Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Parasitologi adalah ilmu yang berisi kajian tantang organisme (jasad hidup), yang
hidup di permukaan atau di dalam tubuh organisme lain dapat bersifat sementara waktu
atau selama hidupnya, dengan cara mengambil sebagian atau seluruh fasilitas hidupnya dari
organisme lain tersebut, hingga organisme lain tersebut dirugikan. Organisme atau makhluk
hidup yang menumpang disebut dengan parasit. Organisme atau makhluk hidup yang
ditumpangi biasanya lebih besar daripada parasit disebut Host atau Hospes, yang memberi
makanan dan perlindungan fisik kepada parasit.
Menyadari akibat yang dapat ditimbulkan oleh gangguan parasit terhadap
kesejahteraan manusia, maka perlu dilakukan usaha pencegahan dan pengendalian
penyakitnya. Sehubungan dengan hal tersebut maka sangat diperlukan suatu pengetahuan
tentang kehidupan organisme parasit yang bersangkutan selengkapnya.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan parasitologi serta klasifikasinya?
2. Apakah yang dimaksud dengan protozoologi?
3. Apakah yang dimaksud dengan helmintologi?
4. Apakah yang dimaksud dengan entomologi?

C. Tujuan Penulisan
1.

Untuk mengetahui pengertian dari parasitologi serta klasifikasinya.

2.

Untuk mengetahui pengertian dari protozoologi.

3.

Untuk mengetahui pengertian dari helmintologi.

4.

Untuk mengetahui pengertian dari entomologi.

D. Manfaat Penulisan
1.

Mahasiswa (i) mengetahui pengertian dari parasitologi serta klasifikasinya.

2.

Mahasiswa (i) mengetahui pengertian dari protozoologi.

3.

Mahasiswa (i) mengetahui pengertian dari helmintologi.

4.

Mahasiswa (i) mengertahui pengertian dari entomologi.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Parasitologi
Kata parasitologi berasal dari kata parasitos yang berarti jasad yang mengambil
makanan, dan logos yang berarti ilmu. Berdasarkan istilah, parasitologi adalah ilmu yang
mempelajari organisme yang hidup untuk sementara ataupun tetap di dalam atau pada
permukaan organisme lain untuk mengambil makanan sebagian atau seluruhnya dari
organisme tersebut.Beberapa istilah penting yang perlu diketahui, antara lain :
1. Simbiose, merupakan bentuk hidup bersama dua jenis organisme yang bersifat
permanen dan tidak bisa dipisahkan. Ada beberapa jenis simbiose, yaitu :
a. Simbiose mutualisme, yaitu simbiose yang saling menguntungkan bagi kedua
jenis organisme tersebut.
b. Simbiose komensalisme, yaitu simbiose dimana satu pihak mendapat
keuntungan sedangkan yang lain tidak dirugikan.
c. Simbiose parasitisme, yaitu simbiose dimana satu jenis mendapatkan makanan
dan keuntungan, sedangkan yang lain dirugikan bahkan dibunuh.
d. Simbiose obligat, yaitu bentuk simbiose dimana parasitnya tidak dapat hidup
tanpa hospes.
e. Simbiose fakultatif, yaitu simbiose dimana parasitnya dapat hidup walaupun
tanpa hospes.
f. Simbiose monoksen, yaitu simbiose dimana parasitnya hanya dapat hidup pada
satu spesies hospes.
g. Simbiose poliksen, yaitu simbiose yang menghinggapi lebih dari satu spesies.
h. Simbiose parasit permanen, yaitu bnetuk simbiose dimana parasitnya selama
hidupnya tetap pada hospesnya.
i. Simbiose parasit temporer, yaitu bentuk simbiose dimana parasit pada
hospesnya hanya sewaktu-waktu.

2. Hospes, yaitu organisme yang merupakan tempat atau organisme yang dihinggapi
parasit. Dikenal ada beberapa jenis hospes,yaitu :
a. Hospes defenitif, yaitu hospes dimana terdapat parasit dalam stadium dewasa di
dalam tubuh hospes terjadi perkembangbiakan secara seksual.
b. Hospes paratenik, yaitu hospes dimana parasit hanya terdapat dalam stadium
larva dan tidak dapat berkembang menjadi stadium dewasa dan tidak terjadi
perkembangbiakan parasit secara seksual dan parasit ini dapat ditularkan
kepada hospes defenitif karena parasit dalam stadium ini merupakan stadium
infektif.
c. Hospes intermediate (perantara), yaitu hospes dimana parasit di dalamnya
menjadi bentuk infektif yang siap ditularkan kepada hospes/manusia yang lain.
d. Hospes reservoir, yaitu hewan yang mengandung parasit yang sama dengan
parasit manusia dan dapat menjadi sumber infeksi bagi manusia.
e. Hospes obligat, yaitu hospes tunggal yang merupakan satu-satuny spesies yang
dapatmenjadi tuan rumah dari parasite dewasa.
f. Hospes alternatif, yaitu hospes utama yang mengandung parasit namun ada
spesies lain yang dapat sebagai hospes yang mengandung parasite dewasa.
g. Hospes insidental, yaitu bila suatu spesies secara kebetulan dapat mengandung
parasit dewasa, padahal hospes yang sesungguhnya adalah spesies lain.
3. Vektor, yaitu hewan yang di dalam tubuhnya terjadi perkembangbiakan dari parasit,
dan parasit itu dapat ditularkan kepada manusia atau hewan lainnya. Biasanya yang
berperan sebagai vektor adalah serangga.
4. Zoonosis, yaitu parasit hewan yang dapat ditularkan kepada manusia.
Secara umum, pembagian parasit berdasarkan atas jenis parasit tersebut yaitu
kelompok tumbuhan atau kelompok binatang. Atas dasar ini parasit dibagi menjadi:
a. Zooparasit, yaitu parasit yang berupa makanan. Zooparasit dibagi menjadi 3
yaitu : protozoa, metazoa (bersel banyak) seperti cacing dan arthropoda (antara
lain : serangga).
b. Fitoparasit, yaitu parasit yang berupa tumbuh-tumbuhan yang terdiri dari bakteri
(dianggap tumbuhan) dan fungi/jamur.

