Anda di halaman 1dari 21

IRITABILITAS OTOT DAN SARAF

LAPORAN PRAKTIKUM
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
Fisiologi Hewan dan Manusia
yang dibina oleh Dr. Sri Rahayu Lestari, M.Si

Oleh
Kelompok 4
Lely Hermawati
Maulidan Asyrofil Anam
Mita Larasati
Nur Fitriana
Nurul Yanuarsih
Olivia Yunita

(140342600679)
(140342604964)
(140342601011)
(140342601325)
(140342604423)
(140342600097)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
September 2015
A. Topik
Iritabilitas Otot dan Saraf

B. Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui:
1. sifat irritabilitas otot dan saraf
2. respon otot terhadap rangsang dari berbagai stimulus sesudah dan sebelum saraf
diputus.
C. Dasar Teori
Penyusun utama tubuh makhluk hidup mulai dari avertebrata sampai vertebrata
ialah jaringan otot. Jaringan otot atau biasa disebut otot memunyai sifat yang peka
terhadap rangsangan (sifat iritabilitas), mampu merambatkan impuls (sifat konduktivitas),
mampu melaksanakan metabolisme, dan mampu membelah diri (Soewolo dkk., 2003:
33). Sifat iritabilitas pada jaringan otot merupakan kemampuan untuk memberikan
tanggapan atau respon terhadap suatu rangsangan yang diberikan yang berarti hal ini akan
berhubung secara langsung dengan sel saraf, rangsangan yang diberi akan dirambatkan,
kemampuan otot untuk merambatkan rangsang dikenal dengan sifat konduktivitas, maka
dengan adanya sifat iritabilitas dan konduktivitas pada otot dapat membuat rangsangan
diterima dan diteruskan dari atau ke bagian yang sesuai sehingga menghasilkan respon.
Pada manusia sistem saraf merupakann sistem yang paling kompleks baik secara
histologi maupun secara fisiologi. Sistem saraf yang disusun oleh milyaran sel saraf yang
biasa di sebut neuron. Sistem saraf terbagi mejadi dua yaitu sistem saraf pusat yang
terdiri dari otak, sumsung tulang belakang dan sistem saraf tepi yang tersusun atas
serabut-serabut saraf pusat yang menghubungkan saraf pusat dengan bagian tepi tubuh
(reseptor dan efektor) (Mescher, 2011:136). Secara alamiah, otot berkontraksi sebagai
salah satu bentuk atas adanya rangsangan. Rangsangan yang merupakan perubahan luar
yang terjadi pada organisme. Rangsangan dapat berupa rangsangan mekanik yang berupa
cubitan, sentuhan, tarikan, tusukan., rangsangan termis berupa pemanasan suhu atau
pendinginan suhu, rangsangan Kimia berupa pemberian larutan HCl, rangsangan osmotis
berupa pemeberian Kristal NaCl dan rangsangan listrik berupa pemberian sengatan
listrik. Berdasarkan bermacamnya rangsangan ini, maka dilakukannya praktikum ini.
D. Alat dan Bahan
1. Alat
a. Papan seksi
b. Pipet
c. Seperangkat alat bedah

d.
e.
f.
g.

Baterai
Batang gelas
Lampu spiritus
Gelas arloji

h. Kabel
i. Gelas piala 50 cc
2. Bahan
a. Katak hijau
b. Kapas
c. Kristal NaCl

d.
e.
f.
g.
h.
i.

HCl 1%
Larutan Ringer
Kertas hisap
Dsv
Dv
dv

E. Prosedur
1. Pembuatan Sediaan Otot-Saraf
Menyingle pith katak kemudian membedahnya
Menggunting kulit pada perut katak kira-kira 3 cm diatas paha, kemudian menarik
kulit ke bawah hingga terlepas.
Membuka perut dan membuang viscera,sehingga tampak saraf iskhiadikus
Memisahkan saraf iskhiadikus dari otot yang mengelilinginya
(otot dan srah harus basah oleh larutan Ringer)
Melepaskan otot gastroknemius dengan cara memutus tendon
Memotong ruas tulang belakang di atas tempat keluarnya saraf iskhiadikus
Memasukkan sediaan otot-saraf ke cawan petri berisi larutan ringer
dan mengistirahatkan selama 2-3 menit
2. Perlakuan terhadap Otot dan Saraf
a. Perlakuan sebelum saraf diputus dari medula spinalis
1) Rangsangan mekanis
Mencubit pelan saraf sebelah kanan dengan pinset
Mengamati respon pada otot gastroknemius
Mencatat hasilnya dan mengulanginya pada saraf sebelah kiri
Mencubit pelan otot gastroknemius sebelah kanan dengan pinset
Mengamati respon pada otot gastroknemius
Mencatat hasilnya dan mengulanginya pada saraf sebelah kiri
2) Rangsangan termis
Menyentuh saraf kanan dengan batang gelas hangat
Mengamati respon pada otot gastroknemius
Mencatat hasilnya dan mengulanginya pada saraf sebelah kiri
Menyentuh otot gastroknemius kanan dengan batang gelas hangat

