Anda di halaman 1dari 39

6/1/2013

DAMPAK PELEDAKAN

Blast Generated NoX Gases


Reactive Ground & Hot Hole
Under Water Blasting
Ground Vibration & Air blast

1. PENGERTIAN
NOx
adalah senyawa gas nitrat yang
berbahaya (N2O, NO, NO2, N2O4, N2O3, N2O5)
yang dibentuk dari campuran nitrogen oksida
dan nitrogen dioksida
Fume adalah asap yang timbul setelah proses
peledakan
yang
mengandung
gas-gas
berbahaya

Dwihandoyo Marmer

2. Penyebab timbulnya asap berbahaya


gas NOx pada peledakan
2.1. Pada proses peledakan yang ideal
Menghasilkan nitrogen, karbon dioksida
dan uap air menurut reaksi seperti (1), gas
tidak berwarna, yang timbul hanya uap
dan debu serta menghasilkan VOD
maksimum dan energy (H +222 kJ/kg)

6/1/2013

3. Kemungkinan Timbulnya
gas NOx

jika gas-gas tidak


bercampur dengan
uap air atau debu
maka gas-gas
tersebut tidak akan
mengeluarkan asap
yang dapat dilihat
dengan mata
telanjang.

2.2. Proses Peledakan yg tidak sempurna

Gas Nitrat Oksida jika bereaksi dengan oksigen di


udara akan berubah menjadi gumpalan gas Nitrogen
Dioksida yang berwarna oranye atau merah

Formula Bahan Peledak


Kondisi Geologi
Desain peledakan.
p
Pemilihan produk bahan peledak
Pedoman Operasional dilapangan.
Kontaminasi Bahan Peledak dilubang
ledak.

4. Penanganan Pengamanan
Terhadap Asap
Melakukan tindakan untuk melindungi
personil yang berada di arah tiupan angin
agar tidak terkena oxide dari nitrogen
Pastikan personil mengetahui warna dan
level asap yang timbul paska peledakan
serta dampaknya
Dokumentasikan dengan camera atau
video untuk keperluan analisis asap
berbahaya tersebut

6/1/2013

Pastikan asap berbahaya hilang terlebih


dahulu, baru petugas blasting melakukan
pengecekan rangkaian peledakan
Perencanaan pengaturan medikal dan
informasi
mengenai
penanganan
kesehatan harus disampaikan kepada
dokter yang merawat.
Pada awalnya personil mungkin saja
terlihat tidak terpengaruh apa-apa.
Observasi selama 24 jam perlu dilakukan
untuk mengetahui apabila ada efek
pulmonary oedema yang tertunda/belum
muncul.

5. Baku tingkat bahaya asap


5.1. Skala asap

5.2. Toxicologi (racun) dalam asap


Australian Exposure standards.
50 ppm NO2 dan 100 ppm NO selama 30 menit.
Berbahaya
terhadap
kesehatan
secara
langsung Badan Kesehatan Kerja- US
200 ppm selama 1 menit Lethal (mematikan)

6/1/2013

5.3. Efek racun versi NO2


NO2
(ppm)
0.04-5
0.3-0.5

Waktu
terpapar

20

30 menit

30

40 menit

30
30

70 min
2 jam

80
90

3-5 min
40 menit

2 jam

Respon kesehatan
ambang batas bau
Penurunan fungsi paru, batuk dan kering
tenggorokan dan mulut.
Tingkat
g
IDLH ((Immediately
y Dangerous
g
to
Life or Health)*
Sensasi
tergelitik
di
hidung
dan
tenggorokan
Sensasi terbakar dan batuk
sensasi terbakar di dalam dada, sesak
napas
Dada sesak
Cairan di paru-paru

Bibliografi
1. Code Of Practice Prevention And
Management Of Blast Generated
Nox Gases In Surface Blasting
Edition
2
August
2011.

1. PENGERTIAN
Peledakan pada lubang panas dan tanah
reaktif adalah reaksi dari bahan peledak yang
dapat menyebabkan detonasi prematur di area
pada suhu tinggi atau tanah reaktif.
Tanah Reaktif adalah batuan yang mengalami
reaksi eksotermis spontan setelah kontak
dengan nitrat.
Hot ground adalah tanah panas bila suhunya
55o C atau lebih tetapi kurang dari 100o C [AS
2.187,2-2.006 - Section 12.6.1].

6/1/2013

2. LATAR BELAKANG
Empat kondisi utama elevated temperature
ground and reactive ground:

Table 1 Examples of known incidents caused by


elevated temperature and/or reactive Ground
Date

Location

Type1

Details of Incident

2006

Curragh

2005

Black Star

HR

Two blastholes detonated due to slumped


hot material that was undetected when
drilled.
Premature detonation.

2005

Moura

Melted primer.

2003

Ernest Henry

Melted lead lines (2 leads in one hole).

2003

Drayton

Detonating cord
bench surface.

2002

Collinsville

Melted primer.

2000

Parkes

Spillage fire.

1998

Century

AN spilt on the bench started to burn


several days after the shot was fired.

1998

Ok Tedi

HR

Drill cuttings caught fire.

1998

3. KASUS/INSIDEN YANG PERNAH


TERJADI :
1. Ada sejumlah insiden yang telah terjadi di
beberapa negara juga di Indonesia, di
industri
pertambangan yang dikaitkan
dengan suhu tinggi dan / atau tanah reaktif.
Antara lain bahan peledak meleleh, ledakan
prematur, lubang ledak terbakar seperti
tabel berikut.
2. Kideco detonator meleleh
3. Indominco Mandiri Bontang Peledakan
premateur

Sons of Gwalia

caught fire

on

Several holes at Jacoletti pit started smoking within 20 minutes of


being loaded with heavy ANFO.

