Anda di halaman 1dari 10

Laporan Praktikum ke-3

Kesehatan Ruminansia

Hari/Tanggal : Senin/ 28 September 2015


Pukul
: 14.00 18.00
Dosen
: drh Retno Wulansari, Msi, Ph. D
Asisten Dosen : drh. Surya Kusuma Wijaya
drh. Heryudianto Vibowo
Dahlan
PRAKTIKUM III

PEMERIKSAAN FISIK SAPI DAN DOMBA REGIO THORAKS


Kelompok 3 :
Nama
Annisa Nintyarifa
Cynthia Anugrahaty
Matelda Septia Riany
Dian Anggriani
Berlina Octaria
Ade Ariesta Putri

NIM
J3P113017
J3P113031
J3P113000
J3P213000
J3P113005
J3P113019

TTD
1.
2.
3.
4.
5.

PROGRAM KEAHLIAN PARAMEDIK VETERINER


DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2015

6.

PENDAHULUAN
Bagi negara yang beriklim tropis seperti Indonesia dengan keadaan cuaca
yang panas sangat kering atau lembab akan mempengaruhi status kesehatan
ternak. Salah satu cara untuk menjaga kesehatan ternak adalah dengan mengontrol
dan mengatur tata laksana kesehatan ternak, antara lain dengan pemeriksan
kesehatan ternak melalui pengamatan tingkah laku ternak, pemeriksaan fisik
tubuh ternak dan pemeriksaan kondisi fisiologis ternak. Pemeriksaan fisik hewan
merupakan salah satu hal yang biasanya dilakukan baik untuk mengetahui kondisi
hewan maupun untuk mendiagnosa suatu penyakit yang ada pada hewan tersebut.
Teknik atau cara melakukan pemeriksaan fisik hewan meliputi inspeksi,
palpasi, perkusi, auskultasi, dan membau. Pemeriksaan fisik biasanya dilanjutkan
dengan pemeriksaan status present. Pemeriksaan status present adalah
pemeriksaan fisik dengan ruang lingkup pemeriksaan terhadap keadaan umum
hewan. Ada juga pemeriksaan lain selain pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
status present yaitu pemeriksaan klinis. Pemeriksaan klinis adalah pemeriksaan
fisik dengan ruang lingkup pemeriksaan terhadap keadaan khusus hewan
(kelainan organ).
Tujuan praktikum kali ini adalah agar mahasiswa dapat mengetahui
keadaan atau kondisi fisik hewan dengan cara pemeriksaan fisik serta dapat
mengetahui keadaan-keadaan yang tidak normal (keadaan sakit) dengan
mengetahui keadaan normal hewan terlebih dahulu.
METODOLOGI
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan untuk pemeriksaan fisik pada regio thoraks adalah
stetoskop, palu perkusi, fleximeter dan termometer. Bahan yang digunakan pada
praktikum kali ini adalah domba dan sapi.
Metode Kerja
Metode untuk pemeriksaan fisik bagian rongga thoraks pada sapi dan
domba menggunakan empat metode yaitu inspeksi, palpasi, perkusi, dan
auskultasi. Data yang harus didapatkan adalah signalemen, anamnesis, dan status
present. Status present dapat dilakukan dengan pengamatan dengan mata langsung

