Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Banyaknya karya seni jalanan atau disebut Street Art di Yogyakarta,
membuat salah satu kota di Indonesia ini menjadi surganya para seniman jalanan.
Terlihat begitu jelas disetiap sudut jalan raya dan di dalam kampung banyak
lukisan karya yang ada pada dinding, rolling door, tempat-tempat umum, sekolah,
gedung-gedung kosong. Berbagai macam karya seni jalanan yang di buat oleh
para seniman ini mewarnai tempat kosong yang sebelumnya tidak ada sentuhan
seni berubah menjadi tempat yang ada seninya yaitu seni jalanan.

Gambar 1. Karya Graffiti


Sumber: Dokumentasi Pribadi

Ada berbagai macam seni jalanan yang ada di Yogyakarta mulai dari
mural hingga graffiti yang memiliki arti berbeda. Mural yaitu seni jalan yang
memiliki pesan atau sindirian terhadap keadaan sosial hingga lingkungan sekitar
yang di sampaikan kepada masyarakat, sedangkan graffiti yaitu seni jalanan yang
menggunakan komposisi warna, garis, bentuk dari volume untuk menuliskan
kalimat tertentu di atas dinding. Menurut Susanto (2002:47) Graffiti berasal dari
Italia yang berarti goresan atau guratan.

Gambar 2. Vandalisme pada karya Graffiti


Sumber: Dokumentasi Pribadi

Graffiti tidak sering dilaporkan ke polisi. Banyak orang berpikir bahwa


graffiti bukan kejahatan nyata, tetapi graffiti telah menjadi perhatian utama dan
graffiti menjadi media massa sebagai bentuk dari seni jalanan perkotaan. Graffiti
merupakan masalah umum, intensitasnya bervariasi secara substansial dari tempat
ke tempat. Sementara insiden graffiti tampaknya tidak serius, tetapi graffiti
memiliki efek kumulatif yang serius (http://www.popcenter.org/problems/graffiti).
Penampakan awal di lokasi muncul untuk menarik lebih banyak perhatian. Pola
graffiti lokal terlihat muncul perbedaan dari waktu ke waktu, sehingga pelaku
graffiti mengambil bentuk yang khas. Beberapa ditemukan di lokasi yang berbeda
di Yogyakarta dan terkait dengan berbagai motif pelaku graffiti. Ekspresi kreatif
motif para pelaku mencari ketenaran dan pengakuan dari graffiti yang mereka
buat agar graffiti mereka dilihat oleh pelaku graffiti lain dan masyarakat.
Kampanye sosial adalah cara yang tepat untuk mengatasi masalah graffiti
yang ada di Yogyakarta. Pada saat ini para ahli komunikasi menyadari efek
kampanye lebih bersifat moderat dan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Pada
kondisi tertentu sebuah program kampanye berpeluang besar untuk sukses namun
pada keadaan lain dapat gagal. (Robert E. Simons 1990).
Oleh karena itu perlu adanya Kampanye Sosial yang dapat memberi
arahan terhadap pelaku graffiti yang sering melakukan vandalisme. Kampanye
Sosial ini juga bertujuan memberikan informasi, mengarahkan dan edukasi
tentang graffiti yang dilakukan di tempat yang sudah ada karya graffitinya,
dengan membuat video dan mengadakan event yang mengajak para pelaku graffiti
untuk berpartisipasi dalam membuat sebuah karya graffiti agar masyarakat sekitar
bisa menerima karya graffiti tersebut.
1.2 Rumusan Ide Penciptaan
1. Bagaimana menanamkan kesadaran dan ajakan kepada para pelaku graffiti
agar bisa membuat sebuah karya graffiti dengan memperbarui tempat yang
sebelumnya sudah ada karya graffitinya sebagaimana fungsinya melalui
kampanye sosial ?
2. Bagaimana merancang kampanye sosial tentang graffiti yang berjudul
Memberi Kesadaran Kepada Para Pelaku Graffiti Untuk Pemperbarui
Karya Graffiti Yang Sebelumnya Pernah Ada melaui media komunikasi
visual yang kreatif dan komunikatif ?
2

1.3 Orisinalitas
Adanya nilai kebaruan dan orisinalitas dalam penciptaan sebuah karya
memiliki tuntutan, meskipun sulit untuk mengukur nilai orisinalitas sebuah karya.
Setiap konteks hingga objek sebuah karya dapat memiliki nilai orisinalitas, hal ini
karena ada keterlibatan individu desainer dalam pembuatan sebuah penciptaan
karya yang ikut memberikan idealis dari desainer tersebut di dalam penciptaan
karya. Orisinalitas penciptaan sebuah karya terletak pada konten dan visualisasi
yang dirangkai dari konsep pendekatan edukasi dan komunikasi penerapan
infografis pada kampanye sosial seperti:

Ide
Merancang kampanye sosial yang bertujuan mengajak para pelaku graffiti
untuk membuat sebuah karya graffiti dengan memperbarui spot / tembok
yang sebelumnya ada karya gaffitinya.

