Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH EPIDEMIOLOGI DESKRIPTIF

STUDI KORELASI DAN STUDI CROSS SECTIONAL


Dosen Pembimbing : Vivi Triana SKM, MPH

OLEH:
Kelompok 6
Roma Yuliana

1311211109

Fani Putri Nandes

1210331094

Aziza

1210331029

Yoni Fitri Aprilla

1311211071

Adi Pratama Putra

1311211038

Suciati Marlianasyam 1311211010


Firstka Julliani Putri 1311211056
Khairal Hayati

1311211103

Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat


Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Andalas
Tahun 2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT atas rahmat dan ridha-Nya penulis
dapat menyelesaikan makalah dengan judul Studi Korelasi dan Studi Cross
Sectional dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini disusun dalam
rangka memenuhi tugas mata kuliah Epidemiologi Deskriptif.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada dosen mata kuliah
Epidemiologi Deskriptif, ibu Vivi Triana SKM, MPH serta semua pihak yang telah
membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan yang
disebabkan oleh kemampuan penulis, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan
saran yang bersifat konstruktif sehingga dapat menyempurnakan makalah ini.
Padang,

November 2015

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................................i
DAFTAR ISI.................................................................................................................ii
BAB 1 : PENDAHULUAN..........................................................................................1
1.1 Latar Belakang....................................................................................................1
1.2 Perumusan Masalah............................................................................................2
1.3 Tujuan Penulisan.................................................................................................2
1.4 Manfaat Penulisan..............................................................................................2
BAB 2 : PEMBAHASAN............................................................................................3
2.1 Studi Korelasi.....................................................................................................3
2.1.1 Definisi........................................................................................................3
2.1.2 Ciri-Ciri........................................................................................................3
2.1.3 Tujuan..........................................................................................................4
2.1.4 Jenis Rancangan Penelitian Ekologi / Korelasional....................................4
2.1.5 Prinsip-prinsip Studi Korelasi Populasi.......................................................5
2.1.6 Kelebihan dan Kelemahan Studi Korelasi...................................................6
2.1.6.1 Kelebihan..............................................................................................6
2.1.6.2 Kelemahan............................................................................................6
2.1.7 Contoh..........................................................................................................8
2.2 Studi Cross Sectional..........................................................................................9
2.2.1 Definisi........................................................................................................9
2.2.2 Ciri-Ciri......................................................................................................10
2.2.3 Tujuan........................................................................................................10
2.2.4 Jenis Studi Cross Sectional........................................................................11
2.2.5 Skema Rancangan Penelitian.....................................................................12
2.2.6 Langkah-Langkah......................................................................................12
2.2.7 Contoh Cross Sectional Deskriptif............................................................14
ii

2.2.8 Kelebihan dan Kelemahan.........................................................................15


2.2.8.1 Kelebihan............................................................................................15
2.2.8.2 Kelemahan..........................................................................................15
BAB 3 : PENUTUP....................................................................................................17
3.1 Kesimpulan.......................................................................................................17
3.2 Saran.................................................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................18

iii

BAB 1 : PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Seorang peneliti pada prakteknya di lapangan akan memilih salah satu
metode yang dipandang paling cocok untuk penelitiannya, yaitu yang sesuai dengan
data yang akan diperoleh, tujuan, dan masalah yang akan dipecahkan (efektivitas).
Pertimbangan lainnya adalah masalah efesiensi, yaitu seorang peneliti harus
memperhatikan keterbatasan dana, tenaga, waktu dan kemampuan. Dengan demikian
metode penelitian yang dapat menghasilkan informasi yang lengkap dan valid,
dilakukan dengan cepat, sehingga dapat menghemat biaya, tenaga dan waktu.
Secara sederhana, ada 2 (dua) model desain ilmu Epidemiologi yaitu
Epidemiologi Deskriptif dan Epidemiologi Analitik.
Pada makalah ini penulis akan membahas metode penelitian deskriptif.
Metode penelitian deskriptif ialah metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan
utama untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara
objektif. Metode deskriptif biasanya digunakan untuk menelaah terhadap masalah
yang mencakup aspek yang cukup banyak (populasi) dan menelaah suatu kasus
tunggal (individu), mengadakan perbandingan antara suatu hal dengan yang lain,
ataupun untuk melihat hubungan antara suatu gejala dengan peristiwa yang mungkin
muncul akan timbul dengan munculnya gejala tersebut.
Epidemiologi deskriptif memiliki beberapa jenis studi, namun pada makalah
ini penulis akan menguraikan tentang studi korelasi dan studi cross sectional. Studi
korelasi atau studi agregasi merupakan suatu pengamatan dimana satuan unit yang
dianalisis dan dievaluasi adalah kelompok populasi dalam suatu daerah administrasi
tertentu atau dalam suatu geografis tertentu dan bukan individu dalam masyarakat.
Sedangkan studi cross sectional adalah adalah desain penelitian epidemiologi yang
mempelajari prevalensi, distribusi, maupun hubungan penyakit dan paparan (faktor
penelitian) dengan cara mengamati status paparan, penyakit, atau karakteristik
kesehatan lainnya secara serentak, pada individu-individu dari suatu populasi pada
satu saat.

