Anda di halaman 1dari 30

GAGAL JANTUNG AKUT

Diajukan Sebagai Salah Satu Tugas Dalam Menjalani Kepaniteraan Klinik Senior

pada Bagian / SMF Kardiologi dan Kedokteran Vaskular


Fakultas Kedokteran Unsyiah BPK RSUD dr. Zainoel Abidin BandaAceh

Disusun Oleh :
Denny Mukhtar
1407101030185
Pembimbing:
dr. Sri Murdiati, Sp.JP-FIHA (K)

BAGIAN/SMF KARDIOLOGI DAN KEDOKTERAN VASKULAR


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA
BPK RSUD Dr. ZAINOEL ABIDIN
BANDA ACEH
2016

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena berkat
rahmat, karunia dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas ini. Shalawat
dan salam kepada Rasulullah Muhammad SAW yang telah membimbing manusia ke
zaman beradab yang penuh dengan ilmu pengetahuan, berikut segenap keluarga,
sahabat, serta umatnya yang istiqamah menempuh syariatnya hingga akhir zaman.
Refrat dengan judul Gagal Jantung Akut ini disusun untuk menambah
bekal ilmu mengenai ilmu kesehatan anak selama proses pendidikan profesi dokter
dilaksanakan. Selain itu, refrat ini juga disusun sebagai syarat menyelesaikan
pendidikan profesi dokter di bagian Ilmu Kardiologi dan vascular.
Dengan sepenuh hati, penulis juga menyampaikan rasa terima kasih dan
penghargaan kepada dr. Sri Murdiati, Sp.JP-FIHA(K) yang telah bersedia
meluangkan waktunya untuk membimbing penulis sehingga dapat menyelesaikan
laporan kasus ini tepat pada waktunya.
Penulis berharap tulisan ini dapat bermanfaat bagi penulis sendiri dan juga
bagi pihak lain untuk menambah ilmu pengetahuan dibidang Kardiologi dan vascular.
Banda aceh, 17 Februari 2016

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
Hipertensi adalah kondisi paling umum terlihat pada perawatan primer dan
menyebabkan miokard infark, stroke, gagal ginjal, dan kematian jika tidak terdeteksi
dini dan diobati dengan tepat. Pasien ingin diyakinkan bahwa pengobatan tekanan
darah (TD)

akan mengurangi beban penyakit mereka, sementara dokter

menginginkan pedoman tentang manajemen hipertensi menggunakan bukti ilmiah


yang terbaik. 1
Pada tahun 2013, Joint National Committee telah mengeluarkan guideline
terbaru mengenai tatalaksana hipertensi atau tekanan darah tinggi, yaitu JNC 8.
Mengingat bahwa hipertensi merupakan suatu penyakit kronis yang memerlukan
terapi jangka panjang dengan banyak komplikasi yang mengancam nyawa seperti
infark miokard, stroke, gagal ginjal, hingga kematian jika tidak dideteksi dini dan
diterapi dengan tepat, dirasakan perlu untuk terus menggali strategi tatalaksana yang
efektif dan efisien. Dengan begitu, terapi yang dijalankan diharapkan dapat
memberikan dampak maksimal. Hipertensi tetap menjadi salah satu yang paling
penting dicegah kontributor penyakit dan kematian. Banyak bukti dari percobaan
terkontrol acak (RCT) telah menunjukkan manfaat pengobatan antihipertensi dalam
mengurangi penting hasil kesehatan pada orang dengan pedoman klinis hipertensi
adalah di persimpangan antara bukti penelitian dan klinis tindakan yang dapat
meningkatkan hasil pasien.2

BAB II
LAPORAN KASUS
2.1 Identitas Pasien
Nama

: Tn. AR

Umur

: 18 Tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Alamat

: Nagan Raya

Pekerjaan

: pelajar

Status Pernikahan

: Belum Menikah

HP/ Telp

: 082367150017

Nomor CM

: 1-07-02-69

Tanggal Masuk

: 14 November 2015

Tanggal Periksa

: 26 November 2015

2.2 Anamnesis
Keluhan Utama
: pusing

Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien dengan riwayat ca. colon dan akan
dilakukan operasi laparotomy terjadwal di RSUDZA dengan keluhan kepala
pusing yang dirasakan sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit. Keluhan pusing
tidak disertai dengan keluhan lain. Mual (-) muntah (-) mata berkunang-kunang
(-) nyeri dada (-) sesak nafas (-) dada berdebar-debar (-) Tidak ada yang dapat
mengurangi ataupun memperberat keluhan pasien.
Riwayat Penyakit Dahulu
: Pasien mengaku pernah terdiagnosis dengan
hipertensi pada 5 tahun yang lalu dengan tekanan darah saat itu 180 mmHg
Riwayat Penyakit Keluarga
: Riwayat hipertensi pada ayah pasien (+)
Riwayat Kebiasaan Sosial
: pasien gemar meminum kopi sejak SMP.
2.3 Pemeriksaan Fisik
a. Status Present

Keadaan Umum
Kesadaran
Tekanan Darah
Nadi
Frekuensi Nafas
Temperatur
b. Status General
Kulit
Warna
Turgor
Ikterus
Anemia
Sianosis
Kepala
Bentuk
Rambut
Mata