1998
1998

Southern Cross
Collinsville

R
R

ANFO spillage fire.


A hole loaded with sawdust/ANFO detonated prematurely.

1997
1995

Minahasa
Saraji

U
R

Premature detonation.
Spillage on bench reacted with drill cuttings from sulphide band
above K seam.
Holes containing emulsion (heavy ANFO)
caught fire.
Blasthole detonated while blast crew and drill on shot due to
burning of stringer coal seams.
Emulsion in a shot which had been sleeping for several months
detonated.
Paradise Peak Gold premature detonations with ANFO.

1995

Collinsville

1994

New Hope

1992

Mt Leyshon

1991

USA

1990?

Dominican Republic

Heavy ANFO caused burning and premature detonation.

1989

Mt Lyell

Explosive ejection premature detonation of


AN emulsion within 10 hours of loading.
Battle Mountain Gold premature detonations with ANFO.

1989

USA

1989/90
1987

Faro, Canada
Mt Whaleback

U
R

1983

Mt Whaleback

1968

Russia

1963/64/65 Mount Isa

Premature detonation.
A hole which was lined and loaded with ANFO
detonated when the hole liner split.
A hole loaded with ANFO detonated prematurely.
Gaiskii Combine copper, spontaneous detonation with AN
explosives.
Holes in 500 ore body became incandescent on contact with ANFO.
Premature detonations.

6/1/2013

Note 1:
H = Elevated temperature ground only.
R = Reactive ground only.
HR = Elevated temperature and reactive ground.
U = Information unavailable.

5.2. Risiko peledakan Elevated

Temperature Ground:

4. Indikator adanya tanah reaktif:

Operator dapat terpapar oleh suhu tinggi.

1. Adanya
y lapisan
p
sedimen sulfida berwarna hitam.
2. Sulfida dalam batuan yang termineralisasi.

Operator dapat terpapar oleh uap beracun


Kontak dengan uap dari produk emulsi dan
ANFO.
Detonasi yang diikuti oleh dekomposisi
Lelehan dan dekomposisi dari bulk & package

5. Elevated Temperature Blasting


5.1. Penyebab Elevated Temperature

Ground:

Pemanasan geothermal dari aktivitas gunung


api

G di geothermal.
Gradien
th
l

Terbakarnya lapisan batubara.

5.3. SOP Elevated Temperature

Ground:

Mengurangi sleep time bahan peledak


Monitor suhu setiap lubang dan dicatat
posisinya
Perhatikan p
perubahan suhu mendadak di
suatu lubang
Untuk lubang panas pilih sleep time kecil
Lubang yang terlalu panas tidak perlu diisi
bahan peledak atau ditutup
Peralatan pengukuran harus standard
(logging) jangan gunakan infra merah

6/1/2013

5.4. Urutan pengisian lubang

6.1. Risiko Blasting in Reactive

Pengisian dimulai pada lubang yang tidak

Ground

panas
Tie up dan penyalaan dilakukan dengan
segera pada kondisi yang berubah cepat

Premature detonasi dan timbul panas


Detonasi secara masal
Deflagrasi-lalu-detonasi
g
di single
g holes
Terjadi ledakan antar lubang.

(misalnya perubahan cuaca atau sleep


time akan habis).
Lubang panas diisi paling akhir

6. Reactive Ground Blasting


Reaksi Kimia :
Iron Sulphides + Oxygen + Water
Ferrous Ions + Sulphuric Acid
Reaksi ini exothermis menimbulkan panas pada
lubang ledak. Suhu bisa meningkat dari 2C sd
>100C.
Nitrates + Iron Sulphides + Ferrous Ions +
Sulphuric Acid
Nitric Oxide + Ferric Ions + HEAT
Iron Sulphides + Nitric Oxide + Ferric Ions
Ferrous Ions + Sulphuric Acid
Nitrates + Fuels (sulphides, diesel etc) + Heat
EXPLOSION

6.2. Standard Operating Procedure

Seleksi produk
Waktu peledakan tidur (sleep time)
Urutan loading
Monitor suhu lubang ledak
M it suhu
Monitor
h permukaan
k
Urutan pengisian handak ke lubang
Deliniasi zona
Tumpahan produk
Stemming material

6/1/2013

Bibliografi

1. PEMBORAN DAN PELEDAKAN BAWAH


AIR/LAUT

1. Code
of Practice Elevated
Temperature
and
Reactive
Ground Version 1.1 March 2007
(Australian
Explosives
Safety Group Inc)

Industry

And

2. Peledakan Pada Tanah Yang


Reaktif Di Pit Ab PT. KPC

Kegiatan

peledakan

konstruksi

dilakukan antara lain untuk

yang

mendalamkan

pembangunan
g
dermaga
g
dasar laut untuk p
pelabuhan terminal batubara atau bahan
tambang lain, pembongkaran fondasi dam
dan lainnya.

Biasanya berada disekitar hutan bakau,


atau disekitar
gundukan karang yang
mungkin
keberadaannya
merupakan
karang laut atau biota laut yang dilindungi.
Kegiatan dekat dengan pemukiman,
seperti kegiatan peledakan bawah laut di
Pelindo II Bojonegara Merak Banten, juga
yang pernah dilakukan oleh proyek
pengembangan terminal batu bara Hay
Point Coal Terminal Expansion Project
Brisbane Australia.