c. Spirochaeta dan Virus. Sebagian besar ilmuwan sependapat bahwa kelompok ini
tidak dimasukkan ke dalam kelompok binatang atau tumbuhan.
Selain pembagian tersebut di atas, parasit dapat dibagi berdasarkan letak atau
tempat dimana parasit tersebut hidup. Sehingga dikenal istilah :
1) Endoparasit, yaitu jenis parasit yang hidup di dalam tubuh hospes.
2) Ektoparasit, yaitu jenis parasit yang hidup di luar/dipermukaan tubuh hospes.
Parasitologi yang mempelajari hubungan antara manusia dan penyebab kesakitan
atau kematian bagi manusia disebut Parasitologi kedokteran (Medical parasitologi).
Penyebab kesakitan dan kematian pada manusia tesebut dapat dari protozoa, helminthes
(kelompok cacing), arthropoda, fungi (jamur) dan virus.
Selain pembagian parasit sebagaimana di atas, klasifikasi parasit dapat berdasarkan
jenis organisme parasit, sehingga pembagian parasit sebagai berikut :
1. Protozoa, parasit yang berasal dari protozoa dibagi dalam 4 kelas, yaitu : Sporozoa,
Rhizopoda, Flagellata/Mastighopora, dan Ciliata.
2. Helminthes (Helmin atau kelompok cacing), helmintes dibagi menjadi 2 kelas, yaitu
: Nemathelmintes,(antara lain Nematoda dan Plathelmintes (termasuk Trematoda
dan Cestoda).
3. Fungi/Jamur
4. Arthropoda. Dimana arthropoda yang penting dalam bidang kesehatan, adalah kelas
Hexapoda (insekta) yang terdiri dari 7 ordo.
B. Protozoologi
1. Defenisi
Protozoologi adalah ilmu yang berisi kajian tentang hewan bersel satu yang hidup
sebagai parasit pada manusia. Sedangkan protozoa adalah hewan bersel satu yang dapat
hidup secara mandiri atau berkelompok. Tiap protozoa merupakan satu sel yang merupakan
kesatuan yang lengkap, baik dalam susunan maupun fungsinya.

2. Morfologi
Struktur dari sel protozoa terdiri dari dua bagian,antara lain:
a. Sitoplasma, terdiri dari :
1) Ektoplasma yaitu bagian luar yang terdiri dari hialin yang jernih dan
homogen dengan struktur yang elastis. Fungsinya sebagai :
a) Alat pergerakan,
b) Mengambil makanan,
c) Ekskresi,
d) Respirasi, dan
e) Mempertahankan diri.
2) Endoplasma adalah bagian dalam dari sel, tidak jernih yang berbutir-butir
dan di dalamnya terdapat inti. Di dalam endoplasma ini terdapat vakuola
makanan, makanan cadangan, vakuola kontraktil, benda asing, dan benda
kromatoid.
b. Nukleus atau inti, adalah bagian terpenting yang diperlukan untuk
mempertahankan hidup dan untuk reproduksi serta untuk mengatur
metabolisme.
3. Reproduksi
Protozoa mempunyai dua cara reproduksi (berkembang biak), yaitu :
a. Cara aseksual (berkembang biak tanpa perkawinan)
b. Cara seksual (berkembang biak melalui perkawinan antara mikrogamet dan
makrogamet)
4. Klasifikasi Protozoa
Protozoa yang berperan sebagai parasit pada manusia dalam dunia kedokteran
dibagi dalam 4 kelas, yaitu :
a. Kelas Rhizopoda
Dari kelas Rhizopoda ini dapat dibagi menjadi 4 genus berdasarkan morfologi
dari intinya, yaitu :

1) Genus entamoeba dengan inti Entamoeba


Inti entamoeba, yaitu kariosom kecil terletak dibagian tengah inti (eksentris
atau sentris), disekeliling membran inti terdapat banyak granula kromatin. Yang
termasuk dalam genus ini ada beberapa spesies, yaitu :
a)

Entamoeba histolytica

b)

Entamoeba coli

c)

Entamoeba hartmani

d)

Entamoeba gynggivalis

2) Genus Endolimax dengan inti Endolimax


Inti endolimax, kariosomnya besar dibagian tengah inti, bentuk tidak beraturan
dan dihubungkan dengan membran inti oleh serabut akromatik, tidak
mempunyai kariosom perifer. Yang termasuk genus ini adalah spesies
Endolimax nana.
3) Genus Iodamoeba dengan inti Iodamoeba
Inti iodamoeba, kariosomnya besar terletak di bagian tengah inti dikelilingi
butir-butir akromatik, kromatin perifer tidak ada. Yang termasuk genus ini
adalah spesies Iodamoeba butschili.
4) Genus Dientamoeba
Parasit kecil, hanya terdapat stadium trofozoit yang mempunyai 2 inti
dientamoeba, kariosomnya di bagian tengah inti terdiri dari beberapa granula
kromatin dan membentuk lingkaran yang dihubungkan dengan membran inti

