Anda di halaman 1dari 16

METODE PELAKSANAAN

PEKERJAAN

: PEMBUATAN SALURAN

LOKASI

: PPLB ARUK KECAMATAN SAJINGAN BESAR


KAWASAN PERBATASAN SAMBAS

Untuk kelancaran pekerjaan maka disediakan Menyediakan bahan,tenaga kerja dan


peralatan yang diperlukan selama pelaksanaan dan pemeliharaan pekerjaan,dan harus
membuat / sewa Kantor sementara di lapangan,lengkap dengan alat-alat untuk direksi
beserta stafnya sesuai yang ditetapkan pada spesifikasi khusus, boleh menyewa rumahn
penduduk sebagai Kantor Direksi yang sesuai diatas persetujuan Direksi.Kantor harus
merupakan bangunan kayu yang kuat .Kantor harus dipersiapakan dengan pintu dan
dilengkapi kunci termasuk penerangan,pembersihan yang teratur dan penyediaan air
bersih beserta MCK dan peralatan P3K.
Menyediakan Alat-alat bantu seperti beton molen, vibrator, pompa air, mesin las,alatalat pengangkut, mesin giling dan peralatan lain yang dipergunakan untuk melaksanakan
pekerjaan.
Membuat laporan harian,mingguan dan membuat papan nama proyek yang dipasang
di tempat strategis dan mudah dibaca.Bentuk,ukuran serta tulisan dapat dim inta pada
Direksi. Menyediakan kendaraan untuk dipakai direksi dan stafnya pada setiap waktu
yang berhubungan denga kelancaran pelaksanaan pekerjaan.
a. Pendahuluan
Mobilisasi dan Demolisasi
Mobilisasi dilaksanakan setelah persiapan-persiapan pekerjaan selesai
dikerjakan, dengan mendatangkan peralatan dan mesin yang diperlukan atau yang
telah ditentukan didalam kontrak sebelumnya.
b. Penjagaan Keamanan Lapangan pekerjaan

Menjaga

keamanan

barang-barang,

bahan

atau

peralatan

milik

proyek,konsultan/pengawas atau pihak ketiga yang ada di lapangan. Misalnya


membuat pagar pengaman dari kayu di lokasi pekerjaan yang sedang berlangsung
atau membuat tempat penginapan untuk menjaga keamanan.
c. Jaminan dan Keselamatan Kerja
- Menyediakan P3K yang selalu dalam keadaan siap digunakan dilapangan, untuk
mengatasi segala kemungkinan musibah bagi semua petugas dan pekerja
-

dilapangan.
Menyediakan Wc/kamar mandi, air( untuk mandi ) yang layak bagi semua
petugas dan pekerja dilapangan. Serta menyediakan air minum yang cukup bersih

dan memenuhi syarat-syarat kesehatan.


Memberikan segala hal yang berkaitan dengan keselamatan dan jaminan social
kepada pekerja.

d. Pembersihan Lokasi
membersihkan halaman lokasi dari segala sesuatu yang dapat mengganggu
kelancaran pelaksanaan pekerjaan, termasuk pohon-pohon dan semak-semak yang
terdapat pada areal harus ditebang dan dibersihkan sampai keakar-akarnya, kemudian
disingkirkan dari lapangan pekerjaan.
e. Pemasangan Bowplank
- Pemasangan Bowplank dilaksanakan setelah pekerjaan perataan tanah dan
-

pembersihan lokasi diselesaikan.


Melakukan Pengukuran, yaitu :
1.
2.
3.
4.

