Anda di halaman 1dari 19

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sampai abad 21 islam merupakan suatu kekuatan politik yang patut
diperhitungkan di asia tenggara, ia merupakan agama kerajaan brunei
darussalam. Agama resmi federasi malaysia sebanyak 55% pemeluk dari
seluruh jumlah penduduk malaysia, di indonesia jumlah pemeluk agama
islam mencapai 90%, di myammar agama islam dipeluk oleh kelompok
minoritas kurang lebih sebanyak 3,9% dari jumlah penduduk myammar
secara keseluruhan, thailand sebanyak 4%, di philipina pemeluk islam
berjumlah 9%, sedangkan di singapura penduduk dengan beragama islam
berjumlah sebanyak 16% dari jumlah penduduk islam secara keseluruhan.
Republik Persatuan Myanmar (juga dikenal sebagai Birma, disebut Burma
di dunia Barat) adalah sebuah negara di Asia Tenggara. Negara seluas 680
ribu km ini telah diperintah oleh pemerintahan militer sejak kudeta tahun
1988. Negara ini adalah negara berkembang dan memiliki populasi lebih
dari 50 juta jiwa. Ibu kota negara ini sebelumnya terletak di Yangon
sebelum dipindahkan oleh pemerintahan junta militer ke Naypyidaw pada
tanggal 7 November 2005.
Myanmar yang dahulu dikenal dengan Burma secara geografis
terletak di ekor anak benua India, disebelah barat berbatasan dengan Laut
Andaman, sebelah utara dengan India, timur dengan China, dan selatan
dengan Thailand. Luas wilayahnya adalah 678.000 km, dengan jumlah
penduduk 45 juta.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah singkat tentang negara Myanmar?
2. Bagaimana sejarah masuknya Islam di Myanmar?
3. Bagaimana dinamika Islam di Myanmar?
4. Apa saja yang menjadi bukti adanya Islam di Myanmar?
BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah Singkat Myanmar


Myanmar adalah salah satu negara yang terletak di Asia Tenggara.
Sama seperti Indonesia, negara ini juga merupakan anggota Association of
Southeast Asian Nations (ASEAN). Bagian utara negara ini berbatasan
dengan China dan India. Di sebelah selatan, berbatasan dengan Teluk
Benggala dan Thailand. Sebelah timur berbatasan dengan wilayah China,
Laos, dan Thailand. Dan sebelah barat berbatasan dengan Teluk Benggala
dan wilayah Bangladesh.
Adapun wilayah Rakhine penjajah Inggris menyebut mereka
orang-orang Arakan- terletak di barat daya wilayah Myanmar, berbatasan
dengan Teluk Benggala dan wilayah Bangladesh.

Peta Wilayah Arakan


Kurang lebih, luas wilayah Myanmar adalah 261.000 mil 2. Dan
wilayah Rakhine 20.000 mil2. Wilayah ini dipisahkan oleh pagar alami
berupa pegunungan yang merupakan bagian dari pegunungan Himalaya.
Jumlah penduduk Myanmar ditaksir sekitar 50 juta orang. 15% dari
jumlah tersebut adalah muslim yang mayoritasnya adalah orang-orang
Arakan. 70% dari penduduk Arakan adalah muslim. Sisanya adalah orangorang Magh, orang-orang Arakan yang beragama Budha Theravada. Dan
kelompok-kelompok minoritas lainnya.
Myanmar merupakan wilayah yang terdiri dari banyak suku. Lebih
dari 140 suku menghuni wilayah bekas koloni Inggris tersebut. Suku