oleh serabut akromatik. Yang termasuk genus ini adalah spesies Dientamoeba
fragilis.
Manusia merupakan hospes dari 7 spesies Rhizopoda yang 6 diantaranya
berhabitat di rongga usus besar, yaitu : E. histolytica, E. coli, E. hartmani
,E.nana, I. butschili, dan D. fragilis, sedangkan satu spesies yaitu E. gynggivalis
hidup di rongga mulut manusia. Dari 7 spesies ini hanya Entamoeba histolytica
yang patogen sedang 6 spesies lainnya tidak patogen dan hidup komensal pada
manusia. Terdapat juga Amoeba yang hidup bebas dan patogen, yaitu spesies
Naegleria fauleri dari genus Naegleria dan Achanthanoeba culbertsoni dati
genus Achanthanoeba.
b. Kelas Ciliata
Kelas ciliata adalah golongan protozoa yang mempunyai badan yang diliputi
oleh silia, terdiri dari benang yang berasal dari ektoplasma yang pendek dan
halus dan sama panjang. Silia ini merupakan bulu getar yang dapat bergerak.
Dari kelas ini hanya satu genus dan satu spesies yang penting dalam ilmu
kedokteran, yaitu Balantidium coli.
c. Kelas Mastigophora (Flagellata)
Parasit dari kelas ini merupakan protozoa yang mempunyai satu atau lebih flagel
yang mempunyai kekuatan untuk bergerak. Parasite ini dibagi menjadi dua
golongan berdasarkan habitatnya, yaitu :
1) Flagellata intestinalis, oral, dan genital yang menginfeksi saluran
pencernaan, rongga mulut, dan tractus urogenital. Dari golongan ini yang
patogen hanya ada dua spesies, yaitu :
a) Giardia lamblia

b) Trichomonas vaginalis
2) Flagellata darah dan jaringan, yang menginfeksi sistem vaskular dan
bermacam jaringan tubuh. Dari golongan ini yang patogen terdapat dua
genus, yaitu :
a) Genus Leishmania yang terdiri dari spesies L. donovani, L. tropica, dan
L. brasiliensis.
b) Genus Trypanosoma, yang terdiri dari spesies T. rhodesiense, T.
gambiense, dan T. cruzi.
Hampir semua golongan flagellata mempunyai stadium trofozoit dan
stadium kista, kecuali genus Trichomonas, yang hanya mempunyai stadium
trofozoi. Stadium trofozoit mempunyai beberapa flagel yang keluar dari
bleparoplas. Juga terdapat membran bergelombang yang mempunyai dasar
costa. Kadang-kadang ada struktur yang tampak sebagai garis dari anterior
ke posterior yang disebut axostyl. Ada beberapa flagellata yang mempunyai
sitosoma. Cara berkembangbiak dari protozoa ini secara aseksual dengan
belah pasang longitudinal.
d. Kelas Sporozoa
Parasit yang termasuk kelas sporozoa ini berkembangbiak bergantian secara
seksual dan aseksual. Perkembangbiakan ini dapat terjadi dalam satu hospes
yang ditemukan pada Coccidia, sedang pada Haemosporidia diperlukan dua
macam hospes yang berlainan jenis. Perkembangbiakan secara aseksual disebut
Schizogoni dan perkembangbiakan secara seksual disebut Sporogoni. Parasite ini
dapat hidup di dalam atau di luar berbagai macam vertebrata dan invertebrata.
Spesies dari sporozoa yang dapat menginfeksi manusia terdiri dari :
1) Coccidia, yang terdiri dari :
a) Genus Eimeria

b) Genus Isospora
c) Genus Toxoplasma
2) Haemosporidia, yang terdiri dari :
a) Plasmodium
5. Protozoa yang menginfeksi manusia
a. Entamoeba histolytica
1. Defenisi
Parasit ini pertama kali ditemukan oleh Lambl tahun 1859, sedang 1875
Losch membuktikan sifat patogen dari parasit ini, dan Schaudinn (1903)
dapat membedakan jenis Amoeba yang patogen dan yang apatogen.
Domain

: Eukaryota

Filum

: Amoebozoa

Kelas

: Archamoebae

Ordo

: Amoebida

Genus

: Entamoeba

Spesies

: Entamoeba histolytica

Parasit ini tersebar luas di seluruh dunia, tapi lebih banyak di daerah tropis
dan subtropis daripada di daerah beriklim sedang. Hospes dari parasit ini
adalah manusia dan kera. Di Cina, anjing dan tikus liar merupakan sumber
infeksi bagi manusia. Walaupun bukan merupakan faktor penting dalam
penyebaran penyakit pada manusia, maka hewan-hewan ini dianggap sebagai
hospes reservoir dari E. histolytica.
Bila kista matang tertelan, kista tersebut sampai di lambung dengan keadaan
utuh karena dinding kista tahan terhadap asam lambung. Namun pada ph
netral atau alkali, organisme dalam kista akan aktif untuk kemudian
berkembang menjadi 4 tropozoit metakistik. Stadium ini kemudian

berkembang lebih lanjut menjadi tropozoit di dalam usus besar. Dirongga


usus halus dinding kista dihancurkan , terjadi ekskistasi dan keluarlah
bentuk-bentuk minuta yang yang masuk kerongga usus besar. Bentuk minuta
dapat berubah menjadi bentuk histilytica yang patogen dan hidup di mukosa
usus besar dan dapat menimbulkan gejala. Dengan aliran darah, bentuk
histolytica dapat tersebar ke hati, paru-paru, dan otak.
2. Patologi dan Gejala Klinik
Masa inkubasi dari infeksi E. histolytica ini berkisar antara 4 sampai 5 hari.
Saat stadium histolytica dari parasit ini memasuki mukosa usus besar, maka
pada stadium ini akan mengeluarkan enzim histolisin yang akan
menghancurkan jaringan, lalu stadium histolytica ini akan memasuki lapisan
submukosa setelah menembus lapisan muskularis mukosa. Di lapisan
submukosa, Amoeba ini akan memperbanyak diri dengan cara pembelahan
menjadi jumlah yang banyak dan membentuk koloni dan menghancurkan
jaringan di sekitarnya dan menjadi bahan yang sudah dihancurkannya
menjadi makanan. Kemudian Amoeba akan bergerak ke segala arah dan
menghancurkan daerah submukosa dan akan membentuk abses yang
akhirnya pecah dan menimbulkan ulkus. Lesi yang terjadi merupakan ulkusulkus kecil yang menyebar di mukosa usus. Ulkus ini pada irisan vertical
mempunyai gambaran seperti botol, yaitu dengan lubang yang sempit di
lapisan mukosa, tapi melebar pada dasarnya di lapisan submukosa. Tepi
ulkus ini tidak teratur agak meninggi bergerigi dan dasarnya bergaung.
Stadium histolytica akan ditemukan pada dasar dinding ulkus. Bila terjadi
peristaltik usus maka stadium ini akan dikeluarkan bersama isi ulkus ke