Pengukuran Site
Penentuan dan Penarikan As As bangunan
Pengukuran dan Pengecekan elevasi
Pemasangan Patok-patok

f. Pekerjaan Galian Tanah


Penggalian harus dilaksanakan hingga garis ketinggian dan elevasi yang
ditentukan dalam gambar atau ditunjukan oleh Direksi. Dan harus mencakup
pembuangan sisa hasil material dalam bentuk apapun keluar dari area pekerjaan,

penggalian pada bangunan pada kedalaman galian > 3 m harus dilaksanakan


sedemikian sehingga masih memungkinkan dikerjakan pengeringan yang cukup,dapat
membuat penyokong bagi tebing galian dan masih cukup ruangan untuk melakukan
pekerjaan. Dalam pelaksanaan penggalian saluran sekunder pada saat
penggalian dijaga agar hasil galian sudah sesuai dengan gambar kerja sehingga tidak
terjadi pengulangan penggalian. Pembuatan dimensi saluran (lebar dan dalam)
disesuaikan dengan gambar rencana atau menurut petunjuk Direksi, tanah hasil galian
dibuang kekiri atau kekanan saluran sesuai dengan design yang ada dalam kontrak,
perhitungan volume pekerjaan berdasarkan hasil pengukuran awal dikurangi
pengukuran akhir. Melindungi setiap pipa bawah tanah yang berfungsi, kabel-kabel,
konduit atau struktur lainnya di bawah permukaan yang ditemukan dan harus
bertanggung jawab untuk biaya perbaikan setiap kerusakan pada saat pelaksanaan
pekerjaaan.
Pekerjaan galian harus dilaksanakan dengan sekecil mungkin terjadi gangguan
terhadap bahan-bahan di bawah dan di luar batas galian yang ditentukan sebelumnya.
Jika bahan yang terdapat pada permukaan garis formasi atau tanah dasar atau pondasi
adalah lepas-lepas atau lunak atau tidak cocok menurut pendapat Direksi Teknik,
maka bahan tersebut secara keseluruhan harus dipadatkan atau dibuang seluruhnya
dan diganti dengan urugan yang cocok.
Batu, lapisan keras atau bahan yang tidak dapat dihancurkan lainnya apabila
ditemukan berada di atas garis formasi untuk saluran yang dilapisi, atau pada
ketinggian permukaan untuk perkerasan dan bahu jalan, atau di atas bagian dasar parit
pipa atau galian pondasi struktur, maka bahan tersebut harus digali terus sedalam 20
cm sampai satu permukaan yang merata dan halus. Tidak ada runcingan-runcingan
batu akan ditinggalkan menonjol dari permukaan dan semua bahan-bahan yang lepaslepas harus dibuang. Profil galian yang telah ditetapkan harus dikembalikan dengan
pengurugan kembali dan dipadatkan dengan bahan pilihan yang disetujui oleh Direksi
Teknik.
Setiap bahan beban di atas disingkirkan dari tebing yang tidak stabil sebelum
penggalian dan talud tebing harus dipotong menurut sudut rencana talud. Untuk
tebing yang tinggi dibuatkan berm pada setiap ketinggian tebing 5,0 m yang sesuai

dengan gambar standar. Untuk perlindungan tebing terhadap erosi maka dibuatkan
saluran cut off (penutup aliran rembesan) dan saluran pada kaki tebing sesuai gambar
rencana atau sebagaimana diperintahkan oleh Direksi Teknik di lapangan. melindungi
secepatnya daerah-daerah yang baru selesai digali, dengan penempatan lempengan
rumput atau tanaman-tanaman yang disetujui.
Menjaga galian tersebut bebas air dan harus melengkapi dengan pompa-pompa,
peralatan dan tenaga kerja, serta membuat tempat air mengumpul, saluran sementara
atau tanggul sementara seperlunya untuk mengeluarkan atau membuang air dari
daerah-daerah di sekitar galian.
g. Pekerjaan Galian Untuk Struktur Pipa
Parit untuk pipa, gorong-gorong atau saluran beton, dan galian-galian untuk
pondasi jembatan dan struktur lainnya, adalah dari satu ukuran yang memungkinkan
pemasangan bahan-bahan dengan baik, pemeriksaan pekerjaan dan memadatkan
kembali urugan di bawah dan disekitar pipa atau bangunan yang bersangkutan.
Galian sampai permukaan akhir pondasi untuk mendukung struktur tidak boleh
dilakukan sebelum pendukung (footing) tersebut dipasang.
h. Pekerjaan Urugan
Sebelum menempatkan urugan di atas suatu lapangan, semua operasi
pemotongan dan pembersihan termasuk pengisian lubang-lubang, disebabkan harus
diselesaikan sesuai dengan spesifikasi, dan semua bahan-bahan yang tidak cocok
harus dibuang dari lapangan. Bilamana tingginya timbunan adalah 1,0 meter atau
kurang, tempat pondasi timbunan harus dipadatkan secara menyeluruh (termasuk
membuat lepas-lepas, mengeringkan atau membasahi jika diperlukan) sampai bagian
puncak tanah setebal 15 cm, memenuhi persyaratan kepadatan yang ditetapkan untuk
urugan yang ditetapkan.
Jika timbunan tersebut harus dibuat di atas sisi bukit atau dipasang di atas
timbunan baru atau timbunan lama, kemiringan yang ada dipotong untuk membuat
permukaan kedudukan yang cukup lebar memikul peralatan pemadatan.