mayoritasnya adalah Bamar/Birma. Suku ini adalah suku kasta pertama


dan memegang pemerintahan. Oleh karena itu, dulu nama wilayah ini
adalah Burma kemudian berganti Mynamar. Kasta kedua adalah suku
Syan, Kachin, Chin, Kayah, Magh, dan umat Islam dari suku Rohingya.
Jumlah kasta kedua ini kurang lebih 5 juta jiwa.
Negara Myanmar sejak Juni 1989, secara resmi menukar nama
negara dari Burma menjadi Myanmar. Islam sampai ke Myanmar melalui
para pedagang arab Muslim yang menetap di garis pantai selama abad
pertama hijrah (ke-7 M) atau sesudahnya, pertama di atas pantai Arakan,
dan kemudian ke selatan. Lebih belakangan, para pedagang India dan
Malaysia telah efektif dalam menyebarkan Islam. Akhirnya, para
pengungsi dari Yunan di abad sembilan belas menetap di bagian utara
negeri itu.
Suatu negara Muslim didirikan di Arakan ketika Sultan Bengal
yang Muslim Naseer-ud-Deen Mahmud Shah membantu Raja Sulayman
Naramithla membangun negara Mrauku yang Muslim. Pemerintah Muslim
berlangsung beberapa abad di Arakan dan meluas ke selatan sejauh
Moulmein selama pemerintahan Sultan Salim Shah Razagri (15931612M). Bahasa Persia merupakan bahasa negara bagi negara Muslim
Arakan. Ibukotanya Myohaung. Pada 1784 Burma yang pengikut Budha
menaklukan negara muslim, dikuti antara 1824 dan 1826 oleh Inggris.
Ketika Burma merdeka 1948, Arakan dimasukan didalamnya.
Daerah Arakan luas seluruhnya 36.762 Km, dengan jumlah
penduduk pada 1969 sebesar 1.847 orang. penduduk ini terbagi ke dalam
dua komunitas keagamaan : Muslim (disebut Rohingya) dan Buddhis
(disebut mogh).
Muslim di Myanmar pada Tahun 1990 tercatat mencapai 654,000
(1.6%) kemudian di tahun 2010 diadakan survei muslim di Myanmar dan
tercatat pada tahun itu mencapai 1,900,000 (3.8%), Muslim di Myanmar
berkembang menjadi 1,246,000 selama kurun waktu 20 tahun,

kemungkinan besar di prediksikan pada tahun 2030 muslim di Myanmar


akan bertambah mencapai 2,233,000 (3.8%).
Mayoritas terbesar adalah pengikut Sunni, tetapi mereka terbagi ke
dalam tiga komunitas Muslim yang berbeda-beda. Pertama, Muslim
Burma atau Zerbadee, merupakan komunitas yang paling lama berdiri dan
berakar di wilayah Shwebo. Diperkirakan mereka merupakan keturunan
dari para mubalig yang datang dari timur tengah dan Asia selatan serta
penduduk muslim awal yang kemudian beranak pinak dengan masyarakat
Burma. Kedua Muslim India, Imigran Keturunan India, merupakan
komunitas muslim yang terbentuk seiring kolonisasi Burma oleh Inggris.
Ketiga, Muslim Rohingya (Rakhine) bermukim di negara bagian Arakan
atau Rahkine, yang berbatasan dengan Bangladesh.
B. Sejarah Masuknya Islam di Myanmar
Myanmar yang dulu dikenal dengan Burma adalah negara yang
mayoritas penduduknya beragama Budhha (lebih dari 85%), minoritas
Kristen (kurang dari 4,5 %), Hindu (1,5%) yang sebagian besar tinggal
diluar Bandar. Sementara umat Islam berjumlah sekitar 4 % dari jumlah
penduduk diseluruh Myanmar. Populasi muslim terbesar adalah Rohingya
(sekitar 3,5 juta orang). Penduduk muslim sebagian besar tinggal di
Rakhine (dulu Arakan) yang berbatasan dengan Bangladesh.
Agama Islam pertama kali tiba di Myanmar pada tahun 1055.Para
saudagar Arab yang beragama Islam ini mendarat di delta Sungai
Ayeyarwady, Semenanjung Tanintharyi, dan Daerah Rakhin. Kedatangan
umat Islam ini dicatat oleh orang-orang Eropa, Cina dan Persia. Populasi
umat Islam yang ada di Myanmar saat ini terdiri dari keturunan Arab,
Persia, Turki, Moor, Pakistan dan Melayu.Selain itu, beberapa warga
Myanmar juga menganut agama Islam seperti dari etnis Rakhin dan Shan.
Populasi Islam di Myanmar sempat meningkat pada masa penjajahan
Britania Raya, dikarenakan banyaknya umat Muslim India yang
bermigrasi ke Myanmar.

