelanggaran oleh anggota
Polri
di
tingkat
pusat
dan
kewilayahan

b. Pelaksanaan operasi bersih


b. Laporan
(Opsih)
pelaksanaan
bersih

90%

c.
100%

Kegiatan Pam personel,


c. Laporan
materill, giat & baket yang
pelaksanaan
dilaksanakan ke PoldaPaminal di ke
Polda

85%

d. Penyelidikan

e. Prosentase anggota Divpropam Polri


yang mengikuti pelatihan fungsi
Paminal

100%

e. Pelatihan fungsi Paminal

f.

100%

Jumlah pilun yang dihasilkan

f.

g. Jumlah SKHP yang diterbitkan

80%

h. Jumlah pelaksanaan pengawasan,


pengamanan
dan
monitoring
penerimaan personil

80%

a. Jumlah kegiatan opsgaktibplin yang


dilaksanakan

90%

b. Jumlah kegiatan Back up riksa dan


back up sidang disiplin
yang
dilaksanakan di kewilayahan dan
Mabes Polri

85%

d. Laporan
penyelidikan

Penyusunan/revisi Pilun
Paminal.

e. Pelatihan fun
f.

Laporan
Penyusunan/
Paminal
g. Penerbitan SKHP
g. Laporan has
SKHP
h. pelaksanaan pengawasan, h. Laporan
pengamanan dan
pengawasan,
monitoring penerimaan
pengamanan
personil
monitoring
personil
Penegakan Tata Tertib dan
Disiplin Polri:
a. Pelaksanaan Gaktib
a. Laporan
pelaksanaan
opsgaktibplin
b. Pembinaan
dan
penegakan hukum
b. Laporan
pelaksanaan
Back up riksa
sidang disiplin

5
Jumlah . . .

3
c. Jumlah giat Pamka /Penjagaan
Mako,patroli
dan
pengawalan
orang/barang
berharga/
bukti,
pam/patroli rumah dinas TB I dan
TB II serta pam /pengawasan giat
di
lingkungan
Makosehingga
Terciptanya
keamanan
dan
ketertibanyang dilaksanakan
d. Jumlah
kegiatan Pemeriksaan
yang dilaksanakan di kewilayahan
dan Mabes Polri
e. Jumlah pelaksanaan sidang disiplin
oleh ankum Mabes Polri dgn
mempersiapkan personel Provos
sebagai penuntut dan pengawal
terperiksa.
f.

Prosentase anggota Divpropam


Polri yang mengikuti pelatihan
fungsi Provos

4
100%

90%

80%

6
c. Pengamanan Terbuka

7
c. Laporan
pelaksanaan
terbuka

d. Pemeriksaan pelanggaran d. Laporan ha


disiplin di wilayah maupun
pemeriksaan
di Mabes Polri
e. Pelaksanaan
disiplin

f.

sidang

e. Laporan ha
sebagai pen
siding disiplin

Pelatihan fungsi Provos

100%

f.

Pelatihan fun

g. Pembinaan Bidang Provos


g. Jumlah kegiatan pembinaan bidang

g. Laporan

51
Provos satwil

100%

pelaksanaan
bidang Provo

Jakarta,

Juni 2012

KEPALA DIVISI PROFESI DAN PENGAMANAN POLRI

Drs. HERMAN EFFENDI


INSPEKTUR JENDERAL POLISI
Paraf:
1. Konseptor / Kasubbag Ren : . . . . . . . . .
2. Kabag Renmin
:.......