1.2 Perumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, adapun beberapa rumusan masalah, yaitu:
1. Apakah yang dimaksud dengan studi korelasi (pengertian, ciri-ciri, tujuan,
keuntungan dan kelemahan, dan contoh) ?
2. Apakah yang dimaksud dengan studi cross sectional (pengertian, ciri-ciri,
tujuan, keuntungan dan kelemahan, dan contoh) ?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Mengetahui definisi, ciri-ciri, tujuan, skema rancangan penelitian, langkahlangkah, keuntungan dan kelemahan desain studi korelasi/ekologi.
2. Mengetahui definisi, ciri-ciri, tujuan, skema rancangan penelitian, langkahlangkah, keuntungan dan kelemahan desain studi cross sectional.
1.4 Manfaat Penulisan
Manfaat dari pembuatan makalah ini adalah agar khususnya mahasiswa di
bidang ilmu kesehatan masyarakat dapat memahami desain studi korelasi dan studi
cross sectional.

BAB 2 : PEMBAHASAN

2.1 Studi Korelasi


2.1.1 Definisi
Studi ekologikal atau studi korelasi populasi adalah studi epidemiologi
dengan populasi sebagai unit analisis, yang bertujuan mendeskripsikan hubungan
korelatif antara penyakit dan faktor-faktor yang diminati. Faktor-faktor tersebut
misalnya, umur, bulan, obat-obatan, dll. Unit observasi dan unit analis pada studi ini
adalah kelompok (agregat) individu, komunitas atau populasi yang lebih besar .
Agregat tersebut biasanya dibatasi oleh secara geografik, misalnya penduduk
provinsi, penduduk kabupaten/kota, penduduk negara, dan sebagainya. Analisis
ekologi dapat menyangkut data insidensi, prevalensi maupun data mortalitas.
Pengamatan ekologi dapat membandingkan data dari sumber yang cukup
besar (data sensus atau data statistic vital) untuk mendapatkan informasi, baik
informasi tentang faktor yang diamati maupun tentang frekuensi penyakit pada
populasi yang sama.
2.1.2 Ciri-Ciri
Menurut Sukardi (2004:166) penelitian korelasi mempunyai tiga karakteristik
penting untuk para peneliti yang hendak menggunakannya. Tiga karakteristik
tersebut adalah sebagai berikut.
1. Penelitian korelasi tepat jika variabel kompleks dan peneliti tidak mungkin
melakukan manipulasi dan mengontrol variabel seperti dalam penelitian
eksperimen.
2. Memungkinkan variabel diukur secara intensif dalam setting (lingkungan)
nyata.
3. Memungkinkan peneliti mendapatkan derajat asosiasi yang signifikan.

2.1.3 Tujuan
Tujuan penelitian korelasional menurut Suryabrata (dalam Abidin, 2010)
adalah untuk mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada suatu faktor berkaitan
dengan variasi-variasi pada satu atau lebih faktor lain berdasarkan pada koefisien
korelasi. Sedangkan menurut Gay dalam Emzir (2009:38) Tujuan penelitian
korelasional adalah untuk menentukan hubungan antara variabel, atau untuk
3