: Sedang
: Compos Mentis
: 170/100 mmHg
: 96 kali/menit, reguler
: 19 kali/menit
: 36.8C (aksila)
:
:
:
:
:

Sawo matang
Cepat kembali (kurang dari 3 detik)
(-)
(-)
(-)

: Kesan normocephali
: Tersebar rata, sukar dicabut, berwarna hitam
: Cekung (-), refleks cahaya (+/+), sklera ikterik (-/-),
konj. palpebra inf pucat (-/-)
: Sekret (-/-), perdarahan (-/-)
: Sekret (-/-), perdarahan (-/-)

Telinga
Hidung
Mulut
Bibir
: Pucat (-), sianosis (-)
Gigi Geligi
: Karies (-), gigi tanggal (-)
Lidah
: Beslag (-), tremor (-)
Mukosa
: Basah (+)
Tenggorokan
: Tonsil dalam batas normal
Faring
: Hiperemis (-)
Leher
Bentuk
: Kesan simetris
Kel. Getah Bening : Kesan simetris, pembesaran (-)
Peningkatan TVJ : (-), R-2 cmH2O
Axilla
Pembesaran KGB : (-)
Thorax
Thorax depan dan belakang
1. Inspeksi
Bentuk dan Gerak : Normochest, pergerakan simetris
Tipe Pernafasan : Abdominal thoracal
Retraksi

: (-)

2.

Palpasi
- Pergerakan dada simetris
- Nyeri tekan (-/-)
- Suara fremitus taktil kanan = suara fremitus taktil kiri
1. Perkusi
5

- Sonor (+/+)
- Redup (-/-)
2. Auskultasi
- Vesikuler (+/+)
- Ronkhi (-/-)
- Wheezing (-/-)
Jantung
Inspeksi

: Iktus kordis tidak terlihat

Palpasi

: Iktus kordis teraba di ICS V sekitar satu cm lateral linea axilaris


anterior sinistra

Perkusi

: Batas jantung atas

: di hemithorax sinistra ICS III

Batas jantung kanan

: di linea parasternalis dektra ICS V

Batas jantung kiri

: di ICS V sekitar satu cm lateral dari

linea axilaris anterior sinistra


Auskultasi

: BJ I > BJ II, regular, bising (-), gallop (-)

Abdomen
Inspeksi

: Simetris, Distensi (-)

Palpasi

: Nyeri tekan (-), undulasi (-), hepar dan lien tidak teraba

Perkusi

: Timpani (+), shifting dullness (-), undulasi (-)

Auskultasi

: Peristaltik usus kesan normal

Genetalia

: Tidak dilakukan pemeriksaan

Ekstremitas
Ekstremitas
Sianotik
Edema
Ikterik
Gerakan
Tonus otot
Sensibilitas
Atrofi otot
Akral dingin

Superior
Inferior
Kanan
Kiri
Kanan
Kiri
Aktif
Aktif
Aktif
Aktif
Normotonus Normotonus Normotonus Normotonus
N
N
N
N
-

2.4 Pemeriksaan Penunjang


2.4.1 Laboratorium
6

Jenis Pemeriksaan
Hematologi
Darah Rutin:
Hemoglobin
Hematokrit
Eritrosit
Leukosit
Trombosit
Hitung Jenis:
Eosinofil
Basofil
Netrofil Batang
Netrofil Segmen
Limfosit
Monosit
Kimia Klinik
Elektrolit:
Natrium
Kalium
Klorida
Diabetes:
Gula Darah Sewaktu
Ginjal Hipertensi:
Ureum
Kreatinin

Hasil

Nilai Rujukan

12,5
49
5,5
8,1
270

14,0 17,0 g/dL


45 55 %
4,7 6,1 . 106/mm3
4,5 10,5 . 103/mm3
150 450 . 103/mm3

4
0
0
67
21
8

06%
02%
26%
50 70 %
20 40 %
28%

142
3,9
104

135 145 mmol/L


3,5 4,5 mmol/L
90 110 mmol/L

114

<200 mg/dL

30
1,35

13 43 mg/dL
0,67 1,17 mg/dL

2.4.2 Elektrokardiografi

Interpretasi EKG 14 November 2015:


Irama : Sinus
Interval PR: 0,12 sec
Laju : 74 kali permenit
Kompleks QRS: 0,04s
Axis : Normoaxis
ST elevasi : tidak ditemukan
P wave: 0,04 sec
ST depreasi: tidak ditemukan
T inverted: tidak ditemukan
Q Patologis : tidak ditemukan
LVH/RVH: tidak ditemukan
Kesimpulan: Sinus rithm dengan HR 74 x/menit

Interpretasi EKG 26 November 2015:


Irama : Sinus, reguler
Interval PR: 0,12 sec
Laju : 104 kali permenit
Kompleks QRS: 0,08s
Axis : Normoaxis
ST elevasi : tidak ditemukan
P wave: 0,04 sec
ST depreasi: tidak ditemukan
T inverted: tidak ditemukan
Q Patologis : tidak ditemukan
LVH : (+)
Kesimpulan: Sinus Takikardi dengan HR 104 x/menit, left ventricular hypertrophy
2.4.3 Foto Thoraks

Foto Thoraks 19 November 2015


Cor : Bentuk dan ukuran normal
Pulmo : tak tampak kelainan
Sinus phrenicostalis kanan dan kiri tajam
Kesimpulan : foto thoraks normal