adalah perawatan hewan, tempramen, habitus, tingkah laku, gizi, pertumbuhan


badan, sikap berdiri, dan sikap adaptif lingkungan. Sedangkan untuk mengetahui
suhu tubuh, hal pertama yang dilakukan adalah hewan dipastikan tidak merasa
terganggu dan termometer dalam keadaan siap digunakan, lalu paramedik berdiri
disebelah kiri hewan. secara perlahan tangan kiri mengangkat ekor hewan
sedangkan tangan kanan memasukkan termometer ke rektum secara perlahanlahan selama satu menit. Ambil termometer kemudian dibaca hasil nya dan
dicatat.
Frekuensi nadi pada sapi diperiksa di arteri coccygealis dengan menekan
pada daerah arteri median atau pada domba di bawah musculus pectoralis
superficial posterior pada ektremitas dengan bagian atas sebelah dalam bagian itu
akan terasa denyutan. Kemudian hitung berapa banyak denyutan itu terasa selama
satu menit. Frekuensi respirasi/ nafas bisa diukur secara visual mengunakan
punggung tangan didepan hidung hewan. Lalu dihitung berapa kali hewan
menghembuskan nafas selama satu menit, selain itu dapat juga diukur dengan
menghitung gerakan abdomen dalam waktu satu menit.
Pemeriksaan bagian thoraks dilakukan dengan empat cara yaitu inspeksi,
palpasi, perkusi dan aukultasi. Inspeksi dilakukan dengan cara bagian costae
diamati kesimetrisannya, tipe pernafasan, ada tidaknya lesio dan abnormalitas
lainnya. Palapasi dilakukan denga cara intercostae diraba apakah pada saat
perabaan sapi atau domba merasa kesakitan atau tidak, apakah ada benjolan
abnormal dibagian thoraks dan dislokasi pertulangan. Perkusi dilakukan dibagian
lapang paru-patu dan lapang jantung. Auskultasi atau mendengarkan suara yang
ada dalam organ bagian dalam dilakukan dengan meletakan stetoskop ke bagian
dada area paru-paru yang akan didengar suara-suara vesicular atau bronchial.
Pemeriksaan pada jantung dapat didengarkan di bagian dada sebelah kiri. Untuk
mendengarkan suara peristaltik usus, stetoskop diletakkan dibagian flank sebelah
kanan sapi
Pemeriksaan lapang paru-paru dilakukan menggunakan alat yang bernama
palu perkusi dan fleximeter. Fleximeter yang digunakan harus benar-benar ditekan
pada bidang perkusi agar diantara fleximeter dan perkusi tidak terdapat celah
udara. Palu perkusi tidak boleh dipegang kuat-kuat, tetapi harus dapat digerakkan

di antara ibu jari dan kedua jari pertama dengan sendi pergelangan tangan sebagai
pengendali gerak. Setiap ketukan palu perkusi harus jatuh tegak lurus pada
fleximeter. Seluruh daerah yang diperiksa harus diperkusi epanjang garis-garis
yang sejajar dan tidak hanya dilakukan pada beberapa tempat saja. Secara
berurutan, cara mencari lapang paru-paru adalah pertama tentukan tempat yang
akan diambil yaitu sejajar dengan os coxae, os tuber ischii dan os scapula.
Kemudian dengan palu perkusi memukul fleximeter yang telah diletakkan di
bagian intercostae sapi dari arah cranial menuju caudal. Lapang paru-paru
ditentukan dengan cara mendengarkan perbatasan suara nyaring dan redup yang
ditimbulkan oleh palu fleximeter.
Pemeriksaan lapang jantung dilakukan menggunakan stetoskop. Stetoskop
diletakkan di bagian kiri os costae ke-3 dan ke-4. Kemudian dengarkan suara
jantung dari arah cranial menuju caudal. Perbesaran lapang jantung ditentukan
dengan suara detakan jantung terdengar sampai costae ke berapa. Uji tinju
dilakukan dengan cara bagian flank sebelah kiri sapi ditekan. Penekanan
dilakukan selama 5 menit dan hitung berapa kali rumen bergerak. Uji gumba
dilakukan dengan cara bagian gumba dari sapi ditarik ke atas. Jika sapi terasa
sakit, sapi akan memberontak.
HASIL
SIGNALEMEN
Jenis Hewan
Ras/Breed
Warna Rambut
Jenis Kelamin
Umur
Berat Badan
Tanda Khusus
ANAMNESIS
KEADAAN UMUM
Perawatan
Temperamen
Habitus
Gizi
Pertumbuhan badan
Sikap Berdiri

