Anda di halaman 1dari 7

Nama Peserta: dr.

Faris Firmansyah
Nama Wahana: RSUD Wahidin Sudirohusodo Mojokerto
Topik : Kasus medikolegal; Aspek etik AIDS dan kerahasiaan medik
Tanggal (Kasus): 07 Oktober 2015
Nama Pasien : Sdr. B

No. RM:

Tanggal Presentasi:

2015

Pendamping: dr. Wawan Setyo purnomo

Tempat Presentasi: Ruang Persentasi RSUD Wahidin Sudirohusodo Mojokerto


Obyek Presentasi:
Keilmuan

Keterampilan

Diagnostik
Manajemen
Neonatus
Bayi
Anak

Penyegaran

Tinjauan Pustaka

Masalah
Istimewa
Remaja
Dewasa
Lansia

Bumil

Deskripsi: Laki-laki berusia 25 tahun, belum menikah, meminta agar hasil pemeriksaan VCT
dirahasiakan dari keluarga dan calon istrinya.
Tujuan : mengetahui aspek etik AIDS dan kerahasiaan medik
Bahan bahasan:

Tinjauan Pustaka

Cara

Diskusi

Riset

Kasus

Presentasi dan diskusi

E-mail

Audit
Pos

Membahas:
Data utama untuk bahan diskusi:
1. Diagnosis/ gambaran klinis :
Seorang pasien laki-laki berusia 25 tahun datang ke IGD diantar keluarganya datang dengan
keluhan demam sejak dua minggu yang lalu, sariawan sebulan belum sembuh, badan lemas, berat
badan menurun drastis sejak enam bulan yang lalu, nafsu makan menurun, mual muntah, BAB dan
BAK tidak ada keluhan.
2. Riwayat pengobatan:
Pasien belum pernah mendapatkan pengobatan sebelum tiba di RS, riwayat mengkonsumsi
alkohol dan obat terlarang disangkal, riwayat penggunaan jarum suntik bersama disangkal, riwayat
transfusi darah disangkal.
3. Riwayat kesehatan/penyakit:
Riwayat penyakit serupa sebelumnya disangkal, riwayat penyakit jantung, paru, ginjal, dan
kencing manis disangkal.
4. Riwayat keluarga:
Tidak ada keluarga yang menderita penyakit sama dengan pasien.
5. Riwayat pekerjaan:
Sejak tahun 2009 bekerja di Batam sebagai karyawan pabrik.
6. Lain-lain:

Pasien berencana akan menikah dengan calon istrinya.


Daftar Pustaka:
1. Hanafiah, M. Jusuf. 1999. Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan. Jakarta: EGC.
2. Samil, R. Suprapti. 2001. Etika Kedokteran Indonesia. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
3. Kemenkes RI. 2013. Pedoman Nasional Tes dan Konseling HIV dan AIDS. Jakarta: Depkes RI.
Hasil Pembelajaran:
1. Mengetahui gejala dan tanda penyakit HIV/AIDS.
2. Mengetahui aspek etik AIDS dan kerahasiaan medik.

Rangkuman hasil pembelajaran portofolio:


1. Subyektif :
Seorang laki-laki, 25 tahun, belum menikah, mengeluh demam sejak dua minggu yang lalu,
sariawan sebulan belum sembuh, badan lemas, berat badan menurun drastis sejak enam bulan
yang lalu, nafsu makan menurun, mual muntah, BAB dan BAK tidak ada keluhan. Riwayat
mengkonsumsi obat terlarang, penggunaan jarum suntik, dan transfusi darah disangkal. Sejak
tahun 2009 bekerja di Batam sebagai karyawan pabrik. Pasien berencana akan menikah dengan
calon istrinya.
2. Objektif :
PEMERIKSAAN FISIK
- Keadaan umum : tampak lemah
- Kesadaran
: composmentis
GCS
: E4 M6 V5
- Berat badan
: 45 kg
Tinggi badan : 165 cm
BMI
:16,5 kg/m2 (underweight)
- Tanda-tanda vital :
Tekanan darah : 80/60 mmHg
Nadi
: 120 x/menit
Frekuensi napas : 24 x/menit
Suhu
: 38,8 C
- Mulut
: bibir sianosis (-), stomatitis (+)
- Thoraks
: Inspeksi : simetris, ketinggalan gerak (-), retraksi (-)
Palpasi
: P/ taktil fremitus kanan = kiri
C/ ictus cordis tampak di SIC V 2 jari lateral LMCS
Perkusi
: P/ sonor di seluruh lapang paru
C/ batas jantung-paru membesar ke caudolateral
Auskultasi : P/ vesikuler +/+, ST (-)
C/ S1-2 reguler, ST (-)
- Abdomen
: Inspeksi : tampak datar
Auskultasi : bising usus (+) normal
Perkusi
: timpani diseluruh lapang abdomen
Palpasi
: supel, NT (+) epigastrium, lien dan hepar tidak teraba

- Ekstremitas

: kekuatan motorik, tonus, trofi dalam batas normal.


Akral hangat -/-/-/- Edema -/-/-/PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium
- Hemoglobin : 9 g/dl
()
- Hematokrit : 28,7 %
()
- Eritrosit
: 3,36x106/ul ()
- Leukosit
: 3.690 /ul
()
Hitung jenis : Basofil/ eosinofil/ neutrofil/ limfosit/ monosit
0,3% (N) /1,6% () / 80,2% () / 11,1% () / 6,8% (N)
- Trombosit
: 77.000/ul
()
- GDS
: 81 mg/dl
(N)
- HbsAg
: negatif
- Tes HIV
: reaktif
3. Assessment (penalaran klinis) :
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang yang telah dilakukan,
diagnosis pasien benama Sdr. A seorang laki-laki berusia 25 tahun tersebut adalah B20 (ODHA/
Orang dengan HIV/AIDS). Pasien meminta agar hasil pemeriksaan VCT dirahasiakan dari
keluarga dan calon istrinya.
4. Plan :
- IVFD RL loading 500 cc lanjut 25-30 tpm (makrodrip)
- Inj. cefotaxim 2 x 1 gram (skintest)
- Inj. ranitidin 2 x 50 mg
- Inj. ondansentron 2 x 4 mg
- Paracetamol 3 x 500 mg tablet (prn)
- Papaverin 3 x 1 tablet
- Antasid 3 x 1 tablet
- Vitamin C 2 x 50 mg tablet
- Konsul Sp PD
- Edukasi pasien