2.4.4 Echocardiography

Echocardiography 23 November 2015


Katup-katup : TR Trivial
Dimensi ruang-ruang jantung normal
Tidak terdapat trombus
Fungsi sistolik LV normal
Fungsi sistolik RV normal
Fungsi diastolik LV normal
Tidak terdapat LVH
PHT ringan (Est PASP 38,92 mmHg)

10

Kesimpulan : Normal Echo

2.5 Diagnosis
Hipertensi Stage II
2.6 Penatalaksanaan
Terapi selama perawatan
Lisinopril tablet 1 x 5 mg
Amlodipin tablet 1 x 10 mg
2.7 Prognosis
Quo ad Vitam

: Dubia ad bonam

Quo ad Functionam

: Dubia ad bonam

Quo ad Sanactionam : Dubia ad bonam

11

BAB III
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
3.1 Definisi Hipertensi Esensial
Tekanan darah adalah sebuah tekanan yang dialami darah pada pembuluh
arteri ketika darah dipompa oleh jantung keseluruh anggota tubuh. Berdasarkan
penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa tekanan darah merupakan tekanan pada
pembuluh darah arteri ketika darah dipompa jantung ke seluruh tubuh. Menurut
Nurarif & Kusuma (2013), hipertensi adalah meningkatnya tekanan darah arteri yang
persisten. Sementara 16 menurut American Society of Hypertension (ASH) dalam
Umar (2012), hipertensi adalah suatu sindrom atau kumpulan gejala yang berasal dari
jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler) yang progresif, sebagai akibat dari
kondisi lain yang kompleks dan saling berhubungan. Berdasarkan penjelasan diatas,
dapat disimpulkan bahwa hipertensi merupakan sebuah kondisi medis saat seseorang
mengalami peningkatan tekanan darah diatas normal.1
Hipertensi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama (Cappuccio
et al, 2004). Berdasarkan data dari Framingham Heart Study menunjukkan bahwa
seseorang yang normotensif pada usia 55 tahun akan memiliki 90 % resiko untuk
mengalami perkembangan menjadi hipertensi (JNC, 2003). Tekanan darah akan naik
umumnya seiring dengan pertambahan umur terutama setelah diatas umur 40 tahun
dengan prevalensi hipertensi pada usia diatas 40 tahun sebesar 20 % 30 %
dibandingkan dengan prevalensi hipertensi pada usia dibawah 40 tahun sebesar 10 %.
3.2 Etiologi Hipertensi
Menurut Udjianti (2011), berdasarkan penyebabnya hipertensi di bagi menjadi
2 golongan:
1. Hipertensi primer (esensial)
Merupakan 90% dari seluruh kasus hipertensi, yang didefinisikan sebagai
peningkatan darah yang tidak diketahui penyebabnya (idiopatik)

12

2. Hipertensi sekunder
Merupakan 10% dari seluruh kasus hipertensi, yang didefinisikan sebagai
peningkatan tekanan darah karena suatu kondisi fisik yang sebelumnya, seperti
penyakit atau gangguan tiroid. Adapun menurut Susiyanto (2013). Beberapa hal yang
bisa menyebabkan seseorang memiliki tekanan darah tinggi/hipertensi, yaitu:
keturunan, obesitas, garam, kolesterol, stress, rokok, kafein, alcohol, kurang olahraga
dan usia, untuk usia penelitian menunjukan bahwa seiring usia seseorang bertambah
tekanan darah pun akan meningkat, misalnya pada lansia. Pada lansia cendrung
terjadi perubahan fisik, yaitu pada sistim kardiovaskular lansia, katup jantung
menebal dan kaku, kemampuan memompa darah menurun, elastisitas pembuluh
darah menurun, serta meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer sehingga
menyebabkan tekanan darah akan meningkat pada lansia Maryam, dkk (2012)
Sementara dilihat dari jenis kelamin Widiyani (2014) menjelaskan dalam penelitian
yang dipublikasikan dalam Therapeutik Advances in Cardiovascular Disease, yang
menemukan ancaman hipertensi lebih besar mengintai perempuan dibanding laki- 18
laki dan penyakit pembuluh darah 30-40% lebih banyak ditemukan pada perempuan
dari pada laki-laki, karena ada perbedaan fisiologis signifikan antara system
kardiovaskuler perempuan dan laki-laki, termasuk banyak hormon yang berperan
dalam pengaturan tekanan darah, hormon ini yang kemudian berperan dalam tingkat
keparahan dan frekuensi penyakit jantung.3
3.3 Jenis-Jenis Hipertensi
Hipertensi secara umum dapat dikategorikan sebagai :

Hipertensi Ringan : bila tekanan sistolik antara 90- 110 mmHg


Hipertensi Sedang : bila tekanan diastolic antara 110 -130 mmHg
Hipertensi Berat : bila tekanan diastolic diatas 130 mmHg

13

Hipertensi esensial dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu :

Hipertensi esensial Jinak : tekanan darah sekita 140/90 mmHg s/d 160/100

mmHg
Hipertensi esensial ganas : tekanan darah sistolik mencapai 200 mmHg atau
lebih

