Anda di halaman 1dari 3

Bakteri Bacillus sp

Bacillus memiliki bentuk batang Gram positif pada kultur muda, motil (reaksi
nonmotil kadang terjadi), membentuk spora yang biasanya tahan panas, aerob
(beberapa spesies anaerob fakultatif), katalase positif dan oksidasi bervariasi (Cowan,
1974). Bacillus dapat menjadi gram negatif ketika memasuki fase pertumbuhan
stasioner. Sebagian besar Bacillus merupakan bakteri mesofil yang tumbuh dengan
suhu optimal antara 30-40C, meskipun ada beberapa yang termasuk golongan
termofil dengan suhu optimal pada suhu 65C (Todar, 2009).
Bakteri Bacillus sp biasanya banyak ditemukan di tanah. Cara untuk
mendapatkan bakteri Bacillus sp yaitu dengan mengambil sampel tanah
menggunakan sendok yang telah disterilisasikan terlebih dahulu kemudian ambil
tanah sekitar kedalaman 3 cm dari permukaan tanah. Bacillus sp merupakan bakteri
gram positif dengan sel batang berukuran 0,322x1,277 m, sebagian bersifat motil
(mampu bergerak) mobilitasnya ini disebabkan oleh flagel, jika dipanaskan akan
membentuk endospora, yaitu bentuk dorman sel vegetatif sebagai bentuk pertahanan
diri yang muncul saat kondisi ekstrim yang tidak menguntungkan bagi bakteri.
Kandungan air endospora sangat rendah bila dibandingkan dengan sel vegetatifnya,
maka endospora berbentuk sangat padat dan sangat refraktil bila dilihat di bawah

mikroskop. Endospora dibentuk dalam sporangium di dalam sel dan dibentuk saat sel
masak. Endospora memiliki dinding tebal, reaktif, dan sangat resisten. Letak
endospora dalam sel ukuran selama pembentukannya tidak sama antara spesies satu
dengan lainnya. Beberapa spesies memiliki spora sentral, terminal, atau letal.
Endospora dapat berbentuk oval, silindris, bulat, atau lainnya.
Bacillus dibedakan dari anggota familia Bacillaceae lainnya berdasarkan sifatsifatnya yaitu: keseluruhannya merupakan pembentuk spora, hidup pada kondisi
aerob baik sebagai jasad yang sepenuhnya aerob maupun aerob fakultatif, selnya
berbentuk batang, dan memproduksi katalase.
Bacillus memiliki sifat pertumbuhan yang berbeda-beda, diantaranya ada
yang bersifat mesofilik seperti B. subtilis, B. cereus. Bakteri ini termasuk ke dalam
kelompok gram positif yang menghasilkan spora yang terletak ditengah-tengah sel
serta memiliki flagel peritrikus.
Salah satu faktor penting dalam mendukung pertumbuhan adalah nutrisi.
Nutrisi untuk pertumbuhan mikroba dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu mikro
nutrien dan makro nutrient. Mikro nutrien terdiri dari elemen yang diperlukan dalam
jumlah sedikit akan tetapi diperlukan dalam proses metabolisme. Mikro nutrient
tersebut adalah Mo2+, Zn2+, Cu2+, Mn2+, Na2+, vitamin, hormone pertumbuhan
dan precursor metabolisme. Makro nutrien terdiri dari elemen yang diperlukan dalam
jumlah yang banyak dan penting dalam pertumbuhannya seperti karbon, nitrogen,
oksigen, sulfur, pospat, Mg2+, K+, dan Ca (Shuler & Kargi, 2002).
Selain nutrisi, suhu dan pH juga berpengaruh terhadap pertumbuhan bakteri.
Bacillus sp. secara alami tumbuh baik pada pH netral, pH mempengaruhi reaksi
enzimatis. Protein pada kondisi terlarut cenderung mudah berinteraksi dengan
pelarutnya, sehingga bila terjadi perubahan pH larutan diatas atau dibawah pH
optimum, maka akan langsung bersentuhan dengan sisi aktif enzim sehingga akan
terjadi penurunan aktivitas enzim dengan cepat. Perubahan pH berpengaruh terhadap
perpindahan proton dalam membran sel (Sing et al., 2008).

Suhu

memiliki peran penting

dalam proses

pertumbuhan

maupun

pembentukan metabolit. Peningkatan suhu 10C pada saat pertumbuhan dapat


meningkatkan kecepatan tumbuh dua kali lipat. Peningkatan suhu diatas optimum
dapat mengakibatkan penurunan dan kematian sel. Suhu juga berpengaruh terhadap
proses produksi. Suhu yang tinggi dapat membatasi suatu produksi karena dapat
mengakibatkan pemutusan ikatan ion dan hidrogen pada struktur stabil enzim yang
berakibat terjadinya denaturasi (Shuler & Kargi, 2002).
Bacillus sp. merupakan agen penyakit dari beberapa penyakit seperti infeksi
kulit, paru, usus, dan selaput otak. Selain itu, beberapa tipe Bacillus sp. dipastikan
sebagai penyebab suatu kasus keracunan makanan, apabila hasil isolasi Bacillus
sp. menunjukkan bahwa strain-strain dari serotip yang samaditemukan pada makanan
yang dicurigai dan dari kotoran atau muntahan pasien, atau hasil isolasi bakteri dari
makanan yang dicurigai, kotoran, atau muntahan pasienmenunjukkan adanya
sejumlah besar Bacillus cereus dari serotip yang dikenal sebagaipenyebab keracunan
makanan. Keracunan pangan yang diakibatkan oleh Bacillus sp. ditunjukkan dari
gejala diare, kejang (kram) perut, dan muntah (Akoso, 2009).