6/1/2013

2. Proses Perijinan :

Instansi Kepolisian

Instansi Pelabuhan (Pelindo)

Instansi Kelautan

Instansi Kementrian Lingkungan Hidup

Pelindo Bojonegara UWB

Instansi Hidro Oceanografi dari Angkatan


Laut

ESDM dan Instansi terkait lainnya.

3. Rancangan Peledakan
di Hay Point Coal Terminal :
Metode peledakan permukaan letaknya di
dasar laut
Charge/delay antara100 kg sampai 200 kg
per ledakan
Peledakan masa batuan antara 150 kg
sampai 2.000 kg
Penggunaan delay adalah nonel mapun
electronic delay

6/1/2013

Karena dikawasan terdapat kapal-kapal yang


berlabuh dan dekat pemukiman disekitar
dermaga pada jarak 2 3 km, maka jumlah
lubang dibatasi hanya 24 lubang ledak.
Getaran p
peledakan harus dibawah German
Standard DIN 4150 Structural Vibration Part
3: Effects of Vibration on Structures
berhubungan dengan dermaga dan struktur
fondasi belt conveyor
Airblast atau tekanan gelombang bawah air
harus dibawah standard yang ditentukan

Diameter lubang ledak adalah 80 mm dan 100


mm menggunakan alat bor a large jack-up
barge platform. (Gambar alat bor)
Jumlah lubang ledak setiap peledakan
maksimum 24 lubang
Bila diameter lubang ledak 100 mm maka
menggunakan bahan peledak kardrij dengan
diameter 80 mm, Burden 2,25 m dan Spacing
2,25 m
Dengan menggunakan single deck , pada
kedalaman 3,5 m 8 m stemming 0,5 m,
material stemming harus gravel

4. Isu kunci desain Peledakan


Tingkat fragmentasi harus baik untuk
memfasilitasi
pengerukan/pembongkaran
hasil peledakan yang bisa dilakukan oleh
backhoe
and
grabdredge
removal
(mechanical dredgers)
Meminimalkan
dampak
terhadap
lingkungan (terhadap kehidupan laut dan
struktur sekitarnya )
Jangka waktu keseluruhan yang diperlukan
untuk bekerja (dalam siklus pengerukan)
harus ditentukan

Hole charged antara 3 m 7,5 m berisi


antara 7,5 kardrij 18,75 kardrij dengan
jumlah bahan peledak/delay antara 15,6
kg/delay 39 kg
Berat kardrij ukuran 400 mm x 80 mm
adalah 2,08 kg (Orica powergel booster)
PF 0,88 0,96
Bila diameter lubang ledak 125 mm,
maka bahan peledak kardrij diameter 100
mm, Burden 3 m dan Spacing 3 m

10

6/1/2013

Jack-up barge platform


Semakin besar diameter maka jumlah
handak/ delay semakin besar
Untuk ukuran kardrij 500 mm x 100 mm,
beratnya adalah 4,5 kg (Orica powergel
booster))
Hole charged antara 3 m 7,5 m berisi
antara 6 kardrij 15 kardrij dengan
charge/delay antara 27 67,5 kg/delay

PF 0,86 0,94

Underwater Blasting in Alfeciras,


Spain used to help move the
Largest Floating Dock in the
World

Bila menggunakan double deck maka


jumlah bahan peledak/delay menjadi 22.5
kg (dari 54 kg), dan menjadi 31.5 kg (dari
67.5 kg), dengan demikian muatan bahan
peledak lebih kecil dari single deck
Material stemming harus gravel

11

6/1/2013

Skema Lubang Bor

Tabel Pola Peledakan

Gravel for stemming

Loading handak & stemming

12

6/1/2013

5. ANTISIPASI DAMPAK PELEDAKAN


BAWAH AIR/LAUT
5a. Dampak Getaran Peledakan
Getaran peledakan bawah air memberikan
dampak
terhadap struktur bangunan
disekitarnya, antara lain konstruksi fondasi
belt conveyor, fondasi dermaga, pemukiman
yang berada disekitar lokasi peledakan
sampai jarak antara 1 km 2 km

Prediksi Getaran : PPV= k(R/Q0,5)-m


Dimana :
PPV = besar getaran (mm/s)
K = konstanta (100 5000)
R = jarak (m)
Q = jumlah bahan peledak/delay (kg)
m = (-1,6)

Bila jarak konstruksi belt conveyor/fondasi


dermaga pada jarak 200 m, Q (67 kg)
menggunakan single deck , dengan
menggunakan k = 2000, maka besar
getaran (PPV) adalah :

Blasting Point

Hydrophone

PPV= 2000(200/670,5)-1,6
PPV= 12.029 mm/s

13

6/1/2013

Indonesian Standard SNI 7571:2010


Bila menggunakan double deck maka Q
(31 kg), besar getaran (PPV) adalah :
PPV= 2000(200/310,5)-1,6
PPV= 6,49 mm/s

DIN 4150,

Berdasarkan grafik maupun


table DIN 4150 prediksi PPV
dengan single deck
mencapai 12,09 mm/s berarti
melebihi standard, tetapi
dengan menggunakan
double deck maka PPV
menjadi 6,49 mm/s masih
dib
dibawah
h ambang
b
b t
batas.
Country

Germany

PPV
(mm/s)

Frequency
(Hertz)

Type of Structure

10

Sensitive (L3)

3-8

10 - 50

Domistic Houses (L2)

8 - 10

50 - 100

Industrial Structural (L1)

Berdasarkan grafik
Indonesian Standard SNI
7571:2010 prediksi PPV
dengan single deck
mencapaii 12,09
12 09 mm/s
/
berarti melebihi standard,
tetapi dengan
menggunakan double deck
maka PPV menjadi 6,49
mm/s masih dibawah
ambang batas.