Tapi, populasi umat Islam semakin menurun ketika perjanjian


India-Myanmar ditandatangani pada tahun 1941. Sebagian besar Muslim
di Myanmar bekerja sebagai penjelajah, pelaut, saudagar dan tentara.
Beberapa di antaranya juga bekerja sebagai penasehat politik Kerajaan
Burma. Muslim Persia menemukan Myanmar setelah menjelajahi daerah
selatan Cina. Koloni muslim Persia di Myanmar ini tercatat di buku
Chronicles of China di 860. Umat muslim asli Myanmar disebut Pathi dan
muslim Cina disebut Panthay.
Konon, nama Panthay berasal dari kata Parsi. Kemudian,
komunitas muslim bertambah di daerah Pegu, Tenasserim, dan Pathein.
Tapi komunitas muslim ini mulai berkurang seiring dengan bertambahnya
populasi asli Myanmar. Pada abad ke-19, daerah Pathein dikuasai oleh tiga
raja muslim India. Pada zaman Raja Bagan yaitu Narathihpate (12551286), pasukan muslim Tatar pimpinan Kublai Khan dan menguasai Nga
Saung Chan. Kemudian, pasukan Kublai Khan ini menyerang daerah
Kerajaan Bagan. Selama peperangan ini, Kolonel Nasrudin juga
menguasai daerah Bamau.
Sejarah awal mengenai Islamisasi di Burma, terdapat dua
daerah besar yang telah dapat dimasuki oleh orang-orang Arab, yakni
daerah pagan (Bagan) dan daerah Arakan, dalam beberapa tulisan
mengenai sejarah awal masuknya Islam ke Burma dapat melihat
dari kedua daerah ini, dimana Arakan yang berada di sepanjang
timur pesisir pantai Bengal dari sungai naaf, telah lebih awal dimasuki
oleh orang-orang Arab, faktor penyebabnya adalah ramainya arus
perdagangan yang menghubungkan antara Timur Tengah dan Asia
Tenggara.
Negeri Burma yang pada awalnya telah terbagi menjadi beberapa
kerajaan, hal ini menjadikan timbulnya beberapa versi mengenai
kedatangan Islam khususnya di dua daerah bagian Burma yakni, Pagan
(Bagan) dan Arakan, untuk mengetahui Islamisasi di Burma dalam
makalah ini akan membagi proses Islamisasi di kedua daerah tersebut.

1. Kedatangan Orang-Orang Arab di Arakan


Arakan, yang pada asal mulanya dinamakan Rohang, merupakan
sebuah bangsa yang berdiri sendiri sejak awal mula sejarah bangsa itu
dikenal. Arakan sejak dahulu telah banyak didapati para pedagang
Arab, Arakan merupakan tempat terkenal bagi para pelaut Arab, Moor,
Turki, Moghuls, Asia Tengah, dan Bengal yang datang sebagai
pedagang, prajurit, dan ulama. Mereka datang melalui jalur darat dan
laut. Pendatang tersebut banyak yang tinggal di Arakan dan bercampur
dengan penduduk setempat.
Muslim Arab datang pertama kali melewati daratan India dan Asia
Tenggara melalui jalur perdagangan pada abad ke-7. Pada waktu itu,
rempah-rempah, katun, batu mulia, barang tambang, dan komuditas
lainnya yang datang dari Selatan dan Asia Tenggara merupakan
barang-barang yang sangat dibutuhkan di daerah Timur Tengah dan
Eropa. Orang-orang Arab datang sebagai pedagang, dan hampir
menguasai perdagangan tersebut.
Mereka melahirkan pedagang-pedagang yang menyebarkan Islam
dan menjadi pelaut-pelaut hebat, pengetahuan mereka tentang
navigasi, ilmu garis lintang, dan garis bujur, fenomena astronomi, dan
geografi negara-negara telah membuat mereka tak tertandingi dalam
hal berdagang di Samudera Hindia selama beberapa abad. Orangorang Arab tersebut menulis tentang tempat-tempat yang mereka
datangi untuk membuktikan kedatangan mereka di dunia Timur dan
Barat.
Daerah Arakan secara geografis terpisah dengan sebagian besar
wilayah negara Myanmar yang menganut agama Buddha.Daerah
tersebut dipisahkan oleh Gunung Arakan. Luas provinsi itu sekitar 20
ribu mil persegi dan Akyab adalah ibu kota provinsinya. Pada 2002,
populasi wilayah Arakan mencapai 4 juta jiwa dan 70 persennya
adalah Muslim.
Nama Rohingya yang kemudian diasosiasikan sebagai umat
Muslim di Myanmar itu diambil dari nama kuno untuk daerah Arakan.