3.4 Manifestasi Klinis Hipertensi Esensial


Menurur Nurarif & Kusuma (2013) tanda dan gejala pada hipertensi
dibedakan menjadi: 1) Tidak ada gejala Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat
dihubungkan dengan peningkatan tekanan darah. 2) Gejala yang lazim. Gejala
terlazim yang menyertai hipertensi meliputi nyeri kepala dan kelelahan. Dalam
kenyataanya ini merupakan gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang
mencari pertolongan medis. Sementara Susiyanto (2013) menjelaskan gejala ringan
hipertensi yaitu: 1) Pusing atau sakit kepala 2) Sering gelisah 3) Sukar tidur 4) Mudah
marah 5) Wajah merah 6) Tengkuk terasa pegal dan terasa berat 7) Sesak napas 8)
Telinga berdengung 9) Mudah lelah, mimisan dan mata berkunang-kunang.

14

3.5 Patofisiologi Hipertensi

15

Pertanyaan yang mengarahkan review bukti Guideline hipertensi berbasis


bukti ini fokus pada 3 pertanyaan dengan peringkat tertinggi dalam panel yang
berhubungan dengan manajemen tekanan darah tinggi, diidentifikasi melalui teknik
Delphi modifikasi. Sembilan rekomendasi dibuat dengan merefleksikan pertanyaan
ini. Pertanyaan ini mengarah pada ambang batas (thresholds) dan target dari terapi
farmakologi hipertensi dan apakah obat anti-hipertensi atau golongan obat particular
memberikan kemajuan yang penting dalam hasil kesehatan dibandingkan dengan
golongan obat yang lainnya.
1. Pada orang dewasa dengan hipertensi, apakah inisiasi terapi farmakologis antihipertensi pada ambang batas tekanan darah spesifik meningkatkan taraf kesehatan?
2. Pada orang dewasa dengan hipertensi, apakah terapi farmakologis dengan antihipertensi menuju target tekanan darah spesifik mengarah pada peningkatan taraf
kesehatan?
3. Pada orang dewasa dengan hipertensi, apakah berbagai variasi obat anti- hipertensi
atau golongan obat dibandingkan keuntungan dan kerugiannya pada taraf kesehatan
spesifik?
Review bukti fokus pada orang dewasa berusia 18 tahun atau lebih dengan
hipertensi dan termasuk penelitian dengan subgrup prespesifik: diabetes, penyakit
arteri koroner, penyakit arteri perifer, gagal jantung, riwayat stroke sebelumnya,
penyakit ginjal kronik, proteinuria, usia lanjut, laki-laki dan perempuan, ras dan grup
etnik, serta perokok. Studi dimasukkan ke dalam review bukti hanya jika mereka
melaporkan efek intervensi studi tersebut pada salah satu dari hasil
kesehatan yang penting:
Mortalitas secara menyeluruh, penyakit kardiovaskular (CVD)-mortalitas yang
berhubungan dengan CVD, penyakit ginjal kronik (CKD)-mortalitas yang
berhubungan dengan CKD.
Infark miokard, gagal jantung, hospitalisasi untuk gagal jantung, stroke.
Coronary revascularization (termasuk coronary artery bypass surgery, coronary
angioplasty dan coronary stent placement), revaskularisasi lain (termasuk carotid,
renal, dan lower extremity revascularization).

16

Derajat akhir penyakit ginjal (misalnya gagal ginjal yang menyebabkan dialisis atau
transplantasi), doubling of creatinine level, halving of glomerular filtration rate
(GFR) Dari review bukti ini panel mengadakan pernyataan bukti dan divoting dengan
setuju atau tidak setuju pada setiap pernyataan. Setelah semua pernyataan bukti untuk
setiap pertanyaan kritis diidentifikasi, panel akan mereview pernyataan bukti untuk
membuat rekomendasi klinis, voting dari setiap rekomendasi dan kekuatan dari
rekomendasi tersebut. Untuk setiap pernyataan bukti dan rekomendasi, catatan jumlah
voting (for, against, refusal) dibuat tanpa atribut. Panel ingin mencapai 100%
konsensus jika memungkinkan, tapi mayoritas kedua- ketiga dapat dipertimbangkan
untuk diterima dengan pengecualian rekomendasi berdasarkan pendapat ahli, yang
membutuhkan mayoritas yang setuju sebanyak 75% agar dapat diterima.

Masing-masing dari 4 kelas obat yang direkomendasikan oleh panel dalam


rekomendasi yang dihasilkan sebanding berpengaruh pada kematian secara
keseluruhan dan kardiovaskular, serebrovaskular, dan ginjal hasil, dengan satu
pengecualian: gagal jantung. Pengobatan awal dengan diuretic jenis thiazid lebih
efektif daripada CCB atau ACEI (pertanyaan 3, bukti Laporan 14 dan 15), dan ACEI
lebih efektif daripada CCB sebuah (Pertanyaan 3, pernyataan bukti 1) dalam
meningkatkan hasil gagal jantung. Sementara panel mengakui bahwa gagal jantung
adalah temuan penting yang harus dipertimbangkan ketika memilih obat untuk terapi
awal untuk hipertensi, panel tidak menyimpulkan bahwa itu cukup menarik dalam
konteks tubuh secara keseluruhan bukti untuk menghalangi golongan obat yang

17

digunakan untuk terapi awal. Panel juga mengakui bahwa bukti didukung kendali
TD, bukan agen khusus yang digunakan untuk mencapai kontrol sebagai
pertimbangan

yang

relevan

sangat

untuk

rekomendasi

ini.