5b. Dampak Noise Terhadap Biota Laut


Noise peledakan bawah air memberikan
dampak yang besar terhadap kehidupan biota
laut, antara lain trauma yang kuat bahkan
kematian biota laut, gangguan pendengaran
bersifat permanen (permanent threshold shift,
PTS)) atau sementara ((temporary
p
y threshold shift
TTS ).
Jarak aman dampak noise peledakan bawah
laut terhadap Gangguan perilaku biota laut
berdasarkan (SKM 2009) Underwater Blasting
Ecological Impact Assessment. Sinclair Knight
Merz. Brisbane., berdasarkan jumlah bahan
peledak/delay

14

6/1/2013

Predicted Safe Distance To Meet


Exposure Criteria for Marine Animals

6. Blasting Monitoring
a. Pra Survey Blasting

High tech underwater camera

b. Pemantauan saat Peledakan


Pengukuran Getaran Peledakan

Pengukuran Noise

c. Survai Setelah Peledakan


Survai biota laut
Survai konstruksi bangunan

15

6/1/2013

Hydrophone
Monitor migrasi mamalia didalam laut
Blasting

UWB Oleh Kontraktor Lokal Banyak ikan Mati

7. PENGERUKAN MATERIAL
HASIL LEDAKAN BAWAH AIR

16

6/1/2013

Tempat pembuangan material hasil ledakan


harus mendapatkan ijin dari instansi terkait,
baik dilaut dalam atau dibuang didarat seperti
contoh di Australia : the Environment

Protection (Sea Dumping) Act 1981

Commonwealth) and a Marine Park Permit under


the Great Barrier Reef Marine Park Act 1975.
Pada saat pengerukan pastikan tidak
menimbulkan efek turbulensi yang
mengakibatkan kekeruhan yang berlebihan
Pada saat pembuangan ditempat disposal tidak
boleh terlalu tebal agar tidak
mengganggu/mengubur organisme bentik

(benthic organisms).

Bibliografi
Dredging and Blasting Environmental
Hay Point Coal Terminal Expansion Phase 3
(HPX3)
BM Alliance
a ce Coa
Coal Operations
Ope at o s Pty
ty Ltd.
td
22 October 2010

GROUND VIBRATION
& AIR BLAST

DWIHANDOYO MARMER

KELUHAN/KLAIM MASYARAKAT
DINDING RETAK/ROBOH DI CIREBON ?
STABILITAS LUBANG BUKAAN TAMBANG
KUARI ANDESIT DI LAMPUNG DI TUNTUT RP, 400 JUTA?
LOKASI BLASTING DI DUDUKI MASYARAKAT DI TUBAN
& SENAKIN KALTIM
DI SANGATA LSM KLAIM 25 JT/KELUARGA KRN
SUARA LEDAKAN
RUMAH YG RETAK KLAIM 50 JT ?
ADANYA KORBAN JIWA AKB. FLY ROCK, (SERANG &
KALSEL)
RBH TIDAK BISA BLASTING DIKLAIM 5 DESA
PULUHAN RUMAH LONGSOR DI RUMPIN
PELEDAKAN PADA JARAK KURANG DARI 300 M

17

6/1/2013

RUMPIN

Struktur Sipil

Rumpin Bogor

Desa Walahir

Lokasi Retakan di depan Mushola

18

6/1/2013

Microphone

BlastMate III

DAMPAK
PERSELISIHAN
MASYARAKAT

PERUSAHAAN

INDEPENDEN

Geophone

tekMIRA
tekMIRA
ITB, UPN DLL
PT. DAHANA DLL

Minimate Plus

PARAMETER GETARAN
ENERGI PELEDAKAN

ENERGI TERPAKAI
(HANCURKAN BATUAN)

ENERGI
KEJUT

ENERGI
GAS

ENERGI SISA
(GETARKAN LINGKUNGAN)

ENERGI
PANAS

ENERGI
SINAR

ENERGI
SUARA

ENERGI
SEISMIK

Perpindahan Simpangan yaitu


jarak gerakan partikel batuan dari
posisi
yang
sebelumnya
seimbang ke suatu titik yang
dikehendaki
dalam
waktu
tertentu, biasanya diukur dalam
satuan inci atau mm.

Perpindahan
Kecepatan
Percepatan
Kecepatan yaitu gerakan
partikel batuan
ketika
meninggalkan tempat dari
kondisi
semula
diam,
biasanya diukur dengan
satuan
inci/sec
atau
mm/det.

Percepatan adalah laju pada saat


terjadi
perubahan
kecepatan
partikel. Tenaga yang dipakai oleh
partikel yang bergetar adalah
sebanding
dengan
percepatan
partikel
tersebut.
Percepatan
gravitasi (g) besarnya adalah 32,2
ft/sec2 atau 9,82 m/det2.

19

6/1/2013

Peledakan yg aman SD = 50. Bila SD>50 atau >60 menandakan


vibrasi kecil,
Bila SD<50 kemungkinan terjadi kerusakan cukup besar.