Islam dikenalkan ke daerah itu oleh pedagang dari Arab yang datang
pada abad pertama dalam kalender Hijriah. Kedatangan tersebut
kemudian diikuti oleh banyak pedagang Muslim yang lain. Pada 1406
M. Raja Naramakhbala yang merupakan penguasa Arakan, sedang
dalam kondisi sulit karena mendapat serangan dari Raja Burma. Untuk
bisa mengatasi situasi sulit itu, sang raja kemudian mengungsi dan
meminta bantuan kepada Sultan Nasiruddin dari Bengal.
Dalam prosesnya, setelah 24 tahun lamanya. Raja Naramkhbala
kemudian memeluk Islam. Namanya pun bergantimenjadi Suleiman
Shah. Lalu, dengan bantuan dari Bengal, Raja Arakan itu berhasil
merebut kembali kerajaannya dari Raja Burma. Tahun 1420 M adalah
era monumental. Karena pada saat itulah, Arakan dideklarasikan
sebagai sebuah negara Islam di bawah kepemimpinan Suleiman Shah.
Kekuasaannya bertahan hingga 350 tahun.Hingga pada 1784, negara
Arakan kembali dikuasai oleh Pasukan Buddha dari Burma.
Setelah daerah itu dikuasai Inggris pada 1824, populasi Muslim di
daerah menjadi semakin berkurang dan melemah. Kemudian, setelah
Myanmaratau Burma merdeka dari Inggris pada 1948, Pemerintah
Burma sempat menjanjikan Arakan akan menjadi daerah yang
diberikan otonomi khusus. Namun, setelah pemerintahan Burma
semakin kuat dan menjadi sebuah negara besar, janji otonomi itu tidak
pernah diberikan. Bahkan, hak asasi manusia Muslim Rohingya
dilanggar.

Keadaan

semakin

buruk

ketika

Junta

Militer

berkuasa.Upaya pembersihan terhadap umat Muslim atau kaum


Rohingya pun dilakukan.Mereka ingin mengganti populasi umat
Muslim di daerah itu dengan populasi umat Buddha.
2) Kedatangan Orang-orang Muslim di Pagan (Bagan)
Generasi awal Muslim yang datang ke delta Sungai Ayeyarwady
Burma, yang terletak di pantai Tanintharyi dan di Rakhine bermula
pada abad ke 9, sebelum pendirian imperium pertama Burma pada
tahun 1055 M oleh Raja Anawrahta dari Bagan. Keberadaan orang-

orang Islam dan da'wah Islam pertama ini didokumentasikan oleh para
petualang Arab, Persia, Eropa, dan Cina.
Orang-orang Islam Burma merupakan keturunan dari orang-orang
Islam yang menetap dan kemudian menikahi orang-orang dari etnis
Burma setempat. Orang-orang Islam yang tiba di Burma umumnya
sebagai pedagang yang kemudian menetap, anggota militer, tawanan
perang, pengungsi, dan korban perbudakan. Bagaimanapun juga, ada
diantara mereka yang mendapat posisi terhormat sebagai penasehat
raja, pegawai kerajaan, penguasa pelabuhan, kepala daerah dan
sebagainya.
Proses

islamisasi

memakan

waktu

yang

lama

untuk

mewujudkan suatu kekuasaan, mereka baru dapat mendirikan Negara


Islam Arakan pada abad ke-8 H/14 M. Proses penyebaran Muslim dari
pantai Arakan kemudian lanjut ke selatan dan masuknya Islam ke
Myanmar tidak hanya dibawa oleh para pedagang Arab, Muslim
Malaysia dan India juga mempunyai peranan yang penting dalam
penyebaran Muslim di Myanmar. Kemudian hukum keluarga Muslim
berlaku dan sekitar 5.000 Muslim pergi melaksanakan ibadah haji
setiap tahunnya. Di kota-kota besar, ada beberapa mesjid dan alQur'an diterjemahkan ke dalam bahasa Burma oleh suatu tim Muslim
yang benar-benar menguasai materi tentang itu.
Kekuasaan Islam di Arakan berjalan lebih kurang selama 350
tahun dengan 48 orang sultan yang memerintah silih berganti,
sehingga dijajah oleh Burma pada tahun 1784 dan penjajahan ini
berlanjut dengan diambil alih oleh inggris pada tahun 1822. Pada
tahun 1880-an orang-orang Islam di India berbondong-bondong hijrah
ke Myanmar, sehingga jumlah Muslim semakin meningkat di
Myanmar.
Pada tahun 1948 British memberikan kemerdekaan kepada
Myanmar, dengan demikian Arakan daerah kekuasaan Islam menjadi
daerah kekuasaan Myanmar. Hal ini membuat Muslim tidak senang,