menggunakan hubungan tersebut untuk membuat prediksi. Studi hubungan biasanya


menyelidiki sejumlah variabel yang dipercaya berhubungan dengan suatu variabel
mayor, seperti hasil belajar variabel yang ternyata tidak mempunyai hubungan yang
tinggi dieliminasi dari perhatian selanjutnya.
2.1.4 Jenis Rancangan Penelitian Ekologi / Korelasional
Penelitian korelasional mempunyai berbagai jenis rancangan. Shaughnessy dan
Zechmeinter (dalam Emzir, 2009:48-51), yaitu:
1. Korelasi Bivariat
Rancangan penelitian korelasi bivariat adalah suatu rancangan penelitian
yang bertujuan untuk mendeskripsikan hubungan antara dua variabel.
Hubungan antara dua variabel diukur. Hubungan tersebut mempunyai
tingkatan dan arah. Tingkat hubungan (bagaimana kuatnya hubungan)
biasanya diungkapkan dalam angka antar -1,00 dan +1,00, yang dinamakan
koefisien korelasi. Korelasi zero (0) mengindikasikan tidak ada hubungan.
Koefisien korelasi yang bergerak ke arah -1,00 atau +1,00, merupakan
korelasi sempurna pada kedua ekstrem (Emzir, 2009:48).
Arah hubungan diindikasikan oleh simbol - dan +. Suatu korelasi negatif
berarti bahwa semakin tinggi skor pada suatu variabel, semakin rendah pula
skor pada variabel lain atau sebaliknya. Korelasi positif mengindikasikan
bahwa semakin tinggi skor pada suatu variabel, semakin tinggi pula skor pada
variabel lain atau sebaliknya (Emzir, 2009:48).
2. Regresi dan Prediksi
Jika terdapat korelasi antara dua variabel dan kita mengetahui skor pada salah
satu variabel, skor pada variabel kedua dapat diprediksikan. Regresi merujuk
pada seberapa baik kita dapat membuat prediksi ini. Sebagaimana pendekatan
koefisien korelasi baik -1,00 maupun +1,00, prediksi kita dapat lebih baik.
3. Regresi Jamak (Multiple Regresion)
Regresi jamak merupakan perluasan regresi dan prediksi sederhana dengan
penambahan beberapa variabel. Kombinasi beberapa variabel ini memberikan
lebih banyak kekuatan kepada kita untuk membuat prediksi yang akurat. Apa
yang kita prediksikan disebut variabel kriteria (criterion variable). Apa yang

kita gunakan untuk membuat prediksi, variabel-variabel yang sudah diketahui


disebut variabel prediktor (predictor variables).
4. Analisis Faktor
Prosedur statistik ini mengidentifikasi pola variabel yang ada. Sejumlah besar
variabel

dikorelasikan

dan

terdapatnya

antarkorelasi

yang

tinggi

mengindikasikan suatu faktor penting yang umum.


5. Rancangan korelasional yang digunakan untuk menarik kesimpulan
kausal
Terdapat dua rancangan yang dapat digunakan untuk membuat pernyataan
pernyataan tentang sebab dan akibat menggunakan metode korelasional.
Rancangan tersebut adalah rancangan analisis jalur (path analysis design) dan
rancangan panel lintas-akhir (cross-lagged panel design). Analisis jalur
digunakan untuk menentukan mana dari sejumlah jalur yang menghubungkan
satu variabel dengan variabel lainnya. Sedangkan desain panel lintas akhir
mengukur dua variabel pada dua titik sekaligus.
6. Analisis sistem (System Analysis)
Desain ini melibatkan penggunaan prosedur matematik yang kompleks/rumit
untuk menentukan proses dinamik, seperti perubahan sepanjang waktu, jerat
umpan balik serta unsur dan aliran hubungan.
2.1.5 Prinsip-prinsip Studi Korelasi Populasi
a. Dua variabel (x : Paparan, Y : penyakit) diukur pada tiap-tiap unit observasi
b. Kemudian sejumlah n pasangan (X,Y) dipertemukan untuk dicari
hubungannya.
c. Kekuatan hubungan linear antara X dan Y dihitung dalam koefisien korelatif
r, mengukur berapa besar perubahan tiap unit frekuensi penyakit diikuti
perubahan setiap unit paparan. Contoh : Studi korelasi populasi untuk
mempelajari hubungan korelatif antara kematian karena kanker paru pada
pria tahun 1950 dan konsumsi sigaret pada tahun 1930 di berbagai negara.
2.1.6 Kelebihan dan Kelemahan Studi Korelasi
2.1.6.1 Kelebihan
Kekuatan pada studi ekologi :
a. Kekuatan pada studi ekologikal adalah dapat menggunakan data insidensi,
prevalensi maupun mortalitas.
5

b. Rancangan ini tepat sekali digunakan pada penyelidikan awal hubungan


penyakit dengan faktor paparan, sebab mudah dilakukan dan murah dengan
memanfatkan informasi yang tersedia. Misalnya, Biro Pusat Statistik secara
teratur mengumpulkan data demografi dan data konsumsi yang dapat
dikorelasikan dengan morbiditas, mortalitas dan penggunaan sumber
sumberdaya kesehatan yang dikumpulkan Depatemen Kesehatan.
c. Dapat mengevaluasi program, kebijakan dan regulasi.
d. Dapat dilakukan cepat dan tidak mahal karena data yang diperlukan biasanya
telah tersedia.
2.1.6.2 Kelemahan
Kelemahan pada studi ekologi :
a. Kelemahan pada studi ini adalah studi ekologi tak dapat dipakai untuk
menganalisis hubungan sebab akibat karena dua alasan.
1) Alasan pertama adalah, ketidakmampuan menjembatani kesenjangan
status paparan dan status penyakit pada tingkat populasi dan individu.
2) Sedangkan alasan kedua adalah studi ekologi tak mampu untuk
mengontrol faktor perancu potensial.misalnya dalam studi korelasi
mengenai hubungan antara jumlah perokok dengan jumlah penderita
kanker

paru,

pada

studi

korelasi

tidak

mampu

untuk

mengidentifikasikan faktor perancu lain seperti, faktor polusi, jenis


pekerjaan, aktifitas, asbes dan lain-lain.
Contoh : Pada studi korelasi yg mengevaluasi tentang rata-rata intake
daging babi perkapita dan kaitannya dengan mortalitas Ca mammae di
28 negara
-

Terdapat korelasi + yg kuat antara kedua variabel tersebu t(intake


rata-rata daging babi dan mortalitas Camammae).