rongga usus dan dapat menyerang mukosa usus di sekitarnya dan dapat pula
keluar dari tubuh manusia bersama tinja. Tinja yang dikeluarkan dari tubuh
penderita akan bercampur dengan lender dan darah. Tempat yang sering
dihinggapi oleh parasite ini adalah sekum, rektum, dan kolon sigmoid. Bila
infeksi berat maka dapat mengenai seluruh kolon dan rektum.
Disentri amoeba merupakan bentuk dari amoebiasis. Gejala yang
ditimbulkan seperti buang air besar disertai darah atau lendir, sakit perut,
hilangnya selera makan, berat badan turun, demam dan rasa dingin.
3. Diagnosis
Diagnosis dapat ditegakkan dengan :
a)
b)
c)
d)

Diagnosis klinik,
Diagnosis laboratorium,
Radio foto, dan
Tes immunologi.

Diagnosis untuk Amoebiasis histolytica dapat dibagi :


1) Amoebiasis intestinal akut
Amoebiasis intestinal akut terjadi jika seseorang mengalami gejala yang
berat dan berlangsung dalam waktu kurang dari 1 bulan. Hal ini teradi
karena peradangan akut di kolon dengan adanya ulkus yang
menimbulkan gejala yang dikenal syndrome disentri. Gejala tersebut
merupakan gejala yang terdiri dari diare encer dengan tinja yang
bercampur darah dan lendir.
Amoebiasis intestinal akut, dapat ditegakkan dengan :

a) Gejala klinik, yaitu diare yang terjadi sekitar 10 kali sehari disertai
demam dan sindroma disentri.
b) Laboratorium, ditemukan E. histolytica stadium histolytica pada tinja
encer yang bercampur darah. Pada pemeriksaan darah terjadi
leukositosis.
2) Amoebiasis intestinal kronis
Biasanya berupa gejala ringan tanpa demam, ada rasa tidak nyaman di
perut dan rasa mual disertai diare yang bergantian dengan obstipasi. Tinja
yang dikeluarkan biasanya padat, kadang-kadang diliputi darah dan lendir
yang tidak merata. Amoebiasis intestinal kronis dapat ditegakkan dengan:
a) Gejala klinik, diare bergantian dengan obstipasi. Bila terjadi eksa
serbasi akut, biasanya terjadi sindroma disentri.
b) Laboratorium, menemukan E. hisolytica stadium kista pada tinja yang
agak padat. Pada pemeriksaan ini lebih sulit untuk menemukan
parasite ini, maka perlu dilakukan pemeriksaan tinja berulang sampai
3 kali. Dapat pula dilakukan sigmoidoskopi dan reaksi serologi.
3) Amoebiasis hepatis
a) Pemeriksaan klinik, penderita datang dengan kesakitan, membungkuk
seperti menggendong perut sebelah kanan, disertai demam, berat
badan menurun, dan nafsu makan berkurang atau sama sekali tidak
ada nafsu makan. Pada palpasi teraba hati yang membesar dengan
nyeri tekan.
b) Laboratorium, dalam darah ditemukan leukositosis. Pada biopsy dasar
abses ditemukan E. histolytica stadium histolytica. Bila E. histolytica
tidak ditemukan maka dapat dilakukan tes serologi seperti:
Tes haemaglutinasi
Tes immunologi
Pada rontgen foto biasanya ditemukan peninggian diafragma.
4) Amoebiasis paru (Pulmonary amoebiasis)

a) Pemeriksaan klinik, sukar dibedakan dengan infeksi paru lainnya, hal


ini karena tidak ada laporan mengenai gejala klinik yang khas dari
Pulmonary amoebiasis.
b) Laboratorium, sputum penderita yang berasal dari penyebaran
amoebiasis secara hematogen akan ditemukan E. histolytica stadium
histolytica.
4. Pengobatan
Drug of choise dari E. histolytica stadium histolytica pada dinding usus
besar, hati, dan lesi pada alat yang terkena penyebaran adalah :
a) Emetin hydro chlorida dan Dehydroemetin secara parenteral
Emetin hydro chloride efektif terhadap bentuk histolytika. Dan tidak
dianjurkan pada wanita hamil dan penderita gangguan ginjal dan
jantung. DHE kurang toksik dibandingkan Emetin Hydro chlorida.
Pemberian oral toksisitasnya tinggi dan absorpsinya rendah.
Dosis :
Dewasa
Anak > 8 tahun
Anak < 8 tahun
b) Metronidazol

: 65 mg/hari
: < 20 mg/hari selama 4-6 hari atau 5-7 hari
: < 10 mg / hari

Metronidazol efektif terhadap bentuk histolytika dan kista. Absorbsi


pada pemberian oral baik, serta waktu paruh obat ini 8 10 jam.
Metronodazol di ekskresikan malalui urin, air liur, ASI, cairan vagina,
dan cairan seminal.
Dosis :

Dewasa

: 3 x 750 mg / hari selama 5-10 hari

Anak
: 35 50 mg / KgBB / hari dalam 3 dosis
c) Iodochlor hydroxiquin atau Clioquinol
Efektif untuk bentuk kista. Hanya efektif untuk Amoebiasis Intestinal.
Pada pemberian oral, sebagian obat akan diserap dari yang diberikan
dan ditemukan di dalam urine.
Dosis : Sediaan tablet 250 mg
Dosis Dewasa : 3 x 650 mg selama 20 hari
Dosis anak : 30 - 40 mg / KgBB / hari, terbagi dalam tiga dosis
d) Paromomycin
Paromomycin termasuk dalam golongan aminoglycoside dan bersifat
amoebicida secara invitro maupun invivo. Bekerja langsung terhadap
Amoeba serta bersifat anti bakteri

baik terhadap organisme normal

maupun patogen dalam usus. Pemberian oral hanya sedikit yang di


absorbs dan sangat toksik terhadap ginjal.
Dosis :

25 35 mg / KgBB / hari, dan terbagi dalm 3 dosis. Diberikan

bersama makanan selama 5 10 hari.


5. Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan secara perorangan seperti mencuci tangan
dengan sabun sesudah mencuci anus, dan kebersihan lingkungan seperti
membiasakan memasak makanan dan minuman dengan sempurna,
menghindari makanan dan minuman yang terkontaminasi dengan kotoran
manusia. Tidak memakai tinja manusia sebagai pupuk. Membuang tinja dan
kotoran pada tempat yang tidak akan terkontaminasi dengan makanan.

C. Helmintologi
1. Defenisi
Helmintologi kedokteran adalah ilmu yang berisi kajian tentang parasit yang
hidup pada manusia yang berupa cacing.
Berdasrkan taksonomi, parasit cacing yang hidup pada manusia dibagi menjadi :
a. Nemathelminthes = cacing benang, yaitu yang berbadan bulat panjang
(silindris), mempunyai rongga badan,dan berjenis kelamin terpisah (jantan dan
betina),terdiri dari :
1) Nematoda intestinal
2) Nematode jaringan
b. Plathyhelminthes = cacing pipih, tidak mempunyai rongga badan, dan biasanya
mempunyai alat kelamin ganda atau hermafrodit, terdiri dari :
1) Trematoda (cacing daun)
a)

Berbentuk daun

b) Tidak bersegmen
c)

Mempunyai alat pencernaan

2)

Cestoda (cacing pita)

a)

Berbentuk pita

b)

Badan beruas-ruas (bersegmen)

c) Tidak mempunyai alat pencernaan


2.

Morfologi

Nematoda merupakan jumlah spesies yang terbesar di antara cacing yang hidup sebagai
parasit pada manusia. Cacing yang hidup sebagai parasit pada manusia mempunyai ciri-ciri
sebagai berikut :
a. Tidak bersegmen, berbentuk bulat seperti benang, tubuh dilipiti kutikula.
b.

Ukuran besar dan panjang berbeda-beda dari 2 mm sampai lebih dari 1 meter.

c.

Mempunyai kepala, ekor, dinding dan rongga badan, saluran pencernaan, sistem saraf,

sisten ekskresi, dan sistem reproduksi yang terpisah


d.

Pada umumnya bertelur, adapula yang vivipara atau berkembangbiak secara

partogenesis.
e.

Bentuk yang sudah dewasa tidak bertambah banyak dalam tubuh manusia.

f.

Pada umumnya mempunyai fase di luar tubuh hospes dengan atau tanpa hospes

perantara.
g.

Telur atau larva yang dikeluarkan daritubuh hospes dengan berbagai cara, sedangkan

jumlah telur yang dikeluarkan dari tubuh hospes bervariasi antara 20 200.000 butir
sehari.
h.
i.

Larva dalam kehidupannya menglami pertumbuhan dengan pergantian kulit


Stadium infektif masuk ke dalam tubuh manusia dapat secara aktif tertelan atau

dimasukkan oleh vector dengan tusukan, gigitan, dan sebagainya.


3.

Klasifikasi Parasit Cacing

a.

Nemathelminthes (cacing benang)

1)

Nematoda intestinal

Nematoda intestinal adalah nematoda yang berhabitat di saluran pencernaan manusi dan
hewan. Diantara nematoda intestinal ini terdapat bebrapa spesies yang tergolong Soil
Transmitted Helminth, yaitu nematode yang dalam siklus hidupnya untuk mencapai
stadium infektif,memerlukan tanah dengan kondisi tertentu, diantaranya Ascaris
lumbricoides,

Necator

americanus,

Ancylostoma

duodenale,

Trichuris

trichuria,

Strongiloides stercoralis, dan beberapa spesies Trichostrogylus. Sedangkan yang tidak


memerlukan tergolong Soil Transmitted Helminth

adalah Oxyuris vermicularis dan

Trichinella spiralis

2)

Nematoda jaringan

Dalam mempelajari nematode jaringan, perlu diketahui istilah yang penting yaitu
Periodisitas. Periodisitas adalah istilah yang dipakai untuk menegakkan diagnosis dari
infeksi nematoda jaringan pada manusia. Periodisitas adalah periode saat mikrofilaria
(larva dari nematoda jaringan) berada dalam darah tepi. Periodisitas ini ada beberapa
macam, yaitu :
a)

Periodisitas nocturna yaitu saat mikrofilaria berada dalam darah tepi pada malam hari

b)

Periodisitas diurnal yaitu saat mikrofilaria berada dalam darah tepi pada siang hari.

c)

Sub-periodisitas nocturna, yaitu saat mikrofilaria berada dalam darah tepi malam hari

lebih banyak dari pada siang hari.


d)

Sub-periodisitas diurna, yaitu saat mikrofilaria berada dalam darah tepi siang hari lebih

banyak daripada malam hari.

e)

Non-periodik, yaitu saat mikrofilaria berada dalam darah tepi sama siang dan malam,

jadi setiap saat mikrofilaria dapat ditemukan dalam darah tepi.


Diantara nematoda jaringan yang penting dalam dunia kedokteran, ada beberapa spesies,
yaitu :
a) Wuchereria bancrofti
b)

Bruhia malayi

c)

Brugia timori

d)

Loa-loa

e)

Oncocerca volvulus

f)

Dipetalonema perstans

b.