Mengamati respon pada otot gastroknemius


Mencatat hasilnya dan mengulanginya pada saraf sebelah kiri
3) Rangsangan Kimia
Meneteskan 1-2 tetes HCL 1% pada saraf sebelah kanan
Mengamati respon yang terjadi pada otot gastroknemius kanan
maupun kiri dan mencatat hasilnya
Mengulangi perlakuan yang sama untuk saraf sebelah kiri
Segera mencuci bagian yang terkena HCL dengan larutan Ringer
dan menghisapnya dengan kertas hisap
Mengerjakan hal yang sama pada otot gastroknemius
dan mencatat hasilnya.
4) Rangsangan Osmosis
Membubuhkan sedikit Kristal NaCl pada saraf sebelah kanan
Mengamati respon pada otot gastroknemius kanan maupun kiri
Mencatat hasilnya
Mengulangi perlakuan yang sama untuk sebelah kiri
Mengerjakan hal yang sama pada otot gastroknemius
Mencatat hasilnya
5) Rangsangan Listrik
Menyentuh saraf sebelah kanan dengan kabel yang sudah
dihubungkan dengan baterai
Mengamati respon pada otot gastroknemius kanan maupun kiri
dan mencatat hasilnya
Mengulangi perlakuan yang sama untuk saraf sebelah kiri
Mengerjakan hal yang sama pada otot gastroknemius
dan mencatat hasilnya
Mengistirahatkan otot dan saraf selama 1-2 menit,
setiap selesai satu perlakuan
b. Perlakuan Sesudah Saraf Diputus dari Medula Spinalis
Memutus salah satu saraf dari medulla spinalis

Mengerjakan perlakuan seperti pada saraf sebelum diputus dari


medulla spinalis (perlakuan 1 s/d 5) pada sediaan
yang telah diputus dari medulla spinalis

F. Hasil Pengamatan

Perlakuan

Mekanis

Termis

Kimia

Osmotis

Listrik

a.
b.
c.
d.
a.
b.
c.
d.
a.
b.
c.
d.
a.
b.
c.
d.
a.
b.
c.
d.

Sebelum Saraf Diputus


Saraf
Otot
Kiri Kanan
Kiri
Kanan
+
+++
++
+
+
+
+++
+
+
+
+
+
+++
+
+++

Keterangan:
+
= respon lemah
++
= respon cepat
+++ = respon lebih cepat
= tidak ada respon
a. Perlakuan pada saraf sebelah kiri
b. Perlakuan pada saraf sebelah kanan
c. Perlakuan pada otot sebelah kiri
d. Perlakuan pada otot sebelah kanan
*saraf yang diputus adalah saraf sebelah kiri

Sesudah Saraf Diputus


Saraf
Otot
Kiri Kanan
Kiri
Kanan
+
+
++
+
+
+
-

Menyingel pith katak

Membedah katak hingga hanya tersisa


ruas tulang belakang, sepasang saraf
iskhiadikus, sepasang otot
gastroknemius.

G. Analisis Data
Sediaan otot-saraf yang akan diuji
1. Sebelum saraf diputus dengan
:
berbagai rangsangan
a. Rangsangan Mekanis
Mencubit pelan-pelan saraf sebelah kanan dengan pinset. Kemudian mengamati
respon pada otot gastroknemius sebelah kanan maupun kiri. Dari pengamatan
mencubit saraf sebelah kiri didapatkan hasil positif berjumlah satu, artinya respon
otot gastroknemius sebelah kiri lambat. Sedangkan hasil dari mencubit saraf
sebelah kanan menunjukkan hasil positif berjumlah tiga yang artinya respon otot
gastroknemius sebelah kanan lebih cepat.
Mencubit pelan-pelan otot gastroknemius sebelah kanan dengan pinset. Kemudian
mengamati respon pada otot gastroknemius sebelah kanan maupun kiri. Dari
pengamatan mencubit otot gastroknemius sebelah kiri didapatkan hasil negatif,
artinya tidak terjadi respon pada otot gastroknemius sebelah kiri. Sedangkan hasil