i. Pemadatan Urugan
Segera setelah penempatan dan penebaran urugan, masing-masing lapisan harus
dipadatkan menyeluruh dengan peralatan pemadatan yang cocok dan memadai yang
sesuai dengan persyratan-persyaratan pemadatan.
Pemadatan urugan tanah harus dilakukan hanya bila kadar air bahan tersebut
berada di dalam batas 3% kurang dari kadar air optimum sampai 1% lebih dari kadar
air optimum. Kadar air optimum akan ditetapkan sebagai kadar air dimana kepadatan
kering maksimum dicapai bila tanah tersebut dipadatkan sesuai dengan AASHTO
T99 (PB 0111 76).
Urugan timbunan dipadatkan di mulai pada ujung paling luar serta masuk ke
tengah dalam satu cara dimana masing-masing bagian menerima desakan pemadatan
yang sama.
Jika bahan urugan harus ditempatkan pada kedua sisi sebuah pipa atau saluran
beton atau struktur, pelaksanaannya harus sedemikian sehingga urugan tersebut
dibentuk sampai ketinggian yang hampir sama di atas kedua sisi struktur.
Terkecuali disetujui oleh Direksi Teknik, urugan di sekitar ujung satu jembatan
tidak boleh ditempatkan lebih tinggi dari dasar dinding belakang atau kepala
jembatan sampai bangunan atas dipasang.
Urugan ditempat-tempat yang sulit dicapai oleh peralatan pemadatan maka
ditempatkan dalam lapisan-lapisan horizontal dengan bahan-bahan lepas ketebalan
tidak melebihi 15 cm dan dipadatkan menyeluruh menggunakan mesin pemadat yang
disetujui. Selain itu harus diberikan perhatian khusus untuk menjamin tercapainya
pemadatan yang memuaskan di bawah dan di samping pipa-pipa, untuk mencegah
terjadinya rongga-rongga dan untuk menjamin pipa-pipa tersebut mendapat dukungan
sepenuhnya.
j. Pekerjaan Beton
a) Pencampuran Beton di Lapangan
1. Mencampur dengan pencampur (mixer) beton
Dilapangan Beton akan dicampur di lapangan dengan sebuah pencampur
yang dijalankan dengan mesin serta jenis yang disetujui, mengenai syarat dan
ukuran-ukuran yang akan menjamin suatu campuran yang merata / homogen.

Untuk semua pekerjaan besar dan jika diminta oleh Direksi Teknik,
pencampur tersebut harus dilengkapi dengan sarana penyimpanan air dan
satu sarana pengukuran untuk mengendalikan jumlah air yang digunakan
dalam setiap takaran.

Waktu pencampuran tidak boleh kurang dari 1,5 menit untuk mesin-mesin
sampai kapasitas m3. Di atas ukuran ini, jangka waktu pencampuran
minimum harus ditambah 15 detik untuk setiap penambahan m 3
campuran beton.

Pencampur (mixer) tersebut pertama-tama harus dimuat / diisi dengan


agregat yang sudah ditakar beserta semen dan dicampur kering untuk
waktu yang pendek sebelum ditambah air.

Sebelum mencampurkan satu takaran beton baru, mesin pencampur


tersebut harus dikosongkan sama sekali dari takaran sebelumnya.