Tapi meningkatnya konsumsi daging babi dapat berkorelasi dengan


faktor-faktor lain yg merupakan faktor resiko dari Ca mammae
misalnya :

Intake babi meningkat;lemak meningkat

Intake babi meningkat;sayuran menurun

Intake babi meningkat pd kelas sosial ekonomi tinggi

Tidak mugkin untuk memilah-milah dari efek faktor


confounding diatas dengan memakai data dari studi korelasi.

b. Dapat timbul bias (kesalahan) dalam mengambil kesimpulan yang dikenal


dengan Ecological fallacy.
c. Tidak dapat digunakan sebagai dasar kesimpulan kausal.
d. Peneliti tidak mengetahui hubungan antara penyebaran faktor risiko dengan
penyebaran penyakit pada kelompok yang dianalisis, yaitu peneliti tidak
mengetahui kasus yang terpapar dan yang tidak terpapar dalam populasi
tersebut. Peneliti hanya dapat mengetahui jumlah atau proporsi penduduk
yang terpapar serta jumlah kasus yang diteliti dalam suatu kelompok populasi
tertentu.
e. Tidak mampu menghubungkan suatu faktor risiko dengan penyakit secara
individual
Contoh:
-

Studi korelasi yg mengevaluasi apakah pemeriksaan pap-smear


memiliki korelasi dg mortalitas dr Ca cervix

Terdapat korelasi yang + antara skrining pap-smear dengan penurunan


mortalitas Ca Cervix

Semakin rendah skrining pap-smear,smkn rendah pulapenurunan


mortalitas dr Ca servix

Hasil dari penelitian tsbt menimbulkan pertanyaan:


a. Benarkah

program

skrining

pap

smear

menurunkan

mortalitasCa servix
b. Hipotesis tersbut tidak dapat diuji dengan penelitian diatas
karena tidak mungkin untuk menentukan apakah pada
kenyataannya benar bahwa wanita yang melakukan skrining
adalah wanita yg sama yang tidak mengalami Ca servix, siapa
tahu wanita lain yang tidak melakukan skrining.
f. Studi korelasi hanya merepresentasikan tingkat rat-rata keterpaparan dari
pada tingkat keterpaparan yang sesungguhnya terjada pada individu.
Contoh : studi korelasi yg mengevaluasihub.konsumsi alkohol perlapita
dengan kematian oleh PJK.

Dari studi menunjukkan korelasi yang terbalik antara konsumsi


alkohol dan kematian karena PJK, negara-negara dengan tingkat
konsumsi alkohol yg tinggi kematian oleh PJK rendah.

Dari studi analitik (pada individu-individu) yang dilakukan ditemukan


bahwa, hubungan antara alkohol dan PJK tidak menunjukkan hub
linier terbalik yg sederhana, tipe berbentuk kurva J dimana:

Individu-individu yang peminum alkohol dalam jumlah


banyak; kematian oleh PJK meningkat

Individu-individu yg peminum alkohol sedang kematian oleh


PJK lebih rendah dari pada peminum alkohol yang tinggi

Dapat disimpulkan studi korelasi hanya merepresentasikan


tingkat rata-rata keterpaparan saja.

2.1.7 Contoh
Contohnya adalah :
a. Hubungan antara tingkat penjualan obat anti asma dengan jumlah kematian
yang diakibatkan oleh penyakit ashma
b. Hubungan antara jumlah konsumsi rokok pada satu wilayah dengan jumlah
kematian yang diakibatkan oleh penyakit paru
c. Hubungan iklim dengan kasus DBD di Kota Pekanbaru tahun 199-2008.
Data Iklim diperoleh dari data sekunder BMKG. Data Kasus DBD (rata2
kasus DBD per bulan di Kota Pekanbaru tahun 1999-2008) diperoleh dari
data sekunder DKK Pekanbaru. Unit analisis adalah penduduk Kota
Pekanbaru.