dari mencubit otot sebelah kanan menunjukan hasil postif berjumlah dua yang
artinya respon otot gastroknemius sebelah kanan cepat
b. Rangsangan Termis
Menyentuh saraf kanan dengan batang gelas hangat. Kemudian mengamati respon
yang terjadi pada otot gastroknemius sebelah kanan maupun kiri. Dari
pengamatan menyentuh saraf sebelah kiri dengan batang gelas hangat didapatkan
hasil positif berjumlah satu, artinya respon otot gastroknemius sebelah kiri
lambat. Sedangkan hasil dari menyentuh saraf sebelah kanan dengan batang gelas
hangat menunjukkan hasil positif berjumlah satu yang artinya respon otot
gastroknemius sebelah kanan lambat.
Menyentuh otot kanan dengan batang gelas hangat. Kemudian mengamati respon
pada otot gastroknemius sebelah kanan maupun kiri. Dari pengamatan menyentuh
otot gastroknemius sebelah kiri dengan batang gelas hangat didapatkan hasil
positif berjumlah satu, artinya respon otot gastroknemius sebelah kanan lambat.
Sedangkan hasil dari menyentuh otot sebelah kiri dengan batang gelas hangat
menunjukan hasil postif berjumlah tiga yang artinya respon otot gastroknemius
sebelah kanan lebih cepat.
c. Rangsangan Kimia
Perlakuan berikutnya adalah memberikan rangsangan kimia pada katak dengan
cara meneteskan satu sampai dua tetes HCl 1% pada saraf sebelah kanan, saraf
sebelah kiri, otot gastroknemius kanan dan otot gastroknemius kiri secara
bergantian. Hasil yang didapatkan yaitu saat sebelum saraf diputus, saraf
iskhiadikus kanan dan kiri yang telah diberi tetesan HCL 1% tidak ada respon
sama sekali dari otot gastroknemius kanan dan kiri. Namun saat otot
gastroknemius kiri ditetesi larutan HCl 1% terjadi respon yang tidak terlalu kuat
pada otot gastroknemius kiri, sedangkan otot gastroknemius kanan tidak
merespon sama sekali. Setelah beberapa saat diistirahatkan, saatnya otot
gastroknemius kanan ditetesi dengan HCl 1%, terjadi respon yang tidak terlalu
kuat pada otot gastroknemius kanan, sedangkan otot gastroknemius kiri tidak
merespon sama sekali.
d. Rangsangan Osmotis
Membubuhkan sedikit NaCl pada saraf sebelah kanan. Kemudian mengamati
agak lama respon yang terjadi pada otot gastroknemius kanan maupun kiri. Dari

pengamatan membubuhkan NaCl pada saraf kanan didapatkan hasil negatif,


artinya tidak terdapat respon yang terjadi pada otot gastroknemius kanan.
Sedangkan ketika membubuhkan NaCl pada saraf kiri juga didapatkan hasil
negatif, artinya juga tidak terdapat respon pada otot gastroknemius kiri.
Membubuhkan sedikit NaCl pada ototgastroknemius sebelah kanan. Kemudian
mengamati agak lama respon yang terjadi pada otot gastroknemius kanan maupun
kiri. Dari pengamatan yang dilakukan, ketika otot gastroknemius kanan dibubuhi
sedikit NaCl didapatkan hasil positif, artinya terdapat respon yang terjadi pada
otot gastroknemius kanan. Sedangkan ketika otot gastroknemius kiri dibubuhi
sedikit NaCl didapat hasil positif, artinya terdapat respon pada otot gastroknemius
kiri.
e. Rangsangan Listrik
Perlakuan yang terakhir sebelum saraf diputus adalah memberikan rangsangan
listrik pada saraf kanan dan kiri, serta otot gastroknemius kanan dan kiri. Ketika
saraf sebelah kiri disentuh dengan menggunakan kabel yang sudah dihubungkan
dengan baterai, otot gastroknemius kiri memberikan respon positif (+) berupa
kontraksi yang lemah, sedangkan otot gastroknemius kanan tidak memberikan
respon apapun (-). Ketika saraf sebelah kanan disentuh dengan kabel yang
terhubung pada baterai, otot gastroknemius kanan memberikan respon positif (++
+) berupa kontraksi yang lebih kuat dan cepat, sedangkan otot gastroknemius kiri
tidak memberikan respon apapun. Ketika rangsangan listrik diberikan pada otot
gastroknemius kiri, otot gastroknemius kiri menunjukkan respon poritif (+)
berupa kontraksi lemah, sedangkan otot gastroknemius kanan tidak memberikan
respon(-). Sebaliknya, ketika rangsangan listrik diberikan pada otot gastroknemius
kanan, otot gastroknemius kanan memberikan respon positif (+++) berupa
kontraksi yang lebih kuat dan cepat dan otot gastroknemius kiri tidak memberikan
respon(-).
2. Sesudah saraf diputus :
a. Rangsangan Mekanis
Memutus saraf sebelah kiri dari medulla spinalis, kemudian mencubit pelan-pelan
saraf sebelah kanan dengan pinset. Kemudian mengamati respon pada otot
gastroknemius sebelah kanan maupun kiri. Dari pengamatan mencubit saraf