Panel

tidak

merekomendasikan -blocker untuk pengobatan awal hipertensi karena dalam satu


penggunaan studi -blocker mengakibatkan di tingkat yang lebih tinggi dari hasil
komposit utama kematian kardiovaskular, infark miokard, atau stroke dibandingkan
dengan penggunaan ARB, sebuah temuan yang didorong oleh peningkatan pada
stroke (pertanyan3, pernyataan bukti 22). Dalam penelitian lain diseimbangkan a blocker untuk 4 kelas yang direkomendasikan, -blocker dilakukan sama dengan obat
lain (pertanyaan 3, pernyataan bukti 8) atau bukti yang cukup untuk membuat tekad
(Pertanyaan 3, pernyataan bukti 7, 12, 21, 23, dan 24). -blocker tidak dianjurkan
sebagai terapi lini pertama karena dalam pengobatan awal satu studi dengan blocker mengakibatkan serebrovaskular buruk, gagal jantung, dan kardiovaskular
gabungan hasil dari pengobatan awal dengan diuretik (pertanyaan 3, bukti Pernyataan
13)
Poin penting berikut harus diperhatikan. Pertama, banyak orang akan
memerlukan pengobatan dengan lebih dari satu antihipertensi obat untuk mencapai
kontrol BP. Sementara rekomendasi ini berlaku hanya untuk pilihan obat
antihipertensi awal, panel menunjukkan bahwa anyof ini 4 kelas akan menjadi pilihan
yang baik sebagai add-on agen (rekomendasi 9). Kedua, rekomendasi ini adalah
spesifik untuk thiazide-jenis diuretik, yang meliputi diuretik thiazide, chlorthalidone,
dan indapamide; tidak termasuk lingkaran atau potasium diuretik hemat. Ketiga,
adalah penting bahwa obat menjadi dosis memadai untuk mencapai hasil yang sama
dengan yang terlihat di theRCTs (Tabel 4). Keempat, RCT yang terbatas non
hipertensi tertentu populasi, seperti yang dengan penyakit arteri koroner atau jantung
kegagalan, tidak ditinjau untuk rekomendasi ini. Oleh karena itu, rekomendasi 6
harus diterapkan dengan hati-hati untuk populasi ini. Rekomendasi untuk orang-orang
dengan CKD dibahas dalam rekomendasi 8.

18

19

Upaya harus dilakukan untuk meminimalkan faktor risiko hipertensi: obesitas,


aktivitas fisik, sedang sampai tinggi asupan alkohol, asupan natrium tinggi, dan
asupan lemak jenuh yang tinggi.

Secara umum, JNC 8 ini memberikan 9 rekomendasi terbaru terkait dengan


target tekanan darah dan golongan obat hipertensi yang direkomendasikan. Kekuatan
rekomendasi sesuai dengan tabel berikut :

20

Grade A/Rekomendasi A Strong recommendation. Terdapat tingkat keyakinan yang


tinggi berbasis bukti bahwa hal yang direkomendasikan tersebut memberikan manfaat
atau keuntungan yang substansial.
Grade B/Rekomendasi B Moderate recommendation. Terdapat keyakinan tingkat
mengenah berbasis bukti bahwa rekomendasi yang diberikan dapat memberikan
manfaat secara moderate.
Grade C/Rekomendasi C Weak recommendation. Terdapat setidaknya keyakinan
tingkat moderate berbasis bukti bahwa hal yang direkomendasikan memberikan
manfaat meskipun hanya sedikit.
Grade D/Rekomendasi D Recommendation against. Terdapat setidaknya keyakinan
tingkat moderate bahwa tidak ada manfaat atau bahkan terdapat risiko atau bahaya
yang lebih tinggi
dibandingkan manfaat yang bisa didapat.
Grade E/Rekomendasi E Expert opinion. Bukti-bukti belum dianggap cukup atau
masih belum jelas atau terdapat konflik (misal karena berbagai perbedaan hasil),
tetapi direkomendasikan oleh komite karena dirasakan penting untuk dimasukan
dalam guideline.
Grade N/Rekomendasi N no recommendation for or against. Tidak ada manfaat
yang jelas terbukti. Keseimbangan antara manfaat dan bahaya tidak dapat ditentukan
karena tidak ada bukti-bukti yang jelas tersebut.2
a.

Rekomendasi 1
Rekomendasi pertama yang dipublikasikan melalui JNC 8 ini terkait dengan

target tekanan darah pada populasi umum usia 60 tahun atau lebih. Berbeda dengan
sebelumnya, target tekanan darah pada populasi tersebut lebih tinggi yaitu tekanan
darah sistolik kurang dari 150 mmHg serta tekanan darah diastolik kurang dari 90
mmHg.

Rekomendasi A menjadi label dari rekomendasi nomor 1 ini. Apabila

ternyata pasien sudah mencapai tekanan darah yang lebih rendah, seperti misalnya
tekanan darah sistolik <140 mmHg (mengikuti JNC 7), selama tidak ada efek
samping pada kesehatan pasien atau kualitas hidup , terapi tidak perlu diubah.