karena mereka diperlakukan secara kejam oleh pemerintah bahkan


kewarganegaraan mereka dinafikan. Kondisi ini telah membuat
Muslim menuntut agar mereka diberi otonomi untuk menjalankan
pemerintahan sendiri.
C. Mengenal Komunitas Muslim Myanmar
Pada umumnya masyarakat muslim di Burma terbagi dalam berbagai
komunitas yang berbeda, dan masing-masing komunitas muslim ini
mempunyai hubungan yang berbeda-beda dengan mayoritas masyarakat
Budhha dan pemerintah. Mayoritas terbesar dari komunitas muslim yang ada
adalah pengikut Sunni, Komunitas muslim yang terdapat di Myanmar yaitu:
1)

Muslim Burma atau Zerbadee


Muslim Burma atau Zerbadee, merupakan komunitas yang paling
lama berdiri dan berakar di wilayah Shwebo. Diperkirakan mereka
merupakan keturunan dari para mubalig yang datang dari timur
tengah dan Asia selatan serta penduduk muslim awal yang kemudian
beranak pinak dengan masyarakat Burma.

2)

Muslim India, Imigran Keturunan India


Muslim India, Imigran Keturunan India, merupakan komunitas
muslim yang terbentuk seiring kolonisasi Burma oleh Inggris abad
ke-19. Pada 1886 sampai 1973. Burma dijadikan sebagai bagian dari
provinsi India oleh Inggris oleh karena itu banyak imigran dari India
ke Burma. Pemerintah Inggris sangat berperan atas datangnya
Muslim-muslim India ini. Mereka berdomisili di provinsi Arakan dan
Tenasserin. Penyebab Muslim India banyak berdatangan ke Burma
karena pemerintah Burma yang membutuhkan sumber daya manusia
dan penilaian subyektif Inggris tentang imigran India yang dinilai
lebih adaptif dan mandiri.

3)

Muslim Rohingya (Rakhine)

10

Muslim Rohingya (Rakhine)

adalah komunitas muslim yang

bermukim di Negara bagian Arakan atau Rakhine, yang berbatasan


dengan Bangladesh. Suku Rohingya adalah orang Islam dengan
budaya mereka yang jelas terlihat di daerah Arakan. Hal itu karena
mereka menurunkan agama mereka pada seluruh keturunan mereka
dari bangsa Arab, Moor, Pathan, Moghul, Asia Tengah, Bengal dan
beberapa bangsa Indo-Mongol. Percampuran dari suku, membuat
karakter fisik mereka terlihat lebih berbeda seperti tulang pipi yang
tidak begitu keras, mata mereka tidak begitu sipit (seperti orang
Rakhine Magh dan orang Burma). Hidung mereka tidak begitu pesek.
Mereka lebih tinggi dari orang Rakhine Magh tetapi kulit mereka
lebih gelap, beberapa dari mereka kulitnya kemerahan, tetapi tidak
terlalu kekuningan.
4)

Muslim Huihui (Panthay)


Muslim HuiHui atau Muslim Cina, adalah muslim cina yang datang
dan menetap di burma.

D. Dinamika Islam di Myanmar


Saat ini komunitas Muslim di Myanmar sangat teraniaya. Usaha
mereka telah dinasionalisasi, tanah mereka disita, sekolah mereka terkena
de-Islamisasi. Mereka dilarang melaksanakan ibadah haji dan hubungan
mereka dengan Dunia Muslim sangat dibatasi, bahkan mengamankan
naskah-naskah Al Quran menjadi masalah.
Pukulan terberat penganiayaan orang-orang Burma jatuh pada
Muslim Arakan. Usaha dari berbeda-beda pemerintah Burma terpusat pada
pengurangan mayoritas mereka. Di wilayah ini pengusiran besar terhadap
mereka dilaksanakan sejak 1942. Memang, sesudah keluarnya inggris pada
1942, gelombang kebencian terhadap Muslim membasahi wilayah Arakan
dengan darah.
Orang-orang muslim dibunuh secara massal dan dua ratus ribu lagi
harus melarikan diri ke pakistan timur (sekarang Bangladesh), pakistan
Barat dan bahkan Saudi Arabia, sedangkan sekitar delapan ribu Muslim
meninggal. Namun aktivitas yang paling kriminal yang dipimpin oleh