Konsep
Membuat sebuah video tentang pembaruan karya graffiti dan mengadakan
event menggambar bersama para pelaku graffiti dengan memperbarui
tembok yang telah ada karya graffitinya

Media
Media utama yang digunakan yakni media audio visual yang di dalamnya
berisi tentang movement atau gerakan yang bertujuan sesuai dengan
kampanye sosial ini, seperti ajakan untuk memperbarui karya graffiti.

1.4 Tujuan
1. Memberikan informasi kepada para pelaku graffiti tentang adanya
kampanye sosial mengenai graffiti.
2. Memberikan arahan kepada para pelaku graffiti.
3. Membuat video dan event yang mengajak para pelaku graffiti .
4. Sebagai media untuk penyampaian pesan melalui kampanye sosial.

1.5 Manfaat
Perancangan Kampanye Sosial ini diharapkan bisa menjadi sebuah acuan
untuk para pelaku graffiti sehingga bisa membuat kesadaran akan pembuatan
sebuah karya graffiti yang bisa memperbarui tempat yang sebelumnya ada karya
graffitinya agar masyarakat di sekitar tempat tersebut bisa menerimanya. Di sisi
lain untuk ikut serta mengurangi kebiasaan vandalisme yang tak beraturan.
Sedangkan manfaat bagi Program studi Desain Komunikasi Visual dapat menjadi
sumber informasi dan referensi bagi mahasiswa, dengan harapan mengubah
perspektif bahwa seorang Desain Komunikasi Visual dapat memikirkan konsep
dan strategi yang matang dalam menciptakan sebuah karya yang dapat
memberikan alternatif solusi yang keratif bagi permasalahan sosial dalam bentuk
Desain Komunikasi Visual.

BAB II
KAJIAN SUMBER PENCIPTAAN
2.1 Tinjauan Graffiti
Di Yogyakarta beberapa graffiti menjadi masalah karena tindakannya yang
berlebihan dan tidak beraturan, tindakan graffiti dilakukan oleh oknum yang baru
turun ke jalan mencari jati diri agar lebih dikenal oleh pelaku graffiti yang lain
maupun masyarakat sekitar. Biasanya kegiatan graffiti yang dilakukan secara
diam diam tanpa sepengetahuan orang lain pada tengah malam.

Gambar 3. Vandalisme pada karya Graffiti


Sumber: Dokumentasi Pribadi

2.2 Tinjauan Kampanye Sosial


Menurut Rice Roland & W.J. Paisley (1981) kampanye merupakan keinginan
seseorang untuk mempengaruhi kepercayaan dan tingkah laku orang lain dengan
menggunakan daya tarik yang komunikatif. Kampanye adalah menciptakan perubahan
atau perbaikan dalam masyarakat. Lingkungan sosial yang mengalami perubahan atau
perbaikan, maka kampanye mungkin telah terjadi atau berlangsung pada lingkungan
tersebut.

Pada perancangan kampanye ini, jenis kampanye yang digunakan adalah


jenis Ideologically or Cause Oriented Campaigns, jenis kampanye yang
berorientasi pada tujuan-tujuan yang bersifat khusus dan sering kali berdimensi
5

perubahan sosial. Karena itu kampanye jenis ini dalam istilah Kotler disebut
sebagai social change campaigns, yakni kampanye yang ditujukan untuk
menangani masalah-masalah sosial melalui perubahan sikap dan perilaku publik
yang terkait (Charles U. Larson, 1992)
Alasan pemilihan jenis kampanye ini karena pengertian dari jenis
kampanye ini sudah jelas dan terarah pada penanganan masalah-masalah graffiti
melalui perubahan sikap dan perilaku para pelaku graffiti yang terkait.
2.3 Tinjauan Character Design