Plathyhelminthes (cacing pipih)

1) Trematoda (cacing daun)


Pembagian trematoda berdasarkan habitatnya, antara lain :
a) Trematoda hati (liver flukes)
-

Clonorchis sinensis

Opisthorchis felinus

Opisthorchis viverini

Fasciola hepatica

b) Trematoda usus (intestinal flukes)

Fasciolapsis buski

Heterophyes heterophyes

Watsonius watsoni

Metogonimus yocogaway

Gastrodiscoides hominis

Echino stomatidae

c) Trematoda paru-paru (lung flukes)


-

Paragonius westermani

d) Trematoda darah
-

Schistosoma japonicum

Schistosoma mansoni

Schistosoma haematobium

2)

Cestoda (cacing pita)

Cestoda terbagi dalam 2 ordo, yaitu :


a)

Ordo Pseudophyllidea

b)

Ordo Cyclophillidea

Bentuk badan seperti pita dan terdiri dari skolek, leher antara skolek dan badan, serta
strobila.

Cyclophillidea

umumnya

mempunyai

satu

hospes

perantara,

sedang

Pseudophyllidea mempunyai dua hospes perantara.


4.

Cacing yang menginfeksi manusia

a.

Oxyuris vermicularis (Enterobius vermicularis, Linnaeus 1758)

1)

Defenisi

Taksonomi Enterobius vermicularis menurut Jeffry dan Leach adalah sebagai berikut :
Kingdom

: Metazoa

Philum

: Nemathelmintes

Kelas

: Nematoda

Sub kelas

: Plasmidia

Ordo

: Rhabditia

Famili

: Oxyuroidea

Genus
Spesies

: Enterobius
: Enterobius vermicularis

Cacing ini hidup di bagian akhir dari usus halus, didekat usus besar. Cacing ini berukuran
8-13 mm pada betina dan 2-5 mm pada jantan, mulut mempunyai pelebaran seperti sayap
disebut alae, bulbus esofagusnya jelas, ekor runcing, dan badan kaku, uterus gravid penuh
berisi telur. Cacing betina dalam sehari dapat menghasilkan telur sebanyak 10.000-11.000
butir. Telur lonjong asimetris dengan dinding dua lapis. Dalam waktu 6 jam telur dilipatan

anus akan menjadi infektif. Manusia akan terinfeksi dengan termakannya telur secara
autoinfeksi dan retro infeksi.
Infeksi biasanya terjadi melalui 2 tahap. Tahap pertama, telur cacing berpindah dari daerah
sekitar anus penderita ke pakaian, sprei, dan mainan. Kemudian melalui jari-jari tangan,
telur cacing pindah ke mulut anak dan akhirnya tertelan. Telur cacing juga dapat terhirup
dari udara kemudian tertelan.
Setelah telur cacing tertelan, lalu larvanya menetas di dalam usus halus dan tumbuh
menjadi cacing dewasa di dalam usus besar (proses pematangan ini memakan waktu 2-6
minggu). Cacing dewasa betina bergerak ke daerah di sekitar anus (biasanya pada malam
hari) untuk menyimpan telurnya di dalam lipatan kulit anus penderita. Telur tersimpan
dalam suatu bahan yang lengket. Bahan ini dan gerakan dari cacing betina inilah yang
menyebabkan gatal-gatal. Telur dapat bertahan hidup di luar tubuh manusia selama 3
minggu pada suhu ruangan yang normal. Tetapi telur bisa menetas lebih cepat dan cacing
muda dapat masuk kembali ke dalam rektum dan usus besar bagian bawah.
2)

Patologi dan Gejala Klinik

Gejala terpenting adalah pruritus ani yang disebabkan karena cacing betina yang
bermigrasi ke daerah anus sehingga penderita merasa gatal dan menggaruk sehingga
menimbulkan luka disekitar anus. Keadaan ini sering terjadi pada waktu malam hari hingga
penderita terganggu tidurnya dan menjadi lemah.
Selain pruritus ani, gejala lainnya yaitu berkurangnya nafsu makan, berat badan menurun,
aktivitas meninggi, enuresis, cepat marah, gigi menggertak dan insomnia.
3)

Diagnosa

Diagnosa dapat ditegakkan dengan cara anal swab, yaitu pemeriksaan dengan mengadakan
hapus anus penderita dengan menggunakan kertas selofan, kemudian kertas dihapuskan ke
kaca benda object glass untuk dibuat preparat, disini baru akan dapat terlihat telur cacing
tersebut. Guna menghindari hasil negatif palsu hendaknya specimen apusan perianal ini
diambil sebelum daerah perianal terpapar air dalam pencucian.
4)

Pengobatan

Pada pengobatan dianjurkan seluruh keluarga dari penderita diberi pengobatan pyrantel
pamoat, mebendazole, albendazole, memiliki efektifitas yang tinggi untuk mengobati
infeksi cacing ini. Albendazole diberikan dengan dosis 400 mg per oral dosis tunggal pada
anak > 2 tahun. Anak < 2 tahun diberikan 100 mg. mebendazole diberikan dengan dosis
100 mg per oral dosis tunggal. Pyrantel pamoat diberikan dengan dosis 10 mg / KgBB.
Keseluruhan obat jika diperlukan dapat diulangi 2 4 minggu kemudian.
5)

Pencegahan

Menjaga kebersihan kuku dan pakaian, membiasakan makan makanan yang terlindungi
dari pencemaran, membiasakan anak selalu mengganti pakaian setelah mandi, serta
membersihkan lantai rumah setiap hari dan tidak memakai alas kaki ke dalam rumah.

D. Entomologi
1.

Defenisi

Secara terbatas, Entomologi adalah ilmu yang mempelajari serangga. Akan tetapi, arti ini
seringkali diperluas untuk mencakup ilmu yang mempelajari artropoda (hewan beruasruas) lainnya, khususnya laba-laba dan kerabatnya (Arachnida atau Arachnoidea), serta
luwing dan kerabatnya (Millepoda dan Centipoda). Istilah ini berasal dari dua perkataan
Latin - entomon bermakna serangga dan logos bermakna ilmu pengetahuan.
Entomologi kedokteran adalah ilmu yang berisi kajian tentang serangga dan hewan yang
termasuk filum Arthropoda yang mempunyai hubungan dengan ilmu kedokteran serta
bagaimana cara pemberantasannya.
2.