11

pemerintah dengan menggunakan tentaranya adalah apa yang disebut


Operasi Raja Dragon yang dimulai pada Februari 1978.
Pemerintah Rangoon memperkenalkan kartu identitas bangsa tetapi
menolak memberikan kepada Muslim Rohingya. Sebagai gantinya mereka
ditawari kartu pendaftaran orang asing, padahal kenyataan orang-orang
Rohingya telah menjadi warga negara Arakan selama lebih dari seribu
tahun.
Pada baru-baru ini terjadi lagi kerusuhan di Arakan adalah
serangkaian konflik yang sedang berlangsung antara Rohingya Muslim
dan etnis Rakhine di Myanmar. Penyebab langsung dari kerusuhan ini
tidak jelas, dengan banyak komentar mengutip pembunuhan sepuluh
Muslim Burma oleh etnis Rakhine setelah pemerkosaan dan pembunuhan
seorang wanita Rakhine sebagai penyebab utama konflik ini. Lebih dari
tiga ratus rumah dan sejumlah bangunan umum telah diratakan dengan
tanah. Menurut Tun Khin, Presiden Burma Rohingya Organisasi Inggris
(BROUK), 650 orang muslim Rohingya telah tewas, 1.200 hilang, dan
lebih dari 80.000 telah mengungsi.
Menurut pihak berwenang di Myanmar, pemerintahan juga
mengeluarkan data tetapi lebih sedikit dari data yang di keluarkan oleh
BROUK, karena pemerintah menutupi konflik yang terjadi ini. Data
pemerintah Myanmar : kekerasan yang terjadi antara umat Budha etnis
Rakhine dengan Muslim Rohingya, meninggalkan 78 orang tewas, 87
luka-luka, dan ribuan rumah hancur. Hal ini juga menyebabkan lebih dari
52.000 orang mengungsi.
Tantangan Muslim kedepan yang dihadapinnya dapat dilihat dari
konflik-konflik yang telah terjadi, yaitu diantaranya usaha untuk menuntut
mendapatkan otonomi dari pemerintah. Terfokus pada Muslim India di
Myanmar yang paling mendapatkan siksa dari orang Budha/pemerintahan
di Myanmar. Sehingga masalah perekonomian atau perdagangan Muslim
India yang mungkin masih dikuasai Pemerintah Myanmar dimasa yang
akan datang dapat diselesaikan.
Selain itu di bidang pendidikan, yaitu harapan akan adanya materi
pendidikan agama Islam di sekolah-sekolah negeri/pemerintahan/kerajaan.

12

Jadi dapat disimpulkan bahwa dengan adanya organisasi seperti RNLF,


KMNLF dan KNLA diharapkan mampu mengatasi problem Muslim masa
yang akan datang di Myanmar.
Kondisi saat ini di Burma secara kualitatif berbeda dari banyak
negara-negara lain di mana sensor yang ketat sedang berlaku. Hukum
Negara dan Ketertiban Restorasi Masyarakat (SLORC), yang menempel
kekuasaan,adalah

pemerintah

ilegal.

Meskipun

pemerintah

yang

berkelanjutan berupaya untuk memanipulasi pemilu pada bulan Mei 1990,


National League for Democracy (NLD) menang telak dari 392 kursi keluar
dari 425 yang tersedia. Pada September 1991, bagaimana pun, lebih dari
100 NLD anggota parlemen yang baik akan di penjara, diasingkan atau
menghilang.
Beginilah gambaran keadaan pemerintahan Myanmar pada saat itu
dimana pemerintahan tidaklah di jalankan dengan jujur dan penuh dengan
kepentingan, sehingga Aung San Suu Kyi pemimpin NLD, sebagai
pemenang utama pada saat itu tidak bisa menjeblos kursi pemerintahan.
Dan banyak lagi kaum minoritas lain dari berbagai etnis dan golongan
yang terpinggirkan dinegara itu. Salah satunya adalah masyarakat
Rohingya yang beragama Islam didaerah Arakan, disini kita akan
membahas tentang Islam Myanmar, khususnya Masyarakat Rohingnya,
dalam bidang yang kita batasi yaitu masalah politik dan keterkaitannya
dengan pendidikan di Negara Myanmar.
Sejak pemerintahan militer berkuasa di Myanmar melalui kudeta
Jendral Ne Win tahun 1962 M, umat Islam Arakan mengalami berbagai
bentuk kezaliman dan intimidasi. Dibunuh, diusir, diitekan hak-hak
mereka, dan tidak diakui hak-hak kewarga-negaraannya. Mereka
disamakan dengan orang-orang Bangladesh dalam hal agama, bahasa, dan
fisik.
-