Grafik 1 .Gambaran Rata-rata Suhu Bulanan dengan Rata-rata Kasus DBD


per Bulan di Kota Pekanbaru tahun 1999-2008

2.2 Studi Cross Sectional


2.2.1 Definisi
Penelitian potong lintang (cross sectional study) adalah desain penelitian
epidemiologi yang mempelajari prevalensi, distribusi, maupun hubungan penyakit
dan paparan (faktor penelitian) dengan cara mengamati status paparan, penyakit, atau
karakteristik kesehatan lainnya secara serentak, pada individu-individu dari suatu
populasi pada satu saat (Murti, 2003).
Penelitian potong lintang atau dikenal juga sebagai survei frekuensi penyakit
atau penelitian prevalensi merupakan penelitian yang memeriksa hubungan antara
penyakit (atau karakteristik terkait kesehatan lain) dan variabel lain yang menjadi
perhatian ketika terjadi pada populasi yang ditetapkan pada suatu waktu tertentu.
Hadir atau tidak hadirnya penyakit atau hadir atau tidak hadirnya variabel lain (atau
jika mereka adalah kuantitatif, tarafnya) diperiksa pada tiap-tiap anggota populasi
penelitian atau pada sampel yang mewakili pada suatu waktu tertentu (Last, 1995).
Definisi lain mengatakan bahwa penelitian potong-lintang adalah suatu jenis
observasi atau penelitian deskriptif yang di dalamnya peneliti tidak memiliki kendali
atas paparan yang diamati (misalnya diet). Pada penelitian potong-lintang, paparan
dan outcome-nya diamati secara bersamaan pada individu terpilih dari populasi yang
ditentukan (Freudenheim, 1999). Sebagai contoh dalam bidang gizi, paparan diamati

pada titik waktu tertentu dan dapat berupa asupan pangan saat yang lalu dan saat
sekarang. Data ini kemudian dapat dieksplorasi lebih lanjut dalam kaitannya dengan
hadirnya atau tidak hadirnya penyakit atau outcome gizi lainnya. Akan tetapi, karena
data mewakili suatu potret informasi menegenai populasi pada suatu titik waktu,
tidaklah mungkin untuk menentukan apakah paparan dan hasilnya berkaitan secara
kausal (sebab-akibat). Penelitian potong-lintang juga dikenal sebagai survei
prevalensi karena penelitian ini dapat digunakan untuk memperkirakan prevalensi
penyakit dalam populasi, yaitu jumlah kasus dalam populasi pada suatu titik waktu
tertentu yang dinyatakan sebagai laju (rate).
2.2.2 Ciri-Ciri
Pada umumnya, penelitian cross sectional memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
a. Pengumpulan data dilakukan pada satu saat atau satu periode tertentu dan
pengamatan subjek studi hanya dilakukan satu kali selama satu penelitian.
b. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan prevalensi penyakit tertentu.
c. Pada penelitian ini tidak terdapat kelompok pembanding
d. Hubungan sebab-akibat hanya merupakan perkiraan saja.
e. Penelitian ini dapat menghasilkan hipotesis.
f. Merupakan penelitian pendahuluan dari penelitian analitis.
g. Semua pengukuran variabel (dependen dan indpenden) yang diteliti
dilakukan pada waktu yang sama
h. Tidak ada periode follow-up.
2.2.3 Tujuan
Secara garis besar, tujuan penelitian cross sectional adalah sebagai berikut
a. Penelitian cross sectional digunakan untuk mengetahui masalah kesehatan
masyarakat di suatu wilayah, misalnya suatu sampling survey kesehatan
untuk memperoleh data dasar untuk menetukan strategi pelayanan kesehatan
atau digunakan untuk membandingkan keadaan kesehatan masyarakat disuatu
saat
b. Penelitian dengan pendekatan cross sectional digunakan untuk mengetahui
prevalensi penyakit tertentu di suatu daerah tetapi dalam hal- hal tertentu
prevalensi penyakit yang ditemukan dapat digunakan untuk mengadakan
estimasi insidensi penyakit tersebut. misalnya penyakit yang menimbulkan
10

bekas sepertivariola karena dari bekas yang ditinggalkan dapat diperkirakan


insidensi penyakittersebut dimasa lalu tetapi akan sulit memperkirakan
insidensi berdasarkan bekas yang ditinggalkan bila bekas tersebut tidak
permanen.
c. Penelitian cross sectional dapat digunakan untuk memperkirakan adanya
hubungan sebab akibat bila penyakit itu mengalami perubahan yang jelas dan
tetap, misalnya penelitian hubungan antara golongan darah dengan karsinoma
endometrium
Bila perubahan yang terjadi tidak jelas dan tidak tetap seperti penyakit yang
menimbulkan