5. Pembahasan :
ASPEK KLINIS
Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah penyakit yang disebabkan Human
Immunodeficiency Virus (HIV) Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang dapat merusak sistem
kekebalan tubuh. Penyakit ini disertai sekumpulan gejala (sindrom) antara lain gejala infeksi
oportunistik, keganasan tertentu yang timbul akibat menurunnya daya tahan (kekebalan) tubuh
penderita. Menurunnya kekebalan menjadikan pasien rentan terhadap infeksi mikroorganisme
yang dalam keadaan normal bersifat apatogen (infeksi oportunistik).
Sumber infeksinya adalah pasien AIDS dan pengidap HIV (Orang dengan HIV/AIDS
(ODHA). Berbagai cairan tubuh dapat bertindak sebagai vehikulum misalnya semen (air mani),
cairan vagina maupun serviks, air susu ibu, air mata, saliva, dan sebagainya. Vehikulum yang
secara epidemiologi potensial sebagai media penularan hanyalah semen, darah, dan cairan vagina
(serviks). Tidak terbukti bahwa HIV dapat ditularkan melalui kontak sosial seperti berjabat
tangan, melalui gigitan serangga, kolam renang, pegangan pintu, alat makan, udara, atau kontak
biasa dalam keluarga. Penularan HIV umum terjadi melalui :
a. hubungan seksual (homoseksual maupun heteroseksual) dengan seseorang yang tubuhnya telah
mengidap HIV
b. darah, melalui transfusi darah atau produk darah yang tercemar HIV, alat suntik, atau alat lain
yang dapat melukai kulit
c. ibu pengidap HIV yang menularkan kepada bayinya
d. penerima organ atau jaringan dari pengidap HIV
Apabila seseorang telah terinfeksi HIV, orang tersebut menjadi pembawa dan penular virus
AIDS seumur hidup walaupun tidak merasa sakit dan tampak sehat. Adanya periode laten (dari
masuknya infeksi HIV sampai munculnya gejala AIDS) yang panjang sekitar 5-10 tahun
mengakibatkan pengidap HIV tersebut menularkan HIV ke banyak orang. Diperkirakan dalam 5
tahun pertama 25% dari orang yang terinfeksi HIV akan menunjukkan gejala AIDS, dan dalam 10
tahun sekitar 50% akan menderita AIDS. Kematian pasien AIDS sebanyak 100% kemungkinan
hidup sejak diketahui menderita AIDS rata-rata 1 sampai 2 tahun. Kematian pasien AIDS bukan
semata-mata karena virus tetapi karena penyakit lain yang sebenarnya bisa diatasi seandainya
daya tahannya tidak dirusak oleh virus.
Ada beberapa jenis tes serologi. Di Indonesia pengetesan dilakukan dengan metode ELISA
(Enzym Linked Immuno Sorbent Assays). Apabila tes ELISA positif, dikonfirmasi dengan Western
Blot. ELISA mempunyai tingkat kepekaan (sensitivitas) 95% dan kekhasan (spesifitas) 98%,
sedangkan Western Blot mempunyai tingkat sensitivitas 80%, tetapi spesifitas 99,9%.
ASPEK ETIK AIDS
Banyak kalangan masih bingung menghadapi penyakit yang berkembang sangat cepat ini.
Masalahnya adalah apakah ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) boleh diumumkan (dibocorkan),
dikucilkan, dibiarkan bebas, dan lain-lain. Beberapa masalah yang pernah dialami ODHA :
a. Dipecat dari pekerjaan dan jabatannya.
b. Ditolak masuk sekolah bagi penderita AIDS yang anak-anak.
c. Rumah sakit tidak mau merawat.
d. Membolehkan euthanasia bagi pasien AIDS, dll.
Semua kebijaksanaan mengatasi masalah di bidang ini mengundang pro dan kontra pada
setiap langkah yang akan diambil. Khusus mengenai pelaporann pasien ODHA, kebijakan terakhir