Menghapuskan identitas Islam dan pengaruhnya:

13

Hal ini dilakukan dengan cara menghancurkan peninggalanpeninggalan Islam. Yaitu menghancurkan masjid, madrasah, dan
bangunan-bangunan bersejarah lainnya. Lalu kaum muslimin dilarang
sama sekali untuk membangun suatu bangunan yang berkaitan dengan
Islam. Dilarang membangun masjid, madrasah, kantor-kantor dan
perpustakaan, tempat penampungan anak yatim, dll. sebagian sekolahsekolah Islam yang tersisa tidak mendapatkan pengakuan dari pemerintah,
dilarang untuk dikembangkan, dan tidak diakui lulusannya.
-

Upaya Burmanisasi, meleburkan ajaran Islam dan menghilangkan


identitasnya dalam masyarakat Budha:
Umat Islam diusir dari kampung halaman mereka. Tanah-tanah dan

kebun-kebun pertanian mereka dirampas. Kemudian orang-orang Budha


menguasainya dan membangunnya dengan harta-harta yang berasal dari
kaum muslimin. Atau membangunnya menjadi barak militer tanpa
kompensasi apapun. Bagi mereka yang menolak, maka tebusannya adalah
nyawa. Inilah militer fasis yang tidak mengenal belas kasihan.
-

Pengusiran

dan

diskriminasi

dari

wilayah

Myanmar

secara

berkesinambungan:
1. Pada tahun 1962 M, militer fasis Myanmar mengusir 300.000 orang
Arakan ke wilayah Bangladesh.
2. Pada tahun 1978 M, lebih dari 500.000 kaum muslimin diusir dan
mengalami tekanan yang sangat berat hingga hampir 400.000 orang
dari mereka tewas. Termasuk di dalamnya orang-orang tua, wanita, dan
anak-anak.
3. Tahun 1988, 150.000 kaum muslimin diusir karena orang-orang Budha
hendak membangun desa mereka sebagai tempat percontohan.

14

4. Tahun 1991, hampir 500.0000 orang muslim diusir. Hal ini karena
hukuman atas kemenagnan partai oposisi (NLD) dalam pemilu yang
mendapatkan suara dari umat Islam. Hasil pemilu pun dibatalkan.
5. Membatalkan hak kewarganeraan umat Islam.
6. Melakukan kerja paksa dengan tanpa mendapatkan makanan,
minuman, dan transportasi.
7. Umat Islam dilarang untuk mendapatkan pendidikan yang layak.
Apalagi duduk di banguku kuliah. Bagi mereka yang berusah
mendapatkan pendidikan di luar negeri, kemudian kembali ke
Myanmar dalam keadaan terdidik, maka akan dijebloskan ke dalam
penjara.
8. Secara umum, tidak boleh menjadi pegawai negera. Jika pun ada,
maka tidak akan mendapatkan hak-haknya secara penuh.
9. Dilarang melakukan perjalanan ke luar negeri, walaupun untuk
beribadah haji. Mereka hanya diperbolehkan pergi ke Bangladesh
dengan ketentuan waktu yang terbatas. Mereka tidak diperbolehkan
berpergian ke Ibu Kota Rangon dan kota-kota lainnya di Myanmar.
Jika mereka hendak pindah kota, harus mendapatkan surat izin yang
jelas.

15

Pemusnahan Etnis Rohingya di Myanmar


-

Diskrimanis dalam ekonomi:


Dibebani pajak yang tinggi dalam segala hal. Dikenakan banyak

denda. Dipersulit melakukan perdagangan. Kecuali berniaga dengan


militer. Itupun dijual dengan harga yang jauh di bawah standar atau
dipaksa menjual sesuatu yang tidak ingin mereka jual. Hal itu bertujuan
agar mereka terus dalam keadaan miskin.
E. Bukti Sejarah Islam di Myanmar
a. Madrasah
Diskriminasi etnis di Arakan