perubahan biokimia atau perubahan fisiologi dilakukan

penelitian cross sectional karena pada penelitian ini sebab dan akibat
ditentukan pada waktu yang sama dan antara sebab akibat dapat saling
mempengaruhi misalnya hubungan antara hipertensi dengan tingginya kadar
kolesterol darah.
d. Penelitian cross sectional dimaksudkan untuk memperoleh hipotesis spesifik
yang akan diuji melalui penelitian analitis, misalnya dalam suatu penelitian
cross sectional di suatu daerah ditemukan bahwa sebagian besar penderita
diare menggunakan air kolam sebagai sumber air minum. Dari hasil ini belum
dapat dikatakan bahwa air kolam tersebut factor resiko timbulnya diare, tetapi
penemuan tersebut hanya merupakan suatu perkiraan atau hipotesis yang
harus diuji melalui penelitian analitis.
2.2.4 Jenis Studi Cross Sectional
Cross-Sectional Study atau juga disebut Studi Potong Lintang mempunyai 2 jenis
studi, yaitu:
1. Studi potong lintang Deskriptif
Studi ini untuk meneliti prevalensi penyakit, atau paparan, atau keduaduanya, pada suatu populasi tertentu. Prevalensi adalah proporsi kasus
(individu-individu berpenyakit) dalam suatu populasi pada satu saat. Karena
pengukuran pada satu saat, maka prevalensi disebut juga prevalensi titik
(point prevalence). Prevalensi = Kasus/ Populasi Total
Studi cross sectional bukan merupakan studi longitudinal, karena tidak
melakukan follow up pengaruh paparan terhadap penyakit. Tetapi sebagai
studi deskriptif, studi cross sectional dapat meneliti prevalensi penyakit
selama satu periode waktu dan menghasilkan data prevalensi periode
11

(period prevalence). Studi prevalensi period biasanya dilakukan untuk


penyakit-penyakit kronis yang gejalanya intermitten.
Contoh penelitian deskriptif cross sectional adalah angka kejadian diare di
Desa X tahun 2001.
2.

Studi potong lintang analitik


Studi ini mengumpulkan data prevalensi paparan dan penyakit untuk tujuan
perbandingan perbedaan-perbedaan penyakit antara kelompok terpapar dan
kelompoktak terpapar, dalam rangka meneliti hubungan antara paparandan
penyakit. Contoh penelitian analitik cross sectional adalah hubungan
pendidikan orang tua dengan kejadian diare yang diukur pada waktu
bersamaan.

2.2.5 Skema Rancangan Penelitian

Bagan Rancangan Penelitian Cross Sectional


2.2.6 Langkah-Langkah
Untuk melakukan penelitian dengan pendekatan cross sectional dibutuhkan
langkah-langkah sebagai berikut.
1) Identifikasi dan perumusan masalah
Masalah yang akan diteliti harus diidentifikasi dan dirumuskan dengan jelas agar
dapat ditentukan tujuan penelitian dengan jelas
Identifikasi masalah dapat dilakukan dengan mengadakan penelaahan terhadap
insidensi dan prevalensi berdasarkan catatan yang lalu untuk mengetahui secara
jelas bahwa masalah yang sedang dihadapi merupakan masalah yang penting
12

untuk diatasi melalui suatu penelitian. Dari masalah tersebut dapat diketahui
lokasi masalah tersebut berada.
2) Menetukan tujuan penelitian
Tujuan penelitian harus dinyatakan dengan jelas agar orang dapat mengetahui apa
yang akan dicari, dimana akan dicari, sasaran, berapa banyak dan kapan dilakukan
serta siapa yang melaksanakannya.
Sebelum tujuan dapat dinyatakan dengan jelas, hendanya tidak melakukan
tindakan lebih lanjut. Tujuan penelitian merupakan hal yang sangat penting dalam
suatu penelitian karena dari tujuan ini dapat ditentukan metode yang akan
digunakan.
3) Menentukan lokasi dan populasi studi
Dari tujuan penelitian dapat diketahui lokasi penelitian dan ditentukan pula
populasi studinya. Biiasanya, penelitian cross sectional tdak dilakukan terhadap
semua subjek studi, tetapi dilakukan kepada sebagian populasi dan hasilnya dapat
diekstrapolasi pada populasi studi tersebut.
Populasi studi dapat berupa populasi umum dan dapat berupa kelompok populasi
tertentu tergantung dari apa yang diteliti dan di mana penelitian dilakukan
Agar tidak terjadi kesalahan dalam pengumpulan data, sasaran yang dituju yang
disebut subjek studi harus diberi criteria yang jelas, misalnya jenis kelamin, umur,
domisili, dan penyakit yang diderita. Hal ini penting untuk mengadakan
ekstrapolasi hasil penelitian yaitu kepada siapa hasil penelitian ini dilakukan
4) Menentukan cara dan besar sampel
Pada penelitian cross sectional diperlukan perkiraan besarnya sampel dan cara
pengambilan sampel. Perkiraan besarnya sampel dapat dihitung dengan rumus
Snedecor dan Cochran berikut.
a. Untuk data deskrit
n = p.q.Z2
L2
n = besar sampel
p = proporsi yang diinginkan
q = 1-p
Z = simpangan dari rata- rata distribusi normal standard
L = besarnya selisih antara hasil sampel dengan populasi yang masihh dapat
diterima.
13