(1996) pelaporan penderita HIV/AIDS dari Departemen Kesehatan c/q Dirjen Pemberantasan
Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman (P2M & PLP) adalah identitas pasien
harus dirahasiakan. Nama pasien cukup ditulis dengan inisial, begitu pula alamat cukup diisi
dengan nama kabupatennya saja.
Tampaknya kebijaksanaan yang ditempuh seperti di atas juga dianut oleh banyak negara lain
dalam menghadapi dan menangani pasien ODHA dimana yang utama adalah pelayanan kesehatan
tanpa pasien mengalami diskriminasi di lingkungan tempat tinggalnya, tempat kerjanya dan dijaga
kerahasiaan penyakitnya kepada orang lain. Dengan menghindari masalah hukum ini, diharapkan
kualitas hidup orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dapat diperbaiki.
Sementara di lain pihak, masyarakat dilindungi terhadap bahaya penularan terutama melalui
komunikasi, informasi, dan edukasi tentang masalah AIDS dan HIV. Di Indonesia, kebijaksanaan
ini dapat terlihat dari Strategi Nasional Penangggulangan HIV/AIDS sebagai berikut :
a. Setiap orang berhak mendapatkan informasi yang baru mengenai HIV/AIDS, baik untuk
melindungi diri sendiri maupun mencegah penularan kepada orang lain.
b. Tetap menghormati harkat dan martabat para pasien HIV/AIDS dan keluarganya.
c. Mencegah perlakuan diskriminatif kepada pasien HIV/AIDS dan keluarganya.
d. Setiap upaya diarahkan untuk mempertahankan dan memperkuat ketahanan keluarga yang
menjadi salah satu pilar dari kesejahteraan keluarga.
e. Dalam jangka panjang membentuk perilaku bertanggung jawab khususnya dalam kesehatan
reproduksi yang mampu menangkal penyebaran virus HIV.
Pemberantasan penyakit yang diatur dalam undang-undang kesehatan dilaksanakan terhadap
penyakit menular dan penyakit tidak menular. Penyakit menular diatur khusus pada :
Pasal 30
Pemberantasan penyakit menular dilaksanakan dengan upaya penyuluhan, penyelidikan,
pengebalan, menghilangkan sumber dan pemberantasan penyakit, tindakan karantina, dan upaya
lain yang diperlukan.
Pasal 31
Pemberantasan penyakit menular yang dapat menimbulkan wabah dan penyakit karantina
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan undang-undang yang berlaku.
Dengan demikian pemahaman yang baik para dokter dan tenaga kesehatan lainnya tentang
aspek hukum penyakit menular dapat membantu tidak saja dalam penanggulangan peningkatan
dan penyebaran penyakit, tidak juga menghindarkan para dokter dan tenaga kesehatan lainnya
dari masalah hukum.
Berbicara terbuka di hadapan kedua pasutri tanpa mengetahui terlebih dahulu apakah pasien
setuju kalau penyakitnya boleh diketahui oleh pasangannya bisa membawa persoalan tentang
wajib simpan rahasia kedokteran, rahasia jabatan, dan pekerjaan yang menjurus kepada
malpraktik. Untuk itu para dokter perlu berhati-hati menghadapi situasi demikian. Membuka
rahasia pasien kepada orang lain biarpun dalam ikatan suami istri harus dihindari dokter.
Dokter sebagai manusia biasa adalah bagian dari masyarakat yang dihadapkan pada banyak
masalah sewaktu harus menghadapi kasus AIDS. Dalam hal ini dokter hendaknya senantiasa tetap
melakukan profesi menurut ukurannya yang tertinggi (Kode Etik Kedokteran Indonesia Bab I
Pasal 1). Walaupun demikian penyelewengan moral dalam tugas dokter tidak berlebihan antara
lain diskriminasi, penolakan pasien AIDS, dan sebagainya.
Salah persepsi tentang AIDS dan salah persepsi tentang bagaimana seseorang menjadi
pengidap HIV atau pasien AIDS mengakibatkan pasien tidak mendapatkan perawatan yang layak.
Justru pada saat itulah ia membutuhkan pertolongan. Sehubungan dengan masalah tersebut,