Gambar 4. Desain Karakter FlyngFotress


Sumber: https://graffart.eublogwp-contentuploads201103650-hitzerot-dose.jpg

Desain karakter diatas merupakan ide dari kajian sumber kampanye sosial
ini, karena di dalam kampanye sosial ini menggunakan icon illustrasi karakter
yang menyerupai bentukan dari cat semprot. Cat semprot di dalam dunia graffiti
adalah elemen utama untuk membuat sebuah karya graffiti. Ide menggunakan
illustrasi karakter yang menyerupai cat semprot akan memberikan gambaran
kepada para pelaku graffiti yang baru mendalami dunia graffiti, dimana pada
karakter tersebut diberikan jiwa seolah olah hidup dan memberi ajakan kepada
para pelaku graffiti yang baru mendalami dunia graffiti.
6

Flying Fortress yang mencipakan desain karakter yang dijadikan ide


penciptaan kampanye sosial ini adalah seorang seniman bebasis di kota Munich
Jerman, dia adalah orang yang luar biasa yang telah mendorong pergerakan
graffiti untuk mengawali hari-harinya dengan impuls baru yang inovatif seperti
ide berkelanjutan yang konsekuen. Ciri-ciri karakternya yang terkenal adalah
Teddy Trooper icon figural yang dibuat sekitar 13 tahun yang lalu yaitu tahun
2004, Pada banyak kesempatan dia telah menunjukkan bahwa dia benar-benar
menetapkan tren sebagai seorang seniman yang mampu memulai dan memimpin
gerakan (http://www.drawaline.de/blogs/artists/10092693-flying-fortress).

BAB III
LANDASAN PENCIPTAAN

3.1 Tahapan Kampanye Sosial


Tahapan Kampanye yang diperlukan pada sebuah perencanaan untuk
menciptakan keteraturan dan kejelasan arah tindakan adalah kampanye yang telah
direncanakan, tahapan yang harus dilakukan agar kampanye dapat mencapai
tujuan yang diinginkan. Alasan sebuah perencanaan harus dilakukan dalam
kampanye adalah untuk memfokuskan usaha, mengembangkan sudut pandang
berjangka waktu panjang, minimalisasi kegagalan, mengurangi konflik dan
memperlancar kerjasama dengan pihak lain (Anne 200). Rencana program
kampanye, dapat dilakukan dalam beberapa tahap:
1. Analisa Masalah Langkah awal suatu perencanaan adalah melakukan
analisa masalah agar permasalahan dapat diidentifikasi dengan jelas, maka
analisis hendaknya dilakukan secara terstruktur. Informasi yang terkumpul
berhubungan dengan permasalahan harus dilakukan secara obyektif dan
tertulis serta memungkinkan untuk dilihat setiap waktu, sehingga dapat
menghindarkan terjadinya pemecahan masalah yang tidak tepat.
2. Penyusunan Tujuan Tujuan, harus disusun dan dituangkan dalam bentuk
tertulis, dan bersifat realistis. Realistis dalam penyusunan ini merupakan
hal yang wajib dilakukan dalam sebuah proses perencanaan agar
kampanye yang akan dilaksanakan mempunyai arah yang terfokus pada
penyampaian tujuan tersebut. Tujuan yang ingin dicapai dalam sebuah
kampanye antara lain menyampaikan sebuah pesan baru, memperbaiki
kesalahpahaman, menciptakan kesadaran, mengembangkan pengetahuan
baru, menghilangkan prasangka, menganjurkan sebuah kepercayaan,
mengkonfirmasi persepsi, serta mengajak khalayak untuk melakukan
sesuatu.
3. Identifikasi dan Segmentasi Sasaran Identifikasi dan segmentasi sasaran
dilakukan untuk menjawab pertanyaan Who shall I talk ? Identifikasi
dan segmentasi sasaran perlu dilakukan karena kampanye tidak bisa
ditujukan kepada semua orang secara acak. Identifikasi dan segmentasi
8