sebelah kiri didapatkan hasil negatif, artinya tidak terjadi respon pada otot
gastroknemius sebelah kiri. Sedangkan hasil dari mencubit saraf sebelah kanan
menunjukkan hasil positif berjumlah satu yang artinya respon otot gastroknemius
sebelah kanan lambat.
Mencubit pelan-pelan otot gastroknemius sebelah kanan dengan pinset. Kemudian
mengamati respon pada otot gastroknemius sebelah kanan maupun kiri. Dari
pengamatan mencubit otot gastroknemius sebelah kiri didapatkan hasil negatif,
artinya tidak terjadi respon pada otot gastroknemius sebelah kiri. Sedangkan hasil
dari mencubit otot sebelah kanan menunjukan hasil negatif, artinya tidak terjadi
respon pada otot gastroknemius sebelah kanan.
b. Rangsangan Termis
Menyentuh saraf kanan dengan batang gelas hangat. Kemudian mengamati respon
yang terjadi pada otot gastroknemius sebelah kanan maupun kiri. Dari
pengamatan menyentuh saraf sebelah kiri dengan batang gelas hangat didapatkan
hasil negatif, artinya tidak terjadi respon pada otot gastroknemius sebelah kiri.
Sedangkan hasil dari menyentuh saraf sebelah kanan dengan batang gelas hangat
menunjukkan hasil negatif, artinya tidak terjadi respon pada otot gastroknemius
sebelah kiri.
Menyentuh otot kanan dengan batang gelas hangat. Kemudian mengamati respon
pada otot gastroknemius sebelah kanan maupun kiri. Dari pengamatan menyentuh
otot gastroknemius sebelah kiri dengan batang gelas hangat didapatkan hasil
positif berjumlah satu, artinya respon otot gastroknemius sebelah kanan lambat.
Sedangkan hasil dari menyentuh otot sebelah kiri dengan batang gelas hangat
menunjukan hasil postif berjumlah dua yang artinya respon otot gastroknemius
sebelah kanan cepat.
c. Rangsangan Kimia
Perlakuan berikutnya adalah memberikan rangsangan kimia pada katak dengan
cara meneteskan satu sampai dua tetes HCl 1% pada saraf sebelah kanan, saraf
sebelah kiri, otot gastroknemius kanan dan otot gastroknemius kiri secara
bergantian. Hasil yang didapatkan yaitu saat saraf isthiadikus sebelah kiri diputus
dari medula spinalis, hanya terjadi kontraksi pada otot gastroknemius kanan saja
yang merupakan respon dari pemberian HCl 1% pada otot gastroknemius bagian

kanan, namun tidak ada respon pada saat ditetesi HCl% pada saraf kanannya.
Sedangkan otot yang kiri tidak merespon karena sarafnya telah dipotong.
d. Rangsangan Osmotis
Memutus salah satu saraf iskiadikus. Kemudian membubuhkan sedikit NaCl pada
saraf sebelah kanan. Kemudian mengamati agak lama respon yang terjadi pada
otot gastroknemius kanan maupun kiri. Dari pengamatan membubuhkan sedikit
NaCl pada saraf kanan didapatkan hasil negatif, artinya tidak terdapat respon yang
terjadi pada otot gastroknemius kanan. Sedangkan ketika membubuhkan sedikit
NaCl pada saraf kiri juga didapatkan hasil negatif, artinya juga tidak terdapat
respon pada otot gastroknemius kiri.
Membubuhkan sedikit NaCl pada otot gastroknemius sebelah kanan. Kemudian
mengamati agak lama respon yang terjadi pada otot gastroknemius kanan maupun
kiri. Dari pengamatan yang dilakukan, ketika otot gastroknemius kanan dibubuhi
sedikit NaCl didapatkan hasil positif, artinya terdapat respon yang terjadi pada
otot gastronekmius kanan. Sedangkan ketika otot gastroknemius kiri dibubuhi
sedikit NaCl didapat hasil negatif, artinya tidak terdapat respon pada otot
gastroknemius kiri.
e. Rangsangan Listrik
Perlakuan yang terakhir setelah saraf sebelah kiri diputus adalah memberikan
rangsangan listrik pada saraf kanan dan kiri, serta otot gastroknemius kanan dan
kiri. Ketika saraf sebelah kiri disentuh dengan menggunakan kabel yang sudah
dihubungkan dengan baterai, otot gastroknemius kiri tidak memberikan respon
apapun (-). Sedangkan ketika saraf sebelah kanan disentuh dengan kabel yang
terhubung pada baterai, otot gastroknemius kanan memberikan respon positif (+)
berupa kontraksi yang lemah. Dan ketika rangsangan listrik diberikan pada otot
gastroknemius kiri, otot gastroknemius kiri tidak memberikan respon (-). Begitu
pula ketika rangsangan listrik diberikan pada otot gastroknemius kanan, otot
gastroknemius kanan tidak memberikan respon apapun (-).
H. Pembahasan
1. Sebelum saraf diputus :
a. Rangsangan Mekanis