Morfologi umum

Serangga pada umumnya mempunyai 4 tanda morfologi yang khas, yaitu :


a.

Badan beruas-ruas

b.

Umbai-umbai (appendages) beruas-ruas

c.

Mempunyai eksoskelet

d.

Bentuk badan simetris bilateral

Bentuk badan yang beruas-ruas itu disebelah luar dilapisi oleh lapisan khitin yang pada
bagian tertentu mengeras dan membentuk eksoskelet yang berfungsi sebagai penguat tubuh
dan pelindung alat dalam serta tempat melekatnya otot, pengaturan penguapan air, dan
penerus rangsangan yang berasal dari luar dan pengatur suhu tubuh.
Umbai-umbai yang beruas-ruas akan tumbuh menurut fungsinya, kepala akan tumbuh
menjadi antenna dan mandibular. Pada thorax tumbuh menjadi kaki dan pada abdomen
tumbuh menjadi kaki pengayuh yang disebut swimmerets.

Arthropoda ini juga mempunyai saluran pencernaan, saluran pernapasan yang disebut
trakea, dan saraf yang terdiri dari otak dan ganglion, perdaran darah terbuka, dan sistem
reproduksi dengan jenis kelamin terpisah jantan dan betina.
3.

Siklus hidup

Dalam proses pertumbuhanya Arthropoda menjadi lebih besar, sehingga eksoskelet yang
membungkus tubuhnya akan terdesak dan pecah lalu terjadi pengelupasan kulit dan tumbuh
eksoskelet yang baru. Untuk pertumbuhan serangga ini dipengaruhi oleh hormon
juvenile dan untuk pengelupasan kulit dipengaruhi oleh ecdyson. Selama masa
pertumbuhannya, serangga mengalami perubahan brntuk yang disebut metamorfosis, yang
dibagi menjadi dua yaitu :
a.

Metamorfosis sempurna yang terdiri dari stadium: telur larva pupa dewasa.

b.

Metamorfosis tidak sempurna yang terdiri dari stadium: telur larva nimfa dewasa.

4.

Peranan dalam dunia kedokteran

a.

Serangga sebagai penular penyakit

Dalam menularkan penyakit serangga ini dapat melalui dua cara, yaitu :
1)

Penularan secara mekanik

2)

Penularan secara biologic

b.

Serangga sebagai parasit

Serangga yang hidup sebagai parasit dan menimbulkan penyakit kepada manusia
berdasarkan habitatnya dapat dibagi menjadi :

1)

Endoparasit yang hidup atau mengembara didalam jaringan tubuh manusia sebagai

hospes.
2)

Ektoparasi yang hidup pada permukaan tubuh hospes.

3)

Parasit permanen, yaitu seluruh atau sebagian besar hidupnya menghinggapi satu

hospes dan tidak pindah-pindah.


4)

Parasit periodik (tidak permanen), yaitu parasit yang berpindah-pindah dari satu

hospes ke hospes laindalam lingkaran hidupnya.

c.

Serangga sebagai pengandung toksin

Serangga sebagai pengandung toksin dapat memasukkan toksinnya kepada manusia dengan
cara :
1)

Kontak langsung

2)

Gigitan

3)

Sengatan

4) Tusukan
d.

Serangga sebagai penyebab alergi pada orang yang rentan

Serangga sebagai penyebab alergi dapat ditemukan pada tungau debu, dan tusukan nyamuk
dapat menimbulakan gatal-gatal,
5.

Pembagian Arthropoda

Berdasarkan penting perananya dalam dunia kedokteran, maka filum arthropoda dibagi
sebagai berikut :
a.

Kelas Insecta

b.

Kelas Arachnida

c.

Kelas Crustacea

d.

Kelas Chilopoda

e.

Kelas Diplopoda

6.

Penyakit yang disebabkan oleh serangga

a.

Pedikulosis

1)

Definisi

Infestasi Kutu (Pedikulosis) adalah serbuan kutu yang menyebabkan rasa gatal hebat dan
bisa menyerang hampir setiap kulit tubuh. Pedikulosis adalah penyakit yang disebabkan
infestasi dari tuma Pediculus humanus var. capitis.
2)

Morfologi dan gejala klinis

Pediculus humanus capitis dari genus Pediculus, family Pediculidae, ordo Anoplura, kelas
Insekta.

Bentuk tuma ini lonjong, pipih dorso-ventral, berukuran 1,0-1,5 mm, warna kelabu, kepala
berbentuk segitiga yang mempunyai mata, sepasang antenna yang terdiri dari 3 segmen
yang menyatu dan abdomen yang terdiri dari 9 ruas yang menyatu, mempunyai 3 pasang
kaki, yang setiap kaki dilengkapi dengan kuku yang dipergunakan untuk berjalan dari satu
helai rambut ke helai yang lain dengan menjepit rambut dengan kukunya. Tuma ini dapat
berpindah dari satu hospes ke hospes yang lain.metamorfosis tidak sempurna, telur (nits)
berwarna putih direkatkan pada rambut dengan perekat kitin. Tuma ini menghisap darah
sedikit demi sedikit dalam waktu lama. Waktu yang diperlukan untuk pertumbuhan
daritelur-nimfa-dewasa kira-kira 18 hari dan tuma dewasa dapat hidup selama 27 hari.
Siklus hidup Pediculus humanus capitis terdiri dari stadium telur, nimfa dan dewasa.
Setelah perkawinan, kutu betina dewasa akan menghasilkan 1 sampai 6 telur per hari
selama 30 hari. Telur kutu berbentuk oval dan umumnya berwarna putih. Telur diletakkan
oleh betina dewasa pada pangkal rambut (sekitar 1 cm dari permukaan kulit kepala) dan
bergerak ke arah distal sesuai dengan pertumbuhan rambut. Telur kutu ini akan menetas
setelah 7-10 hari, dengan meninggalkan kulit atau selubungnya pada rambut.
Telur yang menetas akan menjadi nimfa. Bentuknya menyerupai kutu dewasa, namun
dalam ukuran kecil. Nimfa akan menjadi dewasa dalam waktu 9-12 hari setelah menetas.
Untuk hidup, nimfa membutuhkan makanan berupa darah.
Kutu dewasa mempunyai 2 mata dan 3 pasang kaki, berwarna abu-abu dan menjadi
kemerahan jika telah menghisap darah. Kutu kepala tidak bersayap, memipih di bagian
dorso-ventral dan memanjang. Kutu dewasa dapat merayap untuk berpindah dengan
kecepatan sekitar 23 cm per menitnya. Rentang hidupnya sekitar 30 hari dan dapat bertahan
hidup di lingkungan bebas sekitar 3 hari.
3)