21

Rekomendasi ini didasarkan bahwa pada beberapa RCT didapatkan American


Diabetes Association pada Januari 2015 telah mengeluarkan pedoman pelayanan
diabetes mellitus yang terbaru. bahwa dengan melakukan terapi dengan tekanan darah
sistolik <150/90 mmHg sudah terjadi penurunan kejadian stroke, gagal jantung, dan
penyakit jantung koroner. Ditambah dengan penemuan bahwa dengan menerapkan
target tekanan darah <140 mmHg pada usia tersebut tidak didapatkan manfaat
tambahan dibandingkan dengan kelompok dengan target tekanan darah sistolik yang
lebih tinggi. Namun, terdapat beberapa anggota komite JNC yang tepat menyarankan
untuk menggunakan target JNC 7 (<140 mmHg) berdasarkan expert opinion terutama
pada pasien dengan faktor risiko multipel, pasien dengan penyakit kardiovaskular
termasuk stroke serta orang kulit hitam.2
b. Rekomendasi 2
Rekomendasi kedua dari JNC 8 adalah pada populasi umum yang lebih muda
dari 60 tahun, terapi farmakologi dimulai untuk menurunkan tekanan darah diastolik
<90 mmHg. Secara umum, target tekanan darah diastolic pada populasi ini tidak
berbeda dengan populasi yang lebih tua. Untuk golongan usia 30-59 tahun, terdapat
rekomendasi A, sementara untuk usia 18-29 tahun, terdapat expert opinion. Terdapat
bukti-bukti yang dianggap berkualitas dan kuat dari 5
percobaan tentang tekanan darah diastolic yang dilakukan oleh HDFP, HypertensionStroke Cooperative, MRC, ANBP, dan VA Cooperative. Dengan tekanan darah <90
mmHg, didapatkan penurunan kejadian serebrovaskular, gagal jantung, serta angka
kematian secara umum. Juga, didapatkan bukti bahwa menatalaksana dengan target
80 mmHg atau lebih rendah tidak memberikan manfaat yang lebih dibandingkan
target 90 mmHg. Pada populasi lebih muda dari 30 tahun, belum ada RCT yang
memadai. Namun, disimpulkan bahwa target untuk populasi tersebut mestinya sama
dengan usia 30-59 tahun.2
c.

Rekomendasi 3.
Rekomendasi ketiga dari JNC adalah pada populasi umum yang lebih muda

dari 60 tahun, terapi farmakologi dimulai untuk menurunkan tekanan darah sistolik
<140 mmHg. Rekomendasi ini berdasarkan pada expert opinion. RCT terbaru
mengenai populasi ini serta target tekanan darahnya dianggap masih kurang
22

memadai. Oleh karena itu, panelist tetap merekomendasikan standar yang sudah
dipakai sebelumnya pada JNC 7. Selain itu, tidak ada alasan yang dirasakan membuat
standar tersebut perlu diganti. Alasan berikutnya terkait dengan penelitian tentang
tekanan darah diastolic yang digunakan pada rekomendasi 2 yang mana didapatkan
bahwa pasien yang mendapatkan tekanan darah kurang dari 90 mmHg juga
mengalami penurunan tekanan darah sistolik kurang dari 140 mmHg. Sulit untuk
menentukan bahwa benefit yang terjadi pada penelitian tersebut disebabkan oleh
penurunan tekanan darah sistolik, diastolic atau keduanya. Tentunya dengan
mengkombinasikan rekomendasi 2 dan 3, manfaat yang didapatkan seperti pada
penelitian tersebut juga diharapkan mampu dicapai.2
d.
Rekomendasi 4.
Rekomendasi 4 dikhususkan untuk populasi penderita tekanan darah tinggi
dengan chronic kidney disease (CKD). Populasi usia 18 tahun atau lebih dengan CKD
perlu diinisiasi terapi hipertensi untuk mendapatkan target tekanan darah sistolik
kurang dari 140 mmHg serta diastolik kurang dari 90 mmHg. Rekomendasi ini
merupakan expert opinion. RCT yang digunakan untuk mendukung rekomendasi ini
melibatkan populasi usia kurang dari 70 tahun dengan eGFR atau measured GFR
kurang dari 60 mL/min/1.73 m2 dan pada orang dengan albuminuria (lebih dari 30
mg albumin/g kreatinin) pada berbagai level GFR maupun usia. Perlu diperhatikan
bahwa setelah kita mengetahui data usia pasien, pada pasien lebih dari 60 tahun kita
perlu menentukan status fungsi ginjal. Jika tidak ada CKD, target tekanan darah
sistolik yang digunakan adalah 150/90 mmHg sementara jika ada CKD, targetnya
lebih rendah, yaitu 140/90 mmHg.2
e.
Rekomendasi 5
Pada pasien usia 18 tahun atau lebih dengan diabetes, inisiasi terapi dimulai
untuk menurunkan tekanan darah sistolik kurang dari 140 mmHg dan diastolic
kurang dari 90 mmHg. Rekomendasi ini merupakan expert opinion. Target tekanan
darah ini lebih tinggi dari guideline sebelumnya, yaitu tekanan darah sistolik <130
mmHg serta diastolic <85 mmHg.2Pada populasi usia 18 tahun atau lebih dengan
diabetes, inisiasi terapi farmakologi untuk menurunkan tekanan darah pada tekanan
darah sistolik 140 mmHg atau lebih atau tekanan darah diastolik 90 mmHg atau lebih,