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan mengunakan saraf iskhiadikus dan otot


gastoknemius pada katak. Dengan adanya rangsangan mekanis yang berupa
cubitan sebelum saraf spinalis di putus dapat diketahui bahwa ketika mencubit
saraf iskhiadikus sebelah kiri terjadi denyutan pada otot gastrocnemius kiri dan
tidak terjadi perubahan pada saraf, dan pada saat mencubit saraf iskhiadikus
sebelah kanan terjadi denyutan pada otot gastrocnemius kanan yang sangat kuat
dan cepat. Selanjutnya rangsangan mekanis juga dilakukan pada otot
gastroknemius kiri namun pada hasil percobaan yg telah dilakukan tidak terjadi
denyutan pada saraf iskhiadius maupun pada otot gastrocnemius yang kanan. Dan
ketika memberikan cubitan pada otot gastrocnemius kanan terjadi denyutan pada
otot gastrocnemius itu sendiri dengan kuat dan cepat.
Dari hasil tersebut dapat diketahui jika cepat, lemahnya denyutan di pengaruhi
oleh keadaan saraf iskhiadikus. Saat pemberian rangsangan baik pada saraf dan
otot hanya akan terjadi perubahan atau denyutan pada otot, hal ini karena saraf
hanya mengantarkan impuls stimulus untuk memberikan respon pada otot
(efektor) yang berupa denyutan dan saraf sendiri tidak ikut berdenyut (Soewolo,
2003: 62).
b. Rangsangan Termis

Berdasarkan data dan hasil analisis yang telah dilakukan, ketika saraf iskiadikus
kanan maupun kiri diberikan rangsangan termis berupa sentuhan dengan batang
gelas hangat, diketahui bahwa terjadi respon yang ditunjukkan dengan adanya
gerakan pada otot gastroknemius. Ketika otot gastroknemius kiri maupun kanan
juga disentuh dengan batang gelas hangat maka terlihat adanya kontraksi pada
otot-otot tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa otot gastroknemius yang
tersambung dengan saraf iskiadikus yang masih melekat pada medulla spinalis
dapat memberikan respon ketika saraf maupun otot diberi rangsangan.
c. Rangsangan Kimia

Perlakuan ketiga yaitu rangsangan kimia yaitu dengan meneteskan 2 tetes HCl 1%
ke saraf iskhhiaditus sebelah kanan dan kiri, terlihat otot dari gastroknemius
kanan dan kiri tidak menunjukkan respon. Selanjutnya rangsangan kimia
diberikan pada otot gastroknemius kanan terjadi respon yang tidak terlalu kuat
pada otot tersebut, namun tidak ada respon sama sekali pada otot sebelah kiri.
Selanjutnya pada otot gastroknemius kiri terlihat otot gastroknemius kiri

menunjukkan refleks yang tidak begitu kuat juga, sedangkan yang kanan tidak
menunjukkan respon.
Berdasarkan hal tersebut maka hal ini tidak sesuai dengan teori yang menyebutkan
bahwa sel otot akan menunjukkan respon apabila padanya diberikan rangsangan
lewat saraf atau langsung pada otot. Respon yang ditunjukkan oleh sel otot
umumnya berupa kontraksi otot, sedangkan respon yang pada sel saraf tidak dapat
diamati, sebab berupa proses pembentukan potensial aksi yang kemudian
dirambatkan berupa impuls. Adanya respon sel saraf hanya dapat diamati pada
efektornya (Susilowati dkk, 2000). Impuls saraf merupakan gerakan potensial
listrik yang berlangsung cepat sehingga disebut potensial aksi (Subianto, 1994).
Ketika impuls masuk dalam suatu membran maka beda potensial dari membran
tersebut berubah. Jika impuls yang diberikan melampaui ambang batas maka
impuls saraf tersebut dapat diteruskan sehingga akan memberikan respon berupa
kontraksi otot pada katak. Tidak terjadinya respon pada otot gastroknemius kanan
dan kiri katak ini kemungkinan karena konsentrasi dari HCl yang rendah,
sehingga respon yang diberikan sangat kecil sekali, sehingga tidak terlihat dengan
jelas.
Seperti telah disebutkan sebelumnya, lintasan impuls saraf dari reseptor sampai
efektor disebut lengkung refleks. Lintasan tersebut adalah sebagai berikut:
reseptor saraf sensorik saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang)
saraf motorik efektor. Berdasarkan praktikum tersebut maka saraf pusat yang
mengendalikan refleks adalah sumsum tulang belakang. Karena otak pada katak
tersebut sudah tidak ada. Perlakuan yang diberikan tersebut berpengaruh terhadap
kecepatan respon katak. Karena semakin besar stimulus yang diberikan maka
impulsnya akan semakin besar.
d. Rangsangan Osmotis