K dipengaruhi oleh sifat -sifat (tipe) bahan peledak , karakteristik geologi


setempat.
m tergantung pada sifat batuan antara lokasi peledakan dengan alat pemantau
(seismograf). Keberadaan rekahan pada batuan akan menghasilkan kecepatan
gelombang longitudinal dari modulus elastisitas yang rendah, sehingga
getaran bumi pun menjadi lemah

U. S. Bureau of Mines No.656 tahun 1971 : v =


H (D /wa )b

CONTOH-2 SEISMOGRAF
Digital :
Blastmate/Minimate buatan Instantel Canada
Sinco buatan USA
Nomisc buatan Canada/USA
Texcel buatan Australia
VIBRACORD SPANYOL

Analog :
Rion buatan Jepang

SD = d/W0.5

20

6/1/2013

MICROMATE

MICROMATE ISSE OR DIN


TRIAXIAL GEOPHONE & ISSE
LINIER MICROPHONE

Vibracord Spanyol

U.S. Bureau of Mines, 1971 K = 100,


DuPont de Nemours & Co., 1977 (produsen bahan
peledak) K = 160
Canada Centre for Mineral and Energy
(CANMET), 1982 K antara 160 - 750
atau rata-rata 490.
Surface Mining Product and Service Reference Guide
K = 500 (free face hard or highly structured rock)
K = 1140 (free face avarage rock)
K = 5000 (free face heavyly confined)
Komponen m = -1,6

21

6/1/2013

PPV dari para ahli

CONTOH PREDIKSI V & AKTUAL

R
PPV = V k 0,5
Q
HD
(mm)
89
89
89
89
89
89
89
89
89
89

W/Delay
(Q) -- kgs
30,5
30,5
30,5
30,5
30,5
30,5
30,5
30,5
30,5
30,5

K
k PPV
1140
656
500
2500
590
700
500
2500
500
650

Blast
M
Distance
m PPV Monitoring R -- m
-1,6
690
-1,6
690
(OPS)
-1,6
690
-1,6
690
-1,6
380
-1,6
380
(TSF)
-1,6
380
-1,6
380
-1,6 MA1 Aekpinin 3080
-1,6 oundation pla 110

Q^0.5
PPV
5,52268
5,52268
5,52268
5,52268
5,52268
5,52268
5,52268
5,52268
5,52268
5,52268

CONTOH PREDIKSI AIR BLAST & AKTUAL


R
P k 0,33
Q

1,6

(R/Q^0.5)
(R/Q^0 5)^( 1 6)
(R/Q^0.5)^(-1.6)
PPV
124,939
0,000441857
124,939
0,000441857
124,939
0,000441857
124,939
0,000441857
68,8072
0,001147588
68,8072
0,001147588
68,8072
0,001147588
68,8072
0,001147588
557,7
4,03421E-05
19,9179
0,008340874

PPV
PPV
(pred.) in Actual
0,503717
0,289858
0,293
0,220928
1,104641
0,677077
0,803312
0,863
0,573794
2,868971
0,020171 no record
5,421568 no record

HD
(mm)
89
89
89
89
89
89
89
89
89
89

Blast
W/Delay
Distance
K
M
(Q) -- kgs Monitoring R -- m k PSPL m PSPL
30,5
690
185
-1,2
30,5
690
4
-1,2
((OPS))
30 5
30,5
690
45
-1,2
12
30,5
690
100
-1,2
30,5
380
185
-1,2
30,5
380
2
-1,2
(TSF)
30,5
380
1,36
-1,2
30,5
380
45
-1,2
30,5
SMA1
3080
2
-1,2
30,5
Foundation
110
2
-1,2

Q^0.33
PSPL
3,089007
3,089007
3 089007
3,089007
3,089007
3,089007
3,089007
3,089007
3,089007
3,089007
3,089007

1,2

PSPL
R/Q^0.33
(R/Q^0.33)^-1.2
(pred.) in
PSPL
223,372726 0,001517623 0,28076
223,372726 0,001517623 0,00607
223 372726 0,001517623
223,372726
0 001517623 0,06829
0 06829
223,372726 0,001517623 0,15176
123,016863 0,003104863
0,5744
123,016863 0,003104863 0,00621
123,016863 0,003104863 0,00422
123,016863 0,003104863 0,13972
997,084051 0,00025207
0,0005
35,6101447 0,013743948 0,02749

PSPL
(pred.) in
280,7602
6,070491
68 29302
68,29302
151,7623
574,3996
6,209726
4,222613
139,7188
0,504141
27,4879

PSPL (pred.)
in dB
142,9461048
109,3118205
130 6669239
130,6669239
137,6026724
149,1636827
114,1904871
106,490999
136,8844988
122,0098233
###########

PSPL Actual
dB(L)
Pa.(L)
109,2

5,75

105,5

3,75

no record
no record

PSPL in dB is calculated using pa. to dB converter from this site -http://www.sengpielaudio.com/calculator-soundlevel.htm

22

6/1/2013

Hasil Pengukuran 8-10 April

Analisis Scaled Distance 4 data

Grafik SD dg 75 % Line
Eq.

Grafik SD dg 1% Line Eq.