2. Pencampuran dengan tangan


Untuk

pekerjaan-pekerjaan

kecil,

dan

yang

tidak

dimungkinkan

menggunakan sebuah pencampur mesin (mixer). Direksi Teknik dapat


menyetujui pencampuran beton secara manual sesuai dengan prosedur berikut
ini :

Pencampuran dengan tangan harus dilakukan di atas satu permukaan


(atas) yang keras bersih dan kedap air.

Urutan pencampuran adalah sebagai berikut:


i. Ukurlah volume agregat kasar dan agregat halus yang diperlukan
dengan alat takaran kotak, dan tempatkan agregat halus di atas
agregat kasar.
ii. Tempelkan kantong semen di atas agregat, buka dan tuangkan semen
tersebut.
iii. Aduklah bahan-bahan kering tersebut berkali-kali sehingga bahanbahan tersebut bercampur menyeluruh.

iv. Tambahkan air, lebih baik dengan sebuah kaleng yang dilengkapi
dengan ujung semprotan, campurkan terus, dan aduklah dengan sekop
sampai beton tersebut mempunyai warna yang seragam dengan
kekentalan yang merata.
b. Cetakan
cetakan harus dari bahan yang disetujui dan siap pakai serta cocok untuk
jenis dan letak pekerjaan beton yang akan dilaksanakan serta harus memenuhi
persyaratan.
Catatan

: Untuk pabrikasi dan perencanaan acuan (dan perancah) bagi

jembatan-jembatan mengacu kepada Petunjuk Perencanaan Jembatan.


c. Pengecoran Beton dalam Air
Pengecoran beton dalam air hanya akan diizinkan jika ditentukan atau diminta
demikian untuk keperluan perencanaan. Cara yang harus digunakan oleh
Kontraktor harus disetujui secara tertulis oleh Direksi Teknik dan persyaratan
berikut harus diterapkan :
1. Dalam semua hal, beton tersebut harus dibatasi dan tidak diizinkan
bercampur dengan air sampai selesai pengecoran dan cara yang harus dipilih
dari :
i.

Pengecoran beton dengan pemompaan

ii. Pengecoran beton dengan alat tremie


iii. Pengecoran beton dengan alat bucket (ember) yang menuang di bawah
2. Peralatan yang digunakan harus diperiksa dan disetujui oleh Direksi Teknik
sebelum digunakan dan bilamana diminta demikian, Kontraktor harus
melaksanakan satu uji coba menunjukkan (memperlihatkan) keefektifan
peralatan tersebut.
3. Selama pengecoran harus diberikan perhatian yang menjamin bahwa beton
tersebut tidak tercampur dengan air karena kesalahan sambungan-sambungan
atau kerusakan alat. Setiap kegagalan akan menjadi tanggung jawab
Kontraktor, yang akan mengambil tindakan pencegahan dan diminta untuk

membongkar dan mengganti beton rusak tersebut sebagaimana diperintahkan


oleh Direksi Teknik.
d. Sambungan Konstruksi
Lokasi sambungan-sambungan konstruksi bagi setiap struktur harus ditentukan
sebelumnya, dan ditunjukkan pada gambar rencana, serta harus disetujui oleh
Direksi Teknik sebelum mulai pelaksanaan. Persyaratan umum berikut ini harus
diterapkan :
1. Sambungan konstruksi tidak boleh ditempatkan pada penyambungan bagianbagian struktural, kecuali ditentukan lain sebelumnya.
2. Semua sambungan konstruksi harus tegak lurus kepada garis tegangan utama
dan ditempatkan pada titik-titik dengan geseran minimum.
3. Apabila sambungan tegak diperlukan, batang-batang tulangan harus
ditempatkan memotong sambungan-sambungan untuk membentuk konstruksi
monolit.
4. Sambungan lidah paling sedikit 4 cm dalamnya, disediakan untuk sambungan
konstruksi dalam dinding, pelat lantai, dan antara kaki-kaki dan dindingdinding.
5. Sambungan konstruksi harus dibuat menembus dinding sayap.
6. Dalam hal penundaan pekerjaan yang tidak terencana dikarenakan hujan atau
kemacetan pemasokan beton, Kontraktor harus menyediakan tambahan
tenaga dan bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat sambungan
konstruksi tambahan menurut perintah Direksi Teknik.
e. Pengujian Laboratorium untuk Beton
Pengujian-pengujian laboratorium berikut ini harus merupakan rujukan dan
pengujian-pengujian dilaksanakan seperti diperintahkan oleh Direksi Teknik
untuk memenuhi persyaratan-persyaratan spesifikasi ini.