23

dan target terapi tekanan darah sistolik <140 mmHg dan tekanan darah diastolik <90
mmHg (Pendapat ahli-Grade E).
Rekomendasi 5 berdasarkan pada pernyataan bukti 18-21 dari pertanyaan 2,
yang memperlihatkan target tekanan darah pada orang dewasa dengan diabetes dan
hipertensi. Terdapat kualitas bukti sedang dari 3 trial (SHEP, Syst-Eur, UKPDS)
bahwa terapi pada target tekanan darah sistolik lebih rendah dari150 mmHg
meningkatkan hasil kesehatan kardiovaskular dan cerebrovaskular serta menurunkan
mortalitas (pertanyaan 2, pernyataan bukti 18) pada orang dewasa dengan diabetes
dan hipertensi).
f.

Rekomendasi 6
Pada populasi umum non kulit hitam (negro), termasuk pasien dengan

diabetes, terapi antihipertensi inisial sebaiknya menyertakan diuretic thiazid, Calcium


channel blocker (CCB), Angiotensin-converting Enzyme Inhibitor (ACEI) atau
Angiotensin Receptor Blocker (ARB). Rekomendasi ini merupakan rekomendasi B.
Masing-masing kelas obat tersebut direkomendasikan karena memberikan efek yang
dapat dibandingkan terkait angka kematian secara umum, fungsi kardiovaskular,
serebrovaskular dan outcome ginjal, kecuali gagal jantung.
Terapi inisiasi dengan diuretic thiazid lebih efektif dibandingkan CCB atau
ACEI, dan ACEI lebih efektif dibandingkan CCB dalam meningkatkan outcome pada
gagal jantung. Jadi pada kasus selain gagal jantung kita dapat memilih salah satu dari
golongan obat tersebut, tetapi pada gagal jantung sebaiknya thiazid yang dipilih. Beta
blocker tidak direkomendasikan untuk terapi inisial hipertensi karena penggunaan
beta blocker memberikan kejadian yang lebih tinggi pada kematian akibat penyakit
kardiovaskular, infark miokard, atau stroke dibandingkan dengan ARB. Sementara
itu, alpha blocker tidak direkomendasikan karena justru golongan obat tersebut
memberikan kejadian cerebrovaskular, gagal jantung dan outcome kardiovaskular
yang lebih jelek dibandingkan dengan penggunaan diuretic sebagai terapi inisiasi.2
g.

Rekomendasi 7

24

Pada populasi kulit hitam, termasuk mereka dengan diabetes, terapi inisial
hipertensi sebaiknya menggunakan diuretic tipe thiazide atau CCB. Pada populasi ini,
ARB dan ACEI tidak
direkomendasikan. Rekomendasi untuk populasi kulit hitam adalah rekomendasi B
sedangkan populasi kulit hitam dengan diabetes adalah rekomendasi C. Pada studi
yang digunakan, didapatkan bahwa penggunaan diuretic thiazide memberikan
perbaikan yang lebih tinggi pada kejadian cerebrovaskular, gagal jantung dan
outcome kardiovaskular yang dikombinasi dibandingkan ACEI. Sementara itu, meski
CCB lebih kurang dibandingkan diuretic dalam mencegah gagal jantung, tetapi
outcome lain tidak terlalu berbeda dibandingkan dengan diuretik thiazide. CCB juga
lebih direkomendasikan dibandingkan ACEI karena ternyata didapatkan hasil bahwa
pada pasien kulit hitam memiliki 51% kejadian lebih tinggi mengalami stroke pada
penggunaan ACEI sebagai terapi inisial dibandingkan dengan penggunaan CCB.
Selain itu, pada populasi kulit hitam, ACEI juga memberikan efek penurunan tekanan
darah yang kurang efektif dibandingkan CCB. 2
h.

Rekomendasi 8
Pada populasi berusia 18 tahun atau lebih dengan CKD dan hipertensi, ACEI

atau ARB sebaiknya digunakan dalam terapi inisial atau terapi tambahan untuk
meningkatkan outcome pada ginjal. Hal ini berlaku pada semua pasien CKD dalam
semua ras maupun status diabetes. Pasien CKD, dengan atau tanpa proteinuria
mendapatkan outcome ginjal yang lebih baik dengan penggunaan ACEI atau ARB.
Sementara itu, pada pasien kulit hitam dengan CKD, terutama yang mengalami
proteinuria, ACEI atau ARB tetap direkomendasikan karena adanya kemungkinan
untuk progresif menjadi ESRD (end stage renal disease). Sementara jika tidak ada
proteinuria, pilihan terapi inisial masih belum jelas antara thiazide, ARB, ACEI atau
CCB. Jadi, bisa dipilih salah satunya. Jika ACEI atau ARB tidak digunakan dalam
terapi inisial, obat tersebut juga bias digunakan sebagai terapi tambahan atau terapi
kombinasi. Penggunaan ACEI dan ARB secara umum dapat meningkatkan kadar
kreatinin serum dan mungkin menghasilkan efek metabolic seperti hiperkalemia,
terutama pada mereka dengan fungsi ginjal yang sudah menurun. Peningkatan kadar