23

6/1/2013

Membuat Grafik SD dg
Excel

Lokasi 1 Batujajar, Bandung


Penampang
A-A

B-B

20 35 m

15 -20

40

70 - 80

70 - 75

70

Lebar Jenjang

15 m

15

15

Jumlah Jenjang

Tinggi Jenjang
Kemiringan Jenjang

C-C

Faktor Getaran
-Longitudinal : 0,4
-Tranversal : 0,2

Analisis Kestabilan Lereng


Input
Parameter

Jenis Batuan

Parameter Geoteknik
Andesit 1

Andesit 2

Gamping 1

Gamping 2

0,0247

0,0231

0,0238

0,0231

2 Modulus Elastisitas
2.
Elastisitas, MPa

7516

7510

8708

6124

3. Poissons Ratio

0,34

0,35

0,23

0,22

4. Kuat tarik, MPa

0,5

0,5

4,49

2,3

5. Sudut gesek dalam puncak,

40

40

44,9

40

6. Sudut gesek dalam residu,

35

35

33,6

31,98

7. Kohesi puncak, MPa

0,75

0,7

3,94

1,71

8. Kohesi residu, MPa

0,09

0,1

0,32

0,1

1. Bobot Isi(unit weight), MN/ m3

Distribusi perpindahan Kondisi statik

Distribusi perpindahan Kondisi dinamik

Faktor Keamanan kondisi statik

LINTASAN

B-B

Kondisi Statik

Kondisi Dinamik

Lantai

Toe

Crest

Lantai

Toe

Crest

0,0 028 m

0 ,0028 m

0 ,0004m

0 ,0037m

0,0 04 m

0,0 025m

Faktor Keamanan kondisi dinamik

LIN TASAN

B-B

Kondisi Statik

Kondisi Dinamik

Lantai

Toe

Crest

Lantai

Toe

Crest

1,83

2,03

6,0

1,3

1,83

6,0

24

6/1/2013

Pemasangan Geophone
Pengukuran yang dilakukan pada batuan
masif
geophone
cukup
diletakkan
mendatar (level), atau ditutup dengan
pemberat (sand bag) agar tidak bergerak
akibat getaran
Pengukuran pada batuan yang lepas
geophone harus dipasang 3 (tiga) buah
paku berulir kemudian ditancapkan
sampai
p
geophone
g
p
tidak bergerak,
g
, atau
ditanam sedalam 50 cm.
Arah panah harus menuju titik peledakan

MEKANISME PENJALARAN GETARAN & DAMPAK PELEDAKAN

Microphone

BlastMate III

DATA PELEDAKAN
HASIL PENGUKURAN
No Seri
Lokasi
Lokasi
Transversal
Vertikal
Longitudinal PVS Air Blast
Waktu Tanggal
Muatan/Delay Jarak
Alat
Peledakan
Pengukuran
maks (kg) (m)
mm/s Hz g mm/s Hz g mm/s Hz g mm/s dB
BE10292 13:00:11 06/03/2008 Front IV
300 Depan front 1,83 21,0 0,0331 1,78 23,0 0,0,0365 3,46 16,5 0,0398 3,66 68,3 (A)
750
BE10292 15:39:29
250 Depan front 1,60 9,4 0,0199 1,06 12,2 0,0199 1,65 12,6 0,0199 2,11 74,3 (A)
07/03/2008 Front IV
650
BE10292 15:46:24
150 Depan front 17,60 14,0 0,1760 6,75 13,3 0,1260 11,90 20,0 0,1060 18,3 101,8 (A)
BE10292 13:23:01 08/03/2008 Front IV
200 Depan front 4,67 26 0,0762 8,56 20,0 0,1030 8,16 13,3 0,0994 9,27 104,6 (A)
750
BE10292 12:52:02 09/03/2008 Front IV
270 Depan front 2,75 11,5 0,0331 2,86 8,5 0,0265 5,73 10,7 0,0464 6,59 91,2 (A)
350

Event

Geophone

Perekaman dari BlastMate III


Diproses oleh BlastWare III
Pada Notebook

Pengukuran di Semen
Padang

Printout Grafik
Hasil Monitoring

25

6/1/2013

26

6/1/2013

PENGUKURAN GETARAN 4 ARAH


SEKALIGUS

Distance 50-200m range PPV 75-157mm/s

Distance 500-1000m range PPV 1-2 mm/s

27

6/1/2013

Lokasi Pengukuran di L 600 Blok III

BLASTING
MONITORING

PERSIAPAN ALAT
SOSIALISASI/PRESURVEY BLASTING
PEMBORAN & PELEDAKAN
PENGUKURAN GETARAN
& KEBISINGAN

MODIFIKASI
TEKNIK BLASTING

YA

DAMPAK GET
& KEBISINGAN
> NAB
TIDAK

PEDOMAN

Monitoring getaran Sand blasting di Dev X Cut No. 4B (2)


KEP-48/MENLH/11/1966
(25 11 1966 )
BAKU TINGKAT KEBISINGAN
KEP.MENLH
(UMUM)

W 1.6 kg
W 2.0 kg

KEP-49/MENLH/11/1966
(25 11 1966 )
BAKU TINGKAT GETERAN

PVS 2.166 mm/s 30 m


PVS 2.106 mm/s 30 m

NAB

PVS 10.2 mm/s 15 m


PVS 10.8 mm/s 15 m

PVS 39.4 mm/s 7 m


PVS 29.3 mm/s 7 m

PELEDAKAN
(KHUSUS)

BAKU TINGKAT GETARAN &


BAKU TINGKAT KEBISINGAN
(PELEDAKAN INTERNASIONAL
TERMASUK
INDONESIAN STANDARD
SNI 7571:2010)

28

6/1/2013

INDIA

INTERNATIONAL STANDARDS

Jumlah Standar International pada saat ini 31 buah


Bila ditambah dengan Indonesian Standard
SNI 7571 : 2010 maka akan menjadi 32 buah

Indonesian Standard SNI 7571: 2010

29

6/1/2013

Indonesian Standard SNI 7571: 2010

Velocity (mm/s)

1000
254
200
100
Cl. 5
Cl. 4
Cl. 3

10

Cl. 2
Cl. 1

1
1

10

100

Frequency (Hz)
Tran: + Vert: x Long: 0
Class
Class
Class
Class
Class

1:
2:
3:
4:
5:

Historical/sensitive buildings
Bad structure for houses/ without slope
Medium structure for houses/ with slope
Good structure for houses/ frame structures
Industrial buildings

From: "Mask, Ron" <Ron.Mask@instantel.com>


>Date: Mon, 8 Mar 2010 15:55:19
>To: oky<oky_ar@has-environmental.com>; eric@aisys.com.sg<eric@aisys.com.sg>
>Cc: Subchan<subchan@has-environmental.com>;
>husna<h_anwari@has-environmental.com>; Turnbull,
>Bob<Bob.Turnbull@instantel.com>; Clouthier, Lisa<Lisa.Clouthier@instantel.com>
>Subject: RE: Blasting standart for Indonesia
>
>Hello everyone
>
>I look forward to receiving any information on the Indonesian blasting guidelines. All we
really need is the example of the frequency template, ie like the USA RI-8507 or German DIN
4550 vibration limits.
>
>Best regards
>Ron
>
>Ron Mask, Sales Manager, Instantel
>A member of The Stanley Works, 309 Legget Drive
> Ottawa , ON K2K 3A3, Canada

RE: Blasting standard for Indonesia


>From: oky [mailto:oky_ar@has-environmental.com]
>Sent: Monday, February 22, 2010 10:46 PM
>To: eric@aisys.com.sg
>Cc: Mask, Ron; Subchan; husna
>Subject: Blasting standart for Indonesia
>
Dear Eric,
How are you? just want to give you information about
the request to include a national standard for blasting
in Indonesia to the Instantel Software, for the
standard in Indonesia will be issue soon. and Mr
Handoyo as the formulator and friends still translate
the standard into English, I will immediately inform
you if the standard is issued.

Thursday, 1 April, 2010, 11:25 PM

From:
"Turnbull, Bob" <Bob.Turnbull@instantel.com>
View contact details
To:
"handoyo marmer" <hansmarmer@yahoo.com>
Cc:
"Mask, Ron" <Ron.Mask@instantel.com>
Message contains attachments
1 File (2KB)
Indonesian SNI 7571 2010.cpl

30

6/1/2013

Hello Dwihandoyo,
If you save the attached file in the Blastware/system/comply
directory and then in Blastware/report options select this file
as the compliance graph see below.
Then when you view or print it will print the event data on
this graph. Let me know if you have any issues

Best Regards,
Bob Turnbull , Product Development and Service Manager
Instantel
A member of The Stanley Works
309 Legget Drive Ottawa, ON K2K 3A3, Canada
Tel: 1.613.592.4642, ext. 137
Toll Free: 1.800.267.9111

1 April 2010
Indonesian
Standard
Sudah masuk
Ke
Standard
Internasional

31

6/1/2013

BAKU TINGKAT GETARAN MEKANIK

BERDASARKAN JENIS BANGUNAN


(KEP-49/MENLH/11/1996)
Lampiran III

KECEPATAN GETARAN (mm/detik)


PADA PONDASI
KELAS

PADA BIDANG
DATAR DILANTAI
ATAS

TIPE BANGUNAN
FREQUENSI

1.

Bangunan untuk keperluan niaga,


bangunan industri dan bangunan
sejenis

2.

Perumahan dan bangunan dengan


rancangan dan kegunaan sejenis

3.

Struktur yang karena sifatnya peka


terhadap getaran, tidak seperti
tersebut pada no. 1 dan 2, dan
mempunyai nilai budaya tinggi seperti
bangunan yang dilestarikan

50 - 100 Hz

CAMPURAN
FREQUENSI

20 - 40

40 - 50

40

5 - 15

15 - 20

15

3-8

8 - 10

8.5

< 10 Hz

10 - 50 Hz

< 10

BAKU TINGKAT GETARAN MEKANIK


BERDASARKAN DAMPAK KERUSAKAN
(KEP-49/MENLH/11/1996) Lampiran II
GETARAN

BAKU TINGKAT GETARAN KEJUT


(KEP-49/MENLH/11/1996)
Lampiran iv

BATAS GETARAN. PEAK (mm/detik)


FREKUENSI

PARAMETER

SATUAN

(Hz)

KATEGORI

KATEGORI

KATEGORI

KATEGORI

Kecepatan
Getaran

Mm/detik

4
5

<2
<7,5

2 - 27
<7,5 25

>27 - 140
>25 - 130

>140
>130

Frekuensi

Hz

6.3
8
10
12,5
16
20
25
31,5
40
50

<7
<6
<5,2
<4,8
<4
<3,8
<3,2
<3
<2
<1

<7 21
<6 19
<5,2 16
<4,8 15
<4 14
<3,8 12 <3,2
10
<3 9
<2 8

>21- 110
>19 - 100
>16 - 90
>15 - 80
>14 - 70
>12 - 67
>10 - 60
> 9 - 53
> 8 - 50
> 7 - 42

>110
>100
>90
>80
>70
>67
>60
>53
>50
>42

<1 7

KELAS

KECEPATAN
GETARAN
MAKSIMUM
(MM/DETIK)

1.

Peruntukan dan bangunan kuno yang mempunyai nilai sejarah Yang


tinggi

2.

Bangunan dengan kerusakan yang sudah ada, tampak keretakanKeretakan pada tembok

3.