b. Untuk data kontinyu


n = Z2.s2
L2
S2= varian sampel
Cara pengambilan sampel sebaiknya dilakukan acak dan disesuaikan dengan
kondisi populasi studi, besarnya sampel, dan tersediannya sampling frame
yaitu daftar subjek studi pada populasi studi.
5) Memberikan definisi operasional
6) Menentukan variable yang akan diukur
7) Menyusun instrument pengumpulan data
Instrument yang akan digunakan dalam penelitian harus disusun dan dilakukan uji
coba. Instrument ini dimaksudkan agar tidak terdapat variable yang terlewatt
karena dalam instrument tersebut berisi semua variable yang hendak diteliti
Instrument dapat berupa daftar pertanyaan atau pemeriksaan fisik atau
laboratorium atau radiologi dan lain- lain disesuaikan dengan tujuan penelitian
8) Rancangan analisis
Analisis data yang diperoleh harus sudah dirrencanakan sebelum penelitian
dilaksanakan agar diketahui perhitungan yang akan digunakan. Rancangan
analisis harus disesuaikan dengan tujuan penelitian agar hasil penelitian dapat
digunakan untuk menjawab tujuan tersebut.
2.2.7 Contoh Cross Sectional Deskriptif
Contoh studi kasus :
Prevalensi PJK diantara Kel.Terpapar (Orang yg Tidak Aktif OR) dan Kel. Tak
Terpapar (Yang Aktif).
OLAHRAGA
AKTIF

PJK +
50 (a)

PJK
200 (b)

TOTAL
250 (a+b)

TIDAK AKTIF

50 (c)

750 (d)

750 (c+d)

TOTAL

100

900

1000

a. Prevalens 1= a / (a+b) = 50 / 250 = 20% (adalah proporsi PJK diantara


orang2 yg aktif OR).
b. Prevalens 2 = c / (c+d) = 50 / 750 = 6,7% ( adalah proporsi PJK diantara
orang2 yg tidak aktif OR).
14

2.2.8 Kelebihan dan Kelemahan


2.2.8.1 Kelebihan
a. Mudah dan murah (tidak memerlukan follow up)
b. Tidak memerlukan waktu lama
c. Tidak ada yang terpaksa terpapar oleh faktor paparan
d. Dapat menjelaskan hubungan antara fenomena kesehatan yang diteliti dengan
faktor-faktor terkait (terutama karakteristik yang menetap).
e. Merupakan studi awal dari suatu rancangan studi kasus-kontrol maupun
kohort.
f. Dalam penelitian epidemiologi, pendekatan cross sectional merupakan cara
yang cepat dan murah untuk mendeteksi adanya kejadian luar biasa.
g. Penelitian cross sectional dapat menghasilkan hipotesis spesifik untuk
penelitian analitis (baseline information).
h. Dalam hal tertentu, pendekatan cross sectional dapat digunakan untuk
memperkirakan adanya hubungan sebab akibat.
i. Pendekatan cross sectional dapat digunakan untuk mengetahui prevalensi
penyakit tertentu dan masalah kesehatan yang terdapat dimasyarakat dan
dengan demikian dapat digunakan untuk menyusun perencanaan pelayanan
kesehatan.
j. Memudahkan pengumpulan data dalam waktu relative singkat.
k. Dapat dipakai untuk meneliti sekaligus banyak variabel.
l. Dapat dipakai sebagai dasar untuk penelitian berikutnya yang lebih konklusif.
2.2.8.2 Kelemahan
a. Kelemahan utama dari penelitian potong-lintang adalah tidaklah mungkin
untuk mengatakan yang mana penyebab dan yang mana akibat karena
paparan dan outcome atau penyakit diukur pada waktu yang bersamaan.
Sebagai contoh, analisis kembali National Diet and Nutrition Survey pada
orang dewasa di Inggris menunjukkan bahwa orang yang mengonsumsi diet
tinggi lemak juga lebih mungkin menderita obesitas daripada orang yang
mengonsumsi diet rendah lemak. Dari penelitian ini, yang mengukur
konsumsi pangan dan indeks massa tubuh (IMT) pada waktu yang
bersamaan, tidaklah mungkin untuk mengatakan apakah asupan lemak yang
tinggi merupakan penyebab obesitas atau apakah orang yang obes cederung
mengonsumsi diet tinggi lemak. Untuk menguji hipotesis bahwa asupan diet
15