Tabel 6.9. Pengujian Laboratorium untuk Beton


REFERENSI

PENGUJIAN

PENGUJIAN
TIPE
AASHTO

BINA
MARGA
Untuk

Analisa

saringan

agregat

halus dan agregat kasar

T27

PB 0201-76

memenuhi

persyaratan

gradasi menentukan ukuran dan


distribusi partikel agregat kasar
dan agregat halus
Menentukan

Kekeruhan organik dalam


pasir untuk beton

dengan
T21

PB 0207-76

kekeruhan

organik

menggunakan

larutan

sodium hydroxida dan mengacu


kepada

penyelesaian

(solusi)

warna standar
Menentukan total volume bahanbahan yang lebih halus dari 0,075
Jumlah bahan-bahan yang
lebih halus dari saringan

mm.
T11

PB 0208-76
Catatan

0,075 dalam agregat

Mungkin

penerapan

diperlukan

prosedur basah dan

prosedur kering bawah T27


Mutu

air

yang

harus

digunakan dalam beton

Gumpalan
partikel

lempung
pecahan

Penentuan
T26

PB 0301-76

atau

alkalinitas, total zat padat dan


inorganik
Menentukan dengan % gumpalan

dan
dalam

T112

agregat
Kekerasan

keasaman

lempung

dan

partikel-partikel

pecahan

dasar

agregat

halus

(setelah pengujian T11)


agregat

oleh

penggunaan sodium sulfat

T104

T96

PB 0206-76

atau magnesium sulfat

Menentukan

kekerasan

agregat

terhadap keasuhan cuaca

Ketahanan terhadap abrasi,


agregat kasar ukuran kecil
dengan

menggunakan

Test

abrasi

untuk

pengujian

agregat kasar < 37,5 mm

mesin Los Angeles


Pengujian kekuatan tekan contoh
Kekuatan tekan contoh uji
beton silinder

T22

bahan beton pada 7 hari dan 28


hari,

memenuhi

spesifikasi

persyaratan

k. Baja Tulangan untuk Beton


a. Batang Baja Penulangan
1. Batang baja penulangan adalah polos atau batang ulir sesuai dengan
persyaratan PBI 1971 (NI-2). Kecuali dinyatakan lain mutu baja yang
digunakan untuk beton bertulang harus mutu U 24 dengan tegangan leleh
2400 kg/cm2.
Catatan : Untuk baja yang lebih tinggi akan digunakan hanya apabila
dinyatakan
secara khusus dalam daftar penawaran.
2. Baja penulangan harus didapat dari pabrik pembuat yang disetujui dan harus
disertai dengan sertifikat pengujian yang memastikan kecocokan mutu. Jika
mutu baja diragukan Direksi Teknik dapat meminta baja tersebut untuk diuji.
3. Baja penulangan harus disediakan bersih dan bebas dari debu, lumpur,
minyak, gemuk, atau karat.
b. Penulangan Anyaman Baja
Anyaman baja untuk penggunaan sebagai penulangan beton harus kawat baja
di las pabrik sesuai dengan AASHTO M55 dan harus diadakan dalam lembar
rata atau gulungan seperti yang disyaratkan oleh Direksi Teknik.
c. Bahan Penopang (Ganjal) Penulangan
Penopang (ganjal) yang digunakan untuk menahan penulangan ditempatnya,
harus terbuat dari batang kawat ringan atau dengan menggunakan blok beton
pracetak (3 x 3 cm) dibuat dari adukan semen (1 : 2). Tidak ada jenis lain
penopang akan diizinkan kecuali atas perintah Direksi Teknik.
d. Bahan Kawat Pengikat Penulangan
Kawat ikat yang digunakan untuk pengikatan dan pengamanan batang
tulangan baja, harus kawat baja sesuai dengan PBI 1971 (NI-2) dan disetujui
Direksi Teknik.
l. Pelaksanaan Pekerjaan
a. Pabrikasi Baja Tulangan