Bangunan untuk dalam kondisi teknis yang baik, ada kerusakankerusakan kecil seperti : plesteran yang retak

4.
Kategori A: Tidak menimbulkan kerusakan
Kategori B: Kemungkinan keretakan plesteran (retak/terlepas plesteran pada dinding pemikul beban
pada kasus khusus)
Kategori C: Kemungkinan rusak komponen struktur dinding pemikul beban
Kategori D: Rusak dinding pemikul beban

JENIS BANGUNAN

Bangunan kuat (misalnya bangunan industri terbuat dari beton


atau baja

10

10 - 40

(SEPERTI DIN)

32

6/1/2013

Struktur Sipil

Grafik Nilai Ambang Batas Tingkat Getaran Peledakan


Kriteria Singh, P.K (2002)]

Desa Walahir

350
300

Major Damage

PPV mm
m/s

250
200

Minor Damage

150
100

Safe

50
0
0

10

20

30

40

50

RMR

60

70

80

90

KOMPENSASI GETARAN PELEDAKAN di Desa Walahir

Struktur Sipil

Desa Walahir

PELEDAKAN HARUS DILAKUKAN DENGAN


BIDANG BEBAS. JIKA BIDANG BEBAS TIDAK
TERDAPAT DI SUATU LOKASI, MAKA
BEBERAPA ALTERNATIF YANG DAPAT
DIGUNAKAN ADALAH :
LINE DRILLING
SLOT DRILING
PEMBUATAN PARITAN DI AREA
PELEDAKAN
DECK LOADING
METODE PELEDAKAN TUNDA

Lokasi Retakan di depan Mushola

33

6/1/2013

LINE DRILLING

PEMBUATAN PARITAN DI AREA


PELEDAKAN
EXCAVATION LINE

50% LOAD OF
PRIMARY HOLES
NORMALLY LOAD
PRIMARY HOLES

FREE
FACE

SLOT DRILLING

Surface Miner

34

6/1/2013

INVERSIONS - POTENTIAL TROUBLE

METODE PELEDAKAN
TUNDA

HOLE 1

HOLE 2

HOLE 3

SEISMIC WAVE 3

Altitude

DECK
LOADING

SEISMIC WAVE 2

SEISMIC WAVE 1

AIR BLAST
Air Blast Atau Ledakan Udara Adalah Sejumlah Tertentu Energi
Bahan Peledak Yang Keluar Ke Atmosfer
Penyebabnya :

Tekanan Udara
Tekanan Batuan
Pelepasan Gas
Pelepasan Stemming

PENGARUH BEBERAPA TINGKAT AIR BLAST


dB

Psi

180

3.0

Structural damage

170

0.95

Most windows break

160

0.30

150

0.095

Some windows break

140

0.030

OSHA maximum for impulsive sound


USBM TPR 78 maximum

130

0.0095

120

0.0030

USBM TPR 78 safe level

Air Blast atau Ledakan Udara menjadi penyebab keluhan utama


masyarakat dibandingkan vibrasi

Threshold of pain for continuous sound


Complaints likely

110

0.00095

100

0.00030

90

0.000095

80

0.000030

OSHA maximum for 15 minutes


OSHA maximum for 8 minutes

35

6/1/2013

Sound Pressure
Pa

Sound Pressure Level


140 dB Threshold of Pain

100.000.000

130

Jet Engine
(25 m distance)

Jet Take Off


(100 m distance)

120
10.000.000

110
100
1.000.000

90

Heavy Truck

Average Street
Traffic

80
100.000

70
Conversation
Speech

Business Office

60
10.000

50
Library

40

Living Room

1000

30
20
Bedroom

10
20

PENGUKURAN
KEBISINGAN
BOEING 737-200
SAAT LANDING
DI BANDARA
KALIMARU
BERAU
PADA
KETINGGIAN 400
M

Wood

100

Sound and Everyday Events by Bruel & Kjaer

Pneumatic Chipper

Pop Group

Threshold of Hearing

PENGUKURAN
KEBISINGAN
BOEING 737-200
SAAT LEPAS
LANDAS DI
BANDARA
KALIMARU BERAU
PADA KETINGGIAN
400 M

36

6/1/2013

Kep MenLH No: KEP-48/MENLH/11/1996)


Peruntukan Kawasan/ Lingkungan Kegiatan
a.

b.

Peruntukan Kawasan
1. Perutnahan dan Pemukiman
2. Perdagangan dan Jasa
3. Perkantoran dan Perdagangan
4. Ruang Terbuka Hijau
5. Industri
6. Pemerintahan dan Fasilitas Umum
7. Rekreasi
8. Khusus :
- Bandar Udara
- Stasiun Kereta Api
- Pelabuhan Laut
- Cagar Budaya
Lingkungan Kegiatan
1. Rumah Sakit atau sejenisnya
2. Sekolah atau sejenisnya
3. Tempat ibadah atau sejenisnya

Tingkat Kebisingan
dB (A)
55
70
65
50
70
60
70
70
60

55
55
55

37

6/1/2013

Kel. Lingkungan Lantai 4


Puslitbang tekMIRA
Dwihandoyo
Tectonic Earth Quake, Selat Sunda

BESAR GETARAN GEMPA DENGAN ALAT BA-8917, 15 APRIL 2005 JAM 11.14.52

Kel. Lingkungan Lantai 4


Puslitbang tekMIRA
Dwihandoyo
Tectonic Earth Quake, Selat Sunda

0.950 mm/s

GRAFIK GELOMBANG GETARAN GEMPA, DENGAN ALAT BA-5372

GRAFIK GELOMBANG GETARAN GEMPA, DENGAN ALAT BA-8917

38

6/1/2013

SUMBER : HARIAN PIKIRAN RAKYAT 16 APRIL 2005

39

Anda mungkin juga menyukai