American Medical Association (AMA) pada tahun 1987 mengatakan hal berikut :
1. Seorang tenaga kesehatan tidak boleh menolak pasien yang seropositif.
2. Pasien tidak boleh didiskriminasikan hanya atas dasar ketakutan.
3. Seorang tenaga kesehatan diharapkan terlibat untuk menyediakan pelayanan medis yang baik
dan bertanggung jawab dan menghormati hak-hak pasien sebagai makhluk insani.
4. Seorang tenaga kesehatan yang tidak dapat menyediakan pelayanan medis harus merujuk
kepada tenaga yang lebih ahli atau ke tempat yang mempunyai fasilitas lebih baik.
5. Seorang tenaga kesehatan diharuskan menghormati hak pribadi dan kerahasiaan penderita
AIDS dan orang-orang yang mengidap HIV.
6. Apabila tidak ada peraturan atau larangan untuk melaporkan orang-orang yang menderita
seropositif ke lembaga kesehatan yang berwenang, sedangkan tenaga kesehatan tersebut
mengetahui orang-orang tersebut akan membahayakan masyarakat, tenaga kesehatan itu harus:
a. menganjurkan pasien tersebut untuk menjaga diri supaya tidak membahayakan pihak
ketiga;
b. kalau anjuran tersebut tidak dipatuhi, melaporkan pasien tersebut kepada pihak yang
berwenang;
c. kalau pihak yang berwenang tidak memberikan tanggapan, melaporkan pasien itu kepada
masyarakat yang berisiko tertular.
7. Tenaga kesehatan yang menemukan seseorang telah seropositif disarankan kepadanya untuk
tidak melibatkan diri pada aktivitas yang mempunyai risiko tinggi terhadap penyebaran AIDS.
8. Seorang tenaga medis yang menderita AIDS atau seropositif disarankan untuk tidak melibatkan
diri pada aktifitas yang mempunyai risiko tinggi kepada pasiennya.
ASPEK KERAHASIAAN MEDIK
Kewajiban memegang teguh rahasia pekerjaan dokter harus senantiasa terpenuhi sesuai
dengan sumpah Hipokrates Apapun yang saya dengar atau lihat, tentang kehidupan seseorang
yang tidak patut disebarluaskan, tidak akan saya ungkapkan karena saya harus merahasiakannya.
Salah satu ayat sumpah dokter Indoneia berbunyi: Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang
saya ketahui karena pekerjaan saya dan karena keilmuan saya sebagai dokter.
Dalam bab II KODEKI tentang kewajiban dokter terhadap pasien dicantumkan antara lain:
Seorang dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien karena
kepercayaan yang diberikan kepadanya, bahkan juga setelah pasien meninggal dunia Terdapat
pengecualian untuk membuka rahasia jabatan dan pekerjaan dokter demi memelihara kepentingan
umum dan mencegah hal-hal yang dapat merugikan orang lain.
Hal tersebut sering menimbulkan pertanyaan, yaitu sampai sejauh manakah kerahasiaan
pasien harus dijaga dan kapan serta faktor-faktor apa saja yang dapat menggugurkannya. Tidak
ada batasan yang pasti dan jelas kapan ia dapat memberikan keterangan pada pihak yang
membutuhkan. Pedoman penentuan sikap dalam mengatasi masalah seperti ini yang harus tetap
disadari dan ditanamkan adalah pengertian bahwa rahasia jabatan dokter yang terutama adalah
kewajiban moral. Alasan untuk melepaskan rahasia jabatan yang mungkin terpaksa ditempuh
adalah pertimbangan akal sehat dan matang terhadap ada atau tidaknya kepentingan yang lebih
utama atau kepentingan umum. Demikian pula halnya dokter wajib memberikan keterangan agar
masyarakat dihindarkan dari kejahatan lain, yang mungkin dilakukan jika ia dibebaskan. Rahasia
jabatan dokter bukanlah dimaksudkan untuk melindungi kejahatan. Golongan yang berpendirian
mutlak, yang juga dalam hal serupa ini tidak sudi melepaskan rahasia jabatannya, berarti tidak
mengutamakan kepentingan umum, malahan membahayakannya.

Pendidikan:
Memberikan edukasi tentang penyakit, cara penularan, komplikasi, dan tata laksana penyakit
tersebut. Selain itu, memberitahukan pada pasien bahwa sangat penting bagi keluarga dan calon
istrinya untuk mengetahui penyakit yang dialami pasien. Hal ini ditujukan agar pasien
mendapatkan dukungan untuk kesehatannya dan mencegah penularan penyakit tersebut pada orang
lain.
Konsultasi:
Jika dibutuhkan konsultasi mengenai keadaan psikologis pasien, sebaiknya konsultasikan ke
psikolog.