25

kreatinin dan potassium tidak selalu membutuhkan penyesuaian terapi. Namun, kita
perlu memantau kadar elektrolit dan kreatinin yang mana pada beberapa kasus perlu
mendapatkan penurunan dosis atau penghentian obat.2
i.
Rekomendasi 9.
Rekomendasi 9 ini termasuk dalam rekomendasi E atau expert opinion.
Rekomendasi 9 dari JNC 8 mengarahkan kita untuk melakukan penyesuaian apabila
terapi inisial yang diberikan belum memberikan target tekanan darah yang
diharapkan. Jangka waktu yang menjadi patokan awal adalah satu bulan, Jika dalam
satu bulan target tekanan darah belum tercapai, kita dapat memilih antara
meningkatkan dosis obat pertama atau menambahkan obat lain sebagai terapi
kombinasi. Obat yang digunakan sesuai dengan rekomendasi yaitu thiazide, ACEI,
ARB atau CCB. Namun, ARB dan ACEI sebaiknya tidak dikombinasikan. Jika
dengan dua obat belum berhasil, kita dapat memberikan obat ketiga secara titrasi.
Pada masing-masing tahap kita perlu terus memantai perkembangan tekanan
darahnya serta bagaimana terapi dijalankan, termasuk kepatuhan pasien. Jika perlu
lebih dari tiga obat atau obat yang direkomendasikan tersebut tidak dapat diberikan,
kita bisa menggunakan antihipertensi golongan

26

3.6 Komplikasi Hipertensi Esensial


Komplikasi Hipertensi Komplikasi yang dapat ditimbulkan pada Hipertensi
menurut Susiyanto (2013) adalah 1) Bagian otak, akan menyebabkan stroke 2)
Bagian mata, menyebabkan retinopati hipertensi dan kebutaan 3) Bagian Jantung,
menyebabkan penyakit jantung koroner (termasuk infark kantung), dan gagal jantung
4) Bagian ginjal, menyebabkan penyakit ginjal kronik, gagal ginjal terminal.

27

3.7 Tatalaksana Hipertensi

28

BAB IV
KESIMPULAN

Hipertensi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama (Cappuccio


et al, 2004). Berdasarkan data dari Framingham Heart Study menunjukkan bahwa
seseorang yang normotensif pada usia 55 tahun akan memiliki 90 % resiko untuk
mengalami perkembangan menjadi hipertensi (JNC, 2003). Tekanan darah akan naik
umumnya seiring dengan pertambahan umur terutama setelah diatas umur 40 tahun
dengan prevalensi hipertensi pada usia diatas 40 tahun sebesar 20 % 30 %
dibandingkan dengan prevalensi hipertensi pada usia dibawah 40 tahun sebesar 10 %.
Menurur Nurarif & Kusuma (2013) tanda dan gejala pada hipertensi
dibedakan menjadi: 1) Tidak ada gejala Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat
dihubungkan dengan peningkatan tekanan darah. 2) Gejala yang lazim. Gejala
terlazim yang menyertai hipertensi meliputi nyeri kepala dan kelelahan. Dalam
kenyataanya ini merupakan gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang
mencari pertolongan medis. Sementara Susiyanto (2013) menjelaskan gejala ringan
hipertensi yaitu: 1) Pusing atau sakit kepala 2) Sering gelisah 3) Sukar tidur 4) Mudah
marah 5) Wajah merah 6) Tengkuk terasa pegal dan terasa berat 7) Sesak napas 8)
Telinga berdengung 9) Mudah lelah, mimisan dan mata berkunang-kunang.
Komplikasi Hipertensi Komplikasi yang dapat ditimbulkan pada Hipertensi
menurut Susiyanto (2013) adalah 1) Bagian otak, akan menyebabkan stroke 2)
Bagian mata, menyebabkan retinopati hipertensi dan kebutaan 3) Bagian Jantung,
menyebabkan penyakit jantung koroner (termasuk infark kantung), dan gagal jantung
4) Bagian ginjal, menyebabkan penyakit ginjal kronik, gagal ginjal terminal.

29

BAB V
DAFTAR PUSTAKA
1. James PA, Oparil S, Carter BL, Cushman WC, Dennison C, Handler J, dkk. 2014
Evidence-Based Guideline for The Management of High Blood Pressure in Adults:
Report from the Panel member Appointed to the Eight Joint National Committee
(JNC 8). JAMA; 18 Dec 2013;
2. National Institutes of Health. (2006). DASH eating plan. Maret 2, 2010.
http://www.nhlbi.nih.gov.
3. Page MR. The JNC 8 Hypertension Guidelines: An In-Depth Guide [published
online January 21, 2014]. The American Journal of Managed Care. 2014 [cited
2014 November 28]. Available from www.ajmc.com
4. Siregar TGM.2003. Hipertensi esensial. Dalam : Rilantono LI, Barass F, Karo S.
Buku Ajar Kardiologi. Jakarta. Balai Penerbit. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia.
5. JNC VII Classification and managenemnt of blood pressure for adult. www.
Medicalcriteria.com (diakses 28 november 2015)
6. The Seventh Report of The Joint National Committee On Prevention, Detection,
Evaluation and Treatment high Blood Presure.

30

Anda mungkin juga menyukai