Pada perlakuan selanjutnya adalah memberikan rangsangan osmotis. Berdasarkan


analisis data didapatkan hasil bahwa ketika saraf iskhiadikus kiri maupun kanan
dibubuhi sedikit kristal NaCl, baik otot gastroknemius kiri maupun otot
gastroknemius kanan tidak memberikan respon. Hal ini dimungkinkan terjadi
karena terlalu sedikit kristal NaCl yang dibubuhkan, pembubuhan NaCl tidak
tepat mengenai saraf iskhiadikus, dan waktu pengamatan tidak menunggu hingga
NaCl berinteraksi dengan jaringan saraf sebagai stimulus (masih dalam periode
laten), sehingga rangsangannya pun masih tergolong rangsang subminimal.
Menurut Soewolo (1999: 63) rangsang subminimal atau rangsang bawah ambang
adalah rangsang yang tidak mampu menimbulkan respon, dalam hal ini seperti
yang terjadi pada otot gastroknemius kanan dan kiri yang tidak berkontraksi.
Pembubuhan kristal NaCl pada otot gastroknemius kiri menimbulkan kontraksi
lambat pada otot gastroknemius kiri, dan pembubuhan kristal NaCl pada otot
gastroknemius kanan menimbulkan kontraksi lambat pada otot gastroknemius
kanan. Hal ini terjadi karena rangsang berupa pembubuhan kristal NaCl tersebut
sudah termasuk rangsangan submaksimal yang rentang intensitasnya bervariasi
antara rangsang amabang sampai rangsang maksimal (Soewolo, 1999: 63).
Adanya selang waktu setelah pemberian rangsang dengan timbulnya respon
(respon lambat) terjadi karena kristal NaCl memerlukan waktu untuk
bersinggungan langsung dengan otot hingga menjadi stimulus (periode laten).
e. Rangsangan Listrik

Otot memiliki stimulus ambang yaitu voltase listrik minimum yang menyebabkan
otot berkontraksi. Jika stimulus yang diberikan tidak mencapai ambang batas
tersebut maka, otot tidak akan memberikan respon. Menurut Guyton dan Hall
(1997), mekanisme kontraksi otot adalah sebagai berikut:

1) Pada serat otot, potensial aksi yang dihasilkan oleh rangsangan listrik berjalan
di sepanjang saraf motorik sampai ujungnya.
2) Pada tiap ujung, saraf mensekresi substansi neurotransmitter, yaitu asetilkolin
dalam jumlah sedikit.
3) Asetilkolin bekerja pada area setempat pada membrane serat otot untuk
membuka saluran bergerbang asetilkolin melalui molekul-molekul protein
dalam membrane serat otot.
4) Terbukanya saluran asetilkolin memungkinkan sejumlah besar ion Na+
mengalir ke dalam membrane serat otot pada titik terminal saraf. Peristiwa ini
akan menimbulkan potensial aksi dalam serat otot.
5) Potensial aksi akan berjalan di sepanjang membrane serat otot sama seperti
berjalan di sepanjang membrane saraf.
6) Potensial aksi akan menyebabkan depolarisasi membrane serat otot pada
tempat potensial aksi menyebabkan reticulum sarkoplasma melepaskan
sejumlah besar ion K+ yang telah disimpan dalam reticulum ke dalam
myofibril.
7) Ion-ion K+ menimbulkan kekuatan tarik-menarik antara filament aktin dan
myosin yang menyebabkan kedua filament tersebut bergerak bersam-sama
dan menghasilkan proses kontraksi.
8) Setelah kurang dari satu detik, ion K+ dipompa kembali kedalam reticulum
sarkoplasma (tempat ion-ion disimpan sampai potensial aksi yang baru
datang). Pengeluaran ion K+ dari myofibril akan menyebabkan kontraksi
terhenti.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa rangsangan listrik yang diberikan
mampu direspon oleh saraf dan otot tersebut dan telah mencapai ambang
batasnya. Kontraksi otot gastroknemius kanan yang lebih kuat dari yang kiri
menunjukkan bahwa otot dan saraf kanan masih baik dan terjaga sehingga dapat
berfungsi normal. Sedangkan kontraksi yang lebih lemah pada otot sebelah kiri
menunjukkn keadaan otot kiri yang kurang baik. Lemahnya kontraksi dapat
disebabkan oleh beberapa kemungkinan misalnya rusaknya jaringan saraf atau
otot ketika menyiapkan sediaan otot tersebut atau karena waktu pengistirahatan
otot yang kurang sehingga saraf dan otot belum siap untuk menerima impuls
selanjutnya.