Sapi
Frissian Holstein
Hitam Putih
Jantan
3,5 tahun
300 kg
Tidak ada

Domba
Lokal
Putih
Jantan
< 1 tahun
20 kg
Terdapat pigmen di
kelopak mata

: Pemeriksaan kesehatan fisik


Baik
Jinak
Tulang belakang rata
Baik
Baik
Berdiri dengan 4 kaki

Baik
Jinak
Tulang belakang rata
Baik
Baik
Berdiri dengan 4 kaki

Temperatur (oC)
Frekuensi nadi
Frekuensi napas
Frekuensi jantung

38,9
64
20
64

39,2
96
30
96

Adaptasi Lingkunga : baik


THORAKS DAN ABDOMEN
Inspeksi
Tipe Pernafasan
Abdominal
Ada atau tidak lesio
Tidak ada
Kesimetrisan
rongga Simetris
thoraks
Abnormalitas lainnya
Tidak ada kelainan
Palpasi
Benjolan abnormal di Tidak ada kelainan
bawah kulit
Dislokasi pertulangan
Tidak ada kelainan
Palpasi intercostae
Tidak ada kelainan
Perkusi
Lapangan paru-paru
Tidak ada perbesaran
Lapangan jantung
Tidak ada perbesaran
Aukultasi
Suara paru-paru
Bronkialus, Vasikularis
Suara peristaltik usus
Burboritme
Lain-lain
Uji tinju
7 kali / menit
Uji gumba
Tidak ada rasa sakit

Abdominal
Tidak ada
Simetris
Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
Tidak ada perbesaran
Tidak ada perbesaran
Bronkialus, Vasikularis
Burboritme
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

PEMBAHASAN
Pemeriksaan fisik adalah suatu metode yang dilakukan untuk mengetahui
kondisi kesehatan hewan. Teknik pemeriksaan ini pertama kali dilakukan saat
memeriksa hewan dan merupakan teknik yang paling sederhana. Pemeriksaan ini
sangat sederhana namun memerlukan keterampilan dan kejelian dalam memeliksa
bagian tubuh hewan. Ketika pasien datang yang diperhatikan pertama kali
sebelum melakukan tindakan pemeriksaan yaiut signalemen hewan. Signalemen
merupakan identitas hewan, yaitu ciri yang membedakan dirinya dengan hewan
lain. Tujuan signalemen sebagai komponen dalam surat keterangan hewan, berita
acara penyakit, dan surat keterangan kesehatan hewan. Surat-surat ini diperlukan
apabila hendak membawa hewan keluar suatu daerah ataupun untuk kepentingan
tertentu yang terkait dengan kesehatan hewan.

Signalemen pada sapi dan domba sangat penting untuk pendataan dalam
peternakan, pendataan hewan. Pendataan ini sangat penting untuk kepentingan
keberadaan hewan dalam peternakan dan terutama dalam kesehatan hewan.
Menurut Widodo, pemeriksaan kadaan umum merupakan pemeriksaan yang
meliputi kebiasaan (habitus) mencakup sikap (attitude), kondisi tubuh, konformasi
(penyesuaian

terhadap perlakuan2), temperamen & temperatur badan hewan.