tinggi lemak menyebabkan obesitas, maka jenis penelitian lain seperti kajian
kohort dapat dilakukan.
b. Tidak diperoleh informasi mengenai rentetan temporal
Maksudnya adalah apakah paparan merupakan konsekuensi dari outcome
(atau karena faktor kausal). Sebagai contoh, pada penelitian kaitan antara
asupan kalsium dan tekanan darah. Penelitian potong-lintang ini tidak dapat
menjelaskan apakah asupan kalsium yang tinggi menyebabkan naiknya
tekanan darah. Apakah individu yang telah terdiagnosis sebelumnya
mengidap hipertensi kemudian

mengubah asupan kalsiumnya sehingga

tekanan darahnya menjadi turun? Pertanyaan ini tidak dijawab oleh penelitian
potong-lintang.
c. Penelitian potong lintang hanya mengidentifikasi outcome pada individu
dengan penyakit yang prevalen.
d. Diperlukan subjek penelitian yang besar. Sehingga sulit untuk mengadakan
eksplorasi, karena kemungkinan terdapat subyek studi yang terlalu sedikit
dalam salah satu kelompok
e. Studi cross sectional tidak tepat digunakan untuk menganalisis hubungan
kausal paparan dan penyakit.
f. Tidak dapat memantau perubahan yang berhubungan dengan perjalanan
waktu; sehingga kurang tepat untuk mempelajari penyakit dengan kurun
waktu sakit pendek.
g. Kesimpulan korelasi paling lemah dibanding case kontrol atau cohort
h. Tidak menggambarkan perkembangan penyakit secara akurat.
i. Tidak valid untuk meramalkan suatu kecenderungan.
j. Tidak dapat menilai apakah confounder terdistribusi secara merata
k. Neyman bias, kasus yang meninggal, bukti paparannya yang sudah tidak ada,
tidak dapat diteliti
l. Bias yang disebabkan responden yang tidak memberikan respon (bias
voluntir)
m. Bias over representasi penyakit dengan durasi lama dibanding penyakit
berdurasi pendek

16

BAB 3 : PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Studi ekologikal atau studi korelasi populasi adalah studi epidemiologi
dengan populasi sebagai unit analisis, yang bertujuan mendeskripsikan hubungan
korelatif antara penyakit dan faktor-faktor yang diminati. Faktor-faktor tersebut
misalnya, umur, bulan, obat-obatan, dll. Unit observasi dan unit analis pada studi ini
adalah kelompok (agregat) individu, komunitas atau populasi yang lebih besar .
Agregat tersebut biasanya dibatasi oleh secara geografik, misalnya penduduk
provinsi, penduduk kabupaten/kota, penduduk negara, dan sebagainya
Penelitian potong lintang (cross sectional study) adalah desain penelitian
epidemiologi yang mempelajari prevalensi, distribusi, maupun hubungan penyakit
dan paparan (faktor penelitian) dengan cara mengamati status paparan, penyakit, atau
karakteristik kesehatan lainnya secara serentak, pada individu-individu dari suatu
populasi pada satu saat.
3.2 Saran
Melalui makalah ini penulis menyarankan agar pembaca dapat memahami
dengan

jelas studi korelasi dan studi cross sectional sehingga nantinya dapat

memudahkan pembaca dalam memilih desain metodologi yang cocok dengan


penelitian yang akan pembaca lakukan.

17

DAFTAR PUSTAKA

Budiarto, Eko dan Dewi Anggraeni. 2001. Pengantar Epidemiologi Edizi 2. Jakarta :
Buku Kedokteran EGC.
Maryani, Lidya dan Rizki Maliani. 2010. Epidemiologi Kesehatan Pendekatan
Epidemiologi. Yogjakarta : Graha Ilmu.
Notoadmodjo, Soekidjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka
Cipta.
Masrizal. 2012. Dasar-Dasar Epidemiologi. Padang : Universitas Andalas.
Masrizal. 2014. Epidemiologi Dasar Edisi 2. Padang : Universitas Andalas
Budiarto, E. 2004. Metodologi Penelitian Kedokteran. Jakarta: EGC.
Siagian, Albiner.2010. Epidemiologi Gizi. Medan : Erlangga.
Devina, Mia. 2012. Penelitian Ekologi. https: //www.academia. edu/ 6475388/
Penelitian Ekologi (diakses pada tanggal 19 November 2015, pukul 17.05
WIB).
Siregar, Indah. Studi Ekologi. http:// nunusiire.blogspot.co.id/2015/05/studi-ekologi.
html (diakses pada tanggal 19 November 2015, pukul 19.10 WIB).

18