Patogenesis dan gejala klinis

Lesi pada kulit kepala disebabkan oleh tusukan tuma dan mulutnya pada waktu menghisap
darah. Lesi sering ditemukan di belakang kepala atau leher. Air liur yang merangsang
timbulnya papel merah dan rasa gatal yang hebat.
Pada infeksi berat bisa terjadi infeksi sekunder hingga helaian rambut akan melekat satu
dengan lain dan mengeras. Dapat ditemukan banyak tuma dewasa, telur, dan eksudat nanah
yang berasal dari luka gigitan yang meradang. Keadaan yang berat ini disebut Plica
palonica yang mungkin pula akan ditumbuhi jamur. Infestasi mudah terjadi dengankontak
langsung.
4)

Diagnosa

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik (ditemukan kutu).
Kutu betina melepaskan teluar berwarna abu-abu keputihan yang berkilau dan tampak
sebagai butiran kecil yang menempel di rambut.
5)
a)

Pengobatan
Permethrin 1 % merupakan pengobatan kutu yang paling aman, paling efektif dan

paling nyaman. Digunakan secara topical dalam waktu 10 menit.


b)

Lindane (tersedia dalam bentuk krim, losyen atau shampoo) juga bisa mengatasi kutu

tetapi tidak dapat diberikan kepada anak-anak karena bisa menimbulkan komplikasi
neurologis. Kadang digunakan piretrin.
c)

Ketiga obat tersebut bisa menimbulkan iritasi. 10 hari setelah pemakaian, ketiga obat

tersebut harus dioleskan kembali untuk membunuh kutu yang baru menetas.

d)

Malathion tersedia dalam bentuk lotion 0,5% dan 1% digunakan untuk kutu di kepala

selain itu pula dapat digunakan anti parasit lainnya seperti Ivermectin, Lindane, Isopropyl
myristate , Spinosad.
e)

Jika sumber infestasi (sisir, topi, pakaian dan seprei) tidak dibersihkan melalui

pencucian, penguapan atau dry cleaning, maka kutu bisa bertahan hidup dan kembali
menginfeksi manusia
6)

Pencegahan

Pencegahan dilakukan dengan menjaga kebersihan dan menghindari kontak dengan


pengandung tuma ini. Pemberantasan dilakukan dengan tangan, sisir, atau dengan
menggunakan insektisida golongan klorida (BHC). Pengobatan sebaiknya dilakukan
setelah mencukur rambut dikepala yang terinfeksi tersebut.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kata parasitologi berasal dari kata parasitos yang berarti jasad yang mengambil makanan,
dan logos yang berarti ilmu. Berdasarkan istilah, parasitologi adalah ilmu yang
mempelajari organisme yang hidup untuk sementara ataupun tetap di dalam atau pada
permukaan organisme lain untuk mengambil makanan sebagian atau seluruhnya dari
organisme tersebut.

Protozoologi adalah ilmu yang berisi kajian tentang hewan bersel satu yang hidup sebagai
parasit pada manusia. Sedangkan protozoa adalah hewan bersel satu yang dapat hidup
secara mandiri atau berkelompok.
Helmintologi kedokteran adalah ilmu yang berisi kajian tentang parasit yang hidup pada
manusia yang berupa cacing. Berdasrkan taksonomi, parasit cacing yang hidup pada
manusia dibagi menjadi dua yaitu nemathelmintes dan Platyhelminthes.
Entomologi berasal dari dua kata Latin yaitu entomon bermakna serangga dan logos
bermakna ilmu pengetahuan. Jadi, entomologi kedokteran adalah ilmu yang berisi kajian
tentang serangga dan hewan yang termasuk filum Arthropoda yang mempunyai hubungan
dengan ilmu kedokteran serta bagaimana cara pemberantasannya.
B. Saran
Terhadap akibat dari gangguan parasit terhadap kesejahteraan manusia, maka perlu
dilakukan usaha pencegahan dan pengendalian penyakitnya. Maka dari itu, sangat
diperlukan suatu pengetahuan tentang kehidupan organisme parasit yang bersangkutan
selengkapnya.

DAFTAR PUSTAKA

harty-parasitologi.blogspot.com/
firanuudianhusada.blogspot.com/p/parasitologi-a.html
id.wikipedia.org/wiki/Parasitologi
vitasernavianti.wordpress.com/2013/10/27/makalah-entomologi/
id.wikipedia.org/wiki/Entomologi
Rosdiana safar, Hj. 2009. Parasitologi kedokteran. Yrama widya
ADAM, Syamsunir. 1992. Dasar-dasar mikrobiologi parasitologi untuk perawat. Jakarta:
EGC
M. Hasyimi. 2010. Mikrobiologi parasitologi untuk mahasiswa keperawatan. Jakarta: TIM