menyebabkan

pemerintahan

Myanmar hanya memperhatikan pendidikan pada etnis Budha saja dengan


mengesampingkan etnis-etnis yang lain. Sehingga etnis-etnis lain
membuat suatu tatanan yang independent dalam pendidikan etnis mereka,
dan hal ini tak terkecuali Muslim Rohingya yang mana membuat
Madrasah dan maktab dengan kurikulum yang independent.
Di Myanmar terdapat ratusan Madrasah berdasarkan data tahun
1997 jumlah Madrasah diseluruh Myanmar sejumlah 759 buah dan di
Yangon sendiri sebagai ibu kota Myanmar sejumlah 171 buah. Madrasahmadrasah ini dananya berasal dari dalam negeri dan luar negeri, ini
merupakan fenomena baru yang mana umat Islam Bamar, yaitu salah satu
etnis Islam di Myanmar selain Rohingya, berupaya untuk berhubungan
dengan rekan-rekan mereka yang berasal dari Arab, ini merupakan salah
satu bentuk penyeimbangan ideologi Islam di India.
Madrasah di Myanmar belum terorganisir dengan rapi, seperti:
tidak adanya usia khusus dalam pendaftaran, dan hanya menerima minimal
masuk adalah umur 7 tahun, tidak ada pembatasan jenjang pendidikan,
bahkan standar pendidikan biasanya selama 10 tahun. Para siswa biasanya
menghafalkan Al-Quran selama 2 sampai 4 tahun tanpa memahami makna
dari ayat Al-Quran, setelah itu mereka melanjutan studi ke Pakistan,
Bangladesh bahkan semenanjung Arab.

16

Selain menghafalkan Al-Quran, Pelajaran yang diajarkan di


Madrasah diantaranya adalah Fiqih, Bahasa Arab sekaligus Nahwunya,
lalu Hadits. Dengan pembahasan buku-buku, dalam bidang fiqih misalnya
mereka memakai buku, Sharah Wiqayah dan juga Kanzad Daqa'iq, lalu
dalam hal Hadits mereka pun memakai buku-buku seperti Sahih Bukhari,
Sahih Muslim, Abi Dawod, Ni Sai'i', Tirmidzi, Ibnu Majad Tahawi,
Muwatha' milik Imam Malik. Sedangkan bahasa yang digunakannya
adalah bahasa Urdu bagi tingkat pemula dan Bahasa Arab, jika
tingkatannya sudah memadai.
b. Masjid di Myanmar
Masjid Mogul Shah Jaamay

Masjid Along Maha Bandoola

Masjid Sunni Bengali, Yangon.

17

Masjid HPA

Masjid Maulamyaing

Masjid Bhamo

18

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Masyarakat Muslim Di Myanmar pada dasarnya, merupakan
Masyarakat yang telah berdiam diri lama di Myanmar khususnya Arakan,
bahkan telah membangun sebuah kebudayaan dan peradaban disana, dan
antara umat Muslim dan Budha tidak ada perpecahan yang menimbulkan
kekerasan.
Pada masa kolonialisme perpecahan etnis terjadi sebagai hasil dari
politik adu domba yang kemudian memeras suatu daerah tertentu,
sehingga kekerasan tidak dapat dibendung dan akibatnya hingga masa
pasca kolonialisme.
Hal itu pun mempengaruhi pada masalah social, politik, budaya,
ekonomi dan pendidikan. Yang mana pada masalah politik masyarakat
minoritas, islam Khususnya tidak boleh ikut andil dalam masalah politik di
Myanmar, sehingga suara mereka tidak pernah sampai di parlemen. Dan
juga, muncullah kecurangan-kecurangan dalam hal politik, seperti, tidak
menghormati hasil pemilu.
Dan hal-hal ini mempengaruhi pula dalam masalah Pendidikan,
yang mana Masyarakat yang boleh mendapatkan pendidikan hanya,
masyarakat Budha saja. Tetapi hal itu tidak mempengaruhi umat Muslim
untuk berhenti menerima kesewenang-wenangan itu, mereka bergerak

19

dalam pendidikan madrasah, walaupun belum terorganisir dengan baik,


tetapi merupakan salah satu suara yang berani melawan penindasan.

DAFTAR PUSTAKA
Dr. Hj. Helmiati, M.Ag. (2011). Sejarah Islam Asia Tenggara. Pekanbaru. Zanafa
Publishing
http://id.wikipedia.org/wiki/Myanmar
http://kota-islam.blogspot.com/2014/02/sejarah-masuk-islam-di-myanmar.html
http://id.wikipedia.org/wiki/islam-di-myanmar