Anda di halaman 1dari 20

FRAKTUR TIBIA

OLEH : UPHIK TRY


KURNIATI
(12-102)

DEFINISI
Fraktur atau patah tulang
adalah
terputusnya
kontinuitas
jaringan
tulang atau tulang rawan
yang
umumnya
disebabkan oleh trauma.

ETIOLOGI
Trauma
langsung
Trauma
tidak
langsung
Fraktur
patologis

benturan langsung pada


jaringan tulang
adanya beban yang
berlebihan pada jaringan
tulang atau otot
Karena kelainan pada
tulang

Patofisiologi
Setelah terjadi fraktur, pergeseran fragmen
tulang menyebabkan nyeri. Periosteum dan
pembuluh darah serta saraf dalam korteks,
marrow, dan jaringan lunak yang membungkus
tulang
rusak.
Perdarahan
terjadi
karena
kerusakan tersebut dan terbentuklah hematoma
di rongga medula tulang sehingga jaringan
mengalami nekrosis dan menstimulasi terjadinya
respon
inflamasi
yang
ditandai
denagn
vasodilatasi, eksudasi plasma dan leukosit, dan
infiltrasi sel darah putih. Perubahan jaringan
sekitar ini menyebabkan spasme otot sehingga
terjadi peningkatan tekanan kapiler yang
menstimulasi pelepasan histamin sehingga

LOKALISASI FRAKTUR
TIBIA
1.

Fraktur kondiler
tibia

2.

Fraktur diafisis
tibia

3.

Fraktur distal
tibia

KLASIFIKASI FRAKTUR
KONDILER TIBIA

KLASIFIKASI FRAKTUR
DIAFISIS TIBIA

KLASIFIKASI FRAKTUR DISTAL


TIBIA

DIAGNOSA

Anamnesis

Pada anamnesis, pasien datang


dengan
keluhan
mengalami
trauma
sebelumnya,
nyeri,
pembengkakan, deformitas serta
gangguan fungsi anggota gerak

DIAGNOSA
Pemeriksaan fisik

Syok,
anemia
perdarahan

Kerusakan organ lain

atau

DIAGNOSA
Pemeriksaan status lokalis
Tanda-tanda klinis pada fraktur tulang
panjang:
a. Look, cari apakah terdapat:
Deformitas, terdiri atas penonjolan
yang abnormal, angulasi, rotasi dan
pemendekan
Functio Laesa (hilangnya fungsi),
misalnya tidak dapat berjalan
Lihat juga ukuran panjang tulang,
bandingkan kiri dan kanan.

b. Feel
Temperatur setempat yang
meningkat
Warna kulit
Nyeri tekan
Krepitasi
Pemeriksaan vaskuler pada
daerah distal trauma berupa
palpasi a. Tibialis posterior ,
a. Dorsalis pedis sesuai
dengan anggota gerak yang
tekena

c. Move, untuk mencari:


Krepitasi, terasa bila fraktur
digerakkan.
Nyeri bila digerakkan, baik pada
gerakan aktif maupun pasif
Seberapa jauh gangguangangguan fungsi, gerakangerakan yang tidak mampu
dilakukan, dan kekuatan.

PEMERIKSAAN
PENUNJANG

Foto rontgen

CT scan

MRI

Arteriografi

PENATALAKSANAAN
AWAL
Primary survey

Airway

Breathing

Circulation

Disability

Exposure

PENATALAKSANAAN
NON OPERATIF
1. Reduksi
Reduksi adalah terapi fraktur dengan
cara mengantungkan kaki dengan
tarikan atau traksi.
2. Imobilisasi
Imobilisasi dengan menggunakan bidai.
Bidai dapat dirubah dengan gips, dalam
7-10 hari, atau dibiarkan selama 3-4
minggu.
3. Pemeriksaan dalam masa
penyembuhan
Dalam penyembuhan, pasien harus di
evaluasi dengan pemeriksaan rontgen
tiap 6 atau 8 minggu. Program
penyembuhan dengan latihan berjalan,
rehabilitasi ankle, memperkuat otot

PENANGANAN OPERATIF
1. Fiksasi eksternal
. Fiksasi eksternal standar
. Ring fixator
2. Fiksasi internal
. Intermedullary Nailing
. ORIF (open Reduction with internal
fixation)
. Plate and screw
3. Amputasi

Amputasi dilakukan pada fraktur yang


mengalami iskemia, putusnya nervus
tibia danpada crush injury dari tibia.

FIKSASI EKSTERNAL

Ring fixator

FIKSASI INTERNAL

KESIMPULAN
Fraktur tulang panjang yang paling
sering
terjadi
adalah
fraktur
pada
tibia.Pada fraktur tibia, dapat terjadi
fraktur pada bagian kondiler, diafisis dan
distal tibia. Fraktur pada tibia termasuk
luka
kompleks,
sehingga
tentunya
penanganannya juga tidak sederhana.
Sebagai dokter umum, anamnesis dan
pemeriksaan fisik yang lengkap diperlukan
jika terjadi fraktur. Selain itu, pemeriksaan
radiologis juga penting. Penatalaksanaan
dari fraktur tergantung dari kondisi