Keadaan umum sapi diamati dengan teknik inspeksi dan palpasi serta dengan alat
temperatur. Perawatan hewan dalam kondisi baik, habitus hewan diamati pada
tulang punggung hewan. Tulang punggung hewan merata dan tidak ada tanda
keabnormalan pada bagian ini. Setelah itu pemeriksaan terhadap tingkah laku,
tingkah laku yang umum pada sapi perah adalah sapi yang lebih tenang
dibandingan dengan sapi potong, lebih mudah nervous, dan mampu menendang
dengan kuat apabila merasa terganggu. Hewan sapi yang kami periksa dalam
tingkah laku yang jinak dan hewan tidak merasa terganggu pada saat diperiksa.
Sedangkan pada domba lokal yang kami periksa tingkah lakunya jinak tetapi
hewan merasa terganggu saat dilakukan pemeriksaan, sehingga domba sedikit
agresif. Keadaan gizi hewan merupakan suatu kondisi yang dapat diamati dengan
melakuan teknik inspeksi dan palpasi. Pemeriksaan dengan tenik inspeksi
menghasilkan kondisi gizi yang cukup baik, setelah dilakukan teknik palpasi pada
bagian tulang dan otot sapi kondisi gizi hewan masih dapat dikatakan dalam
kondisi cukup baik. Pertumbuhan dan postur tubuh hewan baik. Pemeriksaan
terhadap sikap berdiri merupakan pemeriksaan pada bagian ekstermitas. Tidak
ditemukan kelainan baik dalam bagian otot ataupun pertulangan. Hewan berdiri
dengan empat kaki. Pemeriksaan panas badan hewan mendapatkan hasil 38.9 C
untuk sapi dan 39.2oC untuk domba. Suhu normal pada sapi adalah 38.0 39.3oC,
sedangkan suhu normal domba adalah 38.3- 39.9oC (Triakoso 2011).
Status gizi hewan ditentukan oleh fisik yang gemuk atau kurus atau ideal,
secara klinis dengan melakukan inspeksi di beberapa tempatdari ragawi hewan
yaitu inspeksi bagian costae, proseus, scapula, pelvis dan pangkal ekor. Penilaian
status gizi dapat berupa normal/ideal, kekurusan atau kaheksia dan kegemukan
atau obesitas atau adipositas. Perubahan berat badan dapat terjadi secara perlahan
lahan atau secara mendadak.

Pada hewan yang bergizi buruk, beberapa bagian dari kerangkanya


menonjol ke luar yang dapat diamati pada tulang iga atau costae, tuber coxae,
tulang punggung bagian spinosusnya tampak menyeruak, fossae supraorbitaenya
cekung, rambutnya suram dan kering, elastisitas kulit berkurang/menurun atau
dengan kata lain turgor kulit dikatakan jelek dan selaput lendirnya pucat kering
dan tidak mengkilat. Kekurusan yang amat sangat dikenal sebagai kaheksia atau
emasiatio, ini

biasanya pada hewan yang berumur lanjut. Kebalikan dari

emasiatio adalah penimbunan lemak yang berlimpah-limpah di bawah kulit dalam


badan. Kegemukan berlebihan dikenal sebagai obesitas atau adipositas. Bila
keadaan obesitas sedemikian hebatnya akan menjadikan gangguan umum seperti
dispnoea (sesak napas). Hal demikian dapat terjadi walaupun makan tidak
ditambah. Penimbunan lemak dapat terjadi pada penyakit penyakit yang dapat
menurun/inheritant melalui proses metabolisme basal. Hal ini terutama terjadi
pada penyakit penyakit endokrin seperti pada kelenjar tiroid dan kelenjar
pituitari serta dapat pula terjadi pada hewan yang dikebiri (Widodo dkk 2011).
Temperamen adalah ekspresi wajah dan reaksi hewan terhadap lingkungan
sekitarnya termasuk reaksi terhadap orang sekitarnya. Pemahaman tentang
temperamen dapat disederhanakan dengan menilai sifat hewan : periang/ramah,
pemarah, tenang, pendiam, gampang terkejut , penakut, hiperaktif atau agresif
atau menyerang. Sapi memiliki temperamen yang tenang, sedangkan domba
memiliki temperamen yang sedikit agresif karena terganggu saat diperiksa
(Widodo dkk 2011).
Sikap hewan atau habitus perlu diperhatikan pada permulaan maupun
sewaktu pemeriksaan dijalankan, dengan mengingat gizi, temperamen serta umur
hewan. Bermacam-macam kelainan sikap hewan dapat ditemukan. Kesan pertama
seorang dokter hewan terhadap pasiennya diperoleh dengan melihat sikapnya.
Seekor hewan menunjukkan kesakitan dengan bermacam-macam cara dan sikap.
Kesakitan pada kaki ditunjukkan dengan sikap kepincangan pada bagian kaki
bersangkutan, kesakitan pada perut ditunjukkan dengan sikap kegelisahan pada
saat duduk atau sikap berbaring dengan posisi yang tak wajar disertai suara
merintih atau keributan suara tidak menentu.