sasaran maka proses selanjutnya akan lebih mudah, hingga akhirnya akan
memperlancar pelaksanaan kampanye. Proses pelapisan sasaran, akan
mempermudah proses identifikasi dan segmentasi sasaran yaitu sasaran
utama, sasaran lapis satu, sasaran lapis dua dan seterusnya. Identifikasi
dan segmentasi sasaran dilakukan dengan melihat karakteristik publik
secara keseluruhan.
3.2 Konsep Kampanye Sosial
Konsep adalah representasi abstrak identitas mental yang universal
yang menunjuk pada kategori atau kelas dari suatu identitas, kejadian atau
hubungan. Konsep dasar perancangan merupakan suatu gagasan/pemikiran awal
atau pedoman dalam pembuatan sebuah penciptaan, sehingga dalam pembuatan
kampanyae ini mempunyai arah dan tujuan yang jelas dalam penyampaian
informasi kepada para pelaku graffiti. Konsep diperlukan sebagai landasan untuk
menciptakan desain media komunikasi visual yang baik dan dapat berfungsi
sebagaimana mestinya.
Dalam hai ini bagaimana kampanye yang akan dibuat dapat memberi
kesadaran para pelaku graffiti untuk memberikan ajakan, informasi, dan
mengarahkan pembaruan karya graffiti yang dilakukan di tempat yang sudah ada
karya graffitinya.
3.3 Media Kampanye Yang Digunakan
Media below the line adalah media yang digunakan untuk membantu
promosi atau publikasi di tingkat retail yang bertujuan untuk merangkul target
segment agar menyadari keberadaan suatu kampanye sosial. Promosi atau
publikasi dengan menggunakan media below the line tidak menggunakan media
massa dalam aktivitasnya. Media yang termasuk jenis media below the line adalah
sebagai berikut:
1. Video
Video merupakan media yang memiliki daya tarik cukup tingi untuk
mempengaruhi target segment, dengan menggunakan konsep yang sesuai
tujuan kampanye sosial ini

2. Poster Online
Poster

Online

adalah

gambar

yang

berisi

pengumuman

untuk

menyampaikan suatu informasi yang dipasang di berbagai media sosial.


3. Stiker
Stiker merupakan salah media publikasi atau promosi yang memiliki daya
tahan yang cukup panjang. Stiker biasanya berbahan kertas yang diberi
perekat dan dapat dipasang di berbagai tempat.
4. Merchandise
Merchandise yang digunakan dalam kampanye sosial ini adalah kaos,
dalam kampanye sosial ini merchandise diberikan secara cuma-cuma
kepada para pelaku graffiti telah mengikuti atau melaksanakan event yang
telah disediakan.
3.3 Konsep Pergelaran/Pameran (penyajian)
Pada perancangan ini konsep ide media utama yakni menggunakan media
audio visual yang didalamnya bercerita tentang para pelaku graffiti yang sedang
memperbarui sebuah karya graffiti. Media video dalam bentuk audio visual dipilih
agar diharapkan para pelaku graffiti terutama yang sesuai target audience dapat
menontonya sebagai media ajakan yang dapat menginspirasi serta menggugah
keinginan membuat sebuah karya graffiti sesuai dengan video yang telah dibuat.
Video tersebut dimaksudkan untuk diunggah di jejaring sosial seperti
instagram, facebook, dan youtube. Didalam media sosial tersebut target audience
selalu mencari perkembangan atau update dari pergerakan graffiti. Tidak hanya
video, namun media pendukung lainnya juga diunggah di jejaring sosial. Media
pendukung seperti poster memberikan informasi dan ajakan tentang pembuatan
graffiti yang sesuai dengan konsep yang dibuat, di dalam poster tersebut juga
memberikan informasi tentang acara graffiti agar para target audience dapat
berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
Adanya acara graffiti yang mengajak target audience tersebut, diharapkan
para target audience dapat membuat sebuah karya graffiti dengan cara
memperbarui sebuah tembok / spot yang sudah pernah ada karya graffitinya
dengan karya graffiti yang baru.

10

3.3 Kerangka Berfikir


Dalam perancangan ini kerangka berfikir berhubungan erat dengan
tema/ide penciptaan, dimana target audience dalam perancangan ini adalah para
pelaku graffiti yang baru turun kejalan / baru mendalami dunia graffiti (sekitar
usia 1620 tahun). Para pelaku graffiti tersebut mencari ketenaran dan pengakuan
dengan cara sering melakukan vandalisme dan dari graffiti yang mereka buat agar
graffiti mereka dilihat oleh pelaku graffiti lain dan masyarakat.
.

11

BAB IV
METODE/PROSES PENCIPTAAN
4.1. Teknik Pengumpulan Data
4.1.1 Data Primer
Data primer merupakan data asli yang di kumpulkan periset untuk
menjawab masalah risetnya secara khusus, data tersebut diperoleh secara langsung
dari sumbernya ataupun dari objek penelitian, baik melalui media kuisioner,
wawancara, ataupun pendekatan melalui observasi (Istijanto, 2005:45). Data
primer dalam bab ini meliputi :

Metode Observasi

Cara penghimpunan bahanbahan keterangan yang di lakukan dengan cara


pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang
dijadikan obyek pengamatan (Muljiono, 2007:16).
Observasi dilakukan di sekitar jl. Suryodiningratan dan taman budaya yang
bertempat di Yogyakarta guna untuk mendapatkan bahan keterangan dari obyek
yang diamati.