Batang baja tulangan harus dipotong menurut panjang yang diperlukan


dibengkokkan secara hati-hati menurut bentuk dan ukuran yang diminta.
Batang tulangan mutu tinggi tidak boleh dibengkokkan dua kali. Pemanasan
batang tulangan harus dilarang, kecuali apabila disetujui oleh Direksi Teknik,
dimana harus dipertahankan sampai kepada pemanasan minimum atau
dilaksanakan dengan kemungkinan pemanasan yang paling rendah.
Apabila jari-jari pembengkokan untuk batang tulangan tidak ditunjukkan di
dalam gambar rencana, ia harus paling sedikit 5 kali diameter batang yang
bersangkutan (untuk U 24) atau 6.5 kali diameter batang diameter yang
bersangkutan (untuk mutu yang lebih tinggi). Kait dan begel harus
dibengkokkan sesuai dengan PBI 1971 (NI-2).

b. Penempatan dan Pengikatan


1. Penulangan harus segera dibersihkan sebelum penggunaan, untuk menjamin
kondisi pengikatan yang baik.
2. Penulangan harus ditempatkan dengan tepat sesuai dengan gambar dan
petunjuk Direksi Teknik dan dalam batas toleransi yang dipersyaratkan dalam
keadaan apapun, penulangan dilarang terletak langsung di atas acuan /
cetakan.
3. Batang baja penulangan harus diikat bersama dengan kokoh untuk
menghindari perpindahan tempat selama penuangan dan penempatan beton.
Pengelasan batang bersilang atau begel kepada baja tegangan utama tidak
diizinkan.
4. Penyambungan batang baja penulangan harus disesuaikan dengan PBI 1971
(NI-2) dan diuraikan lebih lanjut di bawah ini :
5. Semua baja tulangan harus dipasang menurut panjang sepenuhnya seperti
dinyatakan dalam gambar. Penyambungan batang baja, kecuali apabila
ditunjukkan lain pada gambar, tidak akan diizinkan tanpa persetujuan Direksi
Teknik. Setiap penyambungan demikian yang disetujui harus selang seling
sejauh mungkin dan ditempatkan pada titik tegangan tarik minimum.

6. Apabila sambungan bertindih (lapped splice) disetujui, panjang tindihan


harus 40 kali diameter dan batang-batang harus dilengkapi dengan kait.
7. Pengelasan batang baja tulangan tidak diizinkan kecuali terinci pada gambar
atau diizinkan secara tertulis oleh Direksi Teknik.
8. Kawat ikat harus kokoh dengan akhir puntiran menghadap ke dalam beton.
9. Tulangan anyaman baja harus ditempatkan dalam arah memanjang, sepanjang
yang dapat dilaksanakan, dengan penyambungan panjang bertindih selebar
satu anyaman penuh. Anyaman harus dipotong untuk memasang siku-siku
dan bukaan-bukaan dan harus dihentikan pada sambungan-sambungan antara
slab (lantai).
m. Pekerjaan Plesteran
Adonan semen harus digunakan sesuai dengan toleransi, batasan cuaca dan
penjadwalan pekerjaan yang tepat terhadap bagian-bagian yang pokok dari spesifikasi
ini.
Bahan-bahan :
a) Semen
Semen yang digunakan untuk adonan campuran semen harus sesuai dengan
persyaratan AASHTO M85 Type I. Semen Portland biasa akan dipakai kecuali
dinyatakan lain dalam daftar penawaran atau diperintahkan di lapangan oleh
Direksi Teknik.

b) Agregat Halus untuk Adonan


1. Agregat halus terdiri dari pasir alam bersih (kalau perlu dicuci sebelum
digunakan), bagian halus dari batu atau kerikil pecah, dan harus mematuhi
batas-batas gradasi pada Tabel 6.12.