Beberapa sikap tertentu membantu dokter membuat suatu diagnosis.


Perubahan atas temperamen dan sikap sehari hari secara mendadak dapat
memberi petunjuk kepada dokter akan kejadian serius. Hendaknya diingat pula
bahwa tingkah laku tertentu dapat dianggap normal atau terbiasa di dalam keadaan
tertentu, dan dapat abnormal atau menyimpang dalam keadaan lain. Dengan
memperhatikan ada tidaknya penonjolan-penonjolan tulang ketika inspeksi dan
tingkat kemampuan hewan untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya serta
berbagai variasi hewan dalam cara menunjukkan sikap berdirinya dapt dipastikan
secara klinis status keadaan hewan tersebut saat ini.
Kegiatan bernapas dapat ditentukan dengan melihat pada sisi dada
(thoraks) dan perut (hipogastrium), tulang rusuk dan strenumnya, dan juga
melihat pergerakan dinding abdomen. Pada pemeriksaan fisik mengenai cara
cara hewan bernapas ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan ditetapkan
yaitu frekuensi napas (x/meit), tipe pernapasan, ritme dan intensitas pernapasan.
Frekuensi napas dihitung dalam satuan kali per menit, dilihat dari gerakan os
costae. Satu kali bernapas terdiri atas inspirasi dan ekpirasi. Tipe pernapasan
adalah cara-cara bergerak dinding thoraks atau perut sewaktu respirasi. Pada
hewan sehat, sewaktu bernapas dinding thoraks maupun dinding perut sama-sama
bergerak.

Bila

pergerakan

terbagi

rata

maka

dinamakan

pernapasan

costoabdominal. Bila dinding thoraks lebih banyak bergerak dinamakan tipe


pernapasan costal, sedangkan jika dinding perut lebih banyak bergerak dinamakan
tipe pernapasan abdominal. Sapi dan domba memiliki bentuk rongga thoraks yang
simetris dengan tipe pernapasan abdominal. Frekuensi nafas pada sapi adalah 20
kali per menit, sedangkan pada domba 30 kali per menit. Frekuensi nafas normal
pada sapi adalah 10 30 kali per menit, untuk domba frekuensi nafas normal
adalah 20 30 kali per menit (Triakoso 2011). Dapat dikatakan sapi dan domba
yang digunakan memiliki frekuensi nafas yang normal.
Pada pemeriksaan frekuensi jantung, sapi memiliki frekuensi jantung
sebanyak 64 kali per menit dan domba memiliki frekuensi jantung 96 kali per
menit. Menurut literatur, frekuensi jantung dari sapi dan domba normal. Frekuensi
normal pada sapi adalah 60-70 kali per menit, sedangkan frekuensi normal pada
domba adalah 60-120 kali per menit (Triakoso 2011).