2. Sesudah saraf diputus :

saraf iskhiadikus kiri diputus


a. Rangsangan Mekanis

Pemberian rangsangan mekanis juga dilakukan saat saraf iskhiadikus kiri diputus.
Saat percobaan diketahui ketika memberi cubitan pada saraf iskhiadikus kiri tidak
terjadi denyutan baik pada otot maupun saraf dan ketika memberi cubitan pada
saraf iskhiadikus kanan terjadi denytan pada otot kanan namun lemah. Selanjutnya
memberikan ransangan mekanis pada otot gastrocnemius kanan, tidak terjadi
denyutan baik pada otot maupun pada saraf begtu pula ketika memberi cubitan
pada otot gastrocnemius kiri juga tidak terjadi perubahan pada saraf dan otot.
Dari hasil tersebut dapat diketahui jika cepat, lemahnya denyutan di pengaruhi
oleh keadaan saraf iskhiadikus. Saat pemberian rangsangan baik pada saraf dan
otot hanya akan terjadi perubahan atau denyutan pada otot, hal ini karena saraf
hanya mengantarkan impuls stimulus untuk memberikan respon pada otot
(efektor) yang berupa denyutan dan saraf sendiri tidak ikut berdenyut (Soewolo,
2003: 62).
b. Rangsangan Termis

Saat saraf iskiadikus kiri yang telah dipotong diberikan perlakuan dengan
sentuhan batang gelas hangat diketahui tidak terjadi respon berupa gerakan pada
otot gastroknemius kiri. Hal ini terjadi karena saraf iskiadikus yang merupakan
saraf perifer tidak dapat bekerja ketika dipotong dari medulla spinalis (Husna
dkk., 2013). Sedangkan saraf iskiadikus kanan yang masih bersambung dengan
medulla spinalis ketika diberikan perlakuan berupa sentuhan batang gelas hangat
juga tidak terjadi respon atau gerakan yang ditunjukkan oleh otot gastroknemius
kanan yang berasal dari impuls saraf tersebut. Ini tidak sesuai dengan teori yang
telah dijelaskan sebelumnya dan ketidaksesuaian tersebut dapat terjadi karena
beberapa faktor, antaranya ketidaktelitian praktikan dalam mengamati respon yang
terjadi maupun batang gelas yang digunakan mungkin tidak terlalu panas sehingga
rangsangan yang diberikan di bawah batas ambang dan hal itu menyebabkan tidak
terjadinya

potensial

aksi

yang

dapat

menyebabkan

respon. Saat otot

gastroknemius kiri diberikan rangsangan masih terdapat respon berupa gerakan


meskipun saraf iskiadikus kiri telah dipotong dari medulla spinalis. Hal ini dapat
terjadi karena pada otot iskiadikus terdapat suatu saraf campuran yang mampu
merespon suatu rangsang tanpa harus rangsangan tersebut dikirim ke medulla
spinalis. Dan saat otot gastroknemius kanan diberi rangsangan tersebut juga
terjadi gerakan dan gerakan atau respon yang ditunjukkan lebih cepat jika
dibandingkan dengan respon yang ditunjukkan oleh otot gastroknemius kiri.
c. Rangsangan Kimia

Perlakuan selanjutnya dilakukan dengan meneteskan HCl 1% pada otot


gastroknemius dan saraf iskhiadikus sebelah kiri dan kanan , hanya 1 perlakuan
yang bereaksi positif yaitu saat otot kanan ditetesi HCl 1%, otot bergerak yang
tidak terlalu keras. Hasil dari praktikum ini bisa dihubungkan berdasarkan teori
bahwa saraf iskhiadikus merupakan saraf perifer yang kinerjanya diperlukan
adanya medula spinalis. Sehingga pada saraf yang sudah diputus tidak
menunujukkan kontraksi apapun pada otot gastonekmius, dan sesuai dengan teori
saraf iskhiadikus bagian kanan yang masih terhubung dengan medula spinalis
menunjukkan adanya respont ketika diberi rangsangan berupa gerakan otot
gastroknemiusnya. Namun saat diberi HCl 1% pada saraf kanannya, tidak ada
respon sama sekali. Hal ini terjadi karena beberapa faktor. Dimungkinkan salah
satu faktor yang mempengaruhinya adalah konsentrasi dari HCl yang rendah,
sehingga respon yang diberikan sangat kecil sekali, sehingga tidak terlihat dengan
jelas.
d. Rangsangan Osmotis