Metode Wawancara

Proses bertanya yang dilakukan oleh reporter untuk mendapatkan jawaban dari
narasumber. Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila
peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan
yang harus diteliti (Masduki & Suffatni, 2001:37).
Melakukan wawancara dengan para pelaku graffiti yang sesuai target audience
guna mendapatkan informasi yang akurat mengenai pembuatan kampanye sosial
tentang graffiti.

Metode Dokumentasi

Menurut Budianta (2005:111) metode dokumentasi adalah Bukti identitas atau


jatidiri kehidupan, bukan hanya untuk kehidupan seekor cacing, seorang manusia
atau sebuah bintang di langit juga bisa didokumentasikan.

12

Dokumentasi dilakukan pada para pelaku graffiti melalui dokumentasi dengan


cara merekam semua hasil pengamatan langsung terhadap para pelaku graffiti.
4.1.2 Data Sekunder
Menurut Istijanto (2005:38) Data sekunder merupakan data yang telah
dikumpulkan oleh pihak lain, biasanya data tersebut berbentuk informasi. Data
sekunder di peroleh dari literatur-literatur, literatur internet (e-book), situs-situs
internet serta buku pendukung teori.

Metode Kepustakaan

Metode kepustakaan adalah teknik pengumpulan data dengan mengadakan studi


pengkajian terhadap buku, literatur-literatur, catatan dan aporan yang ada
hubungannya dengan masalah yang dipecahkan (Nazir 1988: 112).
Metode Kepustakaan digunakan untuk mengumpulkan data berupa buku, majalah,
yang sesuai dengan disiplin ilmu desain komunikasi visual sehingga dapat
dipertanggung jawabkan.

4.2 Proses Pembuatan Video Kampanye Sosial


Menurut Darwanto Sastro (2007:39) suatu produksi melibatkan banyak
peralatan, orang dan biaya besar, selain memerlukan suatu organisasi yang rapi
juga perlu tahap pelaksanaan produksi yang jelas dan efisien. Dalam buku
Teknik Produksi Program Televisi disebutkan tahapan produksi terdiri dari tiga
bagian di televisi yang lazim disebut standart operation procedure (SOP), yaitu
Pra-Produksi, Produksi, Pasca-Produksi.
Pra Produksi
Tahap ini berisikan konsep yang akan dibangun dalam pembuatan video.
Perencanaan yang matang sebelum tahap produksi dapat menghemat biaya
yang dikeluarkan. Berikut konsep yang harus dibangun:
-

Ide

Tema

Logline
13

Sinopsis

Diagram scene

Menyusun naskah

Merancang story board

Lokasi pengambilan video


Produksi
Produksi merupakan tahap lanjutan dari tahap pra produksi, dimana
rancangan yang sudah dibuat pada saat pra produksi akan dilaksanakan
pada tahap ini. Berikut tahap yang harus dilaksanakan :
-

Sistem perekaman

Susunan pengambilan gambar

Pasca Produksi
Proses ini lebih dikenal dengan proses editing. Setelah proses pengambilan
gambar selesai maka editor mulai dengan proses editing yang tentu saja
dengan bekal treatment, storyboard, dan catatan.

14

BAB V
JADWAL PELAKSANAAN TUGAS AKHIR
Jadwal perancangan kampanye ini dilaksanakan selama 6 bulan. Waktu
pelaksanaan terhitung mulai bulan September 2015 hingga bulan Februari 2016.
Berikut jadwal pelaksanaan perancangan kampanye :
Kegiatan

Jadwal Perancangan
September 2015 - Februari 2016
1

Identifikasi masalah
Perancangan
kampanye
Pelaksanaan

Tabel 5.1 Jadwal Kegiatan Kampanye

15

KEPUSTAKAAN

Budianta, E. 2005. Senyum Untuk Calon Penulis. Jakarta: Pustaka Alvabet


Anggota IKAPI
Gregory, Anne. 2000, The Art & Science of Public Relations:Planning and
Managing a Public Relation Campaign. New Dehli: Crest Publishing House
Larson U. Charles. 1992. Persuasion: Reception and Responsibilit. Wadsworth
Pub
Masduki dan Retno Suffani. 2001. Jurnalistik Radio. Yogyakarta: LkiS
Rice Roland & W.J. Paisley 1981. Public Communication Campaign. London:
Sage
Susanto, M. 2002. Diksi Rupa. Yogyakarta: kansinus

Webtografi
https://graffart.eublogwp-contentuploads201103650-hitzerot-dose.jpg
http://www.drawaline.de/blogs/artists/10092693-flying-fortress
http://www.popcenter.org/problems/graffiti

16