Pada saat penekanan rongga thoraks hewan tidak ada reaksi rasa sakit dan
lapang paru paru tidak meluas dan menyempit. Hal ini dibuktikan karena pada
saat melakukan perkusi pada bagian thoraks, perbatasan suara nyaring dan redup
berada di costae 11 yang sejajar dengan os tuber coxae, costae ke-9 yang sejajar
dengan os tuber ischii dan costae ke-5 yang sejajar dengan os scapula. Lapang
paru-paru normal pada sapi dari atas ke bawah adalah terdapat pada costae ke-11,
9 dan 5 (Subronto 2003).
Pemeriksaan abdomen dan organ pencernaan yang berkaitan bagi sapi
hanya dilakukan dengan inspeksi dan palpasi yaitu uji tinju. Inspeksi daerah
abdomen menunjukan kesimetrisan antara abdomen kiri dan kanan, maka dapat
dikatakan normal pada sapi. Daerah abdomen terlihat bentukan perut yang tidak
ada perubahan baik pembesaran maupun pengecilan ukuran. Legok lapar terlihat
jelas karena selama pelaksanaan pemeriksaan fisik, sapi dan domba belum diberi
pakan. Suara peristaltik secara jauh (inspeksi) tidak terdengar, maka hal tersebut
normal pada hewan sehat. Pemeriksaan secara palpasi (uji tinju) dilakukan dengan
menghitung frekuensi gerak rumen per 5 menit dan kekuatan geraknya (tonus
rumen), normal pada ruminanansia 5-10 kali/5 menit (Subronto 2003).
Pemeriksaan ini dilakukan oleh tangan pemeriksa dengan mengepalkan tinju dan
mendesaknya di bagian kiri atas lambung tepat di lekuk pinggang di belakang
rusuk terakhir. Terjadinya perubahan frekuensi atau gerak ruminansia yang tidak
dapat dirasakan menandakan adanya gangguan fungsi rumen. Hasil uji tinju
menunjukan adanya gerakan rumen (tonus rumen) sapi normal yaitu 7 kali/ 5
menit.
Pemeriksaan lapang paru-paru dilakukan menggunakan alat yang bernama
palu perkusi dan fleximeter. Fleximeter yang digunakan harus benar-benar ditekan
pada bidang perkusi agar diantara fleximeter dan perkusi tidak terdapat celah
udara. Udara yang hadir dianatara kedua bagian tersebut akan dapat
mempengaruhi kualitas suara perkusi. Palu perkusi tidak boleh dipegang kuatkuat, tetapi harus dapat digerakkan di antara ibu jari dan kedua jari pertama
dengan sendi pergelangan tangan sebagai pengendali gerak. Cara ini dimaksudkan
agar dapat memberikan ketukan yang memantul. Gerakan memukul harus datang
dari sendi pergelangan tangan dan bukan dari sendi siku-siku atau sendi bahu.

Setiap ketukan palu perkusi harus jatuh tegak lurus pada fleximeter untuk
mendapatkan pentulan ketukan paling maksimal dan paling jelas. Semakin jauh
dari tegak lurus semakin berkurang suara pantulan ketukan didengar. Seluruh
daerah yang diperiksa harus diperkusi sepanjang garis-garis yang sejajar dan tidak
hanya dilakukan pada beberapa tempat saja. Hal ini untuk menghindari adanya
bagian-bagian yang terlampaui. Fleximeter harus dalam posisi statis sebelum
diperkusi dan tiap ketukan harus dengan tekanan yang sama kuat. Tekanan pada
tiap ketukan diberikan dengan kekuatan secukupnya sampai suara resonansi yang
keluar lebih dapat dibedakan dengan nyata (Widodo dkk 2011).
SIMPULAN
Dian, simpulan tolong yaah.. pokoknya sapi sama dombanya normal.
DAFTAR PUSTAKA
Subronto. 2003. Ilmu Penyakit Ternak I. Yogyakarta (ID) : Gadjah Mada University
Press

Triakoso N. 2011. Petunjuk Praktikum Pemeriksaan Fisik Ilmu Penyakit Dalam


Veteriner I. Surabaya (ID) : Universitas Airlangga
Widodo S, Dondin Sajuthi, Chusnul Choliq, Agus Wijaya, Retno Wulansari dan
RP Agus Lelana. 2011. Diagnostik Klinik Hewan Kecil. Bogor (ID) :
Bogor Agricultural University Press