Setelah saraf iskhiadikus kiri diputus dari medula spinalis, pemberian rangsang
osmotis pada saraf iskhiadikus kiri dan otot iskhiadikus kiri tidak menimbulkan

respon (kontraksi), hal ini dikarenakan tidak terhubungnya saraf kiri dengan
medula spinalis yang merupakan pusat gerak refleks. Hal itu sesuai dengan teori
yang menyatakan bahwa saraf iskiadikus merupakan saraf perifer yang kinerjanya
dipengaruhi oleh medulla spinalis (Husna dkk., 2013). Dari teori tersebut dapat
diketahui, ketika saraf iskiadikus kiri dipotong dari medulla spinalis maka saraf
tersebut tidak akan mampu mengantarkan impuls yang dapat membuat otot
berkontraksi. Impuls akan menyebabkan respon apabila telah melalui lintasan
tertentu yaitu lengkung refleks: reseptor > saraf sensorik > saraf pusat (otak dan
medula spinalis) >saraf motorik > efektor. Jika salah satu bagian dari lengkung
refleks tidak ada atau terputus maka respon pada efektor (otot) tidak akan terjadi.
Pembubuhan kristal NaCl pada saraf iskhiadikus kanan yang masih tersambung
dengan medula spinalis tidak menimbulkan kontraksi otot gastroknemius kanan
mungkin terjadi karena rangsangan belum cukup, masih termasuk rangsang
subminimal atau pengamatan dilakukan secara terburu-buru sehingga otot masih
dalam periode laten. Sedangkan pembubuhan kristal NaCl pada otot
gastroknemius kanan menimbulkan kontraksi pada otot tersebut karena rangsang
yang diberikan cukup, serta pengamatan dilakukan hingga otot melewati periode
laten.
Dari pembahasan tersebut dapat diketahui bahwa respon yang diberikan oleh sel
otot berupa kontraksi, sedangkan respon yang diberikan oleh sel saraf tidak dapat
diamati karena respon tersebut hanya berupa potensial aksi yang kemudian
dirambatkan dalam bentuk impuls dan respon tersebut hanya dapat diamati
melalui efektornya (Susilowati, 2000).
e. Rangsangan Listrik

Hasil yang berebeda didapatkan setelah saraf paha sabelah kiri diputus. Respon
yang didapatkan pada percobaan ini hanya ketika aliran listrik dialirkan melalui

saraf kanan saja, respon tersebut lemah. Tidak adanya respon ketika saraf
iskhiadikus dan otot gastroknemius sebelah kiri disebabkan karena saraf tersebut
sudah tidak terhubung dengan medulla spinalis sehingga tidak ada yang
menerusakn impuls dari saraf sensorik menuju saraf motorik. Namun sebenarnya,
impuls yang diberikan pada saraf iskhiadikus tidak bisa diamati dengan mata
telanjang. Soewolo dkk. (2003: 47) meyatakan bahwa, apabila suatu saraf diberi
rangsangan, maka sel saraf akan merespon yaitu mengubah energy rangsangan
menjadi energy elektrokimia impuls saraf yang akan dirambatkan sepanjang
serabut saraf. Rambatan impuls saraf ini tidak dapat diamati dengan mata seperti
kontraksi otot. Sedangkan tidak adanya respon ketika otot gastroknemius kanan
diberi rangsangan listrik berpotensi terjadi karena rusaknya otot tersebut atau
karena kurangnya waktu pengistirahatan otot yang kurang sehingga otot masih
dalam periode laten dan belum siap menerima impuls selanjutnya.
I. Kesimpulan
1. Saat saraf dan otot masih terhubung pada medulla spinalis, hampir semua saraf dan
otot masih dapat melakukan iritabilitas (menanggapi rangsangan). Jika saraf yang
diberikan rangsang maka respon berupa kontraksi otot dapat diamati. Namun, jika
otot yang diberikan rangsangan maka respon saraf tidak bisa terlihat karena berupa
proses pembentukan potensial aksi.
2. Sifat iritabilitas otot dan saraf sesudah diputus dari medula spinalis akan mengalami
penurunan atau tidak akan menanggapi rangsangan yang diberikan karena tidak
adanya medula spinalis sebagai pusat pengendali gerak otot tubuh dan refleks spinalis
serta refleks tungkai.

Daftar Pustaka
Guyton, A. C., & Hall, J. E. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9. Jakarta: EGC.
Mescher, A. 2011. Histologi Dasar Junqueira. Terjemahan Frans Dany. Jakarta: EGJ.
Soewolo. 1999. Pengantar Fisiologi Hewan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Soewolo dkk. 2003. Fisiologi Manusia. Malang: JICA.
Subiyanto. 1994. Fisiologi Hewan. Malang :Universitas Negeri Malang.
Susilowati, Soewolo dan Istantie, A. 2000. Petunjuk Praktikum Fisiologi Hewan. Malang:
Universitas Negeri Malang.
Husna, U., dkk. 2013. Iritabilitas Otot dan Saraf. (Online), (https://www.academia.edu/
10929201), diakses 04 September 2015.

Anda mungkin juga menyukai