Tabel 6.12. Persyaratan Gradasi Agregat Halus

UKURAN

PERSENTASI LOLOS ATAS

SARINGAN

BERAT

mm

UKURAN MAKSIMUM

CATATAN

NOMINAL
9.5 mm

4.75 mm

9.5

100

4.75

95-100

100

2.36

95-100

1.18

45-80

0.30

10-30

0.15

2-10

Maksimum 25

0.075

Maksimum 10

Gradasi yang lebih


kasar akan digunakan
untuk adonan pengisi
rongga
untuk

yang

besar

sambungan

lebih tebal dari 13


mm

2. Syarat-syarat kualitas untuk agregat halus diberikan pada Tabel 6.13. Direksi
Teknik akan menerapkan syarat-syarat ini sampai seluas yang diperlukan
untuk jenis khusus dan lokasi pekerjaan.

Tabel 6.13. Syarat-syarat Kualitas Agregat Halus

U RAIAN
Kekeruhan organis dalam pasir (test
sodium hydroxide)
Kekerasan agregat (test sodium
sulphate)
Persen gumpalan lempung partikel
serpih

TEST
AASHTO
T21

T104

T112

BATAS TEST
Melewati harga standar
warna (kuning gading)
Kehilangan tidak lebih
dari 10% atas berat
Maksimum 1% atas berat

c) Kapur Hidrasi
1. Kapur hidrasi harus diperoleh dari sumber pengadaan yang disetujui dan
mematuhi persyaratan standar konstruksi PBI N.1-7 (syarat-syarat untuk
kapur bahan bangunan).
2. Bila diminta demikian oleh Direksi Teknik, sebuah test kekuatan kapur
hidrasi dengan pasir (1:3) akan memberikan kekuatan hancur 15 kg/cm2
sesudah 7 hari.
d) Air
Air yang digunakan untuk pencampuran adonan semen, harus bersih dan bebas
dari benda organis atau kotoran-kotoran lain yang membahayakan campuran.

n. Campuran
a) Pencampuran
1. Agregat dan semen harus diukur dan dicampur kering dalam mixer
(pencampur) beton, atau dengan tangan di atas dasar yang cocok sampai
dihasilkan satu campuran yang warnanya merata. Kemudian ditambahkan air
yang cukup untuk satu campuran yang baik dan pencampuran berlanjut
selama 5 10 menit sampai didapatkan satu adonan dari kekentalan yang
diminta.

2. Adonan harus diproduksi dalam volume yang cukup untuk pemakaian segera
dan tambahan dapat diberikan (di dalam jangka waktu 30 menit dari waktu
pencampuran) bila diminta demikian untuk mempertahankan satu campuran
yang mudah ditangani. Akan tetapi adonan yang tidak digunakan di dalam 45
menit sesudah pencampuran harus dibuang.

b) Penempatan (Pemasangan)
1. Permukaan yang menerima adonan harus dibersihkan dari setiap bahan lepas,
lumpur atau benda-benda lain yang harus dibung dan kemudian dibasahi
dengan air sebelum adonan tersebut dipasang.
2. Bilamana digunakan sebagai permukaan jadi (selesai), adonan tersebut harus
dipasang di atas permukaan yang basah dan bersih dalam ketebalan yang
cukup untuk menyediakan satu lapisan permukaan setebal 1,5 cm dan harus
dikulir sampai satu permukaan yang halus dan rata.
o. Pengendalian Mutu
a) Test Laboratorium
Test laboratorium yang dapat diterima untuk agregat halus harus dilaksanakan
oleh Kontraktor sesuai dengan petunjuk Direksi Teknik untuk menentukan
gradasi dan kondisi mutu sebagaimana ditentukan di bawah spesifikasi ini.

b) Pengendalian Lapangan
Direksi Teknik dapat meminta Kontraktor untuk melaksanakan suatu test
pelaksanaan di lapangan yang dipandang perlu untuk menjamin dipatuhinya
spesifikasi ini.

Sekura, 13 April 2008


PT. Amerta Jaya Bersama

Lili Rasidi
Direktur